You are on page 1of 8

TUGAS II

MANAJEMEN EKSPLORASI (GL-6043)

OLEH
NAMA: WARNI MULTI
NIM: 22318003
(Program Studi Teknik Geofisika)

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Maret 2019
PERATURAN PEMERINTAH DAERAH TENTANG MINERAL DAN BATUBARA
(MINERBA) DI INDONESIA

Sejarah pertambangan Indonesia lahir pertama kali pada dekade tahun 1960-an. Undang-Undang
yang mengatur pertambangan tersebut adalah:

• Undang-Undang No 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan.


• Dekade tahun 2000 (khususnya tahun 2009) pemerintah dengan persetujuan DPR RI
menetapkan Undang-Undang No 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Adapun pengelolaan mineral dan batubara tersebut dikelompokkan berdasarkan peraturan
Undang-Undang dalam beberapa sub-bagian yaitu:

1. Jenis-Jenis Mineral Dan Batubara (Minerba)


Diatur oleh:
• Peraturan Pemerintah Pasal 2 No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara, pemerintah menentukan lima golongan komoditas
tambang dan bagiannya masing-masing yang perlu diketahui yaitu: Mineral Radiokatif,
Mineral Logam, Mineral Bukan Logam, Batuan, dan Batubara. Kelima golongan
tersebut ditentukan oleh kewenangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

2. Wilayah Pertambangan Minerba


Diatur dalam:
• Pasal 1 ayat 29, 30, dan 31 Undang-Undang No 4 tahun 2009 tentang pertambangan
mineral dan batubara. Ciri wilayah pertambangan tersebut yaitu: memiliki potensi
mineral dan atau batubara serta tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintah.
Adapun wilayah pertambangan yang dimaksudkan meliputi wilayah usaha
pertambangan dan wilayah izin usaha pertambangan. Wilayah usaha pertambangan
(WUP) adalah bagian dari wilayah pertambangan (WP) yang memiliki ketersediaan
data, potensi, dan atau informasi geologi. Sedangkan wilayah izin usaha pertambangan
(WIUP) adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUP (badan usaha, koperasi,
perseorangan).
3. Perencanaan wilayah pertambangan Minerba
Diatur oleh:
• Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 Tahun 2010 tentang konsep perencanaannya yang
terdiri dari: inventarisasi potensi pertambangan dan penyusunan rencana WP. Rencana
WP ini ditentukan oleh Menteri menjadi WP setelah berkoordinasi dengan Gubernur,
Bupati/Walikota, dan DPR RI yang ditinjau 1 kali dalam 5 tahun.

4. Pejabat yang Berwenang Menetapkan Wilayah Pertambangan Minerba


Diatur oleh:
Pasal 9 Undang-Undang No 4 tahun 2009. Pejabat penetap WIUP mineral bukan logam/batuan
adalah:
• Menteri ESDM (untuk wilayah provinsi > 12 mil dari shoreline)
• Gubernur (untuk wilayah lintas kabupaten/kota 4 -12 mil dari garis pantai)
• Bupati/Walikota (untuk kabupaten/kota sampai dengan 4 mil dari garis pantai).
Pejabat penetap WIUP Minerba adalah Menteri ESDM yang berkoordinasi dengan Gubernur
dan Bupati setempat. Sedangkan pejabat penetap WIUP khusus adalah Menteri ESDM.

5. Izin Pertambangan Rakyat (IPR)


Diatur dalam:
• Pasal 1 ayat 10 Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba yang
menyatakan bahwa izin pertambangan rakyat yang disebut IPR merupakan izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas
wilayah dan investasi terbatas.

6. Rumusan Izin Pertambangan Rakyat (IPR)


Diatur oleh
• Pasal 1 ayat 10 Undang-Undang No 4 tahun 2009 yaitu tentang izin pelaksanaan usaha
pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan investasi
terbatas.
• Pasal 1 ayat 32 yaitu tentang wilayah pertambangan rakyat yang disebut sebagai WPR
adalah bagian dari WP tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat
7. Kegiatan Pertambangan Rakyat Yang Dilaksanakan Dalam Suatu WPR
• Pasal 10 Undang-Undang No 4 Tahun 2009 yaitu penetapan WP dilakukan: 1) secara
transparan, partisipasif, dan bertanggung jawab. 2) memperhatikan pendapat dari
instansi pemerintah terkait dengan pertimbangan aspek ekologi, ekonomi, dan social
budaya dan 3) memperhatikan aspirasi daerah.
• Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2018 tentang Perubahan Kelima atas
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara.

8. Penetapan Wilayah Pertambang Rakyat (WPR)


• Pasal 21 Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang WPR ditetapkan oleh
bupati/walikota setelah berkonsultasi dengan DPRD kabupaten/kota

9. Kriteria Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR)


Diatur oleh:
Pasal 22 tahun 2018 yaitu Dalam rangka pelaksanaan Lelang WIUP Mineral logam atau WIUP
Batubara, dibentuk panitia Lelang oleh:
• Menteri, untuk panitia Lelang WIUP Mineral Logam atau WIUP Batubara yang berada
di lintas daerah provinsi dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil laut garis
pantai;
• Gubernur, untuk panitia Lelang WIUP Mineral logam dan WIUP Batubara yang berada
dalam 1 (satu) daerah provinsi dan/atau wilayah laut sampai dengan 12 (dua belas) mil
laut dari garis pantai. (2) Direktur Jenderal atas nama Menteri menetapkan pedoman
pelaksanaan penyusunan, persyaratan, tugas dan wewenang keanggotaan panitia Lelang

10. Wilayah Yang Sudah Dikerjakan Tetapi Belum Ditetapkan Sebagai WPR
Diatur oleh:
Pasal 24 tahun 2018 yaitu mengatur tentang
• wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan tetapi belum
ditetapkan sebagai WPR diprioritaskan untuk ditetapkan sebagai WPR
• Prosedur Lelang WIUP Mineral Logam dan WIUP batubara dilakukan dengan 2 (dua)
tahap yang terdiri atas: a. tahap prakualifikasi; dan b. tahap kualifikasi.
• Panitia Lelang WIUP Mineral Logam dan WIUP Batubara wajib melaksanakan
prosedur Lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara adil, transparan, dan
mendorong terciptanya persaingan yang sehat

11. Pedoman, Prosedur, dan Penetapan WPR


Diatur oleh:
Pasal 25 mengatur tentang ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman, prosedur, dan penetapan
WPR. WPR ditetapkan oleh bupati/walikota setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah kabupaten/kota

12. Kriteria Dan Mekanisme Penetapan WPR


Diatur oleh:
Pasal 26 tahun 2018 mengatur tentang
• Kriteria dan mekanisme penetapan WPR, yang ditetapkan dengan peraturan daerah
kabupaten/kota
• Direktur Jenderal atas nama Menteri menetapkan pedoman pelaksanaan Lelang WIUP
Mineral Logam dan WIUP Batubara

13. Hak, Kewajiban, dan Larangan Pemegang IPR


Diatur oleh:
• Pasal 69 tahun 2018 mengatur tentang hak pemegang IPR yaitu Pemegang IUP Operasi
Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian dilarang: a) melakukan
pengolahan dan/atau pemurnian dari hasil Penambangan yang tidak memiliki IUP, Izin
Pertambangan Rakyat, IUPK, KK atau PKP2B; b) memiliki IUP, Izin Pertambangan
Rakyat, IUPK, dan IUJP; dan c) mengalihkan IUP Operasi Produksi khusus untuk
pengolahan dan/atau pemurniannya kepada pihak lain.
14. Kewajiban Pemegang IPR
Diatur oleh:
• Pasal 70 tahun 2018 mengatur tentang kewajiban pemegang IPR dimana:
Pemegang IUJP berhak: a) melakukan kegiatan sesuai dengan bidang usahanya; b)
mengubah bidang usaha yang tercantum pada IUJP dengan menyampaikan permohonan
perubahan kepada Menteri atau gubernur sesuai dengan kewenangannya; dan c)
mendapatkan perpanjangan IUJP setelah memenuhi persyaratan
• Pasal 71 tahun 2018 mengatur bahwa Pemegang IUJP dalam melaksanakan kegiatan
usahanya, wajib a) mengutamakan produk dalam negeri; b) mengutamakan
subkontraktor lokal sesuai kompetensinya; c) mengutamakan tenaga kerja lokal; d)
melakukan kegiatan sesuai dengan jenis dan bidang usahanya; e) melakukan upaya
pengelolaan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perUndang-Undangan.

15. Tata Cara Pemberian IPR


Diatur oleh:
• Pasal 72 mengatur tentang tata cara pemberian IPR, yang diatur dengan peraturan
daerah kabupaten/kota peraturan Menteri ESDM No 11 tahun 2018 tentang tata cara
pemberian wilayah, perizinan, dan pelaporan padakegiatan usaha pertambangan mineral
dan batubara.
• Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun 2018 tentang
Tata Cara Pemberian Wilayah, Perizinan, dan Pelaporan pada Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018
Nomor 295) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral Nomor 22 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pemberian
Wilayah, Perizinan, dan Pelaporan pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara

16. Pembinaan Pertambangan Minerba


Diatur oleh:
• Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara

17. Larangan Pengolahan Dan Pemurnian


Diatur oleh:
• Pasal 104 tahun 2018 mengatur bahwa Direktur Jenderal atas nama Menteri menetapkan
pedoman pelaksanaan permohonan, evaluasi dan persetujuan IUPK Operasi Produksi
hasil perubahan bentuk pengusahaan KK mineral logam

18. Prosedur dan Syarat Untuk Mendapatkan IPR


Untuk mendapatkan Izin Pertambangan Rakyat (IPR), maka perorangan, kelompok atau
koperasi dengan mengajukan permohonan kepada Bupati/Walikota. Pengajuan harus
memenuhi prosedur dan persyaratan yang telah ditentukan dalam pasal 48 Peraturan
Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan. Usaha Pertambangan
Mineral dan Batubara, sebagai berikut:
• Material cukup
• Dilampiri dengan rekomendasi dari kepala desa/lurah/kepala adat mengenai
kebenaran riwayat permohonan untuk memperoleh prioritas dalam mendapatkan
IPR
DAFTAR PUSTAKA

Sekretariat EITI Indonesia. 2013. Daftar Perusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara
Indonesia, Jakarta, Indonesia.

Daftar identifikasi peraturan perundag-undangan yang diterbitkan oleh Kementerian ESDM


berdasarkan tata urut perudang-undangan. Diunduh pada tanggal 6 maret 2019 pukul 14.00
pada laman https://jdih.esdm.go.id/nonperaturan

Pengetahuan tentang hukum pertambangan di Indonesia. Diunduh pada tanggal 6 maret 2019
pukul 14.30 pada laman http://www.hukumpertambangan.com