You are on page 1of 37

CRITICAL BOOK REVIEW

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

ARRANGED BY :

GROUP 6

1. ANGGITA BELLA AFRILLA NASUTION


2. ARYANTI ANNA PUTRI
3. PUTRI IRMAYANI SIHOTANG
4. SRI WAHYUNINGSIH

Lecturer : Drs. Edidon Hutasuhut, M.Pd


Courses : Psikologi Pendidikan

ENGLISH EDUCATION 18 C
ENGLISH EDUCATION
LANGUAGE AND ART FACULTY
STATE UNIVERSITY OF MEDAN

APRIL, 2019
PREFACE

Praise and thank you we pray to the Almighty God because we have been given the
opportunity to be able to complete this Critical Book Review. We also express our
gratitude to Drs. Edidon Hutasuhut M.Pd as the lecturer in Psikologi Pendidikan subject ,
while this paper was completed to fulfill the assessment criteria in the Psikologi
Pendidikan subject. Thankyou to our family & friends who already support us to complete
this paper.

We realize there are still many shortcomings in the execution of this paper so we hope
the readers can provide criticsm and suggestions, so that in the future we can finish the
better papers. We hope this paper can inspire the readers.

Medan 31 Maret 2019

Group 6
Table Of Content

Preface ………………………………………………………………………………………………
Table of content………………………………………………………………………………….

Chapter I ( introduction) …………………………………………………………………


1.1 background ……………………………………………………………………….
1.2 purpose …………………………………………………………………………….
1.3 benefits …………………………………………………………………………….

Identity of books………………………………………………………………………………

Chapter II (summary)……………………………………………………………………
2.1 Book I……………………………………………………………………………..
2.2 Book II……………………………………………………………………………

Chapter III (discussion) ……………………………………………………………..


3.1 Strengthness…………………………………………………………………
3.2 Weakness ……………………………………………………………………

Chapter IV (closing)…………………………………………………………………
4.1 Conclusion ………………………………………………………………...
4.2 Recommendation……………………………………………………..

Biblioghraphy ……………………………………………………………………….
CHAPTER I
INTRODUCTION

1.1 Background

Critical Book Review is one of the six tasks that must be completed by students in State
University of Medan. While this paper was completed to fulfill the value criteria in the
assignment of Educational Psychology. This paper was solved by criticizing two books and
then review both of them. As for the Book used in this paper is a Book about Psikologi
Pendidikan. Here, will explain the strenghtness and the weakness of this book well as
whatmaterial used in this book.

1.2 Purpose

As for the purpose of making this paper is to be able to find out what material is delivered
in one book and compare it with other books. So we can know what aspects are weakness
and strengths in both of this books. And from that we can find out whether a book is
worthy of being used as a reference in teaching and learning activities at school.

1.3 Benefits

The benefits of critical book writing review are :


1. Can analyze one or two related books
2. Can improve our analysis of a book
3. So that we can know how to write the correct Critical Book Review
4. In order to be able to write a good book going forward
5. Increase our knowledge about the contents of research books
IDENTITY OF BOOK

BUKU I

Title of book : Psikologi Pendidikan

Author : Prof.Dr. Sri Milfayetty ,S.Psi., MS.Kons

Publisher : Pascasarjana Unimed

Edition :I

Number of pages : 204 pages

BOOK II

Title of book : Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Aplikatif

Author : Prof. Dr. Syamsul Bachri Thalib, M.Si.

Publisher : Kencana

Edition :I

Number of pages : 318 pages


CHAPTER II

SUMMARY

2.1 BOOK I

BAB I

PENDAHULUAN

Para pendidik perlu menerapkan kepemimpinan transparan, tidak anti kritik dan membangun
hubungan yang setara. Menyikapi perubahan karakteristik pebelajar generasi Gen C ini telah
dilakukan penelitian pengembangan inovasi dalam belajar dan pembelajaran dengan
menggunakan model Creative Art.

Psikologi pendidikan membantu pendidik untuk menjadi profesional yang efektif dalam
pembelajaran, berbahagia menjalankan tugasnya serta dapat diteladani kemuliaan pribadinya.
Sejalan dengan level enam dalam Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia materi didalam buku ini
dirancang untuk menghasilkan capaian pembelajaran berikut.

BAB II

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Psikologi pendidikan terdiri dari dua kata psikologi dan pendidikan. Psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang proses kognitif dan perilaku. Sedangkan pendidikan adalah ilmu yang
mempelajari nilai-nilai karakter dan tata cara menanamkannya. Namun definisi psikologi
pendidikan adalah ilmu yang mempelajari proses belajar dan pembelajaran pada lingkungan
pendidikan.

Proses belajar dapat diartikan sebagai aktivitas masuknya informasi melalui pembelajaran pada
kognitif atau pada perilaku. Proses pembelajaran diartikan sebagai pengalaman interaksi antara
peserta didik dengan pendidik dan memberi dampak terhadap perolehan sesuatu yang abaru
melalui alat indera pada kognitif dan atau perilaku.

BAB III

BELAJAR

Belajar adalah mendapatkan sesuatu yang baru dan menghasilkan perubahan tingkah laku.
Perubahan tersebut dapat berupa pengetahuan yang baru. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu
sangat dangkal akan tetapi sesudah belajar menjadi lebih dalam.
Proses belajar berlangsung secara internal. Proses ini diibaratkan seperti menyebrang jurang dari
tebing yang satu ke tebing yang lain. Seseorang memerlukan jembatan untuk menyebranginya.
Seseorang yang belajar berarti sedang membangun jembatan.

BAB IV

KARAKTERISTIK BELAJAR

Karakteristik adalah ciri-ciri perseorangan yang bersumber dari latar belakang yang dimiliki
peserta didik termasuk aspek lain yang adapada diri mereka seperti kemampuan umum, ciri fisik
serta emosional yang berpengaruh terhadap keefektifan pembelajaran. Karakteristik ini perlu
dipahami guru untuk mengetahui perbedaan dan kebutuhan belajarnya agar guru dapat
memberikan pelayanan yang sesuai. Beberapa karakteristik yang perlu dipahami guru ialah
inteligensi, gaya belajar, gaya berfikir, dan gaya perilaku.

BAB V

PENDEKATAN DAN TEKNIK BELAJAR

Dikemukakan oleh Bruner dalam Romberg ( 1999 ) bahwa belajar adalah proses akhir siswa dalam
mengkonstruk ( membangun ) pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan yang sudah
dimilikinya.

Sesuatu yang baru untuk siswa tidak hanya berupa pengetahuan akan tetapi dapat berupa
keterampilan, sikap, kemauan, kibiasaan maupun perbuatan. Pendekatan yang dilakukan dapat
berupa behavior, kognitif, dan teknik belajar.

BAB VI

MODEL PEMBELAJARAN

Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang
sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Metode pembelajaran yang dapat digunakan adalah :

1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Diskusi
4. Simulasi
5. Laboraturium
6. Brainstorming
7. Pengalaman lapangan
8. Debat
9. Simposium
Metode pembelajaran dapat dijabarkan kedalam teknik dan gaya pembelajaran yang dapat
diimplementasikan secara spesifik. Sementara teknik pembelajaran adalah gaya seseorang dalam
melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.

BAB VII

MOTIVASI BELAJAR

Motivasi dalam bahasa latin disebut motivum. Artinya, alasan yang menyebabkan sesuatu
bergerak. Menurut Woolfolk ( 2007 ) menyebutkan bahwa motivasi adalah suatu keadaan internal
yang dapat membangkitkan semangat, mengarahkan dan memelihara suatu perilaku. Motivasi
pada dasarnya bermakna kontekstual, mempunyai intensitas dan arah. Karena itu motivasi dapat
dipahami dari motif yang mendasarinya misalnya motif biologis, kompetisi, yang dipelajari,
berprestasi dan sebagainya.

Motivasi belajar adalah keinginan, perhatian, kemauan siswa dalam belajar. Menurut
Wloodkowski ( 2007 ) motivasi belajar adalah arah dan ketahanan perilaku siswa dalam belajar.
Dorongan berorientasi pada tujuan belajar. Tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seorang
individu. Tujuan belajar mengarahkan perilaku belajar individu.

BAB VIII

DESAIN PEMBELAJARAN

Perencanaan pembelajaran merupakan penyusunan strategi sistematik dan tertata untuk


melaksanakan pembelajaran. Menganalisis tugas difokuskan pada pemecahan suatu tugas
kompleks yang dipelajari siswa menjadi komponen-komponen. Analisi ini dilaksakan melalui tiga
langkah yaitu:

a. Menentukan keahlian atau konsep yang diperlukan siswa untuk mempelajari tugas
b. Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas
c. Mendaftar semua komponen yang harus dilakukan.

Disain pembelajaran adalah aktivitas yang dilakukan dalam menentukan rencana pembelajaran
dalam: menentukan tujuan instruksional, merencanakan aktivitas dan menentukan prioritas dan
menetukan waktu. Aktivitas bertujuan untuk memenuhi kebutuhan siswa di dalam belajar. Intinya
ialah kelas adalah bagaimana guru dapat mengendalikan seluruh aktivitas kelas agar efektif
mencapai tujuan pembelajaran.

BAB IX

PENILAIAN

Evaluasi merupakan suatu proses pengumpulan informasi dalam rangka penentuan nilai kepada
sesuatu atau objek termasuk program pendidikan berdasarkan suatu kriteria tertentu. Tes
merupakan instrumen yang digunakan dalam melakukan evaluasi atau asasmen. Tes sebagai
seperangkat pertanyaan atau tugas yang memiliki kriteria benar atau salah. Pengukuran juga
digunakan dalam rangka pengumpulan data untuk melakukan evaluasi atau asasmen.

Portofolio penilaian merupakan dokumen yang digunakan untuk memperoleh informasi


perkembangan dan kemajuan belajar peserta didik dalam rentang waktu yang ditentukan.
Penggunaan portofolio sebagai penilaian pembelajaran dilakukan dengan langkah :

1. Tahap persiapan
2. Tahap pelaksaan
3. Tahap penilaian

Portofolio dikembangkan melalui tahapan :

1. Merumuskan tujuan
2. Menentukan format
3. Memilih sistem penyimpanan
4. Mengidentifikasi komponen portofolio
5. Mengumpul dan menyusun karya
6. Menyusun penilaian portofolio

Portofolio mengandung komponen pokok, yaitu :

1. Adanya tujuan yang jelas


2. Kualitas hasil ( outcome )
3. Bukti-bukti otentik
4. Kerjasama anak dengan anak dan anak dengan guru
5. Penilaian yang integratif
6. Adanya kepemilikan melalui evaluasi diri
7. Perpaduan penilaian dengan pembelajaran.
2.2 BOOK II

BAB I PENDAHULUAN

Pengertian dan Ruang Lingkup Psikologi PendidikanPsikologi pendidikan merupakan salah satu
cabang psikologi pada umumnya. Psikologi, sebagai suatu ilmu merupakan pengetahuan ilmiah,
suatu scienceyang diperoleh dengan pendekatan ilmiah yang dijalankan secara terencana,
sistematis, terkontrol, berdasarkan data empiris. Menurut Kalat (2003), psikologi secara istilah
berasal dari kombinasi dua kata, psyche yang mencakuppengertian spirit dan jiwa atau unsur-unsur
spiritual, moral, dan emosi dasar manusia. Kata psychejuga berarti pikiran yang berfungsi sebagai
pusat dari apa yang dipikirkan, emosi dan perilaku dan logos yang berarti ilmu (study). Zimmer
(2003) menyatakan psikologi didefenisikan sebagai perilakumanusia. Jadi psikologi mengandung
pengertian studi tentang proses mental dan perilaku atau studi mengenai fenomena persepsi,
kognisi, emosi, kepribadian, perilaku, dan hubungan interpersonal.
Selanjutnya ahli-ahli psikologi pendidikan terkemuka mendeskripsikan psikologi pendidikan
dalam rumusan yang berbeda-beda. Perbedaan rumusan itu disebabkan oleh perbedaan orientasi,
cara pendekatan, dan fokus perhatian yang ditekankan oleh masing-masing ahli. Psikologi
pendidikan merupakan salah satu cabang psikologi yang membahas persoalan psikologis yang
bertalian dengan pendidikan termasuk
a)Tinjauan psikologis mengenai manusia dalam situasi pendidikan (sifat-sifat umum aktivitas
manusia, sifat-sifat khaskepribadian manusia, sifat-sifat khas individu, dan perbedaan-perbedaan
dalam bakat)
b)Tinjauan psikologis mengenai manusia dalam proses pendidikan (masalah belajar,
perkembangan individu, perubahan individu dalam proses belajar, pengukuran dan penilaian hasil-
hasil pendidikan).
Berdasarkan pendapat para ahli, pembahasan dalam psikologi pendidikan mencakup
(a) perkembangan kognitif, sosial, dan moral, (b) perbedaan individual, (c) belajar dan kognisi
dalam perspektif behaviorisme, kognitif, kognitif sosial, dan kontruktivisme, (d) motivasi, (e)
metode penelitian (kuantitatif dan kualitatif), (f) aplikasi dalam desain instruksional dan teknologi
pembelajaran, dan (g) aplikasi dalam pembelajaran. Pada prinsipnya persoalan psikologis yang
menjadi fokus utama dalam psikologi pendidikan adalah peserta didik, yakni sifat-sifat psikologis
yang ada pada peserta didik dalam proses pendidikan, termasuk pengembangan ragam potensi
peserta didik yang mencakup potensi spiritual, sosial, emosional, akademik, dan fisik, masalah
kesehatan mental, dan evaluasi hasil belajar.

B. Perlu dan Pentingnya Psikologi PendidikanTuntutan persyaratan guru sebagai tenaga


profesional menunjukkan bahwa sudah menjadi keharusan bagi setiap pendidik yang bertanggung
jawab dalam melaksanakan tugasnya untuk berbuat dalam cara yang sesuai dengan keadaan
peserta didik. Hal ini berarti bahwa pengetahuan psikologis mengenai peserta didik adalah hal
yang perlu dan penting bagi setiap pendidik. Artinya “wajib hukumnya” bagi setiap pendidik untuk
memiliki pengetahuan dan aplikasinya tentang psikologi pendidikan.
Para pendidik diharapkan mampu memperlakukan peserta didik sesuai dengan sifat-sifat,
kebutuhan, karakteristik, dan perbedaan-perbedaan individual lainnya. Fokus persoalan
pendidikan adalah peserta didik, artinya pendidikan adalah suatu proses yang berorientasi pada
perubahan psikologis peserta didik. Perlakuan psikologis yang tepat menjadi salah satu faktor
utama tercpainya proses pembudayaan peserta didik.Mendidik anak agar menjadi “anak yang
hebat” pada hakikatnya tidak keliru, bahkan dalam batas-batas tertentu memang seharusnya
demikian. Psikologi pendidikan berupaya meletakkan dasar-dasar kepribadian berdasar pada
konsep kematangan, perbedaan-perbedaan individual, hereditas, atau bawaan, tetapi dapat pula
karena faktor lingkungan, termasuk lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.Psikologi
pendidikan berfungsi sebagai alat bantu untuk mencitpakan kehidupan yang lebih sehat, damai dan
sejahtera. Ini berarti bahwa psikologi pendidikan dibutuhkan oleh siapa saja yang ingin
menjalankan kehidupan sehari-hari secara sehat. Hidup sehat; jasmani, rohani, emosional,
intelektual, dan spiritual menjadi dambaan setiap insan yang normal.

BAB 2
PERKEMBANGAN INDIVIDU

A.Teori-Teori Perkembangan
1.Teori Psikodinamika Sigmund Freud Teori Psikodinamika Sigmund Freud lebih dikenal dengan
istilah teori psikoanalisis. Konsep ini memiliki kesamaan dengan konsep belajar sosial. Freud
sebagai konseptor psikoanalisis, memandang bahwa seorang anak yang dilahirkan memiliki dua
kekuatan (energi) biologik, yaitu libido dan nafsu mati.
2.Teori yang Berorientasi biologis
Teori yang menekankan faktor biologis menitikberatkan pengaruh faktor bawaan atau keturunan,
termasuk faktor bakat atau keadaan psikofisis yang dibawa sejak dibawa sejak lahir.
Perkembangan bersifat endogen, artinya perkembangan itu tidak hanya secara spontan saja,
melainkan juga harus
dimengerti sebagai pemekaran predisposisi yang sudah ditentukan secara biologis (genotype).
3.Konsep yang Berorientasi
Faktor LingkunganKonsep lingkungan adalah kelompok konsep yang mementingkan pengaruh
lingkungan terhadap perkembangan anak, termasuk konsep-konsep belajar dan konsep-konsep
mengenai sosialisasi yang bersifat sosiologis. Konsep belajar sosial memandang belajar sebagai
suatu bentuk perubahan atas perilaku seseorang dalam disposisi atau potensi yang bersifat relatif
tetap dan tidak disebabkan oleh pertumbuhan.
4.Teori Interaksionisme
Teori ini sering pula disebut teori perkembangan kogntif Piaget. Menurut Piaget, perkembangan
adalah suatu proses perubahan sebagai hasil dari proses belajar yang merupakan kombinasi atau
interaksi dari pembelajaran, pengalaman, dan kematangan. Konsep kognitif bermaksud memahami
aktivitas perilaku manusia seperti perhatian, rekognisi, pembuatan keputusan, pemecahan
masalah, pengetahuan konseptual, belajar, penalaran, dan prinsip-prinsip.

B.Tahap-tahap Perkembangan
Menurut Erikson bayi yang baru lahir menunjukkan tempramen dan kemampuan dasar yang
bersifat individual. Artinya setiap individu menunjukkan perbedaan dan karakteristik pada setip
tahap perkembangan. Karakteristik perkembangan itu disebut Erikson dengan istilah perbedaan
krisis psikologis (psychological crisis) yang harus diatasi individu sebelum dapat mengatasi krisis
psikologis pada tahap berikutnya.

C.Tugas-tugas Perkembangan Secara UmumPada dasarnya perkembangan suatu proses perubahan


ke arah yang lebih maju. Perubahan tersebut adalah perubahan psikofisik sebagai hasil dari proses
pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisikyang ditunjang oleh faktor lingkungan dan hasil belajar.
Perkembangan fisik berkaitan dengan perubahan fisik, sedangkan perkembangan psikis berkaitan
dengan perkembangan sosial, emosional, intelektual dan spiritual.

D.Tugas-Tugas Perkembangan Masa Bayi Dan Kanak-Kanak


Monks, et al.,(2002) menjelaskan bahwa pada waktu dilahirkan pada umumnya anak laki-laki lebih
panjang dan lebih berat dibandingkan dengan wanita. Proporsi badan berubah lebih cepat terutama
pada bagina kedua tahun pertama. Perbedaan mengenai pertumbuhan fisik anak sangat besar pada
barbagai kultur dan bangsa. Pada periode tahun pertama bayi menunjukkan gerak-gerak refleks.
Proses perkembangan pada tahun pertama lebih banyak didominasi pemasakan fisiologis.

BAB 3
PERKEMBANGAN REMAJA

A.Perkembangan Remaja Secara UmumMasa remaja merupakan salah satu masa perkembangan
yang dialami manusia dalam hidupnya dan masa remaja merupakan masa peralihan dari masa
anak-anak ke masa dewasa. Dengan demikian batasan umur sangat fleksibel, artinya dapatmaju
dan mundur sesuai dengan kecepatan perkembangan masing-masing individu. Suatu contoh
batasan umur remaja menurut babarapa ahli (Nuryoto,1994) adalah (a) umur 13-18 tahun
(Hurlock), (b) umur 12-21 tahun (Jersild), (c) 13-21 tahun (Cole), dan (d) umur 13-21 tahun
(Haditono).

B.Perkembangan Fisik Perubahan fisik sudah dimulai pada masa praremaja dan terjadi secara
cepat pada masa remaja pertengahan dan remaja akhir. Cole (dalam Monks, 2002) berpendapat
bahwa perkembangan fisik merupakan dasar perkembangan dari aspek lain yang mencakup
perkembangan psikis dan sosial. Artinya perkembangan fisik berjalan secara baik dan lancar, maka
perkembangan psikis dan sosial juga lancar.

C.Perkembangan KognitifPiaget (dalam Wadswoorth,1984)menjelaskan bahwa selama tahap


operasi formal yang terjadi sekitar usia 11-15 tahun, seorang anak mengalami perkmbangan
penalaran dan kemampuan berfikir untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya berdasarkan
pengalaman langsung. Struktur kognitif anak mencapai kematangan pada tahap ini. Potensi
kualitas penalaran dan berfikir (reasoning and thingking) berkembang secara maksimum.

D.Perkembangan EmosiEmosi merupakan salah satu aspek psikologis manusia dalam ranah
afektif. Aspek psikologis ini sangat berperan penting dalam kehidupan manusia pada umumnya
dan dalam hubungannya dengan orang lain pada khususnya. Keseimbangan diantara ketiga ranah
psikologis sangat dibutuhkan sehingga manusia dapat berfungsi dengan tepat sesuai dengan
stimulus yang dihadapinya.
BAB 4
PEMBERDAYAAN KEARIFAN LOKAL DALAM PAUDA.

A.Pengantar
Perkembangan yang baik ditentukan oleh beberapa aspekdi antaranya adalah adanya dukungan
kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial yang cukup pada saat pertumbuhan dan perkembangan
di usia dini.Keluarga merupakan pendukung utama nilai-nilai kearifan lokalterutama dalam
pengasuhan anak.Dalam keluarga, anak merupakan pusat perhatian, bahkan semenjak dalam
kandungan. Oleh karena itu, orang tua diharapkan mendapatkan model pengasuhan yang tepat.

B. Konsep Pengasuhan Secara Umum


Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama dan terutama bagi anak. Proses interaksi
anak dengan orang-orang di sekitarnya, terutama dengan orang tuanya, yaitu ayah dan ibu mulai
dilakukan dalam lingkungan keluarga. Melalui proses interaksi antara anak dan orang tua
terbentuklah sikap-sikap dan perilaku pada masing-masing pihak, anak mempunyai gambaran
tertentu mengenai orang tua, demikian pula sebaliknya orang tua akan mempunyai gambaran
tertentu mengenai anaknya. Pengasuhan orang tua sebagai suatu mekanisme yang secara langsung
membantu anak mencapai tujuan sosialisasi dan secara tidak langsung memengaruhi internalisasi
nilai-nilai sehingga anak lebih terbuka terhadap upaya sosialisasi melalui berbagai bentuk
kompetensi interaksi sosial.Mengacu pada serangkaian hasil Bumrind (1971) menggolongkan
model-model pengasuhan orang tua atas tiga kategori utama yaitu :
1.Pengasuhan dengan model otoriter
Menunjukkan ciri-ciri:orang tua cenderung melakukan kontrol secara ketat dengan standar
perilaku yang ditentukan oleh orang tua tanpa kompromi dan negosiasi dengan anak, disiplin yang
kaku, cenderung menyandarkan hukuman fisik terhadap pelanggaran, orang tua tidak mendorong
anak, cenderung lebih agresif mengatasi konflik, kurang menunjukkan kasih sayang dan
kehangatan dalam proses interaksi.
2. pengasuhan model otoritatif
Menunjukkan ciri-ciri: orang tua mengarahkan, lebih terbuka, memberikan pertimbangan dan
penjelasan yang rasional tentang kebijakan yang akan dilaksanakan, orang tua memberikan
otonomi kepada anak tetapi juga dengan disiplin, orang tua memberi kebebasan tetapi juga
mengontrolnya, saling memberi dan menerima antara anak dan orang tua, orang tua menunjukkan
kehangatan dan komunikasi yang baik.
3. model pengasuhan permisif
Menunjukkan ciri-ciri: tidak ada kontrol dari orang tua, memberikan kebebasan terhadap harapan-
harapan dan tindakan anak, serba boleh terhadap perilaku anak, tidak konsisten dalam menerapkan
ketentuan dan disiplin, orang tua tidak mendorong anak untuk mengikuti standar yang ada, kurang
melakukan kontrol dan cenderung memanjakan anak.

C. Konsep Pengasuhan Berdasarkan Kearifan Lokal


Keluarga adalah pendukung nilai-nilai kearifan lokal terutama dalam pengasuhan anak karena
anak merupakan pusat perhatian keluarga, bahkan semenjak masih dalam kandungan.Ekowarni
(2007) menjelaskan variasi kearifan lokal dalam mendidik dan mengasuh anak. Batak Mandaliling
sangat menjunjung tinggi falsafah 3H, yaitu hamoroan(kekayaan), hagabeon(kehormatan),
hasangapon(kebahagian). Budaya Minangkabau menganut tatanan yang mengatur nilai
masyarakat Minangkabau adalah adat dan sara, kewajiban menjaga kepentingan keluarga.
Masyarakat Lampung menganut nilai piil Pesenggiri atau watak utama dalam mendidik dan
mengasuh anak.Watak utama yang diharapkan adalah (a) piil Penggiri, memiliki harga diri; (b)
Juluk adek, memiliki gelar; (c) Nemui Nyimah, bersikap terbuka; (d) Nengah Nyapur, hidup
bermasyarakat; (e) Sangkai Sambayan, tolong menolong.Tradisi Melayu yang patut disebut “anak
bertua” ialah anak yang menjadi “orang”, yakni menjadi manusia yang sempurna lahiriah dan
batiniyahnya. Masyarakat Jawa mengasuh dan mendidik anak-anak untuk dapat memenuhi
harapan agar anak-anak memiliki berbagai sifat utama, antara lain berbudi luhur, rukun, temen,
tresna,dan berbagai waktu yang menggambarkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, sehat, dan berahlak mulia.Selanjutnya, uraian berikut ini
menggambarkan hasil penelitian tentang pengetahuan, sikap, dan perilaku ornag tua terhadap anak
usia dini (Thalib, dkk, 2007).
BAB 5
ANALISIS SOSIOKULTURAL VYGOTSKY DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI
PENDIDIKANA.

A.Pengantar
Pengetahuan teoritis aplikatif tentang psikologi pendidikan agar dapat memberikan arah dan
perlakuan psikologis yang dapat mengantarkan anak ke arah pencapaian perilaku yang lebih luas
dan lebih banyak kemungkinan-kemungkinannya. Salah satu upaya yang dapat memberikan
pemahaman yang mendalam tentang pengasuhan anak adalah pemahaman tentang teori-teori
perkembangan yang telah dikembangkan berdasar telaah ilmiah secara empiris aplikatif, termasuk
perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif berhubungan dengan keterampilan sosial yang
diperoleh melalui interaksi sosial dalam kaitannya dengan perkembangan biologis kultural.
Demikian konsep ini digagas oleh Psikolog Kognitif, Vygotsky, yang lebih menekankan
perkembangan kognitif anak dalam persfektif perkembangan sosial kultural.

B. Pokok-pokok Teori Vygotsky


Menurut Vygotsky, interaksi sosial merupakan landasan terjadinya perkembangan kognitif.
Pendekatan Vygotsky terhadap perkembangan kognitif anak berbeda dengan Piaget. Vygotsky
percaya bahwa hidup merindukan proses perkembangan dan hal ini sangat tergantung pada
interaksi sosial dan belajar sosial itu secara aktual berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
Vygotsky menjelaskan bahwa jarak antara tingkat perkembangan aktual ditentukan oleh
pemecahan masalah secara independen. Proses belajar menurut Vygotsky terjadi dalam wilayah
Zone Proximal Development (ZPD), yakni wilayah antara apa yang diketahui dengan apa yang
belum diketahui.

C. Aplikasi Teori Vygotsky dalam Pendidikan


Sumbangan paling penting dari teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat sosiokultural dari
perkembangan dan pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada
umumnya muncul dalam percakapan atau kerja sama antar-individu sebelum fungsimental yang
lebih tingi itu terserap dalam diri individu.
Teori sosiokultural Vygotsky menekankan pentingnya perkembangan kecerdasan/inteligensi
melalui kultur atau masyarakat. Perkembangan individu terjadi melaui dua tahap, yaitu dimulai
dengan pertukaran sosial antarpribadi (interaksi dengan lingkungan sosial), kemudian terjadi
internalisasi intrapersonal. Selanjutnya, keterampilan individu dapat dikembangkan melalui
interaksi individu dengan bantuan atau bimbingan orang dewasa (guru) dan kolaborasi dengan
teman sebaya. Teori sosiokultural Vygotsky pada awalnya diaplikasikan dalam konteks belajar
bahasa bagi anak. Namun, kemudian diaplikasiakan dalam konteks perkembangan kognitif dan
proses belajar secara lebih luas.Secara singkat dikemukakan bahwa teori Vygotsky berfokus pada
4 hal pokok, yakni pengaruh interaksi sosial dalam perkembangan, scaffolding(perancah atau
pemeberi bantuan), modeling zone of proximal development(perbedaan antara apa yang dapat
dikerjakan sendiri oleh anak dan apa yang dapat dikerjakan oleh bantuan orang lain).

BAB 6
KONTROL DIRI DAN KEMATANGAN EMOSIONAL

A. Pengertian Kontrol DiriPakar psikologi kontrol diri, Lazarus (1976) menjelaskan bahwa kontrol
diri menggambarkan keputusan individu melalui pertimbangan kognitif untuk mengontrol perilaku
guna meningkatkan hasil dan tujuan tertentu, sebagaimana yang diinginkan. Gleitman (1999)
mengatakan bahwa kontrol diri merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu
yang ingin dilakukan tanpa terhalangi baik oleh rintangan maupun kekuatan yang berasal dari
individu. Jadi, kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan dorongan-
dorongan, baik dari dalam diri maupun dari luar diri individu.

B. Aspek-aspek Kontrol DiriSecara umum, kontrol diri dibedakan atas tiga kategori utama
(Averill, 1973), yaitu :
1.Mengontrol perilaku (behavioral control) Mengontrol perilaku merupakan kemampuan untuk
memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku
dibedakan atas kemampuan mengatur pelaksanaan dan kemampuan mengatur stimulus.
2.Mengontrol kognitif (cognitive control)Mengontrol kognitif merupakan cara seseorang dalam
menafsirkan, menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif.
Mengontrol kognitif dibedakan atas dua komponen, yaitu kemampuan untuk memperoleh
informasi dan kemampuan melakukan penilaian.
3.Mengontrol keputusan (decision control)Mengontrol keputusan merupakan kemampuan
individu untuk memilih dan menentukan tujuan yang diinginkan. Kemampuan mengontrol
keputusan akan berfungsi baik bilamana individu memiliki kesempatan, kebebasan, dan berbagai
alternatif dalam melakukan suatu tindakan.

C. Bagaimana Cara mengembangkan Kemampuan Kontrol Diri


Secara umum, strategi untuk memaksimalkan kontrol diri dapat digolongkan dalam tiga kategori
(Wandersman, 1987), yaitu:
1.Membuat atau memodifikasi lingkungan menjadi responsif atau menunjang tujuan-tujuan yang
ingin dicapai oleh individu.
2.Memperbanyak informasi dan kemampuan untuk menghadapi atau menyesuaikan diri dengan
lingkungan.
3.Menggunakan secara lebih efektif kebebasan memilih dalam pengaturan lingkungan.
BAB 7
KONSEP DIRI DAN PENGEMBANGANNYA

A.Pengertian Konsep Diri


Konsep diri merupakan bagian penting dalam perkembangan kepribadian. Secara umum,
Greenwald et al., (dalam Campbell et al., 1996) menjelaskan bahwa konsep diri sebagai suatu
organisme dinamis didefinisikan sebagai skema kognitif tentang diri sendiri yang mencakup sifat-
sifat, nilai-nilai, peristiwa-peristiwa dan memori semantik tentang diri sendiri serta kontrol
terhadap pengolahan informasi diri yang relevan.Konsep diri merupakan filter dan mekanisme
yang mewarnai pengalaman keseharian. konsep diri merupakan verifikasi diri, konsistensi diri dan
kompleksitas diri yang terbuka untuk interpretasi sehingga berkaitan dengan pembelajaran dan
menjadi mediasi variabel motivasi dan pilihan tugas-tugas pembelajaran.

B.Aspek-Aspek Konsep Diri


Song dan Hattie (1984) menyatakan bahwa aspek-aspek konsep diri dibedakan menjadi konsep
diri akademis dan non-akademis. Konsep diri sebagai gambaran atau pengetahuan tentang diri
sendiri yang mencakup diri jasmaniah, diri sosial dan diri spiritual.

C.Faktor-Faltor yang Mempengaruhi Konsep Diri


Berdasarkan telaah deskriptif dan analisis empiris mengenai konsep diri dapat dikemukakan bahwa
faktor-faktor yang memengaruhi konsep diri siswa mencakup faktor keadaan fisik dan penilaian
orang lain mengenai fisik individu; faktor keluarga termasuk pengasuhan orang tua, pengalaman
perilaku kekerasan, sikap saudara, dan status sosialekonomi; dan faktor lingkungan
sekolah.D.Konsep Diri dan Perilaku KekerasanSecara luas hasil penelitian mengungkapkan bahwa
rendahnya konsep diri menjadi prediktor problem perilaku yang berkaitan dengan motivasi belajar
yang rendah, kurangnya inisiatif dan tanggungh jawab sosial. Secara empiris dilaporkan bahwa
rendahnya konsep diri berkorelasi positif dengan agresi dan perilaku kekeraan, prasangka,
kecemasan, depresi, dan gangguan mental lainnya.

BAB 8
KETERAMPILAN KOMUNIKASI DIADIK DAN IMPLIKASINYA DALAM
PEMBELAJARAN

A.Pengantar
Berdasarkan telaah dan hasil-hasil penelitian, DeVito (1995) kemudian menyimpulkan bahwa
kompetensi interpersonal merupakan suatu hasil belajar yang menuntut kemampuan
menyesuaikan diri. Berdasarkan sudut pandang inilah sehingga penguasaan keterampilan
komunikasi diadik baik secara teoritis konseptual maupun aplikasi praktis merupakan hal penting
dalam meningkatkan kemampuan individual maupun sosial termasuk dalam proses belajar
mengajar.
B.Apakah Komunikasi Diadik Itu?
Komunikasi diadik merupakan salah satu bentuk komunikasi yang terjadi antara dua individu baik
yang sudah saling mengenal maupun yang belum saling mengenal. Komunikasi diadik terjadi
dalam situasi interaksi saling berhubungan antara dua individu.

C.Proses Komunikasi Diadik


Proses komunikasi menunjukkan adanya saling ketergantungan antara individu yang satu dengan
yan g lainnya. Ada 5 tahap terjadinya proses berkomunikasi. Tahap pertama, masing-masing
individu berada pada titik yang berbeda, belum ada interaksi. Pada tahap kedua mulai muncul
kesadaraan atau tahap memersepsi. Tahap ketiga, hubungan awaldimulai ketika dua orang
mengadakan kontak pertama, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi
dari reaksi pasangannya. Tahap keempat adalah kebersamaan, jika komunikasi berlangsung
beberapa lama, hubungan mulai berkembang; dan tahap kelima ini topik pembicaraan dan aktivitas
semakin bervariasi dan saling pengaruh menjadi semakin kiuat yanhg ditandai dengan hubungan
emosional yang mendalam.

D.Faktor-Faktor Penentu Keterampilan Komunikasi Diadik


Faktor-faktor penentu komunikasi diadik sebagaimana terungkap secara implisit dalam uraian
tentang proses komunikasi dapat dibedakan atas:
(1) faktor internal, yaitu faktor yang bersumber dari individu baik oengirimmaupun
penerima pesan
(2) faktor eksternal atau faktor yang bersumber dari luar yang memengaruhi komunikasi diadik.

E.Implikasi Keterampilan Komunikasi Diadik dalam Proses Belajar Mengajar


Keterampilan komunikasi merupakan suatu hasil belajar yang memrlukan penyesuaian diri.
Teknik-teknik yang mendukung efektivitas komunikasi dapat dicermati dari unsur-unsur
komunikasi yaitu pengirim, penerima, saluran komunikasi, kemampuan personal, faktor sosial dan
situasional.Selanjutnya, proses komunikasi diadik memerlukan keterampilan dasar yang
mencakup keterampilan dasar yang mencakup keterampilan bertanya dan membuka percakapan,
keterampilan paraphrasing, keterampilan mengidentifikasi perasaan, keterampilan merefleksikan
perasaan dan keterampilan konfrontasi.

BAB 9
KETERAMPILAN SOSIAL DAN UPAYA PENGEMBANGANNYA

A.Pengertian Keterampilan Sosial


Keterampilan sosial dan kemampuan menyesuaikan diri menjadi semakin penting ketika anak
sudah menginjak masa remaja karena pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan
yang lebih luas dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan.
Menurut hasil studi Davis dan Forsythe (1984), dalam kehidupan remaja ada 8 aspek yang
menuntut ketermpilan sosial yaitu : keluarga; lingkungan; kepribadian; rekreasi; pergaulan dengan
lawan jenis; pendidikan; persahabatan dan solidaritas kelompok; dan lapangan kerja.

B.Faktor-Faktor Penentu Keterampilan Sosial


Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan.
Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana anak
akan bereaksi terhadap lingkungannya.

C.Bagaimana Cara Mengembangkan Keterampilan Sosial?


Seseorang memiliki keterampilan sosial tinggi, apabila dalam dirinya memiliki keterampilan sosial
yang terdiri dari sejumlah sikap termasuk : (a)kesadaran situasional atau sosial; (b) kecakapan ide,
efektivitas, dan pengaruh kuat dalam melakukan komunikasi dengan orang atau kelompok lain;
(c) berkembangnya sikap empati atau kemampuan individu melakukanhubungan dengan orang
lain pada tingkat yang lebih personal; (d) terampil berinteraksi.

D.Permainan Bujur Sangkar BerantakanPermainan bujur sangkar berantakan bertujuan untuk


menjelaskan faktor-faktor yang dapat menghambat dan mendorong kerja sama yangbaik dan
menyadarkan anggota tim akan pentingnya kerja sama satu sama lain.Langkah-langkah permainan
bujur sangkar berantajan secara singkat. Guru menjelaskan perbedaan antara sama-sama bekerja
dengan bekerja sama. Guru menjelaskan keuntungan bekerja sama, kemudian menjelaskan bahwa
setiap kelompok yang terdiri dari lima orang akan dibagiikan satu set amplop yang berisikan
kepingan lima bujur sangkar dan bila perlu menjelaskan arti bujur sangkar.

E.Memilih Pemimpin Panti Sosial


Siswa atau kelompok melaporkan hasil diskusinya, dan mengemukakan alasan mereka memilih
calonnya itu. Tujuan dari kegiatan ini agar siswa dapat memahami dan mengalami adanya
perbedaan pendapat diantara mereka, serta diharapkan dapat menghargai perbedaan pendapat dan
saling pengertiandengan kelompok lain.

BAB 10
PERSEPSI INTERPERSONAL: DASAR PSIKOLOGIS PERILAKU SOSIAL

A.Pengertian Persepsi Interpersonal


Persepsi interpersonal merupakan salah satu unsure penting dalam proses komunikasi dan interaksi
sosial. Situasi interaksi menyangkut interdependensi dua orang atau lebih yang terjadi karena
adanya kesamaan sinyal berdasar pengalaman bersama. Oleh karena itu, dalam memersepsi,
individu akan menyadari keadaan di sekitarnya dan keadaan diri sendiri. Sebagaimana
dikemukakan oleh Kelley
(dalam Taylor et al., 1994) bahwa persepsi interpersonal melibatkan pengaurh individu yang satu
terhadap individu lainnya, perasaan, kepercayaan, dan perilaku. Dengan lain perkataan, persepsi
interpersonal adalah proses pengorganisasian, pengiterpretasian terhadap stimulus yang diterima
oleh organism atau invidu sehingga merupakan sesuatu yang berarti, dan meupakan aktivitas
yangaktif dan integrative dalam keseluruhan pribadi individu (Walgito, 1990).

B.Proses Terbentuknya Persepsi Interpersonal


Proses persepsi interpersonal berawal dari observasi seseorang, baik terhadap situasi maupun
perilaku, kadang kadang penilaian sesaat terhadap keadaan lingkungan. Pembentukan persepsi
interpersonal menunjukkan bahwa persepsi diawali dengan observasi terhadap seseorang,
kemudian terjadi proses atribusi dan disposisi atau pengaturan dan pengintegrasian seluruh faktor
yang berperan dalam persepsi secara terintergrasi sehingga membentuk suatu kesan terhadap objek
persepsi. Jadi menurut Brehm dan Kassin, pembentukan kesan dapat timbul melalui dua cara yaitu:
(a) stimulus yang diterima melalui observasi memperoleh penilaian atau atribusi, pengelolaan atau
disposisi, dan interprestasi secara trintegrasi dengan keseluruhan aspek yang mempengaruhi
persepsi serta pribadi person yang terlibat dalam proses interaksi, atau (b) stimulus yang diterima
menimbulakan kesan secara langsung melalui penilaian sesaat tanpa prose atribus, disposisi, dan
integrasi.

C.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Interpersonal


Ahli komunikasi interpersonal, Kelley 9dalam Taylor et al., 1994), menyatakan bahwa untuk lebih
mempermudah pemahaman tentang persepsi interpersonal, ada dua faktor penting mempengaruhi
persepsi interpersonal. Pertama, faktor fisik dan psikologis seperti: kesan dari penampilan fisik
(ekspresi wajah, kontak mata, postur tubuh), perasaan, suasana hati, emosi, dan informasi
nonverbal merupakan faktor penting dalam memersepsi. Kedua, latar belakang kepribadian yang
ada di balik penampilan fisik seseorang, seperti sifat, motif-motif, dan cenderung atau minat
seseorang. elalui telaah dan penelitian eksperimen (Feldman, 1985; Brehm & Kassin, 1983; Baron
& Byrne, 1994) mengungkapkan bahwa persepsi interpersonal dipengaruhi oleh faktor-faktor
keunikan, kekontrasan, ekspresi wajah (kontak mata), penampilan/ daya tarik fisk, faktor
kedekatan, kemiripan/kesamaan sifatsifat kepribadian, dan faktor keuntungan ataupenilaian timbal
balik.

D.Pengaruh Persepsi Interpersonal Terhadap Perilaku Sosial


Komunikasi dalam lingkup interaksi sosial menekankan penting nya persepsi interpersonal.
Bahkan persepsi interpersonal menjadi basis komunikasi dan interaksi sosial, sebagaimana
diungkapkan oleh Beck (dalam Brehm & kassin, 1993). Juga Mead (dalam Levesque, 1997)
berasumsi bahwa persepsi interpersonal menentukan keadaan psikologis individu yang stau
dengan individu lainnya. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa perilaku seseorang sering kali
relevan untuk dijelaskan melalui penelaahan deskriptif terhadap persepsi interpersonal dalam
hubungan sosial.Masalah yang sering dihubungkan dengan kesalahan persepsi interpersonal
adalah streotip dan dampak gema (Hanurawan, 1999). Sterotip adalah generalisasi tentang
karakteristik umum suatu kelompok individu. Gejala perilaku stereotip dinilai terlalu
menyederhanakan realitas suatu objek sosial dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman dan
interprestasi terhadap dunia sosial yang kompleks.

BAB 11
PERILAKU KEKERASAN DAN SOFT SKILLS : APLIKASI PSIKOLOGI ISLAMI DALAM
MENGEMBANGKAN KESEHATAN MENTAL

A.Psikologi Islami dan Kesehatan Mental


Psikolog islami merupakan corak psikologi berlandaskan citra manusia menurut ajaran islam, yang
mengkaji keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri
sendiri dan lingkungan sekitar, dan alam kerohanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan
mental dan kualitas keberagaman (bastaman, 1995). Psikologi islami merupakan gerakan
Islamisasi psikologi dengan landasan dan orientasi nilai-nilai islami. Psikologi islami berorientasi
pada citra manusia menurut ajaran Islam. Psikologi islami bertujuan untuk meningkatkan
kesehatan mental manusia dan kualitas keberagaman.
A.Perilaku Kekerasan
Perilaku kekerasan mengandung risiko bahaya dan kerugian bagi orang lain maupun pelaku
kekerasan. Perilaku kekerasan sebagai bentuk perilaku yang dapat merugikan orang lain seperti
luka fisik, psikologis, dan sosial. Lystad (dalam Roark,1993) membedakan kekerasan ke dalam
empat jenis, yaitu (a) kekerasan Instrumnetal, yaitu kekerasan yang dimaksudkan untuk mencapai
tujuan tertentu, seperti siswa yang meninju dinding kelas hanya karena bermaksud
memperlihatkan kehebatannya; (b) kekerasan ekspresif yaitu kekerasan yang bertujuan menyakiti
diri sendiri atau orang lain, seperti siswa yang meninju siswa lainnya sebagai tindakan balas
dendam; (c) kekerasan secara cultural, yaitu kekerasan yang diterima secara cultural, seperti
ucapan-ucapan yang bernada kekerasan tapi sudah menjadi kelaziman dalam masyarakat tertentu;
dan (d) kekerasan nonkultural, yaitu kekerasan yang tidak dilegitimasi sesuai dengan norma-norma
cultural, seperti memukul, menendang, meninju, mencai maki, dan bentuk-bentuk agresi fisik dan
verbal lainnya.Selanjutnya, Diponegoro (2003) menjelaskan berbagai bentuk perilaku
kekerasan.1.Mengolok-olokan orang lain.2.Mencela 3.Memanggil orang lain dengan gelar-gelar
yang tidak disukai4.Berburuk sangka 5.Mencar-cari kesalahan orang
lain.6.BergunjingSelanjutnya, menghindari perilaku kekerasan dapat dilakukan dengan
menegakkan dan membina ukhuwah islamiah. Dalam menghadapi kekerasan, hendaklah sebagai
seorang muslim dalam berinteraksi dengan masyarkat, mau tidak mau, suka tidak suka, sengaja
atau tidaksengaja pasti akan terjadi singgung menyinggung dan luka melukai perasaan.
Andai kata perasaan kita yang teluka atau dilukai oleh orang lain, maka Islam mengajarkan tiga
sikap meresponnya, yaitu:a.Menahan dirib.Memberi maafc.Membalasnya dengan kebaikan

B.Soft Skills dan Upaya Pengembangannya


Soft Skills merupakan keunggulan personal seseorang yang terkait dengan hal-hal non teknis,
termasuk di antaranya kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, dan kemampuan mengendalikan
diri sendiri. Soft Skills adalah kemampuan yang dimilik seseorang yang tidak bersifat kognitif,
tetapi lebih bersifat afektif yang memudahkan seseorang untuk mengerti kondisi psiklogis diri
sendiri, mengatur ucapan, pikiran, dan sikap serta, perbuatan yang sesuai dengan norma masyarakt,
berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.Swiderski (dalam Soelistiyowati, 2008),
menjelaskan bahwa soft skills terdiri atas 3 faktor utama, yaitu (a) Kemampuan psikologis, yakni
kemampuan yang dapat membuat seseorang bertindak atas pertimbangan pemikiran sehingga
tercipta perilaku yang sesuai dengan apa yang ada dipikirannya, termasuk kemampuan control diri
dan konsep diri; (b) Kemampuan sosial, yaitu kemampuan seseorang untuk berinteraksi dan
membawa diri dalam pergaulan dalam kelompoknya; (c) Kemampuan komunikasi, yaitu
kemampuan yang meliputi upaya penyampaian pesan dan informasi baik yang tertulis, tidak
tertulis, verbal maupun nonverbal.

BAB 12
STUDI META-ANALISIS ATRIBUSI PERSONAL DAN PENGALAMAN PERILAKU
AGRESI

A.Pengertian dan Faktor-faktor Penyebab Perilaku Agresif


Secara umum, perilaku agresif didefiniskan sebagai perilaku yang secara actual menimbulkan
dampak negative baik secara fisik, psikis, sosial, intergritas pribadi, objek atau lingkungan.
Perilaku agresif merupakan suatu konstruk yang multidimensional yang dipengaruhi oleh berbagai
macam faktor. Secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi dua kategori,
yaitu (1) sebagai proses internal yang dapat dielaskan melalui teori kepribadian, teori insting, teori
frustasi-agresif, teori modeling, dan (2) faktor eksternal, yaitu faktor lingkungan (fisik dan
psikologis)

B.Metode Penelitian Perilaku Agresif


Penelitian ini menggunakan pendekatan meta-analisis dengan mengikuti prosedur penelitian meta-
analisis korelasi Hunter dan Schmidt (1990, 1994). Analisi korelasi meta-analisis ini dimaksudkan
untuk mengungkapkan hubungan meta-analisis atribusi personal dan pengalaman agresif dengan
perilaku agresif.

BAB 13
PENGEMBANGANKAPITAL INTELEKTUAL DAN SOSIAL :REFLEKSI PSIKOLOGIS
MANAJEMEN SDM

A.Pengantar
Karakteristik paradigma baru yang melandasi pengembangan kualitas SDM, mencakup : (a)
Toleransi terhadap ambiguitas dan sikap proaktif; (b) kecepatan dan responsibilitas; (c) saling
ketergantungan antar mitra usaha; (d) penekanan pada lingkungan yang kompetitif; (e)
kepemimpinan yang menonjol dari setiap anggota organisasi; dan (f) fleksibilitas, kreativitas, dan
inovasi.Pakar pengembangan SDM, Wigg (1997) menyatakan bahwa manajemen yang progresif
dalam suatu organisasi mempertimbangkan manajemen kapital intelektual dan sosial untuk
kelangsungan hidup organisasi.

B. Manajemen kapital intelektual


Kapital intelektual adalah perangkat yang diperlukan untuk menemukan peluang dan mengelola
ancaman dalam kehidupan. Istilah kapital intelektual mengacu pada pengetahuan dan kapitabilitas
inteligen, dan praktisi profesional.Para pakar manajemen SDM mengatakan bahwa kapital
intelektual sangat besar perannya dalam menambah nilai suatu kegiatan. Bebagai organisasi yang
unggul dan meraih banyak prestasi adalah organisasi yang terus-menerus mengembangkan sumber
daya manusianya.
Sebagai upaya menciptakan kondisi perubahan dan kombinasi sumber-sumber kapital intelektual
menekankan pentingnya pengembangan kepemimpinan pada semua ini dalam suatu organisasi.

C. Manajemen kapital sosial


Kapital intelektual akan tumbuh bila masing-masing orang berbagu wawasan. Untuk dapat berbagi
wawasan, orang harus membangun jaringan sosial yang disebut dengan kapital sosial. Pakar
sosiologi menyatakan bahwa istilah kapital sosial digunakan untuk menjelaskan sumber-sumber
relasional dan kelektan dalam hubungan persoanal yang berimplikasi pada pengembanggan
individual dalam komunitas organisasi sosial.

D. Manajemen kapital lembut


Kapital lembut adalah kapital yang diperlukan untuk menumbuhkan kapital soail dan intelektual.
Salah satu faktor penyebab hancurnya bangsa ini karena lunturnya soft capital atau kapital lembut
ini, termasuk tidak adanya sifat amanah, sifat jujur, beretika yang baik, bisa dipercaya dan percaya
pada orang lain (trust) mampu menhan emosi, disiplin, pemaaf, penyabar, iklas dan selalu ingin
menyenangkan orang lain.

BAB 14
SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN PERILAKU MENYIMPANG

A.Siswa berkebutuhan khusus


Anak luar biasa diartikan sebagai individu-individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda
dari individu-individu lainnya yang dipandang normal oleh masyarakat pada umumnya.Anak luar
biasa menunjukkan karakteristik fisik, intelektual, dan emosional yang lebih rendah atau lebih
tinggi dari anak normal sebayanya, atau berada di luar standar norma-norma yang berlaku di
masyarakat apakah itu menyimpang ke atas maupun ke bawah dari segi fisik, intelektual maupun
emosional sehingga mengalami kesulitan dalam meraih sukses baik dari segi sosial, personal,
maupun aktivitas pendidikan.Istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan keluarbiasaan,
yaitu : disabled, impaired, disordered, handicap, atau exceptional.
1.Kategori eksepsionalita
Secara umum, sifat-sifat khusus pribadi menyimpang termasuk pada salah satu atau lebih dari
kategori berikut ini :
a)Kelainan sensori
b)Deviasi mental
c)Kelainan komunikasi
d)Ketidakmampuan belajar
e)Perilaku menyimpang
f)Cacat fisik dan kesehatan

2.Layanan pendidikan sosial


Seorang individu yang mengalami deviasi ringan seringkali berupaya mengimbangi ketunaannya
dengan mengabaikan efek deviasi intelektual dan sosialnya.Anak luar biasa dengan kategori
sedang dan berat memerlukan pendidikan individual, pengajaran khusus, dan penempatan pada
program pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa.

3.Prevalensi anak berkebutuhan khususAda beberapa kesulitan dalam mengestimasi anak luar
biasa, yaitu :
a)Kesulitan dalam menentukan jenis-jenis kelainan yang berkaitan dengan kelainan khusus yang
lebih bersifat kondisional.
b)Masalah yang berhubungan dengan prosedur evaluasi dan kriteria yang digunakan untuk
menetukan eksistensi kondisi kelainan.
c)Tenaga profesional dan biaya yang terbatas dalam menangasi anak luar biasa.
4.Program pendidikan dan pengajaran khususAda dua alternatif program pengajaran yang
diajukan, yaitu :
a)Penyandang catat memperoleh program pengajaran yang diajukan
b)Program pengajaran khusus pada kelas khusus atau sekolah khusus

B. Perilaku menyimpangSiswa-siswa yang melakukan atau mengatakan sesuatu yang pada


pokoknya mengganggu ataumerugikan orang lain maupun dirinya sendiri sering dideskripsikan
sebagai manifestasi dari penyimpangan perilaku.

BAB 15
PROFESIONALISME GURU : MASALAH DAN UPAYA PENGEMBANGANNYA

A.Pengantar
UUD yang menuntut kualifikasi guru minimal berpendidikan D4/S1 membuat para guru, terutama
guru SD, mulai berlomba mencari gelar sarjana. Pemenuhan pernyaratan kualifikasi akademik
minimal S1/D4 dibuktikan dengan ijazah dan persyaratan relevansi mengacu pada jejang
pendidikan yang dimiliki dan mata pelajaran yang dibina.

B. Kompetensi guru profesinal


Kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang
berwujud tindakan cerdas dan penuh tangguang jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen
pembelajaran. UUGD dan PP no.19/2005 menyatakan kompetensi guru meliputi kompetensi
sebagai berikut :
1.Kompetensi kepribadian, merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian
yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan
berakhlak mulia.
2.Kompetensi pedagogis, meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengktualissikan berbagai potensi yang dimilikinya.
3.Kompetensi profesional, merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam
yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran disekolah dan substansi keilmuan
yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
4.Kompetensi sosial, merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi secara efektif dengan
peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat
sekitar.

C. Masalah pengembangan profesional guru


Bertolak dari prinsip atau persyaratan profesi guru dapat diindentifikasikan berbagai masalah
sebagai berikut :
a)Seberaapa banyak guru kita menjadi guru karena bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme?
b)Seberapa tinggi komitmen guru-guru kita untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,
ketakwaan, dan akhlak mulia?
c)Masih adakah guru-guru kita yang kualifikasi akademiknya belum S1 atau sarjana, dan latar
pendidikannya tidak sesuai dengan bidang tugasnya?
d)Masih adakah guru kita yang kompetensinya tidak sesuai dengan bidang tugasnya?
e)Adakah guru yang tidak memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas kprofesinalannya ?

D. Pembinaan guru sebagai tenaga profesional


a)Penerimaan mahasiswacalon guru di LPTK dan penerimaan guru CPNS perlu menggunakan alat
seleksi yang memungkinkan
b)Pengembangan kompetensi kepribadian dan sosial
c)Pengembangan kompetensi pedagogis dan profesi

BAB 16
TEKNIK PENYUSUNAN SKALA PENGUKURAN

A.Konsep Dasar Pengukuran


Ilmu pengukuran (measurement) merupakan cabang dari ilmu statistika terapan yang bertujuan
membangun dasar-dasar pengembangan tes yang lebih baik sehingga dapat menghasilkan tes yang
berfungsi secara optimal, valid, reliabel. Dasar-dasar pengembangan tes tersebut dibangun atas
model-model matematika yang secara berkesinambungan terus diuji kelayakannya oleh ilmu
psikometri.

B.Langkah-Langkah Konstruksi Instrumen

Ancok (1995) menjelaskan ada tiga cara untuk mengopersionalkan suatu konsep, yaitu :

1.Mencari definisi-definisi tentang konsep yang kan dioperasionalkan, perilaku kekerasan


misalnya dalam berbagai ilmu literatur.
2.Kalau sekiranya di dalam literatur tidak diperoleh definisi konsep yang ingin diukur, maka kita
harus mendefenisikannya sendiri.
3.Selain tu kita juga dapat menanyakan langsung pada responden.
BAB III

DISCUSSION

3.1 Strengthness

In terms of the systematics of writing as a whole, these two books are quite good because they
are in accordance with the format of the teaching book for higher education, which already has
a preliminary page consisting of titles, table of contents and introductory words. The body of the
book and the closing page are also in accordance with the teaching format.

Improved Spelling In terms of EYD (Enhanced Spelling), these two books are quite good because
there are only a few errors in terms of spelling but there are still errors in letter writing, word
writing, and the use of punctuation.

Judging from the contents of these two books, both of them have several advantages and
disadvantages. The advantages of this book are the content of the material in each chapter is
discussed in depth, seen from the many opinions or views of experts in expressing a definition
such as the definition of psychology.

When viewed in terms of the appearance of the cover, in our opinion both of these books are
quite interesting, because they look elegant and the background of the picture also represents
the title of the book which is a picture of children who are gathering where the contents of this
book also discuss psychology in education specifically discussing psychology learners.

3.2 Weakness

The shortcomings in these two books in terms of material content are that the author is
sometimes too wordy in explaining material and the use of language that is quite difficult to
understand makes the reader feel bored to read each sub-chapter of the material.

Weakness in terms of appearance where sometimes a lot of material presentation with writing
is too full on one page without any paragraph so as to cause saturation in reading it .
BAB IV

CLOSING
4.1 Conclusion

Based on the results of the critical book report, seen from the strengths and weaknesses that can
still be tolerated, both of these books are feasible to become one of the teaching materials as
well as reference sources for teacher and prospective teacher students in mastering and knowing
how to understand psychology in education, especially psychology concerning students. This
book is suitable for use by teachers or prospective student students as one of the handbooks in
learning about educational psychology because the content of this book is complete where it not
only discusses psychological theory but has discussed teacher professionalism and measurement
scaling techniques so as to improve quality teacher and student teacher candidates.

4.2 Recommendation

through the critical book report activity that discusses material relating to this educational
psychology, it is better if we as the next generation students and prospective educators certainly
understand more about what, and how is the psychological concept of a student to prepare to
become a professional teacher in the future. Furthermore, through this critical book report
activity, students should further increase positive activities to be more critical in thinking so that
they are not just reading books, but paying attention to things that should be criticized as input
so that the writer will be better in the future.
BIBLIOGRAPHY

Milfayetty, Sri , dkk .2018 . PSIKOLOGI PENDIDIKAN . Medan : Pps UNIMED .

Thalib Bachri , Syamsul. 2010 . PSIKOLOGI PENDIDIKAN : BERBASIS ANALISIS EMPIRIS APLIKATIF .
Jakarta : Kencana .