You are on page 1of 40

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.1.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian-penelitian terdahulu mengenai perancangan pendeteksi

gempa telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti. Salah satu penelitian

tersebut ialah: Skripsi Iwan Adi Mulyono, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas

Teknologi Industri, Universitas Katholik Soegijapranata. Perencanaan dan

pembuatan alat pendeteksi detak jantung dan suhu tubuh berbasis komputer

tahun 2002. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sistem ini

mampu mengukur denyut jantung dan temperatur tubuh manusia. Pada

penelitian ini digunakan komputer sebagai pengendali serta dua buah sensor

yaitu pulse sensor dan sensor suhu LM35. Desain penelitian alat ini yaitu

pulse sensor dan sensor suhu LM35 terhubungdengan komputer untuk

kemudian data pengukuran yang dihasilkan diolah dan ditampilkan pada

monitor komputer.

Skripsi Adi Dwi Kurniawan, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,

Universitas Negeri Semarang. Alat Pendeteksi Suhu berbasis

Mikrokontroler. tahun 2010. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan

sistem ini mampu mendeteksi suhu tubuh menggunakan sensor suhu LM35.

Pada penelitian ini digunakan IC Atmega 8535 sebagai pengendali serta

sebuah sensor suhu LM35. Data digital yang didapat dari sensor suhu LM35

1
kemudian diolah oleh mikrokontroler Atmega 8535 dan ditampilkan,

sehingga didapatkan suatu informasi mengenai suhu tubuh manusia dengan

o
satuan C pada sebuah LCD. Skripsi Mohamad Sofie, Jurusan Teknik

Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang. Pencacah Denyut

Jantung dengan Sensor Jari tahun 2003. Berdasarkan hasil penelitian

dapat disimpulkan sistem ini mampu mendeteksi denyut jantung

manusia. Pada penelitian ini digunakan sensor jari berupa photodiode dan

LED sebagai sensor detak jantung, kemudian dikuatkan oleh rangkaian Op-

Amp. IC555 sebagai timer 60 detik untuk menghasilkan sinyal permenit

(BPM).

Selaras dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,

dan seiring dengan perkembangan serta kemajuan di bidang elektronika

terutama dalam bidang mikrokontroler, berbagai alat diciptakan untuk

mempermudah dan menambah kenyamanan manusia dalam mencukupi

kebutuhannya. Salah satunya adalah di bidang kesehatan yang saat ini sudah

maju sangat pesat.

Kemajuan tersebut diharapkan dapat membantu pekerjaan seorang

dokter untuk memantau kondisi pasiennya. Salah satunya adalah dalam

menangani pasien koma. Bagi orang awam, koma itu sendiri adalah suatu

kondisi hilang sadar dari seorang pasien. Pasien koma tidak dapat

dibangunkan, tidak memberikan respons normal terhadap rasa sakit atau

rangsangan cahaya. Seorang pasien yang sedang mengalami koma tidak

2
dapat diprediksi kapan pasien tersebut akan sadar. Oleh karena itu keadaan

pasien koma harus selalu dipantau secara tepat dan tepat oleh tenaga

medis untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Biasanya, dokter akan

melakukan beberapa jenis pemantauan diantaranya suhu tubuh pasien,

detak jantung pasien, napas pasien dan sebagainya. Termometer air raksa

dan stetoskop merupakan alat yang biasa digunakan oleh dokter. Alat-alat

tersebut diatas memang sudah lazim digunakan oleh tenaga medis. Akan

tetapi alat-alat tersebut digunakan secara terpisah dalam penggunaannya.

Perkembangan serta kemajuan di bidang elektronika terutama

dalam bidang mikrokontroler berkembang sangat pesat, berbagai alat

diciptakan untuk mempermudah dan menambah kenyamanan manusia

dalam mencukupi kebutuhannya. Salah satunya adalah di bidang kesehatan

yang saat ini sudah maju. Kemajuan tersebut diharapkan dapat membantu

pekerjaan seorang dokter dalam memantau kondisi kesehatan pasiennya.

Salah satunya adalah dalam menangani pasien koma. Alat-alat seperti

termometer dan stetoskop memang sudah lazim digunakan oleh tenaga

medis untuk memantau pasien koma. Akan tetapi alat-alat tersebut

digunakan secara terpisah dalam penggunaannya Dari masalah inilah

kemudian didapatkan gagasan untuk merancang dan menggabungkan

alat pendeteksi suhu tubuh, detak jantung dan napas manusia dengan

mikrokontroler berbasis Arduino Uno.

3
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang terdapat dalam latar belakang di atas, maka

masalah yang akan di bahas dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai

berikut:

1. Bagaimana merancang Perancangan Alat Pemantau Pasien Koma Berbasis

Arduino?
2. Bagaimana menjelaskan prinsip kerja Perancangan Alat Pemantau Pasien

Koma Berbasis Arduino?

1.3 Batasan Masalah

Agar permasalahan lebih terfokus, maka dilakukan pembatasan masalah.

Pokok permasalahan yaitu alat pemantau kondisi kesehatan manusia dengan

berbasis mikrokontroler Arduino nano. Indikator yang dipantau oleh

seorang dokter untuk menentukan status keadaan pasien memang banyak,

akan tetapi indikator yang diambil yaitu hanya pemantauan detak jantung,

suhu tubuh dan frekuensi nafas

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.4.1 Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Agar dapat memahami prinsip kerja dari Perancangan Alat

Pemantau Pasien Koma Berbasis Arduino


2. Agar dapat merancang Perancangan Alat Pemantau Pasien Koma

Berbasis Arduino

4
1.4.2 Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Dapat dijadikan sebagai panduan dalam merancang Perancangan Alat

Pemantau Pasien Koma Berbasis Arduino

2. Memberikan peluang kepada peneliti-peneliti untuk mengkaji lebih dalam,

serta mengembangkan dari hasil penelitian ini.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kerangka Berfikir

2.1.1. Sirkulasi Darah dalam Tubuh

Jantung adalah organ yang berupa otot, berbentuk kerucut,

berongga, dengan pangkal diatas dan puncaknya di bawah miring

kesebelah kiri. Jantung terletak di dalam rongga dada diantara kedua paru-

paru, dibelakang tulang dada, dan lebih menghadap ke kiri daripada

ke kanan. Jantung berfungsi untuk memompa darah keseluruh tubuh

melalui pembuluh darah. (Pearce, 2000: 125)

Ketika darah dipompa keluar dari jantung pada arteri atau dikenal

dengan pembuluh nadi teraba suatu gelombang denyut dan denyut ini

dapat teraba pula pada tempat dimana pembuluh arteri melintas, misalnya

arteri radialis yaitu disebelah depan pergelangan tangan dan ujung jari.

Saat keadaan ini volume darah pada ujung jari bertambah atau

menggumpal. Kemudian sebaliknya pada saat jantung tidak memompa

darah volume darah pada ujung jari menjadi lebih kecil. (Pearce, 2000:

127)

Dengan meraba gelombang denyut pada arteri, dapat dihitung

kecepatan jantung yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh aktifitas

seseorang dan juga oleh makanan, umur, dan emosi. Perbedaan denyut

jantung manusia (Pearce,2000: 127-128) ditunjukkan dalam tabel 2.1.

6
Tabel 2.1 Perbedaan denyut jantung manusia

Sumber: Pearce, 2000: 127-128

Denyut arteri dapat menjadi lebih cepat atau lebih lambat ketika

seseorang sedang gelisah, hilang kesadaran atau koma, ada gangguan pada

jantungnya atau menderita panas (David Werner, 2010: 47).

Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis terhadap tenaga medis,

untuk pasien koma mempunyai denyut

jantung yang cenderung lebih lambat dibandingkan manusia normal,

dibawah 60 kali per menit.

Berdasarkan sumber dari kri.or.id bahwa kondisi kesehatan


manusia
Menurut denyut jantungnya dikelompokkan dalam tiga kelompok ,
diantaranya:

1. Denyut jantung seseorang yang sedang sakit berada dibawah 60

denyutan per menit, tergantung dari sakit yang sedang dideritanya.

2. Denyut jantung manusia sehat sekitar 60-80 denyutan per menit.

7
3. Denyut jantung manusia yang sedang berolahraga (kondisi

kesehatannya sangat bagus) sekitar 80-100 denyutan per menit.

Dalam alat pemantau kondisi kesehatan manusia ini, untuk

pembacaan denyut nadi per menit dengan memanfaatkan pulse sensor

yang ditempelkan di ujung jari manusia, seperti pada uraian di atas ujung

jari manusia merupakan salah satu tempat melintasnya pembuluh arteri

atau nadi, ujung jari dipilih karena pemasangan pulse sensor lebih mudah.

2.1.2. Mekanisme Temperatur Tubuh Manusia

Temperatur tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi

oleh proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar.

Temperatur tubuh manusia dapat diukur dengan menggunakan termometer.

Temperatur tubuh

manusia yang dapat dibagi beberapa standar penilaian temperatur,

o o
antara lain: normal, hipertermi (38-39 ) dan hipotermi (33-36 ). Biasanya

hipertermi dialami oleh seseorang yang sedang sakit, misalnya demam dan

sakit ringan lainnya. Hipotermi sering dialami seseorang yang tinggal di daerah

kutub yang udaranya lebih dingin. Tubuh manusia mempunyai temperatur

o o
yang konstan yaitu antara 36,5 sampa 37,5 C.

Tubuh manusia mempunyai temperatur yang konstan yaitu antara

o o
36,5 sampai 37,5 C. Ketika seseorang telah meninggal, cadangan panas

8
lepas pada tingkatan temperatur yang dapat ditentukan hingga temperatur

o
tubuh setara dengan suhu lingkungan (30 C). (Cameron, 2006: 34)

Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis terhadap tenaga

medis, untuk pasien koma mempunyai temperatur tubuh yang cenderung

lebih rendah atau lebih tinggi dibandingkan manusia normal, tergantung dari

penyebab koma yang dialami pasien.

Tempat yang biasa digunakan untuk mengukur temperatur tubuh

manusia biasanya adalah di mulut, ketiak dan anus. Temperatur normal pada

o o
ketiak sekitar 37 C (98,6 F). Sementara manusia normal mempunyai

o o
temperatur tubuh antara 36,5 C sampai 37,2 C. (David Werner, 2010: 43).

Dalam alat pemantau kondisi kesehatan manusia ini, untuk

mengukur temperatur tubuh manusia dengan memanfaatkan sensor

temperatur DS18B20 yang ditempelkan di ketiak manusia, seperti pada uraian

o
di atas, temperatur pada ketiak sekitar 37 C.

2.1.3 Mekanisme Pernapasan Manusia

Sistem pernapasan atau respirasi adalah proses pengambilan oksigen

(O2) dari udara bebas saat menarik napas. O2 tersebut kemudian melewati

saluran napas dan sampai ke dinding alveoli. Sesampainya di kantong udara,

O2 akan ditransfer ke pembuluh darah yang didalamnya mengalir sel-sel

9
darah merah untuk dibawa ke sel-sel diberbagai organ tubuh lain sebagai

energi dalam proses metabolisme. Setelah metabolisme, sisa-sisa metabolisme

terutama karbondioksida (CO2) akan dibawa darah untuk dibuang kembali ke

udara bebas melalui paru-paru pada saat membuang napas. (Joko Suryo, 2010:

5)

Pernapasan sangat penting bagi makhluk hidup karena tanpa

oksigen aktifitas dalam tubuh tidak dapat berlangsung. Untuk dapat

menghasilkan pernapasan yang sempurna, diperlukan organ-organ

penunjang yang dikenal dengan alat pernapasan. Alat-alat pernapasan pada

manusia meliputi tiga bagian penting, yaitu: hidung, saluran pernapasan dan

paru-paru. Pada proses pernapasan terjadi dua hal pokok, yaitu: inspirasi

(Kegiatan mengambil udara melalui alat pernapasan) dan ekspirasi (kegiatan

mengeluarkan udara). (Joko Suryo, 2010: 5-6) Berdasarkan wawancara yang

dilakukan penulis terhadap tenaga medis, pada kondisi rileks frekuensi nafas

manusia adalah 14-20 hembusan nafas per menit. Sedangkan untuk pasien

koma mempunyai hembusan nafas yang cenderung lebih cepat atau lebih

lambat dibandingkan manusia normal, tergantung dari penyebab koma yang

dialami pasien.

Berdasarkan sumber dari chiara-sistempernafasanpadamanusia.

blogspot.com pola pernafasan manusia dibedakan menjadi dua yaitu

pola pernafasan yang normal dialami oleh manusia sehat (16-20 hembusan per

menit), sementara pola pernafasan tidak normal berada dikisaran kurang dari

10
normal (10- 15 hembusan per menit) atau lebih dari normal, tergantung dari

penyakit yang dideritanya.

Berdasarkan uraian di atas, alat pernapasan terluar yang bersangkutan

langsung dengan inspirasi dan ekspirasi yaitu hidung. Sehingga cara mudah

untuk mengetahui seorang manusia dikatakan bernapas atau tidak, dapat

diketahui dari hembusan napas di hidungnya. Pada alat pemantau kondisi

kesehatan manusia yang dibuat, penempatan sensor nafas diletakkan di

dekat lubang hidung, sehingga dapat membaca hembusan nafas dengan baik.

2.1.4. Pasien koma

Koma adalah situasi darurat medis ketika penderita mengalami keadaan

tidak sadar jangka waktu tertuntu. ketidaksadaran ini disebabkan oleh

menurunnya aktivitas didalam otak yang dipicu oleh beberapa kondisi.

Tingkat kesadaran penderita koma tergantung dari seberapa besar bagian

yang otak yang masih berfungsi dan kaeadaan ini biasanya berubah seiring

waktu. ketika berangsur sadar, akan merasakan sakit, kemudian mulai

menyadari keadaan disekitar dan ahirnya mampu berkomunikasi. Namun

peluang sembuh dari koma dan sangat tergantung dari penyebab koma itu

sendiri. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan koma, di antaranya : stroke,

cedera di kepala, diabetes, infeksi pada otak ,misalnya meningitis dan

ensefalitas. pemerikasan fisik akan di lakukan oleh dokter sebagai langkah awal

mendiagnosis koma, misalnya : memeriksa tempratur tubuh, memeriksa denyut

jantung, memeriksa pola napas penderita, memeriksa reaksi penderita terhadap

11
ras sakit. Tabel 2.2 menunjukan salah satu data pemeriksaan dokter terhadap

pasien koma yang bersumber dari www. alodokter. com.

Tabel 2.2 Hasil pemeriksaan dari pasien koma

Indikator yang diukur pada Hasil pemeriksaan


pasien koma
Denyut jantung pasien 40-60 denyutan per menit
o o
Temperatur pasien 34 -35 C
12-15 hembusan per menit dan
Frekuensi napas pasien
2.2 Arduino Uno
cenderung tidak teratur
Arduino Uno adalah papan sirkuit berbasis mikrokontroler ATmega 328.

IC (integrated circuit) ini memiliki 14 input/output digital (6 output untuk PWM),

6 analog input, resonator kristal keramik 16 MHz, Koneksi USB, soket adaptor,

pin header ICSP, dan tombol reset. Hal inilah yang dibutuhkan untuk mensupport

mikrokontrol secara mudah terhubung dengan kabel power USB atau kabel power

supply adaptor AC ke DC atau juga battery.

Arduino Uno berbeda dari semua board mikrokontrol diawal-awal yang

tidak menggunakan chip khusus driver FTDI USB-to-serial. Sebagai penggantinya

penerapan USB-to-serial adalah ATmega 16 U2 versi R2 (versi sebelumnya

ATmega 8U2). Versi Arduino Uno Rev.2 dilengkapi resistor ke 8U2 ke garis

ground yang lebih mudah diberikan ke mode DFU. Bahasa pemrograman yang

digunakan pada arduino adalah bahasa C/C++ dan menggunakan software

IDE(Integrated Developmnt Enviroenment) sebagai Compiler-nya.

12
Ringkasan Spesifikasi

Tabel 2.3 Spesifikasi Arduino Uno

Mikrokontroler ATmega328

Operasi tegangan 5Volt

Input tegangan disarankan 7-11Volt

Input tegangan batas 6-20Volt

Pin I/O digital 14 (6 bisa untuk PWM)

Pin Analog 6

Arus DC tiap pin I/O 50mA

Arus DC ketika 3.3V 50mA

32 KB (ATmega328) dan 0,5 KB


Memori flash
digunakan oleh bootloader

SRAM 2 KB (ATmega328)

EEPROM 1 KB (ATmega328)

Kecepatan clock 16 MHz

Sumber: Data Sheet Arduino Uno, 2008.

13
Arduino Uno dapat diaktifkan melalui koneksi USB atau dengan catu daya

eksternal. Sumber daya dipilih secara otomatis. Untuk sumber daya Eksternal

(non-USB) dapat berasal baik dari adaptor AC-DC atau baterai.

Gambar 2.1 Bentuk Fisik Arduino Uno


Sumber: Data Sheet Arduino Uno, 2008
Penjelasan Pin-Pin Pada Arduino Uno

a. Pin Daya
Rentang yang dianjurkan adalah 7 sampai 12 volt. Pin listrik yang

tersedia adalah sebagai berikut:

 VIN. Input tegangan ke board Arduino ketika menggunakan sumber

daya eksternal. Anda dapat menyediakan tegangan melalui pin ini, atau,

jika Anda ingin memasok tegangan melalui colokan listrik, gunakan

pin ini.

 5V. Pin ini merupakan output 5V yang telah diatur oleh regulator papan

Arduino. Board dapat diaktifkan dengan daya, baik dari colokan listrik

DC (7 - 12V), konektor USB (5V), atau pin VIN board (7-12V). Jika

14
Anda memasukan tegangan melalui pin 5V atau 3.3V secara langsung

(tanpa melewati regulator) dapat merusak papan Arduino. Penulis tidak

menyarankan itu.

 Tegangan pada pin 3V3. 3.3Volt dihasilkan oleh regulator on-board.

Menyediakan arus maksimum 50 mA.

 GND. Pin Ground.

 IOREF. Pin ini di papan Arduino memberikan tegangan referensi ketika

mikrokontroler beroperasi. Sebuah shield yang dikonfigurasi dengan

benar dapat membaca pin tegangan IOREF sehingga dapat memilih

sumber daya yang tepat agar dapat bekerja dengan 5V atau 3.3V.

b. Pin Input dan Output

Masing-masing dari 14 pin digital Uno dapat digunakan sebagai

input atau output, menggunakan fungsi pinMode(), digitalWrite(), dan

digitalRead(). Mereka beroperasi pada tegangan 5 volt. Setiap pin dapat

memberikan atau menerima maksimum 40 mA dan memiliki resistor pull-

up internal (terputus secara default) dari 20-50 kOhms. Selain itu, beberapa

pin memiliki fungsi spesial:

 Serial: pin 0 (RX) dan 1 (TX) Digunakan untuk menerima (RX) dan

mengirimkan (TX) data serial TTL. Pin ini terhubung dengan pin

ATmega8U2 USB-to-Serial TTL.

15
 Eksternal Interupsi: Pin 2 dan 3 dapat dikonfigurasi untuk memicu

interrupt pada nilai yang rendah (low value), rising atau falling edge,

atau perubahan nilai. Lihat fungsi attachInterrupt() untuk rinciannya.

 PWM: Pin 3, 5, 6, 9, 10, dan 11 Menyediakan 8-bit PWM dengan

fungsi analogWrite()

 SPI: pin 10 (SS), 11 (MOSI), 12 (MISO), 13 (SCK) mendukung

komunikasi SPI dengan menggunakan perpustakaan SPI

 LED: pin 13. Built-in LED terhubung ke pin digital 13. LED akan

menyala ketika diberi nilai HIGH

Arduino Uno memiliki 6 input analog, berlabel A0 sampai A5, yang

masing-masing menyediakan resolusi 10 bit (yaitu 1024 nilai yang

berbeda). Secara default mereka mengukur dari ground sampai 5 volt,

perubahan tegangan maksimal menggunakan pin AREF dan fungsi

analogReference(). Selain itu, beberapa pin tersebut memiliki spesialisasi

fungsi, yaitu TWI: pin A4 atau SDA dan A5 atau SCL mendukung

komunikasi TWI menggunakan perpustakaan Wire.

Ada beberapa pin lainnya yang tertulis di board:

 AREF. Tegangan referensi untuk input analog. Dapat digunakan

dengan fungsi analogReference().

 Reset. Gunakan LOW untuk me-reset mikrokontroler. Biasanya

digunakan untuk menambahkan tombol reset.

16
2.2.1 ADC (Analog To Digital Converter) Pada Arduino

Analog To Digital Converter (ADC) adalah pengubah input analog

menjadi kode – kode digital. ADC banyak digunakan sebagai Pengatur proses

industri, komunikasi digital dan rangkaian pengukuran/pengujian. Umumnya ADC

digunakan sebagai perantara antara sensor yang kebanyakan analog dengan sistim

komputer seperti sensor suhu, cahaya, tekanan/ berat, aliran dan sebagainya

kemudian diukur dengan menggunakan sistim digital (komputer).

Pin analog Arduino dapat menerima nilai hingga 10 bit sehingga dapat

mengkonversi data analog menjadi 1024 keadaan (2^10= 1024). Artinya nilai 0

merepresentasikan tegangan 0 volt dan nilai 1023 merepresentasikan tegangan 5

volt. Angka 1023 diperoleh karena perhitungannya dimulai dari angka 0 bukan

angka 1, sehingga nilai terbesar adalah 1023. Data yang sebelumnya analog

dikonversi menjadi data digital. Proses konversi dari nilai analog menjadi digital

ini disebut proses ADC (Analog to Digital Conversion). Bagaimana jika tegangan

5 volt dikonversi menjadi data digital 10 bit, berikut perhitungannya.

5 Volt
=0,004887585
1023

Artinya setiap 1 angka desimal mewakili tegangan sebesar 0,004887585 volt.

Berapa besar tegangan yang diwakili angka 512, berikut perhitungannya.

5 Volt
512 X =2,50244 volt
1023

2.3 Sensor Suhu DS18B20

17
DS18B20 adalah sensor temperatur digital yang dapat dihubungkan

dengan mikrokontroler lewat antarmuka 1-Wire. Sensor ini dikemas secara

khusus sehingga kedap air, cocok digunakan sebagai sensor di luar ruangan /

pada lingkungan dengan tingkat kelembaban tinggi. Dengan kabel sepanjang 1

meter, penempatan komponen sensor elektronika ini dapat diatur secara

fleksibel. Gambar 2.2 menunjukkan bentuk fisik dari sensor suhu DS18B20.

Protokol 1-Wire hanya membutuhkan 1 kabel koneksi (selain ground)

untuk mentransmisikan data. Berikut ini adalah ringkasan fitur dari IC

DS18B20:

a. Antarmuka 1-Wire yang hanya membutuhkan 1 pin I/O untuk

komunikasi data.

b. Tidak membutuhkan komponen eksternal tambahan selain 1 buah

pull-up resistor, artinya hanya menambahkan sebuah resistor yang

tersambung dari pin data ke pin Vcc sensor suhu DS18B80

c. Dapat mengukur suhu antara -55°C hingga 125°C dengan akurasi


0,5°C pada -10°C s.d. +85°C

d. Kecepatan pendeteksian suhu pada resolusi maksimum kurang dari 750

18
Gambar 2.2 Sensor suhu DS18B20

Berikut ini adalah contoh cara menyambungkan IC DS18B20

ke 1-wire bus pada moda catu daya eksternal:

Gambar 2.3 Koneksi DS18B20 ke mikrokontroler

Sensor suhu DS18B20 digunakan sebagai pendeteksi temperatur

tubuh pada alat pemantau kondisi kesehatan manusia. Sensor ini dipilih karena

memiliki kelebihan tahan terhadap air (waterproof), karena penggunaan sensor

ini hanya ditempelkan pada ketiak manusia, sehingga tahan terhadap

keringat manusia. Dalam aplikasinya sensor ini dihubungkan ke pin digital

arduino uno.

2.4 Pulse Sensor

Pulse Sensor pada dasarnya adalah alat medis yang berfungsi untuk

memantau kondisi denyut jantung manusia. Rangkaian dasar dari sensor ini

dibangun menggunakan phototransistor dan LED. Sensor ini bekerja

berdasarkan prinsip pantulan sinar LED. Kulit dipakai sebagai permukaan

reflektif untuk sinar LED. Kepadatan darah pada kulit akan mempengaruhi

19
reflektifitas sinar LED. Aksi pemompaan jantung mengakibatkan kepadatan

darah meningkat. Pada saat jantung memompa darah, maka darah akan mengalir

melalui pembuluh arteri dari yang besar hingga kecil seperti di ujung jari.

Volume darah pada ujung dari bertambah maka intensitas cahaya yang

mengenai phototransistor akan kecil karena terhalang oleh volume darah,

begitu pula sebaliknya. Keluaran sinyal dari phototransistor kemudian dikuatkan

oleh sebuah Op-Amp sehingga dapat dibaca oleh ADC mikrokontroler. Gambar

2.4 menunjukkan bentuk fisik dari pulse sensor.

Gambar 2.4 Pulse sensor atau sensor detak jantung

Sumber http://pulsesensor.com

20
2.5 Sensor Sound

Gambar 2.5 Sound sensor


(http://www.seeedstudio.com/wiki/Grove_-_Sound_Sensor)

Sound sensor adalah sensor yang berfungsi untuk mendeteksi hembusan

nafas dari manusia. Komponen utama dari sensor ini adalah sebuah kondensor

microphone yang berfungsi mengubah getaran hembusan napas menjadi sinyal

listrik, namun sinyal listrik yang dikeluarkan dari kondensor microphone

ini masih sangat kecil. Untuk itu perlu dikuatkan oleh sebuah rangkaian Op-

Amp.

2.6 LCD

LCD merupakan singkatan dari Liquid Cristal Display. LCD ini biasa

digunakan untuk peralatan elektronika seperti Tv, komputer, dan perangkat mobile

lain. Display elektronika yang berfungsi sebagai tampilan suatu data, baik

karakter, huruf ataupun grafik.

LCD ( Liquid Cristal Display) merupakan suatu jenis display elektronik yang

dibuat dengan teknologi yang bekerja dengan tidak menghasilkan cahaya tetapi

memantulkan cahaya yang ada di sekelilingnya terhadap front-lit atau

21
mentransmisikan cahaya dari back-lit. LCD berfungsi sebagai penampil data baik

dalam bentuk karakter, huruf, angka ataupun grafik.

Gambar 2.6 Bentuk Fisik LCD


Sumber: International Journal Of Emerging Technology And Advanced Engineering. Vol. 2,
No. 11, 2012.
Penjelasan Pin-Pin LCD 16x2

Tabel 2.4 Penjelasan Pin-Pin LCD 16x2

No. Nama Pin Deskripsi Port


1. VCC + 5V VCC
2. GND 0V GND
3. VEE Tegangan Kontras LCD
4. RS Register select, 0=Input Instruksi, I=Input Data PD7
5. R/W I= Read ; 0= Write PD5

6. E Enable Clock PD6


7. D4 Data Bus 4 PC4
8. D5 Data Bus 5 PC5
9. D6 Data Bus 6 PC6
10. D7 Data Bus 7 PC7
11. Anode Tegangan Positif Backlight
12. Katode Tegangan Negatif Backlight

Register control yang terdapat dalam suatu LCD diantaranya adalah.

 Register perintah yaitu register yang berisi perintah-perintah dari

mikrokontroler ke panel LCD (Liquid Cristal Display) pada saat proses

22
penulisan data atau tempat status dari panel LCD (Liquid Cristal Display)

dapat dibaca pada saat pembacaan data.

 Register data yaitu register untuk menuliskan atau membaca data dari atau

ke DDRAM. Penulisan data pada register akan menempatkan data tersebut

ke DDRAM sesuai dengan alamat yang telah diatur sebelumnya.

Pin, kaki atau jalur input dan kontrol dalam suatu LCD (Liquid Cristal Display)

diantaranya adalah :

 Pin data adalah jalur untuk memberikan data karakter yang ingin

ditampilkan menggunakan LCD (Liquid Cristal Display) dapat dihubungkan

dengan bus data dari rangkaian lain seperti mikrokontroler dengan lebar data

8 bit.

 Pin RS (Register Select) berfungsi sebagai indikator atau yang

menentukan jenis data yang masuk, apakah data atau perintah. Logika low

menunjukan yang masuk adalah perintah, sedangkan logika high

menunjukan data.

 Pin R/W (Read Write) berfungsi sebagai instruksi pada modul jika low

tulis data, sedangkan high baca data.

 Pin E (Enable) digunakan untuk memegang data baik masuk atau keluar.

 Pin VLCD berfungsi mengatur kecerahan tampilan (kontras) dimana pin

ini dihubungkan dengan trimpot 5 Kohm, jika tidak digunakan dihubungkan

ke ground, sedangkan tegangan catu daya ke LCD sebesar 5 Volt.

23
BAB III

METODE PERANCANGAN

3.1 Waktu Dan Tempat Perancangan

Adapun waktu dan tempat penelitian tugas akhir yang berjudul


“Perancangan Alat Pemantau Kesehatan Pasien Koma Berbasis Arduino” yaitu
mulai tanggal 9 September 2018 hingga selesainya tugas ini, bertempat di
Laboratorium Kendari Robotik, Anduonohu.

3.2 Metode Perancangan

3.2.1 Perancangan Perangkat Keras

Gambar 3.1 Sketsa Perancangan Alat

Adapun perancangan perangkat keras alat ini dijelaskan pada gambar

3.2 , Alat ini menggunakan tiga buah sensor yang dapat bekerja secara

bersamaan, yaitu : sensor denyut jantung, sensor temperatur tubuh dan sensor

pendeteksi nafas. Sensor denyut mendeteksi jumlah denyut jantung permenit

(BPM), sensor suhu mendeteksi temperatur tubuh manusia yang batasan

24
o
normalnya sekitar 36 – 37 C. Sensor nafas mendeteksi frekuensi nafas

manusia. Keluaran ketiga sensor tersebut akan dikirim dan diolah oleh

mikrokontroller arduino uno. Di dalam mikrokontroller data akan diolah dan

diproses kemudian hasilnya akan ditampilkan di LCD. LCD driver

berfungsi untuk menghemat konfigurasi pin output dari mikrokontroller.

Power supply berfungsi untuk memberi tegangan ke seluruh rangkaian.

Power supply yang digunakan sebesar 5-12 VDC

3.3 Alat dan Bahan Yang Digunakan

Adapun peralatan-peralatan serta bahan-bahan yang digunakan dalam

perancangan ini adalah sebagai berikut:

3.3.1 Alat

Alat yang digunakan dalam perancangan ini adalah:

Tabel 3.3 Peralatan Yang Digunakan

No. Nama Alat Jumlah Fungsi


1. Gergaji Besi 1 buah Untuk memotong kaca mika
2. Bor Listrik 1 Set Untuk melubangi Aluminium
3. Tang Potong 1 buah Untuk memotong kabel
4. Cutter 1 buah Untuk memotong kabel dan

tripleks
5. Solder 1 buah Untuk menyambungkan

komponen

3.3.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam perancangan ini adalah:

Tabel 3.3 Bahan Yang Digunakan

25
No Nama Bahan Jumlah Fungsi
1. Arduino Uno 1 set Berfungsi untuk menangani sensor detak

jantung, sensor suhu dan sensor nafas.


2. LCD 16X4 1 buah Berfungsi untuk menampilkan data

pembacaan dari sensor.


3. Sensor Suhu DS18B20 1 buah Berfungsi untuk mendeteksi suhu tubuh

pasien
4. Sensor Pulse/detak Berfungsi untuk mendeteksi detak jantung

jantung pasien
5. Sensor Sound Berfungsi untuk mendeteksi nafas pasien
6. Adaptor 1 buah Menyuplai tegangan ke sebesar 12 VDC
6. Baut Secukupnya Untuk pengikat dua objek yang dijadikan

satu
7. Mika Secukupnya Untuk pembuatan maket alat
8. Timah Solder Secukupnya Untuk penyolderan komponen
9. Kabel Secukupnya Untuk menghubungkan komponen satu

dengan yang lainnya.

3.4 Blok Diagram Alat


Sumber tegangan yang berasal dari PLN akan di salurkan menggunakan

adaptor keseluruh rangkaian. Pengendali utama seluruh komponen pada rangkaian

ini adalah arduino uno, pada rangkaian ini terdapat tiga sensor yaitu sensor suhu

yang berfungsi mendeteksi suhu tubuh, sensor sound yang berfungsi mendeteksi

kualitas nafas pasien dan sensor pulse yang berfungsi mendeteksi detak jantung

pasien. Hasil dari ketiga sensor tersebut akan ditampilkan didalam LCD.

26
Gambar 3.2 Blok Diagram Alat

3.5 Skema Rangkain


Gambar di bawah ini dapat dilihat terdapat 3 sensor yang terhubung ke

arduino dimana arduino adalah pusat dari sistem kendali yang mengatur input

dari sensor. pada gambar tersebut terdapat LCD untuk menampilkan karakter

dari 3 sensor yang digunakan. Selain itu terdapat Bluetooth untu mengirim

data ke android

27
Gambar 3.3 Skema Rangkaian Alat

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

28
4.1 Hasil Perancangan Alat

Gambar 4.1 Hasil Perancangan Alat

4.2 Spesifikasi Alat

1. Panjang alat 18 cm, Lebar 11 cm dan tinggi 6 cm

2. Supply daya yang dibutuhkan: 5 VDC 2 Ampere

3. Modul Bluetooth yang digunakan yaitu Bluetooth HC05

4. Menggunakan 3 sensor yaitu: sensor respirasi, detak jantung dan suhu

29
5. Menggunakan aplikasi android bernama Receiver untuk menghubungkan

ke Bluetooth dan menerima data dari arduino melalui bluetooth

4.3 Pengujian Alat

4.3.1 Cara Pengujian Alat

Pengujian alat seharusnya dilakukan pada pasien koma sesuai dengan judul

dari Tugas ini, tetapi karena kendala dalam mendapatkan izin dari pihak Rumah

Sakit dan keluarga dari pasien koma, maka untuk menguji alat ini. Kami

mengumpulkan 5 responden secara acak untuk dilakukan pengujian, adapun dalam

pengujian alat ini terbagi atas 3 pengujian, yaitu:

Pengoperasian alat:

1. Menyiapkan power supply yaitu menggunkan power bank dengan output

tegangan 5VDC 2 Ampere.

2. Kemudian modul akan aktif, LCD menampilkan karakter sesuai dengan

instruksi pada kode program arduino.

3. Menghubungkan handphone android dengan Bluetooth pada alat dengan

mengaktifkan Bluetooth terlebih dahulu pada handphone, kemudian

membuka aplikasi Receiver lalu hubungkan dengan Bluetooth HC05 pada

alat.

4. Alat siap untuk di uji coba, untuk memulai pengukuran cukup dengan

menekan tombol Start.

30
Gambar 4.2 Pengoprasian Alat

n= adalah nilai waktu sensor mengukur selama satu menit, pada alat ini di

tampilkan 300 bukan 60 karena pada kode program delay yang di gunakan untuk

ketiga sensor yaitu 200 ms, jadi dapat dihitung 200ms x 300 (yang ditampilkan di

LCD ) = 60.000ms=60s

4.3.1.1 Pengujian Pengukuran Detak Jantung

Pengujian ini dilakukan dengan cara menempatkan sensor pada titik nadi

responden untuk mendapatkan hasil yang akurat, seperti gambar berikut:

Gambar 4.3 Pengukuran Detak Jantung

4.3.1.2 Pengujian Pengukuran Respirasi

31
Pengujian ini dilakukan dengan cara menempatkan sensor dekat dengan

hidung responden untuk mendapatkan hasil yang akurat, seperti gambar berikut:

Gambar 4.4 Pengukuran Respirasi

4.3.1.3 Pengujian Pengukuran Suhu

Pengujian ini dilakukan dengan cara menempatkan ketiak atau dubur

responden untuk mendapatkan hasil yang akurat, seperti gambar berikut:

Gambar 4.5 Pengukuran Suhu

4.3.1.4 Hasil Pada LCD dan Handphon.

Setelah alat pemantau pasien bekerja maka hasil akan di tampilkan pada
LCD dan Handphone

32
Gambar 4.6 Tampilan LCD Ketika Selesai Alat Bekerja

Gambar 4.7 Tampilan Pada Handphone

4.3.2 Hasil Pengujian Alat

Hasil dari pengujian alat pada kelima responden menunjukkan hasil yang

berbeda-beda sesuai jenis kelamin, umur, kondisi kesehatan masing-masing

responden ketika dilakukan pengujian alat.

33
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang akurat memang harus benar-

benar memperhatikan posisi peletakan sensor pada responden yang akan di

lakukan pengujian. Berikut adalah tabel hasil pengujian alat pada 5 responden

Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Detak Jantung

N Nama Jenis Umur Hasil


o Kelamin (tahun) Pengukuran
(P/L) Detak
Jantung (Per
Menit)
1. Nurhafni Azizah Perempuan 19 50 Per Menit
2. Wahyudin Laki-Laki 21 53 Per Menit
3. Andi Hasrudin Laki-Laki 21 51 Per Menit
4. Asmatul Fadillah Perempuan 20 79 Permenit
5. Alifah Nur sari Perempuan 19 52 Per Menit

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Respirasi

N Nama Jenis Umur Hasil


o Kelamin (tahun) Pengukuran
(P/L) Respirasi
(Per Menit)
1. Nurhafni Azizah Perempuan 19 16 kali/
menit
2. Wahyudin Laki-Laki 21 23 kali/
menit
3. Andi Hasrudin Laki-Laki 21 14
kali/menit
4. Asmatul Fadillah Perempuan 20 26
kali/menit
5. Alifah Nur sari Perempuan 19 33
kali/menit

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Suhu

N Nama Jenis Umur Hasil


o Kelamin (tahun) Pengukuran
(P/L) Respirasi
(Per Menit)
34
1. Nurhafni Azizah Perempuan 19 34.44 c
2. Wahyudin Laki-Laki 21 30.00 c
3. Andi Hasrudin Laki-Laki 21 32.63 c
4. Asmatul Fadillah Perempuan 20 33.19 c
5. Alifah Nur sari Perempuan 19 31.87 c

4.4 Penulisan Program Pada Arduino

1. Kode program untuk mengaktifkan LCD, mendeklarasikan fungsi library

dari modul Bluetooth, mendeklarasikan variabel dan pin-pin arduino yang

digunakan.

2. Kode program untuk mengatur pengukuran dan tampilan Sensor BPM di LCD

35
3. Kode program untuk mengatur pengukuran dan tampilan Sensor Respirasi di

LCD

4. Kode program untuk mengatur pengukuran dan tampilan Sensor Suhu di LCD

36
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pembahasan Perancangan Alat Pemantau Pasien Koma Berbasis

Arduino, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Perancangan Alat Pemantau Pasien Koma Berbasis Arduino telah berhasil

dibuat dan dapat bekerja sesuai yang diinginkan.


2. Perancangan Alat Pemantau Pasien Koma Berbasis Arduino yang meliputi

3 sistem yaitu pengukuran oleh 3 sensor yaitu sensor BPM, Respirasi dan

Suhu, kemudian menampilkan data pembacaan sensor di LCD dan

mengirim data hasil pengukuran ke Smartphone melalui Bluetooth.

37
3. Pengujian alat dilakukan dengan mengumpulkan 5 responden secara acak

untuk dilakukan pengujian. Dari 5 responden, terdapat hasil yang berbeda-

beda pada setiap pengukuran sensor. Sesuai dengan usia, jenis kelamin dan

kondisi kesehatan responden ketika dilakukan pengujian.

5.2 Saran

Saran dari penulis sebaiknya ada alat pembanding dari Rumah Sakit agar

dapat mengetahui sejauh mana keakuratan alat in

38
DAFTAR PUSTAKA

Artanto, Dian. 2012. Interaksi Arduino dan LabVIEW. Jakarta: Elex Media

Komputindo Cameron, John. 1999. Physics of the Body. Second Edition. Medical

Physics Publishing. Terjemahan Dra. Lamyarni I. Sardy, M.Eng. 2006. Fisika

Tubuh Manusia. Cetakan 1. Sagung Seto. Jakarta Daryanto. 2003. Alat Pengikat

pada Elemen Mesin. Jakarta: Bina Adiaksara Eko, Jazi. 2014. Pengantar

Elektronika dan Instrumentasi. Yogyakarta: ANDI OFFSET Jevon, Philip and

Beverley Ewens. 2007. Monitoring the Critically Ill Patient. Second Edition.

Blackwell Publishing. Terjemahan dr. Vidhia Umami. 2009. Pemantauan Pasien

Kritis. Cetakan 1. Erlangga. Jakarta Kadir, Abdul. 2013. Panduan Praktis

Mempelajari Aplikasi Mikrokontroler dan Pemrogramannya menggunakan

Arduino. Yogyakarta: ANDI OFFSET Kasron. 2012. Kelainan dan Penyakit

Jantung. Yogyakarta: Nuha Medika Kurniawan, Adi Dwi. 2010. Alat Pendeteksi

Suhu Berbasis Mikrokontroler. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Semarang

Mulyono, Iwan Adi. 2002. Perencanaan dan Pembuatan Alat Pendeteksi Detak

Jantung dan Suhu Tubuh Berbasis Komputer. Skripsi. Universitas Soegijapranata.

Semarang Pearce, Evelyn. 2000. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama Sofie, Mohamad. 2003. Pencacah Denyut Jantung

dengan Sensor Jari. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Semarang Somerville,

Ian. 2003. Rekayasa Perangkat Lunak. Jakarta: Erlangga Sudoyo, W, dkk. 2006.

Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Suharsimi, Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta Suryo, Joko. 2010. Herbal Penyembuh Gangguan Sistem

38
Pernapasan. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka 75 Syahwil, Muhammad. 2013.

Panduan Mudah Simulasi dan Praktek Mikrokontroler Arduino. Yogyakarta:

ANDI OFFSET Werner, David and Carol Thuman. 1980. Where There is No

Doctor. Hesperian Foundation. USA. Terjemahan Prof. Dr. Januar Achmad, M.Sc..

Ph.D. 2010. Apa yang Anda Kerjakan bila tidak ada Dokter. Cetakan 1.

ANDIOFFSET.Yogy

39