You are on page 1of 41

GAMBARAN TINGKAT KEPATUHAN PENGOBATAN

PASIEN DIABETES MELITUS DI RW 08 KELURAHAN CIBABAT


KECAMATAN CIMAHI UTARA

Diajukan sebagai salah satu pemenuhan tugas program Internsip Periode Desember - Maret
2019

Disusun Oleh:
Henny Oktavianti Wijaya, dr.

PUSKESMAS CIMAHI UTARA


KOTA CIMAHI
2019

1
HALAMAN PENGESAHAN

GAMBARAN TINGKAT KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN DIABETES


MELITUS DI RW 08 KELURAHAN CIBABAT KECAMATAN CIMAHI UTARA

Diajukan sebagai salah satu pemenuhan tugas program Internsip Periode Desember – Maret
2019

Disusun Oleh:
Henny Oktavianti Wijaya, dr.

Telah disetujui dan disahkan oleh:


Dokter Pembimbing

dr. Irene Herdi


NIP. 19830508 200902 2 003

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena karunia dan berkat-
Nya sehingga Laporan Mini Project yang berjudul “Gambaran Tingkat Kepatuhan Pengobatan
Pasien Diabetes Melitus Di RW 08 Kelurahan Cibabat Kecamatan Cimahi Utara” ini dapat
diselesaikan. Laporan Mini Project ini diajukan sebagai bagian dari kegiatan Program Internsip
Dokter Indonesia di Puskesmas Cimahi Utara, Kota Cimahi Provinsu Jawa Barat. Pada
kesempatan ini, tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada dr. Irene Herdi selaku
pendamping selama menjalankan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas Cimahi
Utara Kota Cimahi Jawa Barat.
Adapun Laporan Mini Project ini berisi mengenai hasil penelitian mengenai kepatuhan
pengobatan pada pasien Diabetes Melitus dari obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien.
Diabetes Melitus merupakan salah satu kasus yang sering ditemui dan memerlukan pengobatan
yang kontinyu. Oleh karena itu maka dengan adanya Laporan Mini Project ini, diharapkan
pembaca dapat memahami lebih jauh memahami tingkat kepatuhan pengobatan DM yang
terdapat di Puskesmas Cimahi Utara guna mencegah komplikasi yang dapat ditimbulkan dari
Diabetes Melitus.
Kami menyadari bahwa Laporan Mini Project ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada setiap pihak yang telah membantu
sampai selesainya Laporan Mini Project ini. Semoga Laporan Mini Project ini berguna bagi
kita semua.

Cimahi, Februari 2019

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar

di Indonesia pada saat ini. Hal ini ditandai dengan adanya pergeseran pola penyakit secara

epidemiologi dari penyakit menular yang cenderung menurun ke penyakit tidak menular yang

secara global meningkat di dunia, dan secara nasional telah menduduki sepuluh besar penyakit

penyebab kematian dan kasus terbanyak, yang diantaranya adalah penyakit diabetes melitus

(DM) dan penyakit metabolik.1

Diabetes melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik

hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Pada

perjalanannya, penyakit diabetes akan menimbulkan berbagai komplikasi baik yang akut

maupun yang kronis atau menahun apabila tidak dikendalikan dengan baik. Diabetes

merupakan salah satu penyakit degeneratif yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat

dikendalikan atau dikelola.2

Menurut laporan World Health Organization (WHO), jumlah penderita diabetes

melitus di Indonesia menduduki peringkat keempat terbesar di dunia. WHO memprediksi

kenaikan jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi

sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan

bahwa terjadi peningkatan kejadian diabetes dari 6,9 % pada 2013 menjadi 8,5% pada 2018..

Di Jawa Barat, terdapat 1,3% yang terdiagnosis diabetes mellitus dengan perkiraan jumlah

418.110 jiwa.3,4

Data Puskesmas Cimahi Utara menunjukkan penyakit diabetes melitus masuk kedalam

10 penyakit terbanyak di bulan Oktober 2018 sehingga penyakit ini masih menjadi masalah

4
yang perlu benahi di wilayah kerja puskesmas. Pemeriksaan Hba1c berkala pada puskesmas

Cimahi Utara dari 13 orang penderita diabetes mellitus tipe dua ,teradapat 8 orang yang

memiliki kadar Hba1c diatas 7 yang artinya 61,5% penderita belum terkendali penyakitnya.

Data dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas Cimahi Utara Tahun 2018

menunjukan cakupan yang didapat sebanyak 12,35 % dari target 100% dengan sasaran 4065

jiwa.

Pengendalian diabetes melitus dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu edukasi,

latihan jasmani, terapi nutrisi medis (TNM) dan terapi farmakologi. Parameter pengendalian

tersebut merupakan poin penting dalam mencegah terjadinya komplikasi, yaitu dengan

menurunkan faktor resiko untuk terjadinya komplikasi diabetes melitus. Komplikasi diabetes

melitus yang dapat terjadi dapat berupa komplikasi secara mikroangiopati dan makroangiopati.

Komplikasi-komplikasi tersebut dapat dicegah dengan mengkonsumsi obat secara teratur.1

Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran

tingkat kepatuhan pengobatan pasien Diabetes Melitus di RW 08 Kelurahan Cibabat

Kecamatan Cimahi Utara.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, dapat diidentifikasi masalah

penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran karakteristik pasien Diabetes Melitus di RW 08 Kelurahan

Cibabat Kecamatan Cimahi Utara?

2. Bagaimanakah gambaran tingkat kepatuhan pengobatan pasien Diabetes Melitus di

RW 08 Kelurahan Cibabat Kecamatan Cimahi Utara

5
1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui serta meningkatkan tingkat kepatuhan pengobatan pasien Diabetes


Melitus di Puskesmas Cimahi Utara

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini dapat menjadi data dan bahan pertimbangan dalam
penelitian lebih lanjut berhubungan dengan tingkat kepatuhan pengobatan pasien
Diabetes Melitus.

1.4.2. Manfaat Klinis


Hasil penelitian dapat digunakan oleh puskesmas untuk menjadi masukan kepada
pihak-pihak terkait untuk menyampaikan kepatuhan pengobatan pada pasien Diabetes
Melitus di PKM Cimahi Utara

1.4.3. Manfaat Kesehatan Masyarakat


Hasil penelitian dapat digunakan oleh puskesmas untuk menjadi masukan kepada
pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien Diabetes Melitus
serta mencegah komplikasi dari Diabetes Melitus khususnya di Wilayah Kerja Puskesmas
Cimahi Utara agar senantiasa hidup sehat dan terhindar dari penyakit tidak menular
lainnya.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)


2.1.1 Gambaran Umum
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan kesehatan meliputi pembangunan
yang berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan keluarga serta pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang bermutu.
Wilayah kerja adalah batasan wilayah kerja Puskesmas dalam melaksanakan tugas dan
fungsi pembangunan kesehatan, yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
berdasarkan keadaan geografis, demografi, sarana transportasi, masalah kesehatan setempat,
keadaan sumber daya, beban kerja Puskesmas dan lain-lain. Selain itu juga harus
memperhatikan upaya untuk meningkatkan koordinasi, memperjelas tanggung jawab
pembangunan dalam wilayah kecamatan, meningkatkan sinergisme pembangunan dalam
wilayah kecamatan, meningkatkan sinergisme kegiatan dan meningkatkan kinerja. Apabila
dalam satu wilayah kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmas maka Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menunjuk salah satu Puskesmas sebagai koordinator
pembangunan kesehatan di kecamatan.
Puskesmas memiliki tanggung jawab dalam hal mempromosikan kesehatan kepada
seluruh masyarakat sebagai upaya untuk memberikan pengalaman belajar, menyediakan media
informasi, dan melakukan edukasi baik untuk perorangan, kelompok, dan masyarakan guna
meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat. Dengan berjalanannya program
kesehatan yang dijalankan oleh setiap Puskesmas, di harapkan pada akhirnya akan berpengaruh
pada perubahan kepada setiap individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan
memelihara prilaku sehat serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal.

