You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aneurisma berasal dari bahasa Yunani “aneurysma” berarti pelebaran.


Aneurisma adalah keadaan dimana pembuluh darah menjadi membesar
secara abnormal atau mengembang (over – inflated) seperti balon yang
menonjol keluar.

Aneurisma adalah pembuluh darah biaasanya arteri ya ng trjadi akibat


kelemahan dinding pembuluh draah karena defek, penyakit/cedera,
sehingga berbentuk tonjolan yang berdenyut yang pada tonjolan tersebut
bisa terdengar mur – mur (Kamus Keperawatan Edisi 17).

Aneurisma adalah pelebaran atau menggelembungnya dinding


pembuluh darah, yang didasarkan atas hilangnya dua lapisan dinding
pembuluh darah, yaitu tunika media dan tunika intima, sehingga
menyerupai tonjolan/balon.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas


mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah I Sistem Kardiovaskular.

2. Tujuan khusus
 Agar mahasiswa/i mampu melakukan pengkajian pada
klien dengan aneurisma aorta torakalis.

 Agar mahasiswa/i mampu menentukan diagnosa


keperawatan pada klien dengan aneurisma aorta torakalis.

 Agar mahasiswa/i mampu merencanakan tindakan


keperawatan pada klien dengan aneurisma aorta torakalis.
 Agar mahasiswa/i mampu melaksanakan tindakan
keperawatan pada klien dengan aneurisma aorta torakalis.

 Agar mahasiswa/i dapat melakukan evalasi pada klien


dengan aneurisma aorta torakalis.

C. Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup dalam makalah ini yaitu pembahasan tentang


penyakit pada kardiovaskular.

D. Metode Penulisan

Metode penulisan dalam pembuatan makalah ini mengunakan study


kepustakaan yang berhubungan dengan judul makalah ini dan melakukan
pencarian melalui website internet sebagai sumber dari makalah ini.

E. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan makalah ini, makalah ini dibagi menjadi 4 BAB,


yaitu : BAB I PENDAHULUAN (Latar Belakang, Tujuan Penulisan,
Ruang Lingkup, Metode Penulisan, Sistematika Penulisan), BAB II
TINJAUAN TEORITIS (Anatomi Fisiologi, Definisi, Klasifikasi, Etiologi,
Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Komplikasi, Penatalaksanaan Medis,
Pemeriksaan Diagnostik, Asuhan Keperawatan), dan BAB III ISI dan
BAB IV Penutup (Kesimpulan dan Saran).
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi Fisiologi

Jantung adalah organ muskular berongga yang bentuknya menyerupai


piramid atau jantung pisang dan merupakan pusat sirkulasi darah ke
seluruh tubuh. Jantung terletak dalam rongga toraks pada bagian
mediastinum. Hubungan jantung dengan sekitarnya :

 Dinding jantung berhubungan dengan sternum (rongga dada) dan


kartilago kostalis setinggi kosta ke – 3 sampai ke – 4.
 Dinding samping berhubungan dengan paru – paru dan fasies
mediastinalis.

 Dinding atas setinggi torakal ke – 6 sampai servikal ke – 2 dan


berhubungan dengan aorta, pulmonalis, bronkus dekstra, serta
bronkus sinistra.

 Dinding belakang berhubungan dengan mediastinum posterior,


esofagus, aorta desendens, vena azigos, dan kolumna vertebralis.

 Bagian bawah berhubungan dengan diafragma.

Jantung difiksasi (dipertahankan) pada tempatnya agar tidak mudah


berpindah tempat. Penyokong jantung utama adalah paru – paru yang
letaknyta menekan jantung dari samping, diafragma menyokong dari
bawah, dan pembuluh darah besar yang keluar dan masuk jantung
sehingga jantung tidak mudah berpindah.

1. Lapisan Jantung

Lapisan jantung terdiri atas perikardium, miokardium, dan


endokardium.

a) Perikardium : lapisan ini merupakan kantong


pembungkus jantung yang letaknya dalam
mediastinum minus, posterior terhadap korpus sterni
dan rawan iga ke – 2 sampai dengan iga ke – 6.
1) Perikardium viseral (fibrosum) : bagian kantong
yang membatasi pergerakan jantung terikat di
bawah sternum tendinium diafragma, bersatu
dengan pembuluh darah besar melekat pada
sternum melalui ligamentum sternoperikardial.

