You are on page 1of 54

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di sistem pencernaan, gangguan sistem pencernaan gastroenteritis adalah
gangguan transportasi larutan di usus yang menyebabkan kehilangan banyak
cairan dan elektrolit melalui feses (Sodikin,2012). Gastroenteritis akut
penyakit yang terjadi akibat adanya peradangan pada saluran pencernaan yang
disebabkan oleh infeksi dengan gejalanya terutama adalah muntah, dehidrasi,
dan diare (Cakrawardi.dkk,2011). Gastroenteritis merupakan salah satu
penyakit dengan insidensi tinggi di dunia dan dilaporkan terdapat hampit 1,7
milyar kasus setiap tahunnya. Penyakit ini sering menyebabkan kematian pada
anak usia di bawah lima tahun (balita). Dalam satu tahun sekitar 760.000 anak
usia balita meninggal karena penyakit ini (World Health Organization (WHO,
2013).
Didapatkan 99% dari seluruh kematian pada anak balita terjadi di negara
berkembang.Sekitar ¾ dari kematian anak terjadi di dua wilayah WHO, yaitu
Afrika dan Asia Tenggara.Kematian balita lebih sering terjadi di daerah
pedesaan, kelompok ekonomi dan pendidikan rendah.Sebanyak ¾ kematian
anak umumnya disebabkan penyakit yang dapat dicegah, seperti kondisi
neonatal, pneumonia, diare, malaria, dan measles (WHO, 2013). Diare masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat di Negara berkembang seperti
Indonesia karena memiliki insidensi dan mortalitas yang tinggi. Diperkirakan
20-50 kejadian diare per 100 penduduk setiap tahunnya. Kematian terutama
disebabkan karena penderita mengalami dehidrasi berat.70-80% penderita
adalah mereka yang berusia balita. Menurut data depkes diare merupakan
penyakit kedua di Indonesia yang dapat menyebabkan kematian anak usia
balita setelah radang paru atau pneumonia (Paramitha.dkk, 2010).

1
Menurut data Riskesdas Prov.Kal-Bar (2009) Di Kalimantan Barat kasus
kesakitan dan kematian penyakit diare cukup tinggi, no 3 setelah deman
berdarah dan TB paru. Data lima tahun terakhir dari profil Dinas Kesehatan
Provinsi Kalbar pada tahun 2005 4,56 angka kesakitan diare sebesar 24,8 %
per penduduk. Pada tahun selanjutnya terjadinya penurunan kasus dan
meningkat kembali pada tahun 2009 sebesar 22,2 % per penduduk dengan
jumlah kasus yang ditemukan sebesar 8374 kasus. Di kabupaten ketapang
khususnya di RSUD dr.Agoesdjam menurut data di ruang anak RSUD
dr.Agoesdjam Ketapang diperoleh data pada tahun 2013 sebanyak 117 kasus,
tahun 2014 sebanyak 102 kasus, tahun 2015 sebanyak 80 kasus, tahun 2016
sebanyak 288 kasus dan terus meningkat pada tahun 2017 sebanyak 368 kasus
dapat terlihat bahwa tidak ada penurunan kasus dan meningkat pada tahun-
tahun berikutnya.
Banyak faktor resiko yang diduga menyebabkan terjadi penyakit
gastroenteritis pada bayi dan balita di Indonesia. Salah satu faktor resiko yang
sering diteliti adalah faktor lingkungan yang meliputi sarana air bersih, jamban,
saluran pembuangan air limbah, kualitas bakterologis air, dan kondisi rumah.
Bakteri E.Coli mengindikasikan adanya pencemaran tinja manusia.
Kontaminasi bakteri E.Coli terjadi pada air tanah yang banyak disedot
penduduk diperkotaan, dan sungai yang menjadi sumber air baku di PDAM
pun tercemar bakteri ini (Adisamito, 2007).
Akibat dari gastroenteritis ini dapat terjadi berbagai komplikasi seperti
dehidrasi, hipokalemia, cardiac dysrhythmia dan hipokalsemia, hiponatremia,
syok hipovemik, asidosis. Dampak negatif gastroenteritis pada bayi dan anak-
anak antara lain adalah menghambat proses tumbuh kembang anak yang pada
akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup anak. Penyakit gastroenteritis di
masyarakat (indonesia) lebih dikenal dengan istilah “Muntaber”. Penyakit ini
mempunyai konotasi yang mengerikan serta menimbulkan kecemasan dan
kepanikan warga masyarakat karena bila tidak segera diobati, dalam waktu
singkat (± 48 jam) klien akan meninggal (Info sehat, 2009).

2
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai gastroenteritis dikarenakan begitu banyaknya kasus
tentang gastroenteritis sampai saat ini di Indonesia khususnya di RSUD
dr.Agoesdjam Ketapang, maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan
keperawatan pada An.V dengan hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
akibat gastroenteritis di ruang anak RSUD dr.Agoedjam Ketapang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat di rumuskan masalah
sebagai berikut. “Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien gastroenteritis
dan proses perawatan pasien dari pengkajian sampai dengan evaluasi yang
benar dan tepat pada An. V di RSUD dr.Agoesdjam Ketapang??.”

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memberikan
gambaran dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada An.V dengan
gangguan system pencernaan : Gastroenteritis di Ruang Anak RSUD
dr.Agoesdjam Ketapang
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengkajian pemenuhan kebutuhan volume cairan pada
anak yang mengalami gastroenteritis
b. Menegakkan diagnosa keperawatan pemenuhan kebutuhan volume
cairan pada anak yang mengalami gastroenteritis
c. Menyusun rencana asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan volume
cairan pada anak yang mengalami gastroenteritis
d. Melaksanakan implementasi pemenuhan kebutuhan volume cairan pada
anak yang mengalami gastroenteritis
e. Melakukan evaluasi pemenuhan kebutuhan volume cairan pada anak
yang mengalami gastroenteritis.

3
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi penulis
Mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan standar asuhan
keperawatan untuk pengembangan praktik keperawatan dan pemecahan
masalah khususnya dalam bidang/profesi keperawatan.
2. Bagi institusi
Sebagai bahan kepustakaan dan perbandingan pada penanganan kasus
pemenuhan kebutuhan volume cairan di lapangan dan dalam teori.
3. Bagi pelayanan kesehatan
Agar dapat mengaplikasikan teori keperawatan kedalam praktik pelayanan
kesehatan di rumah sakit.

E. Ruang Lingkup Penulisan


Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan begitu banyak
masalah yang di timbulkan oleh gastroenteritis, maka penulis membatasi
ruang lingkup masalah mengenai asuhan keperawatan pada An. V dengan
gangguan sistem pencernaan: gastroenteritis di Ruang Anak RSUD
dr.Agoesdjam Ketapang, yang dilakukan mulai tanggal 5 sampai 7 Maret
2018.

F. Sistematika Penulisan
Penulisan laporan hasil studi kasus ini dimulai dengan BAB I
pendahuluan yang membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penulisan, manfaat penulisan, ruang lingkup penulisan, dan sistematika
penulisan. BAB II tinjauan pustaka yang membahas konsep asuhan
keperawatan, definisi masalah, penyebab, anatomi fisiologi sistem pencernaan,
patofisiologi, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, dam prinsip –
prinsip tindakan untuk mengatasi masalah utama. BAB III tinjauan kasus
asuhan keperawatan gastroenteritis yang membahas pengkajian keperawatan,
diagnosis keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi keperawatan
dan evaluasi keperawatan.BAB IV membahas perbandingan antara teori

4
dengan hasil studi kasus meliputi pengkajian keperawatan, diagnosis
keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi keperawatan dan
evaluasi keperawatan.BAB V membahas tentang kesimpulan dan saran.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Asuhan Keperawatan


Proses keperawatan adalah suatu pendekatan penyelesaian masalah yang
sistematis dalam pemberian asuhan keperawatan. Kebutuhan dan masalah klien
merupakan titik sentral dalam proses penyelesaian masalah ini (Budiono,
2015). Menurut Craven dan Hirnle (dalam Kozier, 2011) proses keperawatan
merupakan suatu panduan untuk memberikan asuhan keperawatan profesional,
baik untuk individu, kelompok, keluarga dan komunitas. Berdasarkan prinsip
inilah, diperlukan pedoman pemberian asuhan keperawatan yang dapat
diterapkan baik pada individu pasien, kelompok pasien, individu, keluarga, dan
kelompok keluarga pasien. Asuhan keperawatan adalah segala bentuk tindakan
atau kegiatan pada praktek keperawatan yang diberikan kepada klien yang
sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) (Carpenito, 2009).
Pemberi asuhan keperawatan adalah tugas perawat pelaksana (Hidayat,
2011). Perawat pelaksana bertugas memberikan asuhan keperawatan,
membantu penyembuhan, membantu memecahkan masalah pasien dibawah
pengawasan dokter atau kepala ruang (Pratiwi & Utami, 2010).
Berdasarkan pengertian – pengertian diatas, dapat dipahami bahwa proses
keperawatan itu adalah semacam sarana atau alat yang digunakan oleh seorang
perawat dalam bekerja.
Menurut Carpenito (2009) terdapat beberapa tahap dalam
melakukan asuhan keperawatan yaitu :
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Pada
tahap ini semua data dikumpulkan secara sistematis guna menentukan
kesehatan klien. Pengkajian harus dilakukan secara komprehensif terkait
dengan aspek biologis, psikologis, social maupun spiritual klien. Tujuan
pengkajian adalah untuk mengumpulkan informasi dan membuat data dasar
klien.

