You are on page 1of 30

MAKALAH

WAWASAN KEMARITIMAN

OLEH:

BELA
S1A118332

JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena
dengan Rahmat dan Karunia_Nya saya masih diberi kesempatan untuk
menyelesaikan Makalah Matakuliah Wawasan Kemaritiman dengan judul “Negara
Maritim”. Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam terselesainya makalah ini.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui tentang Negara Maritim.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa/mahasiswi dan semua
pembaca dan mudah-mudahan juga dapat memberikan wawasan yang lebih luas
kepada pembaca. Kami sadari, dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan. Maka kritik dan saran yang bersifat membangun sangat di harapkan.

ii
DAFTAR ISI

SAMPUL ...................................................................................................................i

KATA PENGANTAR ..............................................................................................ii

DAFTAR ISI .............................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG .......................................................................................1


B. RUMUSAN MASALAH ...................................................................................3
C. TUJUAN ............................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN

A. BATAS MARITIM ...........................................................................................4


1. Laut Teritorial (sovereignt) ......................................................................4
2. Zona Tambahan (overeign rights)............................................................5
3. Zona Ekonmi Eksklusif (sovereign rights) ..............................................5
4. Landas Kontinen (sovereign rights) .........................................................5
B. ALUR LAUT KEPULAUAN INDONESIA (ALKI) .....................................6
1. Pembagian ALKI .......................................................................................6
2. Hak Dan Kewajiban Kapal dan Pesawat Udara Asing Saat Melintasi
ALKI ...........................................................................................................6
C. SENGKETA LAUT INDONESIA...................................................................7
1. Penyelesaian Sengketa Perbatasan ...........................................................9
2. Potensi Sengketa Mesti Diantisipasi .........................................................11
D. KONSEP NEGARA MARITIM ......................................................................13
E. SYARAT SYARAT NEGARA MARITIM ....................................................17
F. PERAN INDONESIA .......................................................................................19
G. PENGATURAN NEGARA MARITIM ..........................................................23

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN .................................................................................................25
B. SARAN ...............................................................................................................26

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dunia bahari dalam sejarah Indonesia juga tidak bisa dilepaskan


kaitannya dari kondisi fisik atau geografis wilayah Indonesia. Menurut
Ensiklopedi Nasional Indonesia dapat diketahui bahwa wilayah Indonesia
terletak antara dua benua yaitu Asia dan Australia, dan antara dua samudra
yaitu Samudra Hindia (Indonesia) dan Samudra Pasifik, terdiri dari lebih 13.000
pulau, mulai dari pulau We di ujung utara/ barat sampai pulau Irian di ujung
timur, dengan perbandingan wilayah laut dan darat 78 : 22.Pulau-pulau
dalam wilayah Indonesia itu terbentang menyebar sejauh 6.400 km dari timur
ke barat dan sejauh 2.500 km dari utara ke selatan, sedangkan garis terluar
yang mengelilingi wilayah itu sekitar 81.000 km. Sumber yang lain
menyebutkan bahwa Indonesia memiliki wilayah seluas sekitar 587.000 km²,
sementara jarak dari ujung paling timur ke ujung paling barat sebagaimana
digambarkan oleh Multatuli adalah lebih panjang daripada jarak antara London
sampai Siberia.

Sehubungan dengan hal itu, adalah kurang bijaksana melihat


sejarah Indonesia dari sisi daratan saja, sehingga pengetahuan dan
pandangan tentang masa lampau yang merupakan dasar untuk mengenal dan
mengerti masa kini menjadi berat sebelah. Penulisan sejarah yang
berpretensi atau beraspirasi Nasional dalam arti yang sebenarnya dianggap
tidak lengkap apabila yang diutamakan hanya unsur darat saja dari yang
seharusnya sejarah tanah air. Hal ini menjadi lebih penting lagi sesudah
Wawasan Nusantara diterima dan diakui sebagai pandangan resmi yang
dianut oleh pemerintah dan bangsa Indonesia. Wawasan ini tidak lagi
melihat Negara Republik Indonesia sebagai suatu kesatuan berdasarkan
prinsip pulau-demi-pulau, melainkan suatu negara kepulauan (archipelagic
state) yang mempunyai kebulatan teritorial termasuk laut dan selat yang
berada di dalam garis perbatasan yang telah ditentukan. Azas ‘Negara
Kepulauan’ resmi diumumkan lewat Deklarasi Juanda pada 13 Desember
1957 dan diperjuangkan pada tingkat internasional selama 25 tahun.

1
Dalam perjalanan sejarahnya bangsa Indonesia pernah
mengalami kejayaan dalam bidang maritim. Hal itu dapat diketahui dari adaya
masa kejayaan kerajaan-kerajaan maritim yang pernah tampil dalam sejarah
Indonesia. Di antara kerajaan-kerajaan itu juga saling berhubungan melalui
transaksi perdagangan dan pelayaran perahu. Aza ‘Negara Kepulauan’ itu
secara resmi diputuskan dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang
Hukum Laut (UNCLOS) pada 10 Desember 1982 yang diratifikasi RI tahun
1985 (UU No. 17, 1985).

Yang dimaksud dengan kerajaan-kerajaan maritim adalah kota-


kota pelabuhan yang sekaligus merupakan pusat kekuasaan raja-raja atau
penguasa di kota pelabuhan tersebut, atau merupakan bagian dari wilayah suatu
kerajaan yang besar seperti Majapahit atau Mataram Islam. Salah satu kerajaan
maritim yang besar dan terkenal di Nusantara pada waktu itu adalah
kerajaan Sriwijaya yang berlangsung dari abad 7 sampai 14. Dalam dunia
perdagangan dan pelayaran, Sriwijaya berhasil menguasai hampir semua
wilayah perairan di Nusantara antara lain laut Jawa, laut Banda,
dan sebagian laut di wilayah Indonesia Timur. Di samping itu Sriwijaya
juga menjalin hubungan dagang dengan India di sebelah barat, dengan
Birma dan Melayu di sebelah utara, serta dengan Siam, Kamboja, Cina dan
Pilipina, Kalimantan utara di sebelah timur laut. Bahkan Juga pedagang-
pedagang dari kerajaan itu telah berlayar sampai pelabuhan-pelabuhan di Cina
dan pantai Timur Afrika.Di Makasar terdapat kerajaan Gowa-Tallo. Meskipun
kedua kerajaan itu berbatasan tetapi juga bersatu, sehingga dikatakan
sebagai kerajaan kembar. Orang-orang asing menamakan raja Gowa sebagai
Sultan atau Raja Makasar. Gowa dan Tallo juga menjalin persekutuan
dengan kerajaan Ternate di bawah Sultan Baabullah.

Sekitar tahun 1600 Gowa-Tallo merupakan pelabuhantransito, tempat


para pedagang dari Maluku singgah untuk mengisi perbekalan. Di samping itu
di Gowa-Tallo banyak rempah-rempah yang didatangkan dari Maluku,
sementara para pedagang Jawa, Bugis dan Melayu datang ke Gowa-Tallo
untuk mempertukarkan barang-barang mereka dengan rempah-rempah. Di Jawa
terdapat kerajaan Majapahit (1293-1525) yang agraris dan juga maritim.
Wilayah kerajaan Majapahit pada awalnya hanya meliputi sebagian besar
Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah.

2
B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana batas wilayah?


2. Bagaimana Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI)
3. Bagaimana sengketa laut Indonesia?
4. bagaimana konsep negara maritim ?
5. apa syarat syarat negara maritim ?
6. bagaimana peran indonesia ?
7. bagaimana pengaturan negara maritim ?

C. TUJUAN

1. memenuhi tugas dari dosen mata kuliah wawasan kemaritiman


2. menjadi pembelajaran mata kuliah wawasan kemaritiman
3. mempelajari tentang negara maritim

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. BATAS MARITIM

Batas maritim merupakan tanda pemisah antara kawasan perairan (laut)


suatu negara yang bersebelahan. Batas Maritim tidak terlepas dari pengertian
sebuah ruang dan kawasan yang bisa dikuasai oleh suatu negara. Suatu negara
tidak dapat mengklaim suatu kawasan laut secara sepihak. Kawasan laut suatu
negara ditentukan dan ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama antara dua
negara atau lebih. Semua ketentuan tentang penentuan dan penetapan batas
maritim telah diatur dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang
Hukum Laut atau dikenal dengan United Nations Convention on the Law of the
Sea (UNCLOS) tahun 1982.

Terdapat dua istilah klaim kawasan laut: kedaulatan dan hak berdaulat.
Kedaulatan (sovereignty) adalah kekuasaan tertinggi atau mutlak untuk
melaksanakan kekuasaan dalam wilayah negara dengan mengecualikan negara
lainnya. Negara pantai mempunyai kedaulatan di perairan pedalaman, perairan
kepulauan dan laut territorial. Sedangkan, Hak Berdaulat (sovereign right) adalah
kekuasaan suatu negara terhadap wilayah tertentu yang dalam pelaksanaannya
harus tunduk pada hukum internasional. Hak berdaulat ini umumnya berwujud
hak untukk memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di kawasan tertentu
yang tidak tercakup dalam wilayah kedaulatan.

Berikut adalah sedikit penjelasan mengenai kawasan maritim yang bisa


diklaim suatu negara pantai berdasarkan UNCLOSS 1982:

1. Laut Teritorial (sovereignty)


Pasal 3 UNCLOS 1982 menyebutkan bahwa setiap negara pantai
berhak menetapkan lebar laut teritorialnya hingga suatu batas yang tidak
melebihi 12 mil laut diukur dari garis pangkal yang ditentukan sesuai dengan
konvensi ini. 1 mil laut = 1,852 m. Negara pantai memiliki kedaulatan penuh
pada kawasan teritorialnya. Namun, negara tersebut juga harus memberikan
lintas damai kepada kapal-kapal negara lain sepanjang kapal-kapal negara
asing tidak melanggar hukum dan perdamaian.

4
2. Zona Tambahan (sovereign rights)
Bab II bagian 4, UNCLOS 1982 menjelaskan bahwa zona tambahan
tidak dapat melebihi 24 mil laut dari garis pangkal dimana lebar laut
teritorial diukur. Di zona tambahan ini, negara pantai dapat melakukan
pengawasan yang diperlukan untuk:
a. Mencegah pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai, fiskal,
imigrasi atau saniter di dalam laut teritorialnya.
b. Menghukum pelanggaran peraturan perundang-undangan tersebut di
atas yang dilakukan di dalam wilayah atau laut teritorialnya.

3. Zona Ekonomi Eksklusif (sovereign rights)


Pengaturan tentang Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sudah diatur di
UNCLOS 1982 pada bab V menyebutkan bahwa ZEE adalah suatu daerah di
luar dan berdampingan dengan laut teritorial, yang tunduk pada rejim hukum
khusus yang ditetapkan dalam UNCLOS 1982, berdasarkan mana hak-hak
dan yurisdiksi negara pantai dan hak-hak serta kebebasan-kebebasan negara
lain diatur oleh ketentuan-ketentuan yang relevan konvensi ini. Di kawasan
ZEE, negara pantai memiliki hak eksklusif untuk mengelola dan
memanfaatkan sumberdaya alam, kebebasan navigasi, hak penerbangan
udara, dan melakukan penanaman kabel serta jalur pipa.

4. Landas Kontinen (sovereign rights)


Bab VI UNCLOS 1982 membahas tentang batas landas kontinen
dimana landas kontinen suatu negara pantai meliputi dasar laut dan tanah di
bawahnya dari daerah di bawah permukaan laut yang terletak di luar laut
teritorialnya sepanjang kelanjutan alamiah wilayah daratannya hingga
pinggiran tepi kontinen atau hingga suatu jarak 200 mil laut dari garis
pangkal darimana lebar laut teritorial diukur, dalam hal pinggiran luar tepi
kontinen tidak mencapai jarak tersebut. Negara pantai menjalankan hak
berdaulat di landas kontinen untuk tujuan mengeksplorasi dan
mengeksploitasi sumberdaya alamnya. Sumberdaya alam yang dapat
dieksplorasi dan dieksploitasi terdiri dari sumberdaya mineral, sumberdaya
non hayati, sumberdaya hayati jenis sedenter yaitu organisme yang pada
tingkat sudah dapat dipanen tetap berada pada atau di bawah dasar laut

5
B. ALUR LAUT KEPULAUAN INDONESIA (ALKI)

Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) adalah Alur laut yang ditetapkan
sebagai alur untuk pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan berdasarkan
konvensi hukum laut internasional. Alur ini merupakan alur untuk pelayaran dan
penerbangan yang dapat dimanfaatkan oleh kapal atau pesawat udara asing diatas
laut tersebut untuk dilaksanakan pelayaran dan penerbangan damai dengan cara
normal. Penetapan ALKI dimaksudkan agar pelayaran dan penerbangan
internasional dapat terselenggara secara terus menerus, langsung dan secepat
mungkin serta tidak terhalang oleh perairan dan ruang udara teritorial Indonesia.
ALKI ditetapkan untuk menghubungkan dua perairan bebas, yaitu Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik. Semua kapal dan pesawat udara asing yang mau
melintas ke utara atau ke selatan harus melalui ALKI.

1. Pembagian ALKI

a. ALKI I melintasi Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat
Sunda.
b. ALKI II melintasi Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, Selat
Lombok.
c. ALKI III Melintas Samudra Pasifik, Laut Maluku, Laut Seram, Laut
Banda, Selat Ombai dan Laut Sawu.

2. Hak Dan Kewajiban Kapal dan Pesawat Udara Asing Saat Melintasi ALKI

Setiap Kapal dan pesawat Udara Asing yang melintasi ALKI harus
memenuhi ketentuan dibawah ini:

1. Kapal dan pesawat udara asing yang melaksanakan Hak Lintas Alur
Laut Kepulauan harus melintas secepatnya melalui atau terbang di atas
alur laut kepulauan dengan cara normal, semata-mata untuk melakukan
transit yang terus-menerus, langsung, cepat, dan tidak terhalang.
2. Kapal atau pesawat udara asing yang melaksanakan lintas alur laut
kepulauan, selama melintas tidak boleh menyimpang lebih dari 25 (dua
puluh lima) mil laut ke kedua sisi dari garis sumbu alur laut kepulauan,
dengan ketentuan bahwa kapal dan pesawat udara tersebut tidak boleh
berlayar atau terbang dekat ke pantai kurang dari 10 % (sepuluh per

6
seratus) jarak antara titik-titik yang terdekat pada pulau-pulau yang
berbatasan dengan alur laut kepulauan tersebut.
3. Kapal dan pesawat udara asing sewaktu melaksanakan Hak Lintas
Alur Laut Kepulauan tidak boleh melakukan ancaman atau
menggunakan kekerasan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, atau
kemerdekaan politik Republik Indonesia, atau dengan cara lain apapun
yang melanggar asas-asas Hukum Internasional yang terdapat dalam
Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
4. Kapal perang dan pesawat udara militer asing, sewaktu melaksanakan
Hak Lintas Alur Laut Kepulauan, tidak boleh melakukan latihan
perang-perangan atau latihan menggunakan senjata macam apapun
dengan mempergunakan amunisi.
5. Kecuali dalam keadaan force majeure atau dalam hal musibah, pesawat
udara yang melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan tidak boleh
melakukan pendaratan di wilayah Indonesia.
6. Semua kapal asing sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut
Kepulauan tidak boleh berhenti atau berlabuh jangkar atau mondar-
mandir, kecuali dalam hal force majeure atau dalam hal keadaan
musibah atau memberikan pertolongan kepada orang atau kapal yang
sedang dalam keadaan musibah.
7. Kapal atau pesawat udara asing yang melaksanakan Hak Lintas Alur
Laut Kepulauan tidak boleh melakukan siaran gelap atau melakukan
gangguan terhadap sistem telekomunikasi dan tidak boleh melakukan
komunikasi langsung dengan orang atau kelompok orang yang tidak
berwenang dalam wilayah Indonesia.

C. SENGKETA LAUT INTERNASIONAL

Beberapa tahun terakhir, tensi ketegangan di Laut Tiongkok Selatan sering


meninggi. Berawal dari klaim sepihak atau unilateral claim Republik Rakyat
Tiongkok (RRT) dengan sembilan garis putusnya (nine-dashed lineatau 9DL),
reklamasi dan pembangunan pangkalan militer serta infrastruktur fisik di sekitar
gugusan Kepulauan Spratly dan Paracel, hingga penentuan sepihak kawasan
tradisional penangkapan ikan yang mulai mengganggu kedaulatan Indonesia di
sekitar Kepulauan Natuna.

7
Sengketa Laut Tiongkok Selatan bisa dikatakan sengketa yang kompleks
sejak penerapan Konvensi Hukum Laut Internasional (United Nations
Convention on the Law of the Sea-UNCLOS) 1982. Sengketa ini melibatkan
sejumlah negara seperti Malaysia, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, dan
tentu saja sang pengklaim yaitu RRT. Bahkan, Amerika Serikat turut campur
tangan dalam sengketa ini demi mengamankan prinsip kebebasan navigasi di laut
(freedom of navigation). Apakah Indonesia akan terseret dalam pusaran sengketa
ini? Kita lihat saja nanti. Dalam tataran ASEAN, setidaknya Indonesia ikut
sumbang suara terhadap keprihatinan atas penetrasi RRT di LTS.

Coretan ini tidaklah akan membahas lebih lanjut soal sengketa LTS yang
selalu hangat dibicarakan namun lebih kepada bagaimana umumnya sengketa
perbatasan di laut itu diselesaikan terutama sejak penerapan UNCLOS 1982.
Coretan ini pun bukanlah artikel akademik apalagi teoritik. Bukan juga sebagai
panduan praktis. Tapi, tulisan ini lebih sebagai pendorong agar terdapat banyak
diskusi publik soal kelautan dan pendorong pemerintah untuk kembali
mempertimbangkan kebijakan alternatif kerjasama pembangunan zona bersama
dengan negara lain di area yang menjadi sengketa, khususnya dengan negara-
negara yang mempunyai itikad baik dalam bernegosiasi ketimbang dengan
negara-negara yang melakukan penetrasi sepihak tanpa dasar. Nine dashed-line
LTS yang dibuat RRT hanyalah salah satu potensi besar sengketa maritim,
terutama di sekitar Kepulauan Natuna, antara Indonesia dengan negara lain.

Indonesia mempunyai perbatasan laut langsung dengan 10 negara tetangga


termasuk India, Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, Palau, Timor
Leste, Papua Nugini dan Australia. Dari 10 negara tersebut, Indonesia baru
mencapai kesepakatan soal perbatasan laut secara penuh dengan Papua Nugini
saja. Negosiasi dengan sembilan negara tetangga lain masih terus dalam proses.
Sebagian sudah disepakati dan ada perjanjian bilateralnya diantaranya misalnya
perjanjian batas laut teritorial Indonesia dan Malaysia tahun 1970 dan perjanjian
batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia dan Filipina tahun 2014. Namun
demikian, sebagian lagi masih terus dalam negosiasi. Laut teritorial (territorial
sea), zona tambahan (contigous zone), ZEE (exclusive economic zone) dan
landas kontinen (continental shelf) adalah zona-zona maritim yang mesti
disepakati batas-batasnya antara Indonesia dengan negara-negara lain.

8
Prinsip equidistance, berdasarkan Pasal 15 UNCLOS 1982, digunakan
secara luas oleh berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk menentukan batas-
batas wilayah lautnya. Namun demikian, klaim sepihak (unilateral claim)
terkadang digunakan juga oleh banyak negara untuk mendeklarasikan batas-
batas wilayah lautnya dan demi mempertahankan kedaulatannya. Dalam hal ini,
memang ketentuan-ketentuan dalam UNCLOS 1982 masih meninggalkan ruang
interpretasi yang dapat mengarahkan negara-negara ke dalam persengketaan
wilayah.

1. Penyelesaian Sengketa Perbatasan

Bagaimana seharusnya sebuah negara menghadapi klaim sepihak ini


dan menyelesaikan sengketa perbatasan laut? Setidaknya, tiga cara
digunakan dalam menghadapi klaim tersebut dan menyelesaikan sengketa,
yaitu: (1) menggunakan kekuatan pertahanan (defence power); (2) membuka
ruang diskusi dan negosiasi; dan/atau (3) mengembangkan pembangunan
bersama (joint development arrangement).

Cara pertama menunjukkan penolakan negara terhadap klaim sepihak


melalui kekuatan pertahanan misalnya mengerahkan patroli polisi dan
militer di perbatasan. Cara ini menunjukkan sebuah negara powerful, berani,
dan gagah. Meski demikian, cara ini terkadang tidak efektif dalam
menyelesaikan sengketa perbatasan. Contoh nyata dan kasat mata adalah
penyelesaian sengketa di LTS. Negara manapun hampir pasti tidak
menyukai klaim sepihak ketika bertentangan dengan klaim negara
tetangganya, begitupun dengan Indonesia. Penggunaan caradefence power
secara tunggal lebih banyak akan meningkatkan ketegangan. Gesekan
terbatas dalam skala kecil mungkin saja terjadi, seperti yang terjadi antara
Filipina ataupun Vietnam dan Tiongkok atas sengketa kepulauan Spratly dan
Paracel. Walaupun demikian, pemanfaatan cara defence power bisa saja
digunakan sepanjang mempunyai nilai strategis dan tahu kapan waktu yang
tepat untuk digunakan.

Cara kedua dengan membuka ruang negosiasi adalah cara yang lebih
moderat daripada cara pertama. Cara ini terkesan kooperatif dan lunak.
Meskipun begitu, cara ini dapat memberikan win win solution terkait dengan
batas maritim yang disepakati kedua negara atau lebih. Prinsip equidistance
merupakan cara kompromis untuk meredam ego masing-masing negara.

9
Outputnya tentu saja adalah perjanjian penetapan batas maritim secara
bilateral, trilateral ataupun multilateral.

Jika prinsip ini tidak bisa disepakati dalam implementasinya, maka


cara ketiga bisa dimanfaatkan dan menjadi alternatif yaitu dengan
mengadakan kerjasama melalui pembentukan zona pembangunan bersama
(joint development zone). Sama halnya dengan cara kedua, pembentukan
zona bersama memberikan kesan bahwa sebuah pemerintah lunak dan tidak
tegas soal klaim batas wilayahnya. Bahkan, negara tetangga dapat masuk ke
wilayah negara yang bersangkutan meskipun hanya di dalam zona bersama.
Walaupun demikian, cara ini pun dapat menjadi win win solution.

Cara ketiga sebetulnya belumlah “menyelesaikan” batas wilayah laut


sesungguhnya. Meskipun begitu, cara ini didorong oleh eksistensi Pasal 83
ayat (3) UNCLOS 1982 yang menganjurkan dua atau lebih negara yang
bersengketa untuk melakukan pengaturan sementara yang tentu saja bisa
menguntungkan para pihak. Cara ini pun kemudian menjadi populer
digunakan dalam menyelesaikan sengketa maritim khususnya jika terdapat
sumber daya alam di wilayah yang menjadi sengketa. Contoh penerapan
joint development zone bahkan sudah ada di Asia Tenggara yaitu
pembentukan otoritas bersama Malaysia-Thailand (Malaysia-Thailand Joint
Authority atau MJTA) di Teluk Thailand, pembentukan komite koordinasi
Malaysia Vietnam terhadap eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam di
Teluk Thailand, dan Indonesia bahkan pernah bersama Australia membentuk
otoritas bersama pengelolaan blok minyak dan gas (migas) di sekitar Laut
Timor sebelum Timor Timur lepas dan merdeka menjadi Timor Leste.

Pada tahun 1979, Malaysia dan Thailand bersepakat membuat


Memorandum of Understanding (MoU) untuk mendirikan otoritas bersama
untuk eksploitasi sumber daya alam di satu bagian wilayah bersengketa
sebesar kota New Jersey di Teluk Thailand. Jangka waktu MoU adalah 50
tahun. Otoritas bersama diisi oleh personel dari Malaysia dan Thailand
dengan jumlah yang seimbang dan dipimpin oleh ketua bersama baik dari
Malaysia maupun Thailand. Otoritas bersama ini mempunyai wewenang
untuk memberikan konsesi dan pengawasan bersama atas blok-blok migas
kepada private sector dengan pola Production Sharing Contract (PSC).

10
Pada tahun 1992, Malaysia dan Vietnam mengadopsi cara Malaysia-
Thailand dengan membuat MoU terkait dengan ekplorasi dan ekploitasi
minyak di bagian lain wilayah sengketa di Teluk Thailand. Berbeda dengan
model kerjasama Malaysia-Thailand yang mendorong pendirian otoritas
bersama di wilayah sengketa, Malaysia dan Vietnam menominasikan Badan
Usaha Milik Negara (BUMN) mereka masing-masing yaitu Petronas dan
Petrovietnam untuk bekerjasama mengelola blok-blok migas melalui
perjanjian komersial. Terhadap kedua perusahaan tersebut, ada Komite
Koordinasi (Coordination Committee) di bawah masing-masing negara yang
memberikan arahan kebijakan. Dalam MoU tidak disebutkan berapa lama
jangka waktu kerjasamanya, akan tetapi jangka waktu kerjasama ditentukan
melalui perjanjian komersial antara Petronas dan Petrovietnam. Kabar
terakhir, kedua perusahaan memperpanjang jangka waktu pengelolaan
hingga tahun 2027 terhadap lima blok migas (blok Bunga Orkid, Bunga
Kekwa, Bunga Raya, Bunga Tulip, dan Bunga Saroja).

2. Potensi Sengketa Mesti Diantisipasi

Ada banyak potensi sumber daya alam di sekitar perbatasan laut yang
bisa menjadi sumber sengketa perbatasan. Berkah bagi Indonesia jika
sumber daya alam di sekitar area perbatasan dapat diklaim sebagai bagian
dari Indonesia tanpa penolakan yang persisten dari negara lain (persisted
objection). Situasi dapat saja berubah jika negara tetangga melakukan klaim
serupa atas area perbatasan tersebut. Kita mesti bersiap diri dan mengatur
strategi untuk berdiskusi dan bernegosiasi atas klaim tersebut.

Tercapainya suatu perjanjian penetapan batas maritim adalah hal yang


luar biasa. Biasanya, kesepakatan perjanjian tersebut dapat dicapai jika tidak
ada sumber daya alam yang terdeteksi atau ditemukan. Negosiasi bilateral
penentuan batas maritim hampir mustahil berakhir sepakat dan umumnya
akan menemui jalan buntu alias deadlock jika di area perbatasan ditemukan
kekayaan alam potensial. Oleh karenanya, pengembangan zona bersama di
sekitar area yang dipersengketakan adalah relevan untuk dilakukan.
Kerjasama pembangunan zona bersama merupakan bentuk kerjasama yang
umum digunakan oleh berbagai negara yang bersengketa.

Usaha mengembangkan zona ini pun sebetulnya tidak mudah.


Negosiasi tentu saja diperlukan antara dua negara atau lebih. Untuk

11
membuat zona bersama ini, apa yang perlu disiapkan adalah skema
kerjasama yang cocok dan kerangka hukum dan kelembagaan yang detail.
Kerangka pengaturan detail yang relevan adalah keniscayaan agar dapat
memberikan keuntungan secara timbal balik dan meminimalisir potensi
sengketa kembali yang bakal terjadi dari implementasi zona bersama.

MJTA mungkin bisa menjadi salah satu contoh tantangan dalam


bernegosiasi. Malaysia dan Thailand membutuhkan waktu sekitar 11 tahun
untuk menyelesaikan sengketa ini (sejak 1968) hingga tercapai kesepakatan
membuat MoU tersebut pada tahun 1979. Persiapan untuk membentuk
MJTA pun membutuhkan waktu yang lama. Pada tahun 1990, akhirnya
Malaysia dan Thailand sepakat memfinalisasikan konstitusi MJTA setelah
berunding membahas berbagai aspek MJTA termasuk aspek legal, teknikal,
pendapatan dan pajak, bea dan cukai, organisasi dan pembuatan Production
Sharing Contract.

Dalam kasus Malaysia dan Vietnam, kerjasama kedua negara relatif


lebih lancar terealisasi apalagi dengan diekstraknya minyak pertama yang
dihasilkan dari Blok Bunga Kekwa pada tahun 1997 (lima tahun sejak MoU
ditandatangani). Dibandingkan dengan kerjasama Malaysia-Thailand, model
kerjasama Malaysia-Vietnam dianggap lebih fleksibel namun lebih sukses.

Membangun joint development zone jauh lebih efektif dan lebih baik
ketimbang menggunakan otot dan senjata dalam menyelesaikan sengketa.
Memang, negosiasi akan membutuhkan waktu yang panjang namun
negosiasi memberikan situasi yang lebih damai. Kompleksitas pembahasan
tergantung berapa negara yang mengklaim terhadap wilayah yang
bersangkutan. Semakin sedikit negara, semakin cepat negosiasinya. Semakin
banyak negara, semakin kompleks tentunya pembahasannya. Hal ini bahkan
terjadi pada perjanjian prinsip trilateral antara Malaysia, Vietnam, dan
Thailand terkait klaim Vietnam pada wilayah MJTA. Ketiga negara telah
mencapai perjanjian prinsip pembangunan bersama namun hingga saat ini
belum ada kabar terbaru lagi atas implementasi trilateral agreement in
principle tersebut. Bisa dibayangkan jika hal itu dilakukan terhadap sengketa
LTS. Walau bagaimanapun, apabila semua negara sepakat terkait dengan
pengembangan zona bersama di LTS, maka itu akan menjadi capaian yang

12
luar biasa dan dapat menjadi landmarks untuk sengketa maritim di belahan
dunia lain.

Indonesia pernah sekali melakukan pengembangan zona bersama


dengan Australia dengan hasil berupa Timor Gap Treaty 1989 (TGT)
sebelum Timor Leste lepas dan merdeka. Kedudukan TGT bahkan lebih
advanceddaripada MoU Malaysia-Thailand dan MoU Malaysia-Vietnam
dengan jumlah pasal yang banyak dan detail. Bahkan, William T. Onorato
dan Mark J. Valencia dalam artikelnya bertajuk “International Cooperation
for Petroleum Development: the Timor Gap Treaty” (1990) menyampaikan
bahwa TGT merupakan model masa depan untuk struktur joint development
zone. Hal ini bisa diasumsikan bahwa model kerjasama TGT tidak hanya
dapat diadopsi dalam konteks sektor minyak dan gas saja namun juga bisa
untuk sumber daya alam yang lain.

Dari situ adalah jelas bahwa Indonesia semestinya mempertimbangkan


untuk kembali mengembangkan kerjasama dengan mekanisme zona
pembangunan bersama dalam rangka penyelesaian sengketa batas maritim
dengan negara-negara tetangga terutama yang menemui jalan buntu dalam
mencapai kesepakatan batas wilayah. Lembaran proses negosiasi hingga
finalisasi klausul TGT hendaklah dibuka kembali untuk dipelajari dalam
mengembangkan kembali alternatif penyelesaian sengketa batas maritim
dengan jalan damai dan menguntungkan para pihak terutama dari sisi
ekonomi.

D. KONSEP NEGARA MARITIM

Negara Maritim adalah suatu negara yang berada di dalam teritorial suatu
laut yang luas, dan indonesia bisa di katakan sebagai negara maritim.
Sedangkan Konsep dari Negara maritim adalah suatu konsep di mana negara
dalam hal ini indonesia mampu memanfaatkan semua potensi laut baik itu
perikanan, kelautan, pertambambangan, wisata bahari bahkan pertahanan negara.
semua Pengelolahan tersebut bermuara pada kesejahteraan rakyat dan
memakmurkan sebuah bangsa dan negara.

Dalam menjalankan konsep tersebut maka Kementrian kelautan dan


perikanan indonesia terus melakukan perbaikan diri guna menuju kemandirian di
bidang perikanan. Dengan potensi yang belum tergali semuanya untuk

13
kesejahteraan rakyat maka KKP akan berupaya dalam mendukung Konsep
Negara Maritim. Banyak sektor kemaritiman yang bis adi optimalkan
diantaranya pertambangan lepas pantai, perikanan, produk selain
perikanan, wisata, dan lainnya. Kita sudah terlalu dibuai dengan istilah negara
agraris padahal kita ini adalah negara kemaritiman dan negara kepulauan. Arti
dan pengertian negara maritim sangatlah banyak dan di antaranya adalah :

Pengertian Negara Maritim :

1. Negara maritim adalah negara yang terdiri dari pulau pulau


2. Negara maritim adalah negara yang terdiri dari masyarakat yang bekerja di
laut dan pesisir.
3. Negara maritim adalah negara yang dikelilingi oleh laut dan perairan

Di lihat dari arti tentang negara maritim maka indonesia sudah termasuk
dalam kesemua arti negara maritim. Dan untuk membuat sebagai negara maritim
di perlukan beberapa persyaratan. Untuk menjadikan indonesia sebagai negara
yang benar benar maritim maka di perlukan suatu konsep dan rencana besar.
Perlu ada perbaikan yang terkonsep untuk menjadikan Indonesia sebagai poros
maritim. Tujuan yang Besar di perlukan pemahaman yang sama diantara
masyarakat tidak hanya pemahaman tentang definisi Maritim tetapi makna
sesungguhnya dari konsep negara Maritim.

Lalu apakah kita sudah menjadi poros maritim dunia. Saya rasa kita belum
20 persen menjadi negara maritim. Kita bisa melihat dari aktifitas perdagangan.
Untuk perdagangan lewat pelabuhan masih terkonsentrasi di 3 pelabuhan yang
ada di jawa. Belum lagi untuk indek perdagangan dengan negara lain , peranan
indonesia dengan kemaritiman masih kalah dengan singapura dan malaysia.Bagi
Indonesia saat ini, Maritimn adalah jargon yang belum selesai. Belum lagi yang
paling parah adalah sektor industri garam. Bagaimana mungkin sebuah negara
dengan garis pantai terpanjang no 4 di dunia harus kekurangan
garam dan menjadikan impor sebagai solusinya.

Garis pangkal Pantai yang sangat luas dan jumlah nelayan yang sangat
banyak seharusnya potensi tersebut mampu menjadikan Indonesia sebagai
Negara Maritim. Perlu adanya ketegasan sikap dari pemerintah mengenai arah
kebijakan menjadi negara maritim. Serta untuk mendukung hal itu maka
pemerintah harus mengatur dan menata ruang untuk konsep tersebut.

14
Adapun prinsip-prinsip penataan ruang untuk konsep negara maritim
diantaranya :

1. Penataan ruang wilayah pesisir perlu menetapkan batas-batas daerah


pengembangan di lautan dengan prinsip menjamin pemanfaataan yang
berkelanjutan. Masyarakat pesisir khususnya nelayan di orientasikan untuk
menjadi nelayan yang modern.

2. Penetapan batas-batas daerah lautan seyogyanya tidak menutup kemungkinan


pemanfaatan sumber daya yang berada dalam batas-batas daerah laut oleh
masyarakat yang berasal dari wilayah lain diluar batas daerah laut tersebut.
Masalah perbatasan dengan negara lain pun harus segera di putuskan. Kita
harus berani mengusir setiap apapun yang masuk ke indonesia dengan
illegal. Sudah banyak aktifitas aktifitas yang merugikan indonesia melalui
kurang pengawasan di perairan dan laut indonesia. Dari mulai Masuknya
narkoba, perdaganagan manusia, illegal Fishing.

3. Perlindungan terhadap habitat yang sensitif dari berbagai aktivitas yang


merusak, baik sebagai akibat dari interaksi manusia dengan alam maupun
interaksi dalam alam itu sendiri. Salah satunya dengan melarang alat tangkap
ikan yang merusak, membuang limbah di laut dan hal lain yang bisa
menjadikan laut kita rusak dan tercemar. Tanpa adan ya laut dan perairan
maka cita-cita negara maritim hanya angan-angan.

4. Mengakomodasi berbagai kepentingan yang berbeda dalam satu daerah


pantai dan pesisir secara bersinergi satu dengan lainnya, tanpa ada satu pihak
yang dirugikan.Pemerintah harus hadir sebagai pemberi solusi dan selalu
mementingkan masyarakat banyak.

5. Memungkinkan dibuatnya zona sanctuary, khususnya untuk daerah laut yag


harus dilindungi, terutama bagi ekosistem yang memiliki dampak luas dan
penting bagi ekosistem laut lainnya. Pengawasan pelu di tingkatkan.

6. Memberi kesempatan pemulihan area yang telah rusak.zona konservasi


kembali di kembangkan. Zona ekonomi pun di buat tanpa harus merusak
ekosistem dan area perairan.

Maritim Adalah maritim asal menurut bahasa inggris yaitu maritime, yg


berarti navigasi, menurut kata ini lalu lahirlah istilah maritime power yaitu
negara dengan kekuatan maritim atau negara menggunakan kekuatan yg bebasis

15
pada bahari. Masih pada bahasa Inggris, istilah yang dipakai buat menerangkan
sifat atau kualitas yg menyatakan penguasaan terhadap laut merupakan
seapower.

Sementara, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, maritim diartikan


menjadi hal yang berkenaan menggunakan bahari, terutama hal yg berkaitan
pelayaran dan perdagangan pada bahari. Pengertian tersebut menegaskan bahwa
negara maritim adalah negara yang terkait dengan kebaharian atau kelautan.
Dan perlu di tegaskan juga bahwa negara maritim adalah bukan jargon semata
melainkan sebuah tindakannya nyata.

Dari istilah seapower atau kekuatan laut tadi maka Istilah maritim sering
mengandung unsur bermakna ganda. Untuk terus menjadi sebuah negara maritim
mak di perlukan sebuah persyaratan. Pengertian negara maritim apabila terpenuhi
semua persyaratan maka di pastikan negara indonesia akan semakin kuat.

Terdapat 2 versi buat pengertian maritim ini : maritim dalam pengertian


sempit yg hanya berhubungan dengan efek & bahari (angkatan bahari).
Dan arti kedua yaitu negara maritim pada arti yg seluas-luasnya yg meliputi
seluruh aktivitas yang berafiliasi dan berkenaan menggunakan bahari atau lebih
acapkali disinggung dengan istilah kelautan.

Jika ditinjau dari sisi rapikan bahasa, kelautan merupakan istilah benda,
sedangkan maritim adalah adjektiva. Maka Negara Maritim adalah
penggabungan antara benda sebagai negara dan objektiva sebagai maritim.
Dengan demikian, bila kita ingin menyatakan bahwa Indonesia merupakan
negara bahari maka negara indonesia wajib memanfaatkan potensi lautnya dan
pada akhirnya cita rasanya akan penggunaan kata negara maritim akan lebih
sempurna.

Indonesia terus mengembangkan diri untuk menjadi negara maritim, bukan


hanya negara agraris ataupun kelautan. Argumentasi alasannya adalah, indonesia
negara maritim merupakan negara yg memiliki sifat memanfaatkan potensi laut
buat kemakmuran negaranya, sedangkan negara kelautan lebih menunjukkan
syarat fisiknya saja, yaitu negara yg berhubungan, dekat menggunakan atau
terdiri dari bahari.sudah saatnya kita berorientasi menuju konsep negara maritim.
Membentuk Negara Maritim tidak hanya menentukan Hari Maritim Indonesia
untuk Internasional. Atau hanya seremonial tentang potensi Negara maritim.

16
Tapi Konsep Negara maritim akan terbentuk apabila masyarakat
masyarakat di lebih paling bawah agar bisa menentukan perapa persen dari nilai
upaya memudahkan dan menyelesaikan permasalah tentang konsep negara
maritim dan perlu adanya parameter untuk melihat dan batuan dari hotel nyang
paling tinggi. Konsep poros maritim dan konsep negara maritim mempunyai
perbedaan walaupun sama sama mengusung tema kemaritiman. Tetapi pada
kenyataannya maritim adalah tetap mengacu pada dimana negara bisa
mengoptimalkan sumber daya maritim. Menurut Poros Maritim dimana maritim
adalah acuan buat semua negara negara yang mempunyai laut agar ikut
bergabung dengan gagasan Poros Maritim.

E. SYARAT SYARAT NEGARA MARITIM

Negara maritim adalah negara yang mampu memanfaatkan laut walaupun


negara tadi mungkin bukan atau tidak punya beberapa bahari, namun memiliki
kemampuan teknologi, ilmu pengetahuan, alat-alat, dan lain-lain buat mengelola
& memanfaatkan laut tadi, baik ruangnya maupun kekayaan
alamnya dan letaknya yg strategis.
Dan untuk bisa memiliki kemampuan tersebut di perlukan syarat atau pedoman
ke arah negara maritim. Lantaran itu banyak negara kepulauan atau negara pulau
yg bukan atau belum sebagai negara maritim lantaran belum sanggup
memanfaatkan sumber daya perairan baik laut atau bahari yang sudah berada di
pada kekuasaannya ataupun kewenangannya. Sebaliknya, banyak negara yang
tidak mempunyai laut atau lautnya sangat sedikit tetapi bisa memanfaatkan
bahari tersebut buat kepentingannya, contohnya Singapura yang hampir tidak
punya laut. Malah negeri Belanda yg lautnya sangat mini dan kecil sanggup
menjelajahi dan memanfaatkan Samudera Hindia sampai menjajah Indonesia
ratusan tahun. itulah sedikit bukti negara kecil yang mempunyai kekuatan
maritim yang besar. Karena belanda mampu memdefinisikan Pengertian Negara
maritim secara luas.

Zaman kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, kepulauan nusantara memiliki


sifat maritim, karena bisa memanfaatkan laut sebagai capital aset yg krusial buat
perdagangan & pertahanan, hingga mampu menjelajah hingga jauh ke Afrika
Timur/Madagaskar dan ke Pasifik Selatan. Indonesia adalah negara kepulauan yg
sekarang sedang menuju pulang atau kembali bercita-cita menjadi negara
maritim seperti pada zaman tadi. Untuk itu ada beberapa hal yg perlu kita kawal
& penuhi sebagai syarat menjadi negara maritim :

17
1. Mengerti dan mengenal tentang sumber daya di lautan dan memahami
ketentuannya. Mengenal aneka macam jenis laut Indonesia menggunakan
banyak sekali ketentuannya, yaitu perairan pedalaman, perairan kepulauan,
laut daerah zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, landas kontinen, & hak-
haknya atas bahari bebas dan dasar laut international.
2. Mengenal & menghormati hak-hak internasional atas perairan Indonesia,
seperti hak lintas innocent passage, transit passage, archipelagic sealanes
passage, freedom of navigation and over flight, traditional fishing rights, &
lain-lain.
3. Mengenal berbagai kekayaan alam yg masih ada pada banyak sekali perairan
tadi, baik yg dalam daerah kedaulatan juga di luarnya, yg hayati juga yang
non hayati meliputi biota bahari, tempat asal dan ekosistem, arus, angin
hingga kapal-kapal karam & benda-benda historis, dan aset alam laut
lainnya.
4. Negara harus bisa memanfaatkan kekayaan alam dan ruang pada luar
perairan Indonesia seperti pada laut bebas & pada dasar laut internasional.
5. Mampu mempertahankan kedaulatan wilayah, kewenangan, keamanan,
keselamatan, kesatuan dan persatuan nasional dalam memanfaatkan ruang
bahari, perhubungan/transportasi bahari, maupun kekayaannya.
6. Mampu memelihara lingkungan bahari & memanfaatkan kekayaan alamnya
secara sustainable, berkelanjutan.
7. Mampu menghapuskan IUU fishing dan mencegah segala macam bentuk
penyelundupan dan delik pada perairan Indonesia, baik di wilayahnya
maupun di wilayah kewenangannya.
8. Mampu menetapkan dan mengelola aneka macam perbatasan maritim
dengan negara tetangga serta menjaga keamanan dari berbagai macam
ancaman perbatasan tersebut.
9. Mampu memajukan & menjaga keselamatan pelayaran melalui perairan
Indonesia.
10. Mampu memanfaatkan otonomi daerah yg konstruktif tentang kelautan.

Demikian adalah beberpa syarat untuk menjadikan indonesia kembali


menjadi negara maritim dan cita cita sebagai poros maritim bisa terlaksana.
Setelah syarat menjadi negara maritim semua terpenuhi maka langkah selanjutnya
adalah membuat konsep dan perencanaan tentang konsep untuk sebuah negara
maritim. Konsep tersebut di kenal dengan sebutan Konsep Negara Maritim.

18
F. PERAN INDONESIA

Optimalisasi Peran Indonesia sebagai Negara Kepulauan dalam rangka


meningkatkan Ketahanan Nasional Diakuinya Indonesia sebagai negara
kepulauan oleh masyarakat internasional melalui UnitedNations Conference on
the Law of the Sea 1982 (UNCLOS)selain merealisasikan Deklarasi Djuanda
juga menjadikan Indonesia sebagai negara maritim besar di Asia. Konsekuensi
pengakuan tersebut membawa peran Indonesia sebagai negara pantai yang
harus mampu mengelola wilayahnya bagi kelancaran navigasi internasional.
Salah satu prinsip dalam hukum laut Internasional adalah jaminan kebebasan
bemavigasi. Di pihak lain, kedaulatan negara pantai juga diakui untuk
mengelola wilayalmya sepanjang hal tersebut tidak mengganggu kelancaran
navigasi internasional.UNCLOS 1982 telah membawa konsekuensi hukum bagi
Indonesia antara lain, pengakuanbahwa wilayah Indonesia, air dan pulau,
merupakan satu kesatuan. Laut yang terletak di antara kepulauan merupakan
laut pedalaman dan Indonesia mempunyai hak berdaulat atas wilayah laut
tersebut.

Mengingat Indonesia secara geografis terletak di antara dua benua


dan dua samudra serta wilayah laut Indonesia merupakan daerah lalu lintas
navigasi internasional,maka Indonesia wajib menentukan alur-alur tertentu bagi
kelancaran navigasi tersebut, yaitu apa yang disebut sebagaiarchipelagic sea
lane passage atau Alur Laut Kepulauan Indonesia. Sebagaimana dimaklumi,
jalur Selat Sunda, Selat Lombok, Laut Sulawesi adalah jalur yang selama ini,
bahkan sebelum Indonesia merdeka, telah menjadi jalur navigasi internasional.
Di samping itu, Selat Malaka, merupakan Selat yang terletak di antara tiga
negara pantai yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura merupakan selat yang
sangat strategis. Selat ini merupakan jalur lalulintas laut yang telah ada sejak
sebelum Indonesia berdiri. Dalam UNCLOS 1982, Indonesia juga wajib
menjaga dan menjamin keamanan wilayah selat tersebutyang digunakan
sebagai jalur navigasi internasional, dengan berkoordinasi keamanan dengan
negara pantai lainnya yaitu Malaysia dan Singapura.Masih banyak kewajiban
lain yang harus dilaksanakan oleh Indonesia sebagai negara yang di anugerahi
wilayah laut dan daratan seluas lebih dart lima juta meter persegi tersebut. Hal
yang menjadi pertanyaan dengan adanya pengakuan dan tugas serta kewajiban
Indonesia tersebut adalah bagaimana Indonesia dapat mengoptimalkan
perannya sebagai negara Sesuai dengan artikel 2 (1) UNCLOS 1982, The

19
sovereignty of a coastal State extends, beyond its land territory and internal
waters and, in the case of an archipelagic State, its archipelagic waters, to an
adjacent belt of sea, described as the territorial sea.

Berdasar pada definisi tersebut, Indonesia merupakan negara pantai


sekaligus negara kepulauan, sesuai artikel 46, UNCLOS tentang archipelagic
states kepulauan khususnya dengan memanfaatkan statusnya tersebut guna
meningkatkan ketahanan nasional ? Pertanyaan tersebut terkait dengansejarah
eksistensi bangsa Indonesia sendiri yang sejak merdeka tanggal 17 agustus
1945 selalu dihadapkan dengan berbagai ancaman disintegrasi,pemberontakan
serta masalah yang terkait dengan laut dan perairan.

Lahirnya Indonesia dan dampaknya terhadap masyarakat internasional


Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 telah membawa
konsekwensi hukum internasional yang jelas, yaitu lahirnya entitas barn,
Indonesia, sebagai anggota masyarakat bangsa-bangsa. Dengan menyatakan
merdeka, maka,Indonesia, sebuah wilayah yang sebelumnya diakui sebagai
bagian dari Hindia Belanda ini telah melakukan pemerintahan sendiri (self
governing rule) dan tidak lagi tunduk kepada negara lain/Belanda. Dua hal
penting yang terjadi terutama setelah Indonesia secara efektif diakui secara
Internasional sebagai entitas negara pada akhir tahun 1949. Diperlukan langkah
langkah nyata untuk optimalisasi peran Indonesia sebagai negara kepulauan
agarcita cita bangsa dapat terwujud. Adapun langkah tersebut meliputi :
a. Indonesia hams mampu menjaga keamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia
(ALKI) dan selat Malaka yang digunakan sebagai jalur navigasi
internasional. Kemampuan negara pantai untuk menjaga keamanan
wilayahnya menjadi benchmark masyarakat Internasional untuk melihat
kredibilitas negara tersebut. Gangguan keamanan di Selat Malaka dan
beberapa wilayah Indonesia beberapa waktu lalu terutama akibat dari
maraknya bajak laut dan perompakan merupakan keprihatinan masyarakat
intemasional. Ketidakmampuan negara pantai (Indonesia) dalam
mengamankan wilayah Selat Malaka dapat mendorong masuknya kekuatan
asing untuk ikut serta mengamankan jalur navigasi tersebut. Apabila hal ini
terjadi maka kedaulatan Indonesia menjadi terganggu dan kredibilitas
Indonesia sebagai negara yang diberi mandat oleh masyarakat Internasional
untuk menjaga wilayah navigasi Selat Malaka akan dipertanyakan. Hal ini
apabila berlarut-larut tentunya akan mengganggu ketahanan nasional

20
Indonesia. Langkah Indonesia mengamankan jalur navigasi Selat Malaka
dengan berkoordinasi dengan negara littoral lainnya yaitu Singapura dan
Malaysia dirasa cukup memadai. Ketiga negara sependapat bahwa
keamanan Selat Malaka merupakan kewajiban bersama littoral states
sehingga suatu coordinated patrol merupakan langkah nyata dan mampu
meningkatkan keamanan Selat sekaligus kepercayaan masyarakat
Intemasional.
b. Peningkatan kerjasama dengan negara maritim besar untuk
peningkatan keselamatan navigasi. Indonesiatelah melakukan kerjasama
dengan InternationalMaritime Organisation(IMO), Amerika Serikat dan
negara maritim lainnya untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan
navigasi. Pemasangan radar di sepanjang Selat Malaka serta perairan Laut
Sulawesi merupakan langkah konkrit akan hal tersebut.Maraknya illegal
and unlicence fishing menjadikan perairan Indonesia dapat mengalami
kerusakan lingkungan. Disamping itu kegiatan ini juga akan
mengganggu ketahanan lingkungan dan ekonomi Indonesia. Kerjasama
peningkatan kapasitas antara Indonesia dengan berbagai negara akan
mampu meningkatkan ketahanan nasional dan keamanan lingkungan bagi
kelancaran navigasi.
c. Pengamanan Laut Indonesia dari permasalahan people smuggling
dan international narcotic trafficking Indonesia yang sangat strategis
letaknya telah dijadikan sebagai sarana untuk jalur aktifitas penyelundupan
manusia dan narkotika. Kegiatan yang dikelola secara internasional ini
tidak hanya merugikan negara ketiga yang menjadi tujuan akhir
penyelundupan manusia tetapi juga termasuk Indonesia. Masuknya
sindikasi narkotik dan penyelundup manusia akan melemahkan ketahanan
bangsa bahkan dapat menjurus pada gangguan keamanan dan eksistensi
bangsa. Peningkatan kerjasama pemberantasan kedua masalah tersebut
diatas melalui penguatan keamanan dan peningkatan ketahanan ekonomi
merupakan langkah yang akan mampu mengamankan Indonesia sebagai
negara transit dan tujuan bandar narkotika dan penyelundupan
manusia. Arah masa depan Indonesia sebagai Negara Kepulauan Bangsa
Indonesia dianugerahi SKA yang melimpah dengan lokasi strategis
yang dimilikinya. Karunia Tuhan ini merupakan aset yang luar biasa dan
harus dimanfaatkanuntuk kemakmuran rakyat Indonesia.
Ketidakmampuan pemerintah/pimpinan nasional untuk mengelola aset

21
tersebut dapat membawa petaka bagi bangsa Indonesia bahkan membawa
kehancuran negara.

Berdasar pada tingginya ancaman dan potensi ancaman dari luar dan
dalam maka makalah ini menyarankan beberapa langkah yang perlu diambil
oleh pimpinan nasional yaitu:
1. Perlunya bangsa Indonesia lebih assertive dalam memperjuangkan
kepentingan nasional di fora internasional dengan dasar argumen peran dan
beban Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat vital.
2. Indonesia harus mampu menggalang ketahanan nasional dalam segala
bidang agar kesatuan dan persatuan bangsa dapat dipertahankan. Hal ini
merupakan kunci keberhasilan perjuangan Indonesia mempertahankan
kredibilitasnya di mata dunia.
3. Diperlukan kepemimpinan nasional yang tinggi integritasnya di
segala lapisan. Kekayaan alam yang melimpah saat ini belum dapat menunj
ukkan hasilnya bahwa hal tersebut menjadi aset nyata. Kenyataan yang ada
justru menjadikannya sebagai liability. Hal ini terlihat dari maraknya
illegal logging, fishing dan pencemaran serta perusakan lingkungan.
Kontinuitas kegiatan perusakan ini akan dapat menurunkan kredibilitas
bangsa di dunia internasional.
4. Perlunya pimpinan nasional menggiring bangsa Indonesia mulai menjadika
n maritim sebagai basis mindset Indonesia. Hingga saat ini masih
terdapat kontradiksi dalam cam pandang dan berpikir bangsa Indonesia.
Walaupun secara fisik bangsa Indonesia adalah bangsa maritim namun
mindset bangsa masih berpikir kontinental. Pembangunan yang ada dalam
beberapa dekade terakhir masih difokuskan pada infrastruktur darat dan
sangat berpusat di Jawa dan Sumatra. Namun, dengan adanya MP3EI
(Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi) Bangsa
Indonesia mulai membenahi sektor maritim dan mulai fokus memperkuat
infrastruktur maritim. Pengembangan sektor maritim yang
akan memperkuat kawasan Timur Indonesia akan menjadikan Indonesia
benar benar negara kepulauan yang kuat.

Dengan mengubah wawasan berpikir menjadi bangsa maritim, Indonesia


akan dapat mewujudkan mimpi para founding fathers Indonesia sebagai negara
maritim. Indonesia juga akan mampu menjaga kebebasan navigasi serta aset

22
SKA yang ada benar-benar menjadi sarana untuk mencapai tujuan nasional
bangsa Indonesia yaitu tercapainya masyarakat adil dan makmur.

G. PENGATURAN NEGARA MARITIM

Selama ini, Indonesia pernah memiliki beberapa peraturan perundang-


undangan yang berkaitan dengan laut. Peraturan tersebut antara lain Kitab
Undang-undang Hukum Dagang/KUHD (Wet Bock Van Koophandel), UU No.
4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia, dan UU No. 4 Tahun 1982
tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu
terdapat juga UU No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia, UU No. 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations
Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa
tentang Hukum Laut), UUNo. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan, serta Ordonansi
Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim Tahun 1939.

Upaya penyusunan peraturan baru di bidang kemaritiman sebenarnya


sudah pernah pula dilakukan oleh pemerintah. Melalui program yang dibiayai
oleh Bank Dunia, pemerintah bekerja sama dengan Universitas Indonesia
pernah menyusun semacam panduan terhadap pembentukan UU tentang
Kemaritiman pada 1983. Program yang disebut dengan Maritime Legislation
Project (MLP) ini dilaksanakan oleh ahli-ahli dari Universitas Indonesia,
dibantu oleh 8 ahli hukum maritim dari luar negeri. Laporan akhirnya berupa
empat jilid buku yang merupakan kumpulan konsep RUU dan Keppres di
bidang maritim.

Buku I tentang Pengaturan Ekonomi terdiri dari 4 RUU. Buku II tentang


Pengawakan Keselamatan terdiri atas 4 RUU. Buku III tentang Navigasi dan
Polusi terdiri dari 5 RUU. Buku IV tentang Hukum Privat Maritim berupa saran
perubahan dua kitab KUHD.

Laut bukan untuk dipecah belah, Urgensi disusunnya RUU Maritim ini
semakin dirasakan dengan dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang
Otonomi Daerah. Pada Pasal 3 UU tersebut dinyatakan bahwa otonomi daerah
wilayah daerah propinsi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri
atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari
garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan.

23
Dampaknya, kewenangan daerah pun berlaku pada wilayah laut seperti
disebutkan dalam pasal tersebut. Sayangnya, kewenangan ditanggapi berbeda
oleh beberapa daerah. Sebagian daerah akhirnya mengklaim wilayah laut
tertentu menjadi daerah kewenangannya. Akibatnya, laut Indonesia seakan
terpecah-pecah menjadi wilayah yang terpisah.

Sebagai salah satu negara dengan wilayah laut terluas di dunia, Indonesia
mempunyai potensi besar untuk mengolah sumber daya alam di dalamnya.
Dengan aturan yang jelas dan tegas, pemanfaatan tersebut dapat semakin
optimal demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.

24
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Luas


wilayah Indonesia seluruhnya adalah 5.193.250 km2 Dua pertiga wilayah
Indonesia merupakan perairan atau wilayah laut. Luas wilayah perairan di
Indonesia mencapai 3.287.010 km2 Adapun wilayah daratan hanya 1.906.240
km2. Pengembangan keterkaitan yang saling memperkuat antara kawasan
andalan laut dan pulau-pulau kecil lainnya dengan kawasan-kawasan andalan di
darat serta simpul-simpul koleksi dan distribusi (pelabuhan) dapat meningkatkan
pertumbuhan ekonomi pada kawasan-kawasan tersebut sekaligus lebih
mempersatukan serta menyeimbangkan tingkat perkembangan suatu wilayah
baik di darat maupun di laut.

Menurut Edib, ada tiga syarat untuk menjadi negara maritim. Pertama,
kemampuan mengelola aset yang ada di wilayah perairan. Potensi sumber daya
ikan Indonesia sangat besar. Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip
Sutardjo mengungkapkan, besaran potensi hasil laut dan perikanan di Indonesia
mencapai Rp3.000 triliun per tahun, sedangkan yang sudah dimanfaatkan Rp225
triliun atau sekitar 7,5% saja.Sedangkan syarat kedua adalah kemampuan
mengelola akses. “SLoC (Sea Lane of Communication) belum dimanfaatkan
secara optimal,” ujar Edib. Indonesia memiliki letak geografis yang sangat
strategis karena memiliki akses langsung ke pasar terbesar di dunia yaitu Selat
Malaka, di mana jalur ini menempati peringkat pertama dalam jalur pelayaran
kontainer global. Sekitar 45% komoditi yang diperdagangkan di dunia melewati
selat tersebut. “Justru Singapura dan Malaysia yang memanfaatkan jalur ini,”

25
kata Edib.Untuk memanfaatkan potensi Selat Malaka, pemerintah melalui
MP3EI sudah mengambil langkah startegis dengan mengembangkan Pelabuhan
Kuala Tanjung di Sumatera Utara dan Pelabuhan Bitung, Sulawesi
Utara.Pelabuhan Kuala Tanjung akan menjadi pusat perdagangan dan ekonomi di
kawasan barat Indonesia. Sementara Pelabuhan Bitung menjadi pusat
perdagangan di kawasan timur Indonesia. “Nantinya kegiatan ekspor import
harus melewati dua pelabuhan itu. Tidakboleh langsung ke Jakarta atau
Surabaya,” tegasnya. Dengan cara ini pemerintah turut melindungi komoditi
domestik dari serangan barang mancanegara.Sementara itu syarat ketiga negara
maritim adalah membentuk rezim maritim yang mengatur mengenai tata kelola
sumber daya manusia, ilmu dan teknologi serta regulasi. Edib mencontohkan,
tata kelola SDM kelautan Indonesia masih lemah. “Fakultas Perikanan di
Universitas Manado mencontoh kampus di Surabaya. Harusnya, di Manado bisa
dibentuk Fakultas Sushi,” jelasnya. Dengan demikian, masyarakat akan
mendapatkan nilai lebih dari pengembangan ilmu dan tenologi di bidang
kelautan.

B. SARAN
Saran dari penulis yaitu Indonesia harus mulai melirik potensi laut karena
selama ini Indonesia hanya fokus di daratan.

26
DAFTAR PUSTAKA

http://letifebriyanti78.blogspot.com/2014/04/indonesia-adalah-negara-
maritim.html

http://politik.kompasiana.com/2014/10/23/sssttada-srikandi-di-toll-laut-
697672.html

eprints.undip.ac.id/37017/1/Bab_I_(B.Surowo).pdf