You are on page 1of 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Negara maju hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama.
Di Indonesia hipertensi juga merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan
oleh para tenaga kesehatan yang bekerja di pelayanan kesehatan primer karena angka
pravelensinya yang tinggi dan akibat jangka panjang yang di timbulkannya.
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi di bagi menjadi 2 golongan yaitu hipertensi
primer yang tidak diketahui penyebabnya atau idiopatik dan hipertensi sekunder
yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain.
Secara epidemologis 30% penduduk di dunia peka terhadap keracunan garam
dapur yang dapat menyebabkan hipertensi. Terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi prevensi hipertensi seperti ras, umur, obesitas, asupan garam yang
berlebih, dan adanya riwayat hipertensi pada keluarganya. Untuk gejala dari
hipertensi itu sendiri biasanya pasien mengeluhkan nyeri kepala, mata berkunang-
kunang, mual, Hipertensi memang bukan penyakit pembunuh sejati, tetapi ia
digolongkan sebagai The Sillent Killer ( pembunuh diam – diam ). Penyakit ini
gejalanya tidak nyata dan harus diwaspadai serta perlu diobati sedini mungkin karena
hipertensi yang kronis jika diabaikan, secara tiba – tiba akan membawa malapetaka,
seperti serangan jantung dan stroke. ( Aziza, Lucky, 2007 )
Di Amerika Serikat 15 % golongan kulit putih dewasa dan 25 % - 30 %
golongan kulit hitam dewasa adalah pasien hipertensi. Menurut laporan National
Health and Nutrition Examinition Survey dalam dua dekade terakhir ini terjadi terjadi
kenaikan prosentase kewaspadaan masyarakat terhadap hipertensi dari 50 % menjadi
84 %, prosentasi pasien hipertensi yang mendapatkan pengobatan yaitu dari 36 %
menjadi 73 % dan prosentase pasien hipertensi yang tekanan darahnya terkendali dari
16 % menjadi 55 %. ( Suyono, Slamet, 2003 )
Di Indonesia sampai saat ini belum terdapat penyelidikan yang bersifat
nasional multisenter, yang dapat menggambarkan prevensi hipertensi secara tepat.
Menurut Boedie Darmojo dalam tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai
penelitian melaporkan bahwa 1,8 – 28,6 % penduduk Indonesia yang berusia diatas
20 tahun adalah pasien hipertensi.

1
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan pada pasien
Ny. S dengan hipertensi
2. Tujuan Khusus
Secara Khusus penulisan ini bertujuan agar mahasiswa :
a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien Ny. S dengan hipertensi
b. Mampu merumuskan diagnosa pada pasien Ny. S dengan hipertensi
c. Mampu menyusun rencana keperawatan pada pasien Ny. S dengan hipertensi
d. Mampu melakukan tindakan keperawatan pada pasien Ny. S dengan hipertensi
e. Mampu menyusun evaluasi keperawatan pada pasien Ny. S dengan hipertensi

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas
140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg ( Smeltzer, Bare, 2002).
Hipertensi lebih dikenal dengan istilah penyakit tekanan darah tinggi. Batas
tekanan darah yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan normal atau
tidaknya tekanan darah adalah tekanan sistolik dan diastolik. Bedasarkan JNC (Joint
National Comitee) VII, seorang dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan sistolik
140 mmHg atau lebih dan diastolik 90 mmHg atau lebih (Chobaniam, 2003).
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya
diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi lanjut usia,
hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90
mmHg (Sheps, 2005).

B. Etiologi

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:


1. Hipertensi Esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya,
disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang
mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktifitas. Meskipun hipertensi
primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data penelitian telah
menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi,
faktor tersebut yaitu:
a. Faktor keturunan
b. Ciri Perorangan
c. Kebiasaan hidup (Kowalski, Robert, 2010)
2. Hipertensi Sekunder atau renal yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit
lain. Merupakan 10 % dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi sekunder,
Faktor pencetus munculnya hipertensi sekunder antara lain ; penggunaan
kontrasepsi oral, neurogenik ( tumor otak, ensefalitis, gangguan psikiatris ),

3
kehamilan, peningkatan tekanan intravaskuler, luka bakar dan stress. ( Udjianti,
Wajan, 2011 )

C. Patofisiologi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah


terletak di pusat vasomotor, pada medulla dari otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar
dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdormen. Rangsangan
pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepeneprin mengakibatkan
konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap vasokonstriksi.

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokontriksi. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan
aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin, yang merangsang pembentukan
angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. Suatu vasokonstriktor
yang dapat merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon yang
menyebabkan retensi natrium yang menyebabkan peningkatan intravaskuler. Semua
faktor yang cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

Pathway

Hiperlipidemia, merokok, obesitas

Gaya hidup, faktor emosional

Implus saraf simpatis

Ganglia simpatis, neuron

Perganglion melepaskan asetikolin

4
Merangsang serabut saraf

Ganglion ke pembuluh darah

Norepineprine dilepaskan

Vasokonstriksi pembuluh darah

Tahanan perifer meningkat Gangguan


Resiko penurunan
perfusi jaringan
curah jantung
Peningkatan tekanan darah serebral

Penurunan aliran darah ke ginjal Perubahan vaskuler retina Respon GI tract

Pengaktivan sistem renin angiotensin Gangguan penglihatan Nausea, vomitus

Resiko tinggi cidera


Anoreksia

Merangsang sekresi aldosteron dan kortek adrenal

Gg . Pemenuhan
nutrisi
Retensi Na + H2O

Oedem Tubuh kekurangan kalori

Kelemahan fisik
Kelebihan volume
cairan

Intoleransi aktivitas

D. Tanda dan Gejala

Tanda dan gelala hipertensi yaitu ;


 Sakit kepala
 Epitaksis

5
 Rasa berat di tengkuk
 Mata berkunang – kunang
 Mual, muntah
 Kelemahan / letih
 Sesak nafas
 Kenaikan tekanan darah dari normal
 Penurunan kekuatan genggaman tangan
 Pandangan mata kabur/tidak jelas.
( Aziza, Lucky, 2007 )

E. Klasifikasi Tekanan Darah

Klasifikasi tekanan darah oleh JNC VII untuk pasien dewasa berdasarkan
rata-rata pengukuran dua tekanan darah atau lebih pada dua atau lebih kunjungan
klinis (Tabel 1). Klasifikasi tekanan darah mencakup 4 kategori, dengan nilai normal
tekanan darah sistolik (TDS) <120 mmHg dan tekanan darah diastolik (TDD) <80
mmHg. Prehipertensi tidak dianggap sebagai kategori penyakit tetapi
mengidentifikasikan pasien-pasien yang tekanan darahnya cenderung meningkat ke
klasifikasi hipertensi dimasa yang akan datang. Ada dua tingkat (stage) hipertensi,
dan semua pasien pada kategori ini harus diterapi obat (JNC VII, 2003).

Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-VII 2003

Kategori Tekanan Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik


Darah (mmHg) (mmHg)
Normal ≤120 ≤ 80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi stadium 1 140-159 90-99
Hipertensi stadium 2 ≥160 ≥100

Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan
darah yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau telah terjadinya
kelainan organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan darah >180/120 mmHg,

6
dikategorikan sebagai hipertensi emergensi atau hipertensi urgensi (American
Diabetes Association, 2003). Pada hipertensi emergensi, tekanan darah meningkat
ekstrim disertai dengan kerusakan organ target akut yang bersifat progresif, sehingga
tekanan darah harus diturunkan segera (dalam hitungan menit-jam) untuk mencegah
kerusakan organ lebih lanjut. Contoh gangguan organ target akut antara lain,
encephalopathy, pendarahan intrakranial, gagal ventrikel kiri akut disertai edema
paru, dissecting aortic aneurysm, angina pectoris tidak stabil dan eklampsia atau
hipertensi berat selama kehamilan (Depkes 2006a,).

F. Faktor- Faktor Risiko

1. faktor yang tidak dapat diubah


Faktor risiko yang tidak dapat dirubah yang antara lain usia, jenis kelamin dan
genetik.
a. Usia
Usia mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan bertambahnya umur, risiko
terkena hipertensi menjadi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi di
kalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40%, dengan kematian sekitar
di atas usia 65 tahun (Depkes, 2006b). Pada usia lanjut, hipertensi terutama
ditemukan hanya berupa kenaikan tekanan sistolik. Sedangkan menurut WHO
memakai tekanan diastolik sebagai bagian tekanan yang lebih tepat dipakai
dalam menentukan ada tidaknya hipertensi. Tingginya hipertensi sejalan
dengan bertambahnya umur yang disebabkan oleh perubahaan struktur pada
pembuluh darah besar, sehingga lumen menjadi lebih sempit dan dinding
pembuluh darah menjadi lebih kaku, sebagai akibatnya terjadi peningkatan
tekanan darah sistolik. Penelitian yang dilakukan di 6 kota besar seperti
Jakarta, Padang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar dan Makassar terhadap usia
lanjut (55-85 tahun), didapatkan prevalensi hipertensi terbesar 52,5 % (Depkes,
2006b).
b. Jenis kelamin
Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih
banyak yang menderita hipertensi dibandingkan wanita, dengan rasio sekitar

7
2,29 untuk peningkatan tekanan darah sistolik. Pria diduga memiliki gaya
hidup yang cenderung dapat meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan
wanita (Depkes, 2006b). Namun, setelah memasuki manopause, prevalensi
hipertensi pada wanita meningkat. Setelah usia 65 tahun, terjadinya hipertensi
pada wanita lebih meningkat dibandingkan dengan pria yang diakibatkan
faktor hormonal. Penelitian di Indonesia prevalensi yang lebih tinggi terdapat
pada wanita (Depkes, 2006b).
Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) menyebutkan bahwa prevalensi
penderita hipertensi di Indonesia lebih besar pada perempuan (8,6%)
dibandingkan laki-laki (5,8%). Sedangkan menurut Ditjen Bina Kefarmasian
dan Alat Kesehatan (2006), sampai umur 55 tahun, laki-laki lebih banyak
menderita hipertensi dibanding perempuan.
c. Keturunan (Genetik)
Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga
mempertinggi risiko terkena hipertensi, terutama pada hipertensi primer
(essensial). Tentunya faktor genetik ini juga dipenggaruhi faktor-faktor
lingkungan, yang kemudian menyebabkan seorang menderita hipertensi. Faktor
genetik juga berkaitan dengan metabolisme pengaturan garam dan renin
membran sel. Menurut Davidson bila kedua orang tuanya menderita hipertensi,
maka sekitar 45% akan turun ke anak-anaknya dan bila salah satu orang tuanya
yang menderita hipertensi maka sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya
(Depkes, 2006b).
2. Faktor resiko yang dapat diubah
Faktor risiko penyakit jantung koroner yang diakibatkan perilaku tidak sehat dari
penderita hipertensi antara lain merokok, diet rendah serat, kurang aktifitas gerak,
berat badan berlebihan/kegemukan, komsumsi alkohol, hiperlipidemia atau
hiperkolestrolemia, stress dan komsumsi garam berlebih sangat berhubungan erat
dengan hipertensi (Depkes, 2006b).
a. Kegemukan (obesitas)
Kegemukan (obesitas) adalah presentase abnormalitas lemak yang dinyatakan
dalam Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu perbandingan antara berat badan
dengan tinggi badan kuadrat dalam meter.

8
b. Psikososial dan stress
Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya transaksi antara
individu dengan lingkungannya yang mendorong seseorang untuk
mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan situasi dan sumber daya
(biologis, psikologis dan sosial) yang ada pada diri seseorang (Depkes, 2006b).
c. Merokok
Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap
melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel
pembuluh darah arteri yang mengakibatkan proses artereosklerosis dan tekanan
darah tinggi. Pada studi autopsi, dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan
merokok dengan adanya artereosklerosis pada seluruh pembuluh darah.
Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk
disuplai ke otot-otot jantung. Merokok pada penderita tekanan darah tinggi
semakin meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri (Depkes,
2006b).
d. Olahraga
Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem
penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot membutuhkan energi
diluar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru
memerlukan tambahan energi untuk mengantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke
seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh (Supariasa, 2001).
Olahraga dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner melalui
mekanisme penurunan denyut jantung, tekanan darah, penurunan tonus
simpatis, meningkatkan diameter arteri koroner, sistem kolateralisasi pembuluh
darah, meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein) dan menurunkan LDL
(Low Density Lipoprotein) darah. Melalui kegiatan olahraga, jantung dapat
bekerja secara lebih efisien.
e. Minum alkohol berlebihan
Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan.
Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas.
Namun, diduga peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel darah
merah serta kekentalan darah berperan dalam menaikkan tekanan darah.
Beberapa studi menunjukkan hubungan langsung antara tekanan darah dan

9
asupan alkohol dilaporkan menimbulkan efek terhadap tekanan darah baru
terlihat apabila mengkomsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran standar setiap
harinya (Depkes, 2006b). Di negara barat seperti Amerika, komsumsi alkohol
yang berlebihan berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Sekitar 10%
hipertensi di Amerika disebabkan oleh asupan alkohol yang berlebihan di
kalangan pria separuh baya. Akibatnya, kebiasaan meminum alkohol ini
menyebabkan hipertensi sekunder di usia ini (Depkes, 2006b).
f. Komsumsi garam berlebihan
Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik cairan
di luar sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan meningkatkan volume dan
tekanan darah. Pada sekitar 60% kasus hipertensi primer (essensial) terjadi
respon penurunan tekanan darah dengan mengurangi asupan garam 3 gram atau
kurang, ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan pada masyarakat
asupan garam sekitar 7-8 gram tekanan rata-rata lebih tinggi (Depkes, 2006b).
Almatsier (2001) dan (2006), natrium adalah kation utama dalam cairan
ekstraseluler. Pengaturan keseimbangan natrium dalam darah diatur oleh ginjal.
Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl, selain itu garam lainnya
bisa dalam bentuk soda kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoate dan
vetsin (monosodium glutamate). Kelebihan natrium akan menyebabkan
keracunan yang dalam keadaan akut menyebabkan edema dan hipertensi.
WHO menganjurkan bahwa komsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih 6
gram/hari setara 110 mmol natrium (Almatsier, 2001, 2006).
g. Hiperlipidemia/Hiperkolestrolemia
Kelainan metabolisme lipid (lemak) yang ditandai dengan peningkatan kadar
kolestrol total, trigliserida, kolestrol LDL atau penurunan kadar kolestrol HDL
dalam darah. Kolestrol merupakan faktor penting dalam terjadinya
aterosklerosis yang mengakibatkan peninggian tahanan perifer pembuluh darah
sehingga tekanan darah meningkat. Penelitian Zakiyah (2006) didapatkan
hubungan antara kadar kolestrol darah dengan tekanan darah sistolik dan
diastolik (Zakiyah, 2006). Penelitian Sugihartono (2007) diketahui sering
mengkomsumsi lemak jenuh mempunyai risiko untuk terserang hipertensi
sebesar 7,72 kali dibandingkan orang yang tidak mengkomsumsi lemak jenuh
(Sugihartono, 2007).

10
G. Komplikasi Hipertensi

Menurut Elisabeth J Corwin komplikasi hipertensi terdiri dari stroke, infark


miokard, gagal ginjal, ensefalopati (kerusakan otak) dan pregnancy- included
hypertension (PIH) (Corwin, 2005).
1. Stroke
Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akut, lebih dari
24 jam yang berasal dari gangguan aliran darah otak dan bukan disebabkan
oleh gangguan peredaran darah. Stroke dengan defisit neurologik yang terjadi
tiba-tiba dapat disebabkan oleh iskemia atau perdarahan otak. Stroke iskemik
disebabkan oleh oklusi fokal pembuluh darah yang menyebabkan turunnya
suplai oksigen dan glukosa ke bagian otak yang mengalami oklusi (Hacke,
2003). Stroke dapat timbul akibat pendarahan tekanan tinggi di otak atau
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh otak yang terpajan tekanan
tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang
memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga aliran darah
ke daerah-daerah yang diperdarahi berkurang. Arteri-arteri otak yang
mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan
kemungkinan terbentuknya anurisma (Corwin, 2005).
2. Infark miokardium
Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerotik tidak
dapat mensuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk
trombus yang menyumbat aliran darah melalui pembuluh tersebut. Akibat
hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka kebutuhan oksigen
miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung
yang menyebabkan infark. Demikian juga, hipertrofi dapat menimbulkan
perubahaan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga
terjadi distritmia, hipoksia jantung dan peningkatan risiko pembentukan
bekuan (Corwin, 2005)
3. Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif
dan irreversible dari berbagai penyebab, salah satunya pada bagian yang
menuju ke kardiovaskuler. Mekanisme terjadinya hipertensi pada gagal ginjal

11
kronik oleh penimbunan garam dan air atau sistem renin angiotensin
aldosteron (RAA).
4. Enselopati (kerusakkan otak)
Ensefalopati (Kerusakan otak) dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna
(hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan
ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong ke dalam
ruang intersitium diseluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron disekitarnya
kolaps yang dapat menyebabkan ketulian, kebutaan dan tak jarang juga koma
serta kematian mendadak. Keterikatan antara kerusakan otak dengan
hipertensi, bahwa hipertensi berisiko 4 kali terhadap kerusakan otak
dibandingkan dengan orang yang tidak menderita hipertensi (Corwin, 2005).

H. Penatalaksanaan Hipertensi

1. Pengendalian faktor resiko


Pengendalian faktor risiko penyakit jantung koroner yang dapat saling
berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi, hanya terbatas pada faktor risiko
yang dapat diubah, dengan usaha-usaha sebagai berikut :
a. Mengendalikan obesitas / menurunkan kelebihan berat badan
Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi hipertensi
pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi
pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan sesorang
yang badannya normal. Sedangkan, pada penderita hipertensi ditemukan
sekitar 20-33% memiliki berat badan lebih (overweight). Dengan demikian,
obesitas harus dikendalikan dengan menurunkan berat badan (Depkes,
2006b). Beberapa studi menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai
kelebihan berat badan lebih dari 20% dan hiperkolestrol mempunyai risiko
yang lebih besar terkena hipertensi (Rahajeng, 2009).

b. Mengurangi asupan garam di dalam tubuh


Nasehat pengurangan garam harus memperhatikan kebiasaan makan
penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dirasakan.

12
Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram (1 sendok teh) per hari pada saat
memasak (Depkes, 2006b)
c. Ciptakan keadaan rileks
Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat
mengontrol sistem saraf yang akan menurunkan tekanan darah (Depkes,
2006b)
d. Melakukan olahraga teratur
Berolahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit
sebanyak 3-4 kali dalam seminggu, diharapkan dapat menambah kebugaran
dan memperbaiki metabolisme tubuh yang akhirnya mengontrol tekanan
darah (Depkes, 2006b).
e. Berhenti merokok
Merokok dapat menambah kekakuan pembuluh darah sehingga dapat
memperburuk hipertensi. Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon
monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah
dapat merusak jaringan endotel pembuluh darah arteri yang mengakibatkan
proses arterosklerosis dan peningkatan tekanan darah. Merokok juga dapat
meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk disuplai ke
otot-otot jantung. Merokok pada penderita tekanan darah tinggi semakin
meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri. Tidak ada cara
yang benar-benar efektif untuk memberhentikan kebiasaan merokok.
f. Mengurangi komsumsi alkohal
Hindari komsumsi alkohol berlebihan, laki-laki: Tidak lebih dari 2 gelas
per hari
Wanita: Tidak lebih dari 1 gelas per hari
2. Terapi farmakologis
Penatalaksanaan penyakit hipertensi bertujuan untuk mengendalikan angka
kesakitan dan kematian akibat penyakit hipertensi dengan cara seminimal
mungkin menurunkan gangguan terhadap kualitas hidup penderita. Pengobatan
hipertensi dimulai dengan obat tunggal, masa kerja yang panjang sekali sehari
dan dosis dititrasi. Obat berikutnya mungkin dapat ditambahkan selama
beberapa bulan perjalanan terapi. Pemilihan obat atau kombinasi yang cocok

13
bergantung pada keparahan penyakit dan respon penderita terhadap obat
antihipertensi. Beberapa prinsip pemberian obat antihipertensi sebagai berikut :
1. Pengobatan hipertensi sekunder adalah menghilangkan penyebab hipertensi
2. Pengobatan hipertensi essensial ditunjukkan untuk menurunkan tekanan
darah dengan harapan memperpanjang hidup dan mengurangi timbulnya
komplikasi.
3. Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat
antihipertensi.
4. Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan
pengobatan seumur hidup.

E. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan


vaskuler serebral.

Tujuan : Tidak terjadi kerusakan jaringan


KH : Melaporkan nyeri atau ketidaknyamanan hilang atau terkontrol,
Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan
Intervensi :
a. Mempertahankann tirah baring selama fase akut
b. Pantau tanda – tanda vital
c. Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala,
Misal : kompres dingin pada dahi, beri pijatan di leher atau punggung
d. Ajarkan teknik relaksasi
e. Hilangkan atau minimalkan aktivitas vasokonstriksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala
Misal : mengejan saat buang air besar, batuk panjang, membungkuk
f. Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian terapi analgetik
2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan dengan intake yang tidak adekuat ( Doengoes, 2003 )
Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi, peningkatan nafsu makan,
mukosa bibir lembab tidak terjadi penurunan berat badan.

14
KH : Nafsu makan dapat meningkat, dapat mengabis kan diit dari rumah
sakit, Timbang berat badan setiap hari
Intervensi:
a. Beri makan dalam porsi sedikit tapi sering
b. Kaji ulang pola makan pasien
c. Motivasi pasien untuk makan
d. Awasi pemasukan diit
e. Beri hygiene oral sebelum dan sesudah makan
f. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemenuhan nutrisi bagi pasien
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan : Dapat melakukan aktivitas secara mandiri
KH : Hasil aktivitas dapat dilakukan secara optimal, aktivitas dapat dilakukan
sendiri
Intervensi :
a. Observasi keadaan umum
b. Kaji tingkat aktivitas pasien
c. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas
d. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien dalam memenuhi kebutuhab
e, Beri dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika
dapat ditoleransi.

15
BAB III

TINJAUAN KASUS

FORMAT PENGKAJIAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Data diambil tanggal : 17 Desember 2018 Tgl MRS : 17 Des 2018

Ruang rawat / Kelas : Nurul Jannah Diagnosa Medis : Hipertensi

No. Rekam Medik : 114693

I. Biodata
Identitas Pasien Identitas Penanggung Jawab

Nama : Ny. S Nama : Ny. N

Umur : 70 Tahun Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Hub. dgn pasien : Family

Status Perkawinan : Menikah Alamat : Desa lawe loning

Suku : Jawa

Agama : Islam

Pekerjaan : IRT

Alamat : Desa lawe loning aman

II. Keluhan Utama


Klien mengeluh sakit kepala ± 2 hari ini,akral dingin, oyong (+). Sakit kepala
dirasakan diseluruh kepala sehingga pasien tidak bisa beraktivitas . Skala nyeri 7.

