You are on page 1of 15

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
Bidang Surveilans Epidemiologi (SE)
1. Kegiatan surveilans penyakit zoonosa (surveilans rodent dan pinjal
PES) di Kabupaten Boyolali tahun 2017 yang telah dilakukan oleh
BBTKLPP Yogyakarta di dapatkan rekapitulasi hasil survei rodent
dan pinjal bulan Januari, Februari, dan Maret sbb:
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Sementara Survei Rodent dan Pinjal bulan Januari,
Februari, dan Maret tahun 2017
Fokus PES Terancam PES
No. Bulan Item
Ds.Selo Ds.Samiran Dsn.Samiran
1. Januari Trap terpasang 1000 1000
Tikus
31 51
Tertangkap
Succes Trap (%) 3,1 5,1
Belum
Jumlah Pinjal 35 120
dilaksanakan
X.cheopis 9 49
St.cognatus 26 71
IPU 1,12 2,45
IPK 0,29 0,96
2. Februari Trap terpasang 1000 1000
Tikus
34 52
Tertangkap
Succes Trap (%) 3,4 5,2
Belum
Jumlah Pinjal 51 132
dilaksanakan
X.cheopis 20 24
St.cognatus 31 108
IPU 1,50 2,53
IPK 0,58 0,18
3. Maret Trap terpasang 1000 1000
Tikus
46 94
Tertangkap
Succes Trap (%) 4,6 9,4
Belum
Jumlah Pinjal 47 121
direkap
X.cheopis 21 49
St.cognatus 26 72
IPU 1,02 1,28
IPK 0,45 0,52
Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017

59
60

2. Hasil pemeriksaan serologi serum tikus pada tanggal 28 februari s/d 3


Maret 2017 terhadap 79 spesimen/serum seluruhnya (100%) negatif
atau tidak terinfeksi bakteri pes Yersinia pestis.
3. Hasil pemeriksaan serologi serum tikus pada tanggal 3 s/d 5 April
2017 terhadap 93 spesimen/serum seluruhnya (100%) negatif atau
tidak terinfeksi bakteri pes Yersinia pestis.

Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan


1. Prevalensi Tifoid di Sekolah Dasar (SD)
Sekolah Dasar (SD) yang menjadi subyek penelitian sebanyak
100 yang tersebar dalam 13 wilayah kerja puskesmas di Kabupaten
Semarang. Berdasarkan dugaan adanya kasus tifoid ada 24 Sekolah
Dasar (SD) dari 100 sekolah yang diteliti. Gambaran prevalensi tifoid
di Sekolah Dasar (SD).
Tabel 2. Gambaran prevalensi tifoid di Sekolah Dasar (SD)
SD dengan (dugaan) Kasus
Jumlah %
Tifoid
Ada 26 26
Tidak 74 74
Jumlah 100 100
Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017

2. Faktor Risiko Penularan Tifoid Pada Riwayat Responden dan


Keluarga.
Penjamah makanan yang menjadi subyek penelitian sebanyak 201
yang tersebar dari 100 Sekolah Dasar (SD) di 13 wilayah kerja
puskesmas di Kabupaten Semarang. Berdasarkan riwayat responen
yang pernah mengalami sakit tedapat 36 dari 201 responden yang
pernah mengalami sakit dengan ciri-ciri atau gejala seperti demam
tifoid, sedangkan riwayat kelurga terdapat 34 responden dari 201
responden yang keluarganya pernah mengalami sakit dengan ciri-ciri
atau gejala seperti demam tifoid. Gambaran faktor risiko penularan
tifoid pada riwayat responden dan keluarga responden.
61

Tabel 3. Gambaran faktor risiko penularan tifoid


Faktor Risiko Jumlah %
(n = 201)
Riwayat tifoid responden:
Pernah sakit 36 17,9
Tidak pernah sakit 165 82,1
Riwayat tifoid keluarga responden:
Pernah sakit 34 16,9
Tidak pernah sakit 167 83,1
Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017

