You are on page 1of 14

MAKALAH

KERAJAAN SINGOSARI

Disusun Oleh :
1. Samfikar Z.
2. Arifin Ilham
3. Ilham Maulana
4. Robi Aditiya
5. Kafid Amanuwoh
6. Irfan Ahmad Zaeni
Kelas : VII G

SMP NEGERI 04 WANASARI


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas semua limpahan nikmat
dan karunia-Nya. Dan tak lupa pula kami haturkan sholawat dan salam kepada junjungan
Nabi Besar Muhammad SAW, nabi akhir zaman, yang mengenalkan kepada kami jalan
kebenaran yakni Islam.
Akhirnya kami mampu merampungkan makalah Sejarah Kebudayaan Indonesia yang
membahas tentang “Kerajaan Singasari”. Makalah ini kami buat dalam rangka memperdalam
pengetahuan kami tentang Kerajaan Singasari.
Demikian makalah ini kami buat, semoga bermanfaat bagi kami sendiri dan segenap
para pembaca yang budiman. Tentunya dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan baik
format maupun isi dari makalah itu sendiri. Oleh karena itu, kami berharap ada masukan atau
kritikan yang membangun dari segenap pembaca yang budiman, khususnya kepada Ibu
Fatiyah selaku pengampu materi Sejarah Kebudayan Indonesia.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kerajaan Singasari adalah sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok (Sri
Rajasa) pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan di daerah Singasari,
Malang.[1] Kerajaan Singasari (1222-1293) adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara
yang bercorak Hindu-Budha. Awal mulanya Kerajaan Singasari berawal dari daerah Tumapel
yang berada di bawah payung kekuasaan Kerajaan Kadiri. Tumapel merupakan negara bagian
dari Kerajaan Kadiri. Wilayah Tumapel pada saat itu dikuasai oleh seorang Akuwu (bupati)
yang bernama Tunggul Ametung.
Berkat jasa dan bantuan pendeta Lohgawe, Ken Arok menghambakan dirinya kepada sang
Akuwu Tumapel Tunggul Ametung. Namun, nantinya Ken Arok tertarik dengan istri Tunggul
Ametung yang bernama Ken Dedes. Maka dibunuhlah Tunggul Ametung. Kemudian Ken
Dedes dipersunting sebagai istrinya. Pada waktu itu, Ken Dedes sedang mengandung anak
dari Tunggul Ametung yang masih berumur tiga bulan.
Ken Arok merebut Tumapel, salah satu wilayah Kerajaan Kadiri yang dipimpin Tunggul
Ametung, pada tahun 1222. Pada saat Ken Dedes dikawini oleh Ken Arok ia memiliki
seorang anak bernama Anusapati yang nantinya membunuh Ken Arok sebagai bentuk balas
dendam atas tindak pembuhunan yang pernah ia lakukan terhadap ayahnya (Tunggul
Ametung). Anusapati nantinya menjadi raja kedua dari Kerajaan Singasari pada tahun (1227-
1248). Kerajaan Singasari mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Raja Kertanagara
(1268-1292) yang bergelar Maharajadhiraja Kertanagara Wikrama Dharmottunggadewa.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya Kerajaan Singasari/Tumapel?
2. Siapa sajakah raja-raja yang sempat menduduki tahta Kerajaan Singasari?
3. Bagaimana masa kejayaan Kerajaan Singasari?
4. Bagaimana kondisi sosial masyarakat, ekonomi, budaya dan politik Kerajaan
Singasari?
5. Bagaimana masa kemunduran Kerajaan Singasari?
C. Batasan Masalah
Membahas Kerajaan Singasari/Tumapel.

D. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Kerajaan Singasari/Tumapel.
2. Untuk mengetahui raja-raja yang sempat menduduki tahta Kerajaan Singsari.
3. Untuk mengetahui masa kejayaan Kerajaan Singasari.
4. Untuk mengetahui kondisi sosial, ekonomi, budaya dan politik Kerajaan Singasari.
5. Untuk mengetahui masa kemunduran Kerajaan Singasari.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Berdirinya Kerajaan Singasari


Sebelumnya Kerajaan Singasari dikenal dengan Kerajaan Tumapel. Tumapel bisa
dianggap negara bagian/bawahan Kerajaan Kadiri dibawah pemerintahan Akuwu (Bupati)
Tunggul Ametung. Berkat jasa dan bantuan pendeta Lohgawe, Ken Arok menghambakan
dirinya kepada sang Akuwu Tumapel Tunggul Ametung, Ken Arok pun menjadi pengawal
kepercayaannya. Namun, Ken Arok pun tertarik kepada Ken Dedes istri Tunggul Ametung, ia
pun berniat menyingkirkan Ametung. Akhirnya, Ken Arok membunuhnya dengan keris yang
dibuat oleh Empu Gandring. Setelah berhasil membunuhnya, ia merebut dan menikahi Ken
Dedes serta mengangkatnya sebagai permaisurinya. Pada waktu itu Ken Dedes sedang
mengandung anak Tunggul Ametung yang berumur tiga bulan.