III. Riwayat Kesehatan Sekarang


Provocative / Palliative

16
1. Apa penyebabnya : tiba-tiba saja
2. Hal yang memperbaiki keadaan : Istirahat
Quantity / Quality

1. Bagaimana dirasakan : klien meringis kesakitan


2. Bagaimana dilihat : klien tampak lemas

Region

1. Dimana lokasinya : di bagian kepala


2. Apakah menyebar : menyebar

Severity (mengganggu aktivitas)‘

Sangat mengganggu aktivitas

Time (kapan mulai timbul & bagaimana terjadinya)

Sejak kurang lebih 2 hari yang lalu dan nyeri dirasakan seperti berputar-putar dan
memberat ketika duduk, menunduk ataupun beraktivitas.

IV. Riwayat Kesehatan Masa Lalu


1. Penyakit yang pernah dialami
Klien memiliki riwayat Hipertensi

2. Pengobatan / tindakan yang dilakukan :


Minum obat (Amlodipin)

3. Pernah dirawat / dioperasi : Pernah di rawat di rs


4. Lamanya dirawat : ± seminggu
5. Alergi : Tidak ada
6. Imunisasi : tidak ingat

17
V. Riwayat Kesehatan Keluarga
1. Penyakit yang diderita anggota keluarga : Tidak ada
2. Anggota keluarga yang meninggal : Tidak ada
3. Lingkungan rumah dan komunitas : klien tinggal di daerah perkampungan

Ket:
4. Genogram ( 3 generasi ) : laki –laki

: perempuan

: Klien
: meninggal

: serumah

: cerai

Riwayat / Keadaan Psikososial

1. Bahasa yang dipergunakan : b. indonesia


2. Konsep Diri
a. Gambaran diri ( Body Image )
 Tanggapan tentang tubuhnya : baik
 Bagian tubuh yang disukai : semua
 Bagian tubuh yang kurang disukai : tidak ada
 Persepsi tentang kehilangan bagian tubuh : tidak ada
b. Identitas ( Personal Identity )
 Status dalam keluarga : istri
 Kepuasan terhadap status : puas
 Kepuasan terhadap jenis kelaminnya : puas

18
c. Peran
 Tanggapan tentang perannya : baik
 Kemampuan melaksanakan perannya : baik
 Kepuasan melaksanakan perannya : baik
d. Ideal diri
 Harapan pasien terhadap :
- Tubuhnya : ingin cepat sembuh
- Posisi ( Pekerjaan ) : ingin cepat kembali bekerja
- Status ( Keluarga ) : ingin berkumpul dgn keluarga
- Tugas / pekerjaan : ingin kembali bekerja
 Harapan pasien terhadap penyakit dan tenaga kesehatan : semoga tim
kesehatan dapat memberikan yang terbaik
e. Harga diri
 Tanggapan pasien terhadap harga dirinya : baik
3. Sosial
a. Hubungan dengan keluarga : baik
b. Hubungan dengan pasien lain : baik
c. Dukungan keluarga : baik
d. Reaksi saat interaksi : Kontak mata
4. Spiritual
a. Konsep tentang penguasa kehidupan :
b. Sumber kekuatan / harapan saat sakit : sholat / cepat sembuh
c. Ritual agama yang dilakukan : sholat dan dzikir
d. Keyakinan terhadap kesembuhan penyakit : yakin cepat sembuh
e. Persepsi terhadap penyakit : Sebagai cobaan
VI. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : klien tampak lemah, kesadaran kompos mentis
2. Tanda-tanda vital :
TD : 200/100mm/Hg

RR : 18x/menit

Nadi : 80x/menit, ( lokasi penghitungan : pergelangan tangan)

19
Suhu : 37,0°C ( lokasi pengukuran :aksila)

TB : 157cm BB : 65 kg

3. Kepala dan leher :


a. Kepala
 Kepala
- Bentuk : bulat

- Ubun-ubun : bersih

- Kulit kepala : bersih

- Nyeri kepala : adanya nyeri kepala

 Rambut
- Penyebaran dan keadaan rambut : tidak merata
- Bau : khas
- Warna : putih kehitaman
 Wajah
- Warna kulit : sawo matang
- Struktur wajah : oval
b. Mata
 Kelengkapan dan kesimetrisan : simetris
 Pupil : Isokor
 Refleks cahaya : Positif
Konjungtiva : Pucat
 Sklera : Putih
 Palpebra : Tidak
 Pergerakan bola mata : Normal
Strabismus : Tidak
 Tekanan bola mata : normal
 Ketajaman penglihatan : tajam

20
c. Hidung
 Tulang hidung dan posisi septumnasi : Simetris
 Mukosa : Pucat
 Sekret : Jernih
 Pernafasan cuping hidung : Tidak terdapat
 Ketajaman penciuman : kurang
d. Telinga
 Bentuk telinga : Normal
 Ketajaman pendengaran : baik
 Alat bantu : Tidak
e. Mulut dan faring
 Mulut : Bersih
 Mukosa : Lembab
 Bibir : Normal
 Gigi : Bersih
 Kebiasaan gosok gigi : Tidak teratur
 Tenggorokan : Tidak ada masalah
f. Leher
 Pembesaran kelenjar thyroid : Tidak
 Pembesaran kelenjar limfe : Tidak
 Peningkatan vena jugularis : Tidak
 Denyut nadi karotis : Teraba
4. Integumen
a. Kebersihan : Bersih
b. Kehangatan : Dingin
c. Warna : Pucat
d. Turgor : Elastis
e. Kelembaban : Lembab
f. Edema : Tidak ada
g. Kelainan pada kulit : Tidak terdapat adanya kelainan
h. Luka Insisi : Tidak ada
5. Payudara dan ketiak : Normal, tidak ada kelainan

21
6. Thoraks / Dada
a. Bentuk thoraks : Normal
b. Pemeriksaan paru
 Pola nafas : Teratur
 Retraksi otot bantu nafas : Tidak ada
 Suara pernafasan : Vesikuler
 Tactil fremitus : Normal
 Alat bantu nafas : Tidak ada
 Lain-lain :
c. Pemeriksaan jantung : Normal, tidak ada kelainan
 Nyeri dada : Tidak ada
 Irama jantung : Teratur
7. Bunyi jantung : S1& S2 tunggal
8. Abdomen
a. Bentuk abdomen : Simetris
b. Benjolan / massa : Tidak ada
c. Spider nevi : Tidak ada
d. Peristaltik usus : 13x/menit
e. Nyeri tekan : Tidak ada
f. Ascites : Tidak ada
g. Hepar : Tidak teraba
h. Ginjal : Tidak teraba
i. Lien : Tidak teraba
j. Suara abdomen : Timpani
9. Kelamin dan daerah sekitarnya : Normal, tidak ada kelainan
10. Muskuloskeletal / Ekstremitas
a. Kesimetrisan otot : Simetris
b. Kemampuan pergerakan sendi dan tungkai : Bebas
c. Kekuatan otot : 12345 12345
12345 1 2345

d. Fraktur : Tidak ada

22
e. Dislokasi : Tidak ada
f. Edema : TidakAda, Lokasi,
g. Capillary Refill Time : < 3 detik
h. Cianosis : Tidak ada
i. Clubbing Finger : Tidak ada
11. Neurologis
a. Kesadaran : Compos mentis
GCS, Eye :4

Verbal :6

Motorik :5

b. Status mental :
 Kondisi mental / perasaan : Labil
 Proses berpikir : Baik
 Motivasi : Baik
 Persepsi : Baik
 Bahasa : b indonesia
c. Nervus cranialis : Normal
 Mata : Normal
 Pupil : Respon cahaya
 Gerak bola mata : Normal
d. Fungsi motorik :
 Cara berjalan
baik

 Romberg test
Normal

 Tes jari-hidung
normal

 Pronasi-supinasi test
normal

23
 Heel to shin test
normal

e. Fungsi sensori :
 Identifikasi sentuhan ringan
Klien bisa merasakan

 Test tajam – tumpul


Klien bisa membedakan tajam tumpul

 Test panas –dingin


Bisa merasakan dan membedakan panas dingin

 Test getaran
Bisa mendengar getaran

 Streognosis test
 Graphestesia test
 Membedakan dua titik
 Topognosis test
f. Reflek
 Reflek Bisep : Normal
 Reflek Trisep : Normal
 Reflek Brachioradialis : Normal
 Reflek Patelar : Normal
 Reflek Tendon Achiles : Normal
 Reflek Plantar : Normal

VII. Pola Kebiasaan Sehari-hari


1. Pola tidur
 Waktu tidur : Siang : 1 Jam/hari Malam : 4Jam/hari
 Gangguan tidur : Ada
2. Pola eliminasi
 BAK

24
- Frekuensi : Teratur, 4 x/hari
- Jumlah : 600 cc Bau : khas Warna : kuning
- Alat bantu : tidak
- Masalah : tidak ada
- Penggunaan diuretika x/hari, jenis
- Lain-lain
 BAB
- Pola BAB : Teratur,

- Karakter Faces : warna kuning bau khas konsistensi : lunak

- BAB Terahir : 1 hari yg lalu

3. Pola makan dan minum


a. Gejala (Subjektif)
 Diit (type) : nasi jlh makanan perharikalori
 Pola diit : 3 x/hari
 Kehilangan selera makan : tidak ada
 Nyeri ulu hati : tidak ada
 Alergi/intoleransi makanan : tidak ada
 Berat badan biasa : 65 kg
b. Tanda (obyektif)
 Berat badan sekarang : 65 kg. Tinggi badan 157cm
c. Waktu Pemberian makanan : pagi, siang, malam
d. Waktu pemberian cairan : sesuai kebutuhan
e. Masalah makan dan minum :
 Kesulitan mengunyah : Tidak
 Kesulitan menelan : Tidak
f. Upaya mengatasi masalah :
4. Kebersihan diri
 Mandi /membersihkan tubuh : 2 x/hari,
 Pemeliharaan Gigi dan mulut : 1x/hari,
5. Pemeliharaan Kuku : Bila kuku nampak mulai panjang

25
6. Pola kegiatan/aktivitas : berinteraksi dengan keluarga dan
dibantu keluarga bila ke kamar mandi

VIII. Hasil pemeriksaan Penunjang / Diagnostik

a. Diagosa Medis : Hipertensi

b. Pemeriksaan diagnostik / penunjang


1. Laboratorium

Tanggal Pemeriksaan Hasil Nilai normal

17-12-18 Hemoglobin 10,5 gr/dl 12-16 gr/dl

Leukosit 6.400 /mm3 5.000-


10.000/mm3

Trombosit 156.000/mm 150.000-


450.000/mm

KGD Adrandom 296 mg/dl < 200 mg/dl

Ureum 32 mg/dl 10-34 mg/dl

Creatinin 1,1 mg/dl 0,6-1,2 mg/dl

2. EKG
 Tanggal : 17 Desember 2018
 Hasil : Normal Sinus Rhythm

26
IX. Penatalaksanaan / terapi

No Nama Obat Dosis Rute

1. Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam IV

2. IFVD RL 500 ml 10 gtt/i (16 jam 40’) IV

3. Captopril 25 mg/12 jam Oral

4. Adalat Oros 30 mg/ 24 jam Oral

5. Mecobalamin 500 mg/8 jam Oral

6. Metformin 500 mg/8 jam Oral

27
XI. ANALISA DATA

No. DATA ETIOLOGI MASALAH

1 Ds : Pasien mengatakan sakit kepala Tekanan perifer Gangguan Perfusi


terus menerus ± 2 hari ini meningkat Jaringan Serebral

Do : Os tampak lemas dan tampak


Peningkatan
meringis
tekanan darah
Nyeri skala 7
Gangguan Perfusi
TD : 200/100
Jaringan Serebral
HR : 80 x/i

RR : 18 x/i

T : 37,0˚C

KGD : 296

2. Ds : Pasien mengatakan susah Gg. Perfusi Intoleransi aktivitas


beraktivitas karena sakit kepala jaringan
dan oyong.
Respon GI tract
Do : Pasien tampak lemas dan meningkat
dibantu oleh keluarga bila ke
Nausea, vomitus
kamar mandi atau melakukan
aktivitas lain. Anoreksia

TD : 200/100 mmHg Gg. Pemenuhan


nutrisi
HR : 80 x/i
Tubuh kekurangan
RR : 18 x/i
kalori
T : 37,0˚C

28
KGD : 296 mg/dl Kelemahan fisik

Intoleransi aktivitas

3 Ds : Pasien mengatakan tidak bisa Tahapan perifer Gg. Pola tidur


istrahat tidur karena sakit meningkat
kepala yang terus menerus
Peningkatan
Do : Pasien tampak meringis dan tekanan darah
lemas. Pasien tidur 1 jam pada
gangguan perfusi
siang hari dan 4 jam pada
jaringan
malam hari.
Sakit kepala
Skala nyeri : 7
Gangguan pola
TD : 200/100 mmHg
tidur

4 Ds : Pasien mengatakan sakit kepala, Tahapan perifer Resiko jatuh


oyong terus menerus ± 2 hari meningkat
ini.
Peningkatan
Do : Pasien tampak lemas tekanan darah

TD : 200/100 mmHg Respon GI tract


meningkat
KGD : 296 mg/dl
Nausea, vomitus
Umur : 70 tahun
Anoreksia

Tubuh kekurangan
kalori

Kelemahan fisik

Resiko jatuh

29
XII. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan jaringan perfusi serebral b/d peningkatan tekanan intrakranial d/d


pasien mengeluh sakit kepala , skala 7
2. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum d/d pasien tampak lemas dan dibantu
oleh keluarga bila ke kamar mandi atau melakukan aktivitas lain.
3. Gangguan pola tidur b/d adanya nyeri kepala d/d pasien tidur siang 1 jam dan
malam 4 jam.
4. Resiko jatuh b/d kesulitan dalam hal beraktivitas d/d pasien dibantu oleh
keluarga bila ke kamar mandi dan melakukan aktivitas lain

XIII. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny. S Diagnosa Medis : Hipertensi


Urgency

Ruangan : Nurul Jannah / 306 Nama Mahasiswa :

Rencana Asuhan Keperawatan


Diagnosa
No Tujuan dan Kriteria
Keperawatan Intervensi
Hasil
1. Gangguan jaringan Setelah dilakukan - Pantau tekanan darah
perfusi serebral tindakan keperawatan - Pertahankan tirah baring
selama 3 x 24 jam selama fase akut
tidak terjadi - Ajari teknik relaksasi
kerusakan organ, - Beri tindakan
dengan kriteria hasil ; nonfarmakologis untuk
tekanan darah dalam menghilangkan rasa
batas sakit misal; kompres
normal ( 130/90 dingin pada dahi, pijat
mmHg – 140/95 punggung atau leher

30
mmHg ) - Anjurkan pasien untuk
meminimalkan aktivitas
yang dapat
menyebabkan kepala
pusing misal ; mengejan
saat buang air besar,
batuk panjang,
membungkuk
- Bantu pasien dalam
ambulasi sesuai
- kebutuhan
- Kolaborasi dengan tim
dokter dalam pemberian
terapi.
2. Intoleransi aktivitas Setalah dilakukan Energi management :
tindakan keperawatan  Amati reaksi pasien
3x24 jam, pasien terhadap aktivitas, tidak
dapat mencapai daya ada RR diatas 20x/i
tahan tubuh baik  Catatlah kenaikkan
dengan Kritera Hasil tekanan darah selama
: dan setelah beraktivitas,
 Berpartisipasi apak ada lemah, letih,
dalam kebutuhan pusing.
aktivitas fisik tanpa  Ajarkan pasien teknik
disertai menghemat energi
peningkatan tekan seperti duduk pada saat
darah, nadi da RR. menyisir rambut dan
 Mampu melakukan beraktivitas dengan
aktivitas sehari-hari dengan lambat.
secara mandiri.  Anjurkan menjaga diri
 Mampu pada saat menghadapi
menunjukkan aktivitas yang progresif

31
berkurangnya
tanda-tanda
physiologi
intoleransi.
3. Gangguan pola tidur Setelah dilakukan Peningkatan tidur :
tindakan 2x24 jam  Tentukan pola aktivitas
diharapkan pasien tidur pasien
dapat mencapai tidur  Jelaskan pentingnya
dengan kriteria hasil : pola tidur normal pada
 Tidur efektif pasien
 Waktu tidur  Ajarkan pasien untuk
teratur memonitor pola tidur
 Perasaan segar normal
setelah tidur.  Diskusikan dengan
pasien dan keluarga
tentang teknik
peningkatan pola tidur
 Anjurkan pasien untuk
banyak istrahat.

4. Resiko jatuh Setelah dilakukan  Review kondisi kesehatan


tindakan keperawatan klien secra general
selama 2x24 jam,  Menciptakan lingkungan
klien dapat memahami yang aman untuk klien
prevensi/ perlindungan agar terhindar dari jatuh
agar terhindar dari jatuh misalnya tidak membuat
dengan kriteria hasil : tempat tdr yang terlalu
 Klien terhindar tinggi,penerangan yang
dan terbebas dari adekuat,
jatuh. menghilangkankarpet atau
 Menciptakan alas yang mungkin liccin
lingkungan aman ataudapat mengganggu sat
dan nyaman berjalan,

32
membetulkanlantai yang
rusak, dan
memeberikanpeganggan
dalam kamar mandi
 Diskusi untuk monitoring
dan intervensi padakondisi
 Kolaborasi pemberian
analgesic jika nyerimuncul
saat akan memulai
aktivitas.

33
XIV. Catatan Perkembangan

Nama Mahasiswa : Nama Pasien : Ny.S

Ruangan : Nurul Jannah / 306 Diagnosa Medis : hipertensi Urgency

No. Diagnosa Tanggal Implementasi Evaluasi


Keperawatan

1 Gangguan 17 Des  Kaji keluhan S : pasien mengatakan nyeri


perfusi 2018 dan skala nyeri pada bagian kepala,
jaringan pasien oyong, sakit kepala
serebral  Pantau ttv sehingga sulit untuk
 Atur posisi beraktivitas.
senyaman
O: klien tampak lemas
mungkin
tampak meringis
 Anjurkan klien
untuk A : Masalah belum teratasi

mengurangi P: intervensi dilanjutkan


aktivitas
berlebih.
 Ajarkan tekhnik
relaksasi
 Cek KGD, DL
dan EKG

S: pasien mengatakan sakit


18 Des
 Kaji keluhan kepala masih ada dan
2018
dan skala nyeri susah tidur
 Pantau ttv
O : Os masih tampak lemah
 Cek KGD
dan di bantu oleh
 Menjelaskan
keluarga bila ke kamar
pada pasien dan
mandi dan melakukan
keluarga pasien

32
tentang penyakit aktivitas lain.
yang
TD : 161/90 mmHg
dideritanya dan
pentingnya tidur KGD 2 jam PP : 228
normal. mg/dl
 Bantu klien
A: Masalah sebagian teratasi
untuk
mengurangi P: Intervensi dilanjutkan
resiko jatuh
 Menganjurkan
pasien untuk
mengurangi
makan makanan
yang
mengandung
garam
 Menganjurkan
pasien untuk
istrahat cukup

S : pasien mengatakan sakit


19 Des  Kaji tingkat
kepala sudah berkurang
2018 nyeri atau
keluhan O : Pasien tampak tenang,

TD : 131/87mmHg
 Memantau TTV
KGD : 228 mg/dl
 Cek KGD
A : Masalah teratasi sebagian

 Memberikan P : Intervensi dipertahankan


terapi sesuai
Pasien PBJ
anjuran dokter

33
 Menjelaskan
pada keluarga
pasien dan
pasien
penanganan
penyakit di
rumah

34
BAB IV

PENUTUP

A. Kimpulan
Setelah melakukan asuhan keperawatan selama tiga hari dan melakukan pengkajian
kembali baik secara teoritis maupun secara tinjauan kasus didapatkan simpulan sebagai
berikut:
1. Pada pengkajian yang dilakukan terhadap Ny. S didapatkan hasil pasien mengatakan
sakit kepala terus menerus yang dirasakan ± 2 hari ini, oyong.
5. Diagnosa yang muncul pada kasus yaitu: Gangguan perfusi jaringan serebral
berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial, Intoleransi aktivitas b/d
kelemahan umum d/d pasien tampak lemas dan dibantu oleh keluarga bila ke kamar
mandi atau melakukan aktivitas lain, gangguan pola tidur b/d adanya nyeri kepala d/d
pasien tidur siang 1 jam dan malam 4 jam, resiko jatuh b/d kesulitan dalam hal
beraktivitas d/d pasien dibantu oleh keluarga bila ke kamar mandi dan melakukan
aktivitas lain
2. Pada hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan bahwa pasien mengalami kenaikkan
Kadar Gula Darah yaitu 298 mg/dl
3. Intervensi yang muncul dalam teori, tidak sepenuhnya dijadikan intervensi oleh penulis,
untuk intervensi yang penulis utamakan yaitu: pantau tekanan darah, ajari teknik
relaksasi, kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian terapi .
4. Hasil yang didapatkan setelah dilakukan asuhan keperawatan selama tiga hari
mendapatkan hasil yang cukup mengurangi keluhan pasien. Diagnosa gangguan perfusi
jaringan serebral masalah teratasi sebagian dan pasien PBJ

B. Saran
Setelah penulis melakukan studi kasus, penulis mengalami beberapa hambatan dalam
penulisan ini. Namun, dengan bantuan dari berbagai pihak penulis mampu menyelesaikan
tugas ini tepat pada waktunya. Demi kemajuan selanjutnya maka penulis menyarankan
kepada:
1. Pasien agar lebih kooperatif, selalu memperhatikan serta tidak melakukan hal-hal
yang menyimpang dari petunjuk dokter/perawat. Bila dirumah harus dapat menjaga
diri agar tidak terjadi komplikasi yaitu penyakit stroke.

35
2. Untuk perawatan pasien dengan hipertensi, harus ada kerjasama antara perawat
ruangan dan keluarga agar selalu memberikan informasi tentang perkembangan
kesehatan pasien dan memberi pendidikan kesehatan pada keluarga yang paling
sederhana dan senantiasa memotivasi pasien dan keluarga untuk selalu menjaga pola
makan, jangan terlalu banyak pikiran, dan jangan lupa untuk berolahraga..
3. Perawat sebagai tim kesehatan yang paling sering berhubungan dengan pasien sangat
perlu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan agar mampu merawat pasien secara
komprehensif dan optimal. Dan perawat juga harus bekerjasama dengan tim
kesehatan lain (dokter, ahli gizi ) dalam melakukan perawatan / penanganan pasien
dengan hipertensi.

36