You are on page 1of 8

Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 5 No 1 : 647-654, 2018

e-ISSN:2549-9793

HUBUNGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK TANAH


DENGAN BERAT ISI, POROSITAS DAN LAJU INFILTRASI PADA
PERKEBUNAN SALAK DI KECAMATAN PURWOSARI,
KABUPATEN PASURUAN
Relationship Between Soil Organic Matter Content and
Bulk Density, Porosity, and Infiltration Rate on Salak Plantation
of Purwosari District, Pasuruan Regency

Danny Dwi Saputra*, Amir Rakhim Putrantyo, Zaenal Kusuma


Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran no.1, Malang 65145
* penulis korespondensi: danny_saputra@ub.ac.id

Abstract
Poor quality of agricultural soil is characterized by low soil organic matter (OM) content, high bulk
density, low porosity, and low infiltration. One of efforts to improve soil quality is by adding OM
from biomass prunings. Aim of this study was to test the effectiveness of adding OM to the
increase of soil organic carbon (SOC) and its relationship with soil bulk density, porosity and
infiltration. This study was conducted at Salak (Salacca zalacca Gaertner Voss) plantation owned by a
smallholder farmer in Pasuruan District, East Java. Measurements were done at three different
treatments of organic material and condition, i.e. at litter stackline (addition of OM), between the
Salak plant (without OM addition) and pathway (farmer traffic line) on two age groups of Salak (10
and 20 years) with 3 replications. Soil samples were collected from three f soil profile depths, 00-10,
10-20 and 20-30 cm. Parameters measured were soil organic carbon content, bulk density, particle
density, porosity and infiltration rate. Results showed that addition of organic matter from Salak
biomass effectively increased the SOC content. However, the increase of SOC content only had
positive effects on soil bulk density, porosity, and infiltration rate at the 10 years old group of Salak
plantation.
Keywords: bulk density, C-organic, infiltration, salak plantation, soil porosity

Pendahuluan meningkatkan kualitas tanah harus berawal dari


peningkatkan kandungan bahan organik tanah.
Degradasi tanah berdampak pada penurunan Peningkatan kandungan bahan organik tanah
kualitas tanah dan diikuti oleh penurunan akan memicu aktifnya organisme dalam tanah,
produktivitas lahan pertanian (Lal, semakin tinggi aktivitas organisme tanah
2015).Kondisi ini dapat terjadi dan dipercepat khususnya yang berperan sebagai (ecosystem
apabila pengelolaan lahan yang dilakukan tidak enggineer) mampu memperbaiki porositas dan
sepenuhnya tepat sehingga dapat memicu stabilitas agregat tanah (Cardoso et al., 2013).
timbulnya erosi yang berlebihan (Kairis et al., Kondisi inilah yang kemudian disadari oleh
2013). Rendahnya kualitas tanah dicirikan para petani Salak di Kecamatan Purwosari,
dengan sedikitnya kandungan bahan organik Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Petani salak
tanah, tingginya berat isi tanah, rendahnya diwilayah ini berusaha untuk mempertahankan
porositas serta lambatnya laju infiltrasi kualitas tanahnya dengan menambahkan bahan
(Schoenholtz et al., 2000). Upaya untuk

http://jtsl.ub.ac.id 647
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 5 No 1 : 647-654
54, 2018
e-ISSN:2549-9793

organik yang berasal dari pangkasan biomassa bahan organik) kemudian dibandingkan dengan
tanah salak. Pangkasan biomassa salak bagian lahan yang tidak mendapatkan
diletakkan di jalur antar pohon salak dan tambahan bahan organik yaitu bagian sela antar
dibiarkan mengalami dekomposisi tanaman (- bahan organik) dan bagian lahan
dipermukaan tanah (tanpa dicampur dengan yang dijadikan jalan/ lalu lintas petani dalam
tanah). Upaya ini telah dilakukan cukup lama mengelola lahannya (lorong jalan). Pengukuran
oleh petani,
ani, namun hasil kajian ilmiah terkait masing-masing
masing variabel penelitian diulang
dampak penambahan bahan organik ini sebanyak 3 kali (3 ulangan) pada 2 kelompok
terhadap kualitas sifat fisik tanah masih belum umur
mur tanaman salak yang berbeda yaitu salak
pernah dilakukan. umur 10 tahun dan 20 tahun (Tabel 1).
Tujuan
ujuan penelitian ini adalah: 1)
mempelajari efektivitas penambahan bahan Tabel 1. Perlakuan penelitian
organik sisa pangkasan biomassa salak terhadap
te
peningkatan kandungan bahan organik tanah No Perlakuan Penelitian Kode
untuk kemudian dibandingkan dengan kondisi 1. Salak 10 tahun + BO 10 BO
tanpa tambahan bahan organik, 2) mempelajari 2. Salak10 tahun sela 10 Sela
pengaruh penambahan bahan organik terhadap 3. Salak 10 tahun lorong jalan 10 LJ
sifat fisik tanah seperti berat isi, berat jenis, 4. Salak 20 tahun + BO 20 BO
porositas dan infiltrasi konstan.
onstan. 5. Salak 20 tahun sela 20 Sela
6. Salak 20 tahun lorong jalan 20 LJ

Bahan dan Metode


Pengambilan contoh tanah untuk analisa
Tempat dan waktu penelitian laboratorium dilakukan pada 3 kedalaman
Penelitian dilaksanakan di Perkebunan Salak tanah yaitu 00-10, 10-20 20 dan 20 20-30 cm.
yang terletak di Kecamatan Purwosari, Variabel penelitian yang diamati pada penelitian
Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. ini beserta metode analisisnya adalah: a) tekstur
Pengambilan contoh tanah dan analisis tanah dengan metode pipet, b) C C-organik tanah
laboratorium dilaksanakan pada bulan (Walkley and Black), c) berat isi tanah
September 20155 hingga Juli 2016 di (gravimetri), d) berat jenis tanah (piknometer),
Laboratorium Fisika dan Kimia Jurusan Tanah, e) porositas tanah (perhitungan matematis
Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, menggunakan data berat isi ddan berat jenis, 1-
Malang. BI/BJ) dan f) laju infiltrasi konstan
(pengukuran dilapangan menggunakan metode
Pelaksanaan penelitian dan analisa statistik ring tunggal, perhitungan infiltrasi konstan
Untuk menguji hipotesis yang diajukan, menggunakan persamaan Horton dimana I =
pengukuran variabel-variabel
variabel penelitian Ic = (Io - Ic) e-kt). Gambar
ambar skematik titik
dilakukan pada bagian lahan yang mendapatkan pengukuran variabel penelitia
penelitian disajikan pada
perlakuan penambahan bahan organik (+ Gambar 1.

Gambar 1. Pengambilan contoh tanah dan pengukuran variabel penelitian dilakukan pada 3 titik
yang berbeda perlakuan akan tetapi pada lahan yang sama dan diulang sebanyak 3 kali

http://jtsl.ub.ac.id 648
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 5 No 1 : 647-654, 2018
e-ISSN:2549-9793

Untuk melihat signifikansi pengaruh perlakuan umum proporsi pasir dilokasi penelitian
terhadap variabel pengamatan dilakukan uji memiliki range yang sempit yaitu berkisar
keragaman (ANOVA) dengan taraf 5%. antara 6-9%, sedangkan untuk proporsi debu
Apabila terdapat perbedaan yang signifikan memiliki range yang lebih besar yaitu berkisar
antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji antara 38-58% dan liat antara 33%-62%.
Duncan dengan menggunakan GENSTAT 18th Variasi tekstur tanah juga dijumpai pada umur
edition. Untuk mengetahui hubungan keeratan tanaman salak yang berbeda. Pada umur salak
dan pengaruh antar variabel pengamatan 10 tahun, proporsi partikel liat mencapai rata-
dilakukan uji korelasi dan regresi menggunakan rata 53% sedangkan pada umur salak 20 tahun
MS Excel 2013. rata-rata hanya mencapai 43%. Adanya variasi
tekstur ini berpotensi akan memberikan
informasi atau data yang bias kaitannya dengan
Hasil dan Pembahasan efek perlakuan pemberian mulsa terhadap
Perbandingan partikel pasir, debu dan liat kandungan bahan organik, porositas dan laju
(tekstur tanah) infiltrasi tanah. Partikel liat merupakan fraksi
tanah yang dengan ukuran terkecil sehingga
Perbandingan proporsi partikel pasir, debu dan
memiliki porositas total yang tinggi namun
liat pada masing-masing perlakuan disajikan
didominasi oleh pori mikro atau pori kapiler
pada Gambar 2. Secara umum tekestur tanah
sehingga laju infiltrasi rendah (Haghnazari et al.,
pada lokasi penelitian masuk pada kelas tekstur
2015).
lempung berdebu dengan rata-rata kandungan
pasir 7%, debu 45% dan liat 48%. Secara
.

Pasir (%) Debu (%) Liat (%)

100%
90%
Partikel Tanah

80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
10 LJ 10 Sela 10 BO 20 LJ 20 Sela 20 BO
Perlakuan
Gambar 2. Perbandingan proporsi pasir, debu dan liat dilokasi penelitian

Kandungan bahan organik tanah Namun demikian, kandungan C-organik tanah


tidak berbeda nyata antar kedalaman tanah
Aplikasi pangkasan biomassa tanaman dalam dengan nilai rata-rata 2,16%. Kandungan C-
lahan-lahan pertanian diharapkan mampu organik tanah pada masing-masing perlakuan
meningkatkan kandungan bahan organik tanah disajikan pada Gambar 3. Kandungan C-
yang dicerminkan dengan semakin tingginya organik tanah pada 2 kelompok umur tanaman
konsentrasi carbon organik (C-organik) dalam salak (umur 10 dan 20 tahun) memiliki pola
tanah. Penambahan bahan organik hasil yang sama, namun pada umur tanaman 20
pangkasan biomassa tanaman salak tahun kandungan C-organik rata-rata lebih
memberikan dampak yang signifikan terhadap rendah (2,1%) dibandingkan pada umur 10
konsentrasi C-organik dalam tanah (p<0.05).

http://jtsl.ub.ac.id 649
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 5 No 1 : 647-654, 2018
e-ISSN:2549-9793

tahun (2,2%). Aplikasi bahan organik hasil 1% pada umur 20 tahun). Kaitannya dengan
pangkasan biomassa salak terbukti mampu sifat fisik tanah, bahan organik tanah berfungsi
meningkatkan kandungan C-organik 3 kali lipat untuk meningkatkan stabilitas struktur dan
(rata-rata 4%) dibandingkan tanpa aplikasi meningkatkan porositas tanah sehingga pada
bahan organik (rata-rata 1,2%). Sedangkan akhirnya mampu mempercepat masuknya air
pada perlakuan Sela dan Lorong jalan, kedalam profil tanah (Craswell and Lefroy,
kandungan C-organik tanah tidak berbeda 2001).
nyata (rata-rata 1,3% pada umur 10 tahun dan
5,0
4,5 c
c
C-Organik Tanah, %

4,0
3,5
3,0
2,5
2,0
b b
1,5 ab a
1,0
0,5
0,0
10 LJ 10 Sela 10 BO 20 LJ 20 Sela 20 BO

Perlakuan

Gambar 3. Sebaran kandungan C-organik tanah pada berbagai perlakuan, pemberian mulsa mampu
meningkatkan kandungan C-organik tanah dari kisaran 1,2% menjadi 4%

Berat isi dan berat jenis tanah cenderung menurunkan berat isi tanah, baik
Herdiansyah (2011) menyatakan bahwa pada kelompok umur salak 10 tahun maupun
pemberian bahan organik kedalam tanah dapat 20 tahun. Rata-rata berat isi tanah pada
meningkatkan jumlah ruang pori tanah dan kelompok umur salak 10 tahun adalah 1,28 g
membentuk struktur tanah yang remah cm-3, sedangkan pada umur 20 tahun adalah
sehingga akan menurunkan berat isi tanah. 1,21 g cm-3.
Namun demikian, pada penelitian ini adanya Apabila dilihat dari rata-rata berat isi
pemberian bahan organik dan variasi tanah pada kedalaman 00-10, 10-20 dan 20-30
pengelolaan lahan tidak mampu memberikan cm, berat isi tanah pada kedalaman 10-20 cm
pengaruh yang signifikan (p<0.05) terhadap memiliki nilai yang lebih tinggi (1,34 g cm-3)
berat isi tanah (Gambar 4). dibandingkan dengan kedalaman 20-30 cm
Berat isi tanah rata-rata pada lokasi (1,24 g cm-3) dan 00-10 cm (1,17 g cm-3). Selain
penelitian adalah 1,24 g cm-3, angka ini telah itu, yang menarik adalah tingginya intensitas
sedikit melampaui nilai kritis untuk tanah gangguan tanah yang terjadi pada perlakuan
pertanian yang sehat yaitu kurang dari 1,2 g cm- ’lorong jalan’ tidak menimbulkan pemadatan
3 untuk tanah-tanah berliat (Brouwer and tanah yang signifikan dibandingkan dengan
Jenkins, 2015). Nilai berat isi tanah lebih besar perlakuan bahan organik dan sela. Namun
dari 1,2 g cm-3 artinya tanah telah mengalami demikian, diperlukan upaya alternatif lain yang
proses pemadatan. Nampaknya upaya mudah dan murah untuk dilakukan oleh petani
peningkatan kandungan bahan organik tanah misalnya pengolahan tanah (pencangkulan)
melalui pengaplikasian pangkasan biomassa untuk menjaga berat isi tanah tidak menjadi
salak belum mampu untuk mengurangi berat isi semakin tinggi.
tanah. Meskipun apabila dilihat lebih detail, Sementara itu, berat jenis tanah diseluruh
perlakuan penambahan bahan organik titik pengamatan berkisar antara 2,4 hingga 2,6

http://jtsl.ub.ac.id 650
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 5 No 1 : 647-654, 2018
e-ISSN:2549-9793

g cm-3 dan secara statistik tidak berbeda nyata pada kedalaman 00-30 cm adalah 2,5 g cm-3.
(p<0.05). Demikian pula berat jenis tanah pada Sebaran berat jenis tanah pada berbagai
berbagai kedalaman, rata-rata berat jenis tanah perlakuan disajikan pada Gambar 5.

1,6
Berat Isi Tanah, g cm-3 1,4
1,2
1,0
0,8
0,6
0,4
0,2
0,0
10 LJ 10 Sela 10 BO 20 LJ 20 Sela 20 BO
Perlakuan
Gambar 4. Sebaran nilai berat isi tanah pada berbagai perlakuan, penambahan bahan organik belum
mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap penurunan berat isi tanah

3,0
Berat Jenis Tanah, g cm-3

2,5
2,0
1,5
1,0
0,5
0,0
10 LJ 10 Sela 10 BO 20 LJ 20 Sela 20 BO
Perlakuan
Gambar 5. Sebaran berat jenis tanah pada berbagai perlakuan, berat jenis tanah seragam baik pada
perlakuan jalan, tanpa mulsa maupun aplikasi mulsa

