You are on page 1of 30

Case Report Session

Myelitis Transversa

Oleh:
Fauzan Muhammad 1210313005

Pembimbing:
Prof. Dr. dr. Darwin Amir, Sp.S (K)
dr. Syarif Indra, Sp.S
dr. Restu Susanti, Sp.S M.Biomed

BAGIAN ILMU PENYAKIT SYARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
PADANG
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mielitis Tranversa (MT) merupakan penyakit inflamasi yang memiliki

patogenesis yang beragam yang terjadi pada medulla spinalis. MT merupakan

permasalah utama pada penyakit pada medula tipe non-compresive1

Insiden dari mielitis tranversa bervariasi dari 1-8 kasus per juta penduduk

setiap tahunnya. Insiden mielitis tranversa ini akan mengalami peningkatan

menjadi 24,6 kasus per juta penduduk setiap tahunnya pada orang yang sudah

menderita penyakit demielinisasi seperti multiple sklerosis.2

Mielitis tranversa merupakan penyakit saraf yang cukup jarang, namun

mielitis tranversa dapat menyebabkan kecacatan pada pasien. Pada pasien mielitis

traversa, sekitar 2 dari 3 pasien akan menyebabkan kecacatan sedang sampai

berat. Semakin muda usia penderita mielitis tranversa semakin buruk gejala yang

didapatan, dan semakin cepat ditatalaksana didapatkan pembatasan kecacatan

pada pasien.3,4

1.2 Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang definisi, anatomi, epidemiologi, etiologi,

patogenesis, diagnosis,penatalaksanaan, prognosis dari Mielitis Tranversa.

1
1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang

definisi, anatomi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, diagnosis, penatalaksanaan,

prognosis dari Mielitis Tranversa.

1.4 Metode Penulisan

Makalah ini disusun berdasarkan studi kepustakaan yang merujuk ke

beberapa literatur.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Mielitis (mielos+itis) merupakan proses peradangan yang terjadi pada

medula spinalis baik infeksi maupun non-infeksi. Mielitis Transversa merupakan

peradangan yang melintang pada beberapa segmen medula spinalis secara

longitudinal.5 Peradangan yang terjadi akan menyebabkan suatu kondisi

neurologis yang ditandai dengan kelainan fungsi motorik, proprioseptif dan rasa

getar akibat disfungsi traktus kortikospinal dan kolumna dorsalis, disertai dengan

kehilangan sensasi nyeri dan suhu kontralateral sebagai akibat dari disfungsi

traktus spinothalamikus.2

2.2 Anatomi

Medula spinalis merupakan bagian dari sistem saraf pusat yang dikelilingi

dan dilindungi oleh kolumna vertebralis (Gambar 1). Medula spinalis terletak

didalam canalis vertebralis yang flexible. Medula spinalis berawal dari foramen

magnum dan berakhir di vertebre lumbal I-II. Medulla spinalis terdiri dari 31

segmen yaitu : 8 segmen servical, 12 segmen thorakal, 5 segmen lumbal , 5

segmen sakral dan 1 segmen koksigeal. Saraf-saraf medulla spinalis terdiri dari

berkas serabut saraf motorik dan sensorik yang keluar dari medulla spinalis

sertinggi vertebra masing-masing.Saraf-saraf spinal dinamai dan diberi nomor

sesuai tempat keluar dikanalis vertebralis.Saraf spinalis C1-C7 keluar diatas

3
vertebranya.C8 keluar diantara vertebre servikal C7-T1. Serat-serat lain keluar

dibawah vertebra masing. 5

Gambar 1. Struktur Medulla5

Masing-masing segmen dari medula spinalis memiliki 4 radix ;1 pasang

radix anterior/ ventralis dan 1 pasang radix posterior/dorsalis. Radix anterior

mempunyai akson neuron motorik alfa berdiameter besar keserabut otot lurik dan

neuron motorik gamma yang memepersarafi serabut otot otonom.Sedangkan radix

posterior berisi serabut saraf afferent dari sel-sel saraf dalam ganglionnya. Radix

posterior memilki serabut saraf mulai dari struktur kulit sampai ke struktur

dalam.5

4
2.3 Epidemiologi

Angka insiden mielitis tranversa didunia diperkirakan 1-4 kasus per

100.000 penduduk setiap tahunnya. Sekitar 12,5% dari kasus myelitis tranversa

tersebut merupakan myelitis derajat berat. Mielitis tranversa dapat mengenai

semua umur dengan insidensi tertinggi pada kelompok usia 10-19 tahun dan 30-

39 tahun. Myelitis tranversa merupakan permasalahan utama untuk penyakit

mielopati tipe non-compresive.1,8

2.4 Etiologi2

 Demielinisasi oleh karena respon imun terhadap infeksi, post infeksi,

multiple sklerosis atau idiopathik (15-30% kasus)

 Autoantibodi terhadap aquaporin 4 ditemukan pada mielitis tranversa

sekunder akibat neuromielitis optik

 Sekitar 50% pasien memiliki riwayat infeksi saluran nafas atas

 Infeksi akibat virus biasanya disebabkan oleh virus Eptein-Barr dan

cytomegalovirus. Hepatitis B, varicella, enterovirus, rhinovirus,

mycoplasma, syphilis, measles, Lyme disease sitemukan dalam jumlah

sedikit.

Untuk beberapa mikroorganisme yang menyebabkan mielitis tranversa dapat

dilihat pada tabel 1.

5
Tabel 1. Mikroorganisme yang dapat menyebabkan mielitis tranversa9

Agen spesifik

Virus DNA Viruses RNA Virus


Flavivirus
Herpesviruses
- Dengue virus
- Herpes simplex virus-2* - Japanese ensefalitis virus
- St. Louis Ensefalitis Virus
- Varicella-zoster virus*
- Tick-borne ensefalitis virus
Cytomegalovirus* - West-nile virus
Orthomyxoviruses
- Human herpes viruses 6 and 7
- Influenza A virus
- Epstein-Barr virus36* Paramyxoviruses
- Measles virus
- Mumps virus
Picornaviruses
- Coxsackieviruses A and By
- Echoviruses
- Enterovirus-70 and -71y
- Hepatitis A, C37
- Poliovirus types 1, 2, and 3y

Bakteri - Abses medula spinalis akibat


penyebaran hematogen dari
infeksi sitemik
- Mycoplasma, Borrelia
burgdorferi (Lyme), Treponema
pallidum (syphilis)
- Mycobacterium tuberculosis
Jamur Actinomyces, Blastomyces
dermatitidis, Coccidioides,
Aspergillus
Parasit Neurocysticercosis, Schistosoma,
Gnathostoma, angiostrongylosis
(eosinophilic myelitis)

2.5 Patogenesis

Mielitis Tranversa terjadi karena adanya lesi segmental pada longitudinal

medula spinalis. Pada penelitian dilakukan otopsi dilakukan pada pasien

meninggal yang memenuhi kriteria diagnosis mielitis tranversa. Pada temuan

6
didapatkan infiltrasi monosit, limfosit dan aktifasi sel astroglia dan mikroglia di

segmen medula spinalis dan ruang perivaskuler (Gambar 2).10,11

Patogenesis mielitis tranversa dipercaya diakibatkan oleh aktivitas imun.

Dimana didapatkan pleocystosis dan peluruhan sawar darah otak. Diduga adanya

aktivasi abnormal pada sistem imun yang menyebabkan inflamasi dan kerusakan

pada medula spinalis. Antigen agen infeksius menstimulasi limfosit T sehingga

membentuk autoantibodi. Autoantibodi yang dibentuk limfosit T akan bereaksi

silang dengan sel tubuh. Sehingga terbentuklah komplek antigen-antibodi yang

mengaktifkan sistem komplemen untuk menyerang sel tubuh.10,11

Gambar 2. Gambaran histologi Mielitis Tranversa

7
2.6 Diagnosis

Mielitis transversa harus dibedakan dari mielopati akibat kompresi

medulla spinalis (keganasan atau metastase keganasan pada medulla spinalis,

ruptur diskus intervertebralis akut ), infeksi epidural dan polineuritis pasca infeki

akut ( sindroma guillain barre )5. Kriteria untuk menegakan diagnosis mielitis

tranversa dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Kriteria penegakan diagnosis mielitis tranversa9

Kriteria Inklusi Kriteria Ekslusi

- Disfungsi sensorik, motorik dan - Riwayat terpapar radiasi pada medula

autonom spinlasi dalam 10 tahun terakhir

- Gejala dan tanda yang bilateral - Ditemukan trombosis pada arteri

- Batas gangguan sensorik yang jelas spinalis anterior

- Inflamasi pada medula spinalis yang - Aliran darah yang abnormal yang

dibuktikan dengan pleocystosis atau disebabkan oleh fistula arteri-vena

peningkatan index IgG atau gadolinium - Ditemukan bukti serologis dan klinis

pada cairan serebrospinal penyakit gangguan jaringan ikat

- Jika tidak ditemukan criteria inflamasi (Behcet’s disease, Sjogren’s

pada saat onset penyakit, ulangi MRI syndrome, SLE, dll)


dan pungsi lumbal pada hari 2-7 dari - Ditemukan bukti klinis dan serologis
onset penyakit sifilis, lyme disease, HIV,
- Progresi penyakit yang meningkat HTLV-1, Mycoplasma, infeksi virus
antara 4 jam sampai 21 hari dari waktu lain (HSV- 1, HSV-2, VZV, EBV,
onset. CMV,HHV-6, enterovirus)

8
- MRI kepala yang sugestif Multiple

Sclerosis

- Riwayat munculan klinis neuritis optik

Pemeriksaan radiologis yang dapat menunjang diagnosis yaitu:2,5

1. Foto polos spinal dapat menggambarkan kondisi jaringan sekitar medula

spinalis. Foto polos berguna untuk membedakan apakah sebuah lesi

kompresi atau bukan.

2. MRI, baku standar untuk penegakan diagnosis kelainan pada medula

spinalis. MRI digunakan untuk membedakan mielitis tranversa dengan

mielopati yang disebabkan oleh penyebab lain.

Pada pemeriksaan laboratorium yang dilakukan yaitu analisa cairan

serebrospinal. Pada mielitis tranversa didapatkan pleocytosis, peningkatan IgG,

dan ditemukannya gedolinium2,5

2.7 Penatalaksanaan

Penanganan utama untuk mielitis tranversa adalah kortikosteroid dosis

tinggi. Terapi lain yang dapat juga diberikan kepada penderita mielitis tranversa

yaitu IVIG dan plasma exchange. Namun belum cukup bukti penggunaan

kortikosteroid, plasma exchange, atau IVIG untuk pengobatan mielitis tranversa.2

Pada fase akut penatalaksanaan yang dapat diberikan yaitu:2

- Kortikosteroid dosis tinggi (Metilprednisolone 1000mg/hari selama 3-5

hari)

9
- Terapi penyelamatan dengan plasma exchange mungkin dapat membantu

pada kasus yang tidak berespon terhadap kortikosteroid.

- Kombinasi terapi plasmaferesis dan immunosupresan

(cyclophosphamide)

- Pengendalian nyeri dengan naproxen, ibuprofen.

Pada fase kronis penatalaksanaan yang dapat diberikan yaitu:2

- Baclofen, tizanidine atau muscle relaxant untuk spasme otot

- Gabapentin untuk kontrol nyeri

- Low molecular weight heparin untuk profilaksis Deep Vein Thrombosis

pada pasien yang immobility.

2.8 Prognosis

Prognosis untuk pemulihan motorik pada mielitis tranversa adalah

cukup baik. Sepertiga pasien terjadi pemulihan motorik yang nyaris sepenuhnya,

sepertiga lain terjadi pemulihan sebagian dan sepertiga lagi terjadi kecacatan yang

permanen. Pada pasien pasien juga terjadi gejala retensi urin, gangguan buang air

besar dan prestesia dengan gejala minimal sampai berat. Pasien biasanya

membutuhkan perawatan rumah untuk membantu gejala tersebut. Semakin muda

usia penderita mielitis tranversa semakin buruk gejala yang didapatan, dan

semakin cepat ditatalaksana didapatkan kecacatan yang minimal pada pasien.2,3,4

10
BAB III

LAPORAN KASUS

Seorang pasien laki-laki berusia 53 tahun datang ke IGD RSUP Dr. M.

Djamil Padang dengan identitas pasien :

Nama : Tn. B

Usia : 53 tahun

Alamat : Tabing banda gadang

ANAMNESIS

Telah dilakukan alloanamnesa

Keluhan Utama :

Lumpuh pada kedua tungkai

Riwayat Penyakit Sekarang :

- Lumpuh pada tungkai kanan sejak ± 1 minggu sebelum masuk rumah

sakit. Terjadi berangsur-angsur. Awalnya kelemahan dirasakan pada

tungkai kiri sehingga pasien menyeret kakinya untuk berjalan. Tiga hari

kemudian kelemahan juga terjadi pada tungkai kanan sehingga pasien

tidak dapat berjalan sama sekali dan hanya terbaring di tempat tidur.

- Keluhan disertai tidak bisa BAK dan BAB sejak 2 hari ini, sehingga

perut bagian bawah pasien membengkak.

- Gangguan rasa raba pada kedua kaki

11
- Batuk kering sejak ± 2 minggu yang lalu, tidak berdahak. Batuk diikuti

demam tinggi, tidak menggigil dan berkeringat banyak. Pasien berobat ke

RS swasta, demam nya hilang dan batuk berkurang

Riwayat Penyakit Dahulu :

- Riwayat trauma pada punggung (-) Nyeri punggung (-)

- Riwayat makan obat TB (-)

- Riwayat tumor dan keganasan (-)

- Riwayat lemah anggota gerak kanan dan tidak bisa bicara sejak ± 8 tahun, tidak

dirawat.

- Riwayat penyakit paru, jantung, hipertensi dan diabetes disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada keluarga yang menderita keluhan yang sama

Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan, dan Kebiasaan :

Pasien seorang supir. Merokok ± 10-20 bungkus sehari

PEMERIKSAAN FISIK UMUM

Keadaan Umum : Sakit sedang Nadi : 82 kali/menit

Kesadaran : CM Afasia (E4M6Vafasia) Nafas : 22 kali/menit

Tekanan Darah :130/ 80 mmHg Suhu : 36,70C

STATUS INTERNUS

Rambut : Hitam dan tidak mudah dicabut

12
Kulit dan kuku : Turgor kulit baik, tidak sianosis

Kelenjer Getah Bening: Tidak ditemukan pembesaran KGB

Kepala : Normocephali

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Hidung : Tidak ditemukan kelainan

Telinga : Tidak ditemukan kelainan

Leher : JVP 5-2 cmH2O

Paru

Inspeksi : Simetris, kiri = kanan

Palpasi : Fremitus kiri = kanan

Perkusi : Sonor

Auskultasi : Vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Jantung

Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : Iktus kordis teraba 1 jari medial linea mid clavicula

sinistra RIC V

Perkusi : Batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 normal, murmur (-), Gallop (-)

Abdomen

Inspeksi : Distensi tidak ada

Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak teraba

Perkusi : Timpani

Auskultasi : Bising usus(+) normal

13
STATUS NEUROLOGIS

1. Kesadaran : CM afasia (E4M6Vafasia)

2. Tanda rangsangan meningeal

Kaku kuduk : (-)

Brudzinsky 1 : (-)

Brudzinsky 2 : (-)

Kernig Sign : (-)

3. Tanda peningkatan tekanan intra kranial

Muntah proyektil : tidak ada

Sakit kepala progresif : tidak ada

Pupil : Isokor, bulat,diameter 3 mm/ 3 mm

4. Nervus Kranialis

N. I (Olfaktorius)

Penciuman Kanan Kiri

Subjektif + +

Objektif (dengan bahan) Tidak diperiksa Tidak diperiksa

N. II (Optikus)

Penglihatan Kanan Kiri

Tajam penglihatan + +

14
Lapangan pandang + +

Melihat warna + +

Funduskopi Fundus Hipertensi Fundus Hipertensi

N. III (Okulomotorius)

Kanan Kiri

Bola mata Bulat Bulat

Ptosis - -

Gerakan bulbus Bebas ke segala arah Bebas ke segala arah

Strabismus - -

Nistagmus - -

Ekso/endotalmus - -

Pupil 3mm 3mm

 Bentuk Bulat Bulat

 Refleks cahaya + +

 Refleks akomodasi + +

 Refleks konvergensi + +

N. IV (Trochlearis)

Kanan Kiri

Gerakan mata ke bawah + +

Sikap bulbus Ortho Ortho

15
Diplopia - -

N. VI (Abdusen)

Kanan Kiri

Gerakan mata ke lateral + +

Sikap bulbus Ortho Ortho

Diplopia - -

N. V (Trigeminus)

Kanan Kiri

Motorik

 Membuka mulut + +

 Menggerakkan rahang + +

 Menggigit + +

 Mengunyah + +

Sensorik

 Divisi oftalmika

- Refleks kornea + +

- Sensibilitas + +

16
 Divisi maksila

- Refleks masetter + +

- Sensibilitas + +

 Divisi mandibular

- Sensibilitas + +

N. VII (Fasialis)

Kanan Kiri

Raut wajah Simetris Simetris

Sekresi air mata + +

Fissura palpebral + +

Menggerakkan dahi + +

Menutup mata + +

Mencibir/ bersiul + +

Memperlihatkan gigi + +

Sensasi lidah 2/3 depan + +

Hiperakusis - -

N. VIII (Vestibularis)

Kanan Kiri

17
Suara berbisik + +

Detik arloji + +

Rinne tes Tidak diperiksa Tidak diperiksa

Weber tes Tidak diperiksa

Schwabach tes Tidak diperiksa

- Memanjang

- Memendek

Nistagmus - -

- Pendular

- Vertikal

- Siklikal

Pengaruh posisi kepala - -

N. IX (Glossopharyngeus)

Kanan Kiri

Sensasi lidah 1/3 belakang + +

Refleks muntah (Gag Rx) + +

N. X (Vagus)

Kanan Kiri

18
Arkus faring Simetris

Uvula Simetris

Menelan (+)

Suara Normal

Nadi Teratur

N. XI (Asesorius)

Kanan Kiri

Menoleh ke kanan + +

Menoleh ke kiri + +

Mengangkat bahu kanan + +

Mengangkat bahu kiri + +

N. XII (Hipoglosus)

Kanan Kiri

Kedudukan lidah dalam Normal Normal

Kedudukan lidah dijulurkan Normal Normal

Tremor (-)

Fasikulasi (-)

Atropi (-)

5. P

emeriksaan koordinasi

19
Cara berjalan Tidak dapat Disartria -

dilakukan Disgrafia -

Romberg tes Tidak dapat Supinasi- Baik

dilakukan pronasi

Ataksia - Tes jari hidung Baik

Rebound - Tes hidung jari Baik

phenomen

Test tumit lutut Tidak dapat

dilakukan

6. Pemeriksaan fungsi motorik

a. Badan Respirasi Teratur

Duduk -

b. Berdiri dan Gerakan spontan -

berjalan Tremor -

Atetosis -

Mioklonik -

Khorea -
c. Ekstremitas Superior Inferior

Kanan Kiri Kanan Kiri

Gerakan Aktif Aktif Hipoaktif Hipoaktif

Kekuatan 444 555 000 000

Tropi Eutropi Eutropi Eutropi Eutropi

Tonus Eutonus Eutonus Atonus Atonus

7. Pemeriksaan sensibilitas (tidak dapat dinilai)

Ekstrimitas inferior Kanan Kiri

Sensibiltas taktil

Sensibilitas nyeri

Sensiblitas termis

Stereognosis

Pengenalan 2 titik

Pengenalan rabaan

Rasa posisi

Rasa getar

Rasa tekan

1
8. Sistem refleks

a. Fisiologis Kanan Kiri Kanan Kiri

Kornea + + Biseps ++ ++

Berbangkis Triseps ++ ++

Laring KPR + +

Masetter + + APR + +

Dinding perut + + Bulbokvernosus - -

Atas + + Cremaster - -

Bawah + + Sfingter - -

b.Patologis Kanan Kiri Kanan Kiri

Lengan Tungkai

Hoffmann- - - Babinski - -

Tromner

Chaddocks - -

Oppenheim - -

Gordon - -

Schaeffer - -

Klonus paha - -

Klonus kaki - -

Tungkai - -

2
9. Fungsi Otonom

Miksi : Terpasang kateter

Defekasi : (-)

Sekresi keringat : Baik

10. Fungsi Luhur

Kesadaran Tanda Demensia

Reaksi bicara + Refleks glabela -

reaksi intelek + Refleks Snout -

Reaksi emosi + Refleks Menghisap -

Refleks Memegang -

Refleks palmomental -

PEMERIKSAAN LABORATORIUM :

Hb : 12,5 gr/dl Gula darah Sewaktu : 139 mg/dl

Leukosit : 26.300/mm3 Ureum : 354 mg/dl

Ht : 37 % Kreatinin : 9,3 mg/dl

Trombosit : 266.000/mm3 Na/K/Cl :112/4,9/83

DIAGNOSA

Diagnosa Klinik : Paraplegia inferior tipe UMN fase syok spinal

Diagnosa Topik : Lesi medulla spinalis setinggi thorakal X

Diagnosa Etiologi : Mielitis tranversa / infeksi

Diagnosa Sekunder : Stroke iskemik (old case) + afasia

3
DIAGNOSA BANDING

Acute on Chronic Kidney Disease

PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Darah rutin ( Hb, Ht, Leukosit, Trombosit, Hitung jenis, LED)

 Rontgen thorakal AP Lat

 Ct scan vertebrae

 MRI

TERAPI

Umum :

 IVFD NaCl 3% 12 jam/kolf

 Diet MB 1800 kkal

Khusus :

 Metilprednisolon 4 x 250 mg ( IV ) tappering off

 Ranitidin 2 x 50 mg ( IV )

PROGNOSIS

Quo ad vitam : Dubia ad bonam

Quo ad sananctionam : Dubia ad bonam

Quo ad fungsionam : Dubia ad malam

4
BAB 4

DISKUSI

Telah dirawat seorang pasien laki – laki umur 53 tahun dengan diagnosis

klinik paraplegia inferior tipe UMN fase syok spinal dengan topik hemilesi

medula spinalis setinggi segmen vetebra thorakal X dengan etiologi mielitis

tranversa/ infeksi.

Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien merasakan lumpuh pada tungkai

kanan sejak ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Terjadi berangsur-angsur.

Awalnya kelemahan dirasakan pada tungkai kiri sehingga pasien menyeret

kakinya untuk berjalan. Tiga hari kemudian kelemahan juga terjadi pada tungkai

kanan sehingga pasien tidak dapat berjalan sama sekali dan hanya terbaring di

tempat tidur. Pasien juga mengeluhkan tidak bisa BAK dan BAB sejak 2 hari ini,

gangguan rasa raba pada kedua kaki.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan kelemahan otot dengan kekuatan nol

pada ekstimitas inferior. Gangguan sensibilitas tidak dapat dinilai karena pasien

afasia. Gangguan fungsi otonom berupa gangguan sekresi keringat mulai dari

segmen dermatom thorakal ke X.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik kemungkinan pada pasien

ini menderita lesi di medulla spinalis berupa mielitis tranversa. Secara klinis

pasien mederita paraplegia inferior tipe Upper Motor Neuron dalam fase syok

spinal dengan dasar : kekuatan ekstrimitas inferior dextra bernilai nol, bersifat

flaksid, reflex fisiologis negatif dan tidak ditemukannya reflek patologis.

5
Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah medikamentosa

metilprednisolon untuk mengurangi inflamasi yang terjadi medula spinalis. Juga

diberikan pada pasien antagonis H2 (ranitidin) untuk mencegah ulkus pada

lambung oleh karen penggunaan anti inflamasi.

6
BAB 5

KESIMPULAN

Mielitis tranversa merupakan suatu kelaianan neurologis yang cukup

jarang terjadi di masyarakat. Kejadian mielitis tranversa diperkirakan sekitar 1-8

juta kasus per 1 juta penduduk. Mielitis tranversa dapat mengenai semua umur

dengan insidensi tertinggi pada kelompok usia 10-19 tahun dan 30-39 tahun.

Myelitis tranversa merupakan permasalahan utama untuk penyakit mielopati tipe

non-compresive.

Mielitis Transversa merupakan peradangan yang melintang pada beberapa

segmen medula spinalis secara longitudinal.5 Peradangan yang terjadi akan

menyebabkan suatu kondisi neurologis yang ditandai dengan kelainan fungsi

motorik, proprioseptif dan rasa getar akibat disfungsi traktus kortikospinal dan

kolumna dorsalis, disertai dengan kehilangan sensasi nyeri dan suhu kontralateral

sebagai akibat dari disfungsi traktus spinothalamikus.2

Diagnosis pada umumnya meliputi anamnesa yang baik dan

pemeriksaan neurologik untuk mengetahui perkiraan lokasi lesi, etiologi penyebab

sehingga dapat ditatalaksana dengan benar. Pemeriksaan penunjang seperti

imaging dengan foto polos vetebre dan MRI sangat membantu dalam

mendiagnosis dan menentukan ketinggian lesi.

Penatalaksanaan yang utama yaitu pemberian obat kortikosteroid dosis

tinggi (1000mg/ hari). Pada pasien yang tidak berespon dengan kortikosteroid

dapat juga diberikan plasma exchange atau plasmaferesis dengan immunosupresif

7
(cyclophosphamide). Terapi simptomatik juga diberikan kepada pasien seperti

antipiretik dan anti nyeri.

8
DAFTAR PUSTAKA

1. Pandit Lenkha. 2009. Tranverse Spectrum Disorder. Neurology India:


vol. 57,issue 2
2. Sharlisa Waller Hutson, Ferry F.F. 2016. Tranverse Myelitis. Elsevier:
1248-1248.e1
3. West Timothy W. 2013. Transverse Myelitis — a Review of the Presentation,
Diagnosis, and Initial Management.
4. Pidcock F.S, Krishnan C, Crawford T.O, Salorio C.F, Trovato M, Kerr D.A. 2007.
Acute transverse myelitis in childhood. Center-based analysis of 47
cases. Neurology vol. 68 no. 18 1474-1480
5. Harsono. 2005. Buku Ajar Neurologi klinis. Perhimpunan Dokter Saraf
Indonesia dan Gadjah Mada University Press
6. Snell Richard S. 2012. Clinical Anatomy by Regions 9th ed. Wolters
Kluwer
7. Scott T.F, Frohman E.M, De Seze J, Gronseth G.S, Weinshenker B.G.
2011. Evidence-based guideline: Clinical evaluation and treatment of
transverse myelitis: Report of the Therapeutics and Technology
Assessment Subcommittee of the American Academy of Neurology.
Neurology 77; 2128-2134
8. Kerr D. 2001. Current Therapy in Neurologic Disease: Tranverse
Myelitis 6thed.
9. Jacob A, Weinshenker B.G. 2008. An Approach to the Diagnosis of
Acute Transverse Myelitis. Semin Liver Dis: 28(1);105-120
10. Krishnan C, Kaplin A.I, Deshpande D.M, Pardo C.A, Kerr D.A. 2004.
Transverse Myelitis: Pathogenesis, Diagnosis And Treatment. Pubmed:
9(1); 1483-99
11. Awad A, Stüve O. 2011. Idiopathic Transverse Myelitis and
Neuromyelitis Optica: Clinical Profiles, Pathophysiology and
Therapeutic Choices. Current Neuropharmacology: 9, 417-428