Pengertian Kurikulum

Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : ³ A Curriculun is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school´. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum « to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa : ³ «the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school. Untuk mengakomodasi perbedaan pandangan tersebut, Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:

1. kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam
bidang kurikulum dan pendidikan.

2. kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; yang
didalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu. 3. kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; dalam bentuk praktek pembelajaran. 4. kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik. Sementara itu, Purwadi (2003) memilah pengertian kurikulum menjadi enam bagian : (1) kurikulum sebagai ide; (2) kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam melaksanakan kurikulum; (3) kurikulum menurut persepsi pengajar; (4) kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas; (5) kurikulum experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik; dan (6) kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: ³Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu´.

Teori Pendidikan dan Kurikulum
Kurikulum memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan teori kurikulum dijabarkan berdasarkan teori pendidikan tertentu. Nana S. Sukmadinata (1997) mengemukakan 4 (empat ) teori pendidikan, yaitu : (1) pendidikan klasik; (2) pendidikan pribadi; (3) teknologi pendidikan dan (4) teori pendidikan interaksional.

1.Pendidikan klasik (classical education), Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti Perenialisme, Essensialisme, dan Eksistensialisme dan memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para

Francis Parker dan John Dewey ± memandang bahwa peserta didik merupakan satu kesatuan yang utuh.Pendidikan interaksional. Dalam tekonologi pendidikan. Guru berfungsi sebagai direktur belajar (director of learning). Pendidikan interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial. yang lebih berperan sebagai pembimbing. media buku atau pun elektronik. sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik. .J. pendorong. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis).± memiliki nurani kejujuran. Ia merefleksi terhadap masalah-masalah yang muncul dalam kehidupannya. memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Dalam prakteknya. Isi pendidikan berupa data-data obyektif dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada kemampuan vocational . Peserta didik didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan bekerja sama untuk memecahkannya. sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif. Dalam konsep pendidikan teknologi. ancaman. Berkat refleksinya itu. Pendidik lebih merupakan ahli dalam metodologi dan membantu perkembangan peserta didik sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Rouseau tentang tabula rasa. kebenaran dan ketulusan. Interaksi ini terjadi melalui berbagai bentuk dialog. yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Teori ini memiliki dua aliran yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik. sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua. lebih banyak tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan. Peserta didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien tanpa refleksi. Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial. Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut. melalui metode pembelajaran individual. Pendidikan progresif dengan tokoh pendahulunya. Pendidikan klasik menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum subjek akademis. yang memandang setiap individu dalam keadaan fitrah. Teknologi pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum teknologis. 4. belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta. isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus. interaksi ini juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan. antara pemikiran manusia dengan lingkungannya.ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis. Materi pengajaran berasal dari pengalaman peserta didik sendiri yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.Pendidikan pribadi (personalized education). Teknologi pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. fasilitator dan pelayan peserta didik. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Lebih dari itu.Teknologi pendidikan. 2. Pendidikan romantik berpangkal dari pemikiran-pemikiran J. Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para peserta didik belajar secara individual. hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Teori pendidikan pribadi menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. ia dapat memahami dan menggunakannya bagi kehidupan. Dalam hal ini. yaitu suatu kurikulum yang bertujuan memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik menggunakan ideide dan proses ´penelitian´. 3. melalui metode ekspositori dan inkuiri. Namun diantara keduanya ada yang berbeda. peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama. yaitu model kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta didik. pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan. sehingga mereka dapat menguasai keterampilanketerampilan dasar tertentu. Dalam pendidikan interaksional. lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis. yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para peserta didik pada tantangan.

variasi pengalaman belajar dan proses. Pada rekonstruktivisme. rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah. dalam praktek pengembangan kurikulum. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan . c. pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia. Oleh karena itu. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual. berpusat pada peserta didik. Sama halnya dengan perenialisme. maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) psikologis. Sementara. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran ± aliran filsafat tertentu. Dengan sendirinya. Dalam hal ini. Aliran Filsafat Perenialisme. memecahkan masalah. kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat. b. (3) sosial-budaya. yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme. Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Essensialisme.Perenialisme lebih menekankan pada keabadian. peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ? d. 1.Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia. filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut . kaitannya dengan pengembangan kurikulum.Landasan Kurikulum Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum. dan rekonstruktivisme. a.. Matematika.Untuk lebih jelasnya. progresivisme. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003). e. kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. eksistesialisme. keidealan. seperti : perenialisme. essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu. Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. berfikir kritis dan sejenisnya. penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. yaitu: (1) filosofis. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia. Meskipun demikian saat ini. 2. Sedangkan. di bawah ini akan diuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis.Landasan Filosofis Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. essensialisme. dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu. di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat.Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna.Landasan Psikologis Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar.

Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Dengan demikian. (4) kebutuhan peserta didik. yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental. yaitu tingkah laku. Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan ³karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi³. pentahapan perkembangan. (3) perbedaan cacat fisik. Mulyasa (2002) menyoroti tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik. Dengan mengutip pemikiran Spencer. Peserta didik berasal dari masyarakat. tujuan. Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukmadinata. sedangkan konsep diri. nilai atau image seseorang.perkembangannya. kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan. Sebaliknya.konsep diri. c. bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan. yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.keterampilan. Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar. dan (5) pertumbuhan dan perkembangan kognitif. dan e. b. tugas-tugas perkembangan individu. Dikemukakannya. Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Oleh karena itu. yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar. maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan. merespons dan . mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata. Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. isi. bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang. kita tidak mengharapkan muncul manusia ± manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya. dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama.bawaan. keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup.Landasan Sosial-Budaya Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. d. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang. Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi. kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan. Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu. yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang. namun memberikan bekal pengetahuan. Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan. Dengan pendidikan. kondisi.motif. aspek-aspek perkembangan. Selanjutnya. tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi.pengetahuan. Sebagai suatu rancangan. bahwa sedikitnya terdapat lima perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. yaitu : a. sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi. politik atau segi-segi kehidupan lainnya. serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu. karakteristik. E. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan. Kehidupan masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. budaya. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. (2) perbedaan kreativitas. 3. Masih berkenaan dengan landasan psikologis.

Model ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling banyak digunakan. memilih sekuens materi. ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi. memilih dan menilai pengetahuan. serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian. pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal. The administrative model. kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. . Setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan dan dinilai telah cukup baik. seperti merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional. pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan. 4. Setelah berjalan beberapa saat perlu dilakukan evaluasi. para ahli pendidikan. administrator pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut. tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20. diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. yang bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih operasional menjabarkan konsep-konsep dan kebijakan dasar yang telah digariskan oleh Tim pengarah. ahli disiplin ilmu.. Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. membentuk suatu Komisi atau Tim Pengarah pengembangan kurikulum. mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan. Gagasan pengembangan kurikulum datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. ahli kurikulum. ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana. terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. nasional maupun global. maka model ini disebut juga model Top ² Down. diperlukan monitoring. Model Pengembangan Kurikulum Pengembangan kurikulum dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu : (1) pendekatan top-down the administrative model dan (2) the grass root model. dan guruguru senior. Dengan wewenang administrasinya. Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih.berlandaskan pada perkembangan sosial ± budaya dalam suatu masyarakat. baik dalam konteks lokal. Karena datangnya dari atas. ahli kurikulum.Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pada awalnya. Selanjutnya administrator membentuk Tim Kerja terdiri dari para ahli pendidikan. sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia. Tugas tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar. serta menyusun pedomanpedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru-guru. Pada jaman dahulu kala. Dalam pelaksanaannya. landasan-landasan. Oleh karena itu. memilih strategi pembelajaran dan evaluasi. sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses. Anggotanya. dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Setelah Tim Kerja selesai melaksanakan tugasnya. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. 1. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial. pengawasan dan bimbingan. hasilnya dikaji ulang oleh Tim Pengarah serta para ahli lain yang berwenang atau pejabat yang kompeten. terdiri dari pejabat di bawahnya. kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. dalam abad pengetahuan sekarang ini. namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai. Selain itu.

Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. tampaknya lebih cenderung dilakukan dengan menggunakan pendekatan the grass-root model. 3. Model pengembangan kurikulum yang pertama.2. Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots. di bawah ini akan diuraikan tentang masing-masing komponen tersebut. fasilitas biaya maupun bahan-bahan kepustakaan. pengembangan kurikulum model grass root tampaknya akan lebih baik. permit every nation to transmit and enrich its cultural heritage over the generation but also guide education towards mutual understanding and towards what has become a worldwide realization of common destiny. mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu. Tujuan Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia. (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi. baik dilihat dari kemampuan guru-guru. Seperti yang disampaikan oleh Hummel (Uyoh Sadulloh. dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya.) Dalam perspektif pendidikan nasional. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass rootsnya. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum. Autonomy. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (3) strategi. Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. berilmu. bukan datang dari atas tetapi dari bawah. berakhlak mulia. keadaan sosial-politik kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masingmasing. enable all citizens to participate in cultural and economic life by coverring them an equal basic education. sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. A. Untuk lebih jelasnya. Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana. Kendati demikian. dalam hal menentukan tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya. Survival . digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi. hampir di setiap negara telah mewajibkan para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan. pembelajaran. melalui berbagai ragam teknis penyelenggaraannya. knowledge. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum. Kendati demikian. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab´. Komponen-Komponen Kurikulum Kurikulum memiliki lima komponen utama. yang disesuaikan dengan falsafah negara. (2) materi. memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan. terutama sumber daya manusia yang tersedia di sekolah. cakap. oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.. pelaksana. agar pengembangan kurikulum dapat berjalan efektif tentunya harus ditopang oleh kesiapan sumber daya. yaitu : (1) tujuan. satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif. .The grass root model. sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. 1994) bahwa tujuan pendidikan secara universal akan menjangkau tiga jenis nilai utama yaitu: 1. Kelima komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan. Apabila kondisinya telah memungkinkan. tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional. sehat. kreatif. yaitu guru-guru atau sekolah. mandiri. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang guru. gives individuals and groups the maximum awarenes. Equity. 2. bahwa : ´ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. and ability so that they can manage their personal and collective life to the greatest possible extent. tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain.

dan negara Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi Membentuk sikap bijak. baik dalam skala nasional maupun internasional 3. Berikut ini disampaikan beberapa contoh tujuan kurikuler yang berkaitan dengan pembelajaran ekonomi. 4. kepribadian. pengetahuan. dan negara Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. dan global. terutama yang terjadi dilingkungan individu. Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler. Dalam Permendiknas No. masyarakat. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan. memecahkan masalah. Tujuan Mata Pelajaran Ekonomi di SMA y y y y Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari. kepribadian. dan global. di tingkat lokal. Tujuan Mata Pelajaran Kewirausahaan pada SMK/MAK y y y y Memahami dunia usaha dalam kehidupan sehari-hari. selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu. Tujuan-tujuan pendidikan mulai dari pendidikan nasional sampai dengan tujuan mata pelajaran masih bersifat abstrak dan konseptual. pengetahuan. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. dan keterampilan dalam kehidupan sosial Berkomitmen terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan Berkomunikasi. rasa ingin tahu. akhlak mulia. bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk. memecahkan masalah. Tujuan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMK/MAK y y y y Memahami konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya Berpikir logis dan kritis. dan akuntansi yang bermanfaat bagi diri sendiri. nasional. rasa ingin tahu. 2. manajemen. masyarakat. rumah tangga. 23 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar : 1Tujuan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP/MTS y y y y Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis. 1. inkuiri. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional.Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik. nasional. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal. akhlak mulia. pengetahuan. yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan. rumah tangga. 3. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi. 2. . akhlak mulia. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. dan keterampilan dalam kehidupan sosial Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan Memiliki kemampuan berkomunikasi. kepribadian. oleh karena itu perlu dioperasionalkan dan dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk tujuan pembelajaran. sebagaimana diisyaratkan dalam Permendiknas No. terutama yang terjadi di lingkungan masyarakat Berwirausaha dalam bidangnya Menerapkan perilaku kerja prestatif dalam kehidupannya Mengaktualisasikan sikap dan perilaku wirausaha. yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran.

merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala. seperangkat konstruk atau konsep. dengan mengambil hal-hal yang terbaik dan memungkinkan dari seluruh aliran filsafat yang ada. maka tujuan pendidikan banyak diarahkan pada upaya pemecahan masalah sosial yang krusial dan kemampuan bekerja sama. dalam bentuk: (a) ketepatan atau ketelitian respons. (b) kecepatan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme. Menunjukkan perilaku yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik. dalam bentuk : 1. (b) menunjukkan stimulus yang membangkitkan perilaku peserta didik. Menggambarkan kondisi-kondisi atau lingkungan yang menunjang perilaku peserta didik berupa : (a) kondisi atau lingkungan fisik. 3. eksistensialisme) sebagai pijakan utamanya maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada pencapaian penguasaan materi dan cenderung menekankan pada upaya pengembangan aspek intelektual atau aspek kognitif. pendapat atau pembuktian dalam penelitian. Dengan kata lain. 1997). 2.. yaitu ide utama. tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Prinsip. Jika kurikulum yang dikembangkan menggunakan dasar filsafat klasik (perenialisme. 5. Dalam hal ini. panjangnya dan frekuensi respons. tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang ³what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before´ (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata. Prosedur. Pengembangan kurikulum dengan menggunakan filsafat rekonsktruktivisme sebagai dasar utamanya. Nana Syaodih Sukmadinata (1997) memberikan gambaran spesifikasi dari tujuan yang ingin dicapai pada tujuan pembelajaran. pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep. eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan. materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis. dengan : (a) menggunakan kata-kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati. sehingga dalam menentukan tujuan pendidikan lebih diusahakan secara bereimbang. Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh peserta didik. 3. dan (b) kondisi atau lingkungan psikologis. afektif dan psikomotor. Oleh karena itu untuk mengakomodir tantangan dan kebutuhan pendidikan yang sangat kompleks sering digunakan model eklektik. essensialisme. Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran pada tingkat operasional ini akan menentukan terhadap keberhasilan tujuan pendidikan pada tingkat berikutnya. dan (c) memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang dapat digunakan peserta didik dan orang-orang yang dapat diajak bekerja sama. definisi atau preposisi yang saling berhubungan. . maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada pencapaian kompetensi. essensialisme. maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada proses pengembangan dan aktualisasi diri peserta didik dan lebih berorientasi pada upaya pengembangan aspek afektif. 2. bersumber dari analisis. 4. dengan mengutip dari beberapa ahli. Teori. Konsep.Materi Pembelajaran Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. Apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan filsafat progresivisme sebagai pijakan utamanya. . teori pendidikan atau model kurikulum tertentu secara konsisten dan konsekuen. yakni : 1. kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus. Upaya pencapaian tujuan pembelajaran ini memiliki arti yang sangat penting. maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif. Generalisasi. Merujuk pada pemikiran Bloom. Sementara kurikulum yang dikembangkan dengan menggunakan dasar filosofi teknologi pendidikan dan teori pendidikan teknologis. B. Dalam implementasinnya bahwa untuk mengembangkan pendidikan dengan tantangan yang sangat kompleks boleh dikatakan hampir tidak mungkin untuk merumuskan tujuan-tujuan kurikulum dengan hanya berpegang pada satu filsafat. Terlepas dari rangkaian tujuan di atas bahwa perumusan tujuan kurikulum sangat terkait erat dengan filsafat yang melandasinya. Lebih jauh lagi. yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.Pada tingkat operasional ini. yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.

menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka.. Menurut sekuens logis materi pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak. Layak dipelajari. (b) penyusunan hipotesis. minat. dan memberikan kontribusi untuk pemahaman ke depan. 4. juga materi yang diberikan merupakan materi yang aktual. materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik. Sekuens rangkaian ke belakang. guru memulai dengan langkah (a) sampai (d). Dengan melihat pemaparan di atas. dalam arti materi yang dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting. materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun non akademis. yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat. Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan materi. meliputi 5 langkah sebagai berikut : (a) pembatasan masalah. Berkenaan dengan penentuan materi pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme. 7. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu. Manfaat akademis yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan lebih lanjut. 8. dari benda ke teori.. Preposisi. Sahih (valid). Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah. Nana Syaodih Sukamadinata (1997) mengetengahkan tentang sekuens susunan materi pembelajaran. Istilah. Sekuens logis dan psikologis. susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana. . Tingkat kepentingan. pendidik memiliki wewenang penuh untuk menentukan materi pembelajaran. Namun dalam implementasinya sangat sulit untuk menentukan materi pembelajaran yang beranjak hanya dari satu filsafat tertentu. 5. Fakta. Contoh/ilustrasi. orang dan tempat serta kejadian. dari masalah bagaimana ke masalah mengapa. materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalahmasalah sosial yang krusial. dan kehidupan peserta didik. dari fungsi ke struktur. misalnya tentang ekonomi. dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks. Sekuens spiral . 10. maka dalam prakteknya cenderung digunakan secara eklektik dan fleksibel. (c) pengumpulan data. diperdalam dan diperluas dengan bahan yang lebih kompleks. Di samping itu. sosial bahkan tentang alam. 1. susunan materi pembelajaran yang mengandung struktur materi. 1. Materi pembelajaran atau kompetensi yang lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub kompetensi yang lebih kecil dan obyektif. Dalam prakteknya untuk menentukan materi pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut :. dan (e) interpretasi hasil tes. dan peserta didik diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). Menarik minat. baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat. tidak ketinggalan zaman. yaitu : Sekuens kronologis.. 6. kemudian dikembangkan. tampak bahwa dilihat dari filsafat yang melandasi pengembangam kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan materi pembelajaran. 9. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memperhatikan tentang kebutuhan. terdiri dari terminologi. 3. sekuensi logis merupakan susunan materi pembelajaran dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan. dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah akhir dan mundur kebelakang. kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi. Sedangkan manfaat non akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekuens kausal. materi pembelajaran harus diambil dari dunia peserta didik dan oleh peserta didik itu sendiri. 4. 3. materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut. yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. 7. (d) pengujian hipotesis. Dalam mengajarnya.6. sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi. Mengapa dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari. susunan materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu. Sekuens struktural. Oleh karena itu. dan dari yang kompleks menuju yang sederhana. Pada kasempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan peserta didik diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya. materi memungkinkan untuk dipelajari. susunan materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-akibat. 2. 2. Sedangkan sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju bagian-bagian. Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya. 5. Kebermaknaan.

