You are on page 1of 30

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENALAN LINGKUNGAN LAHAN BASAH


( JFKK221 )

DOSEN PEMBIMBING :
UMI BAROROH LILI UTAMI, S.Si, M.Si
NIP. 19691006 199702 2 003

OLEH KELOMPOK : VIII (DELAPAN)


ADI PURWANTO (J1D111048)
DITA APRILIANI (J1A111014)
DYAH UTORO RINI (J1E111057)
FARIANDI MUKHTI (J1F110222)
FITRI AULIA (J1E111021)
IMAS MASHLAHAH (J1D111030)
KHAIRUL SYAHRIN (J1E111056)
MEILINA HI. KABIR (J1B111021)
NOOR AZIMAH QODAR AT (J1F110220)
RAHMAT NOORSETO (J1F110037)

ASISTEN :
HANA KASHINTA( J1E110 )

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
BANJARBARU

2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Menurut Konvensi Ramsar lahan basah (wetlands) dapat diartikan


sebagai lahan yang secara alami atau buatan selalu tergenang, baik secara
terus-menerus ataupun musiman, dengan air yang diam ataupun mengalir.
Air yang menggenangi lahan basah dapat berupa air tawar, payau, dan asin.
Tinggi muka air laut yang menggenangi lahan basah yang terdapat di pinggir
laut tidak lebih dari 6 meter pada kondisi surut (Setiawan, 2008).
Penyebaran lahan basah tersebar dari dataran rendah sampai dataran
tinggi. Lahan basah terdiri atas dua macam, yaitu lahan basah alami dan
lahan basah buatan. Contoh lahan basah alami, yaitu sungai, danau, delta,
hutan rawa gambut, hutan bakau, kerapa, koral, dan laguna. Sedangkan
contoh lahan basah buatan, yaitu waduk, saluran irigasi, sawah, kolam, dan
parit (Setiawan, 2008).
Lahan basah umumnya tempat yang kaya akan keanekaragaman
hayati. Manusia memperoleh berbagai manfaat dari lahan basah, baik secara
ekonomi, ekologi, maupun budaya. Sebagian besar penduduk dunia
bermukim dalam kawasan atau dekat dengan lahan basah. Fungsi penting
lahan basah adalah melindungi pasokan air saat musim kering, memperbaiki
cakupan air, dan menyimpan pasokan air banjir (Setiawan, 2008).
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen-
komponen yang saling berintegrasi sehingga membentuk suatu kesatuan.
Sistem tersebut mempunyai sifat tertentu, tergantung pada jumlah dan jenis
komponen yang menyusunnya. Besar kecilnya ukuran ekosistem tergantung
pada pandangan dan batas yang diberikan pada ekosistem tersebut. Sungai
dapatlah dianggap sebagai suatu ekosistem perairan (Asdak, 1995).
Ekosistem terdiri dari komponen biotis dan abiotis yang saling
berinteraksi membentuk satu kesatuan yang teratur. Dengan demikian,
dalam suatu ekosistem tidak ada satu komponenpun yang berdiri sendiri,
melainkan ia mempunyai keterkaitan dengan komponen lain, langsung atau
tidak langsung, besar atau kecil. Aktivitas suatu komponen ekosistem selalu
memberi pengaruh pada komponen ekosistem yang lain. Manusia adalah
salah satu komponen yang penting. Sebagai komponen yang dinamis,
manusia dalam menjalankan aktivitasnya seringkali mengakibatkan dampak
pada salah satu komponen lingkungan, dan dengan demikian,
mempengaruhi ekosistem secara keseluruhan (Asdak, 1995).

1.2. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengukur beberapa parameter


baik fisik, kimia dan biologi di ekosistem Rawa,Sungai, dan Sawah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Rawa
Indonesia memiliki daerah rawa yang sangat luas, terutama terdapat di
pulau-pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua sesuai dengan UU
No. 7 tahun 2004 tentang sumber daya air, rawa merupakan salah satu
sumber daya air. Sebagai sumber daya, rawa merupakan salah satu sumber
daya alam yang potensial bagi kesejahteraan masyarakat, sehingga potensi
yang ada pada lahan rawa perlu dilestarikan dan dikembangkan atau
ditingkatkan fungsi dan manfaatnya. Potensi pemanfaatan lahan rawa selain
ditujukan untuk pengembangan lahan pertanian yang produktif, berfungsi
pula sebagai sumber daya alam serta sebagai lahan konservasi (Kodoatie &
Syarief, 2010).
Rawa adalah daerah di sekitar sungai atau muara sungai yang cukup
besar yang merupakan tanah berlumpur dengan kadar air relatif tinggi. Rawa
juga dikatakan sebagai genangan air di daratan pada cekungan yang relatif
dangkal. Genangan rawa bisa juga terjadi karena terjebak pada suatu daerah
cekungan dan lapisan batuan di bawah rawa merupakan batuan yang
impermiable. Manfaat rawa diantaranya adalah sebagai berikut :
1)Rawa yang terdapat pergantian air tawar dapat untuk areal sawah
2)Rawa yang airnya tidak terlalu asam dapat untuk daerah perikanan
3)Sebagai sumber pembangkit listrik
4)Sebagai objek pariwisata.
Jenis-jenis rawa dibedakan menjadi :
 Berdasarkan sifat airnya dibagi menjadi 3:
a)Rawa Air Tawar
Rawa air tanah adalah rawa yang airnya tawar karena letaknya
di pinggiran sepanjang sungai.
b) Rawa Air Payau
Rawa air payau adalah rawa yang airnya percampuran antara
tawar dan asin, biasanya letaknya di muara sungai menuju laut.
c) Rawa Air Asin
Rawa air asin adalah rawa yang airnya asin dan letaknya di
daerah pasang surut laut.
 Berdasarkan keadaan airnya dibagi menjadi 3 :
a) Rawa yang airnya terlalu tergenang
Rawa yang airnya terlalu tergenang adalah rawa yang selalu
tergenang airnya, tidak dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian,
karena lahannya tertutup tanah gambut yang tebal. Di daerah rawa
ini sulit terdapat bentuk kehidupan binatang karena airnya sangat
asam dengan warna air kemerah-merahan.
b) Rawa yang airnya tidak selalu tergenang
Rawa yang airnya tidak selalu tergenang adalah rawa yang
menampung air tawar dilimpahkan air sungai pada saat air laut
pasang dan airnya relatif mengering pada saat air laut surut.
 Berdasarkan letaknya dibagi menjadi 3 :
a. Rawa Pantai
Rawa pantai adalah rawa yang berada di muara sungai. Air
pada jenis rawa ini selalu mengalami pergantian karena dipengaruhi
oleh pasang surut air laut.
b. Rawa Pinggiran
Rawa pinggiran adalah rawa sepanjang aliran sungai, terjadi
akibat sering meletupnya sungai tersebut.
c. Rawa Abadi
Rawa abadi adalah rawa yang airnya terjebak dalam sebuah
cekungan dan tidak memiliki pelepasan ke laut. Air hujan yang
tertampung dalam rawa hanya dapat menguap tanpa ada aliran yang
berarti
(Notohadiprawiro,1998).
2.2. Sungai
Sungai merupakan ekosistem yang sangat penting bagi manusia.
Sungai memberikan protein hewani seperti ikan dan udang. Sungai di
beberapa tempat, misalnya di Sumatera dan Kalimantan, dipergunakan
penduduk sebagai prasarana transportasi. Sungai juga menyediakan air bagi
manusia baik untuk berbagai kegiatan seperti pertanian, industri maupun
domestik (Siahaan, 2011).
Sungai merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia,
oleh karena itu penelitian dan manajemen sungai ini dilakukan oleh berbagai
profesi. Ahli sanitari misalnya, meneliti sedimen sungai yang berasal dari
buangan limbah serta pengaruhnya terhadap lingkungan. Sedangkan ahli
teknik sipil, mengelola sungai untuk keperluan reservoir, pembangunan
pelabuhan dan jembatan. Untuk keperluan tersebut, diperlukan pengetahuan
tentang sungai dan pengalirannya, seperti morfologi sungai, sejarah
perkembangan sungai serta pola pengaliran sungai (Effendi, 2003).
Morfologi sungai adalah ilmu yang mempelajari tentang geometri
(bentuk dan ukuran), jenis, sifat dan perilaku sungai dengan segala aspek
dan perubahannya dalam dimensi ruang dan waktu. Dengan demikian,
morfologi sungai ini akan menyangkut juga sifat dinamik sungai dan
lingkungannya yang saling terkait.Dua proses penting dalam sungai adalah
erosi dan pengendapan, yang dipengaruhi oleh jenis aliran air dalam sungai
yaitu:
1. Aliran laminar : jika air mengalir dengan lambat, partikel akan bergerak.
2. Aliran turbulen : jika kecepatan aliran berbeda pada bagian atas, tengah,
bawah, depan dan belakang dalam saluran, sebagai akibat adanya
perubahan friksi, yang mengakibatkan perubahan gradien kecepatan.
Kecepatan maksimum pada aliran turbulen umunya terjadi pada
kedalaman 1/3 dari permukaan air terhadap kedalaman sungai
(Setiawan, 2008).
Erosi terjadi pada dinding ataupun dasar sungai dibawah kondisi aliran
yang bersifat turbulen. Pengendapan akan terjadi jika material yang
dipindahkan jauh lebih besar untuk digerakkan oleh kecepatan dan kondisi
aliran. Pada kondisi aliran turbulen erosi akan terjadi akibat terbawanya
material dan pengendapan terjadi ketika hasil erosi tersebut menuju ke arah
bawah tidak terpindahkan lagi oleh aliran (Soeryono, 2005).

2.3. Sawah
Sawah adalah lahan usaha pertanian yang secara fisik berpermukaan
rata, dibatasi oleh pematang, serta dapat ditanami padi, palawija atau
tanaman budidaya lainnya.Kebanyakan sawah digunakan untuk bercocok
tanam padi. Untuk keperluan ini, sawah harus mampu menyangga genangan
air karena padi memerlukan penggenangan pada periode tertentu dalam
pertumbuhannya. Untuk mengairi sawah digunakan sistem irigasi dari mata
air, sungai atau air hujan. Sawah yang terakhir dikenal sebagai sawah tadah
hujan, sementara yang lainnya adalah sawah irigasi (Arifin, 1985).
BAB III
METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum percobaan ini dilaksanakan pada 2 tempat, yaitu tempat
yang pertama di Marabahan pada hari Minggu tanggal 18 Mei 2014 dan
pada tempat yang kedua pada hari tanggal Mei 2014 di Laboratorium Dasar
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung
Mangkurat Banjarbaru.

3.2. Alat dan Bahan


A. Alat-alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah termometer, DO


meter, lempeng Secchi, refraktometer, tali raffia, botol aqua 1500 ml, kit
digital, penangas air, alat penyaring, stopwatch, neraca analitik, beaker glass
50 ml, tabung reaksi, labu takar 50; 100; 250 ml, pipet tetes, Erlenmeyer 50
ml, kantong plastic, dan botol film.

B. Bahan-bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas


indikator, air, HNO3, akuades, batuan, sedimen halus, sedimen kering, HCl
0,1N, larutan induk Fe 1000 ppm, larutan Pb 100 ppm, K2CrO4 1N, H2SO4
pekat, H3PO4 pekat, indikator Diphenilamin, dan FeSO4.7H2O 0,2N.

