You are on page 1of 13

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

UPAYA PENCEGAHAN KEKAMBUHAN MELALUI


DISCHARGE PLANNING PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER

Ratna Agustin 1
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya1
Kutipan: Agustin, Ratna. (2017). Upaya Pencegahan Kekambuhan Melalui Discharge
Planning Pada Pasien Penyakit Jantung Koroner. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 2
(2)
INFORMASI ABSTRACT
Knowledge and attitude of coronary heart disease (CHD) patient
Korespondensi about relapse preventing that less because the information of relapse
ratna.ners@fik.um-
preventing was just gave to patient that will go home. Discharge
surabaya.ac.id
planning can be one of alternative to prepare the patient can
understand the problem and preventive care that have to do. The
objective of this study was to examine the effect of discharge planning
on knowledge and attitude relapse preventing on coronary heart
disease patient.
Design used in this study was Quasy Experiment. The total sample
Keywords: attitude, was 12 CHD patients that included by inclusion criteria. The
coronary heart disease,
discharge planning, independent variable that was used in this study was discharge
knowledge, planning and the dependent variable was knowledge and attitude of
relapse preventing on CHD patients. The data was analyzed by
Wilcoxon Signed Rank Test and Mann Whitney with significance level
≤0,05.
The result of statistic test showed that knowledge with Wilcoxon
Signed Rank Test analyzed in treatment group had significance level
p=0,024 and control group is p=0,018. The attitude of treatment
group showed p=0,027 and control group p=0,414. Mann Whitney
test showed that p=0,002 for knowledge and p=0,002 for attitude.
It can be concluded that discharge planning have an effect on
knowledge and attitude relapse preventing on CHD patients. Further
study should measure the effect of discharge planning on compliance
of heart rehabilitation on coronary heart disease patient.
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

Abstrak
Pengetahuan dan sikap pasien penyakit jantung koroner (PJK) tentang pencegahan
kekambuhan masih kurang karena informasi pencegahan kekambuhan hanya
diberikan kepada pasien yang akan pulang. Discharge planning bisa menjadi salah
satu alternatif untuk mempersiapkan pasien dapat memahami masalah dan
pencegahan perawatan yang harus dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menguji pengaruh Discharge planning terhadap pengetahuan dan sikap pencegahan
kekambuhan pada pasien penyakit jantung koroner.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasy Experiment. Sampel total
adalah 12 pasien penyakit jantung koroner yang termasuk dalam kriteria inklusi.
Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah discharge planning
dan variabel terikatnya adalah pengetahuan dan perilaku pencegahan kambuh pada
pasien penyakit jantung koroner. Data dianalisis dengan Wilcoxon Signed Rank Test
dan Mann Whitney dengan tingkat signifikansi ≤ 0,05.
Hasil uji statistik dengan Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan bahwa
pengetahuan kelompok perlakuan memiliki tingkat signifikansi p = 0,024 dan
kelompok kontrol adalah p = 0,018. Sikap kelompok perlakuan menunjukkan p =
0,027 dan kelompok kontrol p = 0,414. Uji Mann Whitney menunjukkan bahwa p =
0,002 untuk pengetahuan dan p = 0,002 untuk sikap.
Dapat disimpulkan bahwa discharge planning berpengaruh terhadap pengetahuan dan
sikap pencegahan kekambuhan pada pasien penyakit jantung koroner. Studi lebih
lanjut harus mengukur pengaruh discharge planning terhadap kepatuhan rehabilitasi
jantung pada pasien penyakit jantung koroner.

PENDAHULUAN meninggal dalam waktu 24 jam dan


Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang masih hidup akan mengalami
merupakan salah satu penyakit jantung risiko tinggi kekambuhan dan
yang serius karena dapat komplikasi yang serius serta
mengakibatkan penderitanya meningkatnya risiko untuk mati