7
2.1.2 Profil Puskesmas Cimahi Utara
Puskesmas Cimahi Utara berada di Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota
Cimahi dengan luas wilayah 287,38 km2, terdiri dari 25 RW dan 138 RT. Wilayah kerjanya
memiliki curah hujan 1600 s.d 2000 mm per tahun, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
• Barat : Kelurahan Citeureup
• Utara : Desa Sariwangi dan Desa Cihanjuang (KBB)
• Selatan : Kelurahan Cigugur Tengah
• Timur : Kelurahan Pasirkaliki dan Kota Bandung
Dengan wilayah kerja yang berada di lintas batas dengan Kota Bandung dan Kabupaten
Bandung Barat, ditambah lagi dengan mobilitas penduduk Kota Cimahi yang cukup tinggi,
memungkinkan penyakit yang terjadi di 2 tempat tersebut dapat berpindah ke wilayah kerja
PKM Cimahi Utara, begitu pun sebaliknya. Namun, hal ini tidak perlu dirisaukan, karena akses
terhadap rumah sakit pun cukup dekat, terutama RSUD Cibabat dan RS Mitra Kasih, sehingga
jika ada permasalahan kesehatan di Kelurahan Cibabat dan sekitarnya, dapat segera dirujuk
dan ditangani secara optimal.

Gambar 1. Peta Kelurahan Cibabat


Tabel 1. Situasi Georafis di Wilayah Kerja Puskesmas Cimahi Utara
Kondisi
Jumlah Jarak Rata rata
No Kelurahan Kategori Keterjangkau
RT/RW Terjauh waktu
an Kelurahan

8
Ke Tempuh
Faskes ke Faskes
1 Cibabat Kota 138/25 1 Km 5 Menit Mudah
Sumber: Puskesmas Cimahi Utara Tahun 2017

Tabel 2. Jumlah RT per RW di Kelurahan Cibabat

Jumlah
No RW
RT

1 1 5
2 2 7
3 3 5
4 4 5
5 5 6
6 6 5
7 7 8
8 8 13
9 9 4
10 10 5
11 11 6
12 12 3
13 13 3
14 14 4
15 15 7
16 16 8
17 17 5
18 18 5
19 19 4
20 20 5
21 21 3
22 22 5
23 23 11
24 24 3

9
25 25 3

Jumlah 138

Sumber: Rek/Des/15 Kel. Cibabat

Jumlah penduduk estimasi Kelurahan Cibabat adalah 57.576 jiwa, di mana jumlah
penduduk laki-laki sebanyak 29.062 jiwa, dan perempuan 28.514 jiwa, yang menyangga 9,69%
dari seluruh jumlah penduduk di Kota Cimahi.

Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Umur di Kelurahan Cibabat Tahun 2017

No Kelompok Umur Jumlah

1 75+ 922
2 70-74 801
3 65-69 1.076
4 60-64 1.868
5 55-59 2.645
6 50-54 3.226
7 45-49 3.828
8 40-44 4.504
9 35-39 5.057
10 30-34 5.525
11 25-29 4.675
12 20-24 4.723
13 15-19 4.659
14 10-14 5.074
15 5-9 4.745
16 0-4 4.248

Jumlah 57.576

Sumber: Kelurahan Cibabat Tahun 2017

Tabel 4. Daftar Ketenagaan di Puskesmas Cimahi Utara Tahun 2017


No Jenis Ketenagaan Puskesmas Kawasan Perkotaan Keterangan

10
Non Rawat Inap
Non Rawat Inap
(Menurut
Puskesmas Cimahi
Permenkes No 75
Utara
Tahun 2014
1 Dokter atau Dokter 1 3 1 sebagai
Layanan Primer Ka.PKM

2 Dokter Gigi 1 1

3 Perawat 5 5 1 Perawat
Gigi, 1
Perawat
sebagai
Tenaga
Kesmas

4 Bidan 4 3

5 Tenaga Kesehatan 2 1 Ka. Sub Bag.


Masyarakat TU
6 Tenaga Kesling 1 1

7 Ahli Tek. Lab. Medik 1 1

8 Tenaga Gizi 1 1
9 Tenaga Kefarmasian 1 2

10 Tenaga Administrasi 3 3

11 Pekarya 2 2

12 Supir 1 1

Jumlah 22 24

Sumber: Puskesmas Cimahi Utara Tahun 2017


Bila dibandingkan dengan Permenkes No. 75 Tahun 2014, jumlah ketenagaan yang ada
di Puskesmas Cimahi Utara sebagian besar sudah terpenuhi, tetapi ada juga yang masih kurang
jika dibandingkan dengan yang seharusnya. Sebagai contoh, untuk tenaga perawat dan bidan,
masing-masing masih kekurangan 1 (satu) orang.

B. Struktur Organisasi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan
Masyarakat, pola struktur organisasi Puskesmas yang dapat dijadikan acuan di Puskesmas
perkotaan adalah sebagai berikut:
1. Kepala Puskesmas

11
Kepala Puskesmas memiliki kriteria seorang tenaga kesehatan dengan tingkat
pendidikan yang paling rendah adalah sarjana, memiliki kompetensi manajemen
kesehatan masyarakat, masa kerja di PKM minimal 2 (dua) tahun dan telah mengikuti
Pelatihan Manajemen Puskesmas.
2. Kepala Sub Bagian Tata Usaha
Ka. Sub Bag. TU membawahi beberapa kegiatan, di antaranya: Sistem Informasi
Puskesmas, Kepegawaian, Rumah Tangga, dan Keuangan.
3. Penanggung Jawab UKM Essensial dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat
(Perkesmas), yang membawahi:
• Pelayanan Promosi Kesehatan, termasuk UKS
• Pelayanan Kesehatan Lingkungan
• Pelayanan KIA-KB yang bersifat UKM
• Pelayanan Gizi yang bersifat UKM
• Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
• Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat
4. Penanggung Jawab UKM Pengembangan, membawahi Upaya Pengembangan yang
dilakukan di PKM, antara lain:
• Pelayanan Kesehatan Jiwa
• Pelayanan Kesehatan Gigi Masyarakat
• Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
• Pelayanan Kesehatan Olah Raga
• Pelayanan Kesehatan Indra
• Pelayanan Kesehatan Lansia
• Pelayanan Kesehatan Kerja
• Pelayanan Kesehatan lainnya
5. Penanggung Jawab UKP, Kefarmasian, dan Laboratorium, membawahi beberapa
kegiatan yaitu:
• Pelayanan Pemeriksaan Umum
• Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
• Pelayanan KIA-KB yang bersifat UKP
• Pelayanan Gawat Darurat
• Pelayanan Gizi yang bersifat UKP
• Pelayanan Persalinan

12
• Pelayanan Rawat Inap (bagi PKM DTP)
• Pelayanan Kefarmasian
• Pelayanan Laboratorium
Struktur organisasi yang ada di Puskesmas Cimahi Utara Tahun 2017 telah mengacu
kepada Permenkes Nomor 75 Tahun 2014 sebagaimana dapat dilihat pada bagan diatas.

