You are on page 1of 7

EROSI DAN ANGKUTAN SEDIMEN

Secara umum dapat dikatakan bahwa erosi dan sedimentasi merupakan


proses terlepasnya butiran tanah dari induknya di suatu tempat dan
terangkutnya material tersebut oleh gerakan air atau angin kemudian diikuti
dengan pengendapan material yang terangkut di tempat lain. Proses erosi dan
sedimentasi ini baru mendapat perhatian cukup serius oleh manusia pada
sekitar 1940-an, setelah menimbulkan kerugian yang besar, baik berupa
merosotnya produktivitas tanah serta yang tidak kalah pentingnya adalah
rusaknya bangunan-bangunan keairan serta sedimentasi waduk. Daerah
pertanian merupakan lahan yang paling rentan terhadap terjadinya erosi

Pengertian Erosi
Erosi adalah terangkatnya lapisan tanah atau sedimen karena stres yang
yang ditimbulkan oleh gerakan angin atau air pada permukaan tanah atau dasar
perairan. Pada lingkungan DAS, laju erosi dikendalikan oleh kecepatan aliran
air dan sifat sedimen (terutama ukuran butirnya). Stres yang bekerja pada
permukaan tanah atau dasar perairan sebanding dengan kecepatan aliran.
Resistensi tanah atau sedimen untuk bergerak sebanding dengan ukuran
butirnya. Gaya pembangkit eksternal yang menimbulkan erosi adalah curah
hujan dan aliran air pada lereng DAS. Curah hujan yang tinggi dan lereng DAS
yang miring merupakan faktor utama yang membangkitkan erosi. Pertahanan
DAS terhadap erosi tergantung utamanya pada tutupan lahan. Penguatan
pertahanan terhadap erosi dapat pula dilakukan dengan upaya-upaya
kerekayasaan.
Pengertian sedimentasi
Sedimentasi adalah merupakan proses pengendapan butir-butir tanah
yang telah terhanyutkan atau terangkut, pada tempat-tempat yang lebih rendah
dan/atau pada sungai-sungai atau waduk-waduk.

Penanggulangan angkutan sedimen di Sungai dapat berupa :


1. Menahan material yang besar-besar ( batu – batu besar ) di hulu sungai
2.Memperkecil kemiringan dasar sungai dengan tujuan memantapkan dasar sungai
mengurangi erosi dasar sungai.
3.Menahan sedimen di daerah endapan agar dapat dibatasi penyebarannya.
4.Mengendalikan arus dan arus banjir, sehingga secara tak langsung akan
mengendalikan pula angkutan sedimenya.

a. Penyebab Erosi Tanah


Tanah bisa mengalami kerusakan, bahkan tanah termasuk wujud alam yang
mudah mengalami kerusakan. Salah satu contoh kerusakan tanah adalah erosi
tanah. Erosi tanah adalah tanah yang lapuk dan mudah mengalami
penghancuran. Kerusakan yang dialami pada tanah tempat erosi disebabkan
oleh kemunduran sifat – sifat kimia dan fisik tanah, yakni:

 Kehilangan unsur hara dan bahan organik,


 Menurunnya kapasitas infiltrasi dan kemampuan tanah menahan air,
 Meningkatnya kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah,
 Serta berkurangnya kemantapan struktur tanah yang pada akhirnya
menyebabkan memburuknya pertumbuhan tanaman dan menurunnya
produktivitas.

Hal ini dikarenakan lapisan atas tanah setebal 15 sampai 30 cm mempunyai


sifat– sifat kimia dan fisik lebih baik dibandingkan lapisan lebih bawah.
Banyaknya unsur hara yang hilang bergantung pada besarnya kandungan unsur
hara yang terbawa oleh sedimen dan besarnya erosi yang terjadi. Di tempat
lain, erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur serta
berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Tanah
yang terangkut tersebut diendapkan di tempat lain yaitu, di dalam sungai,
waduk, danau, saluran irigasi dan di atastanahpertanian.

