Perubahan Bentuk dan Fungsi Arsitektur Tradisional Bugis di Kawasan Pesisir Kamal Muara, Jakarta Utara (Form and

Function Change of the Buginese Traditional Architecture ∗ At Kamal Muara Coastal Area, North Jakarta)
Raziq Hasan Hendro Prabowo Department of Architecture Gunadarma University Jakarta, Indonesia Abstract Many architects believe that form and function in architecture is a response of the environment. Finally, we believe that traditional architecture is a manifestation of the local environmental response, including climate. This paper is a part of an explorative study we have been doing about form and function change on Buginese traditional architecture at Kamal Muara Coastal Area, North Jakarta. Originally, the Buginese live in the peninsula of Sulawesi, including South Sulawesi Province. Some architectural elements, we guess, are an acculturation forms, are spatial pattern, stylistica pattern, and structure pattern (Schultz, 1988) Keyword: Buginese architecture, traditional architecture, acculturation, form and function, environment. PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian tentang bentuk dan fungsi pada Rumah Tradisional Bugis di Kamal Muara Jakarta Utara ini merupakan satu upaya penelitian dalam konteks Arsitektur Tradisonal sebagai eksplorasi konsep bangunan yang pernah dikembangkan pada lalu untuk dilihat bagaimana perkembangannya pada masa kini di dalam lingkungan baru yang jauh dari asal tradisinya. Rumah adalah kebudayaan fisik, yang dalam konteks tradisional merupakan bentuk ungkapan yang berkaitan erat dengan kepribadian masyarakatnya. Ungkapan fisiknya sangat dipengaruhi oleh faktor sosio-kulural dan lingkungan di mana ia tumbuh dan berkembang. Perbedaan wilayah dan latar budaya akan menyebabkan perbedaan pula dalam ungkapan arsitekturalnya. Rumah Bugis di Kamal Muara Jakarta Utara adalah satu fenomena menarik yang perlu dilihat latar balakang ungkapannya dalam bentuk dan fungsi ruangnya secara arsitektural. Ia muncul akibat adanya para pendatang atau pemukim yang berasal dari suku Bugis di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Secara incremental dan evolutif membentuk citra lingkungan baru di wilayah itu dengan mengangkat pola bentuk rumah sesuai dengan asal tradisinya. Salah satu faktor penting yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah bagaimana masyarakat Bugis ini mengantisipasi karakter lingkungan yang berbeda membentuk satu lingkungan hunian dengan karakter bentuk dan fungsi rumah yang masih mencirikan tradisi Bugis. Faktor apakah yang mendominasi keberlanjutan bentuk itu dan kendala apakah yang dihadapi dalam upayanya mempertahankan tradisinya dalam wujud bentuk dan fungsi rumah tinggalnya.

Dipresentasikan dalam International Symposium ‘Building Research and the Sustainability of the Built Environment in the Tropics’ pada tanggal 14-15-16 Oktober 2002 yang dilaksanakan oleh Universitas Taruma negara bekerja sama dengan Oxford Brookes University-United Kingdom

1

baik informan pangkal maupun informan pokok. 1984) terdapat hubungan erat antara bentuk. Keterkaitan antara bentuk dan fungsi ruang dengan faktor yang melatarbelakanginya sulit dideskripsikan secara deterministik. Sampel ditentukan secara purposive dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. TINJAUAN TEORI Bentuk dan Fungsi Arsitektur Sebagai Respon Terhadap Lingkungan Manusia selalu berdampingan dengan alam dan tidak dapat melepaskannya dari batasan dan hukum-hukumnya. yaitu bangunan pada suatu daerah yang sama memiliki bentuk dan ciri-ciri yang sama pula. Dengan demikian bentuk dan fungsi dalam arsitektur adalah respon manusia terhadap lingkungan (Crowe. Karenanya iklim dan lingkungan memegang peranan yang penting dalam membentuk cara hidup manusia atau (lebih jauh) kebudayaan manusia. Sample dan Satuan Kajian Populasi yang akan diteliti adalah seluruh wilayah pemukiman Suku Bugis di Kamal Muara. 1964). stilistika dan sistem strukturnya dengan variable peubah lingkungan fisik. Karena pada dasarnya arsitektur adalah wadah pemenuhan kebutuhan terhadap aktivitas manusia. Suatu cara yang lahir begitu saja dan kemudian membentuk satu pola yang dianut bersama dan menjadi satu tradisi yang dikenal sebagai arsitektur vernacular (Rudolvsky. Sedangkan aktivitas timbul dari kebutuhan manusia. Jakarta Utara. Ia memperkenalkan form follow function (bentuk mengikuti fungsi) dengan dua prinsip utama: bentuk akan berubah jika fungsi berubah dan fungsi baru tidak mungkin diikuti bentuk lama. Grillo (dalam Sutedjo. Kriteria sample untuk memaksimalkan keragaman dan gambaran konsep ruang secara spesifik. dan alam. Pallasma juga mengemukakan bahwa penghuni atau pengamat dalam arsitektur terhadap keseluruhan bentuk fisiknya tidak semata melayani fungsi 2 . Satuan kajian adalah menyangkut perubahan pola bentuk dan fungsi rumah dari sudut spasial. Schultz (1988). Metode Penelitian Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pertimbangan : Penelitian mengenai rumah tradisional pada umumnya lebih memiliki kaitan dengan nilai-nilai sosio kultural yang memiliki makna dan nilai heterogen serta pengertian symbolsimbol tradisi yang bersifat metaforik.1969). fungsi. Diperlukan pendekatan yang bersifat holistik sehingga menuntut interpretasi yang sensitif dan adaptif terhadap pengaruh-pengaruh yang tidak saja bersifat fisik. baik fisik maupun psikologis. 1995). Salah satu faktor penting pewujud bentuk dalam arsitektur adalah fungsi. demikian pula dengan arsitektur. 1982) memperkenalkan pula istilah archetype. Untuk mendapatkan informasi lengkap diperlukan informan. Fungsi dapat berubah dan berkembang terus-menerus tidak pernah berhenti. faktor tradisi dan perilaku sosial. Dalam perkembangannya respon terhadap lingkungan yang sama memiliki kecenderungan untuk menghasilkan satu cara dan bentuk yang sama. sekaligus dapat mewakili kelompok rumah dan komunitas yang lebih besar. membagi tugas bangunan menjadi dua kutub utama yakni lingkungan fisik dan simbol yang saling berkaitan. Menurut Horatio Greenough (dalam Sutrisno. Semula arsitektur lahir sekadar untuk menciptakan tempat tinggal sebagai wadah perlindungan terhadap gangguan lingkungan: alam dan binatang (Rapoport. Keadaan alam yang berbeda melahirkan kebudayaan berbeda pula.METODOLOGI Populasi. tercakup di dalamnya kondisi alami.

dan Makasar. Penduduk propinsi Sulawesi Selatan sendiri terdiri dari empat suku yaitu: Bugis. pengalaman dan makna yang terpendam yang mengajak dan diajak berkelana ke dalam keseluruhan penampakannya dalam sebuah geometri rasa. dan ata (sahaya) Berdasarkan lapisan sosial penghuninya. Bentuk. Rumah-rumah tersebut biasanya berderet. Arsitektur adalah lingkungan alamiah yang sengaja ditata dan dibangun untuk kepentingan tertentu dalam hidup manusia. 1999). lalu disebut kebudayaan Bugis-Makassar (Mattulada dalam Koentjaraningrat. Orang Bugis juga mengenal sistem tingkatan sosial yang sangat berkait dengan arsitektur. berdampak pada pola bentuk rumah yang disimbolkan berbeda-beda. cahaya dan kekakuan secara fisik tetapi juga kesan. dekat persawahan. kuburan. Kebudayaan tersebut mendiami bagian terbesar jasirah Selatan pulau Sulawesi. dan Mandar. Pakkaja (kampung nelayan) 3. Selain itu perkampungan orang Bugis juga dapat dibedakan berdasarkan tempat pekerjaan. Mereka datang ke kepulauan Nusantara secara bergelombang. Pola perkampungan orang Bugis umumnya adalah mengelompok padat dan menyebar. Huruf yang dipakai adalah aksara lontara. atau termasuk dalam propinsi Sulawesi Selatan. Bardasarkan hasil penelitian etnologi.arsitektur berkenaan dengan kenyamanan dalam pengertian termal. Pallaon ruma (kampung petani) 2. Penyusunan seluruh elemen dalam keutuhan arsitektur tidak bisa ditafsirkan dalam satu frame tunggal atau parsial. Matowa (kepala kampung) Selain pembagian berdasarkan tempat pekerjaan di atas. Melayu Muda merupakan nenek moyang suku Bugis. dan kadang-kadang dengan satu rumah pemujaan (saukang). Jika ada sungai. Mandar. sedangkan pola menyebar banyak terdapat di pegunungan atau perkebunan. pada kampung Bugis juga terdapat pasar kampung. Kampung kuno orang Bugis umumnya terdiri dari sejumlah keluarga. Toraja. Orang Bugis mengucapkan bahasa Ugi dan telah memiliki kesusasteraan tertulis sejak berabad-abad lamanya dalam bentuk lontar. to maradeka (rakyat biasa). suatu kampung umumnya juga memiliki langgar atau masjid. suku Bugis merupakan keturunan Melayu Muda (Deutro Melayu) yang berasal dari India Belakang. maka diusahakan agar rumah-rumah tersebut membelakangi sungai. pinggir laut. Ada berbagai kemungkinan penyelesaian bentuk dalam arsitektur sekali pun tujuan fungsional dan kondisi lingkungannya sama. Gelombang pertama adalah Melayu Tua yang merupakan nenek moyang suku Toraja. Kebudayaan dan Arsitektur Bugis Kebudayaan Bugis seringkali digabungkan dengan kebudayaan Makassar. Perwujudan bentuk dan keterkaitan dengan fungsi di dalamnya melibatkan banyak aspek yang perlu dilihat secara holistik. Pusat dari kampung lama merupakan suatu tempat keramat (possi tama) dengan suatu pohon beringin yang besar. dan masjid/mushala.1976). sebuah sistem huruf yang berasal dari Sanskerta. yaitu: 1. dan danau. fungsi dan simbol adalah perangkat yang saling berhubungan dan secara bersama-sama membentuk wujud keseluruhan dari objek arsitektur. Pelapisan sosial tersebut antara lain adalah: Anakarung (bangsawan). Selain tempat keramat. Makassar. Pola mengelompok banyak terdapat di dataran rendah. yaitu: 3 . menghadap Selatan atau Barat. Seluruh kultur dalam sebuah lingkungan dapat saja mempengaruhi dan membentuk cara bagaimana arsitektur dibangun dan dikembangkan (Agrest. Gelombang kedua. antara 10 sampai 200 rumah.

3. berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Lontang risaliweng (ruang depan). bagian atas rumah di bawah atap. tempat menyimpan benih dan tempat membaringkan mayat sebelum dikebumikan. merupakan rumah bagi masyarakat umumnya. yang dinamakan tamping. terletak antara lantai dan loteng ruang dimana orang tinggal dan dibagi-bagi menjadi ruang-ruang khusus. berfungsi untuk tempat tidur kepala keluarga dan anak-anak yang belum dewasa. Berdasarkan pola morfologinya. Bola. bentuknya lebih kecil tanpa sapana. Sifat ruang private. kolong rumah yang terletak di bagian bawah antara lantai dengan tanah atau bagian bawah lantai panggung yang dipakai untuk menyimpan alat-alat pertanian dan ternak. Tangga depan biasanya di pinggir. 1999). 2. tempat makan. Tangga rumah tersebut berada di bawah atap (Sumintardja. Sedangkan penataan spatial secara horisontal. Lontang rilaleng (latte rilaleng). Anggota keluarga ini dianggap sebagai orang yang perlu perlindungan dari seluruh keluarga. tempat bermusyawarah. Fungsi ruang ini untuk tempat tidur anak gadis atau nenek/kakek. Selain itu rumah Bugis umumnya memiliki suatu ruang pengantar yang berupa lantai panggung di depan pintu masuk. Bentuk denah yang umum adalah rumah yang tertutup. arsitektur Tradisional Bugis dapat dilihat dari beberapa segi sebagai berikut: A. Biasanya tempat ini difungsikan sebagai ruang tunggu bagi para tamu sebelum dipersilakan masuk oleh tuan rumah. melahirkan. dapat dikelompokkan dalam tiga bagian sebagai berikut : 1. 1981). Biasanya memiliki tiang dengan alas bertingkat di bagian bawah dan dengan atap di atasnya (sapana) yang memiliki bubungan bersusun tiga atau lebih.1. Sebelum memasuki ruang ini orang luar diterima lebih dahulu di ruang transisi (tamping). pembagian ruang yang dalam istilah Bugis disebut lontang (latte). 4 . 3. Untuk Sao raja. Sao-piti’. dan memiliki bubungan yang bersusun dua. 3. terdiri dari loteng dan atap rumah yang dipakai untuk menyimpan padi dan lain persediaan pangan serta benda-benda pusaka. tempat duduk tamu sebelum masuk. Di depan tangga tersedia tempat air untuk mencuci kaki. sifat sangat private. jika di depan difungsikan sebagai tempat sandaran. adalah rumah besar yang didiami keluarga kaum bangsawan (Anakarung). Rumah Bugis juga dapat digolongkan menurut fungsinya (Mattulada dalam Koentjaraningrat. Ruang ini adalah ruang tempat berkomunikasi dengan orang luar yang sudah diijinkan untuk masuk. tidur. Awaso. Lontang retengngah (latte retengngah) atau ruang tengah. Pola Penataan Spatial Arsitektur rumah Bugis umumnya tidak bersekat-sekat. Selain itu karena letaknya agak tertutup sering pula digunakan untuk menenun dan berdandan. Rakeang. tempat tidur tamu. makan. ada tambahan dua ruangan lagi: 1. 2. untuk menerima tamu. tanpa serambi yang terbuka. Alo-bola (alle bola). Pada ruang ini sifat kekeluargaan dan kegiatan informal dalam keluarga amat menonjol. Sao-raja (sallasa). Lego-lego Ruang tambahan. 2. Secara spatial vertikal dapat dikelompokkan dalam tiga bagian berikut: 1. tempat menonton ada acara di luar rumah. Sifat ruang semi private.