simulasi atau role playing.±sebagaimana yang banyak dikembangkan oleh kalangan pendukung filsafat klasik dalam rangka pewarisan budaya ataupun keabadian. langsung. kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah. Apabila yang menjadi tujuan dalam pembelajaran adalah penguasaan informasi-intelektual. dalam prakteknya seorang guru seyogyanya dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif. yang merupakan akronim dari Pembelajaran Aktif. guru tidak banyak melakukan intervensi. obeservasi. Selain itu. seperti : pembelajaran moduler. Peserta didik secara aktif menentukan materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan kebutuhannya. dengan efektivitas yang tinggi. yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang secara pasif menerima sejumlah informasi dari guru. Sebagai motivator. Peran guru hanya sebagai fasilitator. Sebagai fasilitator. Menurut kalangan progresivisme.8. metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual. dengan munculnya pembelajaran berbasis teknologi yang menekankan pentingnya penguasaan kompetensi membawa implikasi tersendiri dalam penentuan strategi pembelajaran. berturut-berturut sampai dengan perilaku terakhir. menggunakan berbagai strategi yang memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya secara aktif. Meski masih bersifat penguasaan materi atau kompetensi seperti dalam pendekatan klasik. semua materi diberikan sama . Selanjutnya. sekaligus menentukan bagaimana cara-cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan belajarnya. yaitu: 1. dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif). kebutuhan. guru melakukan pembimbingan dengan berusaha mengenal para peserta didiknya secara personal. seperti melalui internet atau media elektronik lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat. D. diskusi. Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi dari kalangan progresivisme. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok. Dalam hal ini. maka strategi pembelajaran yang dikembangkan akan lebih berpusat kepada guru. yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Efektif dan Menyenangkan. guru berupaya untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar. Sekuens berdasarkan hierarki belajar. Guru merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan pengetahuan. Mata pelajaran terpisah (isolated subject). ternyata banyak kemungkinan untuk menentukan strategi pembelajaran dan setiap strategi pembelajaran memiliki kelemahan dan keunggulannya tersendiri. Berdasarkan uraian di atas. prosedur pembelajaran dimulai menganalisis tujuan-tujuan yang ingin dicapai. dan sejenisnya. Sedangkan sebagai guider. Dalam pembelajaran teknologis dimungkinkan peserta didik untuk belajar tanpa tatap muka langsung dengan guru. Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual. seperti ceramah atau seminar. guru berusaha menciptakan dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik. kemudian dicari suatu hierarki urutan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. belakangan ini mulai muncul konsep pembelajaran dengan isitilah PAKEM. motivator dan guider. Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal.Organisasi Kurikulum Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Peran guru dalam pembelajaran teknologis lebih cenderung sebagai director of learning. yang berupaya mengarahkan dan mengatur peserta didik untuk melakukan perbuatan-perbuatan belajar sesuai dengan apa yang telah didesain sebelumnya. Terkait dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Oleh karena itu. kreatif dan menyenangkan. Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum. pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual. Kreatif. dan kemampuan peserta didik. hal ini tentunya memiliki konsekuensi pula terhadap penentuan strategi pembelajaran yang hendak dikembangkan. CStrategi pembelajaran Telah disampaikan di atas bahwa dilihat dari filsafat dan teori pendidikan yang melandasi pengembangan kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan tujuan dan materi pembelajaran. tetapi dalam pembelajaran teknologis masih dimungkinkan bagi peserta didik untuk belajar secara individual.

comprehensiveness. 5. Sedangkan. ³ objective. E. Mata pelajaran berkorelasi. dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut. (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah. Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum. tes prestasi belajar. seperti tes standar. 3. it¶s scope. yaitu : (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. continuity. inventori. 4. the quality of personnel in charger of it.Evaluasi Kurikulum Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan kualitas. Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi. baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Di samping itu. korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. olahraga dan kesehatan Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu. Dengan mengutip pemikian Doll. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja. dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Inti Masalah (core program). tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik. Sementara itu. namun juga relevansi.2. interview. yaitu meliputi . Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : ³curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum´ Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas. kelaikan (feasibility) program. dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan core subject . Dalam pengertian terbatas. the equipment and materials and so on. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi kuantitaif berbeda dengan dimensi kualitatif. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu. instrumen untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan. questionnare. Program yang berpusat pada anak (child centered).´ Evaluasi kurikulum juga bervariasi. dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu. evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. (4) kelompok mata pelajaran estetika. 6. yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah.´ Pada bagian lain. untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri. bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif. yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. dan (5) kelompok mata pelajaran jasmani. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. orientation to goals. the capacity of students. catatan anekdot dan sebagainya Evaluasi kurikulum memegang peranan penting. yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik. the relative importance of various subject. the degree to which objectives are implemented. . Bidang studi (broad field). evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik. bukan pada mata pelajaran. dikemukakan syarat-syarat evaluasi kurikulum yaitu ³acknowledge presence of value and valuing. efisiensi. Agar hasil evaluasi kurikulum tetap bermakna diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. diagnostics worth and validity and integration. Ecletic Program. tes diagnostik dan lain-lain.

