You are on page 1of 2

Kiat Menjadi Pencinta Allah

Memang sedikit yang bisa dikatakan orang tentang cinta, tapi lebih sedikit lagi yang bisa
dikatakan orang tentang Tuhan. Maka, ketika cinta menemukan Tuhan, orang tiada lagi bisa
berkata-kata. Menurut para sufi, cinta adalah mukjizat terbesar Tuhan, dan Tuhan adalah
terminal akhir cinta. Mencintai Tuhan berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dan
sebaliknya: mencintai selain Tuhan berarti absurditas dan kekonyolan.
Akan tetapi, Kebijaksanaan Allah menghendaki agar semua drama percintaan ini berlangsung di
panggung dunia. Dan dunia dalam wacana tasawuf mempunyai dua pengertian: alam fisik tempat
kita hidup dan tingkat ketergantungan kita kepada alam tersebut.
Dunia sebagai alam fisik merupakan manifestasi Keindahan Ilahi yang sangat menakjubkan.
Melalui persona keindahannya, Allah berkehendak memupuk dan memperkaya kecintaan
makhluk kepada-Nya. Namun, pada saat yang sama, keindahan yang merupakan “permainan”
manifestasi dan refleksi Ilahi ini juga bisa menipu manusia, sehingga ia lalai akan
Kemahaindahan Penciptanya. Ini oleh para sufi digambarkan sebagai ketertipuan yang berasal
dari diri (nafs) manusia yang sangat suka pada “yang tampak (azh-zhahir)” dan “yang segera
(al-‘ajilah)”. Oleh para sufi kecenderungan ini dianggap sebagai hijab (penghalang). Dan diri
yang ber-hijab akan senantiasa terkungkung dalam bayang-bayang manifestasi dan melupakan
Sumber serta Hakikat Kemahaindahan.
Dunia dalam pengertian inilah yang dikecam oleh para nabi, orang-orang suci, dan para sufi
dalam berbagai ucapan mereka. Salah satunya adalah ucapan Amirul Mukminin Ali r.a. berikut:
“…Demi Allah, seandainya kau(wahai dunia(adalah manusia yang tampak nyata, berjiwa-
berperasaan, niscaya akan kulaksanakan hukuman Allah atasmu, sebagai pembalasan bagi
hamba-hamba Allah yang telah kau kelabui dengan angan-angan kosong. Atau bangsa-bangsa
yang kau jerumuskan ke dalam jurang-jurang kehancuran. Atau raja-raja yang kau gelandang ke
arah kebinasaan dan kau seret ke pusat-pusat nestapa dan kesulitan, tanpa sedikit pun
kesempatan bagi mereka untuk kembali (ke jalan yang benar)…
Dunia dalam pengertian kedua ini adalah suatu state of mind, dan karenanya sangat berkaitan
dengan jiwa itu sendiri. Jiwa yang hampa akan mudah terpaut oleh permainannya. Sebaliknya,
jiwa yang penuh dengan keimanan takkan pernah terjerat olehnya. Di antara keduanya adalah
jiwa kebanyakan kita yang terombang-ambing di antara dua keadaan tadi.
Situasi terombang-ambing ini tak lain akibat adanya pertarungan yang sengit antara diri sejati
dan diri palsu dalam jiwa manusia. Menurut para sufi, diri sejati adalah hakikat manusia,
kecenderungan rasionalnya, fithrah-nya, sedangkan diri palsu adalah kecenderungan hewani dan
hawa nafsunya. Diri hakiki manusia ini tidak jarang dikalahkan oleh kecenderungan hewaninya
sehingga jadilah ia binatang dalam pengertian yang sebenarnya(bahkan lebih buruk daripada itu.
Rumi bertutur: “Wahai orang yang telah menjual diri hakikinya lantaran ketakmampuannya
mengekang hawa nafsu! Engkau mengira makhluk asing (baca: binatang) sebagai dirimu,
padahal ia jelas-jelas bukan dirimu.”
Untuk menjaga kesejatian diri, para sufi menganjurkan kita untuk melakukan jihad an-nafs
(perjuangan melawan diri). Dalam suatu hadis yang sangat terkenal, jihad an-nafs ini disebut
sebagai jihad akbar (perjuangan besar). Sebab, di sini kita harus melawan dan menekuk diri
sendiri.
Jihad an-nafs mestilah diawali dengan tafakkur (perenungan). Setelah ada kesadaran, barulah
kita bertekad (‘azm) untuk bertindak sesuai perintah Allah dan berusaha menjauhi larangan-Nya.
Tekad ini harus langsung disusul dengan musyarathah, yaitu pengkondisian diri untuk melakukan
tekad di atas, setidaknya dalam sehari. Pengkondisian ini lantas disusul dengan muraqabah atau
pengawasan. Dan terakhir adalah muhasabah atau penilaian tentang apa saja yang terjadi dalam
seharian anda menjalankan tekad tersebut.
Imam Khomeini berkata: “Bila ternyata Anda tidak mengingkari Maha Pemberi nikmat dalam
transaksi kecil ini, maka bersyukurlah kamu atas taufik-Nya. Dan semoga Allah akan
mempermudah urusan-urusan dunia dan akhiratmu. Semoga pekerjaanmu esok lebih mudah
dibanding kemarin. Maka itu, teruslah mengerjakan (ketiga) tindakan ini untuk beberapa waktu.
Biasanya, semua ini nanti akan berubah menjadi kebiasaan yang sangat mudah untuk dilakukan.
Pada waktu itulah kamu akan merasakan kelezatan dan keintiman yang luar biasa dalam menaati
perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya…”