You are on page 1of 5

Karakteristik dan Perhitungan Koefisien Serapan (Kumara Ari Yuana)

KARAKTERISTIK DAN PERHITUNGAN KOEFISIEN SERAPAN


(ABSORPTION COEFFICIENT) PROPYLENE GLYCOL SEBAGAI ZAT PENYERAP
KELEMBABAN UDARA (DESICCANT) PADA MESIN PENGERING UDARA

Kumara Ari Yuana

STMIK Amikom Yogyakarta


Jl.Ring Road Utara, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta,0274-884201
Email : kumara.a@amikom.ac.id

ABSTRACT

The objectives of this research are: 1. understanding the characteristics of propylene


glycol as desiccant by manipulating the air volumetric flow rate and propylene glycol
volumetric flow rate as desiccant. 2. calculating the optimum operating point of absorption of
propylene glycol desiccant at air dryer machine. Theoretically absorption ability of a
desiccant is limited by the ability of the maximum absorbance that reached when the
equilibrium with the surrounding air or saturated conditions is reached.
The results indicate that the effect of absorption varies proportionally with volumetric flow
rate of desiccant and has a certain optimum point with the volumetric flow rate of air that
dried. In this study used two dimensionless scale, i.e. : 1. Coefficient of Absorption
(abbreviated AC ).
Keywords: propylene Glycol, desiccant, absorption coefficient, humidity.

1. PENDAHULUAN kelembabannya untuk kemudian


menghasilkan output udara kering.
Secara natural pengeringan dapat
Ada dua jenis desiccant, yaitu desiccant
dilakukan dengan mengalirkan udara panas
padat yang mudah pengoprasiannya dan
pada bahan yang akan dikeringkan atau
desiccant cair yang ekonomis karena dapat
sering dilakukan dengan cara penjemuran
diregenerasi dengan pemanasan. Desiccant
terik matahari atau meng-oven. Cara yang
cair yang biasa digunakan adalah garam
lain untuk mencapai kekeringan bahan dapat
anorganik, yang memiliki kelemahan karena
juga dilakukan dengan mengalirkan udara
bersifat korosif, dan senyawa glycol.
yang telah mengalami pendinginan suhu
Jim Blaunt (2001) mengatakan bahwa
sehingga uap air terkondensasi. Yang
desiccant cair relatif lebih ekonomis secara
menjadi masalah adalah ada banyak bahan-
jangka panjang dibanding desiccant padat.
bahan, seperti obat - obatan, bahan makanan
Desiccant cair yang biasa digunakan adalah
dan bahan - bahan industri yang sensitif
garam anorganik (sodium chloride, calcium
terhadap suhu panas diatas suhu kamar atau
chloride, lithium chloride dll) atau senyawa
dingin dibawah suhu kamar yang
glycol (propylene glycol, ethylene glycol dll).
memerlukan kondisi kering. Suhu yang
terlalu panas dapat merusak bahan,
Keuntungan penggunaan Propylene Glycol
sedangkan suhu yang terlalu dingin dapat
sebagai desiccant (Jim Blaunt, 2001) :
menyebabkan proses kondensasi yang sering
1. Dapat digunakan untuk industri makanan
menyebabkan berbagai masalah.
(food grade) oleh United States
Department of Agriculture (USDA).
Proses pengeringan udara dengan
2. Mampu beroperasi dibawah suhu garam
desiccant (zat yang bersifat higroskopis)
anorganik.
adalah dengan cara melewatkan udara basah
melalui desiccant yang akan menyerap 3. Tidak korosif.

1
Teknoin Vol. 20 No. 4 Desember 2014 : 01-05

Donald PG (2002) melakukan regenerasi


desiccant cair dengan cara pemanasan
sebagai upaya untuk memperoleh kemurnian
kembali desiccant yang sudah mengalami
penyerapan uap air udara basah. Beberapa
faktor yang menjadi pertimbangan dalam
perancangan dan manufaktur mesin
pengering udara (dehumidifier) dengan
desiccant, sebagai berikut :
1. Kinerja dan keawetan desiccant.
2. Pressure drop akibat peralatan dan filter
yang diperlukan.
3. Kemampuan desiccant untuk
diregenerasi.
4. Korositas dan toksisitas.
Donald PG (2002) menyatakan bahwa
pengeringan dengan desiccant harus menjadi
pertimbangan disbanding dengan kondensasi
jika suhu pengembunannya dibawah 45oF.
Operasi 40oF, sistem pengeringan dengan
desiccant sangat unggul secara jangka Gambar 1. Skema Mesin Pengering
panjang. Dengan teknologi pengeringan Udara.
udara menggunakan desiccant yang dapat
dikontrol kemurniannya melalui proses 2. METODOLOGI
regenerasi, maka kelembaban udara yang Pada penelitian ini dipakai metode
dikeringkan dapat diperoleh secara kontinyu. eksperimen yang dimulai perancangan dan
KGT Holland (1963) meregenerasi pembuatan mesin pengering udara (skema
larutan LiCl dengan cara memanaskan agar mesin terlihat pada gambar 1) yang
diperoleh kembali kemurniannya untuk memungkinkan diperoleh kontak udara
keperluan air conditioner tenaga matahari. sekitar dengan desiccant pada suatu ruangan
Raymond C. Hall (1965) mengajukan skema bagian mesin itu yang disebut tower. Volume
dan kalkulasi teoritis alat pembuat air segar tower pada hasil rancangan yang digunakan
dengan menangkap uap air dari udara pada eksperimen ini adalah 0.23976 m3.
dengan menggunakan desiccant senyawa Efek serapan diukur dari penurunan
Glycol. Karakteristik serapan Ethylene kelembaban udara sebelum dan sesudah
Glycol, Propylene Glycol dan Dipropylene melalui tower. Variasi dilakukan pada debit
Glycol dikemukakan Hall dengan grafik aliran udara yang dikeringkan dari 8,6e-3
kesetimbangan antara konsentrasi glycol m3/s hingga 3e-2m3/s dan debit aliran
dengan kelembaban udara sekitar yang desiccant divariasikan dari 1,5e-5m3/s hingga
melingkupinya. Digambarkan bahwa 4,4e-5m3/s.
senyawa Glycol berkadar 50% akan
setimbang dengan udara sekitar
berkelembaban relatif sekitar 90%,
sedangkan untuk senyawa Glycol berkadar
99% akan setimbang dengan udara sekitar
berkelembaban relatif 10%.

2
Karakteristik dan Perhitungan Koefisien Serapan (Kumara Ari Yuana)

3. HASIL DAN PEMBAHASAN ini adalah untuk mengisolasi pengaruh


variasi kelembaban udara basah
Dari hasil pengukuran yang dilakukan,
lingkunagan yang dapat bervariasi selama
selama penelitian diperoleh 2 komponen
pelaksanaan eksperimen.
hasil:
1. Pengaruh variasi debit desiccant terhadap
2. Koefisien volume aliran desiccant (flow-
tingkat kelembaban udara jika debit udara
volume coefficient disingkat FVC) yang
tetap. Hasil penelitian secara keseluruhan
didefinisikan sebagai [ Q desiccant /ν V
menunjukkan bahwa semakin besar debit 2/3
] dimana Q desiccant adalah debit
desiccant yang dialirkan, semakin kering
aliran zat penyerap kelembaban udara, v
udara yang dihasilkan atau semakin besar
adalah kecepatan aliran udara dan V
penyerapannya yang dilakukan oleh
adalah volume. Tujuan penggunaan
desiccant. Hal ini dapat dijelaskan karena
besaran ini adalah agar dapat
semakin besar aliran desiccant akan
dibandingkan dengan berbagai
memperbersar luasan kontak permukaan
eksperimen lain yang mungkin bentuk
udara basah dengan desiccant yang
dan ukuran towernya berbeda. Sejauh
memperbesar kemungkinan
komponen bilangan tak berdimensinya
tertangkapnya uap air oleh desiccant.
sama, maka antar mesin pengering udara
2. Pengaruh variasi debit udara terhadap
yang berbeda dapat dikomparasikan.
tingkat kelembaban udara jika debit
desiccant tetap. Pada penelitian dengan
variasi aliran udara basah yang dialirkan Karakteristik Propylene Glycol sebagai
dan dengan debit desiccant tetap, ternyata desiccant.
Hasil eksperimen dengan variabel FVC
tidak mudah diambil kesimpulan.
sebagai variabel bebas dan variabel AC
Sebagaimana disampaikan oleh Hall
sebagai variabel terikat dapat dilihat pada
(1965) bahwa pengaruh kondisi
gambar 2. Secara keseluruhan dapat dilihat
lingkungan (suhu, tekanan dan kandungan
bahwa semakin besar debit desiccant yang
air), sifat serapan desiccant dan kondisi
dialirkan akan semakin besar pula serapan
aliran udara masing-masing debit udara
uap air dari udara yang artinya semakin
yang berbeda turbulensinya. Pengaruh
kering pula udara yang dihasilkan. Hal ini
debit udara tidak memperluas kontak
dapat dijelaskan bahwa semakin besar debit
permukaan, karena debit desiccant tetap
aliran desiccant berarti juga memperluas
dan hanya merubah koefisien transfer
kontak permukaan penyerapan antara
massa hm.
desiccant dengan udara yang dikeringkan
Pada penelitian ini hasil disajikan dalam
yang berarti memperbesar juga probabilitas
besaran tak berdimensi (dimensionless),
tertangkapnya uap air oleh desiccant. Seperti
yaitu:
yang terlihat pada gambar, ternyata untuk
1. Koefisien Serapan (Absorption
masing - masing debit aliran memiliki titik
Coefficient disingkat AC) yang
optimum yang ditandai dengan puncak
didefinisikan sebagai rasio antara beda
lengkungan dimasing - masing tingkat debit
kelembaban udara lingkungan dan
desiccant.
sesudah proses pengeringan dibagi
dengan kelembaban udara lingkungan
[ (Ѡ 1 ambient - Ѡ 1 out) / (Ѡ 1
ambient) ]. Tujuan penggunaan besaran

3
Teknoin Vol. 20 No. 4 Desember 2014 : 01-05

Gambar 2. Karakteristik Propylene Glycol.

Fenomena terdapatnya titik optimum Manfaat diketahuinya titik optimum ini


untuk masing - masing variasi debit adalah untuk mengetahui titik optimum
desiccant ketika ditingkatkan kecepatan operasi mesin pengering udara dengan
debit aliran udara dapat dijelaskan dengan desiccant agar diperoleh udara kering yang
probabilitas tangkapan uap air udara oleh paling optimum dan operasi mesin pengering
desiccant. Ketika debit aliran udara rendah, udara se-ekonomis mungkin. Koefisien
maka sedikit udara yang mengalami kontak Serapan Propylene Glycol secara matematis
dengan desiccant. Semakin ditingkatkan dapat dihitung agar menemukan titik
debit aliran udara, maka semakin besar optimum seperti gambar 2 diatas adalah
volume udara basah yang kontak dengan dengan men-diferensialkan dan disama
desiccant sehingga semakin besar pula dengankan nol. Dari perhitungan tersebut
volume udara kering yang dihasilkan. Akan ditemukan titik - titik optimum seperti grafik
tetapi setelah melewati titik optimum, ketika 3. Kemudian untuk menemukan manfaat
kecepatan debit udara semakin ditingkatkan, prediktif operasi dihitunglah persamaan
ternyata koefisien serapan mengalami regresi linear.
penurunan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
ternyata ketika kecepatan aliran udara basah
terlalu tinggi melewati titik optimum,
probabilitas tertangkapnya molekul air
dalam udara basah oleh desiccant mengalami
penurunan.

4
Karakteristik dan Perhitungan Koefisien Serapan (Kumara Ari Yuana)

DAFTAR PUSTAKA

Blount, Jim. “Control Moisture with Liquid


Desiccants”, Niagara Blower, USA,
2001.
Chengel, Yunus A and Boles, Michael A.
“Thermodynamics: An Engineering
Approach”, second edition,
McGraw Hill, USA, 1994.
Gas Processors Suppliers Association,
Engineering Data Book Volume II,
Gas Processors Association, 1987.
Gasco, TotalFinaElf E&P Indonesie,
Production/Processing Operations.
Gatley, Donald P. “Dehumidification
Enhancement for 100% - Outside –
Air AHUs”, HPAC Heating Piping/
Air Conditioning Engineering,
2002.
Gambar 3. Koefisien Serapan Optimum. Holland, KGT. “The Regeneration of
Lithium Chloride Brine in Solar Air
4. KESIMPULAN Conditioner”, Commonwealth
Scientific and Industrial Research
1. Semakin besar debit desiccant Organization, Engineering Section,
mengakibatkan semakin luas kontak Melbourne, Australia, 1963.
permukaan penyerapan sehingga semakin Hall, Raymond C. “Theoritical Calculation
besar penyerapan uap air di udara, – The Production of Water from
sehingga semakin kering udara yang Atmosphere by Absorbtion with
dihasilkan. Subsequent in Solar Still”, Solar
2. Variasi debit udara menunjukkan terdapat Energy Conference, 1965.
titik optimum penyerapan. Incropera, Frank P. and De Witt, David P.
3. Persamaan linear Koefisien Serapan (AC) “Fundamentals of Heat and Mass
terhadap Koefisien Volume Aliran (FVC) Transfer”, fourth edition, John
adalah: AC = 9180FVC + 0.0296. Wiley & Sons, USA, 1996.
Toxic Air Contaminant Identification List
NOTASI Summaries – ARB/ SSD/ S.
• AC : absorption coefficient
(dimensionless).
• FVC : flow-volume coefficient
(dimensionless).
• Ѡ 1 ambient : kelembaban udara spesifik
udara lingkungan (kg uap air/kg udara
kering).
• Ѡ 1 out : kelembaban udara spesifik
udara hasil pengeringan (kg uap air/kg
udara kering).
• Q : debit desiccant (m3/s).
• v : kecepatan udara (m/s).
• V : volume chamber (m3).