Pori total tanah mampu memberikan dampak yang signifikan


Dalam penelitian ini, nilai porositas merupakan terhadap peningkatan porositas tanah baik pada
hasil perhitungan matematika menggunakan kelompok umur 10 tahun maupun 20 tahun.
parameter berat isi dan berat jenis tanah. Hasil Kisaran porositas tanah adalah 46% hingga
analisis keragaman (p<0.05) menunjukkan 53% dengan nilai rata-rata 50%, angka ini
bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata merupakan nilai normal untuk porositas tanah
antar perlakuan percobaan, antar kedalaman pada tanah-tanah mineral. Namun demikian,
tanah maupun interaksi keduanya. Porositas kaitannya dengan laju infiltrasi nilai porositas
tanah dilokasi penelitian disajikan pada 50% belum menjamin bahwa laju infiltrasi akan
Gambar 6. Perlakuan pemberian bahan organik cepat karena tergantung dari distribusi ukuran
sisa pangkasan biomassa tanaman salak belum pori di dalamnya.

http://jtsl.ub.ac.id 651
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 5 No 1 : 647-654, 2018
e-ISSN:2549-9793

60

Porositas Tanah, %
50
40
30
20
10
0
10 LJ 10 Sela 10 BO 20 LJ 20 Sela 20 BO
Perlakuan

Gambar 6. Sebaran nilai porositas dari hasil perhitungan menggunakan data berat isi dan berat jenis

Laju infiltrasi konstan bahan organik 2 kali lebih tinggi dibandingkan


Nilai kecepatan infiltrasi konstan (steady state pada perlakuan ’lorong jalan’, sedangkan pada
infiltration) didekati dengan menggunakan kelompok umur 20 tahun mencapai 10 kali
model persamaan infiltrasi Horton (Beven, lipatnya. Tingginya tingkat gangguan manusia
2004). Hasil perhitungan laju infiltrasi disajikan pada perlakuan ’lorong jalan’ berdampak pada
pada Gambar 7. Laju infiltrasi konstan secara menurunnya laju infiltrasi konstan bila
statistik (p<0.05) berbeda nyata antar dibandingkan dengan perlakuan ’tanpa mulsa’
perlakuan. Pada kelompok umur tanaman 10 hingga sebesar 50%.
tahun, laju infiltrasi pada perlakuan pemberian

1,2 e
Infiltrasi konstan, cm jam-1

1,0 d
0,8 c
0,6 b
ab
0,4
a
0,2
0,0
10 LJ 10 Sela 10 BO 20 LJ 20 Sela 20 BO
Perlakuan

Gambar 7. Laju infiltrasi konstan pada berbagai perlakuan penelitian, adanya gangguan dari aktivitas
manusia seperti pada perlakuan ’lorong jalan’ mampu menurunkan laju infiltrasi akibat terjadinya
pemadatan permukaan tanah

Hubungan antar parameter pengamatan porositas tanah (Celik et al., 2010). Namun
Aplikasi biomassa tanaman dapat demikian, pada penelitian ini peningkatan
meningkatkan kandungan C-organik dalam kandungan C-organik dalam tanah secara
tanah yang pada akhirnya dapat menurunkan umum tidak berhubungan dengan penurunan
berat isi tanah disertai dengan peningkatan berat isi dan porositas tanah. Akan tetapi

http://jtsl.ub.ac.id 652
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 5 No 1 : 647-654
54, 2018
e-ISSN:2549-9793

apabila analisis regresi dilakukan dengan berat isi dan peningkatan porositas tanah
memisahkan data berdasarkan kelompok terutama pada kelompok umur 10 tahun
umurnya, adanya peningkatan kandungan C-
C (Gambar 8).
organik berhubungan erat dengan rendahnya

Gambar 8. Pada kelompok umur salak 10 tahun, peningkatan C-organik


C organik tanah melalui penambahan
pangkasan biomassa salak memberikan dampak positif terhadap nilai berat isi dan porositas tanah