Selanjutnya Ken Arok ingin membebaskan Tumapel dari jerat Kerajaan Kadiri yang
dipimpin oleh Kertajaya. Pada masa itu Tumapel merupakan sebuah daerah keakuwuan
(kadipaten) yang masuk wilayah kekuasaan Kerajaan Kadiri. Pada saat itu Kadiri dipimpin
oleh Kertajaya atau Dandang Gendis. Ken Arok (Angrok) menunggu momentum yang tempat
untuk memberontak dan melepaskan diri dari cengkraman Kertajaya. Keinginannya pun
terwujud, ketika kaum Brahmana Kadiri meminta perlindungan kepada Ken Arok dari
tindakan-tindakan Kertajaya yang melanggar adat. Para pendeta tidak mau tunduk
terhadapnya dan hijrah ke Tumapel dengan menghambakan diri kepada Ken Arok.
Momentum ini, ia gunakan untuk menggulingkan Kertajaya dari tampuk kekuasaan Dengan
restu pendeta, ia melancarkan serangan pada tahun 1222 M/1144 (Tahun Saka) kepada raja
Kertajaya. Akhirnya Kertajaya gugur di medan perang yang terjadi di desa Ganter.[2]
Kerajaan Kadiri pun runtuh digantikan oleh Kerajaan Singasari yang dipelopori oleh
Ken Arok. Dan seluruh wilayah bekas kekuasan Dandang Gendis ia persatukan dalam otoritas
kekuasaannya. Kerajaan Singasari (1222-1293) adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara
yang bercorak Hindu-Budha. Pada perkembangannya, daerah kekuasaan Singasari nantinnya
meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Palembang, Jambi, Pahang, Tumasik, Bangka, Tanjung
Pura, Bantayan dan Seram.[3]
Dengan kemenangannya dalam perang atas Kertajaya, ia menyatakan dirinya sebagai
raja Singasari dengan gelar Sri Rajasa Bhattara Sang Amurwabhuni. Ken Arok sebagai
pendiri Singasari ditegaskan dalam Prasasti Mula Malurung yang berangka tahun 1255, tetapi
di dalamnya Ken Arok disebut dengan nama Siwa. Raja Ken Arok memiliki permaisuri Ken
Dedes dan selir Ken Umang. Dalam kitab Nagarakretagama, Ken Arok bergelarkan Ranggah
Rajasa Sang Girinathaputra. Sedangkan dalam kitab Pararaton, Ken Arok menyandang
gelar Sri Rajasa Bhattara Sang Amurwabhuni.[4]
Ken Arok sebagai raja yang bergelar Sang Amurwabuni, Ken Arok memiliki
sifat bhairawa anoraga, dalam artian perkasa secara fisik dan lemah lembut secara spiritual,
serta selalu membumi (bhumi sparsa mudra). Dengan pengertian lain, kepemimpinan Ken
Arok tetap berorientasi pada kerakyatan yang setia pada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran
dan senantiasa bersifat sosial. Salah satu aktualisasi sifat kesetiaan dan balas budi Ken Arok,
dinyatakan pada pengangkatan Dang Hyang Lohgawe sebagai pendeta istana yang telah
berjasa terhadapnya. Serta memberikan hak-hak prerogatif kepada Bango Samparan, anak-
anak pandai besi di Lulumbang dan anak Mpu Gandring.
Berdasarkan dalam kitab Pararaton, Ken Arok tewas pada hari Kamis Pon, Minggu
Landhep, tahun Saka 1170/1247 (Pararaton) atau 1227 (Negarakretagama) di tangan seorang
berpangkat pengalasan dari Desa Batil suruhan Anusapati (putra Tunggul Ametung dan Ken
Dedes).[5] Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222-1227) dan ia didharmakan
di Kagenengan dalam bangunan suci agama Siwa dan Budha.[6] Sesudah Ken Arok
meninggal melalui keris buatan Mpu Gandring, Anusapati menjadi raja Singasari bergelar
Bhantara Anusapati.

B. Raja-raja Kerajaan Singasari


Kerajaan Singasari merupakan kerajaan yang bercorak Budha dengan usianya yang tak lebih
dari 1 abad (100 tahun). Kerajaan Singasari hanya melahirkan lima orang raja, yakni[7]:
1. Ken Arok/Angkrok (1222-1227)
Ken Arok (Angkrok) ini merupakan pendiri Kerajaan Singasari dan Raja pertama. Ia
telah berhasil menggulingkan Kertajaya raja terakhir dari Kerajaan Kadiri. Ia mengambil alih
kekuasaan dan menyatukan wilayah Kadiri sisa dari kekuasaan Kertajaya. Asal usul Ken Arok
menurut Pararaton menyebutkan ia anak dewa Brahma yang dilahirkan oleh seorang wanita
petani dari desa Pangkur, di daerah sebelah timur Gunung Kawi. Akan tetapi, mengingat
fungsi kedudukan raja dalam masyarakat Indonesia kuno dan juga keadaan serta susunan
masyarakat dengan sistem-sistem kepercayaannya, tentulah Ken Arok anak seorang penguasa
atau Sang Amawabhumi walaupun ibunya seorang wanita desa.
Dalam serat pararaton Ken Arok, sebelum menjadi raja berkedudukan sebagai seorang
akuwu di Tumapel pengganti Tunggul Ametung. Hal itu, berkat bantuan pendeta Lohgawe
agar Tunggul Ametung mengizinkannya sebagai seorang pengabdi terhadapnya. Namun, pada
akhirnya Ken Arok tertarik pada istri Tunggul Ametung yaitu Ken Dedes, sehingga ia
membunuhnya dengan menikamkan keris buatan Mpu Gandring. Dan ia pulalah pada
nantinya yang menggulingkan Dandang Gendis (Kertajaya) raja terakhir dari Kerajaan Kadiri.
Kemudian, Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari. Dalam kitab Nagarakretagama Ken
Arok selaku raja bergelar Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra. Sedangkan dalam kitab
Pararaton, Ken Arok menyandang gelar Sri Rajasa Bhattara Sang Amurwabhuni.
Ken Arok memiliki sifat bhairawa anoraga, dalam artian perkasa secara fisik dan
lemah lembut secara spiritual, serta selalu membumi (bhumi sparsa mudra). Dengan
pengertian lain, kepemimpinan Ken Arok tetap berorientasi pada kerakyatan yang setia pada
janji, berwatak tabah, kokoh, toleran dan senantiasa bersifat sosial. Berdasarkan dalam kitab
Pararaton, Ken Arok tewas pada hari Kamis Pon, Minggu Landhep, tahun Saka 1170/1247
(Pararaton) atau 1227 (Negarakretagama) di tangan seorang berpangkat pengalasan dari Desa
Batil suruhan Anusapati (putra Tunggul Ametung dan Ken Dedes). Ken Arok hanya
memerintah selama lima tahun (1222-1227) dan ia didharmakan di Kagenengan dalam
bangunan suci agama Siwa dan Budha. Sesudah Ken Arok meninggal melalui keris buatan
Mpu Gandring, Anusapati menjadi raja Singasari bergelar Bhantara Anusapati.
2. Anusapati (1227-1248)
Dari pararaton dapat diketahui bahwa Anusapati bukanlah keturunan dari Ken Arok dengan
Ken Dedes melainkan keturunan dari Tunggul Ametung dengan Ken Dedes. Pada waktu Ken
Dedes diambil oleh Ken arok, Ken Dedes dalam kondisi hamil, berumur 3 bulan. Selang
beberapa bulan, lahirlah bayi tersebut yang diberi nama Anusapati. Setelah ia dewasa, ia
mendengar bahwa ia bukanlah anak dari Ken Arok dan ia mendengar tentang kematian ayah
kandungnya. Dan akhirnya Anusapati menuntut balas atas kematian ayahnya dengan
membunuh Ken Arok.
Setelah Ken Arok berhasil dibunuhnya, Anusapati menggantikannya sebagai raja dari
Kerajaan Singasari. Lambat laun berita pembunuhan Anusapati atas Ken Arok terdengar oleh
Panji Tohjaya keturunan dari Ken Arok dan Ken Umang. Panji Tohjaya menuntut balas atas
kematian ayahnya, oleh sebab itu ia melakukan balas dendam terhadap Anusapati dengan
membunuhnya saat mereka melakukan sabung ayam. Kemudian, kekuasaan jatuh ke tangan
Panji Tohjaya.[8] Anusapati didharmakan di Kidal, sebuah daerah bertempat di sebelah barat
kota Malang.