3.3. Prosedur Praktikum

a. pH air
Derajat keasaman air diukur dengan menggunakan kertas indikator
universal pH (1-4) yang dicelupkan ke dalam air. Perubahan warna yang
terjadi dicocokan dengan perubahan warna standar atau alat test kit
digital digunakan untuk mengukur pH yang terlebih dahulu dikalibrasi
dengan menggunakan larutan buffer terlebih dahulu.
b. Suhu air
Suhu air diukur dengan memasukkan termometer kedalam perairan.
c. Salinitas air
Air muara diteteskan ke dalam alat ukur refraktometer kemudian lihat di
dalam skala berapa yang tertera.
d. Pengukuran DO
DO diukur dengan menggunakan alat DO meter yang sebelumnya
dikalibrasi dahulu baru dimasukkan ke dalam perairan yang akan di ukur
Donya.
e. Kecerahan
Penetrasi cahaya diukur dengan menggunakan keping secchi yang
dikaitkan pada tali penduga
f. Inventarisir flora fauna
Analisis flora dilakukan dengan metode petak ukur yaitu dengan
membuat petak pengamatan sebagai berikut:
1. Petak ukur untuk seedling dengan luas 2 x 2 m2
2. Petak ukur untuk sapling dengan luas 5 x 5 m2
3. Petak ukur untuk tiang dengan luas 10 x 10 m2
4. Petak ukur untuk pohon dengan luas 20 x 20 m2
Analisis fauna tingkat tinggi dilakukan dengan pencatatan pengamatan
dan wawancara dengan penduduk sekitar.
g. Analisis Fe
Kandungan Fe pada air dianalisa dengan menggunakan instrument
Spektroskopi Serapan Atom (SSA).
h. Analisis butiran batuan
Butir batuan dianalisis dengan mengamati ukuran batuan yang ada
disekitar muara. Jika batuan kecil, dirasakan dengan tangan apakah
halus, sedang, atau kasar.
i. Pengukuran kecepatan arus
Kecepatan arus diukur dengan menggunakan alat pengukur kecepatan
arus. Dicatat dalam satu menit berapa kecapatan arusnya.
j. Analisis Kimia Sedimen
i.1. Pengambilan Sampel Sedimen
Sampel sedimen diambil dengan menggunakan eigmen grab
kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik.
i.2. Analisis Jenis Sedimen
Batuan, pasir, lumpur atau lainnya dianalisi.
i.3. Analisis pH Sedimen
Sedimen halus ditimbang sebanyak 10 gram. Lalu dimasukkan ke
dalam gelas beker 50 mL. Kemudian ditambahkan 25 mL akuades.
Dan dikocok selama 2 jam, dibiarkan selama 1 malam. Keesokan
harinya, dikocok lagi selama ½ jam. Lalu di ukur pH nya dengan
menggunakan pH meter.
i.4. Analisis Kandungan Fe Sedimen
Kandungan Fe pada sedimen dianalisis dengan menggunakan
instrumen Spektroskopi Serapan Atom (SSA). Adapun
prosedurnya sebagai berikut:
i.4.1. Preparasi Sampel Sedimen
Sebanyak 1 gram sampel tanah ditambahkan 10 cc HCl 0,1
N, lalu dimasukkan ke dalam botol film dan dikocok
selama 30 menit. Tahap selanjutnya adalah disentrifugasi
selama 5 menit pada kecepatan 2000 rpm dan disaring.
Filtrat yang terbentuk dimasukkan ke dalam labu ukur 50
cc, sedangkan residunya dicuci dengan HCl 0,1 N dan
ditambahkan ke dalam labu ukur 50 cc yang berisi filtrat.
Larutan kemudian ditandabataskan dan dikocok.
i.4.2. Pembuatan Larutan Standar Fe
sebanyak 25 mL larutan induk Fe 1000 ppm dipipet,
kemudian dimasukkan dalam labu ukur 250 mL, lalu
ditambahkan akuades sampai tanda batas sehingga
diperoleh larutan Fe sebesar 100 ppm. Larutan standar Fe
dibuat dengan konsentrasi 0;2;4;6;8 dan 10 ppm dari
larutan Pb 100 ppm. Larutan standar tersebut dimasukkan
ke dalam tabung reaksi.
i.4.3. Penetuan Logam Fe dengan SSA
Larutan sampel yang telah dipreparasi langsung diukur
serapannya dengan SSA.
i.5. Analisa Bahan Organik (Metode Walkey dan Black)
Contoh sedimen kering udara ditimbang sekitar 1 gram. Kemudian
dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan 10 mL
K2Cr2O7 1 N dan H2SO4 pekat. Lalu dikocok larutan diatas kain
planel yang agak basah dan lunak selam 10 menit. Jika warna
masih hijau, ditambahkan lagi larutan K2Cr2O7 1 N dan H2SO4
serta dicatat penambahannya. Kemudian didinginkan. Akuades
ditambahkan hingga tanda batas dan dikocok kembali serta
diambak selama 24 jam. Kemudian 10 mL larutan cairan yang
jernih dimasukkan ke dalam erlenmeyer 50 mL, lalu ditambahkan
1 mL H3PO4 pekat dan 2-3 tetes indikator diphenil amin.
Kemudian dititrasi dengan larutan FeSO4. 7 H2O 0,2 N. Serta
dilakukan juga untuk blanko.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Hasil Dan Perhitungan


