You are on page 1of 3

Tugas : Review Jurnal mengenai perbandingan penggunaan obat flunarizine dan betahistine

pada pasien vertigo.

Double-blind, Randomized, Multicenter Study Comparing the Effect of Betahistine and


Flunarizine on The Dizziness Handicap in Patients with Recurrent Vestibular Vertigo

Penulis : Albera R, Ciuffolotti R, Di Cicco M, De Benedittis G, Grazioli I, Melzi G, Mira E,


Pallestrini E, Passali D, Serra A, Vicini C.
Jurnal : Acta Otolaryngol, 123 : 588-593
Tahun : 2003

Latar Belakang
Dizziness atau pusing sulit dikuantifikasi karena tidak ada uji klinis yang secara umum
diterima untuk mengukur tingkat sensasi vestibular atau aspek subjektif lainnya dari gangguan
vestibular. Oleh karena itu, dikembangkan Dizziness Handicap Inventory (DHI) yaitu skala
penilaian diri (self-assessment) untuk mengevaluasi faktor fisik yang terkait dengan tingkat
kepusingan yang merupakan akibat fungsional dan emosional dari gangguan sistem vestibular.
DHI digunakan untuk menilai seberapa berat keluhan pusing atau vertigo yang bersifat subjektif
dari penderita. Jacobson dan Newman menemukan adanya hubungan yang positif antara nilai
rerata DHI dengan frekuensi dari dizziness. Vertigo sendiri digambarkan sebagai rasa berputar,
pening, tak stabil atau pusing (dizziness).
Betahistine adalah analog histamin yang memiliki kemampuan dalam meningkatkan
mikrosirkulasi telinga bagian dalam. Betahistidin juga berkerja sebagai agonis reseptor post-
sinaptik H1 parsial dan antagonis reseptor presinaptik H3 pada sel saraf histaminergik. Betahistin
melalui antagonis H3 memfasilitasi pelepasan histamin pada otak serta reseptor labirin perifer.
Pada uji klinis terkontrol, betahistin oral lebih efektif daripada placebo atau obat lain dalam
menyembuhkan gejala penyakit Ménière dan berdasarkan penelitian Oosterveld (1984), Betahistin
juga dapat mengurangi tingkat keparahan dan frekuensi serangan vertigo yang merupakan bentuk
dari vertigo berulang, dengan efek samping yang sedikit. Pada praktek klinis, dosis yang
digunakan biasanya 24-48 mg per hari yang diberikan dalam dosis terbagi.
Flunarizin adalah turunan piperazin yang bekerja sebagai antagonis kalsium. Flunarizin
mencegah masuknya kalsium kedalam sel dan aliran transmembran kalsium tanpa mengganggu
homeostatis kalsium normal. Flunarizin dilaporkan bahwa bermanfaar dalam pengobatan penyakit
Ménière dan vertigo vestibular. Obat ini memiliki waktu paruh yang panjang sehingga dapat
diberikan sekali dalam sehari dan dapat menyebabkan kantuk. Efek samping ini dapat dikurangi
dengan mengonsumsinya pada malam hari.
Studi double-blind mengenai perbandingan betahistin dan flunarizin telah dipublikasi
sebelumnya dimana durasi dari pengobatan selama 2 bulan dengan dosis flunarizin 10 mg sehari
dan betahistin 24 mg atau 48 mg sehari. Parameter yang digunakan dalam studi tersebut yaitu
berkuranganya frekuensi, tingkat keparahan, atau durasi dari serangan vertigo. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk membandingkan efikasi dari Betahistin dan Flunarizin menggunakan
DHI (Dizziness Handicap Inventory).

Metode
Pada penelitian ini, digunakan metode double-blind, ramdomized, parallel-group yang
dilakukan di 8 bagian otorhinolaryngology (THT) dan rumah sakit di Italia. Subjek yang diteliti
yaitu pasien berumur 18-65 tahun dengan indikasi vertigo berulang dari penyakit vertigo perifer
vestibular. Kriteria pasien inklusi yaitu penderita serangan vertigo berulang dengan bukti
kekambuhan selama 2 bulan sebelumnya atau vertigo progresif kontinyu dan memiliki total skor
DHI ≥ 40. DHI merupakan kuesioner yang terdiri dari 25 pertanyaan yang terbagi menjadi 9
pertanyaan mengenai fungsional, 9 mengenai emosional, dan 7 mengenai fisik. Tiap item
pertanyaan, pasien disediakan 3 jawaban yaitu “Ya” yang bernilai 4 poin, “Kadang-kadang”
bernilai 2 poin, dan “Tidak” bernilai 0 poin. Kemungkinan rentang nilai total yaitu 0 yang berarti
tidak ada keluhan, sampai 100 yang mengindikasikan mengalami vertigo/pusing yang signifikan.
Penelitian diawali dengan merandomisasi pasien ke salah satu kelompok terapi selama 8
minggu. Kelompok terapi tersebut yaitu Betahistin HCl oral 16 mg dengan frekuensi 3 kali sehari,
Flunarizin oral 10 mg 1 kali sehari, dan placebo 2 kali sehari. Selanjutnya pasien akan di follow-
up setelah 4 dan 8 minggu terapi. Pada tiap follow-up tersebut, akan dilakukan pengukuran nilai
total DHI, simptom vegetatif (mual, muntah, kepala terasa ringan, berkeringat, pucat, dan sakit
kepala), simptom kokhlea (tinnitus, pendengaran menurun, dan telinga terasa penuh), tekanan
darah, dan denyut nadi. Perbedaan antara dua kelompok terapi pada total nilai DHI dengan tiga
subscore dianalisis menggunakan two-way ANOVA dengan uji statistik dua sisi dan tingkat
kepercayaan 5%. Studi untuk perubahan dari baseline pada 4 dan 8 minggu untuk setiap simptom
vegetatif dan kokhlea menggunakan tes McNemar dengan tingkat kepercayaan 2.5%.
Pasien dengan total 78 orang (40 orang termasuk kelompok Betahistin dan 38 orang
kelompok Flunarizin) dirandomisasi ke dalam 8 sentra. 78 pasien, 9 diantaranya (3 pada kelompok
Betahistin dan 6 pada kelompok Flunarizin) dikeluarkan karena tidak memulai terapi atau obat
yang dikonsumsi tidak terdokumentasi. Selanjutnya 1 pasien dari kelompok Flunarizin tidak
masuk dalam sampel ITT (intention-to-treat) sehingga total pasien tersisa yaitu 68 orang. Pada 68
pasien sampel ITT tersebut, terdapat 16 pasien (8 dari kelompok Betahistin dan 8 dari kelompok
Flunarizin tidak masuk kedalam sampel PP (per-protocol). Oleh karena itu, jumlah sampel yang
termasuk dalam sampel PP yaitu 52 pasien dengan pembagian 29 pasien pada kelompok Betahistin
dan 23 pasien pada kelompok Flunarizin.

Hasil Penelitian
Sampel PP berjumlah 52 pasien terdiri dari 33 pasien laki-laki (48%) dan 36 pasien
perempuan (52%). Perbandingan dari dua kelompok terapi memberikan hasil rerata total nilai DHI
menurun 36.6 poin pada kelompok Betahistin dan 29.1 poin pada kelompok Flunarizin setelah 8
minggu. Rerata nilai DHI pada kelompok betahistin 7.5 poin lebih rendah disbanding kelompok
Flunarizin. Setelah 8 minggu, 51% pasien (15/29) dari kelompok Betahistin dan 52% (12/23) dari
kelompok Flunarizin bebas simptom vegetatif. Pada simptom kokhlea, simptom yang paling sering
dilaporkan yaitu tinnitus, namun secara umum tidak ada pengurangan yang signifikan pada
simptom kokhlea setelah 8 minggu. Pada tekanan darah dan denyut nadi juga tidak terjadi
perubahan pada kedua terapi selama penelitian.
Penelitian ini menunjukkan bahwa Betahistin dengan dosis 48 mg sehari lebih efektif
dibanding Flunarizin dosis 10 mg sehari dalam memperbaiki nilai total dan subscale fisik DHI.
Selain itu, simptom vegetatif juga mempengaruhi nilai DHI. Pada penelitian sebelumnya mengenai
perbedaan Betahistin dan Flunarizin pada tahun 1991, terapi pada tingkat keparahan vertigo
bersifat semi kuantitatif.

Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa Betahistin lebih efektif dibandingkan Flunarizin dalam
memperbaiki nilai total DHI.