You are on page 1of 3

Fitrah

Pada surah Ar-Rum (30) ayat 30, Allah berfirman: “Maka hadapkanlah wajh-mu kepada ad-din
selurus-lurusnya, fithrah Allah yang dengannya Dia menciptakan (f-th-r) manusia, tiada
perubahan pada fithrah Allah, itulah ad-din yang kukuh meskipun kebanyakan orang tidak
mengetahuinya.”
Ayat di atas menyebut tiga idiom yang saling berkaitan. Idiom pertama ialah wajh (wajah).
Dalam Al-Futuhaat Al-Makkiyyah, bab taharah, dalam soal yang berkaitan dengan membasuh
wajah, Ibn Arabi mengatakan, “Wajh (wajah) seseorang—atau benda—sesungguhnya berarti
hakikat, zat dan jatidirinya. Karenanya, dapatlah orang mengatakan: ‘wajah suatu benda’, ‘wajah
suatu masalah’ atau ‘wajah suatu hukum’ untuk merujuk pada hakikat, zat dan inti dari apa-apa
yang disebutkan. Allah Swt. berfirman, Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri
memandangi Tuhan mereka. Dan ada pula wajah-wajah yang muram-durja. Mereka menduga
akan datangnya malapetaka (QS Al-Qiyâmâh [75]: 22–25). Jelas bahwa wajah yang berada di
bagian depan “manusia” tidak bisa “menduga”, karena tindak menduga-sangka hanya bisa
dilakukan oleh jiwa manusia.”
Idiom kedua ialah ad-din. Menurut Al-Raghib Al-Ishfahani, ad-din dipakai untuk menunjukkan
arti ketaatan dan kepatuhan. Kaitannya dengan agama (millah) ialah pada sisi ketaatan yang
terdapat di dalamnya. Sebagian arti kata ad-din dalam Al-Quran merujuk kepada arti asalnya dan
sebagian lain merujuk kepada ketaatan dalam beragama. Lebih khususnya ketaatan dalam
beragama Islam.
Idiom ketiga ialah fithrah (fitrah). Fitrah berasal dari tiga akar huruf f-th-r yang berarti
membentangkan atau menghamparkan sesuatu. Bila dikaitkan dengan Tuhan, maka kata ini
berarti menciptakan sesuatu dengan pola dasar tertentu. Dengan demikian, ungkapan “fitrah
Allah pada manusia” dalam surah Al-Rum ayat ke-30 tersebut di atas berarti pola dasar yang
dengannnya Tuhan menciptakan manusia.
Ayat ke-30 surah Al-Rum itu, pertama-tama, berbicara kepada jatidiri kita dengan kata-kata:
“Hadapkanlah wajahmu!” Itulah ungkapan yang dalam bahasa Arab dipakai untuk menarik
perhatian dan menggugah kesadaran. Selanjutnya, ayat itu berbicara mengenai ad-din, yakni
ketaatan dan kepatuhan primordial manusia yang juga barangkali mengacu kepada perjanjian
primordial antara manusia dan Tuhannya seperti tertera dalam ayat 172-173 surah Al-A’raf.
Kemudian ayat itu mengaitkan ad-din dengan fitrah yang dengannya Allah menciptakan
manusia. Dan terakhir ayat itu menyimpulkan bahwa penghadapan wajah kepada ketaatan itu
merupakan fitrah (baca: keadaan sejati) yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.
Ada dua ciri-khas fitrah manusia. Pertama, ia bukan merupakan hasil upaya atau rekayasa.
Sebaliknya, ia ada pada kedalaman manusia secara primordial dan intrinsik. Kedua, fitrah ada
pada segenap individu manusia, terlepas dari rupa-rupa perbedaan yang ada. Para sufi menyebut
dua manifestasi fitrah: pertama pada tataran pengetahuan dan kesadaran; dan kedua pada tataran
keinginan dan kecenderungan.
Selanjutnya, para sufi mencuraikan bahwa fitrah manusia mengantarkannya kepada kehambaan
dan penghambaan. Sejenak saja manusia menengok pada dirinya, ia akan menemukan hakikat
kehambaan seperti terungkap pada kekurangan, kebergantungan, kefakiran, kehinaan dan
kesementaraan yang menyelubungi hidupnya. Dan hakikat itulah yang akan mengarahkannya
kepada kesadaran dan penghayatan mengenai Pencipta alam. Sedikit teguran dan gugahan sudah
memadai untuk menyadarkan seorang manusia akan keberadaan dan kehadiran Ilahi di alam
semesta. Bagi para sufi, ada dua jenis teguran: yang diupayakan oleh manusia itu sendiri dengan
perenungan dan pengendalian-diri; dan yang dilakukan langsung oleh Tuhan melalui berbagai
kejadian dan peristiwa.
Sekali waktu pernah Imam Ja’far Ash-Shadiq diminta orang untuk menguraikan tentang Tuhan
sehingga seakan dia melihat-Nya. Imam bertanya: “Pernahkah kau berlayar?” “Ya,” jawabnya.
“Pernahkah kapalmu diterjang ombak yang dahsyat?” “Ya.” “Apa pada waktu itu kau kehilangan
harapan pada segala yang kau lihat, dan kau merasa bahwa ajalmu telah tiba?” “Ya.” “Lalu apa
kau masih punya harapan untuk selamat?” “Ya.” “Nah, kalau kau telah kehilangan harapan pada
semua sarana (penyelamatan), lalu pada siapa kau gantungkan harapanmu di detik-detik terakhir
itu?” Orang itu pun lantas tertegun dan teringat oleh keadaan yang menimpanya, yakni kesadaran
fitri manusia akan keberadaan Tuhannya.
Kecenderungan kuat pada Tuhan ini memang bisa saja “tergantikan” oleh tuhan-tuhan palsu,
sebagaimana puting dot bisa saja menggantikan air susu ibu. Akan tetapi, sebagaimana bayi akan
segera kembali menangis dan meraung hingga parau begitu ia sadar bahwa dot tidak dapat
memuaskannya, demikian pula halnya dengan penghambaan manusia kepada tuhan-tuhan
palsunya. Fitrah menuntut manusia untuk kembali kepada hakikatnya sebagai hamba yang hanya
merunduk-rendah di hadapan Tuhan sejati. Dan sebelum kehambaan (‘ubudiyyah) dan
penghambaan (‘ibadah) kepada Tuhan dan Pemilik sejati itu tercapai, manusia akan senantiasa
berada dalam keadaan sesat, sakit, lalai, keluar dari keasliannya, hina-dina dan sebagainya.
Allah berfirman, “Dan jangan kamu bikin-bikin tuhan selain Allah sehingga kamu menjadi hina
dina. Dan Tuhanmu telah memerintahkanmu untuk tidak menyembah selain-Nya…”(QS 17: 22-
23) Dalam pandangan para sufi, bagian pertama ayat ini menegaskan bahwa penghambaan pada
berbagai manifestasi tuhan palsu hanya akan memerosokkannya kepada kehinaan dan kenistaan.
Sedangkan, bagian setelahnya mengungkapkan bahwa Allah telah menurunkan perintah dan
putusan (qadha`) pada manusia, baik dalam konteks hukum kemanusiaan (tasyri’i) maupun
hukum kealaman (takwini), agar tidak menyembah selain-Nya. Dan perintah Allah pastilah
terlaksana berdasarkan firman-Nya, “Sesungguhnya perintah-Nya bilamana Dia menghendaki
sesuatu ialah dengan mengatakan kepadanya: ‘Jadilah!’, maka menjadilah ia.” (QS 36: 83).
Dalam konteks yang sama Allah berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama
selurus-lurusnya, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama yang lurus (QS Al-Bayyinah [98]:5). Senada dengan itu, dalam doa Nabi
Khidr a.s. disebutkan, “Sesungguhnya Engkau telah memutuskan (qadha`) hamba-hamba-Mu
agar mereka hanya menyembah-Mu, dan Engkau perintahkan mereka agar hanya berdoa kepada-
Mu, lalu Engkau menjamin akan menerima dan menjawab semua itu.”