terdapat beberapa model evaluasi kurikulum. Input. (2) pendekatan obyektif. yaitu : (1) pendekatan penelitian (analisis komparatif). Jawabannya pun sangat beragam. bahan. tentunya dibutuhkan perbaikan ± perbaikan yang secara terus-menerus berdasarkan data evaluasi. dan sebagainya. apalagi kalau perubahan itu dilakukan secara tiba-tiba dan dalam waktu yang singkat serta tanpa dasar yang jelas. Oleh karena itu. Penjelasan singkat dari keempat dimensi tersebut adalah. Perubahan kurikulum pada dasarnya memang dibutuhkan manakala kurikulum yang berlaku (current curriculum) dipandang sudah tidak efektif dan tidak relevan lagi dengan tuntutan dan perkembangan jaman dan setiap perubahan akan mengandung resiko dan konsekuensi tertentu. 1997) Selanjutnya. masalah ketenagaan yang dihadapi dalam unit kerja yang bersangkutan. untuk memperoleh model kurikulum yang sesuai. (disarikan dari Nana Syaodih Sukmadinata. dan materi pembelajaran yang dikembangkan. seperti : kebijakan departemen atau unit kerja yang bersangkutan. Namun dalam konteks KTSP. Process dan Product. perubahan tentunya tidak harus dilakukan secara radikal dan menyeluruh. yaitu : Context. Evaluasi model ini bermaksud membandingkan kinerja (performance) dari berbagai dimensi program dengan sejumlah kriteria tertentu.Hasil ± hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru. Context. meliputi : pelaksanaan proses belajar mengajar. dan lain-lain. Process. mengingat dampaknya yang sangat luas serta mengandung resiko yang sangat besar. keseluruhan hasil yang dicapai oleh program pendidikan. perubahan kurikulum pada tingkat sekolah justru perlu dilakukan secara terus menerus. memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran. Model ini kembangkan oleh Stufflebeam (1972) menggolongkan program pendidikan atas empat dimensi. pelaksanaan nyata dari program pendidikan tersebut. diantaranya adalah Model CIPP (Context. fasilitas yang disiapkan untuk keperluan pendidikan. ganti kurikulum´. yaitu situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam program yang bersangkutan. untuk akhirnya sampai pada deskripsi dan judgment mengenai kekuatan dan kelemahan program yang dievaluasi. tujuan program dan peralatan yang digunakan. kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah sangat mungkin diawali dengan ³keterpaksaan´ demi mematuhi ketentuan yang berlaku. peralatan. Dalam hal ini. hingga pada akhirnya dapat ditemukan model kurikulum yang lebih sesuai dengan karakteristik dan kondisi nyata sekolah. Perubahan Kurikulum Kenapa kurikulum harus berubah ? demikian pertanyaan yang kerapkali dilontarkan orang. prosedur dan mekanisme pelaksanaan program itu sendiri. Kita maklumi bahwa semenjak pertama kali diberlakukan KTSP yang terkesan mendadak. ketika menanggapi terjadinya perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia. seperti : dokumen kurikulum. . cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya. sebagai berikut : 1. Process dan Product) yang bertitik tolak pada pandangan bahwa keberhasilan progran pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor. media pendidikan yang digunakan dan sebagainya. selama dan sesudah program pendidikan dikembangkan. seperti : karakteristik peserta didik dan lingkungan. pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh para pengajar. namun bergantung kepada data hasil evaluasi. mencakup : jangka pendek dan jangka lebih panjang. 4. di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan hingga ada kesan di masyarakat bahwa ³ganti menteri. Product. memilih bahan pelajaran. kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik. 3. Input. staf pengajar. Input. Menurut model ini keempat dimensi program tersebut perlu dievaluasi sebelum. sasaran yang ingin dicapai oleh unit kerja dalam kurun waktu tertentu. Sepanjang sejarahnya. 2. sarana dan pra sarana. dan (3) pendekatan campuran multivariasi. Mungkin cukup hanya satu atau beberapa aspek saja yang perlu dirubah. penglolaan program. Perubahan kurikulum yang berskala nasional memang kerapkali mengundang sejumlah pertanyaan dan perdebatan. sehingga model yang dikembangkan mungkin saja belum sepenuhnya menggambarkan kebutuhan dan kondisi nyata sekolah. Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan tiga pendekatan dalam evaluasi kurikulum. Di samping itu. bergantung pada persepsi dan tingkat pemahamannya masing-masing.

yaitu mata pelajaran umum (MPU). dan mata pelajaran pilihan (MPP). 2) ketentuan yang ada belum mengakomodir kebutuhan peserta didik yang berhak memperoleh pendidikan khusus. seyogyanya di sekolah dibentuk tim pengembang kurikulum tingkat sekolah yang bertugas untuk memanage kurikulum di sekolah. Namun. 2001). Pada penerapan SKS. Namun. Memang saat ini. Mata pelajaran dikelompokkan menjadi tiga. mata pelajaran dasar (MPD). Dengan adanya Tim Pengembang Kurikulum di sekolah maka kegiatan manajemen kurikulum mungkin akan jauh lebih terarah. sama sekali tidak menunjukkan perkembangan alias stagnan. jasmani yang sehat. kepribadian. Usaha untuk mendesain. dalam rangka menemukan model kurikulum yang sesuai di sekolah. Suatu materi dikatakan memiliki konsep esensial bila memenuhi unsur kreteria berikut ini : (1) Konsep dasar. potensi dan kebutuhan serta orientasi bidang studi di perguruan tinggi. Hampir bisa dipastikan sekolah yang demikian. dan mengevaluasi serta mengembangan kurikulum yang lebih inovatif tampaknya kurang begitu diperhatikan. Berdasarkan paparan di atas dapat dikemukakan bahwa kurikulum dan materi pelajaran yang digunakan dalam penyelenggaraan SKM/SSN adalah kurikulum yang disusun satuan pendidikan dengan pengorganisasian materi kurikulum dibuat menjadi materi umum/wajib dan materi khusus/pilihan. kalau saja suatu sekolah semenjak awal memberlakukan KTSP hingga ke depannya tidak pernah melakukan perubahan-perubahan apapun. di sekolah-sekolah sudah ditunjuk petugas khusus yang menangani kurikulum (biasanya dipegang oleh wakasek kurikulum). Oleh karena itu. Bentuk pengelolaan yang sesuai dengan uraian di atas adalah kurikulum yang disusun menggunakan pendekatan satuan kredit semester. (2) Konsep yang menjadi dasar untuk konsep berikut.Justru akan menjadi sesuatu yang aneh dan janggal. 1991). Dengan demikian SKM/SSN di SMA adalah kurikulum SMA yang disusun berdasarkan SI dan SKL yang berlaku secara nasional. Namun pada umumnya mereka cenderung disibukkan dengan tugas -tugas yang hanya bersifat rutin dan teknis saja. (3) Konsep yang berguna untuk aplikasi. Setiap guru yang mengajar di Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional perlu terlebih dulu melakukan analisis materi pelajaran untuk menentukan sifat materi yang esensial dan kurang. MPU harus diambil oleh semua peserta didik sebagai proses pembentukan pribadi yang memiliki akhlak mulia. kegiatan pembelajarannya dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan mandiri (Slameto. MPP adalah sejumlah mata pelajaran yang disusun menjadi program bidang tertentu yang dipilih sesuai dengan minat. estetika. Pengelolaan Kurikulum Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional Pasal 1 butir 19 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. mengimplementasikan. isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum nasional yang bersifat minimal pada dasarnya dapat dimodifikasi untuk melayani kebutuhan siswa yang memiliki kecerdasan dan kemampuan luar biasa. (4) Konsep yang sering muncul pada Ujian Akhir (Munandar. sehingga lulusan SKM/SSN memiliki kualifikasi dan standar kompetensi sesuai dengan standar nasional pendidikan. dan jiwa sebagai warganegara yang baik. melaksanakan ulangan umum atau kegiatan yang bersifat rutin lainnya. . sehingga pada gilirannya pendidikan di sekolah pun akan jauh lebih efektif dan efisien. Materi pelajaran yang diidentifikasi sebagai konsep-konsep yang esensial diprioritaskan untuk diberikan secara tatap muka. mata pelajaran dari program tertentu boleh juga diambil oleh peserta didik yang telah memilih program lain untuk memperkaya bidang karirnya. kurikulum dan beban belajar peserta didik dinyatakan dalam satuan kredit semeser (sks). seperti membuat jadwal pelajaran. MPD harus diambil peserta didik sebagai landasan menguasai semua bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. sedangkan materi-materi yang non-esensial. pada kenyataannya masih terdapat dua kendala yaitu : 1) Sekolah menjalankan kurikulum nasional yang bersifat minimal tanpa mengolah dan memodifikasi kurikulum guna melayani kebutuhan peserta didik tertentu yang berhak memperoleh pendidikan khusus.