Banyaknya ruang pori dalam tanah (porositas) bersamaan (tanpa melihat adanya variasi
menentukan cepat atau lambatnya air dapat kelompok umur). Namun demikian apabila
meresap kedalam tanah. Tanah dengan nilai analisa dilakukan per kelompok
lompok umur, terdapat
porositas tinggi akan meningkatkan laju hubungan yang erat antara peningkatan
infiltrasi tanah (Sklenicka et al.,
al 2002). Pada porositas tanah dengan laju infiltrasi konstan
penelitian ini, pengaruh tingginya porositas khusunya pada umur salak 10 tahun (Gambar
tanah dengan laju infiltrasi konstan tidak 9).
terlihat apabila analisa regresi dilakukan secara

http://jtsl.ub.ac.id 653
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 5 No 1 : 647-654
54, 2018
e-ISSN:2549-9793

Gambar 9. Pada kelompok umur salak 10 tahun, semakin tinggi porositas tanah berdampak pada
semakin meningkatnya laju infiltrasi konstan

Kesimpulan considered
ered to assess the effects of use and
management on soil health?. Scientia Agricola 70:
Aplikasi penambahan bahan organik melalui 274-298.
pangkasan biomassa salak mampu Celik, I., Gunal, H., Budak, M. and Akpinar, C.
meningkatkan kandungan bahan organik tanah, 2010. Effects of long-termterm organic and mineral
namun masih belum mampu untuk fertilizer on bulk density and penetration
memberikan
mberikan dampak yang signifikan terhadap resistance in semi-arid id Mediterranean soil
penuruan berat isi, berat jenis dan peningkatan conditions. Geoderma 160: 236 236-243.
porositas tanah. Peningkatan kandungan C- C Craswell, E.T. and Lefroy, R.D.B. 2001. The role
and function of organic matter in tropical soils.
organik tanah berpengaruh positif terhadap
Nutrient Cycling in Agroecosystems 61: 7-18.
berat isi, porositas dan laju infiltrasi konstan Haghnazari, F., Shahgholi, H. and Feizi, M. 2015.
tanah, namun ini hanya berlaku pada
pad kelompok Factor affecting the infiltration of agricultural
umur salak 10 tahun. Pada kelompok umur 20 soil: review. International Journal of Agronomy and
tahun penambahan bahan organik saja belum Agricultural Research 6 (5): 21--35.
cukup, perlu adanya upaya lain seperti Kairis, O., Karavitis, C., Kounalaki, A., Salvati, L.,
pengolahan tanah (pencangkulan) untuk and Kosmas, C. 2013. The Effect of land
memperbaiki kualitas sifat fisik tanah. management
ment practices on soil erosion and land
desertification in an olive grove. Soil Use and
Management 29: 597
597-606; doi:
Daftar Pustaka 10.1111/sum/12074
Lal, R. 2015. Restoring soil quality to mitigate soil
Beven, K. 2004. Robert E. Horton’s perceptual degradation. Sustainability 7: 5875-5895; doi:
model of infiltration processes. Hydrological 10.3390/su7055875
Processes 18: 3447-3460;
3460; doi: 10.1002/hyp.5740 Schoenholtz,
nholtz, S.H., Vam Miegroet, H. and Burger,
Brouwer, D. and Jenkins, A. 2015. Managing for J.A. 2000. A review of chemical and physical
Healthy Soil: AgGuide – A Practical Handbook. properties as indicators of forest soil quality:
NSW Agriculture, Tocal - New South Wales challenges and opportunities. Forest Ecology and
Cardoso, E.J.B.N., Vasconcellos, R.L.F., Bini, D., Management 138: 335-356.
Miyauchi, M.Y.H., dos Santos, C.A., Alves, Sklenicka, P., Lhota, T. and Cecetka, J. 2002. Soil
P.R.L., de Paula, A.M., Nakatani, A.S., Pereira, porosity along a gradien from forest edge to
J.M. and Nogueira, M.A. 2013. Soil Health: field. Die Bodenkultur 53 (4): 191
191-197.
looking for suitable indicator. What should be

http://jtsl.ub.ac.id 654