2. Atap Penampakan bangunan tersusun dari tiga bagian sesuai dengan fungsinya. Biasanya ditempatkan di puncak bubungan rumah bagian depan atau belakang 5 . 1981). Makna bunga parengreng ini diibaratkan sebagai rezeki yang tidak terputus seperti menjalarnya bunga parengreng. Timpak laja bertingkat empat. 3. biasanya berupa flora. Pola Penataan Stilistika 1. Bagi bangsawan yang tidak memiliki jabatan pemerintahan timpak lajanya hanya bertingkat tiga. Tempat pintu biasanya selalu diletakkan pada bilangan ukuran genap. Ragam Hias Ragam hias bangunan arsitektur Bugis umumnya bersumber dari alam sekitar. Bunga ini hidupnya menjalar berupa sulur-sulur yang tidak ada putusputusnya.2. Selain itu juga sebagai simbol keberanian. fauna dan tulisan huruf Arab atau kaligrafi. Bagian atas (rakeang) baik untuk rumah bangsawan (Sao raja) maupun rumah rakyat biasa (Bola). Jumlah terali dapat menunjukkan status penghuninya. Rakyat biasa yang diklasifikasikan ke dalam kelompok to maradeka dapat juga memakai timpak laja pada atap rumahnya. Dapureng (jonghe) Biasanya diletakkan di belakang atau samping. induk tangga dan tutup bubungan. Biasanya ditempatkan pada papan jendela. Untuk memperindah biasanya ditambahkan hiasan berupa ukiran sebagai hiasan atau terali dari kayu dengan jumlah bilangan ganjil. Bagian ini diibaratkan sebagai kepala bangunan. Bukaan lain adalah jendela (tellongeng). adalah milik bangsawan yang memegang kekuasaan dan jabatanjabatan tertentu. Pada sao raja terdapat timpak laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima. Fungsinya adalah bukaan pada dinding yang sengaja dibuat untuk melihat keluar rumah dan juga berfungsi sebagai ventilasi udara ke dalam ruangan. Fungsinya untuk memasak dan menyimpan peralatan masak B. Bila penempatan pintu ini tidak tepat pada bilangan genap. Atap berbentuk prisma. Ayam jantan dalam bahasa Bugis disebut manuk yang berarti baik-baik. memakai tutup bubungan yang disebut Timpak Laja. Fungsinya adalah untuk jalan keluar/masuk rumah. Ragam hias flora biasanya berupa bunga parengreng yang berarti bunga yang menarik. misalnya ukuran rumah 7 (tujuh depa) maka pintu harus diletakkan pada depa yang ke 6 (enam) atau ke 4 (empat) diukur dari kanan rumah. Pada bagian bawahnya biasanya diberi tali atau penghalang (Sumintardja. Peletakannya biasanya pada dinding diantara dua tiang. Bukaan Dinding terbuat dari kayu yang disusun secara Salah satu bukaan yang terdapat pada dinding depan ialah pintu (babang/tange). Jika jumlah terali 3-5 menunjuukan rakyat biasa dan jika 7-9 menunjukkan rumah bangsawan. tetapi hanya dibenarkan membuat maksimal dua tingkatan timpak laja. Ragam hias fauna biasanya berupa ayam jantan. terdiri dari loteng dan atap. kepala kerbau dan bentuk ular naga. dapat menyebabkan rumah mudah untuk dimasuki pencuri atau penjahat. Timpak laja yang bertingkat lima menandakan rumah tersebut kepunyaan bangsawan tinggi. Timpak laja memiliki bentuk yang berbeda antara sao raja dan bola.

Ilalang dan Ijuk. Ipi. b. Amar. Durian. Ragam hias naga atau ular besar melambangkan kekuatan yang dahsyat. maka pintu diposisikan pada depa ke-8. Biasanya ditempatkan pada pucuk depan atau belakang bubungan untuk rumah bangsawan. Tippulu. Dipasang di ale bola atau di lego-lego. Nangka. Bahan bangunan yang biasanya digunakan : Kayu Bitti. Sistem struktur menggunakan rumah panggung dengan menggunakan tiang penyangga dan tidak menggunakan pondasi. Bentuk kolom adalah bulat untuk bangsawan. Dinding (renring/rinring) terbuat dari kulit kayu. biasanya terbuat dari kayu nangka atau durian. Batang Enau. Pembuatan tiang dimulai dengan membuat posi bola (tiang pusat rumah). Tangga diletakkan di depan atau belakang. Terdapat pusat rumah yang disebut di Pocci (posi bola) berupa tiang yang paling penting dalam sebuah rumah. Atap berbentuk segitiga sama kaki yang digunakan untuk menutup bagian muka atau bagaian belakang rumah 6. Pintu (tange sumpang) diyakini jika salah meletakkan dapat tertimpa bencana. Atap dari daun nipah. dan kedua dari samping kanan. letaknya pada deretan kolom kedua dari depan. Kelapa. C. daun rumbia. 8. Secara terinci ciri-ciri struktur rumah orang Bugis antara lain adalah: 1. Bentuk demikian selain makin menampakkan keindahan karena adanya efek pencahayaan yang dibiaskan juga dapat menyalurkan angin dengan baik. Tahap yang paling penting dalam sistem struktur bangunan adalah pembuatan tiang (aliri). Minimal memiliki empat petak atau 25 kolom (lima-lima) untuk sao-raja dan tiga petak atau 16 kolom (untuk bola) 2. Rumah tradisional yang paling tua. Ragam hias yang berupa kaligrafi dan bulan sabit biasanya ditempatkan pada bangunan peribadatan atau masjid. Bahan yang digunakan adalah papan atau bamboo. 6 . Arahnya ada yang sesuai dengan panjang rumah atau sesuai dengan lebar rumah. tujuh untuk bangsawan 9. 7. 4. artinya lebar rumah selelu ganjil dan pintu diletakan pada angka genap. segiempat dan segidelapan untuk orang biasa 3. Biasanya ditempatkan pada pucuk bubungan atau induk tangga. atau bambu. 5. sehingga diletakkan dengan cara sebagai berikut: Jika lebar rumah sembilan depa. Lontar. Bila rumah terdiri dari dua petak maka letak tiang pusat ialah pada baris kedua dari depan dan baris kedua dari samping kanan. sirap atau seng. Besi. Ragam hias flora yang berupa sulur-sulur bunga yang menjalar biasanya menggunakan teknik pahat tiga dimensi yang membentuk lobang terawang. Bila tiga petak atau lebih maka letak tiang pusat adalah baris ketiga dari depan dan baris kedua dari samping kanan.Ragam hias kepala kerbau melambangkan kekayaan dan status sosial. tiang penyangganya langsung ditanam dalam tanah. Cendana. Dinding dari anyaman bambu atau papan. Pola Penataan Struktur Bahan bangunan utama yang banyak digunakan umumnya kayu. Lantai (dapara/salima) menurut bentuknya bisa rata dan tidak rata. dengan ciri-ciri: a. Pinang. Jendela (tellongeng) jumlahnya tiga untuk rakyat biasa.

