You are on page 1of 4

Pengampunan Pajak, Efektifkah?

1 Reply

BELAKANGAN ini masyarakat Wajib Pajak dibuat was-was dengan pemberitaan kebijakan
perpajakan yang sedikit tidak jelas. Rasa was-was tersebut terutama disebabkan karena Tahun
Pembinaan Wajib Pajak yang hampir berlalu di 2015 dan wacana pemberlakuan tax amnesty di
tahun 2016. Wajib Pajak menjadi bingung, saya harus memanfaatkan Tahun Pembinaan Wajib
Pajak atau menunggu tax amnesty yang sampai sekarang beritanya belum jelas?

Tentang sikap pemerintah terhadap kebijakan perpajakan pernah saya tulis di sini, pada tulisan
kali ini saya ingin menyoroti mengenai apakah pengampunan pajak efektif bagi penerimaan
pajak?

Pengampunan pajak, apapun bentuknya, pada hakikatnya adalah upaya pemerintah memberikan
kesempatan kepada Wajib Pajak untuk membetulkan SPT dan melaporkan penghasilan dan
pajak-pajak yang seharusnya dibayar/dipotong/dipungut sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Wajib Pajak yang selama ini “nakal” dipersilakan, dibukakan pintu maaf selebar-lebarnya untuk
memperbaiki kesalahannya dengan garansi terhadap Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan
pemeriksaan. Pengampunan pajak ini bentuknya banyak dan bisa beragam. Yang sedang
hot belakangan ini adalah berupa pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi atas
keterlambatan penyampaian SPT, pembetulan SPT, dan keterlambatan pembayaran atau
penyetoran pajak sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 91/2015 atau
dikenal dengan kebijakan reinventing policy di tahun 2015 yang digadang-gadang sebagai Tahun
Pembinaan Wajib Pajak. Dan yang jelas-jelas bernama tax amnesty saat ini digosipkan akan
berlaku tahun depan melalui pemberlakuan Undang-undang Pengampunan Pajak.

Pengampunan pajak, apapun bentuk kegiatannya, mungkin bisa saya katakan sebagai kebijakan
yang akan “memanjakan” Wajib Pajak. Hal ini dikuatkan dengan pendapat Jay K Ronsegard
(profesor di Harvard Kennedy School) sebagaimana diberitakan oleh Republika, yang
mengatakan bahwa pengampunan pajak bukanlah cara yang tepat untuk meningkatkan
penerimaan pajak. Hal ini disebabkan karena:

1. Kebijakan pengampunan pajak hanya akan menimbulkan kecemburuan bagi Wajib Pajak
yang selama ini patuh
Wajib Pajak yang selama ini patuh membayar pajak akan berpikir bahwa pemerintah
melakukan kebijakan yang pilih kasih. Untuk apa selama ini saya patuh, jika Wajib
Pajak yang selama ini tidak patuh kemudian diampuni?
2. Kebijakan pengampunan pajak berpotensi menurunkan penerimaan pajak dalam jangka
panjang
Wajib Pajak yang kecewa dengan kebijakan pengampunan pajak, akan berpikir bahwa
setelah ini Wajib Pajak tersebut lebih baik menjadi Wajib Pajak tidak patuh dan
menunggu kebijakan pengampunan pajak berikutnya.
Kebijakan pengampunan pajak, apapun alasannya, lebih banyak menimbulkan dampak negatif
daripada positif. Mungkin dalam jangka pendek kebijakan ini dapat meningkatkan penerimaan
pajak, namun dalam jangka panjang kebijakan ini hanya akan menggerus penerimaan pajak dan
menurunkan nama baik dan kewibawaan aparat pajak. Lebih jauh, kebijakan ini justru
menunjukkan ketidakmampuan pemerintah/aparat pajak dalam melakukan pengawasan kepada
Wajib Pajak.

Semoga pemerintah dapat mengambil langkah yang tepat terkait wacara pemberlakukan UU
Pengampunan Pajak tersebut. Karena urusan perpajakan bukan hanya soal penerimaan pajak,
tetapi yang lebih besar dan lebih sulit dari soal penerimaan pajak adalah soal kepatuhan Wajib
Pajak, karena aparat pajak selain bertugas mengumpulkan uang pajak, juga melakukan
pembinaan dan pengawasan kepada Wajib Pajak agar patuh dan melaksanakan kewajiban
perpajakannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan.

Related

Harta Hibah/Warisan, Apa Harus Ikut Amnesti Pajak/Tax Amnesty?

SEBAGAI Wajib Pajak, tentu saja program amnesti pajak merupakan kabar yang cukup
menggembirakan, terutama apabila selama ini ada harta/penghasilan yang belum dilaporkan.
Amnesti pajak merupakan kesempatan yang tidak tahu kapan akan datang lagi di masa
depan. Namun, agak bingung juga jika ternyata harta yang belum dilaporkan berasal dari
warisan/hibah yang nature-nya menurut UU PPh…

In "Bangga Bayar Pajak"

Amnesti Pajak atau Pembetulan SPT?

In "Bangga Bayar Pajak"


Peranan CRM dalam Administrasi Pajak

In "Bangga Bayar Pajak"

This entry was posted in Bangga Bayar Pajak on 14 December 2015.

Post navigation

← Selamat Tinggal Verifikasi Pajak Atas Hadiah →

One thought on “Pengampunan Pajak, Efektifkah?”

1. badrina 14 December 2015 at 4:00 pm

rekan…tulisannya bagus…saya ining baca SE-74/PJ/2015, rekan punya softcopy atau


mungkin bisa di share??? terimakasih sebelumnya rekan….

Like

Reply ↓

Leave a Reply

Search for:
Pengertian Tax Amnesty Menurut Undang Undang

Menurut "UU No 11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak" Tax Amnesty adalah
penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan
sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap Harta dan membayar Uang
Tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

Pengertian Tax Amnesty Menurut PMK No.


118/PMK.03/2016

Menurut "PMK No. 118/PMK.03/2016" Tax Amnesty adalah adalah penghapusan pajak yang
seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang
perpajakan, dengan cara mengungkap Harta dan membayar Uang Tebusan sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang Pengampunan Pajak.