You are on page 1of 1

Guru yang Berguru

Ada orang yang merasa tersaingi oleh kehadiran rekan baru di tempat kerja. Untuk
menunjukkan senioritas mereka bertindak sewenang-wenang, bersikap acuh, memandang
sebelah mata, menjaga jarak agar tak terjalin hubungan yang akrab bahkan enggan
mengajak berkomunikasi. Mereka akan semakin benci ketika rekan barunya terbukti
memiliki kemampuan lebih baik bahkan disukai atasan.

Nikodemus berbeda. Ia adalah seorang Farisi yang terpelajar, pemimpin agama Yahudi,
anggota Sanhedrin (Mahkamah Agama), seorang yang berpengaruh di Yerusalem. Namun
ia mau datang kepada Yesus-seorang guru baru yang hanya anak tukang kayu-untuk
mengadakan percakapan secara khusus dengan-Nya. Melihat tanda-tanda mukjizat yang
dijadikan Yesus, Nikodemus mengakui bahwa Yesus adalah guru yang diutus Allah. Alih-alih
menjadikan Yesus sebagai rival, Nikodemus mau membuka diri dan belajar dari-Nya.

Dari percakapan mereka tampaklah esensi hidup yang ditegaskan Yesus sebagai syarat
seseorang dapat menjalin persekutuan dengan Allah belum dipahami Nikodemus.
Kesalehan dan pengetahun agama tidak serta-merta membuat Nikodemus paham pada
perkataan Yesus. Pembaruan rohani memerlukan proses "kelahiran kembali" melalui
baptisan air dan Roh. Pengalaman Nikodemus ini kiranya membuat kita terbuka, sehingga
kita semakin diperbarui dari hari ke hari. Bukan saja dalam hal kerohanian. Dalam berbagai
aspek kehidupan, merendahkan hati dan membuka diri untuk mengakui kelebihan orang lain
memungkinkan kita belajar guna memperkaya wawasan dan pengalaman.