Beragam etnis tinggal di perkampungan ini. Dalam perkembangannya orang Bugis membuat semacam bagan khusus untuk ternak kerang hijau. disertai perubahan terus – menerus. Bagan adalah semacam kerangka dari bambu yang dibuat menyerupai tenda pada bagian di atas permukaan laut. Sunda. dan Timor. sejalan pola-pola budaya asal dari kelompok itu atau dari kedua kelompok itu. cara pandang dan jiwa masyarakat dalam jamannya. Orang Bugis memperkenalkan metode menangkap ikan dengan menggunakan perahu dan bagan. Pada bagian di bawah permukaan laut terdapat beberapa batang bambu yang dirangkai sepanjang kurang lebih 30 meter. Sementara orang Betawi tinggal di “daratan” di sebelah Selatan perkampungan orang Bugis. Mata pencaharian penduduk di Kamal Muara sebagian besar adalah nelayan. Perubahan bentuk dan fungsi dalam arsitektur dapat terjadi melalui elemen budaya: teknologi. Jawa. Perkampungan ini merupakan salah satu jalur transportasi menuju kepulauan Seribu selain Ancol.Akulturasi Akulturasi dipahami sebagai fenomena yang akan terjadi tatkala kelompok-kelompok individu yang memiliki budaya berbeda terlibat dalam kontrak yang berlangsung secara tangan pertama (langsung). Rangkaian bambu pada bagan tersebut dililit dengan tali tertentu agar kerang hijau dapat menempel dan hidup dengan mudah di lilitan tersebut. melainkan senantiasa dalam suatu gabungan atau kompleks yang terpadu. Arsitektur Tradisional Bugis di Kawasan Pesisir Kamal Muara Kamal Muara adalah perkampungan nelayan yang terletak di sebelah Utara Jakarta atau berada di wilayah pesisir teluk Jakarta. Bentuk dan fungsi adalah dialektika yang terus-menerus saling tarik menarik di tangah kondisi sosialbudaya masyarakatnya. Dan arsitektur bukan semata-mata desain tetapi juga elemen non desain yang dapat menggeser dan menggantikan sedemikian rupa setiap fakta budaya yang sedang berlangsung. Sumbawa. Sebelum kedatangan orang Bugis. tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. antara lain Betawi. Pola pemukiman orang Bugis berada di garis pantai dan beberapa di antaranya tinggal di rumah panggung di atas permukaan air laut. Setiap sore setelah sholat Ashar. Unsur kebudayaan tidak pernah didifusikan secara terpisah. sosio ideologi dan aliran apapun yang berkeliaran dan mampu menguasai gagasan. umumnya diletakkan di lepas pantai tidak jauh dari pulau-pulau di kepulauan Seribu. Menurut Koentjaraningrat (1996) akulturasi adalah istilah antropologi yang memiliki beberapa makna. Namun demikian pada akhirnya bentuk dan fungsi dalam arsitektur yang muncul adalah pengalaman rasa yang diminati dan diyakini manfaatnya oleh sekelompok masyarakatnya secara komunal. Pekerjaan beternak kerang hijau bukanlah pekerjaan asli orang Bugis. bagaimana pun tidak akan pernah begitu saja merubah cara hidup. Akulturasi budaya dalam arsitektur tidak dapat dielakkan dan pasti terjadi. ekonomi. respon dan persentuhan manusia dengan lingkungannya ketika kekuatan-kekuatan psikis yang dimiliki masih melekat dengan rona budaya sebelumnya. Dua etnis yang dominan adalah Bugis dan Betawi. Bagan dan ternak kerang hijau. Sumba. orang Betawi umumnya hanya menangkap ikan dengan menggunakan jala dan perangkap ikan di pantai. Pada bagan yang diletakkan di lepas pantai. para nelayan bagan melaut untuk menangkap ikan dengan menggunakan petromaks. yaitu: nelayan penangkap ikan dan peternak kerang hijau. Setiap perubahan yang terjadi. Bugis. yang kesemuanya itu mencakup konsep mengenai proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan sesuatu kebudayaan tertentu dihadapkan kepada unsurunsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing tersebut lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri. Flores. seringkali rangkaian bambu secara tidak sengaja ditempeli oleh kerang hijau yang ternyata banyak terdapat di teluk Jakarta. 7 .

dan gang. Secara lebih terinci. Udara Kampung Kamal Muara Foto Berdasarkan gambar 1 di atas. 8 . pola stilistika dan pola struktur bangunannya. Adapun kajian terhadap bentuk fisik arsitektural tersebut akan dianalisis dengan beberapa aspek antara lain : pola spasial. A. permukiman dan rumah-rumah orang Bugis di Kamal Muara dibangun mengikuti pola alur sungai.Yang menjadi pertanyaan penelitian adalah: apakah pola pemukiman orang Bugis tetap mempertahankan tradisi asal-usulnya? Apakah pola pemukiman mengalami perubahan sebagai respon terhadap lingkungan alam dan iklim baru? HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perubahan Bentuk dan Fungsi pada Arsitektur Tradisional Bugis di Kamal Muara Makalah ini adalah suatu studi eksploratif terhadap perubahan pola pemukiman tradisional orang Bugis di perantauan (Kamal Muara). dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini: Perkampungan Bugis Perkampungan Betawi Gambar 1. ventilasi. dengan mengkaji beberapa aspek bentuk fisik arsitektural seperti: denah. orientasi rumah dan perkampungan. perkampungan orang Betawi berada di “daratan”. maka perkampungan orang Bugis dan terletak di garis pantai dengan pola linier mengikuti alur sungai yang mengarah dari Barat Daya menuju ke Timur Laut. Struktur Kampung Kampung Kamal Muara berdasarkan foto udara. Sementara. Pola Spasial 1. peninggian lantai. dan sebagainya. jalan.

c. berfungsi untuk tempat tidur kepala keluarga dan anak-anak yang belum dewasa. dan kamar mandi. Pola demikian sesuai dengan pola spasial kampung pada tradisional Bugis di daerah asalnya. Orientasi Rumah dalam Seting Kampung Orang Bugis 2. Tata Letak Rumah Denah rumah pada umumnya masih mengikuti kaidah-kaidah arsitektur tradisional Bugis. 9 . Namun demikian kampung Bugis di Kamal Muara memiliki langgar atau masjid yang biasanya juga dapat menjadi pusat orientasi. Gambar 3.Gambar 2. dapur. Lontang risaliweng (ruang depan). karena tidak terdapat pusat orientasi yang biasanya berupa pohon yang besar. Lontang rilaleng (latte rilaleng): tempat tidur anak gadis. Hal ini terwujud dalam pembagian ruangan atau petak (lontang/latte). berfungsi untuk menerima tamu dan tempat tidur tamu (public) b. Orientasi rumah dalam struktur kampung menghadap ke jalan atau gang (lihat gambar. Perkampungan Orang Bugis Perkampungan orang Bugis di Kamal Muara adalah pakkaja (kampung nelayan) dengan pola berderet dan mengelompok mengikuti alur sungai dan jalan. Sebagian dari rumah-rumah tersebut membelakangi sungai. tempat makan (private). yang tetap dibagi-bagi menjadi tiga bagian: a.3). Lontang retengngah (latte retengngah) atau ruang tengah.

Ruang Tidur Ruang keluarga Kamar mandi Dapur Lontang rilaleng (Private) Ruang Tidur Ruang makan R. Tamping ini memiliki fungsi sebagai tempat bersantai. Bandingkan dengan rumah tradisional Bugis yang di TMII yang memiliki dua tamping di depan dan belakang rumah. Tamping pada Rumah di Kamal Muara (Kiri) dan Tamping pada Rumah di TMII yang Terletak di Depan dan Belakang Rumah (Kanan) 10 . maupun untuk ruang tamu sebelum dipersilakan masuk. pada umumnya hanya terletak di depan rumah. mengobrol. Gambar 5.Tidur Utama Lontang retengngah (Private) Ruang Tamu Lontang Risaliweng (Semi Private) Tamping Semi publik Gambar 4. Pembagian Ruang Rumah Orang Bugis Tamping.

beternak. Pembagian Ruang Menurut Fungsi pada Rumah Orang Bugis Gambar 7. bagian atas rumah di bawah atap. Alo-bola (alle bola). Penggunaan Awaso (Kolong) di Kamal Muara (Kiri) dan TMII (Kanan) Awaso di Kamal Muara pada umumnya masih difungsikan sebagaimana yang terdapat di tempat asalnya. Awaso. Rakkeang. terletak antara lantai dan loteng ruang dimana orang tinggal dan dibagi-bagi menjadi ruang-ruang khusus. 11 . makan. Bagian ini tidak lagi difungsikan sebagai tempat penyimpanan. atau tempat untuk istirahat siang seperti pada gambar 7 di atas. b. c. yakni untuk penyimpanan alat-alat untuk mencari ikan. tidur. dan dapur seperti pada gambar 3 di atas. kolong rumah yang terletak di bagian bawah antara lantai dengan tanah atau bagian bawah lantai panggung yang dipakai untuk menyimpan alat-alat untuk mencari ikan.Menurut fungsinya rumah orang Bugis di Kamal Muara dibagi juga menjadi tiga bagian secara vertikal. motor. yaitu : a. untuk menerima tamu. Rakkeang Ale bola Awa bola Gambar 6.

Fungsi penyelesaian bukaan pintu demikian bertujuan untuk melindungi anak-anak agar tidak jatuh ke bawah karena sebagian besar lokasi rumah menempati daerah rawa. B. memakai tutup bubungan yang disebut Timpak Laja. karena jumlah tiang pada bagian depan berjumlah 5 (lima). Orientasi ini selain untuk menangkap sinar matahari pagi juga dimaksudkan untuk menyesuaikan pada pola tidur penghuni di bagian kanan ruang dalam bangunan dalam arah Selatan-Utara dan harus meletakkan kepalanya pada arah Selatan serta kaki diarahkan ke sebelah kiri bangunan sesuai dengan arah buangan segala kotoran dan ruh jahat. Elemen penting pada dinding depan ialah pintu (babang/tange). Hal yang spesifik pada penyelesaian pintu adalah adanya dinding pembatas setinggi lutut pada bagian bawah. terdiri dari loteng dan atap. dan tidak lagi memperhatikan orientasi arah mata angin yang seharusnya menghadap ke Timur. Selain karena keterbatasan lahan filosofi bentuk kurang memiliki makna dalam pandangan masyarakatnya. pola penampakan bangunan di Kamal Muara tersusun dari tiga bagian sesuai dengan fungsinya. Gambar 8. 12 . Pola Stilistika Atap Seperti pada bangunan arsitektur tradisional Bugis di daerah asal. Bentuk prisma. Pintu diletakkan pada depa ke empat. Pola susunannya tidak diolah dalam pola-pola tingkatan tertentu yang dapat membedakan status sosial penghuninya. Timpak laja dibuat dari bahan seng dan sebagian kayu.Orientasi rumah pada umumnya mengikuti arah jalan. Bagian atas (rakeang). Bukaan Pada umumnya dinding menggunakan bahan kayu yang disusun secara melintang horisontal dan dilapisi dengan cat kayu warna. Atap Rumah di Kamal Muara (Kiri) dan Miniatur Rumah Tradisional Bugis di TMII (Kanan) 2. Namun demikian pertimbangan lain berkaitan dengan sistem pembuangan air kotor dan arah kaki ketika tidur masih mengikuti pola asal yaitu ke arah kiri bangunan. Pada umumnya penghuni adalah masyarakat Bugis yang berada pada kelas menengah ke bawah. Atap menggunakan bahan dari seng dan sebagian asbes. hanya sebagian yang menggunakan seng gelombang yang dipasang arah vertikal.

Jumlah jendela 3 (tiga) buah. hal ini sesuai dengan konsep rumah tradisional Bugis. Untuk memperindah dan menjaga keamanan ditambahkan jeruji kayu dengan jumlah bilangan ganjil. Jumlah terali 5 buah. 13 . untuk menunjukkan rumah rakyat biasa. Gambar 10. Bukaan ini sangat sederhana namun tepat guna dan memiliki corak yang sama berupa bentuk geometri segi enam sebanyak tiga buah. Fungsinya adalah bukaan pada dinding yang sengaja dibuat untuk melihat keluar rumah dan juga berfungsi sebagai ventilasi udara ke dalam ruangan. Pintu Masuk yang Ditinggikan Bukaan lain adalah jendela (tellongeng). Peletakannya pada dinding di antara dua tiang. Bukaan Jendela Pada bagian samping terdapat bukaan yang berupa lobang ventilasi dan pemasangan papan kayu secara longgar untuk mengalirkan udara silang dari arah berbeda dari bukaan jendela depan. Pada bagian bawahnya terdapat terali kayu yang dipasang vertikal.Gambar 9.

Sementara dinding (renring/rinring) terbuat dari kulit kayu. Tiang dan struktur yang lain menggunakan kayu yang banyak terdapat di pasaran. Pola Struktur Rumah pada kasus penelitian ini pada umumnya memiliki minimal tiga petak atau 15 tiang. Sekalipun pada bagian depan (timpak laja) berusaha untuk tampak seperti bentuk prisma. Lantai (dapara/salima) bentuknya rata dan bahan yang digunakan adalah papan. Tiang menggunakan kayu nibung yang didatangkan dari Sumatera. Arahnya ada yang sesuai dengan dengan lebar rumah (lihat gambar 5). Lubang ini pada umumnya terletak di sisi Timur dan Barat. Ukuran agak kecil karena penghuni sebagian besar adalah masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah (umumnya nelayan). Gambar 11. Tangga umumnya diletakkan di depan rumah. 14 . tetapi berbentuk pelana biasa dengan kemiringan yang agak landai karena bahan atap terbuat dari bahan seng dan asbes. Sistem konstruksi atap sudah tidak berbentuk prisma lagi. Ragam Hias Ragam hias rumah di lokasi ini tidak begitu menonjol. Lubang Ventilasi Pada Dinding Samping C. Bentuk kolom sudah tidak mengikuti kaidah yaitu berbetuk segiempat. atau bambu. Maksudnya adalah sebagai lambang pencerahan yang diilhami oleh elemen-elemen bentuk yang banyak digunakan oleh simbol-simbol organisasi Islam. Pagi sebagai pertanda untuk bangun dan sore pertanda malam akan tiba. Perbandingan di bawah ini dapat dijadikan patokan.3. daun rumbia. dipasang di ale bola. Di bagian depan pada timpak laja terdapat motif kayu tempel yang menyerupai motif sinar matahari. Sinar matahari yang masuk secara tidak langsung juga menjadi alat pemandu waktu. Selain itu pada dinding samping lubang ventilasi dengan bentuk segi enam dan penyusunan kayu yang tidak rapat memberikan efek pencahayaan yang cukup menarik bila dilihat dari sisi dalam rumah.

Namun hal ini sulit dilaksanakan karena beberapa pertimbangan berikut : a. sehingga fungsi ruang bawah (awa bola) tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Dari segi Stilistika . . Ada rasa rendah diri dari anggota keluarga (khususnya remaja) terhadap pola rumahnya yang berbentuk panggung. Selain itu. stilistika dan struktural. . 15 . c.Interaksi sosial yang menuntut perubahan bentuk secara fungsional dan kesejamanan. rumah bata juga dianggap menunjukkan tingkat kemampuan ekonomi penghuni yang lebih baik. b.Hilangnya makna simbolik terhadap elemen-elemen bentuk stilistik. Dari segi Struktural . . Dari segi Spatial . sehingga ruang-ruang disekat sesuai jumlah anggota keluarga.Kurangnya pengetahuan masyarakat Bugis terhadap dasar-dasar filosofi bentuk disamping tidak adanya lembaga dan aturan yang mengikat nilai-nilai ini. Sistem Sambungan Balok Lantai dan Tiang Kesimpulan Pada umumnya masyarakat memiliki keinginan yang kuat untuk tetap menggunakan pola penataan fungsi dan bentuk rumahnya sesuai dengan pakem yang ditentukan oleh adat istiadat Bugis yang telah dikenalnya secara turun temurun. Rancangan bangunan lebih dipandang dari sudut fungsional semata.Bahan bangunan utama (kayu ulin) sulit didapat di wilayah pemukiman sehingga harganya sangat mahal. baik dari segi spatial.Pertautan budaya dengan lingkungan sekitar yang kurang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan budaya asalnya (masyarakat heterogen). Makin lama ketinggian ruang bawah rumah makin berkurang karena tuntutan pengurugan. . Hal ini berbeda dengan pola penataan ruang dalam yang ada pada pola spatial Arsitektur Bugis.Ketinggian kolom tidak direncanakan terhadap kemungkinan terjadinya abrasi pantai.Gambar 12.Kebutuhan ruang aktifitas keluarga yang lebih privat. .Adanya anggapan bahwa rumah dengan bahan bata dipandang lebih baik dalam perawatan dan daya tahan.

N. (1995).” Scala : Nordic Journal of Architecture and Art. J (1996). (1996). Oppositions 6. Pallasma. 1976 in Kate Neisbitt (ed) Theorizing a New Agenda for Architecture. Prentice Hall. “Design Versus Non-Design”. Djambatan. p771776 Crowe. Yogyakarta. A. Architecture: Meaning and Place. London. Rizzoli.Gramedia. “The Geometry of Feeling. MIT Press. New York. Jakarta. House. in Kate Neisbitt (ed) Theorizing a New Agenda for Architecture. (1969). D. C. Architecture Without Architects. Schultz. Academy Editions.447452 Rapoport. (1998). 16 . Form and Culture. New York. (1964). R. Penerbit UAJY. Koentjaraningrat (1999). Princeton Architecture. Sutrisno.Referensi: Agrest. Kompedium Sejarah Arsitektur. (1984). Rudovsky. Tanudjaja. D. Nature and the Idea of a Man-Made World: an Investivigation into the Evolutionary Roots of Form and Order in the Built Environment. A Look at the Phenomenology of Architecture. Kerangka Makna di Dalam Arsitektur. New York:. Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Banagunan.J. N. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia.C. Sumintardja. F. Bentuk Struktur Bangunan Dalam Arsitektur Modern. Jakarta. (1981). B. p. Massachusetts.S. Princeton Architecture. (1988). New York. Bandung.

T id u r U ta m a L o n ta n g re te n g n g a h (P r iv a te ) R u an g Tam u L o n ta n g R is a liw e n g (S e m i P r iv a te ) T a m p in g S em i p u b lik 17 .PERBANDINGAN PERUBAHAN BENTUKDAN FUNGSI RUMAH TRADISIONAL BUGIS DAN RUMAH ARSITEKTUR BUGIS DI KAMAL MUARA NO POLA SPATIAL POLA STILISTIKA R u an g T id u r R uang k e lu a rg a Kamar m an d i Dapur L o n ta n g rilalen g (P riv ate ) R uang T id u r R u an g m a ka n R .T id u r U ta m a L o n ta n g re ten g n g a h (P riv ate ) R u an g Tam u L o n ta n g R is aliw e n g (S e m i P riv ate ) T a m p in g S em i p u b lik R u an g T id u r Ruang k e lu a rg a Kamar m andi Dapur L o n ta n g rila le n g (P r iv a te ) Ruang T id u r R u an g m a kan R .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful