You are on page 1of 34

Asuhan Keperawatan pada Anak dengan masalah

Systemic Lupus Eritmatosus (SLE)


Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak
II

Disusun oleh:

KELOMPOK 7

Isra Rizantiva 1711312033

Nia Sandra 1711312027

Olga Citra Novera 1711311015

Febi Sagitaria 1611315001

Intan Olivia Risca 1711312039

Ilda Yunanda 1711312011

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Anak I.
Penyelesaian tugas ini tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa
ada kerja sama kami dalam kelompok yang telah membantu kami
menyelesaikan tugas ini dengan baik . Oleh karena itu, kami
menyampaikan ucapan terima kasih kepada dosen pembimbing dan teman
mahasiswa-mahasiswa yang telah mendukung penyelesaian tugas
kelompok ini.

Penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan mengenai


“Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Masalah SLE”. Sehingga kita
saat berkomunikasi, kita dapat meminimalisir kesalah pahaman yang akan
terjadi yang dikarenakan bahasa yang kita gunakan. Dan penulis berharap
bagi pembaca untuk dapat memberikan pandangan dan wawasan agar
makalah ini menjadi lebih sempurna.

Padang, 12 Februari 2019

Kelompok

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB I ........................................................................................................... 1

PENDAHULUAN ........................................................................................ 1

1. Latar Belakang .......................................................................................... 1

2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1

3. Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB II ........................................................................................................... 3

PEMBAHASAN ........................................................................................... 3

1. KONSEP DASAR..................................................................................... 3

A. Defenisi ............................................................................................. 3

B. Etiologi .............................................................................................. 3

C. Patofisiologi ...................................................................................... 5

D. Manifestasi Klinik ............................................................................. 6

E. Pemeriksaan Diagnostik .................................................................... 8

F. Penatalaksanaan Medis ..................................................................... 8

G. Komplikasi ...................................................................................... 10

H. Prognosis ......................................................................................... 11

A. Pengkajian ....................................................................................... 12

B. Diagnosis Keperawatan ................................................................... 15

C. Perencanaan..................................................................................... 15

D. Evaluasi ........................................................................................... 19

ii
BAB III ....................................................................................................... 29

PENUTUP ................................................................................................... 29

1. Kesimpulan ............................................................................................. 29

2. Saran ........................................................................................................ 29

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Mungkin kita jarang mendengar nama penyakit ini, Systemic


Lupus Erythematosus (SLE) atau Lupus. Nama penyakit ini kurang
populer dibandingkan HIV/AIDS ataupun demam berdarah Dengue,
namun akhir-akhir ini jumlah penderita penyakit ini mengalami
peningkatan. Penderitanya, yang disebut odipus atau odapus (Orang
dengan Lupus) mengalami gangguan yang cukup mempengaruhi
kualitas hidup bahkan dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Selain
itu, penyakit lupus ini memiliki gejala yang tidak spesifik, sehingga para
penderitanya sering berganti-ganti dokter karena diagnosa yang berbeda-
beda. Oleh sebab itu, penyakit ini sering disebut penyakit seribu wajah,
karena gejala yang ditunjukkannya menyerupai gejala penyakit lain.

Penyakit Systemic Lupus Erythethematosus adalah suatu penyakit


yang menyerang seluruh organ tubuh mulai dari ujung kaki hingga ujung
rambut, yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh manusia, dan
lebih dikenal penyakit sebagai autoimun. Penyakit ini sebenarnya telah
dikenal sejak jaman Yunani kuno oleh Hipokrates, namun pengobatan
yang tepat belum diketahui. Penyakit ini tidak menular, tetapi didapatkan
hampir seluruh penderita Systemic Lupus Erythematosus adalah
perempuan (80%-89%).

Mengingat sedikit sekali informasi yang beredar di masyarakat


mengenai tanda-tanda gejala, penyebab dan pengobatan penyakit ini,
maka sedikit pula masyarakat yang mengenal penyakit ini. Ternyata para
ahli medis dan peneliti pun masih menganggap penyakit ini misterius
karena hanya sedikit diketahui sifat-sifatnya saat menyerang tubuh.

2. Rumusan Masalah
a. Apa itu Systemic lupus Eritmatosus?

1
b. Apa Asuhan Keperawatan dengan masalah SLE?
c. Bagaimana aplikasi transkultural nursing dan pengobatan
alternatifnya?

3. Tujuan
a. Dapat mengetahui pengertian serta patofisiologi dari SLE
b. Dapat mengetahui Asuhan Keperawatan dengan masalah SLE
c. Dapat mengetahui apa saja aplikasi transkultural nursing dan
pengobatan alternatifnya

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. KONSEP DASAR
A. Defenisi

SLE merupakan suatu penyakit auotoimun kronik yang melibatkan


berbagai organ dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari yang ringan
sampai berat. (kapita selekta 2000). Sistemik lupus erytematosus adalah
penyakit otoimun kronis yang di tandai dengan berbagai antibodi yang
membentuk kompleks imun dan menimbulkan inflamasi pada berbagai
organ.

SLE (Sistemisc lupus erythematosus) adalah penyakit radang


multisistem yang sebabnya belum diketahui, dengan perjalanan penyakit
yang mungkin akut dan fulminan atau kronik remisi dan eksaserbasi
disertai oleh terdapatnya berbagai macam autoantibodi dalam tubuh.
Penyakit lupus merupakan penyakit sistem daya tahan, atau penyakit auto
imun, dimana tubuh pasien lupus membentuk antibodi yang salah arah,
merusak organ tubuh sendiri, seperti ginjal, hati, sendi, sel darah merah,
leukosit, atau trombosit. Antibodi seharusnya ditujukan untuk melawan
bakteri ataupun virus yang masuk ke dalam tubuh.( Smeltzer. Suzanne C.
2002). SLE (Sistemisc lupus erythematosus)adalah suatu penyakit komplek
yang bersifat genetis dan di duga lebih dari satu gen menentukan seseorang
akan terkena atau tidak (Sharon moore, 2008)

Penyakit sistemik ini secara khas mengenai banyak sistem organ


dan disertai dengan berbagai fenomena imun. Riwayat alamiahnya tidak
dapat diramalkan; sering progresif, berakhir dengan kematian jika tidak
diobati, tetapi dapat mereda secara spontan atau tetap membara selama
bertahun-tahun. Lupus eritematosus sistemik (SLE) pada anak umumnya
lebih akut dan lebih berat daripada SLE pada orang dewasa.

B. Etiologi

3
Penyebab pasti dari SLE ini belum diketahui, tetapi banyak pengamatan
mendukung hipotesis bahwa SLE merupakan penyakit dari pengaturan
imun yang berubah. Berikut beberapa factor penyebab nya
 Faktor Genetik
Mempunyai peranan yang sangat penting dalam kerentanan dan
ekspresi penyakit SLE. Sekitar 10% – 20% pasien SLE mempunyai
kerabat dekat (first degree relative) yang menderita SLE. Angka
kejadian SLE pada saudara kembar identik (24-69%) lebih tinggi
daripada saudara kembar non-identik (2-9%). Penelitian terakhir
menunjukkan bahwa banyak gen yang berperan antara lain haplotip
MHC terutama HLA-DR2 dan HLA-DR3, komponen komplemen
yang berperan pada fase awal reaksi pengikatan komplemen yaitu
C1q, C1r, C1s, C3, C4, dan C2, serta gen-gen yang mengkode
reseptor sel T, imunoglobulin, dan sitokin (Albar, 2003) . Faktor
genetik mempunyai peranan yang sangat penting dalam kerentanan
dan ekspresi penyakit SLE. Sekitar 10% – 20% pasien SLE
mempunyai kerabat dekat (first degree relative) yang menderita
SLE. Angka kejadian SLE pada saudara kembar identik (24-69%)
lebih tinggi daripada saudara kembarn non-identik (2-9%).
 Faktor Lingkungan
 Infeksi
Risiko timbulnya SLE meningkat pada mereka yang lain pernah
sakit herpes zoster (shingles). Herpes zoster adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus varisela, virus yang juga menjadi penyebab
dari penyakit cacar air (variscela atau chiken pox).
 Antibiotik

Hormon Kurang lebih dari 90% dari penderita SLE adalah


wanita. Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mungkin
menjadi latar belakang timbulnya lupus.

 Sinar Matahari

4
Adalah salah satu kondisi yang dapat memperburuk gejala Lupus.
Diduga oleh para dokter bahwa sinar matahari memiliki banyak
ekstrogen sehingga mempermudah terjadinya reaksi autoimmun.
Tetapi bukan berarti bahwa penderita hanya bisa keluar pada malam
hari. Pasien Lupus bisa saja keluar rumah sebelum pukul 09.00 atau
sesudah pukul 16.00 WIB dan disarankan agar memakai krim
pelindung dari sengatan matahari. Teriknya sinar matahari di negara
tropis seperti Indonesia, merupakan faktor pencetus kekambuhan
bagi para pasien yang peka terhadap sinar matahari dapat
menimbulkan bercak-bercak kemerahan di bagian muka.kepekaan
terhadap sinar matahari (photosensitivity) sebagai reaksi kulit yang
tidak normal terhadap sinar matahari.

C. Patofisiologi

Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi


kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibodi yang
berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh
kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal (
sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya
terjadi selama usia reproduktif) dan lingkungan (cahaya
matahari, luka bakar termal). Obat-obat tertentu seperti
hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan
beberapa preparat antikonvulsan di samping makanan seperti
kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE- akibat
senyawa kimia atau obat-obatan. Pada SLE, peningkatan
produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-
supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan
kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan
menstimulasi antigen yang selanjutnya serangsang antibodi
tambahan dan siklus tersebut berulang kembali.

5
Lesi dapat terjadi pada banyak tempat dan melibatkan
banyak sistem organ. Massanya yang khas amorf, dan bahan ekstra-
seluler yang tercat ungu ditemukan dengan pengecatan
hematoksilin. Benda-benda hematoksilin ini mungkin
menggambarkan sel nukleus yang mengalami degenerasi yang
serupa dengan inklusi sel LE. Fibrinoid, bahan asluler yang sangat
aosinofilik, ditemukan pada jaringan ikat longgar atau pada dinding
pembuluh darah dan jaringan yang terkena. Radang pembuluh darah
(vaskulitis) sering dijumpai. Pada limpa, fibrosis perivaskuler
menghasilkan lesi “cincin bawang” yang khas mengelilingi
pembuluh darah yang terkena. Granuloma kadang-kadang terdapat
pada jaringan yang terkena. Pengendapan kompleks imun,
imunoglobin, dan komplemen dapat dilihat pada jaringan, termasuk
ginjal, kulit dan pembuluh darah.

D. Manifestasi Klinik

SLE dapat mulai secara tersembunyi atau secara akut. Kadang-


kadang gejalanya telah timbul bertahun-tahun mendahului diagnosis SLE.
Gejala awal yang paling sering pada anak adalah demam, malaise, artritis
atau artralgia, dan ruam. Kadang-kadang pada kebanyakan anak yang
terkena terjadi demam; mungkin sebentar-sebentar dan terus-menerus.
Malaise, anoreksia, kehilangan berat badan dan kelemahan sering dijumpai.

Kadang-kadang, pada kebanyakan anak yang terkena, timbul


manifestasi kulit. Ruam “kupu-kupu”, terdiri atas tambalan eritematosa
yang bersisik atau kebiru-biruan, melibatkan daerah pipi dan biasanya
meluas di atas jembatan hidung. Ruam dapat fotosensitif dan dapat meluas
ke muka, kulit kepala, leher, dada, da tungkai; ruam ini dapat terjadi
Bullosa dan mengalami infeksi sekunder. Lupus discoid murni (hanya
manisfestas ikulit ) tidak lazim pada anak. Erupsi kulit lainnya adalah
mauklaeri tematosa atau lesi pungtata pada telapak tangan, telapak kaki,
ujung jari ekstremitas atau batang tubuh ;ruam vasculitis ; livedo retikularis

6
(tambalananyamanhitam); dan perubahan bantalan kuku. Lesi-lesiulseratif
yang macular dan sering kali tidak nyeri dapat terjadi pada palatum dan
membrane mukosa mulut danh idung. Purpura, kadang-kadang disertai
dengan trombosi topenia, dapat tampak pada daerah yang menggantung
atau yang terkena trauma. Kadang-kadangdisertai dengan eritemanodosum
dan eritemamultiforme. Alopesia yang diakibatkan peradangan di sekitar
folikel rambut dapat berupa tambahan atau menyeluruh, dan rambut dapat
menjadi kasar, kering dan rapuh.

Artalgia dan kekakuan sendi biasa dijumpai dansering terjadi tanpa


perubahan objektif. Kadang-kadang sendi yang terkena panas dan bengkak,
rasa nyerinya mungkin lebih berat dari pada yang diharapkan untuk tanda-
tanda klinis tersebut, tetapi perubahan bentuk karena atritis jarang.
Nekrosis aseptic dapat mengenai tulang pada sejumlah tempat, terutama
pada dapat mengenai tulang pada sejumlah tempat, terutama pada kapus
femoris. Tenosisnovitis dan myositis dapat juga terjadi, sepertihalnya
fenomena Raynaud. Poliserositis (pleuritic, pericarditis dan peritonitis)
adalah khas dan menimbulkan nyeri dada, precordial, atau perut.
Hepatosplenomegaly dan limfa denopati generalisata sering dijumpai.
Keterlibatan jantung dapat dimanifestasikan dengan berbagai macam
vising, bisinggesek, kardiomegali, perubahan elektro kardiografi, atau gagal
jantung kongestif, dengan miokarditis, pericarditis, atau endocarditis
verukosa (endocarditis Libman Sacks, dikenali melalu iekokardiagram atau
pada pemeriksaan otopsi). Infarkmiokardium dapat menyebabkan kematian
pada pnderita yang relative muda, termasuk anak-anak. Infiltrate parenkim
paru dapat terjadi; tetapi infeksi harus dikesampingkan, sebelum pneumonia
dapat dianggap berasaldari SLE. Pneumonia akut, peradarahan paru-paru,
atau fibrosis paru yang kronis dapat terjadi. Keterlibatan system saraf dapat
menyebabkan perubahan kepribadian, kejang-kejang, kecelakaan serebro
vaskuler, khoreadan neuritisperifer. Manifestasi gastrointestinal meliputi
nyeri perut, muntah, diare, melena dan bahkan infarkususakibat vasculitis.
Perubahan okuler dapat meliputi episkleritis, iritis, atau perubahan vaskuler
retina dengan perdarahan atau eksudat (benda-bendasitoid). Kejadian-

7
kejadian trombotik yang mengenai arteria tau vena dapat terjadi, terutama
pada penderita dengan antibodi anti fosfolipid. Keterlibatan ginjal secra
klinis sering dijumpai pada anak-anak.

E. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah bisa menunjukkan adanya antibodi antinuklear, yang


terdapat pada hampir semua penderita lupus. Tetapi antibodi ini juga bisa
ditemukan pada penyakit lain. Karena itu jika menemukan antibodi
antinuklear, harus dilakukan juga pemeriksaan untuk antibodi terhadap
DNA rantai ganda. Kadar yang tinggi dari kedua antibodi ini hampir
spesifik untuk lupus, tapi tidak semua penderita lupus memiliki antibodi ini.
Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar komplemen (protein yang
berperan dalam sistem kekebalan) dan untuk menemukan antibody lainnya,
mungkin perlu dilakukan untuk memperkirakan aktivitas dan lamanya
penyakit.
b. Analisa air kemih menunjukkan adanya darah atau protein.
c. Radiology : Rontgen dada menunjukkan pleuritis atau perikarditis.

F. Penatalaksanaan Medis
Tujuan dari pengobatan SLE adalah untuk mengurangi
gejala penyakit, mencegah terjadinya inflamasi dan kerusakan
jaringan, memperbaiki kualitas hidup pasien, memperpanjang
ketahanan pasien, memonitor manifestasi penyakit, menghindari
penyebaran penyakit, serta memberikan edukasi kepada pasien
tentang manifestasi dan efek samping dari terapi obat yang
diberikan. Karena banyaknya variasi dalam manifestasi klinik setiap
individu maka pengobatan yang dilakukan juga sangat individual
tergantung dari manifestasi klinik yang muncul. Pengobatan SLE
meliputi terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi (Herfindal et
al., 2000).

8
a. Terapi Nonfarmakologi
Pada sinar matahari ketika akan beraktivitas di luar rumah
(Delafuente, 2002). Gejala yang sering muncul pada penderita SLE
adalah lemah sehingga diperlukan keseimbangan antara istirahat dan
kerja, dan hindari kerja yang terlalu berlebihan. Penderita SLE
sebaiknya menghindari merokok karena hidrasin dalam tembakau
diduga juga merupakan factor lingkungan yang dapat memicu
terjadinya SLE. Tidak ada diet yang spesifik untuk penderita SLE
(Delafuente, 2002). Tetapi penggunaan minyak ikan pada pasien
SLE yang mengandung vitamin E 75 IU and 500 IU/kg diet dapat
menurunkan produksi sitokin proinflamasi seperti IL-4, IL-6, TNF-
a, IL-10, dan menurunkan kadar antibodi anti-DNA (Venkatraman
et al., 1999). Penggunaan sunblock (SPF 15) dan menggunakan
pakaian tertutup untuk penderita SLE sangat disarankan untuk
mengurangi paparan sinar UV.
- Diet Restriksi diet ditentukan oleh terapi yang diberikan.
Sebagian besar pasien memerlukan kortikosteroid, dan saat itu diet
yang diperbolehkan adalah yang mengandung cukup kalsium,
rendah lemak, dan rendah garam. Pasien disarankan berhati-hati
dengan suplemen makanan dan obat tradisional.
- Aktivitas
Pasien lupus sebaiknya tetap beraktivitas normal. Olahraga
diperlukan untuk mempertahankan densitas tulang dan berat badan
normal. Tetapi tidak boleh berlebihan karena lelah dan stress sering
dihubungkan dengan kekambuhan. Pasien disarankan untuk
menghindari sinar matahari, bila terpaksa harus terpapar matahari
harus menggunakan krim pelindung matahari (waterproof
sunblock) setiap 2 jam. Lampu fluorescence juga dapat
meningkatkan timbulnya lesi kulit pada pasien SLE.
b. Terapi Farmakologi

9
Terapi farmakologi untuk SLE ditujukan untuk menekan
sistem imun dan mengatasi inflamasi. Umumnya pengobatan SLE
tergantung dari tingkat keparahan dan lamanya pasien menderita
SLE serta manifestasi yang timbul pada setiap pasien.
- NSAID
Merupakan terapi utama untuk manifestasi SLE yang ringan
termasuk salisilat dan NSAID yang lain (Delafuente, 2002). NSAID
memiliki efek antipiretik, antiinflamasi, dan analgesic (Neal, 2002).
NSAID dapat dibedakan menjadi nonselektif COX inhibitor dan
selektif COX- 2 inhibitor. Nonselektif COX inhibitor menghambat
enzim COX-1 dan COX-2 serta memblok asam arakidonat. COX-2
muncul ketika terdapat rangsangan dari mediator inflamasi termasuk
interleukin, interferon, serta tumor necrosing factor sedangkan
COX-1 merupakan enzim yang berperan pada fungsi homeostasis
tubuh seperti produksi prostaglandin untuk melindungi lambung
serta keseimbangan hemodinamik dari ginjal. COX-1 terdapat pada
mukosa lambung, sel endotelial vaskular, platelet, dan tubulus
collecting renal (Katzung, 2002). Efek samping penggunaan NSAID
adalah perdarahan saluran cerna, ulser, nefrotoksik, kulit
kemerahan, dan alergi.

- Obat lain

Obat-obat lain yang digunakan pada terapi penyakit SLE


antara lain adalah azatioprin, intravena gamma globulin,
monoklonal antibodi, terapi hormon, mikofenolat mofetil dan
pemberian antiinfeksi.

G. Komplikasi
Lupus mungkin terlihat sebagai penyakit yang biasa terjadi pada
kulit. Namun jika tidak segera ditangani, lupus bisa menjadi momok
bagi kehidupan Anda. Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang
bisa terjadi jika penyakit lupus tidak ditangani dengan cepat dan
tepat:

10
 Peyakit Ginjal

Jika terjadi pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki setelah


Anda divonis mengidap lupus, maka itu adalah tanda bahwa eksresi
cairan pada tubuh Anda sudah tidak normal. Ada yang salah pada
ginjal Anda. Pada kasus yang lebih parah, gejalanya sampai urin
bercampur darah hingga pasien mengalami gagal ginjal.

 Penyakit jantung

Komplikasi jantung yang paling umum terjadi pada penderita lupus


adalah terjadinya infeksi pada selaput pembungkus jantung,
penebalan pembuluh darah, dan melemahnya otot-otot jantung.

 Penyakit paru-paru

1 dari 3 orang penderita lupus akan mengalami infeksi pada selaput


pembungkus paru-paru. Jika ini terjadi maka pasien akan merasakan
sakit saat bernapas hingga batuk berdarah.

 Gangguan peredaran darah darah

Untuk penyakit yang satu ini pada penderita lupus, biasanya tidak
ditemukan gejala yang dapat dideteksi secara langsung.
Gangguannya antara lain seperti terganggunya distribusi oksigen
dalam darah atau berkurangnya produksi sel darah putih, dan
anemia.

 Gangguan saraf dan menta

Banyak dari penderita lupus yang mengalami susah konsentrasi,


cepat lupa, sakit kepala yang sangat parah, khawatir berlebihan, dan
selalu gelisah. Hal ini dikarenakan penyakit lupus lama-kelamaan
akan melemahkan kerja saraf dan menyebabkan stres pada pasien.

H. Prognosis

11
SLE sebelumnya di pandang berkemungkinan atau secara
seragam merupakan penyakit masa kanak-kanak yang mematikan ,
sekarang, anak-anak yang menderita penyakit yang lebih ringan
dapat dikenali , dan tampak bahwa tidak semua anak mengalami
keterlibatan organ utama yang berat. Walaupun terjadi eksaserbasi
dan penyembuhan yang spontan , penyembuhan spontn yang lama
jarang di jumpai pada anak-anak . penyebab utama kematian pada
penderita SLE adalah nefritis , komplikasi sistem saraf sentral ,
infeksi , lupus paru , dan infark miokardium . prognosis akhir untuk
lupus berat yang mulai timbul pada masa kanak –kanak tetap harus
dipastikan.

2. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Identitas
Penyakit SLE ( sistemik lupus eritematosus ) kebanyakan
menyerang wanita, bila dibandingkan dengan pria perbandingannya
adalah 8 : 1. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada orang berkulit
hitam dari pada orang yang berkulit putih.

b. Keluhan utama
Pada SLE ( sistemik lupus eritematosus ) kelainan kulit meliputi
eritema malar ( pipi ) ras seperti kupu-kupu, yang dapat mengenai
seluruh tubuh, sebelumnya pasien mengeluh
demam dan kelelahan.

d. Riwayat penyakit sekarang


Pada penderita SLE, di duga adanya riwayat penyakit anemia
hemolitik, trombositopeni, abortus spontan yang unik. Kelainan
pada proses pembekuan darah ( kemungkinan sindroma,
antibody, antikardiolipin ).

12
e. Riwayat penyakit keluarga
Faktor genetik keluarga yang mempunyai kepekaan genetik
sehingga cenderung memproduksi auto antibody tertentu
sehingga keluarga mempunyai resiko tinggi terjadinya lupus
eritematosus.

e. Pola – pola fungsi kesehatan


 Pola nutrisi
Penderita SLE banyak yang kehilangan berat badannya
sampai beberapa kg, penyakit ini disertai adanya rasa mual
dan muntah sehingga mengakibatkan
penderita nafsu makannya menurun.

 Pola aktivitas
Penderita SLE sering mengeluhkan kelelahan yang luar
biasa.

 Pola eliminasi
Tidak semua dari penderita SLE mengalami nefritis
proliferatif mesangial, namun, secara klinis penderita ini
juga mengalami diare.

 Pola sensori dan kognitif


Pada penderita SLE, daya perabaannya akan sedikit
terganggu bila pada jari – jari tangannya terdapat lesi
vaskulitik atau lesi semi vaskulitik.

 Pola persepsi dan konsep diri


Dengan adanya lesi kulit yang bersifat irreversibel yang
menimbulkan bekas seperti luka dan warna yang buruk pada

13
kulit penderita SLE akan membuat penderita merasa malu
dengan adanya lesi kulit yang ada.

f. Pemeriksaan fisik
o Sistem integument
Pada penderita SLE cenderung mengalami kelainan kulit eritema
molar yang bersifat irreversibel.

o Kepala
Pada penderita SLE mengalami lesi pada kulit kepala dan
kerontokan yang sifatnya reversible dan rambut yang hilang akan
tumbuh kembali.

o Muka
Pada penderita SLE lesi tidak selalu terdapat pada muka/wajah

o Telinga
Pada penderita SLE tidak selalu ditemukan lesi di telinga.

o Mulut
Pada penderita SLE sekitar 20% terdapat lesi mukosa mulut.

o Ekstremitas
Pada penderita SLE sering dijumpai lesi vaskulitik pada jari-jari
tangan dan jari jari-jari kaki, juga sering merasakan nyeri sendi.
o Paru – paru
Penderita SLE mengalami pleurisy, pleural effusion, pneumonitis,
interstilsiel fibrosis.

o Leher Penderita SLE tiroidnya mengalami abnormal,


hyperparathyroidisme, intolerance glukosa.

14
o Jantung
Penderita SLE dapat mengalami perikarditis, myokarditis,
endokarditis, vaskulitis.

o Gastro intestinal
Penderita SLE mengalami hepatomegaly / pembesaran hepar, nyeri
pada perut.

o Muskuluskletal
Penderita mengalami arthralgias, symmetric polyarthritis, efusi dan
joint swelling15

B. Diagnosis Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan S


LE adalah:
a. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan peningkatan aktivitas
penyakit, kerusakan
jaringan, keterbatasan mobolitas atau tingkat toleransi yang rendah.
b. Keletihan berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit, rasa
nyeri, tidur/aktivitas
yang tidak memadai, nutrisi yang tidak memadai dan depresi/stres
emosional.
c. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan rentang
gerak, kelemahan otot,
rasa nyeri pada saat bergerak, keterbatasan daya tahan fisik, kurangnya
atau tidak tepatnya
pemakaian alat-alat ambulasi.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dan
ketergantungan fisik serta
psikologis yang diakibatkan oleh penyakit kronik.

C. Perencanaan

15
Diagnosa Perencanaan
Keperaw Tujuan dan Intervensi Rasional
atan kriteria hasil
Nyeri Setelah Kolaborasi Menggunakan
akut dilakukan pemberian agens
berhubun tindakkan analgetik dan farmakologi
gan keperawatan kaji untuk meredakan
dengan selama ... x skala nyeri atau
inflamasi 24 menghilangkan
dan jam Ukur TTV nyeri
peningkat diharapkan pasien Mengetahui
an nyeri Observasi perubahan TTV
aktivitas berkurang respon pasien
penyakit, dengan nonverbal Mengetahui
kerusaka criteria dari respon pasien
n hasil: ketidaknyam terhadap nyeri
jaringan, Skala nyeri anan
keterbata berkurang
san TTV dalam
mobolitas batas normal
atau Kegelisahan
tingkat berkurang
toleransi
yang
rendah

16
Keletihan Setelah Monitor Mengontrol
berhubun dilakukan nutrisi asupan nutrisi
gan tindakkan dan sumber pasien untuk
dengan keperawatan energi yang mengurangi
peningkat selama ... x adekuat keletihan
an 24 . Mengetahui
aktivitas jam Kaji tingkat apakah pasien
penyakit, diharapkan kecemasan cemas untuk
rasa keletihan pasien mengurangi
nyeri, teratasi keletihan
tidur/akti dengan Monitoring . Mengetahui
vitas kriteria pola apakah istirahat/
yang hasil: tidur dan tidur pasien
tidak Glukosa lamanya cukup
memadai, darah tidur/
nutrisi adekuat istirahat
yang Kecemasan pasien
tidak menurun
memadai Istirahat
dan cukup
depresi/st
res
emosiona
l.

17
Hambata Setelah Latih pasien Melatih pasien
n dilakukan berpindah untuk berpindah
mobilitas tindakkan dari untuk
fisik keperawatan tempat tidur menghindari
berhubun selama ... x ke dissus atrofi.
gan 24 kursi Mengetahui
dengan jam perubahan TTV
penuruna diharapkan Ukur TTV pasien saat dan
n pasien pasien setelah pasien
rentang menunjukka saat dan beraktivitas
gerak, n setelah Memandirikan
kelemaha mobilitas beraktivitas pasien dalam
n otot, fisik memenuhi
rasa nyeri dengan Latih pasien kebutuhan ADL
pada kriteria dalam
saat hasil: pemenuhan
bergerak, Mampu kebutuhan
keterbata berpindah ADL
san dari secara
daya tempat mandiri
tahan duduk ke
fisik, kursi
kurangny TTV normal
a atau saat
tidak dan setelah
tepatnya beraktivitas
pemakaia Mampu
n alatalat melakukan
ambulasi. kebutuhan
ADL
secara
mandiri

18
Ganggua Setelah Kaji secara Mengetahui
n citra dilakukan verbal apakah body
tubuh tindakkan dan image pasien
berhubun keperawatan nonverbal positif atau tidak
gan selama ... x respon klien Membantu
dengan 24 terhadap pasien untuk
perubaha jam tubuhnya mempertahankan
n dan diharapkanp interaksi
ketergant asien Fasilitasi sosialnya
ungan dapat kontak Mendorong
fisik serta menerima dengan pasien untuk
psikologi keadaan individu mengungkapkan
s yang tubuhnya lain dalam secara faktual
diakibatk dengan kelompok tentang
an oleh kriteria kecil perasaannya
penyakit hasil: Dorong klien terhadap
kronik. Body image mengungkap perubahan fungsi
positif kan tubuh
Mempertaha perasaannya
nka
n interaksi
sosial
Mendeskrips
ikan
secara
faktual
perubahan
fungsi
tubuh

D. Evaluasi
Diagnosa Keperawatan Evaluasi

19
Nyeri akut berhubungan Pasien mengatakan skala nyeri
Dengan inflamasi dan berkurang
peningkatan aktivitas penyakit, TTV dalam batas normal
kerusakan jaringan, Kegelisahan berkurang
keterbatasan mobolitas
atau tingkat toleransi yang
rendah
Keletihan berhubungan dengan Glukosa darah adekuat
peningkatan aktivitas penyakit, Kecemasan menurun
rasa nyeri, tidur/aktivitas yang Istirahat cukup
tidak memadai, nutrisi yang
tidak
memadai dan depresi/stress
emosional.
Hambatan mobilitas fisik Mampu berpindah dari tempat
berhubungan dengan duduk ke kursi
penurunan rentang gerak, TTV normal saat dan setelah
kelemahan otot, rasa nyeri beraktivitas
pada saat bergerak, Mampu melakukan kebutuhan
keterbatasan daya tahan fisik, ADL
kurangnya atau tidak tepatnya secara mandiri
pemakaian alat-alat ambulasi.
Gangguan citra tubuh Body image pasien terlihat
berhubungan dengan positif Pasien mampu
perubahan dan ketergantungan mempertahankan
fisik serta psikologis yang interaksi sosial
diakibatkan oleh penyakit Pasien mampu mendeskripsikan
kronik. secara faktual perubahan fungsi
tubuh

3. PERAWATAN DAN PENGOBATAN

20
SLE belum diketahui pengobatanuya sehingga perawatan yang
dilakukan hanya sebatas mengatasi gejala atau shymptom yang timbul,
termasuk upaya menekan gejala yang timbul (pada kadar yang dapat
diterima ) dan mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Upaya mencegah
dapat dilakukan dengan penggunaan obat-obatan, seperti corticosteroid
dan immunosuppressant. Pengobatan alternative serta mengubah gaya
hidup. Mengenali geja dini seperti kelelahan, rasa nyeri, timbuk ruam ,
demam, perut tidak nyaman, sakit kepala dan pusing , komunikasi yang
baik dengan dokter ahli dpat menvega aktifnya penyakit ini.

Odopus harus menghindari hal hal yang dapat membuat penyakitna


kambuh antara lain dengan cara menghindari stress, menjaga agar tidak
langsung terkena sinar matahri, mengurangi beban kerja yang
berlebihan, menghinari pemakaian obat tertentu dan nutrisi yang baik.
Gaya hidup harus diubah, misalnya dengan memakai pakaian yang
tertutup dan menggunakan sunscreen, payung untuk menghindari
paparan sinar matahari. Odapus yang mengalami kelebihan berat badan
atau obesitas harus mengurangi berat baddan untuk meringankan efek
penyakit ini.

Mengembangkan sikap mental positif, mengkonsumsi makanan


bergizi dan control ke dokter secara tertatur adalah langkah yang perlu
dilakukan oleh penderita sle agar tetap sehat. Menu makanan sehari-hari
dengan asupan gizi yang kaya mineral seperti kalsium, kalium, vitamin
A, B, C, dan D yang banyak mengandung zat antioksidan , seperti yang
terdapat pada buah dan sayur.

4. PENYELESAIAN KASUS

Kasus:

Seorang anak perempuan usia 14 tahun dibawa kerumah sakit oleh


keluarga karena keluhan demam dan nyeri pada sendi. Menurut ibu,
anak sudah mengalami hal ini sejak 1 bulan yang lalu. Anak
mengkonsumi kartokostiroid sejak umur 10 tahun. Ibu mengatakan

21
bahwa badan anak lemah dan berat badan menurun menjadi 8 kg sejak
sakit (berat badan sebelumnya 30kg). Hasil pemeriksaan fisik
ditemukan adamya ruam kulit (skin rush) pada lengan, kaki, dam
punggung. Pada daerah pipi terdapat bercak malar atau butterfly rush
yang berwarna pink sampai ke daerah nasolabial. Ada pembengkakan
pada sendi dan anak mengeluh nyeri ketika digerakan (skala nyeri 6)

a.Apakah masalah yang terjadi pada anak tersebut diatas?

b. Jelaskan apakah saja kemungkinan penyebab masalah yang dialami


anak?

c. Jelaskan patofisiologi dari penyakit pada anak disertai dengan WOC

d.Apakah tanda dan gejala khas yang tampak pada anak?

e.Bagaimana pengobatan dan penatalaksanaan medis yang dapat


dilakukan pada anak?

f.Jelaskan Tentang komplikasi yang mungkin terjadi pada anak?

g.Jelaskan apa saja hal yang perlu dikaji pada anak?

h.Apakah masalah keperawatan yang muncul pada anak?

i.Buatlah rencana intervensi sesuai dengan masalah keperawatan yang


muncul pada anak

Pembahasan:

a. Masalah anak tersebut adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE)


b. Penyebab anak mengalami SLE
Faktor Lingkungan
 Infeksi
Risiko timbulnya SLE meningkat pada mereka yang lain pernah
sakit herpes zoster (shingles). Herpes zoster adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus varisela, virus yang juga menjadi penyebab
dari penyakit cacar air (variscela atau chiken pox).

22
 Antibiotik

Hormon Kurang lebih dari 90% dari penderita SLE adalah


wanita. Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mungkin
menjadi latar belakang timbulnya lupus.

 Sinar Matahari
Adalah salah satu kondisi yang dapat memperburuk gejala Lupus.
Diduga oleh para dokter bahwa sinar matahari memiliki banyak
ekstrogen sehingga mempermudah terjadinya reaksi autoimmun.
Tetapi bukan berarti bahwa penderita hanya bisa keluar pada malam
hari. Pasien Lupus bisa saja keluar rumah sebelum pukul 09.00 atau
sesudah pukul 16.00 WIB dan disarankan agar memakai krim
pelindung dari sengatan matahari. Teriknya sinar matahari di negara
tropis seperti Indonesia, merupakan faktor pencetus kekambuhan
bagi para pasien yang peka terhadap sinar matahari dapat
menimbulkan bercak-bercak kemerahan di bagian muka.kepekaan
terhadap sinar matahari (photosensitivity) sebagai reaksi kulit yang
tidak normal terhadap sinar matahari.

c. Patofisiologi dari SLE

Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi


kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibodi yang
berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh
kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal (
sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya
terjadi selama usia reproduktif) dan lingkungan (cahaya
matahari, luka bakar termal). Obat-obat tertentu seperti
hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan
beberapa preparat antikonvulsan di samping makanan seperti
kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE- akibat
senyawa kimia atau obat-obatan. Pada SLE, peningkatan
produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-

23
supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan
kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan
menstimulasi antigen yang selanjutnya serangsang antibodi
tambahan dan siklus tersebut berulang kembali

24
Genetik Obat-obatan (
Lingkungan (Cahaya Matahari,
kartokosteroid)
Luka bakar internal)

Sistem regulasi dan kekebalan tubuh


terganggu

Mengaktivasi sel T dan sel B

Fungsi sel T - Supressor abnormal

Peningkatan produksi autoantibodi

Kerusakan jaringan

Penumpukan kompleks imun

Muskuloskeletal
Integumen

Pembengkakan sendi
Ruam kulit (skin rush) pada
lengan, kaki, dan punggung
Nyeri saat digerakkan
Bercak malar berwarna pink
pada pipisampai nasolabial

Hambatan Nyeri
Keletihan Risiko
mobilitas akut Risiko
kerusakan gangguan
fisik
integritas citra tubuh
kulit

25
d. Tanda dan gejala yang khas dapat dilihat:
 Demam dan nyeri pada sendi
 Badan anak lemah an berat badan menurun menjadi 8kg saat
sakit
 Skin rush (ruam kulit) pada lengan, kaki dan punggung.
 Bercak malar pada pipi (butterflu rush) warna pink sampai
nasolabia
 Pembengkakan sendi dan nyeri saat di gerakkan
 Skala nyeri 6

e. Pengobatan dan penatalaksaan medis yang dapat dilakukan


Tujuan dari pengobatan SLE adalah untuk mengurangi
gejala penyakit, mencegah terjadinya inflamasi dan kerusakan
jaringan, memperbaiki kualitas hidup pasien, memperpanjang
ketahanan pasien, memonitor manifestasi penyakit, menghindari
penyebaran penyakit, serta memberikan edukasi kepada pasien
tentang manifestasi dan efek samping dari terapi obat yang
diberikan. Karena banyaknya variasi dalam manifestasi klinik setiap
individu maka pengobatan yang dilakukan juga sangat individual
tergantung dari manifestasi klinik yang muncul. Pengobatan SLE
meliputi terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi (Herfindal et
al., 2000).

f. Komplikasi yang mungkin terjadi


o Peyakit Ginjal
o Penyakit jantung
o Penyakit paru-paru
o Gangguan peredaran darah darah
o Gangguan saraf dan menta
g. Hal yang perlu dikaji
 Riwayat Kesehatan
Adanya riwayat keletihan, demam, peruba

26
h. Masalah keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan peningkatan
aktivitas penyakit, kerusakan jaringan, keterbatasan mobolitas atau
tingkat toleransi yang rendah.
2. Keletihan berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit,
rasa nyeri, tidur/aktivitas yang tidak memadai, nutrisi yang tidak
memadai dan depresi/stres emosional.
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan rentang
gerak, kelemahan otot, rasa nyeri pada saat bergerak, keterbatasan
daya tahan fisik, kurangnya atau tidak tepatnya pemakaian alat-alat
ambulasi.
4. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan
daya tahan tubuh.
5. Risiko gangguan body image berhubungan dengan efek samping
pengobatan.
i. Intervensi keperawatan

1. Kolaborasi pemberian analgetik dan kaji skala nyeri, ukur TTV


pasien dan observasi respon nonverbal dari ketidaknyamanan
2. Memepertahankan keseimbangan cairan
Tindakan yang dilakukan monitor intake dan output,
evaluasi status cairan dan elektrolit anak, perhatikan adanya
manifestasi gangguan ginjal seperti edema, kram otot, diare, tegang
dan kejang.
3. Meningkatkan istirahat dan rasa nyaman
Tindakan anjurkan periode istirahat dan diet bernutrisi untuk
meningkatkan penyimpanan energi, fisioterapis dapat memberikan
program untuk membantu mobilitas dan meningkatkan kekuatan
otot.
4. Meningkatkan integritas kulit
Gunakan sabun yang lembut, anjurkan remaja untuk
membatasi penggunaan kosmetik, dorong untuk menghindari

27
cahaya matahari, dan gunakan krim pelindung matahar seperti sun
protection factor (SPF).
5. Pengelolaam efek samping pengobatan
Observasi terhadap efek samping pengobatan dan ajarkan
anak dan keluarga tentang efek samping tersebut.
6. Memberikan dukungan emosional
Remaja dapat menunjukan perubahan body image akibat
ruam, alopesia, atritis, perubahan sendi dan penyakit kronik. Rujuk
pada support group, layanan sosial atau konseling.

28
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

SLE merupakan suatu penyakit auotoimun kronik yang melibatkan


berbagai organ dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari yang ringan
sampai berat. (kapita selekta 2000). Sistemik lupus erytematosus adalah
penyakit otoimun kronis yang di tandai dengan berbagai antibodi yang
membentuk kompleks imun dan menimbulkan inflamasi pada berbagai
organ. SLE hingga saat ini belum diketahui penyebab pastinya termasuk
pengobatan nya juga belum diketahui dengan pasti.

2. Saran

Dalam makalah ini penulis berharap dapat bermanfaat bagi penulis maupun
pembaca. Dan untuk makalah ini layak dimohonkan kritik dan saran yang
membangun.

29
DAFTAR PUSTAKA

Burn, Catherine E, et all. (2004). Pediatric Primary Care : A Handbook for


Nurse
Practitioner. USA : Saunders

Sutarna, Agus, dkk. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong


(Wong’s Essentials of
Pediatric Nursing). ED.6. Jakarta: EGC

Herdman, T. Heather. (2012). NANDA International Nursing Diagnoses:


Definitions &
Classification 2012-2014. UK: Wiley‐Blacwell, A John Wiley & Sons Ltd

Hellen Amalia. 2009. Peningkatan daya tahan tubuh anak dengan SLE.
Jurnal fakultas kedokteran. 11(1) : 33