3. Apanji Tohjaya (1248)
Dalam kitab Pararaton tertulis bahwa sepeninggal Anusapati, yang menggantikan menjadi raja
Tumapel/Singasari adalah Panji Tohjaya.[9] Panji Tohjaya melakukan balas dendam terhadap
Anusapati sebagai pembunuh ayahnya Ken Arok. Panji Tohjaya merupakan putra dari
perkawinan antara Ken Arok dengan Ken Umang. Berdasarkan garis keturunan menurut
Pararaton seharusnya yang menduduki tahta maha raja di Singasari/Tumapel adalah Mahisa
Wonga Teleng, anak sulung dari Ken Arok dan Ken Dedes.
Dalam kitab Pararaton dan Negarakretagama menjelaskan bahwa pemerintahan Panji Tohjaya
hanya beberapa bulan saja menduduki tahta kekuasaan di Singasari. keambisiusannya yang
keras untuk menghilangkan keponakannya (Mapanji Sminingrat anak Anusapati dan Mahisa
Campaka anak Mahisa Wonga Teleng) membuat Panji Tohjaya membabi buta. Namun,
semua rakyat di sekitarnya tidak se-mufakat dengan rencana Panji. Pada akhirnya oknum-
oknum yang mendukung kedua pangeran tersebut melakukan suatu siasat untuk
menggulingkan Panji. Pada akhirnya, nanti Panji Tohjaya dapat digulingkan.
4. Ranggawuni (1248-1254)
Pararaton menyebutkan bahwa sepeninggal Panji Tohjaya, Ranggawuni dinobatkan menjadi
raja dengan gelar Wirnuwarddhana. Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya dengan gelar
Batara Narasinga. Nagarakertagama juga mencatat tentang naik tahtanya dua pangeran
tersebut, gelar mereka adalah Batara Wisnuwarddhana dan Batara Narasinghamurtti.
Pemerintahan dipegang oleh dua orang laksana Madhawa (Wisnu) dan Indra, atau bagaikan
dua ekor ular dalam satu lubang.
Masa pemerintahan Wisnuwarddhana memang menarik perhatian. Dari zaman Rajasa hingga
Tohjaya, Kerajaan Tumapel dipegang oleh satu raja. Namun, ketika Wisnuwarddhana
memerintah, ia memerintah bersama-sama dengan Narasinghamurtti. Hal ini jelas dipahami
apabila mengikuti alur seperti yang telah disebut sebelumnya. Wisnuwarddhana
(Ranggawuni) tidak ingin memisah lagi kekuasaan Kadiri dan Tumapel seperti yang pernah
dilakukan oleh kakeknya, yaitu Sri Rajasa (Ken Arok). Oleh karena itu anak tertua pamanya
(Batara Parameswara), yaitu Nararya Waningyun yang kelak sebagai putri mahkota Kerajaan
Kadiri, ia ambil sebagai istri dan dijadikan permaisuri. Sementara pewaris tahkta Kerajaan
Kadiri kedua, yaitu Mahisa Campaka, adik Nararya Waningyun ia jadikan Ratu Angbhaya di
Tumapel bersama-sama memerintah dengannya. Dengan demikian bersatu kembalilah Kadiri
dan Tumapel.
5. Kertanagara (1254-1292)
Kertanagara adalah raja terakhir dari Kerajaan Singasari. Sepeninggal Ranggawuni
(Wisnuwarddhana), pada tahun 1268 Kertanagara menggantikan ayahnya dan ia merupakan
raja kelima. Sebenarnya, sebelum ayahnya meninggal ia pernah menjadi yuwaraja yang
didampingi oleh ayahnya. Ia bergelar yang bergelar Maharajadhiraja Kertanagara Wikrama
Dharmottunggadewa. Ibunya bernama Waning Hyun yang bergelar Jayawardhani. Waning
Hyun adalah putri dari Mahisa Wonga Teleng.[10]
Pada masa pemerintahan Kertanagara, Kerajaan Singasari mengalami masa keemasan.
Stabilitas yang dibangun sejak pemerintahan masa Ranggawuni ayah Kertanagara semakin
dimapankannya. Dialah yang mempunyai gagasannya untuk menyatukan semua kerajaan
yang ada di wilayah Nusantara.
Ia adalah raja Singasari yang sangat terkenal dalam bidang politik dan keagamaan. Dalam
bidang keagamaan ia sangat dikenal sebagai seorang penganut agama Siwa dan Budha.
Agama Budha yang dianutnya adalah agama Budha aliran Tantrayana. Dalam bidang
perpolitikan ia melakukan perluasaan wilayah kekuasaan dan pengaruhnya sampai ke luar
jawa dengan mengadakan relasi persahabatan terhadap negara-negara lain. Untuk
merealisasikan cita-citanya ini, ia melancarkan ekspedisi-ekspedisinya ke luar Jawa. Pada
tahun 1284 Kerajaan Singasari menaklukan Bali, rajanya pun ditawan dan dibawa ke
Singasari. Demikian pula, ia mengirimkan ekspedisi ke Melayu pada tahun (1275), seluruh
Bakulapura dan tidak luput pula Sunda dan Madura.[11]
Ekspedisi ke luar Jawa, khususnya ke Melayu dilakukan rangka menghadapi ekspansi Mongol
yang dilancarkan oleh Kubilai Khan ke Asia Tenggara. Kertanagara mengfokuskan
perhatiannya terhadap Ekspansi Mongol ke Asia Tenggara semakin masif. Namun, apa yang
dikhawatirkan oleh Kertanagara ternyata datang dari arah lain. Ia terlalu mengkonsentrasikan
perhatiannya pada serangan Mongol saja. Ia selalu melakukan upacara Tantra guna
mengimbangi kekuatan Mongol. Dalam kondisi seperti ini Jayakatwang menusuk dari
belakang.
Paparan di atas menegaskan bahwa sosok Kertanagara merupakan sosok yang ekspansionis
sekaligus raja yang nasionalis. Ia tidak mau berada di bawah kekuasaan Mongol. Untuk
merealisasikan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti penjabat-penjabat yang kolot
dengan yang baru seperti Patih Raganata diganti oleh Patih Aragani. Banyak wide dijadikan
sebagai Bupati di Sumenep (Madura), dengan gelar Aria Wiraraja.[12]
Langkah-langkah yang dilakukan oleh Kertanagara dalam mewujudkan gagasan penyatuan
nusantara adalah sebagai mana berikut[13]:
1. Melaksanakan ekspedisi ke Malayu (1275-1286) untuk menguasai Kerajaan Melayu
serta melemahkan posisi Sriwijaya di Selat Malaka.
2. Politik perkawinan dan persahabatan. Dalam politik perkawinannya, Kertanagara
mengawinkan putrinya sendiri, Dewi Tapasi, dengan Raja Campa. Sebab, raja Campa
merupakan benteng pertama untuk membendung pengaruh Khubilai Khan. Sedangkan, usaha
politik persahabatan diawali dengan pengiriman sebuah Arca Amoghaapaca oleh raja
Kertanagara ke Raja Melayu untuk memperkokoh persahabatan dalam menghadapi
kemungkinan serangan tentara Khubilai Khan.
3. Menguasai Bali pada tahun 1284 M.
4. Menguasai Jawa Barat tahun 1289 M.
5. Menguasai daerah Pahang (Malaya) dan Tanjung Pura (Kalimantan). Tujuan mengusai
daerah tesebut adalah:
a. Menguasai lalu lintas perdagangan dan pelayaran di Laut Cina Selatan.
b. Sebagai daerah pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan Cina-Mongol, serta
c. Mengepung wilayah kekuasaan Sriwijaya.
Menurut kitab Pararaton dan Nagarakretagama menyatakan bahwa Jayakatwang melakukan
serangan pada tahun 1292 menyerang Singasari dari dua arah, yaitu dari arah utara dan
selatan. Setibanya pasukan Jayakatwang di istana Singasari, mereka mendapati raja
Kertanagara dengan patihnya sedang pesta mabuk-mabukkan. Pada saat itulah, pasukan
Jayakatwang dengan mudah membunuh raja Kertanagara.[14]
C. Masa Kejayaan Kerajaan Singasari
Sudah disindir di atas bahwa Ken Arok memiliki dua istri, yaitu: Ken Dedes dan Ken Umang.
Dari istri yang lain yaitu Ken Umang, ia dianugerahi empat orang anak, masing-masing
bernama: Panji Tohjaya, Panji Sudhatu, Panji Wregola dan Dewi Rambi. Namun Ken Arok
berhasil dibunuh oleh suruhan Anusapati. Anusapati memerintah Kerajaan Singasari selama
kurang lebih dua puluh tahun (1227-1248).[15]
Lambat laun pembunuh Ken Arok diketahui oleh Panji Tohjaya, yaitu Anusapati. Ia pun
akhirnya membalas perbuatan Anusapati sebagai pembunuh ayahnya. Pada tahun 1248,
Anusapati dibunuh olehnya saat keduanya melakukan sabung ayam. Anusapati pun di
dharmakan di Kidal.
Belum genap satu tahun memerintah di Singasari, kekuasaan Apanji Tohjaya dikudeta oleh
Ranggawuni (putra Anusapati) dan Mahisa Campaka (putra Mahisa Wong Ateleng). Akibat
kudeta itu, Apanji Tohjaya yang terkena tombak melarikan diri sampai ke desa Lulumbang
dan meninggal di sana pada tahun 1250.
Terusirnya Apanji Tohjaya, maka Ranggawuni naik takhta sebagai raja Singasari yang
bergelar Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama
Dhurmadana Kamaleksana. Sementara Mahisa Campaka yang turut berjuang bersama
Ranggawuni menjadi Ratu Angabhaya bergelar Narasinghamurtti.
Semasa pemerintahan Ranggawuni, Singasari mulai menunjukkan masa kejayaan. Selain
menyatukan wilayah Singasari dan Kadiri, Ranggawuni melaksanakan tiga kerja besar guna
membangun kemakmuran dan perdamaian di wilayah kekuasaannya. Ketiga kerja besar
tersebut, yakni: pertama, meresmikan pelabuhan Changgu (majakerta). Kedua, memindahkan
ibu kota kerajaan dari kotaraja ke Singasari. Ketiga, menumpas pemberontakan Linggapati di
Mahibit.[16]
Selain raja Ranggawuni, Raja Kertanagara raja terakhir dari kerajaan ini yang memiliki
kontribusi yang besar dalam bidang politik. Ia adalah raja Singasari yang sangat terkenal
dalam bidang politik dan keagamaan. Dalam bidang keagamaan ia sangat dikenal sebagai
seorang penganut agama Siwa dan Budha. Agama Budha yang dianutnya adalah agama
Budha aliran Tantrayana.
Dalam bidang politik ia melakukan perluasaan wilayah kekuasaan dan pengaruhnya sampai
ke luar Jawa dengan mengadakan hubungan persahabatan terhadap negara-negara lain. Untuk
merealisasikan cita-citanya ini, ia melancarkan ekspedisi-ekspedisinya ke luar Jawa. Pada
tahun 1284 Kerajaan Singasari menaklukan Bali, rajanya pun ditawan dan dibawa ke
Singasari. Demikian pula, ia mengirimkan ekspedisi ke Melayu pada tahun (1275), seluruh
Bakulapura dan tidak luput pula Sunda dan Madura.[17]
Berikut kebijakan politik Kertanagara dalam memperluas dan mengokohkan kekuasaanya
baik dalam maupun luar wilayah kerajaan (negeri).[18]
a. Kebijakan dalam negeri:
1) Pergantian pejabat kerajaan, bertujuan menggalang pemerintahan yang kompak. Ia
mengganti para pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata diganti oleh Pati
Aragani.
2) Memelihara keamanan dan melakukan politik perkawinan. Tujuannya untuk
menciptakan kerukunan dan politik yang stabil. Dalam politik perkawinan Kertanegara
mengawinkan putrinya sendiri, Dewi Tapasi, dengan Raja Campa.[19]
b. Kebijakan luar negeri:
1) Yang luar negeri menggalang persatuan nusantara dengan mengutus ekspedisi tentara
Pamalayu ke kerajaan Malayu Jambi. Dan mengutus pasukan ke Sunda, Bali, Pahang.
2) Menggalang kerja sama dengan kerajaan lain. Contohnya menjalin persekutuan dengan
kerajaan Campa.
Ekspedisi ke luar Jawa, khususnya ke Melayu dilakukan rangka menghadapi ekspansi Mongol
yang dilancarkan oleh Kubhilai Khan ke Asia Tenggara. Sebagaimana maklumnya kerajaan
Melayu menguasai jalannya perdagangan di selat Malaka dan Melayu saat itu telah
dipengaruhi Mongol.
Ekspansi Mongol ke Asia Tenggara semakin masif. Pada tahun 1280, 1281, 1286 dan yang
terakhir 1289 Kubhilai Khan mengutus utusannya ke Singasari agar Kertanagara tunduk
terhadapnya. Namun, Kertanagara melukai utusan dari Kubhilai Khan dan menyuruhnya
kembali ke negerinya. Utusan terakhir yang dipimpin oleh Meng Ch’i ditolak oleh
Kertanagara sehingga Kubhilai Khan sangat marah. Dan mengutus armada Mongol untuk
menghukum Raja Singasari Kertanagara. Armada tersebut sampai di Jawa 1923, tetapi
Kertanagara sudah wafat pada tahun1292 dibunuh oleh Jayakatwang.[20] Sejak saat itu,
Kerajaan Singasari mengalami keruntuhan.

D. Kondisi Sosial, Ekonomi, Budaya dan Politik Kerajaan Singasari


Dalam kitab Pararaton dan Negarakretagama bahwa kehidupan sosial masyarakat Singasari
cukup baik dikarenakan rakyat terbiasa hidup aman dan tentram sejak awal pemerintahan
Kerajaan Singasari. Bahkan dari raja sampai rakyatnya terbiasa dengan kehidupan religius.
Telah terbukti dengan berkembangnya ajaran baru yaitu Tantrayana (Syiwa Budha) dengan
kitabnya yang bernama Tantra.
Dalam bidang ekonomi tidak ditemukan sumber secara jelas. Namun, kemungkinan
perekonomian masyarakat Singasari ditekankan pada pertanian dan perdagangan karena
Singasari merupakan daerah yang subur dan dilintasi dua sungai yaitu Sungai Brantas dan
Bengawan Solo sebagai sarana lalu lintas perdagangan.
Dalam bidang kebudayaan masyarakat Singasari meninggalkan candi-candi dan patung-
patung yang telah dibangunnya, yakni Candi Kidal, Candi Jago, Candi Singasari, Patung Ken
Dedes melambangkan kesempurnaan ilmu dan Patung Kertanagara dalam wujud patung Joko
Dolog.
Dalam bidang perpolitikan, semasa pemerintahan Ranggawuni, ia menyatukan wilayah
Singasari dan Kadiri. Dan Ranggawuni melaksanakan tiga kerja besar guna membangun
kemakmuran dan perdamaian di wilayah kekuasaannya. Ketiga kerja besar tersebut, yakni:
pertama, meresmikan pelabuhan Changgu (Majakerta). Kedua, memindahkan ibu kota
kerajaan dari Kotaraja ke Singasari. Ketiga, menumpas pemberontakan Linggapati di
Mahibit.[21]
Tidak hanya Ranggawuni, Kertanagara pun memiliki kontribusi yang besar dalam
perpolitikan Kerajaan Singasari. Dalam bidang politik ia melakukan perluasaan wilayah
kekuasaan dan pengaruhnya sampai ke luar Jawa dengan mengadakan hubungan persahabatan
terhadap negara-negara (kerajaan) lain. Untuk merealisasikan cita-citanya ini, ia melancarkan
ekspedisi-ekspedisinya ke luar Jawa. Berikut kebijakan politik Kertanagara:
a. Kebijakan dalam negeri:
1) Pergantian pejabat kerajaan, bertujuan menggalang pemerintahan yang kompak.
2) Memelihara keamanan dan melakukan politik perkawinan. Tujuannya untuk
menciptakan kerukunan dan politik yang stabil.
b. Kebijakan luar negeri:
1) Yang luar negeri menggalang persatuan Nusantara dengan mengutus ekspedisi tentara
Pamalayu ke kerajaan Malayu Jambi. Dan mengutus pasukan ke Sunda, Bali, Pahang.
2) Menggalang kerja sama dengan kerajaan lain. Contohnya menjalin persekutuan dengan
kerajaan Campa.

E. Masa Mundurnya dan Keruntuhan Singasari


Kertanagara dan kerajaan Melayu menjalin hubungan yang sangat dekat. Sebenarnya
ekspedisi ke luar Jawa khususnya ke Melayu adalah bagian dari politik raja Kertanagara untuk
menghadapi ekspansi Mongol yang sedang dilancarkan oleh Kubhilai Khan ke Asia
Tenggara. Seperti yang kita ketahui kerajaan Melayu pada masa itu telah menguasai jalan
perdagangan di selat Malaka. Namun, pada waktu itu juga kerajaan Melayu telah dipengaruhi
oleh kerajaan Mongol. Oleh karena itu, ekspedisi Singasari ke Melayu merupakan perjanjian
persahabatan guna membentuk benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi Mongol.
Pengaruh Mongol tidak bisa dibendung lagi ke wilayah Asia Tenggara. Oleh karena itu, pada
tahun 1281 menyerbu Campa, dan pada tahun 1287 Pagan jatuh ke tangan Mongol. Bahkan
Kubhilai Khan mengutus perutusannya ke Singasari 1280, 1281, dan 1289 untuk meminta
pengakuan tunduk dari raja Kertanagara. Namun, Kertanagara menolak utusan Kubhilai Khan
yang dipimpin oleh Meng Ch’i dengan melukainya. Setelah mengetahui apa yang diperbuat
Kertanagara terhadap utusannya, Kubhilai Khan sangat marah terhadap Kertanagara, sehingga
ia mengutus pasukan Mongol pada 1293 guna menghukum Kertanagara. Namun, setibanya di
Jawa Raja Kertanagara telah mati pada tahun 1292 di tangan Jayakatwang.
Pada tahun 1292 dalam Kerajaan Singasari terjadi perubahan politik. Raja jayakatwang
melakukan pemberontakan terhadap Kertanagara. Ia adala raja Kadiri yang merupakan
wilayah bagian dari Kerajaan Singasari. Ditegaskan dalam kidung Harsa-Wijaya disebutkan
bahwa raja Jayakatwang sebagai abdi yang taat kepada atasannya (Kertanagara). Akan tetapi
ia dihasut oleh patihnya. Patihnya mengatakan bahwa dahulu buyutnya Kertajaya dibunuh
oleh buyut raja Kertanagara (Ken Arok). Oleh sang patih ditunjukkan dharma seorang kesatria
yang harus menghapuskan aib yang diderita oleh moyangnya. Itulah yang membuat
Jayakatwang memberontak terhadap Kertanagara.[22]
Dalam makalah sejarah Sumenep, dijelaskan bahwa Jayakatwang membunuh Kertanagara
dikarenakan Aria Wiraraja menghasut dan mempengaruhi Jayakatwang agar membuat
perhitungan terhadap Kertanagara. Aria Wiraraja melakukan hal tersebut dikarenakan ia tidak
puas dengan kebijakan Kertanagara yang memindahkan Wiraraja ke Sumenep sebagai
adipadi. Dan Aria Wiraraja pernah mempunyai pendapat yang berbeda dengan Kertanagara
sehingga menyebabkan dirinya tidak disukai olehnya.
Aria Wiraraja mengetahui bahwa Jayakatwang menaruh dendam kepada Kertanagara, sebab
Kertajaya (Dandang Gendis) nenek moyangnya dikalahkan oleh Ken Arok yang notabenenya
nenek moyang Kertanagara. Hal ini merupakan momentum tepat bagi Aria Wiraraja
mempengaruhinya, ia pun mengirimkan surat provokasi lewat perantara anaknya Wiranjaya
kepada Jayakatwang. Dengan surat itu, Jayakatwang menghimpun kekuatan untuk menyerang
Kertanagara (Singasari).[23] Jayakatwang mengirimkan bala tentaranya ke Singasari saat
pasukan Kertanagara melakukan ekspansi ke luar Jawa. Akhirnya Kertanagara dan Kerajaan
Singasari dapat dikalahkan olehnya.
Seperti yang disebutkan dalam kitab Pararaton dan Nagarakretagama bahwa Jayakatwang
melakukan serangan pada tahun 1292 menyerang Singasari dari dua arah, yaitu dari arah utara
dan selatan. Setibanya pasukan Jayakatwang di Istana Singasari, mereka mendapati raja
Kertanagara dengan patihnya sedang pesta mabuk-mabukkan. Pada saat itulah, pasukan
Jayakatwang dengan mudah membunuh raja Kertanagara. Sejak saat itulah kekuasaan
Kertanagara jatuh ke tangan Jayakatwang, dan menjadi tanda berakhirnya Kerajaan Singasari.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kerajaan Singasari disebut pula dengan Kerajaan Tumapel yang merupakan negara
bagian/bawahan Kerajaan Kadiri Tunggul Ametung. Tunggul Ametung memiliki pengawal
kepercayaan bernama Ken Arok. Ken Arok pun tertarik kepada Ken Dedes istri Tunggul
Ametung, ia membunuhnya dengan keris yang dibuat Mpu Gandring. Ia merebut dan
menikahi Ken Dedes. Ken Arok melakukan pemberontakan pada Kerajaan Kadiri yang
dipimpin oleh Kertajaya (Dangdang Gendis). Ia melancarkan serangan pada tahun 1222
M/1144 (Tahun Saka) kepada raja Kertajaya. Akhirnya Kertajaya gugur di medan perang
yang terjadi di desa Ganter.
Kondisi sosial masyarakat Singasari cukup baik dikarenakan rakyat terbiasa hidup
aman dan tentraman sejak awal pemerintahan Kerajaan Singasari. Bahkan dari raja sampai
rakyatnya terbiasa dengan kehidupan religius.
· Dalam bidang ekonomi masyarakat Singasari ditekankan pada pertanian dan
perdagangan karena Singasari merupakan daerah yang subur dan dilintasi dua sungai yaitu
Sungai Brantas dan Bengawan Solo sebagai sarana lalu lintas perdagangan.
· Dalam bidang kebudayaan masyarakat Singasari meninggalkan candi-candi dan
patung-patung yang telah dibangunnya, yakni Candi Kidal, Candi Jago, Candi Singasari,
Patung Ken Dedes dan Patung Kertanagara.
·
B. Saran
Dengan membaca makalah ini kami pemakalah berharap semoga pembaca dapat
berpikir tepat dan benar sehingga terhindar dari kesimpulan yang salah dan kabur.Tentu saja
dalam makalah ini ada banyak kekurangan sehingga atau bahkan kekeliruan. Maka dari itu,
kami pemakalah sangat berharap adanya masukan dari pembaca dan kritik sebagai acuan
memperbaiki baik untuk saat ini dan kelak di masa mendatang.