You are on page 1of 16

BAB III

DESKRIPSI PROSES DAN INSTRUMENTASI

3.1 Bahan Baku Pembuatan Pulp


Bahan baku utama yang diperlukan dalam pembuatan pulp dan kertas adalah
serat (selulosa dan hemiselulosa) yang merupakan senyawa karbohidrat. Serat
adalah sel tumbuhan yang mempunyai bentuk seperti pipa (berongga), relative
panjang dengan ujung meruncing. Setiap tumbuh-tumbuhan mengandung sel-sel
serat. Baik atau tidaknya tumbuhan tersebut digunakan sebagai bahan baku
pembuatan pulp tergantung pada mudah atau tidaknya tumbuhan tersebut
diperoleh dalam jumlah yang mencukupi secara berkelanjutan dan dari segi
ekonomi menguntungkan atau tidak dalam pengolahannya. Secara umum bahan
baku pembuatan pulp dipisahkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Tanaman Kayu (wood), terbagi atas:
a. Kayu daun (hardwood)
Kayu daun atau hardwood mempunyai cirri-ciri tanaman berdaun sempurna
yang memiliki tangkai, helai dan urat daun. Umumnya berdaun lebar dengan
bentuk daun bulat sampai lonjong. Serat yang dihasilkan adalah serat pendek.
Dalam sistematika tumbuhan, kayu daun tergolong dalam kelas dicotyledon
dari subdivision angiospermae. Beberapa tanaman yang termasuk tanaman
hardwood seperti Albizzia falcataria (Albizzia), eucalyptus spp (eucalyptus),
Anthocephalus cadamba (jabon), calindra calathyrsus (kaliandra), rhizophor
spp (bakau), Shorea spp (meranti).
b. Kayu Jarum (softwood)
Tanaman kayu jarum atau softwood berdaun tidak sempurna karena tidak
memiliki tangkai, helai dan urat daun. Daunnya berbetuk jarum dan serat yang
dihasilkan adalah serat panjang. Dalam sistematika tumbuhan, jenis ini
tergolong dalam ordo coniferalis dari subdivision Gymnospermae. Contohnya
yaitu Pinus spp (pinus, tusam), Aghatis spp (agatis), dan cemara.

15
16

2. Tanaman bukan kayu (nonwood)


Bahan non kayu merupakan sumber serat yang berasal dari tanaman bukan
kayu. Tanaman ini banyak jenis dan ragamnya seperti jenis rumput-rumputan,
perdu berbatang basah dan tanaman berkayu lunak. Tanaman ini dapat berasal
dari hasil pertanian, hasil perkebunan, atau hasil limbah industri, contohnya
seperti jerami, merang, nenas, tandan kelapa sawit, bagas, batang jagung, abaca,
kenaf, bamboo dan lain-lain. Sumber serat biasanya tersebar pada jaringan
tertentu dan banyak mengandung sel gabus (pith) yang tidak mengandung serat.
Seratnya dapat berasal dari kulit, batang, daun, bahkan dari biji atau buahnya.
Pada umumnya yang paling dominan digunakan untuk pembuatan pulp dan kertas
adalah kayu, baik hardwood maupun softwood walaupun tidak jarang yang
menggunakan bahan non kayu, tergantung dari jenis produk pulp dan kertas yang
ingin diproduksi. Di Indonesia, industri pulp dan kertas banyak menggunakan
kayu daun (hardwood) sebagai bahan baku.

3.2 Proses Pembuatan Pulp


Pulp adalah kumpulan serat atau selulosa yang berasal dari kayu atau bukan
kayu sebagai bahan baku kertas. Proses pembuatan pulp adalah proses pemisahan
serat atau selulosa yang terdapat dalam kayu secara mekanik atau secara kimiawi.
Pada umumnya bahan baku pembuatan pulp berasal dari kayu. Ditinjau dari jenis
serat selulosa kayu, pulp terdiri dari dua jenis serat yaitu:
1) LBKP (Laubholtz Bleach Kraft Pulp): serat pendek
2) NBKP (Nedelholtz Bleach Kraft Pulp): serat panjang
Sedangkan serat selulosa yang bukan berasal dari kayu mempunyai serat pendek,
misalnya: Bagase (ampas tebu), jerami, bamboo dan lain-lain. Jadi secara
sederhana dapat dikatakan bahwa bahan baku pembuatan pulp adalah selulosa dan
bahan baku pembuatan kertas adalah pulp.
Pulp sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu pulp kertas dan pulp larut
(dissolving pulp). Pulp kertas adalah jenis pulp yang setelah diproses menjadi
kertas masih dapat diolah kembali menjadi pulp, karena rantai dari kandungan
komponen kimia pulp tersebut masih panjang karena mengandung lignin, selulosa
17

dan hemiselulosa. Sedangkan pulp larut atau dissolving pulp adalah pulp yang
setelah diproses menjadi produknya tidak dapat lagi diolah menjadi pulp karena
hanya mengandung komponen kimia selulosa saja sehingga ikatan rantainya
pendek.
Proses pembuatan pulp disebut pulping. Prinsip pembuatan pulp adalah
penghilangan lignin (delignifikasi) yang terkandung dalam bahan baku atau
pemisahan serat dari bahan baku yang mengandung serat. Pulp dapat dibuat
dengan bermacam-macam metoda yang berbeda berdasarkan perlakuan yang
diberikan terhadap bahan baku dan kuantitas rendemen pulp yang ingin dibuat.
Proses pembuatan pulp secara komersial dapat diklasifikasikan dalam proses
mekanis, semi mekanis dan kimia. Yang membedakan proses-proses pembuatan
pulp tersebut adalah perlakuan yang diberikan terhadap bahan baku serta
rendemen yang dihasilkannya. Produk yang dihasilkan mempunyai karakteristik
yang berbeda-beda. Pemilihan jenis proses pembuatan pulp tergantung pada jenis
spesies kayu yang tersedia dan penggunaan akhir dari pulp yang diproduksi.
3.2.1 Pembuatan Pulp Secara Mekanis
Pembuatan pulp secara mekanis tidak membutuhkan bahan kimia tetapi pulp
memperoleh aksi-aksi mekanis seperti pencabikan dengan menggesekkan
permukaan kasar terhadap bahan baku tersebut, pemberian temperatur, pemberian
tekanan dan lain-lain. Pembuatan pulp dengan cara ini membutuhkan biaya yang
besar, oleh karena itu proses ini jarang digunakan. Pulp yang dihasilkan pada
proses ini kurang kuat dan sulit untuk diputihkan dan pada umumnya hanya
digunakan untuk pembuatan kertas koran.
3.2.2 Pembuatan Pulp Secara Semi Kimia (Kimia Mekanik)
Proses ini adalah proses perpaduan proses kimia dan proses mekanik.
Contoh proses ini adalah Chemical Thermo Mechanical Pulping. Pada proses ini,
mekaniknya sama dengan Thermo Mechanical Pulping, perbedaannya adalah
pada proses ini mendapatkan penambahan bahan kimia yang fungsinya untuk
melarutkan sebagian bahan bukan serat yang terdapat dalam bahan baku.
Rendemen yang dihasilkan lebih rendah lagi karena adanya perlakuan kimia.
Sekarang proses pulp ini semakin banyak digunakan untuk pembuatan kertas
18

