You are on page 1of 26

KEPERAWATAN JIWA I

DELUSIONAL DISORDER

Disusun oleh :

1. Asrul Hak J210140007

2. Ita Kiswarsiki J210140034

3. Mika Wahyu Asti J210140035

4. Alfath Budi H J210140037

5. Arba’ani J210140038

6. Endah Kencana Mei W J210140039

7. Dede Nurhasanah J210140041

8. Nanfia Bela K J210140048

9. Reza Noviandari Putri P J210140049

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA
2016
DELUSIONAL DISORDER
I. PENGERTIAN
Definisi delusi menurut American Psychiatric Association (2000) dalam DSM-IV
yang direvisi adalah: “Kepercayaan keliru yang berlandas pada referensi yang tidak
sesuai mengenai realitas eksternal yang dipertahankan erat-erat, tidak peduli apapun
keyakinan banyak orang dan tidak peduli apapun dasar-dasar dan bukti-bukti nyata tak
terbantahkan yang menunjukkan kebalikannya."
Orang yang mengalami delusi akan menceritakan suatu cerita dengan sangat
yakin walaupun apa yang dia ceritakan sebenarnya tidak pernah terjadi atau hanya terjadi
dalam khayalannya. Ia bisa saja terlihat seperti orang normal pada umumnya, hanya saja
ia membuat pilihan yang sedikit berbeda dengan orang pada umumnya berkaitan dengan
keyakinan pribadinya. Keyakinan tersebut terus dipercayai walau tidak memiliki dasar
dan bukti yang tepat. Delusi bisa jadi merupakan gejala dari penyakit psikologis atau
penyakit yang berhubungan dengan fisik. (Carpenito, 1998)

II. PENYEBAB
Beberapa penyebab yang telah diamati oleh ilmuwan dalam kasus-kasus delusi
biasa dimasukkan dalam beberapa kategori, yaitu :
a. Genetis atau Biologis
Kerabat orang yang memiliki gangguan delusional memiliki kemungkinan
yang lebih tinggi untuk delusional. Selain itu, sejumlah studi membandingkan aktivitas
pada daerah-derah berbeda otak antara dua kelompok partisipan, yang delusional dan
yang tidak delusional. Penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok delusional secara
neurologis cenderung bereaksi seolah-olah ada situasi bahaya yang mengancam. Ini
berbeda pada kelompok non-delusional yang hanya bereaksi merasa terancam dalam
kondisi tertentu di mana interpretasinya lebih akurat.
b. Kegagalan Pemrosesan Kognitif
Orang yang delusional seringkali langsung mengambil kesimpulan dari suatu
kejadian, tanpa memikirkan alternatif lain sebagai penjelasan. Misalnya, ketika
seorang tetangga baru pindah ke daerah seorang wanita, dan kebetulan wanita itu saat
itu terserang flu, jika wanita ini delusional, dia akan menganggap bahwa tetangga
barunya meracuninya dan tidak memikirkan alternatif penjelasan yang lain. Mereka
berpikir bahwa hidup ini selalu mendatangkan ancaman dari berbagai segi.

c. Delusi Termotivasi atau Defensif


Delusi bisa saja terjadi ketika seseorang berusaha mempertahankan harga diri
atau berusaha mengatasi persoalan hidup. Misalnya ketika seseorang berusaha
menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri, karena malu mengakuinya.

III. FAKTOR PENYEBAB


 Faktor Predisposisi
 Genetis : Diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem
syaraf yang berhubungan dengan respon biologis yang
maladaptif.
 Neurobiologis : Adanya gangguan pada konteks pre frontal dan korteks
limbic.
 Neurotransmitter : Abnormalitas pada dopamine, serotonin, dan glutamat.
 Virus : Paparan virus influensa pada trimester III
 Psikologis : Ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.

 Faktor Presipitasi
 Proses pengolahan informasi yang berlebihan
 Mekanisme penghantaran listrik abnormal
 Adanya gejala pemicu
IV. TANDA & GEJALA
a. Waham Kebesaran
Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan
berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh : “ Saya ini titisan Bung Karno,
punya banyak perusahaan, punya rumah di berbagai negara dan bisa menyembuhkan
berbagai macam penyakit”.

b. Waham Curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mencederai dirinya, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh : “ Banyak Polisi mengintai saya, tetangga saya ingin menghancurkan hidup
saya, suster akan meracuni makanan saya “.

c. Waham Agama
Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan
berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyakinan, Contoh : “ Tuhan telah
menunjuk saya menjadi wali, saya harus terus-menerus memakai pakaian putih
setiapa hari agar masuk surga “.

d. Waham Somatik
Meyakini bahwa tubuh klien atau bagian tubuhnya terganggu, diucapkan
berulangkali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh : “ Sumsum Tulang saya
kosong, saya pasti terserang kanker, dalam tubuh saya banyak kotoran, tubuh saya
telah membusuk, tubuh saya menghilang”.