C. Jam Operasional Puskesmas


Pelayanan yang dilaksanakan di Puskesmas Cimahi Utara mengikuti peraturan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi No. 800/3212/Dinkes/2015, yaitu seluruh pegawai
bekerja melaksanakan pelayanan dari hari Senin-Jumat dari pkl. 07.00-14.00 WIB dan untuk
hari Sabtu dari pkl. 07.00-13.00 WIB, dengan menggunakan sistem absensi finger print dan
dibantu dengan absensi manual yang dilaporkan setiap bulannya ke Sub Bagian Kepegawaian
Dinas Kesehatan.

Tabel 5.
Jadwal Pelayanan di Puskesmas Cimahi Utara Tahun 2017

Hari
Jenis Pelayanan
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu

Poliklinik Umum

Poliklinik Gigi
Poliklinik MTBS
Poliklinik Lansia

Pemeriksaan Kehamilan

Pelayanan KB, IVA, IMS


Pelayanan Imunisasi

Pelayanan TB Paru

Pelayanan Laboratorium
Klinik Sanitasi

Konseling Gizi

Pelayanan UKGMD/S

Klinik VCT
Minggu ke-3
Prolanis dan PRB

13
Poli SEFT
Sumber: Puskesmas Cimahi Utara Tahun 2017

D. Sasaran
Sasaran kegiatan yang ada di PKM Cimahi Utara selain masyarakat,adalah:
o Posyandu, yang berjumlah 31, di mana terdiri dari Posyandu Madya 9, Purnama
16, dan Mandiri 6, dengan jumlah kader aktifnya sebanyak 258 orang.
o Posbindu yang berjumlah 23, di mana 6 di antaranya merupakan Posbindu PTM.
o Sekolah yang berjumlah 34 (TK 15, SD/Sederjat 12, SMP/Sederajat 3,
SMA/Sederajat 3, dan Perguruan Tinggi 1).
o RW Siaga yang berjumlah 25, sesuai dengan jumlah RW.

Tabel 6.
PAGU Anggaran PKM Cimahi Utara Tahun 2017

No Sumber Dana Jumlah (Rp)

1 Bantuan Operasional Kesehatan 290.000.000

2 Dana Kapitasi JKN 2.254.608.000

Jumlah 2.544.608.000

Sumber: Puskesmas Cimahi Utara Tahun 2017

2.1.2. Data Penyakit Diabetes Melitus di Puskesmas Cimahi Utara

Kasus Diabetes Melitus di Puskesmas Cimahi Utara masuk kedalam peringkat 9 penyakit

terbanyak pada bulan Oktober 2018 yaitu sebanyak 57 pasien.

Data SPM Tahun 2018

Indikator Target Sasaran Capaian Persentase Definisi


SPM Operasional
Pelayanan 100% 4065 502 12,3 % Jumlah
kesehatan penyandang
penderita DM yang
diabetes mendapatkan
Melitus pelayanan

14
kesehatan
sesuai std
dibagi
jumlah
penyandang
DM
berdasarkan
prevalensi
nasional

2.2 Diabetes Melitus

2.2.1 Definisi

DM merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang

terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.

2.2.2 Klasifikasi

Klasifikasi DM dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1. Klasifikasi etiologi DM

Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin


absolut
Tipe I
• Autoimun
• Idiopatik
Bervariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai
Tipe II defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi
insulin disertai resistensi insulin
Defek genetik fungsi sel beta
• Defek genetik kerja insulin
• Penyakit eksokrin pankreas
Tipe lain • Endokrinopati
• Karena obat atau zat kimia
• Infeksi
• Sebab imunologi yang jarang

15
• Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM
DM
Gestational

2.2.3. Etiologi dan Faktor Resiko

2.2.3.1 Faktor Risiko yang Tidak Bisa Dimodifikasi

a. Ras dan etnik

b. Riwayat keluarga dengan DM

c. Umur: Risiko untuk menderita intolerasi glukosa meningkat seiring dengan

meningkatnya usia. Usia >45 tahun harus dilakukan pemeriksaan DM. 11


11
d. Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi

e. >4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional (DMG).

f. Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg. Bayi yang

lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding

dengan bayi yang lahir dengan BB normal.

2.2.3.2 Faktor Risiko yang Bisa Dimodifikasi

a. Berat badan lebih (IMT ≥23 kg/m2).

b. Kurangnya aktivitas fisik

c. Hipertensi (>140/90 mmHg)

d. Dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan/atau trigliserida >250 mg/dl)

e. Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi glukosa dan rendah

serat akan meningkatkan risiko menderita prediabetes/intoleransi glukosa dan

DMT2.

16
2.2.4 Patogenesis dan Patofisiologi

Resistensi insulin pada otot dan liver serta kegagalan sel beta pankreas telah dikenal sebagai

patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe-2 Belakangan diketahui bahwa kegagalan sel beta

terjadi lebih dini dan lebih berat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Selain otot, liver dan

sel beta, organ lain seperti: jaringan lemak (meningkatnya lipolisis), sel alpha pancreas

(hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak (resistensi insulin),

kesemuanya ikut berperan dalam menimbulkan terjadiny gangguan toleransi glukosa pada DM

tipe-2. Berbagai organ penting dalam gangguan toleransi glukosa ini (ominous octet) penting

dipahami.1,2

DeFronzo pada tahun 2009 menyampaikan, bahwa tidak hanya otot, liver
8 dan sel beta

pankreas saja yang berperan sentral dalam patogenesis penderita DM tipe-2 tetapi terdapat

organ lain yang berperan yang disebutnya sebagai the ominous octet (gambar 3.1).1

Gambar ominous octet sebagai gambaran patofisiologi DM

Secara garis besar patogenesis DM tipe-2 disebabkan oleh delapan hal (omnious octet) berikut

17
1. Kegagalan sel beta pancreas:

Pada saat diagnosis DM tipe-2 ditegakkan, fungsi sel beta sudah sangat berkurang. Obat

anti diabetik yang bekerja melalui jalur ini adalah sulfonilurea, meglitinid.

2. Liver:

Pada penderita DM tipe-2 terjadi resistensi insulin yang berat dan memicu

gluconeogenesis sehingga produksi glukosa dalam keadaan basal oleh liver

(HGP=hepatic glucose production) meningkat. Obat yang bekerja melalui jalur ini

adalah metformin, yang menekan proses gluconeogenesis.