sikap. memilih program jurusan. Hakikat Pengembangan Diri Penggunaan istilah Pengembangan Diri dalam kebijakan kurikulum memang relatif baru. perasaan dan cita-citanya akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya. dan menyelesaikan persoalan akademik secara umum serta menjawab pertanyaan akademik dari orang tua peserta didik yang menjadi binaannya. pemerintah terus berupaya melakukan berbagai reformasi dalam bidang pendidikan. sebaliknya jika tidak tepat dan tidak realistis boleh jadi akan menimbulkan pribadi yang bermasalah. Sekolah mengatur jadwal kegiatan pengganti bagi peserta didik yang pernah absen dan mengatur jadwal kegiatan remidial bagi peserta didik yang belum mencapai kompetensi minimal yang ditetapkan. yang sudah lazim digunakan dan banyak dikenal. diantaranya adalah dengan diluncurkannya Peraturan Mendiknas No. sikap. Aku yang disadari oleh individu biasa disebut self picture (gambaran diri). 1993) ego atau diri merupakan eksekutif kepribadian untuk mengontrol tindakan (perilaku) dengan mengikuti prinsip kenyataan atau rasional. sedangkan aku yang tidak disadari disebut unconscious aspect of the self (aku tak sadar) (Nana Syaodich Sukmadinata. ada yang realistis atau justru tidak realistis. Jika menelaah literatur tentang teori-teori pendidikan. Meski sebetulnya istilah diri (self) tidak sepenuhnya identik dengan kepribadian (personality). sikap. Sejauh mana individu dapat memiliki kepercayaan. untuk membedakan antara hal-hal terdapat dalam batin seseorang dengan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar. yang kemudian dipopulerkan dengan istilah KTSP. Sebagai sesuatu yang dianggap baru. Tentang Pengembangan Diri dalam KTSP A. khususnya psikologi pendidikan. 22 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Mendiknas No. dan cita-cita. Peserta didik yang pada suatu semester memiliki indeks prestasi (IP) tinggi maka pada semester berikutnya diberi kesempatan untuk mengambil beban belajar lebih banyak sehingga dapat mencapai kebulatan studi dalam rentang waktu kurang dari enam semester. Kehadirannya menarik untuk didiskusikan baik secara konseptual maupun dalam prakteknya. melalui tulisan ini akan dipaparkan secara teoritik tentang hakekat pengembangan diri dan beberapa alternatif pemikiran tentang pelaksanaan kegiatan pengembangan diri di sekolah. Namun. Sekolah menunjuk guru sebagai petugas pembimbing akademik yang membina peserta didik maksimum 16 orang setiap guru. terutama kesehatan mentalnya. 2005). ego atau self yang merupakan salah satu aspek sekaligus inti dari kepribadian. kehadirannya menarik untuk didiskusikan dan diperdebatkan. perasaan. perasaan dan cita-cita akan dirinya. sehingga kegiatan Pengembangan Diri di sekolah lebih dapat dipertanggungjawabkan. Komponen Pengembangan Diri merupakan komponen yang relatif baru dan berlaku untuk dikembangkan pada semua jenjang pendidikan. dan sebaliknya. Di dalam KTSP. baik yang disadari atau pun yang tidak disadari. sikap. yang di dalamnya meliputi segala kepercayaan. (2) Muatan Lokal dan (3) Pengembangan Diri. Pendahuluan Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.Mengingat kemungkinan bervariasinya mata pelajaran yang dipilih peserta didik maka sekolah perlu menunjuk petugas pengelola data akademik untuk mendata kemajuan belajar setiap peserta didik dan menyimpannya dengan baik yang dapat dibuka kembali setiap diperlukan. untuk dijadikan sebagai salah satu bahan rujukan dalam kegiatan Pengembangan Diri di sekolah-sekolah. 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Setiap orang memiliki kepercayaan. Dari ketiga peraturan tersebut memuat beberapa hal penting diantaranya bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. istilah pengembangan diri disini tampaknya dapat disepadankan dengan istilah pengembangan kepribadian. Sejumlah pertanyaan banyak diajukan diantaranya saja : Apa hakekat Pengembangan Diri itu ? dan Bagaimana pula pelaksanaan kegiatan Pengembangan Diri di sekolah ? Oleh karena itu. Hall & Gardner Lindzey. perasaan dan cita-cita akan seseorang akan dirinya secara tepat dan realistis memungkinkan untuk memiliki kepribadian yang sehat. Menurut Freud (Calvin S. Istilah diri dalam bahasa psikologi disebut pula sebagai aku. B. Untuk mengatur pelaksanaan peraturan tersebut pemerintah mengeluarkan pula Peraturan Mendiknas No 24 tahun 2006. Kepercayaan. struktur kurikulum yang dikembangkan mencakup tiga komponen yaitu: (1) Mata Pelajaran. Guru pembimbing akademik bertugas membantu peserta didik memilih mata pelajaran yang akan diambil pada suatu semester. Kepercayaan akan dirinya yang berlebihan (over confidence) menyebabkan seseorang .

