You are on page 1of 28

ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI

PEMBIMBING :

Ns. Sila Dewi Aggreni. Spd, Mkep, Sp. KMB

DISUSUN OLEH:

1. Riska eriza gusri


2. Rizka farhati
3. Sentot eko adiyatmo
4. Serly famawati
5. Shintia aptriawan
6. Sonya adisty
7. Sri yulia mustisa
8. Tri sudari
9. Vellia okti hendrian
10.Wina wandasari
11.Yusia okta vika
12.Yogi saputra

POLTEKKES KEMENKES PADANG


PRODI D.III KEPERAWATAN SOLOK
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat beserta karunia-Nya kepada kami, sehingga kami berhasil menyelesaikan
makalah ini yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI”
Salawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW,
beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membimbing kita dari jalan
kegelapan menuju jalan yang terang benderang.

Kami menyadari di dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh


karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Dan kami
mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat umumnya bagi para pembaca dan
khususnya bagi penulis sendiri.

Solok, 15 oktober 2018

Kelompok 3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Hipertensi adalah salah satu penyakit yang umum dijumpai di
masyarakat dan merupakan penyakit yang terkait dengan sistem
kardiovaskuler. Hipertensi memang bukan penyakit menular, namun kita
juga tidak bisa menganggapnya sepele, selayaknya kita harus senantiasa
waspada.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi dan arteroselerosis
(pengerasan arteri) adalah dua kondisi pokok yang mendasari banyak
bentuk penyakit kardiovaskuler. Lebih jauh, tidak jarang tekanan darah
tinggi juga menyebabkan gangguan ginjal. Sampai saat ini usaha-usaha
baik untuk mencegah maupun mengobati penyakit hipertensi belum
berhasil sepenuhnya, hal ini dikarenakan banyak faktor penghambat yang
mempengaruhi seperti kurang pengetahuan tentang hipertensi (pengertian,
klasifikasi, tadan dan gejala, komplikasi ) dan juga asuhan
keperawatannya.
B. Rumusan masalah
1. Apa itu pengertian hipertensi ?
2. Apa itu kasifikasi hipertensi ?
3. Apa itu jenis hipertensi
4. Apa itu etiologi hipertensi ?
5. Apa itu patofisiologi hiertensi ?
6. Apa itu alur klinis hipertensi
7. Apa itu tanda dan gejala hipertensi ?
8. Apa itu pemeriksaan penunjang hipertensi ?
9. Apa itu penatalaksanaan hipertensi ?
10. Apa itu komplikasi hipertensi ?
11. Apa itu asuhan keperawatan hipertensi
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian hipertensi ?
2. Mengetahui kasifikasi hipertensi ?
3. Mengetahui jenis hipertensi
4. Mengetahui etiologi hipertensi ?
5. Mengetahui patofisiologi hiertensi ?
6. Mengetahui alur klinis hipertensi
7. Mengetahui tanda dan gejala hipertensi ?
8. Mengetahui pemeriksaan penunjang hipertensi ?
9. Mengetahui penatalaksanaan hipertensi ?
10. Mengetahui komplikasi hipertensi ?
11. Mengetahui asuhan keperawatan hipertensi
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian hipertensi
Hipertensi dapat didefenisikan sebagai tekanan darah persisten
dengan tekanan sestolik diatas 140 mmhg dan tekanan darah diastolik
diatas 90 mmhg.pada populasi manula,hipertensi didefinisikan sebagai
tekanan sistolik > 160 mmhg dan tekanan diastolik > 90 mmhg(price
2005).hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang melebihi tekanan
darah normal seperti apa yang telah disepakati oleh para ahli,yaitu >
140/90 mmhg(sudoyo 2006).hipertensi adalah suatu keadaan ketika
seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang
mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka
kematian (mortalitas)(kushsariadi,2008)
Stadium dari awal dari hipertensi, disebut “prehipertensi”
didefinisikan sebagai tekanan darah sitolik antara 120-139 mmHg dan
tekanan darah diastolik antara 80-89 mmHg. ( Hurst, 2015 : 109 )
B. Klasifikasi
Join nation comitten on detection evolution and treatment of blood
pressure,badan penelitian hipertensi di amerika serikat,menentukan
batasan tekanan darah yang berbeda.pada laporan tahun 1993,dikenal
dengan sebutan jpc-v,tekanan darah pada orang dewasa berusia 18 tahun
diklasifikasikan sebagai berikut.
No Tekanan darah
Kriteria Sistolik diastolik
1 Normal < 130 < 85
2. Perbatasan(hight normal) 130-139 85-89
3. Hipertensi
Derajat 1 : ringan 140-159 90-99
Derajat 2 : sedang 160-179 100-109
Derajat 3 : berat 180-209 110-119
Derajat 4 : sangat berat ≥ 210 ≥ 120

C. Jenis hipertensi
a. Hipertensi Primer
Hipertensi primer adalah hipertensi yang belum diketahu
penyebabnya.diderita oleh sekitar 95% orang.oleh sebab itu,penelitian
dan pengobatan lebih ditujukan bagi penderita esensial.
Hipertensi primer diperkirakan disebabkan oleh faktor sebagai
berikut:
1. faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang
tuanya adalah penderita hipertensi.
2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang memengaruhi timbulnya hipertensi adalah
umur (jika umur bertambah maka tekanan darah meningkat),jenis
kelamin(pria lebih tinggi dari perempuan),dan ras(ras kulit hitam
lebih banyak dari kulit putih).
3. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering dan menyebabkan timbulnya
hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi(lebih dari 30
g),kegemukan atau makan berlebihan, stress, merokok, minum
alkohol, minum obat-obatan (efedrin, prednison, epinefrin).
b. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah terjadi akibat penyebab yang
jelas.contohnya hipertensi vaskular renal,yang terjadi akibat stenosis
arteri renalis.kelainan ini dapat bersifat kongenital atau akibat stenosis
arteri renalis.
Penyebab lain dari hipertensi sekunder,antara lain
feokromositoma,yaitu tumor penghasil epinefrin dikelenjar
adrenal,yang menyebabkan peningkatan keceptan denyut jantung dan
volume sekuncup,dan penyakit cushing,yang menyebabkan
peningkatan volume sekuncup akibat retensi garam dan peningkatan
CTR karena hipersensivitas sistem saraf simpatis aldosteronisme
primer(peningkatan aldosteron tanpa diketahui penyebabnya)dan
hipertensi yang berkaitan dengan kontrasepsi yang berkaitan dengan
kontrasepsi oral juga dianggap sebagai kontrasepsi sekunder.
c. Hipertensi Akibat Kehamilan
Hipertensi akibat kehamilan atau hipertensi gestasional adalah
jenis hipertensi sekunder.hipertensi gastasional adalah peningkatan
tekanan darah (>140 mmhg pada sistolik; >90 mmhg pada diastolik)
terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita non-hipertensi
dan membaik dalam 12 minngu pascapartum.
Pada preeklampsia,tekanan darah tinggi disertai dengna
proteinuria(dari daam urine setidaknya 0,3 protein dalam 24
jam).preklampesia biasanya terjadi setelah usia kehamiln 20 minggu
dan dihubungkan dengan penurunan aliran darah lasenta dan pelepasan
mediator kimiawi yang dapat menyebabkan disfunsi sel endotel
faskular diseluruh tubuh.kondisi ini merupakan gangguan yang sangat
serius,seperti halnya preklampesia superinposet pada hipertensi kronis.
D. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang
spesifik.hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan curah jantung atau
peningkatan perifer. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang memengaruhi
terjadinya hipertensi:
1. Genetik: respons neurologi terhadap stress atau kelainan ekskresi atau
transpor na.
2. Obesitas: terkait dengan tingkat insulin yang tinggi yang
mengakibatkan tekanan darah meningkat.
3. Stress karena lingkungan
4. Hilangnya elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua serta
pelebaran pembuluh darah.

Pada orang lanjut usia, penyebab hipertensi disebabkan terjadinya


perubahan pada elastisitas dinding aorta menurun, katup jantung menebal
dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah, kehilangan
elastisitas pembuluh darah, dan meningkatkan resistensi pembuluh darah
perifer.

E. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrok konstriksi dan reaksasi pembuluh
darah terletak di pusat vasomotor pada medulla di otak. Dari pusat
vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke
orda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis
di thoraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor di hantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke
ganglia simpatis.
Pada titik ini neuron preganglion melepaskan asetil kolin, yang
akan merangsang serabut saraf pasca gangglion ke pembuluh darah,
dimana dengan di lepaskan nya neuro pirefin mengakibatkan konstriksi
pembuluh darah. Berbagai faktor, seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respons pembulihdarah terhadap rangsang vaso
konstriktor. Lain dengan hipertensi sangat sensitif terhadap nore pinefrin,
meskipun tidak di ketahui dengan jelas mengapa hal tersebut dapat terjadi.
Pada saat yang bersamaan ketika saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vaso konstriksi. Medulla
adrenal men ekskresi epineprin, yang mengakibatkan vaso
konstriksi.korteks adrenal mengeksresi kortisol dan steroid lainnya yang
dapat memperkuat respons vaso konstrikstol pembuluh darah. Vaso
konstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran drah ke gnjal
mengakibatkan pelepasan renin. Renin yang dilepaskan merangsang
pembentukan angiotensin I yang kemudian di ubah menjadi angiotensin II,
vaso konstriktil kuat yang pada akhirnya merangsang ekskresi adosteron
oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi air oleh tubulus
ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor
tersebut cenderung mencetuskan hipertensi( “Brunner & Suddarth, 2002”).
F. Alur Klinis
Faktor predisposisi

Merangsang pusat vasomotor

Merangsang neuron pre ganglion untuk melepaskan


asetilkolin

Merangsang serabut pasca-ganglion ke pembuluh


darah untuk melepaskan norepinefrin

Kortisol dan steroid Kelenjar medula adrenal


lainnya disekresi oleh juga terangsang untuk
kelenjar korteks adrenal menyekresi epinefrin

Memperkuat

Vasokontriksi pembuluh darah

Penuluran aliran darah ke ginjal

Pelepasan renin

Merangsang pembentukan angiotensin I menjadi angiotensin II

Merangsang sekresi aldosteron


Restensi natrium dan air di tubulus

Peningkatan volume intravaskular

Hipertensi

Peningkatan resistensi terhadap pemompaan darah ventrikel

Peningkatan beban kerja jantung

Hipertrofi ventrikel kiri

Kerusakan vaskular

Sistemik
Koroner

Otak Ginjal
Penurunan suplai
𝑂2 ke kroner

Iskemik miokard
Obstruksi/ruptur
Disfungsi
pembuluh darah
ginjal
otak Nyeri dada

Stroke Gagal
hemorogik ginjal
Nyeri Diagnosa

dada keperawatan :
nyeri akut dan
intoleransi
Nyeri kepala Vaso kontriksi aktivitas

Peningkatan afterload

Diagnosa
keperawatn : Diagnosa
nyeri akut keperawatan :
penurunan curah
jantung

G. Tanda dan Gejala


Klien yang menderita hipertensi terkadang tidak menampakkan
gejala hingga bertahun tahun. Gejala jika ada menunjukkan gejala
kerusakan vaskuler, dengan manisfetasi yang khas sesuai sistem organ
yang di vaskularisasi oleh pembuluh darah yang bersangkutan. Perubahan
patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia(peningkatan
urinasi pada malam hari) dan azetoma(peningkatan nitrogen urea darah
dan kreatinin).
Pada pemeriksaan fisik, tidak di jumpai kelainan apapun selainan
tekanan drah ynag tinggi, tetapi juga dapat ditemukan perubahan pada
retina seperti perdarahan, eksudart, penyempitan pembuluh darah, dan paa
kasusberat edema pupil(edem pada diskus opticus).
Keterkibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau
serangan iskemik transien(transient ischemic attack, TIA) yang
bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada suatu sisi(hemiplegia)
atau gangguan tajam penglihatan (Smeltzer,2002).
Gejala umum yang ditimbulkan akibat menderita hipertensi tidak
sama pada setiap orang, bahkan terkadang timbul tanpa gejala. Secara
umum gejala yang dikeluhkan oleh penderita hipertensi sebagai berikut:
a. Sakit Kepala
b. Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk
c. Perasaan berputar seperti tujuh keliling serasa ingin jatuh
d. Berdebar atau detak jantung terasa cepat
e. Telinga berdenging

Crowin(2000) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul


setelah mengalami hipertensi bertahun tahun berupa:

a. Nyeri kepala saat terjaga, terkadang disertai mual dan muntah, akibat
peningkatan tekanan darah intrakarnial.
b. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi.
c. Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf
pusat
d. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus
e. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan
kapiler.
H. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
a) Albuminuria pada hipertensi karena kelainan parenkim ginjal.
b) Kreatinin serum dan BUN meningkat pada hipertensi karena
parenkim ginjal dengan gagal ginjal akut
c) Darah perifer lengkap.
d) Kimia darah( kalium,natrium,kreatinin,gula darah puasa)
2. EKG
a) Hipertrofi ventrikel kiri
b) Iskemia atau infark miokard
c) Peninggian gelombang P
d) Gangguan konduksi
3. Foto Rontgen
a) Bentuk dan besar jantung Noothing dari iga pada koarktasi aorta
b) Pembendungan, lebarnya paru
c) Hipertrofi parenkim ginjal
d) Hipertrofi vaskular ginjal
I. Penatalaksanaan
Tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan
resiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas serta morbiditas yang
berkaitan.
Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan
sistolikdi bwah 140 mmHg dan tekanan diastolikdi bawah 90 mmHg dan
mengontrol faktor resiko. Hal ini dapatdi capai melaluimodifikasigaya
hidup saja,atau dengan obat antihipertensi (mansjoer,2002).
Penatalaksanaan faktor resiko di lakaukan dengan cara pengobatan
serta non farmakologis, antara lain:
1) Pengaturan diet
Berbagai studi menunjukkan bahwa diet dan pola hidup sehat dan
dengan obat obatan yang menurunkan gejala gagal jantungdan dapat
memperbaiki keadaan hipertrofi ventrikel kiri.
Beberapa diet yang di anjurkan
a) Rendah garam, diet rendah garam dapat menurunkan tekanan darah
pada klien hipertensi. Dengan pengurangan konsmi garam dapat
mengurangi stimulasi sistem renin angiotensin sehingga sangat
berpotensi sebagai antihipertensi. Jumlah asupan natrium yang di
anjurkan 50-100 mmol atau setara dengan 3-6 gram garam per hari.
b) Diet tinggi kalium, dapat menurunkan tekanan darah tetapi mekanisme
nya belum jelas. Pemberian kalium secara intravena dapat
menyebabkan vasodilatasi, yang di percaya di mediasi oleh oksida
nitrat pada dinding vaskular.
c) Diet kaya buah dan sayur
d) diet rendah kolesterol sebagai pencegah terjadinya jantung koroner
2) Penurunan berat badan
Mengatasi obesitas, pada sebagian orang, dengan cara menurunkan
berat badan mengurangi tekanan darah, kemungkinan dengan mengurangi
beban kerja jantung dan volume sekuncup. Pada beberapa studi
menunjukkan bahwa obesitas berhubungan dengan kejadian hipertensi dan
hipertrofi ventrikel kiri. Jadi, penurunan berat badan adalah hal yang
sangat efektif untuk menurunkan tekanan darah.
Penurunan berat badan(1 kg per minggu) sangat di anjurkan.
Penurunan berat badan dengan menggunakan obat obatan perlu menjadi
perhatian khusus karena umumnya obat penurun berat badan yang terjual
bebas mengandung simpatomimetik, sehinga dapat meningkatkan tekanan
darah, memperburuk angina (gejala gagal jantung)dan terjadinya
eksaserbasi aritmia.

3) Olahraga
Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang, bersepeda
bermanfaat untuk menurunkan tkanan daah dan memperbaiki keadaan
jantung. Olahrag isotonik dapat juga meningkatkan fungsi endotel,
vasodilatasi perifer, dan mengurangi katekolamin plasma. Olahraga teratur
selama 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam satu minggu sangat di anjurkan
untuk menurunkan tekanan darah. Olahraga meningkatkan kadar HDL,
yang dapat mengurangi terbentuknya arterosklerosis akibat hipertensi.

4) Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat


Berhenti merokok dan tidak mengonsumsi alkohol, penting untuk
mengurangi efek jangka panjang hiperensi karena asap rokok diketahui
menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja
jantung.
Penatalaksanaan medis yang diterapkan pada penderita hipertensi
adalah sebagai berikut :
1. Terapi oksigen
2. Pemantauan hemodinamik
3. Pemantauan jantung
4. Obat-obatan :
a. Diuretik : chlorthalidon, hydromox, lasix, aldactone, dyrenium,
diuretic bekerja melalui berbagai mekanime untuk mengurangi
curah jantung dengan mendorong ginjal eningkatkan ekskresi
garam dan airnya sebagai diuretik ( tiazid) juga dapat menurunkan
TPR.
b. Penyekat saluran kalsium menurunkan kontraksi otot polos jantung
atau arteri dengan mengintervensi influks kalsium yang dibutuhkan
untuk kontraksi. Sebagian penyekat saluran kalsium bersifat lebih
spesifik untuk saluran lambat kalsium atau jantung, sebagian lain
lebih spesifik untuk saluran kalsium otot polos vaskular. Dengan
demikian, berbagai penyekat kalsium memiliki kemampuan yang
berbeda-beda dalam menurunkan kecepatan denyut jantung,
volume sekuncup dan TPR.
c. Penghambat enzim mengubah angiotensin II atau inhibitor ACE
berfungsi untuk menurunkan angiotensin II dengan menghambat
enzim yamg diperlukan untuk mengubah angiotensin I menjadi
angiotensin II. Kondisi ini menurunkan darah secara langsung
dengn menurunkan TPR dan secara tidak langsung dengan
menurunkan sekresi aldosterone, yang akhirnya meningkatkan
pengeluaran natrium pada urin kemudian menurunkan volume
plasma dan curah jantung. Inhibitor ACE juga menurunkan
tekanan darah dengan efek bradikinin yang memanjang, yang
normalnya memecah enzim. Inhibitor ACE di kontra indikasi
untuk kehamilan.
d. Antagonis (penyekat) respetor beta, terutama penyekat selektif,
bekerja pada reseptor beta di jantung untuk menurunkan kecepatan
denyut dan curah jantung.
e. Antagonis reseptor alfa (alfa blocker) menghambat reseptor alfa di
otot polos vaskular yang secara normal berespon terhadap
ransangan saraf simpatis dengan vasokonstriksi. Hal ini akan
menurunkan TPR.
f. Vasodilator arteriol langsung dapat digunakan untuk menurunkan
TPR. Misalnya natrium, nitroprusida, nikardipin, idralazin,
nitrogliserin, dll.
g. Hipertensi gestasional dan pre eklampesia membaik setelah bayi
lahir. ( Brunner & Suddarth, 2002)
J. Komplikasi
a) Stroke dapat terjadi akibat hemoragi akibat tekanan darah tinggi,
atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yanng
terpajan tekanan tinggi. Struk dapat terjadi pada hipertensi kronis
apabila arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertropi dan
penebalan, sehingga aliran darah ke area otak yang diperdarahi
berkurang.
b) Infarkmiokard dapat terjadi apabila artei koroner yang arteros
klerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen kemiokardium atau
apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran darah yang
melewati pembuluh darah. Pada hipertensi kronis dan hipertrofi
fentrikel kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat
dipenuhi dan dpat terjadi hiskemia jantung yang menyebabkan
infark. Demikian juga, hipertrofi fentrikel dapat menyebabkan
perubahan waktu antara listrik melintasi fentrikel sehingga terjadi
disritmia, hipoksi jantung, dan peningkatan resiko pembentukan
bekuan.
c) Gagal ginjal terjadi karen kerusakan progesif akibat tekana tinggi
pada kapiler glomelurus ginjal. Dengan rusaknya glomelurus,
aliran darah ke nefron akan terganggu dan dapat terlanjut menjadi
hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya membran glomelurus
protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid
plasma berkurang yang menyebabkan elema yang sering dijumpai
pada hipertensi kronis
d) Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi terutama pada
hipertensi malikna (hipertensi yang meningkat cepat yang
berbahaya). Tekana yang sangat tinggi pada kelainan ini
menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan
keruang interstisial diseluruh susunan saraf pusat.
e) Kejang dapat terjadi pada wanita prekklampsia. Bayi yang lahir
mungkin memiliki berat lahir kecil akibat perkusi plasnta yang
tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia dan asidosi jika
ibu mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan

K. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
a) Aktivitas dan istirahat
Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup menonton.
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,
takipmea.
b) Sirkulasi
1. Gejala :
Riwayat hipertensi, ateros klerosis, penyakit jantung koroner atau
katup dan penyakit serebrofaskuler.
Episode palpitas
2. Tanda
a. Peningkatan tekana darah
b. Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis,
takikardi
c. Murmurstenosis valfular
d. Distensi vena jugularis
e. Kulit pucat, sianosi, suhu dingin, (vasokontrisi perifer)
f. Pengisian kapiler mungkin lambat atau tertunda
c) Integritas ego
Gejala : riwayat perubhan kepribadian, ansietas, faktor stres
multipel (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan)
Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penjepitan perhatian,
tanggisan meledak, oto muka tegagng, menghela nafas,
peningkatan pola bicara
d) Eliminasi
Gejala : gagguan ginjal saat ini (seperi obstruksi) atau riwayat
penyakit ginjal pada masa lalu
e) Makan atau cairan
a. Gejala :
1. Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi
garam.
2. Mual, muntah dan perubahan bb saat in (meningkat)
3. Riwayat penggunaan diuretik
b. Tanda
1. Berat nadan normal atau obesitas
2. Adanya edema
3. Glikosurya
f) Neurosensori
a. Gejala :
1. Keluhan pening atau pusing, berdenyut, sakit kepala,
suboksipital (terjadi saat bangun dan meninghilang secara
spontan setelah beberapa jam).
2. Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur,
epistalkis)
b. Tanda :
1. Status menten, perubahan keterjagaan, orentasi, isi biacara,
efek, proses pikir.
2. Penurunan kekuatan genggaman tangan
g) Nyeri atau ketidaknyamanan
1. Gejala :
Angina ( penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung ), sakit
kepala
h) Pernafasan
Gejala :
1. Disnea yang berkaitan dengan aktivitas/ kerja, takipnea,
ortopnea, dispnea.
2. Batuk dengan atau tanpa pembentukan sputum
3. Riwayat merokok.

Tanda :

1. Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan


:bunyi nafas tambahan (crakles/ mengi)
2. Sianosis
i) Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi atau cara berjalan, hipotensi postural
j) Pembelajaran atau penyuluhan
1. Gejala :
a. Fakotr risiko keluarga : hipertensi, penyakit jatung, diabetes
melitus
b. Faktor lain : seperti orang afrika/amerika, asia tenggara,
penggunaan pil KB/hormon lain, penggunaan alkohol atau obat
k) Rencana pemulangan
Bantuan dengan pemantauan diri tekanan darah atau perubahan
dalam terapi dalam obat.
2. Diagnosa Keperawata
a. Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterloade, fasokonstriksi, hipertrofi pentrikel/rigiritas pentrikuer,
iskemia, miokrd.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidak
keseimbangan kebutuhan oksigen.
c. Nyeri akut berhubungan denganpenngkatan tekanan faskular selebral
3. Rencana Tindakan Keperawatan

NO Diagnosa Tujuan (NIC) Intervensi (NIC)


Keperawan
(1) (2) (3) (4)
1. Risiko Setelah dilakukan asuhan Perawatan jantung .
penurunan curah keperawatan selama...x24 jam a. Evaluasi adanya nyeri dada
jantung kliem menunjukkan curah jantung (intesitas, lokasi, radiasi,
berhubunungan adekuat, dengan kriteria : durasi dan faktor pencetos
dengan a. Tekanan darah dalam nyeri
peningkatan rentang normal. b. Lakukan penilaian,
afterload, b. Toleransi terhadap komprehensif terhadap
vasokontrasi, aktivitas sirkulasi perifer (misalnya
hipertropi atau c. Nadi perifer kuat cek nadi perifer, edema,
rigiditas d. Ukuran jantung normal penyisian kapiler, dan suhu
ventrikuler, e. Tidak ada distensi vena ekstrimitas
iskemia, jogularis c. Dokumentasikan adanya
miocard. f. Tiak ada disritmia disritmia jantung
g. Tidak ada bunyi jantung d. Catat tanda dan gejala
abnormal penurunan curah jantung
h. Tidak ada angina e. Observasi tanda-tanda vital
i. Tidak ada edema perifer f. Observasi status kardio
j. Tidak ada edema pulmonal vaskular
k. Tidak ada diaporesis g. Observasi disritmia jantung
l. Tidak ada mual termasuk gangguan irima dan
m. Tidak ada kelelahan konduksi
h. Observasi status respirasi
terhadap gejala gagal jantung
i. Observasi abdomen untuk
mengindikasikan adanya
penurunan perkusi
j. Observasikeseimbangan
cairan (asupan haluaran dan
berat badan harian)
k. Observasi fungsi pacemaker
sesuai kebutuhan
l. Kenali adanya perubahan
tekanan darah
m. Kenali pengaruh psikologis
yang mendasari kondisi klien
n. Evaluasi respon klien
terhadap disritmia
o. Kolaborasi dalam pemberian
terapi antiaritmia sesuai
kebutuhan
p. Observasi respon klien
terhadap pemberian terapi
antiaritmia.
q. Instruksikan klien dan
keluarga tentang pembatasan
aktivitas
r. Tentukan periode latihan dan
istirahat untuk menghindari
kelelahan
s. Observasi toleransi klien
terhadap aktivitas
t. Observasi adanya dispnea,
kelelahan, takipnea, dan
ortopnea
u. Anjurkan untuk mengurangi
stres
v. Ciptakan hubungan yang
saling mendukung antara
klien dan keluarga
w. Anjurkan klien untuk
melaporkan adanya ketidak
nyamanan dada.
x. Tawarkan dukungan spiritual
untu klien dan keluarganya.
2. Intoleransi Setelah dilakukan asuhan Manajemen energi
aktivitas keperawatan selama...x24 jam a. tentukan keterbatasan klien
berhubungan klien dapat menunjukkan toleransi terhadap aktivitas.
dengan terhadap aktivitas dengan kriteria b. tentukan penyebab lain kelelahan
kelemahan, : c. motivasi klien untuk
ketidak a. Klien dapat menentukan mengungkapkan perasaan tentang
seimbangan dan aktivitas yang sesuai keterbatasannya
kebutuhan dengan peningkatan nadi, d. observasi tentang asupan nutrisi
oksigen tekanan darah dan sebagai sumber energi yang adekuat
frekuensi napas e. observasi respons jantung-paru
mempertahankan irima terhadap aktivitas (mis, takikardi,
dalam batas normal disritmia,dispnea, diaporesis, pucat,
b. Mempertahankan warna tekanan hemodinamik dan frekuensi
dan kehangatan kulit pernafasan).
dengan aktivitas f. batasi stimulus lingkungan, (mis,
c. EKG dalam batas normal dan kegaduhan)
d. Melaporkan peningkatan g. dorong untuk melakukan periode
aktivitas harian istirahat dan aktivitas
h. rencanakan periode aktivitas saat
klien memiliki banyak tenaga
i. hindari aktivitas selama periode
istirahat.
j. bantu klien untuk bangun dari
tempat tidur atau duduk di samping
tempat tidur atau berjalan
k. dorong klien untuk melakukan
aktivitas harian sesuai sumber energi
l. ajarkan klien dan keluarga teknik
untuk memenuhi kebutuhan sehari
hari yang dapat meminimalkan
penggunaan oksigen
m. instruksikan klien atau keluarga
untuk mengenal tanda dan gejala
kelelahan yang memerlukan
pengurangan aktivitas
n. bantu klien atau keluarga untuk
menentukan tujuan aktivitas yang
realitas.
o. bantu klien untuk mengidentifikasi
aktivitas yang lebih disukai
p. dorong klien untuk memilih
aktivitas yang sesuai dengan daya
tahan tubuh
q. evaluasi program peningkatan
Terapi aktivitas :
a. tentukan komitmen klien untuk
peningkatan frekuensi atau rentang
untuk aktivitas
b. bantu klien untuk mengungkapkan
kebiasaan aktivitas yang paling
berarti dan aktivitas favorit di waktu
luang
c. bantu klien untuk memilih
aktivitas yang konsisten dengan
kemampuan fisik, psikologis, dan
sosial
d. bantu klien untuk memfokuskan
apa yang akan dilakukan dari pada
apa kekurangannya
e. bantu klien mendapatkan
trensportasi untuk beraktifitas yang
sesuai
f. bantu klien untuk mengidentifikasi
pilihan aktivitas
g. bantu klien untuk mengidentifikasi
aktivitas yang berarti
h. bantu klien untuk menjadwalkan
periode khusus untuk hiburan diluar
aktivitas rutin
i. bantu klien atau keluarga untuk
menyesuaikan lingkungan untuk
mengakomodasi keinginan
beraktivitas
j. berikan penguatan positif terhadap
partisipasi klien dalam beraktivitas
k. observasi respons emosi, fisik,
sosial, dan spiritual terhadap
aktivitas

3. Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan Manajemen nyeri :


berhubungan keperawatan selama...x24 jam a. kaji nyeri secara komprehensif,
dengan klien dapat mengontrol nyeri, meliputi lokasi, karakteristik dan
peningkatan dengan kriteria : awitan, durasi, frekuensi, kualitas,
tekanan vaskular a. mengenal faktor penyebab nyeri intensitas/beratnya nyeri, dan faktor
serebral b. awitan nyeri presipitasi
c. tindakan pencegahan b. observasi isyarat non-verbal dari
tindakan pertolongan non- ketidaknyamanan, khususnya dalam
analgetik ketidakmampuan untuk komunikasi
e.menggunakan analgetik dengan secara efektif
tepat c. berikan analgetik sesuai dengan
f. mengenal tanda pencetus nyeri anjuran
untuk mencari pertolongan d. gunakan komunikasi terapeutik
g. melaporkan gejala kepada agar klien dapat mengekspresikan
tenaga kesehatan (perawat/dokter) nyeri
h. menunjukan tingkat nyeri, e. kaji latar belakang budaya klien
dengan kriteria : f. tentkan dampak dari ekspresi nyeri
i. melaporkan nyeri terhadap kualitas hidup : pola tidur,
j. pengaruh pada tubuh nafsu makan, aktivitas kognisi,
k. frekuensi nyeri mood, hubungan, pekerjaan,
l. lamanya episode nyeri tanggung jawab peran,.
m. ekspresi nyeri g. kaji pengalaman individu terhadap
n. posisi melindungi bagian tubuh nyeri, keluarga dengan nyeri kronis
yang nyeri h. evaluasi efektivitas dari tindakan
o. kegelisahan mengontrol nyeri yang telah
p. perubahan respirasi digunakan
q. perubahan nadi i. berikan dukungan terhadap klien
r. perubahan tekanan darah dan keluarga
s. perubahan ukuran pipil j. berikan informasi tentang nyeri,
t.perspirasi/berkeringat seperti penyebab, berapa lama
u. kehilangan nafsu makan terjadi, dan tindakan pencegahan
k. kontrol faktor lingkungan yang
dapat memengaruhi respons klien
terhadap, ketidaknyamanan (mis,
temperatur ruangan, penyinaran, dll)
l. anjurkan klien untuk memonitor
sendiri nyeri
m. tingkatkan tidur/istirahat yang
cukup
n. ajarkan penggunaan teknik non-
farmakologi (mis, relaksasi,
imajinasi terbimbing, terapi musik,
distraksi, terapi panas-dingin,
masase)
o. evaluasi efektivitas tindakan
mengontrol nyeri
p. modifikasi tindakan mengontrol
nyeri berdasarkan respons klien
q. anjurkan klien untuk berdiskusi
tentang pengalaman nyeri secara
tepat
r. beritahu dokter jika tindakan tidak
berhasil atau terjadi keluhan
s. informasikan kepada tim kesehatan
lainnya/anggota keluarga saat
tindakan non-farmakologi dilakukan,
untuk perdekatan preventif
t. monitor kenyamanan klien
terhadap manajemen nyeri
Pemberian analgetik
a. tentukan lokasi nyeri,
karakteristik, kualitas, dan keparahan
sebelum pengobatan
b. berikan obat dengan prinsip 5
benar
c. cek riwayat alergi obat
d. libatkan klien dalam pemilihan
analgetik yang akan digunakan
e. pilih analgetik secara tepat atau
kombinasi lebih dari satu analgetik
jika telah diresepkan.

4. Evaluasi
Diagnosa keperawatan : risiko penurunan curah jantung
1. Klien melaporkan atau menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas
2. Klien mendemonstrasikan penurunan tanda fisilogis intoleransi aktivitas
Diagnosa keperawatan : nyeri akut
1. Klien mengidentifikasi metode penghilangan nyeri
2. Klien melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
3. Klien mendemonstrasikan keterampilan teknik relaksasi dan distraksi
sesuai indikasi.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hipertensi dapat didefenisikan sebagai tekanan darah persisten


dengan tekanan sestolik diatas 140 mmhg dan tekanan darah diastolik
diatas 90 mmhg.pada populasi manula,hipertensi didefinisikan sebagai
tekanan sistolik > 160 mmhg dan tekanan diastolik > 90 mmhg(price
2005).hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang melebihi tekanan
darah normal seperti apa yang telah disepakati oleh para ahli,yaitu >
140/90 mmhg(sudoyo 2006).hipertensi adalah suatu keadaan ketika
seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang
mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka
kematian (mortalitas)(kushsariadi,2008)
DAFTAR PUSTAKA

Aspiani, Reni Yuli. 2014. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskular


Aplikasi Nic & Noc. Jakarta : EGC

Hurst, Marlene. 2015. Keperawatan Medikal Bedah Vol 1. Jakarta : EGC