You are on page 1of 55

TUGAS MATA KULIAH

KEPERAWATAN MATERNITAS

“Upaya-Upaya Pencegahan Primer, Sekunder dan Tersier pada


Sistem Reproduksi”

Disusun Oleh:
Kelompok 6

Dosen Pembimbing:
Ns. Jasmawati, S. Kep., M. Kes

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
TAHUN 2019

i
TUGAS MATA KULIAH
KEPERAWATAN MATERNITAS

“Upaya-Upaya Pencegahan Primer, Sekunder dan Tersier pada


Sistem Reproduksi”

Disusun Oleh:
Kelompok 6
1. Akhmad Taufik
2. Hana Yolanda
3. Muhammad Setiawan
4. Sarwansyah

Dosen Pembimbing:
Ns. Jasmawati, S. Kep., M. Kes

HALAMAN JUDUL
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
TAHUN 2019

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulisan makalah “Upaya-Upaya Pencegahan Primer, Sekunder dan
Tersier pada Sistem Reproduksi serta Penyuluhan dan Edukasi Kesehatan pada
Ibu dengan Masalah Gangguan Kesehatan Reproduksi” dapat kami selesaikan.
Shalawat beriring salam semoga dilimpahkan kepada Baginda Rasulullah
SAW, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang istiqamah di jalan-Nya hingga
akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata ajar Keperawatan
Maternitas. Selain itu, agar pembaca dapat memperluas ilmu yang berkaitan dengan
judul makalah, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber dan
hasil kegiatan yang telah dilakukan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait, terutama kepada
dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengajaran dalam
penyelesaian makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Dan kami menyadari masih banyak kekurangan yang mendasar dalam
makalah ini. Oleh karena itu, kami memohon keterbukaan dalam pemberian saran dan
kritik agar lebih baik lagi untuk ke depannya.

Samarinda, Januari 2019

Kelompok 6

iii
DAFTAR ISI

Contents

HALAMAN JUDUL ............................................................................................................... ii


KATA PENGANTAR .............................................................................................................iii
DAFTAR ISI............................................................................................................................iv
BAB I ........................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................................... 2
C. Tujuan .......................................................................................................................... 3
D. Manfaat ........................................................................................................................ 3
E. Sistematika Penulisan ................................................................................................. 4
BAB II ...................................................................................................................................... 5
TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................................... 5
A. Upaya-Upaya Pencegahan Primer pada Sistem Reproduksi .................................. 5
B. Upaya-Upaya Pencegahan Sekunder pada Sistem Reproduksi .............................. 8
C. Upaya-Upaya Pencegahan Tersier pada Sistem Reproduksi ................................ 11
D. Upaya-Upaya Pencegahan Primer, Sekunder dan Tersier pada Sistem
Reproduksi Wanita ................................................................................................... 13
1. Kegel Exercise..................................................................................................... 13
2. Nutrisi Gizi Seimbang ......................................................................................... 18
3. Manajemen Stress................................................................................................ 27
E. Penyuluhan dan Edukasi Kesehatan pada Ibu dengan Masalah Gangguan
Kesehatan Reproduksi .............................................................................................. 40
BAB III................................................................................................................................... 48
PENUTUP.............................................................................................................................. 48
a. Kesimpulan ................................................................................................................ 48
b. Saran ........................................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 50

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dahulu, pembicaraan tentang organ reproduksi selalu dianggap tabu.
Jangankan untuk konsultasi ke dokter, sekadar bertanya kepada orang terdekat
(orangtua) saja merasa malu dan sungkan. Oleh karena itu, pengetahuan
masyarakat akan hal-hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi tergolong
rendah. Hal ini bisa menjadi pemicu munculnya berbagai macam keluhan dan
permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
Organ reproduksi adalah salah satu bagian terpenting dalam tubuh manusia
yang memiliki peran besar dan tergantikan oleh organ yang lain. Organ tersebut ini
penting dikarenakan manusia memiliki naluri alamiah, yaitu ingin memiliki
keturunan, guna melestarikan jenisnya. Dampaknya, organ reproduksi yang sehat
dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya menjadi sebuah hal yang dituju.
Pengetahuan tentang kesehatan organ reproduksi, sangat perlu dibahas dan
diketahui oleh kaum wanita, baik yang sudah menjadi ibu-ibu maupun bagi remaja
putri, agar dapat menjaga kesehatan dan memfungsikan organ reproduksi secara
benar dan bertanggung jawab.
Keadaan kesehatan reproduksi di Indonesia saat ini masih belum seperti
yang diharapkan dibandingkan dengan keadaan di negara-negara ASEAN lain.
Indonesia masih tertinggal dalam banyak aspek kesehatan reproduksi. Masalah
kesehatan reproduksi menjadi perhatian bersama bukan hanya individu yang
bersangkutan, karena dampaknya menyangkut berbagai aspek kehidupan dan
menjadi paramenter kemampuan Negara dalam menyelenggarakan pelayanan
kesehatan terhadap masyarakat (Manuaba, 2009).
Kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik, mental,
dan sosial secara utuh (tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecatatan) dalam

1
semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya
(Kumalasari, 2012). Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya gangguan pada
reproduksi maka diperlukan upaya pencegahan.
Konsep pencegahan primer: terjadi sebelum sistem bereaksi terhadap
stressor, meliputi: promosi kesehatan dan mempertahankan kesehatan. Pencegahan
primer mengutamakan pada penguatan flexible lines of defense dengan cara
mencegah stress dan mengurangi faktor-faktor resiko. Intervensi dilakukan jika
resiko atau masalah sudah diidentifikasi tapi sebelum reaksi terjadi. Strateginya
mencakup: immunisasi, pendidikan kesehatan, olah raga dan perubahan gaya
hidup. Pencegahan sekunder: meliputi berbagai tindakan yang dimulai setelah ada
gejala dari stressor. Pencegahan sekunder mengutamakan pada penguatan internal
lines of resistance, mengurangi reaksi dan meningkatkan faktor-faktor resisten
sehingga melindungi struktur dasar melalui tindakan-tindakan yang tepat sesuai
gejala. Tujuannya adalah untuk memperoleh kestabilan sistem secara optimal dan
memelihara energi. Jika pencegahan sekunder tidak berhasil dan rekonstitusi tidak
terjadi maka struktur dasar tidak dapat mendukung sistem dan intervensi-
intervensinya sehingga bisa menyebabkan kematian. Pencegahan tersier: dilakukan
setelah sistem ditangani dengan strategi-strategi pencegahan sekunder. Pencegahan
tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah stabilitas sistem klien secara
optimal. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor
untuk mencegah reaksi timbul kembali atau regresi, sehingga dapat
mempertahankan energi. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali
pada pencegahan primer.

B. Rumusan Masalah
Apa saja upaya-upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier pada sistem
reproduksi serta penyuluhan dan edukasi kesehatan pada ibu dengan masalah
gangguan kesehatan reproduksi?

2
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Upaya-upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier pada sistem reproduksi
serta penyuluhan dan edukasi kesehatan pada ibu dengan masalah gangguan
kesehatan reproduksi
2. Tujuan Khusus
a. Upaya-upaya pencegahan primer pada sistem reproduksi
b. Upaya-upaya pencegahan sekunder pada sistem reproduksi
c. Upaya-upaya pencegahan tersier pada sistem reproduksi
d. Penyuluhan dan edukasi kesehatan pada ibu dengan masalah gangguan
kesehatan reproduksi

D. Manfaat
1. Bagi Penulis
Diharapkan agar penulis mempunyai tambahan wawasan dan
pengetahuan dalam menerapkan upaya-upaya pencegahan primer, sekunder
dan tersier pada sistem reproduksi serta penyuluhan dan edukasi kesehatan pada
ibu dengan masalah gangguan kesehatan reproduksi
2. Bagi Institusi Pelayanan
Menjadi acuan dalam memberikan penyuluhan dan edukasi kesehatan pada
ibu dengan masalah gangguan kesehatan reproduksi
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bacaan atau referensi untuk meningkatkan kualitas
pendidikan keperawatan dan sebagai masukan dalam upaya-upaya pencegahan
primer, sekunder dan tersier pada sistem reproduksi serta penyuluhan dan
edukasi kesehatan pada ibu dengan masalah gangguan kesehatan reproduksi

3
E. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini dibagi dalam beberapa bab, yaitu:

Bab I : Berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang

belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat dan

sistematika penulisan.

Bab II : Berisi tinjauan pustaka yang terdiri dari upaya-upaya

pencegahan primer, sekunder dan tersier pada sistem

reproduksi serta penyuluhan dan edukasi kesehatan pada

ibu dengan masalah gangguan kesehatan reproduksi

Bab III : Berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Upaya-Upaya Pencegahan Primer pada Sistem Reproduksi


Pencegahan primer adalah pencegahan yang sebenarnya, pencegahan ini
dilakukan sebelum terjadi penyakit dan gangguan fungsi dan diberikan kepada
klien yang sehat secara fisik dan mental.
Pencegahan primer meliputi segala bentuk kegiatan yang dapat
menghentikan kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi.
Pencegahan primer juga diartikan sebagai bentuk pencegahan terhadap terjadinya
suatu penyakit pada seseorang dengan faktor risiko. Tahap pencegahan primer
diterapkan dalam fase pre pathogenesis yaitu pada keadaan dimana proses penyakit
belum terjadi atau belum mulai.
Dalam fase ini meskipun proses penyakit belum mulai tapi ketiga faktor
utama untuk terjadinya penyakit, yaitu agent, host, dan environment yang
membentuk konsep segitiga epidemiologi selalu akan berinteraksi yang satu
dengan lainya dan selalu merupakan ancaman potensial untuk sewaktu-waktu
mencetuskan terjadinya stimulus yang memicu untuk mulainya terjadinya proses
penyakit dan masuk kedalam fase pathogenesis.
Pada wanita, pencegahan primer yang dapat dilakukan adalah dengan
promosi kesehatan dan spesific protection. Pada promosi kesehatan seperti
peningkatan kesehatan, misalnya dengan pendidikan kesehatan reproduksi tentang
menghindari seks bebas kanker serviks; dan sebagainya. Untuk spesific protection,
berikut ada penjelasannya
1. Pencegahan HIV
Tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah
melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan
tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar

5
kelahiran (periode perinatal). Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air
mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi
dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan demikian resiko infeksinya secara
umum dapat diabaikan.
Untuk menurunkan angka kasus HIV/AIDS di Indonesia, ada rumus
ABCDE yang selama ini disosialisasikan sebagai cara pencegahan HIV/AIDS
oleh Kementerian Kesehatan RI:
a. A (abstinace): tidak berhubungan seks di luar nikah
b. B (be faithful): saling setia pada pasangan
c. C (condom): penggunaan kondom saat berhubungan seksual
d. D (don't use drugs): tidak memakai narkoba
e. E (education): aktif mencari informasi yang benar

2. Pencegahan Kanker Payudara


Merupakan promosi kesehatan yang sehat. Yaitu melalui upaya
menghindarkan diri dari faktor risiko serta melakukan pola hidup sehat.
Termasuk juga dengan pemeriksaan payudara sendiri alias SADARI.

6
3. Pencegahan Vulvavaginitis
a. Gunakan celana dalam bersih, tidak ketat dan kering
b. Membersihkan diri setelah buang air kecil atau buang air besar dengan air
bersih (gunakan air mengalir kalau sedang di toilet umum), cara
pembersihan dengan gerakan dari depan ke belakang
c. Hindari penggunaan bahan kima atau parfum yang biasanya terdapat pada
sabun pembersih kewanitaan atau sabun mandi
d. Jangan menggunakan pembalut yang mengandung perfume
e. Jangan mengusap area vagina terlalu keras saat membersihkannya
4. Pencegahan Gonorrhea
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain
a. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual
b. Hindari kontak seksual dengan beberapa orang yang memiliki resiko
penyakit seksual menular ( seperti pekerja seks komersil)
c. Obati sedini mungkin patner yang sudah terkena infeksi atau pastikan
patner seksual bebas dari penyakit sebelum berhubungan seksual
5. Pencegahan Sifilis
Sama seperti penyakit menular seksual lainnya, sifilis dapat dicegah
dengan cara melakukan hubungan seksual secara aman, misalnya menggunakan
kondom.
6. Pencegahan Herpes Genitalis
Cara untuk mencegah herpes genital adalah sama dengan yang untuk
mencegah penyakit menular seksual lainnya. Kuncinya adalah untuk
menghindari terinfeksi dengan HSV, yang sangat menular, pada waktu lesi ada.
Cara terbaik untuk mencegah infeksi adalah menjauhkan diri dari aktivitas
seksual atau membatasi hubungan seksual denagn hanya satu orang yang bebas
infeksi. Cara yang dapat dilakukan antara lain:
a. Gunakan, atau pasangan Anda gunakan, sebuah kondom lateks selama
setiap kontak seksual

7
b. Batasi jumlah pasangan seks
c. Hindari hubungan seksual jika pasangan terkena herpes di daerah genital
atau di mana pun
7. Pencegahan Kanker Serviks
a. Bila mungkin, hindari faktor resiko yaitu bergati pasangan seksual lebih
dari satu dan berhubungan seks dibawah usia 20 karena secara fisik seluruh
organ intim dan yang terkait pada wanita baru matang pada usia 21 tahun.
b. Bagi wanita yang aktif secara seksual, atau sudah pernah berhubungan
seksual, dianjurkan untuk melakukan tes HPV, Pap Smear, atau tes IVA,
untuk mendeteksi keberadaan Human Papilloma Virus (HPV), yang
merupakan biang keladi dari tercetusnya penyakit kanker serviks.
c. Bagi wanita yang belum pernah berhubungan seks, atau anak-anak
perempuan dan laki-laki yang ingin terbentengi dari serangan virus HPV,
bisa menjalani vaksinasi HPV. Vaksin HPV dapat mencegah infeksi HPV
tipe 16 dan 18. Dan dapat diberikan mulaidari usia 9-26 tahun, dalam
bentuk suntikan sebanyak 3 kali (0-2-6 bulan). Dan biayanya pun terbilang
murah.
d. Menjaga pola makan seimbang dan bergizi, serta menjalani gaya hidup
sehat (berolahraga).

B. Upaya-Upaya Pencegahan Sekunder pada Sistem Reproduksi


Pencegahan sekunder berfokus pada individu yang mengalami masalah
kesehatan atau penyakit, dan individu yang beresiko mengalami komplikasi atau
kondisi yang lebih buruk. Pencegahan sekunder terdiri dari teknik skrining dan
pengobatan penyakit pada tahap dini untuk membatasi kecacatan dengan cara
menghindarkan atau menunda akibat yang timbul dari perkembangan penyakit.
Pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang mana sasaran utamanya
adalah pada mereka yang baru terkena penyakit atau yang terancam akan menderita
penyakit tertentu. Adapun tujuan pada pencegahan sekunder yaitu diagnosis dini

8
dan pengobatan yang tepat. Adapun beberapa pengobatan terhadap penyakit
masalah sistem reproduksi dapat melalui obat dan operasi. Pencegahan sekunder
merupakan pencegahan yang dilakaukan pada fase awal patogenik yang bertujuan
untuk:
1. Mendeteksi dan melakukan interfensi segera guna menghentikan penyakit pada
tahap ini
2. Mencegah penyebaran penyakit menurunkan intensitas penyakit bila penyakit
ini merupakan penyakit menular
3. Untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang
sakit serta untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga
mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi. Karena rendahnya
pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, maka
sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi di masyarakat. Bahkan
kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati
penyakitnya. Hal ini dapat menyebabkan masyarakat tidak memperoleh
pelayanan kesehatan yang layak.
Pencegahan sekunder terdiri dari:
1. Diagnosis dini dan pengobatan segera
Contohnya adalah pap smear, merupakan pemeriksaan untuk
mendeteksi gejala kanker serviks secara dini. Dengan melakukan pemeriksaan
pap smear setiap tahun, jika ditemukan adanya kanker serviks baru pada tahap
awal sehingga kesempatan untuk sembuh lebih besar. Artinya semakin dini
penyakit kanker serviks diketahui maka semakin mudah menanganinya.
Pemeriksaan pap smear, pemeriksaan IVA, sadari sebagai cara
mendeteksi dini penyakit kanker. Bila dengan deteksi ini ditemui kelainan maka
segera dilakukan pemeriksaan diagnostic untuk memastikan diagnosa seperti
pemeriksaan biopsy, USG atau mamografi atau kolposcopy. Tujuan utama dari
usaha ini adalah:

9
a. Pengobatan yang setepat-tepatnya dan secepat-cepatnya dari setiap jenis
penyakit sehingga tercapai penyembuhan yang sempurna dan segera.
b. Pencegahan penularan kepada orang lain, bila penyakitnya menular.
c. Mencegah terjadinya kecacatan yang diakibatkan sesuatu penyakit.
Beberapa usaha deteksi dini di antaranya:
a. Mencari penderita di dalam masyarakat dengan jalam pemeriksaan :
misalnya pemeriksaan darah,roentgent paru-paru dan sebagainya serta
segera memberikan pengobatan
b. Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit
yang telah berhubungan dengan penderita penyakit menular (contact
person) untuk diawasi agar derita penyakitnya timbul dapat segera
diberikan pengobatan dan tindakan-tindakan lain yang perlu misalnya
isolasi, desinfeksi dan sebagainya.
c. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar mereka dapat mengenal
gejala penyakit pada tingkat awal dan segera mencari pengobatan.
Masyarakat perlu menyadari bahwa berhasil atau tindaknya usaha
pengobatan, tidak hanya tergantung pada baiknya jenis obat serta keahlian
tenaga kesehatannya, melainkan juga tergantung pada kapan pengobatan itu
diberikan.
d. Disability Limitation (pembatasan kecacatan dan berusaha untuk
menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan suatu
masalah kesehatan dan penyakit). Usaha ini merupakan lanjutan dari usaha
Early diagnosis And Promotif Treatment yaitu dengan pengobatan dan
perawatan yang sempuran agar penderita sembuh kembali dan tidak cacat (
tidak terjadi komplikasi). Bila sudah terjadi kecacatan maka dicegah agar
kecacatan tersebut tidak bertambah berat dan fungsi dari alat tubuh yang
cacat ini dipertahankan semaksimal mungkin.
Pengobatan yang terlambat akan menyebabkan:

10
a. Usaha penyembuhan menjadi lebih sulit, bahkan mungkin tidak dapat
sembuh lagi misalnya pengobatan kanker (neoplasma) yang terlambat.
b. Kemungkinan terjadinya kecacatan lebih besar.
c. Penderitaan si sakit menjadi lebih lama.
d. Biaya untuk perawatan dan pengobatan menjadi lebih besar.
2. Pembatasan ketidakmampuan (disability limitation)
Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang
kesehatan dan penyakit, maka sering masyarakat tidak melanjutkan
pengobatannya sampai tuntas. Dengan kata lain mereka tidak melakukan
pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap penyakitnya. Pengobatan
yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan
cacat atau mengalami ketidak mampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan
juga diperlukan pada tahap ini.
Penanganan secara tuntas pada kasus-kasus infeksi organ reproduksi
mencegah terjadinya infertilitas.

C. Upaya-Upaya Pencegahan Tersier pada Sistem Reproduksi


Pencegahan tersier dilakukan ketika terjadi kecacatan atau
ketidakmampuan yang permanen dan tidak dapat disembuhkan. Kegiatan ini
ditujukan untuk melaksanakan tindakan rehabilitasi yang bertujuan membantu
klien mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin, sesuai dengan keterbatasan
yang ada akibat penyakit atau kecacatan.
Pencegahan tersier berfokus pada proses adaptasi kembali. Tujuan
utama dari pencegahan tersier adalah mencegah cacat, kematian, serta usaha
rehabilitasi. Menurut Kodim dkk (2004), tujuan dari pencegahan tersier adalah
untuk mencegah komplikasi penyakit dan pengobatan, sesudah gejala klinis
berkembang dan diagnosis sudah ditegakkan. Pencegahan tersier terhadap
penyakit masalah sistem reproduksi dapat dengan melakukan perawatan pasien
hingga sembuh serta melakukan terapi-terapi untuk meminimalisir kecacatan

11
akibat masalah tersebut. Pencegahan tersier adalah Rehabilitasi. contoh:
rehabilitasi pada penderita-penderita kanker ovarium, kanker payudara dan lain
sebagaiannya.
Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang orang
menjadi cacat, untuk memulihkan cacatnya tersebut kadang-kadang diperlukan
latihan tertentu. Disamping itu orang yang cacat setelah sembuh dari penyakit,
kadang-kadang malu untuk kembali ke masyarakat. Sering terjadi pula
masyarakat tidak mau menerima mereka sebagai anggoota masyarakat yang
normal. Oleh sebab itu jelas pendidikan kesehatan diperlukan bukan saja untuk
orang yang cacat tersebut, tetapi juga perlu pendidikan kesehatan
pada masyarakat. Pada pusat-pusat rehabilitasi misalnya rehabilitasi PSK, dan
korban narkoba.
Rehabilitasi ini terdiri atas:
1. Rehabilitasi fisik yaitu agar bekas penderita memperoleh perbaikan fisik
semaksimal-maksimalnya.
2. Rehabilitasi mental yaitu agar bekas penderita dapat menyesuaikan diri
dalam hubungan perorangan dan social secara memuaskan. Seringkali
bersamaan dengan terjadinya cacat badaniah muncul pula kelainan-
kelainan atau gangguan mental. Untuk hal ini bekas penderita perlu
mendapatkan bimbingan kejiwaan sebelum kembali ke dalam masyarakat.
3. Rehabilitasi sosial vokasional yaitu agar bekas penderita menempati suatu
pekerjaan/jabatan dalam masyarakat dengan kapasitas kerja yang
semaksimal-maksimalnya sesuai dengan kemampuan dan ketidak
mampuannya.
4. Rehabilitasi aesthesis yaitu usaha rehabilitasi aesthetis perlu dilakukan
untuk mengembalikan rasa keindahan walaupun kadang-kadang fungsi dari
alat tubuhnya itu sendiri tidak dapat dikembalikan.
Usaha mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat,
memerlukan bantuan dan pengertian dari segenap anggota masyarakat untuk

12
dapat mengerti dan memahami keadaan mereka (fisik, mental dan
kemampuannya) sehingga memudahkan mereka dalam proses penyesuaian
dirinya dalam masyarakat, dalam keadaannya yang sekarang.
Sikap yang diharapkan dari warga masyarakat adalah sesuai dengan
falsafah pancasila yang berdasarkan unsur kemanusiaan yang sekarang ini.
Mereka yang direhabilitasi ini memerlukan bantuan dari setiap warga
masyarakat, bukan hanya berdasarkan belas kasihan semata-mata, melainkan
juga berdasarkan hak azasinya sebagai manusia.
Dari tingkatan-tingkatan tersebut seharusnya strategi pencegahan
berurutan mulai dari pencegahan primer sampai ke pencegahan tersier. Prinsip
mencegah lebih mudah dan lebih murah daripada mengobati masih menjadi
dasar mengapa pemilihan strategi pencegahan penyakit sebaiknya berurutan
dari primer menuju tersier.

D. Upaya-Upaya Pencegahan Primer, Sekunder dan Tersier pada Sistem


Reproduksi Wanita
1. Kegel Exercise
a. Definisi
Senam kegel adalah senam yang bertujuan untuk memperkuat otot-
otot dasar panggul terutama otot pubococcygeal sehingga seorang wanita
dapat memperkuat otot-otot saluran kemih (berguna saat proses persalinan
agar tidak terjadi “ngompol”) dan otot-otot vagina (memuaskan suaminya
saat berhubungan seks.
Nama senam ini diambil dari penemunya Arnold Kegel, seorang
dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan di Los Angeles sekitar
tahun 1950-an. Dokter Kegel seringkali melihat pasiennya yang sedang
dalam proses persalinan sering tidak dapat menahan keluarnya air seni
(ngompol). Timbullah inisiatifnya untuk menemukan latihan agar
pasiennya tidak mengalami hal tersebut.

13
Dalam perkembangannya selanjutnya senam ini selain dilakukan
oleh wanita juga dilakukan oleh para pria. Pada pria kerja otot ini lebih
mudah diamati dari luar dibanding wanita. Hal ini dapat dilihat dengan
gerakan penis “naik-turun” dalam keadaan ereksi. Pria yang terlatih akan
mendapatkan orgasme yang lebih intens, dapat mencegah ejakulasi dini dan
memperpendek waktu untuk siap melakukan hubungan seks ulang.
Pada wanita kerja otot pubococcygeal dapat dirasakan berupa
denyutan pada dinding vagina. Bila otot ini terlatih dengan kuat, kontraksi
otot vagina dapat dengan sengaja dilakukan saat berhubungan intim tanpa
menunggu orgasme terlebih dahulu. Wanita dengan otot pubococcygeal
terlatih lebih mudah mengalami perangsangan seksual (tidak frigid), lebih
cepat “basah” untuk mengalami orgasme yang sering dan memuaskan
bahkan dapat mencapai orgasme hanya pada rangsangan pada G spot-nya.
b. Tujuan
1) Menguatkan otot-otot yang mengontrol saluran kemih
2) Dapat mencegah robeknya perineum pada ibu hamil
3) Mencegah prolapse uteri atau turunnya Rahim (pada wanita)
4) Untuk mengatasi inkontinensia urgensi (keinginan berkemih yang
sangat kuat sehingga tidak dapat mencapai toilet tepat pada waktunya)
5) Mengurangi kemungkinan masalah urinasi seperti inkontinensia pasca
persalinan
6) Mengurangi resiko terkena hemoroid (ambeien)
7) Mempermudah proses persalinan
c. Indikasi
1) Untuk ibu hamil dan bersalin
2) Untuk ibu pasca melahirkan
3) Untuk lansia dengan masalah inkontinensia urin

14
d. Persiapan Pasien
1) Berikan salam, perkenalkan diri anda dan identifikasi klien dengan
memeriksa identitas klien
2) Jelaskan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan. Berikan
kesempatan klien untuk bertanya dan jawab semua pertanyaan klien
3) Minta pengunjung untuk meninggalkan ruangan berprivasi klien
4) Anjurkan klien untuk berkemih/ buang air kecil terlebih dahulu
5) Pasien dipersiapkan untuk mengikuti senam
6) Pasien dipersilahkan duduk/berbaring diatas matras/karpet
e. Persiapan Alat
1) Arloji
2) Matras/karpet
3) Tape recorder + lagu (pelengkap)
4) Ruangan yang nyaman dan tenang
f. Cara Kerja
1) Beri tahu klien bahwa tindakan akan segera dimulai
2) Cek alat-alat yang akan digunakan
3) Dekatkan alat-alat ke sisi tempat tidur klien
4) Atur lingkungan yang nyaman dan jaga privasi klien
5) Cuci tangan
6) Anjurkan klien untuk mengontraksikan otot panggul dengan cara yang
sama ketika menahan kencing (klien harus dapat merasakan otot
panggul) meremas uretra dan anus
7) Bila otot perut atau pantat juga mengeras maka klien tidak berlatih
dengan otot yang benar
8) Putar music/lagu-lagu yang bernada lembut
9) Jika klien sudah menemukan cara yang tepat, anjurkan klien
mengontraksikan dalam hitungan 1-10 atau selama 10 detik, kemudia
istirahatkan selama 10 detik

15
10) Lakukan latihan ini berulang-ulang sampai 10-15 kali per sesi
11) Anjurkan klien melakukan gerakan naik turun dengan posisi berikut ini
sebanyak 20x, buang nafas ketika turun, Tarik nafas ketika naik

12) Anjurkan klien menaik turunkan kaki kanan 10x, lalu kaki kiri naik
turunkan 10x

13) Anjurkan klien melakukan gerakan berikut ini dan tahan gerakan ini
minimal 10 detik

16
14) Anjurkan klien melakukan gerakan seperti mengayuh sepeda sebanyak
30x

15) Anjurkan klien melakukan gerakan rukuk dengan tangan memegang


kursi dan badan diluruskan ketika rukuk dan tahan selama 20 detik

16) Lakukan gerakan seperti gambar dan gerakan naik turun sebanyak 20x

17) Lakukan gerakan seperti gambar dan gerakan naik turun sebanyak 20x

18) Rapikan alat-alat yang telah digunakan

17
19) Rapikan keadaan klien
20) Evaluasi keadaan klien (subyektif dan obyektif) setelah dilakukan
tindakan
21) Berikan reinforcement positif
22) Buat kontrak pertemuan selanjutnya dan akhiri kegiatan dengan baik
23) Kembalikan peralatan ke nurse station dan cuci tangan
g. Hal yang Perlu di Perhatikan
1) Latihan ini dilakukan 3 kali sehari
2) Latihan kegel hanya efektif bila dilakukan secara teratur dan baru
terlihat hasilnya 8-12 minggu
2. Nutrisi Gizi Seimbang
Kesuburan (fertilitas) adalah dapat bekerjanya secara optimal organ-
organ reproduksi baik, pada pria maupun wanita, sehingga dapat melakukan
fungsi fertilisasi dengan baik. Banyak faktor yang mempengaruhi kesuburan
dan keberhasilan pembuahan sel telur oleh sperma, serta tumbuh kembang janin
agar lahir sebagai bayi yang normal dan sehat. Perilaku gizi dan kesehatan
merupakan faktor penting. Pada prinsipnya, seseorang berprilaku makan sehat
jika aneka menu yang dikonsumsinya memberikan gizi seimbang. Gizi
seimbang ini hanya dapat diperoleh dari beraneka ragam bahan makanan.
Makin banyak ragam bahan makanan yang dimakan setiap hari, makin besar
asupan gizi ke dalam tubuh. Kesadaran untuk pola makan sehat itulah yang
sampai kini belum dimiliki kebanyakan wanita usia subur (WUS) berusia muda
(remaja). Ada kecendrungan untuk makan di luar rumah yaitu di tempat-tempat
yang bergengsi dengan pilihan menu tidak memenuhi asas gizi seimbang.
Kesukaan makan fast foods atau junk foods seperti burger, pizza, dan fried
chicken tidak menjamin kebutuhan gizinya. Keadaan ini bisa berdampak buruk
yang akan mempengaruhi kesehatan organ reproduksi.
Reproduksi manusia membutuhkan zat gizi yang cukup. Asupan zat gizi
harus diperhatikan agar mencapai kematangan seksual. Gizi seimbang akan

18
menentukan kesehatan organ reproduksi. Berikut diuraikan beberapa zat gizi
yang berperan dalam kesehatan reproduksi.
a. Karbohidrat
Ketika premenstruasi tidak jarang remaja mengalami penurunan
atau penekanan nafsu makan akibat hormon esterogen. Perubahan asupan
energi tersebut belum didukung data pasti. Ada yang berpendapat bahwa
karbohidrat merupakan sumber peningkatan asupan energi selama fase
luteal, sedangkan yang lain berpendapat bahwa konsumsi softdrink yang
mengandung gula cenderung meningkat selama fase luteal. Dengan
demikian, maka selama fase luteal terjadi peningkatan asupan makanan atau
energi. Akan tetapi, remaja cenderung mengonsumsi fast food yang kurang
akan zat- zat gizi yang secara tidak langsung akan menyebabkan tubuh
kekurangan zat-zat gizi makro dan mikro. Apabila keadaan tersebut
berlangsung terus menerus, maka akan mempengaruhi fungsi organ tubuh
dan terganggunya fungsi reproduksi, seperti gangguan menstruasi.
b. Protein
Unit pembangun dari protein adalah asam amino. Arginin adalah
asam amino yang berfungsi memperkuat daya tahan hidup sperma dan
mencegah kemandulan. Sumber arginin dari bahan makanan adalah ikan,
daging sapi, ayam, kacang-kacangan. Kedelai dan hasil olahan seperti
tempe dan tahu merupakan sumber phytoestrogen. Tahu yang terbuat dari
kacang kedelai mengandung banyak isoflavon. Konsumsi tahu membantu
merangsang produksi hormon estrogen selama menstruasi sehingga
mengurangi peradangan serta kram menstruasi. Kemangi juga kaya dengan
kandungan arginin.
c. Lemak
Lemak memegang peranan penting sebagai sumber asam lemak
esensial yang diperlukan untuk pertumbuhan dan sebagai pengangkut
vitamin larut lemak. Tubuh seorang wanita harus mempunyai simpanan

19
lemak dalam bentuk jaringan adipose sebagai persiapan menyusui.
Menstruasi wanita tidak akan teratur kalau tidak memiliki simpanan lemak
20% dari total berat badan.
Asam lemak esensial seperti asam lemak omega 3, dibutuhkan
tubuh sekitar 3% dari energi total. Wanita dengan asupan asam lemak
omega 3 yang rendah akan cenderung mengalami nyeri haid (dismenorhea).
Studi menunjukkan bahwa mengonsumsi asam lemak omega-3 dalam
makanan sehari-hari akan mengurangi nyeri haid. Ikan tuna dan salmon
mengandung asam lemak omega 3.
d. Vitamin
Kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) mendorong
kelebihan prostaglandin yang dapat memfasilitasi terjadinya
Dysmenorrhea. Agar remaja tidak mengalami gangguan haid tersebut,
dibutuhkan zat gizi mikro yang penting dalam mengurangi kejadian
Dysmenorrhea primer.
e. Vitamin A
Vitamin A merupakan zat gizi larut dalam lemak, esensial untuk
mata, pertumbuhan, diferensiasi sel, reproduksi, dan integritas sistem imun.
Kurang vitamin A (KVA) dikaitkan dengan asupan makanan mengandung
vitamin A yang rendah, frekuensi penyakit infeksi yang tinggi serta siklus
reproduksi. Vitamin A, C, dan E sebagai antioksidan berfungsi menangkal
serangan radikal bebas terhadap dinding sperma dan ovum. Wortel, ubi
merah, buah warna kuning dan oranye seperti manga dan sayur daun hijau
merupakan sumber beta karoten untuk maturasi sperma. Asparagus juga
kaya dengan kandungan vitamin A dan C yang bermanfaat dalam hal
kesuburan dan pembangkit libido. Kecukupan vitamin A untuk remaja dan
dewasa adalah 500-600 RE/hari.
Defisiensi mikronutrien dihubungkan dengan turunnya fungsi
imunitas sehingga mempengaruhi frekuensi, lama dan keparahan penyakit

20
infeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian infeksi selama
kehamilan meningkat pada ibu dengan defisiensi vitamin A, zat besi dan
seng termasuk infeksi pada saluran reproduksi.
f. Vitamin C
Vitamin C berfungsi meningkatkan kesuburan, memperkuat sistem
imun, dan membantu penyerapan zat besi. Buah-buahan, seperti stroberi,
kiwi, avokat, jambu, jeruk, mangga serta sayuran hijau kaya akan vitamin
C yang dapat meningkatkan jumlah sperma dan mobilitasnya. Kecukupan
vitamin C untuk remaja dan dewasa adalah 50-90 mg/hari. Berikut adalah
contoh ‘Sperm Alert Diet” dari Dr.Dawson (Universitas of Texas) yang
menonjolkan khasiat vitamin C dalam mempengaruhi kualitas sperma
yaitu: a) 1½ buah paprika merah (212 mg); b) 2 cangkir brokoli segar,
direbus (196 mg); c) 3 buah kiwi (222 mg); d) 3 buah jeruk (210 mg); dan
e) 2 ½ cangkir stroberi (210 mg)
g. Vitamin E
Vitamin E sangat penting bagi sistem reproduksi. Vitamin E
mendukung produksi sperma dan hormon-hormon seks serta mencegah
kerusakan DNA sperma. Studi menunjukkan bahwa kerusakan pada DNA
sperma dapat menyebabkan infertilitas. Kerusakan DNA tersebut terutama
disebabkan oleh radikal bebas. Vitamin E sebagai antioksidan dapat
mencegah kerusakan DNA sperma. Studi juga menunjukkan bahwa
perempuan yang mengonsumsi vitamin E dua hari sebelum menstruasi
terus-menerus dan tiga hari setelah menstruasi secara signifikan efektif
mengurangi nyeri haid. Sumber utama vitamin E adalah minyak tumbuh-
tumbuhan, terutama minyak kecambah gandum dan biji-bijian seperti biji
labu kuning. Minyak kelapa dan zaitun hanya sedikit mengandung vitamin
E. Sayuran dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin E dalam
jumlah yang terbatas. Kecukupan vitamin E untuk usia 10-12 tahun 11
mg/hari dan usia 13 tahun ke atas 15 mg/hari.

21
h. Asam Folat
Pada beberapa tahun terakhir asam folat menjadi topik paling favorit
mengingat perspektif pencegahannya cukup penting dan beragam. Asam
folat diperlukan tubuh untuk pembentukan DNA dan RNA. Defisiensi asam
folat mengakibatkan kelainan kongenital seperti Neural Tube Defect
(NTD). Asam folat yang diberikan sebelum terjadi kehamilan dikaitkan
dengan penurunan risiko terjadinya kelainan kongenital (NTD). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen folat pada masa
perikonsepsi (sebelum dan sesaat setelah terjadinya konsepsi) dapat
menurunkan risiko NTD sebesar 70%.
Konsumsi 200 mcg sehari diestimasi dapat menurunkan 35-41%
insiden NTD, 400 mcg sehari dapat menurunkan 47-53%. Suplementasi
untuk dewasa 1 mg sehari merupakan rekomendasi untuk keluarga yang
pernah mendapat bayi NTD atau cacat kongenital lain. Suatu studi di
Belanda menunjukkan bahwa jumlah sperma pria yang mengalami
defisiensi asam folat dan seng meningkat 75% setelah diberi suplemen asam
folat 5 mg sehari dan seng 66 mg sehari. Kecukupan asam folat untuk usia
10-12 tahun adalah 300 mcg/hari dan usia 13 tahun ke atas 400 mcg/hari.
Asam folat juga berfungsi dalam pembentukan hemoglobin. Selama
hamil dan menyusui wanita memerlukan lebih banyak asam folat dan zat
besi. Jika dalam makanan tidak mengandung cukup banyak zat-zat gizi
tersebut, maka anemia yang diderita bertambah berat, dan berakibat
perdarahan banyak pada waktu melahirkan, lahir lama atau mudah terkena
infeksi yang berakibat fatal.
Sumber asam folat adalah sayuran berwarna hijau tua, kol dan
keluarga kol, buah-buahan seperti stroberi, biji-bijian, daging, susu dan
sereal yang difortifikasi. Asparagus juga memiliki kandungan asam folat
yang cukup tinggi. Kandungan asam folat dalam berbagai bahan makanan
disajikan pada tabel 1.

22
Pemberian 400 mcg asam folat sebagai suplemen atau susunan diet
sehari, berdasarkan anti-birth defect diet (diet pencegahan kelahiran cacat)
dari Medical College of St. Bartholomeus Hospital London, adalah sebagai
berikut: a) 1 cangkir jus jeruk (10,7 mg); b) 1/3 cangkir serealia segala
merek (0,1 mg); c) ½ cangkir bayam,direbus (0,13 mg); dan d) ½ cangkir
biji-bijian kering,direbus (0,12mg).
i. Vitamin B6
Vitamin B6 dapat meningkatkan kesuburan wanita. Sumber vitamin
B6 adalah ikan, ayam, telur, pisang, wortel, brokoli.
j. Vitamin B12
Vitamin B12 diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
Vitamin B12 dapat menambah dan meningkatkan kualitas sperma. Sumber
dalam makanan meliputi hati, daging merah, ikan, telur dan susu.
Defisiensi vitamin B12 menimbulkan anemia perniosa. Kecukupan vitamin
B12 untuk usia 10-12 tahun adalah 1,8 ug/hari dan usia 13 tahun ke atas 2,4
ug/hari.
k. Zat besi
Zat besi penting untuk transportasi darah dan oksigen di dalam
tubuh. Kaum perempuan perlu menjaga keseimbangan proses ovulasi.
Suatu studi menunjukkan bahwa 40% wanita yang mengalami masalah
ovulasi menjadi subur setelah menambah konsumsi zat besi. Zat besi juga
penting dalam pembentukan sel darah merah. Ikan tuna dan salmon
mengandung zat besi yang tinggi yang membantu merangsang produksi sel
darah merah untuk mengganti kehilangan darah selama menstruasi. Sumber
zat besi juga terdapat dalam hati, daging, kacang-kacangan, maupun sayur-
sayuran. Kecukupan zat besi untuk remaja dan dewasa adalah 13-26
mg/hari.
Defisiensi zat besi atau anemia defisiensi besi diakibatkan oleh
rendahnya asupan besi makanan, terutama besi hem, yang terjadi secara

23
kronis. Pola makan masyarakat Indonesia pada umumnya mengandung
sumber besi hem (hewani) yang rendah dan tinggi sumber besi non hem
(nabati). Anemia secara umum dikaitkan dengan menurunnya imunitas
sehingga meningkatkan risiko terhadap kejadian infeksi.
l. Kalsium
Kalsium merupakan zat gizi mikro yang memiliki peran dalam
mengurangi Dysmenorrhea. Penelitian mengenai suplementasi kalsium
yang dilakukan di Metropolitan Hospital di New York, Amerika Serikat,
menunjukkan bahwa 75% penderita PMS berkurang sakitnya. Pembekakan
dan rasa sakit pada payudara berkurang, begitu pun dengan sakit kepala dan
kejang perut (Dysmenorrhea).
Hasil penelitian pada remaja wanita di SMA 8 Denpasar
menunjukkan bahwa sebagian besar (95%) remaja yang mengalami
Dysmenorrhea berat ternyata tingkat konsumsi kalsiumnya kurang. Ada
hubungan antara tingkat konsumsi kalsium dengan kejadian Dysmenorrhea
(p<0,05). Dengan demikian maka semakin rendah konsumsi kalsium
semakin berat Dysmenorrhea yang dialami.
Pada waktu otot berkontraksi kalsium berperan dalam interaksi
protein di dalam otot, yaitu aktin dan myosin. Bila kalsium dalam darah
kurang, maka otot tidak bias mengendur sesudah kontraksi. Tubuh akan
kaku dan dapat menimbulkan kejang.
Menurut Krummel (1996) menjelaskan bahwa agar sepanjang dan
selama siklus haid tidak menimbulkan keluhan-keluhan atau
ketidaknyamanan, maka remaja wanita sebaiknya mengkonsumsi susu dan
hasil olahannya serta sayuran berdaun hijau sebagai sumber kalsium yang
baik untuk mengurangi nyeri haid. Hal ini sangat bertolak belakang dengan
kebiasaan remaja wanita saat ini, yakni terjadi peningkatan asupan makan
siap saji yang cenderung mengandung tinggi lemak, energi, natrium dan
rendah asam folat, serat, Vitamin A, Vitamin C dan Kalsium.

24
Kalsium juga dikaitkan dengan kesehatan reproduksi, utamanya
pre-eklamsia/eklamsia, berat badan lahir rendah (BBLR) serta kelahiran
prematur. Konsumsi kalsium dapat menurunkan risiko terjadinya pre-
eklamsia/eklamsia secara bermakna. Kalsium juga meningkatkan pH tubuh,
yang menguntungkan bagi sperma dan telur yang sudah dibuahi.
Sumber kalsium utama adalah susu dan hasil olahannya, seperti
keju. Ikan yang dimakan dengan tulang termasuk ikan kering merupakan
sumber kalsium yang baik. Serealia, kacang- kacangan dan hasil kacang-
kacangan, tahu, oncom dan tempe, serta sayuran hijau merupakan sumber
kalsium yang baik juga, tetapi mengandung banyak zat yang menghambat
penyerapan kalsium seperti serat, fitat dan oksalat. Kebutuhan kalsium yang
optimal bagi remaja menurut National Institute of Health (NIH) adalah
1.200- 1.500 mg Ca/hari.
m. Seng
Seng sangat diperlukan untuk pematangan seksual. Bagi pria seng
membantu menjaga fungsi organ seksual, produksi sperma dan
melincahkan sperma. Kekurangan seng menyebabkan penurunan hormone
testosteron, penyusutan testis dan pengurangan produksi sperma yang sehat.
Seng dapat meningkatkan proteksi sperma terhadap kerusakan karena
radikal bebas.
Kekurangan seng ada hubungannya dengan konsumsi yang sudah
diketahui sejak tahun 1960 pada remaja laki-laki di Mesir dan Iran. Gejala
klinis defisiensi seng antara lain gagal tumbuh, pematangan seksual yang
terhambat. Akan terapi, seng dapat meningkatkan pertumbuhan dan
pematangan seksual. Asupan seng akan membantu mengurangi
premenstrual sindrom (PMS) dan Dysmenorrhea. Suplemen seng selama
kehamilan dikaitkan dengan meningkatnya berat badan lahir dan
menurunnya risiko prematuritas.

25
Wanita yang mengalami Dysmenorrhea cenderung kekurangan seng
dan mempunyai prostaglandin yang tinggi. Hormon inilah yang diyakini
menyebabkan kram saat menstruasi. Seng memiliki kandungan antioksidan
dan anti-inflamasi yang berguna menghambat metabolisme prostaglandin.
Asupan seng akan membantu mengurangi kram menstruasi.
Sumber seng paling baik adalah protein hewani, terutama daging,
hati, ayam, telur, kerang, rajungan, lobster, ikan salmon. Serealia tumbuk,
kacang- kacangan dan biji labu kuning juga merupakan sumber yang baik.
Tiram atau kerang-kerangan adalah salah satu makanan laut yang sudah
sejak dahulu dikenal sebagai peningkat gairah seksual atau libido.
Kebutuhan seng pada usia remaja dan dewasa adalah 9,3 – 17,4 mg/hari.
n. Magnesium
Magnesium adalah mineral penting dalam mempertahankan otot.
Wanita dengan kekurangan magnesium akan menghasilkan otot yang
terlalu aktif sehingga menyebabkan nyeri haid dan gejala yang hebat.
Menambahkan magnesium dalam makanan sehari-hari akan membantu
untuk mengurangi atau mencegah kram dan nyeri menstruasi.
Sayuran hijau adalah sumber utama magnesium, kacang- kacangan
dan biji-bijian merupakan sumber magnesium yang baik, seperti tepung
kedelai, tahu, tempe, kacang mete, jagung manis, dan almond. Sedangkan
buah- buahan umumnya mengandung sedikit magnesium.
o. Selenium
Selenium merupakan antiokdidan yang berperan mencegah oksidasi
sel-sel sperma. Studi yang dilakukan Universitas Padua Italia, menunjukkan
bahwa kekurangan selenium dapat menyebabkan infertilitas pada pria.
Sumber utama selenium adalah daging merah, hati dan makanan dari laut.
Kecukupan selenium yang dianjurkan untuk untuk usia 10-12 tahun adalah
20 ug/hari dan usia 13 tahun ke atas adalah 30 ug/hari.

26
p. Zat Gizi Penting Masa Prakonsepsi
Fokus utama pada prakonsepsi diprioritaskan pada asam folat, zat
besi, vitamin C, E, B6, seng, selenium, dan kalsium. Berikut adalah pesan
yang perlu diperhatikan oleh pasangan suami istri: Tiga bulan menjelang
masa prakonsepsi: a) Vitamin dalam jumlah cukup diperlukan; b) Perlu
penambahan pil suplemen antioksidan dan 400 mcg asam folat, perbanyak
mengonsumsi alpukat, minyak bunga matahari, dan biji wijen; c) Seng
diperlukan untuk proteksi sperma terhadap radikal bebas; d) Asam lemak
esensial diperlukan wanita, dengan memperbanyak konsumsi ikan segar;
Kafein yang terkandung dalam sejumlah minuman perlu dikurangi.
Dua bulan menjelang masa prakonsepsi: a) Vitamin C harus
diperbanyak, sekitar 500 mg/hari agar tubuh kebal terhadap infeksi; dan b)
Beta karotin yang terkandung dalam wortel, jeruk, kiwi dan buah lain
dibutuhkan. Satu bulan menjelang masa prakonsepsi: Vitamin C perlu
ditingkatkan sampai 1000 mg/hari.
3. Manajemen Stress
a. Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada 2 pengertian stress:
(1) Gangguan atau kekacauan mental dan emosional, (2) Tekanan. Secara
teknis psikologik stress didefinisikan sebagai suatu respons penyesuaian
seseorang terhadap situasi yang dipersepsikan menantang atau mengancam
kesejahteraan orang yang bersangkutan. Stress is an adaptive response to
a situation that is perceived as challenging or threatening to the person’s
well-being. Jadi stress merupakan suatu respon fisiologik ataupun perilaku
terhadap ‘stressor‘ hal yang dipandang sebagai menyebabkan cekaman,
gangguan keseimbangan (homeostasis), baik internal maupun eksternal.
Dalam pengertian ini, bisa kita perjelas bahwa stress bersifat subjektif
sesuai persepsi orang yang memandangnya. Dengan perkataan lain apa

27
yang mencekam bagi seseorang belum tentu dipersepsikan mencekam
bagi orang lain.
b. Indikasi/gejala stress
Untuk mengetahui seseorang berada dalam keadaan stress atau
tidak, ada sejumlah gejala yang bisa dideteksi secara mudah yaitu:
1) Gejala fisiologik, antara lain: Denyut jantung bertambah cepat, banyak
berkeringat (terutama keringat dingin), pernafasan terganggu, otot
terasa tegang, sering ingin buang air kecil, sulit tidur, gangguan
lambung dan sebagainya.
2) Gejala psikologik, antara lain: Resah, sering merasa bingung, sulit
berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, perasaan tidak enak, atau
perasaan kewalahan (exhausted) dan sebagainya
3) Gejala perilaku, antara lain: berbicara cepat, menggigit kuku,
menggoyang-goyangkan kaki, ticks, gemetar, perubahan nafsu maka
(bertambah atau berkurang).
c. Penyebab
Stresor adalah sesuatu yang menyebabkan atau meningkatkan
stres. Berikut ini adalah beberapa hal yang menyebabkan stres:
1) Akademik
Merupakan stressor terbesar bagi mahasiswa: tekanan untuk tidak gagal.
2) Hubungan dengan Lawan Jenis
Permasalahan terkait hubungan dengan lawan jenis dapat menambah
tekanan.
3) Lingkungan
Lingkungan tertentu dapat membawa stres seperti membahas topik yang
sedang hangat, kemacetan lalu lintas, ketiadaan tempat parkir dan lain-
lain.

28
4) Ekstrakurikuler
Beberapa siswa merasa tertekan untuk mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler yang merupakan bagian dari rutinitas sehari-hari
mereka.
5) Peers
Tekanan teman sebaya merupakan pemicu utama stres, terutama
tekanan yang dipengaruhi secara negatif.
6) Manajemen Waktu
Stressor terbesar adalah tidak tahu bagaimana merencanakan dan
melaksanakan kegiatan sehari-hari misalnya sekolah, bekerja, waktu
belajar, kegiatan ekstrakurikuler.
7) Keuangan
Beberapa siswa lebih memikirkan permasalahan uang daripada sesuatu
yang harus mereka lakukan.
8) Orangtua
Orang tua bisa menjadi penyebab stress terutama tekanan dari orang tua
untuk sukses.
d. Dampak akibat stress
Dampak stress dibedakan dalam 3 kategori, yaitu dampak
fisiologik, dampak psikologik dan dampak perilaku.
1) Dampak Fisiologik
Secara umum orang yang mengalami stress mengalami sejumlah
gangguan fisik seperti: mudah masuk angin, mudah pening-pening,
kejang otot (kram), mengalami kegemukan atau menjadi kurus yang
tidak dapat dijelaskan, juga bisa menderita penyakit yang lebih serius
seperti, cardiovasculer dan hypertensi.

29
Secara jelas dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Gangguan pada organ tubuh: hiperaktif dalam salah satu sistem
tertentu.
1. Nyeri otot: ketegangan otot, kelemahan otot tertentu
2. Tekanan darah naik: kelainan fungsi jantung dan arteri
3. Sistem pencernaan: maag, diare
b) Gangguan pada sistem reproduksi
1. Menstruasi tidak lancar
2. Kegagalan ovulasi pada wanita, impoten pada pria, kurang
produksi semen pada pria, kehilangan gairah sex
c) Gangguan pada sistem pernafasan
1. Asma, bronchitis
2. Gangguan lainnya, seperti pening (migrane), ketegangan otot,
rasa bosan.
2) Dampak Psikologik :
a) Keletihan emosi, jenuh, kelelahan dalam aktifitas yang memerlukan
energi.
b) Terjadi ‘depersonalisasi’, dalam keadaan stress yang
berkepanjangan, adanya keletihan emosi, dapat menyebabkan yang
bersangkutan memperlakuan orang lain sebagai ‘sesuatu’ daripada
sebagai ‘seseorang’
c) Penurunan pencapaian pribadi, sehingga menyebabkan
penurunan kemampuan dan keberhasilan
3) Dampak Perilaku
a) Ketika stress menjadi distress, prestasi menurun dan sering terjadi
tingkah laku menyimpang yang tidak diterima oleh masyarakat
b) Tingkat stress yang cukup tinggi berdampak negatif pada
kemampuan menerima informasi, mengambil keputusan,
mengambil langkah tepat.

30
c) Mahasiswa yang stress berat seringkali banyak membolos atau
tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kondisi stres bisa menyebabkan tekanan fisik atau mental yang
dapat menyebabkan penyakit fisik dan mental atau masalah emosional.
Berikut ini adalah perubahan bagian tubuh yang dipengaruhi oleh stress:
1) Rambut
Tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan rambut rontok berlebihan
dan kebotakan.
2) Otot
Nyeri spasmodik di leher dan bahu, pegal-pegal, nyeri punggung
bawah, otot berdenyut, tics.
3) Saluran pencernaan
Stres dapat menyebabkan atau memperburuk penyakit pencernaan,
saluran pencernaan menjadi terganggu, termasuk gastritis, lambung dan
duodenum, ulkus, kolitis ulseratif, dan iritasi usus.
4) Kulit
Beberapa orang bereaksi terhadap stres dengan menunjukkan gejala
mengalami masalah kulit seperti eksim dan psoriasis.
5) Organ reproduksi
Stres mempengaruhi sistem reproduksi, menyebabkan gangguan
menstruasi dan infeksi vagina berulang pada wanita, impotensi dan
ejakulasi dini pada pria.
6) Paru-paru
Tingginya stres mental atau kadar emosional yang negatif
mempengaruhi kondisi individu ditunjukkan dengan penyakit asma.
7) Jantung
Penyakit jantung dan hipertensi terkait dengan akumulasi stres.

31
8) Otak
Stres memicu masalah mental dan emosional seperti insomnia, sakit
kepala, perubahan kepribadian, lekas marah, kecemasan, dan depresi.
9) Mulut
Sariawan, bibir kering berlebihan merupakan gejala stres.
e. Pencegahan Stres
1) Belajar mengatakan "TIDAK!". Kita tahu batas kemampuan yang bisa
kita lakukan. Mengambil lebih dari yang kita bisa bukanlah pilihan
yang baik. Tidak apa-apa jika kita tidak melakukan semua kegiatan,
pekerjaan, pertemuan saat ini. Aturlah di lain waktu yang
memungkinkan.
2) Perbaiki sikap. Jangan mudah panik, pikiran kita adalah alat yang
ampuh, gunakan untuk mendukung kita, bukan untuk membebani
kita. Berpikirlah secara rasional agar terhindar dari stres.
3) Tertawa. Lakukan sesuatu yang dinikmati, kerjakan hobi, bergaullah
dengan teman-teman dan belajarlah untuk menyeimbangkan hidup. Jika
merasa kesal, ungkapkan perasaan tersebut. Jangan menyimpannya
untuk diri sendiri karena hanya akan menambah stres.
4) Hindari alcohol dan rokok. Ketika mengkonsumsi alkohol atau rokok,
mungkin merasa stres berkurang, tetapi setelah itu kita akan kembali
merasa stres dan mungkin lebih buruk daripada sebelum
mengkonsumsinya.
5) Makan makanan sehat. Dapatkan nutrisi yang tepat, makanlah makanan
yang masih panas/hangat yang dimasak di rumah sehari-hari.
6) Lakukan olah raga. Aktivitas fisik dapat membantu membakar kalori
juga membakar stres. Latihan/aktifitas fisik/olah raga membantu
melepaskan ketegangan. Latihan selama 30 menit sehari selama
minimal 3 kali per minggu.

32
7) Santaikan pikiran dan tubuh. Tarik napas dalam-dalam, visualisasikan
kesuksesan. Atur beberapa “waktu untuk sendiri" lakukan sesuatu yang
bisa dinikmati. Fokuskan perhatian pada saat ini.
8) Istirahat/Tidur. Paling tidak 7 jam tidur yang dibutuhkan agar otak dan
tubuh bisa berfungsi pada tingkat optimal. Hindari tidur siang lebih dari
1 jam.
9) Jalin hubungan yang sehat. Berbicara dan bergaullah dengan teman-
teman secara menyenangkan tanpa konflik. Ciptakan beberapa
hubungan yang memungkinkan kita bisa berbagi masalah dengannya.
10) Manajemen waktu. Lakukan perencanaan, buat jadwal, atau bahkan
daftar pekerjaan. Setelah itu, lakukan jadwal untuk setiap minggu.
Kemudian membuat jadwal untuk setiap hari, sehingga kita memiliki
jadwal yang teratur dan rapi. Tandai secara khusus kapan seharusnya
mengikuti pertemuan, waktu belajar untuk mata pelajaran tertentu,
waktu makan, kegiatan yang menyenangkan dan istirahat/tidur.
11) Organisasikan jadwal kegiatan. Belajarlah bagaimana mengatur
catatan/dokumen pekerjaan/sekolah, identifikasi tugas dan perhatikan
tanggal jatuh tempo penting, tanggal ujian. Tetapkan prioritas untuk hari
itu.
12) Atur keuangan. Susunlah anggaran untuk pengeluaran bulanan,
belanjakan uang sesuai dengan kebutuhan. Utamakan kebutuhan yang
penting, misalnya: sewa rumah, biaya kuliah, bahan makanan, barang-
barang pribadi, operasional rumah, bensin, dll. Tentukan berapa banyak
uang yang bisa digunakan untuk “refreshing".
13) Pahami spiritualitas. Rohani dianggap sebagai salah satu cara yang
dapat membantu untuk menemukan makna dalam hidup, meningkatkan
kemampuan untuk terhubung dengan orang lain.
14) Tentukan gaya belajar/bekerja. Ketahuilah, apakah kita seorang
visual, auditori atau kinestetik.

33
15) Tenang, santai, relaks. Tarik napas dalam-dalam, tahan, hembuskan
pelahan, lakukan berulang. Luangkan waktu untuk dapat memastikan
pekerjaan dapat dilakukan dengan baik.
16) Cari sistem pendukung. Sistem pendukung bisa ibu, ayah, adik,
saudara, teman, sahabat istimewa atau konselor. Temukan seseorang
yang membuat kita merasa nyaman berbagi perasaan. Kadang-kadang
semua yang kita butuhkan adalah untuk melampiaskan rasa frustrasi
tersebut.
17) Lakukan perubahan di lingkungan. Jika merasa sulit untuk konsentrasi
di tempat lama, cobalah pindah ke tempat di mana tidak ada musik
yang keras, dan lampu terang.
18) Delegasikan tugas tanggung jawab. Ketika tugas sekolah atau pekerjaan
menjadi luar biasa, bagi pekerjaan atau tanggung jawab tersebut karena
dengan membagi tugas akan membantu mengurangi tekanan dan stress.
f. Manajemen Stress
Stres tidak bisa dihindarakan, karena stres merupakan salah satu
bagian dari perkembangan menuju kedewasaan. Sehingga yang bisa kita
lakukan adalah me- management stress, bagaimana kita bisa menyikapi
stres supaya kehidupan tetap terus berjalan. Berikut beberapa cara
manajemen stres yang bisa kita latih:
1) Action Based Strategies (ABS)
Action Based Strategies (ABS) ini meliputi job analysis,
managing your boundaris dan the breaking point.
Job analysis adalah kegiatan mencatat, mempelajari dan
menyimpulkan keterangan-keterangan atau fakta-fakta yang
berhubungan dengan masing- masing jabatan secara sistematis dan
teratur.
Managing your boundaris adalah pembatasan diri tentang hal-
hal yang boleh dilakukan baik diri sendiri maupun oleh orang lain

34
terhadap diri kita. Penetapan batas diri merupakan cara tegas dan
bertanggungjawab untuk membuat orang lain yakin menghormati
kebutuhan seseorang dan seseorang akan menghormati orang lain.
Batas adalah pagar simbolis, didefinisikan oleh nilai-nilai diri, yang
melindungi keyakinan diri, ide-ide, emosi, hak, kebutuhan dan ruang
pribadi.
The breaking point adalah salah satu strategi manajemen stress
yang menekankan pada keberanian seseorang untuk keluar dari
batasan-batasan, kebiasaan atau rutinitas yang dianggap membatasi diri
seseorang dan menjadi stressor tersendiri. (Stuart, Gail W. 2009)
2) Perception Based Strategies (PBS)
Perception Based Strategies (PBS) ini meliputi positive
thinking; thought awareness, rational thinking, positive; cognitive
restructuring, imagery dan using afirmations.
Positive thinking adalah mengubah cara pandang negatif
menjadi positif dengan tujuan mengetahui penyebab perasaan negatif
yang dirasakan, membantu mengendalikan diri dan membantu
pertumbuhan probadi.
Thought awareness, rational thinking, positive thinking adalah
tindakan mengubah pemikiran negatif yang berasal dari persepsi yang
tidak tepat. Bertujuan untuk mengubah pemikiran negatif atau persepsi
yang tidak tepat menjadi pemikiran positif dengan proses menyadari
secara rasional.
Cognitive restructuring adalah menata kembali pikiran yang
menyebabkan timbulnya stres, perasaan tidak bahagia dan suasana
hati serta pemikiran negatif yang tidak perlu menjadi pikiran yang
positif. Kegiatan ini dapat membantu kita mengubah suasana hati
sehingga kita bisa mendekati situasi dalam kerangka berpikir positif.

35
Imagery adalah suatu teknik visualisasi untuk membantu tubuh
memasuki fase relaksasi sehingga dapat membantu mengelola stres dan
mereduksi ketegangan dengan cepat dan mudah.
Afirmations adalah latihan untuk pernyataan atau penetapan
atau penegasan atau peneguhan yang positif secara berulang-ulang
untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang baru (Kristyaningsih,
Keliat, Helena, 2009).
3) Coping Strategies (CS)
Coping Strategies (CS) ini meliputi Toffler’S Stability Zones,
Meditation, How To Be Patient, Ready For a Real, Surviving Business
Travel Vacation.
Toffler’S Stability Zones adalah sesuatu hal yang membuat kita
merasa aman dan terlindung dari hal-hal yang mengancam diri kita.
Jenis zona stabilitas terdiri dari orang, tempat, ide, hal-hal (harta benda),
dan organisasi. Bertujuan untuk memberikan rasa nyaman,
menciptakan suasana santai, memberikan rasa aman dan terlindungi.
Meditation berasal dari bahasa latin ”meditatum”, dalam
bahasa inggris berarti ”to ponder”, jika diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia sama dengan kontemplasi. Meditasi dapat didefinisikan
sebagai suatu aktivitas yang mengakibatkan hubungan erat dengan
Tuhan. Meditasi adalah menunggu. Menunggu berarti bersungguh-
sungguh membiarkan sebuah proses berlangsung secara lengkap.
Seseorang yang dapat menunggu adalah orang yang mempunyai
kepercayaan dan oleh karena itu dia mempunyai kesabaran untuk
menunggu. Jadi kemampuan untuk menunggu menggambarkan
kesabaran dan kepercayaan. Meditasi sangat membantu membersihkan
pikiran kita dan meningkatkan konsentrasi.
How To Be Patient adalah sebuah keadaan dimana seseorang
menunjukkan perilaku yang mampu mengendalikan dirinya dan

36
menahan respons sesuatu yang tidak disenangi tepat ketika sesuatu itu
terjadi pertama kali. Sabar dalam bahasa Indonesia berarti: tahan
menghadapi cobaan seperti tidak lekas marah, tidak lekas putus asa
dan tidak lekas patah hati.
Ready For a Real Vacation, vacation adalah suatu perjalanan
khusus (a spesific trip or journey) untuk rekreasi dan wisata. Bertujuan
untuk menurunkan stress, menjaga kesehatan fisik dan mental,
meningkatkan kualitas tidur dan menjaga suasana hati (mood).
Surviving Business Travel adalah membuat suatu perjalanan
bisnis menjadi menarik, sehingga menjauhkan dari stres selama
perjalanan bisnis.
4) Managing Performances Stress (MP)
Managing Performances Stress (MP) ini meliputi performance
planning, centering.
Performance planning, adalah membuat daftar rencana kerja
yang digunakan untuk mempersiapkan pekerjaan. Bertujuan untuk
meningkatkan ektifitas dan efesiensi kerja.
Centering atau keterpusatan yaitu merupakan suatu teknik atau
cara yang dipergunakan untuk menyatukan dan mengelola seluruh
energi yang dimiliki oleh individu dalam kehidupannya. Bertujuan
untuk belajar menenangkan pikiran selama stres dengan mengubah stres
menjadi konsentrasi.
5) Relaxation & Sleep (RS)
Relaxation & Sleep (RS) ini meliputi physical relaxation
techniques; how to relax after a hard day; rest, relaxation & sleep;
getting a good night’s sleep.
Physical relaxation techniques adalah suatu metode melakukan
napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan
menghembuskan napas secara perlahan. Bertujuan untuk merelaksasi

37
otot-otot wajah, mengurangi hot flashes pada wanita menopause,
menurunkan tekanan darah, menurunkan resiko serangan jantung.
How to relax after a hard day adalah strategi terapeutik yang
dapat diterima dan sering digunakan dalam terapi psikologis, biasa
digunakan pada klien dengan kecemasan (Stuart, 2009). Relaksasi
setelah mengalami hari yang berat adalah merilekskan tubuh dari
ketegangan dan tekanan dari pekerjaan atau tugas-tugas lain setelah
beraktivitas yang berat. Setiap individu memiliki cara masing-masing
untuk relaksasi, ada yang merasa rileks dengan melakukan aktivitas
motorik seperti olahraga, jogging, dan latihan fisik lain. Sementara yang
lainnya merasa rileks dengan teknik pernafasan dan relaksasi otot
progresif (Townsend, 2009). Bertujuan untuk menurunkan ketegangan
dan kecemasan.
Rest, relaxation & sleep adalah penatalaksanaan stres
dengan cara pemenuhan kebutuhan istihat dan tidur. Bertujuan untuk
mengurangi ketegangan otot, menurunkan kelelahan tubuh,
menjernihkan pikiran yang selama ini tertekan, mengurangi stress/
menurunkan kecemasan.
Getting a good night’s sleep adalah kondisi tidur malam yang
sempurna yang merupakan cara terbaik untuk mendapatkan kembali
energi yang telah digunakan selama seharian untuk bekerja atau
beraktivitas. Bertujuan untuk membantu menghilangkan stress di pagi
hari sehingga dapat memulai hari dengan rasa segar dan penuh energi.
6) Self-Confidence & Self-Esteem (SC-SE)
Self-Confidence & Self-Esteem (SC-SE) ini meliputi how to
confident are you; building self confidence, boosting your self; beating
self sabotage.
How to confident are you adalah sikap atau keyakinan atas
kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak

38
terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai
keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam
berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat
mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Berttujuan agar
individu mampu menilai tingkat self confident.
Building self confidence adalah membangun rasa percaya diri.
Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang cara membangun
kepercayaan diri pada seseorang dan mengidentifikasi cara membangun
kepercayaan diri.
Boosting your self meningkatkan harga diri. Stuart (2009),
mengatakan bahwa harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil
yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi
ideal dirinya. Salah satu komponen konsep diri yaitu harga diri
dimana harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri
dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri.
Dapat diartikan bahwa harga diri menggambarkan sejauhmana individu
tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memeiliki kemampuan,
keberartian, berharga, dan kompeten. Sementara itu, Buss (1973)
memberikan pengertian harga diri sebagai penilaian individu terhadap
dirinya sendiri, yang sifatnya implisit dan tidak diverbalisasikan.
Bertujuan meningkatkan penerimaan diri dan meningkatkan rasa
percaya diri.
Beating self sabotage, sabotase diri (self-sabotage), atau
merusak atau menggagalkan diri, adalah semacam perilaku disadari atau
tak disadari yang menggerogoti kesempatan untuk keberhasilan dan
keberhasilan seseorang di dalam hidupnya. Bertujuan untuk memahami
bahwa sabotase diri terjadi bukan karena seseorang lemah, melainkan,
karena impian seseorang yang lemah; mengambil tindakan dan

39
menggunakan teknik Mengalahkan Sabotase Diri untuk memperkuat
daya tarik dari mimpi seseorang untuk menghindari sabotase diri.
7) Anger Management.
Anger Management ini meliputi how good is your anger
management, anger management.
How good is your anger management, marah adalah kondisi
emosional yang bervariasi mulai dari yang ringan sampai berat dan
kasar. Respon ini diikuti dengan perubahan secara fisiologis dan
biologis seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah dan level
hormone epinephrine dan nor-epinephrine (APA, 2006 dalam
Townsend, 2009). How good is your anger management adalah satu
metoda atau cara untuk mengukur kemampuan individu dalam
mengontrol marah. Bertujuan untuk menilai kemampuan individu
dalam mengontrol marah, mengukur sejauh mana individu berisiko
mengalami marah secara maladaptif, mengetahui terapi yang tepat
diterapkan pada tiap level marah.
Anger management adalah proses belajar bagaimana untuk
"tenang" dan meredakan emosi negatif dari kemarahan sebelum sampai
ke tingkat yang lebih merusak. Bertujuan untuk mengembangkan
teknik untuk menghadapi dan mengusir respon negatif dan emosi
sebelum menyebabkan stres, kecemasan dan ketidaknyamanan
(Rochmawati, 2014)

E. Penyuluhan dan Edukasi Kesehatan pada Ibu dengan Masalah Gangguan


Kesehatan Reproduksi
1. Konsep Dasar WUS
a. Pengertian
Wanita usia subur (WUS) adalah wanita yang keadaan organ reproduksinya
berfungsi dengan baik antara umur 20-45 tahun. Pada wanita usia subur ini

40
berlangsung lebih cepat dari pada pria. Puncak kesuburan ada pada rentang
usia 20-29 tahun.
Masalah kesuburan alat reproduksi merupakan hal yang sangat penting
untuk diketahui. Dimana dalam masa wanita subur ini harus menjaga dan
merawat personal hygiene yaitu pemeliharaan keadaan alat kelaminnya
dengan rajin membersihkannya. Oleh karena itu WUS dianjurkan untuk
merawat diri.
b. Tanda-tanda wanita subur
3. Siklus haid
Wanita yang mempunyai siklus haid teratur setiap bulan biasanya subur.
Satu putaran haid dimulai dari hari pertama keluar haid hingga sehari
sebelum haid datang kembali, yang biasanya berlangsung selama 28
hingga 30 hari. Oleh karena itu siklus haid dapat dijadikan indikasi
pertama untuk menandai seorang wanita subur atau tidak. Siklus
menstruasi dipengaruhi oleh hormon seks perempuan yaitu esterogen
dan progesteron. Hormon-hormon ini menyebabkan perubahan
fisiologis pada tubuh perempuan yang dapat dilihat melalui beberapa
indikator klinis seperti, perubahan suhu basal tubuh, perubahan sekresi
lendir leher rahim (serviks), perubahan pada serviks, panjangnya siklus
menstruasi (metode kalender) dan indikator minor kesuburan seperti
nyeri perut dan perubahan payudara.
4. Alat pencatat kesuburan
Kemajuan teknologi seperti ovulation thermometer juga dapat dijadikan
sebagai alat untuk mendeteksi kesuburan seorang wanita. Thermometer
ini akan mencatat perubahan suhu badan saat wanita mengeluarkan
benih atau sel telur. Bila benih keluar, biasanya thermometer akan
mencatat kenaikan suhu sebanyak 0,2 derajat celsius selama 10 hari.
Namun jika wanita tersebut tidak mengalami perubahan suhu badan
pada masa subur, berarti wanita tersebut tidak subur.

41
5. Tes Darah
Wanita yang siklus haidnya tidak teratur, seperti datangnya haid tiga
bulan sekali atau enam bulan sekali biasanya tidak subur. Jika dalam
kondisi seperti ini, beberapa tes darah perlu dilakukan untuk
mengetahui penyebab dari tidak lancarnya siklus haid. Tes darah
dilakukan untuk mengetahui kandungan hormon yang berperan pada
kesuburan seorang wanita.
6. Pemeriksaan fisik
Untuk mengetahui seorang wanita subur juga dapat diketahui dari organ
tubuh seorang wanita. Beberapa organ tubuh, seperti buah dada,
kelenjar tiroid pada leher, dan organ reproduksi. Kelenjar tiroid yang
mengeluarkan hormon tiroksin berlebihan akan mengganggu proses
pelepasan sel telur. Sedangkan pemeriksaan buah dada ditujukan untuk
mengetahui hormon prolaktin di mana kandungan hormon prolaktin
yang tinggi akan mengganggu proses pengeluaran sel telur. Selain itu,
pemeriksaan sistem reproduksi juga perlu dilakukan untuk mengetahui
sistem reproduksinya normal atau tidak.
7. Track record
Wanita yang pernah mengalami keguguran, baik disengaja ataupun
tidak, peluang terjangkit kuman pada saluran reproduksi akan tinggi.
Kuman ini akan menyebabkan kerusakan dan penyumbatan saluran
reproduksi.
c. Perhitungan Masa Subur
Ada beberapa metode yang digunakan untuk dapat menghitung masa subur
seorang wanita. Metode yang paling efektif adalah dengan menggunakan
pendekatan berbagai indikator biasanya perubahan suhu yang
dikombinasikan dengan perubahan lendir serviks. Indikator-indikator ini
secara ilmiah telah terbukti merefleksikan perubahan hormonal dan status
kesuburan secara akurat.

42
Perhitungan masa subur dengan menggunakan sistem kalender adalah cara
natural atau alamiah yang digunakan hanya bila seorang wanita mempunyai
siklus menstruasi yang teratur. Perhitungan masa subur ini didasarkan saat
ovulasi terjadi pada hari ke 14 dari menstruasi yang akan datang dan
dikurangi 2 hari karena sperma dapat hidup selama 48 jam setelah ejakulasi
serta ditambahkan 2 hari karena sel telur dapat hidup 24 jam setelah ovulasi.
Dengan mengetahui masa subur, ini akan bermanfaat bagi pasangan yang
bermasalah dalam mendapatkan keturunan, yaitu dengan cara:
1) Menilai kejadian dan waktu terjadinya ovulasi
2) Memprediksikan hari-hari subur yang maksimum
3) Mengoptimalkan waktu untuk melakukan hubungan seksual untuk
mendapatkan kehamilan
4) Membantu mengindentifikasi sebagian masalah infertilitas.
Kurangnya pengetahuan tentang kesuburan alat reproduksi khususnya pada
wanita, sering kali di kaitkan dengan berbagai macam penyakit, padahal
tingkat masa kesuburan setiap orang berbeda tergantung kondisi fisik,
mental dan kebersihnnya. Ketidaksuburan alat reproduksi sering kali juga
dikaitkan dengan berbagai penyakit yang diderita oleh salah satu pasangan
yang mengidapnya, diantaranya 40% faktor ketidaksuburan disebabkan
oleh wanita sedangkan 40% lain oleh sebab pria, dan sisa 20% karena
keduanya.
Namun pada dasarnya ketidaksuburan alat reproduksi pada wanita
disebabkan oleh:
1) Disfungsi hormone
2) Tersumbatnya saluran telur
3) Endometriosis
4) Kista Ovarii
5) Pergerakan sperma yang kurang baik

43
Oleh karena itu Wanita Usia Subur (WUS) harus melakukan pemeriksaan
kesehatan (pemeriksaan alat kelamin) walaupun ia memiliki siklus haid atau
menstruasi yang teratur. Hal ini bukan tanda bahwa wanita itu subur.
Artinya WUS harus sehat bebas dari penyakit kelamin. Sebelum menikah
WUS sebaiknya melakukan pemeriksaan kesehatan agar mengetahui
kondisi organ reproduksinya apakah berfungsi dengan baik. Dengan
mengadakan pemeriksaan kesehatan maka akan mencegah penyakit alat
kelamin. Alat kelamin wanita sangat berhubungan dengan dunia luar yang
melalui liang senggama, saluran mulut rahim, rongga atau ruang rahim.
Saluran telur (tuba falopi) yang bermuara dalam ruang perut. Karena adanya
hubungan yang langsung ini infeksi alat kelamin wanita disebabkan oleh
hubungan seks yang tidak sehat, sehingga infeksi bagian luarnya
berkelanjutan dapat berjalan menuju ruang perut dalam bentuk infeksi
selaput dinding perut atau disebut juga peritonitis.
b. Konsep Dasar Keputihan
a. Pengertian keputihan
Istilah “keputihan” merupakan istilah lazim digunakan oleh masyarakat
untuk menyebut penyakit kandidiasis vaginal yang terjadi pada daerah
kewanitaan. Penyakit “keputihan” merupakan masalah kesehatan yang
spesifik pada wanita. Sebuah survei telah dilakukan terhadap pengunjung
wanita pada beberapa apotek di Yogyakarta selama satu bulan
menunjukkan bahwa 60% pengunjung wanita tersebut sedang atau pernah
menggunakan obat untuk mengatasi masalah kesehatan pada organ
reproduksinya dan yang relatif sering adalah apa yang dikenal dengan
“keputihan”. Sebanyak 50% pelajar putri sekolah menengah dan perguruan
tinggi pernah mengalami keputihan ketika berusia kurang dari 25 tahun.
b. Penyebab keputihan
Keputihan paling umum disebabkan oleh jamur Candida,spp, terutama
Candida albicans yang menginfeksi secara superfisial atau terlokalisasi.

44
Penyakit ini seringkali dalam istilah medis disebut candidiasis vaginal atau
vulvovaginal candidiasis (VVC) atau vaginitis candida albinacans.
“Keputihan” dapat disertai gejala atau tanpa ada gejala yang dirasakan,
tetapi jika dilakukan pembiakan sekret vagina akan terlihat adanya jamur
Candida, spp atau Selain Candida albicans.
Penyebab lain adalah Candida glabrata yang kasusnya mempunyai
kecenderungan meningkat. Seringkali wanita merasa mampu mengenali
sendiri bahwa sedang menderita keputihan tanpa merasa perlu
memeriksakan diri ke dokter untuk memperoleh pemeriksaan secara lebih
detail, namun langsung diobati sendiri dengan obat – obat keputihan yang
dijual bebas. Pada kasus ini, tindakan tersebut cukup berisiko, karena
apabila kurang tepat dalam pengenalan penyakitnya dapat menyebabkan
kurang tepat pula obat yang dipilih, sehingga selain efektivitas terapi tidak
tercapai juga akan berisiko pada munculnya resistensi sehingga jamur
semakin kebal dengan obat. Tindakan swamedikasi hanya
direkomendasikan jika sebelumnya telah pernah didiagnosis keputihan oleh
dokter dan kembali muncul gejala yang sama atau mengalami kekambuhan.
c. Faktor Resiko Pada Wanita.
Beberapa hal dapat meningkatkan resiko untuk menderita keputihan antara
lain penggunaan kontrasepsi jenis oral, diafraghma dengan spermatisida,
kondom, dan IUD (Intrauterine Device).
d. Gejala dan Tanda Klinis
Gejala yang muncul pada vulvovaginal candidiasis adalah kemerahan pada
vulva di vagina, bengkak, iritasi, dan rasa terbakar serta panas pada daerah
vagina. Tanda lain yang tampak adalah lendir putih berlebihan, dapat
berupa gumpalan seperti keju, dan tidak berbau. Apabila lendir berbau
menyengat seperti telur busuk, maka penyebabnya bukan lagi jamur
kandida, namun kemungkinan bakteri. Penderita terkadang juga mengalami
nyeri atau rasa sakit saat berkemih. Penegakan diagnosis terhadap

45
keputihan ini dilakukan oleh dokter dan idealnya harus didukung data
laboratorium terkait.
e. Pengobatan Keputihan
Pengobatan keputihan dilakukan dengan menggunakan obat anti jamur
untuk keputihan. Tindakan tanpa obat yang mendukung penyembuhan
dapat dilakukan dengan mengindari penggunaan sabun atau parfum vagina
untuk mencegah iritasi, menjaga agar area bagian kewanitaan tetap bersih
dan kering dan menghindari penggunaan pakaian dalam yang ketat dan
tidak menyerap keringat. Meminum minuman yogurt yang mengandung
Lactobacillus acidophilus setiap hari akan mengurangi kekambuhan.
Obat –obat anti jamur (dalam nama generik) yang dapat digunakan untuk
keputihan adalah sebagai berikut: butoconazole, klotrimazol, mikonazol,
tikonazol, ekonazol, fentikonazol, nystatin, terkonazol, ketokonasol,
itrakonazol, dan flukonazol, yang diproduksi oleh berbagai pabrik obat
dengan berbagai merek dagang. Obat – obat tersebut dapat digunakan
secara oral atau diminum, maupun secara topikal atau penggunaan langsung
di daerah kewanitaan. Secara oral direkomendasikan anti jamur yang
mengandung flukonazol, sedangkan secara topikal adalah butokonazol,
klotrimazol, mikonazol, nistatin, terkonazol, dan tiokonazol.
f. Tindakan Pencegahan
Keadaan yang lembab pada daerah kewanitaan akan lebih mendukung
berkembangnya jamur penyebab keputihan ini. Sangat disarankan untuk
menjaga agar daerah kewanitaan ini dalam keadaan bersih dan tidak lembab
dengan menggunakan pakaian dalam yang cukup menyerap keringat atau
terbuat dari jenis kain katun. Penggunaan cairan pembasuh vagina harus
dilakukan secara bijaksana dengan mengetahui suatu prinsip bahwa
lingkungan vagina bersifat asam yang juga merupakan lingkungan normal
bagi flora normal (mikroorganisme yang dalam jumlah normal tidak
menyebabkan penyakit) di vagina. Adanya perubahan lingkungan normal

46
tersebut, misalnya dengan penggunaan cairan pembilas vagina yang bersifat
basa atau alkali (mengandung sabun) dapat memicu pertumbuhan kuman
secara abnormal yang salah satu akibatnya adalah keputihan.

47
BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan
Pencegahan primer meliputi segala bentuk kegiatan yang dapat
menghentikan kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi.
Pencegahan primer juga diartikan sebagai bentuk pencegahan terhadap terjadinya
suatu penyakit pada seseorang dengan faktor risiko.
Pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang mana sasaran utamanya
adalah pada mereka yang baru terkena penyakit atau yang terancam akan menderita
penyakit tertentu. Adapun tujuan pada pencegahan sekunder yaitu diagnosis dini
dan pengobatan yang tepat. Adapun beberapa pengobatan terhadap penyakit
masalah sistem reproduksi dapat melalui obat dan operasi.
Pencegahan tersier dilakukan ketika terjadi kecacatan atau
ketidakmampuan yang permanen dan tidak dapat disembuhkan. Kegiatan ini
ditujukan untuk melaksanakan tindakan rehabilitasi yang bertujuan membantu
klien mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin, sesuai dengan keterbatasan yang
ada akibat penyakit atau kecacatan. Pencegahan tersier berfokus pada proses
adaptasi kembali. Tujuan utama dari pencegahan tersier adalah mencegah cacat,
kematian, serta usaha rehabilitasi.
Adapun upaya-upaya untuk pencegahan primer, sekunder dan tersier pada
masalah gangguan reproduksi yaitu kegel exercise, nutrisi gizi seimabng serta
manajemen stress.

48
b. Saran
1. Mahasiswa
Makalah ini sangat bagus untuk dibaca sebagai pedoman kita dalam memahami
upaya-upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier pada masalah gangguan
reproduksi serta penyuluhan terhadap masalah gangguan reproduksi.
2. Perawat
Diharapkan lebih mengetahui dan memahami tentang berbagai upaya-upaya
pencegahan primer, sekunder dan tersier pada masalah gangguan reproduksi
serta penyuluhan terhadap masalah gangguan reproduksi.
3. Pelayanan kesehatan
Diharapkan dapat melayani dan menangani klien yang mengalami masalah
gangguan reproduksi dan mampu memberikan penyuluhan.

49
DAFTAR PUSTAKA

Amalia, R. (2012). Kesehatan Reproduksi. Diakses pada tanggal 31 Desember 2018


dari http://ichiekiky.blogspot.com/2012/09/makalah-kesehatan-
reproduksi.html.
Hariyati, dkk. (2012). Skripsi: Upaya-upaya Pencegahan dan Pola Pencarian Pelayanan
Infeksi Menular Seksual (IMS) Perempuan Pekerja Seks di Tempat Prostitusi
Bandang Raya Kota Samarinda. Diakses pada tanggal 31 Desember 2018 dari
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/5216/jurnal%202%
205.pdf?sequence=1
http://dokterbagus.com/2018/12/31/antara-preventive-medicine-dan-kanker-serviks/
Keliat, B.A. (2011). Standar Asuhan Keperawatan Management Stress. Jakarta.
Kumalasari S dan Andhyantoro I. (2012). Kesehatan Reproduksi untuk Mahasiswa
Kebidanan dan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Malgaj, Luka. (2010). Top 7 Stress Management Tips For Students. EzineArticles
Submission - Submit Your Best Quality Original Articles For Massive
Exposure, Ezine Publishers Get 25 Free Article Reprints.
http://ezinearticles.com
Manuaba, I. B. G. (2009). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita (2 ed.). Jakarta:
EGC
Potter, Patricia A and Perry, Anne Griffin. (2005). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik Ed 4. Jakarta: EGC
Purnamawati. (2013). Jurnal: Perilaku Pencegahan Penyakit Menular Seksual. Diakses
pada tanggal 31 Desember 2018 dari
http://jurnalkesmas.ui.ac.id/index.php/kesmas/article/view/365
Rochmawati, Dwi, Heppy. (2014). Management Stress. Majalah Ilmiah Sultan Agung.
Vol LII No.133. (3-15)
Stuart, G.W. (2009). Principles and Practices of Psychiatric Nursing. 9th ed. St. Louis:
Mosby Elsevier.
Townsend, Mary C. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing: Concepts of Care in
Evidence-Based Practice. 6th ed. Philadelphia: F.A Davis Company.
Trisna, Baim. (2012). Penyakit pada sistem reproduksi manusia. Diakses pada tanggal
31 Desember 2018 dari https://www.scribd.com/doc/69950054/Penyakit-Pada-
Sistem-Reproduksi-Manusia
Universitas Indonesia.
Widyastuti Y, dkk. (2009). Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya