You are on page 1of 5

Penatalaksanaan Penyakit berbasis lingkungan

A. Diare
1. Berikan Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga dengan
memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga
seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit
yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah.
Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang
hilang. Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk
mendapat pertolongan cairan melalui infus.

Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk diinfus.
Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kgbb dan selanjutnya diteruskan
dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.
Cara membuat dan memberikan oralit adalah pertama, cuci tangan dengan sabun cair lalu
bilas dengan air bersih, keringkan dengan handuk bersih. Kemudian sediakan satu gelas air
minum sekitar 200 cc lalu masukkan satu bungkus oralit yang dapat dibeli/diperoleh dari
Puskesmas kemudian aduk sampai larut dan langsung diberikan kepada penderita diare.

2. Berikan obat Zinc


Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat
menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini
meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan
dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama
kejadian diare.
Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan
diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta menurunkan
kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Penelitian di Indonesia menunjukkan
bahwa Zinc mempunyai efek protektif terhadap diare sebanyak 11 % dan menurut hasil pilot
study menunjukkan bahwa Zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67 %. Berdasarkan
bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare.
Dosis pemberian Zinc pada balita:
a. Umur < 6 bulan : ½ tablet ( 10 Mg ) per hari selama 10 hari
b. Umur > 6 bulan : 1 tablet ( 20 mg) per hari selama 10 hari.

Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.


Cara pemberian tablet zinc :
Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut
berikan pada anak diare.
3.Pemberian ASI / Makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita
terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat
badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering diberi ASI. Anak yang minum susu
formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi
yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan
diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan
ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan.

4. Pemberian antibiotika hanya atas indikasi


Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada balita
yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita diare dengan
darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera. Obat-obatan Anti diare juga tidak
boleh diberikan pada anak yang menderita diare karena terbukti tidak bermanfaat. Obat
anti muntah tidak dianjurkan kecuali muntah berat. Obat-obatan ini tidak mencegah
dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak, bahkan sebagian besar menimbulkan efek
samping yang berbahaya dan bisa berakibat fatal. Obat anti protozoa digunakan bila
terbukti diare disebabkan oleh parasit (Amoeba, Giardia) (Kepmenkes, 2011).

5. Pemberian Nasehat
Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasehat tentang :
1. Cara memberikan cairan dan obat di rumah
2. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila : diare lebih sering,
muntah berulang, sangat haus, makan/minum sedikit, timbul demam, tinja berdarah, tidak
membaik dalam 3 hari.

B. ISPA
1. Pneumonia Berat
- Kirim segera ke RS (rujuk)
- Beri Anti Biotik (AB) satu dosis (Cotrimoxazole)
- Bila ada wheezing obati (Bronchodilator)

2. Pneumonia
- Nasehati ibu untuk tindakan perawatan di rumah
- Beri AB selama 5 hari
- Anjurkan ibu untuk kontrol 2 hari atau lebih cepat bila keadaanmemburuk.
- Bila demam obati
- Bila ada wheezing obati
3. Bukan Pneumonia (Batuk Pilek Biasa)
- Bila batuk > 30 hari rujuk
- Obati penyakit lain bila ada
- Nasehati ibunya untuk perawatan di rumah
- Bila demam obati
- Bila ada wheezing obati

Dosis Anti Biotik Cotrimoxazole (80 mg Trimetoprin + 400 mg Sulfametaxazole)


< 2 bulan 1/8 tablet
2 bulan - < 6 bulan ¼ tablet
6 bulan - < 3 tahun ½ tablet
3 tahun – 5 tahun 1 tablet

Dosis Pamol (tablet 500 mg)


2 bulan - < 6 bulan 1/8 tablet (62,5 mg)
6 bulan - < 3 tahun ¼ tablet (125 mg)
3 tahun – 5 tahun ½ tablet (250 mg)

C. TB
Pengobatan Tuberkulosis pada Anak
1. Diagnosis tuberkulosis dengan pemeriksaan selengkap mungkin, skor ≥ 6 sebagaientry
point.
2. Berikan OAT dalam 2 bulan terapi, lalu lakukan evaluasi.
3. Jika ada perbaikan klinis, lanjutkan terapi. Jika tidak terdapat perbaikan klinis, lakukan
langkah 4.
4. Terapi tuberkulosis dilanjutkan sambil melakukan pelacakan kausatif (mencari
penyebab), jika fasilitas kesehatan memiliki keterbatasan dalam melacak penyebab
maka penderita dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lebih lengkap

Konseling dan Edukasi


1. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai seluk beluk penyakit dan
pentgingnya pengawasan dari salah satu anggota keluarga (terdekat) untuk ketaatan
minum obat pasien.
2. Melakukan kontrol/pemeriksaan secara teratur.
3. Pola hidup sehat.
D. Demam Tifoid
Obati dengan kloramfenikol (50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis per oral atau
intravena) selama 10-14 hari, namun lihat halaman 78 untuk pengobatan bagi bayi muda.
 Jika tidak dapat diberikan kloramfenikol, dipakai amoksisilin 100 mg/kgBB/hari
peroral atau ampisilin intravena selama 10 hari, atau kotrimoksazol 48 mg/kgBB/hari
(dibagi 2 dosis) peroral selama 10 hari.
 Bila klinis tidak ada perbaikan digunakan generasi ketiga sefalosporin seperti
seftriakson (80 mg/kg IM atau IV, sekali sehari, selama 5-7 hari) atau sefiksim oral
(20 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis selama 10 hari).

E. Chikungunya
Demam Chikungunya termasuk Self Limiting Disease atau penyakit yang sembuh dengan
sendirinya. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini. Pengobatan yang
diberikan hanyalah terapi simtomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya. Seperti, obat
penghilang rasa sakit atau demam seperti golongan paracetamol, sebaiknya dihindarkan
penggunaan obat sejenis asetosal. Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan
antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat.

Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi,
cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak
mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar.

Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk penanganan
penyakit. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat
juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa
mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi
kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.

F. DBD
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma
sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat perdarahan. Pasien DD
dapat berobat jalan sedangkan pasien DBD dirawat di ruang perawatan biasa, tetapi pada
kasus DBD dengan komplikasi diperlukan perawatan intensif. Untuk dapat merawat pasien
DBD dengan baik, diperlukan perawatan intensif. Untuk dapat merawat pasien DBD dengan
baik, diperlukan dokter dan perawat yang terampil, sarana laboratorium yang memadai,
cairan kristaloid dan koloid, serta bank darah yang senantiasa siap bila diperlukan. Diagnosis
dini dan memberikan nasehat untuk segera dirawat bila terdapat tanda syok, merupakan hal
yang penting untuk mengurangi angka kematian.
Di pihak lain, perjalanan penyakit DBD sulit diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk
keadaan umumnya tampak baik, dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak tertolong.
Kunci keberhasilan tata-laksana DBD / SSD terletak pada para dokter untuk dapat mengatasi
masa peralihan dari fase demam ke fase penurunan suhu (fase afebris / fase kritis, fase
syok) dengan baik. Jadi pada saat suhu turun , observasi / pemeriksaan harus lebih sering
(untuk dapat segera mengetahui adanya syok).