You are on page 1of 32

Case report

PERSALINAN PRETERM

Oleh:

Ita Rahmatika, S. Ked 04054821719163


Leonardus Yogie, S. Ked 04054821719164
Ayub, S. Ked 04054821719165
Revana Pramudita K, S. Ked 04084821719167
M. Rizki Alkautsar, S. Ked 04084821719237
Muhammad Ridho, S. Ked 04084821719239

Pembimbing:
Dr. H. M. Hatta Ansyori, Sp.OG (K)

1
DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018

2
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

Persalinan Preterm

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik di Bagian/Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang Periode 17
September – 26 Oktober 2018

Palembang, Oktober 2018

dr. H. Hatta Ansyori, Sp.OG (K)

3
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan YME atas berkat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul ”Persalinan
Preterm”.
Laporan kasus ini merupakan salah satu syarat Kepaniteraan Klinik di
Bagian/Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUP DR. Moh. Hoesin Palembang
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. H. Hatta Ansyori, Sp.OG (K)
selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama penulisan dan
penyusunan laporan kasus ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan
kasus ini. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat penulis
harapkan. Semoga laporan ini dapat memberi manfaat bagi pembaca.

Palembang, Oktober 2018

Penulis

4
BAB I
PENDAHULUAN

Persalinan perterm terjadi pada usia kehamilan antara 20 minggu atau


lebih sampai dengan kurang dari 37 minggu yang dihitung menggunakan HPHT
(hari pertama haid terakhir).1 Diagnosis persalinan preterm ditegakkan
menggunakan tiga kriteria, diantaranya usia kehamilan <37 minggu, terjadi
kontraksi 4 kali dalam 20 menit atau 8 kali dalam 60 menit diikuti dengan
perubahan serviks yang progresif, dan adanya pembukaan serviks ≥2 cm.1
Persalinan preterm saat ini masih merupakan penyebab kematian perinatal
tertinggi. Bayi yang dilahirkan sebelum mereka siap secara fisik sering
membutuhkan perawatan khusus dan menghadapi risiko lebih tinggi dalam
masalah kesehatan, termasuk lumpuh otak, gangguan intelektual, penyakit paru
kronis, dan hilangnya penglihatan serta pendengaran.1,2
WHO pada tahun 2012 melaporkan dalam laporannya yang berjudul Born
too Soon, pada persalinan preterm diperkirakan 15 juta bayi dilahirkan setiap
tahunnya dan angka ini terus meningkat. Selain itu, WHO juga melaporkan bahwa
Indonesia masuk dalam sebelas besar (peringkat ke-9) sebagai negara dengan
tingkat persalinan preterm lebih dari 15% kelahiran dan 10 besar (peringkat ke 5)
penyumbang 60% persalinan preterm di dunia dengan angka kelahiran preterm
15,5/100 kelahiran hidup. Kelahiran preterm merupakan penyebab dua pertiga
dari kasus kematian neonatus di Indonesia dan sekitar 48% diantaranya
disebabkan akibat persalinan preterm. Sedangkan di seluruh dunia, kematian
neonatal disebabkan 60-80% akibat kelahiran prematur.3
Wanita yang sebelumnya dilahirkan preterm, atau memiliki riwayat
persalinan preterm, dan melahirkan anak kembar, usia ibu kurang dari 20 tahun,
usia yang ekstrem lebih dari 35 tahun, serta interval persalinan yang terlalu dekat
berisiko tinggi mengalami persalinan preterm. Selain itu wanita dengan kelainan
organ reproduksi memiliki risiko lebih besar dibandingkan wanita yang tidak.
Wanita dengan serviks yang pendek atau mengalami pemendekan sekviks pada
trimester kedua dan ketiga kehamilan merupakan salah satu faktor risiko dari
persalinan preterm.4

5
Tingginya angka kematian bayi akibat persalinan preterm di Indonesia dan
masalah yang dapat ditimbulkan dari persalinan preterm membuat penulis tertarik
untuk menulis laporan ini. Laporan diharapkan dapat menambah wawasan tenaga
medis khususnya dokter umum dan bidan agar dapat mencegah kejadian
persalinan prematur di Indonesia.

6
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTIFIKASI
Nama : Ny. NDP
Umur : 19 tahun
Tanggal lahir : 21 November 1998
Alamat : 7 Ulu tangga raja no.2149, RT/RW 58/16, Kel.7 Ulu, Kec.
Seberang ulu 1, Kota Palembang
Suku Bangsa : Sumatera
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
MRS : 30 September 2018 pukul 21.40 WIB
No. RM : 1083736

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Hamil kurang bulan dengan perut mulas

Riwayat Perjalanan Penyakit


Kurang lebih 12 jam SMRS, pasien mengeluh perut mulas menjalar
hingga ke pinggang makin lama makin sering dan kuat (+). Riwayat keluar
darah lendir (+), riwayat keluar air-air (-), riwayat demam (-), riwayat sakit
gigi (+), riwayat keputihan (+), riwayat post coitus (+), riwayat pasien
terjatuh (-), riwayat minum obat atau jamu (-), riwayat diurut (-). Pasien
sebelumnya ke bidan dan dikatakan hamil kurang bulan dan mau
melahirkan. Riwayat darah tinggi selama kehamilan (-), riwayat kencing
manis (-). Pasien mengaku gerakan janin masih dirasakan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat darah tinggi pada kehamilan (-)
Riwayat kencing manis (-)
Riwayat asma (-)

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


Riwayat persalinan prematur dalam keluarga (-)

7
Riwayat darah tinggi dalam keluarga (-)
Riwayat kencing manis (-)

Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku tidak mendapat pengobatan sebelumnya

Status Sosioekonomi dan Gizi : kurang


Status pernikahan : 1 kali, lamanya 1 tahun
Status reproduksi : menarche 13 tahun, siklus teratur 28 hari,
lamanya 7 hari, HPHT 15 Februari 2018
Status persalinan : Hamil ini

Riwayat Kehamilan Sekarang


HPHT : 15 Februari 2018
Taksiran persalinan : 22 November 2018
ANC : pasien sudah melakukan antenatal care sebanyak 6
kali

III. PEMERIKSAAN FISIK


PEMERIKSAAN FISIK UMUM
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
BB : 58 kg
TB : 155 cm
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80x/menit, isi/kualitas cukup,irama reguler
Respirasi : 20 x/menit, reguler
Suhu :36,5oC

PEMERIKSAAN KHUSUS
Kepala : Normosefali
Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), edema
palpebra (-), refleks cahaya (+/+)
Hidung : Kavum nasi dextra et sinistra lapang, sekret(-),
perdarahan(-)

8
Telinga : Liang telinga lapang
Mulut : Perdarahan di gusi (-), sianosis (-), mukosa mulut dan
bibir kering (-), fisura (-), cheilitis(-)
Lidah : Atropi papil (-)
Faring/Tonsil : Dinding faring posterior hiperemis (-), tonsil T1-T1,
tonsil tidak hiperemis, detritus (-)
Leher : JVP (5-2) cmH2O, pembesaran KGB (-), pembesaran
struma (-)

THORAX
Paru
Inspeksi : Statis dan dinamis simetris, retraksi intercostal,
subkostal, suprasternal (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler (+), ronkhi (-), wheezing (-)
Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi : Jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II normal, HR 83 x/menit, murmur (-), gallop (-)

ABDOMEN
Inspeksi : Cembung
EKSTREMITAS
Akral hangat (+), edema pretibial (-)

PEMERIKSAAN OBSTETRIK
Pemeriksaan Luar
FUT ½ pusat-proc xipoideus (23 cm), letak memanjang, punggung kanan,
presentasi kepala, penurunan kepala 4/5, DJJ 146 x/menit, HIS 2x/10’/30”,
TBJ 1550 gram.

9
Pemeriksaan Dalam
Inspeksi: portio livide, OUE terbuka, fluor (-), fluxus (+), darah tidak aktif.
E/L/P (-)
Vaginal toucher: portio lunak, anterior, eff 100%, dilatasi 5 cm, presentasi
kepala, Hodge II-III, ketuban (+), penunjuk UUK kanan.

IV. PEMERIKSAAN TAMBAHAN


Pemeriksaan Laboratorium (30 September 2018 Palembang)
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hematologi
Hb 9.2 g/dL 11,40-15,00 g/dL
RBC 3.68 x 106/mm3 4,00-5,70x106/mm3
WBC 12.8 x 103 /mm3 4,73-10,89x103 /mm3
Ht 29% 35-45%
Trombosit 306 x 103 /ul 189-436 x103/ul
Diff. Count
Basofil 0% 0-1%
Eosinofil 0% 1-6%
Neutrofil 91% 50-70%
Limfosit 7% 20-40%
Monosit 2% 2-8%
Pemeriksaan USG Fetomaternal (30 September 2018)
- Tampak janin tunggal hidup presentasi kepala
- Biometri:
 BPD : 8.39 cm
 HC : 28.05 cm
 AC : 27.80 cm
 FL : 6.26 cm
 EFW : 1896 gr
- Plasenta di corpus anterior
- Cairan ketuban cukup
Kesan: Hamil 32-33 minggu, janin tunggal hidup, presentasi kepala

V. DIAGNOSIS KERJA
G1P0A0 hamil 32-33 minggu inpartu kala I fase aktif janin tunggal hidup,
presentasi kepala.

VI. PROGNOSIS
10
Prognosis Ibu :dubia ad bonam (vitam dan functionam)
Prognosis Janin :dubia

VII. TATALAKSANA (Planning)


1. Konservatif
2. Observasi tanda vital ibu, HIS, DJJ
3. IVFD RL gtt xx/menit
4. Injeksi Dexamethasone 2x6 mg IV
5. Cek laboratorium darah rutin dan urin rutin.
6. Rencana partus pervaginam

FOLLOW UP
Tanggal 30 September 2018, pukul 21.40
S : hamil kurang bulan dengan perut dirasakan semakin mulas
O : Pemeriksaan fisik umum :
- Sensorium : compos mentis
- TD : 110/70 mmHg
- Nadi : 80x/m, isi dan tegangan cukup
- RR : 20x/m
- T : 36,5 C
Pemeriksaan spesifik
- Pemeriksaan luar : ½ pusat sampai proc xipoideus (23 cm), letak
memanjang, punggung kanan, presentasi kepala, penurunan kepala 4/5,
DJJ 146 x/menit, HIS 2x/10’/30”
- Vaginal toucher: : portio lunak, anterior, eff 100%, dilatasi 5 cm,
presentasi kepala, Hodge II-III, ketuban (+), penunjuk UUK kanan
A : G1P0A0 hamil 33 minggu inpartu kala I fase aktif janin tunggal hidup,
presentasi kepala
P : Terapi lanjutkan

FOLLOW UP (30 September 2018 pukul 24.00 bayi lahir)


Pukul 24.00 WIB = lahir neonatus hidup perempuan dengan BB 2300 g, PB 44
cm, APGAR score 8/9. Dilakukan manajemen aktif kala III.

11
- Diberikan injeksi oksitosin 10 IU IM
- Peregangan tali pusat terkendali
- Masase fundus uteri
01.05 WIB = plasenta lahir lengkap, dengan berat plasenta 350 gram, panjang tali
pusat 45 cm, diameter 17x18 cm, dilakukan eksplorasi jalan lahir, tidak
didapatkan perluasan luka episiotomi, luka episiotomi dijahit secara jelujur
sublentikuler, keadaan umum ibu baik, perdarahan aktif (-).

12
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Definisi
Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada umur kehamilan
20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir.1 Badan Kesehatan Dunia
(WHO) menyatakan bahwa bayi preterm adalah bayi yang lahir pada usia
kehamilan 37 minggu atau kurang, bayi preterm ialah bayi yang pada waktu lahir
organ organ tubuh belum tumbuh sempurna, fungsional belum matang, sehingga
bahaya kematian akan meningkat dan jika hidup bahaya gangguan fisik dan
intelektual meningkat.6,9,10
Terdapat 3 subkategori usia kelahiran prematur berdasarkan kategori
World Health Organization (WHO), yaitu: 7
1. Extremely preterm (< 28 minggu)
2. Very preterm (28 hingga < 32 minggu)
3. Moderate to late preterm (32 hingga < 37 minggu).

3.2. Epidemiologi
Angka kejadian persalinan preterm pada umumnya adalah sekitar 6 – 10%.
Hanya 1,5% persalinan terjadi pada umur kehamilan kurang dari 32 minggu dan
0,5% pada kehamilan kurang dari 28 minggu. Namun, kelompok ini merupakan
dua pertiga dari kematian neonatal. Kesulitan utama dalam persalinan preterm
ialah perawatan bayi preterm, yang semakin muda usia kehamilannya semakin
besar morbidatas dan mortalitas. Penelitain lain menunjukkan bahwa umur
kehamilan dan berat bayi lahir saling berkaitan dengan risiko kematian perinatal.7
Pada kehamilan umur 32 minggu dengan berat bayi >1.500 gram
keberhasilan hidup sekitar 85%, sedang pada umur kehamilan sama dengan berat
janin <1.500 gram angka keberhasilan sebesar 80%. Pada umur kehamilan <32
minggu dengan berat lahir < 1.500 gram angka keberhasilan hanya sekitar 59%.
Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan persalinan preterm tidak hanya
tergantung umur kehamilan, tetapi juga berat bayi lahir.7
Permasalahan yang terjadi pada presalinan preterm bukan saja pada
kematian perinatal melainkan bayi prematur ini sering pula disertai dengan
kelainan, baik kelainan jangka pendek maupun jangka panjang. Kelainan jangka
pendek yang sering terjadi adalah: RDS (Respiratory Distress Syndrome),

13
perdarahan intra/periventrikular, NEC (Necrotizing Enetro Cilitis), displasi
bronko-pulmonar, sepsis, dan patern duktus arteriosus. Adapun kelainan jangka
panjang seiring berupa kelainan neurologik seperti serebral palsi, retinopati,
retardasi mental, juga dapat terjadi disfungsi neurobehavoral dan prestasi sekolah
yang kurang baik.7,8 Dengan melihat permasalahan yang dapat terjadi pada bayi
preterm, maka penundaan persalinan preterm bila mungkin masih dapat
memberikan suatu keuntungan.
Pemicu obstetri yang mengarah pada persalinan preterm antara lain: (1)
persalinan atas indikasi ibu ataupun janin, baik dengan pemberian induksi ataupun
seksio sesarea; (2) persalinan preterm spontan dengan selaput amnion utuh; dan
(3) persalinan preterm dengan ketuban pecah dini, terlepas apakah akhirnya
dilahirkan pervaginam atau melalui seksio sesarea. Sekitar 30-35% dari persalinan
preterm berdasarkan indikasi, 40-45% persalinan preterm terjadi secara spontan
dengan selaput amnion utuh, dan 25-30% persalinan preterm yang didahului
ketuban pecah dini.7

3.3. Etiologi
Persalinan preterm merupakan kelainan proses yang multifaktorial.
Kadang hanya risiko tunggal dijumpai seperti distensi berlebih uterus, ketuban
peccah dini, atau trauma. Banyak kasus persalinan prematur sebagai akibat proses
patogenik yang merupakan mediator biokimia yang mempunyai dampak
terjadinya kontraksi rahim dan perubahan serviks, yaitu:8
1) Aktivasi aksis kelenjar hipotalamus-hipofisis-adrenal baik pada ibu
maupun janin, akibat stres pada ibu atau janin
2) Inflamasi desiuda-korioamnion atau sistemik akibat infeksi
assenden dari traktus genitourinari atau infeksi sistemik
3) Perdarahan desidua
4) Peregangan uterus patologik
5) Kelainan pada uterus atau serviks
Dengan demikian, untuk memprediksi kemungkinan terjadinya persalinan
preterm harus dicermati beberapa kondisi yang dapat menimbulkan kontraksi,
menyebabkan persainan preterm atau seorang dokter terpaksa mengakhiri
kehamilan pada saat kehamilan belum genap bulan.15
Kondisi selama kehamilan yang berisiko terjadinya persalinan preterm
adalah6:

14
1) Janin dan plasenta
 Perdarahan trimester awal
 Perdarahan anterpartum (plasenta previa, solusio plasenta, vasa previa)
 Ketuban pecah dini (KPD)
 Pertumbuhan janin terhambat
 Cacat bawaan janin
 Kehamilan ganda/gemeli
 Polihdiramnion
2) Ibu

Penyakit berat pada ibu

Diabetes melitus

Preeklamsia/ Hipertensi

Infeksi saluran kemih/ genital/intrauterin

Penyakit infeksi dengan demam

Stres psikologik

Kelainan bentuk uterus/ seviks

Riwayat persalian preterm/ abortus berulang

Inkompetensi serviks (panjang serviks kurang dari 1 cm)

Pemakaian obat narkotik

Trauma

Perokok berat

Kelainan imunologi/kelainan resus8
Drife dan Magowan menyatakan bahwa 35% persalinan preterm terjadi
tanpa diketahui penyebab yang jelas, 30% akibat persalinan elektif, 10% pada
kehamilan ganda, dan sebagian lain sebagai akibat kondisi ibu atau janinnya. 6
Infeksi korioamnion diyakini merupakan salah satu sebab terjadinya ketuban
pecah dini dan persalinan preterm. Patogenesis infeksi ini yang menyebabkan
persalinan belum jelas benar. Kemungkinan diawali dengan akitivitas fosfolipase
A2 yang melepaskan bahan asam arakidonat dari selapu amnion janin, sehingga
asam arakidonat bebas meningkat untuk sintesis prostaglandin. Endotoksin dalam
air ketuban akan merangsang sel desidua untuk menghasilkan sitokin dan
prostaglandin yang dapat menginisiasi proses persalinan. Proses persalinan
preterm yang dikaitkan dengan infeksi diperkirakan diawali dengan pengeluaran
produk sebagai hasil dari aktivasi monosit. Berbagai sitokin, termasuk interleukin-
1, tumor nekrosing faktor (TNF), dan interleukin-6 adalah produk sekretorik yang
dikaitkan dengan persalinan preterm. Sementara itu, Platelet Activating Factor
(PAF) yang ditemukan dalam air ketuban terlibat secara sinergik pada kativitas
jalinan sitokin tadi. PAF diduga dihasilkan dari paru dan ginjal janin. Dengan

