BAB 1

PENDAHULUAN
PENGEMBANGBIAKAN BAKTERI MERAH
SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN IPA TERPADU
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan
munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub
ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus
lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang
dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat
dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari
ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan. Terlepas
dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu
pengetahuan, sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya
“Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu
pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial
menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut
Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat
hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis
batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.
Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya,
dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi
perbedaan yang muncul.
Pada dasarnya ilmu berkembang dari dua cabang utama yaitu filsafat
alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural sciences)
dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam ilmu-ilmu sosial (the
social sciences). Ilmu-ilmu alam membagi menjadi dua kelompok yaitu ilmu
alam (the physical sciences) dan ilmu hayat (the biological sciences) (Jujun. S.
2003). Ilmu alam ialah ilmu yang mempelajari zat yang membentuk alam
semesta sedangkan ilmu hayat mempelajari makhluk hidup di dalamnya. Ilmu
alam kemudian bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan
energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-
benda langit dan ilmu bumi (the earth sciences) yang mempelajari bumi kita.
Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau Sains dalam arti sempit telah dijelaskan
diatas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik)
dan life sciences (ilmu biologi). Yang termasuk physical sciences adalah ilmu-
ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika,
sedangkan life science meliputi anatomi, fisiologi, zoologi, citologi,
embriologi, mikrobiologi.
1
Kajian interkoneksi antara fisika dengan disiplin ilmu lain memberikan
warna tersendiri dalam ranah perkembangan sains dan teknologi. Simbiosis
mutualisme antara pengetahuan tentang global warming (fisika) dengan
bakteri merah (biologi) misalnya, akan melahirkan banyak kajian keilmuan
yang menguntungkan bagi masyarakat maupun lingkungan.
Sebagai upaya meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran fisika
pada masa sekarang, telah banyak dikembangkan metode-metode yang
bersifat behavioristik (memanusiakan manusia),seperti: student active
learning, quantum learning, quantum teaching, dan accelerated learning.
Seluruh metode tersebut digunakan dalam rangka revolusi belajar yang
melibatkan guru dan siswa sebagai satu kesatuan yang mempunyai
hubungan timbal balik. Peran guru sebagai pengajar/fasilitator, sedangkan
siswa merupakan individu yang belajar.
Kurikulum yang sedang dikembangkan saat ini adalah Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. KTSP adalah kurikulum operasional
yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.
Kurikulum ini merupakan pengembangan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) tahun 2004.
1
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_alam diunduh pada tanggal 30 September 2010
Keberhasilan pembelajaran berdasarkan kompetensi yang ditetapkan
sejak awal kegiatan pembelajaran. Dengan demikian semua pihak yang
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran (guru dan siswa) telah
mengetahui arah pembelajaran. Untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran
diperlukan langkah-angkah agar tujuan yang ditetapkan tercapai. Hal-hal
yang harus dilakukan adalah menggunakan strategi pembelajaran yang
sesuai dengan materi pokok. Agar proses pembelajaran berhasil, guru
diharapkan mampu menerapkan metode yang tepat dan sesuai dengan
pengajaran fisika, guru diharapkan menanamkan prinsip atau rumus yang
ada. Dalam hal ini sebelum siswa menyelesaikan sebuah soal, siswa harus
memahami soal tersebut secara menyeluruh. Ia harus tahu apa yang
diketahui, apa yang dicari,rumus yang harus digunakan dan cara
penyelesaiannya. Untuk itu dalam mengerjakan soal-soal fisika diperlukan
siasat atau strategi dalam penyelesaiannya.
Mengingat begitu pentingnya strategi dalam penyelesaian masalah fisika,
maka untuk menyelesaikan sebuah soal cerita yang pada kenyataannya
siswa masih kesulitan dalam memahami dan menyelesaikan soal tersebut,
sangat diperlukan langkah-langkah untuk mempermudah pemahamannya.
Salah satu strategi yang efektif dalam menciptakan pembelajaran aktif dan
menyenangkan tentunya dengan melibatkan siswa dalam kegiatan diskusi di
kelas. Pembelajaran dengan suasana belajar aktif dan memberikan strategi
dalam penyelesaian soal, dapat diterapkan dengan model pembelajaran
Problem Solving dan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Compotition).
B. Rumusan Masalah
1. Apakah ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal cerita antara
model pembelajaran problem solving dan pembelajaran kooperatif tipe
CIRC pada siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta?
2. Jika ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal cerita antara
model pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC pada
siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta, maka
a. apakah model pembelajaran problem solving efektif untuk
meningkatkan kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA
Negeri 8 Yogyakarta dalam menyelesaikan soal cerita?
b. apakah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC efektif untuk
meningkatkan kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA
Negeri 8 Yogyakarta dalam menyelesaikan soal cerita?
c. manakah yang lebih efektif antara model pembelajaran
problem solving dan pembelajaran kooperatif tipe CIRC?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan siswa
menyelesaikan soal cerita antara model pembelajaran problem solving
dan kooperatif tipe CIRC pada siswa kelas XI SBI semester 1 SMA
Negeri 8 Yogyakarta
2. Jika ada perbedaan kemampuan siswa menyelesaikan
soal cerita antara model pembelajaran problem solving dan
pembelajaran kooperatif tipe CIRC pada siswa SMA maka penelitian ini
bertujuan untuk:
b. mengetahui apakah model pembelajaran problem solving efektif
untuk kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8
Yogyakarta dalam menyelesaikan soal cerita;
c. mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC
efektif untuk kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri
8 Yogyakarta dalam menyelesaikan soal cerita;
d. mengetahui manakah yang lebih efektif antara model pembelajaran
problem solving dan kooperatif tipe CIRC untuk kemampuan siswa
kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta dalam
menyelesaikan soal cerita.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberi manfaat bagi siswa,
guru,sekolah, dan pembelajaran sebagai berikut.
1. Siswa
a. Siswa yang mengalami kesulitan dalam memecahkan soal cerita
akan terkurangi bebannya dengan model pembelajaran problem
solving dan Kooperatif tipe CIRC.
b. Meningkatkan pencurahan waktu dan tugas.
c. Siswa semakin tertantang dengan soal fisika yang rumit.
d. Motivasi dan daya tarik siswa terhadap mata pelajaran fisika dapat
meningkat.
e. Menumbuhkan semangat kerjasama, karena dalam pembelajaran
kooperatif keberhasilan individu merupakan tanggung jawab
kelompok.
2. Guru
a. Sebagai motivasi meningkatkan ketrampilan yang bervariasi yang
dapat memperbaiki sistem pembelajaran.
b. Guru dapat semakin bersemangat dalam belajar mengajar.
c. Guru dapat semakin mantap mempersiapkan diri dalam proses
pembelajaran.
d. Dapat menciptakan suasana kelas yang saling menghargai nilai-
nilai ilmiah dan termotivasi untuk mengadakan penelitian
sederhana yang bermanfaat bagi perbaikan dalam proses
pembelajaran dan meningkatkan kemampuan guru bidang studi.
3. Sekolah
a. Memberikan sumbangan yang baik untuk sekolah dalam rangka
perbaikan proses pembelajaran untuk dapat meningkatkan prestasi
siswa.
b. Mendapat masukkan tentang penelitian yang dapat memajukan
sekolah.
4. Pembelajaran
Penerapan model pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe
CIRC dapat digunakan sebagai masukkan yang diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa.
5. Peneliti
Mendapat pengalaman dalam menerapkan model pembelajaran
problem solving dan kooperatif tipe CIRC, yang kelak dapat diterapkan
saat peneliti terjun ke lapangan.
D. Tinjauan Pustaka
1. Journal of Appliied Siences in Environmental Sanitation, Munir Tanrere;
“Environmental Problem Solving in Chemistry for High School
Students”. Menyimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Solving
mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Kasus ini terbukti dalam
perubahan orientasi pembelajaran yang berpusat dari guru menjadi
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru mengajar dilakukan sebagai
mediator atau fasilitator sedangkan siswa secara aktif menemukan
pemecahan masalah yang menciptakan kreativitas siswa. Ini menunjukkan
guru untuk mengembangkan pemahaman yang baik tentang isu-isu dari
berbagai disiplin ilmu, khususnya dalam ilmu lingkungan.
2. Anna Marie Farnish; “Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC) – Reading”. Menyimpulkan bahwa Pada
pembelajaran kooperatif tipe CIRC aktivitas siswa selama pembelajaran
meningkat, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran juga
mengalami peningkatan, sehingga dapat dikatakan pembelajaran efektif
untuk kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita matematika.
BAB II
DASAR TEORI
1. Belajar dan Pembelajaran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, belajar adalah usaha sadar
atau upaya yang disengaja untuk mendapatkan kepandaian. Beberapa
definisi belajar antara lain sebagai berikut.
a. Cronbach: “Learning is shown by a change in behavior as a
result of
experience”. Artinya, belajar akan nampak dengan adanya perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
b. Harold Spears: “Learning is to observe, to read, to imitate,
to try something themselves, to listen, to follow direction”. Artinya,
belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu
dengan mandiri, mendengarkan, dan mengikuti petunjuk.
c. Geoch: “Learning is change in performance as result of
practice”. Artinya, belajar adalah perubahan ketrampilan sebagai hasil
dari penampilan.
2

Sedangkan, menurut Fontana
3
, “belajar adalah proses perubahan
tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari
pengalaman”.Belajar akan lebih baik apabila subyek belajar itu mengalami
atau melakukannya, jadi tidak bersifat teoristik saja.
Pengertian pembelajaran secara khusus diuraikan sebagai berikut.
a. Behavioristik
Pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang
diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus).
b. Kognitif
Pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan pada siswa
untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami.
c. Gestalt
Pembelajaran adalah usaha guru untuk memberikan materi
pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa lebih mudah
mengorganisasikannya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt (pola
bermakna).
d. Humanistik
Pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk
memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan
minat dan kemampuannya.
4

2
Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
3
Erman Suherman dkk. 2003. Satrategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.Bandung: JICA Universitas Pendidikan
Indonesia
4
Darsono Max.2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan
proses interaksi antara guru dengan siswa yang ditujukan untuk
melakukan perubahan sikap dan pola pikir siswa kearah yang lebih baik
untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
2. Kemampuan Siswa
Kemampuan artinya kesanggupan atau kecakapan
5
. Kemampuan siswa
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kesanggupan atau kecakapan
siswa dalam menyelesaikan soal cerita fisika yang diukur menggunakan
tes fisika berbentuk soal cerita.
3. Soal Fisika Berbentuk Soal Cerita
Soal cerita fisika adalah soal fisika yang diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari serta memuat masalah yang menuntut pemecahan soal. Soal
cerita adalah soal yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari
(contextual problem)
6
.
Panjang pendeknya bahasa yang digunakan biasanya berpengaruh
pada tingkat kesulitan soal tersebut. Makin panjang bahasa yang
digunakan maka makin tinggi tingkat kesulitan soal tersebut. Soal cerita
dalam fisika lebih ditekankan pada penajaman intelektual siswa dengan
realitas sehari-hari. Bentuk masalah-masalah yang dihadapi dirangkai
menjadi kalimat yang harus diterjemahkan ke dalam bentuk kalimat
fisika.
4. Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang
mendorong siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan
suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan
bersama lainya.
Sistem pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai
sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur
7
. Pembelajaran
5
Poerwadarminto. 1999. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
6
Amin Suyitno. 2004. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I.Semarang: Universitas Negeri
Semarang.
76
Anita Lie. 2004. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.
kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong siswa
aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui ketrampilan proses.
Siswa belajar dalam kelompok kecil yang kemampuannya heterogen.
Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling
bekerjasama dan membantu dalam memahami suatu bahan ajar.
Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai
ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok dalam
mencapai ketuntasannya
8
.
Kelompok bisa dibuat berdasarkan:
1) Perbedaan individual dalam kemampuan belajar,
terutama bila kelas itu sifatnya heterogen dalam belajar.
2) Perbedaan minat belajar, dibuat kelompok yang terdiri
atas siswa yang minatnya sama
3) Pengelompokan berdasarkan jenis pekerjaan yang kita
berikan
4) Pengelompokan berdasarkan wilayah tempat tinggal
siswa, yang tinggal dalam satu wilayah dikelompokkan dalam satu
kelompok sehingga mudah koordinasinya.
5) Pengelompokkan secara random atau dilotre, tidak
melihat faktor lain
6) Pengelompokkan atas dasar jenis kelamin, ada
kelompok pria dan wanita.
7) Namun demikian, kelompok belajar dalam penelitian
ini adalah kelompok belajar heterogen dari segi kemampuan
belajar. Hal ini dimaksudkan agar kelompok-kelompok tersebut
tidak berat sebelah.
b. Dasar Teori Pembelajaran Kooperatif
Teori pembelajaran kooperatif terbagi dalam 2 kategori, yaitu teori
Motivasi dan teori Kognitif.
1) Teori Motivasi
Menurut teori motivasi, motivasi siswa dalam pembelajaran
kooperatif terletak pada bagaimana bentuk penghargaan
(reward) atau struktur pencapaian tujuan pada saat siswa
8
Robert Slavin E. 1995. Cooperative Learning: Theory, Research and Practice.Second Edition. Boston: Ally and Bacon.
melaksanakan kegiatan pembelajaran.“Motivational perspective
on cooperative learning focus primarily on the reward or goal
structure under wich students operate.”
9
.
Diidentifikasikan ada tiga macam struktur pencapaian tujuan
seperti berikut.
a) Kooperatif: siswa yakin bahwa tujuan mereka
tercapai jika dan hanya jika siswa yang lain juga akan
mencapai tujuan tesebut.
b) Kompetitif: siswa yakin bahwa tujuan mereka
tercapai jika dan hanya jika siswa lain tidak mencapai tujuan
tersebut.
c) Individualistik: siswa yakin upaya mereka sendiri
untuk mencapai tujuan tak ada hubungannya dengan siswa
lain dalam mencapai tujuan tersebut
10
.
Menurut pandangan teori motivasi, struktur tujuan kooperatif
menciptakan suatu situasi dimana anggota kelompok dapat
mencapai tujuan pribadi mereka apabila kelompok itu berhasil.
Oleh karena itu, anggota kelompok harus membantu teman
kelompoknya dengan cara melakukan apa saja yang dapat
membantu kelompok itu berhasil dan yang lebih penting lagi
adalah mendorong teman kelompoknya untuk melakukan upaya
maksimal.
2) Teori Kognitif
Teori ini menekankan pengaruh kerja sama dalam suasana
kebersamaan didalam kelompok itu sendiri. “cognitive theories
emphasize the effects of working together in itself (whether or not
the groups are trying of group goal)“
11
. Teori kognitif dapat
dikelompokkan dalam dua kategori sebagai berikut.
a) Teori perkembangan
“The fundamental assumption of the developmental theories
that interaction among children around appropriate taks
increases their mastery of critical consepts (Damon, 1984;
9
Ibid hal 7
10
Muslimin Ibrahim dkk. 2001. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA
11
Ibid hal 7
Murray: 1982)”
12
. Asumsi dasar dari teori perkembangan
adalah bahwa interaksi antar siswa disekitar tugas-tugas
yang sesuai meningkatkan penguasaan mereka terhadap
konsep-konsep yang sulit
13
.
b) Teori Elaborasi Kognitif
Pandangan dalam psikologi kognitif telah menemukan bahwa
apabila informasi yang telah ada di dalam memori, siswa
harus terlibat dalam beberapa restruktur atau elaborasi
kognitif suatu materi. Salah satu cara elaborasi konitif yang
paling efektif adalah menjelaskan materi itu pada orang
lain
14
.
c) Dasar teori pembelajaran kooperatif
digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran problem solving
maupun pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Mengingat
pembelajaran problem posing yang dilaksanakan pada
penelitian ini adalah problem posing yang dilaksanakan
secara kelompok.
c. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai
setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting sebagai berikut.
1) Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja
siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat
bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami
konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan
bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat
meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan
perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
2) Penerimaan terhadap keragaman
Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang
berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling
12
Ibid hal 8
13
Ibid hal 8
14
Ibid hal 8
bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui
penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk
menghargai satu sama lain.
3) Pengembangan ketrampilan sosial
Tujuan yang ketiga ialah untuk mengajarkan kepada siswa
ketrampilan kerjasama dan kolaborasi. Selain unggul dalam
membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, model ini
sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan
kemampuan kerjasama
15
.
5. Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC
CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition
atau Pengajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis, termasuk
salah satu tipe model pembelajaran kooperatif. Pada awalnya, model
CIRC diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Dalam kelompok kecil, para
siswa diberi suatu teks atau bacaan (cerita atau novel), kemudian siswa
latihan membaca atau saling membaca, memahami ide pokok, saling
merevisi, dan menulis ikhtisar cerita, atau memberikan tanggapan
terhadap isi cerita, atau untuk mempersiapkan tugas tertentu dari guru
(Muhammad Nur)
16
.
Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok-
kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam
kelompok ini terdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-
masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dalam kelompok
ini tidak dibedakan jenis kelamin, suku/ bangsa, atau tingkat kecerdasan
siswa. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan siswa dapat
meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial
yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana
bekerjasama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar
yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok,
berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerjasama, menghargai
15
Ibid hal 9
16
Amin Suyitno. 2005. Mengadopsi Model Pembelajaran Cooperative Learning TipeCIRC(Cooperative
Integrated Reading and Composition) dalam Meningkatkan Ketrampilan Siswa Menyelesaikan Soal
Cerita.Semarang:UNNES
pendapat teman lain, dan sebagainya. “In addition to solving the
problems of management and motivation in individualized programmed
instruction, CIRC was created to take advantage of the consciderable
socialization potential of coopretive learning”
17
.
Kegiatan pokok dalam CIRC dalam menyelesaikan soal cerita meliputi
rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu: (1) Salah satu anggota
kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca, (2)
Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk
menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan memisalkan
yang ditanyakan dengan variabel tertentu , (3) Saling membuat ikhtisar
atau rencana penyelesaian soal cerita, (4) Menuliskan penyelesaian soal
cerita secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya), dan
(5) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/ penyelesaian (jika ada yang
perlu direvisi)
18
.
Dengan mengadopsi model pembelajaran Cooperative Learning tipe
CIRC untuk melatih siswa meningkatkan ketrampilannya dalam
menyelesaikan soal cerita
19
, maka langkah yang ditempuh seorang guru
fisika adalah sebagai berikut:
a. Guru menerangkan suatu pokok bahasan fisika tertentu
kepada para siswanya ( misalnya dengan metode ekspositori).
b. Guru memberikan latihan soal termasuk cara
menyelesaikan soal cerita
c. Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan ketrampilan
siswanya dalam menyelesaikan soal cerita melalui penerapan CIRC.
d. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa
(Learning Society) yang heterogen. Setiap kelompok terdiri dari 4
atau 5 siswa.
e. Guru mempersiapkan 1 atau 2 soal cerita dan
membagikannya kepada setiap siswa dalam kelompok yang sudah
terbentuk.
17
Robert Slavin E. 1995. Cooperative Learning: Theory, Research and Practice.Second Edition. Boston: Ally and Bacon.
18
Amin Suyitno. 2005. Mengadopsi Model Pembelajaran Cooperative Learning TipeCIRC(Cooperative
Integrated Reading and Composition) dalam Meningkatkan Ketrampilan Siswa Menyelesaikan Soal
Cerita.Semarang:UNNES
19
Ibid
f. Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi
serangkaian kegiatan yang spesifik sebagai berikut.
1) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa
anggota saling membaca soal cerita tersebut.
2) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita
termasuk menuliskan yang ditanyakan dengan suatu variabel
tertentu.
3) Saling membuat rencana penyelesaian soal cerita.
4) Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut.
5) Menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru.
h. Setiap kelompok bekerja berdasarkan serangkaian
kegiatan pola CIRC (team study).
i. Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok.
j. Ketua kelompok, melaporkan keberhasilan kelompoknya
atau melapor kepada guru tentang hambatan yang dialami oleh
anggota kelompoknya. Jika diperlukan, guru dapat memberi bantuan
kepada kelompok secara proporsional.
k. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap
anggota kelompok telah memahami, dan dapat mengerjakan soal
cerita yang diberikan guru.
l. Guru meminta perwakilan kelompok tertentu untuk
menyajikan temuannya di depan kelas.
m. Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilisator jika
diperlukan.
n. Guru memberikan tugas/ soal cerita secara individual
kepada para siswa tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari.
o. Guru bisa membubarkan kelompok yang dibentuk dan para
siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing.
p. Menjelang akhir waktu pembelajaran, guru dapat
mengulang secara klasikal tentang strategi pemecahan soal cerita.
q. Guru dapat memberikan tes formatif, sesuai dengan
kompetensi yang diperlukan.
Dalam hal ini, keterlibatan setiap siswa untuk belajar secara aktif
merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Dengan demikian,
siswa tidak hanya menerima saja materi pengajaran yang diberikan guru,
melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri
dalam kelompoknya. Hal ini diperkuat dengan pendapat Eggen dan
Kauchack
20
yang menulis bahwa “Effective learning occur when students
are actively involved in organizing and finding relationships in the
information”.
6. Pembelajaran Problem Solving
a. Pengertian
Sebelum memberikan pengertian tentang pengertian problem
solving atau pemecahan masalah, terlebih dahulu membahas tentang
masalah atau problem. Suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah
jika seseorang tidak mempunyai aturan tertentu yang segera dapat
dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut.
Munurut Polya
21
, terdapat dua macam masalah :
(1) Masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak
atau konkret, termasuk teka-teki. Kita harus mencari variabel masalah
tersebut, kemudian mencoba untuk mendapatkan, menghasilkan atau
mengkonstruksi semua jenis objek yang dapat dipergunakan untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Bagian utama dari masalah adalah
sebagai berikut.
(a) Apakah yang dicari?
(b) Bagaimana data yang diketahui?
(c) Bagaimana syaratnya?
(2) Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa
suatu pertanyaan itu benar atau salah atau tidak kedua-duanya.Kita harus
menjawab pertanyaan : ”Apakah pernyataan itu benar atau salah ?”.
Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari
suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya.
Penyelesaian masalah merupakan proses dari menerima tantangan
dan usaha-usaha untuk menyelesaikannya sampai memperoleh
20
Ibid hal 11
21
Hudojo, H. 2003. Pengembangan Kurikulum dan pembelajaran Matematika.Malang : JICA
penyelesaian. Sedangkan pengajaran penyelesaian masalah merupakan
tindakan guru dalam mendorong siswa agar menerima tantangan dari
pertanyaan bersifat menantang, dan mengarahkan siswa agar dapat
menyelesaikan pertanyaan tersebut
22
.
Pembelajaran pemecahan masalah adalah suatu kegiatan yang
didesain oleh guru dalam rangka memberi tantangan kepada siswa
melalui penugasan atau pertanyaan matematika
23
. Fungsi guru dalam
kegiatan itu adalah memotivasi siswa agar mau menerima tantangan dan
membimbing siswa dalam proses pemecahannya. Masalah yang diberikan
harus masalah yang pemecahannya terjangkau oleh kemampuan siswa.
Masalah yang diluar jangkauan kemampuan siswa dapat menurunkan
motivasi mereka.
b. Tujuan Pembelajaran Problem Solving
Berhasil tidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu
tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dari pembelajaran problem solving
adalah seperti apa yang dikemukakan oleh
24
, yaitu sebagai berikut.
(1) Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan
kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya.
(2) Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah
intrinsik bagi siswa.
(3) Potensi intelektual siswa meningkat.
(4) Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui
proses melakukan penemuan.
c. Langkah-langkah Pembelajaran Problem Solving
Adapun langkah-langkah yang harus diperhatikan oleh guru di
dalam memberikan pembelajaran problem solving yaitu sebagai berikut.
(1) Menyajikan masalah dalam bentuk umum.
(2) Menyajikan kembali masalah dalam bentuk operasional.
22
Sukoriyanto. 2001. Langkah-langkah dalam Pengajaran Matematika dengan Menggunakan Penyelesaian
Masalah. Dalam Jurnal Matematika atau Pembelajarannya. Malang : JICA.
23
Tim PPPG Matematika. 2005. Materi Pembinaan Matematika SMP. Yogyakarta :Depdikbud.
24
Ibid hal 13
(3) Menentukan strategi penyelesaian.
(4) Menyelesaikan masalah.
Sedangkan menurut Hudojo dan Sutawijaya
25
, menjelaskan bahwa
langkah-langkah yang diikuti dalam penyelesaian problem solving yaitu
sebagai berikut.
(1) Pemahaman terhadap masalah.
(2) Perencanaan penyelesaian masalah.
(3) Melaksanakan perencanaan.
(4) Melihat kembali penyelesaian.
Strategi belajar mengajar penyelesaian masalah adalah bagian dari
strategi belajar mengajar inkuiri. Penyelesaian masalah menurut
J.Dewey
26
, ada enam tahap:
(1) Merumuskan masalah: mengetahui dan menemukan masalah
secara jelas.
(2) Menelaah masalah: menggunakan pengetahuan untuk
memperinci, menganalisis masalah dari berbagai sudut.
(3)Merumuskan hipotesis: berimajinasi dan menghayati ruang
lingkup, sebab akibat dan alternatif penyelesaian.
(4) Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan
pembuktian hipotesis: kecakapan mencari dan menyusun data,
menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar.
(5) Pembuktian hipotesis: cakap menelaah dan membahas data,
menghitung dan menghubungkan, keterampilan mengambil
keputusan dan kesimpulan.
(6) Menentukan pilihan penyelesaian: kecakapan membuat
alternatif penyelesaian kecakapan menilai pilihan dengan
memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap langkah.
25
Ibid hal 13
26
Ibid hal 13
d. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran problem solving
Kelebihan pembelajaran problem solving antara lain sebagai
berikut.
(1) Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis.
(2) Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang
dihadapi.
(3) Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek.
(4) Mendidik siswa percaya diri sendiri.
Kelemahan pembelajaran problem solving antara lain sebagai
berikut.
(1) Memerlukan waktu yang cukup banyak.
(2) Kalau di dalam kelompok itu kemampuan anggotanya
heterogen, maka siswa yang pandai akan mendominasi dalam
diskusi sedang siswa yang kurang pandai menjadi pasif sebagai
pendengar saja.
B. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori diatas, hipotesis awal yang dirumuskan
peneliti adalah tidak ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal cerita
antara model pembelajaran Problem Solving dan CIRC Cooperative
Integrated Reading and Compotition (CIRC) pada siswa kelas XI SBI Semester
1 SMA Negeri 8 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2009/2010.
BAB III
Metode Penelitian
A. Desain Penelitian
1. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik
Random Sampling dengan pertimbangan siswa mendapat materi
berdasarkan kurikulum yang sama, siswa diampu oleh guru yang sama,
siswa yang menjadi objek penelitian duduk pada kelas yang sama dan
pembagian kelas tidak adakelas unggulan. Dipilih 2 kelas sampel
penelitian, yaitu kelas XI SBI-1 dikenai model pembelajaran problem
solving dan kelas XI SBI-2 dikenai model pembelajaran kooperatif tipe
CIRC.
2. Setelah penentuan sampel, untuk mengetahui sampel
berangkat dari titik tolak yang sama maka perlu diadakan uji kesamaan
rata-rata, uji normalitas dan uji homogenitas data awal.
3. Menentukan langkah-langkah pembelajaran Problem
Solving dan pembelajaran kooperatif tipe CIRC yang dituangkan dalam
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
4. Melaksanakan pembelajaran Problem Solving dan
kooperatif tipe CIRC pada kelas eksperimen.
5. Pembagian kelompok ditentukan sebelum kegiatan
pembelajaran Problem Solving dan kooperatif tipe CIRC.
6. Menyusun kisi-kisi tes uji coba.
7. Menyusun instrumen tes uji coba berdasarkan kisi-kisi yang
ada.
8. Mengujicobakan instrumen tes uji coba pada kelas uji coba
(yang sebelumnya telah diajarkan) dimana instrumen tes tersebut akan
digunakan sebagai tes evaluasi pada kelas eksperimen.
9. Menganalisis data hasil instrumen tes uji coba pada kelas
uji coba untuk mengetahui taraf kesukaran, daya pembeda soal,
validitas butir dan reabilitas tes.
10. Soal yang memenuhi syarat dijadikan soal tes evaluasi
pada kelas Problem Solving dan kooperatif tipe CIRC
11. Melaksanakan tes evaluasi pada kelas Problem Solving dan
kooperatif tipe CIRC.
12. Menganalisis data tes evaluasi yang diambil pada kelas
Problem Solving dan kooperatif tipe CIRC.
13. Menyusun hasil penelitian.
B. Obyek Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah totalitas/ keseluruhan subjek penelitian. Populasi yang
diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 8
Yogyakarta.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik Random Sampling,
artinya pengambilan sampel sebanyak tiga kelas secara acak. Dua kelas
eksperimen yaitu kelas XI SBI-1 untuk model pembelajaran Problem
Solving, kelas XI SBI-2 untuk model pembelajaran kooperatif tipe CIRC
(Cooperative Integrated Reading and Compotition), dan kelas XI-A4
untuk kelas uji coba instrumen.
C. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas dalam penelitian ini adalah model
pembelajaran problem solving dan pembelajaran kooperatif tipe CIRC
(Cooperative Integrated Reading and Compotition).
2. Variabel Terikatnya adalah kemampuan siswa
menyeleaikan soal cerita pada kelas yang dikenai model pembelajaran
problem solving dan kelas yang dikenai model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC.
D. Prosedur Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
a. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan informasi
mengenai daftar nama-nama siswa dan data nilai awal fisika, data
ini digunakan untuk analisis tahap awal.
b. Metode Tes
Metode tes ini secara umum bertujuan untuk mengetahui
pencapain keberhasilan pembelajaran problem solving dan
kooperatif tipe CIRC.
c. Observasi pengelolaan kelas oleh guru
Observasi ini digunakan untuk mengetahui pengelolaan
pembelajaran oleh guru.
d. Observasi aktivitas siswa
Observasi ini digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa selama
pembelajaran berlangsung.
e. Angket
Angket digunakan untuk mengetahui pendapat siswa tentang
pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC.
2. Alat Pengumpulan Data
a. Dokumentasi
Daftar nama-nama siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini
yaitu siswa kelas XI SBI-1 dan XI SBI-2 dan data nilai ujian semester
1 diperoleh dari dokumentasi yang menjadi populasi penelitian ini
yaitu SMA Negeri 8 Yogyakarta.
b. Tes
Tes ini digunakan untuk mengambil data tentang hasil tes fisika
yang berbentuk soal cerita yang dikenai pembelajaran problem
solving dan pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Metode tes ini
diberikan setelah siswa diberi perlakuan. Sebelum tes digunakan
untuk memperoleh data hasil penelitian, terlebih dahulu diadakan
uji coba tes pada kelas diluar kelas penelitian. Jenis tes yang
digunakan adalah tes esai.
c. Lembar observasi pengelolaan kelas oleh guru
Lembar observasi ini digunakan untuk mengetahui pengelolaan
pembelajaran oleh guru. Lembar observasi yang disediakan peneliti
dan diisi oleh observer pada setiap pembelajaran problem solving
dan kooperatif tipe CIRC. Indikator yang diukur dengan
menggunakan lembar observasi aktivitas pengelolaan pembelajaran
guru adalah sebagai berikut.
1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
2) Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-
kelompok belajar.
3) Pemberian tugas secara kelompok.
4) Presentasi.
5) Memberikan pemahaman dan umpan balik.
6) Evaluasi kelompok dan individu.
d. Lembar observasi aktivitas siswa
Indikator yang diukur dengan menggunakan lembar observasi
aktivitas siswa adalah sebagai berikut.
1) Keaktifan siswa dalam memperhatikan
pelajaran.
2) Keaktifan siswa dalam diskusi.
3) Partisipasi siswa dalam menyelesaikan tugas
kelompok.
4) Tanggung jawab dalam kelompok, seperti
mengerjakan tugas dan lembar diskusi.
5) Keaktifan dalam melakukan presentasi.
6) Respon positif terhadap siswa yang
melakukan presentasi.
e. Angket
Angket diberikan pada akhir pembelajaran.Indikator untuk
mengetahui pendapat dan perubahan sikap siswa sebagai berikut.
1) Tanggapan terhadap pembelajaran.
2) Tanggapan siswa terhadap kerja kelompok.
3) Pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
4) Tanggapan siswa terhadap soal cerita fisika.
5) Pengaruh pembelajaran terhadap semangat siswa.
6) Pengaruh diskusi kelompok terhadap keberanian
siswa.
E. Analisis Instrumen
1. Penyusunan Instrumen Penelitian
Perangkat dari penelitian ini terdiri atas rencana pelaksanaan
pembelajaran, lembar observasi guru, lembar observasi siswa, serta alat
ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah tes kognitif yang
berbentuk soal cerita.
Perangkat tes kemudian diujicobakan di luar sampel untuk
menghindari biasnya hasil penelitian. Bila uji coba dilakukan pada siswa
yang dijadikan sampel akan mempengaruhi hasil tes akhir karena siswa
merasa pernah mengerjakan soal-soal tersebut dalam uji coba
27
. Hasil uji
27
Sumadi Suryabrata. 1998. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali
coba kemudian dianalisis dan siap digunakan untuk mengukur hasil
belajar siswa dari kelompok penelitian.
2. Analisis Instrumen Penelitian
a. Validitas tiap Butir Soal
Untuk menentukkan validitas masing-masing soal, digunakan rumus
korelasi product moment, yaitu:
r
xy
=
) ) ( ( ) ( (
) )( (
2 2 2 2
∑ ∑ ∑ ∑
∑ ∑ ∑
− −

Y Y N X X N
Y X XY N
(Arikunto, 2002: 72)
Keterangan :
X = skor soal yang dicari validitasnya
Y = skor total
N = jumlah peserta tes
Hasil perhitungan r
xy
dkonsultasikan pada table kritis r product
moment dengan signifikansi 5%. Jika r
xy
> r kritis maka butir soal
tersebut valid.
b. Reliabilitas
Reliabilitas tes diukur dengan menggunakan rumus alpha, yaitu
sebagai berkut:
r
11=
]
]
]

−1 n
n
]
]
]
]



2
2
σi
σi
1
(Arikunto, 2002: 109-110)
Dengan:
σ
i
2
=
( )
N
N
X
X



2
2
Keterangan :
r
11
=

reliabilitas instrumen
n = banyaknya butir pertanyaan
N = jumlah peserta

2
i σ
= jumlah varians semua butir soal
i = nomor butir soal
σ
i
2
= varians total

2
X
= jumlah skor total kuadrat
( )
2

X = kuadrat dari jumlah skor
Kriteria pengujian reliabilitas yaitu setelah didapatkan harga r
hitung
,
kemudian harga r
hitung
tersebut dikonsultasikan dengan harga r
product moment pada tabel, jika r
hitung
> r
tabel
maka item tes yang
diujicobakan reliabel. Harga r
tabel
diperoleh dari r
(1-α,n)
28
.
c. Daya Beda
Daya beda pada soal uraian digunakan uji t, yaitu sebagai berikut :
t =
( )
( ) 1
2
2
2
1

+

∑ ∑
i i
n n
x x
ML MH
Keterangan :
t = daya beda
MH = rata-rata nilai dari kelompok atas
ML = rata-rata nilai dari kelompok bawah

2
1
x
= jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok atas

2
2
x
= jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok bawah
n
i
= 27% x N (jumlah testi MH dan ML sama besar)
N = jumlah testi
28
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Praktek
Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan t
tabel
; dk = (n -1)+(n -1)
dan α= 5%. Jika t
hitung
> t
tabel
maka daya beda soal tersebut
signifikan
29
.
d. Tingkat Kesukaran Soal
Jawaban terhadap butir soal esai secara teoritis tidak ada yang
salah mutlak, sehingga derajat kebenaran jawaban tersebut akan
berperingkat sesuai dengan mutu jawaban masing-masing siswa.
Rumus yang digunakan, sebagai berikut.
TK =
N
Ngagal
x 100%
Dengan:
TK = tingkat kesukaran butir soal
N gagal = jumlah testi yang gagal
N = jumlah testi keseluruhan
Untuk menginterpretasikan tingkat kesukaran butir soal dapat
digunakan tolok ukur sebagai berikut :
1) Jika jumlah responden yang gagal mencapai ≤ 27%,
soal termasuk mudah.
2) Jika jumlah responden yang gagal 27%-73%, soal
termasuk kriteria sedang.
3) Jika jumlah responden yang gagal ≥73%, soal
termasuk kriteria sukar.
4) Batas lulus ideal 60 untuk skala 1-100
30
.
Oleh karena skor item tidak bersifat mutlak, maka ketentuan yang
benar dan yang salah juga bersifat tidak mutlak. Ketidakmutlakan
tersebut tidak dapat ditentukan oleh penyusun tes atau pengujinya
sendiri.
F. Analisis Data
1. Analisis Tahap Awal
29
Zaenal Arifin. 1991. Evaluasi Instruksional: prinsip-teknik-prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya.
30
Ibid hal 21
a. Uji normalitas populasi
Langkah awal untuk menganalisis data adalah menguji kenormalan
distribusi sampel. Hipotesis yang akan diujikan:
H
0
: data berdistribusi normal
H
1
: data berdistribusi tidak normal
Langkah-langkah uji normalitas:
1) Membuat daftar distribusi frekuensi dari data yang
diperoleh,
dengan cara sebagai berikut.
a) menentukan rentang, rentang = data terbesar – data
terkecil
b) menentukan banyak kelas interval yang diperlukan
banyak kelas (k) = 1 + 3,3 log N
N = banyak data
c) menentukan panjang kelas interval (p)
p=
s banyakkela
g ren tan
d) pilih ujung bawah kelas interval pertama, selanjutnya daftar
diselesaikan dengan menggunakan harga-harga yang telah
dihitung.
2) Menghitung simpangan baku
3) Menghitung nilai z dari setiap batas kelas dengan
rumus:
z
i
=
s
x x
i

dengan:
s = simpangan baku
x = rata-rata sampel
31
4) Mengubah harga z menjadi luas daerah kurva normal
dengan menggunakan tabel
5) Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva
31
Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
x
2
=
( )

·

k
i i
i i
E
E O
1
2
Dengan
Oi: hasil penelitian
Ei:hasil yang diharapkan
x
2
: Chi Kuadrat
32
6) Membandingkan harga x
2
hitung
dengan harga x
2
tabel
.
Harga

x
2
tabel
diperoleh dari tabel Chi-kuadrat dengan dk = k-3
dan α= 5%
7) Kriteria hipotesis diterima apabila x
2
tabel


x
2
hitung
b. Uji homogenitas populasi
Uji ini bertujuan untuk mengetahui dua kelompok mempunyai
varians yang sama atau tidak.
H
0
: σ
1
2
= σ
2
2
H
1
: σ
1
2
≠ σ
2
2
Jika sampel dari populasi kesatu berukuran n
1
dengan varians S
1
2
dan sampel dari populasi kedua berukuran n
2
dengan varians S
2
2
.
Untuk menguji kesamaan varians tersebut digunakan rumus :
F =
il iansterkec
ar iansterbes
var
var
(Sudjana, 2002: 249)
Kriteria pengujian terima hipotesis H
0
apabila F<
( ) 1 , 1
2
1
2 1
− − n n
F
α

dengan α= 5%.
c. Uji kesamaan rata-rata
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan
dalam penelitian memiliki rata-rata yang sama atau tidak. Hipotesis
yang akan diujikan:
H
0
: μ
1
= μ
2
32
Ibid
H
1
: μ
1
≠ μ
2
Keterangan :
μ
1
=rata-rata hasil tes awal kelompok siswa yang dikenai
pembelajaran problem solving
μ
2
= rata-ratahasil tes awal kelompok siswa yang dikenai
pembelajaran kooperatif tipe CIRC
Hipotesis diatas diuji dengan menggunakan rumus berikut.
1) Jika σ
1
= σ
2
maka statistik yang digunakan yaitu
uji t. Rumus yang digunakan sebagai berikut.
t =
2 1
2 1
1 1
n n
S
x x
+

dengan:
S
2
=
( ) ( )
2
1 1
2 1
2
2 2
2
1 1
− +
− + −
n n
S n S n
Keterangan:
1
x = rata-rata sampel ke-1
2
x = rata-rata sampel ke-2
S = simpangan baku
n
1
= banyaknya sampel ke-1
n
2
= banyaknya sampel ke-2
S
1
= simpangan baku sampel ke-1
S
2
= simpangan baku sampel ke-2
Kriteria pengujian adalah terima H
0
jika:
( ) ( ) 2 , 1
2 1
− + −

n n
t
α
<t
hitung
<
( ) ( ) 2 , 1
2 1
− + − n n
t
α
dengan taraf nyata α= 5%
33
.
33
Ibid hal 24
2) Jika σ
1
2
≠ σ
2
maka menggunakan pendekatan
statistik t’ sebagai berikut.
t’ =

,
`

.
|
+

,
`

.
|

2
2
2
1
2
1
2 1
n
s
n
s
x x
Kriteria pengujian adalah: terima hipotesis H
0
jika
-
2 1
2 2 1 1
w w
t w t w
+
+
< t’ <
2 1
2 2 1 1
w w
t w t w
+
+
dengan w
1
=
1
2
1
n
s
; w
2
=
2
2
2
n
s
; t
1
= ( ) 1 ,
2
1
1
1

,
`

.
|
− n
t
α dan t
2
=
( ) 1 ,
2
1
1
2

,
`

.
|
− n
t
α
Untuk harga-harga t lainya H
0
ditolak
34
.
2. Analisis Tahap Akhir
a. Uji normalitas data tes evaluasi
Uji ini digunakan untuk mengetahui normal tidaknya data yang
akan dianalisis. Uji statistik yang digunakan sama dengan rumus uji
normalitas data awal yaitu dengan uji Chi Kuadrat.
b. Uji homogenitas data tes evaluasi
Uji ini bertujuan untuk mengetahui dua kelompok mempunyai
varians yang sama atau tidak. Rumus yang digunakan sama dengan
rumus untuk uji homogenitas data awal.
c. Pengujian hipotesis
Untuk menguji hipotesis penelitian ini digunakan uji t. Uji t akan
menguji mengenai parameter mean.
H
0
: μ
1
= μ
2
; tidak ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal
cerita antara pembelajaran problem solving dan kooperatif
tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and
Compotition) pada siswa kelas XI SBI semester1 SMA Negeri
8 Yogyakarta.
34
Ibid
H
0
: μ
1
≠ μ
2
; ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal cerita
antara pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe
CIRC (Cooperative Integrated Reading and Compotition)
pada siswa kelas XI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta.
Keterangan :
μ
1
= rata-rata hasil tes fisika berbentuk soal cerita pada kelompok
siswa yang dikenai pembelajaran problem solving
μ
2
= rata-rata hasil tes fisika berbentuk soal cerita pada kelompok
siswa yang dikenai pembelajaran kooperatif tipe CIRC Dalam
hal σ
1
= σ
2
, maka statistik yang digunakan yaitu uji t.
Rumus yang digunakan sebagai berikut.
t =
2 1
2 1
1 1
n n
S
x x
+

dengan S
2
=
( ) ( )
2
1 1
2 1
2
2 2
2
1 1
− +
− + −
n n
S n S n
Keterangan:
1
x = rata-rata sampel ke-1
2
x = rata-rata sampel ke-2
S = simpangan baku
n
1
= banyaknya sampel ke-1
n
2
= banyaknya sampel ke-2
S
1
= simpangan baku sampel ke-1
S
2
= simpangan baku sampel ke-2
Kriteria pengujian adalah terima H
0
jika:
( ) ( ) 2 , 1
2 1
− + −

n n
t
α
<t
hitung
<
( ) ( ) 2 , 1
2 1
− + − n n
t
α
dengan taraf nyata α= 0,05
35
.
35
Ibid hal 25
Jika σ
1
2
≠ σ
2
maka menggunakan pendekatan statistik t’ sebagai
berikut.
t’ =

,
`

.
|
+

,
`

.
|

2
2
2
1
2
1
2 1
n
s
n
s
x x
Kriteria pengujian adalah: terima hipotesis H
0
jika
-
2 1
2 2 1 1
w w
t w t w
+
+
< t’ <
2 1
2 2 1 1
w w
t w t w
+
+
dengan w
1
=
1
2
1
n
s
; w
2
=
2
2
2
n
s
; t
1
= ( ) 1 ,
2
1
1
1

,
`

.
|
− n
t
α dan t
2
= ( ) 1 ,
2
1
1
2

,
`

.
|
− n
t
α
Untuk harga-harga t lainya H
0
ditolak
36
.
3. Analisis Lembar Observasi
Penilaian pada lembar observasi untuk guru maupun lembar observasi
siswa menggunakan skor dengan rentangan nilai 1-4. Kemudian
menggunakan rumus sebagai berikut.
Persentase (%) =
N
n
x 100%
Dengan
N = jumlah seluruh nilai
n = nilai yang diperoleh
37

Kriteria penilaian pada lembar observasi pembelajaran oleh guru adalah
sebagai berikut.
a. Jika 25% ≤ persentase ≤ 43,75% maka pembelajaran tidak
baik
b. Jika 43,76%< persentase ≤ 62,5% maka pembelajaran
cukup baik
c. Jika 62,51% < persentase ≤ 81,25 % maka pembelajaran
baik
36
Ibid hal 26
37
Muhammad Ali. 1993. Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa.
d. Jika Persentase ≥ 81,25% maka pembelajaran sangat baik
latar belakang masalah:
fisika merupakan ilmu yang menylidi perilaku materi dan tenaga …
kajian interkoneksi antara fisika dengan disiplin ilmu lain memebrikan
warna tersendiri dalam ranah perkembangan sains dan teknologi (hal 1).
Simbiosis mutualisme antara listrik (fisika) dengan kimia misalnya, akan
melahirkan kajian elektrokimia. Kajian ini diawali oleh …. Sejarah gimana?
Dengan eksperimen ini, siswa menjadi punya pengalaman yang terus
emmbekas.
Tujuan utama pembelajaran sains adalah untuk mengembangkan skill
anak dalanm proses keilmuannya seperti pengalaman, pengukkuran, dll.
Pada kenyataannya, guru jaran gmengaplikasikan karena khawatir
menghabiskan waktu.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan sebuah media
pembelajaran yang dapat meningkatakna aktivitas siswa layaknya
seorang ilmuwan. Daam kesempatan ini peneliti akan meneliti dengan
judul….
Kenapa dipilih judul tersebut? Mudah diadapat dan tidak berbahaya.
Penelitian ini membutuhkan waktu yang cukup lama, maka penliti
bersama- sama siswa melakkan eksperimen ni di luar jam pelajaran
sekolah. Hal ini dapat memberikan kebebasan ruan g dan waktu kepada
para siswa di dalam belajar fisika sehingga respon siswa akan positif
terhadap media pembelajaran yang digunakan ini dan aktivitas siswa
meningkat.
Identifikasi masalah
1. Media pembelajaran fiiska yang diguankan kurang bervariasi dengan
menggunakan lks dan buku teks
2. Pata siswa kkurang dibiasakan menemukan dan mencoba senidri
3. Hbungan interkoneksi ipa terpadu masih sering terkotak- kotak
4. Masih minimnya sumber belajar yang berbasis sains dan lingkungan
Batasan masalah
Alat
Subyek
Rumusan masalah
1. Apakah bakteri merah bias digunakan untuk menghilangkan bau?
2. Berpa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan bau
tersebut?
3. Apakah bakteri emrah dpat diguankan sebagai media pembelajaran
ipa terpadu
Kerangak berfiikir
Naruuh bangaki gak bau? Kenapa? Apakah bisa?
Bisa bertahan dalam lingkungan cairkah?
Subyek: siswa kelas …. Terbagai dlam 4 kelompok praktikum
Obyek: kentang dan gula merah sebagai makanan dari bakteri
merah
Variabel – variable dalam penelitian
1. Variable bebas
Berapa lama cairan bakteri emrah jadi dengna menggunakan
gula merah dan kentang?
2. Variable terikat
3. Variable control
Volum
Banyaknya takaran awal bakteri yang akan dikembangkan
Alat dan bahan
Alat
Bahan
Prosedur peenlitian
1. Membuat cariannya
2. Mengukur berapa harinya
Desain penelitian
Gambar peenlitian
Metode pengumuplan data
Untuk menetukan waktu pembuatan dan berapa tahan lamanya
Untuk mengetahui kebenaran ilmiahnya, digunakan pendektan
kuantitatif sehingga data yang dihasilkan adalah data kunatitaif
Dalam penelitian ini, data diperoleh dari data masing- masing
kelompok dlam praktikum. Masing- msing kelompok bereda
identifikasnya
Eksperimen dilaksanakan bersama para siswa suapay merek
terbaisa dengna berbagai macam eksperimen. Cara ini belum
peranh dipakai sehingga bias digunaakan sebagia medi
apembelajaran. Media pembelajaran yang menarik akan dapt
membanfgkitkan rasa ingin tahu dan menjadi motivator
tersendiri sehingga meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar.
Setelah data diperoleh dilalkukan analisis kuantitatid untuk
menarik sebuha kesimpulan.
Analisa datra selama proses pembelajaran berlangsung
menggunakan analaisis deksriptif kualitatid. Data- data yang
diperlukan dalam penelitian ini meliputi data tentang respon
siswa terhadap media yang digunkan, data aktivitas siswa
terhadap media pemebelajran yang baru saja digunakana, data
tentang tanggapan guru tentang serangkaian proses
pemeblajaran yang baru saja dilaksanakan.
Data- data tersebut diperoleh dengna mengguankan beberapa
instrument sebagia berikut:
1. Observasi
2. Angket
3. Wawancara
Data aktivitas siswa mealaui lembar observasi
No. aspek yang diobservasi jumlah siswa yang ya, yang
tidak, persentase ya dan tidak
- Mengikuti semua acara atau materi kegiata praktikum
- Tidak peranh makan atau minum selama melakukan
praktiku
- Selalu berbucara sopan atau baik dengna teman
sekelopoknya
- Mempersiapkan alat ukur
- Memasang bahan sesuai prosedur
- Berhati- hati dalam oraktkum
Daftar angket pelaksanaan praktkum
No. pilhan. Jumlah. Persentase
Sangat menarik
Sama seperti biasanya
Agak membisankan
Pengetahuan siswa tentang media pembelajran fisika
yang berupa..
No. plihan jumlah persentase
Merupaaknhal yang baru
Sudah mengetahui sebelumnya
Peranah mengetahui teorinya namaun baru
mempraktekkannya
Pendapat siswa tentang pengahar
Tertarik pada pekerjaan siswa
Tidak tetarik
Hanya tertarik pada cara mengajarnya senidri
Ketika siswa melaksankan praktikum
Guru memperhatikan
Guru tidak memperhaitkan
Guru tidak perduli sma sekali
Dalam melaksanakan praktikum
Para siswa benar- benar bekerja keras
Para siswa hanya melakukan hal- hal yang ingin
dikerjakan
Para siswa tidak berusaha sama sekali
Pada waktu para siswa mengalami kesulitan dalam
praktkum
Bertanya pada teman
Bertanya pada guru
Diam dan tidak mengikuti praktikum dengna baik
Dalam menyelesaiakan konflik dalam kelompok
praktkumnya
Menyelsaikan dnenga demokratis
Merasa paling bisia
Megnikuti pendpat teman
Dalam merangkai alat dn bahan percobaan
Dengan hati- hati
Asal cepat selesai
Santai
Dalam membaca hasil
Dengna teliti
Asal- asalan
Terserah teman sekelompoknya
Wktu yang digunakan
Cukup
Kurang
Lebih
Dalam merangaki alat dan bahan
Sangat mudah
Mudah
Sukar
Setelah praktikum
Merasa senang
Biasa aja
Merasa bosan
Kegiatan praktikum ini
Memuaskan
Kuran gmemuasakn
Tidak memuaskan
Penutup berisi
Kesimpulan
Saran
Bagi guru hendakanya mengguakan variasi media
pembelajran
Meluangkan waktu utnuk praktikum
Sekolah menyediakan saran prasarana
Berbasis lingkkungan dan ipa terpadus
Keterbatasan
Tidak bertahan lama
Pnya ida, untuk meentukan besarnya GGL arus serah tiap sel dan
sel seri dari ekstrak buah jeruh, apel, dan belimbung wuluh
Untuk mengetahui apakah ekstrak buah sebagai penghasil sumber
GGl arus serah da[at dijadikan sebagia media pembelajaran fisika ,
dapat dijadkan media dan dpat dijaidkan meida elektrollit yang
menghasilkan GGL arus searahn.

Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau Sains dalam arti sempit telah dijelaskan diatas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik) dan life sciences (ilmu biologi). Yang termasuk physical sciences adalah ilmuilmu astronomi, life kimia, science geologi, meliputi mineralogi, anatomi, meteorologi, fisiologi, dan fisika, citologi, sedangkan zoologi,

embriologi, mikrobiologi.1 Kajian interkoneksi antara fisika dengan disiplin ilmu lain memberikan warna tersendiri dalam ranah perkembangan sains dan teknologi. Simbiosis mutualisme antara pengetahuan tentang global warming (fisika) dengan bakteri merah (biologi) misalnya, akan melahirkan banyak kajian keilmuan yang menguntungkan bagi masyarakat maupun lingkungan.

Sebagai upaya meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran fisika pada masa sekarang, telah banyak dikembangkan metode-metode yang bersifat behavioristik (memanusiakan manusia),seperti: student active learning, quantum learning, quantum teaching, dan melibatkan guru dan accelerated learning.

Seluruh metode tersebut digunakan dalam rangka revolusi belajar yang siswa sebagai satu kesatuan yang mempunyai hubungan timbal balik. Peran guru sebagai pengajar/fasilitator, sedangkan siswa merupakan individu yang belajar. Kurikulum yang sedang dikembangkan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum ini merupakan pengembangan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004.
1

http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_alam diunduh pada tanggal 30 September 2010

Keberhasilan pembelajaran berdasarkan kompetensi yang ditetapkan sejak awal kegiatan pembelajaran. Dengan demikian semua pihak yang berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran (guru dan siswa) telah mengetahui arah pembelajaran. Untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran diperlukan langkah-angkah agar tujuan yang ditetapkan tercapai. Hal-hal yang harus dilakukan adalah menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi pokok. Agar proses pembelajaran berhasil, guru diharapkan mampu menerapkan metode yang tepat dan sesuai dengan pengajaran fisika, guru diharapkan menanamkan prinsip atau rumus yang ada. Dalam hal ini sebelum siswa menyelesaikan sebuah soal, siswa harus memahami soal tersebut secara menyeluruh. Ia harus tahu apa yang diketahui, apa yang dicari,rumus yang harus digunakan dan cara penyelesaiannya. Untuk itu dalam mengerjakan soal-soal fisika diperlukan siasat atau strategi dalam penyelesaiannya. Mengingat begitu pentingnya strategi dalam penyelesaian masalah fisika, maka untuk menyelesaikan sebuah soal cerita yang pada kenyataannya siswa masih kesulitan dalam memahami dan menyelesaikan soal tersebut, sangat diperlukan langkah-langkah untuk mempermudah pemahamannya. Salah satu strategi yang efektif dalam menciptakan pembelajaran aktif dan menyenangkan tentunya dengan melibatkan siswa dalam kegiatan diskusi di kelas. Pembelajaran dengan suasana belajar aktif dan memberikan strategi dalam penyelesaian soal, dapat diterapkan dengan model pembelajaran Problem Solving dan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Compotition). B. Rumusan Masalah 1. Apakah ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal cerita antara model pembelajaran problem solving dan pembelajaran kooperatif tipe CIRC pada siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta? 2. Jika ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal cerita antara model pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC pada siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta, maka a. apakah model pembelajaran problem solving efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta dalam menyelesaikan soal cerita?

b.

apakah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC efektif untuk

meningkatkan kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta dalam menyelesaikan soal cerita? c. manakah yang lebih efektif antara model pembelajaran problem solving dan pembelajaran kooperatif tipe CIRC?

C. Tujuan Penelitian Penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut: 1. Mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA

menyelesaikan soal cerita antara model pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC pada siswa Negeri 8 Yogyakarta 2. soal cerita Jika ada perbedaan kemampuan siswa menyelesaikan antara model pembelajaran problem solving dan

pembelajaran kooperatif tipe CIRC pada siswa SMA maka penelitian ini bertujuan untuk: b. mengetahui apakah model pembelajaran problem solving efektif untuk kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta dalam menyelesaikan soal cerita; c. mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC efektif untuk kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta dalam menyelesaikan soal cerita; d. mengetahui manakah yang lebih efektif antara model pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC untuk kemampuan siswa kelas XI SBI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta dalam menyelesaikan soal cerita. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan memberi manfaat bagi siswa, guru,sekolah, dan pembelajaran sebagai berikut. 1. Siswa

Mendapat masukkan tentang penelitian yang dapat memajukan sekolah. keberhasilan individu merupakan tanggung jawab problem 2. b. Siswa yang mengalami kesulitan dalam memecahkan soal cerita akan terkurangi bebannya dengan model pembelajaran solving dan Kooperatif tipe CIRC. Guru dapat semakin bersemangat dalam belajar mengajar. 4. Peneliti a. Memberikan sumbangan yang baik untuk sekolah dalam rangka . d. Siswa semakin tertantang dengan soal fisika yang rumit. Motivasi dan daya tarik siswa terhadap mata pelajaran fisika dapat meningkat. dalam pembelajaran dan meningkatkan kemampuan guru bidang studi. b. karena dalam pembelajaran kooperatif kelompok. Guru dapat semakin mantap mempersiapkan diri dalam proses pembelajaran. Sebagai motivasi meningkatkan ketrampilan yang bervariasi yang b. Sekolah perbaikan proses pembelajaran untuk dapat meningkatkan prestasi siswa. Pembelajaran Penerapan model pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC dapat digunakan sebagai masukkan yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Menumbuhkan semangat kerjasama.a. c. e. c. a. Meningkatkan pencurahan waktu dan tugas. Guru dapat memperbaiki sistem pembelajaran. d. Dapat menciptakan suasana kelas yang saling menghargai nilainilai ilmiah dan yang termotivasi bermanfaat untuk bagi mengadakan perbaikan penelitian proses sederhana 3. 5.

Tinjauan Pustaka 1. Menyimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Solving mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. . Munir Tanrere. Anna Marie Farnish. khususnya dalam ilmu lingkungan. Guru mengajar dilakukan sebagai mediator atau fasilitator sedangkan siswa secara aktif menemukan pemecahan masalah yang menciptakan kreativitas siswa. yang kelak dapat diterapkan saat peneliti terjun ke lapangan. guru dalam Integrated Menyimpulkan mengelola Reading bahwa and Pada juga Composition meningkat. 2. “Environmental Problem Solving in Chemistry for High School Students”. Ini menunjukkan guru untuk mengembangkan pemahaman yang baik tentang isu-isu dari berbagai disiplin ilmu.Mendapat pengalaman dalam menerapkan model pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC. pembelajaran kooperatif tipe CIRC aktivitas siswa selama pembelajaran kemampuan pembelajaran mengalami peningkatan. sehingga dapat dikatakan pembelajaran efektif untuk kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita matematika. D. Kasus ini terbukti dalam perubahan orientasi pembelajaran yang berpusat dari guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. (CIRC) – “Cooperative Reading”. Journal of Appliied Siences in Environmental Sanitation.

result of Cronbach: “Learning is shown by a change in behavior as a . a.BAB II DASAR TEORI 1. belajar adalah usaha sadar atau upaya yang disengaja untuk mendapatkan kepandaian. Belajar dan Pembelajaran Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Beberapa definisi belajar antara lain sebagai berikut.

4 adalah usaha rupa guru untuk memberikan siswa lebih materi mudah sedemikian sehingga mengorganisasikannya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt (pola 2 3 Sardiman. Belajar dan Pembelajaran. Pengertian pembelajaran secara khusus diuraikan sebagai berikut. Artinya. meniru. belajar adalah untuk mengamati. c. 2003. b. b. Geoch: “Learning is change in performance as result of practice”. mencoba sesuatu dengan mandiri. 2001. “belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman”. Humanistik Pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. Artinya. to read. Satrategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Erman Suherman dkk. belajar akan nampak dengan adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. dan mengikuti petunjuk. c. jadi tidak bersifat teoristik saja. Gestalt Pembelajaran pembelajaran bermakna). Harold Spears: “Learning is to observe.2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.experience”. belajar adalah perubahan ketrampilan sebagai hasil dari penampilan. to follow direction”. Artinya. d. to imitate. Semarang: IKIP Semarang. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. . Kognitif Pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan pada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami. a. Behavioristik Pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus).Bandung: JICA Universitas Pendidikan Indonesia 4 Darsono Max. menurut Fontana3. to listen. mendengarkan.2 Sedangkan.Belajar akan lebih baik apabila subyek belajar itu mengalami atau melakukannya. to try something themselves. membaca.

Jakarta: Balai Pustaka. Soal cerita dalam fisika lebih ditekankan pada penajaman intelektual siswa dengan realitas menjadi fisika. 2. Makin panjang bahasa yang digunakan maka makin tinggi tingkat kesulitan soal tersebut. 4. Soal Fisika Berbentuk Soal Cerita Soal cerita fisika adalah soal fisika yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta memuat masalah yang menuntut pemecahan soal. Pembelajaran Poerwadarminto. 2004. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. .Semarang: Universitas Negeri Semarang. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. 3. 2004. 1999. Pembelajaran Kooperatif a. Jakarta: Grasindo.Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi antara guru dengan siswa yang ditujukan untuk melakukan perubahan sikap dan pola pikir siswa kearah yang lebih baik untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Sistem pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai sistem 5 6 sehari-hari. Panjang pendeknya bahasa yang digunakan biasanya berpengaruh pada tingkat kesulitan soal tersebut. Soal cerita adalah soal 6 yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari (contextual problem) . Kamus Umum Bahasa Indonesia. atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainya. Kemampuan Siswa Kemampuan artinya kesanggupan atau kecakapan5. Amin Suyitno. Bentuk masalah-masalah yang dihadapi dirangkai kalimat yang harus diterjemahkan ke dalam bentuk kalimat kerja/ belajar kelompok yang terstruktur7. Kemampuan siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kesanggupan atau kecakapan siswa dalam menyelesaikan soal cerita fisika yang diukur menggunakan tes fisika berbentuk soal cerita. 76 Anita Lie. Pengertian pembelajaran kooperatif Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu tugas.

dibuat kelompok yang terdiri Pengelompokan berdasarkan jenis pekerjaan yang kita atas siswa yang minatnya sama Menurut teori motivasi. 5) 6) 7) Pengelompokkan secara random atau dilotre. Selama kerja kelompok. Boston: Ally and Bacon. tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok dalam mencapai ketuntasannya8. Perbedaan minat belajar. Namun demikian. kelompok belajar dalam penelitian ini adalah kelompok belajar heterogen dari segi kemampuan belajar.Second Edition. Dalam menyelesaikan tugas kelompok. 1995. tidak Pengelompokkan atas dasar jenis kelamin. Research and Practice. . ada melihat faktor lain kelompok pria dan wanita. Cooperative Learning: Theory. Siswa belajar dalam kelompok kecil yang kemampuannya heterogen. setiap anggota saling bekerjasama dan membantu dalam memahami suatu bahan ajar. motivasi siswa dalam pembelajaran (reward) atau struktur pencapaian tujuan pada 8 Robert Slavin E. terutama bila kelas itu sifatnya heterogen dalam belajar. Hal ini dimaksudkan agar kelompok-kelompok tersebut tidak berat sebelah. yang tinggal dalam satu wilayah dikelompokkan dalam satu kelompok sehingga mudah koordinasinya. Dasar Teori Pembelajaran Kooperatif Teori pembelajaran kooperatif terbagi dalam 2 kategori. b.kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong siswa aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui ketrampilan proses. yaitu teori Motivasi dan teori Kognitif. Kelompok bisa dibuat berdasarkan: 1) 2) 3) berikan 4) Pengelompokan berdasarkan wilayah tempat tinggal siswa. 1) kooperatif Teori Motivasi terletak pada bagaimana bentuk penghargaan saat siswa Perbedaan individual dalam kemampuan belajar.

“Motivational perspective on cooperative learning focus primarily on the reward or goal structure under wich students operate. c) Individualistik: siswa yakin upaya mereka sendiri untuk mencapai tujuan tak ada hubungannya dengan siswa lain dalam mencapai tujuan tersebut10. Pembelajaran Kooperatif. a) Teori perkembangan appropriate taks “The fundamental assumption of the developmental theories that interaction among children around increases their mastery of critical consepts (Damon. b) tersebut. Oleh karena itu.melaksanakan kegiatan pembelajaran. Surabaya: UNESA 11 Ibid hal 7 10 . Diidentifikasikan ada tiga macam struktur pencapaian tujuan seperti berikut. “cognitive theories emphasize the effects of working together in itself (whether or not the groups are trying of group goal)“11. 2001.”9. Menurut pandangan teori motivasi. 9 Ibid hal 7 Muslimin Ibrahim dkk. anggota kelompok harus membantu teman kelompoknya dengan cara melakukan apa saja yang dapat membantu kelompok itu berhasil dan yang lebih penting lagi adalah mendorong teman kelompoknya untuk melakukan upaya maksimal. Teori kognitif dapat dikelompokkan dalam dua kategori sebagai berikut. a) Kooperatif: siswa yakin bahwa tujuan mereka tercapai jika dan hanya jika siswa yang lain juga akan mencapai tujuan tesebut. 1984. struktur tujuan kooperatif menciptakan suatu situasi dimana anggota kelompok dapat mencapai tujuan pribadi mereka apabila kelompok itu berhasil. 2) Teori Kognitif Kompetitif: siswa yakin bahwa tujuan mereka tercapai jika dan hanya jika siswa lain tidak mencapai tujuan Teori ini menekankan pengaruh kerja sama dalam suasana kebersamaan didalam kelompok itu sendiri.

1) Hasil belajar akademik Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. c. Mengingat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran problem solving pembelajaran problem posing yang dilaksanakan pada penelitian ini adalah problem posing yang dilaksanakan secara kelompok. Beberapa ahli berpendapat bahwa bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami model struktur penilaian penghargaan siswa pada kooperatif belajar telah dapat dan konsep yang sulit. Teori Elaborasi Kognitif Pandangan dalam psikologi kognitif telah menemukan bahwa apabila informasi yang telah ada di dalam memori. 2) Penerimaan terhadap keragaman Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda 12 13 latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling Ibid hal 8 Ibid hal 8 14 Ibid hal 8 . Salah satu cara elaborasi konitif yang paling efektif adalah menjelaskan materi itu pada orang lain14. c) maupun Dasar teori pembelajaran kooperatif pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Asumsi dasar dari teori perkembangan adalah bahwa interaksi antar siswa disekitar tugas-tugas yang sesuai meningkatkan penguasaan mereka terhadap konsep-konsep yang sulit b) 13 . Tujuan Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting sebagai berikut. siswa harus terlibat dalam beberapa restruktur atau elaborasi kognitif suatu materi.Murray: 1982)”12. Para pengembang model ini telah menunjukkan meningkatkan akademik perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.

3) Pengembangan ketrampilan sosial Tujuan yang ketiga ialah untuk mengajarkan kepada siswa ketrampilan kerjasama dan kolaborasi. Selain unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Dalam model pembelajaran ini. Dengan pembelajaran kelompok. siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. saling merevisi. dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif. sedang atau lemah. atau untuk mempersiapkan tugas tertentu (Muhammad Nur) . para siswa diberi suatu teks atau bacaan (cerita atau novel). berdiskusi. atau memberikan tanggapan terhadap isi cerita. siswa ditempatkan dalam kelompokkelompok kecil yang heterogen. mendorong teman lain untuk bekerjasama. model CIRC diterapkan dalam pembelajaran bahasa. dan menulis ikhtisar cerita.bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama. Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition atau Pengajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis. Pada awalnya. diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya. Dalam kelompok kecil. yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. menghargai 15 16 dari guru 16 Ibid hal 9 Amin Suyitno. Dalam kelompok ini tidak dibedakan jenis kelamin. dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. 2005. kreatif. termasuk salah satu tipe model pembelajaran kooperatif. memahami ide pokok. belajar untuk menghargai satu sama lain.Semarang:UNNES . model ini sangat berguna untuk 15 membantu siswa menumbuhkan kemampuan kerjasama . Mengadopsi Model Pembelajaran Cooperative Learning TipeCIRC(Cooperative Integrated Reading and Composition) dalam Meningkatkan Ketrampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita. dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok. atau tingkat kecerdasan siswa. Sebelum dibentuk kelompok. dan masingmasing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik. 5. Dalam kelompok ini terdapat siswa yang pandai. kemudian siswa latihan membaca atau saling membaca. suku/ bangsa.

dan (5) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/ penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi)18. 2005. (Learning Society) yang heterogen. Mengadopsi Model Pembelajaran Cooperative Learning TipeCIRC(Cooperative Integrated Reading and Composition) dalam Meningkatkan Ketrampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita. Setiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa. dan sebagainya. e. “In addition to solving the problems of management and motivation in individualized programmed instruction. Research and Practice. Guru mempersiapkan 1 atau 2 soal cerita dan membagikannya kepada setiap siswa dalam kelompok yang sudah terbentuk. apa yang ditanyakan. termasuk menuliskan apa yang diketahui. Guru menerangkan suatu pokok bahasan fisika tertentu Guru memberikan latihan soal termasuk cara kepada para siswanya ( misalnya dengan metode ekspositori). Kegiatan pokok dalam CIRC dalam menyelesaikan soal cerita meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik. 1995. (4) Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya). CIRC was created to take advantage of the consciderable socialization potential of coopretive learning”17. Amin Suyitno. Cooperative Learning: Theory. yaitu: (1) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca. Boston: Ally and Bacon. menyelesaikan soal cerita Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan ketrampilan Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa siswanya dalam menyelesaikan soal cerita melalui penerapan CIRC. maka langkah yang ditempuh seorang guru fisika adalah sebagai berikut: a. (3) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita. (2) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita. Dengan mengadopsi model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC untuk melatih siswa meningkatkan ketrampilannya dalam menyelesaikan soal cerita19.Semarang:UNNES 19 Ibid .pendapat teman lain. d. dan memisalkan yang ditanyakan dengan variabel tertentu . c. b. 17 18 Robert Slavin E.Second Edition.

kepada para siswa tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota kelompok telah memahami. guru dapat diperlukan. q. Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok. guru dapat memberi bantuan kepada kelompok secara proporsional. i. n. anggota saling membaca soal cerita tersebut. siswa tidak hanya menerima saja materi pengajaran yang diberikan guru. Menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru.f. k. Saling membuat rencana penyelesaian soal cerita. Guru meminta perwakilan kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya di depan kelas. sesuai dengan kompetensi yang diperlukan. keterlibatan setiap siswa untuk belajar secara aktif merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. o. j. siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing. Dengan demikian. 3) 4) 5) h. Setiap kelompok bekerja berdasarkan serangkaian kegiatan pola CIRC (team study). termasuk menuliskan yang ditanyakan dengan suatu variabel tertentu. l. Dalam hal ini. Jika diperlukan. melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri . Guru dapat memberikan tes formatif. Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilisator jika Guru memberikan tugas/ soal cerita secara individual Guru bisa membubarkan kelompok yang dibentuk dan para Menjelang akhir waktu pembelajaran. 1) 2) Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita serangkaian kegiatan yang spesifik sebagai berikut. dan dapat mengerjakan soal cerita yang diberikan guru. Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut. melaporkan keberhasilan kelompoknya atau melapor kepada guru tentang hambatan yang dialami oleh anggota kelompoknya. mengulang secara klasikal tentang strategi pemecahan soal cerita. p. Ketua kelompok. m.

Pengembangan Kurikulum dan pembelajaran Matematika. Pengertian Sebelum memberikan pengertian tentang pengertian problem solving atau pemecahan masalah. terdapat dua macam masalah : (1) Masalah untuk menemukan. Munurut Polya21. Kita harus mencari variabel masalah tersebut. Hal ini diperkuat dengan pendapat Eggen dan Kauchack20 yang menulis bahwa “Effective learning occur when students are actively involved in organizing and finding relationships in the information”. 6. termasuk teka-teki. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya.dalam kelompoknya. 2003. menghasilkan atau mengkonstruksi semua jenis objek yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.Malang : JICA . Bagian utama dari masalah adalah sebagai berikut. kemudian mencoba untuk mendapatkan. Suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah jika seseorang tidak mempunyai aturan tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut. abstrak atau konkret. (a) Apakah yang dicari? (b) Bagaimana data yang diketahui? (c) Bagaimana syaratnya? (2) Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu benar atau salah atau tidak kedua-duanya.Kita harus menjawab pertanyaan : ”Apakah pernyataan itu benar atau salah ?”. H. Penyelesaian masalah merupakan proses dari menerima tantangan dan 20 21 usaha-usaha untuk menyelesaikannya sampai memperoleh Ibid hal 11 Hudojo. Pembelajaran Problem Solving a. dapat teoritis atau praktis. terlebih dahulu membahas tentang masalah atau problem.

Yogyakarta :Depdikbud. Pembelajaran pemecahan masalah adalah suatu kegiatan yang 22 mengarahkan siswa agar dapat didesain oleh guru dalam rangka memberi tantangan kepada siswa melalui penugasan atau pertanyaan matematika23. 2005. Sedangkan pengajaran penyelesaian masalah merupakan tindakan guru dalam mendorong siswa agar menerima tantangan dari pertanyaan bersifat menantang. (2) Menyajikan kembali masalah dalam bentuk operasional. Langkah-langkah dalam Pengajaran Matematika dengan Menggunakan Penyelesaian Masalah. yaitu sebagai berikut. b. (3) Potensi intelektual siswa meningkat. 2001. Fungsi guru dalam kegiatan itu adalah memotivasi siswa agar mau menerima tantangan dan membimbing siswa dalam proses pemecahannya. Langkah-langkah Pembelajaran Problem Solving Adapun langkah-langkah yang harus diperhatikan oleh guru di dalam memberikan pembelajaran problem solving yaitu sebagai berikut. Tujuan Pembelajaran Problem Solving Berhasil tidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu tujuan yang hendak dicapai. dan menyelesaikan pertanyaan tersebut . Dalam Jurnal Matematika atau Pembelajarannya. 24 Ibid hal 13 . Masalah yang diluar jangkauan kemampuan siswa dapat menurunkan motivasi mereka. Masalah yang diberikan harus masalah yang pemecahannya terjangkau oleh kemampuan siswa. (4) Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan. Materi Pembinaan Matematika SMP. 23 Tim PPPG Matematika. c. 22 Sukoriyanto. (1) Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya. (2) Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa. Malang : JICA. Tujuan dari pembelajaran problem solving adalah seperti apa yang dikemukakan oleh24. (1) Menyajikan masalah dalam bentuk umum.penyelesaian.

menjelaskan bahwa langkah-langkah yang diikuti dalam penyelesaian problem solving yaitu sebagai berikut. menyajikan data dalam bentuk diagram. Strategi belajar mengajar penyelesaian masalah adalah bagian dari strategi 26 belajar mengajar inkuiri. (4) Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis: kecakapan mencari dan menyusun data. (6) Menentukan alternatif pilihan penyelesaian: kecakapan kecakapan pilihan membuat dengan penyelesaian menilai memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap langkah. menghitung dan menghubungkan. (2) Perencanaan penyelesaian masalah.Dewey . menganalisis masalah dari berbagai sudut. gambar. (2) Menelaah masalah: menggunakan pengetahuan untuk memperinci. sebab akibat dan alternatif penyelesaian. keterampilan mengambil keputusan dan kesimpulan. (4) Menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah menurut J. ada enam tahap: (1) Merumuskan masalah: mengetahui dan menemukan masalah secara jelas. Sedangkan menurut Hudojo dan Sutawijaya25. 25 26 Ibid hal 13 Ibid hal 13 . (3)Merumuskan hipotesis: berimajinasi dan menghayati ruang lingkup. (5) Pembuktian hipotesis: cakap menelaah dan membahas data. (1) Pemahaman terhadap masalah. (4) Melihat kembali penyelesaian. (3) Melaksanakan perencanaan.(3) Menentukan strategi penyelesaian.

Kelemahan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut. (2) Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi. BAB III Metode Penelitian A.d. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran problem solving Kelebihan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut. (4) Mendidik siswa percaya diri sendiri. Hipotesis Berdasarkan landasan teori diatas. (1) Memerlukan waktu yang cukup banyak. Random Desain Penelitian Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik Sampling dengan pertimbangan siswa mendapat materi . 1. maka siswa yang pandai akan mendominasi dalam diskusi sedang siswa yang kurang pandai menjadi pasif sebagai pendengar saja. (1) Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis. (3) Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek. B. hipotesis antara model pembelajaran Problem awal yang dirumuskan peneliti adalah tidak ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal cerita Solving dan CIRC Cooperative Integrated Reading and Compotition (CIRC) pada siswa kelas XI SBI Semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2009/2010. (2) Kalau di dalam kelompok itu kemampuan anggotanya heterogen.

siswa yang menjadi objek penelitian duduk pada kelas yang sama dan pembagian kelas tidak adakelas unggulan. kelompok ditentukan sebelum kegiatan pembelajaran Problem Solving dan kooperatif tipe CIRC. Soal yang memenuhi syarat dijadikan soal tes evaluasi Melaksanakan tes evaluasi pada kelas Problem Solving dan Menganalisis data tes evaluasi yang diambil pada kelas Menyusun hasil penelitian. 13. Menentukan langkah-langkah pembelajaran Problem Solving dan pembelajaran kooperatif tipe CIRC yang dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. 4. uji coba untuk mengetahui taraf kesukaran. 8. 3. Obyek Penelitian 1. ada. Menyusun kisi-kisi tes uji coba.berdasarkan kurikulum yang sama. 5. 10. Setelah penentuan sampel. Populasi Melaksanakan Pembagian pembelajaran Problem Solving dan kooperatif tipe CIRC pada kelas eksperimen. uji normalitas dan uji homogenitas data awal. 2. 12. Menyusun instrumen tes uji coba berdasarkan kisi-kisi yang problem solving dan kelas XI SBI-2 dikenai model pembelajaran kooperatif tipe . yaitu kelas XI SBI-1 dikenai model pembelajaran CIRC. pada kelas Problem Solving dan kooperatif tipe CIRC kooperatif tipe CIRC. Problem Solving dan kooperatif tipe CIRC. 7. untuk mengetahui sampel berangkat dari titik tolak yang sama maka perlu diadakan uji kesamaan rata-rata. 6. B. 9. 11. Dipilih 2 kelas sampel penelitian. Menganalisis data hasil instrumen tes uji coba pada kelas pembeda soal. Mengujicobakan instrumen tes uji coba pada kelas uji coba (yang sebelumnya telah diajarkan) dimana instrumen tes tersebut akan digunakan sebagai tes evaluasi pada kelas eksperimen. daya validitas butir dan reabilitas tes. siswa diampu oleh guru yang sama.

artinya pengambilan sampel sebanyak tiga kelas secara acak. Variabel Bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran problem solving dan pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Compotition). Teknik Pengumpulan Data Metode Dokumentasi untuk mendapatkan informasi Metode dokumentasi digunakan mengenai daftar nama-nama siswa dan data nilai awal fisika.Populasi adalah totalitas/ keseluruhan subjek penelitian. Observasi Observasi pengelolaan kelas oleh guru ini digunakan untuk mengetahui pengelolaan pembelajaran oleh guru. Observasi aktivitas siswa . 2. dan kelas XI-A4 untuk kelas uji coba instrumen. Sampel Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik Random Sampling. kelas XI SBI-2 untuk model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Compotition). D. c. 2. b. C. d. a. Metode tes Metode Tes ini secara umum bertujuan untuk mengetahui dan problem solving pencapain keberhasilan pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Variabel Penelitian 1. Dua kelas eksperimen yaitu kelas XI SBI-1 untuk model pembelajaran Problem Solving. data ini digunakan untuk analisis tahap awal. Prosedur Pengumpulan Data 1. Variabel Terikatnya adalah kemampuan siswa menyeleaikan soal cerita pada kelas yang dikenai model pembelajaran problem solving dan kelas yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 8 Yogyakarta.

Metode tes ini diberikan setelah siswa diberi perlakuan. Memberikan pemahaman dan umpan balik. 1) 2) 3) 4) 5) 6) d. Mengorganisasikan siswa dalam kelompokPemberian tugas secara kelompok. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. . Evaluasi kelompok dan individu. Lembar observasi aktivitas siswa kelompok belajar.Observasi ini digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Alat Pengumpulan Data Dokumentasi Daftar nama-nama siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI SBI-1 dan XI SBI-2 dan data nilai ujian semester 1 diperoleh dari dokumentasi yang menjadi populasi penelitian ini yaitu SMA Negeri 8 Yogyakarta. Tes cerita yang dikenai pembelajaran problem Tes ini digunakan untuk mengambil data tentang hasil tes fisika yang berbentuk soal solving dan pembelajaran kooperatif tipe CIRC. 2. c. e. a. Indikator yang diukur dengan menggunakan lembar observasi aktivitas pengelolaan pembelajaran guru adalah sebagai berikut. Lembar observasi pengelolaan kelas oleh guru Lembar observasi ini digunakan untuk mengetahui pengelolaan pembelajaran oleh guru. Presentasi. b. Jenis tes yang digunakan adalah tes esai. Sebelum tes digunakan untuk memperoleh data hasil penelitian. terlebih dahulu diadakan uji coba tes pada kelas diluar kelas penelitian. Lembar observasi yang disediakan peneliti dan diisi oleh observer pada setiap pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC. Angket Angket digunakan untuk mengetahui pendapat siswa tentang pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC.

Hasil uji 27 Sumadi Suryabrata. Metodologi Penelitian. Keaktifan siswa dalam diskusi. Respon positif terhadap siswa yang mengerjakan tugas dan lembar diskusi. Jakarta: Rajawali . Angket Angket diberikan pada akhir pembelajaran.Indikator untuk mengetahui pendapat dan perubahan sikap siswa sebagai berikut. menghindari biasnya hasil penelitian. Tanggapan siswa terhadap kerja kelompok. seperti Keaktifan dalam melakukan presentasi. 2) 3) kelompok. Pengaruh pembelajaran terhadap semangat siswa. Bila uji coba dilakukan pada siswa yang dijadikan sampel akan mempengaruhi hasil tes akhir karena siswa merasa pernah mengerjakan soal-soal tersebut dalam uji coba 27. Analisis Instrumen 1. 1) pelajaran. E. lembar observasi guru. Partisipasi siswa dalam menyelesaikan tugas Keaktifan siswa dalam memperhatikan melakukan presentasi. Pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. 1) 2) 3) 4) 5) 6) siswa. 1998. lembar observasi siswa.Indikator yang diukur dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa adalah sebagai berikut. Tanggapan siswa terhadap soal cerita fisika. serta alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah tes kognitif yang berbentuk soal cerita. 4) 5) 6) e. Perangkat tes kemudian diujicobakan di luar sampel untuk Tanggapan terhadap pembelajaran. Penyusunan Instrumen Penelitian Perangkat dari penelitian ini terdiri atas rencana pelaksanaan pembelajaran. Pengaruh diskusi kelompok terhadap keberanian Tanggung jawab dalam kelompok.

Validitas tiap Butir Soal rxy = ( N ∑X 2 − (∑X ) 2 ( N ∑ 2 − (∑ ) 2 ) Y Y (Arikunto. Analisis Instrumen Penelitian Untuk menentukkan validitas masing-masing soal. 2002: 109-110) Dengan: σi2= ∑X 2 − (∑ X ) N 2 N Keterangan : r11 = reliabilitas instrumen . yaitu sebagai berkut: 2    n  1 − ∑σi  2  n −1  σi     r11= (Arikunto. Jika rxy > r kritis maka butir soal tersebut valid.coba kemudian dianalisis dan siap digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dari kelompok penelitian. yaitu: N ∑XY − (∑X )( ∑ ) Y a. 2. 2002: 72) Keterangan : X = skor soal yang dicari validitasnya Y = skor total N = jumlah peserta tes Hasil perhitungan rxy dkonsultasikan pada table kritis r product moment dengan signifikansi 5%. Reliabilitas Reliabilitas tes diukur dengan menggunakan rumus alpha. digunakan rumus korelasi product moment. b.

Harga rtabel diperoleh dari c. yaitu sebagai berikut : r(1-α. jika rhitung > rtabel maka item tes yang diujicobakan reliabel. Jakarta: Rineka Praktek . 2002.n N = banyaknya butir pertanyaan = jumlah peserta 2 σ ∑i i = jumlah varians semua butir soal = nomor butir soal σi 2 = 2 varians total ∑X = jumlah skor total kuadrat 2 (∑X ) = kuadrat dari jumlah skor Kriteria pengujian reliabilitas yaitu setelah didapatkan harga rhitung. Daya Beda Daya beda pada soal uraian digunakan uji t. t= ∑x ( MH − ML ) ni ( ni − 1) 2 1 2 + ∑ x2 Keterangan : t MH ML = daya beda = rata-rata nilai dari kelompok atas = rata-rata nilai dari kelompok bawah 2 1 ∑x ∑x ni N 28 = jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok atas = jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok bawah = 27% x N (jumlah testi MH dan ML sama besar) = jumlah testi 2 2 Suharsimi Arikunto. kemudian harga rhitung tersebut dikonsultasikan dengan harga r product moment pada tabel. Prosedur Penelitian.n)28.

1991. F. Evaluasi Instruksional: prinsip-teknik-prosedur. Rumus yang digunakan. soal termasuk mudah. termasuk kriteria sedang. Ibid hal 21 . sebagai berikut. Tingkat Kesukaran Soal Jawaban terhadap butir soal esai secara teoritis tidak ada yang salah mutlak. 29 30 Analisis Tahap Awal Zaenal Arifin. Oleh karena skor item tidak bersifat mutlak. d. soal Jika jumlah responden yang gagal ≥ 73%. Ketidakmutlakan tersebut tidak dapat ditentukan oleh penyusun tes atau pengujinya sendiri. TK = Ngagal x 100% N Dengan: TK = tingkat kesukaran butir soal N gagal = jumlah testi yang gagal N = jumlah testi keseluruhan Untuk menginterpretasikan tingkat kesukaran butir soal dapat digunakan tolok ukur sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) Jika jumlah responden yang gagal mencapai ≤ 27%. Jika thitung > ttabel maka daya beda soal tersebut signifikan29. Analisis Data 1. dk = (n -1)+(n -1) α= 5%. termasuk kriteria sukar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Jika jumlah responden yang gagal 27%-73%.Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan dan ttabel. maka ketentuan yang benar dan yang salah juga bersifat tidak mutlak. soal Batas lulus ideal 60 untuk skala 1-10030. sehingga derajat kebenaran jawaban tersebut akan berperingkat sesuai dengan mutu jawaban masing-masing siswa.

Hipotesis yang akan diujikan: H0 : data berdistribusi normal H1 : data berdistribusi tidak normal Langkah-langkah uji normalitas: 1) Membuat daftar distribusi frekuensi dari data yang diperoleh. selanjutnya daftar diselesaikan dengan menggunakan harga-harga yang telah dihitung. a) b) menentukan rentang. Uji normalitas populasi Langkah awal untuk menganalisis data adalah menguji kenormalan distribusi sampel. 2) 3) rumus: Menghitung simpangan baku Menghitung nilai z dari setiap batas kelas dengan zi = xi − x dengan: s s = simpangan baku x = rata-rata sampel31 4) 5) 31 Mengubah harga z menjadi luas daerah kurva normal Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva dengan menggunakan tabel Sudjana.3 log N d) pilih ujung bawah kelas interval pertama. Metode Statistika. . Bandung: Tarsito. 2002.a. dengan cara sebagai berikut. rentang = data terbesar – data menentukan banyak kelas interval yang diperlukan N = banyak data c) menentukan panjang kelas interval (p) p= ren tan g banyakkela s terkecil banyak kelas (k) = 1 + 3.

n2 − ) 1 1 Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dalam penelitian memiliki rata-rata yang sama atau tidak. α= 5% Kriteria hipotesis diterima apabila x2tabel Uji homogenitas populasi ≥ x2hitung Uji ini bertujuan untuk mengetahui dua kelompok mempunyai varians yang sama atau tidak. Uji kesamaan rata-rata F1 2 α( n1 − . Harga x2tabel diperoleh dari tabel Chi-kuadrat dengan dk = k-3 dan 7) b. 2002: 249) Kriteria pengujian terima hipotesis H0 apabila F< dengan α= 5%. c. Untuk menguji kesamaan varians tersebut digunakan rumus : F= var iansterbes ar var iansterkec il (Sudjana. H0 : σ12 = σ22 H1 : σ12 ≠ σ 22 Jika sampel dari populasi kesatu berukuran n1 dengan varians S12 dan sampel dari populasi kedua berukuran n2 dengan varians S22. Hipotesis yang akan diujikan: H 0 : μ1 = μ2 32 Ibid .x = 2 ∑ i =1 k ( Oi − Ei ) 2 Ei Dengan Oi: hasil penelitian Ei:hasil yang diharapkan x2 : Chi Kuadrat 6) 32 Membandingkan harga x2hitung dengan harga x2tabel.

H 1 : μ1 ≠ μ2 Keterangan : μ1 =rata-rata hasil tes awal kelompok siswa yang dikenai pembelajaran problem solving μ2 = rata-ratahasil tes awal kelompok siswa yang dikenai pembelajaran kooperatif tipe CIRC Hipotesis diatas diuji dengan menggunakan rumus berikut.( n1 +n2 −2 ) dengan taraf nyata α= 5% 33. Rumus yang digunakan sebagai berikut. 33 Ibid hal 24 . x1 − x 2 t= S 1 1 + n1 n2 dengan: S = 2 ( n1 − 1) S12 + ( n2 − 1) S 22 n1 + n 2 − 2 Keterangan: x1 = rata-rata sampel ke-1 x 2 = rata-rata sampel ke-2 S = simpangan baku n1 = banyaknya sampel ke-1 n2 = banyaknya sampel ke-2 S1 = simpangan baku sampel ke-1 S2 = simpangan baku sampel ke-2 Kriteria pengujian adalah terima H0 jika: − t (1−α ) . 1) Jika σ1 = σ2 maka statistik yang digunakan yaitu uji t.( n1 +n2 −2 ) <thitung < t (1−α ) .

Pengujian hipotesis Untuk menguji hipotesis penelitian ini digunakan uji t. x1 − x 2 t’ =  s1 2   s 2 2   +   n  n  1   2   Kriteria pengujian adalah: terima hipotesis H0 jika - w1t1 + w2 t 2 w1t1 + w2 t 2 < t’ < w1 + w2 w1 + w2 dengan w1= s1 .( n  2  n2 2 1 1− ) dan t2= t 1  1 1− α.2) Jika σ12 ≠ σ2 maka menggunakan pendekatan statistik t’ sebagai berikut. c. Uji statistik yang digunakan sama dengan rumus uji normalitas data awal yaitu dengan uji Chi Kuadrat. w2= n1 2 s2 t 1  . a.( n2 − )  2  Untuk harga-harga t lainya H0 ditolak34. H0 : μ1 = μ2 . b. Uji homogenitas data tes evaluasi Uji ini bertujuan untuk mengetahui dua kelompok mempunyai varians yang sama atau tidak. Rumus yang digunakan sama dengan rumus untuk uji homogenitas data awal. 2. 34 Ibid . Analisis Tahap Akhir Uji normalitas data tes evaluasi Uji ini digunakan untuk mengetahui normal tidaknya data yang akan dianalisis. tidak ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal cerita antara pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Compotition) pada siswa kelas XI SBI semester1 SMA Negeri 8 Yogyakarta. t1= 1− α. Uji t akan menguji mengenai parameter mean.

Keterangan : μ1 = rata-rata hasil tes fisika berbentuk soal cerita pada kelompok siswa yang dikenai pembelajaran problem solving μ2 = rata-rata hasil tes fisika berbentuk soal cerita pada kelompok siswa yang dikenai pembelajaran kooperatif tipe CIRC Dalam hal σ1 = σ2 .H 0 : μ1 ≠ μ2 .( n1 +n2 −2 ) <thitung < t (1−α ) . Rumus yang digunakan sebagai berikut.( n1 +n2 −2 ) dengan taraf nyata α= 0. ada perbedaan kemampuan menyelesaikan soal cerita antara pembelajaran problem solving dan kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Compotition) pada siswa kelas XI semester 1 SMA Negeri 8 Yogyakarta. 35 Ibid hal 25 . maka statistik yang digunakan yaitu uji t. x1 − x 2 t= S 1 1 + n1 n2 dengan S2 = ( n1 − 1) S12 + ( n2 − 1) S 22 n1 + n 2 − 2 Keterangan: x1 = rata-rata sampel ke-1 x 2 = rata-rata sampel ke-2 S = simpangan baku n1 = banyaknya sampel ke-1 n2 = banyaknya sampel ke-2 S1 = simpangan baku sampel ke-1 S2 = simpangan baku sampel ke-2 Kriteria pengujian adalah terima H0 jika: − t (1−α ) .0535.

Strategi Penelitian Pendidikan.75% maka pembelajaran tidak Jika 43.25 % maka pembelajaran Ibid hal 26 Muhammad Ali.5% maka pembelajaran cukup baik Jika 62. a. t1= 1−1 α. w2= 2 . Analisis Lembar Observasi 1 1− ) dan t2= t 1  1 1− α. . c. Persentase (%) = Dengan N = jumlah seluruh nilai n = nilai yang diperoleh 37 n x 100% N Kriteria penilaian pada lembar observasi pembelajaran oleh guru adalah sebagai berikut. x1 − x 2 t’ =  s1 2   s 2 2   +   n  n   1  2  Kriteria pengujian adalah: terima hipotesis H0 jika - w1t1 + w2 t 2 w1t1 + w2 t 2 < t’ < w1 + w2 w1 + w2 2 2 s s t dengan w1= 1 . 1993. Bandung: Angkasa.( n    2  n1 n2 Untuk harga-harga t lainya H0 ditolak36.Jika σ12 ≠ σ2 maka menggunakan pendekatan statistik t’ sebagai berikut.76%< persentase ≤ 62.( n2 − )  2  Penilaian pada lembar observasi untuk guru maupun lembar observasi siswa menggunakan skor dengan rentangan nilai 1-4.51% < persentase ≤ 81. Kemudian menggunakan rumus sebagai berikut. baik 36 37 Jika 25% ≤ persentase ≤ 43. 3. baik b.

25% maka pembelajaran sangat baik .d. Jika Persentase ≥ 81.

Masih minimnya sumber belajar yang berbasis sains dan lingkungan Batasan masalah Alat Subyek Rumusan masalah . Hal ini dapat memberikan kebebasan ruan g dan waktu kepada para siswa di dalam belajar fisika sehingga respon siswa akan positif terhadap media pembelajaran yang digunakan ini dan aktivitas siswa meningkat. Berdasarkan permasalahan di atas. Pada kenyataannya. Kenapa dipilih judul tersebut? Mudah diadapat dan tidak berbahaya. Media pembelajaran fiiska yang diguankan kurang bervariasi dengan menggunakan lks dan buku teks 2. dll.kotak 4. Identifikasi masalah 1. siswa menjadi punya pengalaman yang terus emmbekas. Penelitian ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Tujuan utama pembelajaran sains adalah untuk mengembangkan skill anak dalanm proses keilmuannya seperti pengalaman. guru jaran gmengaplikasikan karena khawatir menghabiskan waktu. Pata siswa kkurang dibiasakan menemukan dan mencoba senidri 3.sama siswa melakkan eksperimen ni di luar jam pelajaran sekolah. Simbiosis mutualisme antara listrik (fisika) dengan kimia misalnya.latar belakang masalah: fisika merupakan ilmu yang menylidi perilaku materi dan tenaga … kajian interkoneksi antara fisika dengan disiplin ilmu lain memebrikan warna tersendiri dalam ranah perkembangan sains dan teknologi (hal 1). maka diperlukan sebuah media pembelajaran yang dapat meningkatakna aktivitas siswa layaknya seorang ilmuwan. pengukkuran. maka penliti bersama. akan melahirkan kajian elektrokimia. Sejarah gimana? Dengan eksperimen ini. Daam kesempatan ini peneliti akan meneliti dengan judul…. Hbungan interkoneksi ipa terpadu masih sering terkotak. Kajian ini diawali oleh ….

Variable control Volum Banyaknya takaran awal bakteri yang akan dikembangkan Alat dan bahan Alat Bahan Prosedur peenlitian 1. Apakah bakteri merah bias digunakan untuk menghilangkan bau? 2. Berpa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan bau tersebut? 3. Apakah bakteri emrah dpat diguankan sebagai media pembelajaran ipa terpadu Kerangak berfiikir Naruuh bangaki gak bau? Kenapa? Apakah bisa? Bisa bertahan dalam lingkungan cairkah? Subyek: siswa kelas …. Mengukur berapa harinya . Membuat cariannya 2. Variable terikat 3. Terbagai dlam 4 kelompok praktikum Obyek: kentang dan gula merah sebagai makanan dari bakteri merah Variabel – variable dalam penelitian 1. Variable bebas Berapa lama cairan bakteri emrah jadi dengna menggunakan gula merah dan kentang? 2.1.

data diperoleh dari data masing. Observasi 2. Data.data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data tentang respon siswa terhadap media yang digunkan. data aktivitas siswa terhadap media pemebelajran yang baru saja digunakana. Angket 3. Masing. Wawancara Data aktivitas siswa mealaui lembar observasi .msing kelompok bereda identifikasnya Eksperimen dilaksanakan bersama para siswa suapay merek terbaisa dengna berbagai macam eksperimen. Setelah data diperoleh dilalkukan analisis kuantitatid untuk menarik sebuha kesimpulan. Media pembelajaran yang menarik akan dapt membanfgkitkan rasa ingin tahu dan menjadi motivator tersendiri sehingga meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar.masing kelompok dlam praktikum. Analisa datra selama proses pembelajaran berlangsung menggunakan analaisis deksriptif kualitatid. data tentang tanggapan guru tentang serangkaian proses pemeblajaran yang baru saja dilaksanakan. Cara ini belum peranh dipakai sehingga bias digunaakan sebagia medi apembelajaran.Desain penelitian Gambar peenlitian Metode pengumuplan data Untuk menetukan waktu pembuatan dan berapa tahan lamanya Untuk mengetahui kebenaran ilmiahnya. Data. digunakan pendektan kuantitatif sehingga data yang dihasilkan adalah data kunatitaif Dalam penelitian ini.data tersebut diperoleh dengna mengguankan beberapa instrument sebagia berikut: 1.

hati dalam oraktkum Daftar angket pelaksanaan praktkum No. No. yang tidak. plihan jumlah persentase Merupaaknhal yang baru Sudah mengetahui sebelumnya Peranah mengetahui teorinya namaun baru mempraktekkannya Pendapat siswa tentang pengahar Tertarik pada pekerjaan siswa Tidak tetarik Hanya tertarik pada cara mengajarnya senidri . persentase ya dan tidak Mengikuti semua acara atau materi kegiata praktikum Tidak peranh makan atau minum selama melakukan praktiku Selalu berbucara sopan atau baik dengna teman sekelopoknya Mempersiapkan alat ukur Memasang bahan sesuai prosedur Berhati.. Persentase Sangat menarik Sama seperti biasanya Agak membisankan Pengetahuan siswa tentang media pembelajran fisika yang berupa. aspek yang diobservasi jumlah siswa yang ya.No. pilhan. Jumlah.

benar bekerja keras Para siswa hanya melakukan hal.hati Asal cepat selesai Santai Dalam membaca hasil .Ketika siswa melaksankan praktikum Guru memperhatikan Guru tidak memperhaitkan Guru tidak perduli sma sekali Dalam melaksanakan praktikum Para siswa benar.hal yang ingin dikerjakan Para siswa tidak berusaha sama sekali Pada waktu para siswa mengalami kesulitan dalam praktkum Bertanya pada teman Bertanya pada guru Diam dan tidak mengikuti praktikum dengna baik Dalam menyelesaiakan konflik dalam kelompok praktkumnya Menyelsaikan dnenga demokratis Merasa paling bisia Megnikuti pendpat teman Dalam merangkai alat dn bahan percobaan Dengan hati.

Dengna teliti Asal.asalan Terserah teman sekelompoknya Wktu yang digunakan Cukup Kurang Lebih Dalam merangaki alat dan bahan Sangat mudah Mudah Sukar Setelah praktikum Merasa senang Biasa aja Merasa bosan Kegiatan praktikum ini Memuaskan Kuran gmemuasakn Tidak memuaskan Penutup berisi Kesimpulan Saran .

dan belimbung wuluh Untuk mengetahui apakah ekstrak buah sebagai penghasil sumber GGl arus serah da[at dijadikan sebagia media pembelajaran fisika . . apel.Bagi guru hendakanya mengguakan variasi media pembelajran Meluangkan waktu utnuk praktikum Sekolah menyediakan saran prasarana Berbasis lingkkungan dan ipa terpadus Keterbatasan Tidak bertahan lama Pnya ida. untuk meentukan besarnya GGL arus serah tiap sel dan sel seri dari ekstrak buah jeruh. dapat dijadkan media dan dpat dijaidkan meida elektrollit yang menghasilkan GGL arus searahn.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful