You are on page 1of 3

Kapal akan dilanjutkanberlayar jam 21.00, karena air surut.

Disana-sini mulai

terdengar suara anak-anak dan bayi menangis. Ada sebersit rasa iri dihatiku.

Mereka lebih leluasa mengekspresikan rasa bosan, rasa sakit,gundah atau apa

saja yang dirasakan tidak nyaman dengan tangisan. Bahkan dibagian ujung dek

tempatku berbaring, ada anak yang menangis nyaring sambil beguling-guling

gara-gara permintaannya tidak dipenuhi.Sementara aku hanya berbaring dengan

semua perasaanku yang menekan. Pengumuman dari crew kapal binaiya yang

kutumpangi mengenai kandasnya kapal ini hanyalah tambahan masalah ,dari

berbagai masalah lain yang menghimpitku. Mungkin seandainya bisa,

seandainya pantas, aku juga mau menangis berguling-guling seperti anak-anak

diujung dek itu.Bukankah lebih beralasan seandainya aku boleh melakukannya ?

Anak itu menangis hanya karena bosan, capek karena pengapnya kapal yang

harusnya bebas dari asap rokok, sempitnya lorong – lorong jalan karena

padatnya penumpang sehingga mereka dipaksa mengganggu penumpang yang

ingin menikmati jalan-jalan diatas kapal. Hal itu yang membuat anak kecil itu

murka, karena orang tua mereka malas menemani anaknya jalan-jalan.

Sedangkan aku, pengumuman tadi ibarat sudah jatuh ketimpa tangga. Dia

menjadi urutan kesekian dari berbagai penderitaan yang menderaku

sebelumnya.Tepat didepanku besandar seorang gadis manis berjilbab, yang

entah karena bosan juga atau apa, tiba-tiba dia berubah(kaya satria baja hitam)

tinggal mengenakan baju kaos warna hitam tanpa lengan dengan rambut

tergerai ( tambah cantik memang tapi ANEH gumam hatiku).Sebersit terlintas

kembali wajah dik Ranti dipelupuk mataku.Suaranya yang lembut dan keluar

dari bibirnya yang mungil itu, yang selama dua tahun menghias mimpiku

bagaikan suara petir bergemuruh ditelingaku ketika Ia mengatakan : ” Maaf

mas, rasanya aku nggak bisa bersandiwara terus-menerus. Aku juga nggak bisa

lagi menipu perasaanku. Hubungan kita rupanya hanya bertambah umur tapi
nggak bertambah serasi. Tolong ..... ” Aku sungguh nggak sanggup menyimak

semua perkataanya, kucoba meyakinkan pendengaranku dengan satu

pernyataan : Sudahlah dik kamu sabarlah sedikit. Kalau ada kabar-kabar aneh

yang kamu dengar tentang aku selama kita berjauhan, kumohon kamu jangan

telan mentah-mentah. Bagaimanapun aku sudah mantap memilih kamu sebagai

calon istriku. Kalau aku berteman dengan wanita lain itu hanya hubungan

pertemanan biasa. Yang akan kunikahi ya kamu. – Jadi sekarang ini mas puas-

puasin dulu berganti-ganti cewek , nanti kawinnya dengan aku. Ya mana ada to

mas perempuan yang mau digitukan. Mungkin egoku lebih besar dibanding

cintaku pada mas. Kalau ada perempuan yang mau diperlakukan kaya itu, yang

jelas itu bukan aku.... tangkas dik Ranti memotong perkataanku yang

menggantung . Jujur aku memang selalu tertantang mengikuti permainan. Aku

tak pernah dengan jelas antara berteman ,atau menikmati , atau...

memanfaatkan.. gadis yang kelihatan penuh perhatian denganku dan bahkan

tanpa kusadari justru aku yang sengaja tebar pesona dan berburu. Namun sekali

lagi, jujur juga semua yang kukatakan pada dik Ranti tentang perasaanku

dengannya. Dengan semua gadis selain dia, kenikmatan yang kurasakan

hanyalah pada proses berburunya, tidak pada hasilnya. Makanya rasa milikku

untuknya , sungguh sangat mendalam. Keputusan dik Ranti untuk mengakhiri

semuanya sungguh mengoyak batinku. Selama ini dia tahu, dengan siapa saja

aku dekat dan selalu kutekankan dalam ceritaku bahwa mereka itu hanya teman

atau hanya salah satu dari sekian pengagumku. Sekaligus untuk memberikan

kebanggaan kepadanya bahwa cowok yang mencintainya adalah idola banyak

gadis. Siapa duga, bila akhirnya seperti ini? Siapa duga bibir indah yang

biasanya, terdiam dan tersenyum itu sanggup mengeluarkan vonis berakhir tuk

semua mimpi dan asaku? Oh God, it’s imposible! Aku belum bisa mengerti

dengan semua ini. Nafasku semakin terasa sesak. Kubalikkan badanku, sambil
setengah menghempas. Tanpa sadar kukeluarkan hembusan nafasku keras-keras

sampai menyerupai desahan. Beberapa orang berpaling ke arahku. Kucuekin aja!

Paling mereka pikir, aku gelisah karena kapal yang terkandas hampir lebih 10

jam ini. Lagian bebanku ini memang terlalu berat, ngapain aku harus peduli

dengan sangkaan mereka tentangku?! Kutenggelamkan mukaku didalam jaket.

Biar semua tenggelam, semua beban ini. Semua kecewa,penyesalan dan sakit

hati ini. Andai waktu bisa kembali, andai ...... tiba-tiba aku bagai melihat

tayangan film kehidupanku sendiri. Satu per satu berbagai wajah muncul silih

berganti Mella, gadis tomboy dengan mata lebar, sikapnya yang semau gue,

kayak kagak butuh, akhirnya tekuk lutut juga dihadapanku. Segar lagi dalam

ingatanku. Sepulang acara inaugurasi, tiba-tiba Mella menghentikan langkahnya,

dan matanya menghujam ke mukaku. – ”Sekarang katakan dengan terbuka

kepada. Sebenarnya apa artinya diriku ini bagimu...” – Aku memang blingsatan

mendapat pertanyaan itu.... eh anu ..... begini Mella. Aku mohon maaf kalau,

sikapku selama ini membuatmu salah ngerti , aku memang suka sama kamu,

tapi hanya perhatian seorang kakak pada adiknya lagian aku sudah punya

Ran.... CUKUP !!! setengah berteriak Mella