You are on page 1of 50

Modul Farmakologi Blok 4.

1 Disease of Cardiovascular and Respiratory

Tim Penyusun:
Dr. dr. Eman Sutrisna, M.Kes
dr. Fajar Wahyu Pribadi, M.Sc
dr. Setiawati, M.Sc
dr. Viva Ratih Bening Ati, M.Si
dr. Afifah, M.Sc

Ucapan Terimakasih kepada:


Ahmad Musafi
Adiputra Wijaya
Aditya Eka Octavian
Farhana Samad
Kresna Mukti
Selmi Junita Rahmawati
Tsania El Izz Avinda

Desain:
Tsania El Izz Avinda

2|Modul Praktikum Farmakologi


ANTIHIPERTENSI

A. DIURETIK
Diuretik m e r u p a k a n o b a t y a n g bekerja meningkatkan ekskresi natrium, air,
dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler Diuretik
mempunyai 5 golongan, y a i t u golongan tiazid, diuretik kuat, diuretik hemat kalium,
carbonic anhidrase inhibitor, dan diuretik osmotik. (Gomer, 2008):

1. Tiazid
a. Mekanisme kerja
Menghambat transport NaCl di tubulus distal ginjal  meningkatkan ekskresi Na & Cl
 meningkatkan eksresi air  Volume darah menurun  Cardiac Output menurun 
Tekanan Darah turun

b. Farmakokinetik
1) Absorpsi
Absorpsi tiazid melalui saluran cerna baik. Umumnya efek obat tampak setelah 1 jam.
2) Distribusi
Klortiazid didistribusikan ke seluruh ruang intrasel dan dapat melewati sawar uri,
tetapi obat ini hanya ditimbun dalam jaringan ginjal saja.
3) Metabolisme dan Ekskresi
Dengan suatu proses aktif, tiazid diekskresi oleh sel tubuli proksimal ke dalam cairan
tubuli. Jadi klirens ginjal obat ini besar sekali, biasanya dalam 3-6 jam sudah diekskresi
dari tubuh.

c. Indikasi
Efek diuretik tiazid terjadi dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian dan bertahan sampai
12-24 jam, sehingga obat ini cukup diberikan sekali dalam sehari.

3|Modul Praktikum Farmakologi


d. ESO
1) Hiponatremia, hiperkalemia, hipomagnesiemi dan hiperkalsemia
2) Hambat ekskresi asam urat
3) Serangan gout akut (pada pasien hiperurisemia)
4) Meningkatkan LDL dan trigliserida
5) Hiperglikemi (pada DM)
6) Gangguan fungsi seksual

e. Dosis dan Contoh Obat

Obat Dosis (mg) Pemberian Sediaan(mg)


HCT 12.5-25 1dd 25, 50
Klortalidon 12.5-25 1dd 50
Indapamid 1,25-2,5
Bendroflumeti 2.5-5 1dd 5
azid
Metolazon 2.5-5 1dd 2.5, 5, 10
Tabel 1. Dosis dan Contoh Obat Diuretik Tiazid

2. Diuretik Kuat
a. Mekanisme kerja
Bekerja di di ansa henle asenden bagian epitel yang tebal dengan menghambat
kotranspor Na, K, Cl dan hambat reabsorbsi air dan elektrolit.

b. Farmakokinetik
1) Absorbsi
Loop diuretic mudah diserap melelui saluran cerna, dengan derajat yang berbeda-
beda. Bioavalabilitas furosemid 65%, sedangkan bumetenid hampir 100%.
2) Distribusi
Obat golongan ini terikat pada protein plasma secara ekstensif, sehingga tidak difiltrasi
glomerulus tetapi cepat sekali disekresi melalui system transport asam organic di
tubulus proksimal.

4|Modul Praktikum Farmakologi


3) Metabolisme
Obat terakumulasi di cairan tubuli dan mungkin sekali di tempat kerja didaerah yang
lebih distal lagi.
4) Eksresi
Kira-kira 2/3 dari asam etakrinat yang diberikan IV diekskresi melalui ginjal dalam
bentuk utuh dan dalam konjugasi dengan senyawa sulfhidil terutama sistein dan N-asetil
sistein.

c. Indikasi
Hipertensi berat, adanya gangguan fungsi ginjal dan payah jantung.

d. ESO
Hampir sama dengan tiazid, kecuali diuretik kuat menimbulkan hiperkalsiuria dan
menurunkan kadar kalsium darah.

e. Dosis dan Contoh Obat


Obat Dosis (mg) Pemberian Sediaan
Furosemid 20-80 2-3 dd Tab 40 mg, amp 20 mg
Torsemid 2.5-10 1-2 dd Tab 5 mg, 10, 20, 100
mg, amp 10 mg/ml
Bumetanid 0.5-4 2-3 dd Tab 0.5 mg, 1 mg, 2 mg
As.etakrinat 25-100 2-3dd Tab 25 dan 50 mg
Tabel 2. Dosis dan Contoh Obat Diuretik Kuat

3. Diuretik Hemat Kalium


( SEAT  Spironolaktone, Eplenerone, Amilorid, Triamteren )
a. Mekanisme kerja
Hambat reabsorbsi natrium dan sekresi kalium dengan jalan antagonis
kompetitif (spironolakton dan Epleneron ) atau secara langsung (triamteren dan amilorid)
di hilir tubuli distal dan duktus koligentes daerah korteks.

b. Indikasi
Digunakan kombinasi dengan diuretik lain untuk mencegah hipokalemia

5|Modul Praktikum Farmakologi


c. ESO : Ginekomastia, Mastodinia, Gangguan menstruasi, Penurunan libido pada pria

d. Dosis dan Contoh Obat

Obat Dosis (mg) Pemberian Sediaan


Amilorid 5-10 1-2 dd Tab 50mg
Spironolakton 25-100 mg 1 dd Tab 25 mg, 100
Triamteren 25-300 mg 1 dd Tab 50 mg

Tabel 3. Dosis dan Contoh Obat Diuretik Hemat Kalium

Gambar 1. Mekanisme dan Tempat Kerja Diuretik

6|Modul Praktikum Farmakologi


B. SIMPATOLITIK
1. β-bloker
a. Mekanisme
Menghambat reseptor beta adrenergik (beta-adenoreseptor), sehingga Terjadi penurunan
frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard  menurunkan curah jantung

Gambar 2. Commented [E1]: Tambahkan ket gambar akan lebih baik

b. Penggunaan
Terutama pada pasien hipertensi dengan penyakit jantung koroner, aritmia supraventrikel
dan angina pektoris.

c. Kontraindikasi
Pasien asma, PPOK, Bradikardi, Blokade AV derajat 2 dan 3, Sick sinus syndrome, Gagal
jantung yang belum stabil, DM

d. ESO
Bronkospasme, Bradikardi, Menurunkan kekuatan kontraksi miokardium, Hambatan
nodus SA, Efek sentral (seperti mimpi buruk, depresi, dan halusinasi), Gangguan fungsi
seksual, Mengurangi gejala hipoglikemi.

7|Modul Praktikum Farmakologi


e. Sediaan dan dosis
Obat Dosis Awal Dosis maks Sediaan
(mg/hr) (mg/hr)
Kardioselektif
Atenolol 25 100 Tab 50 mg, 100 mg
Metoprolol 50-100 200 Tab 50 mg, 100 mg
Kardiononselektif
Karvedilol 12.5 50 Tab 25 mg
Labetolol 100 300 Tab 100 mg
2. α-blocker Commented [E2]: Boleh dijelaskan dulu apa itu reseptor
alfa, ada dimana saja, baru mekanisme kerja
a. Mekanisme kerja
Antagonis reseptor α-1 di perifer r e l a k s a s i o t o t p o l o s p e m b u l u h d a r a h 
v asodilatasi arteri dan vena  menurunkan resistensi perifer

8|Modul Praktikum Farmakologi


b. Penggunaan
1) Cocok untuk pasien hipertensi dengan dislipidemia dan atau DM
2) Digunakan untuk mengurangi hiperplasia prostat
c. ESO
- Hipertensi ortostatik (hipertensi postural) pada pemberian dosis awal
atau peningkatan dosis.
- Sakit kepala, Hidung tersumbat, Mual
- Palpitasi
- Edema perifer
d. Dosis dan sediaan
Obat Dosis awal Dosis maksimal (mg/hr) Sediaan
Prazosin 0.5 4 Tab 1 mg, 2 mg
Terazosin 1-2 4 Tab 1 mg, 2 mg
Bunazosin 1-5 3 Tab 0.5 mg, 1
mg
Doksazosin 1-2 4 Tab 1 mg, 2 mg

C. ANGIOSTENSIN RECEPTOR BLOCKER


a. Mekanisme Kerja
Angiostensin reseptor blocker merupakan obat alternatif dari ACE-inhibitoryang bekerja
dengan menghambat reseptor angiotensin. Efek farmakologis dari obat ini adalah
vasodilatasi dari arteriol dan vena, serta memblokade sekresi aldosteron, sehingga
menurunkan tekanan darah dan menurunkan retensi air dan serta garam. Obat ini juga
teratogenik dan tidak boleh digunakan oleh wanita hamil. Bioavailabilitas obat golongan ini
secara umum sangat rendah <50% kecuali irbesartan, namun obat ini tinggi terikat dengan
protein >90%.

