You are on page 1of 20

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA ACNE SCAR

YANG DIUKUR MENGGUNAKAN DERMATOLOGY LIFE


QUALITY INDEX (DLQI) PADA PELAJAR SMA DI KOTA
MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT

PUBLIKASI ILMIAH

Diajukan Sebagai Syarat Meraih Gelar Sarjana pada Fakultas Kedokteran

Universitas Mataram

Oleh:

Feny Cahyani

H1A015023

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MATARAM

MATARAM

2018

1
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA ACNE SCAR YANG DIUKUR
MENGGUNAKAN DERMATOLOGY LIFE QUALITY INDEX (DLQI) PADA
PELAJAR SMA DI KOTA MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT

Feny Cahyani, Yunita Hapsari, Ahmad Taufik

Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

e-mail: fenycahyani31@gmail.com

Diajukan sebagai syarat meraih gelar Sarjana pada Fakultas Kedokteran Universitas

Mataram.

Jumlah tabel :4

Jumlah gambar :2

Jumlah kata : 2.846

2
ABSTRAK

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA ACNE SCAR YANG DIUKUR


MENGGUNAKAN DERMATOLOGY LIFE QUALITY INDEX (DLQI) PADA
PELAJAR SMA DI KOTA MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT

Feny Cahyani, Yunita Hapsari, Ahmad Taufik

Latar Belakang: Acne scar merupakan suatu kelainan kontur dan warna kulit yang
terjadi akibat Acne vulgaris. Berdasarkan tingkat keparahan acne scar dibagi
menjadi 4 derajat yaitu makula, ringan, sedang dan berat. Dilihat dari aspek non-
dermatologik, acne scar mempengaruhi kepribadian dan hubungan sosio-kultural,
dimana acne scar yang berat dapat menimbulkan kerusakan kulit wajah sehingga
memiliki dampak psikologis pada remaja karena berkaitan dengan citra dirinya. Acne
scar memiliki efek negatif yang signifikan pada kualitas hidup / Quality of Life
(QOL). QOL dapat dinilai dengan menggunakan indeks kualitas hidup dermatologi /
Dermatology Life Quality Index (DLQI) untuk mengukur berapa banyak masalah
kulit mempengaruhi kualitas hidup. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui
bagaimana gambaran kualitas hidup penderita acne scar yang diukur menggunakan
Dermatology Life Quality Index (DLQI) pada pelajar SMA di Kota Mataram, Nusa
Tenggara Barat.

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian dekriptif dengan desain


penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan sampel di
SMA Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat pada pelajar SMA laki-laki dan
perempuan yang menderita acne scar untuk mengukur gambaran kualitas hidup.
Kemudian, data akan dilakukan evaluasi untuk mengetahui gambaran kualitas hidup
penderita acne scar.

Hasil: 43 penderita acne scar ditemukan perempuan lebih banyak 24 sampel


(55,8%) dibandingkan laki-laki 19 sampel (44,2%) dari total 43 sampel pada
penderita usia 16-18 tahun. Rata-rata keseluruhan skor DLQI penderita acne scar
yaitu 7,58 dari total 43 sampel. Skor DLQI terbanyak pada penderita acne scar
ditemukan adalah kelompok sedang-berat yaitu 26 sampel (60,5%) dan kelompok
ringan yaitu 17 sampel (39,5%)

Kesimpulan: Dari 43 sampel penelitian rata-rata Skor DLQI keseluruhan penderita


acne scar adalah 7,58 dimana paling banyak memiliki pengaruh sedang-berat pada
pelajar SMA di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat..

Kata kunci: Acne scar, DLQI.

3
ABSTRACT

ELECTROLIT PROFILE IN PATIENTS WITH BENIGN PROSTAT


HYPERPLASIA POST TRANSURETRAL RESECTION PROSTATIC IN
RSUD PROVINSI NTB DURING 2012-2017

Feny Cahyani, Yunita Hapsari, Ahmad Taufik

Background: Increasing of life expectancy rate in Indonesia followed by increasing


any kinds of non-communicable disease as a result of aging, such as Benign Prostat
Hyperplasia (BPH). Gold standard to overcome BPH is Transuretral Resection of the
Prostat (TURP) operational procedure. TURP procedure can make changes of
electrolite profile which is end with complication if not be treated seriously. Because
of that, researcher wants to know how electrolite profile in patient with BPH post
TURP in RSUD Provinsi NTB is.

Research Method: This research is using analytic descriptive method with cross
sectional design research. By taking all of the sample from medical record during
2012-2017 at RSUD Provinsi NTB, researcher takes note all electrolit profile before
and after TURP procedure of patient with BPH. Then, electrolit profile data will be
analysed and evaluated in order to know if there is changes of electrolit profile from
that patient or not.

Results: Most of 75 BPH patients post TURP procedure are in age range 63-68 years
old (25,33%), then followed by age range 57-62 years old and 69-74 years old
(22,67%). Changes of natrium serum profile is decline 69,33%, increase 24,00%, and
stagnant only 6,67%. Otherwise, changes of kalium serum profile is decline 58,67%,
increase 34,67%, and stagnant only 6,67%.

Conclusion: Most of BPH cases happened in age range 63-68 years old and from 75
patients almost changes their natrium and kalium, even decline or increase electrolit
profile.

Key Word: BPH, TURP, Electrolit changes, natrium, kalium, age.

4
PENDAHULUAN

BPH (Benign Prostate Hyperplasia) merupakan pembesaran kelenjar prostat

yang progresif yang berefek pada uretra, sehingga dapat membatasi atau bahkan

dapat menyumbat aliran keluarnya urin1. Di Pakistan, 50% pasien BPH terjadi pada

pasien yang berusia lebih dari 60 tahun dan hamper setengahnya berada pada tahap

sedang hingga berat dengan rentang usia terbanyak, yaitu 61-65 tahun (29,30%)2 .

Sedangkan di Indonesia, menurut Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) tahun 2015,

70% pasien terjadi pada pria berusia lebih dari 60 tahun3. Penanganan yang

dilakukan jika uretra telah menyempit dengan derajat sedang atau bahkan hingga

obstruksi maka dapat ditangani dengan tindakan operasi, yaitu dengan Transurethral

Resection of the Prostate (TURP)2 .

Transurethral Resection of the Prostate (TURP) adalah tindakan operasi

dengan menginsisi beberapa bagian pada kelenjar prostat yang menekan bagian

uretra4. TURP dapat memperbaiki gejala BPH hingga 90% dan meningkatkan laju

pancaran urine 100% 5.Di Pakistan, dari 208 pasien rata-rata berusia 69,98 tahun

yang melakukan tindakan TURP dimana tindakan TURP ini dapat meningkatkan
2,6
morbiditas antara 18-26% dan dengan mortalitas 1% . Di Indonesia, berdasarkan

data sub bagian bedah Urologi RSUP DR. M.Djamil Padang tahun 2006-2011 yang

dilakukan tindakan TURP sebanyak 562 kasus dengan persentase pada rentang usia

50-64 tahun sebanyak 47% dan rentang usia 65-78 tahun sebanyak 53% 7. Tindakan

5
TURP tersebut bisa menyebabkan terganggunya kadar elektrolit yang dapat

mengakibatkan terjadinya komplikasi, seperti sindom TURP5.

Ketidakseimbangan elektrolit yang mungkin dapat terjadi pada pasien BPH

pasca TURP, yaitu perubahan penurunan atau peningkatan kadar natrium, kalium. Di

Pakistan, dari 150 pasien terdapat 57 pasien (38,00%) yang mengalami gangguan

elektrolit2. Dalam penelitian lain di Pakistan terjadi hiponatremia pada 23 pasien dari

170 pasien8. Di India, 89 pasien BPH yang menjalani operasi TURP pada bulan Juli

2008-Juli 2009 terdapat peningkatan kalium (hiperkalemia) yang signifikan, yaitu

sebanyak 5-11,21% dan penurunan natrium (hiponatremia) sebanyak 1,27-3,4%


9
,sedangkan di Gujarat, India terdapat peningkatan yang signifikan pada kalium 10.

Pemeriksaan elektrolit setelah tindakan operasi TURP sangat diperlukan karena

setelah operasi dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit yang jika tidak ditangani

segera akan terjadi sindrom TURP yang dapat mengakibatkan kematian pada pasien 6.

Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui bagaimana profil perubahan kadar

elektrolit pada pasien BPH pasca TURP di RSUD Provinsi NTB.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan penelitian dekriptif analitik

dengan desain penelitian cross sectional untuk mengetahui perubahan kadar

elektrolit pada pasien Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) pasca Transurethral

6
Resection of Prostate (TURP) selama tahun 2012-2017 di RSUD Provinsi NTB

dengan waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Mei 2018 sampai Juni 2018.

Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien BPH yang telah dilakukan tindakan

operasi TURP, sedangkan sampel dari penelitian ini adalah pasien BPH yang

dilakukan tindakan operasi TURP dengan kadar elektrolit (natrium dan kalium)

sebelum dan setelah operasi dan tercatat lengkap pada rekam medis.

Variabel bebas dari penelitian ini adalah usia pasien dan variable terikat dari

penelitian ini adalah kadar elektrolit. Definisi operasional dalam penelitan ini adalah

kadar natrium dengan nilai normal 135-145 mEq/L dan kadar kalium yaitu 3,5-5,1

mEq/L. Peneliti menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien yang

tercatat di RSUD Provinsi NTB. Analisis data dilakukan dengan menggunakan

metode analisis deskriptif. Data yang diperoleh akan disusun serta disajikan dalam

bentuk tabel dan dibandingkan data elektrolit sebelum dan setelah operasi TURP.

HASIL PENELITIAN

Data yang diambil dari rekam medis di RSUD Provinsi NTB mengenai profil kadar

elektrolit pasien BPH pada pasien setelah dilakukan tindakan operasi TURP dalam

rentang 5 tahun terakhir, yaitu terhitung mulai tanggal 1 Januari 2012 sampai dengan

31 Desember 2017 diperoleh data yang lengkap kadar elektrolit sebanyak 75 data

kadar elektrolit sebelum dan setelah operasi TURP.

Pada Tabel 5.1 menunjukkan bahwa pasien yang termuda berusia 51 tahun dan tertua

94 tahun. Distribusi usia pasien Benign Prostatic Hyperplasia setelah dilakukan

7
tindakan Transurethral Resection of Prostate dengan usia 51-56 tahun yaitu 9 pasien

(12,00%), usia 57-62 tahun yaitu 17 pasien (22,67%), usia 63-68 tahun yaitu 19

pasien (25,33%), usia 69-74 tahun yaitu 17 pasien (22,67%), usia 75-80 tahun yaitu

10 pasien (13,33%), dan usia lebih dari 80 tahun hanya terdapat 3 pasien (4,00%).

Tabel 5.1 Profil BPH pasca TURP di RSUD Provinsi NTB berdasarkan usia
Usia (tahun) Frekuensi Persentase (%)
51-56 9 12,00
57-62 17 22,67
63-68 19 25,33
69-74 17 22,67
75-80 10 13,33
>80 3 4,00

Pada Tabel 5.2 dari 75 pasien didapatkan rata-rata perubahan kadar natrium yaitu

-2,55, bisa dikatakan bahwa rata-rata pasien mengalami penurunan kadar natrium

2,55. Pasien tersebut telah dilakukan pengecekan kadar natrium baik sebelum operasi

dan setelah operasi, terjadi penurunan kadar natrium, yaitu 52 pasien (69,33%),

sedangkan terjadi kenaikan natrium pada 20 pasien (24,00%) dan pasien yang tidak

mengalami perubahan kadar natrium sebanyak 5 pasien (6,67%). Grafik 5.1 dapat

dilihat perubahan kadar natrium masing-masing pasien.

Tabel 5.2 Perubahan Kadar Natrium pada Pasien BPH pasca TURP

Perubahan Kadar Natrium Frekuensi Persentase (%)


Penurunan 52 69,33
Peningkatan 18 24,00
Tetap 5 6,67

8
Gambar 5.1 Perubahan Kadar Natrium tiap Pasien BPH Pasca TURP

Pada Tabel 5.3 dari 75 pasien didapatkan rata-rata perubahan kadar kalium

yaitu -0,32 , bisa dikatakan bahwa rata-rata pasien mengalami penurunan kadar

kalium 0,32. Pasien tersebut telah dilakukan pengecekan kadar kalium baik sebelum

operasi dan setelah operasi terjadi penurunan kadar kalium yaitu 44 pasien (58,67%),

sedangkan terjadi kenaikan kalium pada pasien setelah tindakan operasi sebanyak 26

pasien (34,67%), dan pasien yang tidak mengalami perubahan kadar kalium yaitu 5

pasien (6,67%).

Tabel 5.3 Perubahan Kadar Kalium pada Pasien BPH pasca TURP
Perubahan Kadar Kalium Frekuensi Persentase (%)
Penurunan 44 58,67
Peningkatan 26 34,67
Tetap 5 6,67

9
Gambar 5.2 Perubahan Kadar Kalium Tiap Pasien BPH Pasca TURP

Pada Tabel 5.4 terdapat 8 pasien Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) pasca

tindakan operasi Transurethral Resection of Prostate (TURP) di RSUD Provinsi

Nusa Tenggara Barat dari 1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2017 yang mengalami

perubahan elektrolit. Maka peneliti perlu menggali lebih jauh hal-hal terkait

perubahan kadar elektrolit pada 8 pasien tersebut, antara lain durasi operasi, usia, dan

volume cairan irigasi. Hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 5.4 Durasi operasi, usia, dan volume cairan irigasi pada pasien pasca operasi TURP.

10
Elektolit Durasi
Inisial Usia Natrium Kalium Vol. Volume Penyakit
No Operasi
Nama (tahun) Pre Post Pre Post Prostat Cairan Infus Penyerta
(menit)
Perdarahan
NaCl 500cc,
1. AI 94 137 119 5,2 3,8 25 75,17 100cc, CAD
RL 500cc
dan AF
NaCl 500cc,
2. BQ 65 134 134 5,3 6,7 110 18,86 CKD
RL 500cc
NaCl 500cc,
3. B 64 140 126 4,5 4,3 65 63 -
RL 1000cc
RL 1000cc,
4. H 77 134 126 2,7 2,4 45 78 Widahes -
500cc
Perdarahan
5. AJ 55 133 132 4,3 2,8 40 49 RL 1000cc
200cc
NaCl 500cc,
RL 500cc,
6. BT 71 147 135 5,8 5,8 65 - -
Widahes
500cc
RL 1000cc,
7. AA 58 141 128 5,2 3,8 60 149 Widahes -
500cc
NaCl 500cc,
RL 1000cc, Perdarahan
8. BO 79 130 119 4,4 3,6 157 40,9
Widahes 500cc
500cc

PEMBAHASAN PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitiandi Tabel 5.1, penulis mendapatkan data bahwa

didapatkan usia pasien yang mengalami Benign Prostatic Hyperplasia setelah

11
dilakukan tindakan Transurethral Resection of Prostate di RSUD NTB yang termuda

adalah 51 tahun dan yang tertua yaitu 94 tahun. Hal ini sesuai dengan kajian yang

menyatakan bahwa Benign Prostate Hyperplasia secara umum terjadi pada pria yang

berusia lebih dari 50 tahun1.

Data deskriptif yang penulis dapatkan mengenai usia pasien di atas 60 tahun

yaitu sebesar 88% sesuai dengan pernyataan Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI)

tahun 2015 bahwa 70% pasien yang mengalami BPH terjadi pada pria berusia lebih

dari 60 tahun dan akan meningkat menjadi 90% pada usia 80 tahun3.

Pada Tabel 5.2 didapatkan rata-rata perubahan kadar natrium pada pasien di

RSUD NTB yaitu -2,55, bisa dikatakan bahwa rata-rata pasien mengalami penurunan

kadar natrium 2,55. Dari 75 pasien BPH pasca tindakan operasi TURP yang telah

dilakukan pengecekan kadar natrium baik sebelum operasi dan setelah operasi terjadi

penurunan kadar natrium sebanyak 52 pasien (69,33%). Hal ini sesuai dengan

penelitian di Pakistan dan India. Di Pakistan, dari 170 pasien, 23 diantaranya

mengalami penurunan natrium8. Di India, 89 pasien BPH yang menjalani operasi

TURP pada bulan Juli 2008-Juli 2009 terdapat penurunan natrium sebanyak 1,27-

3,40% 9.

Penurunan kadar natrium dapat terjadi karena penyerapan cairan irigasi

dalam jumlah besar selama operasi TURP sehingga dapat terjadi hiponatremi pada

pasien14. Secara fisiologis, perubahan yang terjadi selama fase akut pada respon

stress terhadap pembedahan adalah peningkatan ADH dari hipofisis posterior yang

mengakibatkan retensi air. Peningkatan aktivitas eferen simpatis dapat pula terjadi

12
sehingga terjadi peningkatkan sekresi renin lalu meningkatkan aldosterone yang

mengakibatkan penyerapan air dan natrium lebih lanjut. Perubahan tersebut dapat

menyebabkan orang dewasa yang lebih tua lebih rentan terhadap retensi garam dan

air11.

Pada Tabel 5.3 didapatkan rata-rata perubahan kadar kalium pada pasien di

RSUD NTB yaitu -0,32, bisa dikatakan bahwa rata-rata pasien mengalami penurunan

kadar kalium 0,32. Dari 75 pasien BPH pasca tindakan operasi TURP yang telah

dilakukan pengecekan kadar kalium baik sebelum operasi dan setelah operasi terjadi

penurunan kadar kalium yaitu 44 pasien (58,67%). Hal ini tidak sesuai dengan hasil

dari 3 (tiga) penelitian berbeda di India yang justru menyatakan bahwa terdapat

peningkatan kadar kalium pada objek penelitian mereka9,10,12. Hanya sebagian kecil

pasien di RSUD NTB yang mengalami peningkatan kadar kalium sesuai tinjauan

ketiga studi tersebut, yaitu sebanyak 26 pasien (34,67%). Ketidaksesuaian ini

memiliki penyebab multifaktor.

Penyebab yang tepat dari perubahan kadar serum kalium tidak diketahui10.

Penurunan kadar serum kalium pada pasien di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat

tersebut masih dalam rentang nilai normal, namun terdapat beberapa pasien yang

mengalami penurunan. Terdapat pasien yang pada saat sebelum operasi sudah

mempunyai kadar kalium yang rendah sehingga setelah operasi pun kadar kalium

tidak jauh dari awal sebelum operasi, hal tersebut dikarenakan faktor usia pasien,

yaitu 77 tahun. Pada pasien dengan usia lebih tua memiliki pembuluh darah yang

lebih kaku sehingga memungkinkan untuk pembukaan saluran vena secara terus-

13
menerus lalu dapat terjadi penyerapan cairan dan gangguan elektrolit pada pasien 6.

Pasien dengan kadar kalium sebelum operasi normal, namun setelah operasi

mengalami penurunan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu berat

jaringan yang direseksi, durasi operasi, dan volume cairan irigasi, dan jenis cairan

irigasi yang tidak mengandung kalium6,10.

Peningkatan kadar kalium dapat terjadi secara sementara sebesar 15-25%

sebagai respon terhadap penyerapan 1,5% cairan irigasi glisin, dan mungkin terkait

dengan penyerapan intrasel dari zat terlarut irigan dan dapat terjadi penyerapan ke

dalam sirkulasi6,13. Hal lain yang menyebabkan peningkatan kadar kalium yaitu

adanya penurunan ekskresi ginjal yang terkait dengan perubahan hormon. Kadar

serum renin dan aldosterone dapat mengakibatkan penurunan sekresi kalium oleh

tubulus collectivus di ginjal dan dapat menyebabkan penurunan ekskresi kalium pada

orang tua14.

Menurut penelitian Patel (2014) dan Alter dan Aziz (2015), perubahan kadar

elektrolit setelah operasi TURP dipengaruhi oleh durasi operasi dan volume cairan

irigasi yang digunakan6,10. Hal tersebut sesuai dengan Tabel 5.4 dalam penelitian ini,

dimana terdapat 8 pasien yang mengalami perubahan elektrolit. Apabila terdapat

ketidaksesuaian antara angka perubahan kadar elektrolit pada beberapa pasien dalam

penelitian ini dengan data durasi operasi, volume cairan irigasi yang dilakukan

selama operasi maupun penyakit komorbiditas pada pasien, seperti penyakit gagal

ginjal kronik dan hipertensi, hal ini memiliki latar belakang multifactorial, yaitu

berat jaringan yang direseksi, usia, dan jenis cairan irigasi yang digunakan6,10.

14
Pada pasien dengan perubahan kadar elektrolit pasca operasi TURP, terdapat

penambahan data volume irigasi, perbedaan durasi operasi, dan penyakit komorbid

pada pasien. Dalam penelitian ini ditemukan pasien yang mengalami penurunan

kadar natrium yang berkaitan dengan durasi operasi dan volume cairan infus yang

diberikan. Hal tersebut sesuai dengan penelitian di Padang, dimana durasi operasi

dan jumlah cairan infus yang digunakan dapat menyebabkan penurunan serum

natrium7. Hal tersebut juga terjadi pada penelitian di Gujarat, dimana peningkatan

serum kalium berkaitan dengan durasi reseksi (reseksi >30 menit)10.

Dalam penelitian ini ditemukan pasien dengan peningkatan kadar kalium

(+1,4) setelah dilakukan operasi TURP, hal tersebut dikarenakan terdapat penyakit

yang menyertai pasien tersebut, yaitu gagal ginjal kronik (CKD). Hal tersebut

ditemukan pada sebuah penelitian di Kachipuram, India, dimana dari 350 pasien

BPH yang dilakukan operasi terdapat 20 pasien yang mempunyai riwayat gagal

ginjal yang menjalani operasi TURP15. Jika terdapat penyakit ginjal maka dapat

mengganggu kemampuan untuk mempertahankan natrium dan air, sehingga

menyebabkan terganggunya kemampuan untuk mensekresi dan meneksekresi

hydrogen dan kalium. Penyebab lain yang dapat terjadi yaitu hilangnya nefron akibat

iskemia yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal sehingga dapat

merusak kemampuan ginjal untuk mengontrol keseimbangan elektrolit11.

Dalam penelitian ini ditemukan pasien yang mengalami perdarahan yang

dapat mempengaruhi kadar elektrolit karena terdapat elektrolit dalam darah. Pasien

pertama mengalami penurunan kadar natrium (-18) paling signifikan terjadi pada

15
pasien dengan usia paling tua (94 tahun) dibandingkan sampel penelitian yang lain

dengan perdarahan 100cc dan penyakit penyerta paling berat, yaitu CAD (Coronary

Artery Disease) dan AF (Atrial Fibrilation). Pasien kedua mengalami penurunan

kadar kalium (-1,5) paling signifikan terjadi pada pasien dengan usia 55 tahun

dengan perdarahan sebanyak 200cc dan hanya mendapatkan RL saja sebagai cairan

irigasinya. Pada pasien lainnya ditemukan dengan perdarahan terbanyak, 500cc,

pasien ini mengalami perubahan kedua variable secara bersamaan, baik kadar

natrium (-11) dan kadar kalium (-1), dan juga pasien tersebut memiliki durasi operasi

terlama (157 menit) dan volume cairan infus terbanyak. Penyebab terjadinya

perdarahan biasanya disebabkan karena pasien mengkonsumsi obat pengencer darah,

seperti warfarin, aspirin, clopidogrel atau dipyridamole, yang biasanya dikonsumsi

untuk penderita penyakit kardiovaskular16. Dalam penelitian di Australia, dari 135

pasien, terjadi perdarahan pada 41 pasien17. Terdapat pula pasien yang mengalami

perubahan kedua variable secara bersamaan, baik kadar natrium (-13) dan kadar

kalium (-1,4) paling signifikan terjadi pada pasien dengan volume prostat paling

besar, yaitu 149 dibandingkan sampel penelitian lain.

KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang didapatkan dari rekam medis pada Benign Prostatic

Hyperplasia (BPH) setelah dilakukan operasi Transurethral Resection of Prostate

16
(TURP) di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat didapatkan usia pasien yang

mengalami Benign Prostatic Hyperplasia setelah dilakukan tindakan Transurethral

Resection of Prostate yang termuda adalah 51 tahun dan yang tertua yaitu 94 tahun.

Pasien terbanyak yaitu terjadi dengan rentang usia 63-68 tahun (25,33%) dan

jumlah terendah terjadi pada pasien yang berusia lebih dari 80 tahun (4%).

Perubahan kadar elektolit yang terjadi terbanyak adalah penurunan kadar natrium

(69,33%) dan kalium (58,67%).

DAFTAR PUSTAKA

1. Nuari, N.A., Widayati, D. Gangguan Pada Sistem Perkemihan dan

Penatalaksanaan Keperawatan. 2016. Tersedia di:

17
https://books.google.co.id/books?

id=EbDWDgAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=true
2. Altaf, Javed., dkk. Serum Electrolyte Distrubances in Benign Prostate

Hyperplasia after Transurethral Resection of the Prostate. [pdf]. 2016. Tersedia

di: http://dx.doi.org/10.4172/2161-0959.1000238
3. Ikatan Ahli Urologi Indonesia. Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia.

2015. Tersedia di: www.iaui.or.id/ast/file/bph.pdf


4. Prostat Cancer UK. Transurethral Resection of the Prostate. [pdf]. 2015.

Tersedia di: https://prostatecanceruk.org/media/758948/turp-fact-sheet.pdf


5. Mochtar, C.A., dkk. Panduan Penatalaksanaan Klinis Pembesaran Prostat Jinak

(Benign Prostatic Hyperplasia/BPH). Ikatan Ahli Urologi Indonesia. [pdf].

2015. Tersedia di: https://www.medbox.org/panduan-penatalaksanaan-klinis-

pembesaran-prostat-jinak-benign-prostatic-hyperplasiabph/download.pdf
6. Ather, H., Aziz, W. Frequency of Electrolyte Derangement after Transurethral

Resection of Prostate: Need for Postoperative Electrolyte Monitoring [pdf].

2015. Tersedia di: http://dx.doi.org/10.1155/2015/415735


7. Khomeini., Dody E., Erkardius. Hubungan Penurunan Kadar Natrium Terhadap

Gangguan Pola Tidur Pasca TURP (Transurethral Resection of the Prostate).

2013. Tersediadi: http://download.portalgaruda.org/article.php?

article=299941&val=7288&title=Hubungan%20Penurunan%20Kadar

%20Natrium%20Terhadap%20Gangguan%20Pola%20Tidur%20Pasca

%20TURP%20(Transurethral%20Resection%20of%20The%20Prostate)
8. Ashraf.H., dkk,. Postoperative complications with glycine and sterile distilled

wate after transurethral resection of prostate [pdf]. 2015 Tersedia di

https://pdfs.semanticscholar.org/a296/e3e8be202a2050d58aee051b7560ea17db4

4.pdf

18
9. Gupta.K., dkk.,Electrolyte changes: An indirect method to assess irrigation fluid

absorption complications during transurethral resection of prostate: A

prospective study. 2010. Tersedia di:

http://www.saudija.org/temp/SaudiJAnaesh43142-265771_072257.pdf
10. Patel. S.N, Patel. N.D. Serum Sodium and Serum Potassium Changes during

Transurethral Resection of Prostate Gland in Patients Under Subarachnoid

Block [pdf]. 2014. Tersedia di: http://njmr.in/uploads/4-4_322-325.pdf


11. Sharkawy, E.A.M., dkk. The Pathophysiology of Fluid and Electrolyte Balance

in the Older Aldult Surgical Patient. 2013. Tersedia di:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24308897
12. Tambey. R., dkk. A Comparative Study of ‘Sterile Water’ Versus ‘Glycine

(1.5%)’ As Irrigation Fluid in Transurethral Resection of Prostate. Tersedia di:

http://igmpublication.org/jmscr/v5-i5/40%20jmscr.pdf
13. Desai. A., dkk. Electrolyte Changesin Monopolar and Bipolar Transurethral

Resection of Prostate- A Prospective Randomized Study [pdf]. 2017. Tersedia

di: http://www.rjms.in/index.php/rjms/article/viewFile/118618/82618
14. Schlanger, Lynn. E., Bailey. J.L., Sands. J.M. Electrolytes in the Aging [pdf].

2010. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20610358


15. Ganesan, A.N. Prospective Study of Effects of Turp on Outcome, Morbidity and

Mortality in Patients with Non Dialysis Requiring Renal Insufficiency. 2015.

Tersedia di: http://www.iosrjournals.org/iosr-jdms/papers/Vol14-issue5/Version-

4/V01454105122.pdf
16. Queensland Government. Transurethral Prostatectomy and Open [pdf]. The

State of Queensland. 2011. Tersedia di:

https://www.health.qld.gov.au/__data/assets/pdf_file/0029/146927/urology_17.p

df

19
17. Kusljic, S., Aneja, J., Manias, E. Incidence of Complications in Men

Undergoing Transurethral Resection of the Prostate [pdf]. 2015. Tersedia di:

https://www.collegianjournal.com/article/S1322-7696(15)00054-2/pdf

20