3. Tingkat Pengetahuan Gejala dan Penularan Tifoid


Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau
tingkat yang berbeda-beda. Berdasarkan tingkat pengetahuan
penjamah makanan sebanyak 106 responden mengetahui bagaimana
gejala tifoid dengan baik. Untuk tingkat pengetahuan tentang
penularan tifoid menunjukkan 72,6% responden mengetahui
penularan tifoid dengan baik.
Tabel 4. Gambaran faktor risiko penularan tifoid
Faktor Risiko Jumlah %
(n = 201)
Tingkat pengetahuan:
Gejala Tifoid
Baik 106 52,7
Kurang 93 46,3
Penularan Tifoid
Baik 146 72,6
Kurang 55 27,4
Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017

4. Tingkat Pengetahuan Penyebab dan Pencegahan Tifoid


Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intesitas atau
tingkat yang berbeda-beda. Berdasarkan tingkat pengetahuan
penjamah makanan terhadap penyebab tifoid sebanyak 173 responden
kurang mengetahui penyebab tifoid. Untuk tingkat pengetahuan
62

terhadap pencegahan tifoid 84,6% responden kurang mengetahui


pencegahan tifoid.
Tabel 5. Gambaran faktor risiko penularan tifoid
Faktor Risiko Jumlah %
(n = 201)
Tingkat pengetahuan:
Penyebab Tifoid
Baik 28 14
Kurang 173 86
Pencegahan Tifoid
Baik 31 15,4
Kurang 170 84,6
Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017

5. Perilaku Hygiene Penjamah Makanan


Perilaku hygiene penjamah makanan menjadi salah satu faktor
risiko penularan tifoid. Kebiasaan penjamah makanan dalam Buang
Air Besar (BAB) 93,5% sudah baik, sedangakn kebiasan penjamah
makanan untuk membersihkan tangan 46,3% sudah menggunakan air
dan sabun. Gambaran fakto risiko hygiene penjamah makanan.
Tabel 6. Gambaran faktor risiko penularan tifoid
Faktor Risiko Jumlah %
(n =
201)
Hygiene Penjamah Makanan
Kebiasaan BAB
Baik 188 93,5
Kurang 13 6,5
Kebiasaan membersihkan tangan
Tidak 53 26,3
Menggunakan Lap 18 9,0
Menggunakan air saja 37 18,4
Menggunakan air + sabun 93 46,3
Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017
63

6. Hygiene Penjamah Makanan dengan Penggunaan APD dan Kebiasaan


Penyucian Sayur/Buah.
Penggunaan APD pada penjamah makanan dapat menurunkan
faktor risiko penularan tifoid, tetapi 57,7% penjamah makanan tidak
menggunakan APD. Dalam kebiasaan mencuci buah dan sayur 83,1%
responden mencuci dengan air mentah. Gambaran faktor risiko
hygiene penjamah makanan.
Tabel 7. Gambaran faktor risiko penularan tifoid
Faktor Risiko Jumlah %
(n = 201)
Hygiene Penjamah
Makanan
Penggunaan APD
Sarung tangan 4 2
Celemek, penutup rambut, 81 40,3
masker
Tidak pakai APD 116 57,7
Pencucian sayur/buah
dengan air matang 28 13,9
dengan air mentah 167 83,1
lansung dimakan 6 3,0
Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017

7. Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan berdagang diharapkan dalam kondisi bersih,
64,2% responden menjawab bahwa kondisi lingkungan tempat
berdagang bersih.
Tabel 8. Gambaran kondisi lingkungan tempat berdagang
Kondisi Lingkungan Jumlah %
(n = 201)
Bersih 129 64,2
Kurang 48 23,8
(berdebu, dekat dengan sampah, terdapat
genangan air, terdapat lalat)

Tidak menjawab 24 12
Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017
64

Instalasi Laboratorium Entomologi dan Pengendalian Vektor


1. Standar resistensi Nyamuk Menurut WHO
Intepretasi hasil pengujian data mengacu pada standar WHO dengan
ketentuan:
a. Resisten : < 80%

b. Toleran : 80% - 98%

c. Rentan : 99% - 100

Tabel 9. Hasil Uji Status Resistensi Nyamuk Aedes aegypti


Asal Daerah Perlakuan Jumlah Jumlah Jenis Intepretasi
Nyamuk Nyamuk Insektisida Hasil
Hidup Mati

Ulangan I 3 21 Malathion Toleran


Temanggung 0,8 %
Ulangan 4 21 Cypermethrin Toleran
Temanggung III 0,05%
Ulangan I 3 20 Deltamethrin Toleran
Temanggung 0,05%
Ulangan I 0 25 Propoxur Rentan
Temanggung 0,1%
Ulangan 0 25 Propoxur Rentan
Temanggung II 0,1%
Ulangan 14 11 Cypermethrin Resisten
Kedu II 0,05%
Ulangan I 10 14 Malathion Resisten
Kedu 0,8 %
Ulangan 1 24 Deltamethrin Toleran
Parakan II 0,05%
Ulangan I 0 25 Fenitrothion Rentan
Parakan 1%
Ulangan 6 19 Cypermethrin Resisten
Parakan II 0,05%
Ulangan I 14 11 Permethrin Resisten
Purwosari 0,75%
Ulangan 15 10 Permethrin Resisten
Purwosari II 0,75%
Ulangan I 5 20 Bendiocard Toleran
Petarukan 0,1%
Ulangan 2 23 Bendiocard Toleran
Petarukan II 0,1%
65

Ulangan I 19 6 Cypermethrin Resisten


Petarukan 0,05%
Ulangan I 0 25 Fenitrothion Rentan
Banyumudal 1%
Ulangan 3 22 Propoxur Resisten
Banyumudal II 0,1%
Ulangan 3 22 Bendiocard Toleran
Mulyoharjo II 0,1%
Ulangan I 1 24 Propoxur Toleran
Mulyoharjo 0,1%
Ulangan 4 21 Propoxur Toleran
Mulyoharjo II 0,1%
Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017

2. Hasil Uji Temephose

Uji temephose dilakukan di wilayah Umbulharjo Yogyakarta

menggunakan larva instar III dengan konsentrasi temephose 0,02 ppm

selama 124 jam.

Tabel 10. Hasil Uji Temephose


Perlakuan Larva Mati Larva Hidup

Ulangan I 3 22
Ulangan II 0 25
Ulangan III 12 13
Ulangan IV 0 25
Kontrol I 0 25
Kontrol II 0 25

Sumber : Data Primer BBTKL PP Yogyakarta 2017


66

B. PEMBAHASAN
Bidang Surveilans Epidemiologi (SE)
1. Kegiatan surveilans penyakit zoonosa (surveilans rodent dan pinjal
PES) di Kabupaten Boyolali tahun 2017
Penyakit PES atau juga dikenal dengan nama Pasteurellosis
/Yersiniois/Plague merupakan penyakit yang bersifat akut disebabkan
oleh kuman/bakteri Yersinia pestis yang dapat menimbulkan Kejadian
Luar Biasa (KLB) atau wabah, sesuai dengan Permenkes RI
No.560/Menkes/Per/VIII/1989. Kabupaten Boyolali sejak tahun 2007
merupakan daerah fokus pes di provinsi Jawa Tengah dan salah satu
dari 2 daerah fokus pes di indonesia yaitu Kabupaten Boyolali
(Jateng) di Kecamatan Selo dan Cepogo. Kegiatan surveilans penyakit
zoonosa (surveilans rodent dan pinjal PES) Kabupaten Boyolali tahun
2017 di daerah fokus pes yaitu Kecamatan Selo yang terdiri dari Desa
Selo dan Desa Samiran dan daerah terancam PES yaitu Dusun
Samiran dan Dusun Sepandan Kulon. Kegiatan dilaksanakan pada
bulan Januari s/d Juni 2017.
Walaupun indikator surveilans pes di Kabupaten Boyolali masih
menunjukan batas yang aman, namun program surveilans ini harus
tetap dilaksanakan secara serius dan konsisten mengingat program
eliminasi/assesment penyakit pes dilakukan selama sepuluh tahun
sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO dan Kemenkes RI.
BBTKLPP Yogyakarta mendukung assesment sepuluh tahunan
terhadap penyakit PES. Upaya pencegahan terjadinya kembali wabah
penyakit pes, perlu dilakukan pengematan secara terus menerus
(surveilans) pada manusia dan hewan (tikus) di daerah fokus pes
tersebut. Selain itu, kajian terhadap faktor resiko lingkungan dan
perilaku yang berkontribusi pada kejadian penyakit PES tersebut
sehingga jika dikompilasi dengan hasil surveilans yang dilakukan,
maka diharapkan ditemukan suatu pemecahan masalah yang setepat-
67

