You are on page 1of 18

KOMUNIKASI EFEKTIF DAN TERAUPETIK DALAM PELAYANAN

KESEHATAN

Disusun

OLEH:

NI KADEK AYU DWI LESTARI

(PO.62.20.1.15.133)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA

PROGRAM DIV KEPERAWATAN REGULER 2

2019
A. Komunikasi Efektif
1. Pengertian komunikasi efektif
Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu untuk menghasilkan
perubahan sikap pada orang yang terlihat dalam komunikasi.Tujuan komunikasi
efektif adalah memberi kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan
antara pemberi dan penerima sehingga bahasa lebih jelas, lengkap, pengiriman dan
umpan balik seimbang, dan melatih menggunakan bahasa non verbal secara baik.
Ada beberapa pendapat para ahli mengenai komunikasi efektif, antara lain :
a. Menurut Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi (2008:13)
menyebutkan, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian,
dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan
sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan.
b. Johnson, Sutton dan Harris (2001: 81) menunjukkan cara-cara agar komunikasi
efektif dapat dicapai. Menurut mereka, komunikasi efektif dapat terjadi melalui
atau dengan didukung oleh aktivitas role-playing, diskusi, aktivitas kelompok
kecil dan materi-materi pengajaran yang relevan. Meskipun penelitian mereka
terfokus pada komunikasi efektif untuk proses belajar-mengajar, hal yang dapat
dimengerti di sini adalah bahwa suatu proses komunikasi membutuhkan
aktivitas, cara dan sarana lain agar bisa berlangsung dan mencapai hasil yang
efektif.
c. Menurut Mc. Crosky Larson dan Knapp (2001) mengatakan bahwa komunikasi
yang efektif dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang
paling tinggi derajatnya antara komunikator dan komunikan dalam setiap
komunikasi. Komunikasi yang lebih efektif terjadi apabila komunikator dan
komunikan terdapat persamaan dalam pengertian, sikap dan bahasa.
2. Proses komunikasi efektif
Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai komponen dasar sebagai
berikut : Pengirim pesan , penerima pesan dan pesan. Semua fungsi manager
melibatkan proses komunikasi sebagai berikut ;
a. Pengirim pesan (sender) dan isi pesan atau materi
Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada
seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan
sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan
disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau
non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas. Materi
pesan dapat berupa:
1) Informasi
2) Ajakan
3) Rencana kerja
4) Pertanyaan dan sebagainya
b. Simbol atau isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau symbol sehingga pesannya
dapat dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang manager menyampaikan
peasan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan , kepala, mata,
dan bagian muka lainnya ). Tujuan penyampaian pesan adalah untuk
mengajak, membujuk, mengubah sikap, periklaku atau menunjukkan arah
tertentu.
c. Media atau penghubung
Adalah alat untuk menyampaikan pesan seperti : TV, radio surat kabar, papan
pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi
oleh isi pesan yang akan disampaikan, jumlah penerimaan pesan, situasi dsb.
d. Mengartikan kode atau isyarat
Setelah pesan diterima melalui indra ( telinga, mata dst)maka si penerima
pesan harus dapat mengartikan symbol/kode dari pesan tersebut, sehingga
dapat dimngerti / dipahaminya.
e. Penerima pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari si pengirim
meskipun dalam bentuk code /isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang
dimaksud oleh pengirim.
f. Balikan (feedback)
Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan
dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim
pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap sipenerima pesan hal ini
penting bagi manager atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan
sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat
disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan.
Bailkan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan
balikan langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan
sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak.
g. Gangguan
Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi
mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena setiap situasi hampir
selalu ada hal yang mengganggu kita. Gangguan adalah hal yang merintangi
atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan
yang diterimanya.

3. Unsur-unsur dalam komunikasi efektif


Komunikasi mempunyai dasar sebagai berikut: niat,minat, pandangan, lekat, dan
libat.
a. Niat menyangkut:
1) Apa yang akan disampaikan
2) Siapa sasaranya
3) Apa yang akan dicapai
4) Kapan akan disampaikan
b. Minat, ada dua factor yang mempengaruhi yaitu:
1) Factor obyektif: merupakan rangsang yang kita terima
2) Fakto subyektif: merupakan factor yang menyangkut diri si penerima
stimulus
c. Pandangan, merupakan makna dari informasi yang disampaikan pada
sasaran,menafsirkan informasi yang diterima tergantung pada
pendidikan,pekerjaan, pengalaman dan kerangka piker seseorang.
d. Lekat, merupakan informasi yang disimpan oleh si penerima.
e. Libat,merupakan keterlibatan panca indra sebanyak-banyaknya.

4. Tahapan komunikasi efektif


a. Pengirim mempunyai gagasan (ide )
b. Pengirim mengubah gagasan menjadi pesan ( yang dapat dipahami oleh
penerima)
c. Pengirim mengirim pesan, melalui media perantara ( verbal/non verbal,lisan
/tulisan) dan medium (telpon, komputer /memo
5. Hambatan dalam komunikasi efektif
a. Hambatan dari proses komunikasi
1) Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan
belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh
perasaan atau situasi emosional.
2) Hambatan dalam penyediaan / symbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas
sehingga mempunyai arti lebih atau satu,symbol yang di[ergunakan antara
sipengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu
sulit.
1) Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media
komunikasi,misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak
dapat mendengarkan pesan.
2) Hambatan dalam bahsa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi
oleh si penerima.
3) Hambatan dari penerima pesan,misalnya kurangnya perhatian pada saat
penerima atau mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru
dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
4) Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak
menggambarkan apa adanya akan tetapi memberika interpretatif, tidak tepat
waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
b. Hambatan fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan
alat komunikasi, dll. Misalnya :gangguan kesehatan,gangguan alat komunikasi
dan sebagainya.
c. Hambatan semantic
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai
arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan
dan penerima
d. Hambatan psikologis
Hambatan spikologis dan social kadang-kadang mengganggu komunikasi,
misalnya:perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan
penerima pesan.
6. kriteria keberhasilan komunikasi
Untuk memperoleh keefektifan komunikasi , seseorang harus memperhatikan
beberapa kriteria komunikasi sebagai berikut:
a. Komunikasi membutuhkan lebih dari dua orang yang akan menentukan tingkat
hubungan dengan orang lain.
b. Komunikasi terjadi secara berkesinambungan dan terjadi hubungan timbal
balik .
c. Proses komunikasi dapat melalui komunikasi verbal dan non verbal yang bisa
terjadi secara simultan.
d. Dalam berkomunikasi seseorang akan berespon terhadap peran yang di terima
baik secara langsung maupun tidak langsung ,verbal maupun non verbal.
e. Pesan yang di terima tidak selalu di asumsikan sama antara penerima dan
pengirim.
f. Pertukaran informasi di butuhkan ilmu pengetahuan.
g. Pesan yang di kirim dan di terima di pengaruhi oleh pengalaman masa
lalu,pendididkan, keyakinan dan budaya.
h. Komunikasai di pengaruhi oleh perasaan diri sendiri, subyek yang di
komunikasikan orang lain.
i. Posisi seseorang di dalam system sosio cultural dapat mempengaruhi proses
komunikasi.

B. Komunikasi Teraupetik
1. Pengertian Komunikasi Terapeutik
a. Komunikasi terapeutik di definisikan sebagai komunikasi yang di rencanakan
secara sadar dimana kegiatan dan tujuan di pusatkan untuk kesenbuhan pasien
(Uripni dkk,2003).
b. Komunikasi terapiutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk
membantu klien beradaptasi terhadap stress ,mengatasi gangguan psikologis ,
dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain (Northouse , 1998).
c. Komunikasi terapiutik adalah hubungan interpersonal antara perawat dank
lien, dalam hubungan ini perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar
bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien (Stuart
G.W,1998).
Dari beberapa beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa
komunikasi terapiutik adalah komunikasi yang di lakukan atau di rancang untuk
tujuan terapi.Pada profesi kebidanan komunikasi menjadi sangat penting karena
komunikasi merupakan alat dalam melaksanakan proses keperawatan. Dalam
asuhan kebidanan,komunikasi ditujukan untuk mengubah perilaku klien dalam
mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Stuart,G.W.1998). karena bertujuan
untuk terapi maka komunikasi dalam kebidanan disebut komunikasi terapeutik.
Banyak yang mengira atau berpendapat bahwa komunnikasi terapeutik
identik dengan senyum dan bicara lemah lembut. Pendapat inni tidak salah tapi
mungkin terlalu menyederhanakan arti dari komunikasi terapeutik itu sendiri,
karena inti dari komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan untuk
tujuan terapi.

2. Tujuan komunikasi terapeutik


Komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi klien kearah yang
lebih positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan klien yang meliputi:
a. Membantu pasien memperjelas dan mengurangi baban perasaan dan pkiran
b. Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien
c. Membantu memengaruhi orang lain,lingkungan fisik, dan diri sendiri

3. Sikap komunikasi terapeutik


Egan (1992) mengidentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara
fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik yaitu :
a. Berhadapan :
Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda.
b. Mempertahankan kontak mata :
Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan
keinginan untuk tetap berkomunikasi.
c. Membungkuk kearah klien :
Posisi ini menunjukkan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan
sesuatu.
d. Memperihatkan sikap terbuka:
Tidak melipat kaki atau tangan menunjukikan keterbukaan untuk
berkomunikasi dan siap membantu.
e. Tetap rileks
Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi
dalam memberikan respon kepada pasient, meskipun dalam situasi yang
kurang menyenangkan.
4. Fase komunikasi terapeutik
a. Prainteraksi, merupakan masa persiapan sebelum behubungan dan
berkomunikasi dengan klien. Anda perlu mengevaluasi diri tentang
kemampuan yang anda miliki dan membuat rencana interaksi dengan
klien,seperti
1) Evaluasi diri
2) Penetapan tahapan hubungan /interaksi
3) Rencana interaksi
b. Perkenalan ,merupakan kegiatan yang anda lakukan saat pertama kali bertemu
atau kontak dengan klien . seperti dengan,
1) Memberi salam
2) Memperkenalkan diri
3) Menanyakan nama klien
4) Menyepakati pertemuan (kontak)
5) Melengkapi kontrak
6) Menyepakati masalah klien
7) Mengakhiri perkenalan.
c. Orientasi , fase orientasi dilaksanakan pada awal setiap pertemuan kedua dan
seterusnya. Tujuan fase orientasi adalah memvalidasi keakuratan data,rencana
yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini,dengan mengevaluasi hasil
tindakan yang lalu. Umumnya dikaitkan dengan hal yang telah dilakukan
bersama klien.
1) Memberi salam
2) Memvalidasi keadaan klien
3) Mengingatkan kontrak
d. Fase kerja,meruakan inti hubungan bidan klien yang terkait erat dengan
pelaksanaan rencana tindakan kebidanan yang dilaksanakan sesuai dengan
tujuan yang akan dicapai. Tujuan tindakan kebidanan adalah:
1) Meningkatkan pengertian dan pengenalan klien tentang diri,persaan
,pikiran dan perilakunya. Tujuan ini sering disebut tujuan kognitif.
2) Mengembangkan, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan klien
secara mandiri menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tujuan ini sering
disebut tujuan afektif dan psikomotor.
3) Melaksanakan terapi/teknis kebidanan
4) Melaksanakan pendidikan kesehatan
5) Melaksanakan kolaborasi
6) Melaksanakan observasi dan pemantauan.
e. Fase terminasi,terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan bidan/perawat
dengan klien. Terminasi dibagi menjadi dua,yaitu terminasi sementara dan
terminasi akhir.
1) Terminasi sementara adalah akhir dari setiap pertemuan bidan/perawat
dengan klien. Isi percakapan pada tahap ini disebutkan dibawah ini:
a) Tahap evaluasi hasil
b) Tahap tindak lanjut
2) Terminasi akhir ini terjadi jika klien akan pulangdari rumah sakit atau
bidan selesai praktik di rumah sakit. Isi percakapan pada tahap ini
diuraikan dibawah ini:
a) Tahap evaluasi hasil
b) Isi percakapan tindak lanjut
c) Tahap eksplorasi perasaan
5. Teknik-teknik komunikasi terapeutik
Setiap klien tidak sama perlakuannya, oleh karena itu di perlukan penerapan teknik
berkomunikasi yang berbeda pula. Berikut ini adalah teknik komunikasi dari
beberapa ahli yang dapat di terapkan dalam komunikasi terapeutik.
a. Mendengar aktif dengan penuh perhatian
1) Adapun beberapa keterampilan mendengarkan penuh perhatian, yaitu:
a) pandang klien dan keluarga ketika sedang berbicara.
b) Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk
mendengarkan.
c) Sikap tubuh yang menunjukkan perhatian.
d) Tidak menyilangkan kaki dan tangan.
e) Menghindari gerakan yang tidak perlu.
f) Menganggukkan kepala apabila klien membicarakan hal yang penting
atau memerlukan umpan balik.
g) Condongkan tubuh ke arah lawan bicara.
2) Dua macam teknik mendengar adalah sebagai berikut:
a) Mendengar pasif.
Kegiatan mendengar dengan pesan non verbal untuk klien misalnya
dengan kontak mata, menganggukkan kepala, dan juga keikut sertaan secara
verbal. Mendengar pasif akan dapat memberdayakan diri kita saat kita
mendengar dengan pasif karena kita kurang memahami perasaan orang lain
b) Mendengar aktif.
Kegiatan mendengar yang menyediakan pengetahuan bahwa kita tahu
perasaan orang lain dan mengerti mengapa dia merasakan hal tersebut.
Keuntungan yang di peroleh jika mampu mengembangkan
keterampilan mendengar aktif adalah sebagai berikut:
a. pasien dan kelurga merasa di dengar dan di pahami maksudnya.
b. Pasien dan keluarga merasa dirinya berharga dan penting
c. Pasien dan keluarga merasa nyaman dengan keadaan tersebut
d. Pasien dan keluarga mampu berkomunikasi
b. Menunjukkan penerimaan
Menerima di sini diartikan bahwa kita bersedia untuk mendengarkan orang lain
tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju.
Berikut ini adalah sikap bidan yang menyatakan penerimaan
1) Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan.
2) Memberikan umpan balik verbal yang menampakkan pengertian.
3) Memastikan bahwa isyarat nonverbal cocok dengan komunikasi verbal.
c. Mengajukan pertanyaan yang berkaitan
Tujuan seorang bidan mengajukan suatu pertanyaan adalah untuk mendapatkan
informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikan oleh pasien dan
kelurganya. lebih baik jika pertanyaan tersebut dikaitkan dengan topik yang di
bicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks sosial budaya klien.
d. Pertanyaan terbuka
Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban “Ya” dan “Mungkin”, tetapi
pertanyaan memerlukan jawaban yang luas sehingga pasien dapat
mengemukakan masalahnya, perasaannya dengan kata-kata sendiri, atau dapat
memberiakan informasi yang di perlukan.

e. Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.


Mengulang kembali pikiran utama yang telah diekspresikan oleh klien dan
keluarga memberitahukan bahwa bidan telah memberikan umpan balik sehingga
klien dan keluarga mengetahui bahwa pesannya di mengerti dan mengharapkan
komunikasi berlanjut. Namun, bidan perlu berhati-hati ketika menggunakan
metode ini karena pengertian bisa menjadi rancu apabila pengucapan ulang
mempunyai arti yang berbeda.
f. Pertanyaan klarifikasi.
Berupaya untuk menjelaskan ide atau pikiran pasien yang tidak jelas atau
meminta pasien menjelaskan artinya. Apabila terjadi kesalahpahaman, bidan
perlu menghentikan pembicaraan untuk mengklarifikasi dengan menyamakan
pengertian karena informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan
asuhan kebidanan yang optimal. Supaya pesan dapat sampai dengan benar,
seorang bidan perlu memberikan contoh yang konkret dan mudah untuk di
mengertioleh klien.
g. Memfokuskan
Metode ini di lakukan dengan tujuan untuk membatasi bahan pembicaraan
sehingga lebih spesifik dan dapat di mengerti. Bidan tidak seharusnya
memutuskan pembicaraanklien ketika menyampaikan masalah yang penting,
kecuali jika pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru.
h. Menyampaikann hasil observasi
Seorang bidan perlu memberikan suatu umpan balik kepada klien dan keluarga
dengan menyatakan hasil pengamatannya sehingga dapat di ketahui apakah
pesan dapat di terima dengan benar. Bidan menguraikan kesan yang di
timbulkan oleh syarat nonverbal klien.
i. Menawarkan informasi
Memberikan tambahan informasi ini memungkinkan penghayatan yang lebih
baik bagi klien terhadap keadaannya. Memberikan tambahan informasi
merupakan pendidikan kesehatan klien. Selain itu, hal ini akan menambah rasa
percaya klien terhadap bidan itu sendiri. Jika terdapat informasi yang di tutupi
oleh dokter, bidan perlu mengklarifikasi alasannya. Bidan tidak boleh
memberikan nasihat kepada klien ketika memberikan suatu informasi, tetapi di
harapkan dapat memfasilitasi klien untuk membuat suatu keputusan untuk
dirinya sendiri.

j. Diam
Sikap diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk
mengorganisir pikirannya. Penggunaan metode diam memerlukan keterampilan
dan ketetapan waktu, jika tidak maka akan dapat menimbulkan perasaan yang
tidak enak. Sikap diam yang memungkinkan klien untuk dappat berkomunikasi
secara internal dengan dirinya sendiri, mengorganisir pikirannya, dan
memproses informasi yang di dapatkannya. Keadaan diam ini juga dapat
bermanfaat pada saat klien dan keluarga harus mengambil keputusan untuk
dirinya sendiri.
k. Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara
singkat .
Metode ini bermanfaat untuk membantu topik yang telah dibahas sebelum
meneruskan pada pembicaraan yang berikutnya . Meringkas pembicaraan
membantu bidan mengulang aspek penting dalam interaksinya sehingga dapat
melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan.
l. Memberikan penghargaan
Memberi salam pada klien dan keluarga dengan menyebut namanya
menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi , untuk menghargai
klien dan keluarga sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan
tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu.Penghargaan tersebut
diupayakan jangan sampai menjadi beban yang berat baginya, dalam arti bahwa
jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi
mendapatkan suatu pujian atau persetujuan dari perbuatan atau tindakan yang
dilakukannya. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ini bagus
dan sebaliknya bahwa ini buruk.
m. Menawarkan
Bukan tidak mungkin bahwa klien belum siap untuk berkomunikasi secara
verbal dengan orang lain atau klien tidak mampu untuk memmbuat dirinya
dimengerti. Tidak dipungkiri lagi bahwa sering kali bidan hanya menawarkan
kehadirannya . Teknik komunikasi ini harus di lakukan tanpa pamrih dalam arti
tidak mengharapkan balasan apa-apa yang telah di lakukannya untuk klien
tersebut. Bidan menyediakan diri tanpa respons bersyarat atau respons yang di
harapkan.
n. Memberikan kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan
Memberikan kesempatan kepada klien untuk memiliki inisiatif dalam memilih
topik atau masalah pembicaraan . Dalam berinteraksi , bidan dapat menstimulasi
klien yang merasa ragu-ragu dan tidak pasti tentang perannya untuk mengambil
inisiatif dan merasakan bahwa ia sangat di harapkan untuk membuka
pembicaraan.
o. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan
Teknik ini menganjurkan klien untuk mengarahkan hampir seluruh
pembicaraanyang mengindikasikan bahwa klien sedang mengikuti apa yang
sedang dibicarakan dan merasa tertarik dengan apa yang akan di bicarakan
selanjutnya . Bidan lebih berusaha untuk menafsirkan dari pada mengarahkan
diskusi/pembicaraan.
p. Menempatkan kejadian secara teratur akan menolong bidan dank lien untuk
melihatnya dalam suatu perspektif
Kelanjutan dari sebuah kejadian secara teratur akan menolong bidan dan klien
untuk melihat kejadian berikutnya sebagai akibat kejadian yang pertama. Bidan
akan dapat menentukan pola kesukaran interpersonal dan memberikan data
tentang pengalaman yang memuaskan dan berarti bagi klien dalam memenuhi
kebutuhannya.
q. Menganjurkan klien untuk menguraikan persepsinya
Meminta klien untuk memastikan pengertian bidan tentang apa yang sedang
dipikirkan dan dirasakan oleh klien. Apabila bidan ingin mengerti klien,maka ia
harus melihat segala sesuatunya dari perspektif klien tersebut. Klien harus bebas
untuk menguraikan persepsinya kepada bidan . Ketika menceritakan
pengalamannya , bidan harus waspada akan timbulnya gejala ansietas atau
marah.
r. Refleksi
Mengarahkan kembali ide, perasaan ,pertanyaan , dan isi pembicaraan kepada
klien. Refleksi menganjurkan klien untuk mengemukakan dan menerima ide
serta perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Jika klien bertanya apa
yang harus ia pikirkan dan kerjakan atau rasakan ,maka bidan dapat menjawab
“Bagaimana menurut anda ?”. Jadi, dengan demikian bidan mengindikasikan
bahwa pendapat klien adalah berharga dan klien memiliki hak untuk dapat
melakukan hal tersebut, maka klienpun akan dapat berpikir bahwa dirinya
adalah manusia yang mempunyai kapasitas dan kemampuan sebagai individu
yang terintegrasi dan bukan sebagai bagian dari orang lain.
s. Asertif
Asertif adalah kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman untuk
mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai orang lain.
Kemampuan asertif antara lain : berbicara jelas , mampu menghadapi
manipulasi pihak lain tanpa menyakiti hatinya( berani mengatakan tidak tanpa
merasa bersalah) serta melindungi diri dari kritik.
t. Humor
Humor sebagai hal yang penting dalam komunikasi verbal, ini dikarenakan
tertawa mengurangi ketegangan dan rasa sakit akibat stress dan meningkatkan
keberhasilan dalam asuhan kebidanan. Sullivan – Deane (2008) menyatakan
bahwa humor merangsang katekolamin sehingga merasa sehat. Hal ini juga
akan meningkatkan toleransi nyeri , mengurangi kecemasan , serta memfasilitasi
relaksasi dan meningkatkan metabolisme.

6. Factor yang perlu diperhatian dalam komunikasi terapeutik


Ada banyak faktor yang memengaruhi penafsiran seseorang dalam mengirimi dan
menerima pesan dalam komunikasi . Adapun faktor yang memengaruhi
berlangsungnya proses komunikasi ada 7, yaitu:
a. Persepsi.
b. Persepsi merupakan pantulan perasaan jiwa seseorang terhadap suatu stimulus
tertentu yang terjadi di lingkungannya, baik yang dalam diri individu yang
bersangkutan maupun yang di luar dirinya atau di hadapannya(potter dan
perry,1987). Masing-masing orang akan merasakan, menginterpretasikan, dan
memahami lingkungannya secara berbeda. Persepsi biasanya terbentuk melalui
tujuan dan harapan individu. Perbedaan persepsi dapat menjadi batu sandungan
untuk mencapai komunikasi yang efektif. Padahal, persepsi seseorang sangat
sulit untuk di ubah terutama yang telah mengakar lama dalam pikiran yang
terjadi dalam pengalaman yang sama. Persepsi seseorang sangat di pengaruhi
oleh latar belakang pendidikan yang di punyai, budaya, sosial ekonomi, ras,
jenis kelamin dan juga pengalaman yang mereka alami sebelumnya.

c. Nilai
d. Nilai merupakan keyakinan seseorang tentang nilai suatu ide atau tingkah laku
(potter dan perry,1987). Menilai suatu tingkah laku atau ide berarti menemukan
apakah itu semua cocok untuk orang lain atau tidak.
e. Nilai yang di miliki seseorang akan mencerminkan kebutuhan atau keinginan
yang di miliki , budaya dan refleksi sosial yang di sandangnya, termasuk pola
hubungan atau interaksi dengan orang lain.
f. Emosi yang memengaruhi jalannya komonikasi di maknai sebagai perasaan
subjektif seseorang tentang kejadian dan memengaruhi bagaimana individu
menggunakan kapasitas yang di miliki dan bagaimana dia berhubungan dengan
orang lain (potter dan perry, 1987). Dalam hal ini, perawat harus mampu
memfasilitasi proses komunikasi sehingga emosi tidak akan bercampur dengan
optimalisasi tindakan keperawatan yang sedang di berikan.
g. Latar belakang sosiobudaya. Budaya yang di punyai seseorang akan
membentuk pandangan umum dan persepsi yang di milikinya tentang dunia
tempat mereka tinggal.
h. Pengetahuan seseorang yang juga sangat menentukan berhasil tidaknya suatu
proses komunikasi . perbedaan tingkat pengetahuan membuat proses
komunikasi.
i. Peran dan pola hubungan yang di punyai seseorang. Ada seseorang yang
berkomunikasi dengan orang lain menggunakan pola peran dan hubungan yang
tepat sesuai dengan peran dan pola hubungan yang di punyai lawan bicaranya.

7. Analisis Transaksi
Eric berne mengembangkan istilah transaksi dalam komunikasi. Transaksi
biasa di pakai di dunia usaha, yakni bila terjadi perundingan dan pelaksanaan jual
beli .
Komunikasi timbale balik ialah seseorang mengirim pesan kepada orang lain
dan orang lain itu menjawab dalam bentuk umpan balik. Peristiwa mengirim dan
menerima kembali di sebut oleh eric berne dengan istilah transaksi.
Namun, transaksi antara dua orang tidak selalu mulus, kadang memuaskan
kedua belah pihak, kadang mengecewakan. Orang yang menstimulus transaksi tidak
selalu sama. Kalau tidak sama, kita perlu mengetahui hal yang tidak sama.
Transaksi dalam komunikasi itu akan tergantung pada kedua individu yang
menjalankan dan ini terkait dengan sikap individu tersebut. Sikap individu dalam
transaksi menghadirkan sikap diri (ego state). Menurut eric berne, setiap orang
mempunyai tiga sikap diri yaitu:
a. Sikap diri orang tua.
Sikap orang tua akan Nampak pada sikap dan bicara kita bila kita sedang
mencontoh lagak orang-orang tua. Yang memengaruhi hidup kita selama ini.
b. Sikap diri dewasa
Sikap kita adalah menghadapi persoalan secara cerdas menggunakan otak,
terarah, tidak berpihak, mengunpulkan keterangan, mencari pemecahan
terbaik.
c. Sikap diri anak
Ketika kita bersikap seperti yang di perlihatkan anak-anak, spontan, ingin
campur segala urusan, main-main, penuh daya cipta, bersungut-sungut,
menganggap ringan masalah.

8. Dimensi Respon
Dimensi respon yang harus dimiliki ada 4:
a. Kesejatian
Kesejatian adalah pengiriman pesan pada orang lain tentang gambaran diri kita
yang sebenarnya,yang mana kesejatian dipengaruhi oleh:
1) Kepercayaan diri
2) Persepsi terhadap orang lain
3) Lingkungan
b. Empati
Empati adalah kemampuan menempatkan diri kita pada diri orang lain, bahwa
kita telah memahami bagaimana perasaan orang lain tersebut dan apa yang
menyebabkan reaksi mereka tanpa emosi kita terlarut dalam emosi orang lain.
Beberapa aspek dari empati antara lain:
1) Aspek mental
2) Verbal
3) Aspek nonverbal

c. Respek atau hormat


Respek mempunyai pengertian perilaku yang menunjukkan kepedulian atau
perhatian,rasa suka, dan ,menghargai klien.perawat menghargai klien seorang
yang bernilai dan menerima klien tanpa syarat (Stuart dan Sudeen,1995).
Dengan respek maka perawat akan dapat mengakui kebutuha orang lain untuk
dipenuhi, dimengerti dan dibantu dalam keterbatasan waktu yang dimiliki oleh
perawat.
Perilaku respek dapat ditunjukkan dengan (Smith,1992):
1) Melihat kearah klien
2) Memberikan perhatian yang tidak terbagi
3) Memelihara kontak mata
4) Senyum pada saat yang tidak tepat
5) Bergerak kearah klien
6) Menentukan sapaan yang disukai
7) Jabat tangan atau sentuhan yang lembut.
d. Konkret
Perawat menggunakan terminology yang spesifik dan bukan abstrak pada saat
mendiskusikan dengan klien mengenai perasaan ,pengalaman, dan tingkah
lakunya. Fungsi dari dimensi ini adalah mempertahankan respons perawat
terhadap perasaan klien,penjelasan dengan akurat tentang masalah dan mendorong
klien memikirkan masalah.
DAFTAR PUSTAKA

M.Taufik Juliane. 2010 , Komunikasi Terapeutik Dan Konseling Dalam Praktik Kebidanan .
Jakarta Selatan : Salemba Medika
Suryani, S.Kp, MHSc . 2005 , Komunikasi Terapeutik:Teori dan Praktik . Jakarta :EGC
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/64996/Chapter%20II.pdf?sequence=3&isA
llowed=y
https://pakarkomunikasi.com/komunikasi-terapeutik-dalam-keperawatan