6
2. Diagnosa
Diagnosa keperawatan merupakan pernyataan yang menggambarkan tentang
masalah atau status kesehatan klien, baik aktual maupun potensial, yang
ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data hasil pengkajian.
Diagnosis keperawatan berfungsi untuk mengidentifikasi, memfokuskan
dan memecahkan masalah keperawatan klien secara spesifik.
3. Planning
Perencanaan (planning) merupakan suatu petunjuk tertulis yang
menggambarkan secara tepat rencana tindakan keperawatan yang dilakukan
terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosis
keperawatan. Tahap perencanaan ini juga memberikan kesempatan kepada
perawat, klien, keluarga klien dan orang terdekat klien untuk
merumuskan rencana tindakan keperawatan guna mengatasi masalah
yang dialami oleh klien.
4. Implementasi
Implementasi merupakan tahap ketika perawat mengaplikasikan
rencana asuhan keperawatan ke dalam bentuk intervensi keperawatan guna
membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang
teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan.
B. Tinjauan Teori
1. Pengertian Gastroenteritis
Gastroenteritis didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi, volume,
dan kandungan fluida dari tinja, propulsi yang cepat dari isi usus melalui
hasil usus kecil diare dan dapat menyebabkan defisit volume cairan serius
yang umum disebabkan oleh infeksi, sindrom malabsorpsi, obat, alergi, dan
penyakit sistemik. (Black Joyce, Hawks Jane, 2010). Gastroenteritis adalah
buang air besar dengan fases berbentuk cair atau setengah cair, dengan

7
demikian kandunngan air pada feses lebih banyak dari biasanya (Priyanta:
2009). Buang air besar tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah”
(Nurarif, 2013).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan gastroenteritis adalah
inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus,
dan pathogen, yang di tandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih
dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi
cair), Diare juga dapat terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat
dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir dan
darah.
2. Penyebab
Menurut Amin, (2013) penyebab diare adalah sebagai berikut :
a. Faktor infeksi
Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama
diare pada anak, infeksi internal, meliputi : infeksi bakteri (Vibrio, E.
Coli, salmonella, shigella, campylobacter, yersinia, aeromonas dan
sebagainya), infeksi virus ( Entrovirus (virus ECHO), coxsackie,
poliomyelitis, adenovirus, rotavirus, astovirus dan lain-lain) dan infeksi
parasit (cacing, protozoa, dan jamur).
b. Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida, monosakarida pada bayi dan anak,
malabsorbsi lemak, malabsorbsi protein.
c. Faktor makanan
Makanan basi, beracun dan alergi terhadap makanan.
d. Faktor kebersihan
Penggunaan botol susu, air minum tercemar dengan bakteri tinja, tidak
mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja atau
sebelum mengkonsumsi makanan.
e. Faktor psikologi
Rasa takut dan cemas dapat menyebabkan diare karena dapat merangsang
peningkatan peristaltik usus.

8
3. Anatomi fisiologi sistem Pencernaan

Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pencernaan


Sumber : (Budiono, 2011)
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut
sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk
menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap
zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang
tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran
pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan,
lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus.Sistem pencernaan juga
meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu
pankreas, hati dan kandung empedu.
a. Mulut dan lidah

9
Mulut merupakan organ pencernaan yang pertama bertugas dalam
proses pencernaan makanan. Fungsi utama mulut adalah untuk
menghancurkan makanan sehingga ukurannya cukup kecil untuk dapat
ditelan ke dalam perut. Mulut dapat menghaluskan makanan karena
didalam mulut terdapat gigi dan lidah. Gigi berfungsi menghancurkan
makanan. Adapun fungsi lidah adalah membolak-balikan makanan
sehingga semua makanan dihancurkan secara merata.Selain itu, lidah
berfungsi membantu menelan makanan.Gigi dan lidah termasuk alat
pemroses pencernaan secara mekanis.
Selain mencerna makanan secara mekanis, di mulut juga terjadi
pencernaan secara kimiawi. Pencernaan secara kimiawi dimungkinkan
karena kelenjar air liur menghasilkan ludah yang mengandung air,
lendir dan enzim ptialin. Air dan lendir berguna untuk melunasi rongga
mulut dan membantu proses menelan. Adapun enzim ptialin mengubah
amilum menjadi karbohidrat yang lebih sederhana, yaitu maltosa.
Dalam mulut selain terdapat gigi juga terdapat lidah. Lidah merupakan
indra pengecap. Karena lidah dapat merasakan nikmatnya makanan.
Walaupun rasa sesungguhnya hanya dirasakan selama makanan ada
dimulut, namun rasa akan meningkatkan selera makan.
b. Gigi
Tanpa adanya gigi, manusia akan sulit menelan makanan yang
dimakannya. Menurut tugasnya, gigi termasuk dari sistem pencernaan.
Gigi tumbuh didalam lesung pada rahang dan memiliki jaringan seperti
pada tulang, tetapi gigi bukannya bagian dan kerangka.Menurut
perkembangannya, gigi lebih banyak persamaanya dengan kulit dari
pada dengan tulang. Gigi yang pertama muncul adalah gigi molar
pertama pada usia 6-7 tahun. Yang terakhir tumbuh ialah gigi molar
ketiga pada usia 17–25 tahun. Jika tidak merawat dan jarang
menggosok gigi, gigi akan menjadi rusak karena sisa – sisa makanan
yang menempel dalam gigi bisa membuat gigi berkarang bahkan
bolong.

10
c. Kerongkongan
Setelah dikunyah dimulut, makanan ditelan agar masuk kelambung
melalui suatu saluran yang disebut kerongkongan. Kerongkongan atau
esofagus berfungsi menyalurkan makanan dari mulut ke lambung.
Didalam leher sesungguhnya terdapat dua saluran, yaitu kerongkongan
(letaknya dibelakang) dan tenggorokan atau trakea (letaknya didepan).
Kerongkongan merupakan saluran pencernaan yang menghubungkan
antara mulut dengan lambung.
Tenggorokan merupakan saluran pernafasan yang mengubungkan
antara rongga mulut dengan paru–paru. Oleh karena itu, dibagian dalam
mulut terdapat persimpangan dua saluran yang dijaga oleh sebuah klep
yang disebut epiglotis. Pada waktu bernafas klep tersebut membuka
sehingga udara dapat masuk ketenggorokan. Sewaktu menelan
makanan, klep tersebut akan menutup tenggorokan sehingga makanan
tidak masuk ketenggorokan. Jadi klep tersebut berfungsi menjaga kerja
antara kerongkongan dan tenggorokan agar proses pencernaan dan
pernafasan dapat berjalan dengan lancar. Pada saat melewati
kerongkongan, makanan didorong masuk kelambung oleh adanya gerak
peristaltik otot–otot kerongkongan. Hal ini dikarenakan dinding
kerongkongan tersusun atas otot polos yang melingkar dan memanjang
serta berkonstraksi secara bergantian. Akibatnya, makanan berangsur –
angsur terdorong masuk ke lambung. Di kerongkongan makanan hanya
lewat saja dan tidak mengalami pencernaan.
d. Lambung
Lambung merupakan alat pencernaan yang berbentuk kantung.
Dinding lambung tersusun dari otot – otot yang memanjang, melingkar,
dan menyerong. Hal ini memungkinkan makanan yang masuk kedalam
lambung dibolak balik dan diremas lagi sehingga menjadi lebih halus.
Makanan yang dikunyah dimulut belumlah cukup halus di mulut. Oleh
karena itu, perlu dihaluskan lagi dilambung. Agar lambung tidak
bekerja terlalu berat, sebaiknya mengunyah makanan sampai halus

11
benar sebelum menelannya. Selain mencerna makanan secara mekanis,
lambung juga mencerna makanan secara kimiawi. Lambung
menghasilkan suatu cairan yang mengandung air, lendir, asam lambung
(HCL), serta enzim renin dan pepsinogen. Karena sifatnya yang asam,
cairan lambung dapat membunuh kuman yang masuk bersama
makanan. Sementara itu, enzim renin akan menggumpalkan protein
susu yang ada dalam air susu sehingga dapat dicerna lebih lanjut.
Pepsinogen akan diaktifkan oleh HCL menjadi pepsin yang berfungsi
memecah protein menjadi pepton.
e. Usus halus
Lambung melepaskan makanan kedalam usus dua belas jari
(duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan
masuk kedalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang
bisa dicerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan mengirimkan
sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.
Duodenum menerima enzim pankreatik dari pankreas dan empedu dari
hati. Cairan tersebut (yang masuk kedalam duodenum melalui lubang
yang disebut sfingter oddi merupakan bagian yang penting dari proses
pencernaan dan penyerapan.
Gerakan peristaltik juga membantu pencernaan dan penyerapan
dengan cara mengaduk dan mencampurnya dengan zat yang dihasilkan
oleh usus. Beberapa senti pertama dari lapisan duodenum adalah licin,
tetapi sisanya memiliki lipatan – lipatan, tonjolan – tonjolan kecil (vili)
dan tonjolan yang lebih kecil (mikrovili). Vili dan mikrovili
menyebabkan bertambahnya permukaan dari lapisan duodenum,
sehingga menambah jumlah zat gizi yang diserap. Sisa dari usus halus,
yang terletak dibawah duodenum, terdiri jejunum dan ileum. Bagian ini
terutama bertanggung jawab atas penyerapan lemak dan zat gizi
lainnya. Penyerapan ini diperbesar oleh permukaanya yang luas karena
terdiri dari lipatan – lipatan , vili dan mikrovili.

12
Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat – zat
yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan
lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan
pecahan–pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga
melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan
lemak. Kepadatan dari isi usus berubah secara bertahap, seiring dengan
perjalannya melalui usus halus. Didalam duodenum, air dengan cepat
dipompa ke dalam isi usus untuk melarutkan keasaman lambung.
Ketika melewati usus halus bagian bawah, isi usus menjadi lebih cair
karena mengandung air, lendir dan enzim enzim pankreatik.
f. Pankreas
Pankreas merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar :
asini, menghasilkan enzim – enzim pencernaan dan pulau pankreas
yang menghasilkan hormon. Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke
dalam duodenum dan melepaskan hormon kedalam darah. Enzim –
enzim pencernaan dihasilkan oleh sel – sel asini dan mengalir melalui
berbagai saluran kedalam duktus pankreatikus. Duktus pankreatikus
akan bergabung dengan saluran empedu pada sfingter oddi, dimana
keduanya akan masuk ke dalam duodenum. Enzim yang dilepaskan
oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim
proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan
oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan
aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan
sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi
duodenum dengan cara menetralkan asam lambung. Tiga hormon yang
dihasilkan oleh pankreas adalah : insulin, glukagon dan somatostatin.
Insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah. Glukagon
berfungsi menaikkan kadar gula dalam darah. Somatostatin berfungsi
menghalangi pelepasan kedua hormon lainnya (insulin dan glukagon).
g. Kandung dan saluran empedu