e. Waham Nihilistik
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal, diucapkan
berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh: “Saya sudah menghilang dari
dunia ini, semua yang ada di sini adalah roh-roh, sebenarnya saya sudah tidak ada di
dunia”
V. JENIS DELUSI (WAHAM)
 Delusion of erotomanic : Individu atau pasien mempercayai seseorang
mempunyai kedudukan penting dan terlibat percintaan
dengannya.
 Delusion of grandiose : Pasien mempercayai bahwa ia mempunyai pengetahuan
yang lebih, bakat, insight, kekuatan, kepercayaan orang,
atau mempunyai hubungan khusus dengan orang terkenal
bahkan Tuhan.
 Delusion of jealous : Pasien mempercayai bahwa pasangannya berselingkuh atau
tidak dapat dipercaya.
 Delusion of persecutory : Pasien mempercayai bahwa dirinya ditipu, dimata-matai,
diikuti, difitnah dan tidak mempercayai orang lain.
 Delusion of somatic : Pasien mempercayai bahwa tubuhnya merasakan sensasi
sesuatu atau merasakan salah satu dari bagian organ
tubuhnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
 Tipe campuran : Mempunyai delusi lebih dari satu tema.
 Tipe tidak terdefinisi : Bila tidak termasuk didalam kategori yang ada diatas; atau
tipe lainnya yang berkaitan dengan budaya setempat.

Beberapa tipe delusi lainnya dalam gangguan psikotik;

 Delusion of control : Waham dimana individu beranggapan bahwa


dirinya dikendalikan dari luar, atau orang lain.
 Delusion of influence : Pasien merasa dirinya dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan
dari luar dirinya.
 Delusion of passivity : Dimana individu dalam ketidaberdayaan, merasa dirinya
sebagai orang paling malang.
 Delusion of perception : Pengalaman indrawi yang berkenan dengan mistik atau
mukjizat.
 Tipe campuran : Mempunyai delusi lebih dari satu tema atau tipe lainnya
yang berkaitan dengan budaya setempat.
VI. GANGGUAN WAHAM
Delusi/waham merupakan gejala, sedangkan gangguan waham merupakan
penyakit. Walau begitu, mengalami gejala waham tidak berarti menderita gangguan
waham. Tidak seperti gangguan psikotik lainnya, orang dengan gangguan delusional
tidak terlihat aneh, mereka tampak normal. Hanya saja mereka membuat keputusan-
keputusan yang tidak lazim dalam kehidupan sehari-harinya karena dipengaruhi oleh
keyakinan-keyakinannya yang tidak terbukti dan tidak benar. Ketika ia menceritakan
apa yang dialaminya, ia akan menceritakannya dengan ekspresi sangat yakin.
Gangguan delusional berbeda dengan gangguan skizofrenia dan gangguan
lainnya. Seseorang yang memiliki gejala delusi yang diiringi gejala lainnya yang
mengindikasikan skizofrenia, tidak bisa didiagnosis menderita gangguan waham.
Penderita gangguan ini juga tidak merasa bahwa mereka salah atau "sakit", namun
kehidupan mereka terganggu oleh waham-waham yang mereka yakini. Beberapa tipe
gangguan delusional menurut Kaplan dan sadock (1997):
 Tipe Erotomanik
Tipe ini merasa bahwa orang lain secara diam-diam jatuh cinta padanya.
Orang yang diyakini mencintai penderita ini biasanya adalah orang berstatus lebih
tinggi atau orang-orang terkenal yang tidak mungkin mencintainya, atau bisa jadi
orang asing. Dalam kebanyakan kasus, penderitanya berusaha menghubungi
obyek delusinya dengan cara menelepon, mengirim pesan, memberi hadiah,
mengunjungi, atau bahkan memata-matai (stalking). Walau dalam sampel klinis
menunjukkan lebih banyak wanita terdiagnosa gangguan tipe ini, namun dalam
sampel forensik menunjukkan justru lebih banyak laki-laki yang menderitanya.
 Tipe Besar Diri
Individu yang didiagnosa dengan subtipe ini hidup dengan keyakinan
bahwa mereka merupakan orang yang sangat penting atau unik. Waham tersebut
bisa terwujud dalam beberapa bentuk: (1) percaya bahwa mereka memiliki
kemampuan atau bakat yang sangat istimewa, (2) percaya bahwa mereka
merupakan orang yang sangat penting atau memiliki hubungan khusus dengan
orang penting, (3) percaya mereka memiliki kekuatan khusus, atau pesan khusus
dari dewa/tuhan.
 Tipe Cemburu
Mereka yang menderita gangguan tipe ini akan selalu merasa cemburu dan
memandang hal-hal yang ireleva sebagai petunjuk bahwa pasangannya telah
berselingkuh. Misalnya ketika melihat baju pasangannya tidak rapi, noda titik di
kain baju, atau rokok yang lebih banyak daripada biasanya. Delusi kecemburuan
ini seringkali menimbulkan agresi dan melukai orang lain.
 Tipe Persekutoris
Individu yang didiagnosa dengan tipe ini yakin bahwa mereka merupakan
bagian konspirasi, merasa dibohongi, diikuti, diracuni, dilecehkan, diawasi, dan
sejenisnya. Mereka memiliki rasa curiga terhadap lingkungannya. Mereka yakin
bahwa persekutornya harus ditindak secara hukum. Seringkali mereka berusaha
menunjukkan sikap baik pada pihak pemerintah untuk mencapai kepuasan
mereka. Individu ini biasanya murung, pemarah, mudah tersinggung, dan
mungkin akan melakukan kekerasan pada obyek delusinya.
 Tipe Somatik
Individu dengan tipe gangguan delusional somatik merasa yakin bahwa
telah terjadi suatu hal aneh dengan bentuk atau fungsi tubuhnya. Ia bisa terjadi
dalam beberapa bentuk: (1) keyakinan pribadi bahwa mereka menghasilkan bau
busuk dari kulit, mulut, rektum, atau vagina mereka, (2) percaya bahwa tubuhnya
atau kulitnya telah dihinggapi atau dimasuki parasit, (3) percaya bahwa bagian
tubuh tertentu berubah bentuk, salah bentuk, atau jelek, (4) percaya bahwa bagian
tubuh tertentu tidak dapat berfungsi.
 Tipe Campuran
Tipe ini mengalami beberapa campuran tipe delusi yang sama rata, tanpa
ada yang lebih dominan satu sama lain.
 Tipe Tidak Jelas
Individu yang jatuh dalam kategori ini merupakan individu yang jenis
gangguannya tidak dapat dimasukkan dalam kategori spesifik manapun dan tidak
jelas.
VII. MEKANISME KOPING
Gangguan delusi jarang sekali dirasakan sebagai suatu problem bagi individu,
sehingga mereka menolak dilakukan intervensi medis, kecuali gangguan tersebut bila
dirasakan cukup mengganggu, kehilangan kontak sosial atau munculnya konflik
interpersonal. Assessment dan diagnosa harus dilakukan dengan hati-hati karena
kemunculan delusi berhubungan erat dengan beberapa gangguan lainnya; skizofrenia,
depresi, demensia, delirium, stress, gangguan keperibadian, penyalahgunaan obat-
obatan, narkoba, sakit anggota tubuh, dsb. Bagi beberapa pasien dengan gangguan
delusi, metode supportif kadang cukup membantu, keberhasilan metode ini dengan
memberikan dukungan kepada pasien untuk mengikuti treatment secara teratur
berupa memberikan pengetahuan dan pendidikan mengenai hubungan sosial (social-
skills training) dan mengurangi resiko dari dampak gangguan delusi seperti
kehilangan rasa peka, isolasi diri, stress dan menghindari terjebaknya dalam perilaku
kekerasan. Disamping itu pasien juga dibimbing dalam menghadapi dunia nyata,
bagaimana menyesuaikan harapan dan pikirannya dengan realistic.
Terapi kognitif juga dapat membantu pasien, ini dilakukan terapis dengan
membantu pasien mengidentifikasi pikiran-pikiran maladaptif dengan beberapa
pertanyaan yang disesuaikan dengan pengalaman individu. Selanjutnya terapis
memberikan alternative yang lebih adaptif dan dapat disesuaikan. Diskusi tentang
pikiran-pikiran delusi pasien dilaporkan cukup memberikan kontribusi membaiknya
pasien.
Untuk membantu pasien dengan gangguan delusi kadang dibutuhkan teman,
anggota keluarga atau kelompok diskusi, dukungan dari mereka dapat membantu
individu menumbuhkan kembali kepercayaan dan kemampuan dirinya seperti semula.
Cara terbaik adalah memberikan dukungan pendekatan positif dengan pasien berupa
kritikan dan nasehat secara terus menerus sehingga pasien akan mempunyai
pengalaman dalam menghadapi stres sehingga tidak semakim memburuknya delusi
tersebut.
VIII. SIMTOM
o Munculnya delusi atau pikiran aneh-aneh yang merupakan refleksi pemikiran dari
situasi tertentu yang kemudian muncul kedalam kehidupan nyata dengan waktu
durasi minimal selama 1 bulan atau lebih.
o Simtom berbeda dari skizofrenia bila individu belum pernah mengidap gangguan
tersebut, kecuali diikuti dengan delusi pembauan secara konsisten bersamaan
dengan tema yang ada.
o Tidak adanya gangguan perilaku (atau bentuk perilaku yang ganjil) dan gangguan
fungsi social.
o Gejala mood menyertai gejala delusi yang muncul berlangsung singkat selama
episode delusi berlangsung.
o Ganguan delusi tidak disebabkan oleh penggunaan obat dan kondisi medis
tertentu.
ASUHAN KEPERAWATAN DELUSIONAR DISODER

Dx: Ansietas

Definisi: Perasaan tidak NOC: Intervensi ( NIC )


nyaman atau kekawatiran  Anxiety self-control
yang sangat samar disertai  Anxiety level Anxiety Reduction
respon autonom (sumber  Coping (Penurunan Kecemasan)
sering kali tidak spesifik atau - Gunakan pendekatan
tidak diketahui oleh individu); Kriteria Hasi: yang menenangkan
perasaan takut yang  Klien mampu - Nyatakan dengan jelas
disebabkan oleh antisipasi mengidentifikasi dan harapan terhadap
terhadap bahaya. Hal ini mengungkapkan pelaku pasien
merupakan isyarat waspadaan gejala cemas - Jelaskan semua
yang yang memperingati  Mengidentifikasi, prosedur dan apa yang
individu akan adnya bahaya mengungkapkan dan dirasakan selama
dan mampukan individu untuk menunjukkan teknik prosedur
bertindak menghadapi untuk mengotrol cemas - Paham presepsi pasien
ancaman.  Vital sign dalam batas terhadap situasi stres
normal - Temani pasien untuk
Faktor yang Berhubungan:  Postur tubuh, ekspresi memberikan keamanan
 Perubahan dalam (status wajah, bahasa dan dan mengurangi takut
ekonomi lingkungan, tingkat aktivitas - Dorong keluarga untuk
status kesehatan, pola menunjukkann menemani anak
interaksi, fungsi peran, berkurangnya - Lakukan back/neck rub
status peran) kecemasan - Dengarkan dengna
 Pemanjaan toksin penuh perhatian
 Terkait keluarga - Identifikasi tingkat
 Herediter kecemasan
 Infeksi/kopntamin - Bantu pasien mengenal
interpersonal situasi yang
 Penularan penyakit menimbulkan
interpesonal kecemasan
- Dorong pasien untuk
 Kriis maturasi, krisis
mengungkapkan
situasional
perasaan, ketakutan,
 Stres, ancaman kematian
presepsi
 Penyalahguaan zat - Instruksikan pasien
 Ancaman pada status menggunakan teknik
ekonomi relaksasi
 Lingkungan, status - Berikan obat untuk
kesehatan, pola interaksi, mengurangi
fungsi peran, status peran, kecemasan
kensep diri
 Konflik tidak disadari
mengeni tujuan penting
hidup
 Konflik tidak disadari
mengeni nilai yang
ensesial/penting
 Kebutuhan yang tidak
terpenuhi