A.Hasil Pengamatan
1. Praktikum Lapangan
No. Parameter Hasil
1. Kimia
- - pH tanah
Rawa 4,2 ; 4,8 ; 3,7
2 Sawah 7,6 ; 6,2 ; 6,3 ; 6,3
Sungai I 6
Sungai II 4
- - DO
) Rawa 0,22
Sawah 0,09
Sungai I 2,5
Sungai II 36,5
- - Salinitas
1 Rawa 0
Sawah 0
Sungai I 0
Sungai II 0

2. Biologi
- - Fauna
Rawa Nyamuk, Laba-laba, Semut
2 Sawah Capung, Laba-laba air,
Keong, Ulat, Belalang
Sungai I Capung, Laba-laba, Kupu-
kupu, Keong
Sungai II Ikan, Capung
- Flora
1) Rawa Rumput tekki, kelakai
Sawah Nenas, lumut, teratai
2) rumput, padi
Sungai I Paku air, eceng gondok, ,
lumut
Sungai II Purun, eceng gondok
3. Fisika
- - Suhu air
1) Rawa 31 0C
) Sawah 31 0C, 32, 33, 34, 35
Sungai I 33
Sungai II 31
- Kecepatan arus
Rawa 4 putaran/menit dan 17
putaran/menit
Sawah 10 putaran/menit
Sungai I 22 putaran/menit
Sungai II 0 putaran
- - Kecerahan
Rawa 69 cm
Sawah 31 cm
Sungai I 43 cm
Sungai II 53 cm
- - Lebar
Rawa
Sawah
Sungai I 120 m
Sungai II
2. Praktikum Laboratorium
No. Analisis Hasil
1. - pH sedimen tanah
Rawa 8
Sawah 3
Sungai I 6
Sungai II 3

2. Logam Fe dengan SSA


a. Air
Rawa
Sungai I
Sungai II
Sawah
b. Tanah
Rawa
Sungai I
Sungai II
Sawah
3. Bahan Organik
Tanah
Rawa
Sawah
Sungai I dan Sungai II

2.1. Titrasi Sampel dengan Larutan Buret FeSO4.7H2O sebagai Titran


Titrasi I
Volume Volume Volume
Volume
Buret Buret titrasi Perubahan
Percobaan Sampel Indikator
awal akhir (mL) Warna
(mL)
(mL) (mL)
Rawa 10 8,8 14,8 6 Diphenil amin Ungu ⇾ Hijau
Sawah 10 13,2 15,7 2,5 Diphenil amin Ungu ⇾ Hijau
Sungai I 10 15,7 17 1,3 Diphenil amin Ungu ⇾ Hijau
Sungai II 10 39,3 45,7 6,4 Diphenil amin Ungu ⇾ Hijau

Titrasi II
Volume Volume Volume
Volume
Buret Buret titrasi Perubahan
Percobaan Sampel Indikator
awal akhir (mL) Warna
(mL)
(mL) (mL)
Rawa 10 3,3 5,1 1,8 Diphenil amin Ungu ⇾ Hijau
Sawah 10 2,6 8,8 6,2 Diphenil amin Ungu ⇾ Hijau
Sungai I 10 1,4 3,3 2,1 Diphenil amin Ungu ⇾ Hijau
Sungai II 10 5,1 7,3 2,2 Diphenil amin Ungu ⇾ Hijau

B. Perhitungan
1. Pengukuran Kecepatan Arus
a. Rawa
Diket :s=3m
t = 90,38 s
Ditanya : Kecepatan arus rawa (V) ...?
Penyelesaian:
𝑠
Kecepatan = 𝑡
3
= 90,38

= 0,03 m/s
b. Sungai I
Diket :s=3m
t = 90,38 s
Ditanya : Kecepatan arus rawa (V) ...?
Penyelesaian:
𝑠
Kecepatan = 𝑡

=
c.Sungai II
Diket :s=3m
t = 90,38 s
Ditanya : Kecepatan arus rawa (V) ...?
Penyelesaian:
𝑠
Kecepatan = 𝑡

=
d. Sawah
Diket :s=3m
t = 90,38 s
Ditanya : Kecepatan arus rawa (V) ...?
Penyelesaian:
𝑠
Kecepatan = 𝑡

2.Analisa Bahan Organik


a. Rawa
Diketahui : Volume Sampel = 10 mL
Volume Blanko = 10 mL
N FeSO4 . 7 H2O = 0,2 N
Volume Titrasi = 2,74 mL
f = 1,3
Ditanyakan : Persentase kandungan C organik ...?
Penyelesaian :
(𝑉𝑜𝑙.𝐵𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜−𝑉𝑜𝑙.𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙)𝑥𝑁 𝐹𝑒𝑆𝑂4 𝑥 0,3003 𝑥 𝑓 𝑥
% C Organik = x100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ (𝑔)
(10 𝑚𝐿−10 𝑚𝐿)𝑥 0,2 𝑁 𝐹𝑒𝑆𝑂4 𝑥 0,3003 𝑥 1,3
% C Organik= x100%
1

% C Organik= 0 %
b. Sungai I
Diketahui :Volume Sampel = 10 mL
N FeSO4 . 7 H2O = 0,2 N
Volume Titrasi = 2,74 mL
f = 1,3
Ditanyakan : Persentase kandungan C organik ...?
Penyelesaian :
(𝑉𝑜𝑙.𝐵𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜−𝑉𝑜𝑙.𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙)𝑥𝑁 𝐹𝑒𝑆𝑂4 𝑥 0,3003 𝑥 𝑓 𝑥
% C Organik = x100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ (𝑔)
(10 𝑚𝐿−10 𝑚𝐿)𝑥 0,2 𝑁 𝐹𝑒𝑆𝑂4 𝑥 0,3003 𝑥 1,3
% C Organik= x100%
1

% C Organik=
c. Sungai II
Diketahui :Volume Sampel = 10 mL
N FeSO4 . 7 H2O = 0,2 N
Volume Titrasi = 2,74 mL
f = 1,3
Ditanyakan : Persentase kandungan C organik ...?
Penyelesaian :
(𝑉𝑜𝑙.𝐵𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜−𝑉𝑜𝑙.𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙)𝑥𝑁 𝐹𝑒𝑆𝑂4 𝑥 0,3003 𝑥 𝑓 𝑥
% C Organik = x100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ (𝑔)
(10 𝑚𝐿−10 𝑚𝐿)𝑥 0,2 𝑁 𝐹𝑒𝑆𝑂4 𝑥 0,3003 𝑥 1,3
% C Organik= x100%
1

% C Organik=
d. Sawah
Diketahui :Volume Sampel = 10 mL
N FeSO4 . 7 H2O = 0,2 N
Volume Titrasi = 2,74 mL
f = 1,3
Ditanyakan : Persentase kandungan C organik ...?
Penyelesaian :
(𝑉𝑜𝑙.𝐵𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜−𝑉𝑜𝑙.𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙)𝑥𝑁 𝐹𝑒𝑆𝑂4 𝑥 0,3003 𝑥 𝑓 𝑥
% C Organik = x100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ (𝑔)
(10 𝑚𝐿−10 𝑚𝐿)𝑥 0,2 𝑁 𝐹𝑒𝑆𝑂4 𝑥 0,3003 𝑥 1,3
% C Organik = x100%
1

% C Organik=
3. Perhitungan Kadar Fe
1) Air
a. Rawa
Kadar Fe = 0,196 ppm
= 0,196

= 0,02

b. Sungai I
Kadar Fe = -0,052 ppm
= -0,052

= -0,005

c. Sungai II
Kadar Fe = 0,070 ppm
= 0,070

= 0,007

d. Sawah
Dengan faktor pengenceran 10X
Kadar Fe = 2,483 X FP
= 2,483 X 100
= 248,3 ppm
= 248,3

= 24,8

2)Tanah
a. Rawa
Dengan faktor pengenceran 100X
Kadar Fe = 2,483 X FP
= 2,483 X 100
= 248,3 ppm
= 248,3

= 24,8

b. Sungai I
Dengan faktor pengenceran 100X
Kadar Fe = 2,707 X FP
= 2,707 X 100
= 270,7 ppm
= 270,7

= 27,1

c. Sungai II
Dengan faktor pengenceran 100X
Kadar Fe = 2,675 X FP
= 2,675 X 100
= 267,5 ppm
= 267,5

= 26,7

d. Sawah
Dengan faktor pengenceran 100X
Kadar Fe = 4,246 X FP
= 4,246 X 100
= 424,6 ppm
= 424,6
= 42,5
BAB V
PENUTUP

5.1.Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum kali ini adalah:
1.
2.
3.

5.2. Saran
Saran yang dapat diberikan pada praktikum ini adalah supaya dalam
praktikum yang akan datang praktikan dapat lebih baik lagi dalam memperhatikan
penjelasan yang diberikan oleh asisten dan mengenal asisten sehingga ketika
praktikum berlangsung praktikan tidak merasa kebingungan dan dalam
melaksanakan praktikum, diharapkan pula agar praktikan dapat lebih rajin dan
teliti dalam melaksanakan praktikum baik dilapangan maupun di dalam
laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, dkk. 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi
Negeri Indonesia Bagian Timur. Ujung Pandang.

Asdak,C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Kodoatie, R. J. & Syarief, R. 2010. Tata Ruang Air. ANDI. Yogyakarta.

Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jenderal


Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Setiawan, B. 2008. Sungai dan Pengalirannya.


http://budhisetiawan.net/courses/geologi-rekayasa/sungai-dan-
pengalirannya/
Diakses tanggal 3 Juni 2014

Siahaan, R. dkk. 2011. Kualitas Air Sungai Cisadane, Jawa Barat-Banten. IPB.
Bogor.

Soeryono, A. 2005. Daerah Aliran Sungai.


http://www.acehblogger.org/Daerah_Aliran_Sungai
Diakses tanggal 4 Juni 2014
LAMPIRAN

Gambar 1. Gambar Rawa Bangkau

Gambar 2. Gambar Jalan Rawa Bangkau


Gambar 3. Gambar Kandang Kerbau atau Kalang

Gambar 4. Kerbau dengan Ujung Telinga Kiri yang Disobek


Gambar 5. Suasana Praktikum Pada Air Terjun Haratai Loksado

Gambar 6. Pengukuran Debit Air pada Air Terjun Riam Hanai


Gambar 7. Inventarisasi Flora dan Fauna Ukuran 20 X 20 Air Terjun Riam Hanai

Gambar 8. Kelabang pada Sungai Amandit


LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM PENGENALAN LINGKUNGAN LAHAN BASAH

Nama/NIM :
1. Adi Purwanto (J1D111048)
2. Dita Apriliani (J1A111014)
3. Dyah Utoro Nini (J1E111057)
4. Fariandi Mukhti (J1F110222)
5. Fitri Aulia (J1E111021)
6. Imas Mashlahah (J1D111030)
7. Khairul Syahrin (J1E111056)
8. Meilina Hi. Kabir (J1B111021)
9. Noor Azimah Qodar AT (J1F110220)
10. Rahmat Noorseto (J1F110037)

