You are on page 1of 27

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perubahan patologik pada organ auditorik akibat proses degenerasi


pada orang tua (geriatri), menyebabkan gangguan pendengaran. Jenis
ketulian yang terjadi pada kelompok geriatri umumnya adalah tuli saraf,
namun juga dapat berupa tuli konduktif atau tuli campur. Presbikusis adalah
tuli sensorineural pada usia lanjut yang pada umumnya terjadi mulai usia 65
tahun akibat proses degenerasi organ pendengaran yang terjadi secara
berangsur-angsur dan simetris di kedua sisi telinga.

Presbikusis merupakan salah satu masalah kesehatan yang terpenting


dalam masyarakat. Hampir 40 % penderita usia 65 tahun ke atas mengalami
gangguan pendengaran. Akibat gangguan pendengaran tersebut, penderita
mengalami gangguan masalah sosial seperti frustasi, depresi, cemas,
paranoid, merasa kesepian dan meningkatnya angka kecelakaan.

Kehilangan pendengaran akan berpengaruh pada situasi psikososial.


Ancaman yang terjadi bila pendengaran terganggu adalah isolasi lingkungan
sosial, depresi dan kehilangan kepercayaan diri. Gangguan pendengaran
akan berimplikasi pada demensia, meskipun banyak faktor yang lain yang
mempengaruhinya.

Upaya peningkatan kemampuan bagi setiap penduduk untuk mencapai


dan menikmati hidup sehat itu harus dilaksanakan, oleh karena penduduk
yang sehat akan lebih mampu meningkatkan produktivitasnya.

Gangguan pendengaran di satu pihak akan menghambat produktivitas


setiap penduduk yang menyandangnya dan di lain pihak tentu membebani
keluarga dan masyarakat lingkungannya. Hasil survei telinga nasional yang

1
2

dilakukan pada tahun 1996 menunjukkan peningkatan prevalensi morbiditas


penyakit tuli menjadi 22,1% dan diketahui pula masih rendahnya
pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap kesehatan telinga,
karena diketahui pula bahwa penyebab tuli terbesar adalah presbikusis dan
ditemukan adanya kesenjangan pelayanan telinga antara puskesmas dan
rumah sakit, maka perlu adanya pendidikan langsung yang diberikan kepada
masyarakat guna menambah pengetahuan ddan kemandirian masyarakat
terhadap penyakit gangguan pendengaran tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Presbikuasis?.
2. Apa Penyebab Presbikuasis?.
3. Bagaimana menangani Presbikuasis?.
4. Bagaimana Asuhan keperawatan Presbikuasis?.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Konsep Penyakit

A. Anatomi Telinga
Telinga sebagai organ pendengaran dan ekuilibrium, berisi reseptor-
reseptor yang menghantarkan gelombang suara ke dalam impuls-impuls saraf
dan reseptor yang berspon pada gerakan kepala. Telinga terbagi dalam tiga
bagian : telinga luar, tengah dan dalam.

1. Telinga luar
Terdiri dari aurikula (pinna) dan kanal auditorius eksternal.
Fungsinya untuk menerima suara. Aurikel tersusun atas sebagian besar
kartilago yang tertutup dengan kulit. Lobus satu-satunya bagian yang tidak
disokong oleh kartilago. Sesuai pertambahan usia kartilago terus dibentuk
dalam telinga dan kulit telinga berkurang elastisitasnya; kemudian aurikel
tampak lebih besar dari lobulus. Perubahan-perubahan yang menyertai
proses penuaan ini adalah pengeriputan lobulus dalam suatu pola oblique
linier. Saluran auditorius berbentuk S panjangnya 2,5 cm dari aurikel
sampai membran timpani. Serumen disekresi oleh kelenjar yang
menangkap benda asing dan melindungi epitelium kanalis. Pada proses
penuaan, saluran menjadi dangkal sebagai akibat lipatan ke dalam, pada
dinding kanalis silia menjadi lebih kasar dan lebih kaku dan produksi
serumen agak berkurang dan lebih kering.

Gambar Anatomi Telinga Luar

3
4

2. Telinga tengah
Ruangan berisi udara terletak dalam tulang temporal. Fungsinya
memperkuat bunyi yang ditangkap. Terdiri dari 3 tulang artikulasi :
maleus, inkus dan stapes yang dihubungkan ke dinding ruang timpanik
oleh ligamen. Membran timpani memisahkan telinga tengah dari kanalis
auditorius eksternal. Vibrasi membran menyebabkan tulang-tulang
bergerak dan mentransmisikan gelombang bunyi melewati ruang ke
jendela lonjong. Vibrasi kemudian bergerak melalui cairan dalam telinga
tengah dan merangsang reseptor pendengaran. Bagian membran yang
tegang yaitu pars tensa sedangkan sedikit tegang adalah pars flaksida.
Perubahan atrofik pada membran karena proses penuaan mengakibatkan
penampilan dangkal, teregang, putih atau abu-abu. Perubahan ini tidak
mempunyai pengaruh jelas pada pendengaran.
3. Telinga dalam (Labirin)
Labirin tulang dibagi dalam tiga area : vestibula, kanalis
semisirkularis dan koklea. Koklea adalah struktur yang menggulung
berisis organ Corti, unit fungsional pendengaran. Sel-sel rambut organ
Corti dibengkokkan dan diubah oleh vibrasi kemudian diubah menjadi
impuls-impuls elektrokimia. Perubahan-perubahan degeneratif pada koklea
dan neuron jaras auditorius mengakibatkan Presbiakusis, bilateral,
penurunan pendengaran sensorineural yang dimulai pada usia pertengahan.
(Lueckenotte,1997).

Gambar Anatomi Telinga


5

B. Fisiologi Telinga
NO STRUKTUR FUNGSI

A. TELINGA LUAR Menangkap suara


1. Daun telinga Mengumpulkan dan menyalurkan
Bagian telinga luar berupa gelambir gelombang bunyi ke dalam telinga
2. Liang telinga Membantu mengkonsentrasikan
Saluran menuju membran timpani gelombang suara
3. Rambut Menahan dan menjerat kotoran
Berupa bulu-bulu halus yang melewati lubang telinga
4. Kelenjar minyak Meminyaki dan menahan kotoran
Bagian yang menghasilkan minyak yang melewati lubang telinga
B. TELINGA TENGAH Menjaga tekanan udara agar
seimbang
5. Membran timpani Menangkap getaran bunyi dan
Berupa selaput tipis (selaput menyalurkan ke tulang-tulang
gendang) yang kuat pendengar
6. Tulang-tulang pendengaran meneruskan getaran yang
Terdiri dari Maleus, Inkus, dan disampaikan gendang telinga
Stapes
7. Kanalis semisirkularis Alat keseimbangan tubuh
(3 saluran setengah lingkaran) Berupa
3 saluran berlengkung-lengkung
8. Sakulus dan utrikulus Pangkal Menjaga keseimbangan tubuh
kanalis semisirkularis
berisi cairan endolimfe dan butiran
kalsium
C. TELINGA DALAM Menerima rangsangan bunyi
dan mengirimkannya berupa
implus ke otak
6

9. Rumah siput (koklea) Meneruskan rangsang getaran


Saluran seperti spiral (berisi cairan bunyi
endolimfe)
10. Organ korti Meneruskan getaran bunyi ke
Bagian koklea yang peka terhadap saraf auditori
rangsang bunyi
11. Saluran Estachius Menyeimbangkan tekanan udara
Saluran yang menghubungkan telinga di luar dan di dalam telinga
tengah dengan hidung dan sehingga gendang telinga tidak
tenggorokan rusak.
12. Sel-sel saraf pendengaran Mengendalikan keseimbangan
Sel-sel rambut yang peka terhadap tubuh, untuk mendeteksi posisi
rangsangan bunyi tubuh, dan meneriskan bunyi ke
otak

C. Pengertian Presbiakusis
Presbiakusis adalah hilangnya pendengaran terhadap nada murni
berfrekuensi tinggi, yang merupakan suatu fenomena yang berhubungan
dengan lanjutnnya usia. (Boedhi & Hadi, 1999)
Presbiakusis adalah penurunan pendengaran normal berkenaan dengan
proses penuaan. (Lueckenotte, 1997)
Menurut kelompok kami, presbiakusis adalah hilangnya pendengaran
terhadap nada murni berfrekuensi tinggi, yang merupakan suatu fenomena
yang berhubungandengan lanjutannya usia.

D. Klasifikasi
Schuknecht membagi klasifikasi presbiakusis menjadi 4 jenis:
Sensori (outer hair-cell), neural (ganglion-cell), metabolik (strial atrophy),
dan koklea konduktif (stiffness of the basilar membrane). Schuknecht
menambahkan dua kategori: mixed dan indeterminate, terdapat 25% kasus,
dimana terjadi akibat perubahan patologi yang bermacama-macam.
7

Prevalensi terbanyak menurut penelitian adalah jenis metabolic 34,6%,


jenis lainnya neural 30,7%, mekanik 22,8% dan sensorik 11,9%.
1. Sensori
Tipe ini menunjukkan atrofi epitel disertai hilangnya sel-sel rambut
dan sel penyokong organ corti. Proses berasal dari bagian basal koklea
dan perlahan-lahan menjalar ke daerah apeks. Perubahan ini
berhubungan dengan penurunan ambang frekuensi tinggi, yang dimulai
setelah usia pertengahan. Secara histologi, atrofi dapat terbatas hanya
beberapa millimeter awal dari basal koklea dan proses berjalan dengan
lambat. Beberapa teori mengatakan perubahan ini terjadi akibat
akumulasi dari granul pigmen lipofusin. Ciri khas dari tipe sensory
presbyacusis ini adalah terjadi penurunan pendengaran secara tiba-tiba
pada frekuensi tinggi (slooping). (Gambar 2.3a.) Gambaran konfigurasi
menurut Schuknecht, jenis sensori adalah tipe noise-induced hearing
loss (NIHL). Banyak terdapat pada laki-laki dengan riwayat bising.

Gambar 2.3a. Audiogram sensory presbyacusis; 2.3b. Audiogram


neural presbyacusis

2. Neural
Tipe ini memperlihatkan atrofi sel-sel saraf di koklea dan jalur
saraf pusat. Atrofi terjadi mulai dari koklea, dengan bagian basilarnya
sedikit lebih banyak terkena dibanding sisa dari bagian koklea lainnya.
8

Tidak didapati adanya penurunan ambang terhadap frekuensi tinggi


bunyi. Keparahan tipe ini menyebabkan penurunan diskriminasi kata-
kata yang secara klinik berhubungan dengan presbikusis neural dan
dapat dijumpai sebelum terjadinya gangguan pendengaran. Efeknya
tidak disadari sampai seseorang berumur lanjut sebab gejala tidak akan
timbul sampai 90% neuron akhirnya hilang. Pengurangan jumlah sel-sel
neuron ini sesuai dengan normal speech discrimination. Bila jumlah
neuron ini berkurang di bawah yang dibutuhkan untuk tranmisi getaran,
terjadilah neural presbyacusis. Menurunnya jumlah neuron pada koklea
lebih parah terjadi pada basal koklea. Gambaran klasik: speech
discrimination sangat berkurang dan atrofi yang luas pada ganglion
spiralis (cookie-bite).
3. Metabolik (Strial presbyacusis)
Tipe presbikusis yang sering didapati dengan ciri khas kurang
pendengaran yang mulai timbul pada dekade ke-6 dan berlangsung
perlahan- lahan. Kondisi ini diakibatkan atrofi stria vaskularis.
Histologi: Atrofi pada stria vaskularis, lebih parah pada separuh dari
apeks koklea. Stria vaskularis normalnya berfungsi menjaga
keseimbangan bioelektrik, kimiawi dan metabolik koklea. Proses ini
berlangsung pada seseorang yang berusia 30-60 tahun. Berkembang
dengan lambat dan mungkin bersifat familial. Dibedakan dari tipe
presbikusis lain yaitu pada strial presbyacusisini gambaran
audiogramnya rata, dapat mulai frekuensi rendah, speech discrimination
bagus sampai batas minimum pendengarannya melebihi 50 dB (flat).
Penderita dengan kasus kardiovaskular (heart attacks, stroke,
intermittent claudication) dapat mengalami prebikusis tipe ini serta
menyerang pada semua jenis kelamin namun lebih nyata pada
perempuan.
9

Gambar A. Audiogram metabolic presbyacusis; B. Audiogram


mechanical presbyacusis

4. Koklea konduktif
Tipe kekurangan pendengaran ini disebabkan gangguan gerakan
mekanis di membrane basalis. Gambaran khas audiogram yang
menurun dan simetris (ski-sloop). Histologi: Tidak ada perubahan
morpologi pada struktur koklea ini. Perubahan atas respon fisik khusus
dari membran basalis lebih besar di bagian basal karena lebih tebal dan
jauh lebih kurang di apikal, di mana disini lebih lebar dan lebih tipis.
Kondisi ini disebabkan oleh penebalan dan kekakuan sekunder
membran basilaris koklea. Terjadi perubahan gerakan mekanik dari
duktus koklearis dan atrofi dari ligamentum spiralis. Berhubungan
dengan tuli sensorineural yang berkembang sangat lambat.

E. Epidemiologi
Terjadi pada usia 60-80 tahun. Dapat terjadi mulai umur 40 tahun.
Paling banyak ditemukanpada umur 60-65 tahun. Tentang jenis kelamin,
kebanyakan penulis menulis laki-laki lebih banyak dari pada wanita.
10

F. Etiologi
Umumnya diketahui bahwa presbiakusis merupakan akibat dari proses
degenerasi. Schucknecht menerangkan penyebab kurang pendengaran pada
presbikusis antara lain :
1. Degenerasi sel rambut di koklea.
2. Degenerasi fleksibilitas dari membran basiler
3. Berkurangnya neuron pada jalur pendengaran
4. Perubahan pada sistem pusat pendengaran dan batang otak
5. Degenerasi jangka pendek dan auditory memory
6. Menurunnya kecepatan proses pada pusat pendengaran di otak (central
auditory cortex )
Cepat lambatnya proses degenerasi ini dipengaruhi juga oleh tempat
dimana seseorang tinggal selama hidupnya. Orang kota lebih cepat
datangnya presbikusis ini dibandingkan dengan orang desa. Diduga kejadian
presbikusis usia mempunyai hubungan dengan faktor-faktor herediter,
metabolisme, arterosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup atau bersifat
multifaktor. Faktor resiko yang dapat memperberat penurunan pendengaran
pada presbikusis antara lain :
1. Usia dan jenis kelamin
Presbikusis rata-rata terjadi pada usia 60-65 tahun keatas. Pengaruh
usia terhadap gangguan pendengaran berbeda antara laki-laki dan
perempuan.Laki-laki lebih banyak mengalami penurunan pendengaran
pada frekuensi tinggi dan hanya sedikit penurunan pada frekuensi
rendah bila dibandingkan dengan perempuan. Perbedaan jenis kelamin
pada ambang dengar frekuensi tinggi ini disebabkan laki-laki umumnya
lebih sering terpapar bising di tempat kerja dibandingkan perempuan.
Sunghee et al. menyatakan bahwa perbedaan pengaruh jenis
kelamin pada presbikusis tidak seluruhnya disebabkan perubahan di
koklea. Perempuan memiliki bentuk daun danliang telinga yang lebih
kecil sehingga dapat menimbulkan efek masking noise pada frekuensi
rendah.
11

2. Hipertensi
Hipertensi yang berlangsung lama dapat memperberat resistensi
vaskuler yang mengakibatkan disfungsi sel endotel pembuluh darah
disertai peningkatan viskositas darah, penurunan aliran darah kapiler dan
transpor oksigen. Hal tersebut mengakibatkan kerusakan sel-sel auditori
sehinggaproses transmisi sinyal mengalami gangguan yang
menimbulkan gangguan komunikasi. Kurang pendengaran sensori
neural dapat terjadi akibat insufisiensi mikrosirkuler pembuluh darah
seperti emboli, perdarahan, atau vasospasme.
3. Diabetes Melitus
Pada pasien dengan diabetes melitus (DM), glukosa yang terikat
pada protein dalam proses glikosilasi akan membentuk advanced
glicosilation end product (AGEP) yang tertimbun dalam jaringan dan
mengurangi elastisitas dinding pembuluh darah (arteriosklerosis). Proses
selanjutnya adalah dinding pembuluh darah semakin menebal dan lumen
menyempit yang disebut mikroangiopati. Mikroangiopati pada organ
koklea akan menyebabkan atrofi dan berkurangnya sel rambut, bila
keadaan ini terjadi pada vasa nervus VIII, ligamentum dan ganglion
spiral pada sel Schwann, degenerasi myelin, dan kerusakan axon maka
akan menimbulkan neuropati.
National Health Survey USA melaporkan bahwa 21% penderita
diabetik menderita presbikusis terutama pada usia60-69 tahun. Hasil
audiometri penderita DM menunjukkanbahwa frekuensi derajat
penurunan pendengaran padakelompok ini lebih tinggi bila
dibandingkan penderita tanpa DM.
4. Merokok
Rokok mengandung nikotin dan karbonmonoksida yang
mempunyai efek mengganggu peredaran darah, bersifat ototoksik secara
langsung, dan merusak sel saraf organ koklea. Karbonmonoksida
menyebabkan iskemia melalui produksi karboksi-hemoglobin (ikatan
antara CO dan haemoglobin)sehingga hemoglobin menjadi tidak efisien
12

mengikat oksigen. Seperti diketahui, ikatan antara hemoglobin dengan


CO jauh lebih kuat ratusan kali dibanding dengan oksigen. Akibatnya,
terjadi gangguan suplai oksigen ke organ korti di koklea dan
menimbulkan efek iskemia.
Selain itu, efek karbonmonoksida lainnya adalah spasme pembuluh
darah, kekentalan darah, dan arteriosklerotik. Insufisiensi sistem
sirkulasi darah koklea yang diakibatkanoleh merokok menjadi penyebab
gangguan pendengaran pada frekuensi tinggi yang progresif. Pembuluh
darah yang menyuplai darah ke koklea tidak mempunyai kolateral
sehingga tidak memberikan alternatif suplai darah melalui jalur lain.
Mizoue et al. meneliti pengaruh merokok dan bising terhadap
gangguan pendengaran melalui data pemeriksaan kesehatan 4 624
pekerja pabrik baja di Jepang. Hasilnya memperlihatkan gambaran yang
signifikan terganggunya fungsi pendengaran pada frekuensi tinggi akibat
merokok dengan risiko tiga kali lebih besar.
5. Hiperkolesterol
Hiperkolesterolemia adalah salah satu gangguan kadar lemak
dalam darah (dislipidemia) di mana kadar kolesterol dalam darah lebih
dari 240 mg/dL.Keadaan tersebut dapat menyebabkan penumpukan
plak/atherosklerosis pada tunika intima. Patogenesis atherosklerosis
adalah arteroma dan arteriosklerosis yang terdapat secara bersama.
Arteroma merupakan degenerasai lemak dan infiltrasi zat lemak pada
dinding pembuluh nadi pada arteriosklerosis atau pengendapan bercak
kuning keras bagian lipoid dalam tunika intima arteri sedangkan
arteriosklerosis adalah kelainan dinding arteri atau nadi yang ditandai
dengan penebalan dan hilangnnya elastisitas/pengerasan pembuluh nadi.
Keadaan tersebut dapat menyebabkan gangguan aliran darah dan
transpor oksigen.
Teori ini sesuai dengan penelitian Villaresyang menyatakan
terdapat hubungan antara penderita hiperkolesterolemia dengan
penurunan pendengaran.
13

6. Riwayat Bising
Gangguan pendengaran akibat bising adalah penurunan
pendengaran tipe sensorineural yang awalnya tidak disadarikarena
belum mengganggu percakapan sehari-hari. Faktorrisiko yang
berpengaruh pada derajat parahnya ketulian ialahintensitas bising,
frekuensi, lama pajanan per hari, lama masakerja dengan paparan bising,
kepekaan individu, umur, danfaktor lain yang dapat berpengaruh.
Berdasarkan hal tersebutdapat dimengerti bahwa jumlah pajanan energi
bising yangditerima akan sebanding dengan kerusakan yang didapat.Hal
tersebut dikarenakan paparan terus menerus dapatmerusak sel-sel
rambut koklea.
Sedangkan menurut Boedhi & Hadi (1999), presbiakusis disebabkan oleh :
1. Internal
Degenerasi primer aferen dan eferen dari koklea, degenerasi primer
organ corti penurunan vascularisasi dari reseptor neuro sensorik
mungkin juga mengalami gangguan. Sehingga baik jalur auditorik dan
lobus temporalis otak sering terganggu akibat lanjutnya usia.
2. Eksternal
Terpapar bising yang berlebihan, penggunaan obat ototoksik dan
reaksi pasca radang.

G. Patofisiologi
Penurunan sensitivitas ambang suara pada frekuensi tinggi
merupakan tanda utama presbikusis. Perubahan dapat terjadi pada dewasa
muda, tetapi terutama terjadi pada usia 60 tahun keatas. Terjadi perluasan
ambang suara dengan bertambahnya waktu terutama pada frekuensi
rendah. Kasus yang banyak terjadi adalah kehilangan sel rambut luar pada
basal koklea. Presbikusis sensori memiliki kelainan spesifik, seperti akibat
trauma bising. Pola konfigurasi audiometri presbikusis sensori adalah
penurunan frekuensi tinggi yang curam, seringkali terdapat notch (takik)
pada frekuensi 4kHz (4000 Hz).
14

Faktor lain seperti genetik, usia, ototoksis dapat memperberat


penurunan pendengaran. Perubahan usia yang akan mempercepat proses
kurang pendengaran dapat dicegah apabila paparan bising dapat dicegah.
Goycoolea dkk, menemukan kurang pendengaran ringan pada kelompok
penduduk yang tinggal di daerah sepi (Easter Island) lebih sedikit jika
dibandingkan kelompok penduduk yang tinggal di tempat ramai dalam
jangka waktu 3-5 tahun.
Kesulitan mengontrol efek bising pada manusia yang memiliki
struktur dan fungsi yang sama dengan mamalia, Mills dkk, menyatakan
bahwa terdapat kurang pendengaran lebih banyak akibat usia pada
kelompok hewan yang tinggal di tempat bising. Interaksi efek bising dan
usia belum dapat dimengerti sepenuhnya, oleh karena kedua faktor
awalnya mempengaruhi frekuensi tinggi pada koklea. Bagaimanapun,
kerusakan akibat bising ditandai kenaikan ambang suara pada frekuensi 3-
6 kHz, walaupun awalnya dimulai pada frekuensi tinggi (biasanya 8 kHz).
15

