You are on page 1of 40

RADIOGRAPH BASED DISCUSSION

HIDRONEFROSIS dengan NEFROLITIASIS

Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu


Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Radiologi
Di RSUD Dr.R. Soedjati Purwodadi

Pembimbing :
dr. Rona Yulia, Sp Rad

Oleh :
Madina Paramitha E 01.211.6439
Nanda Aryudea 01.211.6415
Rafidah helmi 30101206715

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN RADIOLOGI


RSUD DR. R. SOEDJATI PURWODADI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016
LEMBAR PENGESAHAN
RADIOGRAPH BASED DISCUSSION
HIDRONEFROSIS dengan NEFROLITHIASIS

Diajukan guna melengkapi tugas kepaniteraan klinis bagian ilmu radiologi


Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung

Nama : Madina Paramitha E 01.211.6439


Nanda Aryudea 01.211.6415
Rafidah Helmi 30101206715
Judul : Hidronefrosis dengan Nefrolithiasis
Bagian : Ilmu Radiologi
Fakultas : Kedokteran UNISSULA
Pembimbing : dr. Rona Yulia, Sp. Rad

Telah diajukan dan disahkan


Purwodadi, September 2016
Pembimbing,

dr. Rona Yulia, Sp. Rad

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 6
2.1. Anatomi Traktur urinarius............................................................. 6
2.2. Anatomi Ginjal .............................................................................. 6
2.3. Anatomi Ureter.............................................................................. 8
2.4. Anatomi Vesica Uriania ................................................................ 8
2.5. Anatomi Urethra............................................................................ 9
2.6. Hidronefosis .................................................................................. 9
2.6.1 Etiologi ................................................................................ 10
2.6.2 Patogenesis ........................................................................... 12
2.6.3 Manifestasi Klinis ............................................................... 12
2.6.4 Diagnosa ............................................................................... 13
2.6.5 Diagnosa Banding ................................................................ 20
2.6.6 Penatalaksanaan ................................................................... 20
2.6.7 Komplikasi .......................................................................... 22
2.6.8 Prognosis .............................................................................. 22
2.7. Nefrolitiasis
BAB III LAPORAN KASUS ...................................................................... 23
3.1. Identitas ................................................................................. 23
3.2. Anamnesis ............................................................................. 23
3.3. Pemeriksaan Fisik ................................................................. 24
3.4. Pemeriksaan Penunjang.......................................................... 25
BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................... 30
BAB V KESIMPULAN ............................................................................. 31
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ginjal adalah organ vital yang mempunyai peran penting dalam mempertahankan
kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh, elektrolit,
dan asam-asam dengan cara filtrasi darah, reabsorbsi selektif air, elektrolit, dan non
elektrolit, serta mengekskresi kelebihannya sebagai urin. Fungsi ekskresi ginjal seringkali
terganggu diantaranya oleh batu saluran kemih yang berdasarkan tempat terbentuknya terdiri
dari nefrolitiasis, ureterolitiasis, vesicolitiasis, batu prostat, dan batu uretra. Batu saluran
kemih terutama dapat merugikan karena obstruksi saluran kemih dan infeksi yang
ditimbulkannya (De Jong, 2004).
Obstruksi dapat menyebabkan dilatasi pelvis renalis maupun kaliks yang dikenal
sebagai hidronefrosis. Batu dapat menyebabkan kerusakan atau gangguan fungsi ginjal
karena menyumbat aliran urine. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, urin akan mengalir
balik kesaluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan
ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal (Patel, 2005). Pada
umumnya obstruksi saluran kemih sebelah bawah yang berkepanjangan akan menyebabkan
obstruksi sebelah atas. Jika tidak diterapi dengan tepat, obstruksi ini dapat menyebabkan
kegagalan fungsi dan kerusakan struktur ginjal yang permanen, seperti nefropati obstruktif,
dan jika mengalami infeksi saluran kemih dapat menimbulkan urosepsis (Purnomo, 2011).
Proses ini umumnya berlangsung lama sekali. Tapi juga bisa mendadak (akut) bila
sumbatan secara total. Kasus hidronefrosis semakin sering didapati. Di Amerika Serikat,
insidensinya mencapai 3,1 %, 2,9 % pada wanita dan 3,3 % pada pria. Penyebabnya dapat
bermacam – macam dimana obstruksi merupakan penyebab yang tersering (Rahman, 2008).

4
5

1.2 Tujuan
1.2.1 Memahami definisi, etiologi, patofisiologi, dan cara penegakan diagnosis
hidronefrosis
1.2.2 Memahami gambaran radiologi hidronefrosis

1.3 Manfaat
1.3.1 Dapat menerapkan cara penegakan diagnosis hidronefrosis
1.3.2 Dapat mengusulkan jenis pemeriksaan radiologi hidronefrosis
1.3.3 Dapat mendeskripsikan gambaran radiologi hidronefrosis
6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Traktus Urinarius

Sistem urinaria merupakan suatu sistem yang di dalamnya terjadi penyaringan


darah sehingga darah bebas dari zat yang tidak digunakan oleh tubuh. Zat ini akan larut dalam
air dan dikeluarkan berupa urine. Traktus urinarius merupakan system yang terdiri dari organ-
organ dan struktur-struktur yang menyalurkan urin dari ginjal ke luar tubuh. Sistem urinaria
terdiri dari dari dua ginjal yang memproduksi urine, dua ureter yang membawa urine ke
dalam sebuah kandung kemih untuk penampungan sementara dan urethra yang mengalirkan
urine keluar tubuh melalui orifisium urethra eksterna.

2.2 Anatomi Ginjal

Manusia mempunyai dua buah ginjal yang terletak di daerah pinngang di dinding
posterior dinding abdomen. Tepatnya setinggi vertebra thorakal 12 sampai vertebra lumbal 3.
Secara visual bentuk ginjal menyerupai kacang merah. Berat setiap ginjal antara 100 – 150
gram. Ginjal kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri karena ada hepar di sisi kanan.
Ginjal memilii tiga bagian penting yaitu korteks, medulla, dan pelvis renal. Bagian paling
7