Kelompok : B5
Hari dan Tanggal Praktikum : Lapangan : 2-3 Juni 2012
Laboratorium : 5,8-9 Juni 2012
HASIL PENGAMATAN
1. PRAKTIKUM LAPANGAN
1.Rawa Bangkau Nagara
No. Parameter Hasil
1. Kimia
- pH air
5) Rawa Bangkau 6,5
6) Sungai Amandit 7,5
7) Air Terjun Haratai 8,5
8) Air Terjun Riam Hanai 8,5
- DO
5) Rawa Bangkau
6) Sungai Amandit 20 ppm
7) Air Terjun Haratai 5,8 ppm
8) Air Terjun Riam Hanai 4,6 ppm
- Salinitas
5) Rawa Bangkau 0 %
6) Sungai Amandit 0 %
7) Air Terjun Haratai 0 %
8) Air Terjun Riam Hanai 0 %
2. Biologi
- Fauna
5) Rawa Bangkau Kerbau rawa, bebek, ikan
papuyu, plankton, ikan sapat
dan ikan air tawar lainnya dan
yang lainnya.
6) Sungai Amandit Kelabang, ayam, anjing, ikan
kecil, keong, ulat, plankton
dan lainnya.
7) Air Terjun Haratai Siput, ikan kecil, kutu air, dan
lainnya.
8) Air Terjun Riam Hanai Keong, laba- laba air, ikan
kecil dan yang lainnya.
- Flora
5) Rawa Bangkau Eceng gondok, kangkung dan
tumbuhan air yang lainnya.
6) Sungai Amandit Lumut, rumput, pohon
mangga, pohon sukun, pohon
jeruk, bambu, pohon nangka,
pohon karet, pohon kelapa,
pohon tebu dan yang lainnya.
Lumut, rumput, pepohonan
7) Air Terjun Haratai dan lainnya
Bambu, rumput, pakis, lumut
8) Air Terjun Riam Hanai dan yang lainnya.
- Elevasi
5) Rawa Bangkau 101 m dpl
6) Sungai Amandit 125 m dpl
7) Air Terjun Haratai 101 m dpl
8) Air Terjun Riam Hanai

3. Fisika
- Suhu air
5) Rawa Bangkau 30,11oC, 30,8oC, 30,9oC
6) Sungai Amandit 24,1 oC
7) Air Terjun Haratai 23,6 oC
8) Air Terjun Riam Hanai 22,8 oC
- Kecepatan arus
5) Rawa Bangkau 0,043
6) Sungai Amandit 0,479
7) Air Terjun Haratai 0,560
8) Air Terjun Riam Hanai
1,064
- Kecerahan
5) Rawa Bangkau 0,45 m
6) Sungai Amandit 1,46 m
7) Air Terjun Haratai 1,28 m
8) Air Terjun Riam Hanai 1,46 m
- Lebar
5) Rawa Bangkau (tak terhingga)
6) Sungai Amandit 20,3 m
7) Air Terjun Haratai
8) Air Terjun Riam Hanai

- Koordinat
5) Rawa Bangkau

6) Sungai Amandit S = 020 470 57,40


E = 1150 270 08,10
7) Air Terjun Haratai S = 020 480 18,10
E = 1150 300 18,60
8) Air Terjun Riam Hanai S = 020 470 57,40
E = 1150 270 08,10

- Profil Penampang Sungai

1) Sungai Amandit
A = 20 cm D = 55 cm
B = 50 cm E = 25 cm
C = 70 cm

3. Praktikum Laboratorium
No. Analisis Hasil
1. pH sedimen tanah
5) Rawa Bangkau 6,09
6) Sungai Amandit 7,75
7) Air Terjun Haratai 7,12
8) Air Terjun Riam Hanai 7,6
2. Logam Fe dengan SSA
c.Air
5) Rawa Bangkau 0,196
6) Sungai Amandit -0,052 (induk)
7) Air Terjun Haratai 0,070
8) Air Terjun Riam Hanai 0,053 (FP 10X)
d.Tanah
5) Rawa Bangkau
6) Sungai Amandit
7) Air Terjun Haratai
8) Air Terjun Riam Hanai

2,483
( FP 100X)

2,707
2,675
4,246
3. Bahan Organik
 Tanah
5) Rawa Bangkau 56,68 %
6) Sungai Amandit 42,32 %
7) Air Terjun Haratai 40,44 %
8) Air Terjun Riam Hanai 39,98 %

2.1 Titrasi Sampel dengan Larutan Buret FeSO4.7H2O sebagai Titran


Volume Volume
Volume
Buret Buret Perubahan
Percobaan Sampel Indikator
(mL) (mL) Warna
(mL)
(Ungu) (Hijau)
Hijau pekat ⇾
Amandit 10 4,5 4,58 Diphenilamin
Ungu ⇾ Hijau
Hijau pekat ⇾
Haratai 10 3,94 4,82 Diphenilamin
Ungu ⇾ Hijau
Hijau pekat ⇾
Riam Hanai 10 4,28 4,88 Diphenilamin
Ungu ⇾ Hijau
Rawa Hijau pekat ⇾
10 2,26 2,74 Diphenilamin
Bangkau Ungu ⇾ Hijau