You are on page 1of 81

Laporan Antara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Air merupakan kebutuhan yang penting bagi kehidupan makhluk hidup,
dimana keberadaannya merupakan sesuatu yang mutlak untuk dijaga dan
dipertahankan. Kerawanan atau kekritisan pemenuhan sumberdaya air telah
terjadi tidak hanya dipandang dari ketimpangan antara jumlah ketersediaan
dan kebutuhan (kuantitas) saja, tetapi kerawanan juga terjadi pada sebaran
(distribusi) secara temporal maupun spasial.
Mata air / sumber air sebagai salah satu sumberdaya airtanah yang mucul di
permukaan menjadi andalan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan air.
Keterdapatan mata air / sumber air di suatu wilayah dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain curah hujan, permeabilitas, topografi, sifat
hidrologi lapisan pembawa air, dan struktur geologinya. Beberapa faktor
pengaruh tersebut menyebabkan karakteristik mata air / sumber air di suatu
wilayah tidak sama, ditinjau dari aspek jumlah, distribusi, sifat hidrologi
(kontinuitas dan besar aliran), dan kualitas air.
Pada umumnya kegiatan manusia mempengaruhi kondisi lingkungan,
khususnya lingkungan airtanah akibat kegiatan industri, daerah permukiman
dan kegiatan pertanian. Mata air / sumber air merupakan salah satu elemen
infrastruktur daerah yang keberadaannya sangat vital dalam mendukung
perkembangan sektor pertanian, perkebunan, dan sektor terkait lainnya.
Pengelolaan mata air / sumber air sangatlah penting karena mempunyai nilai
sosial, ekonomis, yang sangat berpengaruh pada daerah sekitar, sehingga
memerlukan sebuah mekanisme monitoring dan evaluasi.
Pemanfaatan sumberdaya airtanah untuk berbagai keperluan, dalam bentuk
mata air / sumber air ataupun dalam bentuk sumur dalam, terus meningkat
dari tahun ke tahun sebagai dampak pertumbuhan penduduk dan
perkembangan aktivitasnya, tetapi disisi lain ketersediaan sumberdaya
airtanah semakin terbatas, bahkan cenderung semakin langka, terutama

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 1


Laporan Antara

akibat pembukaan tanah / lahan tidak terkendali di daerah hulu (daerah


imbuhan) serta pemanfaatan airtanah oleh pelaku industri yang kurang
terkontrol pemanfaatannya. Apabila hal ini tidak diantisipasi secara cepat
dan tepat, pada saatnya dapat menimbulkan konflik akibat terjadinya
benturan kepentingan, karena permintaan tidak lagi seimbang dengan
ketersediaan sumberdaya airtanah untuk pemenuhannya. Oleh karena itu,
perlu upaya secara proporsional dan seimbang antara pengembangan,
pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya airtanah, baik dilihat dari aspek
teknis maupun dari aspek legal.
Dalam upaya mencegah degradasi kuantitas dan kualitas airtanah, konservasi
airtanah merupakan salah satu komponen penting dalam pengelolaan
airtanah yang berkelanjutan. Konservasi airtanah adalah upaya melindungi
dan memelihara keberadaan, kondisi dan lingkungan airtanah guna
mempertahankan kelestarian atau kesinambungan ketersediaan dalam
kuantitas dan kualitas yang memadai, demi kelangsungan fungsi dan
kemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup, baik waktu
sekarang maupun pada generasi yang akan datang. Pada dasarnya konservasi
airtanah tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan volume airtanah, tetapi
juga meningkatkan konservasi air permukaan. Efisiensi penggunaannya
sekaligus mengurangi run-off air permukaan yang diharapkan dapat meresap
ke tanah dan mengisi akuifer menjadi air tanah.
Mata air / Sumber Wendit terletak di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis,
Kabupaten Malang, merupakan sebuah mata air / sumber yang penting
maknanya, baik dari sisi ekologis, ekonomi, maupun sosial budaya. Dengan
debit air yang cukup besar, yaitu lebih dari 3500 liter/detik, sumber air ini
memenuhi kebutuhan air bersih, baik untuk sebagian masyarakat lokal,
maupun penduduk di Kota Malang, serta sebagian kecil penduduk Kabupaten
Malang. Selain itu, kawasan Sumber Wendit telah lama menjadi wadah
aktivitas masyarakat lokal maupun dari luar kawasan dengan berbagai
tujuan, banyak diantaranya bersifat rekreatif.
Dengan potensi pemanfaatan yang sangat besar, kawasan Sumber Wendit
perlu dijaga keberlangsungannya, karena dengan adanya perubahan
penggunaan dan penutupan lahan di kawasan sekitar Sumber Wendit, seperti

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 2


Laporan Antara

dengan meningkatnya area terbangun, dikhawatirkan berpotensi


mempengaruhi kondisi kawasan seperti menurunnya debit sumber serta
timbulnya polutan dari aktivitas masyarakat di sekitar kawasan Sumber
Wendit.
BAPPEDA Provinsi Jawa Timur, sebagai salah satu perencana arah kebijakan,
mengupayakan program konservasi Sumber Wendit, dan untuk mendukung
usaha ini, identifikasi permasalahan secara komprehensif terhadap kawasan
Sumber Wendit menjadi penting sebagai langkah awal untuk memahami
kondisinya secara lebih baik. Hal ini nantinya akan bermanfaat bagi pihak
terkait dengan Sumber Wendit, terutama perencana dan pengambil
kebijakan, dalam memformulasikan rencana pengembangan dan tindakan
konservasi dan restorasi agar efektif dan tepat sasaran.

1.2. Maksud dan Tujuan


Maksud dari pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air
Wendit ini adalah untuk menginventarisasi kondisi mata air Sumber Wendit
dan pemanfaatannya serta kondisi tata guna lahan catchment area mata air
Sumber Wendit.
Tujuan dari pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air
Wendit ini adalah tersedianya dokumen rencana program konservasi mata
air yang menjadi pedoman dan acuan untuk melakukan perlindungan aset
mata air atau konservasi Sumber Wendit yang berlandaskan kearifan lokal di
lingkungan sekitar sumber dan melibatkan berbagai stakeholder yang terkait.

1.3. Lokasi Pekerjaan


Lokasi pelaksanaan pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata
Air Wendit ini terletak di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten
Malang, Provinsi Jawa Timur.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 3


Laporan Antara

Lokasi Pekerjaan

Gambar 1.1. Peta Lokasi Pekerjaan

1.4. Sumber Biaya


Biaya pelaksanaan pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air
Wendit dibebankan pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Bidang
Prasarana Wilayah, BAPPEDA Prov. Jawa Timur, Tahun Anggaran 2018,
sebesar Rp 250.000.000 (Dua Ratus Lima Puluh Juta Rupiah).

1.5. Nama dan Organisasi Pejabat Pembuat Komitmen


Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pekerjaan ini :
Nama : Ir. Zuhdi
Alamat : BAPPEDA Prov. Jawa Timur, Jl. Pahlawan No. 108 – 110, Surabaya.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 4


Laporan Antara

1.6. Ruang Lingkup


1.6.1. Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah yang dikaji dalam pekerjaan Rencana Program
Konservasi Sumber Mata Air Wendit adalah Kabupaten Malang dan Kota
Malang di Provinsi Jawa Timur.
1.6.2. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit
didahului dengan pekerjaan persiapan yang menyangkut pelaksanaan
administrasi kontrak termasuk perijinan, mobilisasi personil dan
peralatan, pengumpulan data sekunder dan lain - lain, sedangkan kegiatan
pokok / utamanya adalah sebagai berikut :
1. Melakukan inventarisasi kondisi Catchment Area Sumber Wendit (tata
guna lahan dan cekungan air tanah (CAT)).
2. Melakukan invetarisasi kondisi eksisting sumber wendit (debit dan
pemanfaatan).
3. Melakukan pengukuran debit dan pengujian kualitas air.
4. Menyusun rencana konservasi pada Catchment Area Sumber Wendit .
5. Menentukan pembagian zona untuk fungsi lindung dan budi daya.
6. Penataan kelembagaan untuk menentukan peran masing – masing
lembaga dalam upaya konservasi Sumber Wendit.
1.6.3. Keluaran
Produk yang diharapkan dari pekerjaan ini adalah :
1. Laporan Pendahuluan
2. Laporan Keuangan
3. Laporan Bulanan
4. Laporan Antara
5. Draft Laporan Akhir
6. Laporan Akhir
7. Executive Summary
8. Softcopy Laporan
1.6.4. Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksaan yang diberikan untuk menyelesaikan pekerjaan Rencana
Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit adalah 75 (tujuh puluh

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 5


Laporan Antara

lima) hari kalender, terhitung sejak diterbitkannya Surat Perjanjian


Kontrak (SPK) dan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).

1.7. Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam pekerjaan Rencana Program Konservasi
Sumber Mata Air Wendit terbagi menjadi 2 bagian, yaitu metode
pengumpulan data dan tahapan pelaksanaan.
1.7.1. Metode Pengumpulan Data
Metodologi yang digunakan dalam pengumpulan data untuk menunjang
pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit dapat
dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.1. Metodologi Pengumpulan Data


No. Kebutuhan Data Jenis Sumber
Data Data
Badan Informasi
1 Peta Rupa Bumi Kab. Malang Sekunder
Geospasial
BAPPEDA
2 Peta Tata Guna Lahan Kab. Malang Sekunder
Kab. Malang
BAPPEDA
3 Peta RTRW Kab. Malang Sekunder
Kab. Malang
Badan Informasi
4 Peta Cekungan Air Tanah Sekunder
Geospasial
Badan Informasi
5 Peta Hidrogeologi Sekunder
Geospasial
Perhutani Divisi
6 Peta Kawasan Hutan Sekunder Regional Jawa
Timur
Badan Geologi
7 Peta Geologi Sekunder
Nasional
Badan Informasi
8 Peta Jenis Tanah Sekunder
Geospasial
Badan Informasi
9 Citra Satelit Sekunder
Geospasial

1.7.2. Tahapan Pelaksanaan


Pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit
dilaksanakan dalam beberapa tahapan pelaksanaan, yang dijabarkan
berikut ini.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 6


Laporan Antara

1. Identifikasi Potensi Sumber Wendit


Dalam tahap ini identifikasi potensi Sumber Wendit dilakukan guna
mengetahui apa saja potensi pemanfaatan yang dapat ditingkatkan dan
dikembangkan.
2. Identifikasi Penurunan Debit Air
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui jumlah penurunan debit air dan
juga penyebab penurunan debit sumber tersebut.
3. Identifikasi Upaya Perlindungan Catchment Area Sumber Wendit
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui upaya apa saja yang telah
dilakukan sebagai upaya perlindungan Catchment Area Sumber Wendit.
4. Melakukan Kajian / Studi Literatur serta Analisis Overlay SIG
Kajian atau studi literatur dilakukan guna mencari kebijakan -
kebijakan apa saja yang berpengaruh terhadap konservasi Sumber
Wendit. Kajian tersebut diantaranya rencana tata ruang, rencana
strategis sektoral, serta rencana atau studi terkait.
5. Penetapan Batas Catchment Area Wendit
Catchment Area Sumber Wendit masih belum memiliki batas yang
presisi, sehingga penggunaan SIG diperlukan.
6. Melakukan Pemetaan Stakeholder dan Kompilasi Kebijakan
Pemetaan stakeholder dilakukan untuk mengetahui stakeholder mana
saja yang terlibat dalam upaya konservasi Sumber Wendit, serta
mengidentifikasi kebijakan apa saja yang akan dikompilasikan untuk
pada akhirnya dilakukan sinkronisasi.
7. Pemetaan Kepentingan dan Kewenangan
Hal ini bertujuan agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan dan
kewenangan dalam melakukan upaya konservasi Sumber Wendit.
8. Sinkronisasi Kebijakan – Rencana - Program
Tahap ini merupakan tahap inti dari review rencana program konservasi
Sumber Wendit. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya kebijakan-
rencana-program dari masing-masing stakeholder yang saling tumpang
tindih. Sehingga sinkronisasi kebijakan ini dapat dijadikan sebagai input
untuk merumuskan rencana aksi selanjutnya.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 7


Laporan Antara

1.8. Sistematika Penulisan


Laporan Antara pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air
Wendit ini akan disajikan dalam 6 (enam) bab yang secara umum akan
dijelaskan sebagai berikut :
1. BAB I : Pendahuluan
Menyajikan tentang uraian latar belakang, maksud dan tujuan pekerjaan,
produk dari pekerjaan, ruang lingkup kegiatan serta sistematika laporan.
2. BAB II : Tinjauan Kebijakan
Menyajikan uraian kebijakan yang berkaitan dengan konservasi mata air /
sumber.
3. BAB III : Profil Wilayah
Menyajikan gambaran umum kondisi wilayah lokasi pekerjaan, terutama
di kawasan rencana konservasi Mata Air / Sumber Wendit yang meliputi
batas wilayah, kondisi fisik dan ekologi, penggunaan lahan dan sosial
ekonomi.
4. BAB IV : Analisa
Analisa dalam pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air
Wendit terdiri atas penentuan zona konservasi Mata Air / Sumber Wendit.
5. BAB V : Survey Investigasi
Hasil dari survey investigasi serta analisa yang berkaitan dengan rencana
konservasi Mata Air / Sumber Wendit.
6. BAB VI : Penutup
Berisi mengenai kesimpulan dan saran dari hasil survey dan investigasi.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 8


Laporan Antara

BAB II
TINJAUAN KEBIJAKAN

2.1. PP Prov. Jawa Timur Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Airtanah
Konservasi airtanah mengacu pada berbagai kebijakan yang telah
dikeluarkan oleh pemerintah, salah satunya adalah PP Prov. Jawa Timur
Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Airtanah. Dalam kebijakan
disebutkan bahwa, pengelolaan airtanah pada basis cekungan airtanah yang
berlandaskan pada kebijakan dan strategi pengelolaan airtanah. Pengelolaan
airtanah diselenggarakan berlandaskan pada prinsip keseimbangan antara
upaya konservasi dan pendayagunaan airtanah. Perencanaan konservasi
airtanah bertujuan untuk menjaga kelangsungan keberadaan, daya dukung,
dan fungsi airtanah. Penetapan zona konservasi airtanah disusun berdasarkan
data dan informasi hasil kegiatan inventarisasi. Zona konservasi airtanah
diklasifikasikan menjadi :
1. Zona perlindungan airtanah yang meliputi daerah imbuhan airtanah.
2. Zona pemanfaatan airtanah yang meliputi zona aman, rawan, kritis, dan
rusak.
Kegiatan konservasi airtanah dilakukan secara menyeluruh pada cekungan
airtanah yang mencakup daerah imbuhan dan daerah lepasan airtanah,
melalui :
1. Perlindungan dan pelestarian airtanah yang dilakukan melalui :
a. Menjaga daya dukung dan fungsi daerah imbuhan airtanah.
b. Menjaga daya dukung akuifer.
c. Memulihkan kondisi dan lingkungan airtanah pada zona kritis dan rusak.
2. Pengawetan airtanah.
3. Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran, yang dilakukan
dengan cara :
a. Mencegah pencemaran airtanah.
b. Menanggulangi pencemaran airtanah.
c. Memulihkan kualitas airtanah yang tercemar.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 9