Proses Terjadinya Erosi dan Sedimen


Proses erosi secara alami telah terjadi yaitu proses pelapukan batuan
atau bahan induk tanah secara geologi dan alamiah. Erosi alami merupakan
proses keseimbangan alam yang artinya kecepatan kerusakan tanah masih saa
atau lebih kecil dari proses pembentukan tanah. Sedangkan DAS yang masuk
dalam wilayah perkotaan mengalami erosi yang cukup besar dan dalam waktu
yang cukup cepat. Hal ini dikarenakan, perubahan tata guna lahan yang
disebabkan oleh meningkatnya kegiatan manusia di wilayah DAS tersebut.
Meningkatnya kegiatan manusia dalam mengelola dan meningkatkan
produktivitas tanah telah menyebabkan terjadinya pemecahan agregat-agregat
tanah karena pengangkatan dan pemindahan tanah pada saat pengolahan tanah.
Hal tersebut menyebabkan meningkatnya laju erosi tanah yang disebut erosi
dipercepat.
Penyebab utama terjadinya erosi di daerah tropis seperti Indonesia
adalah air. Hal ini disebabkan oleh, daerah tropis memiliki kelembaban dan
rata-rata curah hujan per tahun yang cukup tinggi. Proses erosi tanah yang
disebabkan oleh air meliputi 3 tahap, yaitu :
1. Pelepasan butiran tanah atau paertikel tanah dari bongkah agregat tanah.
2. Pemindahan atau pengankutan butiran tanah oleh media pengangkut, yaitu
air.
3. Pengendapan butiran tanah dimana butiran tanah tidak dapat diangkut lagi oleh
media pengangkut.
Sebagai wilayah tropis, proses erosi tanah lebih banyak disebabkan
oleh air. Berdasarkan bentuknya erosi dibedakan menjadi 4 tipe, yaitu:
1. Erosi lempeng (sheet erosion), yaitu butiran-butiran diangkut lewat
permukaan atas tanah oleh selapis tipis limpasan permukaan , yang dihasilkan
oleh intensitas hujan yang merupakan kelebihan dari infiltrasi.
2. Pembentukan polongan (gully), yaitu erosi lempeng terpusat pada polongan
tersebut. Kecepatan airnya jauh lebih besar dibandingkan dengan kecepatan
limpasan permukaan tersebut diatas. Polongan tersebut cenderung menjadi
lebih dalam, yang menyebabkan terjadinya longsoran-longsoran. Polongan
tersebut tumbuh kearah hulu. Ini dinamakan erosi kearah belakang (backward
erosion).
3. Longsoran massa tanah yang terletak diatas batuan keras atau lapisan tanah
liat; longsoran ini terjadi setelah adanya curah hujan panjang, yang apisan
tanahnya menjadi jenuh oleh air tanah.
4. Erosi tebing sungai, terutama terjadi pada saat banjir, yaitu tebing tersebut
mengalami penggerusan air yang dapat menyebabkan longsornya tebing-tebing
pada belokan-belokan sungai.
(Hidrologi Teknik, Ir. C.D Soemarto, B.I.E, DIPL.H, 1999)
Upaya Pengendalian Erosi dan Sedimentasi
Secara umum, teknik konservasi lahan seperti pengaturan tata guna
lahan dan penataan lahan pertanian dengan teras sering dan reboisasi sebagai
langkah penanganan erosi dan sedimentasi. Namun teknik konservasi lahan
tidak dapat terlihat hasilnya secara signifikan dalam waktu singkat, hal ini
dapat mengurangi optimalisasi penganganan masalah ini, karena laju erosi dan
sedimentasi umumnya lebih cepat daripada teknik konservasi lahan seperti
reboisasi.

Dalam hal ini Bangunan Pengendali sedimen bukan merupakan pilihan


utama dalam usaha penanggulangan erosi dan sedimentasi di suatu Daerah
Aliran Sungai. Namun pembuatan Bangunan Pengendali Sedimen merupakan
langkah penunjang utama dalam melakukan usaha konservasi lahan, dimana
Bangunan Pengendali Sedimen dapat meminimalisasi jumlah sedimen selama
proses konservasi lahan berlangsung (BBWS Serayu-Opak).
Dampak Erosi

Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian


atas, yang akan menyebabkan menurunnya kemampuan lahan (degradasi
lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk
meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke
dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan
mengakibatkan banjir di sungai.

Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada
akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat
tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga
akan memengaruhi kelancaran jalur pelayaran.

Erosi dalam jumlah tertentu sebenarnya merupakan kejadian yang


alami, dan baik untuk ekosistem. Misalnya, kerikil secara berkala turun ke
elevasi yang lebih rendah melalui angkutan air. erosi yang berlebih, tentunya
dapat menyebabkan masalah, semisal dalam hal sedimentasi, kerusakan
ekosistem dan kehilangan air secara serentak.

Banyaknya erosi tergantung berbagai faktor. Faktor Iklim, termasuk


besarnya dan intensitas hujan/presipitasi, rata-rata dan rentang suhu, begitu
pula musim, kecepatan angin, frekuensi badai. faktor geologi termasuk tipe
sedimen, tipe batuan, porositas dan permeabilitasnya, kemiringn lahan. Faktor
biologis termasuk tutupan vegetasi lahan,makhluk yang tinggal di lahan
tersebut dan tata guna lahan ooleh manusia.

Dampak lain dari erosi adalah tanah tidak subur lagi jika di tanami,
degradasi lahan yaitu menipisnya permukaan tanah bagian atas, infiltrasi yaitu
menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air, sedimentasi yaitu
pengendapan di sungai akibat butiran-butiran tanah yang terangkut pada saat
erosi.

Dampak negatif erosi bagi tumbuh-tumbuhan yaitu tumbuhan tidak


dapat tumbuh karena erosi menyebabkan menipisnya lapisan permukaan tanah
bagian atas yang subur, memburuknya pertumbuhan tanaman dan menurunnya
produktivitas tanaman karena berkurangnya kemantapan struktur tanah,
tumbuhan tidak dapat tumbuh kembang karena tanah kehilangan unsur hara
yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman, tumbuhan menjadi mati
karena menurunnya kemampuan tanah menyerap dan menahan air.