2) Perikardium parietal (serosum) : membatasi


perikardium fibrosum dengan perikardium serosum
disebut epikardium, mengandung sedikit cairan
yang berfungsi sebagai pelumas.
Diantara dua lapisan jantung ini terdapat lendir
yang berfungsi sebagai pelicin untuk menjaga agar
pergesekan antara perikardium tidak menimbulkan
gangguan terhadap jantung. Pada permukaan
posteriorjantung perikardium serosum membentuk
vena besar disebut sinus obligus dan sinus
transverses.

b) Miokardium : lapisan jantung menerima darah arteri


koronaria. Arteri koronaria sinistra bercabang menjadi
arteri desendens anterior dan tiga arteri sirkumpfleks.
Arteri koronaria dekstra memberikan darah untuk
sinoatrial node, ventrikel kanan, dan permukaan
diafragma ventrikel kanan. Vena koronaria
menegmablikan darah ke sinus dan bersirkulasi
langsung ke dalam paru – paru.

c) Endokardium : dinding dalam atrium (endokardium)


diliputi oleh membran yang mengkilat terdiri atas
jaringan endotel (selaput lendir yang licin). Bagian ini
memiliki kumpulan otot paralel yang mengarah ke
depan krista. Mengarah ke aurikula dari ujung bawah
krista terminalis terdapat sebuah lipatan endokardium
menonjol yang dikenal sebagai valvula vena kava
inferior yang terletak didepan muara vena inferior
menuju ke sebelah tepi dan disebut fossa ovalis.
Diantara atrium kanan dan ventrikel kanan terdapat
hubungan melalui orifisium artikulare.

2. Bagian – Bagian Jantung

a) Basis kordis : bagian jantung sebelah atas yang


berhubungan dengan pembuluh darah besar (aorta
asendens, arteri pulmonalis, vena pulmonalis, dan
vena cava superior). Basis kordis dibentuk oleh atrium
sinistra dan sebagian atrium dekstra, sedangkan bagian
posterior dibentuk oleh aorta desendens, esofagus,
vena azigos, dan duktus torasikus setinggi vertebra
torakalis ke – 5 sampai ke – 8.

b) Apeks kordis : bagian bawah jantung yang berbentuk


kerucut tumpul. Bagian ini dibentuk oleh ujung
ventrikel sinistra dari dinding toraks dan ditutupi oleh
paru – paru dan pleura sinistra dari dinding toraks.

3. Ruang – Ruang Jantung

Jantung terdiri atas empat ruang, yaitu dua ruang yang


berdinding tipis disebut atrium (serambi), dan dua ruang yang
berdinding tebal disebut ventrikel (bilik).

a) Atrium Kanan

Atrium kanan memiliki lapisan dinding yang tipis


berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah dan
mengalirkan darah dari vena – vena sirkulasi sistemis
ke dalam ventrikel kanan dan kemudian ke paru –
paru. Darah yang berasal dari pembuluh vena ini
masuk ke dalam atrium kanan melalui vena cava
superior, inferior, dan sinus koronarius. Tidak terdapat
katup – katup sejati yang memisahkan vena cava dan
atrium kanan tetapi dipisahkan oleh lipatan katup atau
pita otot.

b) Ventrikel Kanan

Ventrikel kanan memiliki bentuk yang unik yaitu


bulan sabit yang berguna untuk menghasilkan
kontraksi bertekanan rendah, yang cukup untuk
mengalirkan darah ke dalam arteri pulmonalis.
Sirkulasi pulmonar merupakan sistem aliran darah
bertekanan rendah, dengan resistensi yang jauh lebih
kecil terhadap aliran darah yang berasal dari ventrikel
kanan. Namun sirkulasi sistemis yang menerima darah
dari ventrikel kiri merupakan sistem aliran darah
bertekanan tinggi. Oleh karena itu, beban kerja dari
ventrikel kanan jauh lebih tingan daripada ventrikel
kiri. Akibatnya tebal dinding ventrikel kanan hanya
sepertiga dari tebal dinding ventrikel kiri.

c) Atrium Kiri

Atrium kiri menerima darah yang sudah


dioksigenasasi dari paru – paru melalui vena
pulmonalis. Tidak terdapat katup sejati antara vena
pulmonalis dan atrium kiri. Oleh karena itu, darah
akan mengalir kembali ke pembuluh paru – paru bila
terdapat perubahan tekanan dalam atrium kiri
(retrograde). Peningkatan tekanan atrium kiri yang
akut akan menyebabkan bendungan pada paru – paru.
Atrium kiri memiliki dinding yang tipis dan
bertekanan rendah. Darah dari atrium kiri mengalir ke
dalam ventrikel kiri melalui katup mitral.

d) Ventrikel Kiri

Dinding ventrikel kiri tiga kali lebih tebal dari


ventrikel kanan. Ventrikel kiri harus menghasilkan
tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi tahanan
sirkulasi sistemis dan mempertahankan aliran darah ke
jaringan – jaringan perifer.

4. Pembuluh Darah

Pembuluh darah adalah prasarana jalan bagi aliran darah ke


seluruh tubuh. Saluran darah ini merupakan sistem tertutup dan
jantung sebagai pemompanya. Fungsi pembuluh darah adalah
mengangkut (transportasi) darah dari jantung ke seluruh bagian
tubuh dan mengangkat kembali darah yang sudah dipakai kembali
ke jantung. Fungsi ini disebut sirkulasi darah. Darah mengangkut
gas – gas, zat makanan, sisa metabolisme, hormon, antibodi, dan
keseimbangan elektrolit.

Pembuluh darah utama dimulai dari aorta yang keluar dari


ventrikel kiri melalui belakang kanan arteri pulmonalis, membelok
ke belakang melalui radiks pulmonalis kemudian turun sepanjang
kolumna vertebralis menembus diafragma, selanjutnya ke rongga
panggul dan berakhir pada anggota gerak bawah. Pembuluh
mempunyai 3 lapisan utama :

 Lapisan pertama disebut lapisan


intima

 Lapisan kedua adalah lapisan media


 Lapisan ketiga adalah adventisia

5. Sirkulasi Darah Aorta

Aorta merupakan pembuluh darah arteri yang paling besar,


keluar jantung bagian ventrikel sinistra melalui aorta asendens,
membelok ke belakang melalui radiks pulmonalis sinistra turun
sepanjang kolumna vertebralis dan menembus diafragma turun ke
abdomen. Jalan aorta terdiri atas tiga bagian yaitu : aorta asendens,
arkus aorta, dan aorta desendens.

a) Aorta asendens : muncul pada basis ventrikel sinistra


berjalan ke atas dan ke depan, panjangnya kira – kira 5
cm, mempunyai dua cabang yaitu arteri koronaria
dekstra dan arteri koronaria sinistra.

1) Arteri koronaria dekstra : berasal dari sinus


anterior memberikan darah untuk jantung kanan,
memeperdarahi sel otot miokardium.

2) Arteri koronaria sinistra : memberikan darah


untuk jantung kiri berasal dari sinus posterior
aorta untuk memperdarahi otot lapisan jantung
miokardium.

b) Arkus aorta : merupakan lanjutan aorta asendens


melengkung ke arah kiri, terletak di belakang
menubrium sterni berjalan ke atas, ke belakang, dan ke
kiri trakea setinggi angulus sterni. Bagian yang
melengkung ke arah kiri di depan trakea sikit turun ke
bawah sampai vertebra torakalis ke – 4. Arkus aorta
mempunyai cabang – cabang sebagai berikut :

1) Arteri brakhiosepalika (arteri anonima) :


merupakan arteri terbesar setelah aorta,
mempunyai cabang :

a. Arteri karotis komunis dekstra,


memberikan darah untuk kepala.

b. Arteri subklavia dekstra, memberikan


darah untuk anggota gerak atas bagian
kanan.

2) Arteri subklavia sinistra : memberikan darah


untuk kepala.

3) Arteri karotis komunis sinistra : memberikan


darah untuk anggota gerak atas bagian kiri.

c) Aorta desendens : merupakan lanjutan dari arkus aorta


menurun mulai dari vertebra torakalis IV sampai
dengan vertebra lumbalis IV. Setelah itu berjalan di
sebelah kiri korpus vertebra setinggi angulus sterni,
kemudian berlanjut pada mediastinum posterior
sampai vertebrae XII melewati hiatus aortikus
diafragma berlanjut sampai vertebra lumbalis IV
kemudian bercabang dua menjadi aorta torakalis dan
aorta abdominalis.

a. Aorta torakalis : merupakan lanjutan dari arkus


aorta, menurun mulai dari vertebra torakalis ke –
4 sampai vertebra lumbalis IV. Aorta berjalan di
sebelah kiri korpus vertebra setinggi angulus
sterni kemudian berjalan ke bawah manubrium
sterni posterior sampai vertebrae XII melewati
hiatus aortikus diafragma di garis tengah
berlanjut ke bawah sampai lumbalis IV. Aorta
torakalis mempunyai cabang – cabang yaitu
rongga toraks dan dinding toraks.

b. Aorta abdominalis : mulai pada vertebra


torakalis XII sampai ke lumbalis IV. Aorta
abdominalis bercabang dua, yaitu arteri iliaka
komunis dekstra dan arteri iliaka komunis
sinistra.

B. Definisi

Aneurisma berasal dari bahasa Yunani “aneurysma” berarti pelebaran.


Aneurisma adalah keadaan dimana pembuluh darah menjadi membesar
secara abnormal atau mengembang (over-inflated) seperti balon yang
menonjol keluar. Pelebaran yang terjadi adalah lokal dan lebih dari 50%
diameter pembuluh darah. Aneurisma adalah keadaan yang berbahaya
karena dapat ruptur dan menyebabkan kematian kapan saja.

Aneurisma adalah pelebaran atau menggelembungnya dinding


pembuluh darah, yang didasarkan atas hilangnya dua lapisan dinding
pembuluh darah, yaitu tunika media dan tunika intima, sehingga
menyerupai tonjolan/balon.

Aneurisma adalah pembuluh darah biaasanya arteri ya ng trjadi akibat


kelemahan dinding pembuluh draah karena defek, penyakit/cedera,
sehingga berbentuk tonjolan yang berdenyut yang pada tonjolan tersebut
bisa terdengar mur – mur, (Kamus Keperawatan Edisi 17).

Aneurisma adalah suatu penonjolan (pelebaran, dilatasi) pada dinding


suatu arteri. Aneurisma aorta dada atau aneurisma aorta thoracalis
(Thoracic aortic aneurysms/Syphilitic aneurysm) terjadi pada bagian dari
aorta yang melewati dada. Aneurisma aorta merupakan dilatasi dinding
aorta yang sifatnya patologis, terlokalisasi dan permanen (irreversible).

Pada salah satu bentuk aneurisma torakalis yang khusus, pelebaran


aorta terjadi ditempatnya keluar dari jantung. Pelebaran ini bisa
menyebabkan kelainan fungsi katup antara jantung dan aorta (katup
aorta), sehingga pada saat katup menutup, darah kembali merembes ke
jantung.

Dinding aorta yang mengalami aneurisma lebih lemah daripada


dinding aorta yang normal. Oleh karena itu, karena tekanan yang begitu
besar dari darah menyebabkan dinding aorta menjadi melebar.
C. Klasifikasi

Aneurisma aorta dapat dibagi berdasarkan morfologi dan lokasinya.


Menurut morfologinya, aneurisma aorta dapat dibagi menjadi 3 yaitu :

1. Fusiform aortic aneurysm : bentuknya lebih baik, dilatasinya


simetris pada sekeliling dindig aorta, dan bentuknya lebih sering
ditemukan.
2. Saccular aortic aneurysm : berbentuk seperti kantong yang
menonjol keluar dan berhubungan dengan dinding aorta melalui
leher yang sempit.

3. Pseudoaneurysm or false aortic aneurysm : merupakan akumulasi


dara ekstravaskuler diserta disrupsi ketiga lapisan pembuluh darah.
Dindingnya merupakan trombus dan jaringan yang berdekatan.

Berdasarkan lokasinya, aneurisma aorta dibagi menjadi 3 yaitu :

1. Abdominal aortic aneurysm (AAA) : lokasinya pada aorta


abdominalis, biasanya mulai dari bawah arteri renalis dan meluas
ke bifurkasio aorta, kadang – kadang melibatkan arteri iliaka.
Aneurisma ini jarang meluas ke atas arteri renalis untuk melibatkan
cabang – cabang viseral mayor aorta.
2. Thoracic aortic aneurysm (AAT) : lokasinya pada aorta toraks,
bagian – bagian yang mengalami pelebaran biasanya pada
ascending aorta di atap katup aorta, aortic arch, dan descending
thoracic aorta di luar arteri subklavia kiri.
3. Thoracoabdominalis aortic aneurysm (AATA) : lokasinya pada
aorta desendens yang secara bersamaan melibatkan aorta
abdominalis.

D. Etiologi

Thoracic aortic aneurysm disebabkan oleh melemahnya struktur


dinding pembuluh darah arteri, hipertensi, merokok, infeksi, dan trauma
dada. Trauma dada biasanya pada kecelakaan kendaraan bermotor, dapat
menyebabkan ruptur tunika intima dan media aorta desendens pada
ligamentum arteriosus. Ligamentum arteriosus mengikat aorta pada suatu
titik tertentu, sehingga pada saat laju kendaraan berhenti mendadak,
struktur – struktur dalam toraks masih bergerak ke depan, sedangkan aorta
yang diikat oleh ligamentum arteriosus tetap pada tempatnya, hal ini dapat
menyebabkan terjadinya robekan pada tunika – tunika pembuluh darah.
Akibatnya, tipe cedera ini dikenal sebagai trauma karena perlambatan.
Tunika adventisia dapat tetap utuh, walaupun dapat pula terjadi ruptur
atau berkembang menjadi aneurisma palsu. Penyebab lainnya adalah
aterosklerosis (penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah arteri)
dapat juga menyebabkan pertumbuhan dan pecahnya aneurisma.

E. Patofisiologi

Aneurisma terjadi karena pembuluh darah kekurangan elastin,


kolagen, dan matriks ekstraseluler yang menyebabkan melemahnya
dinding aorta. Kekurangan komponen tersebut bisa disebabkan oleh faktor
inflamasi (aterosklerosis). Sel radang pada dinding pembuluh darah yang
mengalami aterosklerosis mengeluarkan matriks metalloproteinase.
Matriks metalloproteinase akan menghancurkan elastin dan kolagen,
sehingga persediaannya menjadi berkurang. Selain matriks
metalloproteinase, faktor lain yang berperan terjadinya aneurisma adalah
plasminogen activor, serin elastase, dan katepsin.
Aneurisma akan mengakibatkan darah yang mengalir pada daerah
tersebut mengalami turbulensi. Keadaan itu menyebabkan deposit
trombosit, fibrin, dan sel – sel radang. Akibatnya, dinding aneurisma akan
dilapisi trombus. Lama kelamaan trombus berlapis tersebut akan
membentuk saluran yang sama besar dengan saluran aorta bagian
proksimal dan distal. Selain itu, interaksi dari banyak faktor lain dapat
menjadi predisposisi pembentukan aneurisma pada dinding aorta. Aliran
turbulen pada daerah bifurkasio dapat ikut meningkatkan insiden
aneurisma di tempat – tempat tertentu.

Suplai darah ke pembuluh darah melalui vasa vasorum diduga dapat


terganggu pada usia lanjut, memperlemah tunika media dan menjadi faktor
predisposisi terbentuknya aneurisma.

Apapun penyebabnya, perkembangan aneurisma akan selalu progresif.


Tegangan atau tekanan pada dinding berkaitan langsung dengan radius
pembuluh darah dan tekanan intraarteri. Dengan melebar dan
bertambahnya radius pembuluh darah, tekanan dinding juga meningkat
sehingga menyebabkan dilatasi dinding pembuluh darah. Sehingga angka
kejadian ruptur aneurisma juga meningkat seiring meningkatnya ukuran
aneurisma. Selain itu, sebagian besar individu yang mengalami aneurisma
juga menderita hipertensi sehingga menambah tekanan dinding dan
pembesaran aneurisma.

Bagan :

Arteri media melemah

Membuat peregangan pada arteri


intima & advertisia

Tekanan pada dinding arteri


meningkat
Pelebaran lebih lanjut Menekan organ disekitar

Aneurisma membesar

Terjadi ruptur

Terjadi perdarahan

Kematian

F. Tanda dan Gejala

Gejalanya adalah nyeri (biasanya di punggung sebelah atas), batuk dan


bunyi mengi.

Penderita bisa mengalami batuk berdarah karena tekanan atau erosi


pada pipa udara (trakea) maupun pada saluran pernafasan disekitarnya.
Penekanan terhadap kerongkongan bisa menyebabkan kesulitan menelan.
Penekanan terhadap pita suara bisa menyebabkan suara penderita menjadi
serak.

Penderita bisa mengalami sindroma Horner yang terdiri dari :


pengkerutan pupil, penurunan kelopak mataber, dan keringat hanya pada
satu sisi wajah.

Jika aneurisma aorta torakalis pecah, biasanya akan timbul nyeri yang
luar biasa di punggung sebelah atas. Nyeri ini bisa menjalar ke punggung
bawah. Nyeri juga bisa dirasakan di dada dan lengan, menyerupai
serangan jantung (infark miokardial). Penderita dengan cepat bisa jatuh ke
dalam keadaan syok dan meninggal karena kehilangan banyak darah.

G. Komplikasi

Komplikasi utama pada aneurisma adalah ruptur, yang dapat


menimbulkan hemoragi dan kemungkinan kematian. Hipertensi berat
meningkatkan resiko ruptur.

H. Penatalaksanaan Medis

Jika lebar dari aneurisma aorta torakalis mencapai 7,5 cm, biasanya
dilakukan pembedahan perbaikan dengan pencangkokan buatan. Pada
penderita dengan sindrom Marfan meskipun aneurismanya lebih kecil,
dianjurkan untuk dilakukan pembedahan perbaikan, karena cenderung
pecah. Angka kematian selama pembedahan cukup tinggi, yaitu sekitar 10
– 15%. Terapi dengan obat (beta blocker) diberikan untuk mengurangi
denyut jantung dan tekanan darah sehingga akan mengurangi resiko
pecahnya aneurisma.

I. Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan foto rontgen akan memperlihatkan pelebaran dari


bayangan aorta torakalis.

2. Pemeriksaan CT – Scan terutama spiral CT – Scan merupakan


pemeriksaan penting dalam mendiagnosis aneurisma aorta.

3. MRI atau USG transesofageal digunakan untuk menentukan


ukuran yang pasti dari aneurisma.

4. Aortografi biasanya digunakan untuk membantu menentukan jenis


pembedahan yang perlu dilakukan.
5. EKG, enzim jantung, dan ekokardiogram dilakukan untuk
mengesampingkan penyakit jantung sebagai penyebab nyeri dada.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Aneurisma berasal dari bahasa Yunani “aneurysma” berarti pelebaran.


Aneurisma adalah keadaan dimana pembuluh darah menjadi membesar
secara abnormal atau mengembang (over-inflated) seperti balon yang
menonjol keluar. Pelebaran yang terjadi adalah lokal dan lebih dari 50%
diameter pembuluh darah. Aneurisma adalah keadaan yang berbahaya
karena dapat ruptur dan menyebabkan kematian kapan saja.

Aneurisma adalah pelebaran atau menggelembungnya dinding


pembuluh darah, yang didasarkan atas hilangnya dua lapisan dinding
pembuluh darah, yaitu tunika media dan tunika intima, sehingga
menyerupai tonjolan/ balon (http//asramamedikalkunhas.blogspot.com).

Aneurisma adalah pembuluh darah biaasanya arteri ya ng trjadi akibat


kelemahan dinding pembuluh draah karena defek, penyakit/cedera,
sehingga berbentuk tonjolan yang berdenyut yang pada tonjolan tersebut
bisa terdengar mur – mur (Kamus Keperawatan Edisi 17).

Diagnosa yang muncul pada klien dengan aneurisma adalah nyeri


berhubungan dengan anuerisma aorta dan resiko tinggi terhadap
komplikasi : ruptur berhubungan dengan aneurisma aorta.

B. Saran

Setelah mempelajari tentang asuhan keperawatan pada klien dengan


aneurisma diharapkan mahasiswa/i dapat mengerti dan memahami dalam
melakukan tindakan asuhan keperawatan tersebut. Saran dari penyusunan
makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini kurang dari sempurna
untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritiknya yang bersifat
membangun membangun dalam penyempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keparawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta : EGC.

Hancock, Christin.1999. Kamus Keperawatan Edisi 17. Jakarta : EGC

Juall, Carpenito Lynda. 2009. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Marry, dkk. 2008. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskular.


Jakarta : EGC.

Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan


Sistem Kardiovaskular : Pengantar dan Teori. Jakarta : Salemba Medika.
Syaifudin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2.
Jakarta : Salemba Medika.

Wiklson, Judith M. 2011. Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC.

http://.google.com/picture pada tanggal 3 Desember 2011 jam 11.45 WIB

http://.mediasticore.com pada tanggal 3 Desember 2011 jam 11.30 WIB