68
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

mendadak (AHA, 1998 dikutip rumah sakit akan bermakna jika


Soeharto, 2004). Berdasarkan hal dilanjutkan dengan perawatan di
tersebut penting bagi penderita PJK rumah. Perencanaan pulang (discharge
mengetahui penyakitnya, pengenalan planning) dapat dijadikan sebagai
terhadap tanda yang bersangkutan, alternatif untuk menyiapkan pasien
tindakan yang perlu diambil serta agar mampu melakukan perawatan di
upaya pencegahan yang harus rumah. Inti dari discharge planning
dilakukan (Soeharto, 2004). adalah menyiapkan pasien untuk dapat
Berdasarkan hasil pengamatan yang memahami permasalahan dan upaya
dilakukan peneliti di Ruang Jantung pencegahan yang harus ditempuh
RSU Dr. Soetomo pada bulan April sehingga dapat mengurangi angka
2008 didapatkan data jumlah pasien kambuh dan penerimaan kembali di
PJK rawat inap adalah 32 pasien, rumah sakit (Rorden dan Traft, 1993).
43,75% dari jumlah tersebut adalah Namun sampai saat ini, pengaruh
pasien PJK yang rawat inap ulang perencanaan pulang (discharge
dikarenakan mengalami kekambuhan. planning) terhadap pengetahuan dan
Hal tersebut disebabkan kurangnya sikap pencegahan kekambuhan pada
pengetahuan dan ketidakpatuhan pasien PJK belum diketahui.
pasien PJK menjalani diet, minum Penyakit jantung koroner
obat, kontrol, aktivitas dan istirahat. menempati peringkat pertama
Sedangkan pasien PJK yang baru penyebab kematian baik di negara
pertama kali menjalani rawat inap industri maju maupun negara
belum mengetahui mengenai hal apa berkembang (Soeharto, 2004). Di
saja yang harus dilakukan di rumah Amerika Serikat pada tahun 1996
untuk mencegah kekambuhan sebab jumlah pasien PJK mencapai 60 juta
informasi mengenai perawatan di penderita. Setiap hari 2600 penduduk
rumah untuk mencegah kekambuhan meninggal akibat penyakit ini (Ulfah,
diberikan hanya apabila pasien akan 2000). Individu yang telah terkena PJK
pulang. Disamping itu, belum ada akan memiliki risiko amat tinggi
dokumen yang baku. Perawatan di mengalami kekambuhan (Soeharto,

69
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

2004). Pada tahun 1999 dilaporkan bahwa pasien PJK yang mengalami
bahwa 1.100.000 warga Amerika yang kekambuhan, 32% melakukan
menderita PJK, 40,9% dari jumlah pengobatan yang tidak tepat meliputi
tersebut harus menjalani perawatan tidak disiplin kontrol dan minum obat
kembali di rumah sakit karena sehingga dosis tidak memadai, 16%
kekambuhan (Ulfah, 2000). Angka lainnya bahkan sampai menghentikan
kejadian PJK di Indonesia belum pengobatan, 48% tidak
diteliti dengan akurat (Ulfah, 2000), mengendalikan faktor risiko, seperti
tetapi berdasarkan hasil Survei kolesterol, tidak mengontrol hipertensi
Kesehatan Rumah Tangga Nasional dan diabetes mellitus dan sisanya
(SKRTN) dilaporkan bahwa angka beraktivitas dan melakukan kegiatan
kematian akibat PJK pada tahun 1991 yang berat. Penelitian Brown (1990),
adalah 16 % kemudian di tahun 2001 Holmes (2000) dan Long Term
angka tersebut melonjak 10,4 % Intervention Study Group pada pasien
menjadi 26,4 % (Nurmartono, 2006). PJK yang patuh melakukan
Dari studi pendahuluan yang dilakukan pencegahan kekambuhan dengan
peneliti di Ruang Jantung RSU Dr. mengendalikan faktor risiko kolesterol
Soetomo Surabaya pada bulan Januari- menunjukkan penurunan yang berarti
April 2008 didapatkan data dari kekambuhan. Berdasarkan hasil
berdasarkan register pasien rawat inap survey rumah tangga yang dilakukan
yaitu jumlah pasien yang dirawat di oleh Maryland High Blood Pressure
Ruang Jantung adalah 479 pasien, Coordinating Council (1991)
29,22 % dari jumlah tersebut adalah didapatkan data bahwa tingginya
pasien PJK. ketidakpatuhan pasien PJK dalam
Tenaga kesehatan profesional mengendalikan faktor risiko karena
harus mampu mengidentifikasi kondisi kurangnya komunikasi tenaga
pengobatan atau faktor lain yang kesehatan profesional. Menurut hasil
mempercepat atau memperburuk penelitian Nurhidayah (2005)
pasien PJK (Sudoyo, 2006). Menurut pemberian discharge planning
Kaplan, et al (1991) menyatakan menunjukkan perubahan yang

