You are on page 1of 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Senyawa hidrokarbon banyak kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Senyawa hidrokarbon ini terdapat luas di alam dan juga saat ini dapat disintesis.

Berdasarkan asal katanya yaitu hydro dan carbon dapat dikatakan bahwa elemen inilah

yang menjadi penyusun utama senyawa hidrokarbon ini. Senyawa hidrokarbon ini

terdiri atas tiga kelompok utama yaitu hidrokarbon jenuh, tak jenuh dan aromatik.

Pembagian ini didasarkan atas jenis-jenis ikatan antara karbon (Ridwan, 2014).

Senyawa senyawa hidrokarbon ini meskipun hanya tersusun atas 2 elemen

dasar yaitu hidrogen dan karbon namun memiliki banyak anggota senyawa yang

mempunyai gugus ikatan tertentu. Setiap kelompok senyawa senyawa ini memiliki

sifat dan karakteristik tersendiri yng menarik untuk dipelajari (Ridwan, 2014)

Beberapa contoh senyawa hidrokarbon yang sering dijumpai dalam kehidupan

sehari-hari yaitu minyak bumi. Minyak bumi merupakan sumber energi yang paling

banyak digunakan dalam aktivitas kehidupan manusia meskipun jumlahnya saat ini

semakin terbatas di alam. Seperti yang diketahui bahwa minyak bumi ini telah diolah

menjadi beberapa fraksi sehingga dapat digunakan dengan memanfaatkan perbedaan

titik didihnya dan juga dengan memanfaatkan bentuk rantai karbon yang dimilikinya.

Setiap fraksi minyak bumi tersebut mempunyai kegunaan tersendiri (Ridwan, 2014).

senyawa hidrokarbon ini masuk dalam ruang lingkup kimia organik karena

seperti telah diuraikan di atas tadi bahwa senyawa hidrokarbon ini tersusun atas

senyawa organik berupa hidrogen dan karbon. Sehingga praktikum ini dilakukan untuk

menambah pengetahuan mahasiswa.


I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

I.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah membedakan antara hidrokarbon jenuh

dengan tidak jenuh dan senyawa aromatik.

I.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah :

1. Untuk mengetahui kelarutan suatu hidrokarbon dalam air dan dietil eter.

2. Untuk mengetahui reaksi antara hidrokarbon dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4.

I.3 Prinsip Percobaan

Membandingkan kelarutan suatu bahan yaitu n-heksana, sikloheksana, benzena,

etil asetoasetat, toluen, parafin, dalam pelarut polar dan nonpolar seperti air, dietil eter,

KMnO4 0,1 M, Br2/ CCl4 5 %. Serta mengetahui reaksi oksidasi dan adisi yang terjadi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Senyawa organik yang paling sederhana, terbentuk dari dua elemen yakni

hidrogen dan karbon. Senyawa hidrokarbon ini selain terdapat luas di alam juga dapat

dibuat (disinteis) di laboratorium. Secara umum senyawa hidrokarbon ini terbagi atas

tiga kelompok utama yaitu; hidrokarbon jenuh (saturated), tak jenuh (unsaturated) dan

aromatik. Pembagian ini didasarkan atas pada jenis ikatan antara karbon karbon.

Hidrokarbon jenuh hanya mengandung ikatan ikatan tunggal karbon-karbon,

hidrokarbon jenuh mengandung karbon-karbon ganda dua atau ganda tiga, sedangkan

hidrokarbon aromatik adalah kelompok senyawa siklik tak jenuh namun sifatnya

berbeda dengan alkena. Sifat dari senyawa ini umumnya dicirikan oleh benzena (Tim

Dosen Kimia, 2007).

2.1 Hidrokarbon Jenuh

Hidrokarbon jenuh terdiri atas dua kelompok utama yaitu alkana dan

sikloalkana. Rumus umum senyawa alkana adalah CnH 2 n  2 dimana n menyatakan

jumlah atom karbon. Alkana yang paling sederhana adalah metana dengan formula

CH4. Metana ini mempunyai sifat tidak berwarna dan tidak berbau, sangat sukar larut

dalam air, mudah larut dalam alkohol. Titik didih dan titik leburnya rendah, dibawah

0 oC. Sifat kimia senyawa ini amat stabil, tidak dapat bereaksi dengan asam, basa dan

pereaksi pereaksi yang umum terdapat di laboratorium (Tim Dosen Kimia, 2007).

Alkana merupakan hirokarbon alifatik yang masing-masing atom karbonnya

terikat pada empat atom lain. Alkana dikenal juga sebagai parafin atau hidrokarbon

jenuh.selain itu dikenal juga senyawa sikloalkana. Sikloalkana ini digunakan untuk
melukiskan hidrokarbon alisiklik jenuh. Alkana monosiklik mempunyai rumus empirik

CnH2n (Pine dkk, 1998).

Menurut Pine dkk., (1998), reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa alkana

adalah :

1. Oksidasi. Reaksi oksidsi sempurna dari alkana adalah gas karbondioksida dan

sejunlah air dan sejumlah energi.

2. Reaksi subsitusi yaitu reaksi penggantian suatu unsur oleh unsur lain yang

terikat pada senyawa alkana.

3. Reaksi sulfonasi yaitu reaksi yang melibatkan asam sulfat, dimana daapt

berlangsung jika alkana tersebut memiliki atom karbon tertier.

4. Reaksi nitrasi yaitu reaksi yang melibatkan senyawa nitrat dimnaa reaksi ini

dapat berjalan dengan mudah jika terdapat karbon tertier.

5. Reaksi pirolisis atau cracking dalah proses pemecahan alkana dengan jalan

pemanasan pada temperatur tinggi sekitar 1000 oC tanpa oksigen akan dihasilkan

alkana dengan rantai karbon lebih pendek.

2.2 Hirokarbon Tidak Jenuh

Pada senyawa hidrokarbon tak jenuh dikenal alkena (CnH2n) dan alkuna (CnH2n-

2). Alkena adalah suatu hidrokarbon yang mengandung satu atau lebih ikatan rangkap

dua karbon, sedangkan alkuna adalah hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap

tiga karbon. Kedua kelompok senyawa ini disebut hidrokarbon tidak jenuh karena

memiliki atom hidrogen perkarbon lebih sedikit dibanding dengan alkana (C nH2n+2 )

(Tim dosen Kimia, 2007).

Alkana sesungguhnya dapat diperoleh dengan jalan penambahan sejumlah

hidrogen terhadap alkena dan alkuna. Sering pula ditemukan suatu hidrokarbon

memiliki dua ikatan rangkap dua, senyawa hidrokarbon yang demikian itu dikenal
sebagai alkadiena atau diena. Dikenal pula adanya triena, tetraena dan seterusnya

hingga poliena (Tim dosen Kimia, 2007).

2.2.1 Alkena

Sifat dari alkena hampir sama dengan sifat alkana. Perbedaannya dengan

alkana karena adanya ikatan π yang kurang stabil menyebabkan alkena dengan jumlah

atom karbon yang sama dengan alkana baik titik didih maupun titik leburnya lebih

kecil dari alkana (Besari, 1982).

Sebagaimana alkana, alkena yang memiliki percabangan akan mengalami

penurunan sedikit titik didih. Meskipun alkena adalah non polar sedikit lebih larut

dalam air dibandingkan alkana pasangannya. Keadaan ini dimungkinkan karena

elektron  dan alkena yang agak terbuka itu tertarik oleh hidrogen dari air yang

bermuatan positif parsial. Alkena dengan empat atom karbon atau kurang, berwujud

gas dan tidak berwarna, sedangkan senyawa yang memiliki lima atom karbon atau

homolog yang lebih tinggi merupakan cairan yang mudah menguap (Tim dosen Kimia,

2007).

Pada alkena ada beberapa reaksi yang terjadi yaitu :

1. Reaksi adisi.

Reaksi ini merupakan reaksi yang spesifik berbeda dengan reaki subsitusi yang

terjadi pada alkana. Pada reaksi ini, ikatan  pada alkena dipecah sedangkan ikatan

 tidak dipecahkan. Pemecahan ikatan  disertai oleh pembentukan dua ikatan 


yang lebih stabil.

2. Reaksi hidroborasi alkena

Reaksi tersebut sangat berguna dalm sintesis, terutama sintesis alkohol dari

alkena. Adisi terjadi sedemikian rupa sehingga boron beradisi pada karbon yang

subsitusinya paling sedikit.


R – CH = CH2 + H – B R – CH2– CH2– B

3. Reaksi oksidasi alkena

Jika dibandingkan dengan alkana, maka alkena lebih mudah dioksidasi oleh

oksidator–oksidator. Oksidator tersebut menyerang elektron  pada ikatan ganda

dua. Alkena bereaksi dengan kalium permanganat membentuk glikol. Ciri

berlangsungnya reaksi ini ditandai dengan adanya perubahan warna ungu dari ion

permanganat menjadi endapan warna coklat dari mangan dioksida. Reaksi ini berguna

untuk membedakan alkena dengan alkana.

4. Ozonolisis Alkena

Alkena secara cepat dan kuantitatif bereaksi dengan O 3 , hasilnya disebut

ozonid. Senyawa ozonida ini sangat reaktif dan mudah meledak. Untuk itu dalam

reaksinya segera direaksikan dengan reduktor (misalnya serbuk seng dan larutan asam

hasilnya adalah senyawa karbonil (aldehida dan keton).

5. Reaksi Polimerasi Alkena

Senyawa alkena dapat saling mengikat dan membentuk polimer, hal ini terjadi

jika perlakuan dlam pemanasan dengan temperatur tertentu dengan katalisator seng

klorida. Bila polimerasi tersebut tersusun dri dua molekul alkena disebut dengan

dimer,empat molekul disebut tetramer, dan molekul tunggalnya monomer (Tim dosen

Kimia, 2007).

ZnCl 2
n CH 2 = CH 2 (CH 2 = CH 2 )n polietena
100 ºC – 300 ºC

ZnCl 2
CH 3 - CH = CH 2 (CH 3 - CH = CH 2 )n polipropilena
100ºC – 300 ºC

Menurut Riawan (1990), ada beberapa suku-suku alkena seperti dibawah ini

yaitu :
1. Etena

Etilena memunyai sifat tidak berwarna,dapat dibakar, memiliki bau yang khas,

eksplosif dalam udara. Etilena terdapat dalam gas batubara dan biasa pada proses

cracking. Etilena dapat dibuat melalui pengawahidratan etanol.

2. Polystyrena

Polystyrena bersifat termoplastik, menyerupai gelas, tahan air dan bahan

bahan kimia. Polystirena dipakai untuk membuat kancing, permainan, sisir, bahan

bahan listrik dan sebagainya.

3. Propena

Propena berasal dari industri minyak bumi. Sifat-sifat kimia dan fisiologisnya

menyerupai etena (sifat pembius, memasakkan buah-buahan) dapat dipakai untuk

sintesis misalnya: membuat gliserol, isopropil-alkohol, plastik ”polypropylena” dan

sebagainya.

2.2.2 Alkuna

Senyawa alkuna adalah kelompok yang memiliki satu atau lebih ikatan ganda

tiga yang terjadi antara karbon karbon, ikatan ganda tiga berhubungan dengan dua

atom lain, dengan sudut ikatan 180º. Jadi keadaan stereokimia asetilen adalah linear.

Panjang ikatan rangkap dua (1,21º A) dan jauh lebih pendek dari ikatan tunggal

(1,54º A) (Tim dosen Kimia, 2007).

Menurut Tim dosen Kimia (2007), pada alkuna ada beberapa reaksi yang dapat

terjadi yaitu :

1. Reaksi Addisi

Reaksi ini berupa pemutusan ikatan rangkap tiga menjadi rangkap dua, reaksi

ini terbagi dua yaitu:

- Brominasi
H Br Br Br
Br 2 Br 2
H–C C H C=C H–C=C-H

Br H Br Br
Trans-1,2-dibromoetana 1,1,2,2-tetrabromoetane

- Hidrogenasi

Reduksi asetilen mula mula menghasilkan etilen kemudian menghasilkan etana.


H2 H2
CH CH - H CH 2 = CH 2 CH 3 - CH 3
Pt Pt
Asetilen etilen etana

2. Hidrasi

Adisi alkuna dengan air tidak hanya memerlukan katalis asam melainkan juga

ion raksa. Ion raksa membentuk kompleks dengan ikatan ganda tiga dan

mengaktifkannya untuk beradisi. Walaupun reaksinya serupa dengan alkena hasil

awalnya adalah vinil alkohol atau enol yang tidak mantap dan selanjutnya mengadakan

penataan ulang.

3. Subsitusi

Atom hidrogen dari asetilen maupun turunannya dapat disubsitusikan oleh logam ag,na

atau Cu. Reaksi ini sekaligus menunjukkan sifat keasaman dari asetilen.

4. Polimerasi

Asetilen jika dipanaskan dalam temperatur tinggi akan mengalami polimerasi

membentuk berbagai senyawa, tergantung pada temperatur dan katalisator yang

digunakan.

2.3 Hidrokarbon Aromatik

Senyawa aromatik adalah senyawa yang menyerupai senyawa benzena yang

merupakan hidrokarbon induk dari kelompok senyawa aromatik. Benzena berupa

cairan dalam suhu normal, banyak digunakan sebagai pelarut organik. Sifatnya non
polar, tidak bercampur dengan air namun dapat bercampur dengan pelarut organik

lainnya seperti dietil eter, karbon tetraklorida, atau heksana. Benzena dan turunannya

banyak diperoleh dari batubara dan minyak bumi. Molekul benzena banyak

mempunyai cincin karbon beranggota enam dimana tiap karbon mengikat satu

hidrogen dengan rumus empiris C 6 H 6 , sikloheksana C 6 H 12 , walaupun benzena

memiliki ketidak jenuhan namun sifat benzena lebih mendekati hidrokaron jenuh

dibandingkan dengan hidrokarbon tidak jenuh seperti alkena dan alkuna. Terbukti

bahwa benzena tidak menghilangkan warna air Brom, tidak teroksidasi dengan kalium

permanganat, juga tidak mengalami reaksi adisi dengan asam klorida maupun asam

sulfat, padahal pereaksi-pereaksi tersebut sangat mudah bereaksi dengan alkena dan

alkuna. Hal tersebut menunjukkan bahwa benzena tidak setara dengan alkena maupun

alkuna (Tim dosen Kimia, 2007).

Senyawa-senyawa aromatik biasanya mempunyai ikatan ganda, bersifat stabil,

dan biasanya dijumpai sebagai lingkar lima, enam tujuh. Dalam teori, senyawa

aromatik diperkirakan mempunyai awan siklik yang terdiri dari elektron –  sebanyak

4n + 20 buah (n = 0,1,2, dst) dan terdapat dalam bentuk siklik. Disamping itu, setiap

anggota senyawa siklik tersebut harus dipersatukan oleh sekurang-kurangnya

satu atom yang terhibridisasi sp 2 . Jadi anda dapat menentukan apakah senyawa

merupakan senyawa aromatik dengan menghitung jumlah elektron –  dan memeriksa

apakah jumlah tersebut sesuai sebagaimana yang ditentukan oleh rumus: 2,6,10 dan

seterusnya (Bresnick, 1996).

Benzena memperlihatkan gambaran orbital molekul. Benzena merupakan

bangun datar dengan enam lingkar cincin serta enam orbital p yang tegak dan sejajar.

Keenam orbital p ini bersama sama membentuk orbital molekul yang meliputi keenam

atom. Elektron orbital p mengisi orbital molekul ikatan berenergi rendah hingga penuh,
sehingga menghasilkan kadar yang menguntungkan ditinjau dari segi energi dan

menjadikan benzena sangat stabil. Bayangkanlah benzena sebagai sebuah cincin

karbon datar yang memiliki awan elektron –  di atas dan bawahnya (Bresnick,

1996).

Gambar 1. struktur benzena (Bresnick, 1996).


BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah n-heksana, sikloheksana,

benzena, etil asetoasetat, toluen, parafin, KMnO4 0,1 M, Br2/CCl4 5 %, dietil eter dan

air.

3.2 Alat

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung

reaksi, pipet tetes, bunsen, kaki tiga, kasa dan gelas piala.

3.3 Prosedur Kerja

A. Kelarutan hidrokarbon dalam air dan dietil eter

Menyiapkan 2 buah tabung reaksi yang bersih dan kering. Mengisi tabung

reaksi (1) dengan 0,5 mL air, dan mengisi tabung reaksi (2) dengan 0,5 mL dietil eter.

Menambahkan setetes demi setetes n-heksana (± 10 tetes) kedalam tabung reaksi (1)

dan (2). Mengocok dan memperhatikan kelarutannya kemudian mencatat hasilnya.

Mengerjakan seperti 1 s/d 4 dengan menggunakan hidrokarbon yang lain.

B. Mereaksikan hidrokarbon dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 %

Menyiapkan 6 buah tabung reaksi yang bersih dan kering. Mengisi

masing-masing tabung reaksi dengan 1 mL n-heksana, benzen, sikloheksana, toluen,

parafin dan etil asetoasetat (sebagai pembanding). Menambahkan 1 tetes KMnO 4

0,1 M. Mengocok dan bila perlu panaskan. Mengamati dan mencatat perubahan yang
terjadi. Mengulangi percobaan diatas dan mengganti KMnO4 0,1 M dengan 1-2 tetes

Br2/CCl4 5 %.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Pengamatan

A. Kelarutan hidrokarban dalam air dan dietil eter


Hidrokarbon Kelarutan dalam air Kelarutan dalam dietil eter
n- heksana - √
Sikloheksana - √
Benzena - √
Toluen - √
Parafin - √
Etil asetoasetat - √
Keterangan : (√)= Larut/1 fase

(-) = Tidak larut/2 fase

B. Reaksi hidrokarbon dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/ CCl4

Zat KMnO4 0,1 M Br2/ CCl4 5 %


n- heksana Tidak bereaksi, berwarna bereaksi, berwarna
ungu sangat kecoklatan
Sikloheksana Tidak bereaksi, berwarna bereaksi, berwarna
ungu agak kecoklatan
Benzena Tidak bereaksi, berwarna bereaksi, berwarna
ungu coklat
Toluen Tidak bereaksi, berwarna bereaksi, berwarna
ungu sangat kecoklatan
Parafin Tidak bereaksi, berwarna bereaksi, berwarna
ungu orange
Etil asetoasetat Bereaksi, terbentuk Tidak bereaksi,
endapan coklat berwarna bening

4.2 Reaksi

1. CH3 – CH2 – CH2 – CH2 - CH2 – CH3 + KMnO4


2. + KMnO4

3. + KMnO4

CH3

4. +KMnO4

O O OH OH
││ ││ │ │
5. CH3- C- CH2- C- OC2H5 + KMnO4 CH3─ CH ─CH2─ CH─ OC2H5 + MnO2 + KOH

6. CH3CH = CH2 + KMnO4 CH3− CH−CH2 + MnO2 + KOH

OH OH

7. CH3 - CH2 – CH2 - CH2 – CH3 + KMnO4

8. CH3 – CH2 – CH2 - CH2 – CH2 –CH3 + Br2

9. + Br2

10
+ Br2

11. CH3

+ Br2

12 CH3 – CH2 – CH2 - CH2 – CH3 + Br2

13. CH3CH = CH2 + Br2 CH3 ─CH─CH2



Br Br

14. CH3─ CH2 ─ CH2 ─ CH2─ CH3 + B

4 .3 Pembahasan
Setelah dilakukan percobaan pertama dilaboratorium mengenai kelarutan

hidrokarbon dalam air dan dietil eter dengan menggunakan beberapa hidrokarbon yang

bersifat non polar seperti n-heksana, sikloheksana, benzena, toluen, dietil eter, parafin

dan etil asetoasetat. Dari percobaan tersebut dapat diketahui bahwa senyawa-senyawa

tersebut tidak dapat larut dalam akuades tetapi dapat larut dalam dietil eter. Hal ini

disebabkan karena senyawa-senyawa tersebut merupakan senyawa non polar

sedangkan air termasuk senyawa polar dan dietil eter termasuk senyawa non polar,

di dalam senyawa non polar terdapat gaya tarik Van Der Waals antara pelarut dan zat

terlarut. Selain itu, dalam propilena (alkena) terdapat elektron phi yang agak terbuka

sehingga tertarik oleh hidrogen dari air yang bermuatan positif parsial.

Pada percobaan kedua mengenai reaksi antara hidrokarbon dengan KMnO4

0,1 M dan Br2/CCl4 5 % :

1. Reaksi n-heksana dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 %.

n-heksana ketika direaksikan dengan KMnO4 0,1 M tidak terjadi reaksi dan larutan

berwarna ungu. Hal ini disebabkan karena n-heksana termasuk hidrokarbon jenuh

yang hanya bisa bereaksi dengan senyawa halogen apabila menggunakan katalisator

dan reaksinya merupakan reaksi subsitusi, n-heksana juga tidak mengandung rantai

cabang sehingga tidak terdapat atom karbon tertier, padahal ada tidaknya rantai

cabang juga sangat mempengaruhi terjadinya suatu reaksi. Demikian juga ketika

direaksikan dengan Br2/CCl4 5 % tidak terjadi reaksi dan larutan berwarna orange.

n-heksana dan n-pentana dapat bereaksi dengan Br2 apabila digunakan katalisator

dan reaksinya merupakan reaksi subsitusi.

2. Reaksi Sikloheksana dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 %.

Sikloheksana ketika direaksikan dengan KMnO4 0,1 M tidak terjadi reaksi dan

larutan berwarna ungu.Demikian juga ketika direaksikan dengan Br2/CCl4 5 % tidak

terjadi reaksi dan larutan berwarna orange. Hal ini disebabkan karena sikloheksana
termasuk dalam senyawa jenuh sehingga tidak dapat lagi bereaksi dengan

hidrokarbon.

3. Reaksi benzena dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 %.

Benzena ketika direaksikan dengan KMnO4 0,1 M tidak terjadi reaksi dan larutan

berwarna ungu. Hal ini disebabkan karena benzen memiliki ikatan terkonjugasi

sehingga dapat beresonansi yang menyebabkan elektron pada senyawa benzena

selalu berpindah-pindah. Benzen tidak dapat bereaksi dengan Br2/CCl4 5 % dan

larutan berwarana merah bata, ini menandakan bahwa benzen sukar sekali bereaksi

dengan Br2/CCl4 bila dibandingkan dengan hidrokarbon yang lain. Selain itu benzen

juga bersifat stabil sehinngga sukar sekali bereaksi dengan hidrokarbon lain kecuali

dengan menggunakan katalisator.

4. Reaksi toluen dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 %.

Toulen ketika direaksikan dengan KMnO4 0,1 M tidak terjadi reaksi dan larutan

berwarna ungu. Demikian juga ketika direaksikan dengan Br2/CCl4 5 % tidak terjadi

reaksi dan larutan berwarna orange.

5. Reaksi parafin. dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 %.

Parafin ketika direaksikan dengan KMnO4 0,1 M tidak terjadi reaksi dan larutan

berwarna ungu. Demikian juga ketika direaksikan dengan Br2/CCl4 5 % tidak terjadi

reaksi dan larutan berwarna orange. Hal ini disebabkan karena parafin merupakan

suatu senuyawa yang afinitasnya kecil sehingga sukar sekali bereaksi dan

merupakan senyawa yang stabil.

6. Reaksi Etil asetoasetat dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 %.

Etil asetoasetat ketika direaksikan dengan KMnO4 0,1M terjadi reaksi dan

menimbulkan endapan coklat. Demikian juga ketika direaksikan dengan Br2/CCl4 5

% terjadi reaksi dan larutan berwarna bening.


7. Reaksi Propilena dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 %.

Propilena ketika direaksikan dengan KMnO4 0,1 terjadi reaksi dan menimbulkan

endapan coklat. Hal ini disebabkan karena propilena termasuk hidrokarbon tidak

jenuh sehingga apabila dioksidasi dengan KMnO4 0,1 M maka akan menghasilkan

senyawa glikol dan endapan warna coklat dari mangan dioksida karena oksidator

tersebut menyerang elektron phi pada ikatan ganda dua. Demikian juga ketika

direaksikan dengan Br2/CCl4 5 % terjadi reaksi dan larutan berwarna bening.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan adalah

senyawa hidrokarbon yang bersifat non polar seperti: n-heksana, sikloheksana,

benzena, etil asetoasetat, toluen, dietil eter dan parafin, tidak larut dalam pelarut polar

(air) tetapi larut dalam pelarut non polar (dietil eter). Senyawa hidrokarbon seperti

n-heksana, sikloheksana, parafin, benzena dan toluen tidak dapat bereaksi dengan

KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 % karena bersifat stabil, sedangkan etil asetoasetat dapat

bereaksi dengan KMnO4 0,1 M dan Br2/CCl4 5 %.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Laboratorium

Saran untuk laboratorium adalah sebaiknya petugas laboratorium menyiapkan

terlebih dahulu alat dan bahan yang digunakan sehingga praktikum dapat berjalan

lancar.

5.2.2 Saran untuk Asisten

Saran untuk asisten adalah asisten sudah mengarahkan praktikan dengan baik

dan semoga asisten dapat mempertahankan kinerjanya sebagai pembimbing yang

baik.AED DDADDDD

DAFTAR PUSTAKA

Besari, Ismail, E., Sulistyowati dan Ishak, M., 1982, Kimia Organik Untuk Universitas,
Armico, Bandung

Bresnick dan Stephen, 1996, Intisari Kimia Organik, Hipokrates, Jakarta


Pine, S.H., Hemdrickson, J.B., Cram, D.J. dan Hammond, G.S., 1998, Kimia Organik,
Jilid 1, Edisi 4, ITB, Bandung

Riawan, S., 1990, Kimia Organik, Binarupa Aksara, Jakarta

Tim Dosen Kimia, 2007, Kimia Dasar, Unhas, Makassar


Lampiran I Bagan Kerja

1. Kelarutan Hidrokarbon

Akuades Dietil eter

- Dipipet 0.5 mL.


- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berbeda.
- Ditambahkan larutan n-heksana ± 10 tetes.
- Dikocok dan diperhatikan kelarutannya.
- Dicatat perubahan yang terjadi.
- Diulangi percobaan diatas dengan menggunakan senyawa

hidrokarbon lain (sikloheksana, benzena, toluena, parafin).

Hasil

2. Reaksi Hidrokarbon

1,0 mL (n-heksana, sokloheksana, benzena,


toluena, parafin, dan etilasetoasetat

- Ditambahkan 1 tetes larutan KMnO4 0,1 M.


- Dikocok jika perlu dipanaskan lalu amati perubahan yang terjadi
- Diulangi percobaan dengan mengganti KMnO4 0,1 M dengan 1-2

tetes larutan Br2/CCl4.


- Dicatat hasil pengamatan.

Hasil