3. Otot:

Pada penderita DM tipe-2 didapatkan gangguan kinerja insulin. terjadi penurunan sintesis

glikogen, dan penurunan oksidasi glukosa. Obat yang bekerja di jalur ini adalah

metformin, dan tiazolidindion.

4. Sel lemak:

Sel lemak yang resisten terhadap efek antilipolisis dari insulin, menyebabkan peningkatan

proses lipolysis dan kadar asam lemak bebas (FFA=Free Fatty Acid) dalam plasma.

Peningkatan FFA akan merangsang proses glukoneogenesis, dan mencetuskan resistensi

insulin di liver dan otot. Obat yang bekerja dijalur ini adalah tiazolidindion.

5. Usus:

Glukosa yang ditelan memicu respon insulin jauh lebih besar dibanding kalau diberikan

secara intravena. Efek yang dikenal sebagai efek incretin ini diperankan oleh 2 hormon

GLP-1 (glucagon-like polypeptide-1) dan GIP (glucose-dependent Insulinotrophic

polypeptide atau disebut juga gastric inhibitory polypeptide). Pada penderita DM tipe-2

didapatkan defisiensi GLP-1 dan resisten terhadap GIP. setelah makan. Obat yang

bekerja untuk menghambat kinerjaensim alfa-glukosidase adalah akarbosa.

6. Sel Alpha Pancreas:

18
Sel-α pancreas merupakan organ ke-6 yang berperan dalam hiperglikemia dan sudah

diketahui sejak 1970. Sel-α berfungsi dalam sintesis glukagon yang dalam keadaan puasa
10
kadarnya di dalam plasma akan meningkat.

7. Ginjal:

Ginjal merupakan organ yang diketahui berperan dalam pathogenesis DM tipe-2. Ginjal

memfiltrasi sekitar 163 gram glukosa sehari. Sembilan puluh persen dari glukosa

terfiltrasi ini akan diserap kembali melalui peran SGLT-2 (Sodium Glucose co-

Transporter) pada bagian convulated tubulus proksimal. Sedang 10% sisanya akan di

absorbsi melalui peran SGLT-1 pada tubulus desenden dan asenden, sehingga akhirnya

tidak ada glukosa dalam urine. Pada penderita DM terjadi peningkatan ekspresi gen

SGLT-2.

8. Otak:

Insulin merupakan penekan nafsu makan yang kuat. Pada individu yang obes baik yang

DM maupun non-DM, didapatkan hiperinsulinemia yang merupakan mekanisme

kompensasi dari resistensi insulin. Pada golongan ini asupan makanan justru meningkat

akibat adanya resistensi insulin yang juga terjadi di otak.

2.2.5 Manifestasi Klinis dan Diagnosis

Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan

glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan

plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan

pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas

dasar adanya glukosuria. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang DM.

Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:

• Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak

dapat dijelaskan sebabnya.

19
• Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi
13 pada pria,

serta pruritus vulva pada wanita.

Tabel Kriteria Diagnosis DM

Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl. Puasa adalah

kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam.

Atau:

Pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl 2-jam setelah Tes

Toleransi Glukosa

Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram.

Atau:

Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dl dengan keluhan

klasik.

Atau:

Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode yang

terstandarisasi

oleh National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP).

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM digolongkan ke

dalam kelompok prediabetes yang meliputi: toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa

darah puasa terganggu (GDPT).

• Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa

antara 100-125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2-jam <140 mg/dl;

• Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma 2 -jam setelah

TTGO antara 140-199 mg/dl dan glukosa plasma puasa <100 mg/dl

• Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT

20
• Diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan

HbA1c yang menunjukkan angka 5,7-6,4%.

2.2.6 Penatalaksanaan

3.6 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus.1,7

Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang

diabetes. Tujuan penatalaksanaan

meliputi :

1. Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan

mengurangi risiko komplikasi akut.

2. Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati

dan makroangiopati.

3. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai

tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan, dan

profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara komprehensif.

3.6.1 Langkah-langkah Penatalaksanaan Umum

Perlu dilakukan evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama, yang meliputi:

1. Riwayat Penyakit

Usia dan karakteristik saat onset diabetes. Pola makan, status nutrisi, status aktifitas fisik,

dan riwayat perubahan berat badan. Pengobatan yang sedang dijalani, termasuk obat yang

digunakan, perencanaan makan dan program latihan jasmani. Riwayat komplikasi akut

(ketoasidosis diabetik, hiperosmolar hiperglikemia, hipoglikemia).. Riwayat infeksi

sebelumnya. Gejala dan riwayat pengobatan komplikasi kronik pada ginjal, mata, jantung dan

pembuluh darah, kaki, saluran pencernaan. Faktor risiko: merokok, hipertensi, riwayat

penyakit jantung koroner, obesitas, dan riwayat penyakit keluarga.

2. Pemeriksaan Fisik

21
Pengukuran tinggi dan berat badan. Pengukuran tekanan darah. Pemeriksaan funduskopi.

Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid. Pemeriksaan jantung. Evaluasi nadi baik secara

palpasi maupun dengan stetoskop. Pemeriksaan kaki secara komprehensif (evaluasi kelainan

vaskular, neuropati, dan adanya deformitas). Pemeriksaan kulit (akantosis nigrikans, bekas

luka, hiperpigmentasi, necrobiosis diabeticorum, kulit kering, dan bekas lokasi penyuntikan

insulin).

3. Evaluasi Laboratorium

Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2jam setelah TTGO. Pemeriksaan kadar

HbA1c.

4. Penapisan Komplikasi

Penapisan komplikasi harus dilakukan pada setiap penderita yang baru terdiagnosis DMT2

melalui pemeriksaan: Profil lipid pada keadaan puasa: kolesterol total, High Density

Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida. Tes fungsi hati, Tes

fungsi ginjal: Kreatinin serum dan estimasi-GFR, Tes urin rutin, Albumin urin .

Elektrokardiogram. Foto Rontgen thoraks (bila ada indikasi: TBC, penyakit jantung kongestif).

Pemeriksaan kaki secara komprehensif.

3.6.2 Langkah-langkah Penatalaksanaan Khusus

Penatalaksanaan DM dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat (terapi nutrisi medis

dan aktivitas fisik) bersamaan dengan intervensi farmakologis dengan obat anti hiperglikemia

secara oral dan/atau suntikan. Obat anti hiperglikemia oral dapat diberikan sebagai terapi

tunggal atau kombinasi.

3.6.2.1 Edukasi.

22
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai bagian dari

upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari pengelolaan DM secara

holistik.

Perilaku hidup sehat bagi penyandang Diabetes Melitus adalah memenuhi anjuran:

Mengikuti pola makan sehat, Meningkatkan kegiatan jasmani dan latihan jasmani yang teratur,

Menggunakan obat DM dan obat lainya pada keadaan khusus secara aman dan

teratur.Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan hasil

pemantauan untuk menilai keberhasilan pengobatan.

