You are on page 1of 16

Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan ISSN 1411-0393

Akreditasi No. 110/DIKTI/Kep/2009

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PERILAKU TIDAK


ETIS DAN KECENDERUNGAN KECURANGAN AKUNTANSI SERTA
AKIBATNYA TERHADAP KINERJA ORGANISASI

Siti Thoyibatun
drb_0112@yahoo.com
Universitas Negeri Malang

ABSTRACT
The tendency of accounting fraud (TAF) is characterized by actions and policies deliberately hide facts
or do not provide real information for the purpose of deceiving or manipulation. Surprisingly TAF
sometimes deliberately chosen because it is deemed advantageous for himself, but many more parties
agree not to provide an opportunity for the TAF. This research was conducted in the State Universities
at East Java that under the Agency of National Education and the Agency of Religion using survey
and questionnaire as instrument. Considering that this is a behavioral research, the unit analysis on
this study is the officials and other staff that are responsible as budget user, accounting administrator,
and the compiler of accountability report in the state Universities. Of the 360 questionnaires sent there
are 146 pieces of the back, it means the response rate achieved 40,56%. There are from 19 State
Universities participate in the data collection. The 130 qualified data is analyzed using regression,
which 16 were not analyzed because it is not filled completely. The result shows that 1) internal
control compliance, compensation system, and compliance with rules effect on unethical behavior, 2)
internal control compliance, compensation system, compliance with rules, and unethical behavior
effect on tendency of accounting fraud, 3) tendency of accounting fraud did not effect on performance
accountability. Compensation System And compliance with rules is an effective factor to control the
occurrence of unethical behavior and TAF. The results of this study recommends that (1) SPI is
applied always consider the benefits to the destination SPI to maintain the security of assets and
information organization, (2) always should consider ethical violations in assessing the performance
of employees who are next used as a basis for determining the burden of tasks that become the basis
for determining the honorarium.

Keywords: Internal Control Compliance, Compensation System, compliance with rules, Unethical Behavior ,
and The Tendency of Accounting Fraud (TAF)

ABSTRAK
Kecenderungan kecurangan akuntansi (KKA) ditandai dengan adanya tindakan dan kebijakan
menghilangkan atau penyembunyian informasi yang sebenarnya untuk tujuan manipulasi. Anehnya,
KKA kadang malah dipilih karena menjanjikan keuntungan yang lebih besar bagi dirinya sendiri,
namun beberapa pihak tidak menyetujui KKA. Penelitian ini dilaksakan di Perguruan Tinggi Negeri
se Jawa Timur yang berada di bawah naungan Depatemen Pendidikan Nasional dan Depatemen
Agama dengan desain penelitian survey dan kuesioner sebagai instrumen. Penelitian ini berfokus
pada studi keperilakuan dengan unit analisis pejabat dan semua staf yang mendapat delegasi
wewenang sebagai pengguna anggaran, penyelenggara akuntansi, dan pembuat laporan akuntabilitas
di PTN. Dari 360 buah kuesioner yang dikirim ada 146 yang kembali, ini berarti bahwa tingkat respon
mencapai 40,56%. Mereka dari 19 Perguruan Tinggi Negeri. 130 kuesioner yang diterima dinyatakan
memenuhi syarat sebanyak 130 dan dianalisis dengan teknik regresi, 16 kuesioner yang terisi tidak
dianalisis karena tidak lengkap pegisiannya. Hasil studi menunjukkan bahwa 1) kesesuaian sistem
pengendalian intern, sistem kompensasi, dan ketataan aturan akuntansi berpengaruh terhadap
perilaku tidak etis, 2) kesesuaian sistem pengendalian intern, sistem kompensasi, ketataan aturan
akuntansi, dan perilaku tidak etis berpengaruh terhadap KKA, 3) KKA tidak berpengaruh terhadap
akuntabilitas kinerja. Sistem kompensasi dan ketaatan aturan akuntansi merupakan faktor yang
246 Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan – Volume 16, Nomor 2, Juni 2012 : 245 - 260

efektif untuk mengendalikan perilaku tidak etis dan KKA. Hasil studi ini memberikan saran bahwa 1)
sistem pengendalian intern yang diterapkan hendaknya mempertimbangakn kebermanfaatannya
untuk mengendalikan keamanan aset dan informasi organisasi, 2) sebaiknya dipertimbangkan
masalah pelanggaran etis yang pernah dilakukan karyawan sebagai dasar dalam penentuan tugas
yang pada akhirnya nanti akan dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan honorarium.

Kata kunci: kesesuaian sistem pengendalian intern, sistem kompensasi, ketataan aturan akuntansi,
perilaku tidak etis, dan Kecenderungan Kecurangan Akuntansi

PENDAHULUAN sasi semakin sedikit, kepercayaan masya-


Kasus Kecenderungan Kecurangan rakat yang dilayani beralih ke organisasi
Akuntansi (KKA) di Indonesia terjadi secara lain, dan mitra kerja tidak selera lagi untuk
berulang-ulang. Media massa banyak mem- tetap bekerja sama. Di sisi lain kasus KKA
beritakan hal tersebut sehingga bagi masya- tidak terlepas dari pemberitaan media
rakat kasus KKA sepertinya bukan rahasia massa. Jika demikian yang terjadi, reputasi
lagi. Pada sektor publik KKA dilakukan dan citra organisasi yang terbangun selama
dalam bentuk kebocoran Anggaran Penda- ini menjadi sulit untuk dijadikan daya
patan dan Belanja Negara (APBN). Di sektor saing dalam meraih persaingan pasar yang
swasta bentuk KKA juga terjadi dalam semakin tajam.
bentuk yang sama yaitu ketidaktepatan Menghadapi bahaya tersebut banyak
dalam membelanjakan sumber dana. Hal pihak setuju agar tidak memberikan pe-
demikian terjadi pula pada Badan Usaha luang bagi terjadinya KKA melalui berbagai
Milik Negara (BUMN) (Wilopo, 2006). kebijakan. Untuk itulah KKA perlu ditang-
Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebagai gulangi. Antara lain, TAP MPR XVI Tahun
lembaga publik ditengarai tidak terlepas 1998, UU No. 28 Tahun 1999 tentang
dari hal demikian. Hasil pemeriksaan Badan Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan
Pemeriksa Keuangan (BPK) pada tahun Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dan
2010 di antaranya menginformasikan bahwa PP No. 71 Tahun 2000 tentang Peran serta
terdapat sisa dana bantuan sosial yang tidak Masyarakat dan Pemberian Penghargaan
tersalurkan belum disetor kembali ke kas dalam Pencegahan dan Pemberantasan
negara, terdapat pembayaran ganda hono- Tindak Pidana Korupsi (Soepardi, 2007).
rarium dan perjalanan dinas, dan juga Perkembangan ini menandakan bahwa
terdapat rekening aktif yang dibuka tanpa semua pihak berkeinginan menangani KKA
memberi tahu kementerian keuangan secara serius dan untuk itu diperlukan
sehingga illegal (kompas, 14 Juli 2011). lingkungan yang kondusif.
Bentuk lain terungkap dari hasil pengujian Kenyataannya KKA tetap terjadi dan
kepatuhan yang mengungkap adanya hal berkembang dari sisi kualitas dan kuantitas.
material dari ketidakpatuhan yang ber- Masyarakat kecewa terhadap perkemba-
dampak pada kewajaran laporan keuangan ngan ini, sebab lembaga-lembaga tersebut
(BPK, 2007). Oleh karenanya, disarankan seharusnya jujur dan tertib, serta menjadi
oleh BPK agar kelemahan yang ada segera sumber kekuatan dalam membangun per-
di atasi agar fungsi pengendalian dan kembangan ekonomi Indonesia. PTN se-
pengawasan, serta kepatuhan terhadap bagai lembaga publik diharap memiliki ciri
aturan yang berlaku ditingkatkan efekti - dan komunitas yang berbeda dengan
fitasnya. lembaga publik di atas dan terpelihara dari
Terjadinya KKA membuat organisasi KKA (Toenlioe, 2007).
atau lembaga yang dikelola menjadi rugi. Penanganan KKA memerlukan usaha
Sebagai contoh, volume produktivitas yang lebih baik. Untuk itu hal pertama yang
organisasi melemah, belanja sosial organi- perlu ditelusuri adalah identifikasi sebab-
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku … -- Thoyibatun 247

sebab utama terjadinya KKA. Alasannya, teristik yang tertentu, misalnya berusaha
dengan informasi tersebut dapat dirumus- untuk mengatur supaya tanggung jawabnya
kan strategi yang lebih tepat untuk terjangkau dan meningkatkan kemampuan
menurunkan taraf terjadinya KKA yang diri agar dapat mengurangi pembelanjaan
ditimbulkan oleh faktor penyebab tersebut. biaya dan memperoleh tambahan manfaat
Pada penelitian sebelumnya KKA untuk dirinya (Jensen dan Meckling, 1976).
diketahui bahwa KKA dipengaruhi secara Perkembangan struktur kepemilikan
negatif oleh kesesuaian Sistem Pengen- memberi gambaran semakin banyak kepenti
dalian Intern dan dipengaruhi secara positif ngan yang perlu di akomodasi dalam
oleh Sistem Kompensasi. Berarti berdasar hubungan kontrak. Ada kemungkinan
temuan tersebuat KKA akan cenderung kepentingan tersebut saling bertentangan
meningkat ketika gaji yang dibayarkan dan melebihi kapasitas yang wajar. Hal
semakin banyak. Hal demikian tidak demikian mendorong pimpinan berperilaku
mendukung tujuan kenaikan gaji yang tidak etis dan cenderung melakukan ke-
dilakukan yang salah satunya adalah agar curangan akuntansi. Dua perilaku tersebut
taraf kejadiaan KKA menurun. Oleh karena dipilih karena dipandang dapat mem-
itu melalui penelitian ini ingin diketahui berikan peluang bagi kepentingan pim-
juga pengaruh faktor ketaatan terhadap pinan.
aturan perilaku tidak etis dan KKA sebagai Kondisi tersebut di atas juga memicu
upaya untuk mendapat informasi yang munculnya asimetri informasi baik yang
lebih lengkap mengenai penyebab terjadi- disebabkan oleh adverse selection ataupun
nya KKA. karena moral hazard (Scott, 2005). Adverse
selection berkaitan dengan masalah
TINJAUAN TEORETIS penyajian informasi kepada pihak yang
Teori agensi (Jensen dan Meckling, 1976) bukan pimpinan, dan moral hazard berkaitan
dipilih sebagai dasar pengembangan model dengan usaha dan perilaku pimpinan yang
konsep dalam penelitian ini. Hal tersebut menyimpang. Supaya masalah yang ber-
dipandang tepat karena tujuan pokok kembang dapat terkurangi, kedua pihak
penelitian adalah untuk mengonfirmasi (prinsipal dan pimpinan) bisa mengatur
model tentang faktor-faktor yang mem- kembali kontrak yang disepakati dalam
pengaruhi KKA dan akibatnya pada rangka memberi motivasi agar pimpinan
akuntabilitas kinerja instansi yang sebenar- mengikuti prosedur kerja dan aturan
nya merupakan salah satu perkembangan akuntansi yang berlaku.
masalah dalam konteks hubungan antara
Perilaku Tidak Etis
prinsipal dan pimpinan.
Organisasi atau perusahaan sebagai
Jika pemerintah selaku owner membagi
badan hukum dipandang sebagai individu.
kepemilikan organisasi kepada pihak lain
Berkenaan dengan status tersebut organisasi
misalnya mahasiswa atau orang tua maha-
dituntut berperilaku etis terhadap pekerja,
siswa, akan terjadi perbedaan kepentingan
konsumen, atau masyarakat pada umum-
antara pengelola perguruan tinggi dan
nya. Hal demikian dibuktikan dengan
mahasiswa/orang tuanya selaku pemegang
adanya berbagai tanggung jawab yang
saham luar (outside shareholders). Dalam
harus dipenuhi (Brooks dan Dunn, 2007;
keadaan demikian pemegang saham luar
Ernawan, 2007).
akan berusaha membelanjakan sumber daya
Dilema etik sering muncul ketika pada
untuk membatasi aktivitas pimpinan atau
saat yang sama manajemen dituntut me-
owner manager agar tetap berada pada
ningkatkan keuntungan organisasi dan
kontrak yang bertujuan memaksimalkan
memaksimalkan manfaat yang bisa di-
kesejahteraan pemilik luar. Namun, di sisi
peroleh konsumen melalui produk yang
lain pimpinan sendiri juga memiliki karak-
248 Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan – Volume 16, Nomor 2, Juni 2012 : 245 - 260

dihasilkan organisasi. Keadaan demikian Definisi tentang kecurangan akuntansi


melahirkan perilaku tidak etis dan berbagai yang diberikan SAS 82, The International
kebijakan bias. Federation of Accountants (IFAC) melalui
Perilaku tidak etis adalah perilaku yang International Statements on Auditing (ISA) 11
menyimpang dari tugas pokok atau tujuan (dalam Colbert 2000), dan Belkaoui dan
utama yang telah disepakati (Dijk, 2000). Picur (2000). Mereka semua menfokuskan
Perilaku tidak etis seharusnya tidak bisa perhatian pada dua sumber risiko
diterima secara moral karena mengakibat- kecurangan, yaitu laporan keuangan yang
kan bahaya bagi orang lain dan lingkungan menipu dan ketidaktepatan aset.
(Beu dan Buckley, 2001). Memperjelas pendapat tersebut IAI
Dalam praktiknya perilaku tidak etis (2001) membedakan antara kecurangan dan
memiliki pola yang rumit. Sebagai gejala kekeliruan. Jika risiko itu timbul atas dasar
kompleks perilaku tidak etis sangat ber- tindakan yang disengaja, diklasifikasikan
gantung pada interaksi antara karakteristik sebagai kecurangan. Namun jika risiko
personal dengan fenomena asosial yang timbul karena perbuatan tidak sengaja,
muncul, lingkungan, dan faktor psikologi disebut sebagai kekeliruan.
yang kompleks (Buckley et al., 1998). Berdasar deskripsi tersebut KKA di-
Selain faktor tersebut perilaku tidak etis artikan sebagai adanya tindakan, kebijakan
juga dipicu oleh sistem gaji, keamanan atas dan cara, kelicikan, penyembunyian, dan
risiko pekerjaan, perlindungan atas ke- penyamaran yang tidak semestinya secara
rahasiaan laporan keuangan (Dijk, 2000). sengaja, yaitu dalam menyajikan laporan
Jika perilaku tidak etis dibiarkan maka akan keuangan dan pengelolaan aset organisasi
berkembang menjadi bentuk kompleks yang mengarah pada tujuan mencapai
yang sulit ditelusuri dan menimbulkan keuntungan bagi dirinya sendiri dan
akibat yang merugikan. menjadikan yang lain sebagai pihak yang
Sebagaimana yang dilakukan Wilopo dirugikan.
(2006), perilaku tidak etis dalam penelitian KKA merupakan ancaman yang terus
ini dikatakan sebagai perilaku yang berkembang. Umumnya hal tersebut terjadi
menyalahgunakan jabatan, sumber daya karena tiga alasan (sebagai fraud triangle),
organisasi, kekuasaan, dan perilaku yang yaitu peluang (opportunit)y, insentif dan
tidak berbuat apa-apa sehubungan dengan tekanan (incentive and pressure), rasionali-
jabatan dan kekuasaannya (Tang dan Chiu, sasi dan sikap (rationalizaation and attitude)
2003). Dikatakan Dallas (2002) perilaku (AICPA, 2003).
tidak etis mengakibatkan iklim kerja yang Peluang yang dimaksud tergambar
tidak sehat dan mendorong timbulnya sebagai keadaan yang mendukung dan
kecenderungan kecurangan akuntansi (Lane menyediakan kemungkinan bagi dipilihnya
and O'Connell, 2009), serta mengganggu tindakan KKA. Insentif dan tekanan adalah
akuntabilitas kinerja (Dijk, 2000; Beu dan kondisi insentif atau adanya tekanan lain
Buckley, 2001). yang menjadi motivasi bagi pimpinan atau
pejabat untuk melakukan KKA. Adapun
Kecenderungan Kecurangan Akuntansi
rasionalisasi adalah adanya pembenaran
Kecenderungan diartikan sebagai ‘lebih
atau justifikasi dari pihak yang terlibat
tertarik pada...’ namun tidak selalu tertarik
kecenderungan kecurangan bahwa peri-
pada... (Daryanto, 1997), yang disimpul-
laku mereka adalah konsisten dengan kode
kan karena berbagai perilaku yang diperan-
etik pribadi mereka. Sikap berarti bahwa
kan banyak mengandung nilai-nilai yang
individu yang terlibat memiliki karakter
menuju ke arah pada hal-hal yang dia
atau nilai yang memungkinkan mereka
tertarik tersebut.
untuk melakukan perbuatan tersebut.
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku … -- Thoyibatun 249

Bentuk kecurangan laporan keuangan Salah satu bentuk eksposur adalah peng-
menurut IAI (2001) adalah: gelapan dan kecurangan akuntansi (Bodnar
(a) Manipulasi, pemalsuan, atau peruba- and Hopwood, 2004; Boynthon et al., 2001).
han catatan akuntansi atau dokumen Bagi PTN yang berbentuk BHMN
pendukungnya; kepemilikan SPI yang memadai dibuktikan
(b) Penyajian yang salah; dengan sebuah sertifikat dan tidak demi-
(c) Salah penerapan prinsip secara senga- kian halnya dengan PTN yang belum
ja; BHMN. Namun, secara jelas BPK mene-
(d) Ketidaktepatan aset. gaskan bahwa semua PTN wajib men-
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa jalankan SPI secara memadai (BPK RI, 2007).
kecurangan akuntansi oleh pimpinan dapat Kesesuaian SPI yang dikembangkan
dilakukan dengan memanfaatkan berbagai tercapai jika bentuk SPI yang dikembang-
sumber penipuan baik berupa pemalsuan kan dan usaha orang-orang yang terlibat
atau penyembunyian bukti-bukti transaksi, selaras dengan maksud memberi jaminan
penyajian informasi dan laporan keuangan yang memadai bahwa tujuan organisasi
yang tidak benar, ataupun salah saji akibat akan terealisasi (IAI,2001:319.10-11; Lane
perlakuan yang tidak semestinya terhadap and O'Connell, 2009).
aset (Lin et al., 2003).
Sistem Kompensasi
Sehubungan dengan laporan keuangan
Kompensasi merupakan komponen
kecenderungan kecurangan umumnya ter-
biaya yang dibayarkan oleh organisasi pada
jadi karena pengaruh lingkungan intern dan
karyawan. Bagi karyawan kompensasi
lingkungan ekstern (Armand, 2007:98). Hal
merupakan faktor yang menentukan tingkat
tersebut diungkap sehubungan dengan
kesejahteraan, sedang bagi organisasi
laporan keuangan dan pengelolaan aset
kompensasi merupakan komponen biaya
organisasi yang cenderung menyimpang
yang mempengaruhi tingkat efisiensi dan
dari Standar Profesional Akuntan Publik
profitabilitas. Oleh karena itu, organisasi
atau SPAP 2001 seksi 316 (IAI, 2001) yang
perlu hati-hati dalam mengontrol dan
ditujukan untuk mencapai keuntungan diri
mendesain kompensasi supaya kedua
sendiri dan menjadikan pihak lain sebagai
kepentingan tersebut dapat diakomodasi.
korban yang dirugikan.
Hal tersebut merupakan tantangan bagi
Empat bentuk kecurangan di atas
organisasi untuk membuat sistem kompen-
merupakan sinyal adanya KKA, karena
sasi yang mampu mendorong karyawan
berdasar PSAK No.1 (IAI, 2004) disebutkan
berprestasi secara optimal (Leopold, 2000).
bahwa pimpinan berkewajiban menetap-
Sehubugnan dengan hal tersebut dalam
kan kebijakan akuntansi sehingga bisa
mendesain sistem kompensasi perlu diingat
memberikan kepastian bahwa laporan
bahwa salah satu tujuan karyawan mem-
keuangan yang dibuatnya menyajikan
berikan kinerja terbaiknya pada perusahaan
informasi dengan relevan dan handal.
adalah guna memperoleh kompensasi yang
Kesesuaian Sistem Pengendalian Intern diinginkan. Sebaliknya, perusahaan akan
SPI diimplementasikan pada suatu memberi kompensasi karyawan lebih tinggi
organisasi melalui berbagai kebijakan dan bila karyawan bisa memberikan sumbangan
prosedur untuk memberikan jaminan bah- yang signifikan pada pencapaian tujuan
wa tujuan-tujuan perusahaan dapat dicapai perusahaan. Sejalan dengan keadaan ter-
dan untuk mengurangi kerugian atas sebut Dallas (2002) menjelaskan bahwa jika
kemungkinan terjadinya eksposur (anca- sistem kompensasi hanya didasarkan atas
man keamanan informasi). Kebutuhan SPI kinerja fisik yang secara langsung diukur
meningkat sehubungan dengan meningkat- dengan satuan uang saja, akan mendorong
nya perkembangan dan bentuk eksposur. iklim kerja yang kering nilai budi pekerti.
250 Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan – Volume 16, Nomor 2, Juni 2012 : 245 - 260

Alasannya, dasar kompensasi tersebut men- Lane and O'Connell, 2009).


dorong karyawan hanya berorientasi pada Secara teoritis, ketaatan akuntansi juga
nilai uang yang mereka harapkan dan merupakan kewajiban. Sebab, jika laporan
mengabaikan nilai etika. Pendapat demi- keuangan dibuat tanpa mengikuti aturan
kian dibuktikan kembali oleh He et al., akuntansi yang berlaku, keadaan tersebut
(2009) bahwa kompensasi yang dibayar ber- dinyatakan sebagai suatu bentuk kegagalan
hubungan negatif dengan independensi dan akan menimbulkan kecenderungan
dewan direksi. kecurangan atau perilaku tidak etis yang
tidak dapat atau sulit ditelusuri auditor.
Ketaatan Aturan Akuntansi
Ketaatan aturan akuntansi dipandang
Penyajian laporan akuntansi oleh organi
sebagai tingkat kesesuaian prosedur
sasi merupakan kewajiban sehubungan de-
pengelolaan aset organisasi, pelaksanaan
ngan tugas dan tanggung jawab yang telah
prosedur akuntansi, dan penyajian laporan
didelegasikan kepada pimpinan. Untuk itu
keuangan beserta semua bukti pendukung-
maka ada dua kebutuhan yang perlu di-
nya, dengan aturan yang ditentukan oleh
penuhi, yaitu kebutuhan pemakai (sebagai
BPK dan/atau SAP (PP RI Nomor 24/2005.
pihak ekstern) dan pimpinan selaku pihak
Dinyatakan mentaati aturan akuntansi jika
pengelola aset dan penyaji laporan keua-
PTN telah menerapkan persyaratan peng-
ngan.
ungkapan, menyajikan informasi yang
Dari pihak ekstern, pemakai laporan
bermanfaat bagi kepentingan publik, objek-
keuangan terdiri atas banyak pihak seperti
tif, memenuhi syarat kehati-hatian dan
investor, karyawan, pemberi pinjaman, pe-
memenuhi konsep konsistensi penyajian
masok, kreditor, pelanggan, pemerintah,
(PSAK no. 1, IAI, 2004).
dan masyarakat. Mereka memiliki kebutu-
Persyaratan pengungkapan menjelaskan
han informasi berbeda-beda yang harus
bahwa setiap entitas akuntansi di lingku-
dipenuhi. Untuk itulah, laporan keuangan
ngan pemerintah diharapkan menyajikan
disajikan secara umum (IAI, 2004) namun
laporan keuangan yang terdiri atas laporan
harus memenuhi kualitas tertentu.
keuangan dan laporan kinerja. Laporan
Agar kualitas di atas dapat dipenuhi,
keuangan terdiri atas laporan realisasi
SPAP (IAI, 2001) menunjukkan bahwa lapo-
anggaran, neraca, laporan arus kas, dan
ran keuangan yang disajikan harus bebas
catatan atas laporan keuangan, sedangkan
dari salah saji material, baik yang di-
laporan kinerja berisi ringkasan tentang
sebabkan oleh kekeliruan ataupun karena
keluaran dari masing-masing kegiatan dan
kecurangan. Dalam hal ini pimpinan PTN
hasil yang dicapai dari masing-masing
bertanggung jawab untuk menerapkan ke-
program sebagaimana ditetapkan dalam
bijakan akuntansi yang sehat serta meng-
dokumen pelaksanaan APBN/APBD (PP RI
ikuti prosedur pengelolaan aset dan pro-
nomor 24, 2005 tentang SAP). Laporan-
sedur pencatatan secara konsisten.
laporan tersebut dibuat dalam bentuk dan
Penggunaan aturan akuntansi oleh pim-
dengan isi sesuai SAP supaya kinerja organi
pinan PTN sekaligus dapat memenuhi
sasi antar periode dapat dibandingkan.
kebutuhannya untuk mempertahankan kua-
Melalui laporan keuangan dan kinerja
litas dirinya selaku penerima amanah.
suatu entitas akuntansi menyajikan laporan
Sebab melalui prosedur kerja dan pelaporan
keuangan yang bermanfaat bagi publik jika
keuangan yang sesuai aturan akuntansi,
dengan itu pimpinan dapat menunjukkan
pimpinan PTN dapat menunjukkan bukti
pertanggungjawaban atas tugas-tugasnya
kepada pihak penilai kinerja tentang mutu
dan menempatkan kepentingan pemakai
dan efisiensi aktivitas mereka, dan dapat
pada skala prioritas, sedangkan konsep
memberikan jaminan dan mutu kontrol
konsisten penyajian menjelaskan bahwa
kepada dan dari masyaraka (BAN PT, 2001;
penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku … -- Thoyibatun 251

laporan keuangan dan laporan kinerja antar dikatakan sebagai metode untuk menilai
periode konsisten sesuai, yaitu sesuai kemajuan yang telah dicapai dibanding
lampiran 3 dan 4 SAP (PP RI nomor 24, dengan standar yang telah ditetapkan
2005). (Mustopodidjaja, 2000). Adapun akunta-
bilitas kinerja adalah perwujudan kewajiban
Akuntabilitas Kinerja pada Instansi
Pemerintah suatu instansi pemerintah untuk memper-
Sebagai sebuah konsep dalam konteks tanggungjawabkan keberhasilan atau ke-
etika akuntabilitas sering disamakan de- gagalan pelaksanaan misi organisasi dalam
ngan istilah responsibility, sedangkan se- mencapai tujuan dan sasaran yang telah
bagai konsep tata kelola akuntabilitas di- ditetapkan. Bentuk pertanggungjawaban ter
fokuskan pembahasannya tentang pro- sebut bagi instansi pemerintah disebut
blem-problem yang terjadi pada peru- laporan akuntabilitas kinerja instansi peme-
sahaan. Sehubungan dengan delegasi ke- rintah atau LAKIP.
kuasaan dan wewenang yang diterima Studi pada penelitian ini sepakat de-
seseorang berkewajiban menginformasikan ngan pendapat yang mengatakan bahwa
kepada orang yang memberi kuasa dan kinerja organisasi juga menjadi cerminan
wewenang tentang perilaku dan keputusan kinerja pengelola dan pihak-pihak yang
yang diambil. Hal demikian diperlukan mendapat limpahan wewenang dan tang-
agar pemberi kuasa dan wewenang dapat gung jawab. Sebab, ketidakbenaran atas apa
menentukan jastifikasinya atau mungkin yang ada di dalam LAKIP menuntut per-
untuk menentukan hukumannya jika ter- tanggungjawaban pribadi yang bersangku-
nyata ditemukan ada kesalahan. Akunta- tan dan bukan hukuman yang dikenakan
bilitas sebagai wujud kewajiban suatu ins- atas organisasinya. Dengan demikian,
tansi pemerintah berguna untuk memper akuntabilitas kinerja yang dimaksud juga
tanggungjawabkan kegagalan atau keber- mencerminkan kinerja pelakunya, yaitu
hasilan. pihak-pihak yang mendapat limpahan
Beberapa pengertian menjelaskan bah- wewenang dan tanggung jawab mengelola
wa akuntabilitas adalah bentuk suatu per- organisasi.
tanggungjawaban atas delegasi wewenang Rerangka Konsep Penelitian
dan tugas yang diberikan kepada setiap Penelitian ini dilandasi teori agensi
instansi pemerintah dan setiap satuan kerja (Jensen dan Meckling, 1976), yaitu dalam
atau unit kerja yang berada di dalamnya. menentukan faktor-faktor yang berpenga-
Pertanggungjawaban tersebut adakalanya ruh terhadap perilaku tidak etis dan KKA.
berbentuk sebagai akuntabilitas kinerja dan Didukung oleh beberapa bukti empiris
akuntabilitas keuangan. Akunta bilitas keua faktor-faktor tersebut terdiri atas kesesuaian
ngan lebih difokuskan pada kepentingan SPI (Yu and Ming, 2008; Drew and Drew,
kontrol keuangan. Tujuannya untuk me- 2010), sistem kompensasi (Jensen dan
yakinkan bahwa anggaran pemanfaatan Meckling, 1976; He et al, 2009), dan ketaatan
dana dan pembelanjaan atas dana publik aturan akuntansi (IAI, 2004) dan perilaku
yang dipercayakan telah dilakukan untuk tidak etis ( Dallas,2002; Dijk, 2000).
memenuhi kepentingan masyarakat sesuai Dalam rangka membuktikan kembali
aturan yang berlaku. hasil studi Gaviria (2001) penelitian ini juga
Kinerja instansi diartikan sebagai efekti- mendeskripsikan pengaruh KKA terhadap
vitas operasional organisasi dari segi mana- akuntabilitas kinerja organisasi.
jerial dan ekonomi, atau kesesuaian kinerja Hal demikian menjadi mungkin karena
karyawan selaku penanggung jawab organi- KKA melanggar kesepakatan yang ada dan
sasi dengan standar yang ditentukan (Rasul, hanya berfokus pada meningkatnya kekaya-
2000). Dari sudut pandang yang lain, kinerja
252 Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan – Volume 16, Nomor 2, Juni 2012 : 245 - 260

an pihak tertentu dan menjadikan pihak METODE PENELITIAN


lain sebagai bagian yang dirugikan. Jenis penelitian ini adalah survey tipe
Rerangka konseptual yang diuraikan confirmatory research (Newman, 1991), yaitu
tersebut disajikan dalam Gambar 1. penelitian yang bertujuan untuk mengonfir-
masi keberlakuan model yang didapat dari
teori dan kajian penelitian terdahulu. Pene-
X1 litian dilaksanakan di Perguruan Tinggi
Negeri (PTN) se Jawa Timur yang berada di
bawah naungan Departemen Pendidikan
Y1 Nasional dan Departemen Agama. Data
penelitian dikumpulkan selama empat
X2 bulan, yaitu mulai Juli sampai Oktober
2008. Penelitian ini tidak menggunakan
Y2 Y3 sampel karena ingin diperoleh informasi
yang berkenaan dengan seluruh keragaman
yang ada.
X3 Unit analisis dalam penelitian ini adalah
pejabat dan semua pihak yang mendapat
Gambar 1 delegasi wewenang dan tanggung jawab
Rerangka Konsiptual Penelitian untuk terlibat dalam penggunaan dana
yang dianggarkan, penyelenggaraan akun-
Berdasar rerangka konseptual tersebut tansi, dan pembuatan laporan akuntabilitas.
diduga bahwa timbulnya perilaku tidak Kuesioner sebagai instrumen penelitian
etis dan KKA adalah karena pengaruh dikembangkan peneliti dengan pokok-
faktor kesesuaian SPI, Sistem kompensasi, pokok pikiran yang dikembangkan ber-
dan ketaatan terhadap aturan akuntansi; dasar penelitian Wilopo (2006) dan pene-
perilaku tidak etis juga termasuk sebagai litian lain yang telah ada. Perilaku tidak etis
faktor yang berpengaruh terhadap timbul- berdasar Tang dan Chiu (2003), KKA
nya KKA, dan selanjutnya KKA berakibat berdasar ketentuan SPAP (IAI, 2001),
terhadap akuntabilitas kinerja. Oleh karena- Kesesuaian SPI berdasar SPAP (IAI, 2001),
nya yang menjadi hipotesis peneitian sistem kompensasi (Dallas, 2002), Ketaatan
adalah: aturan akuntansi IAI (2004), dan
H1: Kesesuaian SPI berpengaruh terhadap Akuntabilitas Kinerja berdasar pendapat
perilaku tidak etis. Mustopodidjaja (2000).
H2: Kesesuaian SPI berpengaruh terhadap Uji coba instrumen dilakukan terhadap
KKA. 72 orang mahasiswa S2 dan S3 yang
H3: Sistem kompensasi berpengaruh ter- minimal memiliki pengalaman 2 tahun
hadap perilaku tidak etis. sebagai dosen. Analisis butir dengan
H4: Sistem kompensasi berpengaruh ter- korelasi Product Moment sebagai uji validitas
hadap KKA. menunjukkan nilai r terendah 0,580 dan
H5: Ketaatan aturan akuntansi berpenga- tertinggi 0,907 yang berarti instrumen valid.
ruh terhadap perilaku tidak etis. Reliabilitas instrumen dianalisis dengan
H6: Ketaatan aturan akuntansi berpenga- alpha cronbach menunjukkan nilai alpha
ruh terhadap KKA. terendah 0,671 dan tertinggi 0,850. Ini
H7: Perilaku tidak etis berpengaruh berarti bahwa instrumen reliabel. Prosedur
terhadap KKA pengumpulan data diperoleh dengan cara
H8: KKA berpengaruh terhadap akunta- membagi kuesioner kepada semua respon-
bilitas kinerja. den. Untuk daerah Malang dan Surabaya
kuesioner disampaikan dengan berkunjung
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku … -- Thoyibatun 253

langsung sedangakn di luar kedua lokasi sangat setuju, dan ada responden yang me-
dikirim dan diterima kembali via pos. nyatakan setuju terhadap adanya asimetri
Setelah semua data memenuhi sarat melalui informasi, yaitu dalam jumlah yang lebih
uji asumsi klasik, berikutnya data di analisis kecil dibanding mereka yang tidak setuju.
dengan regresi linier.
Respon Responden terhadap Peubah
Perilaku Tidak Etis
ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN
Sebagian besar responden bersikap sa-
Respon Responden terhadap Peubah ngat tidak setuju terhadap adanya perilaku
Kesesuaian SPI tidak etis dan sebagian besar lagi bersikap
Sebagian besar responden bersikap ragu-ragu. Namun yang paling banyak
setuju dengan pernyataan bahwa bentuk menyatakan tidak setuju jika ada perilaku
fisik SPI dan perilaku para pendukungnya tidak etis.
sesuai dengan tujuan SPI. Namun yang Dalam penelitian ini ada sebagian res-
paling banyak menyatakan ragu-ragu jika ponden yang menyatakan bersikap setuju
bentuk fisik SPI dan perilaku para dan sangat setuju terhadap adanya perilaku
pendukungnya telah sesuai dengan tujuan tidak etis yaitu dalam jumlah yang lebih
SPI. Dalam penelitian ini, tidak dijumpai kecil dibanding mereka yang setuju.
responden yang menyatakan jawaban
Respon Responden terhadap Peubah KKA.
ekstrim dalam bentuk sangat tidak setuju
Sebagian besar responden bersikap
jika bentuk fisik SPI dan perilaku para
sangat tidak setuju terhadap adanya KKA.
pendukungnya sesuai dengan tujuan SPI.
Namun, yang paling banyak menyatakan
Respon Responden terhadap Peubah tidak setuju jika ada KKA. Dalam penelitian
Sistem Kompensasi ini tidak dijumpai responden yang menyata
Hasil organisir dan hasil tafsir atas kan jawaban ekstrim dalam bentuk sangat
kesan indra sebagian besar responden setuju dan setuju, dan ada sebagian res-
umumnya setuju bahwa tingkat pencapaian ponden yang menyatakan bersikap ragu-
kinerja fisik dan etis digunakan sebagai ragu terhadap adanya KKA, yaitu dalam
standar atau faktor penentu jumlah gaji dan jumlah yang lebih kecil dibanding mereka
fasilitas lain yang menjadi hak karyawan. yang tidak setuju.
Namun, yang paling banyak menyatakan
Hasil uji hipotesis
ragu-ragu jika sistem kompensasi didasar-
Sebelum dianalisis data diuji asumsi
kan atas tingkat pencapaian kinerja fisik
klasik lebih dahulu. Hasil uji linearitas Y1,
dan etis. Dalam penelitian ini terdapat satu
Y2, dan Y3 dengan semua variabel inde-
responden yang menyatakan jawaban eks-
pedennya linier (berdasar model summary
trim dalam bentuk sangat tidak setuju dan
dan parameter estimatesnya).
delapan responden yang menyatakan
Berdasar hasil analisis Assesment of
jawaban ekstrim dalam bentuk sangat
normality and Mahalanobis diperoleh infor-
setuju.
masi bahwa dari 34 indikator yang di-
Respon Responden terhadap peubah gunakan terdapat 24 indikator yang ber-
ketatan aturan akuntansi distribusi normal dan 10 indikator ber-
Sebagian besar responden umumnya distribusi tidak normal. Keadaan demikian
bersikap tidak setuju terhadap adanya dianggap tidak kritis, sebab menurut Dalil
asimetri informasi. Namun, banyak pula Limit Pusat (central limit theorm) dikatakan
yang menyatakan ragu-ragu terhadap ada- bahwa jika sampel yang digunakan besar
nya asimetri informasi. Dalam penelitian dapat dihasilkan statistik yang mendekati
ini, tidak dijumpai responden yang me- normal (Solimun, 2002). Berdasar analisis
nyatakan jawaban ekstrim dalam bentuk statistik deskriptif diperoleh informasi
254 Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan – Volume 16, Nomor 2, Juni 2012 : 245 - 260

Tabel 1
Pengujian Hipotesis

Standardized
Peubah Temuan
H Peubah Bebas Regression Prob Ket
Tergantung penelitian
Weight

H1 Kesesuaian Perilaku Tidak -0.477 0.000 Signifikan Diterima


SPI (X1) Etis (Y1)
H2 Kesesuaian Kecenderungan -0.539 0.000 Signifikan
SPI (X1) Kecurangan Diterima
Akuntansi (Y2)

H3 Sistem Perilaku Tidak -0.402 0.000 Signifikan Diterima


Kompensasi Etis (Y1)
(X2)

H4 Sistem Kecenderungan -0.437 0.000 Signifikan


Kompensasi Kecurangan Diterima
(X2) Akuntansi (Y2)