Laporan Antara

4. Pencegahan intrusi air laut dan amblesan tanah, dengan cara :


a. Mengurangi debit pengambilan airtanah pada zona rawan, kritik dan
rusak.
b. Meningkatkan pengimbuhan airtanah dengan membuat sumur resapan
dan / atau sumur injeksi.
c. Melakukan rehabilitasi lahan kritis di daerah imbuhan airtanah.
Untuk pemanfaatan airtanah, dapat dilakukan untuk beberapa tujuan. Salah
satunya untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari - hari. Adapun ketentuan
yang harus dipenuhi dalam pemanfaatan airtanah untuk kebutuhan sehari -
hari, yakni :
1. Penggunaan air dari sumur bor berdiameter kurang dari 2 inchi.
2. Penggunaan airtanah kurang dari 100 m3/bulan per kepala keluarga.
Sedangkan pemanfaatan airtanah yang digunakan untuk kegiatan usaha yang
bersifat komersil, memiliki ketentuan untuk menyadap airtanah pada akuifer
tidak tertekan dibatasi paling banyak 10 m3/hari. Pemanfaatan airtanah
dapat dilakukan setelah mendapatkan izin yang terdiri atas izin pemakaian
dan izin pengusahaan. Beberapa larangan badan usaha atau perorangan
dalam pemanfaatan airtanah adalah :
1. Melakukan pengeboran atau penggalian tanpa dilengkapi izin, kecuali
untuk kebutuhan sehari - hari dan pertanian rakyat sesuai batasan.
2. Melakukan kegiatan pengeboran dan penggalian dalam radius 200 (dua
ratus) meter dari lokasi permunculan mata air/ sumber.
3. Melakukan pengeboran, penggalian dan pengambilan airtanah pada zona
rusak airtanah atau pada zona perlindungan airtanah.
4. Memanfaatkan airtanah di daerah pantai yang dapat menyebabkan instrusi
air laut ke dalam airtanah.
Selain pemanfaatan sumberdaya air dari luar, peranan masyarakat juga turut
menentukan keberlanjutan sumberdaya airtanah. Masyarakat memiliki
peranan dalam melakukan pengawasan dan pengaduan kepada pihak
berwenang jika mendapati pencemaran lingkungan tanah, memberikan
saran, pendapat, usul, keberatan dan informasi terhadap pengelolaan
airtanah.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 10


Laporan Antara

2.2. Review RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun 2011 - 2031


Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur, kawasan Mata
Air / Sumber Wendit belum / tidak termasuk termasuk kedalam kawasan
pengendalian ketat (HCZ). Kawasan pengendalian ketat ditujukan untuk
menyeimbangkan pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan. Kawasan ini
ditetapkan agar pembangunan ekonomi tidak berdampak negatif terhadap
lingkungan dan sosial, meminimalisir ancaman dan resiko bencana dengan
mengendalikan perkembangan kawasan - kawasan rawan bencana,
mempertahankan fungsi lindung kawasan pada kawasan lindung prioritas dan
kawasan pelestarian lingkungan, serta mempertahankan fungsi prasarana
wilayah dengan mengendalikan kawasan sekitar agar tidak menggangu fungsi
tersebut.
Salah satu potensi mata air / sumber yang perlu dikendalikan
pemanfaatannya di Kabupaten Malang adalah Mata Air / Sumber Wendit.
Mata Air / Sumber Wendit merupakan mata air / sumber yang terletak di
Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Terletak kurang
lebih 4 km dari pusat Kota Malang, ke arah Timur Laut. Dengan potensi debit
total sebesar 3500 liter/detik, selain untuk wahana rekreasi, juga
dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih yang dikelola oleh
PDAM Kota Malang sebesar ± 1500 liter/detik untuk sebagian besar wilayah
Kota Malang, serta PDAM Kabupaten Malang yang mendapatkan ijin
pemanfaatan sebesar 210 liter/detik, yang rencananya akan didistribusikan
ke Perumahan Sawojajar 3 dan wilayah KEK Singosari. Sehingga dengan
adanya pekerjaan Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit,
diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam memperbarui kebijakan
dalam RTRW Provinsi Jawa Timur kedepannya.

2.3. Review RTRW Kabupaten Malang Tahun 2010


Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Malang pada Tahun
2010, salah satu upaya pengembangan prasarana sumberdaya air adalah
dengan optimalisasi fungsi dan pelayanan prasarana kawasan sumberdaya
air, dimana termasuk didalamnya adalah perlindungan terhadap sumber -
sumber mata air / sumber dan daerah resapan air. Perlindungan yang

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 11


Laporan Antara

dimaksud adalah pembatasan untuk pemanfaatan pariwisata dan kontruksi


bangunan, serta mengutamakan vegetasi yang memberikan perlindungan
kawasan mata air / sumber. Kawasan sekitar mata air / sumber yang
dimaksud adalah kawasan di sekeliling mata air / sumber yang mempunyai
manfaat penting mempertahankan kelestarian fungsi mata air / sumber,
dengan perlindungan sekurang - kurangnya dengan jari - jari 200 meter di
sekitar mata air, yang disebut sebagai sempadan mata air / sumber.
Upaya penanganan / pengelolaan kawasan sempadan mata air / sumber,
melalui :
1. Perlindungan terhadap kawasan sempadan mata air / sumber dari
berbagai kegiatan dan bahan – bahan yang dapat menyebabkan kerusakan
kualitas dan mencemari sumber / mata air maupun kondisi fisik kawasan
sekitarnya.
2. Penggunaan sumber air seperti Sumber Wendit, Sumber Maguan, Sumber
Jenon, Sumber Wringinsongo, Sumber Ubalan, dan sumber air lainnya,
selain sebagai sumber air minum dan irigasi juga untuk pariwisata,
diizinkan selama tidak mengurangi kualitas tata air yang ada. Penggunaan
sumber air untuk rekreasi dan renang perlu dibuat kolam tersendiri.
3. Pengembangan tanaman keras, tanaman perdu, tanaman tegakan tinggi,
dan penutup tanah (ground cover) untuk melindungi kawasan dari
pencemaran dan longsor.
4. Pengaturan penggunaan lahan, terutama bangunan di kawasan yang tidak
berhubungan langsung dengan konservasi mata air.
5. Pengawasan dan pengendalian secara ketat terhadap penggunaan lahan
yang berpeluang terhadap terjadinya alih fungsi lahan di sekitar sempadan
mata air.
Sumber Wendit banyak dimanfaatkan untuk kepentingan air bersih / air
minum dan berbagai pemanfaatan yang lainnya. Pemanfaatan sumber ini
harus diatur untuk kepentingan masyarakat Kabupaten Malang khususnya
daerah sekitar Kecamatan Pakis dan juga digunakan untuk masyarakat di luar
wilayah kabupaten seperti Kota Malang.
Berdasarkan kondisi tersebut, rencana konservasi airtanah dalam cekungan
airtanah di wilayah Kabupaten Malang, dijabarkan sebagai berikut :

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 12


Laporan Antara

1. Zona Aman pada akuifer kedalaman > 40 m bawah muka tanah (bmt).
Pengambilan airtanah dibatasi maksimum 500 m3/hari/sumur. Airtanah
pada akuifer kedalaman < 40 m bmt hanya diperuntukan bagi keperluan
rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100 m3/bulan/sumur.
Lokasinya berada pada Kecamatan Lawang, Singosari, Karangploso,
Jabung, Tumpang, Poncokusumo, Wajak, Turen, Dampit, Tirtoyudo dan
Ampelgading.
2. Zona Aman pada akuifer kedalaman > 40 m bawah muka tanah (bmt).
Pengambilan airtanah dibatasi maksimum 300 m3/hari/sumur. Airtanah
pada akuifer kedalaman < 40 m bmt hanya diperuntukan bagi keperluan
rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100 m3/bulan/sumur.
Berada pada Kecamatan Kalipare, Pagak, Bantur, Gedangan,
Sumbermanjing Wetan, Dampit dan Kota Malang.
3. Zona Aman pada akuifer kedalaman > 40 m bawah muka tanah (bmt).
Pengambilan airtanah dibatasi maksimum 200 m3/hari/sumur. Airtanah
pada akuifer kedalaman < 40 m bmt hanya diperuntukan bagi keperluan
rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100 m3/bulan/sumur.
Berada pada lokasi Kecamatan Sumberpucung, Kepanjen, Pakisaji,
Gondanglegi, Pagelaran, dan Bululawang.
4. Zona Aman pada akuifer kedalaman > 40 m bawah muka tanah (bmt).
Pengambilan airtanah dibatasi maksimum 100 m3/hari/sumur. Air tanah
pada akuifer kedalaman < 40 m bmt hanya diperuntukan bagi keperluan
rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100 m3/bulan/sumur.
Berada pada Kecamatan Pakis, Tajinan, Bululawang, Turen, Gondanglegi,
Pagelaran dan Kota Malang.
5. Zona Aman pada akuifer kedalaman > 40 m bawah muka tanah (bmt).
Pengambilan airtanah dibatasi maksimum 50 m3/hari/sumur. Airtanah
pada akuifer kedalaman < 40 m bmt hanya diperuntukan bagi keperluan
rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100 m3/bulan/sumur.
Lokasinya berada di Kecamatan Kalipare, Pagak, Bantur, Gedangan dan
Sumbermanjing Wetan.
6. Zona Aman, khusus diperuntukan bagi sumber baku air bersih perkotaan.
Pengambilan airtanah untuk keperluan industri dapat dipertimbangan

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 13


Laporan Antara

setelah dilakukan kajian teknis hidrogeologi. Sedangkan lokasi berada


pada Kecamatan Lawang, Singosari, Karangploso, Pakis dan Wagir.
7. Zona Aman kualitas airtanah umumnya payau hingga asin. Pengambilan
airtanah dalam pada semua kedalaman disarankan debit maksimum 50
m3/hari/sumur. Airtanah dangkal yang tawar hanya diperuntukan bagi
keperluan rumah tangga dengan debit maksimum 100 m3/bulan/sumur.
Berada pada Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, dan
Sumbermanjing Wetan.
8. Zona Aman dengan produktifitas akuifer rendah dan kualitas airtanah asin.
Airtanah kurang layak dikembangkan, kecuali pada akuifer dangkal dapat
dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dengan debit maksimum 100
m3/bulan/sumur. Berada pada lokasi Kecamatan Bantur, Gedangan dan
Sumbermanjing Wetan.
9. Zona Resapan, tidak dikembangkan bagi berbagai peruntukan, kecuali
untuk keperluan rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100
m3/bulan/sumur, sedangkan untuk keperluan lain dapat dipertimbangkan
setelah dilakukan kajian teknis hidrogeologi. Peruntukan lahan diupayakan
untuk perkebunan atau hutan. Berada pada lokasi Kecamatan Kasembon,
Ngantang, Pujon, Dau, Karangploso, Wagir, Pakisaji, Ngajum, Wonosari,
Lawang, Singosari, Jabung, Tumpang, Poncokusumo, Wajak, Tirtoyudo,
Ampelgading dan Kota Batu.
Sebagaimana uraian diatas, maka pengendalikan pemanfaatan airtanah
secara proporsional dan berkelanjutan, sebagai air baku untuk keperluan
industri, air bersih, dan air minum, dilakukan secara lebih ketat dengan
kewajiban mendasari pertimbangan teknis pengendalian pengambilan per
zona dan pertimbangan teknis dari instansi teknis terkait yang berwenang.

2.4. Review RTRW Kota Malang Tahun 2010 - 2030


Kota Malang merupakan salah satu kota yang menerima manfaat Mata Air /
Sumber Wendit dalam pemenuhan kebutuhan air bersihnya. Pemerintah Kota
Malang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang Tahun 2010 - 2030
membuat beberapa kebijakan dan strategi yang berkaitan dengan
perlindungan kawasan sumberdaya air. Kebijakan dan strategi ini secara

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 14


Laporan Antara

langsung menyebutkan konservasi Mata Air / Sumber Wendit, namun


beberapa kebijakan dan strategi yang termuat di dalam RTRW Kota Malang
2010 - 2030 mengarah kepada pengelolaan dan perlindungan kawasan
sumberdaya air. Berikut ini beberapa kebijakan dan strategi pengelolaan dan
perlindungan kawasan sumberdaya air.
2.4.1. Kebijakan dan Strategi Pola Ruang Wilayah Kota Malang
Kebijakan terkait pola ruang wilayah Kota Malang, meliputi :
1. Penetapan dan Pengembangan Kawasan Lindung.
2. Pengembangan dan Pengendalian Kawasan Budidaya.
Kebijakan penetapan dan pengembangan kawasan lindung diarahkan pada
kelestarian fungsi lingkungan hidup dan pengendalian pencemaran dan
kerusakan lingkungan hidup untuk mendukung pembangunan kota yang
berkelanjutan. Strategi penetapan dan pengembangan kawasan lindung,
meliputi:
1. Memantapkan kawasan lindung dengan menjaga dan mengembalikan
fungsi kawasan.
2. Membatasi kegiatan di kawasan lindung yang telah digunakan.
3. Mengarahkan pemanfaatan kawasan lindung wilayah kota untuk
kegiatan jalur hijau dan RTH.
4. Menyediakan RTH kota minimal 30% dari luas wilayah kota.
5. Mengarahkan orientasi pembangunan sepanjang sungai dengan
menjadikan sungai sebagai bagian dari latar depan.
6. Memantapkan kawasan resapan air dengan meningkatkan populasi
vegetasi di kawasan lindung sesuai dengan fungsi kawasan.
7. Mengamankan kawasan lindung dari kegiatan yang cenderung
mengganggu penggunaan kawasan tersebut.
8. Mendorong pemanfaatan kawasan lindung yang tidak mengganggu
sistem ekologi yang telah berjalan.
9. Meningkatkan kerja sama antar intansi pemerintah yang berwenang
dalam penyelenggaraan kegiatan yang bertujuan kelestarian dan
keberlanjutan kawasan lindung.
10. Meningkatkan kerja sama antar daerah otonom yang berbatasan,
khususnya terkait Daerah Aliran Sungai.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 15


Laporan Antara

11. Mendorong dan meningkatkan peran serta dan kepedulian masyarakat


terhadap kelestarian kawasan lindung.
12. Menerapkan inovasi penyediaan RTH antara lain melalui peningkatan
jumlah tegakan, memperbanyak taman atap (roof garden) pada
bangunan tinggi, dinding hijau (green wall) pada kawasan padat
bangunan, dan taman mini pada setiap lahan terbuka.
2.4.2. Rencana Sistem Penyediaan Air Minum Kota
1. Rencana pengembangan jaringan sumber air baku bersumber dari mata
air / sumber dan sumur bor.
2. Rencana peningkatan sistem prasarana air bersih, meliputi:
a. Sumber air baku Kota Malang berasal dari 6 (enam) mata air / sumber
dan 4 (empat) sumur bor, sehingga lokasi dari tiap mata air / sumber
meliputi Mata Air / Sumber Wendit, Binangun, Banyuning, Karangan,
Sumbersari, dan Sumberpitu. Sedangkan sumber air baku yang
berasal dari sumur bor antara lain Badut, Istana Dieng, TPA
Supiturang, dan Sumbersari.
b. pengembangan wilayah pelayanan diarahkan ke kelurahan yang
sebagian dan/atau seluruhnya belum dilayani oleh sistem perpipaan
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), yaitu: Kelurahan Tlogomas,
Merjosari, Karangbesuki, Bandulan, Mulyorejo, Bandungrejosari,
Bakalankrajan, Bumiayu, Arjowinangun, Tlogowaru, Wonokoyo,
Buring, Kedungkandang, Lesanpuro, Madyopuro, Cemorokandang,
Tunjungsekar, Tasikmadu, dan Tunggulwulung.
c. Pengembangan jaringan air bersih dilakukan pada permukiman baru.
d. Pembatasan penyediaan air bersih non PDAM yang memanfaatkan
sumur, sumur bor dan pompa.
e. Mekanisme ketentuan perizinan mengenai pembatasan penyediaan
air bersih non PDAM yang memanfaatkan sumur, sumur bor dan
pompa, akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Kepala Daerah
yang ditetapkan paling lambat 24 (dua puluh empat) bulan setelah
diundangkannya Peraturan Daerah ini.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 16


Laporan Antara

2.5. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 - 2019


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ditetapkan melalui
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015. RPJM Nasional
adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode lima
tahun yang berisi penjabaran visi, misi, dan program Presiden yang terpilih.
Salah satu sasaran pengembangan wilayah berdasarkan RPJM Nasioanl tahun
2015 - 2019 adalah terwujudnya ruang wilayah yang aman, nyaman,
produktif, dan berkelanjutan dengan sasaran :
1. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan
buatan.
2. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dan
sumberdaya buatan dengan memperhatikan sumberdaya manusia.
3. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif
terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Selain itu terdapat beberapa muatan RPJM Nasional yang berkaitan dengan
pengembangan kawasan lindung namun tidak secara detail membahas
konservasi Mata Air / Sumber Wendit, diantaranya :
1. Peningkatan luasan kawasan berfungsi lindung paling sedikit 30% dari luas
Pulau Jawa - Bali sesuai dengan kondisi ekosistemnya.
2. Pengembangan kawasan lindung dan kawasan budidaya untuk
meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
3. Perlindungan mata air / sumber di Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas di
Pulau Jawa - Bali.
4. Peningkatan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan berbasis
DAS
5. Pengendalian dan rehabilitasi kawasan lindung di bagian hulu Wilayah
Sungai (WS), kawasan hutan lindung, kawasan resapan air dan kawasan
konservasi.
6. Pengembangan kawasan lindung dan kawasan budidaya untuk
meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup meliputi
pengembangan kawasan lindung budidaya dan kawasan lindung dan
kawasan budidaya melalui kerjasama antar daerah untuk kelestarian
pemanfaatan sumberdaya alam.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 17


Laporan Antara

2.6. Review Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa


Timur 2014 - 2019
2.6.1. Visi dan Misi Jawa Timur
Visi Jawa Timur dalam RPJMD Provinsi Jawa Timur adalah “Jawa Timur
Lebih Sejahtera, Berkeadilan, Mandiri, Berdaya Saing dan Berakhlak”.
Salah satu misi untuk mendukung capaian visi tersebut adalah peningkatan
pembangunan yang berkelanjutan, dan penataan ruang. Dimana misi ini
untuk mewujudkan pembangunan yang ramah lingkungan melalui
peningkatan kualitas lingkungan hidup, dan penataan ruang wilayah
provinsi yang berkelanjutan. Dengan demikian konservasi wilayah Mata Air
/ Sumber wendit sebagai cadangan sumber air bersih di Jawa Timur dapat
diupayakan keberlanjutannya.
2.6.2. Program Unggulan dan Prioritas Pembangunan
Berdasarkan visi dan misi yang telah diuraikan sebelumnya, program
unggulan untuk peningkatan pembangunan yang berkelanjutan, dan
penataan ruang diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan rehabilitasi dan rekonstribusi lingkungan hidup,
khususnya kawasan hutan, dengan memilih tanaman pohon bermasa
tumbuh relatif pendek.
2. Meningkatkan upaya konservasi sumberdaya air untuk mewujudkan
keberlanjutan kapasitas pasok sumberdaya air, disamping untuk
pemenuhan kebutuhan pokok sehari - hari, juga untuk pemenuhan
kebutuhan air irigasi pertanian rakyat
3. Memberdayakan komunitas masyarakat yang bertempat tinggal di
sepanjang daerah aliran sungai untuk mengawasi pencemaran air
sungai, dan memelihara lingkungan hidup
4. Meningkatkan upaya konservasi pesisir dan laut, serta merehabilitasi
ekosistem yang rusak, dan menggiatkan kemitraan untuk meningkatkan
peran aktif masyarakat dan swasta dalam pengelolaan sumberdaya
pesisir dan laut
5. Meningkatkan koordinasi lintas sektor yang berpotensi menghasilkan
emisi GRK, terutama sektor energi, transportasi, industri, pertanian,
kehutanan dan penelolaan limbah

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 18


Laporan Antara

6. Menetapkan Rencana Kawasan Strategis Provinsi dalam mendorong


pengembangan wilayah
7. Memfasilitasi upaya Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kabupaten /
Kota untuk dievaluasi oleh Gubernur.
8. Penyusunan petunjuk pelaksanaan pemanfaatan ruang.
9. Memfasilitasi upaya ketaatan terhadap rencana tata ruang.
Program unggulan lainnya yang berkaitan dengan penataan sumberdaya
air diantaranya sebagai berikut :
1. Meningkatkan pembangunan dan rehabilitasi waduk, dam dan embung
berteknologi geomembran.
2. Meningkatkan volume pekerjaan rehabilitasi infrastuktur sumberdaya
air untuk mengoptimalkan fungsi daerah tangkapan air (catchment
area) dan sumber air.
3. Mempertahankan volume sumber air untuk menjaga ketersediaan air
sepanjang tahun.
4. Meningkatkan percepatan pembangunan, pemeliharaan dan perbaikan
infrastuktur yang menunjang pembangunan sector pertanian dan
wilayah pedesaan.
5. Meningkatkan pengembangan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT)
meningkatkan pembangunan embung berteknologi geomembran di
lokasi rawan kekeringan, jauh dari sumber air dan kondisi tanah porus,
sebagai solusi jangka pendek mengantisipasi bencana kekeringan.
6. Mendorong peningkatan aksesibilitas pelayanan air bersih dengan harga
terjangkau bagi seluruh masyarakat, khususnya masyarakat
berpenghasilan rendah meningkatkan pendayagunaan sumberdaya air
untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi, difokuskan pada peningkatan
fungsi jaringan irigasi yang sudah dibangun tapi belum berfungsi,
rehabilitasi areal irigasi berfungsi yang rusak dan peningkatan kinerja
operasional dan pemeliharaan.
7. Peningkatan akses masyarakat di daerah pedesaan dan rawan air
terhadap pelayanan air minum dan air limbah melalui pengembangan
Sistem Pengembangan Air Minum (SPAM) dan Sistem Pengelolaan Air
Limbah (SPAL) secara komunal.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 19


Laporan Antara

Berdasarkan program unggulan tersebut sumberdaya alam menjadi


diprioritaskan dalam pencapaian tujuan pembangunan. Salah satu usaha
penciptaan suatu keseimbangan antara pemanfaatan dan pengelolaan
sumberdaya alam adalah konservasi sumberdaya air seperti pada kawasan
Mata Air / Sumber Wendit ini sehingga pencemaran, perusakan, dan
kegiatan-kegiatan yang bersifat menurunkan kualitas sumberdaya air dan
lingkungan di wilayah ini dapat diminimalkan.
2.6.3. Program Pengembangan Sumber Daya Air
Air merupakan kebutuhan pokok manusia untuk melangsungkan kehidupan
dan meningkatkan kesejahteraannya. Pembangunan di bidang sumberdaya
air pada dasarnya merupakan upaya membuka dan memperluas akses
secara adil kepada seluruh masyarakat untuk mendapatkan air agar
mampu berperikehidupan yang sehat, bersih, dan produktif. Selain itu,
pembangunan di bidang sumberdaya air juga ditujukan untuk
mengendalikan daya rusak air agar tercipta kehidupan masyarakat yang
aman dan sejahtera. Dalam RPJMD Provinsi Jawa Timur terdapat beberapa
program yang berkaitan dengan pengembangan infrstruktur sumberdaya
air diantaranya sebagai berikut :
1. Program Konservasi Sumberdaya Air
2. Program Pendayagunaan Sumberdaya Air
3. Program Pengendalian Daya Rusak Air
4. Program Pengelolaan Airtanah
5. Program Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya Alam
Dengan demikian Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit
selaras dengan visi, misi, agenda dan program pembangunan Provinsi Jawa
Timur.

2.7. Review Renstra dan Masterplan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 - 2019
2.7.1. Visi dan Misi Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur
Visi Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur adalah “Pengelolaan Energi dan
Sumberdaya Mineral yang Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan
untuk Kesejahteraan Masyarakat Jawa Timur”. Dengan visi tersebut, maka

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 20


Laporan Antara

program Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit secara


tidak langsung mendukung visi Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur. Visi
tersebut dijabarkan dalam beberapa misi yang juga memiliki keterkaitan
dengan program Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit.
Adapun misi yang berkaitan dengan program tersebut adalah misi kelima,
yakni meningkatkan penyediaan air bersih dengan eksplorasi airtanah pada
daerah sulit air di Provinsi Jawa Timur.
2.7.2. Isu Strategis, Kebijakan dan Strategis Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur
Isu strategis yang dirumuskan oleh Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur terkait
sumberdaya airtanah adalah belum optimalnya informasi hidrogeologi dan
sumberdaya airtanah dalam rangka menunjang investasi dan konservasi
airtanah, juga belum optimalnya pemetaan, pengembangan, dan
pemanfaatan potensi airtanah untuk memenuhi kebutuhan masyrakat
akan air bersih di daerah sulit air. Isu strategis tersebut kemudian dijawab
dengan kebijakan dan strategi yang dirumuskan. Arah kebijakan dan
strategis yang dirumuskan oleh Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur dalam
rangka pembangunan energi dan sumber daya mineral daerah Jawa Timur
yakni lebih kepada meningkatkan penyelidikan, inventarisasi dan
pengkajian sumberdaya geologi, geologi lingkungan dan mitigasi bencana
alam geologi, serta airtanah. Selain itu, strategi yang dilakukan untuk
mencapai pengembangan dengan peningkatan ketahanan dan kemandirian
energi tersebut disebutkan bahwa rencana jangka panjang yang berkaitan
dengan wilayah perencanaan ialah meningkatkan upaya konservasi
airtanah dan penyediaan air bersih untuk daerah sulit air.
Adapun strategi Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur yang mengerucut kepada
upaya Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit adalah
penyelidikan potensi airtanah, pembangunan saran prasarana air bersih di
daerah sulit air, menyusun peta konservasi airtanah. Strategi tersebut
ditunjang denga kebijakan Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, yakni
meningkatkan penyelidikan potensi airtanah dan pembangunan
infrastruktur sarana dan prasarana penampungan air bersih dari airtanah
di daerah sulit air.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 21


Laporan Antara

2.7.3. Rencana Program Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur


Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi memiliki beberapa program
yang ditetapkan untuk mencapai visi dan misi dan tujuan pembangunan
Provinsi Jawa Timur, salah satunya adalah Program Pengelolaan Airtanah
yang menunjang misi “Meningkatkan Penyediaan Air Bersih dengan
Eksplorasi Airtanah pada Daerah Sulit Air di Jawa Timur”. Program ini guna
meningkatkan penelitian potensi, pengembangan infrastruktur konservasi
dan pemanfaatan sumberdaya airtanah untuk mendukung investasi serta
untuk penyediaan air bersih di daerah sulit air. Program ini dilakukan
melalui kegiatan sebagai berikut.
1. Penyediaan database dan informasi pengelola airtanah
Kegiatan ini meliputi penyusunan data teknis pemanfaatan airtanah,
pemantauan lokasi permohonan rekomendasi teknis airtanah, sosialisasi
pengawasan dan pengendalian airtanah, pengawasan dan pengendalian
pelaksanaan rekomendasi airtanah. Penyusunan petunjuk teknis
pengelolaan airtanah.
2. Peningkatan kegiatan dan kajian konservasi air tanah
Kegiatan ini meliputi pembuatan sumur resapan airtanah, pembuatan /
pembangunan dan pemeliharaan sumur pantau wilayah padat
pengambilan airtanah, kajian lokasi sumur resapan di daerah imbuhan,
serta pengawasan dan pengendalian pemanfaatan airtanah.
3. Pengembangan pengelolaan airtanah
Kegiatan ini meliputi penyelidikan eksplorasi airtanah dengan metode
geolistrik, pembangunan sumur bor airtanah untuk penyediaan air
bersih, penyusunan kajian potensi airtanah daerah sulit air.

2.8. Review Renstra dan Masterplan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air
Provinsi Jawa Timur
Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur memiliki visi agar
“Terwujudnya Pengelolaan Sumber Daya Air yang Meyeluruh, Terpadu dan
Berwawasan Lingkungan untuk Mendukung Jawa Timur Lebih Sejahtera”.
Untuk mencapai visi tersebut, ditetapkan beebrapa misi, strategi dan
kebijakan yang mendukung pengembangan pengelolaan sumber daya air.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 22


Laporan Antara

Adapun misi yang dicanangkan yaitu :


1. Meningkatkan konservasi Sumber Daya Air yang berkelanjutan.
2. Meningkatkan pendayagunaan Sumber Daya Air secara adil untuk berbagai
kebutuhan.
3. Mengendalikan dan mengurangi resiko daya rusak air.
Beberapa program prioritas yang rencanakan PU SDA Provinsi Jawa Timur
adalah :
1. Program Konservasi Sumber Daya Air
2. Program Pendayagunaan Sumber Daya Air
3. Program Pengendalian Daya Rusak Air
Untuk Program Konservasi Sumber Daya Air, terdapat beberapa kegiatan yang
dilakukan, yaitu :
1. Pembangunan check dam / gully plug
2. Penanaman pohon
3. Pengawasan dan pengendalian pemanfaatan SDA
4. Pemantauan kualitas air
5. Survey, investigasi dan desain (SID) pengelolaan SDA
6. Pelaksanaan dan rasionalisasi peralatan hidrologi
7. Peningkatan peran kelembagaan wadah koordinasi pengelolaan SDA

2.9. Review Renstra dan Masterplan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan
Pemukiman
Arah kebijakan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pemukiman Provinsi
Jawa Timur mengacu pada arahan kebijakan RPJMN 2015 – 2019, yaitu
pengembangan wilayah Pulau Jawa - Bali. Salah satu arahan kebijakan dan
strategi dalam pengembangan Pulau Jawa - Bali adalah pengembangan
kawasan perkotaan dan pedesaan melalui penguatan Sistem Perkotaan
Nasional (SPN). Pengembangan kawasan perkotaan dan pedesaan dilakukan
dengan meningkatkan efisiensi pengelolaan kawasan perkotaan
metropolitan, yang salah satunya dalam rencana adalah KEK Singosari.
Pengembangan KEK Singosari meliputi rencana pengembangan infrastruktur
sumberdaya air. Salah satu programnya adalah pengembangan sarana /
prasarana air baku Sumber Wendit.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 23


Laporan Antara

2.10. Review Rencana Strategis Badan Penanggulangan Bencana Daerah


Provinsi Jawa Timur
Kawasan rawan bencana alam geologi di Provinsi Jawa Timur meliputi
kawasan rawan letusan gunung berapi, kawasan rawan gempa bumi, kawasan
rawan bencana tsunami, dan kawasan rawan luapan lumpur. Kawasan rawan
letusan gunung berapi diantaranya adalah Kawasan sekitar Gunung Bromo
dan Gunung Semeru. Arahan pengelolaan kawasan letusan gunung berapi
adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi daerah bahaya letusan gunung berapi
2. Perencanaan lokasi pemanfaatan lahan untuk aktivitas penting jauh atau
di luar dari Kawasan rawan bencana letusan gunung api.
3. Penghindaran kegiatan budidaya di Kawasan resiko bencana letusan
gunung api.
4. Penerapan desain bangunan yang tahan terhadap tambahan beban akibat
abu gunung api.
5. Pembangunan system dan jalur evakuasi yang dilengkapi dengan sarana
dan prasarana.
6. Penyuluhan kepada masyarakat tentang pengenalan resiko bermukim di
Kawasan sekitar gunung api, mitigasi bencana, dan tindakan dalam
menghadapi bencana gunung api.
7. Peningkatan kesiapan dan koordinasi segenap pemangku kepentingan
dalam mengantisipasi dan menghadap kejadian bencana gunung api.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 24


Laporan Antara

BAB III
PROFIL WILAYAH

3.1. Letak Geografis dan Administrasi


Mata Air / Sumber Wendit terletak di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis,
Kabupaten Malang. Kabupaten Malang terdiri dari 33 kecamatan, merupakan
kabupaten dengan luas administratif terbesar di Provinsi Jawa Timur.
Kecamatan Pakis terletak antara 112°40’18″ – 112°45’07″ BT dan 7°59’56″ –
7°56’21″ LS, dengan batas – batas sebagai berikut :
Batas Utara : Kecamatan Singosari
Batas Timur : Kecamatan Jabung
Batas Selatan : Kecamatan Tumpang
Batas Barat : Kota Malang
Secara administrasi wilayah Kecamatan Pakis memiliki luas keseluruhan
53,62 km2 atau sekitar 1,8% dari total luas Kabupaten Malang. Terbagi atas
15 Desa diantaranya adalah :

1. Desa Sekarpuro 9. Desa Pakiskembar

2. Desa Ampeldento 10. Desa Pakisjajar

3. Desa Sumberkradenan 11. Desa Bunutwetan

4. Desa Kedungrejo 12. Desa Asrikaton

5. Desa Banjarejo 13. Desa Saptorenggo

6. Desa Pucangsongo 14. Desa Mangliawan

7. Desa Sukoanyar 15. Desa Tirtomoyo

8. Desa Sumberpasir

Sebaran wilayah administrasi Kecamatan Pakis dapat dilihat pada Gambar


2.1.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 25


Laporan Antara

Gambar 2.1. Peta Administrasi Kecamatan Pakis

3.2. Iklim
Kawasan Sumber Wendit dipengaruhi iklim yang karakternya sama dengan
iklim Kabupaten Malang. Sebagaimana pada umumnya di Indonesia,
Kabupaten Pasuruan memiliki iklim tropis. Sebagian besar bulan dalam
setahun memiliki curah hujan signifikan dengan musim kemarau relatif lebih
lama dibanding musim hujan. Berdasarkan data iklim tahun data tahun 2017,
suhu udara rata - rata relatif sedang berkisar antara 22,3 - 24,5 ºC.
Kelembaban udara rata - rata 72 - 86%. curah hujan rata - rata bulanan
berkisar 0.1 - 411 mm. Curah hujan terendah terjadi pada Bulan Agustus,
sedangkan pada Bulan November adalah puncak hujan.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 26


Tabel 3.1. Data Iklim Kabupaten Malang di Stasiun Klimatologi Karangploso
Unsur
Satuan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember
Klimatologi
Suhu Udara
Rata - Rata °C 23.60 23.90 23.70 24.00 23.80 23.10 22.30 22.40 23.40 24.50 24.10 24.00
Maksimum °C 28.50 28.60 28.90 28.90 29.10 28.40 27.40 27.80 29.70 29.60 28.80 28.60
Minimum °C 21.10 21.40 20.60 20.90 20.20 20.30 19.10 18.80 19.20 21.20 20.90 20.90
Lembab Nisbi
Rata - Rata % 86.00 82.00 83.00 82.00 76.00 79.00 78.00 75.00 72.00 77.00 83.00 82.00
Maksimum % 98.00 98.00 98.00 96.00 96.00 95.00 98.00 93.00 98.00 93.00 98.00 98.00
Minimum % 58.00 37.00 57.00 51.00 46.00 47.00 46.00 27.00 35.00 32.00 45.00 48.00
Curah Hujan mm 373.00 234.30 406.30 253.20 41.90 34.70 39.20 0.10 45.90 111.80 411.00 276.30
Hari Hujan hari 29.00 23.00 24.00 22.00 9.00 8.00 7.00 2.00 6.00 12.00 26.00 24.00
Hujan Maksimum mm 68.20 39.00 87.00 69.00 22.50 11.00 37.20 0.10 36.00 43.20 67.00 74.80
Penyinaran
% 29.00 39.00 40.00 47.00 73.00 54.00 48.00 61.00 65.00 61.00 30.00 34.00
Matahari
Radiasi Matahari kal/cm 2 322.90 362.70 375.60 367.20 361.70 346.80 314.00 383.10 434.60 420.10 328.00 349.90
Penguapan mm 3.60 3.90 4.20 4.20 3.80 3.70 3.60 4.20 5.10 5.10 5.10 3.60
Kecepatan Angin km/jam 1.30 2.00 1.60 1.60 1.70 1.80 2.20 2.40 3.90 2.10 1.30 1.50
Arah Angin
° 180.00 180.00 180.00 180.00 180.00 180.00 180.00 180.00 180.00 180.00 180.00 180.00
Terbanyak
Kecepatan Angin
km/jam 29/315 32/135 25/90 27/135 22/225 27/180 27/180 36/90 25/90 27/90 41/90 23/180
Maksimum
Tekanan Udara

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


Rata - Rata mbar 944.90 945.50 945.90 946.30 946.50 947.10 947.70 947.60 947.80 946.70 944.20 944.80
Maksimum mbar 947.50 948.30 948.10 947.60 948.50 948.20 949.10 949.70 949.80 949.70 946.00 947.40
Minimum mbar 943.30 941.90 943.60 943.20 944.80 945.20 946.40 946.20 946.00 944.00 942.20 941.60
Laporan Antara

27
Laporan Antara

3.3. Geomorfologi dan Bentukan Lahan


Berdasarkan struktur geomorfologisnya, Kabupaten Malang terbagi atas tiga
bagian. Pertama yaitu daerah pegunungan dan berbukit, dengan ketinggian
antara 450 - 1.600 m dpl yang membentang di mulai bagian Barat, Utara, dan
Timur. Kedua, daerah dataran sedang dengan ketinggian antara 50 – 450 m
dpl yang berada di bagian tengah dan merupakan daerah yang subur tempat
lokasi Sumber Wendit berada. Ketiga, daerah pantai dengan ketinggian
antara 1 - 50 m dpl yang membentang di bagian selatan. Secara geologis,
struktur geomorfologis tersebut berada diatas zona geologis gunung api yang
terbentuk di periode kuarter (sekitar 1,8 juta tahun yang lalu), yang
kemudian mempengaruhi pembentukan endapan aluvial di wilayah ini.
Berdasarkan struktur geomorfologinya, maka ancaman bencana yang dapat
timbul dan seringkali terjadi di wilayah Kabupaten Malang pada umumnya,
yang diantaranya juga berpengaruh terhadap kawasan Sumber Wendit
meliputi :
1. Tanah longsor untuk daerah pegunungan dan perbukitan ketika musim
penghujan tiba.
2. Kekeringan kritis untuk daerah yang bertanah tandus dan berbatu ketika
musim kemarau berlangsung cukup lama.
3. Bencana banjir / genangan banjir untuk daerah di dataran sedang di
sekitar DAS selama musim penghujan, terutama curah hujan sedang hingga
lebat di beberapa wilayah utara dan lokal sekitarnya.
4. Angin puting beliung pada daerah lembah berbukit ketika musim
penghujan dan perubahan iklim tropik.

3.4. Jenis Tanah


Berdasarkan peta persebaran jenis tanah di Kabupaten Malang, kawasan
Sumber Wendit memiliki jenis tanah Alluvial. Jenis tanah ini merupakan
tanah yang tersebar luas di Indonesia demikian pula halnya di Kabupaten
Malang yang kawasannya didominasi oleh jenis tanah ini. Tanah Alluvial,
dengan tingkat kesuburan sedang hingga tinggi, menjadi tanah pertanian
utama di Indonesia karena sebarannya yang sangat luas, terutama di pulau
yang memiliki sungai besar, sehingga berpotensi untuk dikembangkan

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 28


Laporan Antara

sebagai sentra produksi tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai
dengan diikuti pengelolaan tanah dan tanaman yang tepat. Dengan karakter
jenis tanah tersebut, pada kawasan Sumber Wendit dan sekitarnya, dapat
kita jumpai beragam pemanfaatan lahan, mulai dari sawah, kebun, tanaman
tahunan, selain itu diantaranya juga kita temukan pepohonan permanen.

3.5. Geologi
Jenis batuan induk merupakan salah satu faktor yang menentukan
kemampuan daya dukung tanah terhadap beban di atasnya. Kondisi geologi
di wilayah Kabupaten Malang, khususnya di Kecamatan Pakis terdiri dari
berbagai macam batuan induk, antara lain meliputi :
1. Tufa Malang (Qvtm) di permukaan didominasi oleh sebaran tufa yang
keadaannya melapuk menengah - tinggi. Tufa; putih keabuan-coklat
terang, berbutir pasir halus-kasar, terdiri dari komponen mineral hitam,
oksida besi dan kaca gunung api, setempat mengandung kerikil batuan
andesitik dan batu apung serta mengandung sisa tumbuhan, kurang padu,
mudah pecah, tebal lapisan 2,00 - 5,00 m. Tebal tanah pelapukan
umumnya 1,00 - 2,80 m, berupa lanau lempungan,coklat kemerahan,
teguh, plastisitas sedang - tinggi, di beberapa tempat nilai penetrometer
saku (qu) 2,00 - 2,80 kg/cm2 dan nilai tekanan konus 13,00 - 25,00 kg/cm2.
Secara umum formasi ini mempunyai tingkat kekuatan tanah dan batuan
rendah.
2. Endapan Gunung Api Buring (Qpvb) di permukaan didominasi oleh sebaran
batu pasir tufaan, berselingan dengan konglomerat. Batu pasir tufaan;
umumnya melapuk tinggi-menengah, kuning kecoklatan, berbutir pasir
halus-kasar, berkomponen felspar, batu apung dan kaca gunung api,
kurang padu, mudah hancur. Konglomerat; umumnya melapuk tinggi-
menengah, kuning keabuan, berbutir pasir kasar-kerakal, membundar
tanggung, berkomponen andesit, basal, batu apung, kuarsa dan kaca
gunung api, masa dasar tufa pasiran kasar, kurang padu, mudah lepas-agak
padat. Tebal singkapan 0,20 - 1,00 m. Secara umum formasi ini
mempunyai tingkat kekuatan tanah dan batuan rendah Tanah pelapukan
dari batuan umumnya berupa lanau pasiran setempat kerikilan, kalabu

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 29


Laporan Antara

kecoklatan, lunak - teguh, plastisitas rendah - sedang di beberapa tempat


nilai penetrometer saku (qu) 2,25 - 3,00 kg/cm2 dan tebal lapisan rata -
rata 1,00 m.

3.6. Hidrologi
Mata Air / Sumber Wendit termasuk dalam ekosistem Daerah Aliran Sungai
Brantas. Kali Brantas dengan luas DAS 11.947 km2 mengalir mulai dari Kota
Batu, mengelilingi Gunung Kelud, hingga kemudian bermuara di Selat Madura
/ Laut Jawa. Selain Sumber Wendit, di wilayah Kecamatan Pakis juga
terdapat sumber besar lainnya, yaitu Sumber Gentong dan Sumber Wendit
Lanang, yang saat ini dimanfaatkan untuk kawasan rekreasi.

3.7. Kependudukan
Data kependudukan merupakan salah satu data pokok yang sangat diperlukan
dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan karena penduduk merupakan
obyek sekaligus subyek pembangunan. Fungsi obyek bermakna penduduk
menjadi target dan sasaran pembangunan yang dilakukan oleh penduduk,
dan fungsi subyek bermakna penduduk adalah pelaku tunggal dari sebuah
pembangunan. Kedua fungsi tadi diharapkan berjalan seiring dan sejalan
secara integral.
Berdasarkan hasil Registrasi Penduduk akhir tahun, jumlah Penduduk
Kecamatan Pakis pada tahun 2017 tercatat sebesar 160.763 jiwa dengan
tingkat kepadatan 2.998 orang/km2. Komposisi penduduk menurut jenis
kelamin menunjukkan bahwa 50,36 persen adalah penduduk laki-laki dan
49,64 persen adalah penduduk perempuan dengan angka sex ratio sebesar
100,00 persen.

3.8. Sosial dan Pendidikan


Pendidikan dianggap sebagai suatu cara yang efektif untuk meningkatkan
pembangunan, karena itulah negara - negara berkembang mencurahkan
perhatian yang cukup besar terhadap perluasan pendidikan. Demikian juga
pada beberapa kesempatan kerja sebagai kebutuhan hidup, menyaratkan
jenjang pendidikan tertentu untuk aktivitasnya. Dengan taraf pendidikan

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 30


Laporan Antara

tertentu seseorang dapat memenuhi / menimbulkan rasa harga dirinya.


Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha sadar manusia untuk
mengembangkan kepribadian dan meningkatkan kemampuannya. Oleh
karenanya dewasa ini masyarakat sudah menganggap pendidikan sebagai
suatu kebutuhan dan pendidikan sudah menjadi simbul status sosial (title
minded) dan merupakan sarana yang diharapkan mampu menyelesaikan
banyak permasalahan. Sejalan dengan permasalahan tersebut maka
peningkatan partisipasi sekolah penduduk harus diimbangi dengan
peningkatan sarana fisik pendidikan dan tenaga guru yang memadai. Rasio
murid taman kanak - kanak terhadap sekolah sebesar 64,43 yang berarti
untuk setiap sekolah membimbing sebanyak 65 orang siswa taman kanak-
kanak di Kecamatan Pakis. Hal ini menggambarkan beban sekolah untuk
memberikan pendidikan dasar cukup berat, namun dilain pihak rasio ini
menunjukkan perkembangan di bidang pendidikan karena animo masyarakat
untuk menyekolahkan anaknya pada jenjang pra sekolah semakin meningkat.
Pada periode yang sama, rasio murid sekolah dasar terhadap sekolah masing-
masing sebesar 232 orang/sekolah untuk sekolah negeri dan 178
orang/sekolah untuk sekolah swasta. Berikutnya rasio murid Sekolah
Menengah Pertama Negeri sebesar 196 orang/sekolah, rasio murid Sekolah
Menengah Pertama Swasta sebesar 89 orang/sekolah, rasio murid Sekolah
Menegah Atas Swasta sebesar 195 orang/sekolah.

3.9. Kesehatan
Pembangunan sektor kesehatan sebagai bagian integral dari pembangunan
yang berlangsung, bertujuan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi
setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal. Peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus
diimbangi dengan penyediaan sarana kesehatan sebagai tempat rujukan
bilamana masyarakat mengalami gangguan kesehatan. Sarana kesehatan
tersebut berupa penyediaan sarana rumah sakit, puskesmas, puskesmas
pembantu, posyandu dan lain - lain. Kemudian sebagai penunjang adalah
pengadaan tenaga kesehatan.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 31


Laporan Antara

Dari beberapa fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Pakis proporsi


terbesar adalah Posyandu yaitu sebanyak 134 lokasi. Hampir semua RW atau
paling tidak dusun di Kecamatan Pakis mempunyai posyandu yang diharapkan
aktif melakukan kegiatan terutama penanganan / pemantauan kesehatan ibu
dan balita.
Fasilitas yang lain antara puskesmas / pustu sebanyak 3 buah. Berikutnya
tempat praktek dokter sebanyak 18 buah, polindes sebanyak 15 buah dan
tempat praktek bidan sebanyak 37 buah. Sedangkan untuk tenaga medis di
Kecamatan Pakis terdapat sebanyak 16 dokter, 25 mantri, 42 bidan, 17 dukun
bayi terlatih dan tidak ada dukun bayi belum terlatih.
Dengan karakteristik penduduk Kecamatan Pakis yang memiliki struktur umur
penduduk berusia muda, maka perlu adanya pengendalian kelahiran melalui
gerakan KB nasional. Pada Tahun 2016, jumlah pasangan usia subur di
Kecamatan Pakis sebanyak 28.099 pasangan dengan peserta KB Aktif
sebanyak 21.066 pasangan atau mencapai 77,90 persen.
Keputusan untuk ber - KB dan pemilihan jenis kontrasepsi kemungkinan
dipengaruhi oleh faktor jumlah anak, pendidikan, kegiatan ekonomi, budaya
setempat dan nilai anak. Ekspetasi jenis kontrasepsi yang digunakan adalah
suntik yaitu sekitar 11.440 pasangan. Dan urutan berikutnya adalah cara Pil
(sekitar 3.340 pasangan), IUD (3.340 pasangan), susuk (1.540 pasangan), dan
sisanya mengunakan kondom dan MOP/MOW.

3.10. Agama
Beragamnya agama yang dianut oleh masyarakat menggambarkan toleransi
kehidupan beragama. Penduduk Kecamatan Pakis menganut berbagai
keyakinan yang hidup berdampingan secara damai. Seperti halnya agama
yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia, penduduk Kecamatan
Pakis sebagian besar memeluk agama Islam yaitu 149.650 jiwa. Berikutnya
agama Kristen 2.615 jiwa serta agama Katolik 1.254 jiwa.
Sarana yang dimiliki untuk menunjang kehidupan beragama terlihat dari
banyaknya sarana ibadah. Sejalan dengan banyaknya penganut agama
Islam, jumlah sarana ibadah terbanyak adalah masjid dan surau / langgar
yang dapat dijumpai pada setiap desa di Kecamatan Pakis. Jumlah masjid

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 32


Laporan Antara

dan langgar yang berada di Kecamatan Pakis masing - masing tercatat


sebanyak 90 buah dan 493 buah.

3.11. Penggunaan Lahan


Jenis penggunaan lahan di Kecamatan Pakis sebagian besar merupakan area
pemukiman dan persawahan, dengan sebagian kecil perkebunan dan
pertanian lahan kering. Di wilayah Kecamatan Pakis juga terdapat kompleks
militer yang dikelola oleh TNI Angkatan Udara, yang saat ini juga difungsikan
sebagai bandar udara komersial.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 33


Laporan Antara

BAB IV
ANALISA

4.1. Cekungan Airtanah


4.1.1. Pengertian Cekungan Airtanah
Cekungan Airtanah (CAT) merupakan suatu wilayah yang dibatasi oleh
batas hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan
pelepasan airtanah berlangsung. Pada setiap CAT harus ada daerah
imbuhan airtanah dan daerah lepasan airtanah. CAT merupakan batas
teknis pengelolaan sumber daya airtanah.
Pengertian lain mengatakan bahwa CAT adalah suatu wilayah yang dibatasi
oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti
proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan airtanah berlangsung (PP
No. 121 Tahun 2015). Pengertian ini juga dikemukakan oleh Hendrayana
(1993) bahwa cekungan airtanah secara alamiah dibatasi oleh batas - batas
hidrolika yang dikontrol oleh karakteristik kondisi geologi dan hidrogeologi
wilayah setempat. Suatu cekungan air bawah tanah dapat dibatasi oleh
satu atau lebih tipe batas yang kondisi hidraulika pada setiap batasnya
berbeda - beda.
Dalam Undang - Undang Sumberdaya Air, daerah aliran airtanah disebut
juga Cekungan Airtanah (CAT) (groundbasin water) memiliki pengertian
sebagai suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat
semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran,
dan pelepasan air tanah berlangsung. Daerah Cekungan Tanah (CAT) sering
juga disebut sebagai alluvial.
4.1.2. Kriteria Cekungan Air Tanah (CAT)
Beberapa kriteria tentang CAT (Kodatie dan Sjarief, 2010) berdasar PP No.
43 Tahun 2008 antara lain :
1. Mempunyai batas hidrogeologis yang dikontrol oleh kondisi geologis dan
atau kondisi hidraulik airtanah. Batas hidrogeologis adalah batas fisik
wilayah pengelolaan airtanah. Batas hidrogeologis dapat berupa batas

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 34


Laporan Antara

antara batuan lulus dan tidak lulus air, batas pemisah air tanah, dan
batas yang terbentuk oleh struktur geologi yang meliputi antara lain
kemiringan lapisan batuan, lipatan, dan patahan.
2. Mempunyai daerah imbuhan dan daerah lepasan air tanah dalam suatu
system pembentukan air tanah. Daerah “imbuhan airtanah” merupakan
kawasan lindung airtanah, di daerah tersebut airtanah tidak untuk
didayagunakan, sedangkan daerah lepasan airtanah secara umum dapat
didayagunakan, dapat dikatakan sebagai kawasan budidaya airtanah.
Pada umumnya Cekungan Airtanah (CAT) di Indonesia terdiri atas akuifer
bebas (unconfined aquifer) dan akuifer tertekan (confined aquifer).
Akuifer bebas merupakan akuifer jenuh air (saturated). Lapisan
pembatasnya yang merupakan aquitard dilapisan atasnya, batas di lapisan
atas berupa muka airtanah. Sedangkan akuifer tertekan (confined aquifer)
merupakan aquifer yang jenuh air yang dibatasi oleh lapisan atas dan
lapisan bawah yang kedap air (aquiclude) dan tekanan airnya lebih besar
dari tekanan atmosfer (Kodoatie dan Sjarief, 2010).
4.1.3. Daerah Imbuhan (Recharge Area) dan Daerah Lepasan (Dischage Area)
Daerah imbuhan airtanah adalah daerah resapan air yang mampu
menambah airtanah secara alamiah pada cekungan airtanah (PP No. 43
Tahun 2008). Pengertian lain mengatakan bahwa daerah imbuhan
(recharge area) adalah suatu kawasan pokok yang menyediakan kecukupan
airtanah (groundwater). Daerah imbuhan alami yang baik adalah daerah
dimana proses perkolasi air permukaan berlangsung secara baik sehingga
sampai menjadi airtanah tanpa halangan (California Water Plan Update,
2009). Apabila fungsi daerah imbuhan tidak berfungsi dengan layak, maka
boleh jadi tidak akan ada airtanah yang dapat disimpan atau digunakan.
Perlindungan terhadap daerah imbuhan ini diperlukan beberapa langkah
agar tetap berfungsi dengan berfungsi dengan baik dengan cara sebagai
berikut :
1. Memastikan bahwa daerah yang cocok atau sesuai sebagai daerah
imbuhan dipertahankan fungsinya daripada mengubahnya sebagai
prasarana umum (urban infrastructure) seperti bangunan atau jalan.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 35


Laporan Antara

2. Mencegah polutan masuk kedalam airtanah sedangkan sedangkan


daerah lepasan adalah daerah keluaran airtanah yang berlangsung
secara alamiah pada cekungan air tanah (PP No. 43 Tahun 2008).
4.1.4. Daerah Non Cekungan Airtanah (Non CAT)
Daerah bukan CAT (Non CAT) merupakan wilayah yang tidak dibatasi oleh
batas hidrogeologis dan tidak atau bukan tempat semua kejadian
hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air
tanah berlangsung (Kodoatie dan Sjarief, 2010). Daerah non CAT sering
juga disebut dengan daerah non alluvial. Daerah non CAT mempunyai
beberapa kriteria diantaranya sebagai berikut :
1. Tidak memiliki batas hidrogeologis yang dikontrol oleh kondisi geologis
dan atau kondisi airtanah.
2. Tidak mempunyai daerah imbuhan dan daerah lepasan airtanah.
3. Tidak memiliki satu kesatuan sistem akuifer.
Sedangkan dilihat dari segi karakteristik wilayahnya, daerah non CAT
memiliki ciri - ciri sebagai berikut :
1. Lapisan tanah yang mampu menyerap air cukup tipis.
2. Pada kondisi alami daerah non CAT, selama lapisan tanah (humusnya)
masih ada akan relatif lebih subur dibandingkan dengan daerah CAT.
3. Bagian bawah dari lapisan humus daerah non CAT umumnya berupa
batuan.
4. Daerah non CAT juga umumnya daerah dengan rentan gerakan tanah
tinggi (mudah longsor).
5. Daerah non CAT bisa merupakan daerah yang rawan kekeringan baik
dari segi pertanian maupun kebutuhan air bersih.
6. Daerah non CAT juga merupakan daerah dimana sistem sungai dan DAS
- nya tidak stabil, karena ada deformasi muka bumi.
Berbeda dengan daerah CAT, untuk daerah non CAT wilayahnya tidak
memiliki daerah imbuhan maupun daerah lepasan airtanah. Daerah non
CAT juga merupakn daerah yang rawan kekeringan baik dari segi pertanian
maupun kebutuhan air bersih. Pada kondisi daerah non CAT masih lebat
dengan tumbuhan maka sumber utama air adalah dari curah hujan yang
hanya menjadi air permukaan karena infiltrasi air ke dalam tanah hanya

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 36


Laporan Antara

sebatas ketebalan humusnya. Bilamana humus hilang maka air hujan


menjadi air permukaan baik yang teretensi karena bentuk topografinya
maupun yang menjadi limpasan (run-off) (Kodoatie dan Sjarief, 2010). Di
daerah bukan CAT air hujan hanya menjadi air permukaan dan aliran
antar, aliran antara (interflow) merupakan aliran air tak jenuh
(unsaturated flow) dalam zona akar (root zone) hasil persiapan air hujan
yang masuk kedalam tanah (Nyman, 2002).
4.1.5. Cekungan Airtanah Brantas
Mata Air / Sumber Wendit secara hidrogeologis terletak dalam wilayah
Cekungan Airtanah (CAT) Brantas. CAT Brantas merupakan salah satu
cekungan airtanah terbesar di Pulau Jawa. Membentang hampir seluas
Daerah Aliran Sungai Brantas dengan luas CAT ± 9.989 km 2. CAT Brantas
memiliki simpanan air yang sangat banyak, dengan potensi akuifer bebas
(Q1) = 3.674 juta m3/tahun, dan akuifer tertekan (Q2) = 175 juta m3/tahun.

4.2. Zona Perlindungan Sumber Mata Air


Permen PUPR Nomor 28/PRT/M/2015 tentang Penetapan Garis Sempadan
Sungai dan Garis Sempadan Danau dalam Pasal 4 ayat (2) huruf f mengatur,
bahwa garis sempadan mata air ditentukan mengelilingi mata air paling
sedikit berjarak 200 (dua ratus) meter dari pusat mata air. Penetapan garis
sempadan mata air bertujuan sebagai perlindungan fungsi mata air agar tidak
terganggu oleh aktifitas yang berkembang di sekitarnya dan kegiatan
pemanfaatan dan upaya peningkatan nilai manfaat sumber daya mata air
dapat memberikan hasil secara optimal sekaligus menjaga kelestarian fungsi
mata air.
Penentuan zona perlindungan sumber air didasarkan pada faktor - faktor
kesehatan dan biologis, dimana secara umum dikenal 3 (tiga) macam zona
perlindungan sumber air, yaitu :
1. Zona perlindungan I
Daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi air dari semua zat
pencemar yang secara langsung atau tidak langsung menyebabkan
degradasi kualitas air, dengan radius ditentukan sejauh 10 – 15 meter dari
sumber air.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 37


Laporan Antara

2. Zona perlindungan II
Daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi sumber air dari
bahaya pencemaran bakteri pathogen yang dapat menyebabkan degradasi
kualitas air, dengan luas yang diperhitungkan berdasarkan jarak tempuh
bakteri colli selama 50 hari ke sumber air, dengan radius 200 meter.
3. Zona perlindungan III
Daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi sumber air dari
pencemaran kimiawi dan radioaktif yang tidak dapat mengalami degradasi
dalam waktu singkat, dengan luas yang ditentukan berdasarkan luas
tangkapan air.

Gambar 4.1. Zona Perlindungan Sumber Mata Air

Penentuan zona perlindungan sumber air baku pada prinsipnya untuk


mempertahankan dan menjaga agar sumber air tersebut tetap berfungsi
sesuai peruntukkannya, serta apabila mungkin untuk lebih meningkatkan
kualitas airnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pada setiap zona proteksi
perlu diberlakukan keharusan dan pembatasan aktivitas, antara lain sebagai
berikut.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 38


Laporan Antara

Tabel 4.1. Larangan pada Zonasi Perlindungan


Zona Perlindungan Larangan
I  Zona I harus dipagari dengan jarak minimum 10 - 15
(Springhead Zone) m dari sumber air.
 Air permukaan di zona ini harus bersih dari semua
substansi yang dapat menurunkan kualitas airtanah.
II  Penggunaan pupuk kandang dan bahan kimia seperti
(Inner Zone) pestisida, insektisida, fungisida, dll.
 Penggunaan pupuk mineral / pupuk buatan yang
berlebihan.
 Adanya SPBU, usaha bengkel, pencucian dan tempat
parkir mobil dan motor.
 Penggalian tanah pada areal relatif luas.
 Pembangunan jalan raya.
 Adanya kandang hewan dalam skala relatif besar,
misalnya peternakan ayam, sapi, babi, dll.
 Adanya kolam renang, daerah perkemahan dan
fasilitas olah raga.
III  Pembangunan dan pengembangan daerah industri.
(Outter Zone)  Pembangunan instalasi IPAL, penampungan limbah
industri.
 Pembangunan jaringan perpipaan minyak
 Penggunaan pestisida yang berlebihan.
 Penyimpanan atau gudang pupuk.
 Daerah pemukiman tanpa jaringan sanitasi.
 Daerah pemakaman.
 Daerah pembuangan sampah.

Berdasarkan ketentuan zonasi perlindungan mata air diatas, maka secara


administrasi dapat ditentukan kawasan yang termasuk dalam zona
perlindungan mata air Sumber Wendit, berserta penjelasan mengenai
kegiatan / aktivitas yang diperbolehkan dan yang dilarang pada zona - zona
tersebut.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 39


Laporan Antara

Gambar 4.2. Zona Perlindungan Mata Air Sumber Wendit

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 40


Tabel 4.2. Kawasan Zonasi Perlindungan Sumber Wendit
Zona Prinsip Kecamatan Kondisi Aturan
Konservasi Eksisting Pengendalian
I, II Zona Inti Pakis Sumber Wendit ditetapkan Membuat buffer vegetasi berupa pohon - pohon
(Desa Mangliawan) sebagai kawasan wisata taman penyimpan air (pohon trembesi, mahoni,
rekreasi air. bambu, angsana, akasia, dan lainnya).
Terdapat kolam - kolam Memberikan perhatian dan pengawasan
pemandian dan fasilitas terhadap semua larangan di zona II dan zona III
pendukung lainnya seperti pada tabel 4.1.
toilet umum, gazebo, mushola,
kantin / tempat makan dan
area parkir.
Terdapat beberapa vegetasi
ditanam disekitar kawasan

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


Sumber Wendit, seperti Pohon
Beringin, Trembesi, dan
lainnya.
III Zona Penyangga Pakis, Singosari, Zona penyangga didominasi Melakukan kegiatan konservasi, diantaranya
Jabung oleh penggunaan lahan  Ruang Terbuka Hijau
pemukiman dan industri.  Pertanian organik
Laporan Antara

41
Zona Prinsip Kecamatan Kondisi Aturan
Konservasi Eksisting Pengendalian
Terdapat beberapa desa /  Sumur resapan dan biopori
kelurahan yang merupakan  Bangunan pencegahan bencana longsor dan
bagian dari zona imbuhan. banjir
Terdapat lahan pertanian  Sarana dan prasarana umum
berupa sawah, ladang dan  Pertahanan dan keamanan
perkebunan. Memberikan perhatian dan pengawasan
terhadap semua larangan di zona II dan zona III
pada tabel 4.1.
Zona Pemanfaatan Pakis, Singosari, Zona pemanfaatan merupakan Melakukan kegiatan konservasi, diantaranya
Kota Malang kawasan pemukiman dan bukan  Ruang Terbuka Hijau
merupakan daerah imbuhan  Sumur resapan dan biopori
Terdapat juga beberapa  Buffer kawasan industri

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


industri besar yang  Sarana dan prasarana umum
memanfaatkan sumur bor  Pertahanan dan keamanan
dalam untuk kebutuhan air Memberikan perhatian dan pengawasan
bersihnya terhadap semua larangan di zona III pada tabel
4.1.
Laporan Antara

42
Laporan Antara

4.3. Penentuan Zonasi Konservasi Mata Air / Sumber Wendit


Delinineasi daerah tangkapan, atau dalam pekerjaan ini ditetapkan sebagai
kawasan konservasi, membutuhkan kombinasi pertimbangan topografi,
geologi, hidrogeologi, dan hidrologi, menggunakan berbagai metode
investigasi, termasuk keseimbangan air, pelacak alami, dan uji pelacak
buatan.
Dalam sistem hidrogeologi karst, tangkapan mata air / sumber air, sering
dapat dibagi lagi menjadi daerah pengisian ulang autogenik dan allogenik.
Area resapan autogenik adalah tempat air hujan atau air infiltrasi terdifusi
melalui tanah (jika ada) dan zona tak jenuh ke dalam akuifer. Area resapan
allogenik terdiri dari area yang berdekatan yang terdiri dari formasi geologi
lainnya yang mengalir menuju aquifer, sering melalui aliran permukaan yang
masuk ke dalam rekahan (sinks) dekat kontak geologi.
Topografi berpengaruh besar pada pola aliran airtanah pada skala yang
berbeda, tetapi hubungan antara topografi dan pembagian mata air sering
tidak sesederhana itu. Batas topografi di permukaan tanah, seperti
pegunungan, tidak selalu berarti batas yang signifikan untuk aliran airtanah,
terutama dalam sistem karst, di mana ada banyak contoh aliran
menyeberang di bawah pegunungan dan lembah. Dalam kasus seperti itu,
tidak tepat untuk menggambarkan tangkapan mata air hanya berdasarkan
topografi. Namun demikian, kondisi topografi tetap perlu dipertimbangkan.
Jelas bahwa seluruh area resapan mata air selalu terletak di atas posisi mata
air, meskipun aliran juga dapat terjadi di bawah posisi ini, dengan garis aliran
naik dari bagian akuifer yang lebih dalam menuju mata air atau aliran. Mata
air panas di luar daerah vulkanik adalah manifestasi yang paling jelas dari
kedalaman, air tanah yang hangat naik ke permukaan, tetapi area resapan
selalu terletak di ketinggian yang lebih tinggi (dengan pengecualian langka
dari aliran yang disebabkan oleh tekanan tektonik). Topografi juga berguna
dalam menggambarkan area pengisian ulang alogenik, seperti tangkapan
aliran yang hilang atau aliran yang tenggelam.
Akuifer yang mengalir ke mata air adalah badan geologis, yang dicirikan oleh
geometri dan struktur internalnya, sifat hidrogeologik, dan kondisi batas
hidraulik. Geometri akuifer biasanya didefinisikan oleh elemen stratigrafi,

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 43


Laporan Antara

tektonik, dan topografi, seperti akuifer yang terdiri dari pasir dan kerikil di
lembah yang dikelilingi oleh lapisan kedap air atau akuifer yang terdiri dari
batu kapur karstified yang menempati posisi topografi rendah, dipisahkan
oleh sesar normal dari batu kristal yang mengalir oleh aliran permukaan
menuju akuifer karst. Karakteristik orientasi dan hidraulik dari fraktur sangat
penting untuk aliran airtanah. Sesar dan rekahan dapat membatasi akuifer
atau membuat sambungan hidraulik antara akuifer yang berbeda, anticlines
(busur) sering berbentuk / berfungsi sebagai pembagi air, sementara
synclines (palung) cenderung membentuk jalur utama untuk aliran air tanah
dalam sistem akuifer karst. Karakterisasi geologi dan hidrogeologi rinci dari
suatu wilayah memungkinkan untuk mendefinisikan dan menggambarkan
tangkapan mata air dengan lebih baik.
Neraca Air membantu untuk mengukur luasan daerah tangkapan mata air.
Meskipun konsep neraca air sederhana dalam teori, ada banyak komplikasi
ketika datang ke aplikasi praktisnya. Kesulitan yang paling jelas adalah
penentuan (pengukuran) yang tepat dari berbagai elemen keseimbangan air,
yaitu pengendapan, evapotranspirasi, dan berbagai bentuk limpasan serta
regionalisasi data hidrologi yang bermasalah. Selanjutnya, semua elemen
neraca air biasanya bervariasi dalam waktu, terutama dalam kasus sistem
karst, dan ada juga penyimpanan air dan pelepasan air yang tersimpan.
Dalam banyak kasus, mata air yang sedang dipertimbangkan bukanlah satu -
satunya saluran keluar dari akuifer, dimana kemungkinan ada outlet lain, dan
beberapa di antaranya dapat diakses (seperti di mata air lainnya), sementara
yang lain mungkin tersembunyi (seperti debit langsung ke sungai, sungai),
lahan basah, danau, atau laut). Jika lokasi pembuangan yang tidak diketahui
adalah mungkin, keseimbangan air hanya memberikan ukuran minimum
tangkapan mata air. Arus masuk dari akuifer lain atau aliran ke atas dari air
tanah dalam dari sistem aliran regional berskala besar dapat semakin
memperumit atau membatasi penerapan neraca air.
Trase alami dan buatan dapat membantu untuk menggambarkan daerah
tangkapan mata air dan zona perlindungan mata air. Trase alami termasuk
suhu air, kimia air, isotop stabil, dan parameter lainnya. Isotop stabil dari
molekul air (18 O dan D) sering digunakan untuk menentukan ketinggian rata

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 44


Laporan Antara

- rata daerah imbuhan, yang sangat berguna di daerah pegunungan. Isotop


stabil juga membantu menyimpulkan asal - usul air, yakni curah hujan,
pencairan salju, pencairan gletser, atau infiltrasi air permukaan.
Komposisi hidrokimia air memberikan informasi tentang akuifer yang
berkontribusi terhadap debit mata air, aliran masuk dari permukaan air,
masalah kontaminasi, dan aspek lainnya. Sebagai contoh, kimia air yang
didominasi kalsium - bikarbonat adalah karakteristik dari akuifer batu kapur.
Peningkatan kadar titik magnesium menandakan kehadiran batuan dolomit
di tangkapan mata air, sulfat dapat berasal dari lapisan gypsum atau anhidrit
atau dari oksidasi mineral sulfida. Pelapukan granit dan batuan silikat lainnya
biasanya menghasilkan kalium dan kation lainnya, dengan meningkatnya
waktu transit, potassium cenderung ditukar dengan natrium. Pelacak alami
jarang memberikan bukti yang tidak ambigu, misalnya, natrium dapat
berasal dari larutan garam batu, plagioklas (albite) pelapukan, pertukaran
kation, intrusi air laut, atau garam jalan. Oleh karena itu, indikasi yang
diperoleh dari pelacak alami harus selalu dikombinasikan dengan jenis
informasi lainnya.
Trase buatan adalah metode yang kuat dan andal untuk penggambaran
daerah tangkapan air mata air. Tes tracer umumnya diterapkan dalam sistem
akuifer karst tetapi juga dapat digunakan di lingkungan hidrologi lainnya.
Pewarna fluoresen, seperti uranin, juga disebut sebagai natrium fluorescein
atau, untuk pendek, fluorescein, adalah pelacak air tanah yang paling
menguntungkan dalam banyak kasus. Pendeteksi pelacak positif pada mata
air adalah bukti kuat bahwa ada hubungan hidraulik antara tempat injeksi
dan mata air, yaitu, situs injeksi terletak di dalam tangkapan mata air.
Tes pelacak sepenuhnya kuantitatif, yang memberikan serangkaian data
konsentrasi – waktu - pengeluaran rinci, yang disebut kurva terobosan
pelacak, memberikan banyak wawasan tentang aliran ke arah mata air.
Dalam konteks perlindungan zoning, pemulihan pelacak, yaitu, jumlah
absolut atau relatif dari pelacak mencapai mata air, adalah hasil yang sangat
berharga tetapi sering kurang dieksploitasi. Pemulihan kurang dari 100
persen dapat disebabkan oleh banyak penyebab yang berbeda, yang
seringkali sulit diukur, seperti kondisi injeksi yang tidak sempurna atau

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 45


Laporan Antara

kehilangan jejak karena adsorpsi atau degradasi. Namun, ketika pelacak


konservatif digunakan (misalnya, uranin berperilaku konservatif di sebagian
besar lingkungan hidrogeologi) dan kondisi eksperimental yang
menguntungkan (yaitu, injeksi langsung ke dalam aliran air tanah), pelacakan
pelacak, bersama dengan data debit, memungkinkan untuk mengukur aliran
bawah tanah. Pelacak konservatif disuntikkan ke lubang rekahan, dan kurva
terobosan lengkap dicatat pada mata air, pemulihan pelacakan yang dihitung
adalah 17 persen. Data yang diperoleh dengan mudah ini, bersama dengan
model konseptual sederhana dari jaringan saluran, memungkinkan untuk
mengukur laju aliran bawah tanah dalam sistem menggunakan air sederhana
dan pelacak keseimbangan.
Berdasarkan penjabaran pertimbangan berbagai kondisi dalam penentuan
zona konservasi, maka area zona konservasi mata air Sumber Wendit
ditetapkan sebagai berikut :
1. Sumber wendit berada dalam wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Brantas,
sehingga area konservasi ditetapkan dalam batas wilayah Cekungan Air
Tanah (CAT) brantas. Dari delineasi wilayah kajian diketahui bahwa
terdapat 2 (dua) area imbuhan yang berdekatan dengan Mata Air Wendit,
yaitu daerah imbuhan gugusan Gunung Arjuna – Kelud, dan daerah
imbuhan gugusan Gunung Bromo – Semeru.
2. Aliran Kali bango dan Kali Amprong ditetapkan sebagai batas permukaan.
Berdasarkan batas permukaan ini maka daerah imbuhan yang termasuk
dalam zona konservasi mata air Sumber Wendit adalah daerah imbuhan
gugusan Gunung Bromo – Semeru.
3. Zona daerah imbuhan dan zona daerah lepasan, mengacu pada peta
cekungan air tanah (CAT) yang diterbitkan badan informasi geospasial.
Berdasarkan poin - poin diatas maka secara administrasi dapat ditentukan
kawasan yang termasuk dalam zona konservasi mata air Sumber Wendit.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 46


Laporan Antara

Tabel 4.3. Kawasan Zonasi Konservasi Sumber Wendit


Zona Kecamatan Desa
Imbuhan Lawang Sidoluhur, Srigading
Singosari Wonorejo
Jabung Argosari, Slamparejo, Kemiri, Jabung
Lepasan Lawang Sidoluhur
Singosari Banjararum, Watugede, Dengkol, Wonorejo
Jabung Gading Kembar, Kemantren, Argosari, Jabung, Gunung
Jati, Sukolilo
Pakis Pakis Kembar, Pakis Jajar, Bunut Wetan, Asrikaton,
Saptorenggo, Mangliawan, Tirtomoyo, Ampeldento

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 47


Laporan Antara

Gambar 4.3. Peta CAT Zona Konservasi Mata Air Sumber Wendit

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 48


Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit
Gambar 4.4. Peta Hidrogeologi Zona Konservasi Mata Air Sumber Wendit
Laporan Antara

49
Laporan Antara

Gambar 4.5. Peta Geologi Zona Konservasi Mata Air Sumber Wendit

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 50


Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit
Gambar 4.6. Peta Jenis Tanah Zona Konservasi Mata Air Sumber Wendit
Laporan Antara

51
Laporan Antara

4.4. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Konservasi


4.4.1. Antisipasi dan Pengawasan Kontaminan
Kontaminan di mata air dapat berasal dari berbagai sumber, seperti
penggunaan lahan pertanian, tempat pembuangan limbah, kebocoran
tangki penyimpanan atau saluran pipa, pelepasan air limbah domestik
yang tidak diolah, kegiatan industri, dan kecelakaan transportasi di area
tangkapan mata air. Salinisasi yang disebabkan oleh irigasi yang tidak
tepat juga dapat mempengaruhi kualitas mata air.
Kontaminan dapat dikelompokkan menjadi senyawa kimia anorganik,
senyawa kimia organik, dan mikroba patogen. Beberapa kontaminan,
seperti nitrat (NO3–), tidak terlalu beracun, tetapi tingkat konsentrasi
tinggi dalam air minum dalam jangka waktu lama membahayakan bagi
kesehatan manusia. Nitrat adalah kontaminan air tanah yang umum di
daerah pertanian. Kontaminan lain bersifat berbahaya bahkan pada
tingkat yang sangat rendah. Sebagai contoh, satu virus Norwalk dalam air
minum dapat menyebabkan infeksi. Hexavalent chromium dan benzene
adalah contoh kontaminan anorganik dan organik yang sangat beracun.
Tidak hanya toksisitas, tetapi juga transportasi kontaminan dalam akuifer
sangat berisiko terhadap kesehatan manusia. Sebagai contoh, timbal
adalah logam beracun yang sangat bermasalah di tanah, tanaman, dan
aerosol tetapi umumnya tidak mengancam air tanah dan mata air, karena
mobilitasnya terbatas. Sederhananya, kontaminan dapat dikelompokkan
menjadi yang konservatif dan reaktif. Pengangkutan kontaminan
konservatif hanya bergantung pada sifat hidrolik dari akuifer, terutama
pada kecepatan aliran dan heterogenitas yang menyebabkan dispersi.
Kontaminan reaktif juga dipengaruhi oleh berbagai proses, seperti
adsorpsi, curah hujan, transformasi kimia, biodegradasi, dan untuk
partikulat dan kontaminan terikat partikel, filtrasi dan sedimentasi.
Persistensi kontaminan dalam air tanah bersamaan dengan waktu transit
ke mata air adalah masalah utama dalam penggolongan zona perlindungan
sumber. Waktu transit air tanah dapat berkisar dari jam dalam konsentrasi
karst hingga ribuan tahun atau lebih dalam sistem sirkulasi dalam. Logam
beracun memiliki daya tahan yang tak terbatas tetapi dapat diubah

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 52


Laporan Antara

menjadi spesies yang kurang beracun oleh redoks dan proses lainnya,
seperti konversi krom heksavalen yang sangat beracun menjadi kromium
trivalen yang kurang beracun. Beberapa senyawa organik dapat diolah
secara biologis, sementara yang lain bersifat rekalsitran, tergantung pada
struktur kimianya dan kondisi biogeokimia. Ketahanan patogen mikroba
dalam air tanah berkisar dari hampir tidak ada hingga hampir tak terbatas.
Patogen yang ditemukan di mata air umumnya berasal dari kontaminasi
tinja, sering disebabkan oleh kegiatan pertanian di daerah tangkapan air
atau pelepasan air limbah domestik yang tidak diolah. Sebagian besar
patogen tinja tidak dapat tumbuh atau bereproduksi di dalam akuifer dan
bertahan hanya untuk jangka waktu yang terbatas. Oleh karena itu,
sebagian besar peraturan perlindungan air tanah menggunakan waktu
transit sebagai kriteria utama untuk penggambaran “zona perlindungan
sumber di dalam”, misalnya menggunakan garis waktu perjalanan 50 hari,
dengan asumsi bahwa sebagian besar patogen akan disaring atau tidak
aktif saat itu, pendekatan yang telah terbukti layak dalam banyak kasus.
Bakteri indikator feses, seperti E. coli, digunakan untuk mengontrol
keamanan air yang higienis. Namun, beberapa patogen dapat bertahan
lebih lama, seperti Cryptosporidium cysts dan virus tertentu, beberapa di
antaranya juga dapat bertahan meskipun pengolahan air oleh klorinasi.
Oleh karena itu, ketiadaan E. coli tidak memberikan keamanan mutlak.
Tingkat kontaminan di mata air sering sangat bervariasi, terutama dalam
menanggapi curah hujan yang intens. Oleh karena itu, pemantauan
kualitas air yang berkesinambungan adalah penting, melengkapi analisis
rinci dari sampel air yang diambil pada interval waktu yang teratur.
Namun, patogen mikroba dan banyak kontaminan lainnya tidak dapat
dipantau terus menerus, sehingga parameter pengganti perlu dimonitor
sebagai indikator kontaminasi. Sebagai contoh, peningkatan total karbon
organik dan kekeruhan dalam mata air karst secara bersamaan terbukti
berkorelasi kuat dengan tingkat E. coli Oleh karena itu, pemantauan
berkelanjutan dari dua parameter ini dapat digunakan sebagai "sistem
peringatan dini" untuk kontaminasi mikroba, yang dapat lebih ditingkatkan
dengan pengukuran distribusi ukuran partikel.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 53


Laporan Antara

Sumber kontaminan dapat dikelompokkan sesuai dengan ekstensi spasial


mereka (sumber areal, sumber garis, titik sumber), karakteristik temporal
mereka (permanen, periodik, intermiten, hanya satu kali), asal umum
kontaminan (pertanian, industri, domestik, perkotaan, militer, alam), dan
sesuai dengan jenis dan kuantitas kontaminan yang dilepaskan. Fetter
(1999) mengusulkan mengklasifikasi sebagai berikut :
1. Sumber kontaminan yang dirancang untuk mengeluarkan zat termasuk
septic tank dan tangki septik, berbagai jenis sumur injeksi, dan aplikasi
lahan, seperti aplikasi lumpur dari pabrik pengolahan air limbah ke
tanah sebagai pupuk.
2. Sumber kontaminan yang dirancang untuk menyimpan, mengolah, atau
membuang zat, seperti berbagai jenis tempat pembuangan sampah dan
tempat pembuangan limbah, limbah tambang, persediaan bahan,
kuburan, penguburan hewan, tangki penyimpanan di atas dan di bawah
tanah, serta tempat pembuangan limbah radioaktif.
3. Sumber kontaminan yang dirancang untuk mempertahankan zat selama
transportasi, termasuk saluran pipa untuk minyak, gas, atau cairan
lainnya serta saluran air limbah. Pengangkutan zat berbahaya dengan
truk atau kereta api juga merupakan sumber kontaminasi potensial.
4. Sumber - sumber pemakaian zat sebagai konsekuensi dari kegiatan lain
yang direncanakan. Kelompok ini mencakup banyak kegiatan pertanian,
seperti irigasi yang menyebabkan salinisasi, penerapan pestisida, pupuk
sintetis dan limbah peternakan, tetapi juga penerapan garam jalan.
5. Sumber - sumber kontaminan yang menyediakan saluran air yang
terkontaminasi untuk memasuki akuifer, seperti produksi dan
pemantauan sumur, pekerjaan penggalian, dan instalasi energi
geotermal. Meskipun ini bukan sumber pencemaran dalam arti yang
tepat, instalasi seperti itu dapat memperkenalkan kontaminan atau
memungkinkan kontaminasi silang antara akuifer yang berbeda.
Untuk mengetahui kualitas air pada Sumber Wendit, dilakukan uji lab pada
sampel air, dengan menggunakan standar dari PERMENKES No.
429/MENKES/PER/IV/2010. Pengujian ini dimaksudkan untuk mendeteksi
kemungkinan Sumber Wendit terkontaminasi bahan kontaminan.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 54


Laporan Antara

Tabel 4.4. Hasil Uji Kualitas Air Sumber Wendit


Hasil Standar
No. Parameter Metode Satuan
Analisa Air*
Suhu
1 Suhu Udara Thermometer °C 25.45
Udara ± 3
Tidak Tidak
2 Bau Organoleptis -
Berbau Berbau
3 Kekeruhan Turbidimeter NTU 0.00 5.00
4 TDS EC Meter mg/L 223 500.00
Daya
5 Hantar EC Meter μmhos/cm 342 -
Listrik
6 pH pH Meter - 6.91 6.5 - 8.5
7 Nitrat Spektrofotometri mg/L 0.23 50.00
8 Nitrit Spektrofotometri mg/L 0.02 3.00
9 Sulfat Spektrofotometri mg/L 4.07 250.00
10 Besi Spektrofotometri mg/L 0.00 0.30
11 Mangan Spektrofotometri mg/L 0.095 0.40
12 Kesadahan Volumetri mg/L 55.00 500.00

4.4.2. Perubahan Penggunaan Lahan


Perubahan penggunaan lahan disebabkan oleh kebutuhan manusia dalam
melaksanakan kegiatan sehari – hari serta kegiatan komersil untuk
kepentingan bisnis. Adanya perubahan penggunaan lahan sering kali tidak
sesuai dengan peruntukkan lahan dan menyebabkan penyimpangan yang
berdampak buruk terhadap kawasan konservasi Mata Air / Sumber Wendit.
Salah satu upaya konservasi Mata Air / Sumber Wendit yakni
mengendalikan penggunaan lahan yang sesuai dengan peruntukkannya.
Berdasarkan hasil olahan peta rencana pola ruang dan peta penggunaan
lahan eksisting diketahui terdapat beberapa penyimpangan yang terjadi
pada lokasi - lokasi tertentu. Penyimpangan perencanaan penggunaan
lahan di wilayah Kabupaten Malang dijelaskan dalam tabel sebagai
berikut.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 55


Laporan Antara

Tabel 4.5. Perbandingan Tata Guna Lahan Eksisting dengan RTRW Kab. Malang
Zona Kecamatan Desa Tata Guna Tata Guna
Lahan Eksisting Lahan RTRW
Imbuhan Lawang Sidoluhur Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Srigading Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Singosari Wonorejo Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Jabung Argosari Permukiman Permukiman
Sawah Sawah
Perkebunan Ladang
Ladang
Slamparejo Permukiman Permukiman
Sawah Sawah
Perkebunan Ladang
Ladang
Kemiri Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Jabung Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Lepasan Lawang Sidoluhur Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Singosari Banjararum Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Industri

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 56


Laporan Antara

Zona Kecamatan Desa Tata Guna Tata Guna


Lahan Eksisting Lahan RTRW
Watugede Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Dengkol Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Wonorejo Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Jabung Gading Kembar Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Kemantren Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Argosari Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Ladang
Jabung Permukiman Permukiman
Perkebunan Ladang
Ladang
Gunung Jati Permukiman Permukiman
Perkebunan Ladang
Ladang
Sukolilo Permukiman Permukiman
Perkebunan Industri
Ladang Ladang
Pakis Pakis Kembar Permukiman Permukiman
Perkebunan Industri
Ladang Ladang

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 57


Laporan Antara

Zona Kecamatan Desa Tata Guna Tata Guna


Lahan Eksisting Lahan RTRW
Pakis Jajar Permukiman Permukiman
Perkebunan Industri
Ladang Ladang
Bunut Wetan Permukiman Permukiman
Perkebunan Ladang
Ladang
Asrikaton Permukiman Permukiman
Perkebunan Industri
Ladang Ladang
Saptorenggo Permukiman Permukiman
Perkebunan Sawah
Ladang Perkebunan
Bandar Udara Ladang
Bandar Udara
Mangliawan Permukiman Permukiman
Perkebunan Industri
Ladang
Tirtomoyo Permukiman Permukiman
Perkebunan Industri
Ladang
Ampeldento Permukiman Permukiman
Perkebunan Industri
Ladang Ladang

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 58


Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit
Gambar 4.7. Peta Tata Guna Lahan Eksisting Zona Konservasi Mata Air Sumber Wendit
Laporan Antara

59
Badan Sungai
0%

Kebun Padang Rumput


24% 3%

Tanah Ladang
49%

Pemukiman
13%

Sawah Irigasi
7%

Semak Sawah
Belukar Tadah

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


3% Hujan
1%

Gambar 4.8. Grafik Peta Tata Guna Lahan Eksisting Zona Konservasi Mata Air Sumber Wendit
Laporan Antara

60
Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit
Gambar 4.9. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Zona Konservasi Mata Air Sumber Wendit
Laporan Antara

61
Bandara Badan Air
3% 0% Hutan Lindung
2%
Kebun
17%

Tegalan / Ladang
47% Pengembangan
Kawasan Industri
14%

Permukiman
7%

Pengembangan
Pemukiman
Sawah Tadah Sawah Perkotaan
Hujan Irigasi 8%

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


1% 1%

Gambar 4.10. Grafik Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Zona Konservasi Mata Air Sumber Wendit
Laporan Antara

62
Laporan Antara

Berdasarkan tabel dan gambar diatas diketahui bahwa tata guna lahan
eksisting didominasi oleh ladang, perkebunan dan sawah. Pada rencana
guna lahan yang disebutkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Malang, tampak bahwa terdapat rencana perubahan alih fungsi lahan
ladang dan perkebunan untuk menjadi kawasan industri, terutama di zona
lepasan. Rencana perubahan lahan menjadi kawasan industri ini
merupakan efek samping dari pembangunan jalan tol Malang – Pandaan.
4.4.3. Pola Pengambilan Air Tanah
Pengambilan airtanah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari,
irigasi serta untuk kepentingan industri dan komersil. Sesuai dengan zonasi
konservasi yang telah disusun, pengambilan airtanah hanya dapat
dilakukan di daerah non imbuhan (lepasan) dan tidak dapat dilakukan di
daerah imbuhan (resapan / recharged area). Hal ini bertujuan untuk
melindungi debit airtanah sehingga laju aliran airtanah tidak terganggu
dan tidak mengurangi kuantitas debit airtanah. Sesuai dengan peruntuk -
kan Zonasi Konservasi Mata Air / Sumber Wendit, pola pengambilan
airtanah di wilayah Mata Air / Sumber Wendit dapat dilakukan di Zona
Perlindungan II dan Zona Pemanfaatan.
Pengambilan airtanah dilakukan dengan cara pengeboran. Untuk
melindungi aliran airtanah, pengeboran dilakukan dengan batas
kedalaman tertentu sehingga tidak mengenal aliran airtanah tertekan.
Adapun pengeboran dilakukan secara mandiri oleh penduduk sekitar Mata
Air / Sumber Wendit dan dilakukan oleh pihak komersil untuk kebutuhan
perindustrian. Pola pengambilan airtanah di wilayah Zonasi Mata Air /
Sumber Wendit yang ditunjukkan berdasarkan lokasi titik - titik sumur bor
menunjukkan bahwa pengambilan airtanah dilakukan di Zona
Perlindungan II dan Zona Pemanfaatan, dan 1 sumur di Zona Imbuhan.
Pengambilan air tanah yang masif di daerah non imbuhan yang dilakukan
tanpa perencanaan dapat berakibat pada penurunan debit Mata Air
Wendit.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 63


Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit
Gambar 4.11. Peta Lokasi Sumur Dalam Industri di Zona Konservasi Mata Air Sumber Wendit
Laporan Antara

64
Laporan Antara

4.4.4. Perkembangan Lahan Kritis


Lahan kritis merupakan lahan atau tanah yang saat ini tidak produktif
karena pengelolaan dan penggunaan tanah yang tidak atau kurang
memperhatikan syarat - syarat konservasi tanah dan air, sehingga lahan
mengalami kerusakan, kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada
batas yang telah ditentukkan atau diharapkan. Secara umum lahan kritis
merupakan salah satu indikator adanya degradasi (penurunan kualitas)
lingkungan sebagai dampak dari berbagai jenis pemanfaatan sumber daya
lahan yang kurang bijaksana.
Hutan kritis yang ada di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, mencapai
8,5 persen atau sekitar 15 ribu hektar dari total seluas 127.089 hektar.
Data Lahan Kritis yang diterbitkan Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang
menunjukkan sebagian besar hutan kritis terdapat di Kecamatan
Poncokusumo dan wilayah Kabupaten Malang bagian barat. Kecamatan
Singosari terdapat hutan kritis seluas 705 hektar dan lahan pertanian kritis
1.131 hektar. Kecamatan Lawang memiliki lahan kritis relatif sedikit,
yakni lahan pertanian kritis seluas 252 hektar. Di sisi lain, Kecamatan
Jabung yang hampir meliputi sebagian besar zona CAT Sumber Wendit
memiki lahan kritis cukup signifikan, yakni seluas 2.061 hektar lahan hutan
kritis dan 1.233 hektar lahan pertanian kritis. Hutan kritis di Jabung
banyak disebabkan oleh penebangan hutan menjadi ladang sayuran, kebun
tebu, dan perkebunan warga. Sedangkan lahan pertanian kritis
dikarenakan penggunaan pupuk yang tidak tepat guna sehingga
menurunkan kesuburan tanah. Adapun tingkat kekritisan lahan di wilayah
pekerjaan dijabarkan pada tabel berikut.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 65


Tabel 4.6. Luas Lahan dan Hutan Kritis di Wilayah Konservasi Sumber Wendit
No Kecamatan Hutan Kritis (Ha) Lahan Kritis (Ha)
Sangat Kritis Agak Potensial Jumlah Sangat Kritis Agak Potensial Jumlah
1 Singosari 15 - - 690 705 - 15 79 1.037 1.131
2 Lawang - - - - - 5 93 143 11 252
3 Jabung - - - 2.061 2.061 64 618 113 438 1.233
4 Pakis - - - - - - - - - -

Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa lahan pada wilayah zona konservasi Sumber Wendit sebagian besar
masih berstatus aman / tidak kritis. Namun bila penanganan lahan dan hutan kritis tidak dilakukan dengan serius, akan
membawa dampak pada keberadaan Mata Air / Sumber Wendit.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


Laporan Antara

66
Laporan Antara

4.4.5. Identifikasi Permasalahan dalam Zona Konservasi Mata Air / Sumber


Wendit
Wilayah konservasi Mata Air / Sumber Wendit yang terbagi menjadi zona
imbuhan dan zona lepasan tentunya memiliki berbagai potensi dan juga
permasalahan yang mempengaruhi upaya konservasi di wilayah zona
konservasi Mata Air / Sumber Wendit. Identifikasi permasalahan pada
wilayah konservasi dipergunakan untuk menyusun rencana program
konservasi Mata Air / Sumber Wendit beserta stakeholder yang berwenang
untuk melaksanakan program tersebut di lokasi yang sesuai dengan zona
yang ada.
Berikut merupakan daftar permasalahan yang ada pada zona imbuhan dan
lepasan dalam wilayah konservasi Mata Air / Sumber Wendit.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 67


Tabel 4.7. Identifikasi Permasalahan pada Zona Imbuhan di Wilayah Konservasi Sumber Wendit
Zona Kecamatan Desa Masalah Strategi Perlindungan
Imbuhan Lawang Sidoluhur Penurunan luas area resapan Mencegah ekspansi lahan untuk perkembangan
Srigading karena pertumbuhan permukiman permukiman kota (compact)
Penebangan hutan untuk ladang Penanaman kembali hutan kritis dengan vegetasi
semusim tahunan
Singosari Wonorejo Penurunan luas area resapan Mencegah ekspansi lahan untuk perkembangan
karena pertumbuhan permukiman permukiman kota (compact)
Jabung Argosari Penurunan luas area resapan Mencegah ekspansi lahan untuk perkembangan
Slamparejo karena pertumbuhan permukiman permukiman kota (compact)
Kemiri Penebangan hutan untuk ladang Penanaman kembali hutan kritis dengan vegetasi
semusim tahunan
Jabung Penurunan luas area resapan Mencegah ekspansi lahan untuk perkembangan
karena pertumbuhan permukiman permukiman kota (compact)

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


Pencemaran tanah dari limbah Memaksimalkan fungsi resapan (sumur resapan dan
industri biopori) di lingkungan permukiman
Menerapkan budidaya pertanian ramah lingkungan,
dengan penggunaan pupuk yang tidak mencemari
tanah
Laporan Antara

68
Tabel 4.8. Identifikasi Permasalahan pada Zona Lepasan di Wilayah Konservasi Sumber Wendit
Zona Kecamatan Desa Masalah Strategi Perlindungan
Lepasan Lawang Sidoluhur Kontaminasi tanah dari limbah rumah tangga Mengadakan IPAL komunal untuk
Singosari Banjararum Kontaminasi salinitas air dan pencemaran lingkungan permukiman
Watugede tanah dari pupuk kimia Menerapkan budidaya pertanian ramah
Dengkol lingkungan, dengan penggunaan pupuk
Wonorejo yang tidak mencemari tanah
Pemantauan kualitas lepasan air berkala
Jabung Gading Kontaminasi tanah dari limbah rumah tangga Mengadakan IPAL komunal untuk
Kembar Kontaminasi salinitas air dan pencemaran lingkungan permukiman
Kemantren tanah dari pupuk kimia Menerapkan budidaya pertanian ramah
Argosari lingkungan, dengan penggunaan pupuk
Jabung yang tidak mencemari tanah

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


Gunung Jati Pemantauan kualitas lepasan air berkala
Sukolilo
Pakis Pakis Kembar Kontaminasi tanah dari limbah rumah tangga Mengadakan IPAL komunal untuk
Pakis Jajar Kontaminasi salinitas air dan pencemaran lingkungan permukiman
Bunut Wetan tanah dari pupuk kimia Menerapkan budidaya pertanian ramah
Asrikaton lingkungan, dengan penggunaan pupuk
Laporan Antara

69
Zona Kecamatan Desa Masalah Strategi Perlindungan
Kontaminasi selama transportasi industri yang tidak mencemari tanah
dari saluran pipa untuk minyak, gas, atau Pemantauan kualitas mata air berkala
cairan lainnya Memberikan persyaratan wajib IPAL bagi
industri, dan pemantauan kualitas air
buangan
Saptorenggo Kontaminasi tanah dari limbah rumah tangga Mengadakan IPAL komunal untuk
Kontaminasi selama transportasi di bandar lingkungan permukiman
udaradari saluran pipa untuk minyak, gas, Memberikan persyaratan wajib IPAL
atau cairan lainnya bandara
Mangliawan Kontaminasi dari kotoran satwa dan Proteksi akses ke titik sumber mata air
aktivitas wisata Menerapkan budidaya pertanian ramah
Kontaminasi tanah dari limbah rumah tangga lingkungan, dengan penggunaan pupuk
Kontaminasi salinitas air dan pencemaran yang tidak mencemari tanah

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


tanah dari pupuk kimia Pemantauan kualitas mata air berkala
Tirtomoyo Kontaminasi tanah dari limbah rumah tangga Mengadakan IPAL komunal untuk
Ampeldento Kontaminasi salinitas air dan pencemaran lingkungan permukiman
tanah dari pupuk kimia Menerapkan budidaya pertanian ramah
lingkungan, dengan penggunaan pupuk
yang tidak mencemari tanah
Laporan Antara

70
Zona Kecamatan Desa Masalah Strategi Perlindungan
Kontaminasi selama transportasi industri Pemantauan kualitas mata air berkala
dari saluran pipa untuk minyak, gas, atau Memberikan persyaratan wajib IPAL bagi
cairan lainnya industri, dan pemantauan kualitas air
buangan

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit


Laporan Antara

71
Laporan Antara

BAB V
SURVEI INVESTIGASI

5.1. Umum
Untuk mengetahui kondisi eksisting lokasi pekerjaan, seperti kondisi fisik
sungai maupun kondisi hidrometri di sekitar lokasi pekerjaan, diperlukan
survei investigasi lapangan meliputi survei hidrometri dan pengambilan
sampel air. Hasil survei tersebut akan menjadi salah satu dasar dalam
penentuan kebijakan program konservasi Sumber Wendit.

5.2. Survei Hidrometri


Morfologi dan perilaku sungai hanya dapat dipahami dengan baik apabila
disertai dengan pengamatan - pengamatan dan pengukuran - pengkuran yang
dicatat di lapangan (insitu test) untuk dipakai sebagai data
empirik.Pengamatan atau pengukuran tersebut biasa disebut dengan survei
hidrometri. Pengukuran hidrometri sungai meliputi beberapa kegiatan
sebagai berikut.
5.2.1. Pengukuran Debit Air Sungai
Pengukuran debit dilakukan dengan cara mengukur kecepatan aliran
sungai, kondisi penampang sungai, dan elevasi muka air sungai. Peralatan
yang digunakan untuk pengukuran kecepatan aliran sungai / pengukuran
arus sungai diantaranya adalah Current Meter. Pengukuran debit air sungai
ini terdiri dari beberapa kegiatan meliputi :
1. Pengukuran Kecepatan Arus
Tujuan pengukuran arus adalah untuk mendapatkan besaran kecepatan
yang akan berguna dalam perhitungan debit sungai. Pengukuran arus
dilakukan pada beberapa lokasi dimana arus mempunyai pengaruh
penting. Ilustrasi pengukuran arus pada penampang sungai dapat dilihat
pada gambar dibawah. Berdasarkan teori yang ada, kecepatan arus rata
- rata pada suatu penampang yang besar adalah :

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 72


Laporan Antara

V = 0.25 ( v0.2d + 2 v0.6d + v0.8d)


dimana :
v0.2d = arus pada kedalaman 0.2d
d = kedalaman lokasi pengamatan arus

Penampang BIN-3

Penampang BIN-4

Penampang BIN-5

Gambar 5.1. Sketsa Titik - Titik Pengukuran Arus Pada Penampang Sungai

2. Pengukuran Debit
Pada dasarnya pengukuran debit adalah pengukuran luas penampang
basah, kecepatan aliran dan tinggi muka air. Rumus yang biasa
digunakan adalah :
Q ( a v )
dimana :
Q = debit (m3/det)
A = luas penampang basah (m2)
v = kecepatan (m/det)
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan
pengukuran debit dengan alat ukur arus agar dapat diperoleh lengkung
debit yang dapat menggambarkan hubungan antara tinggi muka air
dengan debit, mulai dari keadaan debit terkecil sampai dengan debit
terbesar, persyaratan yang di maksud antara lain meliputi :
a. Lokasi Pengukuran Debit
Setiap tenaga pelaksana pengukuran debit dengan alat ukur arus
harus mengetahui kondisi hidrolis dari lokasi pengukuran, baik pada

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 73


Laporan Antara

keadaan debit terkecil sampai dengan debit terbesar, paling tidak


pada keadaan debit kecil, karena pada debit kecil kondisi alur
sungainya dapat dengan jelas diketahui.
Berikut ini disajikan persyaratan lokasi pengukuran yang baik sebagai
tempat pengukuran debit, antara lain:
 Mempunyai pola aliran yang seragam dan mendekati jenis aliran
sub kritik, kecepatan alirannya tidak terlalu lambat atau terlalu
cepat. Pengukuran yang baik pada lokasi yang mempunyai
kecepatan aliran mulai dari 0,20 m/det sampai dengan 2,50
m/det.
 Tidak terpengaruh karena peninggian muka air dan aliran lahar.
 Kedalaman aliran pada penampang pengukuran harus cukup,
kedalaman aliran yang kurang dari 20 cm biasanya sulit diperoleh
hasil yang baik.
 Aliran turbulen yang disebabkan oleh batu-batu, vegetasi,
penyempitan lebar alur sungai atau karena sebab lain harus
dihindarkan.
 Penampang pengukuran debit sebaiknya dekat pos duga air,
diantara penampang pengukuran debit dengan lokasi pos duga air
tidak terjadi pengurangan atau penambahan debit.
 Penampang pengukuran debit/penampang melintang lokasi pos
duga air harus melewatkan debit banjir.
 Dilakukan pada alur sungai yang stabil, agar tidak mengalami
perubahan geometri oleh adanya proses agradasi dan degradasi.
 Lokasi pengukuran mudah dicapai, tidak terkendala oleh hujan.
 Adanya penampang kendali, agar dapat berfungsi sebagai lokasi
pengukuran debit dan peninggi muka air yang baik, sehingga dapat
dilakukan pembacaan tinggi muka air untuk debit nol.
 Sesuai dengan perencanaan, lokasi pengukuran debit harus sesuai
dengan yang direncanakan, artinya sedapat mungkin dilakukan
pada suatu penampang palung sungai yang tetap.
Persyaratan-persyaratan tersebut pada umumnya sulit dijumpai pada
suatu lokasi alur sungai yang tetap lapangan, walaupun demikian

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 74


Laporan Antara

dapat sebagai penunjuk pemilihan lokasi pengukuran debit yang baik,


minimal persyaratan nomor a sampai e harus dapat terpenuhi.
b. Jumlah dan Waktu Pengukuran
 Jumlah pengukuran
Pelaksanaan pengukuran debit hasilnya harus dapat
menggambarkan sebuah lengkung debit untuk sebuah
penampang yang dianggap tetap, jumlah pengukuran debit
minimal 10 buah untuk sebuah lengkung debit yang datanya
tersebar mulai dari keadaan aliran terendah sampai tertinggi.
Faktor jumlah pengukuran tergantung pada banyak faktor,
antara lain :
1) Inteval keadaan tinggi muka air untuk debit terkecil dan
terbesar.
2) Stabilitas penampang kendali.
3) Tujuan penggunaan data.
4) Ketelitian pengukuran hasil pengukuran debit yang telah
diperoleh.
5) Kemungkinan mengkalibrasi alat ukur arus.
 Waktu pengukuran
Karena untuk tujuan debit andalan maka pengukuran dilakukan
pada saat debit rendah atau saat kemarau sehingga dapat
diketahui ketersediaan debit paling minim sepanjang periode
dalam setahun.
Untuk mengetahui besarnya kecepatan aliran atau arus di sepanjang Kali
Wendit, digunakan alat pengukur arus berupa Current Meter.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 75


Laporan Antara

Gambar 5.2. Alat Pengukur Kecepatan Aliran Current Meter

Prosedur penggunaan Current Meter adalah sebagai berikut:


1. Rangkai tongkat statif berskala, propeller dan kabel sehingga terhubung
dengan baik dan benar.
2. Sambungkan kabel pada mesin pencatat
3. Letakkan current meter sejajar vertikal dengan arus aliran dimana
propeller harus menghadap berlawanan arah aliran.
4. Tekan tombol On / Off untuk menyalakan mesin pencatat
5. Pilih menu continue
6. Pilih menu start untuk memulai pengukuran
7. Catat data pengukuran sebagai hasil dalam satuan m/det.
8. Ulangi langkah-langkah di atas untuk pengukuran selanjutnya

Pengukuran kecepatan aliran dilakukan pada 2 (dua) lokasi pekerjaan


yaitu pada outlet taman rekreasi Sumber Wendit dan hilir Kali Wendit.
Hasil pengukuran kecepatan aliran sungai dan perhitungan debit aliran Kali
Wendit disajikan sebagai berikut.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 76


Laporan Antara

Titik 1 (Outlet Taman Rekreasi Wendit) Titik 2 (Hilir Kali Wendit)

A kiri = 2.63 m2 A kiri = 2.98 m2


Vrerata = 0.1267 m/dt Vrerata = 0.1533 m/dt
Qkiri = 0.3331 m3/dt Qkiri = 0.4569 m3/dt
= 333.13 lt/dt = 456.93 lt/dt

V1 = 0.11 m/dt V1 = 0.15 m/dt


V2 = 0.13 m/dt V2 = 0.15 m/dt
V3 = 0.14 m/dt V3 = 0.16 m/dt

A tengah = 3.27 m2 A tengah = 3.87 m2


Vrerata = 0.2100 m/dt Vrerata = 0.2367 m/dt
Qtengah = 0.6867 m3/dt Qtengah = 0.9159 m3/dt
= 686.70 lt/dt = 915.90 lt/dt

V1 = 0.21 m/dt V1 = 0.23 m/dt


V2 = 0.22 m/dt V2 = 0.24 m/dt
V3 = 0.20 m/dt V3 = 0.24 m/dt

A kanan = 2.89 m2 A kanan = 3.24 m2


Vrerata = 0.1200 m/dt Vrerata = 0.1452 m/dt
Qkanan = 0.3468 m3/dt Qkanan = 0.4705 m3/dt
= 346.80 lt/dt = 470.50 lt/dt

V1 = 0.13 m/dt V1 = 0.15 m/dt


V2 = 0.11 m/dt V2 = 0.15 m/dt
V3 = 0.12 m/dt V3 = 0.14 m/dt

Qtotal = 1.37 m3/dt Qtotal = 1.84 m3/dt


1366.63 lt/dt 1843.33 lt/dt

5.2.2. Pengamatan Kualitas Air


Tujuan umum pengawasan kualitas air yaitu untuk mengetahui gambaran
mengenai keadaan sanitasi sarana air bersih dan kualitas air sebagai data
dasar pemberian rekomendasi untuk pengamanan kualitas air. Tujuan
khusus yaitu tersedianya informasi keadaan sanitasi air bersih dan kualitas
air, tersedianya rekomendasi untuk tindak lanjut terhadap upaya
perlindungan pencemaran, perbaikan kualitas air dan penyuluhan kepada
pihak terkait. Pengamatan kualitas air terdiri dari beberapa kegiatan
diantaranya :

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 77


Laporan Antara

1. Penentuan Titik Pengambilan Sampel


Langkah awal dalam menentukan lokasi pengambilan sampel air sungai
adalah mengetahui keadaan geografi sungai dan aktifitas di sekitar
daerah aliran sungai.Secara umum, lokasi pengambilan sampel air
sungai daerah hulu atau sumber air alamiah, yaitu lokasi yang belum
tercemar. Lokasi ini berperan untuk identifikasi kondisi asal atau
baseline system tata air daerah pemanfaatan air sungai, yaitu lokasi di
mana air sungai dimanfaatkan untuk bahan baku air minum, air untuk
rekreasi, industri, perikanan, pertanian, dan lain-lain. Tujuannya
adalah untuk mengetahui kualitas air sebelum dipengaruhi oleh suatu
aktifitas daerah yang potensial terkontaminasi, yaitu lokasi yang
mengalami perubahan kualitas air oleh aktivitas industri, pertanian,
domestik, dan sebagainya. Lokasi ini dipilih untuk mengetahui
hubungan antara pengaruh aktivitas tersebut dan penurunan kualitas
air sungai daerah pertemuan dua sungai atau lokasi masuknya anak
sungai. Lokasi ini dipilih apabila terdapat aktivitas yang mempunyai
pengaruh terhadap penurunan kualitas air sungai daerah hilir atau
muara, yaitu daerah pasang surut yang merupakan pertemuan antara
air sungai dan air laut. Tujuannya untuk mengetahui kualitas air sungai
secara keseluruhan. Apabila data hasil pengujian di daerah hilir
dibandingkan dengan data untuk daerah hulu, evaluasi tersebut dapat
menjadi bahan kebijakan pengelolaan air sungai secara terpadu.
2. Pengambilan dan Pengiriman Sampel
Pengambilan contoh secara manual mudah diatur waktu dan
tempatnya, serta dapat menggunakan bermacam-macam alat sesuai
dengan keperluannya. Apabila diperlukan volume contoh yang lebih
banyak, contoh dapat diambil lagi dengan mudah. Selain itu biaya
pemeliharaan alat dengan cara ini tidak besar bila dibandingkan dengan
cara otomatis. Akan tetapi keberhasilan pengambilan contoh secara
manual sangat tergantung pada keterampilan petugas yang
melaksanakannya. Pengambilan contoh secara manual yang berulang-
ulang dapat menyebabkan perbedaan perlakuan yang dapat
mengakibatkan perbedaan hasil pemeriksaan kualitas air. Pengambilan

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 78


Laporan Antara

contoh secara manual sesuai untuk diterapkan pada pengambilan


contoh sesaat pada titik tertentu dan untuk jumlah contoh yang sedikit.
Sedangkan untuk pengambilan contoh yang rutin dan berulang - ulang
dalam periode waktu yang lama cara manual memerlukan biaya dan
tenaga kerja yang besar.
a. Alat :
 Botol timba
 Jirigen plastik ukuran 5 liter (sebaiknya berwarna putih)
 Botol plastik vol. 500 ml (2 buah)
 Botol oksigen vol. 250 ml
 Termos es untuk mendinginkan contoh
 Tas lapangan
 Alat tulis
 Buku catatan (bungkus dengan plastik)
 Alat dan bahan untuk periksa parameter (yang diperlukan)
b. Cara pengambilan sampel :
 Botol yang akan dipergunakan untuk mengambil sampel
dibersihkan terlebih dahulu.
 Botol dibenamkan pada kedalaman perairan yang akan diperiksa.
 Pengambilan pertama sampel air digunakan untuk membersihkan
botol sampling untuk kemudian dibuang kembali lalu diulang untuk
beberapa kali.
 Pengambilan kedua merupakan sampel air yang akan diperiksa ke
dalam botol sampel untuk kemudian ditutup.

Pada prinsipnya air yang akan diuji diusahakan mempunyai susunan dengan
air aslinya. Semua tindakan yang merubah susunan kimianya harus
dihindari, baik tempat pengiriman maupun peralatan serta cara
pengambilan sampel air. Untuk mencegah adanya perubahan komposisi
sampel yang bermakna yang mempengaruhi hasil analisa sangat penting
menjamin bahwa sampel diambil dengan tepat dan dikirim secepatnya.
Hasil pengujian laboratorium sampel air dari Sumber Wendit, menurut
standar PERMENKES No. 429/MENKES/PER/IV/2010, disajikan sebagai
berikut.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 79


Laporan Antara

Tabel 5.1. Hasil Uji Kualitas Air Sumber Wendit


Hasil Standar
No. Parameter Metode Satuan
Analisa Air*
Suhu
1 Suhu Udara Thermometer °C 25.45
Udara ± 3
Tidak Tidak
2 Bau Organoleptis -
Berbau Berbau
3 Kekeruhan Turbidimeter NTU 0.00 5.00
4 TDS EC Meter mg/L 223 500.00
Daya
5 Hantar EC Meter μmhos/cm 342 -
Listrik
6 pH pH Meter - 6.91 6.5 - 8.5
7 Nitrat Spektrofotometri mg/L 0.23 50.00
8 Nitrit Spektrofotometri mg/L 0.02 3.00
9 Sulfat Spektrofotometri mg/L 4.07 250.00
10 Besi Spektrofotometri mg/L 0.00 0.30
11 Mangan Spektrofotometri mg/L 0.095 0.40
12 Kesadahan Volumetri mg/L 55.00 500.00

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 80


Laporan Antara

BAB VI
PENUTUP

Pada pekerjaan ini, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :


1. Delineasi kawasan konservasi Sumber Wendit didasarkan pada delineasi
Cekungan Air Tanah Brantas, aliran permukaan Kali Bango, dan aliran
permukaan Kali Amprong. Luas kawasan konservasi Sumber Wendit mencapai
104 km2. Peta yang dipergunakan diperoleh dari Badan Informasi Geospasial,
dan diolah dengan bantuan perangkat lunak ArcGIS.
2. Kawasan konservasi Sumber Wendit, terbagi atas 2 (dua) daerah, yaitu daerah
imbuhan dan daerah lepasan. Daerah imbuhan merupakan daerah dimana air
hujan meresap kedalam tanah dan menjadi aliran airtanah. Sedangkan daerah
lepasan merupakan daerah dimana aliran airtanah muncul ke permukaan tanah
dengan berbagai bentuk, diantaranya sebagai mata air. Luas daerah imbuhan
dalam kawasan konservasi Sumber Wendit mencapai 47,2 km 2. Sedangkan luas
daerah lepasan dalam kawasan Sumber Wendit mencapai 56,8 km 2.
3. Hasil pengukuran debit sesaat di 2 (dua) titik, di outlet taman rekreasi Sumber
Wendit dan hilir Kali Wendit, dapat diketahui sebesar 1366,63 lt/dt dan 1843,33
lt/dt.
4. Hasil pengujian terhadap sampel air dari Sumber Wendit dapat dinyatakan
bahwa hasil pengujian, baik secara fisik dan kimiawi, memenuhi kualitas air
bersih menurut PERMENKES No. 429/MENKES/PER/IV/2010.

Rencana Program Konservasi Sumber Mata Air Wendit 81