superfisial adalah korteks renal, yang tampak bergranula. Di sebelah dalamnya terdapat
bagian lebih gelap, yaitu medulla renal, yang berbentuk seperti kerucut disebut piramid
renal, dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papilla
renal. Di antara piramid terdapat jaringan korteks, disebut kolum renal.
Ginjal merupakan organ tubuh yang berfungsi menyeleksi hasil metabolisme tubuh.
Proses seleksi tersebut dilakukan dengan cara menyaring cairan tubuh yang melewati ginjal.
Penyaringan dilakukan bagian ginjal yang dinamakan nefron. Setiap ginjal terdapat satu juta
atau lebih nefron, masing-masing nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler.
Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh-pembuluh darah, yaitu glomerulus dan
kapiler peritubuler, yang mengitari tubuli. Komponen tubuler berawal dengan kapsula
Bowman (glomerular) dan mencakup tubuli kontortus proksimal, ansa Henle dan tubuli
kontortus distal. Dari tubuli distal, isinya disalurkan ke dalam duktus koligens (saluran
penampung atau pengumpul).
Ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar disebut pelvis renal.
Pelvis renal bercabang dua atau tiga, disebut kaliks mayor yang masing-masing bercabang
membentuk beberapa kaliks minor, yang langsung menutupi papilla renal dari piramid.
Kaliks minor ini menampung urin yang terus-menerus keluar dari papila.Dari kaliks
minor, urin masuk kekaliks mayor, ke pelvis renal kemudian ke ureter, sampai akhirnya
ditampung di dalam kandung kemih.
Kedua ginjal menghasilkan sekitar 125 ml filtrat per menit yang 124 ml
diabsorpsi dan hanya 1 ml dikeluarkan ke dalam kaliks-kaliks sebagai urin. Ginjal berfungsi
untuk mengatur keseimbangan air dan elektrolit berupa ekskresi kelebihan air dan
elektrolit, mempertahankan keseimbangan asam basa, mengekskresikan hormon, berperan
dalam pembentukan vitamin D, mengekskresikan beberapa obat-obatan dan mengeksresi
renin yang turut dalam pengaturan tekanan darah.
8

2.3. Anatomi Ureter


Ureter merupakan dua saluran yang membawa urine dari ginjal ke kandung kemih
(vesika urinaria) dengan panjang sekitar 25 sampai 30 cm. Memiliki dinding yang tebal dan
saluran yang sempit, yang berlanjut dengan pelvis ginjal dan terbuka ke dasar kandung kemih.
Terdapat tiga tempat penyempitan pada ureter yaitu : (a) pada sambungan dengan pelvis ginjal;
(b) tempat ureter yang melewati tepi pelvis yang lebih kecil; (c) di titik ureter melewati
kandung kemih. Bagian menyempit ini dapat menjadi tempat penimbunan kalkulus ureterik
(batu).
Ureter memiliki diameter sekitar 1 mm - 10 mm. Letaknya menurun dari ginjal
sepanjang bagian belakang dari rongga peritoneum dan di depan dari muskulus psoas dan
processus transversus dari vertebrae lumbal dan berjalan menuju ke bawah dan belakang serta
di depan dari sayap Os. sakral, kemudian melengkung pada bagian anterior dan medial dan
selanjutnya masuk ke kandung kemih melalui bagian posterior lateral.

2.4. Anatomi Vesica Urinaria


Vesika Urinaria adalah suatu organ yang berfungsi untuk menampung urine. Pada laki
– laki, organ ini terletak di belakang symphisis pubis dan di depan rectum. Pada perempuan,
organ ini terletak agak di bawah uterus, di depan vagina. Saat kosong, berukuran kecil seperti
buah kenari dan terletak di pelvis. Sedangkan saat penuh berisi urine, tingginya dapat mencapai
9

umbilicus dan berbentuk seperti buah pir.Vesika urinaria sering juga disebut kandung kemih
atau buli-buli. Organ ini merupakan tempat untuk menampung urine yang berasal dari ginjal
melalui ureter, untuk selanjutnya diteruskan ke urethra dan lingkungan eksternal tubuh melalui
mekanisme relaksasi sphincter. Dalam menampung urine, buli – buli mempunyai kapasitas
maksimal yang volume untuk orang dewasa ± 300 – 450 ml. Vesika urinaria diperdarahi oleh
a.vesicalis superior dan inferior. Namun pada perempuan, arteri vesicalis inferior digantikan
oleh arteri vaginalis.

2.5. Anatomi Uretra


Urethra adalah saluran akhir dari raktus urinarius yang mengalirkan urine ke luar tubuh.
Pada laki – laki, urethra memiliki panjang hingga 20 cm, dan selain berfungsi untuk
mengeluarkan urine, juga berfungsi untuk membawa keluar semen namun tidak pada saat yang
bersamaan.
Urethra pada laki – laki dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
a) pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae dan aspek
superior kelenjar prostat;
b) Urethra pars Prostatika yang merupakan muara dari 2 buah duktus ejakulatorius dan
dari beberapa duktus dari kelenjar prostat;
c) Urethra pars Membranosa yang merupakan bagian terpendek dan berdinding tipis;
d) urethra pars Cavernosa yang merupakan bagian terpanjang menerima duktus dari
kelenjar bulbourethralis dan bermuara pada ujung penis.
Sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 3,5 cm. Perbedaan panjang inilah
yang menyebabkan keluhan hambatan pengeluaran urine lebih sering pada pria.

2.6. Hidronefrosis
Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan kaliks ginjal pada salah satu atau kedua ginjal
akibat adanya obstruksi. Obstruksi pada aliran normal urine menyebabkan urine mengalir balik,
sehingga tekanan diginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih,
tekanan baik akan mempengaruhi kedua ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi disalah satu ureter
akibat adanya batu atau kekakuan, maka hanya satu ginjal saja yang rusak.
Hidronefrosis merupakan suatu keadaan pelebaran dari pelvis ginjal dan kalises. Adanya
hidronefrosis harus dianggap sebagai respons fisiologis terhadap gangguan aliran urine.
10

Meskipun hal ini sering disebabkan oleh proses obstruktif, tetapi dalam beberapa kasus, seperti
megaureter sekunder untuk refluks pralahir, sistem pengumpulan mungkin membesar karena
tidak adanya obstruksi.
Ada 4 grade hidronefrosis, antara lain :
a. Hidronefrosis derajat 1
Dilatasi pelvis renalis tanpa dilatasi kaliks. Kaliks berbentuk blunting, alias tumpul.
b. Hidronefrosis derajat 2
Dilatasi pelvis renalis dan kaliks mayor. Kaliks berbentuk flattening, alias mendatar.
c. Hidronefrosis derajat 3
Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor.Tanpa adanya penipisan korteks. Kaliks
berbentuk clubbing alias menonjol.
d. Hidronefrosis derajat 4
Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor. Serta adanya penipisan korteks Calices
berbentuk ballooning alias menggembung

2.6.1 Etiologi
Penyebab yang bisa mengakibatkan hidronefrosis adalah sebagai berikut:

a. Hidronefrosis unilateral: obstruksi pada salah satu sisi saluran kemih pada umumnya disebabkan
oleh proses patologik yang letaknya proksimal terhadap kandung kemih. Keadaan ini berakibat
hidronefrosis dan dapat menyebabkan atrofi serta kehilangan fungsi salah satu ginjal tanpa
menyebabkan gagal ginjal.
Penyebab obstruksi unilateral adalah:
1. Obstruksi taut ureteropelvik-kelainan ini umum ditemukan. Pada beberapa pasien memang
terdapat obstruksi anatomik-paling sering adalah arteria renalis aberen yang menekan ureter
bagian atas-sebagian besar kasus bersifat idiopatik (hidronefrosis idiopatik). Pada pasien ini
11

didapatkan obstruksi fungsional pada taut ureteropelvik dengan lumen paten. Kelainan
kongenital pada inervasi atau otot ureteropelvik telah diduga sebagai penyebab, dan kelainan ini
dapat disembuhkan dengan pengangkatan regio tersebut dan reanatomosis secara bedah. Pada
kasus ini didapatkan obstruksi berat dan dilatasi progresif pelvis ginjal (hidronefrosis) di atas
taut ureteropelvik. Ureter masih normal. Akibat pada ginjal bervariasi. Pada pasien dengan
pelvis ginjal ekstrarenal, pelebaran masif menghasilkan massa kistik yang sangat besar pada
hilum ginjal yang dapat terlihat sebagai massa abdomen.
Pada keadaan ini, peningkatan tekanan di dalam ginjal kurang dibandingkan bila pelvis berada
intrarenal, dan distensi akan menyebabkan pembesaran sistem pelviokalise dan selanjutnya
atrofi ginjal.
2. Penyakit ureter kongenital-kelainan kongenital ureter yang lain dapat menyebabkan hidronefrosis
unilateral. Keadaan ini meliputi ureter ganda, ureter bifida, dan kelainan otot ureter yang
menyebabkan penebalan dinding ureter (megaureter). Ureterokel merupakan pelebaran kistik
bagian terminal ureter yang disebabkan oleh stenosis kongenital orifisium ureter pada dinding
kandung kemih. Ureter terminal kistik tersebut umumnya menonjol ke dalam lumen kandung
kemih. Walaupun kelainan ureter ini dapat terjadi pada masa anak, sebagian besar ditemukan
secara kebetulan atau menimbulkan gejala pada usia dewasa.
3. Penyakit ureter didapat-kelainan ini umum ditemukan dan meliputi
(1) obstruksi lumen oleh batu, bekuan darah, atau kerak papila ginjal yang nekrotik; (2)
penyebab mural, seperti striktur fibrosa dan neoplasma; (3) tekanan ekstrinsik terhadap ureter
pada fibrosis retroperitoneum dan neoplasma retroperitoneum.
Striktur fibrosa dapat terjadi setelah peradangan, tuberkulosis, atau cedera ureter yang sebagian
besar disebabkan oleh pembedahan pelvis pada kanker genokologi. Lesi neoplasma (baik primer
maupun metastasis) jarang mengenai ureter secara primer. Yang lebih sering terjadi adalah
keganasan retroperitoneum dan pelvis yang menginfiltrasi ureter pada saat menyebar. Ureter
juga dapat mengalami obstruksi pada bagian terminal yang masuk kedalam kandung kemih.
Kanker kandung kemih sering menimbulkan komplikasi hidronefrosis unilateral.

b. Hidronefrosis bilateral:
1. Di sebelah distal kandung kemih, penyebab tersering adalah hiperplasia prostat pada pria usia
lanjut. Adanya katup uretra posterior kongenital juga dapat menyebabkan hidronefrosis bilateral
pada anak usia muda. Pada pasien paraplegia dengan kandung kemih neurogenik biasanya juga
didapatkan hidronefrosis bilateral.
12

2. Penyebab yang mengenai kedua ureter mencakup fibrosis retroperitoneum dan keganasan.
3. Disfungsi otot ureter yang timbul pada masa kehamilan (mungkin akibat efek progesteron pada
otot polos) juga dapat menimbulkan hidroureter dan hidronefrosis ringan.

2.6.2 Patogenesis
Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik, sehingga tekanan
di ginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih, tekanan balik akan
mempengaruhi kedua ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi di salah satu ureter akibat adanya batu
atau kekakuan maka hanya satu ginjal saja yang rusak. Obstruksi parsial atau intermiten dapat
disebabkan oleh batu yang terbentuk di piala ginjal tetapi masuk ke ureter dan menghambatnya.
Obstruksi dapat diakibatkan oleh tumor yang menekan ureter atau berkas jaringan parut akibat
abses atau inflamasi dekat ureter dan menjepit saluran tersebut. Gangguan dapat sebagai akibat
dari bentuk abnormal di pangkal ureter atau posisi ginjal yang salah, yang menyebabkan ureter
berpilin atau kaku. Pada pria lansia , penyebab tersering adalah obstruksi uretra pada pintu
kandung kemih akibat pembesaran prostat. Hidronefrosis juga dapat terjadi pada kehamilan
akibat pembesaran uterus. Apapun penyebab dari hidronefrosis, disebabkan adanya obstruksi
baik parsial ataupun intermitten mengakibatkan terjadinya akumulasi urin di piala ginjal.
Sehinggamenyebabkan disertasi piala dan kolik ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi
ketikasalah satu ginjal sedang mengalami kerusakan bertahap maka ginjal yang lain akan
membesar secara bertahap (hipertrofi kompensatori), akibatnya fungsi renal terganggu.

2.6.3. Manifestasi Klinis


Manifestasi Klinis tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi
penyumbatan serta lamanya penyumbatan. Jika penyumbatan timbul dengan cepat
(hidronefrosis akut), biasanya akan menyebabkan kolik renalis ( nyeri yang luar biasa
di daerah antara tulang rusuk dan tulang panggul) pada sisi ginjal yang terkena. Jika
penyumbatan berkembang secara perlahan (hidronefrosis kronis), bisa tidak
menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang
pinggul).Nyeri yang hilang timbul terjadi karena pengisian sementara pelvis renalis
atau karena penyumbatan sementara ureter akibat ginjal bergeser ke bawah.Air kemih
dari 10% penderita mengandung darah. Sering ditemukan infeksi saluran kemih
13

(terdapat nanah di dalam air kemih), demam dan rasa nyeri di daerah kandung kemih
atau ginjal. Jika aliran air kemih tersumbat, bisa terbentuk batu (kalkulus).
Hidronefrosis bisa menimbulkan gejala saluran pencernaan yang samar-samar, seperti
mual, muntah dan nyeri perut. Gejala ini kadang terjadi pada penderita anak-anak
akibat cacat bawaan, dimana sambungan ureteropelvik terlalu sempit.
Jika tidak diobati, pada akhirnya hidronefrosis akan menyebabkan kerusakan ginjal
dan bisa terjadi gagal ginjal.

2.6.4 Diagnosis
a. Pemeriksaan Fisik
Gambaran fisik pasien yang menderita hidronefrosis biasanya pasien mengelih nyeri
di pinggang kanan ataupun kiri. Keluhan dirasakan makin lama semakin menjadi-jadi.
Keluhan biasanya disertai rasa mual. Biasanya pasien mengeluh air kencingnya sedikit,
bahkan tak jarang tidak keluar air kencingnya. Ada perasaan tidak tuntas setelah berkemih.
Pada saat melakukan nyeri ketok pada punggung bawah biasanya pasien mengeuh
nyeri. Pada palpasi bisa dirasakan adanya massa di daerah antara tulang rusuk dan tulang
pinggul, terutama jika ginjal sangat membesar.

b. Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium
Pemeriksaan darah bisa menunjukkan adanya kadar urea yang tinggi karena ginjal tidak
mampu membuang limbah metabolik ini.
- Beberapa prosedur digunakan utnuk mendiagnosis hidronefrosis: ·
Pada pemeriksaan USG memberikan gambaran ginjal, ureter dan kandung kemih,
urografi intravena bisa menunjukkan aliran air kemih melalui ginjal, sistoskopi bisa
melihat kandung kemih secara langsung.
Gambaran radiologis dari hidronefrosia terbagi berdasarkan gradenya. Ada 4 grade
hidronefrosis, antara lain :
a. Hidronefrosis derajat 1
Dilatasi pelvis renalis tanpa dilatasi kaliks. Kaliks berbentukblunting,alias tumpul.
b. Hidronefrosis derajat 2
Dilatasi pelvis renalis dan kaliks mayor. Kaliks berbentuk flattening, alias mendatar
14

c. Hidronefrosis derajat 3
Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor. Tanpa adanya penipisan
korteks. Kaliks berbentuk clubbing, alias menonjol
d. Hidronefrosis derajat 4
Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor. Serta adanya penipisan korteks

- Gambaran radiologis hidronefrosis dilakukan dengan Foto BNO (Buik Nier


Overzicht)-IVP dilakukan untuk memeriksa kelainan pada sistem urinarius.
 Persiapan Pasien
Hari 1
Pagi : makan bubur + telur rebus + minum air putih sebanyak mungkin.
Siang : sda
Malam : sda + tidak boleh pakai sayur dan ikan.

Hari 2 :
Pagi makan bubur, siang-sore hanya minum susu.
Jam 9 malam minum garam inggris (MgSO4 1 bungkus + 1/4 gelas air putih).
Kemudian hanya boleh minum air putih sampai jam 11 malam. Mulai jam 12
malam puasa, kurangi bicara, dan tidak merokok.

Hari 3 :
Jam 8 pagi datang ke radiologi untuk difoto.Persiapan media kontras :- Media
kontras yang digunakan adalah yang berbahan iodium, dimana jumlahnya
disesuaikan dengan berat badan pasien, yakni 1-2 cc/kg.
15

 Prosedur pemeriksaan
1. Lakukan pemeriksaan BNO posisi AP untuk melihat persiapan pasien
2. Jika persiapan pasien baik, suntikan media kontras melalui intravena 1 cc saja,
diamkan sesaat untuk melihat reaksi alergis
3. Jika tidak ada reaksi alergi, penyuntikan dapat dilanjtkan dengan memasang
alat compressive ureter terlebih dahulu di sekitar SIAS kanan dan kiri
4. Setelah itu, lakukan foto nephrogram dengan posisi AP supine 1 menit setelah
injeksi media kontras untuk melihat masuknya media kontras ke collecting
sistem, terutama pada pasien hypertensi dan anak-anak
5. Lakukan foto 5 menit post injeksi dengan posisi AP supine menggunakan
ukuran film 24x30 untuk melihat pelvicocaliseal dan ureter proksimal terisi
media kontras.
6. Foto 15 menit post injeksi dengan posisi AP supine menggunakan film 24x30
mencakup gambaran pelviocalyseal, ureter, dan bladder mulai terisi media
kontras.
7. Foto 30 menit post injeksi dengan posisi AP supine melihat gambaran bladder
terisi penuh media kontras. Film yang digunkaan ukuran 30 x 40
8. Yang terakhir lakukan foto post void (habis kencing) dengan posisi AP supine
atau erect untuk melihat kelainan kecil yang mungkin terjadi di daerah
bladder. Dengan posisi erect dapat menunjukkan adanya ren mobile
(pergerakan ginjal yang tidak normal) pada kasus post hematuri.
 Kiteria gambar
1. Foto BNO-IVP 5 menit
16

2. Foto BNO-IVP 15 menit

3. Foto BNO-IVP 30 menit


17

4. Foto BNO-IVP 60 menit

5. Foto BNO-IVP Post Void

Penilaian Foto BNO Normal :


- Tidak tampak bayangan batu radiopaque pada lintasan tractus urinarius
- Psoas line kiri dan kanan intak
- Pre-peritoneal fat line kiri dan kanan intak
- Tulang-tulang tervisualisasi intak
18

Penilaian IVP Normal :


- Fungsi sekresi dan ekskresi kedua ginjal dalam batas normal
- Pelviocalyseal sistem kedua ginjal baik dengan ujung kedua calyx cupping
- Kontras mengisi ureter dextra/sinistra, tidak tampak tanda-tanda obstruksi
- Vesica urinaria terisi kontras dengan permukaan yang reguler, indentasi (-), filling defect
(-), Additional Shadow (-)

Pemeriksaan USG
Grade 1

Grade 2
19

Grade 3
20

Grade 4

2.6.5 Diagnosis Banding


Gambaran klinis yang sama seperti nyeri pada pinggang bawah dan mual dapat menjadikan
Urolithiasis dapat menjadi diagnosis banding dari hidronefrosis.

2.6.6 Penatalaksanaan
Tujuannya adalah untuk mengaktivasi dan memperbaiki penyebab darihi dronefrosis
(obstruksi, infeksi) dan untuk mempertahankan dan melindungi fungsi ginjal.Untuk mengurangi
obstruksi urin akan dialihkan melalui tindakan nefrostomi atau tipe disertasi lainnya. Infeksi
ditangani dengan agen anti mikrobial karena sisa urin dalam kaliks akan menyebabkan infeksi dan
pielonefritis. Pasien disiapkan untuk pembedahan mengangkat lesi obstrukstif (batu, tumor,
obstruksi ureter). Jika salah satufungsi ginjal rusak parah dan hancur maka nefrektomi
(pengangkatan ginjal) dapat dilakukan.
Pada hidronefrosis akut:
- Jika fungsi ginjal telah menurun, infeksi menetap atau nyeri yang hebat, maka air kemih
yang terkumpul diatas penyumbatan segera dikeluarkan (biasanya melalui sebuah jarum
yang dimasukkan melalui kulit).
- Jika terjadi penyumbatan total, infeksi yang serius atau terdapat batu, maka bisa dipasang
kateter pada pelvis renalis untuk sementara waktu.
21

Hidronefrosis kronis diatasi dengan mengobati penyebab dan mengurangi penyumbatan air
kemih. Ureter yang menyempit atau abnormal bisa diangkat melalui pembedahan dan ujung-
ujungnya disambungkan kembali.
Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk membebaskan ureter dari jaringan fibrosa. Jika
sambungan ureter dan kandung kemih tersumbat, maka dilakukan pembedahan untuk melepaskan
ureter dan menyambungkannya kembali di sisi kandung kemih yang berbeda. Jika uretra
tersumbat, maka pengobatannya meliputi:–terapi hormonal untuk kanker prostat - pembedahan -
melebarkan uretra dengan dilator.
Berikut adalah jenis dan langkah nefrostomi
A. Drainase Nefrostomi
Selang nefrostomi dimasukkan langsung ke dalam ginjal untuk pengalihan aliran urin
temporer atau permanen secara percutan atau melalui luka insisi. Sebuah selang tunggal
atau selang nefrostomi sirkuler atau U-loop yang dapat tertahan sendiri dapat digunakan.
Drainase nefrostomi diperlukan utuk drainase cairan dari ginjal sesudah pembedahan,
memelihara atau memulihkan drainase dan memintas obstruksi dalam ureter atau traktus
urinarius inferior. Selang nefrostomi dihubungkan ke sebuah system drainase tertutup
atau alat uostomi.

B. Nefrostomi Perkutaneus
Pemasangan sebuah selang melalui kulit ke dalam pelvis ginjal. Tindakan ini dilakukan
untuk drainase eksternal urin dari ureter yang tersumbat, membuat suatu jalur
pemasangan stent ureter, menghancurkan batu ginjal, melebarkan striktur, menutup
fistula, memberikan obat, memungkinkan penyisipan alat biopsy bentuk sikat dan
nefroskop atau untuk melakukan tindakan bedah tertentu. Daerah kulit yang akan dinsisi
dipersiapkan serta dianestesi, dan pasien diminta untuk menarik nafas serta menahannya
pada saat sebuah jarum spinal ditusukkan ke dalam pelvis ginjal. Urin diaspirasi untuk
pemeriksaan kultur dan media kontras dapat disuntikkan ke dalam system
pielokaliks.Seutas kawat pemandu kateter angografi disisipkan lewat jarum tersebut ke
dalam ginjal. Jarum dicabut dan saluran dilebarkan dengan melewatkan selang atau
kawat pemandu. Selang nefrostomi dimasukkan dan diatur posisinya dalam ginjal atau
ureter, difiksasi dengan jahitan kulit serta dihubungkan dengan system drainase tertutup.
22

2.6.7 Komplikasi
Penyakit hidronefrosis dapat menyebabkan komplikasi seperti batu ginjal, sepsis,
hipertensi renovskuler, nefropati obstruktif, infeksi, pielonefritis, ileus paralitik

2.6.8 Prognosis
Pembedahan pada hidronefrosis akut biasanya berhasil jika infeksi dapat dikendalikan dan
ginjal berfungsi dengan baik.

2.7. Nefrolitiasis
Nefrolitiasis adalah kondisi medis yang ditandai dengan massa kecil dari kristal di
dalam ginjal yang terbentuk dari mineral atau garam asam.

Gambar. Batu Ginjal


23

2.7.1 Etiologi
Penyebab pasti pemberntukan batu saluran kemih belum diketahui, oleh karena banyak faktor
yang dilibatkannya, sampai sekarang banyak teori dan faktor yang berpengaruh terhadap
pembentukan batu saluran kemih, yaitu :
a. Teori fisikokimiawi
Prinsip dari teori ini adalah terbentuknya batu saluran kemih karena adanya proses kimia,
fisika, maupun ganbungan fisikokimiawi. Dari hal tersebut diketahui bahwa terjadinya
batu sangat dipengaruhi oleh konsentrasi bahan pembentuk batu di saluran kemih.
Berdasarkan faktor fisiko kimiawi dikenal teori pembentukan batu, yaitu:
a.1 Teori Supersaturasi
Supersaturasi air kemih dengan garam-garam pembentuk batu merupakan dasar terpenting dan
merupakan syarat terjadinya pengendapan. Apabila kelarutan suatu produk tinggi dibandingkan
titik endapannya maka terjadi supersaturasi sehingga menimbulkan terbentuknya kristal dan
pada akhirnya akan terbentuk batu. Supersaturasi dan kristalisasi dapat terjadi apabila ada
penambahan suatu bahan yang dapat mengkristal di dalam air dengan pH dan suhu tertentu
yang suatu saat akan terjadi kejenuhan dan terbentuklah kristal. Tingkat saturasi dalam air kemih
tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah bahan pembentuk BSK yang larut, tetapi juga oleh kekuatan
ion, pembentukan kompleks dan pH air kemih.
a.2 Teori Matrik
Di dalam air kemih terdapat protein yang berasal dari pemecahan mitokondria sel tubulus renalis
yang berbentuk laba-laba. Kristal batu oksalat maupun kalsium fosfat akan menempel pada
anyaman tersebut dan berada di sela-sela anyaman sehingga terbentuk batu. Benang seperti
labalaba terdiri dari protein 65%, heksana 10%, heksosamin 2-5% sisanya air. Pada benang
menempel kristal batu yang seiring waktu batu akan
semakin membesar. Matriks tersebut merupakan bahan yang merangsang timbulnya batu.
a.3 Teori Tidak Adanya Inhibitor
Dikenal 2 jenis inhibitor yaitu organik dan anorganik. Pada inhibitor organik terdapat bahan yang
sering terdapat dalam proses penghambat terjadinya batu yaitu asam sitrat, nefrokalsin, dan
tamma-horsefall glikoprotein sedangkan yang jarang terdapat adalah gliko-samin glikans dan
uropontin. Pada inhibitor anorganik terdapat bahan pirofosfat dan Zinc. Inhibitor yang paling
kuat adalah sitrat, karena sitrat akan bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat yang
dapat larut dalam air. Inhibitor mencegah terbentuknya kristal kalsium oksalat dan mencegah
perlengketan kristal kalsium oksalat pada membaran tubulus. Sitrat terdapat pada hampir semua
buah-buahan tetapi kadar tertinggi pada jeruk. Hal tersebut yang dapat menjelaskan mengapa
24

pada sebagian individu terjadi pembentukan BSK, sedangkan pada individu lain tidak, meskipun
sama-sama terjadi supersanturasi.
a.4 Teori Epitaksi
Pada teori ini dikatakan bahwa kristal dapat menempel pada kristal lain yang berbeda sehingga
akan cepat membesar dan menjadi batu campuran. Keadaan ini disebut nukleasi heterogen dan
merupakan kasus yang paling sering yaitu kristal kalsium oksalat yang menempel pada kristal
asam urat yang ada.
a.5 Teori Kombinasi
Banyak ahli berpendapat bahwa BSK terbentuk berdasarkan campuran dari beberapa teori yang
ada.
a.6 Teori Infeksi
Teori terbentuknya BSK juga dapat terjadi karena adanya infeksi dari kuman tertentu. Pengaruh
infeksi pada pembentukan BSK adalah teori terbentuknya batu survit dipengaruhi oleh pH air
kemih > 7 dan terjadinya reaksi sintesis ammonium dengan molekul magnesium dan fosfat
sehingga terbentuk magnesium ammonium fosfat (batu survit) misalnya saja pada bakteri
pemecah urea yang menghasilkan urease. Bakteri yang menghasilkan urease yaitu Proteus spp,
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus. Teori pengaruh infeksi
lainnya adalah teori nano bakteria dimana penyebab pembentukan BSK adalah bakteri
berukuran kecil dengan diameter 50-200 nanometer yang hidup dalam darah, ginjal dan air
kemih. Bakteri ini tergolong gram negatif dan sensitif terhadap tetrasiklin. Dimana dinding pada
bakteri tersebut dapat mengeras membentuk cangkang kalsium kristal karbonat apatit dan
membentuk inti batu, kemudian kristal kalsium oksalat akan menempel yang lama kelamaan
akan membesar. Dilaporkan bahwa 90% penderita BSK mengandung nano bakteria.
b. Teori Vaskuler
Pada penderita BSK sering didapat penyakit hipertensi dan kadar kolesterol darah yang tinggi,
maka Stoller mengajukan teori vaskuler untuk terjadinya BSK, yaitu :
b.1 Hipertensi
Pada penderita hipertensi 83% mempunyai perkapuran ginjal sedangkan pada orang yang tidak
hipertensi yang mempunyai perkapuran ginjal sebanyak 52%. Hal ini disebabkan aliran darah
pada papilla ginjal berbelok 180˚ dan aliran darah berubah dari aliran lamine r menjadi
turbulensi. Pada penderita hipertensi aliran turbelen tersebut berakibat terjadinya pengendapan
ion-ion kalsium papilla (Ranall’s plaque) disebut juga perkapuran ginjal yang dapat berubah
menjadi batu.
b.2 Kolesterol
25

Adanya kadar kolesterol yang tinggi dalam darah akan disekresi melalui glomerulus ginjal dan
tercampur didalam air kemih. Adanya butiran kolesterol tersebut akan merangsang agregasi
dengan kristal kalsium oksalat dan kalsium fosfat sehingga terbentuk batu yang bermanifestasi
klinis (teori epitaksi)
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran
urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain
yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara epidemiologik terdapat beberapa faktor
yang mempermudah terbentuknya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor
tersebut adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri dan
faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya.

Faktor intrinsik antara lain :

1. Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.


2. Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
3. Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien
perempuan

Faktor ekstrinsik diantaranya adalah :

1. Geografis : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu


saluran kemih yang lebih tinggi dari pada daerah lain sehingga dikenal
sebagai daerah stonebelt.
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang
dikonsumsi.
4. Diet : Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu.
5. Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau
kurang aktifitas atau sedentary life.

2.7.2 Patofisiologi
Nefrolitiasis merupakan kristalisasi dari mineral dan matriks seperti pus darah,
jaringan yang tidak vital dan tumor. Komposisi dari batu ginjal bervariasi, kira-kira tiga
perempat dari batu adalah kalsium, fosfat, asam urin dan cistien.peningkatan konsentrasi
larutan akibat dari intake yang rendah dan juga peningkatan bahan-bahan organic akibat infeksi
26

saluran kemih atau urin stasis sehingga membuat tempat untuk pembentukan batu. Ditambah
dengan adanya infeksi meningkatkan kebasaan urin oleh produksi ammonium yang berakibat
presipitasi kalsium dan magnesium pospat. Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang kemudian dijadikan dalam beberapa teori :
1. Teori supersaturasi
Tingkat kejenuhan komponen-komponen pembentuk batu ginjal mendukung terjadinya
kristalisasi. Kristal yang banyak menetap menyebabkan terjadinya agresi kristal kemudian
timbul menjadi batu.
2. Teori matriks
Matriks merupakan mukoprotein yang terdiri dari 65% protein, 10% heksose, 3-5
heksosamin dan 10% air. Adapun matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal
sehingga menjadi batu.
3. Teori kurang inhibitor
Pada kondisi normal kalsium dan fosfat hadir dalam jumlah yang melampui daya kelarutan,
sehingga diperlukan zat penghambat pengendapat. Phospat mukopolisakarida dan dipospat
merupakan penghambatan pembentukan kristal. Bila terjadi kekurangan zat ini maka akan
mudah terjadi pengendapan.
4. Teori epistaxi
Merupakan pembentukan baru oleh beberapa zat secra- bersama-sama, salauh satu batu
merupakan inti dari batu yang merupakan pembentuk pada lapisan luarnya. Contohnya
ekskresi asam urayt yanga berlebihan dalam urin akan mendukung pembentukan batu
kalsium dengan bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium.
5. Teori kombinasi
Batu terbentuk karena kombinasi dari berbagai macam teori di atas.

Pembentukan batu membutuhkan supersaturasi dimana supersaturasi ini tergantung dari


PH urine, kekuatan ion, konsentrasi cairan dan pembentukan kompleks. Terdapat beberapa
jenis batu, di antaranya :
a. Batu kalsium
Batu jenis ini sering di temukan. Bentuknya besar dengan permukaan halus, dapat
bercampur antara kalsium dengan fosfat. Batu kalsium sering di jumpai pada orang yang
mempunyai kadar vitamin D berlebihan atau gangguan kelenjar paratiroid. Orang
27

menderita kangker, struke, atau penyakit sarkoidisis juga dapat menderita batu kalsium.
Batu kalsium dapat di sebabkan oleh:
1) Hiperkalsiuria abortif:
Gangguan metabolisme yang menyebabkan terjadinya absorbsi khusus yang
berlebihan juga pengaruh vitamin D dan hiperparatiroid.
2) Hiperkal siuria renalis:kebocoran pada ginjal
b. Batu oksalat
Batu oksalat dapat disebabkan oleh
1) Primer autosomal resesif
2) Ingesti-inhalasi: Vitamin C, ethylenglicol, methoxyflurane, anestesi.
3) Hiperoksaloria: inflamasi saluran cerna, reseksi usus halus, by pass jejenoikal,
sindrom malabsorbsi
c. Batu asam urat
Permukaanya halus, berwarna coklat lunak. Batu ini dapat disebabkan oleh:
1) Makanan yang banyak mengandung purin
2) Pemberian sitostatik pada pengobatan neoplasma
3) Dehidrasi kronis
4) Obat: tiazid, lazik, salisilat
d. Batu sturvit
Batu ini biasanya berbentuk tanduk rusa. Biasanya mengacu pada riwayat infeksi,
terbentuk pada urin yang kaya ammonia alkali persisten akibat UTI kronik. Batu sistin
terjadi terutama pada beberapa pasien yang mengalami defek absorbsi sistin.
e. Batu Sistin
Berbentuk kristal kekuningan timbul akibat tingginya kadar sistin dalam urin.keadan ini
terjadi pada penyakit sistinuria. Kelainan herediter yang resesif autosomal dari
pengangkutan asam amino dimembran batas sikat tubulus proksimal meliputi sistim,
arginin, ornitin, sitrulin dan lisin.

2.7.3 Gejala Klinis


28

Batu ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Umumnya
gejala berupa obstruksi aliran kemih dan infeksi. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan pada
penderita batu ginjal antara lain :
1. Nyeri dan pegal di daerah pinggang : Lokasi nyeri tergantung dari dimana batu itu berada.
Bila pada piala ginjal rasa nyeri adalah akibat dari hidronefrosis yang rasanya lebih tumpul dan
sifatnya konstan. Terutama timbul pada costovertebral. (Barbara. 1996:324)
2. Hematuria : Darah dari ginjal berwarna coklat tua, dapat terjadi karena adanya trauma yang
disebabkan oleh adanya batu atau terjadi kolik (Ilmu kesehatan anak, 2002:840)
3. Infeksi : Batu dapat mengakibatkan gejala infeksi traktus urinarius maupun infeksi asistemik
yang dapat menyebabkan disfungsi ginjal yang progresif.
4. Kencing panas dan nyeri
5. Adanya nyeri tekan pada daerah ginjal
6. Pernah mengeluarkan batu kecil ketika kencing

2.7.4 Diagnosis
Selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosis, penyakit
batu ginjal perlu didukung dengan pemeriksaan radiologik, laboratorium, dan penunjang lain
untuk menentukan kemungkinan adanya obstruksi saluran kemih, infeksi dan gangguan faal
ginjal.
A. Anamnesis
Anamnesa harus dilakukan secara menyeluruh. Keluhan nyeri harus dikejar mengenai
onset kejadian, karakteristik nyeri, penyebaran nyeri, aktivitas yang dapat membuat
bertambahnya nyeri ataupun berkurangnya nyeri, riwayat muntah, gross hematuria, dan
riwayat nyeri yang sama sebelumnya. Penderita dengan riwayat batu sebelumnya sering
mempunyai tipe nyeri yang sama.

B. Pemeriksaan Fisik
 Penderita dengan keluhan nyeri kolik hebat, dapat disertai takikardi, berkeringat, dan
nausea.
 Masa pada abdomen dapat dipalpasi pada penderita dengan obstruksi berat atau dengan
hidronefrosis.
29

 Bisa didapatkan nyeri ketok pada daerah kostovertebra, tanda gagal ginjal dan retensi
urin.
 Demam, hipertensi, dan vasodilatasi kutaneus dapat ditemukan pada pasien dengan
urosepsis.

C. Pemeriksaan penunjang
Radiologi. Secara radiologi, batu dapat radiopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini
berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga batu dari jenis apa yang
ditemukan. Radiolusen umumnya adalah jenis batu asam urat murni.
Pada yang radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga
adanya batu ginjal bila diambil foto dua arah. Pada keadaan tertentu terkadang batu terletak di
depan bayangan tulang, sehingga dapat luput dari penglihatan. Oleh karena itu foto polos sering
perlu ditambah foto pielografi intravena (PIV/IVP). Pada batu radiolusen, foto dengan bantuan
kontras akan menyebabkan defek pengisian (filling defect) di tempat batu berada. Yang
menyulitkan adalah bila ginjal yang mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini
tidak muncul. Dalam hal ini perludilakukan pielografi retrograd.

Ultrasonografi (USG) dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan


IVP, yaitu pada keadaan-keadaan; alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan
pada wanita yang sedang hamil . Pemeriksaan USG dapat untuk melihat semua jenis batu,
selain itu dapat ditentukan ruang/ lumen saluran kemih. Pemeriksaan ini juga dipakai unutk
menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk mencegah tertinggalnya batu.

Laboratorium. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih


yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan
menentukan penyebab batu.

2.7.5 Tatalaksana

1. Terapi medis dan simtomatik


30

Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan


batu. Terapi simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain itu
dapat diberikan minum yang berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik.

2. Litotripsi
Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi
perkutan untuk membawa tranduser melalui sonde kebatu yang ada di
ginjal. Cara ini disebut nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang
paling sering dilakukan adalah ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock
Wave Lithotripsy) yang adalah tindakan memecahkan batu ginjal dari
luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut.

3. Tindakan bedah

Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor, alat


gelombang kejut, atau bila cara non-bedah tidak berhasil.
31

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Penderita


Nama : Tn. Jaman
Usia : 41 th
Jenis Kelamin : Laki - laki
Agama : Islam
Alamat : Kradenan RT.05 RW.03 Grobogan
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA
Status : Menikah
Suku Bangsa : Jawa (WNI)
Ruang Rawat : Flamboyan
No. RM : 00112039
Tanggal Masuk : 12 September 2016

3.2. Anamnesa
Keluhan Utama: nyeri pinggang sebelah kanan bawah

Riwayat Penyakit Sekarang


 Onset : 7 hari sebelum masuk Rumah Sakit
 Lokasi : Pinggang sebelah kanan bawah
 Kualitas : Nyeri dirasakan hilang timbul kurang lebih 1 jam setiap serangan
 Kuantitas : Nyeri dijalarkan sampai ke perut kanan bawah
 Faktor yang memperberat : bertambah nyeri jika beraktivitas
 Faktor yang memperingan : saat penderita berbaring
32

 Gejala Penyerta : Demam (-), BAK kemerahan (-) , Rasa Panas Pada
Perut Bawah Saat BAK (-), mengejan saat BAK (-), mual(-), muntah(-),
 Kronologi :
7 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh nyeri pinggang
sebelah kanan, nyeri dirasakan hilang timbul kurang lebih 1 jam setiap kali serangan
serta nyeri menjalar sampai ke perut kanan bawah . Nyeri semakin hari semakin
bertambah sehingga penderita mempunyai keterbatasan dalam menjalankan
aktivitasnya, kemudian penderita memeriksakan diri ke IGD RSUD purwodadi dan
disarankan untuk dirawat inap.

Riwayat Penyakit Dahulu :


 Riwayat sakit dengan keluhan serupa (+)  pada pinggang kiri
 Riwayat operasi sebelumnya (-)
 Riwayat nyeri dada/penyakit jantung (-)
 Riwayat penyakit gula (-)
 Riwayat hipertensi (-)
 Riwayat alergi obat (-)
 Riwayat Trauma (-)
 Riwayat kencing batu (+)

Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat anggota keluarga pernah atau sedang


menderita keluhan serupa disangkal
Biaya RS ditanggung BPJS

3.3. Pemeriksaan Fisik


a. Umum : Composmentis
b. Kulit : Gatal (-), luka (-), sikatrik (-), ptechie (-)
c. Mata : Konjungtiva Anemis (-/-), sklera Ikterik (-/-), pandangan kabur ( -)
d. Telinga : Discharge (-)
e. Hidung : Epistaksis (-), sekret (-)
f. Mulut : Bibir kering dan berdarah (-), stomatitis (-), perdarahan gingiva (-)
33

g. Tenggorokan : Nyeri telan (-), pembesaran KGB (-)


h. Dada
Cor : BJ I dan BJ II reguler, gallop (-)
Pulmo : Vesikuler (+), rhonki (-), wheezing (-)
i. Abdomen
Inspeksi : Supel, datar
Auskultasi : Peristaltik (+)  15 kali permenit
Perkusi : Timpani (+), pembesaran hepar (-), pekak alih pekak sisi (-)
Palpasi : Nyeri tekan regio iliaca dextra (+), nyeri ketok ginjal dextra (+)
undulasi (-)
j. S. Neuro dan Muskuloskletal : paresis (-), nyeri sendi (-)
k. Ekstremitas : akral dingin (-), oedem (-), ptekie (-)

Status Generalis
Kesan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Tanda- tanda vital
Tekanan darah : 143/90 mmHg
Nadi : 82 x/menit,
Frekuensi nafas : 22 x/menit
Suhu : 36,3 °C

3.4. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan tanggal 12 September 2016
Kimia Klinik
Hemoglobin : 15,0 Gr/dL
Leukosit : 9700 /mm3
Trombosit : 230.000/mm3
Eritrosit : 521.000/mm3
GDS : 129 mg/dL
Ureum : 17,9 mg/dL
Kreatinin : 1,4 U/L
As urat : 4,9 mg/dL
34

Pemeriksaan tanggal 15 September 2015


Urine Rutin
Protein : Negatif
Reduksi : Negatif
Epitel Gepeng : 2-3
Eritrosit : 4-6/Lpk
Bakteri : Positif
pH : 6

Pemeriksaan Tanggal 15 September 2016


Pemeriksaan Radiologi (Pemeriksaan USG)
35
36
37

Kesan : Hidronefrosis dextra derajat sedang


Hidronefrosis sinistra derajat ringan ec. Nefrolithiasis sinistra

Kanan Kiri
Ukuran Normal Normal
Irreguleritas - -
Parenkim Normal Normal
Hidronefrosis Derajat Derajat
sedang ringan
Batu - +
(multiple)
SOL - -
38

BAB IV
PEMBAHASAN

Hidronefrosis merupakan penggembungan ginjal akibat tekanan balik terhadap ginjal karena
aliran air kemih tersumbat. Dalam keadaan normal, air kemih mengalir dari ginjal dengan tekanan
yang sangat rendah. Jika aliran air kemih tersumbat, air kemih akan mengalir kembali ke dalam
tabung-tabung kecil di dalam ginjal (tubulus renalis) dan ke dalam daerah pusat pengumpulan air
kemih (pelvis renalis). Hal ini akan menyebabkan ginjal menggembung dan menekan jaringan ginjal
yang rapuh. Pada akhinya, tekanan hidronefrosis yang menetap dan berat akan merusak jaringan
ginjal sehingga secara perlahan ginjal akan kehilangan fungsinya.
Oleh sebab itu untuk mengatasi dan untuk mencegah komplikasi yang ditimbulkan dari
hidronefrosis pelu dilakukan penatalaksanaan yang spesifik, yaitu untuk mengidentifikasi dan
memperbaiki penyebab obstruksi, untuk menangani infeksi, dan untuk mempertahankan serta
melindungi fungsi renal.
Pada kasus ini seorang laki-laki mengeluh pinggang bagian kanan bawah mengalami
nyeri luar biasa sifatnya hilang timbul kurang lebih 1 jam setiap kali serangan serta nyeri menjalar
sampai ke perut kanan bawah . Nyeri semakin hari semakin bertambah sehingga penderita
mempunyai keterbatasan dalam menjalankan aktivitasnya, kemudian penderita memeriksakan diri ke
IGD RSUD purwodadi.
Berdasarkan riwayat dan keluhan pasien maka dilakukan pemeriksaan USG. Pada
pemeriksaan USG didapatkan hasil Hidronefrosis dextra derajat sedang, hidronefrosis sinistra
derajat ringan ec. Nefrolithiasis.
Keadaaan pasien pada kasus ini ditemukan setelah keadaan umum pasien diperbaiki dan
diobservasi selama 3 hari semakin membaik. Paseien merasakan nyeri di pinggang sudah tidak
terasa. Sebelumnya pasien mengeluhkan nyeri luar biasa pada pinggangnya hingga pasien
mengalami hendaya untuk melakukan aktifitas. Pasien yang merupakan mempunyai kebiasaan
menahan kencing, dan duduk dalam waktu yang lama. Dari frekuensi minum air putih dapat
dibilang sangat kurang, karena pasien lebih suka mengkonsumsi kopi dalam kesehariannya.
BAB V
KESIMPULAN

Hidronefrosis biasanya terjadi karena adanya obstruksi pada aliran normal urine
menyebabkan urine mengalir balik, sehingga tekanan di ginjal meningkat. Pada kasus pasien
ini Hidronefrosis dikarenakan pasien sering menahan untuk buang air kecil dan duduk dalam
waktu yang lama yang dapat menyebabkan obstruksi intestinal secara parsial atau komplit
dan menimbulkan rasa sakit pada pinggang. Diagnosis penyakit didasarkan pada riwayat
klinis dari 7 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh nyeri pinggang
sebelah kiri. Pada pemeriksaan USG didapatkan hasil Hidronefrosis dextra derajat sedang,
hidronefrosis sinistra derajat ringan ec. nefrolithiasis. Setelah diobservasi pasien mengalami
perbaikan kondisi. Paseien merasakan mulai berkurang nyeri di pinggang.

39
40

DAFTAR PUSTAKA

Dejong, Sjamsuhidrajat, 2004, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi kedua. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Ekayuda,Iwan, 2005, Radiologi Diagnostik Edisi kedua. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI
Rodolfo, F Rivera, Renal Ultrasound in Acute Kidney Disease, Division of
Nefrology, San Gerardo Hospital, Monza, Italy, ebook :
http://www.esciencecentral.org/ebooks/ultrasound-approach/renal-
ultrasound-in-acute-kidney-disease.php
Purnomo, B. Basuki, Dasar-dasar Urologi , cetakan I, CV. Infomedika, jakarta,
2002 Wani,Imtiaz, Nazir,Mir, 2010, Historical Review of Intestinal
Ascariasis: Surgical History, Global Journal of Medical Research : Vol.10
Issue 3 pg 2
Wim de Jong dan Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC,
Jakarta, 1998
Kidney Stones in Adults” didapat dari
http://uptodate.com/patientinformation:kidneystonesin