H5 Ketaatan Perilaku Tidak 0.306 0.000 Signifikan Diterima


Aturan Etis (Y1)
Akuntansi
(X3)

H6 Ketaatan Kecenderungan 0.334 0.000 Signifikan


Aturan Kecurangan Diterima
Akuntansi Akuntansi (Y2)
(X3)

H7 Perilaku Tidak Kecenderungan 0.909 0.000 Signifikan


Etis (Y1) Kecurangan Diterima
Akuntansi (Y2)
H8 Kecenderunga Akuntabilitas 1.375 0.067 tidak Tidak
n Kecurangan Kinerja (Y3) Signifikan Diterima
Akuntansi
(Y2)
Sumber: Lampiran diolah (2008)

bahwa tidak ada data yang memiliki z-score


lebih besar atau sama dengan empat, ZY1 = -0.477ZX1 - 0.402ZX2 +
0.306 ZX3 + e
dengan demikian data penelitian bebas dari
univariate outlier. Hasil pengujian hipotesis ZY2 = -0.539ZX1 - 0.437ZX2 +
penelitian disajikan pada tabel 1. 0.334ZX3 + 0.909 ZY1
Atas dasar hasil pengujian hipotesis
sebagaimana disajikan pada tabel 1 dapat Keterangan:
digambarkan persamaan struktural sebagai e34–e36 = Residual pada setiap persamaan
berikut: ZX1 = Kesesuaian SPI yang distandarisasi
ZX2 = Sistem Kompensasi yang distan-
darisasi
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku … -- Thoyibatun 255

ZX3 = Ketaatan aturan akuntansi yang di mengikuti SPI diperhatikan secara khusus,
standarisasi akan mengurangi fraud.
ZY1 = Perilaku Tidak Etis yang distan-
Pengaruh Sistem Kompensasi terhadap
darisasi Perilaku Tidak Etis dan KKA.
ZY2 = Kecenderungan Kecurangan Akun Indikator pembentuk peubah sistem
tansi yang distandarisasi kompensasi dalam penelitian ini diadopsi
Hasil Penelitian dari penelitian sebelumnya yang dilakukan
Pengaruh Kesesuaian SPI terhadap pada perusahaan yang bertujuan mencari
Perilaku Tindak Etis dan KKA laba. Pada hal dalam praktik, sistem
Hasil uji empiris penelitian ini sesuai kompensasi PTN memiliki kondisi yang
dengan analisis di dalam teori agensi. Teori berbeda dengan perusahaan swasta yang
agensi menjelaskan organisasi sebagai berfokus pada tujuan mencari laba.
hubungan kontrak antara pengelola dan Sistem kompensasi yang berlaku di peru
prinsipal yang sarat dengan berbagai sahaan swasta mengindikasikan hubungan
kepentingan dari setiap pihak. Ketika ke yang signifikan antara jumlah kesejahteraan
pentingan salah satu pihak terganggu dengan kinerja karyawan. Ketika karyawan
kesempatannya untuk terpenuhi maka ada mencapai kinerja yang semakin baik se-
kemungkinan bagi mereka untuk ber- makin baik pula kesejahteraan yang akan
perilaku menyimpang. Oleh karenanya diperoleh. Keadaan demikian memberikan
diperlukan struktur yang dapat membatasi dorongan kepada pengelola perusahaan
perilaku pengelola. untuk memperbaiki kinerjanya.
Temuan tersebut konsisten dengan Temuan penelitian ini tidak konsisten
pendapat Beu dan Buckley (2001) yang dengan Wilopo (2006) yang menunjukkan
melaporkan adanya pengaruh lingkungan bahwa pemberian kompensasi yang sesuai
(sebagai salah satu komponen pengendalian pada perusahaan terbuka dan BUMN di
internal) yang ditata terhadap usaha untuk Indonesia tidak memperkecil perilaku tidak
menekan munculnya perilaku tidak etis. etis manajemen dan KKA. Keadaan demi-
Penelitian mereka berdua menyarankan kian tidak berbeda dengan kondisi di Enron
agar lingkungan dikembangkan sedemikian sebagaimana yang dilaporkan Dallas (2002).
rupa sehingga dapat menjadi petunjuk bagi Dallas (2002) mendeskripsikan bahwa ke-
bentuk perilaku yang diinginkan. Hal ini tika uang dan profitabilitas semata dijadi-
mendukung analisis kan sebagai standar kompensasi (tanpa
Boynton (2002) yang menunjukkan bah- dikontrol dengan sistem budaya yang ber-
wa pelaksanaan SPI berhubungan dengan basis etika), maka anggota organisasi hanya
tingkat kecurangan atau kepatuhan ter- tertarik untuk memperoleh keuntungan
hadap peraturan dalam membuat laporan finansial yang semakin meningkat dan hal
akuntabilitas. demikian mengakibatkan karyawan se-
Hasil uji hipotesis kedua mendukung makin berani melakukan perilaku tidak etis
analisis di dalam teori agensi dan konsisten (Dallas, 2002).
dengan penelitian sebelumnya bahwa Temuan penelitian ini mendukung ana-
kualitas SPI berpengaruh pada tes transaksi lisis Luthans (2002) yang menegaskan bah-
dan tes detail terhadap neraca, aktivitas wa rencana tunjangan yang fleksibel dan
deteksi fraud, dan kejadian fraud. Semakin yang bergantung pada kinerja berpengaruh
sesuai SPI dengan tujuannya semakin terhadap semakin baiknya kinerja karyawan
sederhana deteksi fraud perlu dilakukan. dan kesadaran untuk mencapai kinerja.
Lane and O'Connell (2009) juga menegaskan Mendukung temuan tersebut Abdullah
bahwa jika bentuk penekanan untuk (2006) melaporkan dalam hasil penelitian-
nya bahwa kompensasi ataupun remune-
256 Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan – Volume 16, Nomor 2, Juni 2012 : 245 - 260

rasi direktur berpengaruh terhadap efekti- Temuan penelitian ini konsisten dengan
vitas pengelolaan organisasi. analisis di dalam teori keagenan. Healy dan
Hasil uji hipotesis berikutnya menunjuk Pelepu (2000) menunjukkan bahwa perilaku
kan bahwa H4 diterima (Tabel 1) berarti menyimpang dari aturan memiliki hubu-
data empiris mendukung hipotesis yang ngan positif dengan perilaku tidak etis
mengatakan sistem kompensasi ber- sehingga semakin tinggi perilaku me-
pengaruh terhadap KKA. nyimpang dari prosedur yang telah diatur
Temuan penelitian ini tidak konsisten akan semakin tinggi pula timbulnya peri-
dengan temuan empirik yang diinfor- laku agen atau pengelola yang tidak sesuai
masikan Wilopo (2006). Penelitian Wilopo dengan fungsinya. Sebagaimana terbukti
(2006) menunjukkan bahwa pada peru- pada Perusahaan Hasil uji hipotesis berikut-
sahaan terbuka dan BUMN di Indonesia, nya menunjukkan bahwa H6 diterima (Tabel
pemberian kompensasi berupa uang dan 1) berarti data empiris mendukung
promosi yang semakin meningkat tidak hipotesis yang mengatakan ketaatan ter-
menurunkan KKA, terutama yang berupa hadap aturan akuntansi berpengaruh ter-
kecenderungan untuk melakukan mani- hadap KKA.
pulasi, pemalsuan, atau perubahan akun- Hasil penelitian ini konsisten dengan
tansi dan dokumen pendukungnya. Hal Scott (2005) dan Albrecht and Albrecht
tersebut terjadi karena sistem kompensasi (2003) yang menjelaskan bahwa perilaku
yang berlaku tidak menghasilkan pen- menyimpang dari aturan berpengaruh ter-
dapatan yang sesuai dengan keinginan hadap pilihan kebijakan dan tindakan yang
manajemen dan KKA yang dilakukan akan menguntungkan diri sendiri atau mengarah
menjanjikan pendapatan yang lebih besar pada KKA (WangYue, 2006).
dari pada kompensasi yang semestinya.
Pengaruh Perilaku Tidak Etis terhadap
Temuan penelitian ini konsisten dengan KKA
Erickson et al. (2004) yang melaporkan Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa
bahwa struktur kompensasi dapat diguna- H7 diterima (Tabel 1), berarti data empiris
kan sebagai alternatif untuk menurunkan mendukung hipotesis yang mengatakan
tingkat kecurangan akuntansi, atau untuk perilaku tidak etis berpengaruh terhadap
meningkatkan kinerja dan kesadaran untuk KKA. Arah pengaruh tersebut adalah
mencapai kinerja. Hassan et al. (2003) juga positif. Hasil uji empiris tersebut konsisten
melaporkan adanya hubungan antara dengan temuan penelitian sebelumnya yang
remunerasi direktur dan profitabilitas pada umumnya mengatakan bahwa kedua-
meskipun terdeskripsi sebagai hubungan nya berhubungan secara positif (Wang,
yang lemah, dan ada hubungan yang positif 2006). Hasil studi empiris yang dilakukan
antara remunerasi direktur dengan per- oleh Dallas (2002) terhadap Enron, juga
tumbuhan dan ukuran perusahaan. menunjukkan bukti bahwa perilaku yang
Pengaruh Ketatan aturan akuntansi terfokus pada uang sebagai tujuan akhir
terhadap Perilaku tidak Etis dan KKA akan mengabaikan faktor nilai dan akan
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa berakibat menghalalkan segala cara.
H5 diterima (Tabel 1), berarti data empiris Hasil penelitian pada perusahaan publik
mendukung hipotesis yang mengatakan dan BUMN di Indonesia pada tahun 2006
ketaatan aturan akuntansi berpengaruh juga menunjukkan temuan yang konsisten
terhadap perilaku tidak etis. Hasil uji dengan hasil penelitian ini. Wilopo (2006)
empiris tersebut konsisten dengan temuan melaporkan bahwa semakin tinggi perilaku
penelitian sebelumnya bahwa ketidak- tidak etis manajemen semakin tinggi pula
tepatan dalam mengikuti prosedur memiliki KKA. Sehubungan dengan temuan tersebut,
hubungan signifikan dengan budgetary slack. Wilopo (2006) menyarankan bahwa untuk
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku … -- Thoyibatun 257

mengurangi perilaku tidak etis dan KKA laku anggota organisasi yang memini-
dapat dilakukan usaha meningkatkan malkan KKA.
efektivitas pengendalian internal, termasuk Hasil uji empiris dalam penelitian ini
perbaikan hukum, perbaikan sistem penga- tidak konsisten dengan temuan penelitian
wasan dan pengendalian, serta pelaksanaan sebelumnya yang pada umumnya mengata-
good governance. kan bahwa KKA yang meningkat ber-
Pengaruh KKA terhadap Akuntabilitas pengaruh terhadap semakin menurunnya
Kinerja akuntabilitas kinerja.
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa
H8 tidak diterima (Tabel 1), berarti data SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
empiris tidak mendukung hipotesis yang
a. KKA dipengaruhi kejadiannya oleh
mengatakan KKA berpengaruh terhadap
faktor kesesuaian SPI, sistem kompen-
akuntabilitas kinerja.
sasi, ketaatan terhadap aturan, dan
Akuntabilitas kinerja merupakan bentuk
perilaku tidak etis. Dari keempat faktor
prestasi organisasi yang dicapai melalui
tersebut ketaatan terhadap aturan dan
realisasi tanggung jawab pengelola atas
perilaku tidak etis merupakan faktor
amanah yang dipercayakan kepadanya.
yang berpengaruh positif.
Akuntabilitas membawa efek tanggung
b. Kesesuaian SPI dan sistem kompensasi
jawab pengelola secara individu. Jika terjadi
merupakan faktor yang berpengaruh
ketidakbenaran di dalamnya, akan mem-
negatif terhadap KKA.
bawa efek sebuah konsekuensi secara
c. Perilaku tidak etis sebagai salah satu
individu pula. Oleh karena itu, akuntabilitas
faktor kuat yang berpengaruh terhadap
kinerja menjadi cerminan kinerja para
semakin naiknya KKA dipengaruhi
individu yang memperoleh delegasi we-
kejadiannya oleh faktor kesesuaian SPI,
wenang dan tugas untuk mengendalikan
sistem kompensasi, dan ketaatan ter-
organisasi.
hadap aturan akuntansi.
Selama ini, akuntabilitas kinerja terfokus
d. KKA berpengaruh terhadap akunta-
pada bentuk pertanggungjawaban yang
bilitas kinerja tidak terbukti dalam
menginformasikan target fisik yang berhasil
penelitian ini. Kemungkinan hal ini di-
direalisasi dibandingkan rencana strategis
sebabkan bahwa akuntabilitas yang
yang dibuat. Bentuk tersebut tidak men-
dijaring belum menggambarkan akunta-
cakup kelayakan biaya yang digunakan
bilitas yang sebenarnya, sebab akunta-
untuk mendanai kegiatannya dan tidak
bilitas diukur hanya berdasar hal-hal
mengandung informasi tentang bentuk-
yang berhubungan dengan uang saja.
bentuk kinerja dari segi kualitas perilaku
Pengukuran untuk semua variabel
orangnya. Berkenaan dengan ini perlu
unobsevable didasarkan atas indikator pada
dipertanyakan, apakah indikator-indikator
penelitian sebelumnya yang dilakukan di
akuntabilitas kinerja organsasi dalam
perusahaan yang memiliki tujuan utama
bentuk yang telah ada selama ini masih
mencari laba, sedangkan penelitian ini
tepat dalam mewadahi perkembangan dan
dilakukan pada lembaga pendidikan milik
kebutuhan pembinaan perilaku anggota
negara yang tidak memiliki prioritas pada
organisasi ataukah malah memberikan
tujuan mencari laba. Ketepatan indikator
peluang untuk menyembunyikan kemung-
yang dipilih lebih didasarkan pada
kinan terjadinya perilaku menyimpang dari
pertimbangan apakah indikator merupakan
aturan yang berlaku. Oleh karena itu, perlu
unsur pembentuk variabel secara tepat
dipikirkan penting tidaknya wujud baru
ataukah tidak. Mengingat ada perbedaan
akuntabilitas kinerja yang bisa mendorong
tujuan tersebut, pemilihan indikator
terbentuknya budaya organisasi dan peri-
sebaiknya juga didasarkan hasil studi di
258 Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan – Volume 16, Nomor 2, Juni 2012 : 245 - 260

lapangan yang ditujukan untuk menguji Accountability and Ethical Behavior.


ketepatan tiap indikator. Journal of Business Ethics 34(1): 57-73.
Bodnar, G. H., and W. S. Hopwood, 2004.
Saran
Accounting Information Systems, 8th ed.
Temuan penelitian yang diperoleh di-
Pearson Education Inter- national.
harapkan bermanfaat bagi usaha penurunan
Boynthon, W. C., R. N. Johnson, and W. G.
tingkat KKA dan perilaku tidak etis. Hasil
Kell. 2002. Modern Auditing 2001. John
penelitian mengindikasikan bahwa ke-
Wiley & Sons Inc. Terjemahan: Rajoe, P.
sesuaian SPI, sistem kompensasi, dan
A., G. Gania., dan Budi I.S. Erlangga.
ketaatan terhadap aturan akuntansi merupa
Jakarta.
kan faktor yang efektif untuk mengendali-
BPK-RI. 2007. Hasil Pemeriksaan atas
kan perilaku tidak etis dan KKA. Untuk itu
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban
disarankan agar SPI yang diterapkan
Keuangan TA 2005 dan TA 2006 pada IPB
mempertimbangkan kebermanfaatannya
di Bogor. www.bpk.go.id. 27 Mei 2007.
bagi tujuan SPI dan sedapat mungkin selalu
Brooks, L. J., Dunn, P. 2007 (terjemahan
mempertimbangkan pelanggaran etika da-
Kanti Pertiwi). Bussiness & Professional
lam menilai kinerja karyawan yang se-
Ethics for Directors, Executives &
lanjutnya juga menjadi dasar dalam
Accountants. Salemba Empat. Jakarta.
menentukan beban tugas yang selama ini
Buckley, M. R., D. S. Wiese., and M. G.
menjadi dasar dalam menentukan hono-
Harvey. 1998. An Investigation into the
rarium.
Dimension of Unethical Behavior.
Journal of Education for Business. 98(5):
DAFTAR PUSTAKA
284-290.
Abdullah, S. N. 2006. Directors’ remune-
Colbert, J. L. 2000. International and US
ration, firm’s performance and corporate
Standards: error and fraud. Managerial
governance in Malaysia among distres-
Auditing Journal. 15(3): 97-107.
sed companies. Corporate Governance
Dallas,L. L. 2002. A Preliminary Inqury into
6(2): 162-174.
the Responsibility of Corporations and
AICPA, 2003. “Auditors’ Responsibility for
their Directors and Officers for
Fraud Detection”. Journal of Accountnacy
Corporate Climate: the Psychology of
Online. www.aicpa.org/PUBS/JOFA.
Enron’s Demise. www.ssrn.com. 5
22 Maret 2008.
Desember 2006
Albrecht, W. S., and C. O. Albrecht. 2003.
Daryanto, S. S. 1997. Kamus Bahasa Indonesia
Fraud Examination. Thomson, South-
Lengkap. Apollo Surabaya.
Western.
Dijk, M. V. 2000. The Influence of
Armand, W. K. 2007. Tanggung Jawab
Publication of Financial Statement, Risk
Profesi Akuntan Publik terhadap
of Takeover and Financial Position of
Kecurangan dalam Penyajian Laporan
the Auditee on Public Auditors’
Keuangan. EBAR (Economic Bussiness &
Unethical Behaviour. Journal of Business
Accounting Review) II(1): 107-122).
Ethics. 28(4): 297-305.
BAN PT. 2001. Pedoman Penyusunan
Drew, J. M Drew, M.E. 2010,"Establishing
Portofolio Institusi. Departemen
additionality: fraud vulnerabilities in
Pendidikan Nasional BAN PT.
the clean development mechanism",
Belkaoui, A. R. and R. D. Picur. 2000.
Accoun ting Research Journal 23(3): 243-
Understanding Fraud in the Accounting
253
Environment. Managerial Finance 26(11):
Erickson, M., Hanlon, M., and May dew.
33-41.
2004. Is There a link between Eecutive
Beu, D. and M. R. Buckley. 2001. The
Compensation and Accounting Fraud?
Hypothesized Relationship Between
www.ssrn.com. 5 Februari 2007.
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku … -- Thoyibatun 259

ErnawanE.R. 2007. Etika Bisnis. Alfabeta. Luthans, F. 2002. Organizational Behavior.


Bandung. Ninth Edition. McGraw-Hill Irwin.
Gaviria, A. 2001. Assessing the Effect of Boston.
Corruption and Crime on Firm Mustopadidjaja, A. R., dan Tim Penyusun.
Performance. Working paper: www. 2000. Pengukuran Kinerja Instansi Peme-
ssrn.com. 5 Desember 2006 rintah. Lembaga Administrasi Negara
Hassan, S., Christopher, T., and Evans, R. dan BPKP.
2003. Directors’ remuneration and firm Mustopadidjaja, A. R., dan Tim Penyusun.
performance: Malaysian evidence. 2000. Penyusunan Laporan AKIP. Lem-
Malysian Accounting Review 2(1): 57- baga Administrasi Negara, Jakarta.
67. Newman, W. L. 1991. Social Research
Healy, P. M., and K. G.Palepu. 2000. A Methods: Qualitative and Quantitative
Review of the Empirical Disclosure Approaches. 4th edition. Allyn Bacon,
Literature. www.ssrn.com. 5 Desember Boston.
2006 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia,
He,L., Wright, S., Evans, E., Crowe, S., 2009 nomor 24/2005; Pengelolaan Keuangan
"What makes a board inde- pendent? Badan Layanan Umum
Australianevidence", Accoun- ting Rasul, S. dan Tim Penyusun. 2000.
Research Journal 22(2): 144 - 166 Pengukuran Kinerja. Suatu Tinjauan pada
Ikatan Akuntan Indonesia. 2001. Standar Instansi Pemerintah. BPKP.
Profesional Akuntan Publik. Standar Scott, W. R. 2005. Financial Accounting
Auditing Seksi 316. Pertimbangan atas Theory. 5th ed. New Jersey: Prentice Hall.
Kecurangan dalam Audit Laporan Soepardi, E.M. 2007. Upaya Pencegahan
Keuangan. Fraud dalamPengelolaan Keuangan
Ikatan Akuntan Indonesia. 2004. Standar Negara. Econoomics Business & Accoun-
Akuntansi Keuangan. Pernyataan Standar ting Review. II(1): 22-34.
Akuntansi Keuangan nomor 1. Solimun, 2002. Multivariate Analysis; Struc-
Jensen, M. C. and W. H. Meckling. 1976. tural Equation Modelling (SEM) Lisrel
Theory of the Firm: Managerial dan AMOS. MIPA. Universitas Brawi-
Behavior, Agency Cost, and Ownership jaya. Malang.
Structure, University of Rochester, Stevens, D. E. 2002. The Effect of Reputation
Rochester. and Ethics on Budgetary Slack. Journal of
Kompas on line, 14 Juli 2011. Keuangan Management Accounting Research 14: 153
Perguruan Tinggi Negeri Bermasalah. 20 –171.
April 2012. Tang, T. L., and Chiu R. K. 2003. Income,
Leopold, J. 2000. Human Resources in Money Ethic, Pay Satisfaction, Commit-
Organization, Ashford Colour Press Ltd., ment and Unethical Behavior: is the
Harlow-England. Love of Money the Root of Evil for
Lane, R., O'Connell, B. T. 2009 "The Hong Kong employees? Journal of
changing face of regulators' investi- Business Ethics 46(1): 13-27.
gations into financial statement fraud", Thoyibatun, Siti., Sudarma, Made., dan
Accounting Research Journal 22(2): 118 - Ganis, Eko. 2009. Analisis Pengaruh
143 Kesesuaian SPI dan Sistem Kompensasi
Lin, J. W., M. I. Hwang, and J. D. Becker. terhadap Perilaku Tidak Etis dan
2003. A Fuzzi Neural Network for Kecenderungan Kecurangan Akuntansi.
Asseccing the Risk of Fraudulent Makalah disajikan di Seminar Nasional
Financal Reporting. Managerial Auditing Akuntansi Palembang.
Journal. 18(18): 657-665. Toenlioe, A. J. E. 2007. Korupsi di Jantung
Kebutuhan Manusia. Komunikasi:
260 Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan – Volume 16, Nomor 2, Juni 2012 : 245 - 260

Majalah Kampus Universitas Negeri


Malang 30(249): 2.
Wang Yue, T. 2006. Corporate Securities
Fraud: an Economic Analysis. Working
Paper. www.ssrn.com. 7 Januari 2007.
Wilopo. 2006. Analisis Faktor-faktor yang
Berpengaruh terhadap Kecenderungan
Kecurangan Akuntansi: Studi pada
Perusahaan Publik dan Badan Usaha
Milik Negara di Indonesia. Makalah.
SNA 9 Padang.
Yu, BTW, Ming, TW, (2008) "Effects of
control mechanisms on positive organi-
zational change". Journal of Organi-
zational Change Management 21(3): 385 -
404