You are on page 1of 9

HUBUNGAN FAKTOR RISIKO IBU DENGAN KEJADIAN

MOLA HIDATIDOSA DI RSUD CIERENG-SUBANG


PERIODE TAHUN 2013-2018

ARTIKEL

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Menyelesaikan Pendidikan


Diploma III Kebidanan pada Politektik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit

IVO LEFI SELIA


NIM.10616041

POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU CIUMBULEUIT

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN

BANDUNG

2018
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO IBU DENGAN KEJADIAN
MOLA HIDATIDOSA DI RSUD CIERENG-SUBANG
PERIODE TAHUN 2013-2018

RELATIONSHIP OF MOTHER RISK FACTORS WITH


HYDATIDIFORM MOLE IN THE RSUD CIERENG-SUBANG
2013-2018 PERIOD

Selia I.L.1 Efrasianty N.2 Andini H.Y.3


Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung Program DIII Kebidanan

Ivolefiselia@yahoo.com

0895340560039

ABSTRAK

Mola hidatidosa merupakan penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan


trofoblas plasenta atau calon plasenta dan disertai dengan degenerasi kistik villi dan
perubahan hidopik. Insiden mola hidatidosa setiap tahun mengalami peningkatan.
Beberapa faktor dapat mempengaruhi timbulnya mola hidatidosa. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian mola
hidatidosadi RSUD Ciereng-Subang periode tahun 2013-2018. Metode penelitian
yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Pemilihan
sampel dengan menggunakan teknik total sampling. Jumlah sampel adalah 80
responden. Analisis data menggunakan Rank Spearman. Hasil penelitian terdapat
hubungan yang signifikan secara statistik antara usia dan paritas dengan kejadian
mola hidatidosa (p value = 0,000 dan p value = 0,002). Berdasarkan hasil penelitian
tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor ibu yaitu usia dan paritas mempengaruhi
kejadian mola hidatidosa. Saran untuk Tenaga kesehatan diharapkan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan ANC pada ibu hamil dengan deteksi dini faktor
risiko pada kehamilan sehingga dapat diantisipasi dan diminimalisir.

Kata kunci : Mola hidatidosa, usia, paritas.


ABSTRACT

Hydatidiform mole is a disease that originates from abnormal growth of placental


trophoblasts or prospective placenta and is accompanied by villous cystic
degeneration and hydopic changes. The incidence of hydatidiform mole increases
every year. Several factors can influence the emergence of hydatidiform mole. This
study aims to determine the factors that influence the incidence of hydatidiform
mole in Ciereng-Subang Hospital in the period 2013-2018. The research method
used was descriptive with a cross sectional approach. Sample selection using total
sampling technique. The number of samples is 80 respondents. Data analysis using
Spearman. The results of the study showed a statistically significant relationship
between age and parity with the incidence of hydatidiform mole (p value = 0.709
and p value = 0.336). The results showed that maternal factors namely age and
parity affected the incidence of hydatidiform mole.

Keywords: hydatidiform mole, age, parity.

