You are on page 1of 3

Analisis 8 standar Pendididkan di PP 19/2005 dan PP 32/2013

Diposting oleh Biyan Revany on Kamis, 20 Juni 2013


Hasil Analisis Tentang PP 19/2005 dan PP 32/2013
Persamaan antara PP 19/2005 dan PP 32/2013 yaitu bahwa dari kedelapan standar Nasional
pendidikan itu yaitu dapat kita lihat dari kedelapan standar ada 4 standar yang tidak dirubah yaitu
 Standar tenaga pendidikan
 Standar Pembiayaaan
 Standar Pengelolaan ,dan
 Standar Sarana dan Prasarana
Bahwa ke4 standar di atas tidak ada yang dirubah sama seperti PP 19/2005
Dan perbedaan antara PP 19/2005 dan PP 32/2013 yaitu dapat kita lihat dari ke 4 standar
berikutnya yaitu
 Standar Isi
 Standar Proses
 Standar Lulusan, dan
 Standar Penilaain
Standar Nasional Pendidikan digunakan sebagai acuan Pengembangan kurikulum untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional,” bunyi Pasal 2 Ayat (1a) PP tersebut.
Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan Pengembangan Standar Isi, Standar
Proses, Standar Penilaian Pendidikan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar
Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, dan Standar Pembiayaan.
Standar Isi dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan
ditetapkan dengan Peraturan Menteri,” bunyi Pasal 5 Ayat (4). Pada PP terdahulu tidak ada kata-
kata BSNP.
Menyangkut Materi Pendidikan sebagai bagian dari Standar Isi dalam Standar Nasional
Pendidikan, PP ini menegaskan bahwa ruang lingkup materi dirumuskan berdasarkan kriteria: a.
Muatan wajib yang ditetapkan dalam ketentuan perundang-undangan; b. Konsep keilmuan; dan
c. Karakteristik satuan pendidikan dan program pendidikan.
Sementara Tingkat Kompetensi dirumuskan berdasarkan kriteria: a. Tingkat perkembangan
Peserta Didik; b. Kualifikasi Kompetensi Indonesia; dan c. Pengusaan Kompetensi yang
berjenjang.
PP 32/2013 secara tegas menghapus Ketentuan Pasal 6 sampai dengan Pasal 18 pada PP
No. 19 Tahun 2005 yang di antaranya berisi tentang:
a. Pengelompokan mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
(misalnya agama, kewarganeraan, pendidikan jasmani, dsb);
b. Pengaturan kurikulum untuk agama, ilmu pengetahuan dan tehnologi; c. Ketentuan
mengenai beban belajar;
d. Pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal; dan
e. Pengembangan kurikulum pada masing-masing satuan pendidikan.
Yang paling penting dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 dapat kita lihat dalam
standar penilaian hasil belajar. PP ini hanya menegaskan bahwa penilaian hasil belajar digunakan
untuk: a. Menilai pencapaian Kompetensi Peserta Didik; b. Bahan penyusunan laporan kemajuan
hasil belajar; dan c. Memperbaiki proses pembelajaran. “Ketentuan lebih lanjut mengenai
penilaian hasil belajar oleh pendidikan diatur dengan Peraturan Menteri,” bunyi Pasal 64 Ayat
(2e) PP No. 32/2013 ini.
Menurut PP 32/2013 ini, Pemerintah menugaskan BSNP untuk menyelanggarakan Ujian
Nasional yang diikuti Peserta Didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar
dan menengah, dan jalur nonformal kesetaraan.
“Ujian Nasional untuk satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar sebagaimana dimaksud,
dikecualikan untuk SD/MI/SDLB atau bentuk lain yang sederajat,” bunyi Pasal 67 Ayat (1a) PP
No. 32/2013 ini.
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 ini bahkan secara tegas menghapus
ketentuan Pasal 70 Ayat (1,2) PP No. 19/2005, yang didalamnya disebutkan mengenai materi
Ujian Nasional tingkat SD dan sederajat, yang sebelumnya mata pelajaran Bahasa Indonesia,
Matemika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Menurut Pasal 72 Ayat (1) PP ini, Peserta Didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada
pendidikan dasar dan menengah setelah: a. Menyelesaikan seluruh program Pembelajaran; b.
Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran; c. Lulus ujian
sekolah/madrasah; dan d. Lulus Ujian Nasional.