You are on page 1of 2

Bentuk: PUTUSAN (PUT)

Oleh: PENGADILAN PAJAK

Nomor: PUT.00567/PP/M.II/16/2003

Pemohon: PT HERO SUPERMARKET TBK

Jenis: PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

Masa: JANUARI S.D. DESEMBER 1999

Sengketa: KOREKSI DASAR PENGENAAN PAJAK PAJAK PERTAMBAHAN NILAI


ATAS USAHA RITEL

Menurut Terbanding:
Copyright © 1997 - 2019 PT Legal Centric Indonesia. All Rights Reserved.

Copyright © 1997 - 2019 PT Legal Centric Indonesia. All Rights Reserved.


Pajak Pertambahan Nilai yang disetor ke negara untuk usaha ritel menurut Surat
Edaran Nomor: SE-183/PJ.52/1998 tanggal 1 Januari 1998 adalah 2% dari
seluruh nilai penyerahan barang dagangan sedangkan menurut Pemohon Pajak
Pertambahan Nilai-nya adalah 2% dari seluruh penyerahan barang dagangan
tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai 10%, sehingga terdapat pajak kurang
dibayar menurut Terbanding,

Sesuai dengan Surat Edaran Nomor: SE-06/PJ.52/1995 ditegaskan bahwa Pajak


Pertambahan Nilai yang harus dibayarkan ke kas negara oleh PKP pedagang
eceran ditetapkan sebesar 2% dari seluruh nilai penyerahan barang dagangan
dan jumlah tersebut merupakan hasil perhitungan antara Pajak Keluaran dengan
pajak masukan, sehingga pajak masukan yang telah dibayar atas pembelian
Barang Kena Pajak/JKP yang berhubungan langsung dengan kegiatan
usahanya tidak dapat dikreditkan lagi, kecuali jika pedagang eceran memilih
menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar sesuai dengan
ketentuan umum perhitungan Pajak Pertambahan Nilai.

Pengertian penyerahan barang dagangan dimaksudkan meliputi penyerahan


Barang Kena Pajak, JKP, dan Non Jasa Kena Pajak.

Menurut Pemohon:

Sesuai surat Dirjen Pajak Nomor: S-384/PJ.52/1995 tanggal 23 Maret 1995 dan
Nomor: S-3622/PJ.62/1999 tanggal 20 Desember 1999 ditegaskan bahwa Pajak
Pertambahan Nilai yang wajib disetor oleh Pengusaha Kena Pajak pedagang
eceran adalah sebesar 2% dari seluruh penyerahan barang dagangan tidak
termasuk Pajak Pertambahan Nilai.

Dalam Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai Pasal angka 17 & 18


ditegaskan bahwa "Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual yaitu nilai
berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh
penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak termasuk pajak yang
dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan
dalam faktur pajak"

Dengan demikian maka untuk menghitung pajak yang terutang adalah 2% x


Dasar Pengenaan Pajak dikurangi PPN.

Copyright © 1997 - 2019 PT Legal Centric Indonesia. All Rights Reserved.


Pendapat Majelis:

Atas permasalahan tersebut di atas bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah


Nomor 50 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 8 Tahun
1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor
11 Tahun 1994, Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 642/KMK.04/1994 tanggal
29 Desember 1994 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 648/KMK.04/1994
tanggal 29 Desember 1994, dan Surat Edaran Nomor: SE-06/PJ.52/1995
tanggal 15 Pebruari 1995 sebagai petunjuk pengenaan Pajak Pertambahan Nilai
atas Pedagang Eceran sebagai berikut:

Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayarkan ke Kas Negara oleh PKP
Pedagang Eceran ditetapkan sebesar 2% dari seluruh nilai penyerahan barang
dagangan dan jumlah tersebut merupakan hasil perhitungan antara Pajak
Keluaran dengan Pajak Masukan, sehingga Pajak Masukan yang telah dibayar
atas pembelian Barang Kena Pajak/JKP yang berhubungan langsung dengan
Copyright © 1997 - 2019 PT Legal Centric Indonesia. All Rights Reserved.

Copyright © 1997 - 2019 PT Legal Centric Indonesia. All Rights Reserved.


kegiatan usahanya tidak dapat dikreditkan lagi, kecuali jika pedagang eceran
memilih menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar sesuai
dengan ketentuan umum perhitungan Pajak Pertambahan Nilai. Pengertian
penyerahan barang dagangan dimaksudkan meliputi penyerahan Barang Kena
Pajak, JKP, dan bukan Jasa Kena Pajak.

Pedagang Eceran yang memenuhi kriteria tersebut di atas tetap berhak


memungut PPN dengan tarif 10% dari penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau
Jasa Kena Pajak.

Berdasarkan hal tersebut di atas, Majelis berkeyakinan bahwa perhitungan


Dasar Pengenaan Pajak atas pedagang eceran adalah 2% dari seluruh
penyerahan barang dagangan termasuk Pajak Pertambahan Nilai, sehingga
untuk menolak permohonan banding Pemohon dan mempertahankan koreksi
Terbanding terdapat Dasar Pengenaan Pajak Pemohon.

------------------------

CATATAN

Kutipan: RESUME PUTUSAN PENGADILAN PAJAK SERI (IV)

Copyright © 1997 - 2019 PT Legal Centric Indonesia. All Rights Reserved.