70
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

bermakna terhadap perilaku pasien masyarakat dan tetap bugar dalam


meliputi pengetahuan, sikap dan menghadapi risiko kekambuhan.
tindakan. Discharge planning dapat Adapun tujuan dalam penelitian
dijadikan sebagai alternatif untuk ini adalah menjelaskan pengaruh
membantu pasien dan keluarga agar discharge planning terhadap
dapat memahami permasalahan dan pengetahuan dan sikap pencegahan
upaya pencegahan yang harus kekambuhan pada pasien penyakit
ditempuh sehingga dapat mengurangi jantung koroner dengan manfaat
angka kambuh dan penerimaan penelitian adalah hasil penelitian ini
kembali di rumah sakit. Dengan cara digunakan sebagai bahan masukan
ini kontak antara klien dengan perawat bagi Ilmu Manajemen Keperawatan
lebih intensif, setiap masalah yang untuk pengembangan lebih lanjut
dihadapi oleh klien dapat diteliti dan khususnya dalam hal pemberian
dibantu penyelesaiannya. Berdasarkan discharge planning tentang
uraian tersebut maka penting bagi pencegahan kekambuhan penyakit
perawat dan atau petugas kesehatan jantung koroner.
lainnya untuk memberikan discharge
planning tentang pencegahan METODE PENELITIAN
kekambuhan pada pasien PJK selama Desain yang digunakan dalam
menjalani perawatan di rumah sakit. penelitian ini adalah Quasy-
Pengetahuan yang cukup dan sikap Eksperiment pre-post test control
yang positif akan membantu mereka group design, yaitu suatu rancangan
memahami dan mempersiapkan penelitian yang menggunakan
dirinya menjalani perawatan di rumah, hubungan sebab akibat dengan cara
dapat mengambil keputusan dan melibatkan kelompok kontrol
memecahkan permasalahan yang disamping kelompok perlakuan
dihadapi sehingga setiap pasien pasca (Nursalam, 2007).
perawatan PJK dapat menjalani hari- Populasi penelitian ini adalah 19
harinya dengan kualitas hidup yang pasien penyakit jantung di ruang rawat
lebih baik, dapat berbuat banyak untuk inap jantung RSU Dr. Soetomo

71
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

Surabaya dengan pengambilan teknik dan H1 diterima, artinya ada pengaruh


sampling adalah Purposive sampling discharge planning terhadap
sehingga terdapat sampel sebanyak 12 pengetahuan dan sikap pencegahan
responden yang terbagai dalam 2 kekambuhan pada pasien penyakit
kelompok yang masing-masing jantung koroner.
berjumlah 6 responden, 1 kelompok
mendapat perlakuan dan 1 kelompok PEMBAHASAN
lainnya sebagai kontrol tanpa Pengaruh Discharge Planning
perlakuan. terhadap Pengetahuan dan Sikap
Analisis Data adalah data yang Pencegahan Kekambuhan pada
sudah terkumpul, dikelompokkan, Pasien Penyakit Jantung Koroner
tabulasi data dan kemudian dianalisis Tabel 5.3 Pengaruh Discharge
dengan uji statistik Wilcoxon Signed Planning terhadap Pengetahuan dan
Rank test dan Mann Whitney. Peneliti Sikap Pencegahan Kekambuhan pada
melakukan pengujian data Pasien Penyakit Jantung Koroner di
menggunakan statistik Wilcoxon Ruang Jantung RSU Dr. Soetomo
Signed Rank test (Pre-Post) terhadap Surabaya pada tahun 2008
satu sampel untuk mengetahui
Wilcoxon Signed
hubungan antara variabel independen Mann
Variabel Rank Test
dan variabel dependen dengan skala Withtney
Dependen Perlakuan Kontrol
Test (p)
data ordinal dan tingkat kemaknaan α (p) (p)

≤ 0,05 artinya jika hasil uji statistik


Pengetahuan 0,024 0,180 0,002
menunjukkan α ≤ 0,05, maka ada
pengaruh yang signifikan antara
Sikap 0,027 0,414 0,002
variabel independen dan variabel
dependen. Uji Mann Whitney
(kelompok perlakuan-kelompok
Berdasarkan tabel 5.3 disajikan
kontrol) dengan derajat kebermaknaan
perbandingan pengetahuan dan sikap
p < 0,05, jika hasil analisis penelitian
sebelum dan sesudah diberikan
didapatkan p < 0,05 maka Ho ditolak

72
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

discharge planning. Terdapat p= 0,027 berarti ada pengaruh


pengaruh yang signifikan terhadap discharge planning terhadap
peningkatan pengetahuan pada pasien perubahan sikap pencegahan
penyakit jantung koroner. Hal ini dapat kekambuhan pada pasien penyakit
dilihat dari hasil uji statistik Wilcoxon jantung koroner. Pada kelompok
Signed Rank Test pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan
perlakuan dengan nilai p= 0,024 sikap dengan nilai p= 0,414 dan hasil
berarti ada pengaruh discharge uji statistik Mann Whitney Test
planning terhadap peningkatan diperoleh nilai p= 0,002. Berdasarkan
pengetahuan pencegahan kekambuhan kedua hasil uji statistik tersebut
pada pasien penyakit jantung koroner. menunjukkan bahwa hipotesis diterima
Pada kelompok kontrol tidak yang berarti ada pengaruh discharge
ditemukan peningkatan pengetahuan planning terhadap sikap pencegahan
dengan nilai p= 0,180 dan hasil uji kekambuhan pada pasien penyakit
statistik Mann Whitney Test diperoleh jantung koroner.
nilai p= 0,002. Berdasarkan kedua Menurut Spath (2003) dalam
hasil uji statistik tersebut menunjukkan Nursalam (2007) perencanaan pulang
bahwa hipotesis diterima yang berarti dapat memberikan kesempatan untuk
ada pengaruh discharge planning memperkuat pengajaran kepada pasien
terhadap pengetahuan pencegahan yang dimulai dari rumah sakit.
kekambuhan pada pasien penyakit Pengajaran tersebut membantu pasien
jantung koroner. memiliki pengetahuan. Pemberian
Disajikan perbandingan sikap pembelajaran disesuaikan dengan
sebelum dan sesudah diberikan tingkat pemahaman pasien dan
discharge planning terdapat pengaruh keluarga. Rorden dan Traft (1993)
yang signifikan terhadap peningkatan dalam Nursalam (2007)
sikap pada pasien penyakit jantung mengungkapkan bahwa perencanaan
koroner. Hal ini dapat dilihat dari hasil pulang bertujuan untuk membantu
uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test pasien dan keluarga untuk dapat
pada kelompok perlakuan dengan nilai memahami permasalahan dan upaya

73
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

pencegahan yang harus ditempuh pencegahan kekambuhan sehingga


sehingga dapat mengurangi angka pasien penyakit jantung koroner
kambuh dan penerimaan kembali di mempunyai kemampuan untuk
rumah sakit. Terjadi pertukaran melakukan penilaian terhadap sesuatu
informasi antara pasien sebagai berdasarkan pengetahuan yang
penerima pelayanan dengan perawat dimiliki. Pasien penyakit jantung
dari pasien masuk sampai keluar koroner dapat menjawab pertanyaan
rumah sakit. Bila seseorang yang diberikan peneliti dan mampu
memperoleh banyak informasi maka ia menjelaskan kembali tentang penyakit
cenderung mempunyai pengetahuan jantung koroner (meliputi pengertian,
yang lebih banyak (Notoatmodjo, penyebab, faktor risiko, tanda dan
2003). gejala, upaya pencegahan
Discharge planning berperan kekambuhan, pengenalan dan
untuk mengubah tingkat pengetahuan penanganan kekambuhan), kontrol,
pasien penyakit jantung koroner minum obat, aturan diet/nutrisi,
tentang pencegahan kekambuhan. aktivitas dan istirahat.
Discharge planning tidak hanya Menurut Jipp dan Siras (1986)
membantu pasien dan keluarga untuk dalam Nursalam (2007) perencanaan
dapat memahami permasalahan dan pulang bertujuan menyiapkan pasien
upaya pencegahan yang harus dan keluarga secara fisik, psikologis
ditempuh tetapi juga memudahkan dan sosial, membantu pasien dan
proses masuknya informasi. keluarga memiliki pengetahuan dan
Penerimaan informasi yang jelas dan keterampilan serta sikap dalam
benar mempengaruhi proses memperbaiki serta mempertahankan
pembelajaran pasien penyakit jantung status kesehatan pasien. Sikap adalah
koroner sehingga meningkatkan penilaian (bisa berupa pendapat)
pengetahuan tentang pencegahan seseorang terhadap stimulus atau
kekambuhan. Pengetahuan yang obyek (dalam hal ini adalah masalah
meningkat inilah yang menghasilkan kesehatan, termasuk penyakit). Setelah
persepsi yang positif tentang seseorang mengetahui stimulus atau

74
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

objek, proses selanjutnya akan menilai risiko, tanda dan gejala, upaya
atau bersikap terhadap stimulus atau pencegahan kekambuhan, pengenalan
objek kesehatan tersebut dan penanganan kekambuhan),
(Notoatmodjo, 2007). Pada kontrol, minum obat, aturan
pengetahuan, seseorang melalui tahap diet/nutrisi, aktivitas dan istirahat yang
evaluasi yang berarti dalam diri orang jelas, sehingga mampu mempengaruhi
tersebut terjadi proses penilaian emosional responden dan
terhadap sesuatu berdasarkan menstimulasi kepercayaan responden,
pengetahuan yang dimiliki setelah itu 2) pendidikan terakhir responden.
seseorang akan menerima (receiving) Orang yang lebih cerdas lebih mudah
pilihan yang menurut dia sesuai memahami isi pesan-pesan persuatif
dengan pengetahuannya, kemudian yang komplek, menyeleksi isi pesan
merespon (responding), menghargai dan penerimaan persuasi, mencari
(valuing), dan bertanggung jawab validasi, dan bertanya. Hal tersebut
(responsible) terhadap pilihannya membuat pasien penyakit jantung
(Notoatmodjo, 2003). koroner lebih kritis, objektif, dan tidak
Berdasarkan uraian di atas, hasil emosional dalam menentukan sikap
belajar tersebut berupa perubahan yang diaplikasikan dengan menjawab
pengetahuan, sikap, terutama domain pernyataan sikap yang diberikan
afektif (sikap) diharapkan mampu peneliti.
membangun suatu kepercayaan Proses perubahan pengetahuan
sehingga responden memiliki sikap yang terjadi pada pasien penyakit
positif dalam melakukan pencegahan jantung koroner melalui discharge
kekambuhan. Responden yang planning menghasilkan perubahan
bersikap negatif mampu mengubah dalam sikap tentang pencegahan
sikapnya menjadi positif setelah kekambuhan. Sikap menggambarkan
diberikan discharge planning, suka atau tidak suka seseorang
dikarenakan 1) pemberian informasi terhadap objek. Sikap sering diperoleh
tentang penyakit jantung koroner dari pengalaman sendiri atau dari
(meliputi pengertian, penyebab, faktor orang lain yang paling dekat.

75
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

Pengalaman pasien penyakit jantung walaupun telah terkena penyakit


koroner selama menjalani perawatan di jantung koroner, diet tidak akan
rumah sakit memberikan pengalaman membuat tubuh mereka jadi lemas,
belajar sehingga di dalam diri mereka disiplin kontrol ke fasilitas kesehatan,
terjadi proses justifikasi atau menilai perlunya mematuhi upaya pencegahan
mana yang benar dan mana yang salah. kekambuhan dan perlunya mengetahui
Setelah itu mereka akan menerima tanda dan gejala kekambuhan serta
(receiving) pilihan yang menurut dia cara penanganannya.
baik, kemudian merespon DAFTAR PUSTAKA
(responding), menghargai (valuing),
dan bertanggung jawab (responsible) Arief, I. 2007. “Aktifitas Setelah
terhadap pilihannya. Hal tersebut Serangan Jantung Adakah
diaplikasikan dalam bentuk sikap yang Kendala Bagi Eksekutif?”,
positif sehingga pasien penyakit (http://www.pjnhk.go.id/,
jantung koroner yang bersikap negatif diakses 19 September 2007).
mampu mengubah sikapnya menjadi Arief, M. 2001. Pendekatan
positif. Adanya informasi baru Holistik Penyakit
mengenai suatu hal memberikan Kardiovaskuler. Bagian Ilmu
landasan kognitif baru bagi Penyakit Dalam. Jakarta:
terbentuknya sikap, pesan-pesan Fakultas Kedokteran
sugesti yang dibawa oleh informasi Universitas Indonesia.
tersebut bila cukup kuat, akan Azwar, S. 1995. Sikap Manusia
memberi dasar dalam menilai sesuatu Teori dan Pengukurannya. Ed.
sehingga terbentuklah arah sikap 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
tertentu sehingga pasien penyakit Brown dan Spath, 2003. “Is Your
jantung koroner mampu Discharge Planning
mengendalikan emosi dalam Effective?”,
menentukan sikap sesuai dengan (http://brownspath.com,
pengetahuan yang dimiliki yakni diakses 15 November 2007).
mereka masih bisa beraktivitas

76
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

Djohan, TBA. 2004. “Penyakit Disease). Jakarta: Penerbit


Jantung Koroner dan Buku Kedokteran EGC.
Hypertensi”, Katz, MJ. 2007. ”Coronary
(http://library.usu.ac.id/downlo Artery Disease (CAD)”,
ad/fk/gizi-bahri10.pdf, diakses (http://www.nursingceu.com/c
4 Oktober 2007). ourses/215/index_nceu.html,
Horowitz, MD. 1993. “Coronary- diakses 27 Mei 2008).
subclavian Steal: A Cause of Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu
Recurrent Myocardial Kesehatan Masyarakat
Ischemia”, Prinsip-Prinsip Dasar.
(http://www.springerlink.com/ Jakarta: Rineka Cipta.
content/v1002017kp185110/, Notoatmodjo, S. 2007. Promosi
14 Mei 2008) Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
.Hunt, GG. 1996. “A Family Jakarta: Rineka Cipta.
Caregiver’s Guide to Hospital Nurhidayah. 2005. Pengaruh
Discharge Planning”, , Discharge Planning melalui
(http://www.caregiving.org/pu Pendidikan Kesehatan
bs/brochures/familydischargep terhadap Perilaku Perawatan
lanning.pdf, diakses 15 Bayi pada Ibu Post Partum
November 2007). Primipara di RSUD Dr.
Joewono, B.S. (Ed). 2003. Ilmu Soedono Trenggalek. Skripsi.
Penyakit Jantung. Surabaya: Program Studi S1 Ilmu
Airlangga University Press. Keperawatan. Fakultas
Hal: 121-134 Kedokteran Universitas
Kaplan, et al. 1991. Pencegahan Airlangga.
Penyakit Jantung Koroner: Nursalam. 2007. Manajemen
Penatalaksanaan Praktis dari Keperawatan: Aplikasi dalam
Faktor-faktor Risiko Praktik Keperawatan
(Prevention of Coronary Heart Profesional. Ed. 2. Jakarta:

77
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

Salemba Medika. Hal: 243- Disease (A Statement for


253 Healthcare Professionals From
Nurmartono. 2006. “Aplikasi the American Heart
Telemetry dalam Asuhan Association and the American
Keperawatan Pasien dengan College of
Penyakit Jantung Koroner Cardiology)”,(http://www.insi
(PJK) di Indonesia”, decarefirst.com/providers/atta
(www.inna-ppni.or.id, diakses chments/CUT5885.pdf,
19 September 2007). diakses 3 Mei 2008).
Robert, P. 1996. Pemenuhan Shepherd, J. 2001. “Federal
Aktifitas Istirahat Pasien. Bureau of Prisons Clinical
Jakarta: Penerbit Buku Practice Guidelines for The
Kedokteran EGC. Management of Coronary
Smith, SC, et al. 2006. Artery Disease”,
“AHA/ACC Guidelines for (http://66.218.69.11/search/ca
Secondary Prevention for che?ei=UTF8&p=managemen
Patients With Coronary and t+of+coronary+artery+disease
Other Atherosclerotic Vascular &y=Search&fr=yfp-t-
Disease: 2006 Update”, 501&fp_ip=ID&u=www.bop.
(http://www.acc.org/qualityan gov/news/PDFs/arteries.pdf,
dscience/clinical/guidelines/at diakses 30 April 2008)
herosclerotic/atherosclerotic- Soeharto, I. 2004. Penyakit
_clean.htm, diakses 3 Mei Jantung Koroner & Serangan
2008). Jantung. Ed. 3. Jakarta: PT
Smith, SC, et al. 2001. Gramedia Pustaka Utama.
“AHA/ACC Guidelines for Hal: 1-294; 326-445; 573-577
Preventing Heart Attack and Sudoyo, AW. (Ed). 2006. Buku
Death in Patients With Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Atherosclerotic Cardiovascular Jilid 3. Ed. 4. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu

78
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2(2) 2017

Penyakit Dalam FK UI. Hal: (http://www.pdpersi.co.id/?sh


1613; 1618; 1630-1633 ow=detailnews&kode=10&tbl
Ulfah, A. 2000. “Gejala Awal =artikel, diakses 30 April
dan Deteksi Dini Penyakit 2008)
Jantung Koroner”,

79