9|Modul Praktikum Farmakologi


b. Contoh obat dan dosis

D. ACE-INHIBITOR
Obat golongan ACE-inhibitor direkomendasikan sebagai terapi lini pertama pada pasien
hipertensi dengan berbagai komplikasi seperti penyakit jantung koroner, riwayat
diabetes,stroke,gagal jantung,infark miokard,dan gagal ginjal kronik.
a. Mekanisme kerja dulu, baru efek samping, baru kontraindikasi
Obat ini di kontraindikasikan pada Wanita hamil trimester kedua dan ketiga, pasien
dengan insufisiensi ginjal, syok kardiogenik, hipotensi parah.

10 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
a. Mekanisme kerja
Menghambat angiotensin converting enzym, yaitu enzim yang menghidrolisis
angiotensin I menjadi angiotensin II dan meningkatkan bradikinin  mengurangi
tahanan vaskuler perifer. Obat-obat ini tidak mengaktifkan reflex simpatis dan dapat
digunakan dengan aman untuk penderita jantung iskemik (Katzung et al., 2014).

b. Efek samping

11 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
c. Contoh obat
1. Captopril
2-3x s e h a r i 6,25mg-12,5mg 1 jam sebelum makan, sediaan tab 12,5mg, 25mg, 50 mg
2. Enalapril
Injeksi perlahan/infus  1,25 mg selama 5 menit, diulang seiap 6 jam bila perlu
Oral  inisiasi 5 mg pada saat sebelum tidur dan maintenance 10-20 mg, 2 kali sehari.
Sediaan tablet 5 mg dan 10 mg.
3. Lisinopril :1 kali sehari 2,5 mg. Sediaan tablet 5 , 10, dan 20 mg.
4. Benazepril : 5 – 80 mg per hari
5. Ramipril : 1,25-20 mg per hari

E. CALCIUM CHANNEL BLOCKER


Obat golongan Calcium channel blocker dibagi menjadi 3 kelas :
1. Diphenylalkylamines
Verapamil adalah satu-satunya anggota kelas ini. Obat ini memiliki efek yang signifikan
pada sel otot polos jantung dan pembuluh darah. Obat ini juga digunakan untuk
mengobati takiaritmia angina dan supraventrikular,mencegah migren dan sakit kepala
klaster.

2. Benzotiazepin
Diltiazem adalah satu-satunya anggota kelas ini, diltiazem mempengaruhi sel otot polos
jantung dan pembuluh darah, dan memiliki efek inotropik negatif yang lebih rendah pada
jantung dibandingkan dengan verapamil. Diltiazem memiliki profil efek samping yang
menguntungkan

3. Dihidropiridin
Golongan calcium channel blocker ini termasuk nifedipine (prototipe), amlodipine,
felodipine, isradipine, nicardipine dan nisoldipine. Obat kelas ini bekerja efektif di pembuluh
darah tapi efek depresi jantung lebih lemah.

12 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
a. Mekanisme Kerja
Konsentrasi kalsium intraseluler memainkan peran penting dalam mempertahankan nada
otot polos dan kontraksi miokardium. Kalsium memasuki sel-sel otot melalui saluran
kalsium sensitif tegangan khusus. Ini memicu pelepasan kalsium dari retikulum
sarkoplasma dan mitokondria, yang selanjutnya meningkatkan kadar sitosol kalsium.
Obat golongan Calcium channel blocker ini menghalangi gerakan kalsium ke dalam
dengan mengikat saluran kalsium tipe-L di jantung dan di otot polos vaskular arteriolar
koroner dan perifer. Hal ini menyebabkan otot polos pembuluh darah menjadi rileks,
terutama dilatasi arteriol. Calcium channel blocker tidak melebarkan vena.

13 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
b. Kegunaan Terapi
Pada manajemen hipertensi, CCB dapat digunakan sebagai terapi awal atau sebagai terapi
tambahan. CCB dalam pengobatan pasien hipertensi yang juga memiliki asma, diabetes, dan
atau penyakit vaskular perifer, karena tidak seperti β-blocker, mereka tidak memiliki potensi
untuk mempengaruhi kondisi ini. Semua CCB berguna dalam pengobatan angina. Selain itu,
diltiazem dan verapamil digunakan dalam pengobatan Atrial fibrillation.

c. Efek samping
AV Block derajat pertama dan konstipasi adalah efek samping yang umum dari verapamil.
Verapamil dan diltiazem harus dihindari pada pasien dengan gagal jantung atau dengan blok
atrioventrikular karena inotropik negatif (kekuatan kontraksi otot jantung) dan efek
dromotropic (kecepatan konduksi). Pusing, sakit kepala, dan perasaan lelah yang disebabkan
oleh penurunan tekanan darah adalah efek samping yang sering timbul dari penggunaan obat
golongan dihidropiridin. Nifedipine dan dihidropiridin lainnya dapat menyebabkan
hiperplasia gingiva.

F. VASODILATOR (Alfa blocker)


a. Mekanisme kerja

Vasodilator menimbulkan efek relaksasi pada otot polos arteriol atau vena-vena 

mengurangi tahanan vascular sistemik  stimulasi respon kompensasi (baroreseptor,


saraf simpatis, dan sistem RAA).

b. Indikasi
Gagal jantung, penyakit jantung iskemik, insufisiensi mitra/aorta, kardiomiopati, hipertensi.

c. Kontraindikasi
Hipotensi

d. Contoh Obat
1. Hidralazin
Mengurangi resistensi perifer dan menyebabkan penurunan diastolik lebih banyak
dibandingkan sistolik. Efek kompensatorik dari mekanisme tersebut dapat memicu

14 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
terjadinya takikardi, peningkatan cardiac output, dan pengeluaran renin, sehingga memicu
retensi air dan natrium. Obat ini juga dapat memicu terjadinya angina. Untuk mengatasi
efek samping dari mekanisme kompensatorik tersebut, penggunaan obat ini dapat
digunakan bersamaan dengan diureik lemah atau golongan beta blocker.
a) Farmakokinetik
Hidralazine di absorbsi baik melalui oral. Distribusi nya bervariasi. Obat ini
dimetabolisme secara lengkap baik pada hepar dan plasma. Metabolitnya di eksresi
melalui urin, dengan waktu paruh 1-2 jam. Efek hipotensif nya menetap sampai 12 jam
dan mungkin bisa persisten.
b) Dosis
25–50 mg; 25 mg tab.
c) Efek samping :
Facial flushing, Nyeri kepala, Pusing, Hidung tersumbat, Injeksi konjungtiva, Palpitasi,
Retensi cairan, Angina dan infarkm miokard pada pasien dengan PJK, Hipotensi
postural, Tremor, SLE and RA like syndroms pada dosis diatas 100mg/ hari pada
perempuan.
.
2. Minoksidil
Obat ini merupakan vasodilator kuat, menyebabkan relaksasi langsung otot polos
arteriolar dengan sedikit efek pada kapasitansi vena. Vasodilatasi ditandai memunculkan
refleks kompensasi yang kuat: peningkatan pelepasan renin dan proksimal tubular Na +
reabsorpsi → ditandai Na + dan retensi air → edema dan CHF dapat terjadi. Aktivitas
simpatik refleks menyebabkan palpitasi dan peningkatan co. Untuk mengimbangi ini, harus
digunakan bersama dengan loop diuretik dan β blocker. Minoxidil adalah prodrug —
diubah menjadi metabolit aktif (dengan konjugasi sulfat) yang merupakan pembuka dari
saluran K + yang dioperasikan ATP sehingga terjadi hiperpolariasi otot polos.

3. Natrium nitroprussid
Obat ini merupakan rapid acting vasodilator yang memiliki durasi aksi 2-5 menit,
sehingga tonus vaskular dapat diturunkan dengan pemberian intravena. Obat ini
menurunkan resistensi perifer, kardiak output, dan kapasitas pembuluh darah. Obat ini
sedikit menimbulkan refleks takikardi dan meningkatkan kadar renin dalam plasma. Pada
pasien dengan gagal jantung dan dilatasi ventrikel, obat ini menurunkan afterload serta

15 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
menurunkan preload. Natrium nitroprussid dapat melebarkan pembuluh darah arteri
maupun vena. Efek samping dari natrium nitroprusside adalah palpitasi,muntah,sakit
perut,kelemahan,disorientasi,dan lactic acidosis.

G. RENIN INHIBITOR
Obat golongan renin inhibitor adalah aliskiren. Aliskiren secara langsung menghambat
renin dan, dengan demikian, bertindak lebih awal dalam sistem renin-angiotensin-aldosteron
dibandingkan ACE inhibitor atau ARB. Obat Ini menurunkan tekanan darah sama efektifnya
dengan ARB, inhibitor ACE, dan tiazid. Aliskiren sebaiknya tidak dikombinasikan dengan ACE
inhibitor atau ARB. Aliskiren dapat menyebabkan diare, terutama pada dosis yang lebih tinggi,
dan juga dapat menyebabkan batuk dan angioedema, tetapi mungkin lebih jarang daripada ACE
inhibitor. Seperti dengan ACE inhibitor dan ARB, aliskiren merupakan kontraindikasi selama
kehamilan. Aliskiren dimetabolisme oleh CYP 3A4 dan berhubungan pada banyak interaksi obat

16 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
OBAT GAGAL JANTUNG

Prinsip dasar terapi farmakologi medikamentosa gagal jantung adalah mencegah remodelling
progresif miokardium serta mengurangi gejala. Gejala dikurangi dengan cara menurunkan preload
(aliran darah balik ke jantung), afterload (tahanan yang dilawan oleh kontraksi jantung), dan
memperbaiki kontraktilitas miokardium. Prinsip terapi dicapai dengan pemberian golongan obat :

A. ACE-I
Obat ini menghambat konversi angiotensin I menjadi angiotensin II. Efek terhadap gagal
jantung mungkin multifaktorial, tetapi mekanisme penting ialah inhibisi parsial jalur renin-
angiotensin-aldosteron dan mengurangi aktivitas simpatetik, menghasilkan vasodilatasi,
natriuresis, dan penurunan tekanan darah. ACE inhibitor berguna mengurangi sesak nafas dan
mengurangi frekuensi eksaserbasi akut gagal jantung (Imaligy, 2014).
Obat golongan ini menjadi lini pertama pengobatan gagal jantung dan menentukan prognosis.

