You are on page 1of 7

Im YoonA x Lee Dong Hae

YoonA memasuki gedung Apartementya dengan santai, bibirnya menyunggingkan senyum kecil
sambil bersiul ia menekan kode pintu, setelah terbuka hal yang pertama dilihat oleh kornea matanya
adalah kegelapan, ia mengerutkan kening heran. Pasalnya tadi pagi saat keluar YoonA ingat bahwa
ia menyalakan semua lampu di kamar Apartement nya. Dengan cuek akhirnya YoonA
mengacuhkannya mungkin ia yang lupa. Sambil menyimpan sepatu di rak ia mengingat-ingat apa
yang terjadi kemarin lusa, karena kemarin lusa merupakan salah satu hari terbaiknya. Selesai
menyipan sepatu di rak YoonA memasuki ruang tamu dan mencari saklar lampu untuk menghidupkan
ruangan. Belum sempat jemarinya menyentuh saklar, lampu sudah kembali menyala terang
benderang. Pupil matanya mencoba membiasakan kemunculan cahaya yang tiba-tiba, belum sempat
berfikir apa yang terjadi, suara deheman dan perkataan sarat kemarahan didekatnya membuatnya
kaget luar biasa.
“Darimana saja kau, huh? Kamu tau jam berapa ini?” Cecar orang itu yang membuat YoonA melonjak
setengah mati.
“Astaga Dong Hae kau mengagetkanku, kukira jantungku akan copot” Desis YoonA seraya
mengusap dadanya.
“Mengalihkan pembicaraan, huh?” Balasnya dingin. YoonA memandangi wajah Dong Hae sebentar
lalu senyum tersungging di bibirnya dan menjawab,”Ini jam 10 dan aku baru selesai membantu
SooYoung menyelesaikan file project perusahaannya yang hilang.”
“Sampai semalam ini? Memang kau bertanggung jawab atas hilangnya file di perusahaannya hingga
ikut membantu pekerjaannya? Belum lagi kau tak memberi kabar, hah! Bagus sekali! Kenapa sekalian
saja tidak pulang dan menginap disana!” Wajahnya masih terlihat datar tapi kali ini perkataannya
ditekankan dengan geram.
“Maaf handphoneku ketinggalan di kamar dan lagi aku telah memberi kabar sejak 2 hari yang lalu
kan bahwa 1 minggu ini aku akan membantu Soo Young.” Jelas YoonA, Dong Hae mengacuhkannya
tanda ia marah lalu berjalan ke sofa dan membaringkan tubuhnya sambil memejamkan mata. “Apa
yang kau lakukan disini? Bukan nya seharusnya kau istirahat? 3 hari ini kau sibuk mempersiapkan
project produksi musim gugur kan?” Tanya YoonA sambil menghampiri Dong Hae dan meneliti
pakaian yang dipakainya -kemeja, jas, celana denimnya bahkan sepatu mengkilatnya pun masih
dikenakannya. Dong Hae masih diam-mengacuhkan YoonA, YoonA sadar bahwa jika Dong Hae
masih marah akan selalu tetap diam, “Sudah makan?” YoonA tak menyerah ia mencoba membujuk
Dong Hae untuk berbicara tapi nihil hal itu tak membuahkan hasil, YoonA perlahan mendekati sofa
dibagian kaki Dong Hae berada dan melepas sepatu besera kaos kakinya, Dong Hae diam tak berkutik
hanya saja saat ini salah satu lengannya terangkat untuk menutupi bagian depan matanya. YoonA
menyimpan sepatu beserta kaos kaki Dong Hae di rak lalu kembali ketempat semula –sofa lalu
mendudukan dirinya disamping pinggang Dong Hae yang sedang berbaring.
“Hei, sudah makan?” ulang YoonA, ia tak menyerah hingga Dong Hae menjawabnya. YoonA tau
bahwa jika Dong Hae sudah marah atau sedih biasanya –atau malah selalu- Dong Hae akan
melupakan hal lainnya terutama lupa untuk mengurus dirinya sendiri. YoonA menyentuh lengan
Dong Hae yang menutupi matanya dan dengan perlahan mengangkatnya, kini dihadapannya terlihat
wajah tampan Dong Hae yang sedang terpejam.
“Hei, Jika kau lelah tidurlah di kamarmu.” Tutur YoonA lembut tapi karena sedang marah entah
sensitive, Dong Hae menyalahartikan perkataan YoonA dan langsung membuka matanya dan
menatap YoonA tajam tapi menyiratkan luka.
“Kau mengusirku? Hah, lucu sekali. Aku mengkhawatirkanmu dan sekarang kau malah mengusirku.”
Tukas Dong Hae dingin, ia segera berdiri tapi kepalanya malah berdenyut –sakit sekali, hingga
membuat tubuhnya limbung hampir saja terjatuh jika YoonA tidak segera memegang lengan dan
pinggang Dong Hae.
“Dong Hae! Kau tidak apa-apa?” Ketara sekali bahwa YoonA cemas ia segera mendudukan Dong
Hae kembali dengan perlahan-lahan, Dong Hae mengangkat tangannya untuk menepis tangan
YoonA yang berada di pinggangnya –ia masih marah.
“Bukankah kau ingin aku pergi? Kenapa mengkhawatirkanku? Sana kerjakan saja file project
temanmu yang hilang itu!” Ketusnya lagi tapi perkataan Dong Hae memang berbeda dengan
perbuatannya, tanpa sadar tangan yang satunya malah menggenggam ujung baju YoonA kuat-kuat
seolah melarang YoonA untuk pergi beranjak dari sisinya. YoonA tersenyum menyadari hal itu lalu
kembali berujar dengan lembut,”Kau salah paham, aku tidak bermaksud mengusirmu. Kau kelihatan
lelah dan butuh tidur. Berapa lama kau menungguku? Maafkan aku. Sungguh.” YoonA
memperhatikan wajah Dong Hae yang mulai pucat dan mengangkat sebelah tangannya untuk
menyandarkan kepala Dong Hae dibahunya. Diusapnya kepala Dong Hae dengan sayang sesekali
tangannya sibuk memijit pelipis Dong Hae. Dong Hae tidak menolak karena itulah yang
dibutuhkannya, ia senang menikmati perlakuan YoonA padanya, sekasar ataupun sejahat apapun
perkataan Dong Hae akan dibalas dengan lembut oleh wanita itu. YoonA sangat memahami Dong
Hae, dan Dong Hae paham akan hal itu. Ia merasa sangat nyaman didekat YoonA dan tak akan pernah
melepaskan wanita itu apalagi bila sampai dimiliki oleh pria lain.
“Bukankah kau bahkan tidak peduli meskipun aku menunggu seharian?” Jawabnya lagi sambil
menunduk dibahu YoonA kepalanya bertambah pening bahkan sekarang perutnya mulai terasa
bergejolak –mual.
“Hal apa yang membuatmu menyimpulkan seperti itu, hm? Kau selalu asal menjawab dan membuat
kesimpulan secara kilat yang akhirnya malah menyakiti dirimu sendiri. Kali ini jawab pertanyaanku,
Kau sudah makan?” Yoona memandang kepala Dong Hae yang bersandar di bahunya tapi karna
pria itu menunduk akhirnya hanya kepala bagian belakang yang dapat dilihatnya. Tangan YoonA
masih memijit pelipis Dong Hae hingga akhirnya karena tak kunjung menjawab YoonA
memindahkan tangannya kearah leher Dong Hae dan mencari denyut nadinya. Mengapa? Pasalnya
Dong Hae mulai lemas dan nafasnya mulai terdengar berat sehingga kemungkinan besar penyakit
Dong Hae kambuh. YoonA tentu saja panik karena secara otomatis pertanyaan nya terjawab yaitu
Dong Hae belum makan –entah sejak kapan. YoonA mulai menyalahkan dirinya yang ceroboh lupa
membawa handphone dikamarnya dan juga malah tidak menghubungi Dong Hae lewat ponsel
temannya karena saking sibuknya ia membantu Soo Young hingga hal itu terlupakan.
YoonA ingin berjongkok didepan Dong Hae untuk melihat raut wajahnya tetapi tentu tak bisa karena
kepala –bahkan badan Dong Hae sudah menyandar dibahu YoonA hampir sepenuhnya. Akhirnya
YoonA memegang dagu Dong Hae dan mengangkatkan wajah Dong Hae secara perlahan agar dapat
terlihat oleh pupil matanya. Wajah Dong Hae sudah sangat pucat bibirnyapun mulai bergetar dan
menggumamkan kata “YoonA-ah sakit” berulang-ulang.
“Kita ke dokter ya.” Ucap YoonA lembut, kali ini YoonA makin panik tapi ia mencoba meredam perasaan itu
pasalnya ia sudah tak melihat Dong Hae kambuh lagi sejak 6 bulan yang lalu –kali pertama ia bertemu dengan
Dong Hae, itupun disaat Dong Hae sedang sedih dan tak mengurus dirinya sendiri.
Dong Hae menggeleng sambil memejamkan matanya kuat-kuat berusaha tidak panik karena Dong Hae
sangat tidak menyukai disaat dirinya kambuh bahkan dulu ketika penyakitnya kambuh di acara
keluarga, keluarganya malah tampak begitu tak peduli hingga akhirnya Dong Hae terserang juga panic
attact karena tidak tahu harus berbuat apa dikala dirinya kambuh. Hal itu tentu saja membuat dirinya
semakin kesakitan dan akhirnya selalu jatuh tak sadarkan diri karena tubuh –entah mental Dong Hae
yang sudah tak kuat menanggung kesakitan, stress dan sedih. Mengingat kenangan itu Dong Hae
tersenyum miris. Sungguh ironis kehidupannya, ia memiliki segalanya, fisik yang diinginkan para pria
dan dipuja oleh wanita, harta yang melimpah, otak yang brilian, memiliki banyak teman, hidupnya
sungguh sempurna. Tapi memang semua itu tak menjamin kebahagiaan, satu-satunya hal yang
diinginkan Dong Hae ialah kasih sayang dan cinta karena ia tak pernah mendapatkan itu bahkan dari
kedua orang tuanya. hingga pada akhirnya ia menemukan YoonA, satu-satunya wanita yang menjamin
kebahagiaan dalam dekapannya. Orang yang menunjukan ketulusan dan kejujuran dalam setiap
perkataan dan perbuatannya di tengah dunianya yang penuh dengan orang-orang bermuka dua –penuh
kepalsuan.
“Tenanglah tak apa, aku disini jangan panik.” YoonA mengelus punggung dan bahu lebar Dong Hae
karena Dong Hae mulai panik, nafasnya tersengal bahkan matanya mulai memerah karena menahan
air mata di pelupuk matanya. Dadanya terasa sesak, kepala pusing, perut mual, badan sakit, tangan
dingin dan berkeringat. Dong Hae mengingat kembali kenangan-kenangan ketika ia kambuh tak pernah
seorangpun yang peduli. Dong Hae selalu sendiri menahan kesakitannya hingga akhirnya jatuh tak
sadarkan diri. Mengenang hal itu Dong Hae semakin panik karena ia tak ingin YoonA
meninggalkannya, tak memperdulikannya karena malu untuk merawat orang seperti dirinya yang
memiliki penyakit aneh sama seperti orang lain bahkan teman kencannya, sekali Dong Hae pernah
kambuh didepan teman kencannya dan didepan umum. Akhirnya Dong Hae malah ditinggal karena
teman kencannya itu malu jika harus membawa Dong Hae pergi.
YoonA menyadari bahwa Dong Hae semakin panik dan sulit di tenangkan. Pasalnya jika Dong Hae
mengalami panic attact maka kondisinya malah akan semakin parah jadi sebisa mungkin YoonA harus
membuat Dong Hae tenang. Mata Dong Hae liar melihat kearah penjuru ruangan mencari YoonA
karena panik hingga tak menyadari YoonA berada disampingnya sedang mengelus bahunya dan
menjadi sandarannya.
“YoonA! YoonA!” Dong Hae semakin panik karena pupil matanya tak menangkap wajah YoonA
hinggal sebuah tangan dengan lembut mengalihkan pandangannya keatas dan disitu Dong Hae melihat
wajah cantik YoonA.
“Aku disini dan akan selalu disini. Disisimu. Tenanglah, tak apa. Oke?” tangan YoonA berpindah ke
kepala Dong Hae, kepanikan Dong Hae tak kunjung reda bahkan air mata mulai membasahi pipinya.
“Kau akan pergi, kau akan malu dengan pria yang memiliki pernyakit aneh sepertiku. Kumohon jangan
pergi.” Wajah Dong Hae begitu sedih ia berkata sangat lirih sambil memandang wajah YoonA, YoonA
tak kuasa menahan diri. Ia merasakan kesedihan Dong Hae. Karena tak tahu cara apa untuk
menenangkan Dong Hae. YoonA memeluk tubuh tegap pria itu. Tangannya mengusap punggungnya
naik turun dan satunya lagi berada di kepala Dong Hae untuk mengelusnya dengan sayang sambil
berbisik,”Aku disini, tak akan pergi kemanapun. Tenanglah.kau bisa melewati ini. Serangan panik ini
bukan penyakit aneh. Tak apa.” Tak urung mata YoonA juga basah, Dong Hae mengeratkan
pelukannya nafasnya yang tersengal perlahan-lahan mulai hilang, kepanikannya mulai mereda. Lama
mereka dalam keadaan seperti itu. YoonA menunggu hingga Dong Hae benar-benar tenang. Sesekali
YoonA mencium pelipis Dong Hae, hingga pada akhirnya YoonA mulai melepaskan pelukan itu. Dong
Hae tidak terima bahkan ketika YoonA mengerahkan sedikit tenaga nya untuk melepaskan Dong Hae.
Pria itu kembali merasakan penolakan, ia berfikir YoonA pasti tak menginginkannya, malu karena
dirinya. YoonA menatap Dong Hae yang menunduk, kedua tangannya memegang kedua belah sisi
wajah Dong Hae hingga wajah mereka saling berhadapan. Mata Dong Hae menyiratkan luka atas
pelepasan pelukan YoonA tadi.
“Kau tak sudi aku peluk ya?” perkataan Dong Hae singkat tetapi begitu menyiratkan luka. YoonA
menatap sepasang mata indah Dong Hae lalu tersenyum dan berujar,”Kenapa kau selalu berkesimpulan
negatif? Aku melepaskan pelukan untuk melihat raut wajahmu, tadi kau begitu pucat bahkan air mata
mengalir dipipimu. Aku mau menyekanya.” Jawab YoonA sambil menyeka air mata yang membekas
di pipi Dong Hae oleh kedua tangan YoonA yang masih berada disana.
Dong Hae diam dan kembali memejamkan matanya untuk merasakan sentuhan YoonA dikulit
wajahnya.
“Kenapa kamu belum makan?”
Dong Hae terdiam sambil menggelengkan kepala lalu akhirnya berkata lirih,”Kau tidak ada. Aku
mengkhawatirkanmu. Bagaimana bisa aku makan!”
YoonA tersentuh oleh perkataan Dong Hae tapi tetap ia tak suka Dong Hae tak memperhatikan dirinya
sendiri.
“Kamu harus makan dan merawat dirimu sendiri apapun yang terjadi.” Sanggah YoonA sambil
menatap kedalaman mata indah Dong Hae.
“Untuk apa? Jika tak ada kamu disisiku. Aku lebih baik mati!” Dong Hae menekankan kata-kata
terakhirnya, YoonA menggeleng tidak setuju.
“Tidak. Kamu harus berjanji untuk merawat dirimu sendiri meskipun tak ada aku disisimu.”
YoonA kembali melihat luka didalam pantulan mata jernih Dong Hae, ia sadar bahwa perkataannya
tadi kembali menyakiti hatinya.
“Apakah itu kata-kata halus untuk mencampakkanku?” Dong Hae berkata lirih tetapi tersenyum miris,
bahkan matanya mulai kembali kabur, dadanya sesak. Hah! Ia sudah terbiasa dicampakan dan ditolak
–sejak kecil. Tetapi kenapa kali ini lebih sakit bahkan bila dibandingkan ketika orang tuanya menolak
kehadirannya.
“Astaga! Tatap aku Lee Dong Hae! Aku tidak akan meninggalkanmu kecuali ketika maut memisahkan
atau kau yang meninggalkanku. Kamu pasti bisa lihat aku jujur atau tidak mengutarakan hal ini.”
YoonA menatap lekat mata Dong Hae, matanya berkaca-kaca. YoonA merasa dirinya begitu jahat
hingga membuat pria ini terlihat tak berdaya dan bahkan akan menangis!
“Kau bohong!” Sanggah Dong Hae. Perlahan air mata mulai turun melewati pipinya, nafasnya kembali
tesengal. YoonA menyeka air mata itu. Tetapi hal itu tak membuat Dong Hae menghentikan tangisnya.
Badannya mulai bergetar. Dong Hae merasa dirinya sangat lemah dan cengeng. Tetapi apa daya hanya
didepan YoonA lah Dong Hae kehilangan kontrol atas tubuh ataupun emosinya.
Badan Dong Hae makin berguncang. YoonA tak henti-hentinya menghapus air mata yang keluar dari
pelupuk mata Dong Hae. Karena tak tahan melihat Dong Hae yang histeris dan kepanikan mulai
kembali melandanya. YoonA kembali memeluk Dong Hae. Pria itu semakin terisak. Bahunya
berguncang, nafasnya semakin tersenggal. Sama sekali tidak tenang.
“Hei. Dong Hae. Tenanglah. Apa yang akan membuatmu mempercayai bahwa aku akan selalu ada
disisimu, hm?” YoonA berusaha meredakan tangis dan kepanikan Dong Hae –lagi. Tangannya tak
berhenti mengelus punggung, bahu serta kepala Dong Hae. YoonA tak henti-hentinya menciumi kepala
Dong Hae entah itu pelipis atau puncak kepala Dong Hae.
Berulang-ulang YoonA menanyakan hal itu. Dong Hae tak menjawab, ia diam tetapi kepanikan dan
tangisnya mulai hilang. Pelukan Dong Hae semakin erat. Dong Hae tak berniat melepaskan pelukan
itu. YoonA paham jika pelukannya dilepas oleh dirinya maka Dong Hae akan berfikir seperti tadi lagi.
Maka YoonA membiarkannya hingga Dong Hae benar-benar tenang dan melepaskan pelukan itu
secara sukarela.
“Kamu harus makan. Ayo, Aku buatkan sesuatu, kamu pasti lapar.” Bisik YoonA ditelinga Dong Hae.
Dong Hae menggeleng, malah semakin mengeratkan pelukannya.
“Dong Hae, kamu harus makan. Aku tak ingin kamu sakit. Makan ya.”
Dong Hae diam saja, YoonA tak kehilangan akal ia terus membujuk Dong Hae karena jika tidak,
kondisi Dong Hae pasti akan semakin memburuk.
“Dong Hae-ya, Aku lapar. Biarkan aku makan. Kalau kamu tidak mau ya sudah.”
Akhirnya Dong Hae melepaskan pelukan eratnya, ia memandang wajah YoonA. YoonA tersenyum
kearah Dong Hae sambil menyeka wajah Dong Hae yang dipenuhi air mata. Wajahnya masih pucat
dan Dong Hae memang membutuhkan asupan energi.
Dong Hae membalas senyuman YoonA, lalu berujar,”Kamu harus makan. Jangan sampai sakit!”
YoonA tersenyum tipis, dalam hati ia sedih melihat Dong Hae begitu -linglung hal itu disebabkan
penyakitnya yang sedang kambuh, YoonA tak habis fikir, bagaimana bisa ia tidak memperhatikan
dirinya sendiri. Malah memperhatikan YoonA yang jelas-jelas sehat!
“Tunggu disini, aku mau menyiapkan makanannya dulu.” YoonA mengecup dahi Dong Hae, sambil
membantu Dong Hae untuk bersandar di sofa, melepaskan jasnya yang berat dan mengelus wajah
tampan pria itu.
“Jangan lama.”
YoonA mengangguk, lalu melangkahkan kaki kearah dapur. YoonA mengingat kembali disaat dirinya
pertama kali bertemu Dong Hae yang sedang menahan kesakitannya, Dong Hae seperti anak kecil
begitu polos dan juga rapuh. Awalnya YoonA iba melihat Dong Hae yang seperti itu hingga akhirnya
YoonA merawatnya dan tahu bahwa itu merupakan penyakit bawaan lahir Dong Hae. Mirisnya orang-
orang terdekat Dong Hae akan menjauh begitu Dong Hae kambuh karena meurut mereka Dong Hae
memalukan dan tolol padahal Dong Hae terlihat bergitu rentan –layaknya seorang anak kecil berusia 5
tahun. Dan menurutnya tak ada yang memalukan mengenai hal itu. 6 bulan mengenal Dong Hae
membuat YoonA paham akan semua sifatnya, sifat manja, diktator, posesif, cemburuan, kekanakan,
wibawanya bahkan kesinisannya. Semuanya YoonA hafal diluar kepala.
ia tahu salah satu makanan favorit Dong Hae ialah bubur abalone. Maka YoonA memasakan
semangkuk bubur abalone panas. Setelah hidangan tersaji, YoonA membawa bubur beserta air minum
ke arah ruang tengah. YoonA melihat Dong Hae yang sedang menyilangkan kakinya dan memilin kain
jas yang tersampir di pangkuannya. Dong Hae terlihat begitu lucu menurut pandangan YoonA. YoonA
tersenyum kecil lalu meletakan air minum sekaligus mangkuk bubur di atas meja dipinggir sofa.
Dong Hae melihat YoonA kembali langsung tersenyum girang dan dengan antusias meminta YoonA
duduk disampingnya, tangannya lalu memegang tangan YoonA dengan erat lalu memperhatikan wajah
YoonA dengan mata berbinar. YoonA tertawa. Hal itu membuat Dong Hae merengut dan ngambek
lalu memalingkan wajah. YoonA terkekeh geli, lalu perlahan mulai menyentuh wajah Dong Hae dan
menghadapkan kembali kearah semula.
“Makan ya?” YoonA mulai membujuk, Dong Hae harus makan. Itu fikirnya.
“Ngga. Kamu yang harusnya makan. Tadi katanya lapar.” Dong Hae menggeleng tak setuju dan
kembali memalingkan wajahnya.
YoonA mengganti siasatnya, ia mengambil mangkuk bubur abalone itu lalu menyendoknya perlahan-
lahan hingga penuh dan dengan gaya dramatis yang sengaja di lambat-lambatkan mulai menyuapkan
sendoknya ke mulut. Tak lupa sambil bergumam nikmat dan setiap mengunyah akan selalu dikhayati
yang membuat orang melihatnya kepingin ikutan makan. Dong Hae mulai memperhatikan YoonA –
padahal itu masih suapan pertama. Terlihat Dong Hae mulai tertarik mencoba bubur yang dimakan
YoonA, perutnya bahkan berbunyi keras sekali.
YoonA pura-pura tak mendengar dan memperhatikan, hingga akhirnya Dong Hae memegang lengan
YoonA dan ketika YoonA menatap Dong Hae. Dong Hae menatap balik dengan mata penuh harap dan
memelas –lapar.
“Tadi katanya ngga mau makan, hm?” YoonA sengaja menggoda Dong Hae. Dong Hae mulai
cemberut dan matanya mulai merah bahkan salah satu tangannya menekan perutnya, walaupun
berusaha ditutup-tutupi tapi YoonA tahu Dong Hae mulai merasakan sakit dibagian lambung karena
belum makan. Tetapi Dong Hae diam saja dan kembali menatap kedepan bukan kearah YoonA, YoonA
sudah tak tega untuk menggoda Dong Hae, karena sekarang Dong Hae benar-benar harus makan!
YoonA menyendok bubur abalone itu lalu menghadapkan letak sendok kedepan bibir Dong Hae sambil
berkata, “Aaa~”
Dong Hae awalnya tak mau tapi YoonA berhasil membujuk dengan iming-iming bermain ke taman
rekreasi lusa. Dong Hae jelas antusias dan dengan semangat memakan bubur abalone hingga tandas.
“Udah kenyang?” tanya YoonA sambil mengelap bibir Dong Hae dengan tissue. Dong Hae menatap
YoonA dengan tatapan lembut luar biasa. Lalu akhinya mengangguk.
“Tidur yuk. Aku antar ke kamar.”
Dong Hae yang mendengar itu langsung menggeleng tegas dan matanya kembali berkaca-kaca.
Tangannya memegang erat-erat tangan YoonA.
“Kamu ngga pengen aku disini?” YoonA menggeleng
“Bukan gitu, tapi kamu harus tidur. Tidur ya.” Dong Hae menggeleng lagi sekarang bahkan sebulir air
mata nya keluar ketika menatap YoonA
“Aku mau tidur disini!’ katanya tegas. YoonA bisa melihat bahwa Dong Hae begitu tidak ingin
sendirian dan ditinggal maka YoonApun tak bisa berbuat banyak selain mengizinkan.
“Ya sudah. Ayo, sekarang aku antar ke kamar.” YoonA menyeka air mata dipipi Dong Hae lalu
menarik dan menuntun lengan Dong Hae, Dong Hae begitu melekat disampingnya. Ketika sampai di
kamar YoonA memberikan Dong Hae sepasang piama, Dong Hae begitu sering menginap di kamar
apartementnya hingga baju-baju Dong Hae banyak sekali tersimpan di kamar YoonA, padahal Dong
Hae sangat mudah jika ingin tidur dikamarnya sendiri karena kamar apartement Dong Hae tepat
didepan ruang apartementnya! Dong Hae menurut untuk mengganti pakaian, YoonA pergi sebentar
keluar kamar.
YoonA kira Dong Hae akan langsung tertidur, nyatanya Dong Hae kembali keluar kamar dan berdiri
diambang pintu kamar, tangannya memegang tembok untuk menahan beban tubuhnya.
“Kenapa disini? Tidurlah.” YoonA segera menghampiri Dong Hae, menarik tangannya dan
meletakannya di bahu kecilnya, menuntun Dong Hae kembali ke ranjang.
“Kamu kemana? Tidur disini!” Wajah Dong Hae merengut cemberut.
“Aku mau memeriksa email dulu di ruang tengah. Tidur duluan ya” Tangan YoonA membelai dahi
Dong Hae ketika berhasil membaringkannya diranjang.
“Kerja aja terus sana! Jangan pedulikan aku! Bahkan kamu ngga mau seranjang sama pria aneh
sepertiku kan?” Raut muka Dong Hae berubah menjadi dingin lalu ia membalikan tubuhnya
memunggungi YoonA, YoonA menghela nafas lalu kembali membelai lengan atas Dong Hae.
“Bukan gitu, cuman memeriksa itupun beberapa menit. Aku sudah tidak masuk kerja 2 hari, kamu tau
kan?” Dong Hae tetap bungkam hingga sebelah tangannya naik untuk memijit pelipisnya kembali
kepalanya semakin sakit. YoonA melihat itu, ia tahu seharusnya Dong Hae tak boleh stress. Dokter
beserta Psikiater pribadinya menyebutkan bahwa perubahan emosi mendadak dan tekanan di
sekitarnya dapat membuat kondisi Dong Hae memburuk, terutama dikala ia sedang sedih –merasa
ditolak. YoonA sangat berperan penting dalam perubahan Dong Hae. Sehingga Dokter beserta
Psikiater pribadinya mewanti-wanti pada YoonA agar menjaga Dong Hae tetap stabil, tidak stress,
kelelahan dan sedih berlebih.karena jika tidak, Dong Hae bahkan bisa anfal (kejang) sebelum pingsan
–dan itulah yang terjadi selama Dong Hae belum bertemu YoonA. Berarti sekitar selama 26 tahun
hidupnya Dong Hae selalu mengalami hal itu dan tidak ada orang disekelilingnya yang memperhatikan
hal tersebut.
Ketika sudah ada diatas ranjang, Dong Hae tidak ingin ditinggal akhirnya YoonA mengalah. Ia ikut
naik keatas ranjang, bersandar ke dashboard sedangkan Dong Hae berbaring sambil memeluk perutnya
dan YoonA menyanyikan sebuah lagu lullaby, tangannya mengusap kepala Dong Hae lembut hingga
Dong Hae terlelap.
----
Cahaya mulai memasuki celah- celah jendela di kamar itu, Dong Hae mengerjapkan matanya berkali-
kali agar matanya mulai membiasakan pencahayaan yang ada, sebelah tangannya terangkat untuk
meraba tempat tidur disampingnya. Dong Hae segera tersadar ketika tempat disebelahnya itu kosong.
Dadanya kembali terasa sesak, Apakah YoonA meninggalkannya? Pemikiran itu terlintas begitu saja,
tak sadar tangan Dong Hae yang lain sudah meremas selimut, Pandangannya mulai kabur. Ia ingin
memanggil YoonA tapi suaranya tidak keluar, bibirnyapun bergetar. Bahkan ketika ia ingin berdiri
untuk keluar kamar mencari YoonA, kakinya terasa seperti jelly begitu lemas. Hingga akhirnya tak
mampu menopang berat badannya sendiri. Dong Hae terjatuh dengan suara bedebuk keras. Sakit kaki
dan pantatnya tidak sesakit kenyataan bahwa YoonA pergi meninggalkannya. Badannya mulai
bergetar, tanpa sadar air matapun turun ke pipinya.
BLAK
“Dong Hae!”
YoonA begitu tergesa ke kamar ketika mendengar suara dentuman keras, ia sedang menyiapkan
sarapan Dong Hae beserta dirinya. Hingga ketika ia membuka pintu kamar. YoonA kaget melihat Dong
Hae yang sedang terduduk di lantai dengan satu kaki menyilang dan lainnya yang berselonjor.
‘Kenapa bisa jatuh?” Dengan lembut YoonA membenarkan letak kaki Dong Hae, YoonA ingin
menuntun Dong Hae untuk duduk di kasur tapi Dong Hae enggan. Ia masih memandangi YoonA
tangannya meremas tangan YoonA.
“Kamu ngga pergi?” Dong Hae masih tak percaya YoonA ada dihadapannya. Astaga mimpikah ia?
Jika iya, ia meminta untuk tak dibangunkan kembali.
“Aku mau pergi kemana? Ke Bulan,huh? Lagipula ini kan apartement ku.” YoonA menjawab dengan
gurauan kecil, tangan YoonA membelai lembut kepala serta pipi Dong Hae. Wajah Dong Hae begitu
lugu tetapi juga rapuh seakan hidupnya bergantung pada YoonA. Jika ditinggal apa yang akan terjadi?
Mungkin hanya Tuhan yang tahu.
“YoonA! YoonA!” Dong Hae terus-terusan memanggil nama YoonA, YoonA terkekeh lalu memeluk
Dong Hae yang masih kelihatan tidak percaya.
“”Ya Hae-ah? Aku disini. Tadi kenapa bisa jatuh?” YoonA berbisik lembut, tangannya tak berhenti
mengelus tubuh Dong Hae. Dong Hae melepaskan pelukan lalu menunjuk kearah kaki, pantat dan
pinggangnya.
“Sakit.” Ujarnya manja,
“Aku obati, tapi ayo kita pindah dulu ke ranjang ya. Disini dingin.” Jawab YoonA lembut, Dong Hae
mengangguk dan mulai berdiri dibantu YoonA. Kakinya berdenyut luar biasa, Dong Hae meringis.
YoonA sadar akan hal itu, YoonA memegangi pinggang Dong Hae kuat-kuat. Tubuh Dong Hae begitu
lemas, jika tak ada YoonA yang memeganginya, mungkin Dong Hae akan jatuh tersungkur lagi.
Mereka akhirnya dapat berpindah ke kasur,