You are on page 1of 10

ISSN 2355-4721 Pengembangan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast untuk Peningkatan Keselamatan Penerbangan

PENGEMBANGAN AUTOMATIC DEPENDENT


SURVEILLANCE BROADCAST UNTUK
PENINGKATAN KESELAMATAN PENERBANGAN

THE DEVELOPMENT OF AUTOMATIC DEPENDENT


SURVEILLANCE BROADCAST TO IMPROVE FLIGHT
SAFETY

Budi Sitorus Tulus irfan Harsono Sitorus


Kementrian Perhubungan Badan SAR Nasional
Budi_dephub@yahoo.co.id Tulus.sitorus@yahoo.co.id

ABSTRACT

The purpose of this study is to conduct a review of the existing navigation system at the
airport and integrate to the flight navigation system that has been developed by the Ministry
of Research and Technology to be applied to Airports in Indonesia. The research method
used is qualitative research method through literature study, literature, benchmarking.
Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B) is a system designed to replace
radar functions in air space management for civilian transport, can serve as a substitute
or for traditional radar-based aircraft surveillance supplements. The use of ADS-B was
recommended by the International Civil Aviation Organization (ICAO) in May 2006.
Using ADS-B, detection would be better and more accurate than when using a radar
system where existing radar systems can not detect unobstructed aircraft . The use of the
ADS-B system in Indonesia began in 2006, in partnership with SITA and Thales. In this
regard, Indonesia has 30 (thirty) earth stations ready for operation. In general, both flight
monitoring systems are very helpful for APP operators (Approach and departure control)
in terms of providing a picture of flight traffic conditions around the airport.

Keywords : automatic dependent surveillance-broadcast; flight navigation system; flight


safety

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan tinjauan terhadap sistem navigasi yang
ada di bandar udara serta memadukan terhadap sistem navigasi penerbangan yang telah
dikembangkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi untuk dapat diaplikasikan pada
bandar udara di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian
kualitatif melalui studi pustaka, literatur, benchmarking. Automatic Dependant Surveilance
Broadcast (ADS-B) merupakan sistem yang didesain untuk menggantikan fungsi radar
dalam pengelolaan ruang udara bagi transportasi sipil, dapat berfungsi sebagai pengganti
atau untuk suplemen surveillance tradisional pesawat terbang berbasis radar. Penggunaan
ADS-B telah mendapat rekomendasi dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional
(ICAO) pada Mei 2006. Dengan menggunakan ADS-B, maka deteksi akan lebih baik dan

303
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017
Budi Sitorus, Tulus irfan Harsono Sitorus ISSN 2355-4721

akurat dibanding apabila menggunakan sistem radar di mana sistem radar yang ada tidak
dapat mendeteksi pesawat yang terhalang awan. Penggunaan sistem ADS-B di Indonesia
dimulai sejak tahun 2006, dalam suatu kemitraan dengan SITA dan Thales. Berkaitan
dengan hal tersebut, Indonesia memiliki 30 (tiga puluh) stasiun bumi yang siap untuk
dioperasikan. Secara umum kedua sistem pemantauan penerbangan sangat membantu
operator APP (Approach and departure control) dalam hal memberikan gambaran kondisi
lalu lintas penerbangan di sekitar bandara.

Kata Kunci : automatic dependent surveillance-broadcast; sistem navigasi penerbangan;


keselamatan penerbangan

304
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017
ISSN 2355-4721 Pengembangan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast untuk Peningkatan Keselamatan Penerbangan

PENDAHULUAN penerbangan dan juga mampu menciptakan


alat-alat penerbangan canggih dan
Indonesia sebagai negara kepulauan beraneka ragam. Perkembangan teknologi
yang luas, memiliki modal utama selain penerbangan mempunyai dampak yang
transportasi laut yaitu transportasi udara, positif terhadap keselamatan penerbangan
transportasi merupakan sebagai alat untuk dalam dan luar negeri.
mendukung pertumbuhan ekonomi. Oleh Menurut Supriadi (2012) salah
karena itu, diperlukan sarana dan prasarana satu bidang kehidupan yang selalu
transportasi udara yang memiliki standard diupayakan menjadi lebih baik adalah
pelayanan dan keselamatan yang optimal. sektor transportasi. Manusia membutuhkan
Transportasi udara adalah sistem transportasi yang aman, cepat dan
penerbangan yang melibatkan banyak teratur dalam menunjang mobalitas
pihak. Dalam dunia penerbangan kehidupannya, baik dalam transportasi
pemenuhan (compliance) terhadap lokal, nasional maupun internasional.
safety standard (standard keselamatan) Manusia menghendaki transportasi kereta
yang tinggi merupakan suatu keharusan api, bus, kapal laut, pesawat dan lain-
yang mutlak. Penerapan keselamatan lain berjalan dengan aman, cepat teratur
penerbangan (aviation safety) perlu dan juga dengan biaya atau ongkos yang
dilaksanakan pada semua sektor, baik pada terjangkau. Permasalahan penelitian adalah
bidang transportasi/operasi angkutan udara, jumlah sarana bantu navigasi penerbangan
kebandaraudaraan, navigasi, perawatan dan yang terbatas, serta keakuratan dari
perbaikan serta pelatihan yang mengacu sistem navigasi penerbangan perlu adanya
pada aturan International Civil Aviation peningkatan dari segi kemampuan sistem
Organization (ICAO) navigasi penerbangan.
Mengingat posisi Indonesia Navigasi berasal dari bahasa
yang strategis sebagai jalur penerbangan Yunani yang terdiri dari kata navis yang
domestik dan internasional, membuat artinya perahu atau kapal dan agake yang
Indonesia telah lama menjadikan diri artinya mengarahkan, secara harafiah
sebagai anggota International Civil artinya mengarahkan sebuah kapal
Aviation Organization (ICAO). Keterlibatan dalam pelayaran. Navigasi adalah cara
Indonesia dalam anggota ICAO, telah menentukan posisi dan arah perjalanan baik
diatur terkait peraturan menyangkut di medan sebenarnya maupun pada peta.
keselamatan dan keamanan penerbangan, Sedangkan sistem navigasi di penerbangan
salah satunya yaitu komunikasi, navigasi adalah kumpulan dari berbagai peralatan
dan pengawasan penerbangan lalu lintas navigasi yang berguna untuk memberi
udara (Communication Navigation and panduan seperti halnya arah, jarak,
Surveillance – Air Traffic Management / kecepatan terhadap suatu bandar udara,
CNS-ATM). ketinggian terhadap daratan, serta peralatan
Beberapa tahun terakhir, jumlah yang berfungsi untuk memberikan
lalu lintas penerbangan dalam wilayah panduan pendaratan (landing) ketika cuaca
Indonesia telah meningkat secara signifikan, buruk yang kesemuanya bertujuan untuk
di mana kepadatan lalu lintas penerbangan keselamatan dan keamanan penerbangan.
di udara dan bandara menjadi sangat tinggi, Sesuai dengan Undang Undang Nomor 1
berkaitan dengan hal itu terdapat satu hal Tahun 2009 tentang Penerbangan dalam
yang tidak bisa ditawar adalah keselamatan Pasal 1, Penerbangan adalah satu kesatuan
penerbangan.  sistem yang terdiri atas pemanfaatan
Kemajuan ilmu pengetahuan dan wilayah udara, pesawat udara, bandar udara,
teknologi yang pesat di bidang penerbangan angkutan udara, navigasi penerbangan,
telah mampu meningkatkan mutu pelayanan keselamatan dan keamanan, lingkungan

305
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017
Budi Sitorus, Tulus irfan Harsono Sitorus ISSN 2355-4721

hidup, serta fasilitas penunjang dan fasilitas udara NKRI (Negara Kesatuan Republik
umum lainnya. Indonesia) diperlukan sistem navigasi
Keselamatan penerbangan adalah dan informasi penerbangan yang di
suatu keadaan terpenuhinya persyaratan peruntukkan bagi penerbangan sipil maupun
keselamatan dan pemanfaatan wilayah uda- pertahanan dan keamanan.Sistem navigasi
ra, pesawat udara, bandar udara, angkutan penerbangan sipil saat ini masih terbatas
udara, navigasi penerbangan, serta fasilitas dan perlu peningkatan dalam kuantitas
penunjang dan fasilitas umum lainnya. dan kualitasnya. Dengan tingginya tingkat
Keselamatan penerbangan dipengaruhi lalu lintas penerbangan di beberapa bandar
oleh beberapa faktor diantaranya adalah udara di Indonesia, tentulah diperlukan
faktor kondisi fisik pesawat, kondisi awak upaya untuk memperbaki sistem
pesawat, infrastruktur, serta faktor alam. navigasi penerbangan sipil, dan apabila
Tetapi yang menjadi faktor utama adalah dimungkinkan dibutuhkan peningkatan
kondisi fisik pesawat. Kondisi fisik suatu inovasi dalam mencari sistem navigasi
pesawat tergantung dari perawatan yang penerbangan yang dapat membantu awak
dilakukan, semakin baik sebuah pesawat (pilot) maupun pengawas Air Traffic
maka semakin besar pula biaya yang harus Control.
dilakukan begitu sebaliknya. Berdasarkan data dari Komite
Nasional Keselamatan Transportasi kurun
waktu 2010-2016 terdapat investigasi
METODE PENELITIAN sebanyak 212, dengan jenis kecelakaan 82
kejadian serta rekomendasi sebanyak 404.
Metode penelitian yang digunakan Data kecelakaan transportasi kurun waktu
adalah metode penelitian kualitatif melalui 2010-2016, dapat dilihat pada Tabel 1.
studi pustaka, literatur, benchmarking. Berdasarkan Tabel 1, investigasi
Automatic Dependant Surveilance terbanyak pada 2016 (19,33%), sedangkan
Broadcast (ADS-B). tahun 2013 sebesar 16,03 persen Sementara
di lain hal terjadi peningkatan jumlah
penumpang pada 2016, peningkatan jumlah
HASIL DAN PEMBAHASAN penumpang tahun 2016 untuk tujuan
domestik sebanyak 89.358.457 penumpang
Dalam rangka menjaga wilayah atau naik 16,61 persen dibanding 2015.

Tabel 1 Data Kecelakaan Pesawat Tahun 2010-2016

Sumber : KNKT

306
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017
ISSN 2355-4721 Pengembangan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast untuk Peningkatan Keselamatan Penerbangan

Sementara berdasarkan data dari Badan Hatta dan dapat mendeteksi hingga


Pusat Statistik (BPS), jumlah penumpang jarak >250Nm yang bisa diperoleh pada
angkutan udara domestik pada Januari 2017 ketinggian di atas 29.000 kaki. Terdapat
turun sebesar 6,63 persen jika dibandingkan 295 bandar udara yang tersebar di seluruh
dengan Desember 2016, dari 7,79 juta provinsi di Indonesia yakni :
penumpang menjadi 7,27 juta orang. a. 13 Bandar Udara di bawah pengelolaan
Seiring dengan perkembangan PT Angkasa Pura I,
teknologi dan peran industri penerbangan b. 14 Bandar Udara di bawah pengelolaan
yang semakin dituntut pembenahan dalam PT Angkasa Pura II,
pelayanan navigasi penerbangan, sistem c. 2 Bandar Udara di bawah pengelolaan
informasi penerbangan diperlukan bagi TNI,
pilot dan maskapai penerbangan dalam d. 239 Bandar Udara di bawah
merencanakan penerbangan, sehingga pengelolaan Unit Penyelenggara
maskapai penerbangan dapat efisien dalam Bandar Udara,
menggunakan sumber daya perusahaan, e. 27 Bandar Udara di bawah pengelolaan
serta peran stakeholder untuk membuat UPT Daerah/Pemda.
kebijakan dalam merancang sistem navigasi Penggunaan ADS-B telah mendapat
penerbangan lebih akurat, kompatibel dan rekomendasi dari Organisasi Penerbangan
terintegrasi dengan sistem yang sudah Sipil Internasional (ICAO) pada Mei
ada sebelumnya. Untuk itu, Indonesia 2006. Dengan menggunakan ADS-B,
telah meratifikasi peraturan dari konvensi maka deteksi akan lebih baik dan akurat
internasional mengatur penerbangan sipil dibanding apabila menggunakan sistem
internasional dan mengikat 190 negara radar di mana sistem radar yang ada tidak
adalah Convention on International Civil dapat mendeteksi pesawat yang terhalang
Aviation atau sering dikenal dengan sebutan awan. Penggunaan sistem ADS-B di
Konvensi Chicago 1944. Dalam Pasal 37 Indonesia dimulai sejak tahun 2006, dalam
diamanahkan bahwa untuk meningkatan suatu kemitraan dengan SITA dan Thales.
keamanan dan keselamatan penerbangan Berkaitan dengan hal tersebut, Indonesia
negara peserta Konvensi Chicago 1944, memiliki 30 (tiga puluh) stasiun bumi yang
terus berupaya mengelola penerbangan siap untuk dioperasikan. Secara umum
sipil (personil, pesawat, jalur penerbangan kedua sistem pemantauan penerbangan
dan lain lain) dengan peraturan, standar, sangat membantu operator APP (Approach
prosedur, dan organisasi yang sesuai and departure control) dalam hal
(uniform) dengan standar yang dibuat oleh memberikan gambaran kondisi lalu lintas
Interntional Civil Aviation Organization penerbangan di sekitar bandara.
(ICAO). Walaupun, belum semua pesawat
Melihat banyaknya kecelakaan menggunakan ADS-B Transponder,
dalam penerbangan yang disebabkan minimal dapat mengurangi beban operator
salah satunya adalah rendahnya tingkat dalam rangka membayangkan posisi
kemampuan sistem navigasi penerbangan pesawat yang berada dalam kontrolnya
yang dimiliki. PT. Industri Telekomunikasi sehingga dapat memberikan arahan/kontrol
Indonesia (INTI) bersama BPPT (Badan yang lebih baik pada pilot pesawat terkait.
Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Perbedaan kedua sistem terdapat pada
di bawah koodinasi Kementerian Riset, perbedaan jangkauan, di mana sistem-1
Teknologi dan Pendidikan Tinggi dapat menangkap pesawat dengan radius
(Kemenristekdikti) telah berhasil lebih jauh dibandingkan dengan sistem-2,
mengembangkan produk ADS-B. Peralatan tetapi kedua sistem sudah memenuhi
tersebut mampu mendeteksi pesawat jangkauan yang menjadi tanggung jawab
hingga di landasan pacu Bandara Soekarno- APP.

307
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017
Budi Sitorus, Tulus irfan Harsono Sitorus ISSN 2355-4721

Sementara itu, sistem ADS-B Dengan menggunakan radar


dapat digabungkan ke teknologi Flight ADS-B transponder yang dipasang,
Data Processing dan feature-feature pesawat memancarkan data-data tersebut
lain seperti alarm yang dapat berbunyi ke radar ADS-B di darat. Radar ADS-B
ketika pesawat sudah terlalu dekat saat di di darat yang menerima data dari pesawat
udara. Sedangkan Australia dan Amerika akan meneruskannya ke server komputer
Serikat sudah menggunakan sistem Flightradar24. Selanjutnya komputer
ADS-B. Australia dan Amerika Serikat Flightradar24 akan meneruskannya lewat
menempatkan antena ADS-B di offshore internet, sehingga data-data semua pesawat
rig di wilayah Teluk Meksiko, sehingga bisa terpantau di website Flightradar24.
dapat mendeteksi pesawat-pesawat yang com dan Flightradar24 apps.
mendekat. Informasi-informasi yang dapat Investasi yang dibutuhkan untuk
ditampilkan dan disajikan oleh sistem memasang teknologi yang dikembangkan
ADS-B antara lain jadwal keberangkatan BPPT mencapai Rp 1 miliar, angka tersebut
pesawat terbang, nomor penerbangan, berbeda jauh dengan investasi radar yang
rute penerbangan, posisi pesawat lengkap membutuhkan anggaran Rp 10 miliar per
dengan koordinatnya, ketinggian pesawat unit. Menurut BPPT saat ini dibutuhkan
dan arah pesawat serta kecepatannya, maksimal 100 unit ADS-B receiver untuk
tipe pesawat dan nomor tanda registrasi “mengkover” seluruh wilayah NKRI.
pesawat, tujuan penerbangan, marka udara Alat ini dapat ditempatkan “offshore rig”
(airway) jalur pesawat udara di angkasa, dan buoy untuk dapat menangkap signal
pergerakan pesawat udara dalam tampilan transponder pesawat yang melalui perairan.
3D yang pergerakanya seperti tampilan Dalam waktu dekat akan kembali dilakukan
kamera cctv. Selain itu, teknologi ini juga uji coba teknologi ADS-B di Sabang, Aceh.
dapat mengetahui posisi dan pergerakan Walaupun terdapat alat navigasi
pesawat real time, informasi pergerakan pada pesawat yang dapat mendeteksi
mulai hendak terbang, pesawat saat lokasi pesawat dan memberikan warning/
menanjak (climbing), lurus (level) menurun alert terhadap traffic bernama TCAS
(descent), hingga mendarat dengan (Traffic collision avoidance system),
tampilan grafik berwarna. ADS-B yang tidak didesign secure dari

Tabel 2 Pekerjaan Navigasi Penerbangan Kementerian Perhubungan Tahun 2015


No Pekerjaan
1 Pengadaan jaringan data navigasi wilayah western dan eastern part of
indonesia
2 Pengadaan Suku Cadang DVOR
3 Pengadaan Suku Cadang NDB
4 Pengadaan Suku Cadang DME
5 Pengadaan Suku Cadang ILS
6 Pengadaan Suku Cadang MSSR
7 Pengadaan Suku Cadang ADSB
8 Pengadaan Suku Cadang ATC Otomasi
9 Pengadaan Suku Cadang Fasilitas Komunikasi Penerbangan
10 Pengadaan Alat Ukur Fasilitas Telekomunikasi Penerbangan
Sumber : Kementerian Perhubungan, 2015

308
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017
ISSN 2355-4721 Pengembangan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast untuk Peningkatan Keselamatan Penerbangan

awal ini dapat mengancam keselamatan aplikasi penunjang pengolahan data


penerbangan. Selain ADS-B terdapat peta penerbangan; Pengadaan dan
TCAS yangdigunakan menjadi pedoman Pemasangan MOCK-UP Peralatan
bagi pilot untuk menjaga jarak dan Navigasi Penerbangan (DVOR & DME)
mengetahui air-traffic di sekitar pesawat, Untuk Lokasi Laboratorium Balai Teknik
karena menghindari collision (tabrakan) Penerbangan, 1 (satu) Paket; Pembiayaan
di udara, maka traffic yang masuk kategori Pemeliharaan Tahunan PANADES, dimana
dekat akan muncul warning dan pesawat terdapat 2 (dua) paket pekerjaan telah
udara tersebut di radar akan berubah selesai pada Desember 2016, (Tabel 3).
menjadi warna orange. Kementerian Riset Pekerjaan Pengadaan dan
dan Teknologi dalam hal ini perlu terus pemasangan Mockup peralatan ILS untuk
mengembangkan inovasi untuk navigasi Laboraturium Balai Teknik Penerbangan
penerbangan sipil dengan menyempurnakan dan Pemeliharaan dan Pengembangan
kedua sistem navigasi yang telah dibahas di Sistem Pengendalian dan Pengawasan
atas, dan Kementerian Perhubungan dalam Navigasi Penerbangan Terintegrasi
hal ini dapat mengapresiasikan hasil buatan dilaksanakan pada tahun 2017.
dalam negeri dengan memanfaatkan sistem Dalam Rencana Kerja dan
sistem navigasi penerbangan untuk bandar Anggaran Kementerian Perhubungan
udara di seluruh kawasan Indonesia. tahun 2017 terdapat pemotongan anggaran
Pada 2015, Kementerian sebesar Rp.2,7 triliun menjadi Rp 45,98
Perhubungan melakukan pekerjaan triliun yang sebelumnya disetujui tahun
terkait navigasi penerbangan sebanyak 2017 Rp. 48,7 trilliun. Target prioritas
10 (sepuluh) pekerjaan, sementara 1 pembangunan sektor perhubungan tahun
(satu) paket pekerjaan telah selesai pada 2017 yaitu dukungan transportasi dalam
Desember 2015. rangka konektivitas program prioritas
Pada 2016, Direktorat Navigasi nasional dan pelayanan keperintisan
Penerbangan Direktorat Jenderal angkutan jalan, penyeberangan, angkutan
Perhubungan Udara terkait navigas laut, angkutan udara, dan perkeretaapian,
penerbangan yaitu sebanyak 4 (empat) termasuk subsidi angkutan ternak dan
pekerjaan yaitu pengadaan dan angkutan barang dalam rangka tol laut.
pemasangan peta Informasi Frekuensi Berdasarkan tujuan dan sasaran
Radio Penerbangan (PIRFP) di Indonesia Direktorat Jenderal Perhubungan
dalam tampilan 3D Tahap II; pengadaan Udara dalam Rencana Strategis Ditjen

Tabel 3 Pekerjaan Navigasi Penerbangan Kementerian Perhubungan Tahun 2016

No Pekerjaan
1 Pengadaan dan Pemasangan Peta Informasi Frekuensi Radio Penerbangan
(PIRFP) di Indonesia dalam tampilan 3D Tahap II
2 Pengadaan aplikasi penunjang pengolahan data peta penerbangan
3 Pengadaan dan Pemasangan MOCK-UP Peralatan Navigasi Penerbangan
(DVOR & DME) Untuk Lokasi Laboratorium Balai Teknik Penerbangan,
1 (satu) Paket
4 Pembiayaan Pemeliharaan Tahunan PANADES
Sumber : Kementerian Perhubungan, 2015

309
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017
Budi Sitorus, Tulus irfan Harsono Sitorus ISSN 2355-4721

Tabel 4 Tujuan dan Sasaran Ditjen Perhubungan Udara dalam Renstra Ditjen
Perhubungan Udara Tahun 2015-2019

Sumber : Renstra Ditjen Hubud Tahun 2015-2019

Perhubungan Udara Tahun 2015-2019, Automatic Dependent Surveillance-


terdapat 6 (enam) menjadi tujuan dan 9 Broadcast  (ADS-B) merupakan teknik
(sembilan) sasaran, seperti terlihat pada surveilans untuk pengendalian lalu lintas
Tabel 3. udara dan aplikasi ang terkait dengan
penerbangan. Sebuah pesawat dilengkapi

Gambar 1 Monitor ADS-B pada perangkat pesawat

310
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017
ISSN 2355-4721 Pengembangan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast untuk Peningkatan Keselamatan Penerbangan

Gambar 2 Proses cara kerja ADS-B

dengan ADS-B untuk menentukan posisi seluruh informasi, diperbarui beberapa


sendiri, menggunakan sistem navigasi kali dan siaran dari pesawat pada frekuensi
satelit global dan siaran berkala, posisi disktrit, disebut DataLink (Gambar 2).
dan informasi relevan lainnya, untuk
stasiun tanah potensial dan pesawat lain
dengan peralatan ADS-B. ADS-B dapat SIMPULAN
diigunakan untuk beberapa teknlogi data
link yang berbeda, termasuk Mode-S Automatic Dependant Surveilance
Exended Squitter (1.090 ES). Akses Broadcast (ADS-B) merupakan sistem
Universal Transceiver (978 MHz UAT), yang didesain untuk menggantikan fungsi
dan VHF data link (VDL Mode 4). Berikut radar dalam pengelolaan ruang udara bagi
ini merupakan tampilan dari ADS-B seperti transportasi sipil, dapat berfungsi sebagai
Gambar 1. pengganti atau untuk suplemen surveillance
Konstruksi ADS-B terdiri atas tiga tradisional pesawat terbang berbasis radar. 
komponen: Proses kenavigasian dibagi 2 (dua)
1. Sebuah subsistem transmisi yang yaitu peralatan pengamat penerbangan
mencakup generasi pesan dan dan peralatan rambu udara. Dari total 295
fungsitransmisi pada sumber, misalnya bandar udara yang ada, sekitar 255 bandar
pesawat. udara nonradar di antaranya berpotensi
2. Protokol transport, misalnya VHF membutuhkan perangkat ADS-B untuk
(VDL mode 2 atau 4), atau 1090ES. Mini ATC dan Surface Movement
3. Sebuah subsistem yang mencakup Monitoring, serta penambahan Ground
penerimaan menerima pesan dan Station di lokasi lain. 
melaporkan fungsi perakitan di tujuan Merencanakan penerbangan dalam
menerima, misalnya pesawat terbang, kaitannya terhadap sumber daya perusahaan
kendaraan atau sistem tanah. yang efektif dan efisen diperlukan agar
ADS-B bergantung pada sistem perusahaan tetap dapat bertahan dalam
penentuan posisi berbasis satelit global, industri penerbangan.
untuk menentukan lokasi yang tepat Perlunya peningkatan inovasi
sebuah pesawat di ruang angkasa. Sistem teknologi dalam navigasi penerbangan
kemudian mengubah posisi menjadi kode dengan disadari bahwa peran navigasi
digital, yang digabungkan dengan informasi sangat diperlukan terutama bandar udara
lain seperti jenis pesawat, kecepatan, yang frekuensi lalulintas cukup tinggi,
nomor penerbangan, dan posisi pesawat. dengan mengembangkan investasi bidang
Selanjutnya kode digital, yang berisi teknologi navigasi, mengembangkan kerja

311
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017
Budi Sitorus, Tulus irfan Harsono Sitorus ISSN 2355-4721

sama dan pemanfaatan dengan lembaga


penelitian, meningkatkan peran swasta
dalam dunia penerbangan.

DAFTAR PUSTAKA

Supriyadi, Yaddy, 2012. Keselamatan


Penerbangan, Teori dan
Problematika. Tangerang : PT
Telaga Ilmu Indonesia.
[Undang-Undang RI]. Undang-Undang
Republik Indonesia. 2009.
Undang Undang Nomor 1 Tahun
2009 tentang Penerbangan.
Jakarta: UU RI. (INI STANDARD
JURNAL STMT)
[PermenHub RI] Peraturan Menteri
Perhubungan Republik Indonesia.
2009. Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor KM 14
Tahun 2009 tentang. Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil.
Jakarta: Permenhub RI.
FAA FARS PART 91—GENERAL
OPERATING AND FLIGHT
RULES, (http://www.gleim.com/
public/ pdf/ av/updates/part91.
pdf)  diakses tanggal 6 Desember
2016, pukul 12:37
ICAO ANNEX 10, 2014. Aeronautical
Telecommunications. Volume IV-
Surveillance Radar and Collision
Avoidance Systems. Edisi ke-5.
(https://www.bazl.admin.ch/),
diakses tanggal 6 Desember 2016,
pukul 12:44

312
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik - Vol. 04 No. 03, November 2017