koran karena mempunyai harga yang optimal karena perpaduan antara kekuatan
fisik, formasi dan kapasitas. Beberapa proses semikimia yang lain adalah:
1) Menggunakan larutan natrium sulfit dan natrium karbonat sebagai Buffer,
reaksi yang terjadi adalah sulfonasi lignin dan hidrolisa semiselulosa.
2) Proses alkali lignin, merupakan proses perendamen bahan baku dalam larutan
NaOH pada suhu kamar dan tekanan atmosfer kemudian dilanjutkan dengan
proses secara mekanik. Pada proses ini, lignin terlarut sedikit sehingga
brightness kertas masih rendah.
3.2.3 Pembuatan Pulp Secara Kimia
Pembuatan pulp secara kimia adalah proses pembuatan pulp dengan
menggunakan bahan kimia sebagai bahan utama untuk melarutkan bagian - bagian
kayu yang tidak diinginkan, sehingga pulp yang dihasilkan berkadar selulosa
tinggi. Hasil pulp mudah diputihkan dan pada umumnya menghasilkan kertas
misalnya kertas tissue, kertas cetak dan lain - lain.
Proses pembuatan pulp secara kimia yang banyak digunakan antara lain:
a. Proses Soda
Proses soda menggunakan NaOH sebagai bahan kimia pemasak utama. Dalam
proses soda tidak menggunakan senyawa sulfur, sehingga bahaya polusinya tidak
terlalu besar.
Keuntungan dari proses soda ini adalah:
1) Mudah dalam recovery atau mendapatkan kembali bahan kimia dalam
pemasakan (recovery NaOH)
2) Bahan baku yang dipakai dapat bermacam - macam.
b. Proses Sulfat/Kraft
Proses kraft merupakan proses pembuatan pulp yang menggunakan larutan
kimia pemasak campuran antara Natrium Sulfida (Na2S) dan Soda (NaOH) yang
bertujuan untuk mengurangi kerusakan pada karbohidrat. Pulp ini menghasilkan
jenis kertas seperti kertas sampul, kertas pembungkus minuman, karton dan
kertas-kertas lainnya.
19

Pulp yang dihasilkan adalah serat yang berkekuatan tinggi dan


pemasakannya diakhiri ketika lignin masih dalam konsentrasi rendah sehingga
kekuatan serat masih dapat bertahan. Keuntungan dari proses kraft adalah:
1) Waktu pemasakan relatif singkat
2) Kekuatan serat setelah cooking tinggi
3) Menghasilkan produk samping yang berharga seperti terpentin dan tall oil.
Kerugian dari proses kraft yaitu menimbulkan bau yang tidak sedap karena
adanya reaksi Natrium Sulfida (Na2S) dengan bahan baku yang merupakan bahan
organik.
c. Proses Sulfit
Pada umumnya pembuatan pulp secara kimia dengan proses ini menggunakan
cairan pemasak dari garam sulfit, misalnya kalsium, magnesium, natrium, dan
ammonium bisulfit. Proses sulfit memiliki beberapa keuntungan yakni
menghasilkan pulp yang relatif lebih putih sebelum mengalami proses pemutihan,
mudah dilarutkan dan mudah dimurnikan dengan larutan alkali, sedangkan
kerugian dari proses ini adalah waktu pemasakan lama dan menghasilkan limbah
yang sulit ditangani.

3.3 Proses Pembuatan Kertas


Proses pembuatan kertas dibagi menjadi 3 tahapan yaitu persiapan bahan
baku (stock preparation), pembentukan lembaran, dan penyelasaian akhir.
3.3.1 Stock Preparation
1) Pembuatan Bubur Kertas
Proses ini dilakukan apabila pulp yang akan dipergunakan dalam bentuk
kering dan ber bal-bal jumlahnya. Alat yang dipergunakan adalah hydropulperi
dengan putaran pulper yang tetap dan mempunyai 3 (tiga) tahapan waktu yaitu
pemasukan pulp, pulping dan blowing. Tujuan dibuburkan yaitu agar bahan
kimia yang nanti dicampurkan akan homogen dengan pulp. Disamping itu pulp
lebih mudah di transfer dari suatu tempat ke tempat lain dengan bantuan
pompa.
20

2) Pembersihan Pulp
Tujuannya untuk memisahkan pulp dari kotoran-kotoran yang akan
mengurangi kualitas kertas yang dihasilkan. Pembersihan pada tahap stock
preparation ini terdiri dari screening dan cleaning.
Screening adalah proses pemisahan pulp dari kotorannya dengan dasar
perbedaan ukuran dan fleksibilitas. Biasanya screening ini disokong dengan
bantuan tekanan untuk memudahkan proses pemisahan dan mencegah
penyumbatan.
Cleaning dimaksudkan untuk memisahkan kotoran yang ukurannya
mendekati ukuran serat sehingga tidak dapat dipisahkan dengan screen.
Pemisahannya didasarkan atas perbedaan density dan hydrolic drag yaitu sifat
partikel dalam aliran bergerak.
3) Penggilingan
Penggilingan ditujukan untuk mengubah struktur fisik serat dari bentuk
silindris menjadi pipih berfibril, dimana fibril tersebut akan berperan penting
pada proses pembentukan lembaran dan memberikan kontribusi yang besar
pada sifat kekuatan kertas yang dihasilkan.
Alat yang digunakan adalah beater dan refiner. Perbedaan beater terletak
pada sudut penggilingan, beater mempunyai sudut 180o antara root dan stator.
Sedangkan refiner dibagi dua jenis yaitu conical refiner dimana sudut antara
stator dan rotornya lebih besar dari 0o dan lebih kecil dari 180o, sedangkan
disc refiner mempunyai sudut penggilingan 0o dan mempunyai luas
penggilingan yang lebih besar dibandingkan dengan conical refiner dan
beater.
4) Penambahan Bahan Kimia Penolong
Setelah mengalami penggilingan, pulp secara continue dikirim ke mixing
chest yang didalamnya merupakan tempat pencampuran pulp dengan bahan
kimia penolong. Adapun yang dipergunakan biasanya adalah sebagai berikut:
a. Bahan Pendarih (Sizing)
Berfungsi sebagai penahan penetrasi cairan lembaran yang dihasilkan
sehingga cairan tidak dapat menyebar pada kertas. Bahan ini sangat diperlukan
21

pada pembuatan kertas tulis cetak. Bahan-bahan ini antara lain rosin, alkyl
ketene dimer (AKD) dan alkyl succinic anhydride (ASA).
b. Bahan Pengisi (Filler)
Berfungsi untuk mengisi ruang kosong antara serat-serat selulosa,
disamping ada beberapa tujuan lain yaitu:
 Meningkatkan opasitas
 Menambahkan berat dasar kertas (gramatur)
 Meningkatkan derajat putih kertas
 Memperbaiki sifat permukaan (formasi) lembaran. Contoh dari bahan
pengisi ini adalah CaCO3, kaolin (clay), titanium dioksida, BaSO4, dan lain-
lain.
c. Bahan Penguat (Dry atau Wet Strength)
Berfungsi untuk meningkatkan sifat kekuatan kertas pada saat kering dan
pada saat basah. Contoh dry strength antara lain pati (starch) dan
polyacrylamide. Sedangkan wet strength antara lain urea, formaldehida, dan
melamine formaldehyde.
d. Bahan Penetrasi (Retention Aid)
Berfungsi untuk membantu mempertahankan lembaran dari lolosnya filler
dan fines, contohnya seperti PAC, Alum, Pati, dan sebagainya.
e. Bahan Pewarna (Dyes)
Untuk memberi warna pada kertas.
f. Bahan untuk Meningkatkan Derajat Putih (Brightness)
Contohnya optical brightening agent.
g. Bahan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau Slime Biocide.
3.3.2 Pembentukan Lembaran
Bagian ini terdiri dari tiga bagian yaitu wire part, press part, dan drying
part. Mesin kertas pada dasarnya terdiri dari dua jenis yaitu fourdrinier dan
cylinder. Namun karena perkembangan teknologi yang sangat pesat maka terdapat
banyak sekali modifikasi mesin sehingga dihasilkan efisiensi pengeluaran air dan
pembentukan lembaran, begitu pula pada press part dan dryer part.
22

Dari headbox buburan ini dialirkan ke atas wire dengan konsistensi sekitar
0,1 – 2 %. Pada wire part stock mengalami penggoyangan yang tujuannya untuk
menyeragamkan orientasi serat. Lembaran kertas pada wire dikurangi kadar
airnya dengan menggunakan sistem vakum pada tekanan 20-25 mmHg. Setelah
itu lembaran kertas yang masih basah masuk ke dalam press part yang
didalamnya terjadi penjepitan lembaran dengan dua permukaan silinder
bertekanan yang berfungsi untuk mengeluarkan air yang tidak dapat dikeluarkan
oleh vakum pada wire. Pengepressan bertujuan pula untuk membentuk lembaran
yang padat dan stabil pada proses selanjutnya. Setelah proses pengepresan
lembaran memasuki bagian pengeringan dengan kadar air antara 60 – 70%.
Pengeringan dilaksanakan dengan melewatkan lembaran kertas diantara
silinder-silinder panas yang didalamnya terdapat steam dengan suhu dan tekanan
tertentu. Pengeringan dilakukan dengan berbagai tahap dari yang suhunya lebih
rendah berlanjut ke yang lebih tinggi. Tahap awal biasanya hanya 130 oC terus
berlanjut hingga 160oC, setelah itu suhunya diturunkan kembali. Lembaran akan
mempunyai kadar air 10-15% setelah mengalami pengeringan.
3.3.3 Penyelesaian Akhir
Bagian ini merupakan perlakuan terakhir pada kertas sebelum dikapalkan.
Bagian ini biasanya terdiri dari calendaring yaitu proses penjepitan kertas dengan
silinder pejal untuk meningkatkan kilap, smoothness dan menekan kertas menjadi
memiliki ketahanan. Kemudian kertas tersebut digulung dan bila perlu dipotong
sesuai dengan ukuran yang diinginkan, lalu dibungkus dan siap untuk dipasarkan.

3.4 Pengujian Kualitas Kertas


Pengujian kualitas kertas dibagi menjadi 2, yaitu pengujian wet end dan
pengujian dry end.
3.4.1 Pengujian Wet End
Pengujian wet end berfungsi untuk memberikan informasi tentang kualitas
pulp dan kecocokannya untuk membuat kertas sesuai grade. Untuk
mengumpulkan informasi ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Mengetahui kapan, di mana, dan bagaimana cara mengambil sampel pengujian,
23

2. Mengkalibrasi perlengkapan pengujian dengan tepat.


Hasil pengujian wet end ini juga bermanfaat untuk mengantisipasi dan
memperbaiki permasalahan. Laju produksi yang tinggi dan kualitas yang
konsisten bergantung pada program pengujian yang efektif. Untuk mencegah
perubahan yang mencolok pada karakteristik kertas, perubahan kecil pada kualitas
produk harus dideteksi secara dini. Penyesuaian yang tepat waktu terhadap mesin
akan mengurangi kerugian dan operating cost. Pengujian wet end yang biasa
dilakukan pada mill mencakup:
a. Additive solids
Pengujian additive solids memverifikasi kesesuaian konsentrasi aditif.
Dengan mempertahankan konsentrasi yang sesuai memungkinkan dilakukannya
pengontrolan dan pengukuran aditif pada stock system secara akurat.
b. Charge testing
Pengujian muatan partikel dapat menentukan kepadatan muatan total pada
stock furnish dan komponen-komponen individu secara kuantitatif (seperti
hardwood, softwood, size, GCC, dll). Sistem muatan yang optimal akan
memberikan kinerja yang optimal (consistent retention, kebersihan mesin, dan
pengoperasian yang baik).
c. Consistency
Konsistensi pulp mengindikasikan konsentrasi serat pada berbagai
campuran air pulp. Konsistensi merupakan rasio berat kandungan serat terhadap
berat keseluruhan dari campuran. Hal ini berpengaruh terhadap refining, freeness,
formation, dan retention. Pengujian ini berguna bagi proses persiapan stok.
d. Dew point
Pengujian dew point (titik embun) dilakukan untuk memeriksa kelebihan
kelembaban pada instrumen air system. Jika terdapat kelembaban pada udara
instrumen, akan mempengaruhi kesensitifan instrumen presisi pada paper
machine. Terutama pada musim dingin, karena potensi pembekuan.
e. First pass retention
First pass retention merupakan pengukuran persentase seberapa banyak
serat dan aditif yang tertahan pada wire. Hal ini penting bagi kebersihan dan
24

pengoperasian mesin. First pass retention yang baik juga mengurangi aditif dan
biaya.
f. First pass filler retention
First pass filler retention merupakan pengukuran persentase seberapa
banyak filler tertahan. Hal ini berguna ketika melakukan troubleshooting terhadap
first pass retention yang buruk.
g. Freeness
Freeness pulp mengindikasikan seberapa mudah dan cepat pulp terpisah
dari air. Pengujian ini memberikan indikasi bagaimana stock akan mengering pada
wire. Hasil pengujian freeness digunakan untuk mengontrol proses wet end dan
menjaga freeness stock chest and headbox dalam batas operasional. Freeness
ditentukan oleh jumlah refining dan konsistensi stock.
h. pH
Pengujian pH dilakukan dengan mengukur nilai pH dari stock pada titik-titik
tertentu dalam proses. Pengujian ini merupakan pengukuran konsentrasi ion
hidrogen dan derajat keasaman atau alkali dalam skala pengukuran 0-14. Nilai
neral adalah 7,0 dengan 0-7,0 adalah peningkatan keasaman dan ,0-14 adalah
peningkatan alkali. pH stock furnish penting bagi stabilitas paper machine.
3.4.2 Pengujian Dry End
Pengujian dry end berfungsi menyediakan informasi mengenai kualitas
produk akhir dan kecocokannya terhadap permintaan custumer. Persiapan sampel
pengujian yang sesuai oleh paper tester merupakan hal yang sangat vital bagi
akurasi hasil pengujian. Sampel diambil langsung dari lapangan ke testing lab
untuk memastikan pengujian dilakukan sesegera mungkin setelah produksi.
Pengujian dry end yang biasa dilakukan pada mill mencakup:
1. Abrasion
Pengujian abrasi menentukan ketahanan permukaan kertas terhadap abrasi,
untuk mengetahui apakah kertas tersebut tahan terhadap penggunaan berkali-kali.
2. Basis weight
Basis weight merupakan berat per unit area, didefinisikan sebagai massa
dalam pounds untuk satu rem sheet dengan ukuran tertentu (biasanya 500 sheets).
25

3. Brightness
Pengujian brightness merupakan pengukuran fisika dari sebuah panjang
gelombang cahaya tertentu yang dipantulkan dari selembar kertas. Brightness
dikarakterisasikan sebagai kualitas yang dapat diterima oleh mata manusia. Hal ini
penting bagi penampilan, tidak hanya nilai estetika tapi juga karena pengaruhnya
pada kemampuan baca kekontrasan antara percetakan dengan kertas.
OBA ditambahkan pada beberapa grade kertas untuk control brightness.
Semakin biru dan putih sebuah kertas, semakin cerah terlihat. Jika kertas diolah
karena masalah brightness berkali-kali, kertas tersebut akan dkumpulkan atau
dijual sebagai sebuah job lot.
4. Caliper
Caliper (ketebalan) didefenisikan sebagai jarak vertikal antara dua
permukaan dalam kondisi yang terkontrol. Pengujian caliper mengukur ketebalan
empat sheet dan/atau variasi pada ketebalan selembar kertas. Pengujian ini
melibatkan penggunaan icrometer otomatis dengan penggunaan beban konstan
untuk periode waktu yang spesifik. Ketebalan merupakan kualitas kertas yang
penting. Variasi ketebalan juga penting bagi kertas yang digunakan untuk
keperluan mekanis, seperti fotokopi dan percetakan.
5. Coefficient of static friction (COF)
Pengujian ini menggunakan sebuah prosedur horizontal plane untuk
menentukan koefisien friksi statis dan kinetis dari kertas yang meluncur terhadap
dirinya sendiri. COF statis berhubungan dengan gaya yang dibutuhkan untuk
memulai pergerakan antara kedua permukaan. COF kinetis berhubungan dengan
gaya yang dibutuhkan untuk melanjutkan pergerakan dengan kecepatan yang
sama. COF penting dalam menentukan karakteristik slip pada kertas. COF
membantu dalam evaluasi aditif yang digunakan untuk menghasilkan atau
meminimalisir derajat friksi antara dua permukaan.
6. Color
Warna kertas merupakan faktor kualitas yang penting bagi customer.
Dampak utama dari warna kertas adalah dalam penampilan cetakan pada produk
akhir. Ketika kertas diberi cahaya putih dalam kondidi ideal, ia akan disinari oleh
26

cahaya yang mengandung semua panjang gelombang yang dapat terlihat dengan
energi yang kira-kira setara. Ketika cahaya memantul dari sampel kertas, ia akan
menunjukkan jumlah pemantulan yang tidak sama bagi panjang gelombang yang
berbeda. Bentuk kurva pemantulan ini menentukan warna kertas.
7. Contact angle
Sudut kontak mengukur efek permukaan fisik karena sizing berhubungan
dengan penetrasi fluida. Hal ini merefleksikan kemampuan basah dari sheet. Hal
ini penting bagi penahanan tinta atau coating.
8. Curl
Curl disebabkan oleh ekspansi atau kontraksi yang tidak sama pada dua sisi
dari sebuah sheet ketika mengabsorb atau kehilangan kelembaban. Pengujian curl
mengevaluasi curl yang muncul ketika kertas diekspos terhadap dry heat dalam
curl box. Curl bisa menyulitkan dalam proses manapun di mana sebuah sheet
yang datar harus diumpankan (contoh: offset printing dan mesin fotokopi).
9. Dirt cout
Dirt pada kertas didefenisikan sebagai material asing yang tercampur pada
sheet, yang memiliki warna yang kontras terhadap seluruh permukaan. Pengujian
dirt pada kertas digunakan untuk menentukan penampilan estetikanya. Dirt yang
signifikan pada kertas dapat mengurangi keindahannya. Hal ini juga dapat
menyebabkan kualitas defect yang jelas pada produk akhir.
10. Fiber Orientation (SSTF)
Kesejajaran serat pada kertas merupakan karakteristik kualitas yang penting.
Customer yang penggunaan akhirnya adalah fine writing papers dan fine printing
paper umumnya memperhatikan parameter ini. Fiber Orientation (SSTF)
mengukur kesejajaran serat (secara machine direction atau cross direction).
11. Filler content
Pengujian kandungan filler merupakan pengukuran yang menentukan
persentase dari paper making fillers (granulated calcium carbonate dan talcum)
pada kertas.
27

12. Flourescence
Pengujian fluorescence mengukur reaksi kertas terhadap cahaya ultraviolet,
dalam hal ini adalah brightness-nya. Pengujian ini digunakan untuk mengontrol
jumlah optical brightener dye yang ditambahkan pada sebagian grades.
13. K&N Ink Test
Pengujian K&N ink digunakan hanya pada grades offset paper. Pengujian
ini mengukur ketahanan sheet terhadap tinta. Hal ini memungkinkan costumer
menentukan kemampuan sheet untuk mereproduksi warna.
14. M/K formation
Pengujian formasi merupakan versi elektronik dari pengujian terawang.
Pengujian ini digunakan untuk menentukan seberapa baik serat dan filler
terbentuk pada mesin. Objektif mill adalah memproduksi distribusi yang sama
bagi semua elemen yang membentuk produk akhir. Ketika distribusi yang sama
tercapai, kertas akan enak dipandang mata. Penampilan yang berantakan dapat
menyebabkan kerugian penjualan dan kehilangan costumer. Semakin tinggi
jumlah formasi, semakin bagus produk yang dihasilkan.
15. Percent Moisture
Persentase kelembaban diekspresikan sebagai fraksi air dalam sebuah nilai
persentase. Persentase kelembaban merupakan faktor kualitas yang sangat penting
dalam industri kertas. Profil kelembaban yang seragam penting untuk
menghasilkan kertas tulis dan cetak. Kelembaban signifikan untuk alasan
ekonomis.
16. Opacity
Opacity biasanya dianggap sebagai kemampuan kertas untuk
menyembunyikan cetakan pada sisi bagian belakangnya atau pada sheet yang
berada di bawahnya. Opacity ditentukan dengan mengukur cahaya yang
dipancarkan melalui kertas. Semakin banyak cahaya yang dipancarkan, semakin
tinggi opacity.
17. Porocity
Porositas didefinisikan sebagai sifat kepemilikan pori-pori atau area kecil
yang terhubung dimana fluida dapat melewatinya. Porositas tergantung pada
28

jumlah pori-pori dan distribusinya dalam ukuran, bentuk, dan orientasi. Porositas
sebuah kertas biasanya dievaluasi dengan mengukur besar aliran udara melewati
sebuah specimen dalam kontrol kondisi tertentu atau waktu yang dibutuhkan
udara dalam volume tertentu untuk melewati sheet.
18. Sizing
Pengujian sizing adalah sebuah indikasi ketahanan terhadap penetrasi fluida
melewati kertas. Hal ini penting ketika percetakan pada kertas dengan
menggunakan tinta. Pengujian ini menggunakan suatu larutan zat pewarna sebagai
penetrant yang memungkinkan deteksi cairan ketika bergerak melalui sheet.
Derajat sizing merupakan karakteristik yang penting bagi semua tipe kertas. Sizing
dalam penulisan dan percetakan kertas menentukan bagaimana kinerja kertas bagi
customer.
19. Smoothness
Smoothness merupakan pengukuran tidak langsung dari tekstur atau
kesempurnaan mekanik dari permukaan kertas. Smoothness penting bagi printing
paper dimana ia berkorelasi dengan konsumsi tinta, kualitas halftone dot, dan
keseluruhan akhir dari pekerjaan percetakan. Pengujian smoothness menggunakan
aliran udara di antara specimen dan sebuah measuring head. Besaran aliran udara
berhubungan dengan kehalusan permukaan kertas. Kehalusan permukaan
memiliki pengaruh penting pada kualitas percetakan. Jangkauan tinta yang
seragam dapat dicapai hanya ketika ceruk paling dalam dari permukaan kertas
terpisah dari printing plate tidak lebih dari ketebalan lapisan film tinta pada plate.
20. Starch test
Pengujian ini mengukur apakah ada starch atau tidak pada sheet. Pengujian
ini merupakan ujian ya atau tidak yang menggunakan troubleshooting.
21. Static charge decay
Muatan statis pada kertas cenderung membuat lembaran kertas menempel
satu sama lain. Dengan mengukur waktu yang dibutuhkan untuk penurunan
muatan statis, operator bisa mendapatkan indikasi bagaimana kinerja kertas pada
pengumpanan sheet, seperti copy paper. Customer yang berniat menggunakan
kertas tertarik pada kertas yang memiliki muatan atau kehilangan muatan statisnya
29

dengn cepat. Garam ditambahkan untuk mengurangi atau mengeliminasi muatan


statis.
22. Stiffness
Pengujian stiffness mengukur kekakuan dari kertas dengan menentukan
besar gaya yang dibutuhkan untuk menekuk sampel membentuk sudut sebesar 15
derajat. Kekakuan diinginkan ketika kertas harus berdiri tegak selama penggunaan
(contoh: typing paper).
23. Tensile Strength
Pengujian tensile strength mengukur tiga sifat dari kertas sebagai berikut :
 Gaya per unit lebar yng dibutuhkn untuk merobek specimen (tensile strength)
 Persentase elongasi pada saat sobek (stretch)
 Energi yang diabsorspsi unit area dari specimen sebelum robek (tensile energy
absorption)
Tensile strength didefinisikan sebagai tekanan maksimum yng dapat
diterima specimen sebelum patah atau robek. Tensile strength merupakan gaya per
unit lebar dari specimen pengujian. Tensile strength mengindikasikan penggunaan
servis pada banyak kertas (diantaranya pembungkus, tas dan sebagainya) yang
dipengaruhi langsung oleh tekanan tensile. Tensile strength printing paper
mengindikasikan ketahanan potensial pada robekan jaring selama percetakan dan
operasi converting lainnya.
Tensile energy absorption didefinisikan sebagai pekerjaan yang dilakukan
ketika sebuah specimen ditekan untuk robek dalam kondisi tertentu. Tensile
energy absorption merupakan pengukuran kemampuan kertas mengabsorpsi
energi (pada besaran tegangan dari instrumen) dan mengindikasikan ketahanan
kertas yang ditarik dan ditekan-tekan berkali-kali, seperti multiwall sack papers.
24. Wax pick test (surface strength)
Untuk menentukan kekuatan permukaan kertas, beberapa sealing wax yang
terkalibrasi digunakan untuk menarik permukaan kertas. Pengujian ini didesain
unuk mengukur kekuatan kertas atau ketahanannya terhadap picking. Lilin yang
dilapiskan pada kertas dengan peningkatan kekuatan kemudian ditarik sampai ada
bagian yang mengganggu permukaan kertas. Nilai yang didapatkan dari pengujian
30

merupakan perwakilan dari kekuatan permukaan kertas. Banyak operasi


percetakan dan converting membutuhkan kekuatan permukaan yang cukup untuk
memberikan hasil yang memuaskan.