3.6.2.2 Terapi Nutrisi Medis (TNM)

TNM merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DMT2 secara komprehensif. Kunci

keberhasilannya adalah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi,

petugas kesehatan yang lain serta pasien dan keluarganya). Guna mencapai sasaran terapi TNM
17
sebaiknya diberikan sesuai dengan kebutuhan setiap penyandang DM. Prinsip pengaturan

makan pada penyandang DM hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum,

yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing

individu. Penyandang DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal

makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama pada mereka yang menggunakan obat

yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri.

A. Komposisi Makanan yang Dianjurkan terdiri dari:

1. Karbohidrat

Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi. Terutama karbohidrat

yang berserat tinggi. Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan.

Dianjurkan makan tiga kali sehari dan bila perlu dapat diberikan makanan selingan seperti

buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

23
2. Lemak

Asupan lemak dianjurkan sekitar 20- 25% kebutuhan kalori, Bahan makanan yang perlu

dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging

berlemak dan susu fullcream. Konsumsi kolesterol dianjurkan

< 200 mg/hari.

3. Protein

Kebutuhan protein sebesar 10 – 20% total asupan energi. Sumber protein yang baik adalah

ikan, udang, cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-

kacangan, tahu dan tempe. Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan asupan

protein menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10%

dari kebutuhan energi, dengan 65% diantaranya bernilai biologik tinggi.

Kecuali pada penderita DM yang sudah menjalani hemodialisis asupan protein

menjadi 1-1,2 g/kg BB perhari.

4. Natrium

Anjuran asupan natrium untuk penyandang DM sama dengan orang sehat yaitu <2300 mg

perhari. Penyandang DM yang juga menderita hipertensi perlu dilakukan pengurangan natrium

secara individual. Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan bahan

pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.

5. Serat

Penyandang DM dianjurkan mengonsumsi serat dari kacangkacangan, buah dan sayuran

serta sumber karbohidrat yang tinggi serat. Anjuran konsumsi serat adalah 20-35 gram/hari

yang berasal dari berbagai sumber bahan makanan

6. Pemanis Alternatif

24
Pemanis alternatif aman digunakan. Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan

kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori, seperti glukosa alkohol dan fruktosa. Pemanis

tak berkalori termasuk: aspartam, sakarin,

7. Kebutuhan Kalori

Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang DM,

antara lain dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kal/kgBB

ideal. Beberapa cara perhitungan berat badan ideal adalah sebagai berikut: Perhitungan berat

badan ideal (BBI) menggunakan rumus Broca yang dimodifikasi: Berat badan ideal =90% x

(TB dalam cm - 100) x 1 kg.

3.6.2.3 Jasmani

Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DMT2 apabila tidak disertai

adanya nefropati. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan secara secara

teratur sebanyak 3-5 kali perminggu selama sekitar 30-45 menit, dengan total 150 menit

perminggu. Jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut. Dianjurkan untuk

melakukan pemeriksaan glukosa darah sebelum latihan jasmani. Apabila kadar glukosa darah

<100 mg/dL pasien harus mengkonsumsi karbohidrat terlebih dahulu dan bila >250 mg/dL

dianjurkan untuk menunda latihan jasmani. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan

jasmani

yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang (50- 70% denyut jantung maksimal) seperti:

jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Denyut jantung maksimal dihitung

dengan cara mengurangi angka 220 dengan usia pasien.

3.6.2.4 Terapi Farmakologis

Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani

(gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.

25
3.6.2.4.1 Obat Hipoglikemik Oral (OHO)

Berdasarkan cara kerjanya, obat antihiperglikemia oral dibagi menjadi 5 golongan.

Dijelaskan pada tabel 3.3 dan 3.4.

a. Pemacu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue) seperti: Sulfonilurea dan Glinid

b. Peningkat Sensitivitas terhadap Insulin Seperti Metformin dan Tiazolidindion.

c. Penghambat Absorpsi Glukosa di saluran pencernaan: seperti acarbose

d. Penghambat DPP-IV (Dipeptidyl Peptidase- IV) seperti Sitagliptin dan

Linagliptin.

Tabel 3.3 jenis-jenis Obat Hipoglikemik Oral (OHO)

Golongan Obat Cara Kerja Utama Efek Samping Utama


Sulfonilurea Meningkatkan sekresi insulin BB naik, hipoglikemia
Biguanid Menekan produksi glukosa hati Dispepsia, Mual, diare,
&menambah asidosis laktat
sensitifitas terhadap insulin
Penghambat Menghambat absorpsi glukosa Flatus, tinja lembek
Alfa-
Glukosidase
Tiazolidindion Menambah sensitifitas terhadap Edema
insulin
Glinid Meningkatkan sekresi insulin BB naik, hipoglikemia

Tabel 3.4 Dosis dan Penggunaan OHO

Dosis
Golongan Generik Mg/Tab Harian Waktu
(mg)
Glibenclamide 5 2,5-20
Sulfonilurea Gliclazide 80 40-320 Sebelum Makan
Glimepiride 1, 2, 3, 4 1-8

26
Bersama/sesudah
Biguanide Metformin 500 500-3000
makan
Penghambat Acarbose 50, 100 100-300 Bersama
Alfa- suapan
Glukosidase pertama
Pioglitazone 15, 30 15-45 Tidak
Thiazolidinedi bergantung
one jadwal
makan
Repaglinide 0.5, 1, 2 1-16 Sebelum Makan
Glinide
Nateglinide 60, 120 180-360 Sebelum Makan

3.6.2.4.2 Obat Antihiperglikemia Suntik

Termasuk anti hiperglikemia suntik, yaitu insulin.

a. Insulin

Insulin diperlukan pada keadaan : HbA1c > 9% dengan kondisi dekompensasi metabolik,

Penurunan berat badan yang cepat, Hiperglikemia berat yang disertai ketosis, Krisis

Hiperglikemia, Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal, Stres berat (infeksi sistemik,

operasi besar, infark miokard akut, stroke), Kehamilan dengan DM/Diabetes melitus

gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan, gangguan fungsi ginjal atau hati

yang berat, Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO, Kondisi perioperatif sesuai dengan

indikasi.Jenis Insulin pada tabel.3.5

Tabel.3.5 Jenis-jenis Insulin

Jenis Insulin Awitan (onset) Puncak Efek Lama Kerja


Insulin analog Kerja Cepat (Rapid-Acting)
Insulin Lispro
(HumalogR)
5-15 menit 1-2 jam 4-6 jam
Insulin Aspart
(NovorapidR)

27
Insulin Glulisin
(ApidraR
Insulin manusia kerja pendek = Insulin Reguler (Short-Acting
HumulinR R
30-60 menit 2-4 jam 6-8 jam
ActrapidR
Insulin manusia kerja menengah = NPH (Intermediate-Acting
Humulin NR
InsulatardR 1,5 – 4 jam 4-10 jam 8-12 jam
Insuman BasalR
Insulin analog kerja panjang (Long-Acting)
Insulin Glargine
(LantusR)
Hampir tanpa
Insulin Detemir 1-3 jam 12-24 jam
puncak
(LevemirR)
Lantus 300

Cara penyuntikan insulin yaitu: Insulin umumnya diberikan dengan suntikan di bawah

kulit (subkutan), dengan arah alat suntik tegak lurus terhadap cubitan permukaan kulit , Pada

keadaan khusus diberikan intramuskular atau drip Insulin campuran (mixed insulin)

merupakan kombinasi antara insulin kerja pendek dan insulin kerja menengah, dengan

perbandingan dosis yang tertentu, namun bila tidak terdapat sediaan insulin campuran tersebut

atau diperlukan perbandingan dosis yang lain, dapat dilakukan pencampuran sendiri antara

kedua jenis insulin tersebut.. Penyuntikan insulin dengan menggunakan semprit insulin dan

jarumnya sebaiknya hanya dipergunakan sekali, meskipun dapat dipakai 2-3 kali oleh

penyandang diabetes yang sama, sejauh sterilitas penyimpanan terjamin. Penyuntikan

dilakukan pada daerah: perut sekitar pusat sampai kesamping, kedua

lengan atas bagian luar (bukan daerah deltoid), kedua paha bagian luar.

