You are on page 1of 31

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tuberculosis

2.1.1 Pengertian Tuberkulosis (TB)

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman

dari kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacterium tuberculosis. Terdapat

beberapa spesies Mycobacterium, antara lain: M. tuberculosis, M. africanum, M.

bovis, M. leprae dsb. yang juga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA).

Kelompok bakteri Mycobacterium selain Mycobacterium tuberculosis yang

bisa menimbulkan gangguan pada saluran nafas dikenal sebagai MOTT

(Mycobacterium Other Than Tuberculosis) yang terkadang bisa mengganggu

penegakan diagnosis dan pengobatan TB. Untuk itu pemeriksaan bakteriologis

yang mampu melakukan identifikasi terhadap Mycobacterium tuberculosis

menjadi sarana diagnosis ideal untuk TB (Pelatihan Tatalaksana Tb Bagi

Pengelola Program Tb Di Fasilitas Kesehatan, 2015 : 4)

Secara umum sifat kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) antara lain

adalah sebagai berikut :

1) Berbentuk batang dengan panjang 1 – 10 mikron, lebar 0,2 – 0,6 mikron

2) Bersifat tahan asam dalam pewarnaan dengan metode Ziehl Neelsen.

3) Memerlukan media khusus untuk biakan, antara lain Lowenstein Jensen,

Ogawa. Kuman nampak berbentuk batang berwarna merah dalam

pemeriksaan dibawah mikroskop.


8

4) Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka

waktu lama pada suhu antara 4°C sampai minus 70°C .

5) Kuman sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar ultraviolet.

6) Paparan langsung terhadap sinar ultraviolet, sebagian besar kuman akan mati

dalam waktu beberapa menit.

7) Dalam dahak pada suhu antara 30 – 37°C akan mati dalam waktu lebih

kurang 1 minggu.

8) Kuman dapat bersifat dormant (”tidur” / tidak berkembang)

2.1.2 Kasus Tuberculosis

Kasus TB definitif adalah kasus dengan salah satu dari spesimen biologis

positif dengan pemeriksaan mikroskopis apusan dahak, biakan atau diagnostik

cepat yang telah disetujui oleh WHO (seperti Xpert MTB/RIF). (pada revisi

guideline WHO tahun 2013 definisi kasus TB definitif ini direvisi menjadi kasus

TB dengan konfirmasi bakteriologis (Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran

Tata Laksana Tuberkulosis Tahun 2014 :14)

Kasus TB diagnosis klinis adalah kasus TB yang tidak dapat memenuhi

kriteria konfirmasi bakteriologis walau telah diupayakan maksimal tetapi

ditegakkan diagnosis TB aktif oleh klinisi yang memutuskan untuk memberikan

pengobatan TB berdasarkan foto toraks abnormal, histologi sugestif dan kasus

ekstraparu. Kasus yang ditegakkan diagnosis secara klinis ini bila kemudian

didapatkan hasil bakteriologis positif (sebelum dan setelah pengobatan) harus

diklasifikasikan kembali sebagai kasus TB dengan konfirmasi bakteriologis.


9

(Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis Tahun

2014 :14)

2.1.3 Epidemiologi Tuberculosis

TB sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan

masyarakat didunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi DOTS telah

diterapkan di banyak negara sejak tahun 1995.

Menurut laporan WHO tahun 2015, ditingkat global diperkirakan 9,6 juta

kasus TB baru dengan 3,2 juta kasus diantaranya adalah perempuan. Dengan 1,5

juta kematian karena TB dimana 480.000 kasus adalah perempuan. Dari kasus TB

tersebut ditemukan 1,1 juta (12%) HIV positif dengan kematian 320.000 orang

(140.000 orang adalah perempuan) dan 480.000 TB Resistan Obat (TB-RO)

dengan kematian 190.000 orang. Dari 9,6 juta kasus TB baru, diperkirakan 1 juta

kasus TB Anak (di bawah usia 15 tahun) dan 140.000 kematian/tahun.

Jumlah kasus TB di Indonesia menurut Laporan WHO tahun 2015,

diperkirakan ada 1 juta kasus TB baru pertahun (399 per 100.000 penduduk)

dengan 100.000 kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk). Diperkirakan

63.000 kasus TB dengan HIV positif (25 per 100.000 penduduk). Angka

Notifikasi Kasus (Case Notification Rate/CNR) dari semua kasus, dilaporkan

sebanyak 129 per 100.000 penduduk. Jumlah seluruh kasus 324.539 kasus,

diantaranya 314.965 adalah kasus baru.

Secara nasional perkiraan prevalensi HIV diantara pasien TB diperkirakan

sebesar 6,2%. Jumlah kasus TB-RO diperkirakan sebanyak 6700 kasus yang
10

berasal dari 1,9% kasus TBRO dari kasus baru TB dan ada 12% kasus TB-RO

dari TB dengan pengobatan ulang.

Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah:

1) Belum optimalnya pelaksanaan program TB selama ini diakibatkan karena

masih kurangnya komitmen pelaksana pelayanan, pengambil kebijakan, dan

pendanaan untuk operasional, bahan serta sarana prasarana.

2) Belum memadainya tata laksana TB terutama di fasyankes yang belum

menerapkan layanan TB sesuai dengan standar pedoman nasional dan ISTC

seperti penemuan kasus/diagnosis yang tidak baku, paduan obat yang tidak

baku, tidak dilakukan pemantauan pengobatan, tidak dilakukan pencatatan

dan pelaporan yang baku.

3) Masih kurangnya keterlibatan lintas program dan lintas sektor dalam

penanggulangan TB baik kegiatan maupun pendanaan.

4) Belum semua masyarakat dapat mengakses layanan TB khususnya di Daerah

Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK), serta daerah risiko tinggi

seperti daerah kumuh di perkotaan, pelabuhan, industri, lokasi permukiman

padat seperti pondok pesantren, asrama, barak dan lapas/rutan.

5) Belum memadainya tatalaksana TB sesuai dengan standar baik dalam

penemuan kasus/diagnosis, paduan obat, pemantauan pengobatan, pencatatan

dan pelaporan.

6) Besarnya masalah kesehatan lain yang bisa berpengaruh terhadap risiko

terjadinya TB secara signifikan seperti HIV, gizi buruk, diabetes mellitus,

merokok, serta keadaan lain yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh.
11

7) Meningkatnya jumlah kasus TB Resistant Obat (TB-RO) yang akan

meningkatkan pembiayaan program TB.

8) Faktor sosial seperti besarnya angka pengangguran, rendahnya tingkat

pendidikan dan pendapatan per kapita, kondisi sanitasi, papan, sandang dan

pangan yang tidak memadai yang berakibat pada tingginya risiko masyarakat

terjangkit TB.

Menurut laporan WHO tahun 2015, Indonesia sudah berhasil menurunkan

angka kesakitan dan kematian akibat TB di tahun 2015 jika dibandingkan dengan

tahun 1990. Angka prevalensi TB yang pada tahun 1990 sebesar > 900 per

100.000 penduduk, pada tahun 2015 menjadi 647 per 100.000 penduduk. Dari

semua indikator MDG’s untuk TB di Indonesia saat ini baru target penurunan

angka insidens yang sudah tercapai. Untuk itu perlu upaya yang lebih besar dan

terintegrasi supaya Indonesia bisa mencapai target SDG’s pada tahun 2030 yang

akan datang.

2.1.4 Cara Penularan TB.

Penderita TB Paru dapat menularkan penyakit TB Paru melalui beberapa

cara, yaitu :

1) Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif melalui percik renik dahak

yang dikeluarkannya. Namun, bukan berarti bahwa pasien TB dengan hasil

pemeriksaan BTA negatif tidak mengandung kuman dalam dahaknya. Hal

tersebut bisa saja terjadi oleh karena jumlah kuman yang terkandung dalam
12

contoh uji ≤ dari 5.000 kuman/cc dahak sehingga sulit dideteksi melalui

pemeriksaan mikroskopis langsung.

2) Pasien TB dengan BTA negatif juga masih memiliki kemungkinan

menularkan penyakit TB. Tingkat penularan pasien TB BTA positif adalah

65%, pasien TB BTA negatif dengan hasil kultur positif adalah 26%

sedangkan pasien TB dengan hasil kultur negatif dan foto Toraks positif

adalah 17%.

3) Infeksi akan terjadi apabila orang lain menghirup udara yang mengandung

percik renik dahak yang infeksius tersebut.

4) Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam

bentuk percikan dahak (droplet nuclei / percik renik). Sekali batuk dapat

menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.

2.1.5 Perjalanan Alamiah TB Pada Manusia

Terdapat 4 tahapan perjalanan alamiah penyakit. Tahapan tersebut meliputi

tahap paparan, infeksi, menderita sakit dan meninggal dunia yang dapat dilihat

pada tabel berikut:

Tabel 1 Perjalanan Alamiah TB pada Manusia

a. Paparan
Peluang peningkatan  Jumlah kasus menular di masyarakat Peluang
paparan terkait kontak dengan kasus menular
dengan:  Tingkat daya tular dahak sumber penularan
 Intensitas batuk sumber penularan
 Kedekatan kontak dengan sumber penularan
 Lamanya waktu kontak dengan sumber
13

penularan
 Faktor lingkungan: konsentrasi kuman diudara
(ventilasi, sinar ultra violet, penyaringan adalah
faktor yang dapat menurunkan konsentrasi)
Catatan: Paparan kepada pasien TB menular merupakan syarat untuk
terinfeksi. Setelah terinfeksi, ada beberapa faktor yang menentukan
seseorang akan terinfeksi saja, menjadi sakit dan kemungkinan meninggal
dunia karena TB
b. Infeksi
Reaksi daya tahan tubuh akan terjadi setelah 6 – 14 minggu setelah infeksi
 Reaksi immunologi (lokal) Kuman TB memasuki alveoli dan ditangkap
oleh makrofag dan kemudian berlangsung reaksi antigen – antibody.
 Reaksi immunologi (umum) Delayed hypersensitivity (hasil
Tuberkulin tes menjadi positif)
 Lesi umumnya sembuh total namun dapat saja kuman tetap hidup dalam
lesi tersebut (dormant) dan suatu saat dapat aktif kembali.
 Penyebaran melalui aliran darah atau getah bening dapat terjadi sebelum
penyembuhan lesi
c. Sakit TB
Faktor risiko untuk  Konsentrasi / jumlah kuman yang terhirup
menjadi sakit TB  Lamanya waktu sejak terinfeksi
adalah tergantung dari  Usia seseorang yang terinfeksi
:  Tingkat daya tahan tubuh seseorang. Seseorang
dengan daya tahan tubuh yang rendah
diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi
(gizi buruk) akan memudahkan berkembangnya
TB aktif (sakit TB). Bila jumlah orang terinfeksi
HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan
meningkat, dengan demikian penularan TB di
masyarakat akan meningkat pula.
Catatan: Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.
14

Namun bila seorang dengan HIV positif akan meningkatkan kejadian TB


melalui proses reaktifasi. TB umumnya terjadi pada paru (TB Paru). Namun,
penyebaran melalui aliran darah atau getah bening dapat menyebabkan
terjadinya TB diluar organ paru (TB Ekstra Paru). Apabila penyebaran
secara masif melalui aliran darah dapat menyebabkan semua organ tubuh
terkena (TB milier).
d. Meninggal dunia
Faktor risiko  Akibat dari keterlambatan diagnosis
kematian karena TB:  Pengobatan tidak adekuat
 Adanya kondisi kesehatan awal yang buruk atau
penyakit penyerta
Catatan: Pasien TB tanpa pengobatan, 50% akan meninggal dan risiko ini
meningkat pada pasien dengan HIV positif

2.1.6 Gejala Klinis Tuberkulosis

Biasanya terduga TB datang ke Fasilitas Kesehatan dengan berbagai keluhan

dan gejala yang mungkin akan menunjukkan bahwa yang bersangkutan termasuk

terduga.

1) Gejala utama: batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Gejala tambahan

yang sering dijumpai: dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas

dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun,

rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat pada malam hari walaupun

tanpa kegiatan, demam meriang yang berulang lebih dari sebulan.

2) Gejala-gejala tersebut dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB,

seperti bronkiektasis, bronkitis kronik, asma, kanker paru, dan lain-lain.

3) Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi maka setiap orang

yang datang ke Faskes dengan gejala tersebut diatas dianggap sebagai terduga
15

pasien TB dan perlu dilakukian pemeriksaan dahak secara mikroskopis

langsung. Seseorang yang menderita TB ekstraparu mungkin mempunyai

keluhan / gejala terkait dengan organ yang terkena, misalnya :

a. Pembesaran pada getah bening yang kadang juga mengeluarkan nanah

b. Nyeri dan pembengkakan sendi yang terkena TB

c. Sakit kepala, demam, kaku kuduk dan gangguan kesadaran apabila

selaput otak atau otak terkena TB.

2.1.7 Klasifikasi pasien TB:

Pasien juga TB diklasifikasikan menurut :

1) Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomi dari penyakit:

Tuberkulosis paru: Adalah TB yang terjadi pada parenkim (jaringan) paru.

Milier TB dianggap sebagai TB paru karena adanya lesi pada jaringan paru.

Limfadenitis TB dirongga dada (hilus dan atau mediastinum) atau efusi

pleura tanpa terdapat gambaran radiologis yang mendukung TB pada paru,

dinyatakan sebagai TB ekstra paru. Pasien yang menderita TB paru dan

sekaligus juga menderita TB ekstra paru, diklasifikasikan sebagai pasien TB

paru.

Tuberkulosis ekstra paru: Adalah TB yang terjadi pada organ selain paru,

misalnya: pleura, kelenjar limfe, abdomen, saluran kencing, kulit, sendi,

selaput otak dan tulang. Diagnosis TB ekstra paru dapat ditetapkan

berdasarkan hasil pemeriksaan bakteriologis atau klinis. Diagnosis TB ekstra

paru harus diupayakan berdasarkan penemuan Mycobacterium tuberculosis.


16

Pasien TB ekstra paru yang menderita TB pada beberapa organ,

diklasifikasikan sebagai pasien TB ekstra paru pada organ menunjukkan

gambaran TB yang terberat.

2) Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya:

a. Pasien baru TB: adalah pasien yang belum pernah mendapatkan

pengobatan TB sebelumnya atau sudah pernah menelan OAT namun

kurang dari 1 bulan (˂ dari 28 dosis).

b. Pasien yang pernah diobati TB: adalah pasien yang sebelumnya pernah

menelan OAT selama 1 bulan atau lebih (≥ dari 28 dosis). Pasien ini

selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan hasil pengobatan TB terakhir,

yaitu:

a) Pasien kambuh: adalah pasien TB yang pernah dinyatakan sembuh

atau pengobatan lengkap dan saat ini didiagnosis TB berdasarkan

hasil pemeriksaan bakteriologis atau klinis (baik karena benar-

benar kambuh atau karena reinfeksi).

b) Pasien yang diobati kembali setelah gagal: adalah pasien TB yang

pernah diobati dan dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir.

c) Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-

up): adalah pasien yang pernah diobati dan dinyatakan lost to

follow up (klasifikasi ini sebelumnya dikenal sebagai pengobatan

pasien setelah putus berobat /default).

d) Lain-lain: adalah pasien TB yang pernah diobati namun hasil akhir

pengobatan sebelumnya tidak diketahui.


17

c. Pasien yang riwayat pengobatan sebelumnya tidak diketahui.

3) Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan uji kepekaan obat Pengelompokan

pasien disini berdasarkan hasil uji kepekaan contoh uji dari Mycobacterium

tuberculosis terhadap OAT dan dapat berupa :

a. Mono resistan (TB MR): resistan terhadap salah satu jenis OAT lini

pertama saja

b. Poli resistan (TB PR): resistan terhadap lebih dari satu jenis OAT lini

pertama selain Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan

c. Multi drug resistan (TB MDR): resistan terhadap Isoniazid (H) dan

Rifampisin (R) secara bersamaan

d. Extensive drug resistan (TB XDR): adalah TB MDR yang sekaligus juga

resistan terhadap salah satu OAT golongan fluorokuinolon dan minimal

salah satu dari OAT lini kedua jenis suntikan (Kanamisin, Kapreomisin

dan Amikasin)

e. Resistan Rifampisin (TB RR): resistan terhadap Rifampisin dengan atau

tanpa resistensi terhadap OAT lain yang terdeteksi menggunakan metode

genotip (tes cepat) atau metode fenotip (konvensional

2.1.8 Diagnosa Tuberkulosis


Diagnosis Tuberkulosis adalah upaya untuk menegakkan atau menetapkan

seseorang sebagai pasien Tuberkulosis sesuai dengan keluhan dan gejala penyakit

yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (Ditjen PPPL Kemenkes RI,

2014)
18

Menurut Ditjen PPPL Kemenkes RI (2014), penegakan diagnosis penderita

dibagi menjadi tiga diagnosis, yaitu :

1) Diagnosis Tuberkulosis pada orang dewasa

Dalam upaya pengendalian Tuberkulosis secara Nasional, maka diagnosis

Tuberkulosis paru pada orang dewasa harus ditegakkan telebih dahulu dengan

pemeriksaan mikroskopis langsung, biakan dan tes cepat. Apabila

pemeriksaan secara bakteriologis hasilnya negatif, maka penegakkan

diagnosis Tuberkulosis dapat dilakukan secara klinis menggunakan hasil

pemeriksaan klinis dan penunjang (setidak-tidaknya pemeriksaan foto toraks)

yang sesuai dan ditetapkan oleh dokter yang telah terlatih Tuberkulosis. Pada

sarana terbatas penegakkan diagnosis secara klinis dilakukan setelah

pemberian terapi antibiotika spektrum luas (Non OAT dan Non kuinolon)

yang tidak memberikan perbaikan klinis. Tidak dibenarkan mendiagnosis

Tuberkulosis dengan pemeriksaan serologis, hanya dengan pemeriksaan uji

tuberkulin, dan hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja karena foto

toraks tidak selalu memberikan gambaran yang spesifik pada Tuberkulosis

paru, sehingga dapat menyebabkan terjadi overdiagnosis ataupun

underdiagnosis (Ditjen PPPL Kemenkes RI, 2014).

2) Diagnosis Tuberkulosis pada anak

Pasien Tuberkulosis pada anak dapat ditemukan dengan cara melakukan

pemeriksaan pada anak yang kontak erat dengan pasien Tuberkulosis

menular atau anak yang tinggal serumah dan sering bertemu dengan pasien
19

Tuberkulosis dan pada anak yang mempunyai tanda dan gejala klinis

Tuberkulosis (Ditjen PPPL Kemenkes RI, 2014).

3) Diagnosis Tuberkulosis ekstra paru

Diagnosis pasti pada pasien Tuberkulosis ekstra paru ditegakkan dengan

pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologis dari contoh uji yang

diambil dari organ tubuh yang terkena (Ditjen PPPL Kemenkes RI, 2014).

2.1.9 Pemeriksaan Dahak Mikroskopi

1) Pengumpulan Dahak

Dahak dikumpulkan/ditampung dalam pot dahak yang transparan, bermulut

lebar, berpenampang 5 - 6 cm, tutup berulir, tidak mudah pecah dan bocor. Pot ini

harus selalu tersedia di Fasilitas Kesehatan.

Diagnosis TB ditegakkan dengan pemeriksaan 3 spesimen dahak Sewaktu

Pagi Sewaktu (SPS). Spesimen dahak idealnya dikumpulkan dalam dua hari

kunjungan yang berurutan.

2) Pelaksanaan Pengumpulan Dahak SP

S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat terduga TB datang berkunjung

pertama kali. Pada saat pulang, terduga dibekali sebuah pot dahak untuk

mengumpulkan dahak hari kedua. P (Pagi): dahak dikumpulkan dirumah pada

pagi hari kedua, setelah bangun tidur dan gosok gigi, Pot kemudian dibawa dan

diserahkan sendiri kepada petugas di Fasilitas Kesehatan.

Menghindari risiko penularan, pengambilan dahak dilakukan ditempat

terbuka, terkena sinar matahari langsung dan jauh dari orang lain. Jika keadaan
20

tidak memungkinkan, gunakanlah ruang terpisah yang mempunyai ventilasi yang

baik dan sinar matahari langsung. Dianjurkan setelah pengumpulan/pengambilan

dahak, terduga dan petugas segera mencuci tangan dengan sabun dan air.

3) Cara Pengumpulan Dahak.

Untuk menghindari risiko penularan, pengambilan dahak harus dilakukan di

tempat terbuka, terkena sinar matahari langsung dan jauh dari risiko menulari

pihak lain. Jika keadaan tidak memungkinkan, gunakanlah ruang terpisah yang

mempunyai ventilasi yang baik dan sinar matahari langsung. Dianjurkan setelah

pengumpulan/ pengambilan dahak, terduga dan petugas segera mencuci tangan

dengan sabun dan air

2.1.10 Diagnosis Tuberkulosis Paru

Diagnosis TB Paru

1) Dalam upaya pengendalian TB secara Nasional, maka diagnosis TB Paru

pada orang dewasa harus ditegakkan terlebih dahulu dengan pemeriksaan

bakteriologis. Pemeriksaan bakteriologis yang dimaksud adalah pemeriksaan

mikroskopis langsung, biakan dan tes cepat.

2) Semua terduga TB harus diperiksa 3 spesimen dahak idealnya dalam waktu 2

hari berturut-turut, yaitu Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). Seandainya kondisi

tersebut tidak dapat dipenuhi, maka rentang waktu antara fiksasi spesimen

Sewaktu (S) yang pertama dan yang kedua tidak lebih dari 7 hari. Bila

melebihi rentang waktu tersebut maka pengambilan spesimen dahak Sewaktu

(S) pertama harus diulang kembali dari awal.


21

3) Apabila pemeriksaan secara bakteriologis hasilnya negatif, maka

penegakan diagnosis TB dapat dilakukan secara klinis menggunakan hasil

pemeriksaan klinis dan penunjang (setidak-tidaknyapemeriksaan foto toraks)

yang sesuai dan ditetapkan oleh dokter yang telah terlatih TB.

4) Pada sarana terbatas penegakan diagnosis secara klinis

dilakukansetelahpemberian terapi antibiotika spektrum luas (Non OAT dan

Non kuinolon) yang tidak memberikan perbaikan klinis.

5) Tidak dibenarkan mendiagnosis TB dengan pemeriksaan serologis.

6) Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya dengan pemeriksaan uji tuberkulin

7) Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto

toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang spesifik pada

TB paru, sehingga dapat menyebabkan terjadi overdiagnosis atau pun

underdiagnosis.

Pemeriksaan Dahak Mikroskopis Langsung:

1) Untuk kepentingan diagnosis dengan cara pemeriksaan dahak secara

mikroskopis langsung, terduga pasien TB diperiksa contoh uji dahak SP

(Sewaktu–Pagi)

2) Ditetapkan sebagai pasien TB apabila minimal 1 (satu) dari pemeriksaan

contoh uji dahak SP hasilnya BTA positif.


22

Alur diagnosis dan tindak lanjut TB Paru pada pasien dewasa

Gambar 1.

2.2 Konsep Dasar Epidemologi Penyakit

Segitiga Epidemiologi yang sering dikenal dengan istilah trias epidemologi

merupakan konsep dasar Epidemiologi yang memberikan gambaran tentang

hubungan antara tiga faktor utama yang berperan dalam terjadinya penyakit dan

masalah kesehatan lainnya yaitu Host (tuan Rumah/Penjamu, Agent (faktor

penyebab) dan Environment (lingkungan). Proses integrasi ini digambarkan

sebagai berikut:
23

Host
(Penjamu)

Agen ( Faktor Enviromental


Penyeba) (Lingkungan)

Sumber : Lidya M., & Rizki M. (2010). Epidemologi Kesehatan Pendekatan Penelitian, edisi 1.
Yogyakarta : Graha Ilmu.

Segitiga Epidemiologi
Gambar 2.

1) Agent

Agen (faktor penyebab) adalah unsur, organisme hidup atau kuman infektif

yang dapat menyebabkan kejadian penyakit atau masalah kesehatan lainnya. Yang

termasuk faktor agen adalah :

a) Faktor Nutrisi (gizi)

Nutrisi dapat menyebabkan penyakit dalam bentuk kelebihan gizi dan

kekurangan gizi. Bentuk kelebihan gizi misalnya tingginya kadar

glukosa, kolesterol, kelebihan konsumsi vitamin tertentu. Bentuk

kekurangan gizi misalnya keadaan kurang gizi seperti defisiensi lemak,

protein, vitamin

b) Faktor Kimia

Faktor kimia dapat menyebabkan penyakit dalam bentuk keracunan zat-

zat berbahaya bagi tubuh, misalnya karbon monoksida, kobalt atau zat

alergen
24

c) Faktor Fisik

Faktor fisik dapat menyebabkan penyakit dalam bentuk fisik atau benda

yang dapat terlihat oleh mata juga terdefinisi oleh pikiran misalnya suhu,

debu, radiasi, trauma mekanik (jatuh, pukulan, tabrakan)

d) Faktor Biologis

Faktor biologis dapat menyebabkan penyakit, dimana faktor biologis ini

terdiri dari berbagai jenis, seperti :

- Metazoa, seperti cacing tambang, cacing gelang, schistosomiasis

- Protozoa, seperti disentriae amoebae, plasmodiummalariae

- Bakteri, seperti treponema pallidum, mycobacterium tuberculosis

- Fungi (jamur), seperti histoplasma capsulatum, taenia pedis

- Virus, seperti measels, mumps, smallpox, polio

Dari segi epidemologi selain menggunakan konsep agen sebagai penyebab

penyakit juga menggunakan terminologi faktor resiko. Dimana agen merupakan

penyebab pasti suatu penyakit sedangkan faktor resiko merupakan seluruh faktor

yang dapat memberikan kemungkinan menyebabkan terjadinya penyakit. Yang

termasuk faktor resiko terjadinya penyakit diantaranya adalah faktor gaya hidup,

gangguan gizi, kemiskinan, perilaku tidak sehat, kurang olahraga dan lain-lain.

2) Faktor penjamu (host/tuan rumah)

Host atau pejamu adalah manusia atau mahluk hidup lainnya yang menjadi

tempat terjadinya proses alamiah perkembangan penyakit. Yang termasuk dalam

faktor penjamu adalah :


25

a) Genetika

Faktor keturunan dapat mempengaruhi status kesehatan misalnya

butawarna, asma hemofilia

b) Umur

Umur juga mempengaruhi status kesehatan karena ada kecenderungan

penyakit menyerang umur tertentu, misalnya usia balita dan usia lanjut

rentan terhadap penyakit karena usia balita sistem pertahanan tubuhnya

belum stabil, sedangkan usia lanjut sistem pertahanan tubuhnya sudah

menurun

c) Jenis kelamin (gender)

Jenis kelamin mempengaruhi status kesehatan karena ada penyakit yang

terjadi lebih banyak atau hanya ditemukan mungkin pada wanita atau

hanya pada lelaki saja, misalnya pada wanita terjadi kanker serviks, pada

laki-laki kanker prostat

d) Etnis/ras/warna kulit

Etnis/ras mempengaruhi status kesehatan karena terdapat perbedaan

antara ras kulit putih dengan orang kulit hitam, misalnya ras kulit putih

memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker kulit dibandingkan orang ras

kulit hitam

e) Keadaan fisiologis tubuh

Keadaan fisiologis tubuh merupakan keadaan tubuh yang berfungsi

normal. Keadaan fisiologis tubuh mempengaruhi status kesehatan isalnya

kelelahan, hamil, pubertas, stress, keadaan gizi.


26

f) Keadaan imunologis

Keadaan imunologis merupakan keadaan pertahanan tubuh atau

kekebalan tubuh, dimana kekebalan tubuh didapat secara aktif maupun

pasif, misalnya kekebalan yang diperoleh karena adanya infeksi

sebelumnya, memperoleh antibodi dari ibu atau pemberian vaksinasi

g) Perilaku

Perilaku adalah kebiasaan, gaya hidup, personal hygiene, hubungan antar

pribadi, rekreasi

h) Penyakit sebelumnya

Penyakit sebelumnya mempengaruhi status kesehatan karena ada penyakit

yang jika sudah pernah terkena maka ketika terjadinya serangan kedua

menimbulkan kondisi yang lebih parah atau ada juga jika penyakit

sebelumnya telah sembuh maka terjadinya resiko terjadinya kekambuhan

relatif lebih kecil atau tidak terjadi.

3) Lingkungan

Lingkungan adalah semua faktor diluar individu yang dapat berupa

lingkungan fisik, biologis,sosial dan ekonomi. Yang termasuk lingkungan adalah :

a) Lingkungan fisik, misalnya air, tanah, udara iklim, suhu bumi dan

sebagainya

b) Lingkungan biologis, misalnya orang yang tinggal di lingkungan yang

padat, flora (sebagai sumber makanan)

c) Linkungan sosial, misalnya a-sosial, urbanisasi, lingkungan kerja,

keadaan sosial masyarakat, keadaan perumahan


27

d) Lingkungan ekonomi, misalnya status ekonomi, kemakmuran

Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam penularan, terutama

lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat. Lingkungan rumah merupakan

salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap status kesehatan

penghuninya.

2.3 Rumah Sehat

2.3.1 Konsep Rumah Sehat

Setiap manusia, di manapun berada, membutuhkan tempat untuk tinggal yang

disebut rumah. Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepas lelah, tempat

bergaul dan membina rasa kekeluargaan di antara anggota keluarga, serta sebagai

tempat berlindung dan menyimpan barang berharga. Selain itu, rumah juga

merupakan status lambang sosial. (Azwar, 1996; Mukono, 2000).

Perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia dan juga merupakan

determinan kesehatan masyarakat. Karena itu, pengadaan perumahan merupakan

tujuan fundamental yang kompleks dan tersedianya standar perumahan adalah isu

penting dari kesehatan masyarakat. Perumahan yang layak untuk tempat tinggal

harus memenuhi syarat kesehatan, sehingga penghuninya tetap sehat. Perumahan

yang sehat tidak lepas dari ketersediaan prasarana dan sarana terkait, seperti

penyediaan air bersih, sanitasi pembuangan sampah, transportasi, dan tersedianya

pelayanan sosial. (Krieger and Higgins, 2002).

Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat

berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta
28

keadaan sosialnya baik demi kesehatan keluarga dan individu. (Komisi WHO

Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan

tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang

menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh

anggota keluarga dapat bekerja secara produktif. Oleh karena itu, keberadaan

perumahan yang sehat, aman, serasi, teratur sangat diperlukan agar fungsi dan

kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik.

Dampak dari adanya pencemar udara dalam ruang rumah terhadap kesehatan

dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan kesehatan

secara langsung dapat terjadi setelah terpajan, antara lain yaitu iritasi mata, iritasi

hidung dan tenggorokan, serta sakit kepala, mual dan nyeri otot (fatigue),

termasuk asma, hipersensitivitas pneumonia, flu dan penyakit–penyakit virus

lainnya. Sedangkan gangguan kesehatan secara tidak langsung dampaknya dapat

terjadi beberapa tahun kemudian setelah terpajan, antara lain penyakit paru,

jantung, dan kanker, yang sulit diobati dan berakibat fatal (USEPA, 2007).

Selain penyakit tersebut di atas, Bronkhitis kronis, Penyakit Paru Obstruktif

Kronik (PPOK), kanker paru, kematian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR),

kematian bayi usia kurang dari satu minggu, otitis media dan ISPA, tuberculosis

sering dijumpai pada lingkungan dengan kualitas udara dalam ruang yang tidak

baik
29

2.3.2. Persyaratan Kualitas Udara Dalam Ruang Rumah

Persyaratan kualitas udara dalam ruang rumah meliputi :

1) Persyaratan Fisik

Tabel 2 Persyaratan Fisik kualitas udara dalam ruang rumah

2) Persyaratan Kimia

Tabel 3 Persyaratan Kimia kualitas udara dalam ruang rumah


30

3) Persyaratan Kontaminan Biologi

Parameter kontaminan biologi dalam rumah adalah parameter yang

mengindikasikan kondisi kualitas biologi udara dalam rumah seperti bakteri,

dan jamur

Tabel 4 Persyaratan Kontaminan Biologi kualitas udara dalam ruang rumah

Catatan :

- CFU= Coloni Form Unit

- Bakteri patogen yang harus diperiksa : Legionela, Streptococcus aureus,

Clostridium dan bakteri patogen lain bila diperlukan. Kadar maksimal

yang dipersyaratkan

2.3.2. Sumber Pencemaran Fisik

Upaya penyehatan terhadap sumber pencemar fisik yang terdiri dari suhu,

pencahayaan, kelembaban, laju ventilasi,. Kualitas udara yang tidak memenuhi

persyaratan fisik akibat faktor risiko dapat menimbulkan dampak kesehatan dan

perlu dilakukan upaya penyehatan.

1) Suhu

a) Dampak

Suhu dalam ruang rumah yang terlalu rendah dapat menyebabkan

gangguan kesehatan hingga hypotermia, sedangkan suhu yang terlalu

tinggi dapat menyebabkan dehidrasi sampai dengan heat stroke.


31

b) Faktor risiko

Perubahan suhu udara dalam rumah dipengaruhi oleh beberapa faktor

antara lain:

1. Penggunaan bahan bakar biomassa

2. Ventilasi yang tidak memenuhi syarat

3. Kepadatan hunian

4. Bahan dan struktur bangunan

5. Kondisi Geografis

6. Kondisi Topografi

c) Upaya Penyehatan

1. Bila suhu udara di atas 30ºC diturunkan dengan cara meningkatkan

sirkulasi udara dengan menambahkan ventilasi mekanik/buatan.

2. Bila suhu kurang dari 18ºC, maka perlu menggunakan pemanas

ruangan dengan menggunakan sumber energi yang aman bagi

lingkungan dan kesehatan.

2) Pencahayaan

a) Macam-macam pencahayaan

1. Pencahayaan Alami

Pencahayaan alami diperoleh dengan masuknya sinar matahari ke

dalam ruangan melalui jendela, celah-celah dan bagian-bagian

bangunan yang terbuka. Cahaya matahari berguna untuk penerangan

dan juga dapat mengurangi kelembaban ruang, mengusir nyamuk,


32

membunuh kuman penyakit tertentu seperti TBC, influenza, penyakit

mata dan lain-lain.

Kebutuhan standar minimum cahaya alam yang memenuhi syarat

kesehatan untuk berbagai keperluan menurut WHO dimana salah

satunya adalah untuk kamar keluarga dan tidur dalam rumah adalah 60

– 120 Lux.

Guna memperoleh jumlah cahaya matahari pada pagi hari secara

optimal sebaiknya jendela kamar tidur menghadap ke timur dan luas

jendela yang baik minimal mempunyai luas 10-20% dari luas lantai.

Arah cahaya matahari kedalam rumah


Gambar 3

2. Pencahayaan Buatan

Pencahayaan buatan yang baik dan memenuhi standar dapat

dipengaruhi oleh:

- Cara pemasangan sumber cahaya pada dinding atau langit- langit

- Konstruksi sumber cahaya dalam ornamen yang dipergunakan

- Luas dan bentuk ruangan

- Penyebaran sinar dari sumber cahaya


33

b) Dampak

Cahaya matahari selain berguna untuk menerangi ruang juga sangat baik

bagi kesehatan karena dapat membunuh bakteri (kuman TB)

(Winarsih,2007).

Nilai pencahayaan (Lux) yang terlalu rendah menjadikan kuman

tuberculosis dapat bertahan hidup, selain itu nilai pencahayaan (Lux) yang

terlalu rendah akan berpengaruh terhadap proses akomodasi mata yang

terlalu tinggi, sehingga akan berakibat terhadap kerusakan retina pada

mata. Cahaya yang terlalu tinggi akan mengakibatkan kenaikan suhu

pada ruangan

c) Faktor Risiko

Intensitas cahaya yang terlalu rendah, baik cahaya yang bersumber dari

alamiah maupun buatan dapat meningkatkan tumbuh suburnya

mikroorganisme (bakteri) karena suhu udara akan turun, kelembapan

udara akan naik

d) Upaya Penyehatan.

Pencahayaan dalam ruang rumah diusahakan agar sesuai dengan

kebutuhan untuk melihat benda sekitar dan membaca berdasarkan

persyaratan minimal 60 Lux.

3) Kelembaban

Kelembaban mengacu pada jumlah partikel air (dengan kata lain, uap

air) yang ada di udara. Udara memiliki kapasitas tertentu untuk menahan
34

partikel-partikel air yang sering bervariasi dengan suhu sekitarnya. Saat cuaca

berawan, musim panas atau hujan, akan ada kelembaban yang tinggi di udara.

a) Dampak

Kelembaban dalam rumah akan mempermudah berkembang biaknya

mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh

melalui udara, selain itu kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan

membran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam

menghadang mikroorganisme. Kelembaban udara yang meningkat

merupakan media yang baik untuk kuman-kuman termasuk kuman

tuberkulosis.lam Sitepu, 2009). Dengan hal ini dapat disimpulkan bahwa

kelembaban yang terlalu tinggi maupun rendah dapat menyebabkan

suburnya pertumbuhan mikroorganisme.

b) Faktor risiko

Konstruksi rumah yang tidak baik seperti atap yang bocor, lantai, dan

dinding rumah yang tidak kedap air, serta kurangnya pencahayaan baik

buatan maupun alami.

c) Upaya Penyehatan

1. Bila kelembaban udara kurang dari 40%, maka dapat dilakukan upaya

penyehatan antara lain :

- Menggunakan alat untuk meningkatkan kelembaban seperti

humidifier (alat pengatur kelembaban udara)

- Membuka jendela rumah

- Menambah jumlah dan luas jendela rumah


35

- Memodifikasi fisik bangunan (meningkatkan pencahayaan,

sirkulasi udara)

2. Bila kelembaban udara lebih dari 60%, maka dapat dilakukan upaya

penyehatan antara lain :

- Memasang genteng kaca

- Menggunakan alat untuk menurunkan kelembaban seperti

humidifier (alat pengatur kelembaban udara)

4) Laju Ventilasi

Ventilasi digunakan untuk pergantian udara. Udara perlu diganti agar

mendapat kesegaran badan. Selain itu agar kuman-kuman penyakit dalam

udara, seperti bakteri dan virus, dapat keluar dari ruangan, sehingga tidak

menjadi penyakit.

Orang-orang yang batuk dan bersin-bersin mengeluarkan udara yang

penuh dengan kuman-kuman penyakit, yang dapat menginfeksi udara di

sekelilingnya. Penyakit-penyakit menular yang penularannya dengan

perantara udara, antara lain TBC, bronchitis, pneumonia, dan lain-lain.

Jendela dan lubang ventilasi selain sebagai tempat keluar masuknya udara

juga sebagai lubang pencahayaan dari luar, menjaga aliran udara di dalam

rumah tersebut tetap segar. Rumah sehat harus memiliki ventilasi atau lubang

udara. Ventilasi berfungsi untuk menjaga aliran udara didalam rumah tetap

lancar sehingga rumah tidak pengap, keseimbangan oksigen yang diperlukan

oleh penghuni rumah juga tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan


36

menyebabkan kurangnya oksigen didalam rumah yang berarti karbon

dioksida yang bersifat racun dapat meningkat (Winarsih,2007).

Ventilasi yang baik dalam ruangan harus mempunyai syarat lainnya, di

antaranya

- Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan.

Sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup)

minimum 5%. Jumlah keduanya menjadi 10% dikali luas lantai ruangan.

Ukuran luas ini diatur sedemikian rupa sehingga udara yang masuk tidak

terlalu deras dan tidak terlalu sedikit.

- Udara yang masuk harus udara bersih, tidak dicemari oleh asap dari

sampah atau dari pabrik, dari knalpot kendaraan, debu dan lain-lain.

- Aliran udara diusahakan ventilasi silang dengan menempatkan lubang

hawa berhadapan antara 2 dinding ruangan. Aliran udara ini jangan sampai

terhalang oleh barang-barang besar misalnya almari, dinding sekat dan

lain-lain

Arah ventilasi udara


Gambar 4
37

Ventilasi juga berfungsi untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-

bakteri terutama bakteri pathogen misalnya bakteri Mycobacterium

tuberculosis. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir

a) Dampak

Pertukaran udara yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan

suburnya pertumbuhan mikroorganisme, yang mengakibatkan gangguan

terhadap kesehatan manusia.

b) Faktor Risiko

1. Kurangnya ventilasi (jumlah dan luas ventilasi tidak cukup, sesuai

persyaratan kesehatan).

2. Tidak ada pemeliharaan AC secara berkala

c) Upaya Penyehatan.

Upaya penyehatan dapat dilakukan dengan mengatur pertukaran udara,

antara lain yaitu :

1. Rumah harus dilengkapi dengan ventilasi, minimal 10% luas lantai

dengan sistem ventilasi silang

2. Rumah ber-AC (Air Condition) pemeliharaan AC dilakukan secara

berkala sesuai dengan buku petunjuk, serta harus melakukan

pergantian udara dengan membuka jendela minimal pada pagi hari

secara rutin

3. Menggunakan exhaust fan

4. Mengatur tata letak ruang