You are on page 1of 9

KONSEP KELUARGA

1. Pengertian Keluarga
Keluarga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan suatu ikatan kekerabatan
yang paling mendasar dalam tatanan masyarakat. Menurut UU No 10 tahun 1992, keluarga
merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami-istri
dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Menurut Bailon & Maglaya
(1989) dalam Ali (2006), keluarga adalah dua atau lebih individu yang disatukan
berdasarkan hubungan darah, kelahiran dan ikatan adopsi. Selain itu, menurut Friedman
(1998) dalam Suprajitno (2004), mendefinisikan bahwa keluarga adalah kumpulan dua
orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan
individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa keluarga
merupakan suatu kelompok terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari dua individu atau
lebih (suami-istri, atau suami-istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan
anaknya) hidup bersama yang disatukan melalui ikatan (hubungan darah, kelahiran dan
ikatan adopsi) dan setiap individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan
bagian dari keluarga.

2. Tipe Keluarga

Berdasarkan Solomon dalam Limantoro tahun 2013 tipe keluarga terdiri dari :
1) Tradisional
a. The Nuclear family (keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak
b. The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam
satu rumah.
c. Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah tua dengan anak yang sudah
memisahkan diri.
d. The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak
terlambat waktunya yang disebabkan karena mengejar karier/pendidikan yang
terjadi pada wanita.
e. The extended family
Keluarga yang terdiri dari dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu
rumah, seperti nuclear family disertai: paman, tante, orang tua (kakek-nenek),
keponakan.
f. The single parent family
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak, hal ini
terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi
hukum pernikahan).
g. Commuter family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut
sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja di luar kota bisa berkumpul
pada anggota keluarga pada saat “weekend”.
h. Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama
dalam satu rumah.
i. Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan
saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama (contoh: dapur,
kamar mandi, televisi, telepon,dll)
j. Blended family
Duda atau janda (karena perceraian) yang menikah kembali dan membesarkan
anak dari perkawinan sebelumnya.
k. The single adult living alone/single adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya
atau perpisahan (perceraian atau ditinggal mati)
2) Non-Tradisional
a. The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan
tanpa nikah
b. The stepparent family
Keluarga dengan orang tua tiri
c. Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara
yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama,
pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas
kelompok/membesarkan anak bersama.
d. The nonmarital heterosexsual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersamaberganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.
e. Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana “marital
pathners”
f. Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan pernikahan karena beberapa
alasan tertentu
g. Group-marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang
saling merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu
termasuk seksual dan membesarkan anak.
h. Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama
lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan,
dan bertanggung jawab membesarkan anaknya.
i. Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara di dalam
waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan
untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya.
j. Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen
karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau
problem kesehatan mental.
k. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari
ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang
dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.
Menurut Kamanto Sunarto dalam Limantoro (2013), keluarga dapat dibedakan menjadi
beberapa bentuk, yaitu :
a. Berdasarkan keanggotaannya, terdiri dari keluarga batih dan keluarga luas.
b. Berdasarkan garis keturuan, terdiri atas keluarga patrilineal, keluarga matrilineal, dan
keluarga bilateral.
c. Berdasarkan pemegang kekuasaannya, terdiri dari keluarga patriarhat, keluarga
matriarhat, dan keluarga equalitarian.
d. Berdasarkan bentuk perkawinan, terdiri atas keluarga monogami, keluarga poligami,
dan keluarga poliandri.
e. Berdasarkan status sosial ekonomi, terdiri atas keluarga golongan rendah, keluarga
golongan menengah, dan keluarga golongan tinggi.
f. Berdasarkan keutuhan, terdiri atas keluarga utuh, keluarga pecah atau bercerai, dan
keluarga pecah semu.

3. Fungsi Keluarga
Secara umum fungsi keluarga (Friedman, 1998 dalam Suprajitno, 2004) adalah
sebagai berikut.
a) Fungsi afektif
Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk
mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan
dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan
psikososial anggota keluarga. Anggota keluarga mengembangkan gambaran diri yang
positif, peran dijalankan dengan baik, dan penuh rasa kasih sayang.
b) Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (socialization and social placement
function)
Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (socialization and social placement
function) adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk
berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang
lain di luar rumah.
Menurut friedman (1998) dalam Ali (2009), fungsi sosialisasi merupakan
proses pengembangan dan perubahan yang dilalui individu menghasilkan interaksi
sosial, dan individu tersebut melaksanakan perannya dalam lingkungan sosial.
Keluarga merupakan tempat individu melaksanakan sosialisasi dengan anggota
keluarga dan belajar disiplin, norma budaya, dan perilaku melalui interaksi dalam
keluarga, sehingga individu mampu berperan di dalam masyarakat.
c) Fungsi reproduksi
Fungsi reproduksi (the reproductive function) adalah fungsi untuk
mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga. Contoh: anggota
keluarga dapat meneruskan keturunan, setelah mendapatkan keturunan sebagai orang
tua dapat memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi selanjutnya.
d) Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi (the economic function) yaitu keluarga berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan
kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga.
e) Fungsi Perawatan/pemeliharaan kesehatan (the health care function)
Fungsi Perawatan/pemeliharaan kesehatan (the health care function) yaitu fungsi
untuk mempertahankan keadaan anggota keluarga agar teteap memiliki produktivitas
tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.
1) Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena
tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan terkadang karena kesehatan
seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal
keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga.
Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung
menjadi perhatian orang tua/ keluarga.
2) Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat
Mengambil sebuah keputusan kesehatan keluarga merupakan langkah
sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, sejauh mana
keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, apakah masalah yang
dirasakan, menyerah terhadap maslaah yang dihadapi, takut akan akibat dari
tindakan penyakit, mempunyai sikap negatif terhadap masalah kesehatan, dapat
menjangkau fasilitas yang ada, kurang percaya terhadap tenaga kesehatan dan
mendapat informasi yang salah terhadap tindakan dalam mengatasi masalah.
3) Merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan
Keluarga mengetahui keadaan penyakitnya, mengetahui sifat dan
perkembangan perawatan yang dibutuhkan, mengetahui sumber-sumber yang ada
dalam keluarga, mengetahui keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk perawatan
dan sikap keluarga terhadap yang sakit.
4) Modifikasi lingkungan fisik dan psikologis
Keluarga mengetahui sumber-sumber yang dimiliki keluarga,
keuntungan/manfaat pemeliharaan lingkungan, mengetahui pentingnya hygiene
sanitasi dan kekompakan antar anggota keluarga.
5) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di sekitar keluarga.
Keluarga mengetahui keberadaan fasilitas kesehatan, memahami keuntungan
yang diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat kepercayaan keluarga terhadap
petugas kesehatan dan fasilitas kesehatan tersebut terjangkau oleh keluarga.
4. Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga

Dalam Suprajitno (2004), tahapan perkembangan ditentukan sebagai berikut :


(1) Tahap I (keluarga baru menikah)
Tahap pertama perkembangan keluarga baru dimulai saat masing-masing individu
laki-laki (suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang
sah dan meninggalkan keluarga masing-masing. Tugas perkembangannya yaitu
- Membina hubungan inti yang memuaskan.
- Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, dan kelompok sosial.
- Mendiskusikan rencana memiliki anak.
(2) Tahap II (Keluarga dengan anak baru lahir)
Tahapan ini dimulai sejak keluarga hamil sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut
hingga anak berusia 30 bulan. Tugas perkembangannya yaitu
- Mempersiapkan menjadi orang tua.
- Adaptasi dengan perubahan adanya anggota keluarga, interaksi keluarga,
hubungan seksual dan kegiatan.
- Mempertahankan hubungan dalam rangka memuaskan pasangannya.
(3) Tahap III (keluarga dengan anak usia pra sekolah)
Tahapan ketiga dalam perkembangan keluarga ditentukan ketika keluarga memiliki
anak pertama yang berusia 2-6 tahun memasuki masa pra-sekolah, biasanya anggota
keluarganya berjumlah 3-5 orang. Tugas perkembangan pada tahap ini yaitu
- Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, misalnya kebutuhan tempat tinggal,
privasi, dan rasa aman.
- Membantu anak untuk bersosialisasi.
- Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain
(tua) juga harus terpenuhi.
- Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam atau luar keluarga (keluarga
lain dan lingkungan sekitar).
- Pembagian waktu untuk individu, pasangan, dan anak.
- Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
- Merencanakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasi pertumbuhan dan
perkembangan anak.
(4) Tahap IV (keluarga dengan anak usia sekolah)
Tahapan keempat terjadi ketika keluarga memiliki anak pertama berusia 6-13 tahun
yang sudah mulai memasuki masa sekolah. Pada tahap ini biasanya keluarga
mencapai jumlah maksimal sehingga keluarga sangat sibuk. Tugas perkembangan
pada tahap ini yaitu :
- Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah, dan
lingkungan lebih luas.
- Mempertahankan keintiman pasangan.
- Memenuhi kebutuhan yang meningkat, termasuk biaya kehidupan dan kesehatan
anggota keluarga.
(5) Tahap V (keluarga dengan anak remaja)
Tahapan kelima ditentukan ketika keluarga memiliki anak pertama berusia 13-20
tahun (anak remaja), dikatakan sebagai tahapan tersulit karena mengalami pilihan
otoritas vs otonomi. Tugas perkembangan pada tahap ini yaitu :
- Memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab mengingat remaja
adalah seorang dewassa muda dan mulai memiliki otonomi.
- Mempertahankan hubungan intimm dalam keluarga.
- Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.
- Mempertahankan perubahan sistem peran.
(6) Tahap VI (keluarga mulai melepas anak sebagai dewasa)
Tahapan keenam ditentukan ketika keluarga memiliki anak pertama memasuki masa
dewasa muda hingga anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini
tergantung pada jumlah anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan
tetap tinggal bersama orang tua. Tugas perkembangan pada tahap ini yaitu :
- Memperluas jaringan keluaga dari keluarga ini menjadi keluarga besar.
- Mempertahankan keintiman pasangan.
- Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat.
(7) Tahap VII (keluarga usia pertengahan)
Tahapan ketujuh ditentukan ketika keluarga memiliki orang tua usia pertengahan dan
berakhir pada saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal (tanpa jabatan,
pensiun). Tugas perkembangan pada tahap ini yaitu :
- Mempertahankan kesehatan individu dan pasangan usia pertengahan.
- Mempertahankan hubungan yang serasi dan memuaskan dengan anak-anaknya
dan sebaya.
- Meningkatkan keakraban pasangan.
(8) Tahap VIII (keluarga usia tua)
Tahapan kedelapan atau tahapan terakhir dalam perkembangan keluarga ditentukan
ketika keluarga dalam masa pensiun dan lansia, dimulai saat salah satu pasangan
pensiun sampai dengan salah satu pasangan meninggal dan akhirnya keduanya
meninggal. Tugas perkembangan pada tahap ini yaitu :
- Mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling menyenangkan
pasangannya.
- Adaptasi dengan perubahan yang akan terjadi; kehilangan pasangan, kekuatan
fisik, dan penghasilan keluarga.
- Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat.
- Melakukan life review masa lalu.

5. Struktur Keluarga
Struktur keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi
keluarga di masyarakat sekitarnya. Menurut Friedman dalam Suprajitno (2004), terdapat
empat elemen struktur keluarga, yaitu sebagai berikut.
a. Struktur peran keluarga, menggambarkan peran masing-masing anggota keluarga
dalam keluarga sendiri dan perannya di lingkungan masyarakat atau peran formal
dan informal.
b. Nilai atau norma keluarga, menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan
diyakini oleh keluarga, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan.
c. Pola komunikasi keluarga, menggambarkan bagaimana cara dan pola komunikasi
ayah-ibu (orang tua), orang tua dengan anak, anak dengan anak, dan anggota
keluarga lain (pada keluarga besar) dengan keluarga inti.
d. Struktur kekuatan keluarga, menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk
memengaruhi dan mengendalikan orang lain untuk mengubah perilkau keluarga
yang mendukung kesehatan.

6. Stres dan Koping Keluarga


a. Stres dan stresor
Persepsi atas pengalaman individu terhadap perubahan besar menimbulkan
stres. Stres merupakan bagian dari kehidupan manusia sehari hari. Menurut Selye
(1976) dalam Potter & Perry (2006), stres adalah segala situasi di mana tuntutan non-
spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespons atau melakukan tindakan.
Sedangkan stimuli yang mengawali atau perubahan disebut stresor.
Dalam Potter & Perry (2005), stresor menunjukkan suatu kebutuhan yang tidak
terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa saja kebutuhan fisiologis, psikologis, sosial,
lingkungan, perkembangan, spiritual, atau kebutuhan kultural. Stresor dapat terjadi
dalam jangka pendek dan jangka panjang. Stresor jangka pendek, yaitu stresor yang
dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang lebih enam
bulan. Sedangkan stresor jangka panjang, yaitu stresor yang saat ini dialami yang
memerlukan penyelesaian lebih dari enam bulan.
b. Koping Keluarga
Upaya yang dilakukan keluarga untuk dapat beradaptasi terhadap stresor dengan
cara menggerakan sumber koping. Koping adalah strategi atau cara yang dilakukan
individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan keinginan yang
akan dicapai, dan respon terhadap situasi yang menjadi ancaman bagi diri individu.
Terdapat dua strategi dalam melakukan koping, yaitu :
1) Emotional focus coping, digunakan untuk mengatur respon emosional
terhadap stres.
2) Problem focused coping, digunakan untuk mengurangi stresor atau mengatasi
stres dengan cara mempelajari cara-cara atau ketrampilan-ketrampilan yang
baru.
Strategi dan proses koping keluarga ini berfungsi sebagai proses dan mekanisme
yang vital, melalui proses dan mekanisme tersebut fungsi keluarga akan menjadi
nyata. Tanpa koping yang efektif, fungsi keluarga tidak dapat dicapai secara adekuat.

Daftar Pustaka

Ali, Zaidin. (2006). Buku Pengantar Keperawatan Keluarga. Diakses dari :


https://books.google.co.id/books?
hl=en&lr=&id=hy27ENexAh8C&oi=fnd&pg=PT12&dq=teori+tahap+perkembangan+
keluarga+friedman&ots=qyxr2Q_Nzg&sig=lHs4rSWfD20jMK3UnyH2xr89cQo&redir
_esc=y#v=onepage&q&f=false`
Ali, Zaidin. (2009). Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC
BKKBN. (2011). Policy Brief : Kajian Profil Penduduk Remaja.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Keluarga. Diakses Online pada tanggal 18 Maret 2019 dari
https://kbbi.web.id/keluarga.html.
Kemenkes RI. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan : Keperawatam Keluarga Dan
Komunitas. Diakses pada tanggal 18 Maret 2019 dari
http:://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdik sdmk/wp-content/uploads/2017/08/Keperawatan-
Keluarga-dan-Komunitas-Komprehensif.
Limantoro, S. (2013). Analisa Pengaruh Family Types, Family Stages Dan Household
Conflict Terhadap Pengambilan Keputusan Pembelian Matras King Koil Di Surabaya.
Manajemen Pemasaran Petra, 1-10.
Potter, P. & Perry, A. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan
Praktik, Ed 4. Jakarta : EGC.
Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga : Aplikasi dalam Praktik. Jakarta : EGC.