B. ANGIOTENSIN RECEPTOR BLOCKER (ARB)


a. Mekanisme Kerja
ARB mencegah angiotensin II untuk mengikat reseptor angiotensin II pada pembuluh
darah dan jaringan lainnya. Angiotensin II merupakan zat kimia poten yang menyebabkan
otot-otot yang mengelilingi pembuluh darah berkontraksi, sehingga mempersempit pembuluh
darah. Penyempitan pembuluh darah meningkatkan tekanan di dalam pembuluh darah.
Mengurangi pengikatan dan aktivitas angiotensin II menyebabkan pelebaran pembuluh darah
dan mengurangi tekanan darah. Dengan menurunkan tekanan darah berarti jantung bekerja
lebih ringan untuk memompa darah (RxList, 2018).
b. ESO
- Umum : pusing, sakit kepala, mengantuk, mual, muntah, diare, batuk (lebih jarang jika
dibandingkan inhibitor ACE), peningkatan kadar potassium, tekanan darah rendah, nyeri
otot atau tulang, dan ruam.
- Efek samping yang serius namun jarang terjadi meliputi gagal ginjal, gagal hati, reaksi
alergi, sel darah putih rendah, dan pembengkakan jaringan (angioedema).
- ARB biasanya tidak diresepkan untuk pasien hamil karena dikaitkan dengan cacat lahir.

17 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
C. DIURETIK
1. Loop Diuretic
Sudah dijelaskan diatas

2. Tiazid
a. Farmakokinetik
Biasanya semua Tiazid diberikan peroral. Klortiazid merupakan obat yang kurang larut
dalam lemak sehingga harus diberikan dalam jumlah yang cukup besar. Klortalidon
diabsorbsi perlahan dan masa kerjanya panjang.Pada indapamid, betuk ekskresinya dapat
menimbulkan efek diuretik pada tubulus kontortus distal. Semua Tiazid diekskresikan oleh
sistem asam organik dan bersaing pada eksresi asam urat. Maka dapat disimpulkan bahwa
semakin banyak kadar Tiazid dalam darah, semakin tinggi kadar asam urat darah karena
ekskresinya yang bersaing dengan asam urat.
b. ESO
Alkalosis metabolik hipokalemia dan hiperurisemia, Toleransi gangguan karbohidrat,
Hiperlipidemia, Hiponatremia, Reaksi alergi.

3. Antagonis Aldosteron / Diuretik Hemat Kalium


a. Farmakokinetik
Sebagian besar diinaktivasi di hepar. Onsetnya cenderung lambat, membutuhkan beberapa
hari sampai efek penuh tercapai.
b. Mekanisme kerja
Obat yang juga tergolong diuretik ini menurunkan absorbs Na+ di tubulus dan ductus
colligentes, sehingga menahan retensi Na+, air dan beberapa zat lainnya.
c. Indikasi : Gagal jantung, hipertensi dan beberapa penyakit ginjal.
d. Kontraindikasi : Pasien dengan insufisiensi ginjal, dan keadaan hiperkalemia.
e. Efek samping : Ginekomastia, hiperkalemia, asidosis metabolik, gagal ginjal

D. BETA BLOCKER
a. Farmakokinetik
Golongan ini mudah diserap secara oral. Kadar puncak di plasma sekitar 1-3 jam pasca
menelan obat. Bioavaibilitas obat ini tergolong rendah karena melewati metabolisme lintas

18 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
pertama di hepar. Beta blocker didistribusikan dalam jumlah besar, dengan waktu paruh rata-
rata 3-10 jam.

b. Mekanisme Kerja
Secara farmakodinamik, obat golongan ini bersaing dalam menempati reseptor beta
adrenergik. Pada pasien dengan hipertensi, beta blocker bekerja menurunkan tekanan darah.
Selain itu, pada organ jantung, obat golongan ini juga memiliki efek penurunan kecepatan
denyut jantung (kronotropik negatif) dan menurunkan kontraktilitas (inotropik negatif).

c. Indikasi
Efektif digunakan sebagai obat hipertensi dan gagal jantung.

d. Kontraindikasi
Pasien asma dikontraindikasikan dengan obat ini. Dahulu beta blocker dilarang pada kasus
gagal jantung, namun sekarang digunakan secara hati-hati pada pasien gagal jantung kronis,
namun tidak pada gagal jantung akut.

e. Efek samping
Hipotensi, Bradikardi, Rasa lelah, Retensi urin.

f. Contoh dan Bentuk Sediaan Obat


1. Esmolol
2. Parenteral: 10 mg/mL for IV injection; 250 mg/ mL for IV infusion
3. Labetalol
Oral: 50, 100, 200, 300 mg tablets  Oral sustained-release: 25, 50, 100, 200 mg tablet
Parenteral: 5 mg/mL for injection Metoprolol (generic, Lopressor, Toprol)  Parenteral
sustained-release 1 mg/mL for injection
4. Nadolol : Oral 20, 40, 80, 120, 160 mg tablets
5. Nebivolol : Oral 2.5, 5, 10 mg tablets
6. Penbutolol : Oral 20 mg tablets
7. Pindolol : Oral 5, 10 mg tablets
8. Propranolol : Oral 10, 20, 40, 60, 80, 90 mg tablets; 4, 8, 80 mg/mL solutions ; Parenteral:
1 mg/mL for injection

19 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
E. KARDIOTONIK/DIGITALIS/GLIKOSIDA JANTUNG
a. Farmakokinetik
Absorbsi 65-80% pada pemberian oral. Saat berada di dalam peredaran darah, seluruh
glikosida jantung didistribusikan ke banyak jaringan, termasuk sistem saraf pusat. Digoksin
tidak dimetabolisme secara luas oleh manusia. Sebagian besar diekskresikan tanpa perubahan
oleh ginjal.

b. Mekanisme Kerja
 Meningkatkan curah jantung dengan efek inotropik positif (meningkatkan kontraksi otot
jantung dan meningkatkan curah jantung)
 Menurunkan kecepatan konduksi melalui nodus AV dan nodus SA pada jantung.
 Glikosida kardioaktif bekerja dengan menghambat NA+ K+-ATP-ase

c. Indikasi
Gagal jantung dan atrial fibrilasi

d. Kontraindikasi
Hipersensitivitas, AV blok.

e. Efek Samping
Nyeri kepala, lemah, gangguan penglihatan, mual, muntah, anoreksia, aritmia

f. Contoh dan Bentuk Sediaan Obat


Digoxin
Oral : 0.125 (lansia), 0.25 mg tablets; 0.05, 0.1, 0.2 mg capsules*; 0.05 mg/mL elixir .
Parenteral : 0.1, 0.f 25 mg/mL for injection

20 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
OBAT ANTIARITMIA

Aritmia adalah gangguan irama jantung, suatu kondisi dimana jantung berdenyut tidak menentu,
baik kecepatan, irama, maupun tempat asal impuls dan gangguan konduksi yang menyebabkan
perubahan aktivasi atrium dan ventrikel. Kelainan yang terjadi adalah pembentukan impuls, konduksi
impuls, atau pembentukan dan konduksi impuls.

Klasifikasi Obat Antiaritmia

A. GOLONGAN I
a. Mekanisme kerja
Obat obat antiaritmia Golongan 1 bekerja dengan menghambat kanal natrium yang sensitif
voltase oleh mekanisme yang sama dengan kerja anestesi lokal. Penurunan kecepatan
masuknya natrium memperlambat kecepatan kenaikan fase nol dari potensial yang aksi
Karena itu, obat obat antiaritmia Golongan 1 umumnya menyebabkan penurunan aksi
eksitabilitas dan kecepatan konduksi.

21 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
b. Contoh obat
Golongan I A
menyebabkan depresi sedang fase 0, memperpanjang depolarisasi, meningkatkan durasi
potensial aksi dan repolarisasi.
- Kuinidin : untuk aritmia atrial dan ventricular, meningkatkan periode refractory
- Prokainamid : meningkatkan periode refractory
- Disopiramid : memperpanjang durasi aksi, hanya digunakan untuk tritmen aritmia
ventricular
Golongan IB
menyebabkan depresi sedang fase 0, memperpanjang depolarisasi, meningkatkan durasi
potensial aksi.
- Lidokain : memblok kanal Na+ terutama di sel ventricular, juga baik untuk aritmia
karena digitalis
- Fenitoin : antikonvulsan yang juga bekerja sebgai antiaritmia sama seperti lidocane
- Tokainid meksiletin : turunan lidocaine oral, aktivitasnya sama
Golongan IC
Menyebabkan depresi kuat fase 0, tidak mempunyai efek pada depolarisasi, tidak ada efek
pada durasi potensial aksi.
- flekainid, enkainid, propafenone

22 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
c. Efek samping
Hipotensi, Cinchonism ringan (tinitus, tuli, penglihatan kabur, dan keluhan saluran cerna)
Pada keracunan berat timbul sakit kepala, diplopia, fotofobia, perubahan persepsi warna,
bersamaan dengan gejala bingung, derilium dan psikosis. Mengantuk, nistagamus, vertigo,
ataksia, dan mual. Tokainid dan meksiletin menyebabkan pusing, ringan kepala dan tremor,
dan gejala saluran cerna berupa mual, muntah, dan anoreksia. Meningkatkan resiko kematian
mendadak dan henti jantung.
d. Kontraindikasi
Pasien yang menggunakan digoxin dan digitoxin karena dapat meningkatkan toksisitasnya.
Pada pasien berpenyakit jantung dapat menyebabkan berkurangnya darah hati, dan penurunan
kecepatan metabolism lidokain dan meningkatkan kadarnya dalam plasma. Jangan digunakan
bersama dengan simetidin.

B. GOLONGAN II
a. Mekanisme kerja
Merupakan antagonis β adrenergic. Bekerja dengan cara mengurangi stimulasi saraf simpatis.
Obat obat ini mengurangi depolarisasi fase 4, sehingga memerlukan otomatisasi,
memperpanjang konduksi AV, menurunkan denyut jantung dan kontraksi.
b. Contoh obat : propranolol, asebutolol, esmolol, nadolol. atenolol
c. Efek samping : Hipotensi, gagal ventrikel kiri, memperberat angina dan aritmia jantung, dan
menimbulkan infark miokard akut.
d. Kontraindikasi
Pengobatan jangka panjang dengan digitalis dapat menyebabkan gagal jantung. Penghentian
mendadak dapat memperberat angina dan menimbulkan infark miokard akut

23 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
C. GOLONGAN III
a. Mekanisme kerja
Menghambat kanal kalium dan karenanya mengurangi arus kalium keluar selama
repolarisasi sel jantung. Obat ini memperpanjang lama potensial aksi tanpa mengganggu
depolarisasi fase 0 atau potensial membran istirahat. Selanjutnya, obat ini memperpanjang
periode refrakter efektif.
b. Contoh obat :
- Bretilium absorpsinya buruk. Melalui injeksi intramuskular. Tidak dimetabolisme,
langsung dieliminasi hampir semuanya di ginjal. Waktu paruhnya 9 jam dan naik menjadi
15-30 jam pada pasien gagal ginjal.
- Amiodaron diabsorpsi secara lambat atau tidak sempurna melalui peroral.
Bioavaibilitasnya 30%. Kadar puncak tercapai setelah 5-6 jam. Dimetabolisme secara
lambat di hati. Waktu paruhnya panjang 25-60 hari.metabolitnya aktif.
- Sotalol diabsorpsi dengan cepat melalui peroral. Bioavaibilitas hampir 100%. Kadar
maksimum setelah 2-3jam. Waktu paruhnya 10-11 jam. Eliminasinya melalui urin.
c. Indikasi
Bretilium hanya diindikasikan untuk pengobatan aritmia ventrikel yang mengancam jiwa.
Pemberian bretilium harus dilakukan di ruang perawatan intensif. Amiodaron dapat
digunakan untuk fibrilasi atrium berulang dan untuk takikardia ventrikel yang tak stabil dan
berkelanjutan. Sotalol merupakan obat yang lebih aman dibandingkan amiodaron, sehingga
dapat dijadikan obat lini pertama menangani aritmia ventrikel maligna. Sotalol juga efektif
untuk pengobatan takikardia supraventrikel paroksimal dan fibrilasi atrium.
d. Efek samping
Hipotensi, gangguan paru paru, gangguan fungsi hati, microdeposit kornea, asimptomatik,
fotosensivitas kulit, kulit berwarna biru, bertambah beratnya antmia, gangguan fungsi tiroid,
gagal jantung.
e. Kontraindikasi
Interaksi obat lain dengan amiodaron dapat meningkatkan kadar dan efeknya. Gejala
intreraksi dapat bertahan beberapa minggu setelah obat dihentikan. Interaksi berupa
meningkatkan kadar dan efek digoksin, warfarin, kuinidin, prokainamid, fenitoin, enkainid,
fenkainid, dan diltiazem. Amiodaron meningkatkan kecenderungan bradikardia, henti sinus,
dan penghambatan AV bila diberikan bersama beta-blocker dan atau penghambat kanal Ca.

24 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
D. GOLONGAN IV
a. Mekanisme kerja
Menghambat kanal kalsium. Obat ini mengurangi arus masuk yang dibawa kalsium.
Menyebabkan penurunan kecepatan depolarisasi spontan fase 4 dan memperlambat konduksi
yang terdapat dalam jaringan yang bergantung pada arus kalsium seperti nodus AV.

b. Contoh obat : verapamil dan diltiazem

c. Indikasi
Penggunaan terapinya, verapamil telah menjadi obat pilihan pertama untuk pengobatan
serangan akut takikardia supraventrikel paroksimal yang disebabkan oleh arus balik pada
nodus AV atau karena anomali hubungan nodus AV. Verapamil juga bermanfaat untuk
penurunan segera respon ventrikel pada fibrilasi atau flutter atrium bila aritmia tidak disertai
dengan sindrom Wolff-Parkinson-White. Verapamil dan diltiazem tidak digunakan pada
pengobatan aritmia ventrikel, kecuali penyebabnya adalah spasme arteri koronaria.

d. Efek samping
Gangguan jantung, gangguan saluran cerna, hipotensi,fibrilasi ventrikel, konstipasi.

e. Kontraindikasi
Dikontraindikasikan pada pasien hipertensi, gagal jantung berat, sindrom sinus sakit, blok
AV, sindrom wolf Parkinson –white, takikardia ventrikel.
Interaksi obatnya, pemberian verampamil bersama beta blocker atau digitalis secara aditif
dapat menimbulkan bradikardia atau blok AV. Pemberian verapamil atau diltiazem bersama
reserpin atau metildopa, yang dapat mendepresikan sinus dan akan memperhebat bradikardia.

25 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
E. OBAT ANTI ARITMIA LAINNYA
1. Digoksin (Digitalis)
a. Mekanisme kerja
Digitalis mempunyai khas vagotonik yang menyebabkan penghambatan aliran kalsium
di nodus AV dan aktivasi aliran kalsium yang diperantarai asetilkolin di atrium. Efeknya
secara tak langsung adalah hiperpolarisasi, pemendekan aksi potensial atrium dan
peningkatan masa refrakter di nodus AV. Digitalis dikhususkan untuk fibrilasi atrium yang
menyertai payah jantung.
b. Efek samping : Dapat memperburuk fungsi jantung.
c. Kontraindikasi
Digitalis khusus berguna untuk fibrilasi atrium yang menyebabkan payah jantung, dimana
apabila diberikan bersama antagonis kalsium atau penyekat reseptor beta akan
memperburuk fungsi jantung.
2. Adenosin
a. Mekanisme kerja:
Adenosin adalah nukleosid yang alamiah ada dalam tubuh. Adenosin mengaktifkan
aliran ion kalium yang sensitif asetilkolin di atrium, sinus, dan nodus AV, yang
menghasilkan pemendekan lama aksi potensial, hiperpolarisasi dan pelambatan
automtisitas.
b. Efek samping : Asistol sementara, sesak dada
c. Kontraindikasi
Pemberian secara bolus intravena cepat. Karena apabila diberikan secara lambat, dapat
menyebabkan obat ini tidak berefek karena cepat dieliminasi. Jangan digunakan bersama
dipiridamol, teofilin dan kafein. Karena akan menghambat efek dari adenosin.
3. Magnesium
a. Mekanisme kerja
Memperpanjang siklus sinus, memperlambat konduksi AV, dan memperlambat konduksi
intraatrial dan intravena. Magnesium juga memperpanjang masa refrakter efektif atrium,
nodus AV, dan ventrikel.
b. Efek samping : Keracunan menyebabkan hipotensi, memperpanjang interval PR dan QRS
dan peninggian puncak T, penurunan dosis secara bermakna menyebabkan kematian
(aritmia berat pada infark miokard).
c. Kontraindikasi: Pemberian berlebih dapat menyebabkan keracunan.

26 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
OBAT ANTI ANGINA

Angina pectoris merupakan kondisi iskemia jaringan yang ditandai dengan nyeri dada hebat yang
disebabkan karena ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen miokard dengan pasokan oksigen
melalui pembuluh darah koroner. Obat antiangina berperan dalam mengurangi kebutuhan oksigen
miokard dengan menurunkan faktor-faktor penentu kebutuhan oksigen (frekuensi jantung, volume
ventricular, tekanan darah dan kontraktilitas). Kelompok obat yang digunakan untuk terapi angina
adalah:
A. Nitrat Organik
Nitrogliserin merupakan terapi utama yang berefek cepat untuk angina. Nitrogliserin
menyebabkan aktivasi guanilil siklase dan peningkatan cGMP yang memicu relaksasi semua
jenis otot polos. Efek langsung nitrogliserin adalah relaksasi vena dan >> kapasitas vena  <<
aliran balik vena dan << proload ventrikel (mengurangi kebutuhan oksigen). Selain itu relaksasi
arteri akan menyebabkan << vasokonstriksi dan spasme koroner (pada angina varian)  >>
perfusi ke miokard. Contoh obat: nitrogliserin dan Isosorbid Dinitrat (ISDN).

B. Calcium Channel Blocker (CCB)  penjelasan sebelumnya

C. β –Blocker
Menghambat reseptor β adrenergic secara kompetitif  penurunan denyut jantung, tekanan
darah, dan kontraktilitas jantung  menurunkan kebutuhan oksigen jantung saat istirahat
maupun aktivitas fisik.

D. Obat antiangina baru


modulator metabolic (ranolazin, trimetazidin). Menghambat jalur oksidasi asam lemak di
miokard  kebutuhan oksigen <<

27 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
CARA KERJA PRAKTIKUM I

A. Capaian pembelajaran
a. Umum
Mahasiswa dapat menjelaskan perubahan jantung katak setelah pemberian sulfas atropin
b. Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan pengaruh kelistrikan jantung
b. Mahasiswa mampu menjelasakan peran syaraf autonom dalam mengatur jantung
c. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme sulfas atropin terhadap perubahan fisiologis
jantung

B. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Beaker Glass
b. Spuit Tuberculin c. Pinset
d. Gunting
e. Perusak SSP Katak f. Isolasi
g. Papan
h. Penggantung Katak
2. Bahan
a. Sulfas Atropin 0,5 cc
b. Ringer Laktat
3. Binatang percobaan  2 Ekor Katak

C. Rencana Kerja
1. Rusak SSP masing – masing katak.
2. Terlentangkan masing – masing katak di atas papan.
3. Gunting kulit bagian ventral katak untuk membuka abdomen sampai thoraks dari katak
4. Buka selaput perikardium katak
5. Jaga jantung katak agar tetap basah dengan diteteskan larutan ringer laktat secukupnya
6. Katak pertama berikan 1 tetes larutan ringer laktat tiap 1 menit, sedangkan katak kedua
berikan sulfas atropin 1 tetes.
7. Catat denyut, ukuran, warna, irama atrium dan ventrikel selama 5 menit selama 15 menit.

28 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
OBAT ASMA

Asma didefinisikan menurut ciri-ciri klinis, fisiologis dan patologis. Ciri-ciri klinis yang dominan
adalah riwayat episode sesak, terutama malam hari yang disertai batuk. Pada pemeriksaan fisik, tanda
yang sering ditemui adalah wheezing. Ciri-ciri utama fisiologis adalah episode obstruksi saluran
nafas, yang ditandai oleh keterbatasan arus udara pada saat ekspirasi. Sedangkan ciri-ciri patologis
yang dominan adalah inflamasi saluran nafas yang kadang disertai dengan perubahan struktur saluran
nafas.

MEKANISME

29 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
Klasifikasi Asma Berdasarkan Tingkat Keparahan (WINA, 2015)

ALGORITMA TERAPI

Treatment Steps
Step 1 Step 2 Step 3 Step 4 Step 5
Asthma education
Environmental control
As needed rapid acting β-2 agonist
Select One Select One Add one or more Add one or Both

Low Dose Inhaled Low dose ICS plus Medium or high Oral
glucocorticosteroids long acting β-2 dose ICS plus long glucocorticosteroid
Controller Options

(ICS) agonist acting β-2 agonist (lowest dose)


Medium or high leukotrine modifier Anti-IgE treatment
dose ICS
Low dose ICS plus sustained release
leukotrine modifier theophylline
Low dose ICS plus
sustained release
theophyline

30 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
GOLONGAN OBAT

Reliever : Dipakai saat serangan. Prinsipnya : dilatasi jalan nafas (relaksasi otot polos,
perbaiki bronkokontriksi ) dan tidak memperbaiki inflamasi jalan nafas/menurunkan
hiperresponsif.
• Agonis beta 2 kerja singkat
• Kortikosteroid sistemik
• Antikolinergik
• Metilxantin
• Adrenalin

Controller : Dipakai sehari-hari untuk pencegahan serangan

• Kortikosteroid
• Sodium kromoglikat
• Nedokromil sodium
• Metilxantin
• Angonis beta 2 kerja lama
• Leukotrien modifiers
• Antagonis H1

A. SIMPATOMIMETIK
a. Mekanisme kerja agonis adrenoseptor adalah :
- Merangsang adenil siklase dan meningkatkan pembentukan cAMP intrasel
- Melemaskan otot polos saluran nafas
- Menghambat pelepasan mediator bronkokontriksi dari sel-sel mas
- Menghambat kebocoran mikrovaskular dan meningkatkan transport mukosiliar
Agonis adrenoseptor paling baik diberikan melalui inhalasi, sehingga dapat menimbulkan efek
yang sangat cepat pada otot polos saluran nafas dan mengurangi toksisitas sistemik. Agen
simpatomimetik terdiri dari 2, yaitu : β2 agonis selektif (albuterol, metoproterenol, terbutaline,
salmeterol) dan β1 agonis non selektif (epinefrin, ephedrine, isoprotenolol). β2 agonis selektif
lebih sering digunakan .
b. Klasifikasi
1) Kerja langsung/kerja cepat ( 15-30 menit)
Tidak melewati neuron presinaptik
ESO : takikardi, hiperglikemia, hipokalemia, hipomagnesemia
KI : pasien dengan kasus tekanan intrakranial tinggi, aritmia jantung, edema paru.
Interaksi obat : >> efek epinefrin dan kokain
Contoh obat : epinefrin, isoproterenol, terbutalin, albuterol, metaproterenol.

31 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
2) Kerja lambat (> 12 jam)
Melalui neuron presinaptik
Dapat diberikan secara inhalasi maupun sistemik
ESO : rangsangan kardiovaskular, anxiety, dan tremor otot rangka
Contoh : amfetamin, salmeterol, formoterol
Interaksi obat : salmeterol + kortikosteroid  meningkatkan kontrol asma.

B. METILXANTIN
a. Mekanisme kerja :
- Menghambat enzim fosfodiesterase, sehingga meningkatkan konsentrasi cAMP yang
menimbulkan efek relaksasi otot polos  bronkodilatasi. Efek ini terjadi pada konsentrasi
tinggi (>10 mg/dL).
- Menurunkan pelepasan sitokin dan kemokin dari sel-sel inflamasi  penurunan migrasi dan
aktivasi sel-sel imun pada dosis rendah (5-10mg/dL).
b. Interaksi Obat :
- Sebagai pelega (reliever) dikombinasikan dengan agonis β adrenergic kerja singkat,
- Sebagai controller dikombinasikan dengan kortikosteroid inhalasi.
c. Contoh obat : teofilin, teobromin dan kafein
Teofilin merupakan bronkodilator paling efektif. Preparat teofilin yang sering digunakan dalam
pengobatan adalah aminofilin. Teofilin memiliki jendela teraupetik yang sempit, sehingga
dalam penggunaannya harus berhati-hati. Kafein merupakan bronkodilator ringan dan memiliki
efek SSP yang paling menonjol (Katzung et al., 2014)
d. Sediaan : per oral, 3-4 mg/kg tiap 6 jam
e. Efek Samping :
- Kadar > 20mcg/mL : mual, muntah, diare, sakit kepala, insomnia, iritabilitas.
- Kadar >35mcg/mL: hiperglisemia, hipotensi, aritmia, kerusakan otak dan kematian.
- Reaksi sensitivitas termasuk dermatitis eksfoliatif dan urtikaria.
- CV : konotropik dan inotropik positif  palpitasi, takikardia, hipotensi, kegagalan
sirkulasi, aritmia ventrikular.
- SSP : iritabilitas, sakit kepala, insomnia, kedutan dan kejang
- Saluran Pencernaan : mual, muntah, sakit epigastrik, hematemesis, diare,
- Ginjal : proteinuria, potensiasi diuresis
- Respiratori: takipnea, henti nafas.

32 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
f. Kontraindikasi :
Hipersensitivitas terhadap semua xantin, peptik ulser, mengalami gangguan seizure, gangguan
hepar (dimetabolisme di hepar, jika ada gangguan hepar maka akan menyebabkan konsenstrasi
toksik obat) (Katzung et al., 2014).

C. AGEN ANTIMUSKARINIK
a. Mekanisme kerja
Menghambat efek asetilkolin pada reseptor-reseptor muskarinik secara kompetitif 
menghambat kontraksi otot polos saluran nafas dan memblokade peningkatan sekresi mukus.
Penggunaan antimuskarinik inhalasi dalam terapi asma masih terbatas. Obat ini berguna
sebagai terapi alternatif untuk pasien yang tidak toleran terhadap agonis adrenoseptor β2.
b. Contoh obat :
Ipratropium bromide, tiotropium bromide (per inhalasi).

Mekanisme Kerja Agonis Beta, Metilxantin, Dan Antimuskarinik (Katzung et al., 2014)

33 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
D. Kortikosteroid
a. Mekanisme kerja :
Mengurangi aktivasi mediator inflamasi  kontriksi pembuluh darah, penurunan permeabilitas
pembuluh darah, mengurangi edema mukosa, dan menghambat pelepasan leukotrien. Secara
tidak langsung, kortikosteroid dapat merelaksasikan otot polos saluran nafas.
b. Sediaan dan Dosis :
Sistemik (oral dan parenteral ) dan inhalasi
Kortikosteroid per oral dan parenteral hanya boleh digunakan untuk terapi reliever, tidak boleh
diberikan secara kronis. Untuk terapi controller bisa digunakan kortikosteroid aerosol. Untuk
mencegah asma nocturnal, kortikosteroid oral atau inhalasi paling efektif jika diberikan pada
malam hari.
Contoh :
Prednisone, metilprednisolon, beklometason, budesonid, flunisonid, triamsinolon
Dosis :
- Controller : beclometason 2 d.d, 4 puff (400 mcg/hari)
- Reliever : prednisone oral dosis 30-60 mg/hari / metilprednisolon IV 1mg/kg/6jam.
c. ESO :
1) Inhalasi  kandidiasis orofaring, disfonia, dan batuk iritasi tenggorokan, suara serak, batuk,
mulut kering, ruam, pernafasan berbunyi, edema wajah dan sindrom flu.  dicegah dengan
spacer.
2) Sistemik  osteoporosis, hipertensi, diabetes, katarak, glaucoma, obesitas, supresi aksis
adrenal pituitary hypothalamus.

34 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
E. PENGHAMBAT LEUKOTRIEN
Penghambat leukotrien adalah obat yang mampu menghambat efek dari sistinil leukotrin pada
saluran nafas. Penghambat leukotrien mempunyai kemampuan untuk memungkinkan terjadinya
pengurangan dosis steroid inhalasi untuk mengontrol eksaserbasi asma. Obat ini bisa bermanfaat
dengan baik pada asma akibat kerja fisik dan pada asma yang disertai rhinitis, tetapi kurang efektif
pada asma berat yang juga menerima obat obat lain dengan dosis tinggi.
a. Farmakokinetik
Obat ini diberikan secara oral. Zafirlukast diserap dengan cepat, dengan bioavaibilitas lebih
dari 90%. Pada plasma, obat ini terikat dengan protein lebih dari 99% . Zafirlukast
dimetabolisme oleh CYP2C9 di hati. Bagian yang belum menjadi metabolit lebih berfungsi
untuk aktivitas terapeutik.
Montelukast diserap dengan cepat, dengan bioavaibilitas sekitar 60-70%. Obat ini juga
sangat terikat dengan protein (99%). Obat ini dimetabolisme secara luas oleh CYP3A4 dan
CYP2C9.
Zileuton diserap dengan cepat pada pemberian oral dan dimetabolisme oleh CYPs dan UDP-
glucuronosyltransferases. 93% bagian Zileuton terikat dengan protein.

b. Cara Kerja Obat


- Antagonis Reseptor Leukotrin
Cysteinyl Leukotriene (CYS-LT) merupakan konstriktor dari otot polos bronkial.
Reseptor dari efek bronkokontriktor di leukotrien adalah reseptor CYS-LT1. Zafirlukast dan
montelukast merupakan antagonis kompetitif dengan selektivitas dan afinitas yang kuat
untuk reseptor CYS-LT1. Dengan menghambat reseptor resebut maka bronkokontriksi tidak
akan terjadi. Efek dari CYS-LT yang terkait dengan asma bronkial tidak terbatas pada
bronkus kontraksi otot polos saja tetapi CYS-LT dapat meningkatkan kebocoran
mikrovaskular, meningkatkan produksi lendir, dan meningkatkan eosinofil dan basofil
masuk ke dalam saluran nafas.
- Inhibitor Sintesis Leukotriene
Pembentukan leukotrien bergantung pada lipoksigenisasi asam arakidonat oleh 5-
lipoxygenase. Zileuton adalah inhibitor poten dan selektif untuk aktivitas 5-lipoxygenase.

35 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
c. Efek Samping Obat
- Zafirlukast
gangguan saluran cerna, sakit kepala, insomnia, malaise, jarang terjadi perdarahan, reaksi
hipersensitivitas termasuk angioudem dan reaksi pada kulit, atralgia, mialgia, hepatitis,
hiperbilirubinnemia, trombositopenia, sangat jarang terjadi sindrom churg-strauss,
agranulositosis.
Dosis: 20 mg dua kali sehari, Anak di bawah 12 tahun, tidak dianjurkan.

- Montelukast
Sangat umum : ISPA.
Umum : diare, mual, muntah, peningkatan kadar serum transaminase (ALT, AST), ruam.
Tidak umum : reaksi hipersensitivitas termasuk anafilaksis, mimpi buruk,
insomnia, somnambulism, iritabilitas, ansietas, gelisah, agitasi termasuk tingkah laku yang
agresif atau marah, depresi, pusing, mengantuk, paraestesia/hipoestesia, kejang, epistaksis,
mulut kering, dispepsia, memar, urtikaria, pruritus, artralgia, mialgia termasuk kram otot,
astenia/kelelahan, malaise, udem.
Dosis:
Asma 10 mg sekali sehari pada malam hari.
Bronkokonstriksi akibat berolahraga 10 mg diminum 2 jam sebelum berolahraga.
Dosis tambahan tidak boleh diminum dalam 24 jam dari dosis sebelumnya. Pasien yang telah
menggunakan montelukas sehari-hari untuk indikasi lain (termasuk asma kronis) tidak boleh
meminum dosis tambahan untuk mencegah bronkokonstriksi akibat berolahraga.

36 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
F. ANTI-IgE
Contoh : Omalizumab
Omalizumab adalah anti-IgE antibodi monoklonal yang dibuat dengan teknologi rekombinan
DNA hamster, disetujui digunakan untuk pasien asma sedang hingga berat yang tidak terkontrol
dengan inhalasi kortikosteroid.
a. Indikasi
Dewasa dan remaja yang lebih tua dari 12 tahun dengan alergis dan asma persisten sedang
sampai berat.
b. Farmakokinetik
Sediaan inhalasi memiliki mula kerja yang cepat (waktu untuk mencapai kadar maksimum 13
menit) dibandingkan dengan sediaan oral (1,8 jam). Di samping itu, efek sistemik pemberian
secara inhalasi lebih kecil dibandingkan dengan pemberian per oral.10 Parameter
farmakokinetik lainnya :
- Absorpsi (sistemik) lambat; bioavailabilitas: 62%
- Distribusi (sistemik): Vd: 78±32mL/kg
- Ekskresi (sistemik): bilier; hepatik
- Waktu paruh (sistemik): 26 hari.
c. Cara Kerja Obat
Omalizumab mengikat IgE bebas dalam sirkulasi untuk membentuk kompleks
omalizumab-IgE dan tidak bisa terikat untuk FcεRI (Reseptor pada sel mast dan basofil),
sehingga mediator inflamasi seperti histamin dan triptase tidak muncul dan proses inflamasi
tidak terjadi.
Omalizumab efektif dalam mengurangi ketergantungan pada kortikosteroid inhalasi dan oral
serta dalam mengurangi frekuensi eksaserbasi asma. Omalizumab bukanlah bronkodilator
akut dan tidak boleh digunakan sebagai obat darurat.
d. Efek Samping Obat
Omalizumab umumnya ditoleransi dengan baik. Efek samping yang paling sering adalah reaksi
di tempat injeksi (kemerahan, muncul bekas seperti disengat, memar, dan indurasi. Sedangkan
efek samping serius yang pernah terjadi adalah reaksi syok anafilaksis.
e. Contoh dan Bentuk Sediaan Obat
Bubuk untuk injeksi subkutan: 202.5 mg

37 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
G. ANTIHISTAMIN
Histamin merupakan sebuah substansi yang berada pada banyak jaringan tubuh seperti jantung,
paru, mukosa lambung dan kulit. Histamin yang berfungsi sebagai respon adanya cedera atau
kerusakan paling banyak terdapat dalam komponen imun seperti sel darah putih. Efek histamin
diantaranya adalah dilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah.
Antihistamin bekerja dengan berkompetisi melawan histamine untuk menduduki reseptornya.
Beberapa antihistamin memiliki efek tambahan seperti antipruritus, antiemetik maupun efek
sedasi. Obat golongan ini digunakan sebagai pereda alergi, rhinitis, konjungtivitis, urtikaria, syok
anafilaktik, mual muntah dsb. Antihistamin dibagi menjadi antagonis reseptor H1, H2, H3 dan H4.
Semua antihistamin bermanfaat besar pada terapi alergi nasal, rhinitis alergika dan mungkin
juga pada rhinitis vasomotor. Antihistamin mengurangi sekresi nasal dan bersin tetapi kurang
efektif untuk kongesti hidung. Antihistamin topikal digunakan pada mata, hidung dan kulit.
Antihistamin oral juga dapat mencegah urtikaria dan digunakan untuk mengatasi ruam kulit
pada urtikaria, gatal, gigitan dan sengatan serangga, serta alergi obat. Injeksi klorfeniramin atau
prometazin digunakan sebagai terapi tambahan pada terapi darurat anafilaksis dan angioedema
dengan adrenalin. Antihistamin (sinarisin, siklisin dan prometasin teoklat) digunakan pada mual
dan muntah. Antihistamin kadang digunakan untuk insomnia.
Antihistamin berbeda-beda dalam lama kerja serta dalam derajat efek sedatif dan
antimuskarinik. Antihistamin golongan lama relatif mempunyai kerja pendek tetapi beberapa
(misal prometazin) memiliki kerja sampai 12 jam, sedangkan antihistamin non sedatif yang
lebih baru memiliki kerja panjang. Semua antihistamin golongan lama menyebabkan sedasi,
meskipun alimemazin (trimeprazin) dan prometazin mempunyai efek sedasi yang lebih besar
dibanding klorfeniramin dan siklizin. Efek sedasi ini kadang-kadang dibutuhkan untuk
mengendalikan gatal karena alergi. Tidak banyak bukti yang menunjukkan bahwa antihistamin
sedatif yang satu lebih baik dari yang lain karena pasien mempunyai respons yang sangat berbeda
satu sama lain. Antihistamin non sedatif seperti setirizin, levosetirizin, loratadin, desloratadin,
feksofenadin, terfenadin dan mizolastin lebih sedikit menyebabkan efek sedasi dan gangguan
psikomotor dibanding golongan lama karena jumlah obat yang menembus sawar darah otak hanya
sedikit.

38 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
OBAT ANTI-TUBERKULOSIS

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium Tuberkulosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya.

Prinsip pengobatan TB :

1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat dengan jumlah cukup dan dosis
yang tepat sesuai dengan kategori pemberian
2. Harus dilakukan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) untuk menjamin agar
pasien patuh menelan obat
3. Pengobatan dilakukan dalam 2 tahap, intensif dan lanjutan. Tahapan intensif diberikan setiap hari
sedangkan lanjutan 3xseminggu. Obat sisipan (RHZE) diberikan jika pada akhir pengobatan fase
intensif namun BTA masih +. Akhir fase intensif kategori I dan III yaitu seminggu sebelum akhir
bulan ke-2. Kategori II sebelum akhir bulan ke-3

Pengobatan TB dibagi dalam 3 kategori berdasarkan jenis TB


Kategori Jenis TB Pengobatan
TB Paru BTA (+) kasus baru
TB Paru BTA (-), RÖ (+) lesi luas /
Kategori 1 2RHZE / 4R3H3
sakit berat
TB ekstra paru berat
TB Paru kambuh
2HRZES/1HRZE/
Kategori 2 TB Paru gagal
5H3R3E3
TB Paru lalai (D.O)
TB Paru BTA (-), RÖ (+) lesi / sakit
Kategori 3 ringan 2HRZ/4H3R3
TB ekstra paru ringan

39 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
Banyak tablet
BB
Tahap Intensif : 56 hari Tahap Lanjutan : 16 minggu
(kg)
RHZE (150/75/400/275) RH (150/150)
30-37 2 2

38-54 3 3

55-70 4 4

>70 5 5

Obat Dosis Dosis yang dianjurkan Dosis Dosis (mg/kgBB)


(mg/kgBB/hari Harian Intermitten Max <40 40- >60
(mg/kgBB/hari) (mg/kgBB/hari) 60
R 8-12 10 10 600 300 450 600
H 4-6 5 10 300 150 300 450
Z 20-30 25 35 750 1000 1500

E 15-20 15 30 750 1000 1500

15-18 15 15 1000 Sesuai 750 1000


S BB

40 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
1. RIFAMPISIN
a. Aktivitas Antibakteri
Rifampisin menghambat pertumbuhan sebagian besar bakteri gram-positif dan banyak
bakteri gram-negatif. Rifampisin dengan konsentrasi 0,005-0,2 ptg/mL menghambat
pertumbuhan M. tuberculosis secara in vitro.

b. Mekanisme Kerja
Rifampisin membentuk kompleks stabil dengan DNA dependent RNA polimerase
menyebabkan penekanan inisiasi pembentukan rantai (tetapi tidak elongasi rantai) pada
sintesis RNA. Konsentrasi tinggi rifampisin dapat menghambat sintesis RNA pada
mitokondria. Rifampisin bersifat bakterisid untuk mikroorganisme intraseluler maupun
ekstraseluler. Rifampisin tidak boleh digunakan tunggal.

c. Resistensi Bakteri
Resistensi mikroba disebabkan oteh mutasi DNA dependent RNA polimerase yang
menurunkan ikatan obat pada polimerase.

d. Farmakokinetik
Rifampin diabsorbsi dengan baik setelah pemberian oral, dan mencapai konsentrasi serum
puncak dalam 2 hingga 4 jam. rifampisin dieliminasi dengan cepat melalui empedu, dan
sirkulasi enterohepatik. Selama waktu ini, rifampisin secara progresif dideasetilasi oleh CYP
hepatik, setelah 6 jam hampir seluruh obat di empedu berada dalam bentuk deaserilasi tetap
yang memiliki aktivitas antibakteri. Rifampisin di distribusikan ke seluruh tubuh dan
mencapai konsentrasi efektif dalam CSF. Sebagian besar obat diekskresikan ke saluran
pencernaan dan sebagian kecil di Turin

e. Interaksi Obat
Penyerapan obat terganggu jika rifampisin diberikan bersamaan dengan asam
aminosalicylic atau diminum segera setelah makan.

41 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
f. Penggunaan Terapeutik
Rifampisin untuk pemberian oral tersedia dalam bentuk tunggal dan sebagai kombinasi
dosis-tetap dengan isoniazid (150 mg isoniazid, 300 mg rifampisin) atau dengan isoniazid dan
pirazinamid (50 mg isoniazid, I20 mg rifampisin, dan 300 mg pirazinamida). Rifampisin juga
tersedia dalam bentuk parenteral. Dosis rifampin untuk pengobatan tuberkulosis pada orang
dewasa adalah 600 mg per hari, diberikan 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan. Anak-
anak sebaiknya menerima 10 mg/kg diberikan dengan cara yang sama. Rifampisin tidak boleh
digunakan tunggal untuk pengobatan tuberkulosis karena dapat terjadi resistensi.

g. Efek Samping Obat


Pada dosis lazim, < 4% pasien dengan tuberkulosis mengalami banyak reaksi merugikan
pada rifampisin, yang paling umum ialah hepatotoksik, gangguan GI, hipersensitivitas dengan
gejala sindrom flu-like, ruam (0,8%), demam (0,5%), dan mual serta muntah (1,5%). Hepatitis
akibat rifampisin jarang terjadi pada pasien dengan fungsi hati normal; oleh karena itu,
kombinasi isoniazid dan rifampisin biasanya aman. Penyakit hati kronis, alkoholisme, dan
lansia meningkatkan risiko hepatitis yang parah jika rifampisin diberikan tunggal atau
bersama dengan isoniazid. Rifampin memberikan warna merah-oranye yang tidak berbahaya
ke cairan tubuh seperti pada urin, tinja, air liur, keringat, air mata, dan lensa kontak.

h. Bentuk Sediaan Obat


Kapsul 150 mg dan 300 mg. Selain itu terdapat pula tablet 450 mg dan 600 mg serta
suspensi yang mengandung 100mg/5mL rimfapisin.

42 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
2. ISONIAZID
a. Aktivitas Antibakteri
lsoniazid bersifat bakteriostatik untuk resting bakteri tetapi bersifat bakterisida untuk
mikroorganisme yang sedang membelah (growing bakteri).

b. Mekanisme Kerja
Isoniazid menghambat biosintesis asam mikolat (asam lemak berantai panjang) yang
menempel pada polisakarida di dinding sel bakteri  menghilangkan sifat tahan asam. Target
derivat isoniazid ialah enoyl-ACP reduktase dari asam lemak sintase ll, yang mengubah asam
lemak tak jenuh menjadi asam lemak jenuh dalam biosintesis asam mikolat.

c. Resistensi Bakteri
Resistensi isoniazid umumnya disebabkan oleh mutasi pada katalase-peroksidase yang
menurunkan aktivitasnya, mencegah perubahan prodrug isoniazid menjadi metabolit aktifnya.
Mutasi pada gen yang terlibat dalam biosintesis asam mikolat juga dapat menyebabkan
resistensi.

d. Farmakokinetik
Isoniazid bersifat water soluble dan cepat diabsorpsi setelah pemberian oral atau parenteral.
Isoniazid cepat berdifusi ke dalam seluruh cairan tubuh dan sel, termasuk lesi tuberkulosis
kaseosa. Obat ini dapat dideteksi dengan jumlah yang signifikan dalam cairan pleura dan
ascitic, seperti pada air liur dan kulit. 75-95% dosis isoniazid diekskresikan di urine dalam
waktu 24 jam, sebagian besar berupa metabolit.

e. Interaksi Obat
Berkompetisi dengan obat antikonvulsan (ex:phenytoin), karena enzim metabolisme obat
sama. Selain itu, absorbsi oral akan menurun apabila pemberian bersamaan dengan antasida
yang mengandung alumunium.

f. Penggunaan Terapeutik
Isoniazid merupakan obat yang paling penting dalam pengobatan tuberkulosis. Efek toksik
diminimalisasi oleh terapi profilaksis dengan piridoksin dan pemantauan pasien dengan teliti.
Untuk pengobatan infeksi aktif, isoniazid dikombinasikan dengan senyawa lain, meskipun
isoniazid digunakan tunggal untuk profilaksis. lsoniazid biasanya diberikan melalui oral

43 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
dalam dosis harian tunggal sebesar 5 mg/kg, dengan dosis maksimum sebesar 300 mg. Anak-
anak sebaiknya menerima 10-20 mg/kg/hari (maksimum 300 mg).

g. Efek Samping Obat


Ruam (2%), demam (1,2%),sakit kuning (0,6%), dan neuritis perifer (0,2%).
Hipersensitivitas isoniazid dapat menyebabkan demam, ruam, dan hepatitis. Reaksi
hematologis dapat terjadi (contohnya, agranulositosis, eosinofilia, trombositopenia, dan
anemia). Pasien dengan gangguan kronis yang mendasari seperti alkoholisme, kekurangan
gizi, diabetes, dan AIDS memiliki risiko khusus untuk neurotoksisitas. Neuritis optik,
sentakan otot, pusing, ataksia, parestesia, pingsan, dan enselofati yang berpotensi fatal yang
merupakan manifestasi lain pada neurotoksisitas. Sejumlah abnormalitas mental dapat terjadi,
mencakup euforia, gangguan ingatan sementara, hilangnya kendali diri, dan psikosis.
Isoniazid harus diberikan dengan perhatian tinggi pada mereka yang menderita penyakit hati.

h. Interaksi Obat
Kadar plasma isoniazid yang tinggi menghambat metabolisme fenitoin dan berpotensi
menyebabkan toksisitas fenitoin ketika keduanya obat-obatan dipakai bersamaan. Konsentrasi
serum dari phenytoin harus dipantau, dan dosis seharusnya
disesuaikan jika perlu.

i. Bentuk Sediaan Obat


Tablet 50, 100, 300 dan 400 mg serta sirup 10 mg/mL

44 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
3. PIRAZINAMID
a. Mekanisme Kerja
Target pirazinamid pada sintesis asam lemak mikobakteri yang terlibat dalam biosintesis
asam mikolik. Pyrazinamide membutuhkan lingkungan asam, seperti yang ditemukan di
fagolisoma, untuk mengekspresikan aktivitas tuberkulocidal-nya. Dengan demikian,
pirazinamid sangat efektif pada mikobakteri intraseluler. Resistensi berkembang cepat jika
pirazinamid digunakan tunggal.

b. Farmakokinetik
Pirazinamida diabsorpsi baik di saluran Gl dan terdistribusi luas di seluruh tubuh, termasuk
SSP, paru, dan hati. Waktu paruh dalam plasma sebesar 9-10 jam pada pasien dengan fungsi
ginjal normal. Obat diekskresikan terutama melalui urine.

c. Kontraindikasi
Pyrazinamide tidak dianjurkan untuk ibu hamil.

d. Penggunaan Terapeutik
Dosis harian untuk dewasa adalah 15-30 mg/kg untuk dosis oral tunggal, Dosis maksimum
adalah 2 g/hari, tanpa memperhatikan berat badan. Anak-anak sebaiknya diberikan 15-30
mg/kg/hari dosis harian juga tidak boleh melebihi 2 g. Pirazinamida aman dan efektif jika
diberikan dua atau tiga kali seminggu (dengan dosis meningkat).

e. Efek Samping Obat


Hepatotoksik merupakan efek samping yang paling serius dari pirazinamida. Regimen
yang dipakai saat ini (15-30 mg/kg/hari) jauh lebih aman daripada dosis yang lebih tinggi
yang digunakan sebelumnya. Pirazinamida tidak boleh diberikan pada pasien yang memiliki
disfungsi hati pada tingkat apapun kecuali obat ini tidak dapat digantikan. Pirazinamida
menghambat ekskresi asam urat, jarang memicu serangan akut pirai. Efek merugikan lainnya
mencakup arthralgia, mual dan muntah, disuria, rasa tidak enak, dan demam.

f. Bentuk Sediaan Obat


Tablet 250 mg dan 500 mg

45 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
4. ETAMBUTOL
a. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja melalui penghambatan arabinosil transferase yang terlibat dalam
biosintesis dinding sel, karena itu obat ini hanya aktif terhadap sel yang sedang bertumbuh.

b. Farmakokinetik
Sekitar 80% dosis oral etambutol diabsorpsi dari saluran GI. Konsentrasi puncak pada
plasma dalam 2-4 jam setelah obat diminum dan setara dengan dosis. Dalam 24 jam, 75%
etambutol diekskresikan tanpa diubah di dalam urine, 15% diekskresikan dalam bentuk
derivat aldehida dan asam dikarboksilat.

c. Penggunaan Terapeutik
Etambutol telah berhasil digunakan pada terapi tuberkulosis jika diberikan bersamaan
dengan isoniazid dan telah menggantikan asam aminosalisilat. Etambutol tersedia dalam
bentuk tablet untuk pemberian oral. Dosis lazim untuk dewasa adalah 15 mg/kg diberikan
sekali sehari. Anak-anak berusia 6-12 tahun sebaiknya menerima 10-15 mg/kg/hari.

d. Kontraindikasi
Etambutol tidak direkomendasikan untuk anak-anak berusia di bawah 5 tahun karena
berkaitan dengan kemampuan mereka dalam menguji ketajaman penglihatannya.

e. Efek Samping Obat


Efek samping yang paling penting adalah neuritis optik, yang menyebabkan penurunan
ketajaman penglihatan dan buta warna merah-hijau. insiden reaksi ini sebanding dengan dosis
etambutol dan terjadi pada < 1 % pasien yang menerima dosis harian yang direkomendasikan
sebesar l5 mg/kg. Intensitas kesulitan penglihatan berkaitan dengan durasi terapi setelah
gangguan penglihatan pertama kali muncul dan dapat bersifat unilateral atau bilateral. Uji
ketajaman penglihatan dan pembedaan warna merah-hijau sebelum dimulainya terapi dan
sesudahnya secara periodik direkomendasikan. Pemulihan umumnya terjadi ketika etambutol
dihentikan.

f. Bentuk Sediaan Obat


Tablet 250 mg dan 500 mg

46 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
5. STREPTOMISIN
a. Aktivitas Antibakteri
Streptomisin bersifat bakterisida untuk basilus tuberkulum secara in vitro.

b. Mekanisme Kerja
Menghambat sintesis protein.

c. Penggunaan Terapeutik
Pasien dewasa sebaiknya diberikan 15 mg/kg/hari dalam dosis terbagi diberikan secara
injeksi intramuskular setiap 12 jam, tidak melebihi 1 g/hari. Anak-anak sebaiknya diberikan
20-40 mg/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 12-24 jam, tidak melebihi 1 g/hari. Terapi
umumnya dihentikan setelah 2-3 6ulan, atau lebih cepat jika kultur telah menjadi negatif.

d. Efek Samping Obat


Pada pasien tuberkulosis yang diobati dengan streptomisin, 8% mengalami reaksi yang
merugikan, sebagiannya melibatkan fungsi pendengaran dan vestibular pada saraf kranial
kedelapan. Masalah lain mencakup ruam dan demam. Selain itu, menyebabkan nefrotoksis,
ototoksis, tinnitus, dan vertigo N. VIII

e. Interaksi Obat
Penggunaan bersama dengan amfoterisin dan diuretik kuat dapat meningkatkan nefrotoksis

f. Bentuk Sediaan Obat


Injeksi 5 mg

47 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
OBAT PERNAPASAN LAIN

A. DEKONGESTAN
Dekongestan merupakan obat yang berfungsi mengurangi pembengkakan serta meningkatkan
drainase jalan napas dan bekerja pada reseptor alfa adrenoseptor. Hal ini diakibatkan oleh
common cold, hay fever, sinusitis, dan alergi pernapasan lain. Penggunaan dekongestan dosisnya
harus dan dibatasi tidak lebih dari 3 sampai 5 hari untuk menghindari rhinitis medikamentosa.
Dekongestan nasal merupakan obat simpatomimetik (agonis adrenergik) yang memiliki efek
vasokonstriksi pembuluh darah pada membran nasal. Vasokonstriksi ini nantinya menurunkan
edema pada saluran nasal ( Retno, 2014).
Dekongestan dapat diberikan secara oral maupun topikal. Karena merangsang fungsi saraf
simpatis, konsumsi obat ini dapat mengakibatkan takikardi, aritmia, perasaan cemas dan
beberapa gejala lain sehingga pemberian dekongestan pada penderita hipertensi dan penyakit
jantung koroner tidak diperbolehkan.
Contoh dekongestan oral :
1. Pseudoefedrin (short acting)
- mekanisme kerjanya dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah mukosa dan
menurunkan kongesti hidung.
- KI : hipertensi, pasca infark miokard, hipertiroid.
2. Loratadin

Contoh Dekongestan topikal :


oxymetazoline (long acting), nafazolin, dan fenilefrin (intermediate).
- Mekanisme : menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah mukosa, menurunkan
peradangan, dan sumbatan pada hidung.
- Efek samping :
Rebound congestion, Irregular heartbeat, Headeache, Dizziness, Tremor.
- Konsentrasi puncak untuk pseudoefedrin dan fenilefrin terjadi pada 0,5 jam sampai 2 jam
setelah pemberian oral.

48 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
B. ANTITUSIF
Batuk merupakan proses dikeluarkannya udara secara paksa dari paru. Batuk bisa berupa
batuk produktif dan non produktif. Batuk produktif mengandung sekret berupa serous maupun
mukus yang dihasilkan oleh sel tertentu di saluran nafas. Sedangkan batuk non produktif tidak
mengandung sekret. Antitusif merupakan obat yang digunakan sebagai pereda batuk.
Golongan obat antitusif :
1. Antitusif Opioid Kodein
Salah satu obat antitusif yang paling efektif (berefek konstipasi dan dapat menyebabkan
ketergantungan). Mekanisme kerjanya dengan menekan batuk dan analgesic.
Kelemahannya yaitu rasanya pahit, mual & muntah, menurunkan peristaltic, adiktif,
euphoria, sebabkan pelepasan histamine.

2. Antitusif non-opioid dekstrometorfan dan noskapin.


Antitusif ini bekerja dengan cara menekan pusat batuk yang terdapat di medulla
sehingga disebut juga centrally acting drugs, tidak adiktif dan kurang menurunkan
peristaltic. Kelemahannya yaitu tidak seefektif kodein, sebabkan pelepasan histamin,
overdosis efek halusinasi.

3. Antitusif Benzonatate
Mekanisme kerjanya dengan cara menekan reseptor batuk perifer. Kelemahannya yaitu
confusion, reaksi hipersensitifitas, konvulsi.

Beberapa antitusif dibatasi pemakaiannya pada ibu hamil, seperti kodein, yang tergolong obat
pada kehamilan kategori C.

49 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i
C. MUKOLITIK DAN EKSPEKTORAN
Kerja obat mukolitik dan ekspektoran hampir sama dan saling melengkapi. Perbedaannya
ialah, agen mukolitik berperan dalam mengurangi viskositas dari sekret pernapasan dengan
melakukan aksi langsung pada mukus tersebut. Eskpektoran bekerja dengan meningkatkan sekret
pernapasan sehingga mengakibatkan penurunan viskositas mukus dan aliran napas akan menjadi
lancar. Contoh agen mukolitik adalah acetylcysteine, bromheksin, dan ambroxol, karbosistein,
mesistein, erdostein, sedangkan contoh ekspektoran adalah guaifenesin (gliseril guaikolat) dan
amonium klorida.

50 | M o d u l P r a k t i k u m F a r m a k o l o g i