H. WOC PRESBIAKUSIS
16

I. Manifestasi Klinis

1. Kesulitan mengerti pembicaraan


2. Ketidakmampuan untuk mendengarkanbunyi-bunyi dengan nada
tinggi.
3. Kesulitan membedakan pembicaraan; bunyi bicara lain yang parau
atau bergumam.
4. Latar belakang bunyi berdering atau berdesis yang konstan
5. Perubahan kemampuan mendengar konsonan seperti s, z, t, f dan g
6. Suara vokal yang frekuensinya rendah seperti a, e, i, o, u umumnya
relatif diterima dengan lengkap. (Lueckenotte, 1997)

J. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Otoskopik
Untuk memeriksa meatus akustikus eksternus dan membrane timpani
dengan cara inspeksi.
Hasil: Serumen berwarna kuning, konsistensi kental serta dinding
liang telinga berwarna merah muda
2. Audiometri
Audiogram nada murni menunjukkan tuli perseptif bilateral simetris,
dengan penurunan pada frekuensi diatas 1000 Hz.
3. Tes Ketajaman Pendengaran
a) Tes penyaringan sederhana
Hasil :klien tidak mendengar secara jelas angka-angka yang
disebutkan
b) Klien tidak mendengar dengan jelas detak jarum jam pada jarak 1-2
inchi
4. Uji Rinne
Hasil: klien tidak mendengar adanya getaran garpu tala dan tidak jelas
mendengar adanya bunyi dan saat bunyi menghilang.
5. Uji Schwabach
6. Uji Weber
17

K. Penatalaksanaan
1. Terapi Medikamentosa
1) Vasodilator: Asam Nikotinat.
2) Vitamin B kompleks, vitamin A. Keduanya diberikan dalam
sebulan (dihentikan bila tidak ada perbaikan).
3) Dipasang alat bantu pendengaran (“Hearing Aid”).
2. Tindakan keperawatan
Presbiakusis merupakan penyakit yang sampai sekarang belum
dapat disembuhkan, namun beberapa cara untuk mengurangi efek
dari penyakit pada kehidupan penderita seperti:
a) Penggunaan alat bantu pendengaran khusus, melatih membaca
bibir (lip reading).
b) Implan koklea yang menjadi pengobatan pilihan pada penderita
dengan jaras audiosensoris normal.
Beberapa cara yang dapat coba dilakukan penderita atau lawan
bicara penderita presbiakusis, antara lain:
a) Berhadapan ketika berbicara, bicara sedikit lebih keras,
menghindarai lingkungan yang berisik.
b) Merefleksi atau meresume kalimat yang agak panjang, dan
berbicara dengan tempo agak lambat.
Tidak ada pantangan diet atau pantangan aktivitas khusus
untuk penderita presbiakusis, namun beberapa penelitian
menyatakan bahwa pengurangan porsi diet sebanyak 30% dan
suplemen antioksidan dapat mengurangi produksi radikal bebas yang
juga dapat mengakibatkan presbiakusis. Selain itu, pasien juga
menghindari suara keras.
3. Pencegahan
a) Pencegahan Primer
1) Hindari paparan dengan bising yang terlalu sering.
2) Membersihkan telinga secara teratur.
3) Membiasakan olahraga.
18

4) Makan makanan yang bergizi.


b) Pencegahan Sekunder
1) Gunakan alat bantu pendengaran.
2) Lakukan latihan untuk meningkatkan keterampilan
membaca gerak bibir dan latihan mendengar.
3) Berbicaralah kepada penderita presbiakusis dengan nada
rendah dan jelas.
c) Pencegahan Tersier
1) Lakukan permeriksaan pendengaran secara rutin.
L. Komplikasi
1. Trauma akustik (karena kebisingan)
2. Penyakit Meniere
3. Otosklerosis stadium lanjut
19

II. Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesa
a) Identitas klien/: Usia : terjadi pada 60-80 tahun. Dapt terjadi mulai
usia 40 tahun.
b) Keluhan utama: Pendengaran berkurang, sulit berkomunikasi, telinga
berdenging, diplakusis, dapat disertai vertigo, klien susah mendengar
pesan atau rangsangan suara.
c) Riwayat penyakit sekarang :Pendengaran berkurang, sulit
berkomunikasi, telinga berdenging, diplakusis, dapat disertai vertigo
yang disebabkan oleh gangguan vestibular ditandai oleh mual dan
penglihatan kabur
d) Riwayat penyakit dahulu : Kebisingan, Diet lemak tinggi, Merokok
dan ketegangan, Proses degenerasi tulang-tulang pendengaran bagian
dalam, Faktor intrinsik seperti genetik
e) Akitvitas dan Latihan:klien tidak bekerja dan sulit mengikuti perintah
untuk melakukan aktivitas di rumah seperti berolahraga ringan.
f) Kebutuhan Nutrisi :Diet lemak tinggi
g) Riwayat Psikososial :
1) Pola koping : klien mengekspresikan perasaan sedih, murung
2) Aktivitas sosial: klien tidak mau mengikuti kegiatan sehari-hari di
masyarakat dan lebih senang tinggal di rumah.
3) Hubungan dengan keluarga: kurang baik karena klien mudah
tersinggung dan curiga.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan berfokus pada pendengaran.
Inspeksi:
a) Periksa struktur daun telinga
b) Periksa kebersihan dan struktur liang telinga
c) Kesulitan dalam mengungkapkan kembali kata-kata yang telah
didengar.
20

d) Adanya ketidakseimbangan antara telinga yang satu dengan telinga


yang lain.
3. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan Otoskopik :Untuk memeriksa meatus akustikus
eksternus dan membrane timpani dengan cara inspeksi.
Hasil:
1) Serumen berwarna kuning, konsistensi kental
2) Dinding liang telinga berwarna merah muda
b) Audiometri: Audiogram nada murni menunjukkan tuli perseptif
bilateral simetris, dengan penurunan pada frekuensi diatas 1000 Hz.
c) Tes Ketajaman Pendengaran
1) Tes penyaringan sederhana
Hasil : klien tidak mendengar secara jelas angka-angka yang
disebutkan.
2) Klien tidak mendengar dengan jelas detak jarum jam pada jarak
1-2 inchi.
d) Uji Rinne
Hasil: klien tidak mendengar adanya getaran garpu tala dan tidak
jelas mendengar adanya bunyi dan saat bunyi menghilang.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan degenerasi tulang
pendengaran bagian dalam
2. Harga diri rendah berhubungan dengan fungsi pendengaran
3. Kurang aktivitas berhubungan dengan menarik diri dari lingkungan
4. Risiko cidera berhubungan dengan menurunnya fungsi pendengaran
21

C. Intervensi Keperawatan

No DIAGNOSA Tujuan Dan Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL


KEPERAWATAN
1. Gangguan komunikasi Tujuan: 1. Kaji tingkat kemampuan 1. untuk mengetahui sejauh
verbal berhubungan dengan komunikasi verbal pasien klien dalam penerimaan mana kemampuan pasien
degenerasi tulang dapat berjalan dengan baik pesan untuk mendengar.
pendengaran bagian dalam kriteria hasil: 2. Periksa apakah ada 2. Untuk mengidentifikasi
ditandai dengan pasien dapat melakukan serumen yang apakah terdapat serum
Data Subjektif proses komunikasi dengan mengganggu pendengaran yang dapat menyumbat
a. Klien susah mendengar baik lubang telinga, sehingga
rangsang berupa suara pendengaran dapat
b. Klien susah mendengar berkurang.
atau menerima pesan 3. Bicara dengan pelan dan 3. Agar pasien dapat
c. Klien tidak mengerti jelas menangkap pesan dari
terhadap pembicaraan pembicaraan yang
orang dilakukan oleh perawat
4. Gunakan alat tulis pada 4. alat tulis adalah salah satu
Data Objektif waktu menyampaikan media yang dapat
a. Lambat berespon pesan membantu dalam
terhadap rangsang suara berkomunikasi.
b. Klien nampak bingung 5. Beri dan ajarkan klien 5. Penggunaan alat bantu
jika diajak bicara pada penggunaan alat pendengaran merupakan
c. Klien meminta untuk bantu dengar alat bantu yang sagat
mengulangi penting untuk membantu
22

pembicaraan atau pesan proses pendengaran


d. Komunikasi sebagian pasien
besar berjalan melalui
pesan-pesan tertulis dan
perantara anggota
keluarga.
2. Harga diri rendah Tujuan: 1. Kaji pengetahuan klien 1. untuk mengidentifikasi
berhubungan dengan fungsi pasien dapat menerima tentang perilaku menarik apakah klien mengerti
pendengaran menurun keadaan dirinya dan diri dan tanda-tandanya bahwa sebenarnya prilaku
ditandai dengan: bersosialisasi seperti menarik diri merupakan
Data Subjektif biasanya. suatu hal yang merugikan
Keluarga klien mengatakan Kriteria hasil: bagi pasien.
bahwa: Tidak menyendiri, tidak 2. Beri kesempatan pada 2. Untuk mengetahui
a. Klien senang menarik diri dari lingkungan, klien untuk penyebab pasien
menyendiri berinteraksi dengan orang mengungkapkan memiliki ketidak
b. Klien menarik diri dari lain. perasaan penyebab klien percayaan diri untuk
lingkungan tidak mau bergaul atau bersosialisasi sehingga
c. Klien tidak mau kumpul menarik diri pasien berprilaku menarik
bersama keluarga diri.
2. Data Objektif 3. Diskusikan bersama 3. Diskusi adalah suatu
a. Klien suka duduk klien tentang perilaku tindakan yang dapat
menyendiri menarik diri, tanda-tanda dilakukan untuk
b. Klien mengekspresikan serta penyebab yang memperoleh jalan keluar
perasaan kesepian mungkin. secara bersama-sama
c. Klien menarik diri 4. Beri pujian terhadap 1. Untuk membina
lingkungan kemampuan klien hubungan saling percaya
d. Klien mengekspresikan mengungkapkan dan Agar pasien memiliki
perasaan kesepian perasaan. rasa bahagia dan lega
23

setelah bercerita sehingga


pasien akan lebih terbuka
lagi.
5. Diskusikan tentang 2. Agar pasien memiliki
keuntungan dari gambaran positif
berhubungan dan sehingga dapat merubah
kerugian dari perilaku kebiasaan negatif menjadi
menarik diri kearah yang lebih positif
lagi.
6. Anjurkan anggota 3. Agar pasien mulai
keluarga untuk secara terbiasa dengan hubungan
rutin dan bergantian berinteraksi dengan orang
mengunjungi klien lain sehingga lama
kelamaan pasien mulai
percaya diri.
3. Kurang aktivitas 1. Variasikan rutinitas 1. Agar pasien tidak jenuh
berhubungan dengan sehari-hari dengan aktivitas yang
menarik diri lingkungan monoton.
ditandai dengan: 2. Libatkan sanak keluarga 2. Peran dari sanak keluarga
1. Data Subjektif dalam merencanakan sangat dibutuhkan untuk
Keluarga klien mengatakan rutinitas sehari-hari mendukung dan
bahwa: memotivasi pasien.
a. Klien sulit mengikuti 3. Rencanakan suatu 3. Agar pasien memiliki
perintah untuk aktivitas sehari-hari gambaran terkait aktivitas
melakukan aktivitas di yang akan pasien jalani.
rumah 4. Berikan alat bantu dengar 4. Agar pasien dapat
b. Klien tidak mau dalam melakukan berkomunikasi dan
mengikuti kegiatan aktivitas berinteraksi dengan baik
24

sehari-hari di masyarakat saat beraktivitas

2. Data Objektif
a. Klien lebih banyak
tidur
b. Klien nampak gelisah
atau bosan
c. Sebagian besar waktu
klien digunakan untuk
istirahat
25

D. Implementasi Keperawatan
Tindakan keperawatan dilakukan dengan mengacu pada rencana tindakan
/ intervensi keperawatan yang telah ditetapkan / dibuat.

E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan dilakukan untuk menilai apakah masalah
keperawatan telah teratasi, tidak teratasi, atau teratasi sebagian dengan
mengacu pada kriteria evaluasi.
26

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Presbikusis adalah tuli sensorineural pada usia lanjut akibat proses
degenerasi organ pendengaran, simetris (terjadi pada kedua sisi telinga) yang
terjadi secara progresif lambat, dapat dimulai pada frekuensi rendah atau
tinggi serta tidak ada kelainan yang mendasari selain proses menua secara
umum.
Kejadian presbikusis diduga mempunyai hubungan dengan factor-
faktor herediter, metabolisme, aterosklerosis, bising, gaya hidup atau bersifat
multifaktor. Berbagai faktor risiko tersebut dan hubungannya dengan
presbikusis yaitu usia dan jenis kelamin, hipertensi, diabetes mellitus,
hiperkolesterol, dan merokok.
Klasifikasi presbikusis menjadi 4 jenis: Sensori (outer hair-cell),
neural (ganglion-cell), metabolik (strial atrophy), dan koklea konduktif
(stiffness of the basilar membrane). Diagnose ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Presbiakusis tidak dapat disembuhkan. Gangguan dengar pada
presbiakusis adalah tipe sensorineural dan tujuan penatalaksanaanya adalah
untuk memperbaiki kemampuan pendengarannya dengan menggunakan alat
bantu dengar. Alat ini berfungsi membantu penggunaan sisa pendengaran
lebih dari 40 dB.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sekalian sangat
penulis harapkan guna kesempurnaan makalah ini di masa mendatang.

26
27

DAFTAR PUSTAKA

Chody, Thane, D.R. 1981. Penyakit Hidung, Telinga, dan Tenggorokan.


Jakarta : EGC.
Guyton, Arthur C, Hall, John E. 2007. Fisiologi Kedokteran edisi 11.
Jakarta: EGC
Higler, Adam Boies. 1997. BOIES Buku Ajar Penyakit THT.Jakarta :
EGC.
Muscari, Mary E. 1996. Lippincott’s Review Series.USA : Lippincott’s.
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sherwood, lauralee. 2001. Fisiologi Manusia “Dari Sel ke Sistem” edisi 2.
Jakarta: EGC