You are on page 1of 18

BAB 1

PENDAHULUAN

http://alisarjunip.blogspot.com/2013/07/pengembangan-sistem-informasi.html

1.1 Latar Belakang

Pembangunan suatu bangsa memerlukan aset pokok yang disebut sumber daya

(resources), baik sumber daya alam (natural resources), maupun sumber daya manusia

(human resources) dan kedua sumber daya tersebut sangat penting dalam menentukan

keberhasilan suatu pembangunan. Pengembangan sumber daya manusia (human resources

development) adalah suatu proses peningkatan kualitas atau kemampuan manusia dalam

rangka mencapai suatu tujuan pembangunann bangsa, yang meliputi perencanaan,

pengembangan dan pengelolaan sumber manusia (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Depkes (2003) tentang kebijakan dan strategi desentralisasi Bidang

Kesehatan disebutkan bahwa dalam memantapkan sistem manajemen sumber daya manusia

kesehatan perlu dilakukan peningkatan dan pemantapan perencanaan, pengadaan tenaga

kesehatan, pendayagunaan dan pemberdayaan profesi kesehatan.

Untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010, pembangunan kesehatan ditujukan untuk

menciptakan dan mempertahankan Provinsi/Kabupaten/Kota Sehat dengan menerapkan

pembangunan berwawasan kesehatan, untuk itu diperlukan tenaga kesehatan yang bermutu

dan merata baik penetapan jenis, jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan sesuai dengan

kebutuhan pembangunan Kesehatan di unit Pelayanan Kesehatan (Puskesmas) (Depkes

2004).

Dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan,

bahwa tujuan penempatan/distribusi tenaga kesehatan adalah untuk tercapainya pemerataan

pelayanan kesehatan.
Di Indonesia jumlah tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas tahun 2007 adalah

168.377 orang. Jumlah dokter umum yang bekerja di puskesmas sebanyak 10.763 orang

(PNS maupun PTT). Dengan jumlah puskesmas sebanyak 8.015, maka rata-rata tiap

puskesmas dilayani oleh 1-2 orang dokter umum. jumlah dokter gigi yang bekerja di

puskesmas sebanyak 4.296 orang yang berarti belum semua puskesmas memiliki dokter gigi.

Dari data tersebut terlihat jelas fenomena antara ketersediaan puskesmas dan tenaga

dokter sebagai penegak diagnosis penyakit, mengakibatkan mutu pelayanan kesehatan

menjadi kurang optimal terutama pada Puskesmas terpencil di Indonesia. Kelemahan

pelayanan kesehatan dilihat dari sudut tenaga kesehatan adalah yang menyangkut penyebaran

yang belum merata, mutu pendidikan yang belum memadai (Depkes, 2000)

Provinsi Lampung yang terdiri dari 2 kota dan 9 kabupaten, dari data profil kesehatan

tahun 2007 menunjukkan bahwa di Provinsi Lampung memiliki 29 rumah sakit baik

pemerintah ataupun swasta, 246 Puskesmas, yang terdiri dari 40 Puskesmas rawat inap, 744

Puskesmas Pembantu dan 253 Puskesmas Keliling (profil kesehatan Provinsi Lampung

2007). Jika dilihat dari rasio puskesmas per 100.000 penduduk, maka rasionya sebesar 3,37,

ini berarti setiap100.000 penduduk dilayani oleh 3 puskesmas, dan cakupan ini belum

mencapai target yang ditetapkan yaitu 5 per 100.000 penduduk.

Ratio tenaga dokter dibanding penduduk selama 3 tahun terakhir cenderung

meningkat, pada tahun 2007 sebesar 8,53 artinya setiap 100.000 penduduk dilayani oleh 8

orang dokter. Apabila dilihat rasio tenaga dokter di Provinsi Lampung angka tersebut cukup

menggembirakan, akan tetapi dari distribusi tenaga dokter per kabupaten/kota jumlah tenaga

dokter di Provinsi Lampung yang ada sebanyak 914 orang, tenaga dokter cenderung berada di

daerah kota daripada di kabupaten, yaitu 36,32 % (332 orang) berada di Kota Bandar

Lampung dan 11,71 % berada di Kota Metro, sementara ada kabupaten yang memiliki tenaga

dokter masih dibawah 10 % dari total dokter yang ada di Provinsi Lampung. Untuk tenaga
Perawat dan Bidan jumlah tenaga yang ada sebanyak 6.735 orang, dan persebarannya 20,27

% berada di Kota Bandar Lampung.

Jika dilihat dari persebaran tenaga kesehatan terutama tenaga dokter, sekitar 10 %

Puskesmas di Kabupaten yang tidak memiliki tenaga dokter dan dokter gigi, dan pada

wilayah-wilayah terpencil ada beberapa puskesmas yang hanya dilayani oleh 2 orang tenaga

perawat dan 2 orang staf umum.(Profil Kesehatan Lampung 2007). Dengan terjadinya

penumpukan tenaga kesehatan di wilayah tertentu (daerah perkotaan) mengakibatkan

pelayanan kesehatan di kabupaten terutama daerah yang tidak diminati dan daerah terpencil

menjadi tidak optimal, sehingga derajat kesehatan masyarakat didaerah akan semakin rendah.

(Depkes, 2002)

Departemen Kesehatan dalam melaksanakan perencanaan tenaga kesehatan, telah

mengeluarkan kebijaksanaan yaitu 1 puskesmas dilayani oleh 2 orang dokter, dan untuk

daerah perkotaan dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan dengan melihat jumlah kunjungan

dan beban kerja puskesmas.

Sebagai pola dasar struktur organisasi puskesmas, Departemen Dalam Negeri telah

mengeluarkan SK Mendagri No. 23 tahun 1994, tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja

Puskesmas, kemudian Biro Organisasi dan Tata Laksana Departemen Kesehatan RI membuat

secara rincian berikut.

Tabel 1.1
Kebutuhan jumlah tenaga kesehatan di puskesmas

JENIS TENAGA PUSKESMAS PUSKESMAS PUSKESMAS


NON DTP DTP PEMBANTU
1. Dokter 2 3 -
2. Perawat 1-3 2-4 -
3. Bidan 2-3 5 1
4. Paramedis 10 11 1

Menurut data profil kesehatan tahun 2007, Provinsi Lampung yang memiliki 2 kota

dan 9 kabupaten, memiliki sarana rumah sakit umum sebanyak 26 buah, puskesmas sebanyak
246 buah, 744 puskesmas pembantu dan 744 puskesmas keliling, dengan mengasumsikan 1

puskesmas dilayani oleh 2 orang dokter, maka diperlukan 246 x 2 dokter = 492 tenaga dokter,

sedang tenaga dokter yang bekerja di puskesmas saat ini adalah 327 dokter umum (PNS dan

PTT), dengan demikian di Lampung sebenarnya masih kekurangan 165 tenaga dokter umum

untuk bekerja di puskesmas.

Apabila dilihat dari aspek persebaran tenaga dokter, maka distribusi tenaga dokter

masih cenderung pada wilyaha perkotaan. Kabupaten Way Kanan, salah satu kabupaten yang

memiliki 18 Puskesmas hanya dilayani oleh 10 orang tenaga dokter, apabila dengan asumsi 1

puskesmas dilayani oleh 1 dokter, maka ada sekitar 8 puskesmas yang tidak memiliki tenaga

dokter, sementara Kota Bandar Lampung yang memiliki puskesmas sebanyak 22 buah

dilayani oleh 112 tenaga dokter, yaitu 74 dokter umum dan 38 dokter gigi, apabila dengan

asumsi daerah perkotaan 1 puskesmas dilayani oleh 2 orang tenaga dokter, berarti terjadi

kelebihan tenaga sebanyak 68 tenaga dokter.

Apabila perhitungan kebutuhan tenaga dokter dibandingkan dengan jumlah kunjungan

pasien, Kota Bandar Lampung dalam 1 tahun memilki jumlah kunjungan pasien sebesar

933.798 atau 30,73 % (Profil Kesehatan Lampung 2007) dari total kunjungan pasien seluruh

provinsi, dengan asumsi waktu kerja/hari adalah 5 jam dan jumlah hari kerja perminggu

adalah 6 hari maka dapat diperkirakan jumlah kebutuhan tenaga dokter di Kota Bandar

Lampung adalah sebanyak 12 orang dokter.

Beberapa pendekatan kebijakan yang mungkin dapat diambil untuk menjebatani

masalah SDM kesehatan yaitu melalui pendekatan kebijakan SDM kesehatan dan kebijakan

supply and demand SDM kesehatan. Sedangkan dengan pendekatan struktural atau

perundang-undangan, pemerintah lebih meningkatkan fungsi pengawasan, akreditasi dan

lisensi (Ilyas, 2002).


Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) khususnya dalam subsistem SDM

kesehatan, perencanaan SDM kesehatan merupakan salah satu unsur utama dari subsistem

tersebut yang menekankan pentingnya upaya penetapan jenis, jumlah dan kualifikasi SDM

kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan (Depkes, 2004)

Departemen Kesehatan melalui Kepmenkes No. 81/Menkes/SK/I/2004 telah

mengeluarkan Pedoman Penyusunan Perencanaan Tenaga kesehatan di tingkat

Provinsi/Kab/Kota serta rumah sakit berdasarkan beban kerja/Work Load Indicator Staf Need

(WISN), namun pelaksanaan dan implementasi dari perencanaan kebutuhan Tenaga

kesehatan berdasar beban kerja sangat sulit, karena petugas harus melaksanakan langkah-

langkah perhitungan, yaitu 1. Menetapkan Waktu Kerja tersedia pertahun, 2. Menetapkan

kategori SDM, 3.Menyusun standar beban kerja, 4. Menyusun Standar kelonggaran, 5.

Perhitungan Kebutuhan tenaga per unit kerja, karena rumit dan terbatasnya tenaga perencana

dan pengelola SDM di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, maka saya merasa perlu untuk

mengembangkan rancangan sistem informasi perencanaan tenaga kesehatan berdasarkan

beban kerja di Puskesmas

Dalam melakukan upaya perencanaan, pengembangan dan pemberdayaan SDM

kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, sangat terkait dengan

faktor internal maupun eksternal ang berkembang saat ini. Beberapa masalah yang

diperkirakan akan menjadi kendala utama dan berpengaruh dalam program perencanaan,

pengembangan dan pemberdayaan manusia kesehatan adalah globalisasi, otonomi daerah,

entrepreneurship kesehatan, kualitas kelulusan dan pegawai negeri, pemerataan tenaga

kesehatan, masa depan institusi kesehatan, tenaga kerja kesehatan Indonesia dan sistem

informasi (BPPSDMK, 2004)

Kendala yang sangat dirasakan dalam pelaksanaan pengembangan Sistem Informasi

SDM kesehatan didaerah adalah data dan informasi tenaga kesehatan yang masih sulit
diperoleh, sehingga tidak dapat menggambarkan keadaan SDM kesehatan secara nasional

setelah adanya kebijakan desentralisasi, sistem pengumpulan data didaerah sangat bervariasi,

bahkan di beberapa daerah tidak ada unit yang mempunyai fungsi untuk penyediaan data

SDM kesehatan (BPPSDMK, 2004), dan pengelolaan informasi di kabupaten/kota belum

berjalan optimal, terutama dalam melihat kebutuhan data dan informasi secara keseluruhan

dari sistem informasi yang ada, ditunjang kemampuan perencanaan tenaga kesehatan yang

masih lemah, dimana perencanaan kebutuhan masih berdasarkan permintaan kebutuhan

tenaga dari provinsi untuk mengisi kekurangan tenaga yang ada di kabupaten/kota, dan hal ini

masih juga terjadi pada hampir semua kabupaten/kota di Indonesia (Zulkarnain, 2000).

Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung yang memiliki jumlah penduduk sebanyak

844.607 jiwa dan 22 puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan serta memiliki 669 SDM

kesehatan, dalam perencanaan SDM nya belum memiliki format khusus atau acuan yang

dapat menjadi landasan dalam perencanaan SDM kesehatan khususnya di puskesmas,

kendala standar waktu terhadap kegiatan pelayanan di puskesmas juga menjadi kendala

terhadap perhitungan perencanaan SDM kesehatan berdasarkan beban kerja.

Untuk itu perlu dikembangkan suatu sistem informasi perencanaan kebutuhan tenaga

kesehatan di puskesmas berdasarkan beban kerja, sehingga sistem ini diharapkan dapat

membantu dalam pengambilan keputusan/decision support system (DSS) atau sistem

pendukung keputusan, menurut Kendall & Kendall (2003), sistem informasi ini merupakan

sistem yang terkomputerisasi diatas sistem informasi manajemen yang lebih menekankan

pada fungsi mendukung pengambilan keputusan di seluruh tahap-tahapannya, walaupun

keputusan aktual masih tetap wewenang khusus pembuat keputusan, sehingga data dan

informasi diperlukan untuk mengambil keputusan dan kebijakan baik untuk perencanaan,

pendistribusian serta untuk progam pengembangan dan pemberdayaan sumber dya kesehatan

itu sendiri maupun untuk kepentingan program.


1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Permasalahan Kesehatan Masyarakat

Mutu pelayanan kesehatan pada pelayanan kesehatan dasar menjadi tidak optimal

karena tidak meratanya distribusi tenaga kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat dan bidan) di

Puskesmas

1.2.2 Permasalahan Sistem Informasi Kesehatan

1. Ketersediaan data kunjungan pasien per unit kerja yang belum terekap secara rinci.

2. Sulitnya memformulasikan perhitungan berdasarkan beban kerja

3. Sulitnya melaksanakan pengolahan data dan analisis data kebutuhan perencanaan


tenaga kesehatan di Puskesmas, dan belum menghasilkan suatu bentuk informasi.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Dikembangkannya prototype Sistem Informasi Perencanaan Tenaga kesehatan di

Puskesmas berdasarkan beban kerja di Kota Bandar Lampung.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Dilakukan analisis sistem untuk melihat gambaran sistem yang terjadi saat ini

2. Teridentifikasinya informasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan

3. Tersusunnya basis data Tenaga kesehatan

4. Terbentuknya rancangan sistem : Input, Proses, Output

5. Terbentuknya Prototipe Sistem Informasi Perencanaan Tenaga kesehatan di


Puskesmas berdasarkan Beban Kerja di Kota Bandar Lampung

1.4 Manfaat

1.4.1 Untuk Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung


1. Prototipe yang akan dikembangkan ini akan diimplementasikan pada Sub Bag
Kepegawaian Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung

2. Diperolehnya sistem informasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan sebagai


solusi yang dapat membantu dalam penghitungan kebutuhan tenaga kesehatan
berdasarkan beban kerja

3. Dapat membantu para pengambil keputusan untuk mendistribusikan tenaga sesuai


beban kerja, sehingga pada akhirnya upaya kesehatan akan memiliki daya ungkit yang
lebih tinggi terhadap derajat kesehatan masyarakat.

1.4.2 Untuk Peneliti

1. Dapat membantu dan pengalamaan lebih lanjut dalam pengembangan sistem


informasi perencanaan tenaga kesehatan sebagai bekal dalam melaksanakan
tugas lebih lanjut.

2. Menambah pengalaman nyata penulis dalam melakukan penulisan ilmiah.

1.4.3 Program Studi

Menambah referensi khususnya yang berkenaan dengan sistem informasi kesehatan

1.4.4 Instansi

Bagi Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung dapat dijadikan sebagai bahan untuk

membantu mengambil keputusan dalam perencanaan tenaga kesehatan dan mendistribusikan

tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan beban kerja di unit pelayanan atau

puskesmas.

1.5 Ruang Lingkup

1. Pengembangan sistem informasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan ini akan


dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sub Bag Kepegawaian Dinas
Kesehatan Kota Bandar Lampung

2. Data yang digunakan dalam perhitungan perencanaan tenaga kesehatan di puskesmas


masih dibatasi pada tenaga kesehatan Dokter, Dokter Gigi, Perawat dan Bidan, data
kunjungan pasien yang didapat dari laporan LB-4 dan LT-2 SP2TP puskesmas tahun
2007, dan prototype yang dirancang terbuka untuk penambahan jenis tenaga
kesehatan yang lain.
3. Dalam pengembangan prototype perencanaan tenaga kesehatan puskesmas di Dinas
Kesehatan Kota Bandar Lampung, semua faktor determinan yang berpengaruh
terhadap perencanaan tenaga kesehatan seperti perkembangan penduduk, pola
penyakit, keadaan darurat dan perubahan suhu politik tidak diperhitungkan karena
dianggap tetap.

4. Data lain yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem ini dibatasi pada entitas yang
diperlukan akan dilakukan dengan cara telaah dokumen dan wawancara mendalam
terhadap petugas yang terkait.

BAB II

SISTEM INFORMASI

2.2.1 Sistem

Sistem dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan pendekatan yang menekankan

kepada prosedur dan yang menekankan kepada komponen atau elemen. Sistem dapat pula

diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur atau variabel-variabel yang

saling terorganisasi, saling berinteraksi dan saling bergantung satu sama lainnya. Menurut

Murdick dan Ross (1993) mendefinisikan sistem sebagai perangkat elemen yang

digabungkan satu sama lainnya untuk suatu tujuan bersama, sementara pengertian sistem

yang menekankan kepada elemen atau komponen seperti yang disampaikan oleh McLeod

(1995) adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan masksud yang sama

untuk mencapai tujuan, Menurut Scott (1996), sistem terdiri dari unsur-unsur seperti input,

pengolahan (processing) serta keluaran (output). Ciri pokok sistem menurut Gapspert ada

empat, yaitu sistem itu beroperasi dalam suatu lingkungan, terdiri dari unsur-unsur, ditandai

dengan saling berhubungan, dan mempunyai satu fungsi atau tujuan utama.

Gambar 2.2
Model Sistem
Menurut Sutanta (2003) karakteristik suatu sistem adalah elemen yang saling bekerja sama

atau yang dihubungkan dengan cara-cara tertentu sehingga membentuk satu kesatuan untuk

melaksanakan suatu fungsi guna mencapai suatu tujuan, Suatu sistem memiliki karakteristik

sebagai berikut :

1. Mempunyai komponen (components) : adalah segala sesuatu yang menjadi bagian


penyusun sistem.

2. Mempunyai batas (boundary) : Batasan sistem diperlukan untuk membedakan satu


sistem dengan sistem yang lain. Batas sistem akan memberikan batasan scope tinjauan
terhadap sistem.

3. Mempunyai lingkungan (environments) : adalah segala sesuatu diluar sistem,


lingkungan yang menyediakan asumsi, kendala, dan input terhadap suatu sistem.

4. Mempunyai penghubung/antar muka (interface) : yaitu segala sesuatu yang bertugas


menjembatani hubungan antar komponen dalam sistem, yang merupakan sarana yang
memungkinkan setiap komponen saling berinteraksi dan berkomunikasi dalam rangka
menjalankan fungsi masing-masing komponen.

5. Mempunyai masukkan (input) : yaitu segala sesuatu (data, bahan baku) yang perlu
dimasukkan kedalam sistem sebagai bahan yang akan diolah lebih lanjut untuk
menghasilkan keluaran yang berguna.

6. Mempunyai pengolahan (processing) : merupakan komponen sistem yang mempunyai


peran utama mengolah masukkan agar menghasilkan keluaran yang berguna bagi para
pemakainya, yang dapat berupa program aplikasi komputer.

7. Mempunyai keluaran (output) : merupakan komponen sistem yang berupa berbagai


macam bentuk keluaran yang dihasilkan oleh komponen pengolahan.

8. Mempunyai sasaran (objectives) dan tujuan (goal) : yang berarti setiap komponen
dalam sistem perlu dijaga agar saling bekerjasama dengan harapan agar mampu
mencapai sasaran dan tujuan sistem.

9. Mempunyai kendali (control) : setiap komponen agar tetap terjaga sesuai dengan
peran dan fungsinya, maka perlu ada pengendalian, yang memiliki peran utama
menjaga agar proses dalam sistem dapat berlangsung secara normal sesuai dengan
batasan yang telah ditetapkan.

10. Mempunyai umpan balik (feed back) : berfungsi untuk mengecek terjadinya
penyimpangan proses dalam sistem dan mengembalikannya kedalam kondisi normal.
2.2.2 Informasi

Informasi menurut Sauerborn dan lippeveld (2000) adalah kumpulan dari fakta atau

data yang mempunyai arti. Jadi data yang terkumpul saja tidak bisa disebut informasi apabila

belum diolah menjadi sesuatu yang mempunyai arti, jadi informasi adalah data yang telah

diproses dan harus memiliki arti bagi penerima informasi, dan Informasi dapat dipakai

sebagai bahan untuk mengambil keputusan saat itu atau keputusan mendatang (Depkes RI,

1993). Sumber informasi adalah data. Data adalah kenyataan yang menggambarkan kejadian-

kejadian dan kesatuan nyata. Informasi diperoleh setelah data-data mentah diproses atau

diolah. Nilai sebuah informasi ditentukan dari dua hal yaitu manfaat dan biaya untuk

mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaat dan biaya untuk

mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan bernilai apabila manfaatnya lebih efektif

dibandingkan dengan biaya untuk mendapatkan informasi tersebut.

Menurut Sutanta (2003) Transformasi data menjadi informasi dapat digambar sebagai berikut

Gambar 2.3
Transformasi Data Menjadi Informasi

Data yang diolah tidak cukup dapat dikatakan sebagai suatu informasi, untuk dapat

bermanfaat informasi harus didukung oleh 3 pilar, yaitu :

a. Tepat orangnya (relevance)

b. Tepat waktu (timeless), diharapkan informasi dapat disediakan secepat waktu yang

diperlukan. Keterlambatan informasi akan menyebabkan informasi menjadi tidak berguna,

karena sudah kadaluwarsa


c. Tepat nilainya dan akurat (Accurate)

Menurut Sutanta (2003) informasi memiliki beberapa fungsi yaitu :

1. Menambah pengetahuan.

2. Mengurangi ketidak pastian

3. Mengurangi risiko kegagalan

4. Mengurangi keanekaragaman/variasi yang tidak diperlukan

5. Memberikan standar, aturan-aturan, ukuran-ukuran dan keputusan-keputusan yang

menentukan pencapaian sasaran dan tujuan.

2.2.3 Sistem Informasi

Pengertian sistem informasi sangat beragam. Dari berbagai sumber yang didapatkan,

Kadir (2003) menyimpulkan bahwa ”sistem informasi mencakup sejumlah komponen

(manusia, komputer, teknologi informasi, prosedur kerja), ada sesuatu yang diproses (data

menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan.

Menurut Kadir (2003), sesuai dengan klasifikasi sistem, maka sistem informasi

termasuk dalam sistem fisik, terbuka, buatan manusia, deterministik dan probalhistik.

Termasuk dalam penggolongan tersebut karena sistem informasi merupakan buatan manusia

yang secara fisik dapat terlihat, dapat menerima masukan dan keluaran bagi lingkungan serta

beradaptasi terhadap lingkungan tersebut, kondisi masa depan sistem informasi tidak dapat

diramalkan dengan pasti tetapi bagian tertentu dapat sebagai sistem yang deterministik.

Komponen-komponen suatu sistem informasi terdiri dari: perangkat keras yang

berupa komputer dan printer, perangkat lunak atau program yaitu sekumpulan instruksi yang

memungkinkan perangkat keras untuk dapat memperoses data, prosedur yaitu sekumpulan

aturan untuk melakukan proses data sehingga menghasilkan suatu keluaran, orang yaitu pihak

yang bertanggung jawab dalam pengembangan sistem informasi, pemrosesan dan


penggunaan keluaran, basis data yaitu penyimpanan data yang terdiri dari sekumpulan tabel

yang saling berhubungan, jaringan komputer dan komunikasi data yaitu sistem penghubung

yang memungkinkan informasi dapat dipakai bersama-sama (Kadir, 2003). Menurut John

Burch dan Gary Grudnitski (1986) seperti dikutip oleh Jogiyanto (2001) komponen sistem

informasi disebut dengan blok bangunan yang terdiri dari blok masukan, blok model, blok

keluaran, blok teknologi, blok basis data dan blok kendali dimana blok ini saling berinteraksi

membentuk satu kesatuan untuk mencapai sasarannya

2.2.4 Sistem Informasi Kesehatan

Sistem informasi kesehatan (SIK) didefinisikan sebagai suatu tatanan yang berurusan

dengan pengumpulan, pengoahan, analisis dan penyampaian informasi yang dibutuhkan

untuk menjalankan kegiatan pelayanan kesehatan yang juga untuk penelitian dan pendidikan

(Siregar, 1984)

Sistem informasi kesehatan atau kadang kala disebut juga dengan sistem informasi

manajemen kesehatan adalah suatu sistem informasi yang menyediakan dukungan informasi

bagi proses pengambilan keputusan disetiap jenjang administrasi kesehatan, baik ditingkat

unit pelaksana upaya kesehatan, ditingkat kabupaten/kota, ditingkat provinsi, maupun

ditingkat pusat. Sistem Informasi Kesehatan mempunyai komponen-komponen yang saling

berkaitan dan mengorganisasikan yang dapat dikelompokkan kedalam dua kategori, yaitu

Proses informasi dan struktur manajemen sistem informasi.

Proses informasi terdiri atas unsur-unsur :

a. Mengidentifikasi kebutuhan informasi dan data

b. Pengumpulan data dan pengiriman/pelaporan data

c. Pengolahan data, analisis data, penyajian data dan penggunaan data dan informasi

Informasi diperoleh dengan proses pengumpulan, pengolahan dan analisis yang

kemudian informasi yang diperoleh disampaikan ke pusat-pusat pengambilan keputusan.


Proses ini telah umum dikenal sebagai langkah-langkah pengelolaan data statistik yang

diperlihatkan gambar berikut (Siregar, 1984)

Gambar 2.3
Pengalihbentukan data menjadi informasi

(Siregar, 1984)

Struktur manajemen sistem informasi terdiri dari dua unsur, yaitu sumber daya

informasi dan perangkat pengaturan.

Agar proses kerja sistem informasi kesehatan berjalan secara efisien diperlukan

manajemen terhadap Sistem Informasi Kesehatan, maka diperlukan komponen-komponen

yang berfungsi dengan baik.

Sistem Informasi Kesehatan Nasional dibangun dari rangkaian sistem informasi-sistem

informasi kesehatan daerah. Sistem Informasi Daerah dibangun dari jarinan sistem informasi-

sistem informasi kesehatan yang berkembang didaerah, baik yang dibangun oleh pemerintah

daerah maupun oleh masyarakat termasuk swasta.

Sistem Informasi Kesehatan Nasional yang dikembangkan mencakup substansi upaya

kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumberdaya manusia kesehatan, sumberdaya kesehatan

lainnya dan pemberdayaan masyarakat. Penetapan indikator dan data yang dikelola dalam

sistem informasi kesehatan didasarkan kepada kebutuhan informasi yang diperlukan untuk
menyelenggarakan manajemen sistem kesehatan dan manajemen subsistemnya, baik

ditingkat nasional maupun tingkat daerah (Depkes RI, 2000). Pengolahan data dan analisis

data serta pengemasan informasi diselenggarakan dengan mendayagunakan berbagai disiplin

(statistik, komputer, epidemiologi/kesehatan) secara terintegrasi dan komprehensif. Penyajian

data dan informasi dilakukan diberbagai peluang dalam manajemen kesehatan (perencanaan

dan pengambilan keputusan dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian serta pengawasan

dan pertanggung jawaban)

Pengembangan Sistem Kesehatan Nasional dan Sistem Kesehatan Daerah (SIKDA)

diselenggarakan dengan memperkuat infrastruktur yang meliputi tenaga pengelola,

prasarana/sarana dan teknologi, dana dan peraturan perundangan-undangan. Prinsip dasar

yang perlu diperhatikan dalam pengembangan SIKDA kabupaten/kota adalah (Depkes RI,

2002) :

 Perlu dikenali dengan benar pemakai (komponen) dari informasi yang akan dihasilkan
oleh SIKDA

 Perlu diidentifikasi dengan tepat perilaku pemakai (konsumen) yang berkaiatan


dengan pemakaian informasi, terutama proses pengambilan keputusan yang dilakukan
dalam manajemen kesehatan.

 Perlu diidentifikasi dan disusun kebutuhan informasi dari para pemakai berkaitan
dengan pengambilan keputusan yang dilakukan

 Perlunya dipertimbangkan untuk memulai pengembangan SIKDA secara bertahap


dimulai dengan menyediakan informasi untuk memenuhi kebutuhan minimal

 Perlunya diperhatikan keterpaduan dalam pencatatan dan pelaporan data agar tidak
memberatkan para pelaksana, sehingga kualitas data dapat terjamin

BAB 3
KERANGKA PIKIR PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

3.1 Kerangka Pikir


Pengembangan sistem informasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan puskesmas

di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, ini menggunakan pendekatan sistem seperti pada

gambar dibawah ini.

Gambar 3.1
Kerangka Pikir Pengembangan Sistem Informasi Perencanaan Kebutuhan Tenaga kesehatan
Puskesmas di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung

INPUT PROSES OUTPUT

Pada komponen masukkan (input) mengandung data kunjungan pasien, data tenaga

kesehatan puskesmas. Data diperlukan untuk menghasilkan informasi yang akan diolah
produk sistem informasi perencanaan tenaga kesehatan di Puskesmas pada Kota Bandar

Lampung.

Pada tahapan proses yang akan dilalui oleh komponen masukkan untuk menghasilkan

keluaran meliputi pengumpulan data, pengiriman data, pengolahan data dan analisis data

serta presentasi data, yang merupakan proses dari suatu sistem informasi yang akan

menghasilkan informasi sebagai produk akhir.

Komponen keluaran (output) merupakan hasil dari produk komponen masukkan dan

komponen proses berupa indikator dan produk informasi yang diharapkan berguna dalam

pemantapan pengembangan sistem informasi perencanaan tenaga kesehatan di Puskesmas

pada Kota Bandar Lampung.

3.2 Definisi Operasional

1. Data kunjungan pasien adalah rekapilutasi jumlah pasien yang datan ke puskesmas
baik pasien baru maupun pasien lama yang tercatat pada daftar kunjungan yang
direkap pada LB4

2. Data tenaga kesehatan puskesmas adalah data yag diperoleh dari bagian kepegawaian
Dinas Kota Bandar Lampung meliputi jumlah dan jenis pegawai yang ada di setiap
puskesmas

3. Data jumlah penduduk adalah data penduduk perwilayah kerja puskesmas

4. Pengumpulan data adalah seluruh proses bagaimana data didapatkan mencakup


mekanisme, format, sumber dan tenaga yang terlibat

5. Pengiriman data adalah proses bagaimana data terkirim dan waktu pengiriman ke
server Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung

6. Pengolahan data adalah yang terkirim direkap, diolah menjadi data informasi

7. Analisis adalah data yang telah diolah kemudian dikaji menurut kebutuhannya

8. Kebutuhan tenaga kesehatan beban kerja adalah jumlah SDM perkategori yang
dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan pelayanan di Puskesmas per Unit
Pelayanan.
9. Kuantitas kegiatan pokok adalah banyaknya kegiatan pelayanan yang telah
dilaksanakan ditiap unit kerja selama kurun waktu satu tahun per kategori SDM

10. Standar beban kerja adalah volume/kuantitas beban kerja selama kurun waktu satu
tahun per kategori SDM

11. Standar kelonggaran adalah volume/kuantitas kegaiatan yang terkait atau tidak terkait
langsung dengan kegiatan pelayanan meliputi jenis kegiatan, waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan kegiatan perkategori SDM selama kurun waktu satu tahun

12. Kebutuhan SDM berdasarkan beban kerja adalah jumah SDM per Kategori yang
dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan pelayanan di puskesmas per unit pelayanan

13. Kuantitas kegiatan pokok adalah banyaknya kegiatan pelayanan yang telah
dilaksanakan di setiap unit kerja selama kurun waktu satu tahun per kategori SDM

14. Standar beban kerja adalah volume/kuantitas beban kerja selama kurun waktu satu
tahun per kategori SDM

15. Standar kelonggaran adalah volume/kuantitas kegiatan yang terkait atau tidak terkait
langsung dengan kegiatan pelayanan meliputi jenis kegiatan, waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan kegiatan per kategori SDM selama kurun waktu satu tahun