Batasan Karakteristik:
 Perilaku
- Penurunan
produktvitas
- Gerakan yang ireleven
- Gelsah
- Melihat sepintas
- Insomnia
- Kontak mata yang
memburuk
- Mengekspresikan
kekawatiran karena
perubahan dalam
peristiwa hidup
- Agitasi
- Mengintal
- Tampak waspada
 Affektif
- Gelisah, distress
- Kesidihan yang
mendalam
- Ketakutan
- Perasaan tidak adekuat
- Berfokus diri sendiri
- Peningkatan
kewaspadaan
- Intibilitas
- Gugup senang
berlebihan
- Rasa nyeri yang
meningkatkan
ketidakberdayaan yang
persisten
- Bingung, menyesal
- Ragu/tidak percaya
- Khawatir
 Fisiologis
- Wajah tenang. Termor
tangan
- Peningkatan keringat
- Peningkatan
ketegangan
- Gemetar, termor
- Suara bergetar
 Simpatik
- Anoreksia
- Eksitansi
kardiovarkular
- Diare, mulut kering
- Wajah marah
- Jantung berdebar-
debar
- Peningkatan tekanan
darh
- Peningkatan denyut
nadi
- Peningkatan reflek
- Peningkatan frekwensi
pernapasan, pupil
melebar
- Kesulitan bernapas
- Vasokontraksi
superfisial
- Lemah, kedutan pada
otot
 Parasimpatik
- Nyri abdimen
- Penurunan tekanan
darah
- Penurunan denyut nadi
- Diare, l mual, vertigo
- Letih, gangguan tidur
- Kesemutan pada
extermitas
- Sering beremih
- Sering anyang-
anyangan
- Dorongan segera
berkemih
 Kognitif
- Menyadari gejala
fisiologis
- Bioking pikiran,
konfusi
- Penurunan lapang
persepsi
- Kesulitan
berkonsentrasi
- Penurunan
kemampuan untuk
belajar
- Penurunan
kemampuan untuk
memcahkan masalah
- Ketakutan terhadap
konsekwensi yang
tidak spesifik
- Lupa, gangguan
perhatian
- Khawatir, melamun
- Cendrung
menyalahkan orang
lain

Dx: Gangguan Harga Diri Rendah Situasional

Definisi: Perkembangan NOC: Intervensi ( NIC )


persepsi negative tentang  Body image, disiturbed
harga diri sebagai respons  Coping, ineffective Self Esteem Enchancement
terhadap situasi saat ini  Personal indentity, - Tunjukkan rasa
(sebutkan) disturbed percaya diri terhadap
 Health behavior, risk kemampuan pasien
Faktor yang Berhubungan  Self asteem untuk mengatasi situasi
 Perilaku tidak selaras situasional, low - Dorong pasien
dengan nilai mengidentifikasi
 Perubahan Kriteria Hasil: kekuatan dirinya
perkembangan  Adaptasi terhadap - Ajarkan ketrampilan
 Gangguan citra tubuh ketunandayaan fisik : perilaku yang positif
 Kegagalan reposm adaptif klien melalui bermain pern,
 Ganguan fungsional terhadap tantangan model peran, diskusi
 Kurang penghargaan fungsional penting - Dukung peningkatan
akibat ketunandayaan penanggug jawab diri,
 Kehilangan
fisik. jika diperlukan
 Penolakan
 Resulasi berduaka : - Buat statement postif
 Perubahan peran sosial penyesuaian dengan terhadap pasien
Batasan Karakteristik kehilangan aktual atau - Monotoring frekuesi
 Evaluasi diri bahwa kehilangan yang akan komunikasi verbal
individu tidak mampu terjadi. pasien yang negative
menghadapi peristiwa  Penyesuaian - Dukung pasien untuk
 Evaluasi diri bahwa psikososial : perubahan menerima tantangan
individu tidak mampu hidup : respon - Kaji alasan-alasan ntuk
menghadapi situasi psikososial adaptiv mengkritik atau
 Perilaku bimbang individu terhadap menyalahkan diri
 Perilaku tidak asertif berubahan bermakna sendiri
 Secara verbal dalam hidup. - Kolaborasi dengan
melaporkan tantangan  Menunjukkan sumber-sumber lain
situasional saat ini penilaian pribadi (petugas dinas sosial,
terhadap harga diri tentang harga diri. perawat spesialis klinis
 Ekspresi  Mengungkapkan dan layanan
ketidakberdayaan penerimaan diri keagamaan)
 Komunikasi terbuka
 Seksperi
 Mengatakan Body Image Enhancement
ketidakbergunaan
optimisme tentang Counseling
 Verbalisasi
masa depan. - Menggunakan proses
menindakan diri
 Menggunakan stratego pertolongan interaktif
 kpping efektif. yang berfokus pada
kebutuhan, masalah
atau perasaan pasien
dan orang terdekat
untuk meningkatkan
atau mendukung
koping, pemecahan
masalah.

Coping Enhancement
Dx: Ketidakefektifan Koping

Definisi: Ketidakmampuan NOC: Intervensi ( NIC )


untuk membentuk penilaian  Decision making
valid tentang stressor,  Role inhasmet Decision Making
ketidakadekuatan pilihan  Sosial support - Menginformasikan
respon yang dilakukan pasien alternatif atau
dan/atau ketidakmampuan Kriteria Hasil: solusi lain penanganan
untuk menggunakan sumber  Mengidentifikasi pola - Memfasilitasi pasien
daya yang tersedia koping yang efektif untuk membuat
 Meningkatkan secara keputusan
verbal tentang koping - Bantu pasien
Faktor yang Berhubungan yang efektif mengidentifikasi
 Gangguan dalam pola  Mengatakan keuntungan, kerugian
penilaian ancaman, penurunan stress dari keadaan
melepas tekanan  Klien mengatakan
 Gangguan dalam pola telah menerima tentang Role Inhasmet
melapskan keadaanya - Bantu pasien untuk
tekanan/ketegangan  Mampu identifikasi bermacam-
 Perbedaan gender mengidentifikasi macam nilai kehidupan
dalam strategi koping strategi tentang koping - Bnatu pasien
 Derajad ancaman yang identifikasi strategi
tinggi positif untuk mengatur
 Ketidakmampuan pola yang dimiliki
untuk mengubah
energi yang adaptif Coping Enhancement
 Sumber yang tersedia - Anjurkan pasien untuk
tidak adekuat mengidentifikasi
gambaranan perubahan
 Dukunagn sosial yang
peran yang realitis
tidak adekuat yang
- Gunakan pendekatan
diciptakan oleh
tenang dan
karekteristik hubungan
menyakinkan
 Tingkat percaya diri
- Hindari pengambilan
yang tidak adekuat
keputusan pada saat
dalam kemampuan
pasien berada dalam
mengatasi masalah
stress berat
 Tingkat persepsi - Berikan informasi
kontrol yang tidak acrual yang terkait
adekuat dengan diagnosis,
 Ketidakadekuatan terapi dan prognosis
kesempatan untuk
bersiap terhadap Anticipatory Guidance
stresor
 Krisis maturasi, krisis
situasi
 Ragu

Batasan Karakteristik
 Perubahan dalam pola
komunikasi yang biasa
 Penurunan penggunaan
dukungan sosial
 Perilaku destuktif
terhadap diri sendiri
 Letih, angka penyakit
yang tinggi
 Ketidakmampuan
memperhatikan
informasi
 Ketidakmampuan
memenuhi kebutuhan
dasar
 Ketidakmampuan
memenuhi harapan
peran
 Pemecahan masalah
yang tidak adekuat
 Kurangnya perilaku
yang berfokus pada
pencapaian tujuan
 Kurangnya resolusi
masalah
 Konsentrasi buruk
 Mengungkapkan
ketidakmampuan
meminta bantuan
 Mengungkapkan
ketidakmampuan
untuk mengatasi
masalah
 Pengambilan risiko,
gangguan tidur
 Penyalahgunaan zat
 Menggunakan koping
yang mengguanakan
perilaku adaptif
Dx: Resiko Ketidakberdayaan

Definisi: Berisiko terhadap NOC Intervensi ( NIC )


pengalaman hidup kurang  Self Esteem situational
kendali terhadap situasi Low Self-Eficacy Enhancement
termasuk suatu persepsi  Body Image, Disturbed - Bantu pasien untuk
bahwa tindakan sesorang tidak  Knowledge, Readiness mengidentifikasi
secara bermakna for faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil  Enhanced dapat menimbulkan
 Coping, Ineffective keterberdayaan
Batasan Karakteristik  Death anxiety - Diskusi dengan pasien
 Ansistas  Life style, sedentary tentang pilihan yang
 Pemberi asuhan realitas dalam
 Harga diri rendah Kriteria Hasil: perawatan
kronik  Kepercayaan - Libatkan pasien dalam
 Kuurang pengatuhan kesehatan : presepsi pengambilan
 Kekurangan secara kemampuan keputusan tentang
ekonomi  Kepercayaan perawatan
 Penyakit kesehatan : presepsi - Jelaskan alasan setiap
kedali perubahan
 Pola koping tidak
 Menunjukkan perencanaan perawatan
efektif
penilaian pribadi terhadap pasien
 Kurang dukungan
tentang harga diri - Dukungan
sosial
 Mengungkapakna pengambilan
 Nyeri penerimaan diri keputusan
 Penyakit yang  Komunikasi terbuka - Kaji kemampuan untuk
melemahkan secara  Mengatakan pemngamilan
progresif optimisme tentang keputasan
 Harga diri rendah masa depan - Beri penjelasan kepada
situasional  Menggunakan strategi pasien tentang proses
 Marginalisasi sosial koping efektif penyakit
 Kondisi terstigma  Body image positif
 Perjalanan penyakit  Mampu Self Esteem Enhancement
yang tidak dapat mengidentifikasi - Tunjukkan rasa
diprediksi kekuatan personal percaya diri terhadap
 Mendiskripsikan kemmapuan pasien
secara faktual untuk mengatasi situasi
perubahan fungsi - Dorong pasien
tubuh mengidentifikasi
 Mampu beradaptasi kekuatan dirinya
dengan - Ajarkan ketrampilan
ketidakmampuan fisik perilaku yang positif
 Melaporkan dukungan melalui bermain peran,
yang adekuat dari model peran, diskusi
orang terdekat, teman- - Dukung peningkatan
teman dan tetangga tangguang jawab diri,
 Melaporkan waktu, jika diperlukan
keuangan pribadi dan - Buat statment positif
asuransi kesehatan terhadap pasien
yang memadai - Monitor frekuensi
 Melaporkan komunikasi verbal
ketersedian alat, bahan pasien yang negative
pelayanan dan lat - Dukung pasien untuk
transportasi menerima tantangan
 Melaporkan - Kaji alasan-alasan ntuk
mengetahui prosedur mengkritik atau
treatmen kesehatan menyalahkan diri
 Mampu mengontrol sendiri
kecemasan - Kolaborasi dengan
sumber-sumber lain
(petugas dinas sosial,
perawat spesialis klinis
dan layanan
keagamaan)

Dx: Hambatan Interaksi Sosial

Definisi: Insufisiensi atau NOC Intervensi ( NIC)


kelebihan kuantitas atau  Self esteem, situational
ketidakefektifan kualitas  Communication Socialization Enhancement
peertukaran sosial impaired verbal - Buat interaksi
terjadwal
Faktor yang Berhubungan Kriteria Hasil - Dorong pasien ke
 Ketadaan orang  Lingkngan yang kelompok atau
terdekat suportif yang program ketrampilam
 Kendala komunikasi bercirikan hubungan interpersonal yang
 Deficitntentang cara dan tujuan anggota membantu
meningkatkan keluarga meningkatkan
kebersamaan (mis;  Menggunakan aktivitas pemahaman tentang
pengetahuan, yang menenagkan, pertukaran informasi
ketrampilan) menarik, dan atau sosialisasi, jika
 Gangguan proses menyenangkan perlu identifikasi
piker meningkatkan perubahan perilaku
 Kendala lingkungan kesejahteraan tertentu
 Hambatan mobilitas  Interaksi sosial dengan - Berikan umpan balik
fisik orang kelompok atau positif jika pasien
organisasi berinteraksi dengan
 Gangguan konsep diri
 Memahami dampak orang lain
 Ketidak sesuaian,
diri perilaku diri pada - Fasilitasi pasien
sosiokultural interaksi sosial dengan
 Isolasi terapeutik  Mendapatkan/meningk memberimasukan dan
atkan ketrampilan membuat perencanaan
Batasan Karateristik interaksi sosial, - Anjurkan bersikap
 Ketidaknyamanan kerjasama, ketulusan jujur dan apa adanya
dalam situasi sosial dan saling memahami dalam berinterakasi
 Difungsi interaksi  Menggunakan dengan orag lain
dengan orang lain keinginan untuk - Anjurkan menghargai
 Laporan keluarga berhubungan dengan orang lain
tentang perubahan orang lain - Bantu pasien
interaksi (mis; gaya,  Oerkembangan fisik, meningkatkan
pola) kognitif, dan kesadaran tentang
 Ketidakmampuan psikososial anak sesuai kekuatan dan
untuk dengan usianya keterbatasan dalam
mengkomunikasi rasa berkomunikasi dengan
keterikatan sosial yang orang lain
memuaskan (mis; rasa - Gunakan teknik
memiliki, minat, bermain peran untuk
perhatian, berbagi meningkatkan
cerita) ketrampilan dan teknik
 Ketidakmampuan berkomunikasi
menerima rasa - Minta dan harapkan
keterikatan sosial yang adanya komunikasi
memuaskan (mis; rasa verbal
memiliki, minat,
perhatian, berbagi Self-Esteem Enhancement
cerita)
 Penggunaan perilaku Family Process
interaksi sosial yang Maintenance
tidak efektif
Complex Relationship
Buillding
Dx: Ketidakmampuan Koping Keluarga

Definisi: Perilaku terdekat NOC Intervensi ( NIC )


(anggota keluarga atau orang  Family coping, disable
penting lainnya) yang  Parenting, impaired Coping Enhancement
membatasi  Therapeutic regimen - Bantu keluarga dan
kapasitas/kemampuannya dan management mengenal masalah
kemampuan klien untuk  Ineffective (mis; penatalaksaan
secara efektif menangani  Violence: other konflik kekerasaan,
tugas penting mengenai directed, risk for kekerasan seksual)
adaptasi keduannya terhadap - Dorong partispasi
masalah kesehatan Kriteria Hasil keluarga dalam semua
 Hubungan pemberi pertemuan kelompok
Faktor yang Berhubungan asuhan pasien: interaksi - Dorong keluarga
 Penenganan resistensi dan hubungan yang untuk memperlihatkan
keluarga terhadap positif antara oemberi kekhawatiran dan
pengobatan yang dan penerima asuhan untuk membantu
berubah-ubah  Performa pemberi merencanakan
 Gaya koping yang asuhan perawatan
tidak sesuai antara  Perawatan langsung: pascahospitalisasi
orang terdekat dan penyediaan perawatan - Bantu motivasi
klien untuk kesehatan dan keluarga untuk
menangani tugas perawatan personal berubah
adaptif yang tepat kepada - Membantu pasien
 Gaya koping yang anggota keluarga oleh untuk beradaptasi
tidak sesuai diantara pemberi perawatan dengan persepsi
orang terdekat keluarga stressor, perubahan
 Hubungan keluarga  Kesejahteraan pemberi atau ncaman yang
yang sangat asuahan: derajat mengganggu
ambivalen persepsi positif pemenuhan tuntunan
 Orang terdekat lama mengenai status dan peran hidup
tidak mengungkapkan kesehatan dan kondisi - Dukung emosionanl:
perasaan (mis; rasa kehidupan pemberi memberikan
bersalah, cemas, perawatan primer penenangan,
permusuhan, putus  Potensial ketahanan penerimaan, dan
asa) asuhan dorongan selama
 Asuhan: faktor yang periode stress
Batasan karakteristik meningkatkan - Memfasilitas
 Pengabdian kontinuitas perawatn partisipasi keluarga
oleh pemberi dalam perawatan
 Agresi
perawatan keluarga emosi dan fisik pasien
 Agitasi
dalam periode waktu - Dukunagn keluarga:
 Menjamin rutinitas yang lama meningkatkan nilai,
biasa tanpa  Koping keluarga: minat dan tujuan
menghormayi tindakan keluarga keluarga
kebutuhan klien
 Peningkatan untuk mengelola - Panduan sistem
ketergantungan klien stersor yang kesehatan:
 Depresi membebani sumber- memfasilitasi lokal
 Membelot sumber keluarga pasien dan
 Tidak menghormati  Normalisasi keluarga: penggunaan
kebutuhan klien kapasitas system pelanyanan krsehatan
 Perilaku keluarga yang keluarga dalam yang sesuai
mengganggu mempertahankan - Mendorng pasien ikut
kesejahteraan rutinitas dan dalam aktivitas social
 Permusuhan mengembangkan dan komunitas
strategi untuk - Mendong pasien
 Gangguan
mengoptimalkan fungsi mencarai dorongan
individualisasi
jika ada anggota spiritual, jika
 Gangguan
keluarga yang sakit diperluakan
membangun kembali
kronis atau mengalami - Bantu anggota
kehidupan yang
ketunadayaan keluarga dalam
bermakna untuk diri
 Mampu mengatasi mengklarifikasi apa
sendiri
masalah keluarga yang mereka harapkan
 Intoleran  Mencari bantuan dan butuhkan stu sama
 Perawatan yang keluarga jika perlu lain
mengabaikan klien  Mencaoai stabilitas
dalam hal kebutuhan finansial untuk Caregiver Support
dasar manusia memenuhi kebutuha - Menyediakan
 Perawatan yang anggota keluarga informasi penting,
mengabaikan klien  Mamapu advokasi dan
dalam hal pengobatan menyelesaiakan konflik dukunagn yang
penyakit tanpa kekerasan membutuhkan untuk
 Hubungan yang  Memperlihatkan memfasilitasi
mengabaikan anggota fleksibilitas peran perawatan primer
keluarga lain  Mengungkapakan pasien selain dari
 Terlalu kawatir terus peningkatan pofesional kesehatan
menerus mengenai kemampuan untuk
klien melakukan koping Family Support
 Penolakan terhadap perubahan
 Psikosomatis dalam struktur dan
 Merasakan tanda dinamika keluarga
penyakit klien  Mengungkapakn
perasaan yang tidak
terselesaikan
 Identifkasi gaya koping
yang bertentangan
 Partisipasi dalam
pengembanngan dan
implementasi rencana
perawatan
Dx: Resiko Perilaku Kekerasan Terhadap Diri Sendiri

Definisi: Perilaku kekerasan NOC Intervensi ( NIC )


adalah suatu keadaan diman  Self mutilation
seseorang melakukan tindakan  Implus self control Behavior Management: Self
yang dapat membahayakan Harm
secara fisik baik terhadap diri Kriteria Hasil - Dorong pasien untuk
sendiri orang lain maupun  Dapat menahan diri mengungkapakn secara
lingkungan dapat mencederai diri verbal konsekuensi
sendiri dari perubahan fisik
Batasan Karakteristik  Intervensi awal untuk dan emosi yang
 Memperlihatkan mencegah respon mempengaruhi konsep
permusuhan agresif diperintahkan diri
 Mendekati orang lain halusinasi - Pertahankan
dengan ancaman  Pasien dapat lingkungan dan tingkat
 Memberikan kata-kata mengartikan sentuhan stimulus yang rendah
ancaman dengan sebagai ancaman - Ciptakan lingkungan
rencana melekui  Mencegah psikososial
 Menyentuh orang lain kemungkinan cedera - Kembangkan orientasi
dengan cara yang apsien atai orang lain kenyataan
menakutkan karena adanya perintah - Singkirkan semua
 Mempunyai rencana dari halusinasi benda berbahaya
untuk melukai  Perawat harus jujur - Lindungi klien dan
pada pasien sehingga keluarga dari bahaya
pasien menyadari halusinasi
bahwa suaru itu tidak - Tingkatkan peran serta
ada keluarga pada tiap
 Keterlibatan pasien tahap perawatan dan
dalam kegiatan jelaskan prinsip-
interpersonal akan prinsip pada halusinasi
menolong klien - Salurkan perilaku
kemabali dalam merusak pada kegiatan
realitas fisik
- Lakukan fiksasi bila
diperlukan
- Berikan obat-obtan
antipsikotik sesuai
dengan yang dapat
menurunkan
kecemasan dan
menstabilkan mood
dan menurunkan
stimulus kekerasan
terhadap diri sendiri