28
Gambar 3.2 Algoritme Pengelolaan DM Tipe-2

Algoritme bukan menunjukkan urutan pilihan. Pilihan obat tetap harus

mempertimbangkan tentang keamanan, efektifitas, penerimaan pasien, ketersediaan.

Untuk penderita DM Tipe -2 dengan HbA1C <7.5% maka pengobatan non farmakologis

dengan modifikasi gaya hidup sehat dengan evaluasi HbA1C 3 bulan, bila HbA1C tidak

mencapa target < 7% maka dilanjutkan dengan monoterapi oral.

Untuk penderita DM Tipe-2 dengan HbA1C 7.5%-<9.0% diberikan modifikasi gaya hidup

sehat ditambah monoterapi oral. Dalam memilih obat perlu dipertimbangkan keamanan

(hipoglikemi, pengaruh terhadap jantung), efektivitas, , ketersediaan, toleransi pasien dan

harga.

Bila obat monoterapi tidak bisa mencapai target HbA1C<7% dalam waktu 3 bulan maka

terapi ditingkatkan menjadi kombinasi 2 macam obat, yang terdiri dari obat yang diberikan

pada lini pertama di tambah dengan obat lain yang mempunyai mekanisme kerja yang berbeda.

Bila HbA1C sejak awal ≥ 9% maka bisa langsung diberikan kombinasi 2 macam obat seperti

tersebut diatas.

29
2.2.7. Komplikasi

2.2.7.1 Komplikasi Akut

1. Krisis Hiperglikemia

Ketoasidosis Diabetik (KAD) adalah komplikasi akut diabetes yang ditandai dengan

peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dl), disertai tanda dan gejala

asidosis dan plasma keton (+) kuat. Osmolaritas plasma meningkat (300-320 mOs/ml) dan

terjadi peningkatan anion gap.

Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH) adalah suatu keadaan dimana terjadi

peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-1200 mg/dl), tanpa tanda dan gejala asidosis,

osmolaritas plasma sangat meningkat (330-380 mOs/ml), plasma keton (+/-), anion gap

normal atau sedikit meningkat.

2. Hipoglikemia

Hipoglikemia ditandai dengan menurunya kadar glukosa darah < 70 mg/dl. Hipoglikemia

adalah penurunan konsentrasi glukosa serum dengan atau tanpa adanya gejala-gejala sistem

otonom, seperti adanya whipple’s triad:

1. Terdapat gejala-gejala hipoglikemia

2. Kadar glukosa darah yang rendah

3. Gejala berkurang dengan pengobatan

Hipoglikemia Ringan: 1. Pemberian konsumsi makanan tinggi glukosa (karbohidrat

sederhana) 2. Glukosa murni merupakan pilihan utama, namun bentuk karbohidrat lain yang

berisi glukosa juga efektif untuk menaikkan glukosa darah. Makanan yang mengandung lemak

dapat memperlambat respon kenaikkan glukosa darah.. Glukosa 15–20 g (2-3 sendok makan)

yang dilarutkan dalam air adalah terapi pilihan pada pasien dengan hipoglikemia yang masih

sadar .Pemeriksaan glukosa darah dengan glukometer harus dilakukan setelah 15 menit

pemberian upaya terapi. Jika pada monitoring glukosa darah 15 menit setelah pengobatan

30
hipoglikemia masih tetap ada, pengobatan dapat diulang kembali. Jika hasil pemeriksaan

glukosa darah kadarnya sudah mencapai normal, pasien diminta untuk makan atau

mengkonsumsi snack untuk mencegah berulangnya hipoglikemia.

Pengobatan pada hipoglikemia berat:1. Jika didapat gejala neuroglikopenia, terapi

parenteral diperlukan berupa pemberian dekstrose 20% sebanyak 50 cc (bila terpaksa bisa

diberikan dextore 40% sebanyak 25 cc), diikuti dengan infus D5% atau D10%. Periksa glukosa

darah 15 menit setelah pemberian i.v tersebut. Bila kadar glukosa darah belum mencapai target,

dapat diberikan ulang pemberian dextrose 20%. Selanjutnya lakukan monitoring glukosa darah

setiap 1- 2 jam kalau masih terjadi hipoglikemia berulang pemberian Dekstrose 20% dapat

diulang .Lakukan evaluasi terhadap pemicu hipoglikemia

2.2.7.2 Komplikasi Kronik

1. Makroangiopati

• Penyakit jantung koroner

• Pembuluh darah tepi: penyakit arteri perifer yang sering terjadi pada penyandang DM.

Gejala tipikal

yang biasa muncul pertama kali adalah nyeri pada saat beraktivitas dan berkurang saat

istirahat

(claudicatio intermittent), namun sering juga tanpa disertai gejala. Ulkus iskemik pada kaki

merupakan

kelainan yang dapat ditemukan pada penderita.

• Pembuluh darah otak: stroke iskemik atau stroke hemoragik

2. Mikroangiopati

• Retinopati diabetik, Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko

atau memperlambat progresi retinopati . Terapi aspirin tidak mencegah timbulnya retinopati

31
• Penyakit ginjal diabetik, menurunkan asupan protein sampai di bawah 0.8gram/kgBB/hari

tidak direkomendasikan karena tidak memperbaiki risiko kardiovaskuler dan menurunkan

GFR. ginjal

• Neuropati, pada neuropati perifer, hilangnya sensasi distal merupakan faktor penting yang

berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki yang meningkatkan risiko amputasi. Gejala yang

sering dirasakan berupa kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, dan terasa lebih sakit di

malam hari Setelah diagnosis DMT2 ditegakkan, pada setiap pasien perlu dilakukan

skrinning untuk mendeteksi adanya polineuropati distal yang simetris dengan melakukan

pemeriksaan neurologi sederhana (menggunakan monofilamen 10 gram). Pemeriksaan ini

kemudian diulang paling sedikit setiap tahun. Pada keadaan polineuropati distal perlu

dilakukan perawatan kaki yang memadai untuk menurunkan risiko terjadinya ulkus dan

amputasi. Pemberian terapi antidepresan trisiklik, gabapentin atau pregabalin dapat

mengurangim rasa sakit. Semua penyandang DM yang disertai neuropati perifer harus

diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi risiko ulkus kaki. 1,4

32
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Populasi dan Subjek Penelitian