A. PENDAHULUAN sakit. Perdarahan ini biasanya terjadi antara


bulan pertama hingga bulan ke tujuh
Terjadi penurunan Angka Kematian
dengan rata-rata usia 12 sampai dengan usia
Ibu di Indonesia dari 390 pada tahun 1991
14 minggu. Sifat dari perdarahan ini dapat
menjadi 305 pada tahun 2015. Meskipun
intermiten, sedikit-sedikit atau banyak,
sudah terjadi penurunan namun angka
sehingga menyebabkan pasien mengalami
kematian ibu di indonesia masih cukup
anemia dari ringan hingga berat dan dapat
tinggi. Salah satu penyebab kematian
berujung pada syok hingga kematian. 1-3
terbesar ibu adalah perdarahan. Perdarahan
sendiri dapat terjadi saat awal kehamilan Mola hidatidosa merupakan
yaitu karena kehamilan ektopik, mola penyakit yang berasal dari kelainan
hidatidosa, dan abortus sedangkan pada pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon
kehamilan lanjut dapat disebabkan oleh plasenta dan disertai dengan degenerasi
solusio plasenta dan plasenta previa. kistik villi dan perubahan hidopik. Mola
Biasanya keluhan perdarahan inilah yang hidatidosa yang dikenal awam sebagai
mendorong pasien untuk datang ke rumah hamil anggur merupakan kehamilan
abnormal berupa tumor jinak yang terjadi hidatidosa sebanyak 18 per 100.000
sebagai akibat kegagalan pembentukan kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun
bakal janin, sehingga terbentuk jaringan 2014 jumlah ibu yang mengalami mola
permukaan membran (villi) yang mirip hidatidosa meningkat menjadi 21 per
gerombolan buah anggur.4 Pada 100.000 kelahiran hidup.6
kebanyakan kasus, mola tidak berkembang
Dampak kelainan yang sangat
menjadi keganasan, namun sekitar 2-3
berbahaya bagi wanita hamil adalah
kasus per 1000 wanita, mola dapat berubah
timbulnya tumor yang disebabkan oleh
menjadi ganas disebut koriokarsinoma,
plasenta. Serta terjadinya komplikasi
kemudian tejadi komplikasi yang dapat
Perdarahan yang hebat sampai syok,
menyebabkan perdarahan yang hebat
Perdarahan berulang-ulang yang dapat
sampai syok, perdarahan berulang yang
menyebabkan anemia, dan Infeksi
dapat menyebabkan anemia, infeksi
sekunder. Sejauh ini penyebabnya masih
sekunder, perforasi karena keganasan dan
belum diketahui. Namun ada beberapa
tindakan, dan menjadi penyakit trofoblas
faktor risiko mola hidatidosa meliputi:
gestasional (PTG). Kemungkinan
Umur, paritas, golongan darah, riwayat
terjadinya mola berulang berkisar 1 dari
mola hidatidosa, riwayat aborsi,
1000 wanita. Kadar hormon yang
kontrasepsi oral, nutrisi, sosial ekonomi,
dihasilkan oleh mola hidatidosa lebih tinggi
gaya hidup, (merokok, konsumsi alkohol). 7
5
dari kehamilan biasa.
Peningkatan risiko dapat dikarenakan usia
World Health Organization (WHO) reproduksi yang ekstrim (<20 tahun atau
tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi >35 tahun), hal ini dikarenakan ovum dari
kejadian Mola hidatidosa yaitu berkisar 64 wanita yang lebih tua lebih rentan
per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan terhadap pembuahan yang abnormal. Ibu
pada tahun 2014 bahwa kejadian mola multipara cenderung lebih berisiko terjadi
hidatidosa yaitu berkisar 67 per 100.000 kehamilan mola hidatidosa karena trauma
kelahiran hidup. Di Asia, insidensi mola kelahiran atau penyimpangan tranmisi
hidatidosa komplit tertinggi adalah di secara genetik.8
Indonesia yaitu 1 dari 77 kehamilan dan 1
Kejadian mola hidatidosa di RSUD
dari 57 persalinan. Berdasarkan data yang
Cilacap pada tahun 2011 tercatat 13 kasus,
diperoleh dari Survey Demografi
tahun 2012 sebanyak 11 kasus, tahun 2013
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2013
sebanyak 10 kasus, tahun 2014 sebanyak 12
jumlah ibu yang mengalami mola
kasus pada tahun 2015 sebanyak 7 kasus.
Penelitian yang dilakukan di RSUD Cilacap B. METODE
tahun 2011-2015, diperoleh hasil penelitian
Desain penelitian adalah rencana dan
terdapat hubungan yang signifikan secara
struktur penyelidikan yang digunakan
statistik antara usia dan paritas dengan
untuk memperoleh bukti-bukti empiris
kejadian mola hidatidosa (p value = 0,047
dalam menjawab pertanyaan penelitian.
dan p value = 0,042). Sedangkan tidak ada
Jenis penelitian ini menggunakan metode
hubungan yang signifikan secara statistik
survei analitik dengan menggunakan
antara sosio ekonomi dengan kejadian mola
pendekatan “Cross Sectional” dimana
hidatidosa (p value = 1,000). Hasil
variabel umur ibu dan paritas serta variabel
penelitian menunjukkan bahwa faktor
Mola Hidatidosa akan dikumpulkan dalam
risiko ibu yang mempengaruhi kejadian
waktu yang bersamaan.10
mola hidatidosa adalah usia dan paritas.
Sedangkan yang tidak mempengaruhi Populasi adalah seluruh objek
adalah sosio ekonomi.9 penelitian yang diteliti.11 Populasi dalam
penelitian ini adalah semua ibu hamil
Studi pendahuluan yang dilakukan
dengan mola hidatidosa di RSUD Ciereng
di RSUD Ciereng Subang dengan melihat
Subang periode tahun 2013-2018 sebanyak
data rekam medik, didapatkan data bahwa
80 orang.
kejadian kehamilan mola hidatidosa di
RSUD Ciereng Subang dalam 10 bulan Subjek penelitian merupakan seluruh
terakhir di tahun 2018 tercatat 28 kasus dari pasien mola hidatidosa di RSUD Ciereng
2.103 ibu hamil (1,33%). Melihat dampak Subang dengan kriteria inklusi, data pada
mola hidatidosa yang cukup besar maka rekam medis lengkap yaitu usia dan paritas.
penanganan mola hidatidosa tidak hanya Kriteria eksklusi pada penelitian ini data
terbatas pada evakuasi kehamilan mola rekam medis tidak lengkap yaitu usia dan
saja, tetapi juga membutuhkan penanganan paritas. Teknik pengambilan sampel
lebih lanjut seperti monitoring untuk dalam penelitian ini adalah total
memastikan prognosis dari penyakit sampling. Total sampling adalah teknik
tersebut. Maka penulis tertarik untuk pengambilan sampel dimana jumlah
meneliti lebih lanjut dengan judul sampel sama dengan populasi. Sehingga
“Hubungan Faktor Risiko Ibu Dengan sampel pada penelitian ini adalah semua ibu
Kejadian Mola Hidatidosa Di Rsud Ciereng hamil dengan mola hidatidosa di RSUD
Subang”. Ciereng Subang periode tahun 2013-2018
sebanyak 80 orang.12
C. HASIL DAN PEMBAHASAN mola hidatidosa di RSUD Ciereng-Subang
periode 2013-2018 pada responden yaitu
Berdasarkan hasil penelitian mengenai
sebanyak 80 orang. Didapatkan hasil
hubungan faktor risiko ibu dengan kejadian
sebagai berikut:

Tabel 4.1 Angka Kejadian Mola Hidatidosa Pada Ibu Hamil Di RSUD Ciereng Subang

Mola Hidatidosa Frekuensi (f) Persentase (%)


Mola Hidatidosa Komplit 58 72,5
Mola Hidatidosa Parsial 22 27,5

Total 80 100

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa 58 responden (72,5%) dan ibu dengan mola
dari 80 ibu hamil dengan mola hidatidosa hidatidosa parsial sebanyak 22 responden
menunjukkan bahwa terdapat ibu hamil (27,5%).
dengan mola hidatidosa komplit sebanyak
Tabel 4.2 Hubungan Umur Dengan Kejadian Mola Hidatidosa Pada Ibu Hamil Di RSUD
Ciereng Subang

Usia Ibu Mola Hidatidosa Nilai p


MHK MHP Total Value*
F % F % F %
Risiko Tinggi 55 68,7 6 7,5 61 76,2 0,000
Risiko Rendah 3 3,75 16 20 19 23,7

Total 58 72,5 22 27,5 80 100

Berdasarkan tabel 4.2 Diketahui dari hidatidosa komplit, 16 (20%) dengan mola
80 ibu hamil dengan mola hidatidosa, hidatidosa parsial. Berdasarkan hasil uji
terdapat 61 ibu hamil (76,2%) dengan risiko korelasi rank spearman diperoleh nilai p-
tinggi diantaranya 55 (68,7%) dengan mola value sebesar 0,000 (p-value < 0,05)
hidatidosa komplit, 6 (7,5%) dengan mola sehingga Ho ditolak Ha diterima. Hal ini
hidatidosa parsial. Dan terdapat 19 ibu menunjukkan bahwa ada hubungan antara
hamil (23,7%) dengan risiko rendah usia ibu dengan kejadian mola hidatidosa
diantaranya 3 (3,75%) dengan mola pada ibu hamil di RSUD Ciereng-Subang.
Tabel 4.3 Hubungan Paritas Dengan Kejadian Mola Hidatidosa Pada Ibu Hamil Di
RSUD Ciereng Subang

Paritas Mola Hidatidosa Nilai p

MHK MHP Total Value*

F % F % F %

Risiko Tinggi 53 66,2 14 17,5 67 76,2 0,002


Risiko Rendah 5 6,25 8 10 13 23,7

Total 58 72,5 22 27,5 80 100

Berdasarkan tabel 4.3 Diketahui dari 80 hubungan faktor risiko ibu dengan kejadian
ibu hamil dengan mola hidatidosa, terdapat mola hidatidosa di RSUD Ciereng subang
67 ibu hamil (76,2%) dengan risiko tinggi periode tahun 2013-2018, maka dapat
diantaranya 53 (66,2%) dengan mola disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
hidatidosa komplit, 14 (17,5%) dengan
1. Dari 80 ibu hamil dengan mola
mola hidatidosa parsial. Dan terdapat 13 ibu
hidatidosa ditemukan paling banyak
hamil (23,7%) dengan risiko rendah
mola hidatidosa komplit 58 responden
diantaranya 5 (6,25%) dengan mola
(72,5%).
hidatidosa komplit, 8 (10%) dengan mola
2. Berdasarkan hasil analisis data
hidatidosa parsial. Berdasarkan hasil uji
menunjukkan bahwa ada hubungan
korelasi rank spearman diperoleh nilai p-
antara usia ibu dengan kejadian mola
value sebesar 0,002 (p-value < 0,05)
hidatidosa pada ibu hamil di RSUD
sehingga Ho ditolak Ha diterima. Hal ini
Ciereng-Subang.
menunjukkan bahwa ada hubungan antara
3. Berdasarkan hasil analisis data
usia ibu dengan kejadian mola hidatidosa
menunjukkan bahwa ada hubungan
pada ibu hamil di RSUD Ciereng-Subang.
antara paritas dengan kejadian mola
D. SIMPULAN hidatidosa pada ibu hamil di RSUD
Ciereng-Subang.
Berdasarkan pembahasan yang telah
diuraikan pada bab sebelumnya mengenai
E. SARAN DAFTAR PUSTAKA
1. Bagi Penulis
1. Dinkes. Profil Kesehatan Indonesia
Peneliti diharapkan dapat mempelajari
Tahun 2017 [Available from:
dan mengindentifikasi lebih luas dan
file:///D:/PROPOSAL%20PENELITI
mendalam mengenai faktor risiko ibu
AN/profil-kesehatan-indonesia-
dengan kejadian mola hidatidosa.
2017.pdf.
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai
2. Granger. Vaginal Bleeding In
referensi untuk penelitian selanjutnya
Pregnancy J: Obstetri dan Gynekologi;
dengan penambahan variabel yang akan
1994.
diteliti.
3. Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. IV
2. Bagi Tenaga Kesehatan
ed. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Tenaga kesehatan khususnya bidan
Prawirohardjo; 2010.
diharapkan mengetahui apa saja faktor
4. Norma ND, M. Asuhan Kebidanan
penyebab dari mola hidatidosa agar pada
Patologi. Yogyakarta: Nuha Medika;
saat ANC dilakukan identifikasi secara
2013.
lengkap seperti pendataan status gizi,
5. Puspita H. Mola hidatidosa. 2017.
riwayat obstetri, golongan darah, dan
6. Rauf syahrul d. Ilmu Kandungan Edisi
riwayat kontrasepsi oral terhadap ibu
Ketiga. Jakarta: PT Bina Pusaka
hamil dengan mola hidatidosa sehingga
Sarwono Prawihardjo; 2014.
dapat menjadi acuan untuk penelitian-
7. Dyna F, Pradjadmo H, Sp Og Mk,
penelitian tentang mola hidatidosa yang
Lismidiati W, Kep S, Ns Mk. Faktor
akan dikembangkan kedepannya.
Risiko Mola Hidatidosa: Universitas
3. Bagi Institusi
Gadjah Mada; 2015.
Diharapkan bagian dari sarana
8. Berek JS NE. Berek and Novak’s
kepustakaan dapat menambah buku-
Gynecology 14th Edition. USA:
buku sumber mengenai penelitian dan
Lipp-incott Williams & Wilkins;
kebidanan, juga jurnal yang dapat
2007.
menjadi referensi dalam sebuah
9. Rochany Septiyaningsih DDK, Arini
penelitian, serta untuk menambah
Ulfah. Faktor-Faktor Ibu Yang
wawasan bagi mahasiswa terutama
Mempengaruhi Kejadian Mola
mengenai mola hidatidosa.
Hidatidosa. Jurnal Kesehatan Al-
Irsyad (JKA). 2016.
10. Notoatmodjo. Metodologi penelitian 12. Sugiyono. Metode Penelitian
kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
2005. Bandung: Alfabeta; 2007.
11. Notoatmodjo. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta;
2010.