You are on page 1of 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum BTKLPP Yogyakarta


1. Profil
Nama Instansi : Balai Besar Teknik Kesehatan
Lingkungan dan Pengendalian
Penyakit Yogyakarta
Alamat : Jalan Wiyoro Lor No. 2
Baturetno, Banguntapan, Bantul,
D.I Yogyakarta 55197
Telepon : (0274) 371588
Faximile : (0274) 443284
Website : www.btkljogja.co.id

2. Sejarah
Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian
Penyakit (BBTKL PP) Yogyakarta beralamatkan di Jalan Wiyoro Lor
No. 2 Baturetno, Banguntapan, Bantul, D.I Yogyakarta. Sejarah
BBTKL PP dimulai sejak pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun
1900 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Dienst voor de
Volksgezondheid atau kantor layanan kesehatan masyarakat.
Selanjutnya di tahun 1920 kantor ini mendirikan Proefstation voor
Rivierwater Zuivering voor Drinkwater. Pada tahun 1935 Proefstation
voor Rivierwater Zuivering voor Drinkwater dipindahkan ke
Bandung dan berganti nama menjadi Laboratorium voor Technische
Hygiene en Drinkwater voor Zuivering van de Volks Gezondheid.
Pada zaman pendudukan Jepang (tahun 1942-1945) Laboratorium
voor Technische Hygiene en Drinkwater voor Zuivering bernaung di
bawah Kementerian Pengajaran di bawah pimpinan Ir. Yuna dan
berubah nama menjadi Kogiyo Dai Gakku.

7
8

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, laboratorium ini diganti


nama menjadi Laboratorium Kesehatan Teknik (LKT). Pada tahun
101953 LKT berganti nama menjadi Lembaga Ilmu Kesehatan Teknik
Bandung Cabang Yogyakarta, selanjutnya Lembaga Ilmu Kesehatan
Teknik Bandung Cabang Yogyakarta pada tahun 1967 kembali
bernama Laboratorium Kesehatan Teknik Yogyakarta.
Pada tanggal 28 April 1978 terbit Keputusan Menteri Kesehatan
RI Nomor 143/Men.Kes/SK/IV/1978 tentang Susunan Organisasi dan
Tata Kerja Balai Teknik Kesehatan Lingkungan. Berdasarkan
keputusan ini BTKL adalah Unit Pelaksana Teknis di bidang
kesehatan lingkungan dalam lingkungan Departemen Kesehatan yang
berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Direktur
Instalasi Kesehatan, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.
Pada tanggal 8 Maret 2004 terbit Keputusan Menteri Kesehatan
RI Nomor 267/Menkes/SK/III/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Unit Pelaksana Teknis di Bidang Teknik Kesehatan Lingkungan dan
Pemberantasan Penyakit Menular. Dengan terbitnya SK ini mengubah
BTKL menjadi BTKL PPM yang mengamanahkan tugas untuk
melaksanakan surveilans epidemiologi, kajian dan penapisan
teknologi, laboratorium rujukan, kendali mutu, kalibrasi, pendidikan
dan pelatihan, pengembangan model dan teknologi tepat guna,
kewaspadaan dini dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di
bidang pemberantasan penyakit menular dan kesehatan lingkungan
serta kesehatan matra. Menurut surat keputusan ini
kedudukan BBTKL PPM berada di bawah dan bertanggung jawab
langsung kepada Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular
dan Penyehatan Lingkungan.
Pada tanggal 22 November 2011 diterbitkan Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 2349/Menkes/PER/XI/2011 Tentang Organisasi
dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Bidang Teknis Kesehatan
Lingkungan dan Pengendalian Penyakit. Keputusan ini dikeluarkan
9

dengan pertimbangan adanya perubahan pada organisasi dan tata kerja


Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan sehingga perlu dilakukan penyesuaian pada Unit
Pelaksana Teknis di bawahnya dan merubah BBTKL PPM menjadi
BBTKL PP (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan
Pengendalian Penyakit)
3. Visi dan Misi BBTKL PP Yogyakarta
Visi
Terwujudnya Indonesia Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian
Berdasarkan Gotong Royong
Misi
a. Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga
kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan
mengamankan sumberdaya maritim, dan mencerminkan
kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan
b. Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan dan demokratis
berlandaskan Negara hukum
c. Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati
diri sebagai negara maritim
d. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju
dan sejahtera
e. Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing
f. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri,
maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional
g. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan
4. Tujuan dan Fungsi Instansi yang Terkait dengan Bidang Kajian
Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian
Penyakit (BBTKL PP) Yogyakarta merupakan Unit Pelaksana Teknis
di Lingkungan Kementerian Kesehatan yang berada di bawah dan
bertanggungjawab kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan, sebagaimana ditetapkan dalam
10

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 2349/Menkes/PER/XI/2011


Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Bidang
Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit.
Tujuan BBTKL PP Yogyakarta dalam mendukung pembangunan
kesehatan, khususnya dalam rangka pencapaian program pengendalian
penyakit dan penyehatan lingkungan adalah meningkatnya
pelaksanaan surveilans epidemiologi dan analisis dampak kesehatan
lingkungan berbasis laboratorium dalam mendukung upaya
pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 2349/Menkes/
PER/XI/2011 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana
Teknis di Bidang Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian
Penyakit, BBTKL PP Yogyakarta mempunyai tugas melaksanakan:
a. Melaksanakan surveilans epidemiologi
b. Kajian dan penapisan teknologi
c. Laboratorium rujukan
d. Kendali mutu
e. Kalibrasi
f. Pendidikan dan pelatihan
g. Pengembangan model dan teknologi tepat guna
h. Kewaspadaan dini
i. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di bidang
pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan serta kesehatan
matra
Dalam melaksanakan tugas, BBTKL PP Yogyakarta
menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
a. Pelaksanaan surveilans epidemiologi
b. Pelaksanaan analisis dampak kesehatan lingkungan (ADKL)
c. Pelaksanaan laboratorium rujukan
d. Pelaksanaan pengembangan model dan teknologi tepat guna
e. Pelaksanaan uji kendali mutu dan kalibrasi
11

f. Pelaksanaan penilaian dan respon cepat, kewaspadaan dini dan


penanggulangan KLB/wabah dan bencana
g. Pelaksanaan surveilans faktor risiko penyakit tidak menula
h. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan
i. Pelaksanaan kajian dan pengembangan teknologi pengendalian
penyakit, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra
j. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan BBTKLPP

B. Bidang Surveilans Epidemiologi (SE)


1. Pengertian Surveilans Epidemiologi
Menurut Kepmenkes RI No.1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi, bidang
Surveilans Epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan
terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan
kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan
penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat
melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien
melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran
informasi epidemiologi kepada penyelanggara program kesehatan.
Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur
penyelenggaraan surveilans yang terintegerasi antara unit-unit
penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data,
pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan,
meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah
Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat.
2. Tugas dan Fungsi bidang Surveilans Epidemiologi
Bidang Surveilans Epidemiologi di BBTKLPP Yogyakarta
mempunyai tugas:
1) Melaksanakan perencanaan dan evaluasi di bidang surveilans
epidemiologi penyakit menular dan penyakit tidak menular
2) Advokasi dan fasilitasi kesiapsiagaan dan penanggulangan KLB
12

3) Kajian dan diseminasi informasi, kesehatan lingkungan kesehatan


matra, kemitraan, dan jejaring kerja
4) Serta pendidikan dan pelatihan bidang surveilans epidemiologi
Dalam melaksanakan tugas, Bidang Surveilans Epidemiologi
menyelenggarakan fungsi:
1) Pelaksanaan surveilans epidemiologi penyakit menular dan tidak
menular
2) Pelaksanaan advokasi dan fasilitasi kejadian luar biasa, wabah
dan bencana
3) Pelaksanaan kajian dan diseminasi informasi, kesehatan
lingkungan, kesehatan matra, dan pengendalian penyakit
4) Pelaksanaan kemitraan dan jejaring kerja bidang surveilans
epidemiologi
5) Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bidang surveilans
epidemiologi
Bidang Surveilans Epidemiologi terdiri atas:
1) Seksi Advokasi Kejadian Luar Biasa
Seksi Advokasi Kejadian Luar Biasa mempunyai tugas
melakukan penyiapan bahan perencanaan, evaluasi dan
koordinasi pelaksanaan advokasi, dan fasilitasi kejadian luar
biasa, serta wabah dan bencana.
2) Seksi Pengkajian dan Diseminasi
Seksi Pengkajian dan Diseminasi mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perencanaan, evaluasi dan koordinasi kajian,
pengembangan dan diseminasi informasi, serta pendidikan dan
pelatihan bidang surveilans epidemiologi.
3. Kegiatan bidang Surveilans Epidemiologi
Kegiatan di bidang Surveilans Epidemiologi selama kami
melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di BBTKLPP Yogyakarta,
meliputi :
13

a. Kegiatan surveilans penyakit zoonosa (surveilans rodent dan


pinjal PES) di Kabupaten Boyolali tahun 2017
Penyakit PES atau juga dikenal dengan nama Pasteurellosis
/Yersiniois/Plague merupakan penyakit yang bersifat akut
disebabkan oleh kuman/bakteri Yersinia pestis yang dapat
menimbulkan Kejadia Luar Biasa (KLB) atau wabah, sesuai
dengan Permenkes RI No.560/Menkes/Per/VIII/1989. Kabupaten
Boyolali sejak tahun 2007 merupakan daerah fokus pes di
provinsi Jawa Tengah dan salah satu dari 2 daerah fokus pes di
indonesia yaitu Kabupaten Boyolali (Jateng) di Kecamatan Selo
dan Cepogo.
Data kegiatan surveilans pes yang telah dilakukan oleh
BBTKLPP Yogykarta sejak tahun 2010-2016 di Kabupaten
Boyolali dapat disimpulkan bahwa tingkat kepadatan tikus masih
dapat dikendalikan, hal tersebut dinyatakan dengan rata-rata
succes trap yang masih dibawah 7%, yaitu 3,16% dengan rincian
tahun 2010 (4,03%), 2011 (6,2%), 2012 (3,45%), 2013 (0,04%),
2014 (4,5%) , 2015 (0,07%) dan 2016 (3,84%). Data lain yang
mendukung kegiatan program surveilans pes di Kabupaten
Boyolai adalah data indeks pinjal umum (PU) dan indeks pinjal
khusus (IPK). Indeks/infestasi/infeksi pinjal menunjukan bahwa
banyaknya tikus yang tertangkap dan terinfeksi pinjal. Rata – rata
IPU di Kabupaten Boyolali tahun 2010-2016 masih <2, yaitu 1,97
dengan rincian tahun 2010 (1,79), 2011 (1,67), 2012 (2,19), 2013
(3,67), 2014 (1,09), 2015 (1,41), dan 2016 (1,98), sedangkan rata-
rata indeks pinjal khusus Xenopsylla cheopis Kabupaten Boyolali
tahun 2010-2016 masih <1, yaitu 0,74 dengan rincian tahun 2010
(0,83), 2011 (0,9), 2012 (1,43), 2013 (0,09), 2014 (0,63), 2015
(0,01), dan 2016 (1,30).
Walaupun indikator surveilans pes di Kabupaten Boyolali
masih menunjukan batas yang aman, namun program surveilans
14

ini harus tetap dilaksanakan secara serius dan konsisten


mengingat program eliminasi/assesment penyakit pes dilakukan
selama sepuluh tahun sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO
dan Kemenkes RI.
BBTKLPP Yogyakarta mendukung assesment sepuluh
tahunan terhadap penyakit PES. Upaya pencegahan terjadinya
kembali wabah penyakit pes, perlu dilakukan pengematan secara
terus menerus (surveilans) pada manusia dan hewan (tikus) di
daerah fokus pes tersebut. Selain itu, kajian terhadap faktor resiko
lingkungan dan perilaku yang berkontribusi pada kejadian
penyakit PES tersebut sehingga jika dikompilasi dengan hasil
surveilans yang dilakukan, maka diharapkan ditemukan suatu
pemecahan masalah yang setepat-tepatnya dalam menanggulangi
masalah penyakit PES di daerah tersebut.
b. Kegiatan surveilans penyakit zoonosa (surveilans rodent dan
pinjal PES) di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman D.I
Yogyakarta tahun 2017.
Penyakit PES atau juga dikenal dengan nama Pasteurellosis
/Yersiniois/Plague merupakan penyakit yang bersifat akut
disebabkan oleh kuman/bakteri Yersinia pestis yang dapat
menimbulkan Kejadia Luar Biasa (KLB) atau wabah, sesuai
dengan Permenkes RI No.560/Menkes/Per/VIII/1989. Kabupaten
Boyolali sejak tahun 2007 merupakan daerah fokus pes di
provinsi Jawa Tengah dan salah satu dari 2 daerah fokus pes di
indonesia yaitu Kabupaten Boyolali (Jateng) di Kecamatan Selo
dan Cepogo dan 1 daerah terancam pes di indonesia yaitu
Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman D.I Yogyakarta.
Data kegiatan surveilans pes yang telah dilakukan oleh
BBTKLPP Yogykarta sejak tahun 2010-1016 di Kecamatan
Cangkringan Kabupaten Sleman dapat disimpulkan bahwa tingkat
kepadatan tikus masih dapat dikendalikan, hal tersebut dinyakatan
15

dengan data tidak adanya kasus positif terinfeksi bakteri pes baik
pada tikus maupun human. Rata-rata succes trap yang masih
dibawah sejak tahun 2011 mengalami penurunan dibanding tahun
2006-2009 yaitu <7%, yaitu 5,84% dengan rincian tahun 2011
(15,8%), 2012 (4,1%), 2013 (5,2%), 2014 (3,1%), 2014 (4,5%) ,
2015 (2,4%) dan 2016 (5,80%). Data lain yang mendukung
kegiatan program surveilans pes di Kecamatan Cangkringan
Kabupaten Sleman adalah data indeks pinjal umum (PU) dan
indeks pinjal khusus (IPK). Indeks/infestasi/infeksi pinjal
menunjukan bahwa banyaknya tikus yang tertangkap dan
terinfeksi pinjal. Rata – rata IPU di Kecamatan Cangkringan
tahun 2014-2016 masih <2, yaitu 1,93 dengan rincian tahun 2014
(1,74), 2015 (2,4), dan 2016 (1,65), sedangkan rata-rata indeks
pinjal khusus Xenopsylla cheopis Kecamatan Cangkringan tahun
2010-2016 masih >1, yaitu 1,75 dengan rincian tahun 2011
(4,59), 2012 (2,05), 2013 (2,07), 2014 (1,74), 2015 (1,90), dan
2016 (1.65).
Walaupun indikator surveilans pes di Kecamatan
Cangkringan Kabupaten Sleman D.I Yogykarta masih
menunjukan batas yang aman, namun program surveilans ini
harus tetap dilaksanakan secara serius dan konsisten mengingat
program eliminasi/assesment penyakit pes dilakukan selama
sepuluh tahun sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO dan
Kemenkes RI.
BBTKLPP Yogyakarta mendukung assesment sepuluh
tahunan terhadap penyakit PES. Upaya pencegahan terjadinya
kembali wabah penyakit pes, perlu dilakukan pengematan secara
terus menerus (surveilans) pada manusia dan hewan (tikus) di
daerah fokus pes tersebut. Selain itu, kajian terhadap faktor resiko
lingkungan dan perilaku yang berkontribusi pada kejadian
penyakit PES tersebut sehingga jika dikompilasi dengan hasil
16

surveilans yang dilakukan, maka diharapkan ditemukan suatu


pemecahan masalah yang setepat-tepatnya dalam menanggulangi
masalah penyakit PES di daerah tersebut.
c. Kegiatan surveilans faktor resiko yang berhubungan dengan
perilaku dan kondisi lingkungan pemukiman nelayan terhadap
kejadian TB di Kabupaten Jepara tahun 2017.
Kegiatan surveilans Faktor resiko yang berhubungan dengan
perilaku dan kondisi lingkungan pemukiman nelayan terhadap
kejadian TB di Kabupaten Jepara tahun 2017 memiliki tujuan
umum yaitu untuk mengentahui pengaruh perilaku penderita TB
Paru dan kondisi pemukiman nelayan terhadap pencegahan
potensi penularan TB paru, dan tujuan khusus yaitu mengetahui
hubungan antara Faktor Presdiposisi (umur, pendidikan,
pengetahuan) dengan pencegahan potensi penularan TB paru,
mengetahui Faktor Enabling (kepadatan hunian, ventilasi,
pencahayaan ruangan, suhu, dan kelembapan) dengan pencegahan
potensi penularan TB paru, dan mengetahui Faktor Reinforcing
(perilaku kelompok kasus dan kelompok beresiko) dengan
pencegahan potensi penularan TB paru. Pelaksanaan kegiatan
direncanakan pada bulan April hingga Mei 2017.
d. Kegiatan survei kepatuhan minum obat dan perilaku pencegahan
filariasis masyarakat dalam mendukung eliminasi filariasis di
Kota Pekalongan Jawa Tengah tahun 2017.
Indonesia sudah menetapkan eliminasi filariasis sebagai salah
satu prioritas nasional pemberantasan penyakit menular melalui
Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 7 tahun 2005
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun
2004-2009. Kemudian pada tahun 2014 dikeluarkan pedoman
penanggulangan filariasis melalui Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 94 tahun 2014 tentang
Penanggulangan Filariasis. Di dalam pedoman tersebut program
17

Eliminasi Filariasis menjadi prioritas nasional dengan agenda


utama melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan secara
Massal Filariasis untuk memutus rantai penularan Filariasis pada
penduduk di semua Kabupaten/Kota Endemis Filariasis.
Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) filariasis
dilakukan setiap tahun sekali, dalam waktu minimal 5 tahun
berturut-turut. Dalam rangka eleminasi filariasis di Provinsi Jawa
Tengah, belum semua kab/kota endemis filariasis melaksanakan
program POMP filariasis. Diantara 9 kab/kota endemis filariasis,
hingga tahun 2016 baru Kota Pekalongan yang melaksanakan
POMP filariasis (Profil Kesehatan Jateng Tahun 2015).
Hasil pelaksanakan POMP filariasis di Kota Pekalongan
tahun 2014 diketahui cakupan POMP per Puskesmas se-Kota
Pekalongan rata-rata mencapai 90% dengan jumlah sasaran
257.632 penduduk dari 290.347 penduduk. Akan tetapi terdapat
penduduk yang ditunda minum obat sebesar 25.595 penduduk dan
penduduk tidak minum obat sebesar 10.978 penduduk (Dinkes
Kota Pekalongan, 2014). Pada tahun 2015, sebelum pelaksanaan
POMP telah dilaksanakan evaluasi dengan survei penemuan
kasus baru dan didapatkan hasil teridentifikasi 37 kasus baru.
Penemuan kasus baru ini tentunya manjadi catatan.
Guna meningkatkan peluang keberhasilan program eliminasi
filariasis, pemutusan mata rantai filariasis tidak hanya terfokus
pada POMP filariasis, perlu didukung dengan peningkatan
perilaku pencegahan lainya seperti perilaku mencegah dari gigitan
nyamuk dan perilaku pengelolaan lingkungan untuk
mengendalikan vektor penularan filariasis (Dirjen P2PL, 2008).
Berdasarkan latar belakang diatas, BBTKLPP Yogyakarta
sebagai unit Pelaksana Teknis Ditjen P2P Kemenkes RI
mendukung program elminasi filariasis di Kota Pekalongan
Provinsi Jawa Tengah melalui kegiatan Survei Kepatuhan Minum
18

Obat dan Perilaku Pencegahan Filariasis Masyarakat di Kota


Pekalongan tahun 2017. Pelaksanaan kegiatan direncanakan pada
bulan April hingga Mei 2017.
Data yang akan dikumpulkan pada kegiatan Survei
Kepatuhan Minum Obat Perilaku pencegahan filariasis
Masyarakat adalah :
a. cakupan minum obat
b. tingkat kepatuhan minum obat masyarakat
c. keberadaan cacing filaria
d. perilaku pencegahan terhadap filariasis, berupa :
1) pencegahan dari vektor filariasis
2) pencegahan tempat perkembangbiakan vektor filariasis

C. Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL)


1. Pengertian ADKL
Menurut Kepmenkes RI No.876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang
Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) ,
bidang ADKL pada dasarnya merupakan model pendekatan guna
mengkaji dan atau menelaah secara mendalam untuk mengenal,
memahami dan memprediksi kondisi karakteristik lingkungan yang
berpotensi terhadap timbulnya resiko kesehatan, dengan
mengembangkan tatalaksana terhadap sumber perubahan media
lingkungan, masyarakat terpajan dan dampak kesehatan yang terjadi.
2. Tugas dan Fungsi bidang ADKL
Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan di BBTKLPP
Yogykarta mempunyai tugas:
a. Menyusun perencanaan program
b. Melakukan evaluasi pelaksanaan program kegiatan bidang ADKL
c. Melakukan analisis dampak kesehatan lingkungan, baik fisik,
kimia, maupun biologi
19

d. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang


pengendalian penyakit menular dan tidak menular, kesehatan
lingkungan serta kesehatan matra
Dalam melaksanakan tugas, bidang Analisis Dampak Kesehatan
Lingkungan menyelenggarakan fungsi :
a. Analisis dampak kesehatan lingkungan fisik dan kimia
b. Analisis dampak biologi
c. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang analisis
dampak kesehatan lingkungan
d. Pendidikan dan pelatihan di bidang analisis dampak kesehatan
lingkungan
Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan terdiri dari :
a. Seksi Lingkungan Fisik dan Kimia yang mempunyai tugas
melakukan penyiapan bahan perencanaan, evaluasi dan
koordinasi pelaksanaan analisis dampak lingkungan fisik dan
kimia di bidang pengendalian penyakit, kesehatan
lingkungan dan kesehatan matra
b. Seksi Lingkungan Biologi yang mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perencanaan, evaluasi dan koordinasi
pelaksanaan analisis dampak lingkungan biologi di bidang
pengendalian penyakit, kesehatan lingkungan dan kesehatan
matra
3. Kegiatan bidang ADKL
Kegiatan di bidang ADKL selama kami melakukan Praktik Kerja
Lapangan (PKL) di BBTKLPP Yogyakarta, meliputi :
a. Pemantauan karier tifoid pada penjamah makanan sebagai upaya
pengendalian kejadian tifoid di Sekolah Dasar (SD) di Jawa
Tengah tahun 2017.
Tifus perut atau yang dikenal dengan demam tifoid (biasa
juga disebut “tipes” oleh orang awam) adalah penyakit yang
20

disebabkan oleh bakteri Salmonella. Tifoid merupakan penyakit


menular yang menyerang saluran pencernaan.
Kejadian tifoid terutama di negara-negara sedang
berkembang yang beriklim tropis. Di indonesia khususnya tifoid
banyak dijumpai di kota-kota besar. Insiden tertinggi didapatkan
pada remaja dan dewasa muda. Berdasarkan catatan WHO tahun
2008, angka kesakitan tifoid di Indonesia sebesar 81,7 per
100.000 penduduk dengan sebaran menurut kelompok umur 2-4
tahun sebesar 148,7/100.000 penduduk, 5-15 tahun sebesar
180,3/100.000 penduduk, dan 16 tahun ke atas sebesar
51,2/100.000 penduduk (Kemenkes,2015). Berdasarakan catatan
tersebut terlihat kelompok usia 2-15 atau usia sekolah merupakan
kelompok yang paling rentan.
Kasus tifoid menjadi penting bagi anak sekolah karena
penyakit ini biasanya membutuhkan masa penyembuhan dan
pemulihan yang cukup lama sehingga dapat meningkatkan angka
ketidakhadiran anak sekolah. Selain itu tifoid juga dapat
mempengaruhi masa pertumbuhan anak sekolah. Dan apabila
tidak mendapat penanganan yang baik, maka dapat menyebabkan
seseorang menjadi karier (pembawa kuman penyakit),
menimbulkan penyakit berulang, menyebabkan komplikasi,
bahkan kematian (Kemenkes, 2015).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka survei
kecenderungan prevalensi tifoid pada penjamah makanan melalui
kegiatan surveilans karier tifoid pada penjamah makanan di
sekolah dipandang penting dan diharapkan hasilnya dapat
dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya pengendalian tifoid
khusunya pada anak usia sekolah. Tujuan dari kegiatan ini adalah
untuk mengetahui kecenderungan prevalensi karier tifoid pada
penjamah makanan di lingkungan, dan untuk mengetahui tingkat
risiko penularan tifoid di sekolah dasar berdasarkan prevalensi
21

karier tifoid responden, riwayat tifoid responden, tingkat


pengetahuan responden, dan tingkat hygiene responden.
b. Inspeksi sanitasi Depot Air Minum (DAM), pemantauan DAM,
dan pelanggan DAM Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten
Kulonprogo tahun 2017.
Kegiatan pemantauan DAM (Depot Air Minum) di wilayah
D.I.Yogyakarta khususnya Kabupaten Kulon Progo dan Gunung
Kidul dipandang perlu diadakan guna mewujudkan kualitas air
minum yang diproduksi oleh DAM dapat memenuhi syarat sesuai
keputusan menteri kesehatan RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010
tentang persyaratan Kualitas Air Minum No.
736/Menkes/Per/IV/2010 tentang tata Laksana Pengawasan
Kualitas Air minum khususnya DAM, dengan cara memberikan
masukan/informasi kepada pemerintah daerah yang selanjutnya
dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan pengambilan
keputusan dalam rangka meningkatkan kualitas air minum
produksi DAM serta pengawasan dan pembinaan kepada pemilik
DAM dalam pelayanan kepada masyarakat.
Kegiatan pemantauan DAM (Depot Air Minum) di
Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunungkidul
dilaksanakan pada bulan April – Mei tahun 2017. Kegiatan yang
dilaksanakan meliputi inspeksi sanitasi DAM, pemantauan DAM,
dan data pelanggan DAM. Kami melukan entri data inspeksi
sanitasi, pemantauan, dan data pelanggan DAM diwilayah Kulon
Progo dan Gunung Kidul tahun 2017. Adapun tujuan dari
pemeriksaan kualitas DAM yaitu :
a. Diketahuinya kualitas air baku dan air minum hasil
pengolahan DAM
b. Diperolehnya gambaran aspek teknik dan pemeriksaan fisik
(Inspeksi Sanitasi) DAM
c. Diperolehnya gambaran karakteristik pengelola DAM
22

d. Diperolehnya gambaran karakteristik konsumen


Pengambilan dilakukan oleh petugas dari BBTLKPP
Yogyakarta dan ada petugas dari Dinkes setempat. Kemudian
pengujian kualitas air baku dan air minum hasil pengolahan DAM
dilakukan di BBTKLPP Yogyakarta. Titik pengambilan sampel,
jenis sampel dan jumlah sampel pada tahap ini dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 5. Jenis dan Jumlah Sampel, serta Parameter yang diuji pada
DAM Tahun 2017
Jenis Parameter
No
Sampel Kimia Biologi
1 Air baku/ Terbatas Total Coliform
air bersih (Permenkes RI (Permenkes RI No. 416/
No.416/Menkes/Per/ Menkes/ Per/IX/1990)
IX/ 1990)

2 Air Terbatas E.Coli


minum (Kepmenkes RI No. (Kepmenkes RI No.
492/Menkes/per/IV/ 492/Menkes/Per/IV/2010)
2010)

Pengujian parameter kimia dari contoh uji air bersih dan air
minum dilakukan di Laboratorium Kimia Air BBTKLPP
Yogyakarta, sedangkan pengujian parameter biologi dari contoh
uji air bersih dan air minum dilakukan di Lab Biologi Lingkungan
BBTKLPP Yogyakarta.
Tabel 6. Metode Pengujian Parameter Biologi Air Bersih/Air Minum
No Parameter Metode
1 Totl Coliform/E.Coli APHA 2012, Section 9221-B
23

Tabel 7. Metode Pengujian Parameter Fisika Kimia Air Bersih/Air Minum


No Parameter Metode
1 Bau SNI 06-6860-2002
2 Jumlah zat padat terlarut (TDS) SNI 06-6868-1-2004
3 Kekeruhan SNI 06-6869-25-2005
4 Rasa SNI 06-6959-2002
5 Suhu SNI 06-6989-23-2005
6 Warna SNI 06-6868.80-2011
7 Besi (Fe) SNI 06-6989-4-2009
8 Detergen SNI 06-6989.51-2005
9 Fluorida (F) SNI 06-6989.29-2009
10 Kesadahan (CaCO3) SNI 06-6989.12-2004
11 Klorida (Cl) SNI 06-6989.19-2009
12 Mangan (Mn) SNI 06-6989.5-2009
13 Natrium (Na) APHA.2012, Section 3500-Na
14 Nitrat APHA.2012, Section 4500-
NO3B
15 Nitrit SNI 06-6989.9-2004
16 pH SNI 06-6989.11-2004
17 Sianida (CN) SNI 06-6989.77-2011
18 Sulfat (SO4) SNI 06-6989.20-2009
19 Zat organik SNI 06-6989.22-2004

c. Status resistensi larva Aedes aegepti terhadap temephos di


Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Pemalang tahun 2017
Salah satu metode yang sering digunakan dalam
penanggulangan nyamuk Aedes aegepti adalah dengan
menggunakan larvasida temephos pada stadium pradewasa.
24

Temephos adalah larvasida yang paling banyak digunakan untuk


membunuh larva Aedes aegepti.
Upaya pencegahan dan pengendalian nyamuk dengan
larvasida temephos di Kabupaten Temanggung belum berhasil
menurunkan angka kesakitan penyakit DBD. Hal ini
dimungkinkan karena pengaruh penggunaan temephos secara
terus menerus dalam pengendalian vektor yang memungkinkan
timbulnya resistensi terhadap larvasida tersebut, karena sifat
transovarial dari nyamuk. Hal itu mengimplikasikan perlunya
evaluasi berkala terhdap keefektifan temephos di kemudian hari,
sehingga dalam penelitian ini dilakukan uji kerentanan larvasida
temephos pada larva nyamuk Aedes aegepti di Kabupaten
Temanggung.
BBTKLPP Yogyakarta adalah salah satu unit pelaksana
teknis di bidang teknik kesehatan lingkungan dan pemberantasan
penyakit menular di lingkungan Kementerian Kesehatan yang
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan , dengan
wilayah kerja Provinsi Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta yang
mempunyai tupoksi salah satunya adalah fasilitasi kesiapsiagaan
KLB. Kajian ini dilakukan dalam rangka kewaspadaan dini untuk
mencegah terjadinya KLB DBD.
D. Instalasi Laboratorium Entomologi dan Pengendalian Vektor
1. Pengertian Entomologi
Entomologi adalah ilmu yang mempelajari serangga. Akan tetapi,
arti ini seringkali diperluas untuk mencakup ilmu yang mempelajari
artropoda (hewan beruas-ruas) lainnya, khususnya laba-laba dan
kerabatnya (Arachnida atau Arachnoidea), serta luwing dan
kerabatnya (Millepoda dan Centipoda).
2. Tugas dan Fungsi Instalasi Laboratorium Entomologi dan
Pengendalian Vektor
25

Laboratorium Entomologi dan Pengendalian Vektor


mempunyai tugas mengambil dan menangani serta melaksanakan
pemeriksaan dan analisis specimen kesehatan lingkungan bidang
entomologi dan pengendalian vektor.
3. Kegiatan di instalasi Laboratorium Entomologi dan Pengendalian
Vektor selama kami melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di
BBTKLPP Yogyakarta, meliputi :
a. Uji Resistensi Nyamuk Aedes aegepti
1) Nyamuk Aedes aegypti
Menurut Djakaria S (2004), kedudukan nyamuk Aedes
aegypti dalam klasifikasi hewan adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropod
Kelas : Insekta
Ordo : Diptera
Subordo : Nematosera
Familia : Culicida
Sub family : Culicinae
Genus : Aedes
Spesies : Aedes aegypti
2) Morfologi Aedes aegypti
Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran sedang
dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan
tungkainya ditutupi sisik dengan gari-garis putih keperakan.
Di bagian punggung tubuhnya tampak dua garis melengkung
vertikal di bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari
spesies ini. Pada umumnya, sisik-sisik pada tubuh nyamuk
mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi
pada nyamuk-nyamuk tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis
ini kerap berbeda antar populasi, tergantung dari kondisi
lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk selama
26

perkembangan. Nyamuk jantan dan betina tidak memiliki


perbedaan dalam hal ukuran nyamuk jantan yang umumnya
lebih kecil dari betina dan terdapatnya rambut-rambut tebal
pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati
dengan mata telanjang. Aedes aegypti bentuk domestik lebih
pucat dan hitam kecoklatan.
3) Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti
Menurut Soegijanto (2006), masa pertumbuhan dan
perkembangan nyamuk Aedes aegypti dapat dibagi menjadi
empat tahap, yaitu telur, larva, pupa, dan nyamuk dewasa,
sehingga termasuk metamorfosis sempurna atau
holometabola (Soegijanto, 2006).
a) Stadium Telur
Menurut Herms (2006), telur nyamuk Aedes aegypti
berbentuk ellips atau oval memanjang, berwarna hitam,
berukuran 0,5-0,8 mm, dan tidak memiliki alat
pelampung. Nyamuk Aedes aegypti meletakkan telur-
telurnya satu per satu pada permukaan air, biasanya pada
tepi air di tempat-tempat penampungan air bersih dan
sedikit di atas permukaan air. Nyamuk Aedes aegypti
betina dapat menghasilkan hingga 100 telur apabila telah
menghisap darah manusia. Telur pada tempat kering
(tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan. Telur-telur ini
kemudian akan menetas
menjadi jentik setelah
sekitar 1-2 hari terendam
air (Herms, 2006).
27

Gambar 1. Telur Aedes aegypti


(Sumber : entnemdept. Ufl.edu)
b) Stadium Larva (Jentik)
Menurut Herms (2006), larva nyamuk Aedes aegypti
mempunyai ciri khas memiliki siphon yang pendek,
besar dan berwarna hitam. Larva ini tubuhnya langsing,
bergerak sangat lincah, bersifat fototaksis negatif dan
pada waktu istirahat membentuk sudut hampir tegak
lurus dengan permukaan air. Larva menuju ke
permukaan air dalam waktu kira-kira setiap ½-1 menit,
guna mendapatkan oksigen untuk bernapas. Larva
nyamuk Aedes aegypti dapat berkembang selama 6-8
hari (Herms, 2006).
Berdasarkan data dari Depkes RI (2005), ada empat
tingkat (instar) jentik sesuai dengan pertumbuhan larva
tersebut, yaitu:
Instar I : Berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm, duri-
duri(spinae) pada dada belum jelas dan
corong pernapasan pada siphon belum jelas
Instar II : Berukuran 2,5-3,5 mm, duri-duri belum
jelas, corong kepala mulai menghitam.
Instar III : Berukuran 4-5 mm, duri-duri dada mulai
jelas dan corong pernapasan berwarna
coklat kehitaman.
Instar IV : Berukuran paling besar, yaitu 5-6 mm
dengan warna kepala gelap.
28

Gambar 2. Larva Aedes aegypti


(Sumber : Dept. Entomology ICPMR 2002)
c) Stadium Pupa
Menurut Achmadi (2011), pupa nyamuk Aedes
aegypti mempunyai bentuk tubuh bengkok, dengan
bagian kepala dada (cephalothorax) lebih besar bila

dibandingkan dengan bagian perutnya, sehingga tampak


seperti tanda baca ‘koma’. Tahap pupa pada nyamuk
Aedes aegypti umumnya berlangsung selama 2-4 hari.
Saat nyamuk dewasa akan melengkapi perkembangannya
dalam cangkang pupa, pupa akan naik ke permukaan dan
berbaring sejajar dengan permukaan air untuk persiapan
munculnya nyamuk dewasa (Achmadi, 2011).

Gambar
3. Pupa Aedes aegypti
(Sumber : Dept. Entomolory ICPMR 2002)
d) Nyamuk Dewasa
29

Menurut Achmadi (2011), nyamuk dewasa yang


baru muncul akan beristirahat untuk periode singkat di
atas permukaan
air agar sayap-
sayap dan badan
mereka kering dan
menguat sebelum
akhirnya dapat
terbang. Nyamuk jantan dan betina muncul dengan
perbandingan jumlahnya 1:1.
Nyamuk jantan muncul satu hari sebelum nyamuk
betina, menetap dekat tempat perkembangbiakan, makan
dari sari buah tumbuhan dan kawin dengan nyamuk
betina yang muncul kemudian. Setelah kemunculan
pertama nyamuk betina makan sari buah tumbuhan untuk
mengisi tenaga, kemudian kawin dan menghisap darah
manusia. Umur nyamuk betinanya dapat mencapai 2-3
bulan (Achmadi, 2011).

Gambar 4. Nyamuk Aedes aegypti dewasa


(Sumber : Stephen el doggett 2003)
4) Lingkungan Tempat Hidup Nyamuk Aedes Aegypti
Secara bioekologis spesies nyamuk Aedes aegypti
mempunyai dua habitat, yaitu: perairan untuk fase
pradewasanya (telur, larva, dan pupa), dan daratan atau udara
untuk nyamuk dewasa. Walaupun habitat nyamuk dewasa di
30

daratan atau udara, akan tetapi nyamuk ini juga mencari


tempat di dekat permukaan air untuk meletakkan telurnya.
Bila telur yang diletakkan nyamuk tersebut tidak mendapat
sentuhan air atau kering, telur tersebut masih mampu
bertahan hidup antara 3 bulan sampai satu tahun. Masa
hibernasi telur-telur itu akan berakhir atau menetas bila sudah
mendapatkan lingkungan yang cocok pada musim hujan
untuk menetas.
Telur nyamuk akan menetas antara 3–4 jam setelah
mendapat genangan air menjadi larva. Habitat larva yang
keluar dari telur tersebut hidup mengapung di bawah
permukaan air. Perilaku hidup larva tersebut berhubungan
dengan upayanya menjulurkan alat pernafasan yang disebut
sifon, menjangkau permukaan air guna mendapatkan oksigen
untuk bernafas. Habitat seluruh masa pradewasanya dari
telur, larva dan pupa hidup di dalam air walaupun kondisi
airnya sangat terbatas Aedes aegypti lebih menyukai tempat
di dalam rumah penduduk, berbeda dengan Aedes albopictus
yang lebih menyukai tempat di luar rumah penduduk, yaitu
hidup di pohon atau kebun atau kawasan pinggir hutan. Di
dalam rumah Aedes aegypti seringkali hinggap pada pakaian
yang digantung untuk beristirahat dan bersembunyi,
menantikan saat tepat inang datang untuk mengisap darah.
Informasi tentang habitat dan kebiasaan hidup nyamuk
tersebut sangat penting untuk mempelajari dan memetakan
keberadaan populasinya untuk tujuan pengendaliannya baik
secara fisik-mekanik, biologis maupun kimiawi. Dengan
demikian, sarang telur Aedes aegypti paling banyak
ditemukan di wadah air rumah tangga buatan manusia.
Nyamuk Aedes aegypti betina yang sudah dibuahi akan
menghisap darah dalam waktu 24-36 jam. Darah merupakan
31

sumber protein yang penting untuk mematangkan telur


nyamuk. Nyamuk Aedes aegypti sangat antropofilik,
walaupun ia juga bisa makan dari hewan berdarah panas
lainnya. Sebagai hewan diurnal, nyamuk betina memiliki dua
periode aktivitas menggigit. Pertama di pagi hari selama
beberapa jam setelah matahari terbit, dan kedua, di sore hari
selama beberapa jam sebelum gelap. Puncak aktivitas
menggigit yang sebenarnya dapat beragam bergantung lokasi
dan musim. Jika masa makannya terganggu, Aedes aegypti
dapat menggigit lebih dari satu orang. Perilaku ini semakin
memperbesar proses penyebaran epidemi. Dengan demikian,
bukan hal yang luar biasa jika beberapa anggota keluarga
yang sama mengalami penyakit ini yang terjadi dalam 24
jam, memperlihatkan bahwa mereka terinfeksi nyamuk
infektif yang sama. Aedes aegypti biasanya tidak menggigit
di malam hari, tetapi akan menggigit saat malam di kamar
yang terang. Penyebaran nyamuk Aedes aegypti betina
dewasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk
ketersediaan tempat bertelur dan darah dengan jarak kurang
lebih 100 meter dari lokasi kemunculan. Nyamuk Aedes
aegypti dewasa memiliki rata-rata lama hidup hanya delapan
hari. Selama musim hujan, saat masa bertahan hidup lebih
panjang, resiko penyebaran virus semakin besar.
Nyamuk sebagai vektor dapat terinfeksi jika ia mengisap
darah manusia yang mengandung virus. Pada kasus DF/DHF,
veraemia dalam tubuh manusia dapat terjadi 1–2 hari
sebelum mulai demam dan berlangsung kurang lebih selama
lima hari setelah mulai demam. Setelah masa inkubasi
instrinsik selama 10 – 12 hari,virus berkembang menembus
usus halus untuk menginfeksi jaringan lain di dalam tubuh
nyamuk, termasuk kelenjar ludah nyamuk. Jika nyamuk itu
32

menggigit orang yang rentan lainnya setelah kelenjar


ludahnya terinfeksi, nyamuk itu akan menularkan virus
dengue ke orang tersebut melalui suntikan air ludahnya.
Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki rata-rata hidup
hanya delapan hari. Selama musim hujan, saat bertahan hidup
lebih panjang resiko penyebaran lebih besar. Besarnya pH air
yang ada di sekitar masyarakat cukup bervariasi tergantung
pada jenis air serta letak geografis. Telur relatif lebih cepat
menjadi nyamuk pada pH 6-7 dibandingkan pada pH asam
dan basa. Jumlah telur paling banyak ditemukan pada pH 6,5
dan 7. Pada keadaan optimal yaitu cukup makanan dan suhu
air 250C-270C, perkembangan larva selama 6-8 hari. Bila
suhu air lebih dari 280C atau kurang dari 240C,
perkembangan larva menjadi lama, larva mati pada suhu
kurang dari 100C atau lebih dari 400C. Pencahayaan ruangan
dapatmempengaruhi pertumbuhan larva Aedes aegypti. Larva
dapat berkembang biak pada pencahayaan kurang dari 85 lux.
Sedangkan di atas 85 lux larva Aedes aegypti pertumbuhan
akan terhambat dan akhirnya akan mati.
Aedes aegypti merupakan spesies nyamuk yang hidup
dan ditemukan di negara-negara yang terletak antara 350
Lintang Utara dan 350 Lintang Selatan pada temperatur udara
paling rendah sekitar 100C. Pada musim panas, spesies ini
kadang-kadang ditemukan di daerah yang terletak sampai
sekitar 450 Lintang Selatan. Selain itu ketahanan spesies ini
juga tergantung pada ketinggian daerah yang bersangkutan
dari permukaan laut. Aedes aegypti dapat ditemukan pada
ketinggian antara 0 – 1000 m diatas permukaan laut.
Ketinggian yang rendah (<500 m) memiliki tingkat
kepadatan populasi yang sedang sampai berat, sedangkan di
daerah pegunungan (>500m) kepadatan populasi rendah.
33

Batas ketinggian penyebaran Aedes aegypti di kawasan Asia


Tenggara berkisar 1000 – 1500 m. Dengan ciri highly
antropophilic dan kebiasaan hidup di dekat manusia. Aedes
aegypti dewasa menyukai tempat gelap yang tersembunyi di
dalam rumah sebagai tempat beristirahatnya.
Nyamuk ini merupakan vektor efisien bagi arbovirus Ae
aegypti juga mempunyai kebiasaan mencari makan
(menggigit manusia untuk dihisap darahnya) sepanjang hari
terutama antara jam 08.00-13.00 dan antara jam 15.00-17.00.
Sebagai nyamuk domestik di daerah urban, nyamuk ini
merupakan vector utama (95%) bagi penyebaran penyakit
DBD. Jarak terbang spontan nyamuk betina jenis ini terbatas
sekitar 30-50 meter per hari. Jarak terbang jauh biasanya
terjadi secara pasif melalui semua jenis kendaraan termasuk
kereta api, kapal laut dan pesawat udara.