15
demikian, janin memainkan peran yang sinergi dalam mengawali proses
persalinan preterm yang disebabkan oleh infeksi. Bakteri sendiri mungkin
menyebabkan kerusakan membran lewat pengaruh langsung dari protease.6,8,9
Vaginosis bakterialis adalah sebuah kondisi ketika flora normal vagina
predominan-laktobasilus yang menghasilkan hidrogen peroksida digantikan oleh
bakteri anaerob, Gardnerella vaginalis, spesies mobilunkus atau mikoplasma
hominis. Keadaan ini telah lama dikaitkan dengna ketuban pecah dini, persalinan
preterm, dan infeksi amnion, terutama bila pada pemeriksaan pH vagina lebih dari
5,0.8
Bakteri BV menghasilkan enzim mukolitik yang mempermudah bakteri
tersebut menembus barier lendir serviks masuk kedalam traktus genitalis bagian
atas. Selain itu jumlah mikroflora vagina normal yaitu Lactobacillus fakultatif
menurun, maka akan mempengaruhi tingkat keasaman vagina dan mempermudah
pertumbuhan bakteri anaerob.8,16
Gambaran klinis BV dapat dinilai dengan menggunakan kriteria Amsel,
yaitu terdapat tiga dari empat tanda klinis berikut: 8,16
 pH vagina di atas 4,5
 Sekret vagina yang homogen dan tipis
 Terdapat bau amis dari sekret vagina bila ditambahkan kalium hidroksida
10% (tes amin)
 Terdapat clue cell pada sediaan basah
Pada hipertensi atau preeklampsia, penolong persalinan cenderung untuk
mengakhiri kehamilan, Hal ini menimbulkan prevalensi preterm meningkat.
Kondisi medik lain yang sering menimbulkan persalinan preterm adalah
inkompetensi serviks. Penderita dengan inkompetensi serviks berisiko mengalami
persalinan preterm.10
Di samping faktor risiko di atas, faktor risiko lain yang perlu diperhatikan
adalah tingkat sosio—ekonomi, riwayat lahir mati, dan kehamilan di luar nikah.
Merupakan langkah penting dalam pencegahan persalinan preterm adalah
bagaimana mengidentifikasi faktor risko dan kemudian memberikan perawatan
antenatal serta penyuluhan agar ibu dapat mengurangi risiko tambahan.9

16
3.4. Patogenesis
Penyebab persalinan preterm multifaktorial dan dapat saling berinteraksi
satu sama lain. Berikut beberapa alur yang umum terjadi pada persalinan preterm:
6,7

3.4.1. Aktivasi aksis hypothalamic–pituitary–adrenal (HPA) janin atau ibu:


stres
Stres yang didefinisikan sebagai tantangan baik psikologis atau fisik, yang
mengancam atau yang dianggap mengancam homeostasis pasien, akan
mengakibatkan akitivasi prematur hypothalamic–pituitary–adrenal (HPA) janin
atau ibu. Stres semakin diakui sebagai faktor risiko penting untuk persalinan
preterm. Beberapa penelitian telah menemukan50% hingga 100% kenaikan angka
kelahiran pretermberhubungan dengan stres pada ibu, dan biasanya merupakan
gabungan dari berbagai peristiwa kehidupan, kecemasan, atau depresi.
Neuroendokrin, kekebalan tubuh, dan proses perilaku(seperti depresi) telah
dikaitkan dengan persalinan preterm terkait stres. Namun, proses yang paling
penting, yang menghubungkan stres dan kelahiran preterm ialah neuroendokrin,
yang menyebabkan aktivasi prematur aksis HPA. Proses ini dimediasi oleh
corticotrophin-releasing hormone (CRH) plasenta .
3.4.2. Infeksi dan inflamasi
Patogenesis dari persalinan preterm masih belum dimengerti dengan
benar.8 Namun, infeksi tampaknya menjadi penyebab tersering dan paling penting
dalam persalinan preterm.1,8 Meskipun demikian, patogenesis infeksi hingga
menyebabkan persalinan preterm pun hingga kini belum jelas benar, namun
diduga berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh, dan diawali oleh aktivasi
fosfolipase A2 yang dihasilkan oleh banyak mikroorganisme.9,10
Sumber infeksi yang telah dikaitkan dengan kelahiran prematur meliputi
infeksi intrauterin, infeksi saluran kelamin, infeksi sistemik ibu, bakteriuria
asimptomatik, dan periodontitis ibu.10 Mikroorganisme yang umum dilaporkan
pada rongga amnion adalah genital Mycoplasma spp, dan Ureaplasma
urealyticum. Beberapa mikroorganisme yang umum pada saluran genitalia bawah,
seperti Streptococcus agalactiae, jarang tampak pada rongga amnion sebelum
selaput amnion pecah. Rongga amnion biasanya steril dari bakteri, dan adanya
bakteri yang jumlahnya cukup signifikan pada membran amnion diduga melalui
mekanisme sebagai berikut:6,7
1) Secara ascending dari vagina dan serviks

17
2) Penyebaran secara hematogen melalui plasenta
3) Penggunaan alat saat melakukan prosedur invasif
4) Penyebaran secara retrograde melalui tuba fallopi.
Dari beberapa cara yang telah disebutkan di atas, cara yang paling umum
ialah penyebaran secara ascending dari vagina dan serviks. Hal ini dapat
ditunjukkan oleh suatu kondisi yang disebut vaginosis bakterialis, yang
merupakan sebuah kondisi ketika flora normal vagina predominan-laktobasilus
yang menghasilkan hidrogen peroksida digantikan oleh bakteri anaerob,
Gardnerella vaginalis, spesies Mobilunkus, atau Mycoplasma hominis. Keadaan
ini telah lama dikaitkan dengan ketuban pecah dini, persalinan preterm, dan
infeksi amnion, terutama bila pada pemeriksaan pH vagina lebih dari 5,0.8
Infeksi intraamnion akan menyebabkan terjadinya pelepasan mediator
inflamasi seperti pro-inflamatory sitokin (IL-1β, IL-6, IL-8, dan TNF-α. Sitokin
akan merangsang pelepasan CRH, yang akan merangsang aksis HPA janin dan
menghasilkan kortisol dan DHEAS. Hormon-hormon ini bertanggung jawab
untuk sintesis uterotonin (prostaglandin dan endotelin) yang akan menimbulkan
kontraksi. Sitokin juga berperan dalam meningkatkan pelepasan protease (MMP)
yang mengakibatkan perubahan pada serviks dan pecahnya kulit ketuban.