Impluse Control Training


- Ajarkan pasien
penggunaan tindakan
menenangkan diri
(nafas dalam)

Dx: Resiko Perilaku Kekerasan Terhadap Orang Lain

Definisi: Beresiko melakukan NOC Intervensi ( NIC )


perilaku yakni individu  Abuse protektion
menunjukkan bahwa ia daoat  Impluse self control Behavior Management
membahayakan orang lain - Tahan mengontrol
secara fisk, emosional Kriteria hasil pasien bertanggung
dan/atau seksual  Dapat mengidentifikasi jawab atas
faktor yang perilakukanya
Faktor Resiko menyebabkan perilalku - Komunikasi tentang
 Ketersediaan senjata kekerasan harapan bahwa pasien
 Bahasa tubuh (mis;  Dapat mengidentifikasi akan mempertahankan
sikap tubuh kaku/rigid, cara alternative untuk kontrol/kondisinya
mengepalkan jari dan mengatasi masalah - Konsultasinyakan
rahang terkunci,  Dapat mengidentifikasi dengan keluarga untuk
hiperaktivitas, denyut sistem mendukung menetapkan data dasar
jantung cepat, nafas dikomunitas kognetif pasien
terengah-engah, cara  Tidak menganiaya - Tetapkan batas dengan
berdiri mengancam) orang lain secara fisik, pasein
 Kerusakan (mis; emosinal atau seksual - Menahan diri dari
ketunadayaan belajar,  Dapat menahan diri berdebat atau tawar-
gangguan dificit dari menghancurkan menawar mengenai
perhatian, penurunan barang-barang milik batas yang ditetapkan
fungsi intelektual) orang lain dengan pasien
 Kejam pada hewan  Dapat - Menetapkan rutinitas
 Menyalakan api mengidentifikasi kapan - Menetapkan
 Riwayat penganiayaan marah, prustasi atau pergeseran-pergeseran
pada masa kanak- merasa agresif kekonsistensi dalam
kanak lingkungan dan
rutinitas perawatan
 Riwayat melakukan
- Menggunakan
kekerasan tak-
pengulangan secara
langsung (mis;
konsisten dapat dari
merobek pakaian,
rutinitas kesehatan
membanting obyek sebagai cara
yang tergantung menetapkan mereka
didinding, mencoret- - Menghindari gangguan
coret didinding, peningkatan aktivitas
beremih dilantai, fisik yang sesuai
defekasi dilantai, - Membatasi jumlah
mengetuk-ngetuk kaki, perawat memanfaatkan
berteriak, melempar suara, berbicara lembut
obyek, memcah rendah
jendela, banting pintu, - Menghindari
agresif seksual) kesendirian pasien
 Riwayat mengarahkan perhatian
peyalahgunaan zat dari suber agitasi
 Riwayat ancaman - Menghindari
kekerawasan memproyeksikan
 Riwayat menyaksikan gambaran mengancam
perilaku kekerasan - Menghindari berdebat
dalam keluarga dengan pasien
 Riwayat perilaku - Mengabaikan perilaku
kekerasan terhadap yang tidak pantas
orang lain - Mencegah perilaku
 Rriwayat perilaku agresif-pasif
kekerasan antisosial - Pujian upaya
(mis; mencuri, pengedalian diri
memasameminjam, - Mengobati seperlunya
memaksa menggangu - Menerapkan
pertemuan, menolak pergelangan
untuk makan, menolak tangan/kaki/hambatan
minum obat, menolak dada yang diperlukan
intruksi,)
 Impulsive
 Pelanggaran kendaraan
bermotor (mis; sering
melanggar lampu lalu
lintas, menggunakan
kendaraan bermotor
untuk melepaskan
kemarahan)
 Gangguan neurologis
(mis; EEG positif, CT,
temuan neurologis,
trauma kepala,
gagguan kejang)
 Intoksikasi patologis
 Komplikasi perinatal
 Komplikasi prenatal
 Simtomatologi
psikosis (mis; perintah
halusinasi
pendengaran,
penglihatan; delusi
parenoid, proses piker
tidak logis, tidak
teratue, atau tidak
konheren)
 Perilaku bunuh diri
DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM
IV). 2000.
Kusua W. Trans, Synopsis of Psychiatry. By. Kaplan HI. Sadock BJ. Greeb JA, Jakarta,
Binarupa Aksara. 1997: 460 – 61; 736-42; 42: 757-71.
Nurarif Amin Huda, Kusuma Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc Edisi Revisi Jilid 3. Jogjakarta: Mediaction.
Yager J. Gitlin MJ. Clinical Manifestations of Psychiatric. Ed.S Sadock BJ, Sadock VA. In

Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psyhiatry. 7th Edition. Philadelphia.


Lippincott Williams & Wilkins. 2000: 797-802.