13
Empedu mengalir dari hati melalui duktus hepatikus kiri dan kanan,
yang selanjutnya bergabung membentuk duktus hepatikus umum.
Saluran ini kemudian bergabung dengan sebuah saluran yang berasal
dari kandung empedu (duktus sistikus) untuk membentuk saluran
empedu umum. Duktus pankreatikus bergabung dengan saluran empedu
umum dan masuk kedalam duodenum. Sebelum makan, garam – garam
empedu menumpuk didalam kandung empedu dan hanya sedikit
empedu yang mengalir dari hati. Makanan didalam duodenum memicu
serangkaian sinyal hormonal dan sinyal saraf sehingga kandung
empedu berkontraksi. Sebagai akibatnya, empedu mengalir kedalam
duodenum dan bercampur dengan makanan.
Empedu memiliki fungsi penting yaitu membantu pencernaan dan
penyerapan lemak serta berperan dalam pembuangan limbah tertentu
dari tubuh, terutama hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel
darah merah dan kelebihan kolesterol. Secara spesifik empedu berperan
dalam berbagai proses diantaranya garam empedu meningkatkan
pelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak untuk
membantu proses penyerapan, garam empedu merangsang pelepasan air
oleh usus besar untuk membantu menggerakan isinya, bilirubin
(pigmen utama dari empedu) dibuang kedalam empedu sebagai limbah
dari sel darah merah yang dihancurkan, obat dan limbah lainnya
dibuang dalam empedu dan selanjutnya dibuang dari tubuh serta
berbagai protein yang berperan dalam fungsi empedu dibuang di dalam
empedu.
Garam empedu kembali diserap kedalam usus halus, disuling oleh
hati dan dialirkan kembali kedalam empedu. Sirkulasi ini dikenal
sebagai sirkulasi enterohepatik. Seluruh garam empedu didalam tubuh
mengalami sirkulasi sebanyak 10 – 12 kali / hari. Dalam setiap
sirkulasi, sejumlah kecil garam empedu masuk kedalam usus besar
(kolon). Di dalam kolon, bakteri memecah garam empedu menjadi

14
berbagai unsur pokok. Beberapa dari unsur pokok ini diserap kembali
dan sisanya dibuang bersama tinja.
h. Usus besar
Usus besar terdiri dari : kolon asendens (kanan), kolon transversum,
kolon desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum).
Apendiks (usus buntu) merupakan suatu tonjolan kecil berbentuk seperti
tabung, yang terletak dikolon asendens, pada perbatasan kolon
asendens dengan usus halus. Usus besar menghasilkan lendir dan
berfungsi menyerap air dan elektrolit dari tinja. Ketika mencapai usus
besar, isi usus berbentuk cairan, tetapi ketika mencapai rektum
bentuknya menjadi padat. Banyaknya bakteri yang terdapat didalam
usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu
penyerapan zat – zat gizi. Bakteri didalam usus besar juga berfungsi
membuang zat – zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting
untuk fungsi normal usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa
menyebabkan gangguan pada bakteri – bakteri di dalam usus besar.
Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir
dan air, dan terjadilah diare.
i. Rektum dan anus
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar
(setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini
kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada
kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam
rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar. Orang dewasa
dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan
anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot
yang lebih penting untuk menunda buang air besar. Anus merupakan
lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari
tubuh.Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan
sebagian lainnya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter anis) menjaga
agar anus tetap tertutup.

15
4. Patofisiologi Terjadinya Penyakit
Menurut Muttaqin (2011), peradangan pada gastroenteritis disebabkan
oleh infeksi dengan melakukan invasi pada mukosa, memproduksi
enterotoksin dan atau memproduksi sitotoksin. Mekanisme ini menghasilkan
peningkatan sekresi cairan dan menurunkan absorbsi cairan sehingga akan
terjadi dehidrasi dan hilangnya nutrisi dan elektrolit. Menurut Diskin (2008)
di buku Muttaqin (2011) adapun mekanisme dasar yang menyebabkan
gastroenteritis, meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Gangguan osmotic
Dimana asupan makanan atau zat yang sukar diserap oleh mukosa
intestinal akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus
meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga
usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul gastroenteritis.
b. Respons inflamasi mukosa
Pada seluruh permukaan intestinal akibat produksi enterotoksin dari agen
infeksi memberikan respons peningkatan aktivitas sekresi air dan
elektrolit oleh dinding usus ke dalam rongga usus, selanjutnya
gastroenteritis timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
c. Gangguan motalitas usus
Terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya
kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare,
sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri
timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan gastroenteritis
pula.

Dari ketiga mekanisme diatas menyebabkan :


a. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi yang mengakibatkan
gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemia)
b. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran
bertambah)
c. Hipoglekemia, gangguan sirkulasi darah.

16
Pendapat lain menurut Jonas (2003) pada buku Muttaqin (2011). Selain
itu, gastroenteritis juga dapat terjadi akibat masuknya mikroorganisme
hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung.
Mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin
dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan
menimbulkan gastroenteritis. Mikroorganisme memproduksi toksin.
enterotoksin yang diproduksi agen bakteri (E. Coli dan Vibrio cholera) akan
memberikan efek langsung dalam peningkatan pengeluaran sekresi air ke
dalam lumen gastrointestinal.
5. Masalah Keperawatan yang dapat terjadi akibat proses penyakit
infeksi psikologi
makanan

berkembang diusus toksik tak ansietas


dapat diserap

Malabsorbsi KH,
Hipersekresi air Lemak, protein
dan elektrolit Hiperperistaltik

Meningkatkan
Isi Usus tekanan
Penyerapan osmotik
makanan diusus
menurun
Pergeseran air dan
elektrolit ke usus

Gastroenteritis

Frekuensi BAB
meningkat
Hilang cairan Distensi
dan elektrolit Abdomen
berlebihan Gangguan
Intergritas kulit
perianal
Gangguan Asidosis Mual muntah
Kesimbangan cairan metabolik
dan elektrolit

Dehidrasi Nafsu makan


Sesak menurun

Kekurangan Resiko syok


volume (hipovolemi) Keseimbangan nutrisi
cairan Gangguan kurang dari
pertukaran gas kebutuhan tubuh

17
Gambar 2.2 Pathway Gastroenteritis
Sumber : (NANDA NIC NOC, 2013)

C. Asuhan Keperawatan Pada Penyakit Gastroenteritis


Menurut Nursalam (2005) asuhan keperawatan pada penyakit
gastroenteritis sebagai berikut :
1. Pengkajian
a. Identitas pasien / biodata meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis
kelamin, tanggal lahir, umur, tempat lahir, asal suku bangsa, nama
orang tua, pekerjaan orang tua, dan penghasilan. Pada pasien diare
akut, sebagian besar adalah anak yang berumur di bawah dua tahun.
Insiden paling tinggi terjadi pada umur 6-11 bulan karena pada masa
ini mulai diberikan makanan pendamping. Kejadian diare akut pada
anak laki – laki hampir sama dengan anak perempuan.
b. Keluhan utama seperti buang air besar (BAB) lebh 3 kali sehari, BAB
<4 kali dan cair (diare tanpa dehidrasi), BAB 4-10 kali dan cair
(dehidrasi ringan / sedang) atau BAB >10 kali (dehidrasi berat).
Apabila diare berlangsung <14 hari maka diare tersebut adalah diare
akut, sementara apabila berlangsung selama 14 hari atau lebih adalah
diare persisten.
c. Riwayat penyakit sekarang
1) Mula mula anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin
meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, dan
kemungkinan timbul diare.
2) Tinja makin cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah.
Warna tinja berubah menjadi kehijauan karena bercampur empedu.

18
3) Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan
sifatnya makin lama makin asam.
4) Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare
5) Apabila pasiem telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka
gejala dehidrasi mulai tampak.
6) Diuresis: terjadi oliguri (kurang 1 ml/kg/BB/jam) bila terjadi
dehidrasi. Urine normal pada diare tanpa dehidrasi. Urine sedikit
gelap pada dehidrasi ringan atau sedang. Tidak ada urine dalam
waktu 6 jam (dehidrasi berat).
d. Riwayat kesehatan meliputi :
1) Riwayat imunisasi campak, karena gastroenteritis lebih sering
terjadi atau berakibat berat pada anak – anak dengan campak atau
yang baru menderita campak dalam 4 minggu terakhir, sebagai
akibat dari penurunan kekebalan pada pasien.
2) Riwayat alergi terhadap makanan dan obat – obatan (antibiotik)
karena faktor ini merupakan salah satu kemungkinan penyebab
gastroenteritis
3) Riwayat penyakit yang sering tejadi pada anak berusia di bawah 2
tahun biasanya adalah batuk, panas, pilek, dan kejang yang terjadi
sebelum, selama, atau setelah gastroenteritis. Informasi ini
diperlukan untuk melihat tanda atau gejala infeksi lain yang
menyebabkan gastroenteritis seperti OMA, tonsilitis, faringitis,
bronkopneumonia, dan ensefalitis
e. Riwayat nutrisi
1) Pemberian ASI penuh pada anak umur 4 – 6 bulan sangat
mengurangi resiko gastroenteritis dan infeksi yang serius
2) Pemberian susu formula. Apakah dibuat menggunakan air masak
dan diberikan dengan botol atau dot, karena botol yang tidak bersih
akan mudah menimbulkan pencemaran.
3) Perasaan haus. Anak yang gastroenteritis tanpa dehidrasi tidak
merasa haus (minum biasa). Pada dehidrasi ringan / sedang anak

19
merasa haus ingin minum banyak. Sedangkan pada dehidrasi berat,
anak malas minum atau tidak bisa minum.
f. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum meliputi : baik, sadar (tanpa gelisah), gelisah,
rewel (dehidrasi ringan atau sedang), lesu, lunglai, atau tidak sadar
(dehidrasi berat)
2) Berat badan anak yang diare dengan dehidrasi biasanya mengalami
penurunan berat badan. Anak dengan dehidrasi ringan sebesar 3%
(30 ml/kg), anak dengan dehidrasi sedang sebesar 6% (60 ml/kg)
dan anak dengan dehidrasi berat sebesar 9% ( 90 ml/kg). Presentase
penurunan berat badan tersebut dapat diperkirakan saat anak
dirawat di rumah sakit. Sedangkan dilapangan, untuk menentukan
dehidrasi, cukup dengan menggunakan penilaian keadaan anak
sebagaimana yang telah dibahas pada bagian konsep dasar diare.
3) Untuk mengetahui elastisitas kulit pada anak, dapat dilakukan
pemeriksaan turgor, yaitu dengan cara mencubit daerah perut
menggunakan kedua ujung jari (bukan kedua kuku). Apabila turgor
kembali dengan cepat (kurang dari 2 detik), berarti diare tersebut
tanpa dehidrasi. Apabila turgor kembali dengan lambat (cubitan
kembali dalam 2 detik), ini berarti diare dengan dehidrasi ringan /
sedang. Apabila turgor kembali sangat lambat (cubitan kembali
lebih dari 2 detik), ini termasuk diare dengan dehidrasi berat.
4) Kepala anak berusia di bawah 2 tahun yang mengalami dehidrasi,
ubun- ubunnya biasanya cekung
5) Mata Anak yang diare tanpa dehidrasi, bentuk kelopak matanya
normal. Apabila mengalami dehidrasi ringan / sedang, kelopak
matanya cekung (cowong). Sedangkan apabila megalami dehidrasi
berat, kelopak matanya sangat cekung
6) Mulut dan lidah biasanya meliputi : mulut dan lidah basah (tanpa
dehidrasi), mulut dan lidah kering (dehidrasi ringan / sedang),
mulut dan lidah sangat kering (dehidrasi berat)

20
7) Abdomen kemungkinan mengalami dehidrasi, kram, dan bising
usus yang meningkat
8) Anus, apakah ada iritasi pada kulitnya
9) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosis
(kausal) yang tepat, sehingga dapat memberikan terapi yang tepat pula.
Pemeriksaan yang dilakukan pada anak yang mengalami gastroenteritis,
yaitu : pemeriksaan tinja, baik secara makroskopi maupun mikroskopi
dengan kultur. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya bahwa untuk
menentukan terjadinya dehidrasi pada anak, ada data – data penting yang
harus dikaji. Data – data ini selanjutnya digunakan untuk mengklarifikasi
gastroenteritis. Klasifikasi ini bukanlah diagnosa medis, namun dapat
digunakan untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil oleh petugas
dilapangan. Adapun data dan klasifikasi gastroenteritis yang dimaksud
adalah :
a. gastroenteritis dengan dehidrasi berat terdapat dua atau lebih tanda -
tanda berikut : letargis atau tidak sadar, mata cekung, tidak bisa minum
atau malas minum, cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat
b. gastroenteritis dengan dehidrasi ringan / sedang terdapat dua atau lebih
tanda – tanda berikut : gelisah, rewel, mudah marah, mata cekung, haus,
minum dengan lahap, cubitan kulit perut kembalinya lambat
c. gastroenteritis tanpa dehidrasi : tidak cukup tanda – tanda untuk
diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat atau ringan / sedang
d. gastroenteritis persisten berat : diare selama 14 hari atau lebih disertai
dengan dehidrasi
e. gastroenteritis persisten : diare selama 14 hari atau lebih tanpa disertai
tanda dehidrasi
f. Disentri : terdapat darah dalam tinja (BAB campur darah) (Nursalam,
2005).
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul (NANDA, 2013), yaitu :

21
a. Diare berhubungan dengan proses infeksi, inflamasi diusus
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
aktif
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi / BAB sering
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan intake makanan
e. Resiko syok (hipovolemi)
f. Gangguan pertukaran gas
g. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
3. Perencanaan Implementasi dan Evaluasi
a. Diare berhubungan dengan proses infeksi, inflamasi diusus
NOC : Bowel elimination, Fluid Balance, Hydration, Electrolyte and
Acid base Balance
Kriteria hasil : 1) Feses berbentuk 2) BAB sehari sekali- tiga hari, 3)
Menjaga daerah sekitar rectal dari iritasi, 4) Tidak mengalami
gastroenteritis, 5) Menjelaskan penyebab gastroenteritis dan rasional
tindakan, 6) Mempertahankan turgor kulit.
NIC : 1) Identifikasi faktor penyebab gastroenteritis, 2) monitor tanda
dan gejala gastroenteritis, 3) observasi turgor kulit secara rutin, 4)
instruksikan pasien/keluarga untukmencatat warna, jumlah, frekuensi
dan konsistensi dari feses, 5) Ajarkan pasien untuk menggunakan obat
antidiare,6) Evaluasi efek samping pengobatan terhadap
gastrointestinal, 7) evaluasi intake makanan yang masuk, 8) ukur
diare / keluaran BAB, 9) Hubungi dokter jika ada kenaikan bisisng
usus, 10) instruksikan pasien untukmakan rendah serat, tinggi protein
dan tinggi kalori jika memungkinkan, 11) Instruksikan untuk
menghindari laksative, 12) ajarkan tekhnik menurunkan stres, 13)
monitor persiapan makanan yang aman.

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan


aktif

22
NOC : Fluid balance, Hydration, Nutritional Status : Food and Fluid
Intake
Kriteria Hasil : 1) Mempertahankan urine output sesuai dengan usia
dan BB, BJ urine normal, HT normal, 2) Tekanan darah, nadi, suhu
tubuh dalam batas normal, 3) Tidak ada tanda tanda dehidrasi,
Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa
haus yang berlebihan
NIC : 1) Timbang popok/pembalut jika diperlukan, 2) Pertahankan
catatan intake dan output yang akurat, 3) Monitor status hidrasi
( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik ), jika diperlukan, 4) Monitor hasil lAb yang sesuai dengan
retensi cairan (BUN , Hmt , osmolaritas urin ), 5) Monitor vital sign,
6) Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian,
7) Kolaborasi pemberian cairan IV, 8) Monitor status nutrisi, 9)
Berikan cairan, 10) Berikan diuretik sesuai interuksi, 11) Berikan
cairan IV pada suhu ruangan, 12) Dorong masukan oral, 13) Berikan
penggantian nasogatrik sesuai output, 14) Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan, 15) Tawarkan snack ( jus buah, buah segar ),
16) Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk,
17) Atur kemungkinan tranfusi, 18) Persiapan untuk tranfusi.

c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi / BAB sering


NOC :Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes
Kriteria hasil : 1) Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
(sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi), 2) Tidak ada
luka/lesi pada kulit, 3) Perfusi jaringan baik, 4) Menunjukkan
pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
sedera berulang, 5) Mampu melindungi kulit dan mempertahankan
kelembaban kulit dan perawatan alami
NIC : 1) Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar,
2) hindari kerutan pada tempat tidur, 3) jaga kebersihan kulit agar

23
tetap bersih dan kering, 4) Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
setiap dua jam sekali, 5) Monitor kulit akan adanya kemerahan, 6)
Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan, 7)
Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien, 8) Monitor status nutrisi
pasien, 9) mandikan pasien dengan sabun dan air hangat

d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan penurunan intake makanan
NOC :Nutritional Status : food and Fluid Intake
Kriteria hasil : Nutrition management : 1) Kaji adanya alergi makanan,
2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien, 3) Anjurkan pasien untuk
meningkatkan intake Fe, 4) Anjurkan pasien untuk meningkatkan
protein dan vitamin C, 5) Berikan substansi gula, 6) Yakinkan diet
yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi, 7)
Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli
gizi), 8) Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian,
9) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori, 10) Berikan
informasi tentang kebutuhan nutrisi, 11) Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
Nutrition Monitoring : 1) BB pasien dalam batas normal, 2) Monitor
adanya penurunan berat badan, 3) Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan, 4) Monitor interaksi anak atau orangtua selama
makan, 5) Monitor lingkungan selama makan, 6) Jadwalkan
pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan, 7) Monitor kulit
kering dan perubahan pigmentasi, 8) Monitor turgor kulit, 9) Monitor
kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah, 10) Monitor mual dan
muntah, 11) Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht,
12) Monitor makanan kesukaan, 13) Monitor pertumbuhan dan
perkembangan, 14) Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
jaringan konjungtiva, 15) Monitor kalori dan intake nuntrisi, 16) Catat

24
adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral, 17)
Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet.

e. Resiko syok (hipovolemi)


NOC : Syok prevention, syok management
Kriteria Hasil : 1) nadi dalam batas yang diharapkan, 2) irama jantung
dan frekuensi nafas, dan irama pernafasan dalam batas yang
diharapakan, 3) Natrium serum, kalium serum, klorida serum, kalsium
serum, magnesium serum, dan Ph darah serum dalam batas normal.
NIC : Syok prevention 1) Monitor status sirkulasi BP, warna kulit,
suhu kulit, denyut jantung, HR dan ritme, nadi perifer, dan kapiler
refill, 2) Monitor tanda inadekuat oksigenasi jaringan, 3) Monitor suhu
dan pernafasan, 4) Monitor input dan ouput, 5) Pantau nilai labor :
HB, HT, AGD dan elektrolit, 6) Monitor hemodinamik invasi yang
sesuai, 7) Monitor tanda dan gejala asites, 8) Monitor tanda awal syok,
9) Tempatkan pasien pada posisi supine, kaki elevasi untuk
peningkatan preload dengan tepat, 10) Lihat dan pelihara kepatenan
jalan nafas, 11) Berikan cairan iv dan atau oral yang tepat, 12) Berikan
vasodilator yang tepat, 13) Ajarkan keluarga dan pasien tentang tanda
dan gejala datangnya syok, 14) Ajarkan keluarga dan pasien tentang
langkah untuk mengatasi gejala syok, 15) Monitor fungsi neurologis,
16) Monitor fungsi renal (e.g BUN dan Cr lavel), 17) Monitor tekanan
nadi, 18) Monitor status cairan, input output.

f. Gangguan pertukaran gas


NOC :Respiratory Status : Gas exchange, Respiratory Status :
ventilation, Vital Sign Status
Kriteria Hasil : 1) Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan
oksigenasi yang adekuat, 2) Memelihara kebersihan paru paru dan

25
bebas dari tanda tanda distress pernafasan, 3) Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan
mudah, tidak ada pursed lips), 4) Tanda tanda vital dalam rentang
normal
NIC : Airway Management 1) Buka jalan nafas, gunakan teknik chin
lift atau jaw thrust bila perlu, 2) Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi, 3) Identifikasi pasien perlunya pemasangan
alat jalan nafas buatan, 4) Pasang mayo bila perlu, 5) Lakukan
fisioterapi dada jika perlu, 6) Keluarkan sekret dengan batuk atau
suction, 7) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan, 8)
Lakukan suction pada mayo, 9) Berikan bronkodilator bila perlu, 10)
Berikan pelembab udara, 11) Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan, 12) Monitor respirasi dan status O2.
Respiratory Monitoring 1) Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan
usaha respirasi, 2) Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan,
penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan
intercostal, 3) Monitor suara nafas, seperti dengkur, 4) Monitor pola
nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, 5) Catat lokasi
trakea, 6) Monitor kelelahan otot diagfragma (gerakan paradoksis), 7)
Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi
dan suara tambahan, 8) Tentukan kebutuhan suction dengan
mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas utama, 9)
Auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya.

h. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan


NOC :Anxiety control, Coping, Impulse control
Kriteria Hasil : 1) klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan
gejala cemas, 2) mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan
tekhnik untuk mengontrol cemas, 3) vital sign dalam batas normal, 4)

26
Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya kecemasan
NIC : 1) gunakan pendekatan yang menyenangkan, 2) nyatakan
dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien, 3) jelaskan semua
prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur, 4) pahami
prespektif pasien terhadap situasi stres, 5) temani pasien untuk
memberikan keamanan dan mengurangi takut, 6) Berikan informasi
faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis, 7) Dorong keluarga
untuk menemani anak, 8) Lakukan back / neck rub, 9) Dengarkan
dengan penuh perhatian, 10) Identifikasi tingkat kecemasan, 11) Bantu
pasien mengenal situasi yang menimbulkan, 12) kecemasan, 13)
Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi,
14) Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi, 15) Berikan
obat untuk mengurangi kecemasan

27
BAB III
LAPORAN STUDI KASUS

A. Gambaran Lokasi Studi Kasus


RSUD dr. Agoesdjam berdiri sejak tahun 1984 dengan izin penetapan
pendirian nomor: 44/1164/kesra, tanggal 16 juli 1984. Rumah sakit ini
merupakan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Ketapang yang didirikan
dengan sumber dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan
bantuan dari Asian Development Bank (ADB). Sebelum berdiri di tempat
sekarang, operasional RSUD dr. Agoesdjam dilaksanakan di daerah Mulia
Baru, tepatnya di jalan Dr. Soetomo nomor 65 Ketapang, dan setelah tahun
1984 barulah dilaksanakan di tempat yang sekarang, yaitu di jalan Mayjend.D.
I. Panjaitan nomor 51 Kelurahan Sampit, Kecamatan Delta Pawan Kabupaten
Ketapang. Pengembangan dan perluasan serta pemenuhan fasilitas pelayanan
terus dilakukan di tempat ini sejalan dengan kebutuhan dan tuntutan dari
masyarakat.
RSUD dr. Agoesdjam telah dimanfaatkan untuk kegiatan operasional
rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada
masyarakat, khusunya masyarakat di Kabupaten Ketapang. Beberapa
pelayanan kesehatan yang diberikan antara lain adalah; pelayanan medis
spesialistik bedah, spesialis penyakit dalam, spesialis kebidanan dan penyakit
kandungan, spesialis penyakit anak, pelayanan medis umum, serta pelayanan
kesehatan gigi dan mulut.Beberapa pelayanan pendukung juga sudah mulai
dilaksanakan seperti pelayanan bedah sentral, laboratorium, radiologi, farmasi,
gizi, hemodialisa dan rehabilitasi medik, serta pemeliharaan sarana rumah
sakit.
B. Prinsip Etika
Pemberian asuhan keperawatan pada klien, dilandasi dengan prinsip etika
sebagai berikut :
1. Otonomi (Autonomi) prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa
individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri.

28
Orang dewasa mampu memutuskan sesuatu dan orang lain harus
menghargainya. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan
individu yang menuntut pembedaan diri. Salah satu contoh yang tidak
memperhatikan otonomi adalah memberitahukan klien bahwa keadaanya
baik, padahal terdapat gangguan atau penyimpangan
2. Beneficence (Berbuat Baik) prinsip ini menentut perawat untuk melakukan
hal yang baik dengan begitu dapat mencegah kesalahan atau kejahatan.
Contoh perawat menasehati klien tentang program latihan untuk
memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi perawat menasehati untuk
tidak dilakukan karena alasan resiko serangan jantung.
3. Justice (Keadilan) nilai ini direfleksikan dalam praktek professional ketika
perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktik dan
keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
Contoh ketika perawat dinas sendirian dan ketika itu ada klien baru masuk
serta ada juga klien rawat yang memerlukan bantuan perawat maka
perawat harus mempertimbangkan faktor-faktor dalam faktor tersebut
kemudian bertindak sesuai dengan asas keadilan.
4. Non-maleficence (tidak merugikan) prinsi ini berarti tidak menimbulkan
bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Contoh ketika ada klien
yang menyatakan kepada dokter secara tertulis menolak pemberian
transfusi darah dan ketika itu penyakit perdarahan (melena) membuat
keadaan klien semakin memburuk dan dokter harus mengistrusikan
pemberian transfusi darah. akhirnya transfusi darah ridak diberikan karena
prinsip beneficence walaupun pada situasi ini juga terjadi penyalahgunaan
prinsi nonmaleficence.
5. Veracity (Kejujuran) nilai ini bukan cuman dimiliki oleh perawat namun
harus dimiliki oleh seluruh pemberi layanan kesehatan untuk
menyampaikan kebenaran pada setia klien untuk meyakinkan agar klien
mengerti. Informasi yang diberikan harus akurat, komprehensif, dan
objektif. Kebenaran merupakan dasar membina hubungan saling percaya.
Klie memiliki otonomi sehingga mereka berhak mendapatkan informasi

29
yang ia ingin tahu. Contoh Ny. S masuk rumah sakit dengan berbagai
macam fraktur karena kecelakaan mobil, suaminya juga ada dalam
kecelakaan tersebut dan meninggal dunia. Ny. S selalu bertanya-tanya
tentang keadaan suaminya. Dokter ahli bedah berpesan kepada perawat
untuk belum memberitahukan kematian suaminya kepada klien perawat
tidak mengetahui alasan tersebut dari dokter dan kepala ruangan
menyampaikan intruksi dokter harus diikuti. Perawat dalam hal ini
dihadapkan oleh konflik kejujuran.
6. Fidelity (Menepati janji) tanggung jawab besar seorang perawat adalah
meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan
meminimalkan penderitaan. Untuk mencapai itu perawat harus memiliki
komitmen menepati janji dan menghargai komitmennya kepada orang lain.
7. Confidentiality (Kerahasiaan) kerahasiaan adalah informasi tentang klien
harus dijaga privasi klien. Dokumentasi tentang keadaan kesehatan klien
hanya bisa dibaca guna keperluan pengobatan dan peningkatan kesehatan
klien. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan harus dihindari.
8. Accountability (Akuntabilitasi) akuntabilitas adalah standar yang pasti
bahwa tindakan seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak
jelas atau tanda terkecuali. Contoh perawat bertanggung jawab pada diri
sendiri, profesi, klien, sesame teman sejawat, karyawan, dan masyarakat.
Jika perawat salah memberi dosis obat kepada klien perawat dapat digugat
oleh klien yang menerima obat, dokter yang memberi tugas delegatif, dan
masyarakat yang menuntut kemampuan professional.

C. Pelaksanaan Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Klien berinisial An. V, umur 9 tahun, jenis kelamin perempuan, klien lahir di
Ketapang, 30 Mei 2009, beragama Budha, pendidikan Sekolah Dasar,
berbangsa Indonesia suku china, klien tinggal di jalan D.I Panjaitan, klien
dirawat diruang anak sejak tanggal 5 maret 2018 dengan diagnosa medik

30
Gastroenteritis dehidrasi ringan sedang, penanggung jawab klien yaitu
berinisial Tn.L (sebagai ayah klien) dan Ny. D (sebagai ibu klien)
2. Data Fokus terkait dengan Kasus
Waktu Pengumpulan Data :
Waktu pengumpulan data dilakukan selama 3 hari untuk mengumpulkan
dara secara komprehensif dan mengetahui perubahan - perubahan yang
terjadi.
Sumber data :
a. Klien
Keluhan utama saat dikaji, kesadaran klien compos mentis, E=4, V=5,
M=6 (GCS = 15). Klien mengatakan muntah, mual, pusing, sakit
perut.Klien tampak terbaring lemah ditempat tidurnya, aktivitas dan
kebutuhan klien tampak dibantu oleh ayah dan ibunya.Klien mengatakan
tidak mau makan, kedua kelopak mata klien tampak cekung, wajah
tampak pucat, mukosa bibir kering.
b. Keluarga klien
Ibu klien mengatakan bahwa badan anaknya lemas, demam 1 hari,
muntah 10 kali / hari, bab cair 8 kali, warna feses kuning, bau feses
asam. Ibu klien mengatakan nafsu makan klien menurun, klien muntah
setiap makan. Ibu klien mengatakan klien tidak mau makan dan minum
hanya sedikit, klien tampak minum air putih 1 gelas 200 cc sedikit. Ibu
klien mengatakan klien tidak makan makanan yang disediakan, klien
tampak tidak menghabiskan makanan yang disediakan.Perut klien
kembung.Ibu klien mengatakan berat badan klien 25kg.
c. Tenaga kesehatan
Perawat menyatakan hasil pemeriksaan klien adalah sebagai berikut :Saat
dilakukan pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak lemah, badan
teraba hangat, kesadaran klien compos mentis, tanda-tanda vital klien
yang didapat yaitu tekanan darah klien 100/80 mmHg, nadi 90 kali per
menit, pernapasan 24 kali per menit, dan suhu tubuh 380C.

31
1. Kepala
Inspeksi : distribusi rambut merata, rambut berwarna hitam,
kebersihan rambut baik, tidak terdapat masa atau bejolan.
Palpasi : tidak teraba nyeri tekan di seluruh bagian
kepala
2. Mata
Inspeksi : mata simetris kiri dan kanan, mata tampak cekung, sklera
tidak ikterik, konjungtiva anemis, tidak terdapat edema
maupun lesi, klien tidak menggunakan alat bantu
penglihatan, tidak ada gangguan saat melihat. Palpasi :
tidak teraba nyeri tekan di sekitar mata klien
3. Hidung
Inspeksi : kebersihan baik, tidak terdapat gangguan penciuman,
tidak terdapat polip, tidak terdapat penghambat
penciuman, tidak menggunakan alat bantu pernapasan,
pernapasan tidak cuping hidung, pernapasan 24x/menit.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan dibagian hidung
4. Telinga
Inspeksi : pendengaran baik, tidak ada kesulitan mendengar suara,
kebersihan telinga terjaga, keuda telinga tampak simetris,
pina kiri dan kanan sejajar dengan alis mata, tidak
terdapat sumbatan kotoran, tidak terdapat pengeluaran
serumen, tidak terdapat lesi. Palpasi : tidak ada nyeri
tekan dikedua telinga
5. Mulut dan tenggorokan
Inspeksi : Mulut tampak bersih, mulut tampak simetris, gigi masih
lengkap, mukosa bibir kering, tidak terdapat lesi, tidak ada
kesulitan menelan, tidak teraba massa.

32
6. Leher
Inspeksi : bentuk leher simetris, tidak terdapat lesi maupun massa.
Palpasi : saat menelan dan diraba, tidak teraba pembesaran kelenjar
tyroid, tidak ada nyeri tekan.
7. Paru-paru
Inspeksi : dada simetris, tidak terdapat lesi, tidak terdapat edema,
ekpansi paru sama, pernafasan 24x/menit. Palpasi : tidak teraba masa,
dan tidak ada nyeri tekan. Auskultasi : tidak terdengar suara wheezing
dan suara nafas veesikuler. Perkusi : suara yang dihasilkan sonor
8. Jantung
Inspeksi : bentuk dada simetris, tidak terdapat lesi, tidak terdapat
edema. Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan. Auskultasi : terdengar
suara S1 dan S2 reguler, S1 lebih jelas.
9. Abdomen
Inspeksi : bentuk simetris, tidak ada massa, perut tampak kembung,
warna kulit perut homogen. Auskultasi : peristaltik terdengar normal.
Perkusi : terdengar suara tympani. Palpasi : terdapat nyeri tekan di ke
empat kuadran abdomen.
10. Eliminasi bowel
Klien buang air besar 8x berwarna kuning,, dengan konsistensi buang
air besar cair, ampas sedikit, berbau.
11. Ekstrimitas atas dan bawah
Inspeksi : Tangan sebelah kiri klien tampak terpasang infus RL 20
tetes per menit macro. Kedua kaki dan tangan tampak simetris, tidak
terdapat lesi, tidak ada tanda tanda tremor maupun kejang.Palpasi :
tidak ada nyeri tekan, tidak teraba adanya benjolan. Tonus otot :
4 4 4 4 3 3 3 3
4 4 4 4 4 4 4 4

Keterangan:

33
0 : otot sama sekali tidak mampu bergerak, berkontraksi pun tidak,
bila dilepaskan lengan dan tungkai akan jatuh, 100% pasif. 1: tampak
kontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada tahanan sewaktu jatuh. 2:
Mampu menahan gravitasi saja, tapi dengan sentuhan akan jatuh. 3:
Dapat menahan tegak, tetapi tidak mampu melawan tekanan/dorongan
dari pemeriksa. 4: Gerakan normal penuh, menentang gravitasi dengan
sedikit penahanan (kekuatan kurang) 5 :Kekuatan otot penuh.
12. Kulit
Inspeksi : Kulit tampak kering, turgor kulit jelek, tidak ikterik, tidak
ada dekubitus, tidak ada luka, kebersihan kulit terjaga. Palpasi : tidak
ada nyeri tekan.
13. Eliminasi urin
Inspeksi : klien tidak terpasang kateter, saat di kaji klien mengatakan
buang air kecil 1 sampai 2 kali / hari.
d. Catatan keperawatan
Adapun therapi yang didapatkan klien adalah Infus Ringer Laktat 20
tetes per menit makro, injeksi ceftriaxone 625mg/12 jam/iv, ondancentron
2,5mg/8jam/iv, ranitidin 25mg/8jam/iv, paracetamol 250mg/6jam/iv, oral
prebiokid 1 x 1 sachet sesudah makan, zinc syrup 1 x 1 sesudah makan.
Pada tanggal 5 maret 2018, klien melakukan pemeriksaan darah rutin, gula
darah sewaktu dan cek feses. Hasil pemeriksaan sebagai berikut :
1. Hematologi : Hemoglobin 12,8 g/dl, Eritrosit 5,09 jt/ul, Hematokrit 36,8
%, Leukosit 11.700 / uL, trombosit 426.000 / uL, MCV 72,3 F1, MCH
25,1 pg, MCHC 34,8 gr/dl.
2. Gula Darah Sewaktu 109 mg/dl
3. Feces : warna kuning, konsistensi cair, leukosit 0 – 1, eritrosit 0 – 1,
darah (-), lendir (-), telur cacing (-), ascaris (-), Cacing tambang (-),
Oxyuris (-), Trichuris (-), Cacing pita (-), Amoeba (-)
Tekhnik Pengumpulan Data
a. Wawancara mendalam : dengan melakukan pengkajian / wawancara
terkait dengan masalah yang di alami. Penulis melakukan wawancara

34
langsung dengan klien, keluarga klien dan tenaga kesehatan yang
bertugas
b. Observasi : dengan melakukan tekhnik observasi untuk memvalidasi data
yang telah diperoleh dengan wawancara mendalam
c. Pemeriksaan – pemeriksaan : pemeriksaan yang dilakukan dalam rangka
menguatkan dan memvalidasi data yang sudah diperoleh. Adapun
pemeriksaan yang dilakukan yaitu pemeriksaan fisik (head to toe) dan
pemeriksaan laboratorium.

3. Analisa data
Hasil analisis datadiagnosa keperawatan An. V adalah :
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
Ditandai dengan
Data subjektif : ibu klien mengatakan klien muntah 10 kali, bab cair 8
kali. Ibu klien mengatakan warna feses kuning, dan feses berbau asam.
Data objektif : klien tampak lemah, klien tampak muntah 10x, perut
tampak kembung, mukosa bibir kering, kedua kelopak mata tampak
cekung. Klien terpasang cairan intravena Ringer Laktat 20 tetes/menit
makro.Klien tampak minum air putih 1 gelas 200cc sedikit.
b. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
Ditandai dengan
Data Subjektif : Ibu klien mengatakan klien sudah demam 1 hari
Data Objektif : klien tampak lemah, badan teraba hangat, tanda tanda
vital tekanan darah klien 100/80 mmHg, nadi 90 kali per menit,
pernapasan 24x/menit, dan suhu tubuh 380C
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan intake makanan
Ditandai dengan
Data subjektif : ibu klien mengatakan klien mual, nafsu makan klien
menurun. Klien tidak mau makan, dan minum hanya sedikit.

35
Data objektif : klien tampak lemah, klien tampak tidak memakan
makanan yang disediakan, klien tampak minum air putih 1 gelas 200cc
sedikit. BB klien 19 kg.

4. Prioritas Masalah Keperawatan


Setelah data terkumpul, kemudian dikelompokkan dan dianalisa, terdapat
beberapa prioritas masalah keperawatan An. V adalah sebagai berikut :
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
b. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan intake makanan

5. Perencanaan
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan
klien dapat menunjukan tanda – tanda terpenuhinya kebutuhan cairan
dengan kriteria hasil : mempertahankan urine output, tekanan darah, nadi,
dan suhu tubuh dalam batas normal, tidak ada tanda – tanda dehidrasi,
turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang
berlebihan
Intervensi : 1) Kaji keadaan umum klien. Rasional : menetapkan data
dasar untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan
normalnya. 2) Observasi tanda tanda syok seperti : nadi lemah dan
cepat, tensi menurun, akral dingin, kesadaran menurun, gelisah.
Rasional : mengetahui tanda syok sedini mungkin sehingga dapat segera
dilakukan tindakan. 3) Monitor tanda – tanda dehidrasi seperti : turgor
kulit turun, ubun – ubun cekung, produksi urin turun. Rasional :
mengetahui tanda dehidrasi sehingga dapat segera dilakukan tindakan. 4)
Berikan hidrasi per oral secara adekuat sesuai kebutuhan tubuh.
Rasional : asupan cairan sangat diperhatikan untuk menambah volume
cairan tubuh. 5) Kolaborasi pemberian cairan intravena. Rasional :

36
pemberian cairan ini sangat penting bagi pasien yang mengalami defisit
volume cairan dengan keadaan umum yang buruk karena cairan ini
langsung masuk kedalam pembuluh darah.
b. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan
suhu tubuh normal dengan kriteria hasil : suhu tubuh normal, tanda tanda
vital normal, tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing.
Intervensi : 1) Monitor temperatur suhu tubuh (perubahan temperatur
dapat terjadi pada proses infeksi akut). Rasional : deteksi dini terjadinya
perubahan abnormal fungsi tubuh. 2) Monitor tanda – tanda vital.
Rasional : merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum klien. 3)
Berikan kompres klien pada lipat paha dan aksila. Rasional (menurunkan
panas lewat konduksi) . 4) Tingkatkan intake cairan dan nutrisi, anjurkan
klien untuk minum banyak 1,5 – 2 liter dalam 24 jam. Rasional :
peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat
sehingga perlu diimbangi dengan asupan yang banyak. 5) Berikan
antipiretik sesuai program tim medis. Rasional : menurunkan panas pada
pusat hipotalamus.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan intake makanan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan
pemenuhan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dengan kriteria hasil :
adanya minat / selera makan, porsi makan sesuai kebutuhan, BB
dipertahankan sesuai usia, BB meningkat sesuai usia.
Intervensi : 1) monitor intake makanan. Rasional : memonitor intake
kalori dan insufisiensi kualitas konsumsi makanan. 2) sajikan makanan
yang menarik, merangsang selera dan dalam suasana yang
menyenangkan. Rasional : meningkatkan selera makan dan
meningkatkan intake makanan. 3) berikan makan dalam porsi kecil tapi
sering. Rasional : makan dalam porsi besar dan banyak lebih sulit untuk
dikonsumsi klien saat nafsu makan menurun. 4) timbang BB. Rasional :

37
memonitor kurangnya BB dan efektifitas intervensi nutrisi yang
diberikan). 5) kolaborasi dengan ahli gizi. Rasional : memberikan
bantuan untuk menetapkan diet klien.

6. Implementasi
Diagnosa Keperawatan 1
Pada Tanggal, 5 Maret 2018
Data Subjektif : ibu klien mengatakan klien muntah 10 kali, bab
cair 8 kali. Ibu klien mengatakan warna feses
kuning, dan feses berbau asam.
Data Objektif : klien tampak lemah, klien tampak muntah 10x,
perut tampak kembung, mukosa bibir kering,
kedua kelopak mata tampak cekung. Klien
terpasang cairan intravena Ringer Laktat20
tetes/menit makro.Klien tampak minum air putih
1 gelas 200cc sedikit.
Action : 1) mengkaji keadaan umum klien
2) mengobservasi tanda – tanda syok : nadi lemah
atau cepat, tensi menurun, akral dingin, kesadaran
menurun, gelisah
3)memonitor tanda – tanda dehidrasi : turgor kulit
menurun, produksi urin turun
4) memberikan hidrasi per oral secara adekuat
sesuai kebutuhan tubuh
5) berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian
cairan intravena.
Respon : ibu klien mengatakan klien muntah 2 kali, bab
cair 5 kali. Ibu klien mengatakan warna feses
kuning, dan feses berbau asam.kesadaran compos
mentis, klien tampak lemah, klien tampak
menghabiskan 2 gelas air putih sebanyak 200cc.

38
tanda-tanda vital: tekanan darah = 100/80 mmHg,
Nadi teraba 80x/menit, akral hangat, turgor kulit
elastis. Klien terpasang cairan intravena tridex RL
20 tetes/menit makro, klien mendapatkan injeksi
ondancentron 2,5 mg/iv, ranitidin 25mg/iv.

Pada Tanggal, 6 Maret 2018


Data Subjektif : ibu klien mengatakan klien masih Bab cair 5x
Data Objektif : kesadaran compos mentis, klien tampak lemah,
klien terpasang infus Ringer Laktat 20 tetes/menit
makro
Action : 1) mengkaji keadaan umum klien
2) mengobservasi tanda – tanda syok : nadi lemah
atau cepat, tensi menurun, akral dingin, kesadaran
menurun, gelisah
3) memonitor tanda – tanda dehidrasi : turgor
kulit menurun, produksi urin turun
4) memberikan hidrasi per oral secara adekuat
sesuai kebutuhan tubuh
5) berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian
cairan intravena.
Respon : ibu klien mengatakan klien sudah tidak muntah,
bab cair 5 kali. Ibu klien mengatakan warna feses
kuning, berampas, dan bau asam feses
berkurang.kesadaran compos mentis, klien
tampak lemah, klien tampak minum air putih
400cc sedikit sedikit tapi sering. tanda-tanda
vital: tekanan darah = 110/80 mmHg, Nadi teraba
80x/menit, akhral hangat, turgor kulit elastis.
Klien terpasang cairan intravena Ringer Laktat 20

39
tetes/menit makro, klien mendapatkan injeksi
ondancentron 2,5 mg/iv, ranitidin 25 mg/iv.

Pada Tanggal, 7 Maret 2018


Data Subjektif : ibu klien mengatakan klien masih Bab cair 5x
Data Objektif : kesadaran compos mentis, klien tampak lemah,
klien terpasang infus Ringer Laktat 20 tetes/menit
makro
Action : 1) mengkaji keadaan umum klien
2) oservasi tanda – tanda syok : nadi lemah atau
cepat, tensi menurun, akral dingin, kesadaran
menurun, gelisah
3) memonitor tanda – tanda dehidrasi : turgor
kulit menurun, produksi urin turun
4) memberikan hidrasi per oral secara adekuat
sesuai kebutuhan tubuh
5) berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian
cairan intravena.
Respon : ibu klien mengatakan klien sudah tidak muntah,
bab 3x .Ibu klien mengatakan warna feses
kuning, berampas tidak cair, dan feses tidak
berbau.Ibu klien mengatakan klien minum air
putih banyak.kesadaran compos mentis, klien
tampak lemah, klien tampak minum air putih
600cc sedikit – sedikit tapi sering . tanda-tanda
vital: tekanan darah = 110/80 mmHg, Nadi teraba
80x/menit, akhral hangat, turgor kulit elastis.
Klien terpasang cairan intravena Ringer Laktat 20
tetes/menit makro, klien mendapatkan injeksi
ondancentron 2,5 mg/iv, ranitidin 25 mg/iv

40
Diagnosa Keperawatan 2
Pada Tanggal, 5 Maret 2018
Data Subjektif : Ibu klien mengatakan klien sudah demam 1 hari
Data Objektif : klien tampak lemah, badan teraba hangat, tanda
tanda vital tekanan darah klien 100/80 mmHg,
nadi 90 kali per menit, pernapasan 24x/menit, dan
suhu tubuh 380C
Action : 1) memonitor suhu tubuh
2) memonitor tanda – tanda vital
3) memberikan kompres pada lipat paha dan
aksila
4) meningkat intake cairan dan nutrisi,
menganjurkan klien untuk minum banyak 1,5
– 2 liter dalam 24 jam
5) antipiretik sesuai program tim medis.
Respon : ibu klien mengatakan badan anaknya masih
hangat, klien dikompres pada lipat paha dan
aksila. Ibu klien mengatakan klien minum
sedikit.klien tampak lemah, tanda-tanda vital:
tekanan darah = 90/60 mmHg, Nadi = 80x/menit,
Suhu = 380C, pernapasan = 22 kali per menit.
Klien mendapatkan injeksi ceftriaxone 625m/iv
dan paracetamol 250mg/iv.

Pada Tanggal, 6 Maret 2018


Data Subjektif : Ibu klien mengatakan klien demam berkurang
Data Objektif : klien tampak lemah, badan teraba hangat, tanda
tanda vital tekanan darah klien 100/80 mmHg,
nadi 90 kali per menit, pernapasan 24x/menit,
dan suhu tubuh 380C
Action : 1) memonitor suhu tubuh

41
2) memonitor tanda – tanda vital
3) memberikan kompres pada lipat paha dan
aksila
4) meningkat intake cairan dan nutrisi,
menganjurkan klien untuk minum banyak 1,5 – 2
liter dalam 24 jam
5) antipiretik sesuai program tim medis.
Respon : ibu klien mengatakan anaknya tidak demam. Ibu
klien mengatakan klien minum banyak.klien
tampak lemah, tanda-tanda vital: tekanan darah =
110/80 mmHg, Nadi = 80x/menit, Suhu = 36,7 0C,
pernapasan = 22 kali per menit. Klien
mendapatkan injeksi ceftriaxone 625m/iv.
Analisis: masalah teratasi sebagian.

Pada Tanggal, 7 Maret 2018


Data Subjektif : Ibu klien mengatakan klien sudah tidak demam
Data Objektif : klien tampak lemah, badan teraba hangat, tanda
tanda vital tekanan darah klien 100/80 mmHg,
nadi 90 kali per menit, pernapasan 24x/menit, dan
suhu tubuh 380C
Action : 1) memonitor suhu tubuh
2)memonitor tanda – tanda vital
3) memberikan kompres pada lipat paha dan
aksila
4) meningkat intake cairan dan nutrisi,
menganjurkan klien untuk minum banyak 1,5 – 2
liter dalam 24 jam
5) antipiretik sesuai program tim medis.
Respon : ibu klien mengatakan badan anaknya masih
hangat, klien dikompres pada lipat paha dan

42
aksila. Ibu klien mengatakan klien minum sedikit.
Data objektif: klien tampak lemah, tanda-tanda
vital: tekanan darah = 110/80 mmHg, Nadi =
80x/menit, Suhu = 36,50C, pernapasan = 20 kali
per menit. Klien mendapatkan injeksi ceftriaxone
625mg/iv

Diagnosa Keperawatan 3
Pada Tanggal, 5 Maret 2018
Data subjektif : ibu klien mengatakan kliem mual, nafsu makan
klien menurun. Klien tidak mau makan, dan
minum hanya sedikit.
Data objektif : klien tampak lemah, klien tampak tidak memakan
makanan yang disediakan, klien tampak minum
air putih 1 gelas 200cc sedikit. BB klien 19 kg.
Action : 1) memonitor intake makanan
2)menyajikan makanan yang menarik,
merangsang selera dan dalam suasana yang
menyenangkan
3) memberikan makan dalam porsi kecil tapi
sering
4) menimbang berat badan klien
5) melakukan kolaborasi dengan ahli gizi.
Respon : ibu klien mengatakan klien masih mual, nafsu
makan klien menurun, klien tidak mau makan dan
minum sedikit. klien tampak lemah, klien tidak
memakan makanan yang disediakan, klien
tampak minum air putih 2 gelas sebanyak 200cc.
BB klien 25kg.

43
Tanggal 6 Maret 2018
Data subjektif : ibu klien mengatakan klien mual berkurang, dan
ada nafsu makan.
Data objektif : klien tampak lemah, klien tampak minum air
putih 1 gelas 200cc sedikit. BB klien 19 kg.
Action : 1) memonitor intake makanan
2) menyajikan makanan yang menarik,
merangsang selera dan dalam suasana yang
menyenangkan,
3) memberikan makan dalam porsi kecil tapi
sering
4) menimbang berat badan klien
5) melakukan kolaborasi dengan ahli gizi.
Respon : klien mengatakan rasa mual berkurang. ibu klien
mengatakan klien mulai mau makan dan minum.
klien tampak lemah, klien tampak makan 5-6
sendok makanan dari 1 porsi yang disediakan,
klien tampak minum air putih 400cc sedikit
sedikit tetapi sering. BB klien 25kg.

Tanggal 7 Maret 2018


Data subjektif : ibu klien mengatakan klien mual berkurang, dan
ada nafsu makan.
Data objektif : klien tampak lemah, klien tampak minum air
putih 1 gelas 200cc sedikit. BB klien 19 kg.
Action : 1) memonitor intake makanan
2) menyajikan makanan yang menarik,
merangsang selera dan dalam suasana yang
menyenangkan
3) memberikan makan dalam porsi kecil tapi
sering

44
4) menimbang berat badan klien
5) melakukan kolaborasi dengan ahli gizi.
Respon : klien mengatakan sudah tidak mual. ibu klien
mengatakan nafsu makan klien sudah membaik,
klien mau makan dan minum. Data objektif :
klien tampak lemah, klien tampak menghabiskan
½ porsi makanan dari 1 porsi yang disediakan,
klien tampak menghabiskan air putih 600cc
sedikit sedikit tetapi sering. BB klien 25 kg.

45
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pembahasan
1. Pengkajian
Tahap pengkajian merupakan tahap awal dalam proses keperawatan
mulai dari pengumpulan data. Adapun teknik dilakukan dalam pengumpulan
data yaitu wawancara, pemeriksaan fisik, observasi. Data fokus yang di
dapat dari pengkajian adalah : Keluhan utama saat dikaji, kesadaran klien
compos mentis, E=4, V=5, M=6 (GCS = 15). Klien mengatakan mual,
muntah, pusing. Klien tampak lemah, klien tampak terbaring lemah
ditempat tidurnya, aktivitas dan kebutuhan klien tampak dibantu oleh ayah
dan ibunya. Klien mengatakan tidak mau makan, kedua kelopak mata
tampak cekung, wajah tampak pucat, mukosa bibir kering. Ibu klien
mengatakan bahwa badan anaknya lemas, demam sudah 1 hari, muntah 10
kali, bab cair 8 kali, warna feses kuning, bau feses asam, nafsu makan klien
menurun. Ibu klien mengatakan klien tidak mau makan dan minum hanya
sedikit 1 gelas air putih 200cc. Ibu klien mengatakan klien tidak makan
makanan yang disediakan. Perut klien kembung. Ibu klien mengatakan berat
badan klien 25kg.
Adapun perbandingan atau perbedaan dari data yang diperoleh
dilapangan dengan teori yang sudah ada yaitu: tidak terdapat lecet atau
iritasi disekitar anus akibat seringnya proses defekasi, tidak muncul tanda
tanda pasien tampak kehausan, dan tidak terdapat perbedaan perubahan
berat badan sebelum dan sesudah sakit. Hal ini dikarenakan masalah yang
dimiliki penderita gastroenteritis setiap individu berbeda-beda, tergantung
bagaimana kondisi tubuh dan respon tubuh setiap penderita gastroenteritis.
2. Diagnosa
Adapun diagnosa keperawatan menurut NANDA terdapat 7 diagnosa
keperawatan untuk gastroenteritis yaitu :
a.Diare berhubungan dengan proses infeksi, inflamasi diusus
b.Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif

46
c.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi / BAB sering
d.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan intake makanan
e.Resiko syok (hipovolemi)
f.Gangguan pertukaran gas
g.Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Sedangkan pada saat dilakukan tinjauan kasus terdapat 3 diagnosa
keperawatan, tetapi hanya ada 2 diagnosa keperawatan yang sama dengan
teori. Alasan mengapa terdapatnya perbedaan antara hasil yang diperoleh
dari lapangan dengan teori yang ada, karena kondisi penderita
gastroenteritis setiap individu berbeda-beda, tergantung dari kondisi tubuh
penderita, serta adanya keterbatasan sarana dan alat penunjang penelitian,
sehingga memungkinkan terdapatnya perbedaan antara hasil dilapangan dan
teori yang ada. Penulis juga menegakan diagnosa keperawatan masalah
aktual dan prioritas berdasarkan keluhan pasien .
3. Intervensi
Tahap perencanaan ini, penulis membuat suatu perencanaan, tujuan yang
ditetapkan pada rencana asuhan keperawatan gastroenteritis. Perencanaan
dapat dilakukan karena lingkungan yang mendukung, sarana dan alat yang
lengkap, serta sikap kooperatif klien. Perencanaan ini dilaksanakan karena
melihat tanda dan gejala yang dialami klien dan kemampuan klien masih
terbatas karena kondisi penyakit yang dialaminya. Adapun perencanaan
yang dibuat pada 3 diagnosa yang ditemukan telah direncanakan
berdasarkan teori yang ada. Namun untuk diagnosa ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake
makanan, pada rencana keperawatan untuk ajarkan klien bagaimana
membuat catatan makanan harian tidak dicantumkan karena klien An.V
adalah seorang anak dan menurut penulis rencana keperawatan tersebut
kurang tepat apabila dilaksanakan.
Faktor pendukung dari pelaksanaan keperawatan ini yaitu klien dan
keluarga kooperatif dalam pemberian setiap informasi yang dibutuhkan serta

47
mau mengikuti saran perawat, dan juga perawat dari ruang anak yang
berperan penting untuk menambah informasi yg dibutuhkan dalam
penelitian.Faktor penghambat dari pelaksanaan ini adalah terletak pada
perbedaan diagnosa yang terdapat pada kasus dan yang terdapat pada teori,
yang membuat penulis harus mampu mengolah kembali data secara matang
dan menemukan sumber yang terkait dan tepat dengan kondisi yang
dirasakan klien.
4. Implementasi
Pada tahap pelaksanaan, peneliti kemudian melakukan asuhan
keperawatan pada klien sesuai dengan rencana keperawatan dan teori baik
mandiri maupun secara kolaborasi sesuai dengan kondisi klien pada saat itu.
Dalam hal ini peneliti berperan sebagai anggota tim kesehatan yang bekerja
sama dengan tim kesehatan yang lainnya dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien. Tindakan dalam memenuhi kebutuhan klien juga
tidak hanya melibatkan perawat yang bertugas tetapi juga melibatkan
keluarga yang berperan penting dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
terhadap klien dalam memenuhi kebutuhan klien. Pelaksanaan implementasi
keperawatan didokumentasikan ke dalam catatan keperawatan, dan
menambah beberapa implementasi tambahan. Adapun faktor pendukung
pada tahap implementasi adalah klien dapat bekerjasama dengan
baik.Sedangkan faktor penghambat tidak terlalu dirasakan penulis, hanya
saja pada kondisi klien yang butuh perhatian penuh.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Pada tahap ini
terjadi proses umpan balik dari tindakan yang telah dilakukan. Penulis
melakukan penilaian terhadap Asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan
pada An. V dari tanggal 5 sampai 7 maret 2018. Dari ketiga diagnosa yang
penulis temukan pada An. V, satu diagnosa masih teratasi sebagian, dan dua
diagnosa sudah teratasi. Faktor yang mendukung pada tahap evaluasi ini
adalah kerjasama yang baik dari perawat ruangan sehingga penulis dapat
lebih mudah menilai keberhasilan asuhan keperawatan yang diberikan,

48
sedangkan faktor penghambat tidak begitu dirasakan oleh penulis pada
tahap evaluasi ini hanya saja kondisi klien yang memang perlu perhatian
secara penuh.

B. Keterbatasan dan Kelemahan Penelitian


Keterbatasan waktu menjadi kendala yang sangat berpengaruh, karena
dibutuhkan waktu yang cukup untuk memperoleh data yang akurat dan lebih
mendukung dalam melakukan penelitian ini. Kelemahan dalam penelitian ini
yaitu terletak pada masih adanya kekurangan dalam penggalian informasi dan
juga data dari responden yang dibutuhkan dalam penelitian ini.Karena
kejujuran dari informasi yang diberikan responden sangat berpengaruh dalam
melengkapi penelitian.

49
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Berdasarkan pengkajian didapatkan data yang ditemukan pada saat
pengkajian antara lain : nama An.V, umur 9 tahun, beragama
budha,pendidikan Sekolah Dasar, berbangsa Indonesia suku china, alamat di
jalan D.I Panjaitan, klien dirawat diruang anak sejak tanggal 5 maret 2018
dengan diagnosa medik GEA dehidrasi ringan sedang. Pada saat pengukuran
tanda – tanda vital ditemukan data : tekanan darah klien 100/80 mmHg, nadi
90 kali per menit, pernapasan 24x/menit, dan suhu tubuh 380C dan ibu klien
mengatakan bahwa badan anaknya lemas, demam 1 hari, muntah 10 kali,
bab cair 8 kali / hari, warna feses kuning, bau feses asam, nafsu makan klien
menurun. Ibu klien mengatakan klien tidak mau makan dan minum hanya
air putih 1 gelas sebanyak 200cc. perut kembung.
2. Masalah keperawatan yang muncul adalah hipertermi berhubungan dengan
dehidrasi, kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan intake makanan
3. Tindakan yang dapat terlaksana dengan baik dalam perawatan An. V adalah
mengobservasi keadaan umum klien, memantau tanda dan gejala dehidrasi,
mengobservasi tanda-tanda vital, memonitor suhu tubuh, memberikan
kompres hangat, menganjurkan klien untuk banyak minum, menganjurkan
klien untuk makan sedikit tapi sering, memberikan diet sesuai dengan
kondisi klien, memberikan terapi dari dokter untuk obat.
4. Evaluasi yang dilakukan selama 3 hari didapatkan 2 diagnosa yang berhasil
teratasi yaitu ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan intake makanan dan hipertermi
berhubungan dengan dehidrasi. Hal ini dibuktikan dengan An.V kooperatif
dan ibu klien mau bekerja sama selama proses keperawatan.sehingga tidak
ada hambatan selama dilakukan tindakan keperawatan.

50
B. Saran
1. Bagi mahasiswa
Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan menjadi sumber bacaan dan referensi
mahasiswa dalam peningkatan ilmu keperawatan, sehingga bisa
meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam melaksanakan asuhan
keperawatan klien pada gastroenteritis.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan bagi institusi pendidikan dapat dijadikan referensi dalam
kegiatan pembelajaran terutama mengenai asuhan keperawatan
gastroenteritis.
3. Bagi lahan praktek
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien anak dengan
gastroenteritis hendaknya menggunakan pendekatan proses keperawatan
secara komperhensif dengan melibatkan peran serta aktif klien dan keluarga
sehingga asuhan keperawatan dapat diberikan lebih efektif.

51
DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito, W. (2007) Sistem Kesehatan, edisi 1. Jakarta, PT. Raja Grafindo


Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC
NOC Jilid 2. Jakarta:EGC Persada
Black, J dan Hawks, J. 2010. Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen Klinis
untuk Hasil yang Diharapkan. Dialihbahasakan oleh Nampira R. Jakarta:
Salemba Emban Patria.
Budiono.dkk, (2015). Konsep Dasar Keperwatan. Jakarta: Bumi Medika
Budiyono setiadi.(2011). Anatomi tubuh manusia. Jawa Barat: Laskar aksara
Carpenito.et.all,(2009). Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Edisi 10.Jakarta :
EGC.
Craven & Hirnle. 2011. Fundamentals of Nursing. Philadelphia: Lippincott

Cakrawardi.dkk, (2011), Pola Penggunaan Antibiotik Pada Gastroenteritis


Berdampak Diare Akut Pasien Anak Rawat Inap di Badan Layanan
Umum Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Selama Tahun
2009. Majalah Farmasi dan Farmakologi, 15 (2), 69-72.
Dinas Kesehatan Provinsi Kal-Bar. (2009). Profil Dinas Kesehatan Provinsi.
Pemerintah Kal-Bar
Hidayat aziz alimul. (2009). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.Jakarta:
Salemba Medika
Hidayat, A.A. A. (2011). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika.
https://pojokperawat.wordpress.com/2013/01/04/InfoSehat.(2009). Diakses pada
tanggal 15-05-2018
Kumar R. (2013). Dasar dasar patofisiologi penyakit. Tangerang Selatan:
Binarupa aksara publisher.
Muttaqin, Arif. 2011.Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi asuhan keperawatan
Medikal Bedah.Jakata : Salemba Medika.

52
Nanda Internasional. 2013.Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi
20102013. Jakarta:EGC
Nursalam. (2005). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : Salemba
Medika.
Nurarif amin huda, Kusuma Hardhi. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA NIC NOC. Yogyakarta: Med
Action Publishing
Nurjanah intansari. (2010). Proses Keperawatan NANDA, NIC NOC.Yogyakarta:
Mocomedia
Nursalam, Susilaningrum R, Utami S. (2005). Asuhan Keperawatan Bayi dan
Anak. Jakarta: Salemba Medika
Pratiwi, A dan Utami, Y. W. (2010). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian
Diare pada Anak Balita (Analisis Lanjut Data SDKI 1994). Buletin
Pendidikan Kesehatan. Vol 24 (2dan 3) 1996: 77-96
Priyanto, A., dan Lestari, S., 2009, Endoskopi Gastrointestinal, 86, Salemba Medika,
Jakarta.
Paramitha G.W.dkk, 2010. Perilaku Ibu Pengguna Botol Susu dengan Kejadian
Diare pada Balita. Makara, Kesehatan. 14:46-50.
Prout brian,et.all, (2009). Pedoman praktis diagnosis klinik. Tanggerang:
Binarupa aksara publisher
Putri Yessie Mariza & Wijaya Andra Safari.(2013). KMB 2 Keperawatan Medikal
Bedah (Keperawatan Dewasa). Yogyakarta: Nuha Medika
Sodikin.(2012). Keperawatan Anak : Gangguan Pencernaan.Jakarta:EGC
Suriadi, Yulianni Rita. (2006). Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: Sagung
seto
World Health Organization, 2013, Guideline for The Management of Common
Chilhood Illnesses Second Edition, World Health Organization,
Switzerland.

53
54