tepatnya dalam menanggulangi masalah penyakit PES di daerah


tersebut.
Kajian terhadap faktor resiko lingkungan dan perilaku yang
berkontribusi pada kejadian penyakit PES yaitu dengan pengadaan
kuisioner yang diperuntukkan mengumpulkan data kondisi riwayat
kesehatan human/penduduk yang rumahnya dipasang perangkap
berhubungan dengan penyakit pes, dan formulir pengamtan faktor
resiko lingkungan rumah penduduk yang dipasang perangkap. Data
yang dikumpulkan berhubungan dengan penyakit pes meliputi data
karakteristik responden (nama responden dan kepala keluarga, alamat,
jenis kelamin, umur, pekerjaan dan kepemilikan binatang/hewan
peliharaan, jumlah anggota keluarga serumah), data riwayat
mengalami tanda/gejala yang diduga penyakit pes (panas mendadak,
batuk darah dan bubo/pembesaran kelenjar getah bening), data khusus
yang meliputi data lingkungan (kondisi fisik rumah), dan data perilaku
yang berhubungan dengan kebiasaan yang dapat mengundang
datangya tikus ke dalam lingkungan hidupnya, kebiasaan
menggunakan racun hama tanaman, dan kebiasaan
menangkap/membunuh tikus.
Kegiatan pengumpulan data di lapangan terhadap human maupun
rodent yang dilakukan oleh petugas BBTKLPP Yogyakarta dan
Traper, dilaksanakan pada bulan Januari – Juni, meliputi data primer
dan sekunder pada reservoar (tikus) dan manusia secara periodik oleh
trapper. Kegiatan 1) pemasangan metal live trap (trapping), 2) survei
rodent dan pinjal dan 3) survei human/manusia.
a. Tahapan Trapping
Trapping dilakukan sebanyak 6 (enam) kali atau 6 bulan
untuk daerah fokus pes dan 2 (dua) kali atau 2 bulan untuk
daerah terancam pes. Setiap bulan pelaksanaan selama 5 (lima)
hari berturut-turut oleh trapper. Jumlah trap atau perangkap tikus
yang dipasang berjumlah 200 setiap hari sehingga totalnya adalah
68