Populasi target pada penelitian ini seluruh pasien Diabetes Melitus di Puskesams

Cimahi Utara. Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah pasien Diabetes Melitus yang

hadir pada kegiatan rutin Posbindu di RW 08 wilayah Puskesmas Cimahi Utara. Dipilih RW

08 karena merupakan RW dengan penduduk paling padat (13 RT) dan jumlah lansia yang

tinggi pada RW tersebut. Subjek penelitian adalah kader posbindu yang memenuhi kriteria

dibawah ini:

1) Kriteria Inklusi

- Bisa membaca dan menulis

- Sehat jasmani dan rohani

- Pasien telah didiagnosis Diabetes Melitus dan saat ini sedang menjalani

pengobatan

2) Kriteria Eksklusi

- Menolak menjadi subjek penelitian

- Pasien DM tipe I, DM tipe lain, dan Diabetes gestational

3.2 Sampel Penelitian


Teknik pemilihan sampel menggunakan metode estimasi proporsi. Ukuran sampel pada
penelitian ini menggunakan ukuran sampel minimal penelitian yaitu 11 pasien
𝑧 2 1−𝛼 𝑃(1 − 𝑝)
2
𝑛=
𝑑²
1,96 . 0,069 . 0,83
𝑛=
0,01

𝑛 = 11

33
n = Besar sampel
Z21-a/2 = Z score berdasarkan nilai α yang diinginkan (1,96)
P = Proporsi dari penelitian sebelumnya 0,069
C = Constanta (0,83)
d = presisi (0,1)

3.3 Metode Penelitian


Metode penelitian pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan desain
penelitian potong silang (Cross-sectional) yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat
kepatuhan pengobatan pasien Diabetes Melitus di RW 08 Kelurahan Cibabat Kecamatan
Cimahi Utara
Pengambilan data dilakukan melalui pengisian kuesioner yang telah dibuat
sebelumnya.

3.4 Instrumen Penelitian

Alat atau instrumen pengumpul data yang digunakan dalam survey ini berupa skor
kepatuhan pasien diabetes melitus tipe 2 yang dihitung berdasarkan 8 pertanyaan dalam
kuesioner MMAS-8 (Modified Morisky Adherence Scale-8)

3.5 Metode Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam survey ini menggunakan data primer yaitu data yang
diambil dari sumbernya langsung (responden) yang dikumpulkan melalui lembar materi
pertanyaan.

3.6 Waktu dan Tempat Penelitian


a. Lokasi : Posbindu RW 08 Puskesmas Cimahi Utara
b. Waktu : 2 Februari 2019

34
3.7 Metode Analisa Data
Setelah data penelitian didapatkan, maka dilakukan entry data dan dilakukan editing,
yaitu memeriksa adanya kesalahan atau ketidaklengkapan data lalu diinterpretasikan dengan
metode deskriptif.

35
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat kepatuhan pengbobatan pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Cimahi Utara


diukur berdasarkan skor MMAS dan dinilai berdasarkan pertanyaan-pertanyaan singkat
mengenai penggunaan obat Diabetes Melitus. Adapun hasil tersebut dirangkum dalam tabel
dibawah ini.

Tabel Deskripsi pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Cimahi Utara


Jumlah (n) Persentase (%)

Jenis Kelamin Laki-laki 1 8,3 %


Perempuan 11 91,7%
Usia 20-30 tahun 0 0%
31-49 tahun 3 25%
50-59 tahun 5 41,7%
>60 tahun 4 33,3%
Total 12 orang

Berdasarkan data pada tabel, didapatkan bahwa seluruh pasien Diabetes Melitus pada
penelitian ini sebanyak 12 orang, terdiri dari laki-laki sebanyak 1 orang dan perempuan
sebanyak 11 orang. kader posbindu pada penelitian ini adalah perempuan yaitu sebanyak 75
kader (100%). Sebagian besar pasien Diabetes Melitus yang termasuk pada penelitian ini
adalah pada kelompok usia 31-49 tahun yaitu sebanyak 3 pasien (25%), kelompok usia 50-59
tahun 50-59 tahun sebanyak 5 pasien (41,7%), dan pada kelompok usia >60 tahun sebanyak 4
pasien (33,3%)

Tabel Deskripsi Tingkat Kepatuhan Minum obat pasien DM

Pasien Skor
1 4
2 3
3 1
4 6
5 4
6 4

36
7 7
8 3
9 2
10 2
11 4
12 1
Rata-rata 3,41

Berdasarkan data pada tabel, didapatkan bahwa sebagian pasien Diabetes Melitus
memliki tingkat kepatuhan Tinggi (skor 8) sebanyak 0 orang (0 %), tingkat kepatuhan sedang
(skor 6-7) sebanyak 2 orang (16,6%), dan tingkat kepatuhan rendah (skor <6) sebanyak 10
orang (83,3%). Untuk rata-rata nilai adalah 3,41.

Deskripsi usia terhadap kepatuhan pengobatan

Usia Tingkat Kepatuhan (n) Tingkat Kepatuhan (n)


Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi
A (30-49 tahun) 2 1 - 66,7 % 33,3 %
B (50-59 tahun) 5 - - 100 %
C >60 tahun 3 1 - 100 %

Dari gambaran deskripsi usia terhadap kepatuhan pengobatan didapatkan untuk


kategori A usia (30-49 tahun) didapatkan tingkat kepatuhan pengobatan rendah 2 orang
(66,7%) dan tingkat kepatuhan pengobatan sedang (33,3%), untuk kategori B (usia 50-59
tahun) didapatkan tingkat pengobatan rendah sebanyak 5 orang (100%), dan untuk kategori C
(>60 tahun) didapatkan tingkat pengobatan rendah sebanyak 3 orang (66,7%) dan tingkat
pengobatan sedang sebanyak 1 orang.

Dari hasil penelitian Tingkat kepatuhan berdasarkan skor hasil kuesioner MMAS-8
yakni tingkat kepatuhan subjek termasuk ke dalam kategori kepatuhan rendah dan sedang.
Tidak ada subjek yang mempunyai tingkat kepatuhan tinggi.

Tingkat kepatuhan merupakan penilaian terhadap pasien yang digunakan untuk


mengetahui apakah seorang pasien telah mengikuti aturan penggunaan obat dalam menjalani
terapi. Tingkat kepatuhan berdasarkan faktor karakteristik dapat dilihat pada tabel. Tingkat

37
kepatuhan diukur menggunakan alat bantu kuesioner MMAS-8 yang terdiri dari 8 item
pertanyaan.

Salah satu faktor yang berperan dalam kegagalan pengontrolan glukosa darah pasien
diabetes melitus adalah ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan. Hasil skor pengolahan
data hasil kuesioner, tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus tipe 2 berada pada tingkat
kepatuhan rendah dan sedang (tidak ada satu subjek penelitian yang mencapai skor 8 atau
kepatuhan tinggi). Pengetahuan pasien mengenai penyakit dan pengobatannya tidak memadai
dan kurangnya pemahaman pasien tentang terapi dalam pengobatan menyebabkan pasien
memiliki motivasi rendah untuk mengubah perilaku atau kurang patuh dalam minum obat,
pasien tidak memiliki pengetahuan tentang penyakit dan tidak mengetahui konsekuensi dari
ketidakpatuhan.5,6,7

Durasi atau lamanya penyakit berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan. Hambatan


kepatuhan dapat disebabkan oleh rejimen pengobatan yang kompleks, lama pengobatan, multi
terapi, efek samping obat, dan kurangnya informasi yang diberikan oleh penyedia layanan
kesehatan. Hambatan lain terkait dengan masalah sosial ekonomi, gangguan memori, masalah
psikologis dan keyakinan pribadi.8 Pasien yang memiliki komorbid kemungkinan besar
memiliki pengobatan yang kompleks. Pengobatan yang kompleks diyakini memengaruhi
kepatuhan pasien. Kepatuhan berkorelasi dengan jumlah dosis setiap hari dari semua obat yang
diresepkan. Tingkat kepatuhan menurun apabila jumlah dosis harian meningkat. Dengan
demikian, penyederhanaan frekuensi dosis obat dapat meningkatkan kepatuhan. Pasien
diabetes melitus tipe 2 dengan penyakit penyerta secara tidak langsung akan mengonsumsi
jenis obat yang lebih kompleks. Jenis obat yang kompleks seperti jumlah obat, frekuensi
pemberian, bentuk sediaan, dan juga instruksi pemberian obat yang khusus dapat memicu
ketidakpatuhan.9

Oleh Karena itu, peneliti melakukan intervensi selanjutnya yaitu dengan mengadakan
pendidikan kesehatan mengenai pentingnya pengobatan pada pasien yang telah terdiagnosis
DM.

Adapun untuk kegiatan dilaksanakan tanggal 2 Februari bertepatan dengan acara


posbindu di RW 08.

Untuk analisis kegiatan, terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan pada kegiatan
tersebut. Kelebihan kegiatan tersebut ialah:

38
1. Dapat meningkatkan antusiasme pasien Diabetes Melitus untuk belajar pentingnya
mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan pada pasien guna mengontrol gula darah
dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
2. Mendapat gambaran kasar terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pasien Diabetes
Melitus di Puskesmas Cimahi Utara
3. Meningkatkan semangat baik untuk para pasien Diabetes Melitus bahwa untuk
mengedukasi tidak hanya dengan cara pendidikan kesehatan saja bentuknya, tetapi
dalam bentuk yang lebih menarikm

Namun acara tersebut juga terdapat kekurangan yaitu,

1. Sulitnya mengatur kondusivitas peserta selama kegiatan berlangsung


2. Mengadakan kegiatan membutuhkan dana sehingga tidak selalu dapat dikerjakan
melihat turunnya dana pada Puskesmas yang tidak tentu waktunya
3. Membutuhkan bantuan tenaga lain selain pegawai puskesmas, dalam saat ini adalah
Dokter Internsip sehingga apabila tidak ada tenaga lain, kegiatan ini sulit dilakukan
karena tenaga pegawai puskesmas yang terbatas.
4. Sulitnya mengisi kuesioner karena banyak dari pasien yang sudah lasia sehingga
kuesioner harus dibacakan satu-persatu pernyataannya.

Untuk analisis keberhasilan program pada kegiatan ini adalah:

1. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh target peserta yang diharapkan, yaitu 12 pasien
Diabetes Melitus.
2. Kegiatan berlangsung dengan waktu yang cukup dan acara yang memadai, terdiri dari
3 acara, yaitu pemutaran video edukasi mengenai Diabetes Melitus yang dapat
dipahami oleh masyarakat awam, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan kesehatan
mengenai Faktor Resiko, pengobatan, dan pengaturan pola makan mengenai Diabetes
Melitus. Acara diakhiri dengan minigames mengenai materi, mengukur seberapa
mengertinya materi yang disampaikan dan pemberian doorprize bagi pasien yang
mengikuti acara hingga selesai.
3. Setiap pasien tidak hanya mendapatkan ilmu mengenai penyakit yang dialami oleh
pasien, tetapi mendapatkan leaflet berisi materi yang disajikan.

39
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
a. Tingkat kepatuhan pengobatan pasien Diabetes dikategorikan rendah berdasarkan skor
MMAS-8

5.2 Saran
1. Untuk Masyarakat
- Pasien diharapkan mengetahui pentingnya meminum obat secara teratur guna
mencegah komplikasi yang dapat ditimbulkan dari Diabetes Melitus.
- Masyarakat diharapkan agar lebih cepat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan
terdekat bila mengalami gejala seperti pusing, mata berkunang-kunang, nyeri dada,
luka yang sulit sembuh, dan baal.

2. Untuk Puskesmas
- Sebaiknya puskesmas lebih meningkatkan pendidikan kesehatan terhadap
kepatuhan pengobatan Diabetes Melitus
- Mengedukasi setiap pasien yang terdiagnosis DM karena obat Diabetes Melitus
dikonsumsi seumur hidupnya dan memerlukan motivasi agar pasien terhindar dari
komplikasi DM dan kadar gula darah serta HbA1c nya baik.
- Merujuk pasien yang memiliki penyakit DM yang sudah tidak terkontrol dengan
kombinasi obat-obatan di puskesmas.

3. Untuk Dinas Kesehatan


- Menyediakan lebih banyak jenis obat Diabetes Melitus di Puskesmas agar pasien
dapat diobati lebih komprehensif lagi.

40
DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Dokter Endokrinologi Indonesia. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan


Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. 2015
2. Rudianto A, Dharma L, Eva D, Alwi S, Tri J, Ign A, et al. Konsensus diabetes melitus tipe
2 Indonesia
3. American Diabetes Association. Standars of medical care in diabetes-2014. Diabetes Care.
2014;37(1):S14-S80. doi: 10.2337/dc14-S014
4. Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018). Jakarta: Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan: 2018
5. Evert AB, Boucher JL, Cypress M, Dunbar SA, Franz MJ, Mayer-Davis EJ, et al. Nutrition
therapy recommendations for the management of adults with diabetes. Diabetes Care.
2014;37(1):S120–S143. doi: 10.2337/dc14-S120
6. Osterberg L, Blaschke T. Adherence to medication. N Engl J Med. 2005;353:487– 97.
doi:10.1056/NEJMra050100.
7. Odegard PS, Gray SL. Barriers to medication adherence in poorly controlled diabetes
mellitus. Diabetes Educ. 2008;34(4):692–7. doi: 10.1177/0145721708320558
8. Currie CJ, Peyrot M, Morgan CL, Poole CD, Jenkins-Jones S, Rubin RR, et al. The impact
of treatment noncompliance on mortality in people with type 2 diabetes. Diabetes Care.
2012;35(6):1279–84. doi: 10.2337/dc11-1277
9. Cramer JA, Roy, Burrel A, et al. Medication compliance and persisten: terminology and
definitions. Value Health. 2008;11(1):44–7. doi: doi:

41