3.4.3. Perdarahan desidua (Decidual hemorrhage/thrombosis)


Mekanisme ketiga yaitu mekanisme yang berhubungan dengan perdarahan
plasenta dengan ditemukannya peningkatan hemosistein yang akan
mengakibatkan kontraksi miometrium.15 Perdarahan pada plasenta dan desidua
menyebabkan aktivasi dari faktor pembekuan Xa (protombinase). Protombinase
akan mengubah protrombin menjadi trombin dan pada beberapa penelitian,
trombin mampu menstimulasi kontraksi miometrium.
3.4.4. Distensi uterus yang berlebihan (uterine overdistension)
Distensi uterus yang berlebihan memainkan peranan kunci dalam memulai
persalinan preterm yang berhubungan dengan kehamilan multipel,
polihidramnion, dan makrosomia. Kehamilan multipel, sering disebabkan oleh
reproduksi yang dibantu oleh tekhnologi (assisted reproduction technologies
(ART)), termasuk induksi ovulasi dan fertilisasi in vitro, dan merupakan satu dari
penyebab yang paling penting dari persalinan preterm di negara-negara maju.11

18
Di Amerika Serikat misalnya, ART merupakan 1% dari semua kelahiran
hidup, tetapi 17% dari semua kehamilan multipel; 53% neonatus hasil dari ART
pada tahun 2003 merupakan anak kembar. Mekanisme dari distensi uterus yang
berlebihan hingga menyebabkan persalinan preterm masih belum jelas. Namun
diketahui, peregangan rahim akan menginduksi ekspresi protein gap junction,
seperti connexin-43 (CX-43) dan CX-26, serta menginduksi protein lainnya yang
berhubungan dengan kontraksi, seperti reseptor oksitosin.11
3.4.5. Insufisiensi serviks
Insufisiensi serviks secara tradisi dihubungkan dengan pregnancy losses
pada trimester kedua, tetapi baru-baru ini bukti menunjukan bahwa gangguan
pada serviks berhubungan dengan outcomes kehamilan yang merugikan dengan
variasi yang cukup luas, termasuk persalinan preterm. Insufisiensi serviks secara
tradisi telah diidentifikasi di antara wanita dengan riwayat pregnancy losses
berulang pada trimester kedua, tanpa adanya kontraksi uterus. Terdapat lima
penyebab yang diakui atau dapat diterima, yaitu: (1) kelainan bawaan; (2) in-utero
diethylstilbestrol exposure; (3) hilangnya jaringan dari serviks akibat prosedur
operasi seperti Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP) atau conization;
(4) kerusakan yang bersifat traumatis; dan (5) infeksi.10
Selain berhubungan dengan beberapa hal di atas, risiko persalinan preterm
juga meningkat pada perokok. Mekanisme meningkatnya risiko persalinan
preterm pada wanita yang merokok sampai saat ini belum jelas. Terdapat lebih
dari 3000 bahan kimia dalam batang rokok, yang masing-masing efek biologisnya
sebagian besar tidak diketahui. Namun, baik nikotin dan karbon monoksida
merupakan vasokonstriktor yang kuat dan dihubungkan dengan kerusakan
plasenta serta menurunnya aliran darah uteroplasenta. Kedua jalur tersebut
mengarah pada terhambatnya pertumbuhan janin dan persalinan preterm.10

19
Gambar 1. Patofisiologi prematur14
3.5. Diagnosis
Sering terjadi kesulitan dalam menentukan diagnosis ancaman persalinan
preterm. Tidak jarang kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar-benar
merupakan ancaman proses perslainan. Beberapa kriteria dapat dipakai
sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm, yaitu:9
 Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7 – 8 menit sekali, atau 2 – 3
kali dalam waktu 10 menit
 Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
 Perdarahan bercak
 Perasaan menekan daerah serviks
 Pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2
cm, dan penipisan 50-80%
 Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
 Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan
preterm
 Terjadi pada usia kehamilan 20-37 minggu

20
3.6. Penatalaksanaan
Cara utama untuk mengurangi risiko persalinan preterm dapat dilakukan
sejak awal, sebelum tanda-tanda persalinan muncul. Dimulai dengan pengenalan
pasien yang berisiko untuk diberi penjelasan dan dilakukan penilaian klinik
terhadap persalinan preterm serta pengenalan kontraksi sedini mungkin, sehingga
tindakan pencegahan dapat segera dilakukan. Pemeriksaan serviks tidak lazim
dilakukan pada kunjungan antenatal, sebenarnya pemeriksaan tersebut
mempunyai manfaat cukup besar dalam meramalkan terjadinya persalinan
preterm. Bila dijumpai serviks pendek (<1cm) disertai dengan pembukaan yang
merupakan tanda serviks matang atau inkompetensi serviks, mempunyai risiko
terjadinya persalinan preterm 3 – 4 kali.9

Beberapa indikator dapat dipakai untuk mendiagnosis terjadinya


persalinan preterm, sebagai berikut:
 Indikator klinik
Indikator klinik yang dapat dijumpai seperti timbulnya kontraksi dan
pemendekkan serviks (secara manual maupun ultrasonografi). Terjadinya
ketuban pecah dini juga meramalkan akan terjadinya persalinan preterm.
 Indikator laboratorik
Beberapa indikator laboratorik yang bermakna antara lain adalah: jumlah
leukosit dalam air ketuban (20/ml atau lebih), pemeriksaan CRP (>0,7
mg/ml), dan pemeriksaan leukosit dalam serum ibu (> 13.000/ml).
 Indikator biokimia
- Fibronektin janin: peningkatan kadar fibronektin janin pada vagina,
serviks dan air ketuban memberikan indikasi adanya gangguan
pada hubungan antara korion dan desidua. Pada kehamilan 24
minggu atau lebih, kada fibronektin janin 50 ng/ml atau lebih
mengindikasikan risiko persalinan preterm.
- Corticotropin releasing hormone (CRH): peningkatan CRH dini
atau pada trimester 2 merupakan indikator kuat untuk terjadinya
persalinan preterm.
- Sitokin inflamasi: seperti IL-1 , IL-6, IL-8, dan TNF- telah diteliti

sebagai mediator yang mungkin berperan dalam sintesis


prostaglandin.
- Isoferitin plasenta: pada keadaan normal (tidak hamil) kadar
isoferitin sebesar 10 U/ml. Kadarnya meningkat secara bermakna

21
selama kehamilan dan mencapai puncak pada trimester akhir yaitu

54,8 53 U/ml. Penurunan kadar dalam serum akan berisiko

terjadinya persalinan preterm.


- Feritin: Rendahnya kadar feritin merupakn indikator yang sensitif
untuk keadaan kurang zat besi. Peningkatan ekspresi feritin
berkaitan dengan berbagai keadaan reaksi fase akut termasuk
kondisi inflamasi. Beberapa peneliti menyatakan adanya hubungan
antara penginkatan kadar feritin dan kejadian penyulit kehamilan,
termasuk persalinan preterm 10.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah persalinan
preterm antara lain sebagai berikut.
1. Hindari kehamilan pada ibu terlalu muda (kurang dari 17 tahun)
2. Hindari jarak kehamilan terlalu dekat
3. Menggunakan kesempatan periksa hamil dan memperoleh pelayanan
antenatal yang baik
4. Anjuran tidak merokok maupun mengonsumsi obat terlarang (narkotik)
5. Hindari kerja berat dan perlu cukup istirahat
6. Obati penyakit yang dapat menyebabkan persalinan preterm
7. Kenali dan obati infeksi genital/salurang kencing
8. Deteksi dan pengamanan faktor risiko terhadap persalinan preterm

Pengelolaan10
Menjadi pemikirian pertama pada pengelolaan persalinan preterm adalah:
apakah ini memang persalinan preterm. Selanjutnya mencari penyebabnya dan
menilai kesejahteraan janin yang dapat dilakukan secara klinis, laboratoris,
ataupun ultrasonografi meliputi pertumbuhan atau berat janin, jumlah dan keadaan
cairan amnion, presentasi dan keadaan janin atau kelainan kongenital atau bila
proses persalinan kurang bulan masih tetap berlangsung atau mengancam, meski
telah dilakukan segala upaya pencegahan, makan perlu dipertimbangkan:
 Seberapa besar kemampuan klinik (dokter spesialis kebidanan, dokter
spesialis kesehatan anak, peralatan) untuk menjaga kehidupan bayi preterm
atau beraa persen yang akan hidup menurut berat dan usia gestasi tertentu.
 Bagaimana persalinan sebaiknya berakhir, pervaginam atau bedah sesar.
 Komplikasi apa yang akan timbul, misalnya perdarahan otak atau sindroma
gawat napas.

22
 Bagaimana pendapat pasien dan keluarga mengenai konsekuensi perawatan
bayi preterm dan kemungkinan hidup atau cacat.
 Seberapa besar dana yang diperlukan untuk merawat bayi preterm, dengan
rencana perawatan intensif neonatus 5.
Ibu hamil yang mempunyai risiko terjadi persalinan preterm dan/atau
menunjukkan tanda-tanda persalinan preterm perlu dialukan intervensi untuk
meningkatkan neonatal outcomes.
Manajemen persalinan preterm bergantung pada beberapa faktor.
 Keadaan selaput ketuban. Pada umumnya persalinan tidak dihambat bilamana
selaput ketuban sudah pecah.
 Pembukaan serviks. Persalinan akan sulit dicegah bila pembukaan mencapai
4 cm.
 Umur kehamilan. Makin muda usia kehamilan, upaya mencegah persalinan
makin perlu dilakukan. Persalinan dapat dipertimbangkan berlangsung bila
TBJ > 2.000 atau kehamilan > 34 minggu.

Beberapa langkah yang dapat dilkaukan pada persalinan preterm, terutama


mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm adalah:
 Mengahambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis,
 Pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid, dan
 Bila perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi.

Tokolisis
Meski beberapa macam obat telah dipakai untuk mengahmbat persalinan,
tidak ada yang benar-benar efektif. Namun, pemberian tokolisis masih perlu
dipertimbangkan bila dijumpai kontraksi uterus yang regular dengan perubahan
serviks.
Alasan pemberian tokolisis pada persalinan preterm adalah:
 Mencegah mortalitas dan morbiditas pada bayi prematur
 Memberi kesempatan bagi terapi kortikosteroid untuk menstimulir surfaktan
paru janin.
 Memberi kesempatan transfer intrauterin pada fasilitas lebih lengkap
 Optimalisasi personel

23
Beberapa macam obat yang dapat digunakan sebagia tokolisis adalah:

Kalsium antagonis: Nifedipin 10 mg/oral diulang 2 – 3 kal/jam, dilanjutkan
tiap 8 jam sampai kontraksi hilang. Obat dapat diberikan lagi jika timbul
kontraksi berulang.

Obat -mimetik: seperti terbutalin, ritrodin, isokuprin, dan salbutamol, dapat

diugnakan, tetapi nifedipin mempunyai efek samping lebih kecil.



Sulafas magnesikus dan antiprostagladin (indometasin): jarang dipakai karena
efek samping pada ibu ataupun janin.

Untuk menghambat proses persalinan preterm selain tokolisis, perlu
membatasi aktivasi atau tirah baring.4

Kortikosteroid
Pemberian terapi kortikosteroid dimaksudkan untuk pematangan surfaktan
paru janin, menurunkan insiden RDS, mencegah perdarahan intraventrikular, yang
akhirnya menurunkan kematian neonatus. Kortikosteroid perlu diberikan bilamana
usia kehamilan kurang dari 35 minggu.
Obat yang diberikan adalah: deksametason atau betametason. Pemberian
steroid ini tidak diulang karena risiko terjadinyan pertumbuhan janin terhambat.
Pemberian sikls tunggal kortikosteroid adalah:

Betametason: 2x12 mg i.m. dengan jarak pemberian 24 jam

Deksametason: 4x6 mg i.m. dengan jarak pemberian 12 jam.9,13

Antibiotika
Antibiotika hanya diberikan bilamana kehamilan mengandung risiko
terjadinya infeksi seperti pada kasus KPD. Obat iberikan per oral, yang dianjurkan
adalah: eritromisin 3x500 mg selama 3 hari. Obat pilihan lain adalah ampisilin
3x500 mg selama 3 hari, atau dapat menggunakan antibiotika lain seperti
klindamisin. Tidak dianjurkan pemberian ko-amoksiklaf karena risiko NEC 9.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan pasien dengan
KPD/ PPROM (Preterm premature rupture of the mebrane) adalah:

Semua alat yang digunakan untuk periksan vagian harus steril.

Periksa dalam vagian tidak dianjurkan, tetapi dilakukan dengan pemeriksaan
spekulum.

24

Pada pemeriksaan USG jika dapat penurunan indeks cairan amnion (ICA)
tanpa adanya kecurigaan kelainan ginjal dan tidak adanya IUGR mengarah
pada kemungkinan KPD.8
Penderita dengan KPD/PPROM dilakukan pengakhiran persalinan pada
usia kehamilan 36 minggu. Untuk usia 32-35 minggu jika ada bukti hasil
pemeriksaan maturitas paru, maka kemampuan rumah sakit (tenaga dan fasilitas
perinatologi) sangan menentukan kapan sebaiknya kehamilan diakhiri.

Akan tetapi, bila ditemukan adanya bukti infeksi (klinik ataupun


laboratorik), maka pengakhiran persalinan dipercepat/induksi, tanpa melihat usia
kehamilan.
Persiapan persalinan preterm perlu pertimbangan berdasarkan:
 Usia gestasi
- Usia gestasi 34 minggu atau lebih dapat melahirkan di tingkat dasar/
primer, mengingat prognosis relatif baik
- Usia gestasi kurang dari 34 minggu: harus dirujuk ke rumah sakit dengan
fasilitas perawatan neonatus yang memadai.
 Keadaan selaput ketuban
Bila didapat KPD/PPROM dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu
maka ibu dan keluarga dipersilakan untuk memilih cara pengelolaan setelah
diberi konseling dengan baik.10

Cara persalinan
Masih sering muncul kontroversi dalam cara persalinan kurang bulan
seperti: apakah sebaiknya persalinan berlangsung pervaginam atau seksio sesarea
terutama pada berat janin yang sangat rendah dan preterm sungsang, pemakaian
forseps untuk melindungi kepala janin, dan apakah ada manfaatnya dilkukan
episiotomi profilaksis yang luas untuk mengurangi trauma kepala.

Bila janin presentasi kepala, maka diperbolehkan partus pervaginam.


Seksio sesarea tidak memberi prognosis yang lebih baik bagi bayi, bahkan
merugikan ibu. Prematuritas janganlah dipakai sebagai indikasi untuk melakukan
seksio sesarea. Oleh karena itu seksio sesarea hanya dilakukan atas indikasi
obsterik.

25
Pada kehamilan letak sungsang 30-34 minggu, seksio sesarea dapat
dipertimbangkan. Setelah kehamilan lebih dari 34 minggu, persalinan dibiarkan
terjadi karena morbiditas dianggap sama dengan kehamilan aterm.4

Perawatan Neonatus
Untuk perawatan bayi preterm baru lahir perlu diperhatikan keadaan
umum, biometri, kemampuan bernapas, kelainan fisik dan kemapuan minum.
Keadaan kritis bayi prematur yang harus dihindari adalah kedinginan,
pernapasan tidak adekuat, atau trauma, suasasan hangan diperlukan untuk
mencegah hipotermia pada neonatus (suhu badan dibawah 36,5oC), bila mungkin
bayi sebaiknya dirawat dengan cara KANGURU untuk menghindari hipotermia,
Kemudian dibuat perencanaan pengobatan dan asupan cairan.
ASI diberikan lebih sering, tetapi bila tidak mungkin, diberikan dengan
sonde atau dipasang infus.Semua bayi baru lahir harus mendapat nutrisi sesuaui
dengan kemampuan dan kondisi bayi.
Sebaiknya persalinan bayi terlalu muda atau terlalu kecil berlangsung pada
fasilitas yang memadai, seperti pelayanan perinatal dengan personel dan fasilitas
yang adekuat termasuk perawatan perinatal intensif.

26
BAB IV
ANALISIS KASUS

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang, ditegakkan diagnosis persalinan preterm. Persalinan preterm
merupakan persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih
sampai dengan kurang dari 37 minggu yang dihitung melalui HPHT. Pada kasus
ini, diketahui bahwa pasien memiliki beberapa faktor risiko untuk terjadi
persalinan preterm. Faktor risiko yang terdapat pada kasus ini, yaitu:
1. Perdarahan antepartum
2. Hamil usia ekstrim
3. Grandemultipara dan interval persalinan
4. Ketuban pecah dini
5. Kehamilan hidroamnion
6. Gangguan keseimbangan hormonal
7. Inkompetensia serviks/dilatasi serviks
8. Kelainan anatomi uterus
9. Idiopatik (peningkatan reseptor oksitosin)
10. Preeklampsia/eklampsia
11. Faktor individu (sosioekonomi rendah, kurang gizi, anemia pada
kehamilan)
12. Penyakit sistemik (penyakit jantung, DM, asma, hipertensi)
13. Infeksi pada kehamilan (koriamnionitis, servisitis)
14. Riwayat ANC yang buruk.
Menurut DEPKES RI tahun 2009, usia yang aman untuk hamil adalah usia
20-35 tahun. Pada kasus ini, ibu hamil pada usia 19 tahun yang dapat dikatakan
sebagai risiko tinggi untuk mengalami persalinan prematur.
Pencegahan persalinan preterm dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu
pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer dilakukan sebelum
terjadinya pembuahan dan selama kehamilan. Hal yang dapat dilakukan
diantaranya memberikan pendidikan kepada semua wanita mengenai faktor risiko
persalinan preterm, menghindari melakukan pekerjaan berat, mengonsumsi
suplemen nutrisi, tidak merokok, melakukan asuhan prenatal, serta melakukan
perawatan periodontal. Pencegahan sekunder ditujukan pada wanita yang sudah
diketahui memiliki faktor risiko untuk terjadi persalinan preterm. Pencegahan
sekunder setelah konsepsi dilakukan dengan cara modifikasi aktivitas ibu (tirah
baring, menurunkan aktivitas seksual, pembatasan kerja), pemberian suplemen

27
nutrisi yang dianggap dapat menurunkan konsentrasi pro-inflamasi sitokin,
pemberian antibiotik (jika dicurigai vaginosis bakterial), dan pemberian
progesteron (antagonis oksitosin) untuk memelihara integritas serviks dan
memiliki efek anti-inflamasi. Pencegahan tersier merupakan pencegahan yang
pada umumnya dilakukan. Contohnya yaitu merujuk ibu dengan ancaman
persalinan preterm ke rumah sakit yang dilengkapi perawatan bayi preterm,
pemberian terapi tokolitik, kortikosteroid antenatal, antibiotik dan persalinan
preterm atas indikasi pada waktu yang tepat.

Penegakan diagnosis
Prediksi persalinan preterm secara klinis mencakup anamnesis,
pemeriksaan fisik dan skrining infeksi vagina.
1. Anamnesis
Identitas pasien, memperkirakan waktu persalinan, menggali kebiasaaan
dan faktor risiko yang berkaitan dengan insidens persalinan preterm, dan keadaan
sosioekonomi.
2. Pemeriksaan fisik
Dari pemeriksaan obstetrik, adanya kontraksi dengan intensitas dan
frekuensi yang cukup untuk menyebabkan penipisan dan pematangan serviks pada
usia gestasi 24-37 minggu merupakan suatu penanda persalinan preterm aktif.
Kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis persalinan preterm adalah
terdapatnya kontraksi yang nyeri, dapat diraba, berlangsung selama lebih dari 30
detik dan muncul minimal empat kali tiap 20 menit.
Pada pasien ini terdapat HIS 2x dalam 10 menit dan lamanya 30 detik
(2x/10’/30”). Hal ini menyebabkan penipisan dan pematangan serviks yang dini
pada saat kehamilan, sehingga memicu terjadinya persalinan preterm.
Selain itu dari pemeriksaan obstetrik juga dapat dilakukan penilaian serviks
dengan menggunakan skor Bishop.

28
Skor bishop pada kasus yaitu:
1. Posisi uterus pada posterior :0
2. Konsistensi lunak :2
3. Pendataran/effacement (100%) :3
4. Dilatasi serviks (5 cm) :3
5. Station (hodge II) :3
Total : 11
Interpretasi Skor Bishop ≥ 6 bisa dilakukan persalinan pervaginam

3. Prediksi biofisik
Prediksi biofisik dilakukan dengan mengukur parameter fisik pada ibu.
Parameter fisik yang dimaksud adalah panjang serviks. Cara pemeriksaan serviks
antara lain yaitu: 1. Digital dengan jari. 2. Ultrasonografi (USG) transabdominal.
3. USG transperineal. 4. USG transvaginal. Pengukuran panjang serviks dapat
digunakan untuk memprediksikan adanya risiko persalinan preterm. Serviks yang
pendek memiliki risiko lebih tinggi mengalami persalinan preterm.
Penilaian serviks yang lebih baik dapat dilakukan dengan menggunakan
USG. Teknik USG yang dapat dilakukan adalah USG transabdominal,
transperineal dan transvaginal. USG transabdominal memiliki keterbatasan yaitu
ketika dilakukan pemeriksaan, kandung kemih harus dalam keadaan terisi, namun
hal ini dapat menyebabkan pemanjangan serviks sehingga mengaburkan adanya
serviks yang pendek atau bentuk serviks yang funneling (pembukaan serviks dari
internal os). USG transvaginal merupakan cara invasif yang tidak membutuhkan

29
pengisian kandung kencing sehingga gambaran serviks yang sebenarnya bisa
ditampilkan dengan jelas. Disamping itu USG transvaginal juga dapat mengukur
dengan akurat bila terjadi pembukaan serviks bahkan juga funneling sehingga
tatacara pengukuran serviks yang sangat dianjurkan adalah secara transvaginal.
Dari hasil USG didapatkan skor BPP (BioPhysic Profile) merupakan kombinasi
antara pemeriksaan USG dan Non- Stress Test. Tujuannya juga untuk memantau
kesejahteraan janin. Dikatakan normal bila nilai BPP minimal 8.

ANALISIS TATALAKSANA PADA PERSALINAN PRETERM


Manajemen persalinan preterm bergantung pada beberapa faktor,
diantaranya ketuban pecah dini, pembukaan serviks, umur kehamilan, penyebab
persalinan preterm, dan kemampuan neonatal intensive care facilities. Pada kasus,
dilakukan manajemen persalinan pervaginam dan mengobservasi tanda-tanda
vital, HIS, dan DJJ pada pasien. Dapat diberikan tokolisis seperti nifedipin 10
mg/oral diulang 2-3 kali/jam, dilanjutkan tiap 8 jam sampai kontraksi hilang
apabila indeks tokolitik < 8, namun pada kasus ini tidak diberikan karena indeks
tokolitiknya >8. Usia kehamilan pada kasus yaitu 36 minggu, dimana belum
terjadi pematangan paru yang sempurna. Maka, perlu diberikan kortikosteroid
berupa deksametason 2x6mg/24 jam atau betametason 2x12 mg/24 jam.
Antibiotika hanya diberikan jika terdapat risiko untuk terjadinya infeksi, seperti
ketuban pecah dini. Obat pilihan yang diberikan berupa ampisilin 3x500 mg
selama 3 hari. Pengobatan yang adekuat dipercaya dapat menurunkan komplikasi
baik untuk ibu dan janin pada persalinan preterm.
Indeks Tokolitik
0 1 2 3 4
Kontraksi Tidak ada Irregular Regular - -
Ketuban Tidak ada - Tinggi/ tidak - Rendah/
Pecah jelas pecah
Perdarahan Tidak ada Spotting Pendarahan - -
Pembukaan Tidak ada 1 cm 2 cm 3 cm 4 cm
Indeks tokolitik >8 : kontraindikasi pemberian tokolitik.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) 2007. Birth: Final data for
2005. [diakses 07 November 2016]. Tersedia pada Jurnal e-Clinic (eCl),
Volume 5, Nomor 1, Januari-Juni 2017 :http://www.cdc.gov/nchs/data/nvsr56
_06.pdf.
2. Drife J, Mogawan BA. Clinical obstetric and gynecology: prematurity.
London: Saunders; 2004. h.375-80
3. Krisnadi, dkk. 2009. Prematuritas. Bandung: Refika Aditama.
4. Stacy B, Wodjdyla D, Say L, Betran A, Merialdi M, Rubens C, et al. The
worldwide incidense of preterm birth: a systematic review of maternal and
morbidity. Bull World Health Organ. 2010;88:31
5. Sari, E. W. L. dan Sulastri, S. (2012) Faktor-faktor yang Berhubungan dengan
Kejadian Preeklampsia Di RSUD DR. Moewardi Surakarta.
6. Drife J. Magowan BA. 2004. Clinical obsterics and gynaecology:
Prematurity, Saunders, London: 374-380
7. Goldenberg RL. 2002. The management of preterm labor. In: High-risk
pregnancy series. Obstet Gynecol: an expert’s view:1020-37.
8. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom
KD. 2005. Preterm birth in William Obsterics 22nd ed. McGraw-Hill. New
York: 855-73
9. Manajemen persalinan preterm. 2005. Himpunan Kedokteran Fetomaternal
POGI. Semarang.
10. Abadi A. 2004. Persalinan preterm. Dalam: Hariadi R. ed. Ilmu Kedokteran
Feto maternal. Edisi perdana, Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI
Surabaya: 364-80.
11. Suharsono. 2005. Kontroversi pemberian kortikosteroid dosis tunggal atau
multiple pada persalinan preterm. PIT-FM. Semarang.
12. Jobe AH, Soll RF. 2004. Choice and dose of corticosteroid for antenatal
treatment. AM J Obstet Gynecol. 190: 878-81.
13. Abbasi S, Hirsch D, Davis J. 2000. Effect of single versus multiple course of
antenatal corticosteroid on maternal and neonatal outcome. AM J Obstet
Gynecol 182: 1243-9.
14. Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Persalinan preterm dalam: Buku Ilmu
Kebidanan Edisi Keempat.PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta:
667-76

31
15. DeCherney AH. Nathan. 2003. Late Pregancy Complication in Current
Obstetrics and Gynecologic Diagnosis and Treatment , McGraw Hill
Companies.
16. Prediksi Persalinan Preterm [internet]. Health Technology Assessment
Indonesia; 2010 [cited 2014 Jan 12]. Available from
http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com

32