1000 trap per lokasi ditiap bulanya. Pemasangan perangkap tikus


ini bertujuan untuk menangkap tikus yang ada ditiap lokasi
pemasangan.
b. Tahapan survei rodent dan pinjal
Survei rodent dan pinjal dilakukan untuk melakukan deteksi
dini dengan obyek surveinya adalah tikus dan pinjal yang hidup
pada tikus tersebut. Deteksi dini dilakukan agar dapat melakukan
antisipasi agar tidak terjadi transmisi infeksi dari tikus dan pinjal
kepada manusia. Survei dilakukan dengan menangkap tikus yang
hidup di rumah/lingkungan rumah di wilayah survei yaitu wilayah
fokus pes dan wilayah terancam pes.
Tikus yang tertangkap kemudian diidentifikasi jensinya dan
jumlah serta jenis pinjalnya. Identifikasi pinjal dilakukan dengan
menyisir bulu-bulu tikus untuk mendapatkan pinjal/kutunya yang
disebut flea. Tikus mempunyai berbagai jenis seperti Rattus –
Rattus diardhi, Bandicota Indica, dan Suncus murinus.
1) Data jumlah tikus (rodent) tertangkap, tingkat keberhasilan
penangkapan (Succes Trap), di Desa Selo, Desa Samiran dan
Dusun Samiran bulan Januari, Februari, dan Maret tahun
2017 sebagai berikut :
a) Bulan Januari di Desa Selo jumlah tikus yang tertangkap
31 ekor sehingga Succes Trap 3,1 % dan Desa Samiran
jumlah tikus yang tertangkap 51 ekor sehingga Succes
Trap 5,1 %.
b) Bulan Februari di Desa Selo jumlah tikus yang
tertangkap 34 ekor sehingga Succes Trap 3,4 % dan Desa
Samiran jumlah tikus yang tertangkap 52 ekor sehingga
Succes Trap 5,2 %
c) Bulan Maret di Desa Selo jumlah tikus yang tertangkap
46 ekor sehingga Succes Trap 4,6 % dan Dusun Samiran
69

jumlah tikus yang tertangkap 94 ekor sehingga Succes


Trap 9,4 %
2) Data jumlah Pinjal tertangkap di Desa Selo, Desa Samiran
dan Dusun Samiran bulan Januari, Februari, dan Maret tahun
2017.
a) Bulan Januari di Desa Selo jumlah pinjal tertangkap 35
ekor dengan rincian pinjal X.cheopis 9 ekor dan
St.cognatus 26 ekor dan Desa Samiran jumlah pinjal
tertangkap 120 ekor dengan rincian pinjal X.cheopis 49
ekor dan St.cognatus 71 ekor
b) Bulan Februari di Desa Selo jumlah pinjal tertangkap 51
ekor dengan rincian pinjal X.cheopis 20 ekor dan
St.cognatus 31 ekor dan Desa Samiran jumlah pinjal
tertangkap 132 ekor dengan rincian pinjal X.cheopis 24
ekor dan St.cognatus 108 ekor
c) Bulan Maret di Desa Selo jumlah pinjal tertangkap 47
ekor dengan rincian pinjal X.cheopis 21 ekor dan
St.cognatus 26 ekor dan Dusun Samiran jumlah pinjal
tertangkap 121 ekor dengan rincian pinjal X.cheopis 49
ekor dan St.cognatus 72 ekor.
3) Data Indeks Pinjal Umum (IPU) dan Indeks Pinjal Khusus
(IPK) tertangkap di Desa Selo, Desa Samiran dan Dusun
Samiran bulan Januari, Februari, dan Maret tahun 2017.
a) Bulan Januari di Desa Selo IPU 1,12 IPK 0,29 dan Desa
Samiran IPU 2,35 IPK 0,96
b) Bulan Februari di Desa Selo IPU 1,50 IPK 0,58 dan Desa
Samiran IPU 2,53 IPK 0,28
c) Bulan Maret di Desa Selo IPU 1,02 dan IPK 0,45 dan
Desa Samiran IPU 1,28 dan IPK 0,52
70

c. Tahapan Pemeriksaan Serologi


Setelah tikus ditangkap dilakukan penyisiran, maka
berikutnya tikus diambil darahnya untuk dilakukan serologi di
Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Yogyakarta yang telah
ditunjuk sebagai salah satu laboratorium rujukan pemeriksaan
serologi pes di Indonesia.
Hasil pemeriksaan serologi serum tikus pada tanggal 28
februari s/d 3 Maret 2017 terhadap 79 spesimen/serum seluruhnya
(100%) negatif atau tidak terinfeksi bakteri pes Yersinia pestis.
Hasil pemeriksaan serologi serum tikus pada tanggal 3 s/d 5 April
2017 terhadap 93 spesimen/serum seluruhnya (100%) negatif atau
tidak terinfeksi bakteri pes Yersinia pestis.

Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan


1. Pemantauan karier tifoid pada penjamah makanan sebagai upaya
pengendalian kejadian tifoid di Sekolah dasar (SD) di Jawa Tengah
Tifoid atau demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Salmonella Typhosa. Penyakit ini disebarkan melalui makanan
dan minuman yang telah tercemar tinja. Sanitasi dan kebersihan
penting untuk mencegah terjadinya penyakit tipus. Kebiasaan
penjamah makanan dalam mencuci tangan dan penyimpanan makanan
adalah hal yang penting untuk mencegah penyakit tipus. Dari 100
sekolah yang menjadi sampel di 13 wilayah kerja puskesmas di
Kabupaten Semarang 74 Sekolah Dasar (SD) tidak ditemukan dugaan
kasus tifoid. Dari 201 penjamah makanan yang menjadi responden 36
responden yang pernah mengalami sakit dengan ciri-ciri atau gejala
seperti demam tifoid, dan 34 keluarga responden juga pernah
mengalami sakit dengan ciri-ciri atau gejala seperti demam tifoid.
Tingkat pengetahuan responden dalam kategori baik terhadap gejala
tifoid (52,7%) dan penularan tifoid (72,6%). Untuk tingkat
pengetahuan responden terhadap penyebab tifoid dan penecgahan
71

tifoid masing-masing sebesar 86% dan 84,6% dalam kategori kurang.


Sebanyak 93,5% responden sudah memiliki kebiasaan yang baik
dalam perilaku Buang Air Besar (BAB), dan kebiasaan membersihkan
tangan dengan air dan sabun (46,3%). Penggunaan APD pada
penjamah makanan kurang diperhatikan karena sebanyak 57,7 %
penjamah makanan tidak menggunakan APD dan untuk kebiasaan
pencucian buah dan sayur sebanyak 167 responden mencuci dengan
air mentah. Untuk kondisi lingkungan berdagang 64,2% responden
menjawab bahwa kondisi lingkungan tempat berdagang bersih.
Penyebaran penyakit tifoid disebarkan melalui makanan dan minuman
yang telah tercemar tinja. Sanitasi dan kebersihan penting untuk
mencegah terjadinya penyakit tifoid.

Instalasi Laboratorium Entomologi dan Pengendalian Vektor


1. Hasil Uji Resistensi Nyamuk Aedes Aegepti
Berdasarkan hasil uji resistensi yang dilakukan di 2 Kabupaten
yaitu Temanggung dan Pemalang meliputi Kecamatan Temanggung,
Kedu, Parakan, Purwosari, Petarukan, Mulyoharjo, dan Banyumudal.
Diperoleh hasil dari Kecamatan Temanggung dilakukan pengujian
jenis insektisida Malathion 0,8%, Cypermethrin 0,05%, Deltamethrin
0,05%, dan Propoxur 0,1% yang diacu pada standar resisten nyamuk
menurut WHO hasilnya Malathion 0,8% Intepretasi hasil Toleran
dengan 84%, Cypermethrin 0,05% Intepretasi hasil Toleran dengan
84%, Deltamethrin 0,05% Intepretasi hasil Toleran dengan 80%, dan
Propoxur 0,1% Intepretasi hasil Rentan dengan 100%. Dengan
demikian penggunaan insektisida jenis Malathion 0,8%, Cypermethrin
0,05%, Deltamethrin 0,05%, dan Propoxur 0,1% di Kecamatan
Temanggung Kabupaten Temanggung dalam program pengendalian
DBD masih relevan jika digunakan dalam program pengendalian
DBD.
72