yang diwujudkan dalam bentuk perilaku salah-suai (maladjusted). sementara jika terjadi perbedaan-perbedaan yang signifikan diantara ketiga aku tersebut merupakan gambaran dari ketidakutuhan dan ketidaksehatan kepribadian. Sikap terhadap dirinya berkaitan erat dengan pembentukan harga diri (penilaian diri). di bawah tanggung jawab guru yang berkelayakan dan memiliki kompetensi di bidangnya. kita bisa melihat arah dan hasil yang diharapkan dari kegiatan Pengembangan Diri di sekolah yaitu terbentuknya keyakinan. dan pengembangan karir peserta didik. kegiatan pengembangan diri dapat pula dilakukan melalui kegiatan-kegiatan di luar jam efektif yang bersifat temporer. dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat kelompok. seperti: pramuka. Dalam keadaan ideal ketiga aku ini persis sama dan menunjukkan kepribadian yang sehat. kesenian. setiap orang pun memiliki cita-cita akan dirinya. kegiatan belajar mengajar untuk setiap mata pelajaran dilaksanakan dengan lebih mengutamakan pada kegiatan tatap muka di kelas. olah raga. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. melalui berbagai jenis kegiatan pengembangan diri. dapat menyebabkan seseorang cenderung bertindak ragu-ragu.dapat bertindak kurang memperhatikan lingkungannya dan cenderung melabrak norma dan etika standar yang berlaku. setiap orang memiliki sikap dan perasaan tertentu terhadap dirinya. pelaksanaan kegiatan pengembangan diri jelas berbeda dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran. Selain itu. dan (3) aku yang dilihat orang lain (self as seen by others). bimbingan kelompok. Pietrofesa (1971) mengemukakan tiga komponen tentang diri. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. yang menurut Maslow merupakan salah satu jenis kebutuhan manusia yang amat penting. Berdasarkan rumusan di atas dapat diketahui bahwa Pengembangan Diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Sebaliknya. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. serta sangat sulit untuk dicapai mungkin hanya akan berakhir dengan kegagalan yang pada akhirnya dapat menimbulkan frustrasi. Dengan sendirinya. John F. Sikap dan mencintai diri yang berlebihan merupakan gejala ketidaksehatan mental. baik pembina dari unsur sekolah maupun luar sekolah. seperti mengadakan diskusi kelompok. kerohanian atau jenis-jenis ekstra kurikuler lainnya yang sudah terorganisir dan melembaga bukanlah satu-satunya kegiatan untuk pengembangan diri. Dengan memperhatikan dasar teoritik tersebut di atas. orang yang kurang memiliki cita-cita tidak akan mendorong ke arah kemajuan. Disamping itu. Sebaliknya kepercayaan diri yang kurang. Selain dilakukan melalui kegiatan yang bersifat kelompok. sebagai berikut : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Sikap akan diwujudkan dalam bentuk penerimaan atau penolakan akan dirinya. orang yang membenci dirinya secara berlebihan dapat menimbulkan masochisme. C. Begitu pula. Sedangkan kegiatan pengembangan diri seyogyanya lebih banyak dilakukan di luar jam reguler (jam efektif). Sebaliknya. (2) aku yang dilihat dirinya (self as seen by self). atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Walaupun untuk hal ini dimungkinkan dan bahkan sangat disarankan untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran di luar kelas guna memperdalam materi dan kompetensi yang sedang dikaji dari setiap mata pelajaran. Kepercayaan diri yang berlebihan maupun kurang dapat menimbulkan kerugian tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi lingkungan sosialnya. serta memandang sepele orang lain. perasaan dan cita-cita para peserta didik yang realistis. belajar. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. bakat. Seperti pada umumnya. guru. Salah satunya dapat disalurkan melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan sekolah. Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Diri Secara konseptual. permainan kelompok. sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan berdasarkan kurikulum (pembelajaran reguler). sehingga peserta didik dapat memiliki kepribadian yang sehat dan utuh. rasa rendah diri dan tidak memiliki keberanian. Di bawah bimbingan guru maupun orang lain yang memiliki kompetensi di bidangnya. PMR. di bawah bimbingan pembina ekstra kurikuler terkait. Namun perlu diingat bahwa kegiatan ekstra kurikuler yang lazim diselenggarakan di sekolah. dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 kita mendapati rumusan tentang pengembangan diri. Cita-cita yang tidak realistis dan berlebihan. biasa disebut narcisisme. sedangkan perasaan dinyatakan dalam bentuk rasa senang atau tidak senang akan keadaan dirinya. orang yang memiliki over confidence sering memiliki sikap dan pemikiran yang over estimate terhadap sesuatu. sikap. Berkenaan dengan diri atau ego ini. kegiatan pengembangan . yaitu : (1) aku ideal (ego ideal).

Sofyan S. Ke depannya kemungkinan akan digunakan konsep baru yang lebih dikenal sebutan Bimbingan dan Konseling Komprehensif dan Pengembangan (Developmental and Comprehensive Guidance and Counseling). Willis (2005) mengemukakan perbedaan dari kedua pendekatan tersebut adalah : Pendekatan Pengembangan : y y y y y y y y Bersifat pedagogis Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pengembangan potensi positif klien (siswa) Menggembirakan klien (siswa) Dialog konselor menyentuh klien (siswa). Namun harus diperhatikan pula bahwa kegiatan Pengembangan Diri tidak identik dengan Bimbingan dan Konseling. peranan bimbingan dan konseling menjadi amat penting. maupun melalui layanan bimbingan dan konseling itu sendiri. dimana layanan Bimbingan dan Konseling lebih bersifat menyeluruh (guidance for all) dan tidak lagi terfokus pada pendekatan klinis (clinical atau therapeutical approach) akan tetapi lebih mengutamakan pendekatan pengembangan (developmental approach). observasi.religius Klien (siswa) sebagai subyek memegang peranan. dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terjadi pengurangan jumlah jam efektif setiap minggunya. namun seyogyanya hal ini tidak dijadikan andalan. tes bakat. misalnya seorang siswa diberi tugas untuk mengkaji buku. Oleh karena itu. Dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. melalui kegiatan aplikasi instrumentasi data dan himpunan data. Kegiatan pengembangan diri harus memperhatikan prinsip keragaman individu. Hal yang fundamental dalam dalam kegiatan Pengembangan Diri bahwa pelaksanaan pengembangan diri harus terlebih dahulu diawali dengan upaya untuk mengidentifikasi kebutuhan. Dalam hal ini. memutuskan tentang dirinya Konselor hanya membantu dan memberi alternatif-alternatif Pendekatan Klinis (Model Lama): y y y y y y Bersifat klinis Melihat kelemahan klien Berorientasi pemecahan masalah klien (siswa) Konselor serius Klien (siswa) sering tertutup Dialog menekan perasaan klien . bakat. bentuk kegiatan pengembangan diri pun seyogyanya dapat menyediakan beragam pilihan. Dalam hal ini. Bimbingan dan Konseling tetap harus ditempatkan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah dengan keunikan karakteristik pelayanannya. Selain kegiatan di luar kelas. yang dapat dilakukan melalui teknik tes (tes kecerdasan. dan minatnya relatif terbatasi. karena bagaimana pun dalam pendekatan klasikal kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. bakat dan minat. Hal ini tentu saja akan menjadi kurang relevan dengan tujuan dari pengembangan diri itu sendiri sebagaimana tersurat dalam rumusan tentang pengembangan diri di atas. tanpa ³terkerangkeng´ di dalam ruangan kelas. Secara psikologis. Terkait dengan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah kemungkinan besar akan menggunakan konsep baru menggantikan Pola 17 yang selama ini diterapkan. bakat. Data tersebut menjadi bahan dasar untuk penyelenggaraan Pengembangan Diri di sekolah.diri dapat dilakukan pula melalui kegiatan mandiri. setiap siswa memiliki kebutuhan. klien (siswa) terbuka Bersifat humanistik. dalam hal-hal tertentu kegiatan pengembangan diri bisa saja dilakukan secara klasikal dalam jam efektif. inventori. wawancara dan sebagainya). bimbingan dan konseling seyogyanya dapat menyediakan data yang memadai tentang kebutuhan. namun dengan adanya pengembangan diri maka sebetulnya aktivitas pembelajaran diri siswa tidaklah berkurang. kegiatan ekstra kurikuler. mengunjungi nara sumber atau mengunjungi suatu tempat tertentu untuk kepentingan pembelajaran dan pengembangan diri siswa itu sendiri. baik melalui kegiatan yang bersifat temporer. studi dokumenter. minat serta karakteristik peserta didik lainnya. tes minat dan sebagainya) maupun non tes (skala sikap. siswa justru akan lebih disibukkan lagi dengan berbagai kegiatan pengembangan diri yang memang lebih bersifat ekspresif. bakat dan minat serta karakateristik lainnya yang beragam.

1997). oleh karena itu diperlukan pengelolaan dan pengorganisasian tersendiri. atau ujian. Kesimpulan Pengembangan Diri di sekolah merupakan salah satu komponen penting dari struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diarahkan guna terbentuknya keyakinan. oleh karena itu diperlukan pengelolaan dan pengorganisasian disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi nyata di sekolah. ketekanan. kita akan membantu mereka untuk mendapatkan keterampilan itu. ide. Dan apabila mereka ingin tidak memiliki kedambaan akan adanya kegiatan atau kehausan akan pengetahuan. tetapi maunya hanya duduk diam seperti kaum penghuni dataran tinggi yang dulunya di sini. layanan Bimbingan dan Konseling yang memiliki fungsi pengembangan. dan kenangan yang bertahan lebih lama. untuk ditindaklanjuti dalam berbagai kegiatan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan secara klasikal pada jam efektif. atau mendengarkan suara rintik hujan yang menitik jatuh di antara cecabang pohon setelah hujan berhenti mengucur. bakat. tampak bahwa kegiatan pengembangan diri akan mencakup banyak kegiatan sekaligus juga banyak melibatkan orang. D. dan minat setiap peserta didik dan bimbingan dan konseling di sekolah memiliki peranan penting untuk mengidentikasi kebutuhan. Apabila mereka ingin memanjat atau berski. namun seyogyanya lebih banyak dilakukan di luar jam reguler (jam efektif).F. Pengembangan diri harus memperhatikan kebutuhan. Mackenzie yang banyak mengilhami ribuan guru di Inggris tentang bagaimana seharusnya proses pendidikan berlangsung. Dari uraian di atas. dan kebutuhannya masing-masing dan pengembangan diri menjadi wilayah garapan bersama antara komponen pembelajaran dan komponen Bimbingan dan Konseling di sekolah dengan keunikan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. dan minat setiap peserta didik melalui kegiatan aplikasi instrumentasi dan himpunan data. atau ingin memandangi awan berarak melaju di atas Creag Dhubh. bahwa pengelolaan dan pengorganisasian pengembangan diri betul-betul diarahkan untuk melayani seluruh siswa agar dapat mengembangkan dirinya secara optimal. bakat. itu semua juga merupakan bagian penting dari perkembangan. Pada saat inilah. Penempatan dan Bimbingan Kelompok kiranya perlu lebih dikedepankan dan ditingkatkan lagi dari segi frekuensi maupun intensitas pelayanannya. Kegiatan pengembangan diri akan melibatkan banyak kegiatan sekaligus juga banyak melibatkan orang. ketakutan. baik melalui kegiatan yang dilembagakan maupun secara temporer. Apabila mereka ingin mengidentifikasi tumbuhan gunung tinggi atau burung. Sebagai penutup tulisan ini.y Klien sebagai obyek Dengan demikian. ada baiknya kita renungkan ungkapan dari R. harapan. . dikaitkan dengan kegiatan pengembangan diri di sekolah : ³ «Kami ingin memberikan kepada siswa-siswa kesempatan untuk menceburkan ke dalam cara hidup yang berbeda. Di sana tidak akan ada paksaan atau keharusan. seperti layanan Pembelajaran. sikap. minat. kita akan mengusahakan diperolehnya pengetahuan itu. bersifat individual maupun kelompok. Namun secara prinsip. sesuai bakat. ketergesaan. dan pertanyaan yang setengah tenggelam mulai muncul kembali ke permukaan«´ (Combie White. sehingga pada gilirannya dapat mengantarkan peserta didik untuk memiliki kepribadian yang sehat dan utuh. perasaan dan cita-cita para peserta didik yang realistis.

2003. Jakarta: Puskur Balitbang. Mulyasa.T. 1997. Kurikulum yang Disempurnakan.1994. Karakteristik dan Implementasi. Kurikulum dan Pembelajaran. Remaja Rosdakarya. Pengantar Filsafat Pendidikan. 23 dan 24 Tahun 2007 Tim Pengembang MKDK Kurikulum dan Pembelajaran. 22.T. Konsep. Bandung : P. Remaja Rosdakarya Nana Syaodih Sukmadinata. _________. Bandung: P. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi.01. Bandung : P. Remaja Rosdakarya. 2003. Panduan Pembelajaran KBK. 2004. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2003. 2002 Otonomi Perguruan Tinggi Hubungannya dengan Otonomi Daerah. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. E.Sumber Bacaan Daeng Sudirwo. Bandung : P. 2006. Manajerial. Pengembangan Kurikum. Penilaian Kelas. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Media Iptek . Jakarta: Puskur Balitbang ________. Permendiknas No. Uyoh Sadulloh.T. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Vol .2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. ________. Jakarta: Puskur Balitbang. Teori dan Praktek. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya. Standar Kompetensi Bahan Kajian.T. 2003. No1:72-79 Deddiknas. _________.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful