You are on page 1of 15

2.

1 Pengertian dan Karakteristik Umum Gangguan Kepribadian


Kaplan dan Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan
perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya,
kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan.
Sedangkan menurut Koswara (1991) dalam pengertian sehari-hari kepribadian adalah
bagaimana individu menampilkan dan menimbulkan kesan bagi individu lain.
Menurut Maramis (1999) kepribadian adalah keseluruhan pola pikiran, perasaan, dan
perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus menerus
terhadap hidupnya.
Gangguan kepribadian menurut Rusdi Malim (1998) yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman
Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional tak stabil
tipe implusif dan ambang, historic, anankastik, cemas (menghindar), dependen, khas lainnya
yang tidak tergolongkan.
Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di mana cara
berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.
Sedangkan gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari
sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang.
Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan
gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka dimasukkan sebagai
kelas gangguan kepribadian.
Orang yang mengalami kepribadian biasanya memiliki tingkah laku yang kompleks dan
berbeda-beda berupa :
 Ketergantungan yang berlebihan
 Ketakutan yang berlebihan dan intimitas
 Kesedihan yang mendalam
 Tingkah laku yang eksploitatif
 Kemarahan yang tidak dapat dikontrol
 Kalau masalah mereka tidak ditangani, kehidupan mereka akan dipenuhi ketidakpuasan
Gangguan kepribadian merupakan suatu gangguan berat pada karakter dan kecenderungan
perilaku pada individu. Gangguan tersebut melibatkan beberapa bidang kepribadian dan
berhubungan dengan kekacauan pribadi dan sosial. Gangguan itu dapat disebabkan oleh
faktor hereditas dan pengalaman hidup pada awal masa kanak-kanak.
Diagnosa terjadinya gangguan kepribadian pada seseorang yang di dasarkan pada bentuk
perilaku, mood, sosial interaksi, impulsif, dapat menjadi suatu hal yang kontroversial dan
merugikan individu bersangkutan, kebanyakan orang awam memberikan sebutan label atau
pelbagai stigma tertentu pada mereka. Akibatnya, individu tersebut semakin enggan untuk
berobat dan melakukan isolasi diri.
Kemunculan gangguan kepribadian berawal kemunculan distres, yang dilanjutkan pada
penekanan perasaan-perasaan tersebut dan berperilaku tertentu seperti orang mengalami
distres pada umumnya. Rendahnya fungsi interaksi sosial di lingkungan tempat tinggal dan
lingkungan kerja ikut memperburuk kondisi dan suasana emosi dengan cara mendramatisir,
menyimpan erat, mengulang atau mengingat kembali suasana hati (obsesif), dan antisosial.
Beberapa perilaku tersebut mengganggu individu dan aktivitas sehari-harinya, secara umum
individu yang mengalami gangguan kepribadian kesulitan untuk mempertahankan atau
menlanjuti hubungan dengan orang lain.
Hal ini disebabkan oleh permasalahan interpersonal yang kronis, atau kesulitan dalam
mengenal perasaan-perasaan (emosi) sendiri yang muncul dalam dirinya. Penderita
gangguan kepribadian mempunyai karakteristik perilaku yang kaku sulit menyesuaikan diri
sehingga orang lain seperti bersikap impulsif, lekas marah, banyak permintaan, ketakutan,
permusuhan, manipulatif, atau bahkan bertindak kasar. Problem ketergantungan pada
alkohol, gangguan mood, kecemasan dan gangguan makan, melakukan hal-hal yang
berbahaya terhadap diri sendiri, keinginan bunuh diri, gangguan seksual sering menjadi
bagian dari permasalahan gangguan kepribadian.
Karakteristik umum orang yang mengalami gangguan kepribadian :
Individu dengan gangguan kepribadian sarat dengan berbagai pengalaman konflik dan
ketidakstabilan dalam beberapa aspek dalam kehidupan mereka. Gejala secara umum
gangguan kepribadian berdasarkan kriteria dalam setiap kategori yang ada. Secara umum
gangguan ini klasifikasikan berdasarkan :
 Pengalaman dan perilaku individu yang menyimpang dari social expectation. Penyimpangan
pola tersebut pada satu atau lebih:
 cara berpikir (kognisi) termasuk perubahan persepsi dan interpretasi terhadap dirinya,
orang lain dan waktu
 afeksi (respon emosional terhadap terhadap diri sendiri, labil, intensitas dan cakupan)
 fungsi-fungsi interpersonal
 dan kontrol terhadap impuls
 Gangguan-gangguan tersebut bersifat menetap dalam diri pribadi individu dan berpengaruh
pada situasi sosial.
 Gangguan kepribadian yang terbentuk berhubungan erat dengan pembentukan distress
atau memburuknya hubungan sosial, permasalahan kerja atau fungsi-fungsi sosial penting
lainnya.
 Pola gangguan bersifat stabil dengan durasi lama dan gangguan tersebut dapat muncul dan
memuncak menjelang memasuki dewasa dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa
 Gangguan pola kepribadian tidak disebabkan oleh efek-efek psikologis yang muncul yang
disebabkan oleh kondisi medis seperti luka di kepala.

2.2 Faktor Penyebab Gangguan Kepribadian


 Faktor genetika
Salah satu buktinya berasal dari penelitian gangguan psikiatrik pada 15.000 pasangan
kembar di Amerika Serikat. Diantara kembar monozigotik, angka kesesuaian untuk
gangguan kepribadian adalah beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kembar dizigotik.
Selain itu menurut suatu penelitian, tentang penilaian multiple kepribadian dan
temperamen, minat okupasional dan waktu luang, dan sikap social, kembar
monozigotikyang dibesarkan terpisah adalah kira-kira sama dengan kembar monozigotik
yang dibesarkan bersama-sama.
 Faktor tempramental
Faktor temperamental yang diidentifikasi pada masa anak-anak mungkin berhubungan
dengan gangguan kepribadian pada masa dewasa. Contohnya, anak-anak yang secara
temperamental ketakutan mungkin mengalami kepribadian menghindar.
 Faktor biologis
Hormon. Orang yang menunjukkan sifat impulsive seringkali juga menunukkan peningkatan
kadar testosterone, 17-estradiol dan estrone.
Neurotransmitter. Penilaian sifat kepribadian dan system dopaminergik dan serotonergik,
menyatakaan suatu fungsi mengaktivasi kesadarandari neurotransmitter tersebut.
Meningkatkan kadaar serotonin dengan obat seretonergik tertentu seperti fluoxetine dapat
menghasilkan perubahan dramatik pada beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin
menurunkan depresi, impulsivitas.
Elektrofisiologi. Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram telah
ditemukaan pada beberaapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering pada tipe
antisocial dan ambang, dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat.
 Faktor psikoanalitik
Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat kepribadian berhubungan dengan fiksasi pada salah
satu stadium perkembangan psikoseksual. Fiksasi pada stadium anal, yaitu anakyang
berlebihan atau kurang pada pemuasan anal dapat menimbulkan sifat keras kepala, kikir
dan sangat teliti.
2.3 Jenis – Jenis Gangguan Kepribadian
Jenis – jenis gangguan kepribadian ini dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok/kategori,
yakni:
1. Kelompok aneh/eksentrik
Kelompok aneh / eksentrik terdiri dari tiga diagnosis – gangguan kepribadian paranoid,
skizoid, dan skizotipal. Simtom – sintom gangguan tersebut memiliki beberpa kesamaan
dengan sintom – simtom skizofrenia, terutama dengan sintom ringan dalam fase prodormal
dan residual.
 Gangguan kepribadian paranoid
gangguan kepribadian paranoid merupakan gangguan yang berbentuk kesalahan seseorang
dalam mengartikan perilaku orang lain sebagai suatu hal yang bertujuan menyerang atau
merendahkan dirinya. Gangguan biasa muncul pada masa dewasa awal yang mana
merupakan manifestasi dari rasa tidak percaya dan kecurigaan yang tidak tepat terhadap
orang lain sehingga menghasilkan kesalahpahaman atas tindakan orang lain sebagai sesuatu
yang akan merugikan dirinya.
Para penderita gangguan kepribadian paranoid cenderung tidak memiliki kemampuan untuk
menyatakan perasaan negatif yang mereka miliki terhadap orang lain, selain itu mereka
pada umumnya juga tidak kehilangan hubungan dengan dunia nyata, dengan kata lain
berada dalam kesadaran saat mengalami kecurigaan yang mereka alami walau secara
berlebihan. Penderita akan merasa sangat tidak nyaman untuk berada bersama orang lain,
walaupun di dalam lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang hangat dan ramah.
Dimana dan bersama siapa saja mereka akan memiliki perasaan ketakutan akan dikhianati
dan dimanfaatkan oleh orang lain.
Beberapa gejala yang ditunjukan dalam gangguan kepribadian paranoid antara lain adalah:
1. Kecurigaan yang sangat berlebihan.
2. Meyakini akan adanya motif-motif tersembunyi dari orang lain.
3. Merasa akan dimanfaatkan atau dikhianati oleh orang lain.
4. Ketidakmampuan dalam melakukan kerjasama dengan orang lain.
5. Isolasi sosial.
6. Gambaran yang buruk mengenai diri sendiri.
7. Sikap tidak terpengaruh.
8. Rasa permusuhan.
9. Secara terus menerus menanggung dendam yaitu dengan tidak memaafkan kerugian,
cedera atau kelalaian.
10. Merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain
dan dengan cepat bereaksi secara marah dan balas menyerang.
11. Enggan untuk menceritakan rahasia orang lain karena rasa takut yang tidak perlu bahwa
informasi akan digunakan secara jahat untuk melawan dirinya.
12. Kurang memiliki rasa humor.
Mereka yang memiliki gangguan ini menunjukan kebutuhan yang tinggi terhadap
mencukupi dirinya, terkesan kaku dan bahkan memberikan tuduhan kepada orang lain.
Dikarenakan perilaku menghindar mereka terhadap kedekatan dengan orang lain
menjadikan mereka terlihat sangat penuh perhitungan dalam bertindak dan juga berkesan
dingin. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kebanyakan gangguan ini ditemukan pada
pria dibandingkan pada perempuan.
Secara spesifik penyebab dari munculnya gangguan ini masih belum diketahui, namun
seringkali dalam suatu kasus muncul pada individu yang memiliki anggota keluarga dengan
gangguan skizofrenia, dengan kata lain faktor genetik masih mempengaruhi. Gangguan
kepribadian paranoid juga dapat disebabkan oleh pengalaman masa kecil yang buruk
ditambah dengan keadaan lingkungan yang dirasa mengancam. Pola asuh dari orang tua
yang cenderung tidak menumbuhkan rasa percaya antara anak dengan orang lain juga dapat
menjadi penyebab dari berkembangnya gangguan ini.
 Gangguan kepribadian schizoid
Pasien yang mengalami gangguan ini tidak menginginkan atau menikmati hubungan sosial
dan biasanya tidak memiliki teman akrab. Mereka tampak tumpul, datar, dan menyendiri
serta tidak mempunyai perasaan hangat serta tulus kepada orang lain.mereka jarang
memiliki emosi kuat, tidak tertarik pada hubungan seks, dan hanya mengalami sedikit
aktivitas yang menyenangkan (Torgersen, Kringlen, & Cramer,2001 dalam
Davidson,Neale,Kring, 2004).
Mereka cenderung mencari pekerjaan yang memerlukan sedikit kontak sosial. keterampilan
sosial mereka lemah dan mereka tidak menunjukkan perlunya perhatian atau penerimaan.
Mereka dianggap tidak punya selera humor dan jauh dan sering disebut sebagai
“penyendiri.
Gejala /ciri schizoid personality disorder
 Lemahnya kemampuan interpersonal
 Kesulitan mengeskpresikan kemarahan, bahkan ketika di provokasi
 “Penyendiri” mentalitas; menghindari situasi sosial
 Orang lain menganggap dia jauh, menyendiri dan tidak bisa terikat dengan orang
 Rendah gairah seksual
 Tidak responsif pada pujian atau kritik
1. Kelompok dramatik/ eratik
Kelompok dramatik merupakan kelompok / kategori pasien yang mengalami sintom –
sintom yang sangat bervariasi, mulai dari perilaku yang sangat variabel hingga harga diri
yang melambung, ekspresi emosional yang berlebihan, dan perilaku antisosial.
 Gangguan kepribadian ambang
Merupakan suatu gangguan kepribadian yang menyebabkan penderita tidak memiliki rasa
diri yang jelas dan konsisten serta tidak pernah memiliki kepastian dalam nilai – nilai,
loyalitas, dan pilihan karier mereka. Mereka tidak tahan berada dalam kesendirian, memiliki
rasa takut di abaikan, dan menuntut perhatian. Mudah mengalami perasaan depresi dan
perasaaan kosong yang kronis, mereka seringkali mencoba bunuh diri dan melakukan
tindakan memutilasi diri sendiri.(Davidson, Neale,Kring, 2004).
Ciri – ciri penderita gangguan kepribadian
 Berupaya keras untuk mencegah agar tidak di abaikan
 Ketidakstabilan dan intensitas ekstrem dalam hubungan interpersonal
 Rasa diri (sense of self) yang tidak stabil
 Perilaku impulsive
 Perilaku bunuh diri (berupa sinyal atau sungguh – sungguh mencoba)
 Kelabilan emosional yang ekstrem
 Perasaan kosong yang kronis
 Sangat sulit mengendalikan kemarahan
 Pikiran paranoid dan sintom – sintom disosiatif yang di picu oleh stres.
 Gangguan kepribadian histrionik
Gangguan histrionik membuat penderita menunjukkan emosi yang berlebihan, walaupun
demikian diperkirakan memiliki kedangkalan emosi dan berpusat pada diri sendiri, akan
tetapi mereka sangat mudah di penuhi.
Ciri – ciri penderita gangguan histrionik
 Kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian
 Perilaku tidak senonoh secara seksual dan tidak pantas
 Perubahan ekspresi emosi secara cepat
 Memanfaatkan penampilan fisik untuk menarik perhatian
 Berbicara tidak tepat
 Berlebihan
 Sangat mudah di sugesti
 Menyalah artikan hubungan
 Gangguan kepribadian narsistik
Orang – orang dengan gangguan narsistik memiliki pandangan berlebihan mengenai
keunikan dan kemampuan mereka. Mereka terfokus dengan berbagai fantasi keberhasilan
besar
Ciri – ciri penderitan narsistik
 Pandangan yang di besar – besarkan mengenai pentingnya diri sendiri
 Terfokus pada keberhasilan
 Kebutuhan ekstrem untuk di puja
 Perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan sesuatu
 Kecenderungan memanfaatkan orang lain
 Iri pada orang lain
 Gangguan kepribadian anti sosial dan psikopati
Banyak yang salah paham bahwa gangguan kepribadian antisosial mengacu pada orang yang
memiliki keterampilan sosial yang buruk. Sebaliknya, gangguan kepribadian antisosial
ditandai oleh kurangnya hati nurani. Orang dengan gangguan ini rentan terhadap perilaku
kriminal, percaya bahwa korban-korban mereka lemah dan pantas dimanfaatkan.
Antisocials cenderung suka berbohong dan mencuri. Sering kali, mereka tidak hati-hati
dengan uang dan mengambil tindakan tanpa berpikir tentang konsekuensi nya . Mereka
sering agresif dan jauh lebih peduli dengan kebutuhan mereka sendiri daripada
kebutuhanorang lain.
Gejala gangguan kepribadian anti sosial
 Mengabaikan untuk perasaan orang lain
 Impulsif dan tidak bertanggung jawab
 Kurangny rasa penyesalan karena merugiakn orang lain
 Berbohong, mencuri, perilaku kriminal lainnya
 Mengabaikan untuk keselamatan diri dan orang lain
Gangguan psikopati
Merupakan suatu gangguan kepribadian yang memiliki ciri utama kemiskinan emosi, baik
positif maupun negatif. Penderita gangguan ini tidak memiliki rasa malu bahkan perasaan
positif yang nampak hanyalah sebuah kepura – puraan. Mereka juga tidak mampu belajar
dari pengalamannya karena kadar kemasan yang rendah. Penampilan penderita menawan
dan memanipulasi orang lain untuk memperoleh keuntungan pribadi.
1. Kelompok pencemas/ketakutan
Gangguan kepribadian menghindar (Avoidant)
Gangguan kepribadian yang ditandai dengan kegelisahan sosial yang ekstrim. Orang dengan
gangguan ini sering merasa ”tidak cukup”, menghindari situasi sosial, dan mencari pekerjaan
dengan sedikit kontak denganorang lain. Avoidant takut ditolak dan khawatir jika mereka
memalukan diri mereka sendiri di depan orang lain. Mereka membesar-besarkan potensi
kesulitan pada situasi baru untuk membuat orang berpikir agar menghindari situasi itu.
Sering kali, mereka akan menciptakan dunia fantasi untuk pengganti yang asli. Tidak seperti
gangguan kepribadian skizofrenia, avoidant merindukan hubungan sosial, tetapi belum
merasa merekabisa mendapatkannya. Mereka sering mengalami depresi dan memiliki
kepercayaan diri yang rendah.

Gejala/ciri kepribadian avoidant :


 Keengganan dalam relasi sosial
 Terobsesi dengan tolakan atau kritikan dalam situasi sosial
 Takut dianggapa memalukan, sehingga menghindari kegiatan baru
 Miskin cita diri
 Nampak sibuk sendiri dan tidak ramah
 Menciptakan kehidupan fantasi rumit
Gangguan kepribadian dependent
Gangguan kepribadian ini ditandai dengan kebutuhan untuk dijaga. Orang dengan kelainan
ini cenderung bergantung pada orang dan merasa takut kehilangan mereka. Mereka
mungkin menjadi bunuh diri ketika berpisah dengan orang yang dicintai. Mereka cenderung
untuk membiarkan orang lain mengambil keputusan penting bagi mereka dan sering
melompat dari hubungan satuke hubungan yang lainnya. mereka sering bertahan dalam
suatu hubungan, walaupun sering dikasari atau disakiti. kepekaan berlebih terhadap
penolakan umum. Mereka sering merasa tak berdaya dan tertekan.
Gejala/ciri gangguan dependent :
 Kesulitan membuat keputusan
 Perasaan tidak berdaya saat sendirian
 Berfikir ingin bunuh diri
 Pasrah
 Merasa terpuruk jika di kritik
 Tak dapat memenuhi tuntutan hidup sehari – hari.
Gangguan kepribadian obsesif kompulsif
Nama gangguan kepribadian Obsesif-Kompulsif (OCDP) mirip dengan kecemasan obsesif-
kompulsif, namun keduanya sangat berbeda. Orang dengan gangguan kepribadian obsesif-
kompulsif terlalu fokus pada keteraturan dan kesempurnaan. Mereka harus melakukan
segalanya “benar” sering mengganggu produktivitas mereka. Mereka cenderung untuk
terjebak dalam halhal yang detil, namun kehilangan gambaran yang lebih besar. Mereka
menetapkan standar yang tinggi tidak masuk akal untuk diri mereka sendiri dan orang lain,
dan cenderung sangat kritis terhadap orang lain ketika mereka tidak hidup sampai saat ini
standar yang tinggi. Mereka menghindari bekerja dalam tim, percaya orang lain terlalu
ceroboh atau tidak kompeten. Mereka menghindari membuat keputusan karena mereka
takut membuat kesalahan dan jarang murah hati dengan waktu atau uang. Mereka sering
mengalami kesulitan mengekspresikan emosi.
Gejala /ciri gangguan kepribadian obsesif-kompulsif:
 mencari kesempurnaan dan disiplin yang berlebihan
 suka dengan ketertiban
 kaku
 Kurang murah hati
 terlalu fokus pada detail dan aturan
 suka bekerja keras untuk bekerja, kadang berlebihan
2.4 Terapi Gangguan Kepribadian
Beberapa penanganan (treatment) yang tersedia untuk gangguan kepribadian, termasuk:
 Psikoterapi
 Obat
 Rawat Inap
Keberhasilan pengobatan tergantung pada partisipasi aktif Anda dalam perawatan Anda.
2.4.1 Psikoterapi
Psikoterapi adalah cara utama untuk mengobati gangguan kepribadian. Psikoterapi adalah
istilah umum untuk proses mengobati gangguan kepribadian dengan berbicara tentang
kondisi Anda dan isu-isu terkait dengan penyedia kesehatan mental. Selama psikoterapi,
Anda belajar tentang kondisi Anda dan suasana hati, perasaan, pikiran dan perilaku anda.
Dengan menggunakan wawasan dan pengetahuan yang Anda dapatkan dalam psikoterapi,
Anda dapat mempelajari cara-cara sehat untuk mengelola gejala.
Jenis psikoterapi yang digunakan untuk mengobati gangguan kepribadian meliputi:
Terapi perilaku kognitif. Ini menggabungkan fitur dari terapi kognitif dan terapi perilaku
untuk membantu Anda mengidentifikasi keyakinan dan perilaku negatif yang tidak sehat
dan menggantinya dengan keyakinan dan perilaku sehat, yang positif.
Terapi perilaku dialektis. Ini adalah jenis terapi perilaku kognitif yang mengajarkan
keterampilan perilaku untuk membantu Anda mentolerir stres, mengatur emosi Anda dan
meningkatkan hubungan Anda dengan orang lain.
Psikoterapi Psikodinamik. Terapi ini berfokus pada peningkatan kesadaran Anda dari pikiran
bawah sadar dan perilaku, mengembangkan wawasan baru ke dalam motivasi Anda, dan
menyelesaikan konflik untuk hidup lebih bahagia.
Psychoeducation. Terapi ini mengajarkan Anda – dan kadang-kadang keluarga dan teman –
tentang penyakit Anda, termasuk perawatan, menguasai strategi dan kemampuan
memecahkan masalah.
Psikoterapi dapat diberikan dalam sesi individu, terapi kelompok atau dalam sesi yang
mencakup keluarga atau bahkan teman. Jenis psikoterapi yang tepat untuk Anda tergantung
pada situasi individu Anda.
2.4.2 Obat
Tidak ada obat khusus yang disetujui oleh Badan Administrasi Makanan dan Obat (FDA)
untuk mengobati gangguan kepribadian. Namun, beberapa jenis obat-obatan psikiatri dapat
membantu dengan gejala gangguan kepribadian yang beragam.
Obat Antidepressant. Antidepresan mungkin berguna jika Anda memiliki suasana hati,
amarah depresi, impulsif, mudah marah atau putus asa, yang mungkin berhubungan dengan
gangguan kepribadian.
Obat untuk menstabilkan suasana hati. Sebagaimana namanya, stabilisator suasana hati
dapat membantu bahkan keluar perubahan suasana hati atau mengurangi lekas marah,
impulsif dan agresi.
Obat Anti-kecemasan. Ini dapat membantu jika Anda memiliki kecemasan, agitasi atau
insomnia. Namun dalam beberapa kasus, obat anti kecemasan dapat meningkatkan perilaku
impulsif.
Obat Antipsikotik. Juga disebut neuroleptik, ini mungkin dapat membantu jika gejala
termasuk kehilangan sentuhan dengan kenyataan (psikosis) atau dalam beberapa kasus jika
Anda memiliki kecemasan atau masalah kemarahan.
2.4.3 Rawat inap dan program perawatan perumahan
Dalam beberapa kasus, gangguan kepribadian mungkin begitu parah sehingga Anda
memerlukan rawat inap kejiwaan. Rawat inap psikiatri umumnya direkomendasikan hanya
bila Anda tidak dapat merawat diri sendiri dengan benar atau ketika Anda sedang dalam
bahaya langsung merugikan diri sendiri atau orang lain. Pilihan rawat inap psikiatri termasuk
24-jam perawatan rawat inap, rawat inap sebagian atau hari, atau perawatan perumahan,
yang menawarkan tempat yang mendukung untuk hidup.
Berpartisipasi dalam perawatan Anda sendiri
Cobalah untuk menjadi peserta aktif dalam perawatan Anda. Bekerja sama, Anda dan dokter
atau terapis dapat memutuskan mana pilihan pengobatan yang terbaik untuk situasi Anda,
tergantung pada jenis gangguan kepribadian, gejala dan keparahan , preferensi pribadi
Anda, asuransi, keterjangkauan, efek samping pengobatan, dan faktor lainnya.
Dalam beberapa kasus, gangguan kepribadian mungkin begitu parah sehingga dokter,
kekasih atau wali mungkin perlu untuk membimbing perawatan Anda sampai Anda cukup
baik untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
PENYIMPANGAN SEKSUAL / SEXUAL DEVIATION

Pengertian Seksual Menyimpang


 Istilah penyimpangan seksual (sexual deviation) sering disebut juga dengan
abnormalitas seksual (sexual abnormality), ketidak wajaran seksual (sexual perversion), dan
kejahatan seksual (sexual harassment).
 Penyimpangan seksual (deviasi seksual) bisa didefinisikan sebagai dorongan dan
kepuasan seksual yang ditunjukan kepada obyek seksual secara tidak wajar.
 Penyimpangan seksual kadang disertai dengan ketidakwajaran seksual, yaitu perilaku
atau fantasi seksual yang diarahkan pada pencapaian orgasme lewat relasi diluar hubungan
kelamin heteroseksual, dengan jenis kelamin yang sama, atau dengan partner yang belum
dewasa, dan bertentangan dengan norma-norma tingkah laku seksual dalam masyarakat
yang bisa diterima secara umum. (Junaedi, 2010)
 Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk
mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan
oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. (Abdullah, 2008)
 Yang dimaksud penyimpangan seksual adalah pemenuhan nafsu biologis dengan
cara dan bentuk yang menyimpang dari syariat, fitrah dan akal sehat. (Farhan, 2002)
 Ketidakwajaran seksual mencakup perilaku-perilaku seksual atau fantasi-fantasi
seksual yang diarahkan pada pencapaian orgasme lewat relasi di luar hubungan kelamin
heteroseksual, dengan jenis kelamin yang sama, atau dengan partner yang belum dewasa,
dan bertentangan dengan norma-norma tingkah laku seksual dalam masyarakat yang bisa
diterima secara umum.

Faktor-faktor Penyebab:

a.. Masalah seksualitas remaja timbul karena faktor-faktor berikut:

1). Meningkatnya libido seksualitas


 Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido
seksualitas) remaja. Peningkatan hasyrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam
bentuk tingkah laku seksual tertentu.
2). Penundaan usia perkawinan
 Penyaluran itu tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia
perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan
yang menetapkan batas usia menikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk
pria), maupun karena norma sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan yang
makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental, dan lain-lain).
 Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama tetap berlaku dimana
seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan larangannya
berkembang lebih jauh kepada tingkah-tingkah laku yang lain seperti ciuman dan
masturbasi. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri akan terdapat kecenderungan
untuk melanggar saja larangan-larangan tersebut.
3). Tabu-larangan
 Ditinjau dari pandangan psikoanalisis, tabunya pembicaraan mengenai seks tentunya
disebabkan karena seks dianggap sebagai bersumber pada dorongan-dorongan naluri di
dalam “id”.
 Dorongan-dorongan naluri seksual ini bertentangan dengan dorongan “moral” yang
ada dalam “super ego”, sehingga harus ditekan, tidak boleh dimunculkan pada orang lain
dalam bentuk tingkah laku terbuka.
 Karena remaja (dan juga banyak orang dewasa) pada umumnya tidak mau mengakui
aktivitas seksualnya dan sulit diajak berdiskusi tentang seks, terutama sebelum ia
bersenggama untuk yang pertama kalinya.
 Tabu-tabu ini jadinya mempersulit komunikasi. Sulitnya komunikasi, khususnya
dengan orang tua, pada akhirnya akan menyebabkan perilaku seksual yang tidak
diharapkan.
4). Kurangnya informasi tentang seks
 Pada umumnya mereka ini memasuki usia remaja tanpa pengetahuan yang memadai
tentang seks dan selama hubungan pacaran berlangsung pengetahuan itu bukan saja tidak
bertambah, akan tetapi malah bertambah dengan informasi-informasi yang salah. Hal yang
terakhir ini disebabkan orang tua tabu membicarakan seks dengan anaknya dan hubungan
orang tua-anak sudah terlanjur jauh sehingga anak berpaling ke sumber-sumber lain yang
tidak akurat, khususnya teman.

5). Pergaulan yang makin bebas


 Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja, kiranya dengan mudah bisa
disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kota-kota besar. Di pihak lain, tidak
dapat diingkari adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita
dalam masyarakat sebagai akhibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga
kedudukan wanita makin sejajar dengan pria (Sarwono, 2002).

b. Hubungan seksual yang pertama dialami oleh remaja dipengarui oleh berbagai faktor
yaitu:

1. Waktu /saat mengalami pubertas. Saat itu mereka tidak pernah memahami
tentang apa yang akan dialaminya.
2. Kontrol sosial kurang tepat yaitu terlalu ketat atau terlalu longgar.
3. Frekuensi pertemuan dengan pacarnya. Mereka mempunyai kesempatan
untuk melakukan pertemuan yang makin sering tanpa kontrol yang baik sehingga
hubungan akan makin mendalam.
4. Hubungan antar mereka makin romantis.
5. Kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk mendidik anak-anak untuk
memasuki masa remaja dengan baik.
6. Kurangnya kontrol dari orang tua. Orang tua terlalu sibuk sehingga perhatian
terhadap anak kurang baik.
7. Status ekonomi. Mereka yang hidup dengan fasilitas berkecukupan akan
mudah melakukan pesiar ke tempat-tempat rawan yang memungkinkan adanya
kesempatan melakukan hubungan seksual. Sebaliknya yang ekonomin lemah tetapi
banyak kebutuhan/tuntunan, mereka mencari kesempatan untuk memanfaatkan
dorongan seksnya demi mendapatkan sesuatu.
8. Korban pelecehan seksual yang berhubungan dengan fasilitas antara lain
sering menggunakan kesempatan yang rawan misalnya pergi ke tempat-tempat sepi.
9. Tekanan dari teman sebaya. Kelompok sebaya kadang-kadang saling ngin
menunjukkan penampilan diri yang salah untuk menunjukkan kemantapannya, misal
mereka ingin menunjkkan bahwa mereka sudah mampu seorang perempuan untuk
melayani kepuasan seksnya.
10. Penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Peningkatan penggunaan
obat terlarang dan alkohol makin lama makin meningkat.
11. Mereka kehilangan kontrol sebab tidak tahu batas-batasnya mana yang boleh
dan mana tidak boleh.
12. Mereka merasa sudah saatnya untuk melakukan aktifitas seksual sebab
sudah merasa matang secara fisik.
13. Adanya keinginan untuk menunjukkan cinta pada pacarnya.
14. Penerimaan aktifitas seksual pacarnya.
15. Sekedar menunjukkan kegagahan dan kemampuan fisiknya.
16. Terjadi peningkatan rangsangan pada seksual akibat peningkatan kadar
hormon reproduksi/seksual (Soetjiningsih, 2007).

Macam-macam penyimpangan seksual


 Gangguan-gangguan pada tingkah laku seksual yang berlaku umum (tidak khusus
remaja), menurut Sarwono Sarlito W, 2002, terdiri dari 4 kelompok besar yang masing-
masing terdiri dari beberapa subkelompok yaitu sebagai berikut:
a). Gangguan identitas jenis
 Gambaran utama dari gangguan ini adalah ketidaksesuaian antara alat kelamin
dengan identitas jenis yang terdapat pada diri seseorang. Jadi seorang yang beralat kelamin
laki-laki merasa dirinya wanita, ataupun sebaliknya. Identitas jenis yang menyimpang ini
dinyatakan dalam perbuatan (cara berpakaian, mainan kegemarannya), ucapan maupun
objek seksualnya:
1. Transeksualisme
 Pada orang dewasa, gangguan identitas jenis ini dinamakan transeksualisme. Minat
seksual kaum transeksual ini biasanya adalah yang sejenis kelamin (homoseksual, walaupun
mereka tidak mau disebut sebagai homoseks), tetapi juga yang melaporkan pernah
mengalami hubungan heteroseksual dan beberapa di antara mereka dilaporkan aseksual
(tidak berminat pada seks).
2. Gangguan identitas jenis masa kanak-kanak
 Walaupun transeksualisme biasanya mulai timbul sejak masa kanak-kanak, akan
tetapi ada gangguan jenis yang hanya terjadi pada masa kanak-kanak saja.
3. Gangguan identitas jenis tidak khas
 Yaitu tidak sepenuhnya menunjukkan tanda-tanda transeksualisme, akan tetapi ada
perasaan-perasaan tertentu yang menolak struktur anatomi dirinya seperti merasa tidak
mempunyai vagina atau vagina yang akan tumbuh menjadi penis (pada wanita), atau
merasa tidak punya penis atau jijik pada penisnya sendiri (pada pria).
b). Parafilia
 Adalah gangguan seksual karena pada penderita seringkali menghayalkan perbuatan
seksual yang tidak lazim, sehingga khayalan tersebut menjadi kekuatan yang mendorong
penderita untuk mencoba dan melakukan aktivitas yang dikhayalkannya.
Dapat dilihat dari tiga kategori :

1. Dari cara penyaluran dorongan seksualnya:


 Masochisme : Mendapatkan kegairahan seksual melalui cara dihina, dipukul atau
penderitaan lainnya
 Sadisme : Mencapai kepuasan seksual dengan cara menimbulkan penderitaan
psikologik atau fisik (bisa berakhibat cidera ringan sampai kematian) pada pasangan
seksnya.
 Eksibitionisme : Mendapatkan kepuasan seks dengan memperlihatkan alat
kelaminnya kepada orang lain.
 Scoptophilia : Mendapatkan kepuasan seks dari melihat aktivitas seksual.
 Voyeurisme : Mendapatkan kepuasan seks dengan melihat orang telanjang.
 Transvestisme : Mendapatkan kepuasan seks dengan memakai pakaian dari lawan
jenisnya.
 Sodomi : Mendapatkan kepuasan seks dengan melakukan hubungan seksual melalui
anus
 Seksualoralisme : Mendapatkan kepuasan seks dari aplikasi mulut pada genitilia
partnernya

2. Dari orientasi atau sasaran seksual yang menyimpang


 Pedophilia : Seseorang dewasa mendapat kepuasan seks dari hubungan dengan
anak-anak.
 Bestiality : Mendapatkan kepuasan seks dari hubungan dengan binatang
 Zoophilia : Mendapatkan kepuasan dengan melihat aktivitas seksual dari binatang
 Necriphilia : Mendapatkan kepuasan seks dengan melihat mayat, coitus dengan
mayat.
 Pornography : Mendapatkan kepuasan seks dengan melihat gambar porno lebih
terpenuhi dibandingkan dengan hubungan seksual yang normal.
 Fetishisme : Pemenuhan dorongan seksual melalui pakaian dalam lawan jenis.
 g.Frottage : Mendapatkan kepuasan seks dengan meraba orang yang disenangi dan
biasanya orang tersebut tidak mengetahuinya.
 Incest : Hubungan seksual yang dilakukan antara dua orang yang masih satu darah.
 Mysophilia, coprophilia dan Urophilia : Senang pada kotoran, faeces dan urine.
 Masturbasi : Mendapatkan kepuasan seks dengan merangsang genitalnya sendiri.

3. Dilihat dari tingkat penyimpangan, keinginan, dan kekuatan dorongan seksual :


 Nymphomania : Seorang wanita yang mempunyai keinginan seks yang luar biasa
atau yang harus terpenuhi tanpa melihat akibatnya.
 Satriasis : Keinginan seksual yang luar biasa dari seorang lelaki.
 Promiscuity dan prostitusi : Mengadakan hubungan seksual dengan banyak orang.
 Perkosaan : Mendapatkan kepuasan seksual dengan cara paksa.

c). Disfungsi Psikoseksual


 Gambaran utama dari Disfungsi Psikoseksual adalah terdapat hambatan pada
perubahan psikofisiologik yang biasanya terjadi pada orang yang sedang bergairah seksual.
1. Hambatan selera seksual
 Sukar atau tidak bis timbul minat seksual sama sekali secara menetap dan meresap.
2. Hambatan gairah seksual:
 Pada laki-laki: gagal sebagian atau seluruhnya untuk mencapai atau
mempertahankan ereksi sampai akhir aktivitas seksual (impotensia).
 Pada wanita: gagal sebagai atau seluruhnya untuk mencapai atau mempertahankan
pelumasan dan pembengkakan vagina (yang merupakan respons gairah seksual wanita)
sehingga akhir dari aktivitas seksual (frigiditas).

3. Hambatan orgasme wanita


 Berulang-ulang atau menetap tidak terjadi orgasme pada wanita setelah terjadi
gairah seksual yang lazim selama aktivitas seksual.
4. Hambatan orgasme pria
 Berulang-ulang atau menetap tidak terjadi ejakulasi atau terlambat berejakulasi
setelah terjadi fase gairah seksual yang lazim selama aktivitas seksual.
5. Ejakulasi prematur
 Secara berulang-ulang dan menetap terjadi ejakulasi sebelum dikehendaki karena
tidak adanya pengendalian yang wajar terhadap ejakulasi selama aktivitas seksual.
6. Dispareunia fungsional
 Rasa nyeri yang berulang dan menetap pada alat kelamin sewaktu senggama, baik
pada pria maupun wanita.
7. Vagina fungsional
 Ketegangan otot vagina yang tidak terkendali sehingga mengalami senggama.

d). Ganguan seksual pada remaja


 Seringkali dijumpai gangguan seksual pada masa remaja seperti ejakulasi dini atau
impotensi, bisa juga dijumpai adanya hambatan selera seksual dan hambatan gairah
seksual. Libido seksual yang rendah dan kecemasan yang berkaitan dengan seks seperti
vaginismus.
 Namun sebagian dari gangguan tersebut belum bersifat permanen melainkan
bersifat situasional dan belum bisa dikategorikan sebagai kelainan. Hal ini disebabkan
kecemasan dan perasaan bersalah yang begitu kuat, sehingga bisa menghambat dorongan
seksual karena status yang belum membolehkan untuk melakukan hubungan seksual.

Akibat dari perilaku seksual menyimpang


 Akibat dari meningkatnya aktivitas seksual pada remaja yang tidak diimbangi dengan
alat kontrasepsi diantaranya adalah kehamilan remaja atau pranikah sehingga banyak
remaja yang melakukan tindakan aborsi (pengguguran kandungan) dengan cara meminum
ramuan atau jamu, memijat peranakannya atau mencoba mengeluarkan janin dengan cara
bantuan dukun atau meminum obat-obatan yang diberikan dokter atau bidan. Cara tersebut
bisa mengakhibatkan perdarahan, infeksi sehingga kematian si calon ibu. Sedangkan pada
janin mengalami kecacatan mental maupun fisikdalam masa pertumbuhannya (Direktorat
Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, 2001).
 Salah satu akibat yang ditimbulkan dari aktivitas seksual yang tidak sehat adalah
penyakit menular seksual (PMS). Penyakit ini disebut juga venereal, berasal dari kata venus,
yaitu Dewi Cinta dari Romawi kuno. Penularan penyakit ini biasanya terjadi karena seringnya
seseorang melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Bisa juga karena
melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sebelumyan telah terjangkit salah satu
penyakit ini. Penyakit seksual ini sangat berbahaya. Pengobatan untuk setiap jenis penyakit
berbeda-beda, beberapa diantaranya tidak dapat disembuhkan (Dianawati, 2006).
 Sebagai konsekuensi logis dari perilaku seks menyimpang adalah munculnya
berbagai penyakit kelamin (veneral diseases, VD), atau penyakit akibat hubungan seksual
(sexually transmitted diseases, STD). Berbagai penyakit kelamin yang kini dikenal di dunia
kedokteran adalah: sifilis, gonore, herpes simplex, limprogranuloma akuminata venerium,
granuloma inguinale, trikomonas, kondiloma akuminata, dan AIDS.
 Dari berbagai penyakit itu yang paling terkenal, paling berbahaya dan paling banyak
diderita oleh pelaku seks bebas (termasuk pelaku seks menyimpang seperti homoseks, seks
anal, dan sebagainya) adalah: sifilis, gonore, herpes progenitalis dan AIDS (Junaedi, 2010).
1). Gonorea
 Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Sebutan lain penyakit ini adalah
kencing nanah. Penyakit ini menyerang organ seks dan organ kemih. Selain itu, akan
menyerang selaput lendir mulut, mata, anus, dan beberapa organ tubuh lainnya. Bakteri
yang membawa penyakit ini. dinamakan Gonococcus.
2). Sifilis
 Sifilis dikenal juga dengan sebutan “Raja Singa”. Penyakit ini sangat berbahaya.
Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual atau penggunaan barang-barang dari
seseorang yang tertular (seperti baju, handuk, dan jarum suntik). Penyebab timbulnya
penyakit ini adalah adanya kuman Treponema pallidum.
3. Herpes
 Herpes termasuk jenis penyakit tua karena sudah ada sejak lama, ditularkan oleh
bangsa yunani, romawi, dan louis XV. Herpes termasuk jenis penyakit biasa, disebabkan oleh
virus harpes simpleks.
4). Klamidia
 Klamidia berasal dari kata chlamydia, sejenis organisme mikroskopik yang dapat
menyebabkan infeksi pada leher rahim, rahim, saluran indung telur, dan saluran kencing.
Gejala yang banyak dijumpai pada penderita penyakit ini adalah keluarnya cairan dari vagina
yang berwarna kuning , disertai rasa panas seperti terbakar ketika kencing.
5). Candida
 Penyakit ini biasa juga disebut sebagai infeksi ragi. Sebenarnya, dalam vagina
terdapat berjuta-juta ragi. Meskipun tidak akan menimbulkan masalah, karena ragi
berkembang terlalu pesat, dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan infeksi.
6). Chancroid
 Chancroid adalah sejenis bakteri yang menyerang kulit kelamin dan menyebabkan
luka kecil bernanah. Jika luka ini pecah, bakteri akan menjalar ke daerah pubik dan kelamin.
7). Granuloma inguinale
 Penyakit ini sama dengan chancroid, yaitu disebabkan oleh bakteri. Bagian yang
terserang biasanya permukaan kulit penis, bibir vagina, klitoris, dan anus, akan berubah
membentuk jaringan berisi cairan yang mengeluarkan bau tidak sedap.
8). Lymphogranuloma venereum
 Penyakit ini biasa disingkat LGV, disebabkan oleh virus dan dapat mempengaruhi
seluruh organ tubuh. Penyakit ini sangat berbahaya karena antibiotik tidak dapat
menanggulanginya.
9). AIDS
 AIDS adalah sebuah singkatan dari “Acquired Immuno Deficiency” Syndrome.
Artinya, suatu gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh seseorang.
10). HIV
 HIV adalah singkatan dari “Human Immunodeficiency Virus”, yaitu sejenis virus yang
menyebabkan AIDS.
11). ARC
 ARC merupakan singkatan dari “AIDS Related Complex”, menyebabkan timbulnya
pembekakan pada kalenjar di sekitar pangkal paha dan daerah lainnya.
12). Scabies
 Penyakit ini disebabkan oleh sejenis serangga yang disebut “mite”. Serangga
tersebut dapat masuk melalui daerah kelamin dan dapat berkembangbiak secara cepat.
13). PID
 Merupakan singkatan dari “Pelvis Inflammatory Disease”, yaitu suatu penyakit
infeksi sistem saluran reproduksi perempuan, seperti gonorea atau clamydia.
14). Trichomonas infection
 Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang menyerang vagina perempuan dan
menyebabkan terjadinya infeksi dengan mengeluarkan cairan busa disertai dengan rasa
gatal dan panas pada vagina tersebut.
15). Venereal warts
 Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang alat kelamin seseorang. Pada
laki-laki, virus ni menyerang bagian kepala penis. Pada perempuan, virus ini biasanya
menyerang bibir vagina dan daerah sekitar anus (perineum) (Dianawati, 2006).