Kecamatan Kedu dilakukan pengujian jenis insektisida Malathion


0,8% dan Cypermethrin 0,05% yang diacu pada standar resisten
nyamuk menurut WHO hasilnya Malathion 0,8% Intepretasi hasil
Resisten dengan 56%, Cypermethrin 0,05% Intepretasi hasil Resisten
dengan 44%. Dengan demikian penggunaan insektisida jenis
Malathion 0,8% dan Cypermethrin 0,05% di Kecamatan Kedu
Kabupaten Temanggung dalam program pengendalian DBD perlu
dimonitoring karena insektisida jenis Malathion 0,8% dan
Cypermethrin 0,05% sudah tidak relevan lagi jika digunakan dalam
program pengendalian DBD.
Kecamatan Parakan dilakukan pengujian jenis insektisida
Cypermethrin 0,05%, Deltamethrin 0,05%, dan Fenitrothion 1% yang
diacu pada standar resisten nyamuk menurut WHO hasilnya
Cypermethrin 0,05% Intepretasi hasil Resisten dengan 76%,
Deltamethrin 0,05% Intepretasi hasil Toleran dengan 96%, dan
Fenitrothion 1% Intepretasi hasil Rentan dengan 100%. Dengan
demikian penggunaan insektisida jenis Cypermethrin 0,05%,
Deltamethrin 0,05%, dan Fenitrothion 1% di Kecamatan Parakan
Kabupaten Temanggung dalam program pengendalian DBD masih
relevan jika digunakan dalam program pengendalian DBD.
Kecamatan Purwosari dilakukan pengujian jenis insektisida
Permethrin 0,75% yang diacu pada standar resisten nyamuk menurut
WHO hasilnya Permethrin 0,75% Intepretasi hasil Resisten dengan
ulangan I 44% dan ulangan II 40%. Dengan demikian penggunaan
insektisida jenis Permethrin 0,75% di Kecamatan Purwosari
Kabupaten Temanggung dalam program pengendalian DBD sudah
tidak relevan lagi jika digunakan dalam program pengendalian DBD.
Kecamatan Petarukan dilakukan pengujian jenis insektisida
Bendiocard 0,1% dan Cypermethrin 0,05% yang diacu pada standar
resisten nyamuk menurut WHO hasilnya Bendiocard 0,1% Intepretasi
hasil Toleran dengan ulangan I 80% dan ulangan II 92% dan
73

Cypermethrin 0,05% Intepretasi hasil Resisten dengan 24%. Dengan


demikian penggunaan insektisida jenis Cypermethrin 0,05% di
Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang dalam program
pengendalian DBD sudah tidak relevan lagi jika digunakan dalam
program pengendalian DBD.
Kecamatan Banyumudal dilakukan pengujian jenis insektisida
Fenitrothion 1% dan Propoxur 0,1% yang diacu pada standar resisten
nyamuk menurut WHO hasilnya Fenitrothion 1% Intepretasi hasil
Rentan dengan 100% dan Propoxur 0,1% Intepretasi hasil Toleran
dengan 80%. Dengan demikian penggunaan insektisida jenis
Cypermethrin 0,05% di Kecamatan Banyumudal Kabupaten Pemalang
dalam program pengendalian DBD masih relevan jika digunakan
dalam program pengendalian DBD.
Kecamatan Mulyoharjo dilakukan pengujian jenis insektisida
Bendiocard 0,1% dan Propoxur 0,1% yang diacu pada standar resisten
nyamuk menurut WHO hasilnya Bendiocard 0,1% Intepretasi hasil
Toleran dengan 88% dan Propoxur 0,1% Intepretasi hasil Toleran
dengan ulangan I 96% dan ulangan II 84%. Dengan demikian
penggunaan insektisida jenis Bendiocard 0,1% dan Propoxur 0,1% di
Kecamatan Mulyoharjo Kabupaten Pemalang dalam program
pengendalian DBD masih relevan jika digunakan dalam program
pengendalian DBD.
2. Hasil Uji Temephose
Uji temephose dilakukan di wilayah Umbulharjo Yogyakarta
menggunakan larva instar III dengan konsentrasi temephose 0,02 ppm
selama 124 jam diperoleh hasil pada ulangan ke III diperoleh
kematian larva instar III terbanyak dan pada kegiatan ini masih
berlangsung.